Hoer VS Huur

Salah satu yang guyonan tentang bahasa yang paling populer ialah kesalahan pengucapan oleh pembelajar bahasa asing yang memicu kesalahpahaman penutur asli. Dalam bahasa Belanda ada juga lelucon semacam itu.

Mevrouw Ita yang menggantikan Meneer Tonny yang entah kenapa absen sore itu menerangkan pentingnya pelafalan yang baik agar kami tidak terjebak dalam kesalahan yang menggelikan. Wanita itu berkacamata dengan warna hitam dan elegan. Rambutnya sebahu dan warnanya legam dan berkilau. Saya curiga ia mengecatnya secara rutin.

“Jadi hati-hati kalau mau mengucapkan ‘huur‘ dan ‘hoer‘ ya…,” pintanya. Ia tak menjelaskan pada kami arti kedua kata itu secara langsung.
.
Mevrouw Ita meraih spidol dan mulai menulis. Begitu kelar ( yang merupakaan serapan dari ‘klaar‘ yang artinya selesai), ada dua kalimat di papan tulis:
– Ik betaal de huur.
– Ik betaal de hoer.

Yang pertama, jelas Mevrouw Ita, maknanya lebih beradab. Yang kedua seperti sebuah pengakuan dosa.

Ia melanjutkan:”Bedakan pengucapan keduanya. Jika tidak, Anda bisa kehilangan muka.”

Kata ‘huur’ berasal dari kata kerja dasar ‘huren‘ yang artinya menyewa. Mevrouw Ita secara samar menyebut arti ‘hoer’ sebagai pekerja seks – bukannya teks – komersial. Otak saya mencari-cari padanan katanya dalam kosakata dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Ah, pasti kata ‘whore’. Sejumlah kata bahasa Belanda memang mirip dengan bahasa Inggris tetapi lain pengejaannya.

Mevrouw Ita melanjutkan,”Kalimat pertama artinya ‘saya membayar sewa’ dan kedua ‘saya membayar pelacur’.

Kata-kata kotor semacam ini entah kenapa langsung menancap dalam ingatan tanpa banyak upaya. Begitu juga dengan kata-kata umpatan dalam bahasa kumpeni seperti “je moeder” (mbokmu), “kuss mijn kont” (kiss my ass), “hoerenjong” (son of a bitch), “godverdomme” (goddamit), “moederneuker” (mother fucker), “schijt” (shit) dan sebagainya. Semua kata kata kotor itu tentu tidak diberikan oleh Mevrouw Ita yang anggun dan sopan itu di depan kelas. Saya mencarinya sendiri. Dengan penuh semangat. (*)

Beetje Bij Beetje

Di dunia bahasa, dikenal citra-citra subjektif juga. Pernah saya membaca bahwa bahasa Rusia lekat dengan kesan jantan. Apakah karena Putin sang presiden dikenal sebagai duda yang sangar dan kerap berkuda bertelanjang dada sebagaimana pernah ditangkap kamera pekerja media? Entahlah. Lalu bahasa Prancis lebih diasosiasikan dengan femininitas. Mungkin karena pelafalannya yang sulit dan rumit, mengharuskan lidah dan bibir bermanuver sedemikian rupa sampai terpilin-pilin tanpa ampun. Bahasa yang seksi, kata orang. Tapi sumber frustrasi bagi saya.
.
Beetje bij beetje,” tulis guru bahasa Belanda saya yang berasal dari kota yang berlokasi tepat di garis khatulistiwa itu di papan tulis. Maknanya mirip “little by little”, sedikit demi sedikit. Lalu kami diinstruksikan menirunya,”Beice bei beiceee..”
.
“Ya ampun, lenjeh banget rasanya mengucapkan frasa satu ini,”komentar saya secara spontan. Tentu dalam volume suara terkendali agar tak menarik perhatian Tonny, guru kami.
.
Seorang teman di sebelah saya mendengar dan menukas dengan nada sepakat:”Lhah, kan emang bahasa bencong-bencong nyerap banyak bahasa Belanda! Ik, jij!”
.
Saya mengiyakan dalam hati juga jawabannya lalu tergoda membayangkan citra apa yang bisa dilekatkan dengan bahasa Indonesia. Bahasa tanpa perubahan kata kerja berdasarkan waktu dan subjek, tanpa variasi kata ganti orang, hewan dan benda baik yang maskulin, feminin (saya stres kalau melihat orang mengeja “feminim”).
.
Dan sebelum saya menemukan jawabannya, Tonny menyebut nama saya saat mata saya asyik menerawangi langit-langit ruangan yang pendek sambil membayangkan betapa tersiksanya orang-orang Belanda yang jangkung-jangkung itu jika di dalam sini. Ia sekonyong-konyong menunjuk gambar Barack Obama di layar samping papan tulis.
.
“Wat is zijn naam?” tanyanya tajam pada saya, seolah-olah dirinya seekor macan tutul yang sukses menangkap seekor kijang yang sedang lengah-lengahnya.
.
Gelagapan saya menjawab,”Beetjeee… Uhh ohh, Obama, meneer!”

Nobar yang Membuat Hambar

“SUARA apa itu, mbak?” tanya saya was-was. Saya baru saja duduk dan memesan makanan. Lalap, nasi merah dan segala perlengkapan. Rumah makan ini baru. Begitu baru sampai-sampai yang beli cuma saya seorang.

“Nggak tahu…,” tukas perempuan muda itu acuh. Lalu ia melanjutkan bergosip dengan kawannya.

Begitu makanan saya tiba di meja, saya makin tak berselera gara-gara musik pengiring itu. Ya, saya kenal musik itu. Musik dari film yang membuat saya tak bisa tidur saban 30 September. Film yang membuat saya selalu mematikan televisi dan tidur cepat karena toh isinya tidak menarik dan traumatis. Lebih baik saya disuruh belajar sampai penat dan mata merah daripada menonton film itu.

Saya menyadari kebodohan saya yang bertanya pada gadis muda tadi. Usianya pasti baru belasan. Mana tahu soal film ini?

