Serba-Serbi Memperlambat Penuaan

“Penuaan”.

Kata itu cukup menghantui masyarakat modern. Kita bisa saksikan banyak ilmuwan didukung dengan sokongan dana dari taipan-taipan berlomba-lomba untuk menemukan rahasia di balik kehidupan yang lebih lama dan jauh dari penuaan. Semakin lama terlihat muda, semakin bagus.

Sebagai orang yang berkecimpung di dunia yoga sebagai praktisi, saya juga kerap mendengar di orang-orang sekitar saya bahwa mereka yang melakukan yoga rata-rata terlihat lebih muda dari usia kronologisnya. Rata-rata ya, tidak pasti semua orang begitu juga.

Dan saya terdorong untuk menggali temuan-temuan ilmiah yang berkaitan dengan perlambatan penuaan dan bagaimana memperpanjang rentang usia sehat (health span), alih-alih cuma rentang usia (life span).  Karena buat apa hidup lama tapi kalau sakit-sakitan dan menghabiskan uang dan menyusahkan mereka yang ada di sekitar kita?

Berikut adalah beberapa poin menarik yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari jika ingin hidup awet muda, sehat dan produktif lebih lama.

Batasi Penggunaan Gawai Elektronik

Nah, ini sudah menjadi kelaziman zaman digital. Tua muda kecanduan ponsel dan laptop sampai lupa waktu.

Padahal menurut temuan studi di Oregon State University (2019), paparan terhadap cahaya biru yang keluar dari ponsel, komputer dan perangkat modern lainnya bisa memengaruhi rentang usia kita bahkan jika cahaya biru itu tidak mengenai mata kita langsung. Dikatakan gelombang biru dapat meruskan sel-sel di otak dan retina.

Berolahraga

Teratur berolahraga membuat tidak cuma badan kita awet bugar dan muda tetapi juga bisa membuat pikiran kita tetap tajam di usia senja.

Bagi Anda yang sudah memasuki usia 50 tahun ke atas, olahraga secara rutin makin terasa penting karena menurut temuan penelitian di University of Iowa, satu sesi olahraga saja telah dapat meningkatkan fungsi kognitif dan ingatan pada lansia.  Jadi jika satu sesi saja sudah begitu memberikan banyak manfaat, bayangkan jika lansia bisa membuat olahraga sebagai bagian aktivitas harian mereka.

Dan olahraga yang kita lakukan tidak perlu yang berintensitas tinggi dan membutuhkan stamina banyak. Menurut temuan dari penelitian Boston University School of Medicine (2019), kegiatan fisik ringan sekalipun sudah berkontribusi menjaga kesehatan otak. Volume otak tetap terjaga, tidak mengecil dan kecepatan penuaan sel-sel otak dapat diperlambat.

Seberap banyak aktivitas fisik agar kita bisa hidup lebih lama? Dari studi tahun 2017 oleh peneliti di Brigham young University, ditemukan bahwa mereka yang memiliki tingkat aktivitas fisik tinggi memiliki harapan hidup lebih panjang, bahkan 9 tahun lebih lama daripada mereka yang tidak berolahraga atau bergaya hidup aktif.  Untuk bisa dikatakan aktif, seseorang setidaknya harus lari jogging 30 menit sehari (wanita) dan setidanya 40 menit sehari bagi pria selama 5 hari dalam seminggu.

Lari Marathon

Bagi mereka yang sudah lanjut usia dan mengaku cuma bisa berlari lambat, justru mengikuti lari marathon akan bisa meremajakan kondisi pembuluh darah. Ini diperlukan terutama bagi mereka yang ingin sistem peredaran darahnya kembali lancar bak anak muda. Apalagi tanpa jantung yang sehat, kita tidak akan bisa hidup.

Sebagaimana kita ketahui berlatih untuk lomba marathon sangatlah memerlukan disiplin dan strategi. Dan  dibutuhkan waktu 6 bulan untuk mempersiapkan diri agar siap ikut marathon bagi mereka yang tak muda lagi. Efek dari persiapan ini pada kesehatan jantung sangatlah positif bahkan jika dibandingkan dengan pengobatan. Risiko stroke juga turun 10% jika seseorang mau berlatih untuk marathon.

Menghindari Rokok dan Miras

Dikutip dari Journal of Epidemiology & Community Health (2017), kebiasaan merokok dan minum miras (liqor) yang berlebihan saban hari bisa mempercepat penuaan. Indikatornya diukur dari lekukan telinga, cincin keabu-abuan di sekitar tepi kornea mata (arcus corneae – yang makin jelas tatkala seseorang mendekati usia senja), plak kekuningan di kelopak mata (xanthelasmata), gejala kebotakan dini.

Cegah Overnutrisi Sejak Dini

Di zaman sekarang, kasus malnutrisi memang masih ada. Dan sebaliknya kasus overnutrisi makin banyak karena makanan makin murah dan masyarakat makin mudah makan dalam porsi yang makin besar padahal aktivitas tidak bertambah banyak.

Menurut studi Baylor College of Medicine (2019), risiko mengidap penyakit-penyakit degeneratif semacam diabetes ternyata berkaitan dengan overnutrisi di saat batita dan kanak-kanak.

Jadi, mungkin saatnya menakar lebih cermat porsi dan asupan anak-anak kita. Jangan sampai karena kita takut mereka akan kurang gizi, malah jadinya mereka overnutrisi dan di masa depan menjadi diabetisi. Sebagaimana kita ketahui, diabetes sudah menjadi kecemasan global.

