Chandra Satria dan Kerinduan Lirik Sastrawi di Musik Indonesia

17358861_10210397962162753_2697696549788307423_oJika Anda tanya saya tentang lagu-lagu Indonesia yang banyak digemari saat ini, saya tidak akan bisa menjawab. Mungkin karena secara usia, saya sudah beranjak dari masa remaja sehingga jenis lagu-lagu kesukaan saya hanya ada di masa lalu. Jadi, daftar putar alias playlist saya lebih didominasi lagu-lagu dekade 1990-an atau 2000-an. Lagu-lagu sekarang tidak memberikan kesan dan pertalian emosional yang semendalam lagu-lagu di dua dekade itu bagi saya.

Selain hambarnya emosi yang saya rasakan saat mendengarkan lagu-lagu kontemporer Indonesia, saya juga mengamati bahwa lirik-lirik lagu Indonesia –maaf jika ada yang tersinggung – semakin cheesy alias murahan dari waktu ke waktu. Mudah dihapal tetapi juga mudah sekali dilupakan karena cepat usang di siklus perputaran dunia musik pop. Saya tidak menemukan unsur yang membuatnya lebih layak dijadikan karya ‘canon’ yang di masa depan bisa dinikmati kembali. Mungkin itu perasaan saya saja. Atau mungkin Anda juga sepakat?

Akan tetapi, saat saya mendengarkan lagu-lagu dari Chandra Satria yang terkompilasi dalam albumnya yang bertajuk “Ketika Itu dan Kini” yang dirilis tahun 2016. Lirik-liriknya mengingatkan saya pada lirik-lirik lagu Indonesia masa 1980-an yang everlasting, tidak lekang oleh terpaan zaman. Begit indah liriknya sampai saya tidak percaya lagu-lagu ini digubah baru-baru ini saja.

Tilik saja lirik “Kirana” yang ada di sini. Bentuknya mirip puisi.

Dalam risau ini

Sering kubertanya

Sampai kapankah aku bertahan

Tak henti memuja

Satu yang tercinta

Walau tak pernah ada jawabnya

Akal sehatku mempertanyakan akhirnya

Selama engkau ada hati enggan berganti

Karena engkau matahari

Tak pernah kuingkari

Menjadi bayangmu, ke manapun kau pergi

Cinta ini tak sempurna

Namun ku selalu ada

Dalam gelap malam dan terangnya kirana

Kutunggu…

 

Dari delapan lagu yang ada dalam album ini, yang saya paling sukai bisa jadi yang berjudul “Pakutapa” (Kutakpapa) yang liriknya bercerita soal si ‘aku’ yang bisa melupakan mantan kekasihnya. Meskipun awalnya nadanya terkesan sendu serta mendayu-dayu, pendengar kemudian diajak untuk berjingkrakan seiring dengan makin rancaknya irama lagu gubahan Bemby Noor ini.

Menelusuri setiap detail dalam album ini membuat saya yakin bahwa ini adalah sebuah proyek penuh passion milik Chandra Satria sendiri. Hal itu dikuatkan dengan terteranya nama penyanyi solo pria itu sebagai salah satu produser eksekutif sekaligus salah satu produser dalam albumnya sendiri. Bagi saya, itu berarti ia ingin memegang kendali lebih besar dalam realisasi albumnya, bukan cuma menuruti instruksi dan arahan dari orang lain.

Keseriusan Chandra menggarap albumnya tecermin sungguh-sungguh dalam pemilihan orang-orang yang ia ajak bekerjasama dalam pembuatan album. Tercatat ada sejumlah nama besar di dunia musik Indonesia yang masuk di sini. Di antaranya yaitu Bebi Romeo dan Ari Lasso (komposer untuk lagu “Cinta Sejati”), Tohpati (aransemen musik/ pengarah), Dewi Lestari (komposer untuk lagu “Keping”), alm. Chrisye serta Eros Djarot (komposer untuk lagu “Kisah Insani”), sampai Ubiet yang di televisi dikenal sebagai salah satu guru vokal termasyhur, serta Guruh Soekarno Putra (komposer di lagu “Seni”). Album ini juga melibatkan Czech Symphony Orchestra dan dimasteri oleh Steve Smart di Australia.

Yang unik dari album ini ialah sampul CD-nya yang tidak hanya memuat lirik masing-masing lagu tetapi juga berisi penggalan-penggalan narasi atau cerita lugas dari sang penyanyi yang melatarbelakangi masing-masing lagu itu. Chandra seakan-akan hendak memberikan penjelasan mengapa setiap karya itu memiliki makna bagi dirinya, dan dengan demikian, ia juga berharap pendengarnya bisa memahami makna itu atau memberikan makna tersendiri dari pengalaman mereka sendiri pada lagu-lagu yang ia persembahkan di dalamnya. Karena ia seniman dan bukankah penikmat karya seni dipersilakan juga menafsirkan makna di balik karya seni itu sesuai dengan keinginan dan selera mereka?

Lirik-lirik yang sastrawi ini terasa lebih abadi. Dan karena itulah, saya pikir wajar saja bahwa panitia Penghargaan Nobel itu memilih penyanyi veteran Bob Dylan sebagai penerima anugerah Nobel Sastra. Sastra itu tidak cuma ada di lembaran-lembaran kertas. Kalau kita mau berpikiran lebih luas dan terbuka, sastra juga tertuang dalam bentuk lirik lagu. Bukan begitu? (*)

Daftar Istilah Yoga Modern

800px-flickr_-_nicholas_t_-_tautA

Abhasan: Kekuatan mencipta, pengalaman dalam menciptakan sejumlah objek eksternal yang nyata.

Abhilasa: Keinginan untuk mencapai atau meraih sesuatu.

Abhinavagupta: Seorang guru dari Shavisme Kashmir yang tinggal di Kashmir selama abad ke-10. Ia menulis beberapa teks mengenai Shaivisme Kashmir yang mencakup Tantra Loka, Vijnayanan-bhairava, dan sejumlah karya lainnya.

Abhyantara: Internal.

Abhyasa: Latihan, seni berlatih. Baca juga Vairagya.

Acarya (Acharya): Seorang guru, pengajar, instruktur. Baca juga Guru.

AcroYoga: Aliran yoga ini sesuai bagi mereka yang ingin meningkatkan kekompakan antarindividu dan suka tantangan. Dalam sebuah kelas AcroYoga, murid diajak untuk mempraktikkan kebersamaan nan dinamis. Ajaran yoga yang penuh kebijaksanaan, kekuatan dinamis dari ilmu akrobat, dan kasih sayang yang lembut dari seni penyembuhan Thai Massage teramu dengan apik di sini. Ketiganya menjadi pondasi utama AcroYoga yang mengutamakan konsep kepercayaan pada rekan kita, beryoga yang menyenangkan dan penuh semangat bagaikan anak-anak tengah bermain dan bereksperimen serta kebersamaan dalam sebuah komunitas. Ada 3 unsur dalam kelas AcroYoga: solar acrobatic practices (kepercayaan, pemberdayaan dan kebahagiaan), lunar healing arts practices (kemampuan mendengar, mencintai dan mengikhlaskan) dan yogic practices (kesadaran bernapas, keseimbangan hidup dan keterhubungan dengan makhluk lain). Jenny Sauer-Klein dan Jason Nemer mendirikan AcroYoga di tahun 2003. Kini AcroYoga mendunia dan makin banyak dipraktikkan orang-orang dari berbagai kalangan, kemampuan fisik dan usia.

Adho: Kata ini mengacu pada hal yang bersifat mengarah ke bawah, misalnya adho mukha svanasana (pose anjing menghadap ke bawah) dan adho mukha vrksasana (pose pohon yang mengarah ke bawah atau berdiri dengan kedua tangan).

Advaita/ adwaita (“nondualitas”): Ajaran filosofi yang intinya ialah menampik adanya dualitas. Hanya ada satu keadaan kesadaran di alam semesta ini. Kebenaran dan ajaran bahwa hanya ada satu Realitas (Atman, Brahman), terutama yang ditemukan dalam kitab Upanishad. Baca juga Vedanta.

Agni: Api, dewa api.

Agnisar kriya: Salah satu shatkarma (latihan pembersihan), pembersihan saluran pencernaan.

Agnistambhasana: Postur kayu di perapian (fire log pose).

Akasha: Elemen pertama dari lima elemen yang membangun alam semesta, yaitu gas. Inilah dasar dan esensi semua yang ada di alam semesta, pondasi bagi semua yang ada di dunia. Karakteristik utamanya ialah suara, yang disebut Shabda, yang menjadi alasan mengapa para yogi terutama menyuarakannya untuk menemukan keseimbangan dalam latihan mereka. Baca juga Om (atau Aum).

Aham: Ego.

Ahamkara (“penyusun ‘Aku’”): Prinsip individu atau ego yang harus ditransendensikan. Baca juga asmita; buddhi, manas.

Ahimsa (“antikekerasan”): Disiplin moral yang paling penting (yama). Kata “himsa” sendiri berarti “ketidakadilan” atau “kekejaman”. “Ahimsa” ialah ketiadaan kekerasan dan secara lebih luas berarti kesadaran dan kasih sayang bagi diri sendiri dan makhluk lainnya yang ada di alam semesta.

Ajapa japa: Pengulangan spontan mantra ‘soham’.

Ajna chakra: Frase ini bermakna pusat energi yang ada di belakang dahi atau di antara dua alis mata, kondisi kesadaran dan kebijaksanaan naluriah. Sering disebut sebagai chakra mata ketiga, ia dianggap sebagai pusat komando dalam diri manusia. Ia menjadi titik temu dua aliran energi penting dalam pikiran dan tubuh. Secara fisik, ia terhubung dengan kelenjar pituitari yang bertanggung jawab atas pertumbuhan dan perkembangan seseorang. Saat kesadaran secara rileks masuk ke dalamnya, kita akan memiliki intuisi, pengetahuan diri dan perasaan yang lebih tajam daripada jika hanya mengandalkan panca indra. Untuk menyembuhkan dan memurninkan pusat energi ini, kita bisa mempraktikkan pernapasan hidung secara bergantian yang disebut nadi shodhana dan meditasi yang difokuskan pada chakra tersebut.

Akasha (“gas/ruang”): Inilah unsur pertama dari kelima unsur penyusun alam semesta. Ia juga dipakai untuk menunjuk ruang “dalam”, yakni ruang kesadaran (yang disebut sebagai cid-akasha).

Alabdha bhumikatva: Tidak mampu berpegang teguh pada apa yang sudah dimulai.

Akarm dhanurasana: Pose busur memanah.

Akasha: Ruang angkasa atau langit.

Alasya: Kemalasan/ rasa malas.

Anahatha (chakra jantung): Pusat energi yang berada di daerah jantung, chakra keempat dari tujuh chakra pada manusia. Ia berada dalam bagian tengah dada dan menjadi letak jiwa manusia. Karena diidentikkan dengan paru-paru dan elemen udara, jantung menjadi pertemuan spektrum luas dari pengalaman emosional manusia. Jantung memiliki kemampuan untuk memancarkan aspek-aspek tertinggi manusia yang berupa kasih sayang, cinta tanpa syarat dan keyakinan penuh pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun, di sisi lain ia juga memiliki kemampuan untuk memancarkan perasaan negatif yang tersimpan dalam jiwa manusia, misalnya ketidakpercayaan diri, kekecewaan, penderitaan, kesepian dan keputusasaan. Untuk membuat chakra ini bekerja normal kembali, lakukan latihan pranayama, meditasi yang berfokus pada jantung dan berdoa dengan khusyuk. Latihan asana yang bersifat backbending (menekuk badan ke belakang) juga bisa membantu membuka pusat jantung dengan lebih mudah.

Ananda (kebahagiaan): Kondisi kebahagiaan yang hakiki dan menjadi kualitas inti dari Realitas yang tertinggi.

Anahatasana: Pose ini juga dikenal sebagai puppy pose atau melting heart pose.

Anga (tangga): Sebuah kategori dasar dalam jalan yoga seperti asana, dharana, dhyana, niyama, pranayama, pratyahara, samadhi, yama.

Anghusta: Ibu jari kaki.

Anguli: Jari-jari tangan.

Antara: Interior, bagian dalam. Baca juga bahya.

Antara kumbhaka: Penerapan Jalandhara Bandha dan Mula Bandha. Instruksi untuk melakukan ini biasanya berupa kalimat “tulang iga terangkat dengan lembut membungkus paru-paru”.

Anti-Gravity atau Aerial: Satu jenis aliran yoga yang dihasilkan dari penggabungan seni aerial dan yoga. Metode ini diajarkan dalam nama-nama berbeda. Para peserta yoga aerial atau antigravitasi akan diwajibkan menggunakan alat khusus berbentuk trapeze dari bahan kain yang akan menyangga berat tubuh sebagian atau seluruhnya sehingga memungkinkan mereka berfokus pada postur dan relaksasi. Kelasnya bernuansa ceria dan menyenangkan serta bisa diikuti para pemula.