Dialog pun terdengar. Bukan lamat-lamat lagi tetapi hingar bingar. Seakan memang diatur sedemikian rupa agar membangkitkan keingintahuan orang yang lewat.

Nafsu makan saya makin hilang begitu saya mengicipi sambal. Blah! Tidak enak. Saya gigit selada keritingnya. Pahitnya seperti pil kina. Ingin saya lepeh seketika itu juga tapi saya takut menyakiti hati si pelayan itu. Akhirnya saya telan juga. Lalu mentimun yang diiris tipis itu juga tak segar lagi. Kisut, kering di satu sisi. Benar-benar memadamkan nafsu makan. Ditambah dengan makin menggemanya dialog film Orba itu ke liang telinga dan membangkitkan kenangan buruk di sudut batok kepala, klop sudah! Tetapi meski saya sudah tak ada nafsu makan, saya berupaya menelan sebisanya juga karena terbiasa mendengar dogma “mubazir temannya setan”.

Saya bayar makanan yang mengecewakan lidah ini dan bergegas meraih sepeda lalu mengayuh pulang.

Tetapi sedetik sebelum saya mengayuh, terbetik rasa ingin tahu,”Siapa gerangan yang menghelat acara nobar itu?!!”

Saya pun ke gang tempat rumah makan soto Kudus Saraswati yang selalu saya gadang-gadang itu. Letaknya kebetulan dekat dengan warung baru tempat saya baru saja bersantap malam. Gang itu ditutup. Bangku-bangku menandakan pemblokiran jalan. Sebuah sepeda motor juga malang melintang.

Dan di sana, di jalan depan rumah makan soto kudus kesayangan saya, terbentang sebuah layar dari kain putih. Film itu tersorot entah dari peralatan apa. Saya tidak peduli. Yang saya lihat hanya muka seorang pria di tengah kepekatan malam. Apakah di situ banyak orang, saya sudah tak peduli lagi, saya terobos saja ke depan sampai sepeda menerjang layar dan semuanya bubar. “Bubar!!! Pergi semua. Ini jalan umum!”

Tapi sayangnya itu cuma angan-angan saja. Kenyataannya, saya tercekat di mulut gang, dan enggan menatap layar itu lagi, mendengar musik latar yang menegakkan bulu kuduk ini, dan mengangkat sepeda ke arah seharusnya. Saya pulang dulu, jendral!

Di tengah jalan, lewatlah saya di warung langganan. Untuk melampiaskan kekecewaan, saya mampir. Dengan kata lain, saya makan malam lagi untuk menghibur hati dari kekecewaan dan kengerian malam ini. (*)

Hoax dan Buku

Perihal hoax, Amerika Serikat di tahun 1938 juga pernah dibuat acak-acakan seperti Indonesia masa sekarang. Sebuah sandiwara disiarkan melalui radio yang menjadi medium populer saat itu. Isinya soal serangan makhluk asing dari luar bumi. Orang Amerika bukan kumpulan orang dungu. Mereka memiliki tingkat literasi yang sudah baik saat itu. Pasalnya, hoax soal mendaratnya alien di AS itu dikemas sebagai suatu hiburan yang bertema serius. Gaya penyampaiannya seperti berita. Di radio, jika seseorang mendengarkan sekilas, dan ketinggalan konteks karena tak mendengarkan dari awal siaran, tentunya mengira itu siaran berita yang tidak main-main. Akibatnya banyak warga AS pendengar sandiwara itu yang menganggap hiburan fiktif itu sebagai fakta. Mereka kalang kabut, ketakutan karena akan dianiaya alien-alien berkepala mirip ujung korek api. Diduga pembuat sandiwara memanfaatkan ketakutan dan kecemasan dalam benak warga AS yang baru lepas dari jeratan Great Depression agar lakonnya laku di pasar. Begitu dongeng pak Hilmar Farid di atas mimbar.
.
“Jadi kalau ada anggapan orang Indonesia mudah percaya hoax karena kurang baca buku, itu patut disangsikan. Kalau ada hubungannya pun, korelasinya tidak langsung,” tegasnya.
.
Ia menambahkan bahwa tidak semua buku dan bahan bacaan cetak saat ini juga memuat fakta dan bukti yang sudah terverifikasi. “Sebagian penerbit malah mencoba mengambil keuntungan dari masyarakat yang kebingungan ini dengan menerbitkan buku-buku hoax dan menjadikannya sebagai suatu dagangan,” cerita beliau yang bersuara merdu itu. Saya pikir Dirjen Kebudayaan Kemdikbud itu cocok sebagai penyulih suara, terutama untuk tokoh-tokoh protagonis yang kebapakan dalam banyak tayangan telenovela India maupun Meksiko.
.
Ya, suka membaca juga belum tentu jaminan kita bebas virus hoax. Tetapi menurut saya kuncinya ialah ketelitian memilih buku bacaan. Kalau penulisnya tidak punya rekam jejak yang meyakinkan, dan penerbitnya juga dikenal sebagai kelas kacangan yang menerbitkan buku-buku berjudul bombastis, sebaiknya tak usah dibaca. Apalagi direkomendasikan ke orang lain. Itu seperti orang yang tidak tahu kebenaran berita copas whatsapp tapi menyebarkannya juga di grup whatsapp dia sendiri. Dan saat ditanya kenapa menyebarkan, alasannya cuma karena mau menyebarkan saja. Tidak mau bertanggung jawab secara moral karena ikut menyebarkan kekeliruan yang masif. Semoga saya dan Anda sekalian dijauhkan dari kemalasan intelektual semacam itu.
.
Namun, di antara kumpulan penerbit yang ada, buku-buku penerbit Yayasan Pustaka Obor bisa dikatakan relatif bebas hoax. Kenapa? Karena penulis-penulisnya adalah akademisi dan peneliti serta pengarang yang sudah teruji kredibilitas dan diketahui jatidiri aslinya. Bukan semacam Eny Arrow, yang dikenal luas tetapi tak pernah diketahui parasnya.
.
Selamat ultah ke-40 Obor! Semoga apimu terus menerangi Indonesia yang haus ilmu.