Berpuasa dan Makan Lebih Sedikit

Menurut studi ilmuwan di Brigham Young University (2017), pembatasan asupan kalori harian bisa memberikan harapan hidup lebih panjang dan sehat. Pembatasan tersebut bisa dilakukan dengan berpuasa layaknya saat puasa Ramadan untuk memperlambat proses penuaan bukan cuma sebatas kulit tapi juga sampai di tingkat sel kita!

Simpulannya, skincare boleh saja membuat kita terlihat lebih muda tapi apa gunanya jika organ-organ dalam tubuh kita keropos? Mari jangan terlalu sibuk memoles bodi tapi onderdilnya malah terlupa dan sampai berkarat. Memangnya apa gunanya punya mobil yang mulus tapi tidak bisa dikendarai ke mana-mana? Kecuali cuma untuk pajangan atau koleksi. Haha.

Menjadi Orang Tua yang Baik

Kalau ingin anak-anak kita berusia panjang, ternyata salah satu syaratnya ialah kita harus menjadi orang tua yang baik dan suportif. Menurut riset dari Loma Linda University Adventist Health Sciences Center (2019), gaya mendidik orang tua yang kurang baik dan cenderung tidak suportif bisa membuat harapan hidup anak lebih pendek. Beruntunglah mereka yang memiliki orang tua yang baik, perhatian dan mampu berperilaku dan bertutur kata konstruktif tatkala mendidik anak mereka.

Makan Buah Delima

Buah pomegranate atau delima bisa jadi salah satu makanan super (super food) yang bisa membantu Anda tetap awet muda.

Apa pasal?

Studi oleh Ecole Polytechnique Fédérale de Lausanne (2016) menunjukkan bahwa ada urolithin, sejenis molekul, dalam delima yang begitu masuk ke dalam usus kita akan diubah oleh mikroba dalam pencernaan untuk melindungi sel-sel otot dari efek penuaan.

Memiliki Banyak Anak

Nah, ini cuma berlaku bagi kaum Hawa. Menurut temuan studi di Simon Fraser University (2016), diketahui bahwa jumlah anak yang terlahir dari rahim seorang perempuan mempengaruhi kecepatannya menua! Para perempuan yang melahirkan anak-anak yang sehat menunjukkan telomere yang lebih panjang, dan ini menjadi indikator panjangnya usia mereka karena telomere ini adalah ujung pelindung tiap helai DNA. Makin panjang telomere, makin panjang umur seseorang juga.

Menjauhkan Diri Dari Kemiskinan

Studi tahun 2019 oleh University of Copenhagen The Faculty of Health and Medical Sciences menemukan bahwa mereka yang terpuruk dalam jurang kemiskinan lebih dari empat kali sepanjang masa dewasa hidup memiliki peluang lebih tipis untuk memiliki hidup yang panjang.

Ini membuktikan bahwa tidak cuma faktor genetis, gaya hidup dan lingkungan yang bisa menentukan usia seseorang tapi juga kondisi keuangan.

Mencegah Kegemukan

Tahukah Anda bahwa ibu hamil yang kegemukan memberikan risiko yang lebih tinggi bagi anaknya untuk memiliki rentang usia yang lebih pendek? Studi tahun 2019 oleh tim riset University of Wyoming menunjukkan bahwa efek kegemukan pada ibu hamil ternyata sampai ke anaknya. Anak-anak dengan ibu yang kegemukan saat hamil dikatakan memiliki kecepatan menua lebih tinggi dan mengalami masalah metabolisme yang lebih banyak daripada yang seharusnya.

Cegah Depresi

Depresi sudah menjadi kondisi kejiwaan yang mewabah di dunia. Dan dampak depresi pada rentang usia kita juga cukup signifikan. Dari studi University of Sussex tahun 2018 lalu, diketahui bahwa para psikolog menemukan kaitan antara depresi dan percepatan penuaan ada otak manusia. Selain rentan menderita dementia, mereka yang menderita depresi berkepanjangan juga rawan mengalami penurunan fungsi kognitif secara umum.

Berdiet Mediterranean

Diet Mediterranean sebagaimana kita tahu berasald ari kawasan Mediterranea (Italia dan sekitarnya) yang banyak menggunakan sayur segar, buah segar, minyak zaitun, kacang-kacangan, dan biji-bijian sebagai sumber lemak alami, produk susu yang dikonsumsi sedikit saja, dan daging merah dan putih yang terbatas sekali, plus konsumsi minuman anggur yang moderat di tiap sesi makan.

Memperbanyak Konsumsi Sayur dan Buah Segar

Sayur dan buah segar memang sudah lama diketahui sebagai sumber keawetmudaan (fountain of youth). Dan sains membuktikan bahwa memang di dalam sayur dan buah segar mengandung zat Fisetin yang memiliki dampak positif pada kesehatan dan bisa memperpanjang usia. Demikian ungkap sebuah studi yang dilakukan University of Minnesota Medical School tahun 2018. Fisetin diketahui bisa mengurangi level akumulasi sel-sel rusak dalam tubuh.

Merasa Muda

Selalu merasa muda meski usia sudah tak lagi belia ternyata membantu kita untuk tetap muda lho! Mungkin terdengar seperti berhalusinasi tapi demikian temuan yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Aging Neuroscience (2018). Pikiran ternyata bisa menjadi kenyataan. Jadi berhati-hatilah dengan apa yang kita pikirkan. (*/)

Posted in health | Tagged , , | Leave a comment

“Just Friends” Is Not Just A Movie

Gewoon Vrienden (2018) being played in public in the current Indonesia is beyond my imagination. After what we have seen with what the hardliners in the country to Garin Nugroho’s most recent movie titled “Memories of My Body” (Kucumbu Tubuh Indahku), this queer movie imported from the Netherlands might be the next movie to ban for the public to watch.