Anusara Yoga: Dengan irama latihan yang lebih cepat, Anusara Yoga berfokus pada peningkatan suasana hati dan pencegahan cedera. Aliran yoga ini sesuai bagi para pemula dan juga bisa diikuti praktisi yang lebih berpengalaman. Kelasnya relatif aman diikuti peserta yang bermasalah dengan berat tubuhnya. Anusara Yoga muncul tahun 1997 dengan gagasan yogi Amerika John Friend. Tahun 2012, aliran ini diguncang skandal yang membuat Friend turun dari kepemimpinan. Aliran Anusara Yoga berfokus pada “sikap, keserasian (alignment), dan aksi.” Sebagian prinsipnya berfokus pada keserasian, termasuk “membuka diri terhadap anugrah (grace)”, pusaran masuk dan ke luar dan berbagai pusaran energi dalam tubuh manusia.Di dalam kelas Anusara Yoga, Anda akan menemukan guru yang bercerita, mengkidungkan mantra (mungkin Anda yang peka dengan mantra akan berpikir lagi) dan nilai-nilai positif kehidupan yang dicukilkan dari filsafat Tantra (Baca juga Tantra). Setiap kelas memiliki sebuah tema khusus yang dipakai sebagai metafora atau perbandingan sebagai cermin bagi diri saat murid melakukan sebuah pose. Katakanlah tema “membuka hati” (opening heart) menjadi tujuan latihan yang penting dan kerap dikaitkan dengan rangkaian atau sekuen gerakan yoga berjenis melengkung ke belakang atau backbending. Dalam kelas Anusara, biasanya siswa menerapkan Prinsip Universal Kesejajaran (Universal Principles of Alignment) yaitu teknik-teknik yang umumnya selaras dengan ajaran B. K. S. Iyengar, sang pendiri aliran Iyengar Yoga. Yang menjadi titik tekan utama ialah pemahaman tindakan fisik dan saluran-saluran energi yang Anda coba hubungkan dalam setiap pose. Anusara Yoga didirikan oleh John Friend di tahun 1997 setelah ia banyak belajar dari Iyengar. Pengalamannya mencakup masa belajar dengan guru keturunan Siddha Yoga dan Gurumayi Chidvilasananda. Dari sana, tercipta prinsip pertama aliran Anusara: Terbuka pada Karunia (Open to Grace), yang menunjukkan bahwa setiap pose berasal dari perasaan penuh dedikasi, bakti, dan pengabdian sekaligus penuh gairah kreativitas sebelum akhirnya menjelma dalam kondisi fisik yang nyata.

Amarnath (nama gua): Sebuah gua yang terletak di pegunungan Himalaya, yang dianggap sebagai sebuah tempat sakral bagi Dewa Syiwa.

Amrita (“abadi/keabadian”): Pengangkatan Jiwa yang abadi (atman, purusha); juga nektar keabadian yang berada di mahkota kepala (baca cakra sahasrara) saat ia diaktifkan dan mengubah tubuh menjadi “tubuh ilahi”(divya-deha).

Amrtam: Nektar kehidupan abadi.

Ananda (“kebahagiaan”): Kondisi kegembiraan yang hakiki, yang menjadi kualitas inti dari Realitas tertinggi (tattva).

Anga (“limb”): Satu kategori dasar jalan yoga, misalnya asana, dharana, dhyana, niyama, pranayama, pratyahara, samadhi, yama; juga tubuh (deha, sharira).

Aranyaka: Dalam bahasa Sansekerta, “aranyaka” bermakna “buku hutan”. Kitab ini merupakan penjabaran dari Veda. Aranyakan disusun sekitar 700 SM. Isinya ialah informasi tentang ritual-ritual rahasia yang dipraktikkan secara terbatas oleh orang-orang tertentu.

Ardha (separuh) : Kata ini biasanya dilekatkan di depan nama sebuah asana yoga untuk memberikan arti bahwa pose tersebut ialah versi mudah dari asana lain yang lebih sulit, intens atau dalam. Misalnya, ardha uttanasana memberikan arti bahwa pose itu tidak sedalam mencium lutut dalam kondisi berdiri (yang disebut uttanasana) tetapi cukup separuhnya saja.

Arjuna (“Putih”): Salah satu dari lima pangeran Pandawa yang bertarung di perang besar yang digambarkan di Mahabharata. Ia adalah murid dari dewa setengah manusia bernama Krisna yang ajaran-ajarannya bisa ditemukan dalam kitab Bhagavad Gita.

Asana (“duduk”): Sebuah postur fisik (baca juga anga, mudra); tangga (anga) ketiga dari kedelapan tangga Yoga Patanjali (ashtanga yoga). Kata ini awalnya merujuk hanya pada postur meditasi tetapi dalam perkembangannya di kemudian hari dalam Hatha Yoga (baca ‘Hatha Yoga’), aspek jalan yoga ketiga ini berkembang pesat. Asana kemudian kerap ditempatkan di akhir nama postur yoga, contohnya tadasana (postur gunung), sirsasana (berdiri dengan kepala).

Ashrama (“tempat seseorang berusaha/ belajar): Sebuah pertapaan (juga disebut tahapan kehidupan)seperti brahmacharya, orang awam, pertapa di hutan, dan pertapa yang sama sekali memutuskan hubungan dengan dunia luar (samnyasin).

Ashta: Delapan.

Ashtanga yoga (“penyatuan kedelapan tangga yoga”): Delapan tangga yoga dari Patanjali, yang terdiri dari disiplin moral (yama), penahanan diri (niyama), postur (asana), pengendalian napas (pranayama), pembatasan indrawi (pratyahara), konsentrasi (dharana), meditasi (dhyana), dan kegembiraan hakiki (samadhi), yang menggiring menuju pada pembebasan (kaivalya).

Ashtanga Yoga (nama aliran yoga): Lain dari “ashtanga yoga” (tanpa huruf kapital di awal kata), frasa ini mengacu pada sebuah aliran atau metode yoga yang bersifat lebih atletik dan dinamis. Ashtanga Yoga merupakan praktik tradisional yang berfokus pada rangkaian postur yoga yang progresif dan mengalir serta dikaitkan dengan pernapasan. Primary Series, yang tersusun dari sekitar 75 postur yoga, memakan waktu sekitar 90 menit untuk dilakukan. Rangkaian latihan tersebut diklaim meningkatkan keserasian (alignment) tulang belakang, detoksifikasi tubuh, dan kekuatan serta kelenturan fisik. Dalam kelas Ashtanga Yoga, tidak ada jeda yang terlalu lama karena kelas terus mengalir dengan irama dinamis sebagaimana yang dicontohkan guru penggagas aliran ini, Sri K. Pattabhi Jois. Bahkan seri pertama aliran ini cukup menantang bagi pemula. Sebelum melakukan Primary Series, peserta diwajibkan melakukan sun salutation/ surya namaskara A dan B, baru dilanjutkan dengan postur-postur berdiri, keseimbangan, duduk, memilin tubuh dan berbaring. Latihan Ashtanga Yoga yang tingkatannya lebih lanjut mencakup bandha (kuncian internal) dan drishti (pandangan mata yang terfokus). Ashtanga Yoga juga menjadi pendahulu bagi banyak aliran Hatha Yoga lainnya, termasuk aliran-aliran yoga yang kini banyak dijumpai di berbagai belahan dunia seperti Power Yoga dan Vinyasa.

Asmita (“Ke-aku-an”): Sebuah konsep delapan tangga yoga Patanjali, yang secara umum identik dengan ahamkara.

Atman (“diri”): Diri yang transendental, atau Jiwa, yang bersifat abadi dan berkesadaran tertinggi; sifat sejati atau jatidiri kita; kadang ada perbedaan yang dibuat antara atman sebagai jiwa individu dan parama-atman sebagai Diri transendental; baca juga purusha, brahman.

Avadhuta (“ia yang telah melepaskan [semuanya]“): Sejenis pertapa ekstrim yang mengasingkan dirinya dari hiruk pikuk duniawi. Ia disebut samnyasin yang kerap terlibat dalam perilaku yang tidak lazim bagi masyarakat umum.

Avidya (“kebodohan”): Akar penderitaan (duhkha); juga disebut sebagai ajnana (baca juga Vidya). Baik Avidya dan Prajna merupakan dua sisi uang logam yang sama. Di satu sisi, Avidya merupakan kebodohan spiritual dan akar penderitaan. Di sinilah, kita bisa menemukan banyak orang mencari yoga, karena ingin menyingkirkan kegelisahan dan menemukan keseimbangan. Prajna merupakan sisi sebaliknya yang berarti kebijaksanaan dan kebebasan spiritual yang didapatkan seorang yogi/ yogini. Memusatkan pikiran diri sendiri ialah Prajna dan inilah yang menjadi salah satu tujuan utama dalam beryoga.

Ayurveda (“ilmu kehidupan”): Salah satu sistem pengobatan India. Sistem lainnya ialah pengobatan Siddha yang berkembang di India Selatan.

=========

B

Bahya: Bagian luar, eksterior.

Baka: Burung gagak.

Baddha: Terikat.

Bandha (“ikatan/ kuncian”): Kenyataan bahwa manusia umumnya terikat oleh kebodohan/ ketidaktahuan (avidya) yang menyebabkan kehidupannya dikendalikan oleh kebiasaan karma daripada kebebasan internal yang dihasilkan melalui kebijaksanaan (vidya, jnana).

Baptiste Power Yoga:  Aliran satu ini sangat menantang Anda secara fisik karena menyuguhkan latihan yang mengalir tanpa jeda sehingga bersifat kardio. Saat jantung Anda dipacu mengikuti irama kelas, anda juga didorong untuk menemukan kekuatan otentik dalam diri. Setiap kelas Baptiste Power Yoga biasanya berlangsung selama 90 menit, di dalam sebuah ruangan yang dihangatkan dan didesain untuk menguatkan tubuh. Tujuan Baptiste Power Yoga ialah menciptakan kebebasan, kedamaian pikiran, dan kemampuan hidup dengan lebih berdaya, jujur dan tulus. Praktik yang menuntut stamin fisik menjadi landasan dalam menghadapi tantangan fisik dan emosional yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Aliran ini didirikan oleh Baron Baptiste, anak pionir yoga Walt dan Magana Baptiste (yang mendirikan pusat yoga pertama di San Fransisco di tahun 1955). Baron memulai latihan yoganya sjak kecil dan belajar dengan banyak guru yoga asli India. Baptiste Power Yoga Institute berpusat di Cambridge, Massachussets. Ada lebih dari 40 studio yang berafiliasi dengan Baptiste Power Yoga di tahun 2010.

Bhagavad Gita (“Nyanyian Tuhan”): Buku yoga yang paling lengkap dan berusia paling tua dan ditemukan terintegrasi dalam Mahabharata dan mengandung ajaran-ajaran mengenai karma yoga (jalan tindakan transendensi diri), samkhya yoga (jalan penemuan prinsip-prinsip eksistensi secara tepat), dan bhakti yoga (jalan pengabdian), sebagaimana diterangkan oleh Krisna pada Pangeran Arjuna di medan pertempuran lebih dari 3500 tahun lalu. Teks kuno sepanjang 700 ayat ini mencakup sejumlah pertanyaan paling mendasar mengenai alam semesta, posisi yoga dalam kehidupan dan bagaimana memahami kehidupan, kematian dan aliran energi.

Bhagirata: Bhagirata merupakan nama seorang raja yang terkenal dalam mitologi Veda. Para pendahulunya (ayah dan kakeknya) melakukan sebuah ritual yang disebut asvamedha yang di dalamnya kuda (asva) memainkan peranan penting. Suatu ketika saat upacara itu dilaksanakan, seekor kuda yang dipakai dalam ritual melepaskan diri dan sampai ke sebuah pertapaan. Di sana mereka berhasil menemukan kuda itu kembali dan membuat kericuhan karena memaksa kuda itu secepat mungkin kembali. Akhirnya, sang pertapa yang ada di dalamnya geram dan memberikan kutukan agar mereka semua menjadi abu. Bhagirata pun harus menempuh cara agar kutukan itu disingkirkan. Agar ayah dan kakeknya kembali menjadi manusia, Bhagirata mesti membawa Sungai Gangga yang ada di kahyangan ke bumi. Dalam upayanya itu, Bhagirata bermeditasi dengan tekun dan hidup mengasingkan diri di hutan untuk mendapatkan berkah dari Dewa Brahma. Brahma akan mengabulkan permintaan Bhagirata untuk memindahkan Sungai Gangga ke bumi. Untuk itu ia harus berkomunikasi dengan dewi penguasa Sungai Gangga dan Syiwa serta pertapa Agastya melalui meditasi yang dilakukan dalam kondisi satu kaki menopang seluruh tubuhnya.

Bhagiratasana: Nama ini merupakan nama lain untuk vrksasana atau pose pohon. Nama itu diberikan oleh Bapak Yoga Modern, Krisnamacharya, karena dalam pose inilah Bhagirata bermeditasi untuk membuat kutukan yang dikenakan pada ayah dan kakeknya terlepas dan mereka bisa kembali menjadi manusia kembali. Menurut Krisnamacharya, saat melakukan pose pohon, bayangkan kegigihan dan konsentrasi yang tidak tergoyahkan dari sang raja untuk mencapai tujuannya.

Bhagavata-Purana (“[Tradisi] Kuno dari Bhagavata”): Teks panjang nan rinci ini ditulis konon di abad ke-10. Bhagavata-Purana dianggap sakral oleh para pemuja Dewa Wisnu, terutama yang meyakini inkarnasi atau penjelmaannya dalam bentuk Krisna. Bhagavata-Purana juga kerap disebut sebagai Shrimad-Bhagavata.

Bhakta (“pengikut”): Seorang pengikut/ murid yang mempraktikkan bhakti yoga.

Bhakti (“pengabdian/kecintaan”): Kecintaan seorang bhakta pada Tuhan atau guru sebagai perwujudan atau manifestasi Tuhan; juga disebut sebagai kecintaan Tuhan pada pengabdi-Nya.

Bhakti-Sutra (“Aforisme mengenai Pengabdian”): Sebuah karya aforistik mengenai pengabdian yoga yang ditulis oleh orang bijak bernama Narada. Teks lainnya diberi judul yang sama tetapi disusun oleh orang bijak Shandilya.

Bhakti Yoga (“Yoga pengabdian”): Sebuah cabang utama tradisi yoga, yang menggunakan kapasitas perasaan untuk terhubung dengan Realitas Tertinggi yang disebut sebagai Manusia Tertinggi (uttama-purusha).

Bharadva: Bharadva adalah nama seorang bijak yang juga seorang ayah dari pemanah terkemuka dalam Mahabharata, Durna, yang melatih para sepupunya yang kemudian menjadi musuh-musuhnya dan bertarung dalam peperangan akbar yang dikisahkan dalam Bhagavad Gita.

Bheka: Katak.

Bhuja: Lengan.