Nederlands Is Makellijk

NEDERLANDS is makellijk, tulis meneer Tonny dengan huruf besar di papan tulis yang lebar, putih, dan mulus itu. Kalimat itu saja yang ia tegaskan untuk mencuci otak kami agar semangat tidak keropos di tahap awal belajar bahasa kompeni ini. “Nederlands is makeuleuk,” ucap kami serempak menirukan.
.
Ia katakan kelebihan bahasa Belanda dari bahasa Inggris ialah pengucapannya yang apa adanya. Apa yang tertera, dibaca saja, tuturnya. Tetapi saya sangkal pernyataannya dalam hati,”Kalau mudah, kenapa orang Indonesia merasa lidah mereka kaku saat membaca tulisan Belanda?” .
.
Namun, itulah enaknya belajar bahasa, yang tak masuk dalam ranah eksakta. Semuanya relatif, suka suka. Anda bisa mengajukan klaim mudah dan menambahkan pengecualian. Dan pengecualian itulah yang tak bisa dipahami secara logis dan susah dipahami dan dihapalkan.
.
Semangat belajar memang penting untuk dipelihara selama perjalanan mencari ilmu. Sebab tidak semua fase belajar itu menyenangkan untuk dijalani.
.
Tetapi seorang teman mengatakan, bahasa bekas penjajah ini susah. Begitu susah, sampai novelis termasyhur Eka Kurniawan bertekuk lutut saat mengikuti kursus ini.
.
Berkali-kali meneer Tonny mengajukan bukti pendukung pernyataannya bahwa Nederlands is makellijk (bahasa Belanda itu mudah). Disuruhnya kami mengajukan contoh kata-kata dalam bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa ini, dari verboden (terlarang), kraag (krah), tas, handoek (handuk), korsluit (korslet), koelkast (kulkas), pootlood (pensil/ potlot), kantoor (kantor), fiets (pit, bahasa Jawa), om, tante, dan daftarnya tak habis-habis.
.
Sayangnya panjangnya daftar itu cuma menunjukkan besarnya cengkeraman mereka pada bangsa ini, bahkan di luar urusan politik dan kenegaraan. Sementara itu, pengaruh bangsa (yang kuantitasnya) besar yang (berdaya saing) ‘kecil’ ini relatif sangat rendah pada mereka. Buktinya, susah sekali menemukan kata-kata bahasa Indonesia yang diserap oleh penutur Belanda.
.
Di antara yang langka itu, meneer Tonny menyebut beberapa. Pertama, kata “pienter” yang diserap dari bahasa kita. Artinya juga sama dengan kata “pintar” yang kita sering pakai.
.
Lalu ada juga “piekeren”, yang kata meneer Tonny, memiliki makna “memikirkan sesuatu”. Setelah itu, meneer Tonny beralih topik. Sudah kehabisan contoh atau karena ingin fokus ke topik selanjutnya.
.
Saya manggut-manggut, dengan mata tidak berani menerawang liar ke mana-mana agar tidak ditunjuk saat lengah lagi.
.
Sambil menancapkan mata ke depan agar tetap terlihat memperhatikan, saya terus berpikir. Mau sebanyak apapun jumlah penutur bahasa Indonesia tetap tidak bisa dimasukkan menjadi kelompok bahasa berpengaruh di dunia. Salah satu sebab utamanya pengaruh Indonesia yang masih lemah di konstelasi pergaulan bangsa-bangsa. Dan salah satu aspek yang bisa diukur untuk menentukan tingkat pengaruh suatu bangsa di lingkaran global ialah banyaknya kata-kata dalam bahasa mereka yang dipinjam dari bahasa lain. (*)

Manual Book: Anatomi dan Penyusunan

(Sumber foto” Wikimedia Commons)

Buku manual (manual book) belum banyak dikenal oleh masyarakat luas. Bagi Anda yang menyukai hal-hal yang berbau pertukangan, kelistrikan, teknik, teknologi informasi, komputer  dan sejenisnya, buku manual mungkin sudah familiar dan bahkan menjadi santapan sehari-hari.

Bagi yang belum tahu buku manual, buku ini secara garis besar memuat instruksi-instruksi, terutama yang berkenaan dengan cara-cara menjalankan sebuah mesin atau mempelajari sebuah subjek. Kata ‘manual’ sendiri berasal dari ‘manus’ (bahasa Latin) yang artinya tangan. Jadi, secara umum buku manual membahas soal apa yang harus dilakukan oleh seseorang untuk menjalankan atau mengoperasikan sesuatu.

Menyusun sebuah buku manual memiliki tantangan dan kemudahannya tersendiri jika dibandingkan dengan buku biasa. Tantangannya adalah bagaimana penulis mampu meringkas dan meramu informasi penting secara mengalir, enak dibaca dan mudah dicerna. Di sini, penulis tidak perlu berpanjang lebar menjelaskan segala-galanya. Yang perlu dilaksanakan si penulis ialah memfokuskan uraian dalam buku manual hanya pada topik-topik yang sudah ada dan lazim dikemukakan dalam sebuah buku manual. Bagi mereka yang terbiasa menulis fiksi atau artikel blog yang menyediakan banyak ruang untuk berimprovasasi dan bereksperimen dengan kata-kata, tampaknya akan menjadi orang yang paling banyak menemukan batasan dalam proses penulisan manual book.

Kemudahannya ialah penulis tidak perlu menghabiskan banyak waktu dalam proses penulisan manual book. Kenapa? Karena lazimnya ketebalan manual book hanya belasan halaman. Namun, tentu saja ada beragam faktor yang menentukan ketebalan buku manual. Yang paling utama ialah kompleksitas atau kerumitan sebuah subjek yang dibahas. Makin rumit,  bisa dimaklumi makin tebal juga buku manualnya.