But that night, it was not proven so.

At the Dutch Embassy in Jakarta, I managed to watch the movie away from the conservative groups’ threat. I’ve been always appalled by the hatred they spread on social media, that LGBTQ (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Queer) is cursed by God the Almighty.

My first impression is that the movie must tell a lot about the romance between two young, handsome Dutch men. And I’m right.

It’s quite predictable. Two young men named Yad and Joris – both are physically attractive, fit-bodied – are attracted to each other in some way and finally a sweet, happy ending.

Many admired Josha Stradowski’s acting quality here. So do I.

He acted as Joris, a heartthrob who throughout the movie are sporting his crew-cut hair and slender, lean, tall male body. And for those who are wanting to see him with no clothes on, try watch a scene when he is told by his mother that he wore the underwear the wrong side. Surprisingly, Joris immediately pulled down his underpants and walked away like no one cares really. Because if you have a body of Greek god, they say you can walk naked anywhere you wish. And it’s kind of true. Joris is a young man with a high level of virility and vitality. He works out a lot to stay in shape and to find a man, too. There’s a scene when he was stunned by someone’s boner while the man is performing a benchpress in front of him. As a gay man, it was quite often to be aroused in gyms because there’s a lot of skin exposed and masculinity is at its finest. Gym rats are showcasing their achievement: oversized muscles.

But Majd Mardo’s performance is not less impressive either. Acting as Yad, Mardo succeeds to show how screwed his life is. His mother wants him to get his life together before it’s too late. In his twenties, Yad still has shown no interest in choosing a ‘proper’ career path. His determined mother wants him to get mature, living a life just like his sister who goes to college and aims to climb a clear career path.

Their paths crossed when Yad works at Joris’ grandmother. Joris’ mother saw Yad as a suspicious young migrant who could rob her mother anytime. So she sent her son to pay  his grandmother a regular visit.

They immediately got attracted to each other. And the story continued smoothly.

The one and only conflict found here is that Yad thinks Joris must be able to come to terms with the rest of the world’s homophobia. There’s a scene showing Joris was angered by a group of young men and women just because they yelled ‘fag’ at him and Yad, who was having good time with him. Their good time unfortunately was disrupted by Joris’ being provoked.

In the world where identity politics and right wing political views are getting stronger, this movie seems apt to depict that even in the ‘most civilized, progressive and developed’ West (the Netherlands), minorities still may get discriminated and treated unfairly or ostracized and bullied for what and who they are.

My last verdict is 4 stars out of 5 for this movie. It could’ve performed better if the plot had been more shocking or unpredictable.

Have you watched the movie yourself? And what do you think of it? Please leave your comment below. (*/)

Posted in miscellaneous | Tagged , , , , | Leave a comment

Merayakan Bulan Bahasa dan Bulan Blogging

Sudah Oktober!

Konon kalau waktu terasa begitu cepat bergulir, itu berarti kita terlalu asyik bergumul dengan rutinitas yang monoton. Karena hari satu dan yang lain mirip isinya, tidak heran kita terkejut,”Lho kok sudah ganti bulan, ganti tahun???”

Dan memang tidak terasa sudah pertengahan Oktober!

Melihat performa blogging saya akhir-akhir ini memang cukup mengecewakan karena bulan kemarin saja saya hanya sempat mengisi blog ini sekali. Lalu belum sempat (baca: tidak bijak menggunakan waktu).

Sebenarnya saya sudah sempat menulis tapi karena di awal bulan lalu blog ini sempat terkendala secara teknis (domain ini sempat terkena ‘suspend‘ karena ada problem teknis yang saya bahkan tidak paham sepenuhnya kecuali teman geek saya), akhirnya saya harus menerbitkan tulisan di blog wordpress saya yang gratis.

Di titik ini, saya masih gamang apakah harus menyatukan saja semua konten yang tersebar di beberapa alamat blog untuk dijadikan satu di sini. Karena toh memang saya tidak berniat dan tidak mampu memonetisasi blog ini secara profesional layaknya problogger.net.

Saya sudah menulis soal bagaimana mengatasi masalah saat harus update sistem operasi ponsel Samsung A6 milik saya dan sebuah ulasan film berjudul “The Big Sick” yang saya pernah tonton. Saya juga hampir menyelesaikan ulasan film Belanda “Gewoon Vrienden(Just Friends) yang saya tonton di Erasmus Huis tapi belum bisa memuatnya di sini karena masih setengah matang.

Bulan Oktober selalu istimewa karena di bulan ini banyak orang-orang istimewa yang merayakan ultah mereka di bulan ini. Dan terutama karena ultah saya sendiri di bulan ini. Bertepatan dengan hari blogging nasional juga.

Sebenarnya sudah banyak yang ingin saya tulis di sini tapi saya rasanya sudah tidak ada waktu untuk menulis di sini karena ‘harus’ menulis catatan harian juga dan juga pekerjaan sehari-hari juga banyak melibatkan aktivitas menulis. Bahkan liburan saya ke pulau Bangka beberapa waktu lalu masih belum tertuang di sini juga. Tapi rasanya sangat penat jika seharian mesti menatap layar komputer melulu (padahal banyak waktu juga menatap layar ponsel untuk menata kata dan menyunting foto dan video di Instagram yang laknat itu). Bisa-bisa mata saya tambah banyak level minusnya.