Bhujanga: Ular.

Bikram (nama kelas/ aliran): Bikram Yoga merupakan nama kelas dan aliran yoga dalam ruangan bersuhu lebih tinggi dari suhu ruangan. Biasanya suhu ruangan Bikram Yoga sampai 105 derajat Fahrenheit atau sekitar 40,5 derajat Celcius. Latihan Bikram Yoga berlangsung selama 90 menit, yang di dalamnya para peserta diinstruksikan untuk melakukan 26 pose yoga dengan pengulangan dua kali untuk tiap sisi tubuh dan semua ini dilakukan dalam pengawasan seorang guru bersertifikat resmi Bikram Yoga yang berkedudukan di AS dan didirikan oleh Bikram Choudury. Ia membuat Bikram Yoga dengan alasan menyerupai suhu di India tempatnya dahulu berlatih yoga. Bikram Yoga kemudian menginspirasi kemunculan kelas-kelas yang bertema ‘panas’ dan ‘hangat’.   Tujuan utamanya ialah menciptakan pikiran dan tubuh yang bugar sehingga memungkinkan diri dalam aspek fisik menyatu dengan diri dalam aspek spiritual. Bikram Choudhury yang mendirikannya lahir di kota Kalkutta, India. Ia kenalkan sistem bikram yoga rancangannya ini di Amerika Serikat pada tahun 1971. Guru utamanya ialah Bishnu Ghosh (1903-1970). Bikram Yoga College of India di Los Angeles ditetapkan sebagai pusatnya. Kini ada lebih dari 5.000 guru bikram bersertifikat di AS saja.

Bindu (“benih/titik”): Bindu mengacu pada kekuatan kreatif semua hal tempat seluruh energi dikonsentrasikan. Titik bindhi (yang disebut tilaka) diposisikan di dahi/ kening sebagai tanda mata ketiga. Bindu sering dipahami sebagai titik atau ujung dan karena itulah bindi dikenakan di titik di antara kedua alis mata. Bindu merujuk pada gagasan ‘benih’ – sebuah sumber kreativitas dan inspirasi.

Blok (khusus yoga): Biasanya blok terbuat dari gabus atau kayu. Blok ini memberikan kenyamanan dan keamanan ekstra bagi praktisi yang memiliki keterbatasan atau kondisi tertentu yang membuatnya sulit melakukan postur-postur yoga tertentu.

Bo Forbes: Ia adalah kontributor yang kerap tampil di majalah Yoga Journal. Rekam jejaknya di dunia yoga ialah keterlibatan aktifnya dalam  Mind and Life Institute (sebuah organisasi nirlaba yang bertujuan menjelajahi persilangan antara sains dan Buddhisme). Forbes memiliki keunikan dalam mengajar yoga sebagai psikolog klinis, guru meditasi dan cendekiawan. Ia banyak belajar mengenai neurosains dan riset jaringan ikat kemudian menggabungkan keduanya dengan apik ke dunia psikologi dan yoga. Ia menulis di banyak majalah terkemuka dan menerbitkan buku berjudul  Yoga for Emotional Balance: Simple Practices to Help Relieve Anxiety and Depression. Forbes juga mendirikan Embodied Awareness, sebuah perusahaan pendidikan daring yang bertujuan meningkatkan pendidikan. Ia banyak memimpin lokakarya, kursus intensif dan pelatihan yoga terapi di kota Boston, AS dan di seluruh dunia.

Bodhi (“pencerahan”): Sebuah kondisi saat seorang manusia menjadi tercerahkan atau buddha.

Bodhisattva (“keadaan tercerahkan”): Dalam yoga Buddhis Mahayana, manusia yang termotivasi oleh kasih sayang (karuna) berkomitmen terhadap pencapaian pencerahan demi semua makhluk hidup yang ada di dunia ini.

Brahma (“ia yang telah berada di mana-mana”): Pencipta alam semesta, prinsip pertama (tattva) yang muncul dari Realitas Tertinggi (brahman).  Brahma dikatakan sebagai asal muasal manusia. Baca juga atman, purusha.

Brahmacharya (dari brahma dan acarya “tingkah laku yang khas brahma”): Disiplin untuk menjauhi perselingkuhan di luar ikatan pernikahan atau bahkan untuk menjauhi segala hubungan seksual. Brahmacharya dikatakan kemudian dapat menghasilkan ojas.

Brahmana: Seorang brahmin (anggota kelas sosial tertinggi dalam masyarakat kuno India)dan juga salah satu jenis teks ritual paling awal dan kuno. Isinya menjelaskan mengenai berbagai ritual dan mitologi keempat Weda. Baca juga Aranyaka, Upanishad, Veda.

Buddha (“awakened”): Sebuah penunjukan manusia yang sudah mencapai pencerahan (bodhi) sehingga sudah memiliki kebebasan dalam dirinya. Kata ini juga menjadi gelar kehormatan Gautama, pendiri Buddhisme, yang hidup di abad ke-6 Sebelum Masehi.

Buddhi (“ia yang sadar, terjaga”): Pikiran yang lebih tinggi dan mulia, tempat kebijaksanaan bertahta (vidya, jnana). Baca juga manas.

========

C

Cakra or Chakra (“roda”): Secara harafiah, cakra berarti roda sebuah kereta. Secara metaforis, kata ini berarti salah satu pusat tubuh halus manusia (energi pikiran). Dalam yoga Buddhisme, jumlah pusat energi pikiran ini jumlahnya lima. Sementara itu dalam yoga Hinduisme, jumlahnya ada tujuh atau bahkan ada yang menyebutkan lebih dari itu. Menurut pandangan yoga, chakra merupakan kumpulan atau konsentrasi energi, pikiran/ perasaan dan raga. Pikiran (kesadaran) terproyeksikan melalui chakra, dan banyak menentukan bagaimana kita menyelami realitas dari reaksi emosi kita, hasrat atau kebencian kita, tingkat kepercayaan diri atau kecemasan, serta manifestasi gejala-gejala fisik. Ketujuh cakra yang dimaksud ialah mula-adhara-cakra (muladhara-cakra) di bagian terbawah tulang belakang, svadhishthana-cakra di organ genitalia/ kelamin, manipura-cakra di pusar, anahata-cakra di jantung, vishuddha-cakra atau vishuddhi-cakra di tenggorokan, ajna-cakra di bagian tengah kepala, dan sahasrara-cakra di mahkota kepala.

Chandra: Bulan.

Chatur: Empat.

Cin-mudra (“pengendali kesadaran”): Suatu posisi tangan (mudra) dalam meditasi (dhyana), yang dibentuk dengan menyatukan ujung jari telunjuk dan ibu jari sementara jari jemari lainnya tetap diluruskan.

Cit (“kesadaran”): Realitas tertinggi yang berada di puncak kesadaran teratas manusia ( baca juga atman, brahman).

Citta (“yang sadar”): Kesadaran biasa, pikiran, yang memiliki cit sebagai lawannya.

==========

D

Dana Trixie Flynn: Salah satu guru yoga yang dianggap paling berpengaruh. Ia membuka “Laughing Lotus Yoga” di New York City dengan mitranya Jasmine Tarkeshi di tahun 1997, dan memimpin studio tersebut serta mengembangkannya hingga membuka lokasi kedua di Brooklyn. Flynn berkelana ke sejumlah tempat di dunia untuk mengajar yoga dan melakukan pelatihan mengajar yoga dengan sebuah pendekatan yang menggabungkan praktik gerakan yang dinamis dan bersemangat dengan kecintaannya pada puisi, tari, musik dan filsafat. Ia bersama dengan Tarkeshi membuat sekuen Lotus Flow yang kemudian dikenal orang sebagai hasil belajarnya dari pendiri Jivamukti Yoga, Sharon Gannon, yang menggabungkan pengalamannya dengan sejumlah metodologi gerakan lainnya.

Danda: Batang/ tongkat.

Darshana (“melihat”): Sebuah visi dalam pengertian harafiah dan metaforis. Sebuah sistem filosofi, seperti yoga-darshana dari Patanjali; baca juga drishti.

Dhanu: Busur.

Deva (“pria yang bersinar”): Dewa pria (seperti Syiwa, Wisnu atau Krisna) baik dalam pengertian Realitas tertinggi atau makhluk abadi yang lebih tinggi daripada manusia.

Devi (“wanita yang bersinar”): Dewa perempuan atau dewi, misalnya Parwati, Lakshmi, atau Radha. Kata ini bisa dipakai dalam pengertian Realitas tertinggi (dengan kutub femininnya) atau makhluk abadi yang lebih tinggi daripada manusia.

Dharana (“menahan”): Dharana berarti konsentrasi. Kata ini juga mengacu pada tangga keenam dalam ashtanga  yoga (delapan tangga yoga) yang dituliskan Patanjali dalam sutra-nya.

Dharma (“pembawa/ pengemban”): Istilah ini memiliki banyak makna. Ia kerap digunakan dalam pengertian “hukum”, “ketertiban”, “kebajikan”, “kebenaran”, “norma”. Kata ini bisa juga merujuk pada sebuah gaya Hatha Yoga yang eklektik dan menggabungkan filisofoi Buddhisme dan ajaran-ajarannya dan berfokus pada teknik meditasi Zen atau Tibet.

Dhriti: Istilah ini kerap dipakai untuk mengacu pada ‘kekokohan’. Dhriti bisa diartikan sebagai sebuah kemampuan mengatasi ketakutan dan kecemasan, keputusasaan dan keragu-raguan.

Dhyana (“pembentukan pikiran/ gagasan”): Meditasi, tangga ketujuh dalam ashtanga yoga yang dituliskan Patanjali dalam Yoga Sutra-nya.

Diksha (“inisiasi”): Tindakan dan kondisi induksi menuju aspek-aspek tersembunyi dalam yoga atau garis turunan tertentu para guru. Semua yoga yang bersifat tradisional bersifat inisiasi.

Dosha: Elemen-elemen (berjumlah tiga) yang menentukan sifat tubuh seorang manusia, yakni vata (angin), pitta (empedu dan pencernaan), dan kapha (cairan tubuh).

Drishti (“pandangan/ penglihatan”): Pandangan mata dalam beryoga, seperti pandangan yang terfokus pada ujung hidung atau titik di antara kedua alis mata. Baca juga darshana.

Drishti: Perhatian terkonsentrasi atau pandangan seseorang dalam berlatih yoga. Saat pembelajaran awal Anda akan berfokus pada posisi badan, Anda kemudian akan belajar bahwa tempat Anda mengarahkan pandangan mata akan memainkan peran penting dalam menguasai sebuah asana dan meditasi. Hal ini akan menjadi salah satu arahan kunci yang diberikan para guru yoga dalam kelas-kelas yoga.

Duhkha (“ruang poros negatif”): Penderitaan, fakta dasar kehidupan, yang dipicu oleh kebodohan (avidya) sebagai sifat dasar manusia (yakni Diri atau atman).

Dwi: Dua.

======

E

Eka: Satu.

Ekabhavika: Berasal dari satu sumber, satu kelahiran.

Ekadandi: Seorang sanyasin (baca sanyasin) yang hanya memegang satu batang.

Ekadasi: Hari kesebelas dua pekan pertama dalam penanggalan Hindu.

Ekadesika: Bersifat satu sisi saja, lokal.

Ekagrata: Konsentrasi, foksunya pikiran pada satu titik saja.

Ekamevadvitiyam: Satu saja, tanpa ada yang menyertainya, sang Brahman.

Ekamsa: Satu porsi atau fraksi.

Ekanta: Kesendirian, seklusi, keterasingan.

Ekantabhava: perasaan terisolasi atau sendiri.

Ekantavada: Monisme (sebuah teori atau doktrin yang menolak adanya keberadaan sebuah perbedaan atau dualitas dalam tataran tertentu, seperti antara dunia abstrak dan dunia pikiran, atau Tuhan dan dunia.)

Ekantika: Akhir atau tertinggi, sang Absolut atau Mutlak.

Ekarasa: Homogen, seragam, satu esensi, sang Brahman.

Ekarnava: Sebuah lautan yang tidak terbatas yang di dalamnya alam semesta digambarkan secara penuh kiasan bahwa ia tercipta selama periode keruntuhan. Penyebab-penyebab potensial ciptaan berikutnya yang digambarkan sebagai perairan, Karanan Sarira, dari semua samudra luas yang meliputi kita semua ini.

Ekata: Kesatuan, homogenitas, kemutlakan.

Ekatva: Persatuan, Kondisi saat semuanya unsur berbeda bersatu.

Ekayana: Menyatunya pikiran-pikiran yang berbeda, monotheisme.

Eko’ham bahusyam: Sebuah kalimat yag artinya “semoga saya yang satu ini menjadi banyak”. Kalimat ini menggambarkan gagasan dasar yang mewujudkan dirinya sendiri dari Makhluk Tuggal yang Tak Terbagi sebelum penciptaan.

Eshanatrayam: Tiga jenis hasrat, yakni hasrat menangguk kekayaan, keturunan dan pasangan.

Evam: Sehingga

=======

F

Forrest Yoga: Sebuah aliran yoga modern yang berpusat di Los Angeles dan dipimpin oleh Ana Forrest. Gaya mengajar Forrest memadukan antara ajaran-ajaran yoga dan penduduk asli Indian/ Shaman Amerika. Postur-postur yoga dalam Forest Yoga juga lazimnya ditahan selama beberapa siklus napas. Ciri kelas Forrest Yoga ialah banyak postur yang bersifat penguatan otot inti batang tubuh (core muscles) dan postur keseimbangan yang menantang.