Terkait anatomi buku manual, biasanya sebuah buku manual tersusun dari sejumlah bab utama yang bervariasi sesuai dengan bidang yang menjadi subjek pembahasan. Untuk contoh, mari kita lihat sebuah manual book tentang logo perusahaan. Dalam buku manual ini, terkandung tiga bab: filosofi, unsur dasar dan aplikasi/ pemakaian.

Dalam filosofi, dapat diuraikan secara singkat dan jelas mengenai landasan pemikiran sebuah logo yang dipilih oleh sebuah entitas bisnis. Dalam bab Unsur Dasar, penulis dapat menuangkan beragam hal esensial dalam sebuah logo bisnis. Di sini dijelaskan secara rinci makna-makna yang ingin disampaikan melalui pemilihan beragam unsur visual dan desain yang spesifik, termasuk di dalamnya ialah pemilihan warna, jenis font, bentuk unik, tipografi, dan sebagainya. Semua ini perlu dijelaskan secara tertulis untuk menyampaikan pesan yang standar dan sama kepada seluruh pihak yang berkepentingan dengan perusahaan yang bersangkutan.

Kemudian di bab terakhir, aplikasi atau pemakaian logo, penulis memungkasi buku dengan menjelaskan lebih mendetail soal penggunaan logo beserta deskripsi visualnya dalam bentuk foto atau gambar yang spesifik. Yang tidak kalah penting ialah pemberian uraian yang singkat, padat dan jelas mengenai hal-hal yang terlarang untuk dilakukan dengan logo perusahaan yang bersangkutan. Larangan tersebut agar pesan yang ingin disampaikan perusahaan tidak terdistorsi. (*)

Anatomi Ideal Rilis Pers Gaya Formal

Rilis pers lazimnya dibagikan oleh pihak penyelenggara untuk para pewarta. (Sumber: Wikimedia Commons)

Sebagai seorang wartawan, saya kerap menerima rilis pers. Biasanya rilis pers ini dibagikan dalam jumpa pers yang diadakan sebelum sebuah event secara resmi digelar. Di dalam sebuah rilis pers, biasanya dimasukkan berbagai informasi esensial agar para pewarta lebih mudah dalam memahami inti event yang dimaksud. Dengan membaca rilis pers ini, pekerja pers akan juga lebih mudah menyusun pertanyaan yang disusun sesuai kebutuhan pembaca medianya atau sesuai arahan redaksi yang mengutusnya ke sana.

Tulisan ini merangkum beberapa poin penting yang semestinya tercakup dalam sebuah rilis pers, dan bisa dijadikan panduan untuk menyusun rilis pers yang baik. Hal ini penting karena rilis pers yang baik turut menunjukkan level, citra dan keseriusan sebuah penyelenggara event dalam menangani perhelatan yang digelarnya.

FONT

Sebuah rilis pers yang baik biasanya hanya berupa 1-2 lembar kertas yang berisi informasi yang diketik rapi dengan font yang resmi. Meskipun formal, bukan berarti rilis pers harus memakai Times New Roman. Jenis font yang masih layak, lazim dipakai dalam dokumen-dokumen dan pantas digunakan dalam korespondensi bisnis seperti Georgia, Arial, Calibri (lazim dipakai di Microsoft Word, program pengolah kata di Windows), Apple Braille (Mac) dan sejenisnya. Intinya, harus mudah dibaca dan mampu menyampaikan kesan resmi. Font Comic Sans dan setipe itu tentu sangat tidak disarankan karena terlalu santai. Font jenis Monotype Corsiva yang terlalu meliuk-liuk sehingga menyulitkan membaca juga kurang disarankan dipakai dalam rilis pers. Untuk pemilihan font, tentunya harus dikonsultasikan dengan klien yang bersangkutan, karena bisa jadi tiap klien (apalagi yang sudah skala dunia) memiliki panduan tersendiri yang disepakati bersama dalam lingkungan internalnya.

Masih terkait penggunaan font, jangan lupa gunakan font tebal (bold) untuk menekankan poin-poin penting yang menjadi fokus rilis pers. Font tebal disarankan dipakai untuk mencetak nama orang dan tempat penting. Nama ini misalnya nama jajaran direksi atau nara sumber penting yang hadir dalam jumpa pers yang bisa diwawancarai pewarta, atau tempat yang baru selesai dibangun dan siap diperkenalkan dan dibuka untuk publik. Sebagai tambahan, garis bawah (underline) kurang disarankan karena membuat rilis pers kurang rapi. Sementara itu, font miring (italic) diperlukan dalam mencetak istilah-istilah asing yang belum diserap ke dalam bahasa Indonesia.

LOGO

Di bagian atas (kop), idealnya mesti ada sebuah logo perusahaan yang proporsinya sudah dipertimbangkan secara cermat dan seragam dengan penggunaannya di media lain. Dengan kecermatan dalam menentukan proporsi, Anda akan lebih yakin bahwa rilis pers itu memang dikeluarkan oleh lembaga/ korporasi yang bersangkutan.

FOTO

Meskipun rilis pers hanya dicetak hitam putih, keberadaan foto juga bisa saja menarik pembaca. Foto yang diambil tentunya yang memuat hal yang paling kuat mewakili citra dan bidang tempat penyelenggara event bergerak. Misalnya, jika rilis pers dikeluarkan sebuah hotel, tentu saja akan lebih cocok untuk menampilkan interior presidential suite yang terbaik dan termewah. Bukannya memuat foto kolam renang, spa atau gym, meskipun dua fasilitas tersebut juga pasti ada di dalamnya.

Jumlah foto tentunya disesuaikan dengan kebutuhan. Tidak perlu terlalu banyak, asal sudah mampu membantu menyampaikan tujuan pembuatan rilis pers itu sendiri. Jikalau memang dirasa perlu memberikan foto berwarna resolusi besar agar dapat segera dibawa pulang dan diunggah pewarta daring, boleh saja Anda masukkan file-file foto tadi ke dalam flash disk sehingga lebih ringkas. Flash disk itu juga bisa diberikan sebagai salah satu souvenir bagi pewarta yang hadir dalam jumpa pers. Alternatif lain untuk menyediakan foto resoulsi besar ialah dengan memberikan tautan di situs resmi lembaga/ perusahaan yang bersangkutan, yang di dalamnya sudah disediakan foto-foto yang siap diunduh oleh pewarta dan publik yang berkepentingan.