Dan entah bagaimana saya bisa tertarik mengunjungi blog Enda Nasution yang dikenal sebagai salah satu tokoh blogging Indonesia dan menemukan bahwa isinya juga tidak segar-segar juga. Di enda.goblogmedia.com, ia bahkan terlihat terakhir menulis pada 21 Juni 2018. Dan di bawahnya ia menulis tentang event CES di tanggal 24 Februari 2017, yang artinya ia menulis SETAHUN sekali. Jadi, kemalasan saya menulis blog selama sebulan ini rasanya belum separah beliau.

Intinya: tidak perlu memaksakan diri menulis konten baru di blog jika memang merasa tidak ada ide atau urgensi atau sesuatu yang penting untuk disampaikan.

Dan di perjalanan sepuluh tahun menulis blog ini, saya bisa katakan menulis blog lebih berfaedah daripada beraktivitas di Instagram karena orang lebih tertarik membaca gagasan di blog daripada gagasan dalam bentuk keterangan gambar (caption) yang kalah dengan pesona visual seperti foto dan video. (*/)

 

Posted in blogging | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

The Future of Writers in the Age of Artificial Intelligence (AI)

Can human writers outpace and outdo the tech development, especially Artificial Intelligence? (Photo source: Wim van Rossem / Anefo at Wikimedia Commons)

Everyone is alarmed at the speedy development of technology. With Artificial Intelligence (AI) gaining momentum these days, I become more conversant with this topic.

And of course, the conversations about  AI are mostly about how much the potential that AI can offer for us to solve many current issues. On top of that is the ever growing anxiety that AI will take place humans. More unemployment can be foreseen in the future if AI is not controlled.

As a writer myself, I’ve seen some news about some machine or algorithm or software that writes hard news on sport events or natural disaster hard news.

So if you ask me if I should feel worried or not about the ongoing circumstances of the writing market, I guess I choose to stay optimistic.

Why so?

Well, all I can tell is that this thing dubbed as AI is not competent of analytical writing. And because they are machines, they don’t have unique personalities at all. They are just machines. So they can never ever write any opinion pieces just like you and I do!

In spite of all this optimism, I know some perils lie ahead of us writers.

We cannot just sit idly in our chairs and casually wait until they devour us as a whole.

Just recently, Massachusetts Institute of Technology (popularly known as MIT) informed public that a team of researchers managed to develop AI that has the ability to read scientific papers and summarize these cumbersome manuscripts into a sentence or two. In other words, they are trying to invent a summarizing machine!

It is said that the AI may be useful for wordsmiths like me to scan heaps of papers to get a preliminary sense of what they are about.

But the AI is also showing promise in some other fields such as speech recognition and machine translation.

Speech recognition is technology that has the ability of recognizing spoken words. And all these can be changed into text. According to Research and Markets research firm, speech recognition market will be worth US$18 billion by 2023.

What’s so special and beneficial about speech recognition?

It is claimed to be very time-efficient and energy saving. For example, if you have to communicate with multiple people/ companies over email, with speech recognition and AI you’ll never need to type emails and send them manually.

Head of Revenue at ClaraLabs Briana Burgess stated that Clara (a rebranded version of the Siri virtual assistant technology you see on iPhone and other iOS devices) has helped her send a lot of emails to schedule and reschedule meetings. All this was achieved only by simple voice command. No typing on a cumbersome laptop, fatal typos and wrong email addresses. So hassle-free. Compared to composing emails for the same purpose, she could amazingly save more than 9 hours! That means you can actually be efficient and get more work done. Beast!

Results of AI may not be quite elegant and literary but they do compose and collect substantial points of information. And readers will eventually find them still readable and informative. No big problem whatsoever.

But that is email and hard news.

I still don’t believe that AI can match human’s ability and knack for writing a beautiful, touching, emotionally provocative, literary work.

Machines are machines.

They do have memories, and intelligence, and consistency.

Humans are humans.

We may not be lacking in the consistency department but I bet we excel more at the creativity aspect. We have imagination. Something an ultimate machine can never learn.

And when we’re now too absorbed with writing cheesy click baits, ‘trivial’ and technical content for the web traffic or page views, we’ll soon lose the competition. Our web is more about “how-to”, and less about “why”.

Why do we need to know and learn THIS instead of THAT? That’s the big question.

And this philosophical, profound question can never be answered by machines.

 

Sources:

Sciencedaily.com

https://emerj.com/ai-sector-overviews/ai-for-speech-recognition/

https://thenextweb.com/contributors/2017/05/19/artificial-intelligence-will-impact-professional-writing/

https://www.wired.com/2017/02/robots-wrote-this-story/

Posted in writer, writing | Tagged , , , , , | Leave a comment

The Great Hack: A Documentary That’ll Make You Hate Social Media

In 2009, I was signing up for Facebook for the first time. I was online on my Motorola phone and the idea of hyperconnected-ness seemed very cool and futuristic at the time.

Unbeknownst to me, I had also traded my online privacy. I poured down my private data like crazy ever since. I uploaded a lot of photos, videos, and also private texts in the Messenger. Until last year, I opted out of the social media service. Not again was I on that notorious site. I deleted my account in hopes that it stops tracing my online behaviors and influence my changes of mindset and behaviors. Scary.

I simply started to hate Facebook after the company has been involved in some incidents of privacy violation of its users. And the amount of hatred and hoax that circulate in it during the presidential election in Indonesia and the U.S. also made me so appalled and disgusted.

The notorious, massive scandal of online privacy violation that involved Facebook and Cambridge Analytica has even made me feel more disgusted.