Jenis yoga ini bersifat kuat dan panas. Dirancang untuk membantu Anda melepaskan ketegangan dan rasa sakit fisik dan emosional, Forrest Yoga juga dilakukan dengan tujuan untuk merayakan kekuatan tubuh kita ini. Gagasan utama yang diyakini dalam Forrest Yoga ialah latihan yoga sebagai upaya membersihkan emosi-emosi yang terkubur dalam benak kita akan memberikan ruang baru bagi jiwa yang kelelahan dan merasa sesak. Anda yang enerjik akan suka Forrest Yoga karena di dalam kelasnya akan disajikan sejumlah sekuen gerakan yang menantang secara fisik namun juga membutuhkan eksplorasi emosional yang mendalam. Aliran satu ini digagas oleh Ana Forrest. Ia mulai mengajar Forrest Yoga di tahun 1982. Sebelumnya ia sudah melanglangbuana dan belajar yoga dari berbagai sekolah dan aliran yang ada, termasuk ritual penyembuhan dan seremoni asli India. Namun, ia juga menyebutkan ilham yang tak kalah besarnya ialah rasa sakit dan penderitaan yang ia rasakan, murid-murid yoganya, elemen-elemen dalam dirinya dan “sang misteri agung”.

=====

G

Gabriel Halpern: Halpern sering disebut sebagai “Ayah Angkat” di lingkaran pelaku yoga di kota Chicago, AS. Ia memberikan pengaruh pada hampir setiap guru yoga di kota tersebut, termasuk Moksha Yoga dan Yogaview, tempat Halpern biasanya mengadakan lokakarya yoganya. Ia belajar secara formal di bidang filsafat dan psikologi kesehatan. Ia menekuni metode Iyengar Yoga di San Francisco dan Pune, India. Ia mendirikan studionya “River North”, Yoga Circle, pada tahun 1985, dan mengajar yoga terapi secara khusus di sana serta di sejumlah tempat di pelosok dunia. Metodologi kelas terapinya didasarkan pada teknik-teknik Iyengar Yoga, yang memfokuskan pada bagaimana ia membuat murid terbebas dari rasa sakit dahulu dan membetulkan anatomi mereka dahulu dalam jangka waktu tertentu yang bisa memakan waktu bertahun-tahun dan bergantung pada kondisi masing-masing murid.

Gada: Penyakit atau demam.

Gada: Klub, perkumpulan

Gadadhara: Penyambung Gada, sebuah julukan atau panggilan yang diperuntukkan bagi Dewa Wisnu atau Krisna.

Gagana: Langit, angkasa.

Gaganaravinda: Sebuah istilah yang dipakai untuk menujukkan sebuah hal yang tidak nyata atau tidak ada.

Gamanakriya: Tindakan pergi, kepergian.

Gambhirya: Keseriusan pembawaaan seorang manusia.

Ganapati: Suatu dewa Hindu yang mencerminkan juga aspek pemberi keberhasilan dari Tuhan.

Ganapatya: Sebuah sekte Hindu yang memuja Tuhan sebagai Ganapati, seorang anggota sekte Ganapatya, atau hal-hal yang memiliki kaitan dengan sekte tersebut.

Gandha: Bau, aroma.

Gandharvanagara: Formasi-formasi fantastis dari awan-awan yang memberikan tampilan rumah dan perkotaan yang megah sehingga dapat dikatakan mewakili konsepsi yang imajiner, dunia.

Gandhatanmatra: Sebuah prinsip halus atau unsur dasar dari bebauan.

Garbhodhaka: Perairan di awal terciptanya alam semesta.

Garhapatya: Rumah tangga.

Garhapatyagni: Salah satu dari ketiga api ritual yang dikobarkan oleh pemilik sebuah rumah yang memeluk Hinduisme.

Garhasthya: Tahap kedua dalam kehidupan sosial Hindu, kehidupan pernikahan seorang pelaku rumah tangga.

Garima: Sebuah kekuatan yang digunakan seorang yogi untuk menjadi begitu berat dari yang seharusnya, ia adalah salah satu Siddhi (baca siddhi) yang paling dikenal.

Garva: Kebanggan, kesombongan, egoisme, kepongahan.

Gatagati: Pergi dan datang; perjalanan setelah kematian.

Gati: Keadaan; gerakan; kejadian.

Garuda: Garuda merupakan raja dari para rajawali dan elang. Ia dikisahkan pernah menjadi kendaraan Dewa Wisnu untuk membantunya menemui sang pemujanya yang bernama Gajendra yang sedang berada dalam kondisi darurat.

Gauna: Sekunder; tidak langsung.

Gaunabhakti: Budaya pemujaan melalui ritual-ritual sebagai sebuah fase awal di jalur cinta kasih atau Bhakti.

Gayatri mantra: Sebuah mantra yang terkenal dari kitab Veda. Mantra ini diucapkan terutama di saat matahari terbit. Bunyinya: “aum bhur bhuvah swah, tat savitur varenyam bhargo devasya dhimahi, dhiyo yo nah pracodayat”. Artinya secara umum ialah “Oh Tuhan, Sang Pelindung, pondasi dari semua kehidupan, Zat yang Berdiri Sendiri, Zat yang terbebas dari semua derita dan Zat yang membebaskan jiwa dari semua masalah, Zat yang berada di seluruh penjuru alam semesta dan menyangganya, Sang Pencipta dan Pemberi Energi ke alam semesta, Pemberi kebahagiaan, Zat yang pantas diterima, paling sempurna, Zat yang murni dan Pemurni semuanya, mari kita sambut Tuhan itu sehingga Dia bisa mengarahkan jiwa kita ke arah yang benar.”

Gheranda-Samhita (“Ringkasan [Orang Bijak] Gheranda”): Salah satu manual atau buku petunjuk paling utama dalam Hatha Yoga Klasik, yang tersusun di abad ke-17. Baca juga Hatha-Yoga-Pradipika, Shiva-Samhita.

Go: Sapi.

Goraksha (“Pelindung Sapi”): Umumnya Goraksha dikatakan sebagai pakar pendiri Hatha Yoga. Ia juga seorang murid didikan Matsyendra.

Granthi (“simpul”): Salah satu kendala umum di dalam jalur pusat (sushumna-nadi) yang mencegah kenaikan penuh kekuatan ular (kundalini-shakti); tiga simpul dikenal sebagai brahma-granthi (di pusat terbawah energi pikiran tubuh halus manusia), vishnu-granthi (di dalam jantung), dan rudra-granthi (di titik di antara kedua alis mata).

Guna (“kualitas”): Sebuah istilah yang memiliki makna-makna yang banyak, termasuk “kebajikan”; sering kata ini merujuk pada tiga ‘kualitas’ utama atau elemen karakteristik (prakriti): tamas (prinsip inersia/ kelembaman), rajas (prinsip dinamika), dan sattva (prinsip kewarasan).

Guru (“ia yang berat dan berbobot”): Seorang guru spiritual. Baca juga acarya.

Guru-bhakti (“pemujaan guru”): Pemujaan yang dilakukan seorang murid yang dilakukan secara transendental dan mandiri kepada gurunya. Baca juga bhakti.

Guru-Gita (“Lagu Guru”): Sebuah teks yang bertema memuji guru dan seringkali dinyanyikan di ashramas.

Guru-Yoga (“Yoga [yang berkaitan dengan] guru”): Sebuah pendekatan yoga yang membuat guru menjadi titik penopang praktik seorang murid. Semua bentuk tradisional dari yoga mengandung elemen kuat guru-yoga.

=========

H

Hala: Bajak.

Hasta: tangan.

H. H. Sri Swami Satchidananda: Tokoh ini lahir tanggal 22 Desember 1914 di bulan Margali, awal Deva. Sebagai anak laki-laki kedua Sri Kalyanasundaram Gounder dan istrinya Srimati Velammai, rumah mereka selalu tempat pertemuan bagi para penyair, musisi, filsuf dan astrolog. Sannyasis (para rahib) dan para orang suci yang melewati daerah tersebut diarahkan ke kediaman Sri Kalyanasundaram dan Srimati Velammai untuk mendapatkan papan dan pangan. Srimati Velammai terilhami oleh para orang suci dan memutuskan bahwa anaknya akan dibesarkannya agar menjadi seperti mereka. Ia dan suaminya berkelana sejauh enam puluh mil ke bukit suci Palani, dan ke Ashram Sri Sadhu Swamigal tempat ia diberikan sebuah mantra untuk membangkitkan Cahaya Ilahi yang terwujud dalam Matahari. Ia mengulangi mantra itu secara terus menerus untuk mengembangkan getaran yang kondusif bagi penerimaan jenis jiwa yang ia kehendaki. Sejak kecil, Swami Satchidananda (saat itu masih dipanggil “Ramaswamy”) sudah sangat spiritual. Bahkan sejak masih kanak-kanak, ia berbicara kebenaran dan menunjukkan pandangan yang sudah jauh ke depan dibandingkan anak-anak seumurnya. Dedikasi pada Tuhan sangat kuat dan ia memandang orang-orang semua kasta dan kepercayaan dengan kesetaraan dan tanpa mendiskriminasikan. Ia juga selalu mengakui bahwa cahaya yang sama selalu ada dalam jiwa setiap manusia yang ia temui. Pengakuan terhadap cahaya yang universal itu juga ditemukan pada semua manusia dan pandangannya ini masih terus bersemayam dalam pikirannya meskipun ia terus tumbuh dewasa hingga menjadi seorang pebisnis dan seorang suami. Saat ia kehilangan istrinya, ia berfokus pada praktik spiritual dan belajar dengan banyak master spiritual besar termasuk Sri Ramana Maharshi. Akhirnya pada tahun 1949, Ramaswamy bertemu dengan gurunya H. H. Sri Swami Sivananda dari Divine Life Society, kota Rishikesh. Ia menerima Sannyas Diksha (inisiasi untuk menjadi seorang rahib) dari guru spiritualnya dan diberikan sebuah nama yang kemudian kita kenal luas, Swami Satchidananda. Ia kemudian memulai sebuah jenjang baru layanan dinamis untuk Swami Satchidananda. Sri Swami Sivananda mengenali bakat terpendam Sannyasin-nya yang baru itu karena sudah mampu menyentuh kehidupan manusia lain dan tidak mengungkung sang murid terlalu lama di Rishikesh Ashram. Kemudian ia mengirim Swami Satchidananda untuk melayani rakyat di sejumlah daerah di India dan Srilanka. Makin lama, ia juga menjelajahi luar negeri dan akhirnya dengan dorongan sejumlah muridnya dari Amerika Serikat ia pindah ke AS. Mereka juga mendorongnya untuk mendirikan Satchidananda Ashram—Yogaville, Virginia dan  Integral Yoga Institutes di seluruh dunia. Tahun 1979, Sri Swamiji terinspirasi untuk mendirikan Satchidananda Ashram–Yogaville. Ashram itu didirikan dengan menggunakan ajaran-ajarannya sebagai pondasi dasar kelembagaannya. Di sini, semua orang dari berbagai latar belakang dan keyakinan diterima dengan tangan terbuka untuk mewujudkan kesatuan esensialnya. Kini Satchidananda Ashram,  Integral Yoga Institutes,  dan para guru bersertifikat di seluruh Amerika Serikat dan di luar AS memberikan kelas, lokakarya (workshop), tetirah (retreat) dan program pelatihan mengajar yoga yang menyuguhkan semua aspek Integral Yoga. Pesan Swami Satchidananda menekankan harmoni dalam masyarakat yang majemuk. Mottonya ialah “Kebenaran cuma Satu, Jalannya Banyak”. Ia meyakini bahwa kita semua berjiwa satu dan bahwa dalam sejarah, para master spiritual seperti Buddha, Musa, dan Yesus mengajarkan diri kita menuju kesatuan spiritual ini. Setelah kita menemukan Jiwa itu dalam diri kita, kita akan bisa menemukannya dalam diri orang lain. Kemudian kita memiliki kekuatan untuk membantu menyembuhkan dunia. Ia tidak membatasi dirinya pada sebuah organisasi, kepercayaan atau negara dengan menerima undangan dari berbagai pihak selama lebih dari lima puluh tahun untuk berbicara soal perdamaian. Ia menduduki berbagai jabatan dalam sejumlah dewan organisasi yoga, antarkepercayaan dan perdamaian dunia. Ia telah menerima sejumlah penghargaan dari berbagai pihak termasuk Juliet Hollister Interfaith Award yang dianugerahkan dalam acara PBB dan di tahun 2002, ia menerima juga U Thant Peace Award. Bahkan setelah ia meninggal dunia, ia mendapatkan James Parks Morton Interfaith Award dari Interfaith Center of New York. Swami Satchidananda mendedikasikan hidupnya untuk upaya pemeliharaan perdamaian dunia baik secara individual dan universal. Swami Satchidananda wafat pada tanggal 19 Agustus 2002 di India Selatan. Pesan terakhirnya ialah:” Saya akan selalu bersama kalian dalam Jiwa. Bahkan jika tubuh saya tidak lagi di sini, kalian akan selalu bersama saya.”

Hamsa (“angsa/angsa jantan”): Selain makna harafiah, istilah ini juga mengacu pada napas (prana) saat ia bergerak dalam tubuh; kesadaran individu (jiva) yang didorong oleh napas. Baca juga jiva-atman dan parama-hamsa.

Hanuman: Pimpinan pasukan monyet, salah satu pemuja Rama yang paling berdedikasi dan bersedia membantu sang dewa dengan sepenuh hati. Hanuman melakukan lompatan legendaris melampaui lautan hanya untuk menemukan Shinta (Sita) dan menyelamatkan saudara laki-laki Rama, Lesmana.

Hari Kaur Khalsa: Di dunia Kundalini Yoga, nama ini patut diketahui karena ia dikenal secara global. Selama 10 tahun, ia berkelana ke sejumlah pelosok dunia bersama guru termasyhur yang membawa Kundalini Yoga ke Barat, Yogi Bhajan. Khalsa membantu Bhajan dalam penyelenggaraan program pelatihan mengajarnya. Ia bekerja sebagai pemimpin dan pengajar dalam program yang sama. Ia memiliki semangat untuk memberdayakan kaum wanita dari semua umur dan tingkatan kehidupan. Buku-buku yang ia sudah susun yakni A Woman’s Book of Meditation: Discovering the Power of a Peaceful Mind, dan A Woman’s Book of Yoga: Embracing Our Natural Life Cycles. Khalsa juga telah menyelenggarakan sejumlah lokakarya yoga yang turut menghadirkan suaminya yang juga musisi, Dave Frank. Bersama, keduanya menggabungkan musik, meditasi, Qi Gong, serta Kundalini Yoga.