JUDUL

Judul adalah kunci. Begitu pentingnya judul sehingga ia haruslah dicetak dengan huruf kapital. Judul bisa saja ada dua jenis: judul besar dan kecil. Biasanya judul besar menyampaikan secara ringkas isi rilis pers. Sementara itu, judul kecil menyuguhkan latar belakang yang perlu diketahui pembaca mengenai peristiwa yang dimuat dalam judul besar. Judul juga bisa memuat angka-angka yang menunjukkan pencapaian (terutama jika rilis pers memuat prestasi korporasi/ lembaga dalam periode tertentu).

TEMPAT DAN TANGGAL

Seperti surat formal, akan lebih baik jika uraian rilis pers diawali dengan tempat (kota) dan tanggal dibagikannya rilis pers tersebut kepada pewarta. Disarankan untuk memakai font tebal agar lebih mudah dibaca dan menarik perhatian.

5W dan 1H

Seperti artikel berita, sebuah rilis pers juga harus memenuhi kriteria jurnalistik 5W (when, where, why, who, what) dan 1H (how). Dan akan lebih bagus lagi jika paragraf pertama sudah memuat itu semua dalam kalimat yang ringkas, padat dan singkat. Paragraf pertama bisa memuat 2-3 kalimat pendek yang sarat informasi umum dan penting. Tidak perlu terlalu detail di sini karena nantinya di paragraf selanjutnya, Anda bisa merinci lebih leluasa.

KUTIPAN

Diperlukan kutipan untuk bisa menguatkan sebuah rilis pers di mata pewarta. Kutipan harus dipilih sedemikian rupa sehingga membangun keingintahuan pewarta untuk bertanya nantinya dalam sesi tanya jawab dalam jumpa pers. Jadi, jangan terlalu pelit dengan informasi tetapi juga jangan terlalu boros. Secukupnya saja asal sudah bisa membuat orang yang membaca bertanya-tanya versinya yang lebih lengkap. Dari kutipan itu, wartawan yang kritis bisa memakainya untuk mengembangkan daftar pertanyaan yang menjadi kerangka tulisan mereka nanti.

Siapa saja yang diperlukan kutipannya dalam rilis pers? Soal ini, sangat bervariasi. Tetapi jika harus diberikan ancang-ancang, berikanlah setidaknya dua kutipan dari dua nara sumber berbeda. Contohnya, cantumkan satu kutipan dari direktur kemudian satu kutipan dari

KELEBIHAN

Dalam rilis pers, bagian yang menjelaskan kelebihan event/ program/ produk sebuah lembaga atau korporasi haruslah ada karena memang itulah tujuan dasar menyusun rilis pers. Untuk menjelaskan kelebihan, Anda bisa memakai deskripsi yang memakai kata-kata sifat yang bertujuan mengundang orang untuk mendekat, mengonsumsi atau mengunjungi. Kata-kata itu misalnya “menarik”, “elegan”, atau “bergaya”. Di sini diperlukan kreativitas tinggi sekaligus kekayaan kosakata penulis rilis pers agar tidak menggunakan kata-kata manis yang klise dan cenderung memuakkan. Akan lebih baik jika penulis rilis pers bisa merangkai kata sedapat mungkin agar tetap terkesan natural meski pada intinya harus memberikan kesan positif sebaik-baiknya.

CALL-TO-ACTION

Jika salah satu tujuan digelarnya event/ program ialah menjual jasa atau produk, jangan sungkan untuk memberikan pernyataan bahwa ada diskon atau potongan harga khusus bagi mereka yang ingin mencoba memakai jasa atau produk tersebut. Di dalamnya Anda bisa mencantumkan tautan (link) di situs web resmi lembaga atau perusahaan klien yang bersangkutan untuk mengklaim diskon itu segera sebelum periode penawaran diskon berakhir.

KETERANGAN TAMBAHAN

Di bagian sebelum paragraf terakhir, lebih disarankan jika ada deskripsi singkat mengenai latar belakang penyelenggara program/ event yang dijelaskan dalam rilis pers. Yang bisa dicantumkan di sini ialah nama penyelenggara, grup bisnisnya atau organisasi besar yang menaunginya, sejarah singkat (dalam 1-2 kalimat singkat), pencapaian terbesar dan terkini, jangkauan dan sebaran program/ event, kelebihan yang menjadi daya jual/ selling point.

Di bagian ini, Anda bisa bubuhkan alamat situs resmi grup bisnis atau organisasi besar yang menjadi tempat bernaung sang penyelenggara event/ program.

ALAMAT DAN KONTAK

Di bagian paling akhir rilis pers, sertakan juga narahubung (contact person) yang bisa dihubungi jika ada pertanyaan, jabatan sang nara hubung (untuk meyakinkan pihak luar tentang otoritasnya dalam memberikan jawaban), nama lembaga/ perusahaan, alamat lengkapnya, nomor telepon yang dapat dihubungi setiap saat, dan alamat surat elektronik (surel). Akan lebih baik lagi jika ada juga akun media sosial yang dapat diikuti untuk bisa mengetahui kabar terbaru dan berinteraksi dengan brand/ bisnis yang bersangkutan secara real time. Akun apa saja yang perlu disertakan? Untuk lingkup Indonesia, pastikan setidaknya ada laman penggemar (fanpage, bukan akun personal) Facebook dan akun Twitter. Instagram juga bisa ditambahkan tetapi tidak sekrusial dua sebelumnya.