I’ve been trying so hard to leave Facebook. And I made it.

But it has become a major global economic power that acts like an octopus. It has so many tentacles. Facebook is now the owner of Instagram, a social media app that I love so much. And to add to the horrid condition, it also acquires WhatsApp, a chat platform that Indonesians cannot live without. I too experienced a major failure in leaving it. The network of people that I know of sucked me back into the app once again until this very second.

So when I watched “The Great Hack” (2019) today, it triggered my emotion button. Now that I am actively involved as a volunteer in Mozilla Foundation, I have learned more knowledge on the importance of online privacy and data privacy and all the related issues.

Directed by Karim Amer and Jehane Noujaim, the movie was a reminder that everyone of us is now a pawn that is manipulated by a group of masterminds. From Mr. Trump’s victory to personality quizzes as baits for Facebook users to relinquish their personality tendency data, we can learn a lot here that humans and their data are now commodities.

Again and again, we are faced with the constant conflict between ethical-moral compass versus greed triggered by the use of technology. There are a cycle of it: first, people think technology is a savior; second, they use it without limits; third, they regret that they didn’t set the limits once it is too late. Humans are the most intelligent yet most foolish creature on the planet.

Brittany Kaiser is one of key figures here. And she is rather strangely acting as the bitch and the heroine in the documentary. How is it so? She is the bitch because she worked for Cambridge Analytica and allegedly heavily involved in pro-Brexit campaign and Donald Trump’s victory in the U.S. In dire need for money to save her family from financial hurricane, she accepted the job offer from its former CEO Alexander Nix. There is no big deal if you steal bread if you’re starved but if your crime has affected more people than you can imagine, even death penalty is never enough. Go read this article to learn more about her.

Paul-Olivier Dehaye is a protagonist here. He is staunchly campaigning for online privacy and relentlessly strives for the internet users’ fundamental rights.

This documentary managed to force me to sit still and ponder, asking inside my conscience, why this should not considered a light crime. And it is right to be enraged and thus take actions against these kinds of most subtle mind and behavior manipulation.

Once again, I see how humanity fails in the temptation of greed of power and wealth. This has gotten me thinking into the question: “What’s next?” (*/)

Posted in social media, technology | Tagged , , , , , | Leave a comment

Orang Kudus soal Hukuman Mati untuk Bupati Kudus

Saya yakin sepenuhnya bahwa para pemimpin adalah cerminan dari rakyat yang memilihnya. Dan jika ada yang salah dalam diri pemimpin, seharusnyalah kita sebagai rakyat perlu tidak hanya mengoreksi pemimpin tersebut tetapi juga mawas diri. Apa saja yang sudah kita lakukan sehingga kita terkena musibah memiliki pemimpin yang kurang membanggakan para pengikutnya?

Karena itulah, saya menulis “Begini Cara Jadi Pemilih Cerdas dan Bersih di 2019” lalu. Karena saya sendiri juga sudah muak dengan masyarakat Indonesia yang rata-rata terlalu pemaaf atau berlagak sok lupa dengan rekam jejak para pemimpin yang sudah jelas-jelas mengkhianati amanat rakyat di masa lalu dan masih saja memilih oknum-oknum tersebut di periode setelahnya.

Di tulisan tersebut, saya menekankan bagaimana kita sebagai rakyat yang memiliki hak pilih untuk tidak memilih orang-orang yang sudah terbukti tanpa keraguan sudah melakukan tindak kejahatan korupsi, kolusi atau nepotisme.

Yang saya takutkan terjadi juga di kampung halaman saya, Kudus. Sebagai putra daerah, saya sangat malu dengan apa yang terjadi dengan bupati Tamzil yang sebenarnya dulu sudah pernah menjabat kemudian terpilih kembali.

Sebelumnya Tamzil sudah pernah terpilih sebagai bupati pada tahun 2003 hingga 2008. Tahun 2014, ia dicokok aparat karena dugaan keterlibatannya dalam korupsi dana bantuan sarana dan prasarana pendidikan kabupaten Kudus untuk tahun anggaran 2004. Ia ditetapkan sebagai tersangka dan tahanan bulan September di tahun yang sama. Cuma dipenjara selama 1 tahun 10 bulan dan denda Rp100 juta, ia kemudian melenggang bebas Desember 2015.

Perbuatan nista yang terbukti di pengadilan itu tidak membuat surut niatnya untuk mencalonkan diri lagi. Tahun 2018 ia terpilih lagi sebagai bupati dan kembali terperosok di lubang yang sama setelah bebas selama 3 tahun 7 bulan. Kali ini soal jual-beli jabatan di lingkaran pemerintah kabupaten Kudus yang uangnya dipakai untuk melunasi cicilan mobil pribadi. Ia terseret bersama dengan staf khususnya Agus Soeranto dan Pelaksana Teknis Sekretaris Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Akhmad Sofyan. Tak cuma Tamzil, ternyata Agus juga pernah dipenjara gara-gara korupsi pula. ’Luar biasa’ berani ya!!!

Kini lagi-lagi ia menjadi bulan-bulanan orang-orang di sekitarnya. gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengomentari ulah Tamzil sebagai “nekat dan cenderung ndablek (Jawa: keras kepala, susah dinasihati)”. Parpol yang mengajukannya, Hanura, pun mengutuk perilakunya dengan menyatakan seruan untuk menghukum dengan seberat-beratnya.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menambahi dengan melemparkan pertimbangan dan wacana untuk menghukum mati Tamzil karena tersangkut kasus korupsi sampai dua kali, seolah memandang enteng hukum di negeri ini.