Hatha Flow Yoga: Aliran dan kelas Hatha Flow Yoga ini  menyuguhkan sejumlah rangkaian postur yang berirama lambat sampai sedang. Lazimnya, Hatha Flow Yoga mencakup surya namaskara atau sekuen lainnya yang terkoneksi satu sama lain dengan mempertahankan setiap postur selama periode waktu yang lebih lama. Kelas-kelas Hatha Flow Yoga memiliki banyak sekali jenis bergantung pada guru yang mengajarkannya.

Hatha Yoga (“Forceful Yoga”): Sebuah cabang utama yoga yang dikembangkan oleh Goraksha dan pakar lainnya sekitar tahun 1000 SM, dan menekankan aspek-aspek fisik jalur transformatif, yang utamanya ialah teknik-teknik postur-postur (asana) dan pembersihan (shodhana) tetapi juga pengendalian napas (pranayama). Bentuk yoga ini berfokus pada postur-postur fisik (berkebalikan dengan Mantra, Karma, dan Bhakti yoga). Inilah praktik fisik yoga yang dilakukan dalam studio-studio dan pusat kebugaran modern. Kelas-kelas yang berjudul “Hatha” biasanya bersifat mendasar dan klasik dengan latihan pernapasan dan postur sehingga cocok bagi semua tingkatan (level) termasuk pemula sekalipun.

Hatha Yoga Pradipika (“Cahaya pada Hatha Yoga”): Salah satu buku petunjuk klasik mengenai Hatha Yoga, yang ditulis oleh Svatmarama Yogendra di abad ke-14.

Hot Power Yoga: (Baca juga Ashtanga Yoga) Turunan Ashtanga Yoga berada di bawah “Power Yoga”. Aliran yoga yang bergaya dinamis dan bertenaga ini mencakup banyak gerakan sun salutation (surya namaskara) dan postur-postur fisik yang relatif sedang dan menantang, yang mengalir dari satu ke yang lain. Kelas bersifat menguras energi dan membuat peserta berkeringat. Sebagian guru terkenal di dunia dari aliran ini misalnya ialah Baron Baptiste, Bryan Kest dan Shiva Rea.

HOT Hatha atau HOT Vinyasa Yoga: Aliran ini mirip dengan Bikram Yoga tetapi tidak menggunakan sekuen gerakan yang sudah dipatenkan oleh Bikram Choudury yang menjadi pemegang hak cipta. Ini karena Choudury mewajibkan para pengajar Bikram Yoga adalah mereka yang sudah belajar langsung dan mendapatkan sertifikasi dari lembaga resmi yang ia dirikan di Amerika Serikat.

Hiranyagarbha (“Bakteri Emas”): Menurut mitos, ia adalah pendiri yoga. Dalam pemahaman lain, kata ini juga mengacu pada prinsip kosmologis pertama (tattva) yang muncul dari Realitas yang tidak terbatas. Baca juga Brahma.

=======

I

Ida-nadi (“saluran pucat”): aliran atau arus prana yang menuruni sisi kiri saluran pusat (sushumna nadi) yang berkaitan dengan sistem syaraf parasimpatik dan memiliki efek menenangkan pada pikiran saat diaktifkan. Baca juga pingala-nadi.

Integral Yoga: Sebagaimana disuratkan oleh namanya, metode yoga ini bertujuan untuk membuat yoga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari praktisinya. Kelas-kelas Integral Yoga terdiri dari sejumlah asana yang diikuti dengan teknik pernapasan, mantra, dan meditasi. Para pemula dan praktisi yang sudah terlatih bisa mengikutinya. Integral yoga merupakan latihan yoga yang lembut dan berdasarkan pada mantra, postur, relaksasi yang mendalam, praktik pranayama atau pernapasan, dan meditasi. Integral yoga berfokus pada pemulihan diri pada kondisi alami yang mencakup kesehatan dan kekuatan, pikiran yang jernih dan tenang, hati yang penuh kasih, tekad yang kuat namun juga lentur, dan kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan yang hakiki. Didirikan oleh Swami Satchidananda (1914-2002) yang dikenal sebagai murid guru terkenal Swami Sivananda, aliran ini diajarkan di Satchidananda Ashram (Yogaville) di Virginia dan Integral Yoga Institute di Manhattan dan sejumlah studio dan pusat yoga yang lebih kecil di AS.

Integrative Yoga: Secara formal, aliran ini disebut sebagai “Integrative Yoga Therapy”. Ia dikembangkan secara khusus untuk pengobatan dan terapi. Integrative Yoga digunakan pada para pasien sejumlah penyakit dari penyakit jantung, AIDS hingga kelainan jiwa.

ISHTA: Singkatan ini kepanjangannya ialah Integrated Science of Hatha, Tantra, and Ayurveda, dan bertujuan menghubungkan murid dengan energi internal mereka sendiri. Kelas-kelas ISHTA mencakup kombinasi postur-postur fisik mirip Ashtanga Yoga dengan presisi yang diterapkan dalam kelas Iyengar Yoga. Aspek pernapasan dan meditasi juga menjadi unsur utama dalam aliran ini. Kelas Ishta Yoga mencakup sekuen-sekuen vinyasa berbasis kesejajaran, dengan meditasi, pranayama (latihan napas), dan kriya (teknik-teknik pembersihan diri), untuk menciptakan efek-efek energi spesifik. ISHTA memiliki kepanjangan Integrated Science of Hatha, Tantra and Ayurveda. Tujuannya ialah untuk menyeimbangkan organisme manusia untuk menciptakan platform yang stabil dan kuat bagi perkembangan jiwa dan spiritual. Alan Finger mendirikannya bersama sang ayah Kavi Yogiraj Mani Finger (seorang siswa Paramahansa Yogananda dan Swami Venkatesananda) di Afrika Selatan pada dekade 1960-an. Ishta Yoga School di Manhattan dibuka tahun 2008.

Iswara (“penguasa”): Tuhan/ Dewa, yang mengacu pada entah itu pada Pencipta  (baca Brahma) atau dalam yoga-darshana yang disusun Patanjali, kata ini bisa merujuk pada Diri (purusha) yang bersifat transendental dan istimewa.

Iswara-pranidhana (“Pengabdian pada Tuhan YME”): Dalam ajaran Delapan Tangga Yoga yang ditulis Patanjali, istilah ini memiliki makna salah satu praktik pengendalian diri (niyama). Baca juga bhakti yoga.

Iyengar Yoga: Dalam kelas Iyengar Yoga, Anda diharuskan menahan sebuah postur lebih lama daripada di kelas yoga lainnya. Ini mendorong peserta untuk merasakan lebih dalam kerja otot dalam setiap pose. Iyengar kerap menggabungkan berbagai alat bantu (props) dalam kelasnya. Alat-alat bantu tadi ialah balok/ blok, sabuk (belt), selimut dan kursi khusus. Bagi mereka yang memiliki riwayat cedera atau gangguan kesehatan serta keterbatasan fisik yang relatif signifikan, kelas Iyengar Yoga terasa lebih sesuai dan cocok. Sebab itu, kelas ini sesuai bagi semua kalangan, baik yang baru pemula sampai praktisi berpengalaman.

Kerap kali Anda hanya akan melakukan beberapa kali pose dalam sebuah kelas Iyengar dengan tujuan memelajari tindakan-tindakan yang diperlukan dalam menguasai keserasian (alignment) yang disyaratkan. Pose-pose bisa dimodifikasi dengan alat bantu (props) sehingga latihan akan lebih nyaman dan aman. Bagi pemula, tujuan utamanya ialah memahami kesejajaran dan struktur dasar pose fisik dan mendapatkan kesadaran fisik yang lebih baik, kekuatan dan kelenturan. B. K. S. Iyengar (siswa T. Krisnamacharya) mendirikan aliran ini. Anaknya Gita dan Prashant mengajar di Pune, India dan di seluruh dunia. Di Indonesia, praktisi Iyengar Yoga cukup banyak dan Anda bisa menemukannya di Jakarta dan kota-kota besar lainnya.

=====

J

Jaina (kadang disebut juga ‘Jain’): Kata ini berkaitan erat dengan jinas (“penakluk”), para pemuka dan penganut setia Jainisme, tradisi spiritual yang didirikan oleh Vardhamana Mahavira.

Jalandhara bandha: Jalandhara bandha ialah salah satu kuncian energi yang dijelaskan dalam praktik Hatha Yoga. Nama ini berasal dari kata dalam bahasa Sansekerta: “jal” artinya “tenggorokan”, “dharan” artinya “arus/ aliran”, dan “bandha” yang artinya “kuncian”. Ada juga yang mengartikannya sebagai “jala yang mengarah ke atas”, karena mengibaratkan cara kuncian ini dengan cara kerja jala yang menahan ikan. Teknik kuncian ini dilakukan dengan memperpanjang leher saat mengangkat dada kemudian menurunkan dagu ke dada. Lidah menekan langit-langit mulut. Selain menguatkan otot-otot di leher, jalandhara bandha memiliki efek yang signifikan pada aliran prana dalam tubuh halus manusia. Teknik ini diyakini dapat mengendalikan aliran energi melalui syaraf dan saluran energi di leher.

Janu: Lutut

Japa (“gumaman”): Pelafalan mantra secara berulang-ulang.

Jattara: Perut.

Jiva-atman, jivatman (“diri individu”): kesadaran individu, yang berlawanan dengan Diri yang tertinggi  (parama-atman).

Jivamukti Yoga: Suka dengan kelas yoga yang menguras energi fisik dan merangsang intelektual serta berfokus pada pengembangan spiritual? Kelas Jivamukti Yoga akan memberikannya untuk Anda. Siswa akan diberikan kesempatan menikmati rangkaian asana yang mengalir mulus disertai dengan mantra dalam bahasa Sansekerta, referensi dari teks-teks kuno yang memperkaya batin, musik yang sesuai selera (tidak hanya yang bernuansa etnis dan new age), latihan pranayama ala yoga dan meditasi. Salah satu dari prinsip Jivamukti Yoga ialah ahimsa yang artinya tidak memakai kekerasan. Tidak heran jika dalam kelasnya, Anda akan menemukan tema antikekerasan terhadap hewan, aktivisme positif dan veganisme. Jivamukti bermakna pembebasan sepanjang kehidupan. Sharon Gannon dan David Life mendirikan Jivamukti Yoga di tahun 1984. Pemilihan nama Jivamukti bukannya tanpa alasan. Jivamukti menyiratkan pencerahan dalam kehidupan.

Jivan-mukta (“ia yang terbebaskan saat hidup”): Seorang praktisi ahli yang saat ia masih hidup dalam jasad kasarnya sudah mencapai pembebasan (moksha).

Jivan-mukti (“pembebasan hidup”): Keadaan pembebasan saat masih hidup dalam raga. Metode ini berfokus pada pengalaman spiritual yang asli dan nyata. Setiap kelas berfokus pada sebuah tema dan bisa melibatkan pembacaan mantra dan isi kitab.

Jnana (“pengetahuan/ kebijaksanaan”): Baik pengetahuan keduniawian dan kebijaksanaan yang melampaui dunia fana, yang bergantung pada konteks. Baca juga prajna dan avidya.

Jnana Mudra (baca /nyana mudra/): Posisi kedua tangan ini sering dibuat dalam latihan meditasi. Ujung jari telunjuk dan ibu jari disatukan. Letakkan kedua tangan di atas lutut dengan kondisi terbuka ke atas.

Jnana-Yoga (“Yoga kebijaksanaan”): Jalur menuju pembebasan berdasarkan kebijaksanaan atau intuisi langsung menuju Diri transendental (atman) melalui penerapan pemahaman yang kokoh antara yang Nyata dan tidak nyata dan penolakan terhadap hal-hal yang tidak nyata (atau tidak penting bagi tercapainya pembebasan).

John Friend: Ia lahir pada tanggal 30 Mei 1959 dan pertama kali belajar yoga di usia 8 tahun di Youngstown, Ohio, AS. Kala itu ia diperkenalkan pada yoga melalui kisah-kisah yogi dengan pengetahuan dan kekuatan supernatural. Di usia 13 tahun, ia mulai belajar filosofi yoga dengan membaca Bhagavad Gita dan Upanishads. Latihan asananya dimulai saat ia belajar buku Integral Hatha Yoga tulisan Swami Satchidananda. Usia 17, Friend berlatih secara rutin bermeditasi dengan kelompok sufi dan anggota Thesophical Society. Di usia 19, Friend pindah ke Houston, Texas dan belajar berbagai aliran hatha yoga termasuk Ananda Yoga, Sivananda Yoga, dan 3HO dari Yogi Bhajan. Saat itu masih bekerja sebagai analis keuangan tetapi sudah mulai mengajar paruh waktu sebagai guru yoga. Tahun 1984 ia mulai berlatih Ashtanga Yoga Primary Series dan tahun 1986 ia beralih mengajar yoga sebagai pekerjaan penuh waktu. Tahun 1987, Friend berhasil lulus dari Secondary Series saat belajar di bawah naungan pendiri Ashtanga Yoga K. Pattabhi Jois di California tempat ia juga belajar Iyengar Yoga pada Judith Lasater. Di tahun yang sama ia bertemu dengan B. K. S. Iyengar dan memutuskan memfokuskan diri pada Iyengar Yoga. Antara tahun 1990 dan 1995, Friend mendapatkan sertifikat pengajaran Introductory dan Junior Intermediate dari Iyengar dan bekerja sebagai Dewan Direksi Iyengar Yoga National Association sebelum meninggalkan lembaga itu pada tahun 1997 untuk mendirikan Anusara Yoga.