Terakhir sebelum Anda mencetak dan membagikan rilis pers ke media, periksa dan baca lagi draftnya untuk menghindari kesalahan ejaan (typo) yang dampaknya bisa mengganggu dan memalukan. Kesalahan tanda baca dan tata bahasa juga kerap ditemukan dalam rilis pers. Dan dalam jumlah yang terlalu banyak, kesalahan-kesalahan minor ini akan cukup meyakinkan media bahwa rilis pers itu disiapkan secara terburu-buru atau kurang matang. (*)

Berlatih Menulis Gaya Lama

Ada pernyataan bahwa novelis/ penulis fiksi perempuan memiliki ketrampilan menulis novel laris yang lebih baik. Saya pikir ada benarnya juga. Perempuan memiliki kepiawaian alami untuk berbagi cerita. Dan cerita-cerita mereka terasa lebih emosional dan dalam serta blak-blakan daripada cerita-cerita yang dipertukarkan di antara kaum Adam. Mungkin karena dengan bercerita secara panjang lebar juga memerlukan keberanian untuk membuka diri, yang artinya juga bisa memberikan celah bagi pembaca untuk mengetahui kelemahan diri si penutur/ penulis yang bersangkutan.  Membuka diri dan memajang kelemahan sangat bertentangan dengan konsep maskulinitas mapan yang masih bertahan sampai sekarang. Pria secara umum ingin dianggap lebih kuat, berkuasa dan memiliki otoritas. Membuka kelemahan dalam bentuk apapun akan bisa merongrong semua itu. Sebuah overgeneralisasi tetapi setidaknya itu yang saya rasakan. Dalam banyak jurusan sastra, misalnya, jauh lebih banyak jumlah mahasiswa perempuan daripada laki-laki. Itulah yang saya alami.

Salah satu contoh penulis perempuan yang sukses dengan novelnya ialah Gillian Flynn, yang dikenal luas sebagai penulis novel thrillerGone Girl“. Dalam sebuah wawancara, penulis yang pernah dipecat dari sebuah majalah setelah bekerja selama sepuluh tahun di dalamnya itu mengatakan bahwa dalam proses penulis Gone Girl, ia memakai metode latihan menulis gaya lama (old school).

Seperti apa latihan menulis fiksi gaya lama yang ia lakukan?

Eksperimen Sudut Pandang

Ia menulis adegan-adegan dari sudut pandang karakter lainnya. Tetapi bagian-bagian ini ia katakan tidak dimuat dalam buku. Meski tidak dimasukkan dalam novelnya, toh Flynn tetap mengerjakannya demi memperkuat penokohan, deskripsi dan segala elemen dalam ceritanya agar lebih meyakinkan, seolah memang rangkaian fakta yang tidak terbantahkan.

Misalnya, untuk memperkuat penokohan karakter utama Amy Eliott, Flynn sengaja menulis dari sudut pandang teman SMA Amy. Untuk tokoh Nick Dunn, Flynn membuat penjelasan tersendiri soal penuturan dari sudut pandang guru TK Nick dalam sebuah perkumpulan orang tua murid.

Flynn menegaskan bahwa dirinya “suka mengamati seseorang dari berbagai sudut pandang (angle)”.

Detail Pribadi

Flynn kemudian mengatakan bahwa dirinya juga menulis soal hal-hal kecil dan remeh-temeh soal karakter-karakter utamanya. Sesepele apa yang ia tulis? Ia membayangkan menelusuri daftar putar (playlist) iPod karakternya untuk mengetahui lagu-lagu kesukaaan mereka dan daftar tunggu Netflix untuk membayangkan jenis tontonan yang mereka gemari.

Flynn tidak ragu untuk menghabiskan banyak energi dalam menulis bagian-bagian ini karena ia meyakini ada gunanya.

 

Wartawan ‘Plus-Plus’: Sebuah Pledoi

 (Photo credit: Wikimedia Commons)
Wartawan sekarang juga mesti plus-plus. (Photo credit: Wikimedia Commons)

Melalui WhatsApp, suatu siang saya diajak bertemu oleh seorang teman di hari libur di tengah pekan. Saya berkelit dari kewajiban untuk hadir segera  untuk memenuhi ajakannya bertandang ke rumah seorang teman lain yang cukup jauh dari tempat tinggal saya di jantung ibukota. Kata saya,”Saya masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan. Mungkin habis makan siang saya baru bisa ke sana.” Begitulah kira-kira janji saya kepadanya dalam bahasa yang lebih halus.

“Ah, kamu ini! Bekerja terus tapi nggak kaya-kaya!” selorohnya pada saya. Saya tersenyum kecut meskipun saya hanya menatap layar gawai. Saya memang tidak mengada-ada. Ada sebuah pekerjaan menerjemahkan yang saya sedang tangani. Dan saya sudah menetapkan disiplin ketat untuk menyelesaikan setidaknya sepuluh halaman dalam sehari agar bisa lekas selesai pada batas waktu yang sudah disepakati. Jika gagal saya penuhi, denda sudah menanti.

Anda pikir saya penerjemah penuh waktu? Tidak, saya wartawan. Dan saya sudah menekuni pula banyak pekerjaan selain jurnalisme. Di waktu luang saya berusaha untuk melengkapi diri dengan beragam ketrampilan selain jurnalistik yang bisa bermanfaat dalam mengais rezeki halal. Karena memang mengandalkan nafkah dari jurnalisme saja tidak mungkin cukup untuk bisa bertahan hidup di pasar tenaga kerja Jakarta yang makin mahal dan kompetitif serta dunia bisnis dan ekonomi makro yang secara umum masih terhimpit.

Di tengah degradasi jurnalisme seperti sekarang, saat konten orisinal dan berkualitas makin jarang dan daur ulang konten makin menjadi-jadi, belum lagi dengan desakan teknologi informasi, rasanya profesi wartawan makin tergerus. Saya sudah pernah membaca bahwa jurnalis ialah salah satu profesi yang akan segera digantikan oleh mesin/ algoritma. Programmer sudah bisa membuat kode-kode khusus yang nantinya akan mengumpulkan konten secara otomatis, yang hasilnya kemudian bisa disajikan sebagai berita dan disuguhkan pada pembaca. Berita jenis ‘hard news’ misalnya berita gempa bumi akan bisa dengan mudah dibuat karena sudah memiliki pola (template) 5W dan 1H yang sudah lazim itu. Tidak perlu menyuruh seorang reporter mengetik, algoritma itu akan bekerja mengumpulkan data dari pusat data seismik yang ada dan mengirimkannya ke kantor-kantor berita yang membutuhkan dan menyebarkannya secepatnya.