Memang susah untuk memberantas korupsi di negeri yang mengutamakan nilai-nilai kekeluargaan ini. Menurut Elizabeth Pisani dalam bukunya, memang kecenderungan budaya orang Indonesia mengedepankan kekeluargaan dalam mendapatkan solusi. Sayangnya, nilai luhur itu kerap diterapkan juga untuk urusan merampas hak-hak orang lain.

Kudus dengan citra relijiusnya (dua makam Walisongo berada di sini: Sunan Kudus dan Sunan Muria) menjadi tercoreng karena kasus ini. Dan sejatinya bukan cuma soal citra daerah tetapi juga integritas seluruh jajaran pemerintahannya. (*/)

Posted in save our nation | Tagged , , , | Leave a comment

Kawat Gigi: Perlu atau Tidak?

Ada banyak faktor mengapa saya ingin memasang kawat gigi meskipun sudah di usia yang tak bisa dikatakan remaja lagi. Banyak yang berkata merapikan gigi idealnya dilakukan saat masih anak-anak atau saat remaja sehingga hasilnya lebih optimal dan juga cepat.

Bagi saya sendiri, dahulu kesadaran perawatan gigi baru hanya sebatas memeriksakan diri saat ada gigi yang berlubang atau goyah atau perlu dicabut segera. Sekarang, dengan tinggal di kota besar dan memiliki akses yang lebih lebar pada perawatan gigi, saya kemudian berpikir untuk merapikan gigi meskipun memang biayanya tak bisa dikatakan murah meriah.

Saya sendiri memilih kawat gigi konvensional yang mungkin secara estetis kurang menarik. Tapi tunggu dulu, meskipun aspek estetikanya kurang, kawat gigi yang berbahan metal justru lebih efektif. Anehnya menurut riset, orang kebanyakan memilih jenis kawat gigi yang terbuat dari bahan non metal agar terlihat lebih menaik. Ironisnya, bahan-bahan non-metal tadi justru membuat perawatan menjadi lebih rumit dan sukar.  Riset ini dilakukan oleh tim peneliti dari Ohio State University dan dipublikasikan di American Journal of Orthodontics and Dentofacial Orthopedics.

Kawat gigi konvensional yang terbuat dari bahan stainless steel justru paling awet dan efisien. Kawat jenis ini dapat dirawat dengan mudah namun dianggap paling tidak menarik.

Jenis tray memiliki keterbatasan dalam mengakomodasi jenis gerak gigi, kunyahan dan efisiensinya. Sementara itu, jenis keramik kadang bisa retak dan pecah sehingga aspek ketahanannya tak sebagus kawat gigi stainless steel.

Jenis tray mengatur gigi-gigi kita dalam cetakan yang setiap dua pekan diubah serempat milimeter. Tray ini bisa dicopot saat makan atau sikat gigi namun harus selalu dipakai sepanjang hari, 7 hari seminggu, 24 jam sehari.

Seperti pernah saya katakan di cerita saya mengenai pencabutan gigi geraham bungsu saya tempo hari, posisi gigi geligi yang kacau balau kadang memang perlu dirapikan dan diintervensi agar mencegah masalah. Dan meskipun secara langsung perapian gigi dengan kawat tidak berkaitan dengan pencegahan lubang atau pembusukan gigi, secara tak langsung dengan letak gigi yang lebih rapi akan memudahkan kita dalam membersihkan gigi dengan sikat. Ini terjadi dalam kasus gigi geraham bungsu saya. Gigi geraham bungsu saya yang posisinya kurang pas membuat saya susah membersihkan gigi geraham di sebelahnya, dan ini membuatnya lebih rawan terhadap risiko masalah gigi seperti lubang dan sebagainya.

Karenanya, meskipun sebuah temuan ilmiah dari tim penelitian University of Adelaide menyatakan bahwa perawatan perapian gigi dengan kawat ini memang TIDAK menjamin secara nyata perlindungan dari risiko gigi berlubang di masa datang. Tetap saja meskipun gigi Anda sudah rapi tetap harus menggosok gigi secara teratur dan mesti memeriksakan gigi secara teratur ke dokter gigi.

Penelitian berbeda yang dilakukan tim peneliti universitas yang sama menyatakan bahwa perawatan ortodentis ini juga tak seratus persen menjamin naiknya kepercayaan diri pada seseorang. Hanya karena memiliki gigi yang rapi, tidak secara otomatis Anda akan bisa mengalami perbaikan kepercayaan diri karena kepercayaan diri lebih luas cakupannya daripada sekadar kerapian dan keserasian gigi. Yang cukup mengejutkan bahwa dibandingkan merapikan gigi, kita bisa menaikkan kepercayaan diri hanya dengan rajin menggosok gigi (setidaknya dua kali sehari) dan berkonsultasi dengan dokter gigi secara teratur (setidaknya enam bulan sekali).

Portrusi atau gigi depan yang tidak rata dan cenderung menonjol keluar ternyata juga tidak cuma lebih sedap dipandang tetapi juga membuat risiko gigi itu patah atau rontok jika kita terjatuh dalam kecelakaan atau terbentur pada permukaan yang keras secara tak sengaja. Hal ini terutama berlaku bagi mereka yang aktif secara fisik. Inilah alasan kenapa anak-anak yang memiliki gejala portrusi disarankan meratakan gigi mereka sedini mungkin. Dan terutama karena alasan inilah saya melakukan pemasangan kawat gigi.

Setelah dua minggu mengenakan kawat gigi, saya bisa katakan bahwa minggu pertama bukanlah pengalaman yang nyaman. Di masa penyesuaian ini, saya merasakan kunyahan saya terasa aneh dan saya tidak bisa secara nyaman menggigit makanan.