Anusara Yoga yang Friend dirikan ini berdasarkan pada filsafat Tantra mengenai kebajikan intrinsik dan berdasarkan pada prinsip-prinsip keselarasan (alignment) biomekanik. Friend mendapatkan nama Anusara dari kata dalam bahasa Sansekerta “anusāra” yang bermakna “mengalir dengan Berkah”, “mengalir dengan Alam” dan “mengikuti nurani”.

Prinsip fundamental Anusara Yoga ialah sistem keselarasan (alignment) yang dimiliki Iyengar Yoga yang kemudian ia ringkas menjadi lima Prinsip Keselarasan Umum. Angka lima ini kemudian Friend kembangkan menjadi lima element, lima polygon reguler, lima jari di tangan dan sebagainya. Prinsip lainnya yang tidak kalah penting dalam Anusara Yoga ialah Tiga A, yakni Attitude (Sikap), Alignment (Keserasian/ keselarasan) dan Action (Tindakan).

John Friend dikabarkan terlibat dalam kasus skandal pada Februari 2012 setelah seseorang tanpa identitas menulis skandal itu di blog jfexposed.com (kependekan dari “John Friend Exposed”). Dari sini, pemberitaan berkembang hingga dimuatnya tuduhan serupa di media arus utama The Washington Post. Akhirnya, Friend mengakui telah menjalin hubungan di luar ikatan pernikahan dengan sejumlah pengikut Anusara Yoga yang sudah menikah. Maret 2012, ia mengumumkan pengunduran dirinya dari kursi kepemimpinan tetapi masih mempertahankan kepemilikan tunggalnya atas Anusara Yoga. Pada September 2012, ia kembali mengajar yoga dan memperkenalkan rangkaian gerakan yang terdiri dari 54 asana yang ia namai “The Roots”.

====

K

Kaivalya (“pengucilan”): Kondisi kebebasan seutuhnya dari eksistensi yang terkondisi, sebagaimana dijelaskan dalam ashtanga yoga. Dalam tradisi nondualitas India, hal ini biasanya disebut sebagai moksha atau mukti (yang maknanya ‘lepas’ dari jeratan kebodohan atau avidya).

Kali: Dewi yang menjadi perwujudan aspek keganasan dari Ilahi.

Kaliyuga: Zaman kegelapan spiritual dan penurunan moralitas. Periode ini juga konon berlangsung saat ini. Kata “kali” di sini tidak berkaitan dengan Dewi Kali tetapi terlontarnya sebuah dadu.

Kama (“hasrat”): Nafsu atas kesenangan indrawi yang dapat menyumbat jalan menuju kebahagiaan sejati (ananda). Satu-satunya hasrat yang mendukung kebebasan ialah keinginan menuju pembebasan atau yang disebut sebagai mumukshutva.

KAPHA Yoga: Didirikan oleh Koko Yoga di tahun 2013, sekolah yoga ini telah menarik perhatian pelaku yoga di Indonesia dan India. Pengetahuan Koko Yoga mengenai yoga didapatkan dari berbagai pelatihan yang diadakan para guru yoga dunia seperti John Friend (pendiri Anusara Yoga), Ana Forrest (pendiri Forrest Yoga), B. K. S. Iyengar, dan Absolute Samui. KAPHA Yoga mengajarkan metodologi pengajaran bernama Smart Teaching Methodology, teknik dan keserasian (alignment) dalam berasana yang ia sebut sebagai KAPHA.

Kapila (“Ia yang berwarna merah”): Kapila ialah nama orang bijak zaman kuno yang dikenal berkat kiprahnya sebagai pendiri tradisi Samkhya. Konon Kapila adalah sang penyusun kitab Samkhya-Sutra (yang meskipun tampaknya baru diselesaikan beberapa waktu setelah itu).

Kapota: Burung merpati/ dara.

Karman, karma (“tindakan/ aksi”): Aktivitas atau kegiatan yang beragam jenisnya, termasuk tindakan-tindakan ritual. Karma konon hanya memiliki kekuatan mengikat jika dilakukan secara individual. Akibat dari tindakan seseorang juga bisa disebut karma. Kata ini juga mengacu pada takdir. Dalam konsep Timur, karma merujuk pada sebab dan akibat. Keyakinan terhadap konsep karma sejatinya menyatakan bahwa karma bukan soal hukuman atas sebuah tindakan manusia tetapi cuma hasilnya. Dengan digunakannya kata “hasil”, konotasi netral terjaga. Sementara jika menggunakan kata “hukuman” atau sebaliknya “berkah” atau “anugrah”,, terkesan ada konotasi yang sudah tidak netral lagi karena kepentingan manusia terlibat di sini. Ini karena pemahaman “hukuman” dan “berkah” cuma ada dalam perspektif untung-rugi manusia. Hal-hal yang tidak dikehendakinya disebut hukuman dan yang diinginkan disebut berkah.

Karna: Telinga.

Karma Yoga (“Yoga tindakan/ perbuatan”): Jalan pembebasan tindakan transendental mandiri.

Karuna (“kasih sayang”): Simpati universal. Dalam Yoga Buddhisme, ia adalah pelengkap dari kebijaksanaan (prajna).

Khecari-mudra (“Kuncian berjalan di ruang): Praktik dalam Tantra Yoga yang mengharuskan kita menggulung lidah ke belakang sampai bersentuhan dengan langit-langit mulut bagian atas sebagai kuncian energi kehidupan (prana). Baca juga mudra.

Kino MacGregor: Sebagai salah satu guru Ashtanga Yoga paling populer di dunia saat ini, Kino MacGregor menunjukkan dedikasinya pada praktik fisik yang sangat menguras energi tersebut. Ia setia pada ajaran dari Shri K. Pattabhi Jois dengan kelas Ashtanga Yoga dan Mysore yang tersohor tersebut. Pada usia 19 tahun, MacGregor mulai mempraktikkan Ashtanga Yoga dan mulai melakukan perjalanan tahunan untuk berguru pada Jois di Mysore. Di usia 29 tahun, MacGregor menerima sertifikasi mengajar Ashtanga Yoga. Ia terus belajar setiap tahunnya ke Mysore dengan Sarath Jois, anak Pattabhi Jois. ia mendirikan dan mengelola Miami Life Center di kota asalnya Miami, Florida, dengan suaminya Tim Feldmann, Ia juga terus mengajar di sejumlah kota di dunia. Selain itu, ia menghasilkan tiga buku dan enam DVD bertema yoga. MacGregor salah satu guru Ashtanga Yoga yang memiliki tingkat popularitas tinggi di media sosial, misalnya YouTube, Instagram, Snapchat dan sebagainya. Macgregor dalam akun media sosialnya memberikan berbagai kiat dan saran untuk latihan bagi semua orang.

Kids Yoga: Karena jangka perhatian anak kecil yang masih pendek, kelas Kids Yoga biasanya menggabungkan permainan dan dongeng dan gerakan-gerakan yang perpindahannya lincah dan cepat.

Kirtan: Sebuah ajang berkumpul dalam sebuah komunitas yang di dalamnya orang-orang bersenandung, bernyanyi, memainkan musik secara langsung dan bermeditasi.

Kosha (“wadah”): Salah satu dari lima “bungkus” yang mengelilingi Diri transsendental (atman) sehingga menghalangi sinar masuk ke dalamnya. Kata anna-maya-kosha (“bungkus yan terbuat dari makanan, badan fisik), prana-maya-kosha (“bungkus yang terbuat dari kekuatan hidup), mano-maya-kosha (“bungkus yang terbuat dari pikiran), vijnana-maya-kosha (“bungkus yang terbuat dari kesadaran”), dan ananda-maya-kosha (“bungkus yang terbuat dari kegembiraan). Sejumlah tradisi kuno menganggap kosha yang terakhir sama persis dengan Diri (Self/ Atman).

Kripalu Yoga: Dengan fokus penuh pada kontak dengan raga, metode ini mengalir dalam tiga tahapan: mekanika dasar, meditasi dan postur-postur yang ditahan lebih lama, dalam sekuen yang mengalir. Mereka yang baru berlatih dan sudah berpengalaman dapat melakukan Kripalu Yoga. Melalui teknik-teknik asana, pranayama, meditasi dan relaksasi, Anda akan belajar mengamati sensasi-sensasi dalam tubuh dan pikiran. Dari situ, Anda akan menemukan bagaimana sebuah pose fisik — atau bahkan sebuah keputusan simpel dalam menjalani hidup — berguna bagi Anda. Kelas Kripalu Yoga dapat disesuaikan. Ada yang menuntut stamina fisik. Ada juga yang amat lembut, misalnya dengan memakai alat bantu kursi. Tujuan utama Kripalu Yoga ialah membangkitkan aliran prana atau kekuatan alami hidup yang akan memungkinkan Anda berkembang dalam segala aspek kehidupan. Swami Kripalu (1913-1981) yang mendirikan Kripalu Yoga ialah master Kundalini Yoga yang mengajarkan bahwa semua tradisi kebajikan di dunia ini berakar dari satu kebenaran universal yang kita semua bisa alami secara pribadi dan langsung. Pusat Kripalu Yoga berada di Kripalu Center for Yoga and Health di kota Stockbridge, Massachussets.

Krisna (“Penarik”): Seorang manusia setengah dewa yang dianggap sebagai inkarnsasi atau jelmaan dari Dewa Wisnu di bumi ini. Krisna memiliki ajaran-ajaran bijak yang dapat kita baca di kitab Bhagavad Gita dan Bhagavata-Purana.

Kumbhaka (“bersifat mirip pot”): Penahanan napas. Baca juga puraka, recaka.

Kundalini: Kundalini merupakan metode yoga yang enerjik dan mengalir. Pesertanya diajak terus bergerak dari satu postur ke postur lainnya. Rangkaian gerakan ini tersusun dari sejumlah gerakan berulang dan cepat. Tujuannya ialah untuk membangkitkan kekuatan tubuh, pikiran, dan spiritual dalam diri seorang manusia. Praktik yoga ini bekerja sedemikian rupa untuk menggali energi Kundalini yang tersimpan dalam diri setiap manusia. Kundalini ini diibaratkan sebagai energi yang berbentuk ular di dasar pinggul manusia. Jika terbangkitkan, potensi lengkap manusia yang mengagumkan akan melejit.

Kundalini-shakti (“Kekuatan yang tersimpan”): Menurut Hatha Yoga dan Tantra, kekuatan ular atau energi spiritual yang bernama Kundalini ini perlu dibangkitkan. Ia ada dalam bentuk alaminya dan tersimpan di pusat energi pikiran di bagian terbawah (yaitu muladhara chakra) dan perlu dibangkitkan dan dipandu agar bisa menuju ke bagian paling puncak di kepala manusia (yaitu sahasrara chakra) demi tercapainya pencerahan sepenuhnya.

Kundalini Yoga: Jalan yoga yang berfokus pada proses kundalini sebagai cara menuju pembebasan seutuhnya. Pendiri Kundalini Yoga iala Yogi Bhajan, seorang guru India berkeyakinan Sikh. Para praktisi yoga Kundalini yang berpengalaman dan serius biasanya mengenakan pakaian yang berwarna putih, termasuk turban penutup kepala dan rambut yang dibiarkan terus tumbuh tanpa pernah dipangkas. Praktik kundalini yang disebut kriya lazimnya mengajak peserta yoga untuk bergerak secara berulang-ulang dan cepat dan dilakukan selama beberapa menit. Pernapasan api (napas yang lebih cepat dengan dibuangnya napas secara penuh tenaga melalui lubang hidung, bukan mulut) dilaksanakan dalam banak pose kelas di aliran ini. Kundalini Yoga juga menekankan pembacaan mantra, chakra dan meditasi mantra.

Sebuah kelas Kundalini Yoga berdurasi 90 menit biasanya dimulai dengan pengucapan mantra dan berakhir dengan nyanyian. Di dalam bagian intinya, Anda akan disuguhi dengan asana-asana, pranayama dan meditasi yang didesain menciptakan hasil khusus. Anda akan menemukan latihan napas yang menantang, termasuk teknik pernapasan yang cepat seperti Pernapasan Api, meditasi mini, mantra, mudra (isyarat jari jemari), dan postur-postur yang akan diulang beberapa menit dan akan mendorong Anda hingga ke batas maksimal kemampuan. Kundalini Yoga kadang disebut Yoga of Awareness. Tujuan utamanya ialah membangkitkan energi kundalini, suatu kekuatan psikoenergis yang menggiring pada elevasi spiritual dan memicu proses transformasi. Kundalini Yoga didirikan oleh Yogi Bhajan di AS pada tahun 1969.

Kula: Komunitas/ kumpulan orang.

Kumbha: Pot (Sebuah citra tradisional torso manusia sebagai sebuah wadah dengan dua “pembuka” di tenggorokan dan dasar pinggul).

Kurma: Kura-kura.

=====

L

Laya Yoga (“Yoga Peleburan”): Bentuk yang lebih lanjut atau proses Yoga Tantra yang dengannya energi-energi yang terkait dengan berbagai pusat energi pikiran di badan halus secara bertahap melebur melalui naiknya kekuatan ular (kundalini-shakti).

Linga (“tanda”): Phallus sebagai prinsip kreativitas. Ia juga bisa dianggap sebagai lambang Dewa Syiwa. Baca juga yoni.

=====

M

Maha : Hebat, agung, akbar.

Maha  bandha (Kuncian Besar): Teknik kuncian pernapasan ini menggabungkan ketiga teknik kuncian dalam yoga (yakni mula bandha, uddhyana bandha dan jalandhara bandha) dengan penahanan napas.

Mahabharata (“Bharata nan Agung”): Mahabharata merupakan salah satu epik kuno yang terus dibaca oleh umat manusia. Isinya ialah kisah peperangan antara Pandawa dan Kurawa. Kisah ini menjadi sebuah khasanah yang sangat kaya mengenai ajaran moral dan spiritual.