Saya tentu awalnya takut mendengar ramalan semacam itu. Kemudian saya mulai menyiasatinya dengan melakukan diversifikasi ketrampilan diri. Saya harus bisa lebih dari hanya sekadar menyajikan fakta dalam berita, atau mendaur ulang konten dari portal berita lain yang sudah ada. Saya pun mencari berbagai celah potensial untuk mengembangkan diri saya agar menjadi wartawan plus-plus.

Pekerjaan sehari-hari saya sebagai jurnalis daring membuat saya terpapar dengan media sosial secara terus menerus, perlahan-lahan saya mulai belajar media sosial juga. Saya menyisihkan waktu secara sengaja untuk belajar lebih mendalam tentang media komunikasi baru ini. Dan dari sana, saya bereksperimen dengan apapun yang saya miliki, baik itu alat, kesempatan dan berbagai metodenya yang memungkinkan untuk belajar media sosial karena saya sadar akan makin banyak orang memerlukan ketrampilan berkomunikasi secara lebih efektif dan efisien di kemudian hari. Saya pun nekat mengikuti lokakarya media sosial selama beberapa hari di tengah pekan meskipun itu artinya jatah cuti saya tergerus. Saya tahu ini merupakan investasi masa depan, karena sebagai wartawan, sampai kapan saya mesti mengetik berita daur ulang dan mewawancarai orang-orang hanya untuk dibaca di portal berita hanya untuk dilupakan setelahnya? Dan investasi ini terbukti menghasilkan karena saya baru-baru ini diundang untuk menerangkan media sosial dan mekanisme pemanfaatannya sesuai tujuan komunikasi kelembagaan.

Bidang pekerjaan jurnalisme juga berkaitan erat dengan dunia tulis menulis kreatif (creative writing). Sehingga saya pun mencoba menulis artikel di media jurnalisme warga. Selain itu, saya beruntung karena beberapa kali artikel yang saya tulis termuat di dalam surat kabar juga. Upah untuk satu artikelnya memang tidak seberapa tetapi toh sudah membantu memupuk reputasi saya sebagai wartawan yang tidak cuma bisa menulis berita tetapi juga lainnya (karena ada juga wartawan yang menulis hanya saat mereka bekerja, sebab passion mereka bukanlah menulis). Semua itu membantu saya mendapat pekerjaan sebagai ghostwriter (penulis bayangan) sebuah buku dan penulis di sebuah majalah seni.

Setelah itu, saya juga berhasil memasukkan tulisan-tulisan saya dalam beberapa buku yang diterbitkan oleh teman-teman saya. Sekali lagi, memang imbalannya sangat tidak seberapa tetapi saya terus melakukannya sebab saya yakin saya melakukan ini untuk mengasah ketrampilan saya dan memperkaya wawasan dan memperluas jaringan. Pendeknya, tidak ada yang sia-sia jika saya berpikir dalam jangka panjang.

Dalam membuat berita/ konten, saya juga terbiasa menerjemahkan (karena saya diserahi segmen berita mancanegara). Dengan ditambahi dengan latar belakang pendidikan yang mendukung (Sastra Inggris), saya pun juga melakoni profesi penerjemah paruh waktu. Saya mencoba menjalin relasi dengan banyak orang karena saya sadar dari banyaknya kenalan, saya bisa menawarkan jasa saya sebagai penerjemah. Dan relasi itu dibangun dengan organik, yang maksudnya ialah hubungan yang saya bangun tidak melulu karena saya berhasrat menawarkan jasa penerjemahan pada mereka tetapi juga karena saya ingin menjadi teman yang baik. Saya paling benci jika menemukan orang yang terlalu bernafsu memonetisasi hubungan mereka dengan orang. Jika menguntungkan, ia dekati dan berhubungan baik dengan orang tetapi jika tidak ada keuntungan yang bisa dipetik, orang itu diacuhkan begitu saja.

Hobi lain yang saya minati juga kemudian saya terus tekuni. Saya menyukai yoga untuk diri sendiri awalnya. Saya anggap ini upaya menyehatkan diri agar saya bisa bekerja leboih produktif, karena profesi wartawan sungguh identik dengan kebiasaan kurang sehat, dari merokok, mengopi, begadang, makan sembarangan (asal kenyang dan enak)  Hingga kemudian saya menemukan celah untuk memaksimalkan minat saya ini lebih jauh. Saya terus berlatih dan akhirnya memutuskan belajar lebih dalam sampai mengikuti pelatihan mengajar yoga. Singkatnya, saya terjun dalam dunia yoga sebagai pengajar dengan salah satu alasannya, yakni untuk meragamkan ketrampilan hidup saya di samping kemampuan dan pengalaman jurnalistik yang ada.

Selain semua bidang di atas tadi, saya juga masih meluangkan waktu untuk mengajar bahasa Inggris untuk klien pribadi. Saya juga sebelumnya sudah mengajar di sebuah kampus tempat seorang politisi memberikan celetukannya soal gaji kecil pewarta. Saya meninggalkan tempat itu sekarang. Tidak lain karena gajinya juga tidak kalah memprihatinkan dari gaji wartawan. Dari pengalaman itu, saya lebih suka mengajar klien individual karena tidak perlu kerja ‘rodi’ mengajar kelas berisi 60 orang dan meneliti kertas jawaban ujian tertulis sampai larut malam. Upah lebih tinggi karena saya yang menentukan jumlah dan jadwalnya sendiri. Mau, ambil. Tidak mau, silakan cari yang lain. Dan setelah les, saya bebas. Tidak terbebani kewajiban menyetor nilai, menandatangani lembar ini itu untuk bisa mengambil honor, berbasa-basi dengan rekan pengajar yang mengira saya mahasiswa juga. Merepotkan.