Bahkan karena dinding mulut saya masih belum terbiasa dengan kehadiran kawat gigi yang merupakan objek asing dalam mulut, saya sempat mengalami sariawan terutama di sekitar area pipi yang berdekatan dengan gigi samping. Inilah area yang terus bersinggungan dengan kawat gigi terutama saat proses pengunyahan. Jangan ditanya bagaimana rasanya. Kadang jika saya kelewat giat mengunyah, saya lupa ada kawat gigi dan sedikit darah keluar dari dinding mulut akibat gesekan kawat.

Karena itulah, beberapa teman berceletuk bahwa memasang kawat gigi bisa menyebabkan si pemakainya malas makan dan tidak heran berat badan mereka bisa turun. Untuk mengantisipasi agar hal itu tak terjadi, saya melumatkan makanan dan menambahkan air agar lebih encer dan lunak sehingga mudah ditelan tanpa banyak kunyahan. Jika memang tidak ada makanan lunak, saya berusaha sedemikian rupa agar makanan tadi bisa dihancurkan menjadi potongan yang lebih kecil sehingga tidak terjebak di antara kawat gigi.

Satu lagi yang patut menjadi perhatian ialah proses penyikatan gigi yang lebih menguras waktu. Kawat gigi membuat lebih banyak sisa makanan berada di dalam mulut usai makan. Sehingga mau tidak mau, saya harus banyak berkumur daripada biasanya. Tak cukup berkumur, saya juga mesti segera menyikat gigi begitu usia bersantap karena membersihkan sisa makanan di gigi dengan tusuk gigi atau jari jemari di depan orang lain terasa kurang sopan. Saya harus ke toilet untuk menyikat gigi dan berkumur sehingga kebersihan mulut tetap terjaga.

Update:

Setelah memakai kawat, saya mengalami beberapa keluhan seperti kulit dalam rongga mulut yang rawan lecet dan berdarah pada hari-hari pertama tapi menurut teman hal ini bisa diatasi dengan minum jus buah segar banyak-banyak. Sariawan pun terusir dengan alami.

Untuk pengalaman selanjutnya, tetap akan saya teruskan di sini. Nantikan saja update dari saya. (*/)

Posted in health | Tagged , , | Leave a comment

The Miserable State of Online News

Now I’m less and less visiting online news outlets. Especially ones with clickbait headlines and listicles.

I’m enough with all the hoaxes around the web.

I quit Facebook altogether without remorse. Though still on Instagram, I’m trying to restrict my time on the app.

Mostly because I am hugely disappointed with its validity and accuracy.

All this chaos is partly caused by the rise of FREE online news. People are now more into free news because they are not charged with any fees.

But if you get sick with fake news and hoax, I think paying or subscription scheme is a must.

Why?

Because this is how news or media outlets can be freed from the requirement of making money through online ads.

Online ads do kill us slowly. The democracy is withering. People misunderstand each other. Messages are twisted, contorted, and manipulated. All is done in a massive, unprecedented scale.

I start to turn to print media now.

Magazine and books are where our hopes lie.

And this is why I now am reading more and more magazines and books instead.

The knowledge and news in these print media are much more worthwhile and timeless.

Words are carfeully edited and arranged, which is a pleasure to the eyes.

And the experience of reading online articles is worse. Full of distraction. Banners, pop-up ads, affiliate links, etc.

Print media is now becoming more like a luxury, something that no financially challenged people cannot afford. Because you have to pay to enjoy the content. And even if most people can afford, they still have to prioritize their own expenses.

And I’m truly amazed by Tempo Magazine is doing now to stay afloat in the middle of hoax deluge.

Gems stay gems no matter how deep muds bury them.

This is why I am now inclined to enjoy news offline. I read Times, HBR, nonpartisan newspapers, and so on. I prefer news outlets that still stand by their journalism ethics and norms and long-built reputation.

News that are less likely to be found on Facebook, Twitter or WhatsApp. Some indepth coverage that are longer to produce but more satisfying, not emotionally, but factually. Because fake news and hoax play with your emotions more than real news. Real news allow us to get a deeper understanding about issues. All around as a whole – not in bits. (*/)

Posted in journalism | Tagged , , , | Leave a comment

“La Grande Borne”: Mengintip Diari Pribadi Pengarang Progresif

Membaca beberapa bagian awal buku tulisan pengarang perempuan Indonesia ini, saya sempat terkesan dengan gaya berceritanya yang tidak cuma mengalir tetapi juga sangat blak-blakan. “Tanpa tedeng aling-aling”, kalau boleh menggunakan jargon bahasa Jawa yang kadang ia masukkan dalam tulisan-tulisannya.

Yang cukup mengguncang ialah keberaniannya mengutarakan ganjalan-ganjalan hatinya yang ia pendam selama berumahtangga dengan diplomat Perancis Yves Coffin serta dua anaknya Lintang dan Padang.

Dan yang tidak kalah memalukan juga ialah bagaimana ia memiliki keberanian untuk mengungkap perselingkuhan yang ia lakukan dengan seorang pria yang ia panggil “kapten” di dalam bukunya ini. Perselingkuhan tersebut memang patut dipahami (meskipun secara moral dan agama pasti dianggap salah) apalagi setelah ia banyak mengalami keperihan dalam hubungan rumah tangganya dengan si diplomat yang menurutnya pelit bahkan pada keluarga dekatnya sendiri. Jika merunut keluhan-keluhannya dalam hubungan rumah tangganya, tidak heran jika akhirnya bercerai juga.