Mahatma (dari maha-atman, “Diri yang agung”): Kata ini merupakan sebuah gelar kehormatan yang bermakna setara dengan “Jiwa yang Agung”. Gelar ini diberikan hanya pada orang-orang dengan dianggap pantas seperti Gandhi.

Maithuna (“berkelindan, berkaitan”): Maithuna didefinisikan sebagai sebuah ritual seksual dalam ajaran Tantra yang di dalamnya para peserta memandang satu sama lain sebagai Syiwa dan Shakti.

Manas (“pikiran”): Pikiran bawah atau manas terikat dengan indra-indra dan menghasilkan berbagai macam rangsangan dan informasi (vijnana) daripada kebijaksanaan (jnana, vidya). Baca juga buddhi.

Mandala (“lingkaran”): Mandala ialah sebuah desain lingkaran yang melambangkan alam semesta (kosmos) dan dewa-dewi tertentu.

Manipura (chakra pusar): Terletak di pusar, chakra ini berkaitan dengan sistem pencernaan, unsur api dan tujuan serta kekuatan individual.  Manipura chakra dikatakan sebagai sebuah pusat penyimpanan energi tubuh karena ia menyimpan banyak sekali vitalitas fisik. Saat kesadaran bergerak secara bebas di pusat energi ini, kita memiliki kekuatan dari energi transformasi. Saat area ini terhambat, kita bisa mengalami ketimpangan yang berkaitan dengan ambisi agresif, ego yang tinggi dan pengejaran kekuatan pribadi. Postur-postur memuntir tubuh (twisting) merupakan jenis asana yang baik untuk memurnikan dan melancarkan manipura chakra.

Mantra (dari akar kata man yang artinya “berpikir”): Mantra adalah sebuah suara atau kumpulan kata yang dianggap sakral, misalnya om, hum, atau om namah shivaya. Mantra dikatakan memiliki efek yang transformatif pikiran si pengucapnya. Agar mantra bekerja efektif, sebuah mantra perlu diberikan dalam konteks (diksha) yang asli atau orisinal.

Mantra Yoga: Frase ini mengacu pada jalan yoga yang menggunakan mantra-mantra sebagai alat utama menuju pembebasan atau moksha.

Marichi: Marichi ialah anak laki-laki dari Brahma dan kakek dari dewa matahari Surya.

Marman (“[titik] mematikan“): Marman dalam Ayurveda dan yoga berarti titik penting atau vital dalam badan kasar manusia tempat energi terpusat atau terhalang. Baca juga granthi.

Matsya: Ikan.

Matsyendra (“Dewa Ikan”): Matsyendra ialah tokoh menonjol yang dianggap sebagai salah satu guru besar atau master Tantra yang tercatat paling awal dalam sejarah. Ia mendirikan sekolah Yogini Kaula dan dikenang sebagai guru orang bijak Goraksha. Tentang asal usul Matsyendra, dikatakan bahwa Dewa Syiwa menemukan seekor ikan yang benar-benar menyerap ajaran yoganya. Syiwa kemudian memberikan bentuk abadi pada ikan itu kemudian makhluk itu menyebarkan pengetahuan yoga.

Maty Ezraty: Ia adalah salah satu pendiri YogaWorks bersama Chuck Miller dan Alan Finger. Ezraty guru yoga yang berpengalaman karena sudah mengajar selama lebih dari 30 tahun. Ia sudah berguru kepada pendiri Ashtanga Yoga, Sri K. Pattabhi Jois. Ia menjadi salah satu dari perempuan-perempuan pertama yang mempraktikkan Seri Ketiga dan Keempat Ashtanga Yoga. Setelah berkelana ke Mysore selama beberapa tahun untuk belajar dengan Jois, ia kemudian tertarik ke metode Iyengar Yoga dan tinggal untuk sementara di Pune, India, untuk berguru dengan Geeta Iyengar, anak perempuan tertua B.K.S. Iyengar. Didirikan tahun 1987 di kota Santa Monica, California, YogaWorks kini memiliki lebih dari 40 lokasi dan salah satu organisasi pertama yang memberikan layanan pelatihan guru yoga yang baku dan mengintegrasikan banyak aliran yoga. Banyak guru terkenal seperti Seane Corn, Shiva Rea, Rod Stryker, dan Kathryn Budig, adalah muridnya. Tahun 2004, Ezraty menjual YogaWorks.

Maya (“wanita yang mengukur”): Maya diartikan sebagai sebuah kekuatan ilusi atau delusi dunia fana. Ilusi ini menciptakan sebuah kesan bahwa dunia terpisah dari Realitas tunggal tertinggi(atman).

Moksha (“pembebasan/ pelepasan”): Moksha dapat dimaknai sebagai kondisi terbebasnya jiwa manusia dari kebodohan (avidya) dan efek mengikat dari karma. Nama lainnya ialah mukti, kaivalya.

Mrta: Mati.

Mudra (“ikatan/ kuncian”): Mudra ialah sebuah posisi tangan atau seluruh tubuh. Contohnya cin-mudra, viparita-karani-mudra. Mudra juga melambangkan mitra feminin dalam ritual seksual Tantra. Misalnya, saat dalam meditasi, menyentuh ujung ibu jari dan jari telunjuk saat pergelangan tangan terletak di atas kedua lutut.

Mukha: Wajah

Mula bandha: Kata “mula” berarti akar dan “bandha” ialah kuncian. Secara fisik, teknik kuncian ini mirip dengan ashwini (mengkontraksikan otot anal sphincter di sekitar anus tanpa menimbulkan rasa tidak nyaman di area pinggul) tetapi penguasaan yang lebih lanjut akan membuat otot-otot di dasar pinggul lebih rileks. Mula bandha melibatkan aktivasi otot perineum (yang terletak di antara anus dan alat kelamin bagi pria, atau di serviks bagi perempuan). Jika sudah lebih berpengalaman, Anda akan bisa menerapkan mula bandha dengan melibatkan aktivasi internal yang lebih halus, berupa tarikan di sekitar kandung kemih, vagina dan uterus bagi perempuan, atau di prostat bagi pria serta rektum. Para praktisi berpengalaman akan dengan mudah melakukan mula bandha tanpa mengkontraksikan anus atau lapisan luar otot perineum. Mula bandha merupakan teknik untuk menahan dan menyalurkan energi yang berkaitan dengan muladhara chakra, chakra terbawah pada manusia. Terletak di ujung bawah tulang belakang, muladhara chakra mewakili tahapan kesadaraan tempat kebutuhan bertahan hidup dalam diri manusia mendominasi. Mula bandha melintasi brahma ganthi, sebuah simpul energi yang menahan perubahan dalam diri kita sehingga saat kita menerapkan mula bandha, kita akan merasakan susunan otot pinggul kita dengan lebih baik, memperbaiki stabilitas pinggul yang pada akhirnya memberikan kontribusi positif pada gerakan tulang belakang. Menguasai mula bandha memberikan kita pondasi yang menjadi dasar bagi setiap gerakan dalam kegiatan sehari-hari.

Muladhara (chakra akar): Pusat energi ini berlokasi di dasar pinggul. Inilah akar yang menjadi pangkal vitalitas manusia dan penghubung manusia dengan Bumi. Ia menjaga kita tetap membumi dengan kenyataan, tetap kuat secara fisik dan merasa aman dan nyaman. Ia menyimpan dorongan-dorongan naluriah kita atas makanan, tidur, seks dan kewajiban bertahan hidup. Ini juga wilayah ketakutan dan penghindaran kita yang paling mendasar. Yang paling penting, muladhara chakra menyimpan potensi laten paling kuat manusia yaitu  Kundalini Shakti. Asana-asana seperti virabhadrasana, pembuka pinggul, postur kursi, lunge, dan jongkok membantu kita memfokuskan kesadaran pada pusat energi ini.

Muni (“Ia yang diam”): Seorang bijak.

Mysore: (Baca Ashtanga Yoga) Dikenal sebagai kota di India tempat Shri K. Pattabhi Jois mengajar yoga, Mysore merupakan jenis latihan yoga asana yang dilakukan di pagi hari. Seorang instruktur berada di kelas tetapi ia tidak memimpin kelas sebagaimana yang kita temui dalam kelas-kelas yoga biasa maupun dalam kelas Ashtanga biasa. Di sini, setiap murid berlatih mandiri dengan kecepatan dan kemampuan masing-masing. Instruktur bertugas berkeliling dan memberikan bantuan jika ada yang memerlukan penyesuaian (adjustment) dalam pelaksanaan asana.

====

N

Nada (“suara”): Suara dalam karena ia bisa didengar melalui praktik nada yoga atau kundalini yoga.

Nada-Yoga (“Yoga suara internal”): Yoga atau proses memproduksi dan secara terfokus mendengarkan suara dalam diri sebagai alat berkonsentrasi dan transenden mandiri yang menawarkan kebahagiaan hakiki.

Nadi (“saluran”): Salah satu dari 72.000 saluran yang halus dan ada sepanjang sirkulasi kekuatan hidup (prana). Tiga yang paling penting ialah ida-nadi, pingala-nadi, dan sushumna-nadi.

Nadi-shodhana (“pembersihan saluran”): Praktik pemurnian saluran terutama dengan menggunakan pengendalian pernapasan (pranayama).

Namaste: Menurut guru yoga Aadil Palkhivala, secara harafiah “namaste” berarti “saya membungkuk pada Anda”. Makna alternatif lainnya ialah “cahaya di dalam diri saya membungkuk pada cahaya di dalam diri Anda”. Kata ini digunakan di awal atau akhir kelas yoga dan diucapkan dengan membungkuk dan kedua tangan membentuk anjali mudra. Namaste diucapkan sebagai salam yang lazim dipakai di India dan budaya-budaya yang berkaitan erat dengan India.

Narada: Dia orang bijak yang dikaitkan dengan musik. Narada mengajarkan bhakti yoga dan konon disebut sebagai penyusun salah satu dari dua Bhakti-Sutras. Kadang Narada disebut juga Narada Muni atau Naradaji. Ia digambarkan sebagai sosok yang bercahaya dengan kedua tangannya memegang alat musik khas India, vina. Ia berkeliling sambil bernyanyi dan bermain musik. Ia pemuja Dewa Wisnu yang setia. Narada menggambarkan kehidupannya pada seorang murid bernama Vyasdev di bab pertama , kelima dan keenam dalam Srimad Bhagavatam. Di sini ia menceritakan bagaimana akhirnya ia memutuskan sebagai seorang pemuja Wisnu. Saat ia ikut membantu ibunya melayani orang-orang suci (Mahabhagavata), ia merasakan adanya perubahan dalam dirinya setelah  memegang jasad orang-orang suci. Ia merasakan dirinya tertarik ke dalam pengabdian dan pemujaan Tuhan YME. Kemudian Narada bermeditasi di bawah pohon beringin. Narada berangsur menjadi manusia spiritual. Setelah itu ia berkeliling dengan menyebarkan nama Narayana.

Nataraja: Salah satu nama Dewa Syiwa, dewa para penari.

Natha (“dewa”): Kata ini merupakan julukan atau gelar bagi para master yoga di India Utara terutama para guru dalam aliran Kanphata (“telinga terbelah”) di aliran yang diduga didirikan oleh Goraksha.

Nauli Kriya: Teknik pernapasan Nauli ini merangsang unsur api dalam sistem pencernaan. Menurut teks Gheranda Samhita, Nauli didefinisikan sebagai gerakan otot-otot perut dan usus yang lebih kuat dari satu sisi ke sisi lainnya. Konon, Nauli yang dilakukan dengan teknik yang tepat dapat menyingkirkan semua penyakit dan meningkatkan elemen api dalam badan manusia. Di samping itu, Nauli menguatkan dan membentuk otot-otot perut dan memijat organ-organ dalam tubuh.

Nava: Perahu/ kapal.

Neti-neti: Sebuah ekspresi khas kita Upanishad yang dimaksudkan untuk menyampaikan bahwa Realitas tertinggi bukanlah itu atau ini tetapi di luar jangkauan manusia.

Nirodha (“pengendalian”): Dalam ddelapan anak tangga Yoga di sutra Patanjali, dasar proses konsentrasi, meditasi dan ekstasi. Dalam pemahaman sederhana, nirodha ialah pengendalian pikiran agar tidak bergejolak dan lebih tenang (citta-vritti).

Nirvikalpa Yoga:Kelas Nirvikalpa Yoga biasanya mengedepankan konsep holistik dan skeptisisme dalam proses belajarnya. Tidak hanya di atas mat, murid juga diharapkan bisa mengamalkan di luar kelas. Arti “nirvikalpa” sendiri ialah “tanpa keraguan”. Dan keraguan itu sendiri menurut sang pendiri Setyo Jojo dari Bandung hanya bisa dicapai jika dilaksanakan secara penuh oleh masing-masing individu, bukan hanya dari dogma atau ajaran yang menumpulkan daya pikir dan sikap kritis. Tidak heran jika semua pelaku tidak diperkenankan mengonsumsi zat-zat yang berbahaya seperti rokok, minuman beralkohol dan narkotika. Para pengajar Nirvikalpa hanya boleh mengajarkan segala sesuatu yang benar-benar mereka ketahui dan praktikkan saja. Tujuan kelas Nirvikalpa Yoga ialah membantu meningkatkan perspektif pikiran agar keluar dari rutinitas dan ‘kesadaran’ yang sudah biasa terbangun. Anda yang menginginkan pose-pose menantang mungkin akan menganggap gerakan-gerakannya sangat simpel, tetapi pose-pose yang terlalu berisiko memang kurang disarankan di sini karena sejatinya latihan diperlukan untuk mengkondisikan tubuh dan pikiran untuk menunjang kinerja kita dalam berkegiatan fisik dan mental setiap hari. Latihan asana lebih diarahkan pada sisi penyembuhan dan relaksasi, bukan olah fisik saja. Napas yang lembut dan dalam juga diutamakan dalam kelas. Keunikan lainnya ialah fokus pada sistem lokomotor tubuh, yaitu kontraaksi dan ekspansi otot yang lambat, halus, tanpa paksaan. Anda akan menemukan sesi pemijatan mandiri di akhir kelas.