Jadi, kalau saya mendengar politisi itu mengolok-olok gaji pewarta dan mengukur kesejahteraan dari kekerapan mengunjungi mall dan berbelanja barang-barang konsumtif, saya hanya bisa berdehem dan menggulingkan bola mata. Saya tidak akan terhina karena memang begitulah faktanya. Akan tetapi meskipun itu benar, kalau mau berpikir lebih bijak, tidaklah etis bagi seorang tokoh publik untuk melontarkannya dalam kesempatan terbuka, saat leluconnya bisa dikutip dan disebarkan setelah konteksnya dipreteli secara semena-mena.

Alih-alih  merasa terhina dan berang, saya anggap lelucon yang sama sekali tidak lucu itu sebagai sebuah cambuk untuk menjadi wartawan ‘plus-plus’. Maksud ‘plus-plus’ itu tentu bukan wartawan yang menyambi menjadi pekerja seks komersial (meskipun memang harus diakui lumayan menggiurkan, tetapi masalahnya berapa banyak wartawan yang bahkan peduli dengan penampilan fisik mereka sendiri), tetapi menjadi wartawan yang sanggup menjadi lebih dari sekadar pekerja teks komersial. Karena wartawan plus-plus akan memiliki kekuatan tersendiri, tidak hanya bisa pasrah pada pemodal yang mau menang sendiri dengan menggaji mereka sekecil-kecilnya. Jadi jika idealisme wartawan dilanggar, wartawan itu tidak akan kelaparan saat harus meninggalkan kantor-kantor berita para pemodal kikir atau kantor redaksi yang tercemar kapitalisme digital yang mengukur kinerja dengan pageviews. (*)

The Diarist (2)

YOUNGER YEARS. I was named Widjaja Djawawi by my parents. My father and mother were Wagiran and Masirah, respectively. Though my parents had no recollection of my date of birth, they have this kind of belief that I was born on one day in 1927. Which date specifically, please don’t ask. They didn’t even bother to mark the calendar simply because they did not have such a thing. Time was never a serious concept of life to my parents. Though they felt and talked about it, time never bothered them as a human being. They didn’t feel the necessity of saving time or making plans or keeping records of the past events for the purpose of the next generation or such. I found this to be such a shame and loss because as I grew up later and learned more with my limitation of education access, I finally realized the significance of writing our history. In this case, my own history.

My education had been brief but the effect was lifelong, indeed. It was 1936, father said, when I was enrolled as a first grader of Sekolah Rakyat Pertama (roughly translated: The Elementary Laymen School). It was true. What my parents could afford for me was laymen basic education. Not more. Not less.

The school was located in the village of Prambatan Kidul, Onduan Kaliwungu, the regency of Kudus, Central Java province, Indonesia. The word “onduan” sounds foreign because it was not Indonesian. Onduan refers to “subdistrict” or “kecamatan”, for your information.

In 1936, as we all know, Indonesia was under the Dutch Occupation. No historical fact can deny this. And I don’t need my father or mother to tell me our people were suppressed in many ways. I didn’t understand I at first but as time went by, it seeped into every corner of my brain. Being part of the oppressed people had always felt humiliated and embarassed. It was like being a lady, who every day gets objectified, teased, tortured and raped. We suffered a lot physically, financially, psychologically, and mentally.

I had an elder maternal brother named Kaswadi. We were not as close as two brothers are supposed to be. We have different fathers. It wasn’t that he was a horrible or evil person but it was hunch that he preferred to be with his friends to being with me, his sole brother. I had not asked him as to why he did so but I refrained myself from doing so. I believed it was his right to do so.

In 1938, I was a fourth grader at the time. And during the holiday before the classes began that academic year, I became officially and religiously an adult. How was that even possible? As a moslem man, you know you’ve entered the adulthood after you lose your foreskin. You have to lose something in order to get something else. The universe works fairly. My parents rejoiced as we got visits from relatives and neighbors. Presents were flowing into our household. It was a joyful moment but not quite for me. The recovery process ran lengthy and of course, painfully enough for me to undergo. But this, I believe, was a part of going mature every male who is a moslem as well have to experience. I had no choice but go through this no matter what.

While our household was bathed in a little joy during my circumcision as the adulthood initiation ritual, we had to suffer from another calamity. I was too devastated though not completely. After ten days of agony, Kaswadi died of tubercolosis. Though we were not really close to each other and got along like two brothers in an ideal way, but I felt the pain of loss of his presence.

In Indonesia during the Dutch Colonial Era, we already had a special institution handling this highly infectious disease. The Dutch Colonial Government at the time had set up Stichting Centrale Vereniging tot Bestrijding der Tuberculose (SCVT). By the end of the Second World War, they had established 20 diagnostic units and 15 sanatoriums concentrated in Java.

My mother often wept after he passed away. The late Kasmudi might be my distant sibling but I had to admit he was the one and only brother I had. So after his passing, I honestly felt the loneliness more and more. But of course, it was easier for me as a young boy to pass through the grievance phase because I was able to engage myself in many other social and academic and physical activities I wished to take part in. My parents, especially my mother, had to encounter and deal with the absolutely different situation and I felt so sorry for her that she never managed to get this over from her head. But I couldn’t do anything about it. It was her own struggle within her soul. Even I, then the one and only son left, couldn’t help her in this phase because all I could do for her was pray. Only that. My father and I were so helpless to see her forlorn and grief-struck in the rest of her days on earth. The grief had sucked up her life from us. She was now a breathing corpse.

My life after Kasmudi’s death went on. In July 1941, I had left the school (Sekolah Rakyat or the School of Laymen) after leaving my five grade.

The year of 1942 witnessed the arrival of the Japanese soldiers. After my leaving, I continued to work as a cigarette factory worker.

Three years after Kasmudi’s passing, my mother followed. She left us for good in January 1941. I was not quite surprised though because she had gone so depressed after all these years. It was creeping to haunt all of the family members and finally my mother fell victim to it. (to be continued)