Sebagai penggemar karya-karyanya sejak saya masih duduk bangku sekolah menengah atas dulu, saya terkejut dengan gaya bertutur Nh. Dini di buku ini yang agak ‘gelap’, pesimis dan nakal. Ternyata itu karena pernikahannya dengan seorang pria asing tak membuahkan kebahagiaan sejati. Alih-alih bersetia sepenuhnya dan bungkam menerima takdir, pengarang yang bangga dengan latar belakang Jawa-nya itu malah menghentak dengan sikap dan pemikiran serta tindak-tanduknya yang dianggap melenceng dari budaya Jawa.

Berkali-kali saya saksikan perjuangan Nh. Dini dalam himpitan dua budaya: Barat dan Jawa. Misalnya saat ia dan anaknya Lintang menerima perlakuan yang dingin dan kikir dari suaminya, ia kerap mengucapkan bahwa mereka seharusnya bersyukur karena masih banyak orang di luar rumah mereka di dunia ini yang masih harus mengais-ngais tempat sampah untuk sekadar makan dan tidur di luar karena tak memiliki rumah. Ini adalah pendekatan hidup ‘nrimo’ ala Jawa yang ditanamkan oleh ibunda Nh. Dini pada dirinya sejak kecil dan susah sekali luntur. Namun, karena memang jiwa Nh. Dini tidak bisa dikekang oleh norma yang tak adil, ia pun melanggarnya sendiri.

Singkat kata, “La Grande Borne” ini memang lain daripada karya-karyanya sebelumnya, terutama “Sekayu” yang mengisahkan masa kecilnya di Semarang. Materi cerita dan nuansa serta gaya penuturannya sudah lain karena memang sang empunya cerita sudah mengalami perkembangan karakter, dari kanak-kanak menjadi dewasa.

Dan menurut saya, di titik inilah Nh. Dini mengalami krisis hidup paruh baya (midlife crisis). Ia mengalami keresahan yang amat sangat dengan kehidupan pribadinya (baca: ketidakharmonisan dengan suami) sehingga ia terus menyibukkan diri dengan anak-anaknya, menyibukkan diri merawat kucing bernama Miau yang biaya perawatannya mahal, menyibukkan diri juga untuk belajar dan mengambil ujian SIM di Perancis yang terkenal ketat dan tidak mengenal kata Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).

Saya sangat mengagumi keberanian Nh. Dini yang dengan tak gentar mengangkat sendiri kisah hidupnya untuk dipertontonkan kepada khalayak ramai. Ia lebih mirip David Sedaris daripada J.K. Rowling bagi saya. Sedaris misalnya mampu membungkus kisah hidupnya yang pedih sebagai pekerja serabutan tanpa keahlian yang membanggakan sebagai kisah-kisah humor yang menggelitik. Sementara itu, di ujung sana J.K. Rowling ialah jenis pengarang yang tidak menyangkut pautkan kehidupan pribadinya dalam karya-karyanya. Rowling bahkan mengaku dirinya tidak pernah menulis diari atau catatan pribadi harian.

Entah apakah ia bisa disebut sebagai pengarang feminis atau tidak tetapi yang pasti mendiang Nh. Dini ialah seorang penulis berpandangan progresif, terbuka dan kritis terhadap kondisi dalam masyarakat di sekitarnya. (*/)

Posted in writer | Tagged , , , | 2 Comments

Let’s Talk About Midlife Crisis

As we sat down together after a Bikram Yoga class that very sizzling morning, my boss and I exchanged some jokes and stories.

My first yoga class in a heated room ended gloriously. I walked out of the room losing only water in my body. Ego still in check and intact. No injuries caused. No dizziness. It was all good and smooth.

Being a younger subordinate, I was on the receiving end, all ears. Ready to absorb more knowledge of life he has to offer.

After we told each other our age, he said,” At your age now, I was experiencing midlife crisis….”

Then I knew our conversation glided towards something serious.

Following a morning prayer, he had a whim that he wanted to run 35 km on his 35th birthday.  It was not something I wanted to do in my wildest dream. Well, maybe not if I don’t have a strong reason to do so.

This kind of challenge is somewhat familiar if you are an endurance sport enthusiast. If you’re 35 you bench press 35 kg, or you do 35 push ups, or 35 sit ups or 35 pull ups. Anything challenging for whatever repetitions that equals your chronological age.

He did so partly because – as he admitted – he dealt with what we call now  “Midlife Crisis”. It is a period of emotional difficulty and instability leading to be more curious than usual about who someone is really and what his or her place in the world is.

Individuals in the crisis experience distress and feel uncertain but scientists say this is the right time as well to open ourselves to novel ideas and propositions. Midlife crisis also leads us to a supply of new insights and creativite ideas.

This type of crisis in fact commonly occurs in the world. No one seems to be immune to that. So if you’re now in this crisis, don’t think you’re all alone. You’re just unaware that fellow midlife crisis sufferers are around you.

And I think most of us don’t know that happiness varies throughout life. Scientists said it follows a U-shaped curve. Which means, humans normally feel happy in their childhood or early years of adulthood and then they feel most unhappy during their midlife period and when they reach old age, things seem to get better once again.

That said, if you’re in midlife crisis now, consider NOT to commit suicide or do something stupid or useless or hamrful both for yourself, your own immediate family or friends.

Keep pushing forward.

Do the best thing you can do to reach the finish line. Sound and kicking still even if you feel wretched and wrecked. (*/)

Posted in miscellaneous | Tagged , , , | Leave a comment