Niyama (“pembatasan diri”): Anak tangga kedua dalam konsep Yoga Patanjali yang mencakup kebersihan (saucha), rasa syukur (santosha), kebersahajaan (tapas), belajar mandiri (svadhaya), dan dedikasi pada Tuhan (ishvara-pranidhana).  Niyama ialah lima prinsip hidup yang (bersama dengan yama) membangun pondasi moral dan etika yoga.

Nyasa (“menempatkan”): Praktik Tantra yang dilakukan dengan menyalurkan bagian tubuh dengan prana dengan menyentuh atau memfokuskan pikiran pada area fisik tertentu.

=====

O

Ojas (“vitality”): the subtle energy produced through practice, especially the discipline of chastity (brahmacharya)

Om (atau Aum): the original mantra symbolizing the ultimate Reality, which is prefixed to many mantric utterances . A mantra and mystical sound of yoga. Sometimes referred to as praṇava. In some classes, especially those with a focus on mantra yoga, you’ll perform the om sound with the rest of the classes at the begin, end, and several times throughout.

OM Yoga: Rangkaian gerakan vinyasa berkecepatan sedang digabungkan dengan instruksi untuk menjaga kesejajaran adalah yang akan Anda temukan dalam kelas OM Yoga. Tidak hanya itu, akan ada konsep-konsep Budha Tibet seperti kesadaran dan kasih sayang yang dimasukkan dalam kelas. Tujuan OM Yoga ialah meningkatkan kekuatan, kestabilan dan kejelasan dan menyatukan kesadaran dan kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari. Pendiri OM Yoga Cyndi Lee telah menekuni yoga sejak tahun 1971 dan Budha Tibet sejak 1987. Pusatnya berada di New York City.

Organik Yoga: Kelas Organik Yoga mengedepankan konsep bahwa yoga tidak hanya asana. Digagas oleh Yudhi Widdyantoro, yoga ini mengutamakan kepedulian terhadap alam dan semua makhluk dan aspek kesehatan melalui pemilihan asupan yang lebih sehat dan bersifat lokal dan organik, tanpa menggunakan bahan-bahan kimia dan pangan impor yang membebani bumi.

=====

P

Pada: Kaki/ tungkai.

Parama-atman atau paramatman (“Diri yang tertinggi”): Diri yang bersifat transendental dan tunggal, yang menjadi lawan dari jiva-atman yang artinya diri yang terpisah, individual dan ada di berbagai bentuk makhluk hidup.

Parama-hamsa, paramahansa (“angsa super”): Sebutan penuh penghormatan yang diberikan pada mereka yang dianggap berpengalaman seperti Yogananda dan Ramakrishna.

Parigha: Pengunci gerbang.

Parivrtta: Dipuntir, dipilin.

Partner Yoga: Aliran yoga satu ini melibatkan dua orang yogi atau yogini yang melakukan sebuah pose bersama-sama. AcroYoga dan Yhai Yoga massage adalah dua jenis partner yoga yang paling banyak dikenal oleh orang selama ini.

Paschima: Arah barat (sisi tubuh bagian belakang).

Patanjali: Patanjali ialah orang yang menyusun Yoga Sutra. Konon Patanjali hidup sekitar tahun 150 M. Sebuah nama Sansekerta yang dianggap sebagai penyusun sejumlah karya bertema yoga. Ada 195 sūtras yang tercatat dihasilkan Patanjali seumur hidupnya.

Patricia Walden: Wanita ini berjasa besar dalam membawa Iyengar Yoga ke AS. Tiap tahun selama 40 tahun ia ke Pune untuk belajar pada B.K.S Iyengar dan anak perempuannya Geeta. Ia kini mengajar di Down Under Yoga, Brookline, Massachusetts.

Pilates: Sistem olah tubuh ini lain dari yoga namun kerap dikombinasikan dengan yoga dan diajarkan di lokasi/ studio yang sama dengan yoga. Fokus pilates pada penguatan dan pengembangan stabilitas otot-otot abdomen dan core.

Pingala-nadi (“saluran kemerahan”): Arus prana ini merambat naik ke sisi kanan kanal tengah tubuh halus manusia dan berkaitan dengan sistem syaraf simpatetik dan memiliki efek pembangkit semangat saat diaktifkan (bandingkan dengan ida-nadi).

Power Yoga: Aliran yoga ini bersifat yang, atletik dan dinamis. Ia diciptakan oleh para yogi Barat di dekade 1980-an. Power Yoga kerap dipraktikkan dalam ruangan kelas yang relatif hangat. Variasi kelasnya banyak sekali sesuai dengan keragaman pengajarnya karena Power Yoga tidak menganut tata urutan / sekuen asana tertentu sebagaimana Bikram Yoga atau Ashtanga Yoga yang sudah menetapkan rangkaian asana yang dilakukan dalam kelas mereka.

Prana: Napas atau energi kehidupan.

Prana Flow Yoga: Ada tiga kata yang bisa menggambarkan secara tepat aliran yoga yang muncul tahun 2005 ini:”kreatif”, “menantang” dan “menguatkan”. Bentuk sekuennya mirip tarian, meditasi bergerak, musikal, sangat aktif dan mengalir bagai gelombang air laut. Anda bisa menemukan gerak gelombang ini dalam ayunan telapak tangan yang dibebaskan dalam setiap gerakan. Setelah mantra pembuka OM, kelas prana flow yoga biasanya diisi dengan rangkaian gerak vinyasa yoga yang sambung menyambung, tanpa putus sehingga bagi Anda penyuka olah tubuh kardiovaskuler, tipe yoga ini sangat sesuai dengan selera Anda.

Prajna (“kebijaksanaan”): Lawan dari kebodohan spiritual (ajnana, avidya); salah satu dari dua sarana pembebasan dalam yoga Buddhis.

Prakriti: Alam yang memiliki banyak tingkatan. Menurut yoga dharsana dalam pemikiran Patanjali, prakriti terdiri dari dimensi eternal dan halus serta kasar. Prakriti dianggap sebagai lawan Jiwa transendental atau purusha.

Prana (“kehidupan. napas”): Kehidupan secara umum; kekuatan kehidupan yang menjaga keberlangsungan tubuh; napas sebagai manifestasi eksternal dalam tubuh halus. Disebut pula sebagai chi, qi, energi hidup.

Pranayama (dari prana dan ayama, “perpanjangan kehidupan/ napas): Pengendalian napas, tangga keempat dalam delapan anak tangga Yoga Patanjali. Ada tiga jenis pranayama yang utama: tarik napas (puraka), menahan napas (kumbhaka), dan hembus napas (recaka). Dalam kelas yoga modern, bentuk pranayama ialah latihan napas agar lebih penuh kesadaran dan lebih panjang serta rileks. Memahami dan menguasai pranayama menjadi fokus penting, sebagaimana asana, drishti atau pandangan dan aspek yoga lainnya.

Prasada (“keanggunan/ kejelasan”): Keanggunan ilahiah, kejernihan mental

Pratyahara (“menarik diri”): Pengendalian indrawi. Merupakan anak tangga kelima dalam anak tangga Yoga Patanjali.

Prenatal: Sejenis yoga yang didesain untuk calon ibu dan ibu baru. Latihan ini berfokus pada pernapasan dan asana mudah dan aman untuk menguatkan otot tubuh wanita menjelang persalinan. Dikatakan prenatal yoga mempermudah proses persalinan.

Puja (“pemujaan”): Puja bermakna ritual pemujaan yang menjadi aspek penting dalam banyak jenis atau bentuk yoga. Misalnya, jenis yoga yang paling banyak mengamalkan puja ialah bhakti yoga serta Tantra.

Puraka (“mengisi”): Dalam yoga, kata ini mengacu pada aktivitas menarik napas. Ini hanya salah satu dari aspek pengendalian napas atau pranayama.

Purana (“[Sejarah] Kuno“): Purana mengacu pada sejenis ensiklopedi populer yang berkaitan dengan garis keturunan/ silsilah keluarga kerajaan,kosmologi, filosofi, dan ritual. Terdapat 18 purana yang patut diketahui dan masih banyak lagi ensiklopedi yan termasuk purana tetapi tidak begitu banyak dikenal.

Purna Yoga: Kelas purna yoga berfokus pada asana, alignment ala Iyengar dan penggabungan filosofi yoga. Meditasi singkat dilakukan di awal dan akhir kelas untuk menghubungkan siswa dengan pusat jiwa. Ajaran purna yoga bertitik tekan pada penyatuan tubuh dan pikiran dengan jiwa. Ada empat anak tangga menuju purna yoga: meditasi, asana dan pranayama, filosofi terapan, dan nutrisi serta laku hidup. Terilhami oleh pemikiran Shri Aurobindo dan Ibundanya, purna yoga secara resmi didirikan Aadil dan Mirra Palkhivala tahun 2003. Pusatnya di kota Bellevue, Washington.

Purusha (“pria”): Purusha berarti Diri (atman) atau Jiwa transendental. Pengangkatan ini  banyak digunakan dalam Samkhya dan yoga-darshana  milik Patanjali.

Purva: Arah timur (sisi tubuh bagian depan).

====

R

Radha: Radha ialah nama perempuan yang menjadi pasangan Krisna. Ia juga dianggap sebagai nama Ibu dewa-dewi.

Restoratif: Dalam aliran yoga ini, pose-pose dilakukan dengan berbaring di lantai dan memakai bolster, selimut dan blok khusus untuk memudahkan relaksasi tubuh dan pikiran.

Raja-Yoga:Yoga klasik yang juga dikenal berkaitan dengan yoga-darshana dalam pemahaman yoga Patanjali.

Rama: Inkarnasi Dewa Wisnu sebelum Krishna; pahlawan utama dalam kisah Ramayana.

Ramayana (Hidup Rama”): Salah satu epik nasional India yang menerangkan kisah hidup Rama.

Recaka (“hembusan napas”): Mengeluarkan napas.

Rishi (“resi/ orang sakti”): Sebuah kategori dalam orang suci veda, panggilan sakral untuk para masteryang dihormati, seperti orang sakti India Selatan Ramana yang dikenal sebagai maharshi. Baca juga “muni”.

Rodney Yee: Pria ini di awal tahun 1990-an merilis DVD yoga pertamanya melalui Gaiam dan menjadi terkenal. Ia mempraktikkan yoga selama 40 tahun lebih dan mengajar selama 30 tahun lebih. Aliran yang ia pelajari ialah Iyengar dan kemudian mengembangkan gaya yoganya sendiri yang dipengaruhi balet yang pernah ia pelajari sebelumnya. Istrinya Colleen Saidman turut mengajar yoga bersamanya di New York.

====

S

Sadhana (“pencapaian”): Disiplin spiritual yang mengarah pada siddhi (“kesempurnaan” atau “pencapaian”). Istilah ini juga digunakan secara spesifik dalam Tantra.

Sahaja (“lahir bersama”): Istilah ini merupakan terminologi zaman pertengahan yang mengacu pada kenyataan bahwa Realitas transenden dan realitas empiris tidak benar-benar terpisah tetapi saling mendukung. Pengertian lainnya bahwa realitas empiris merupakan aspek atau persepsi yang keliru mengenai Realitas transenden. Sahaja sering disebut juga sebagai “spontan” atau “spontanitas”. Kondisi sahaja ini merupakan kondisi alami yang setara dengan pencerahan atau kesadaran tertinggi.

Sahasrara (Pusat mahkota): Chakra ini menjadi penghubung diri kita dengan semua hal yang ada di luar ego individu kita. Sahasrara adalah semua hal yang ada di luar intelektual linier, preferensi dan pengalaman emosional serta kebutuhan pribadi manusia. Ia menjadi sebuah gerbang dan titik tolak menuju pencerahan.

Samadhi (“merangkai/ menyusun”): Samadhi merujuk pada suatu kondisi penyatuan atau kebahagiaan hakini yang di dalamnya orang yang bermeditasi menyatu dengan objek meditasinya. Samadhi adalah anak tangga (anga) yang terakhir atau kedelapan dalam jalan yoga Patanjali. Ada beberapa jenis samadhi. Perbedaan yang paling signifikan dalam samadhi ialah antara samprajnata (kesadaran) dan asamprajnata (kesadaran yang tingkatannya lebih tinggi). Jenis yang kedua menyingkirkan faktor-faktor karma yang terkubur dalam pikiran, di luar dua jenis kebahagiaan ini ialah pencerahan yang juga kadang disebut sebagai sahaja-samadhi atau kondisi kebahagiaan “spontan” atau “alami” tempat adanya kontinuitas sempurna dari kesadaran yang lebih tinggi sepanjang waktu manusia tersadar, bermimpi dan tertidur.

Samatva atau samata (“kerataan/ kesetaraan”): Istilah ini mengacu pada keharmonisan atau keseimbangan internal.

Samkhya (“Nomor”): Kata ini merupakan salah satu tradisi utama dalam Hindusime, yang berkaitan dengan klasifikasi prinsip-prinsip (tattva) eksistensi dan pengenalan yang tepat untuk membedakan antara Jiwa (purusha) dan berbagai aspek Alam (prakriti). Sistem yang berpengaruh ini berasal dari tradisi Samkhya-Yoga kuno sebelum kehadiran Buddhisme dan dicatat dalam teks Samkhya-Karika oleh Ishvara Krishna (kira-kira 350 SM).

Samnyasa (“mengasingkan”): Kondisi pengasingan yang menjadi tahapaan keempat dan terakhir dalam kehidupan (baca ashrama) dan mengharuskan manusia melampaui batasan-batasan yang sudah diajarkan padanya selama menjalani kehidupan dan kemudian melepaskan semua hal di luar dirinya yang fana itu. Baca juga vairagya.

Samnyasin (“ia yang mengasingkan diri”): Seorang manusia yang mengasingkan diri dari keramaian peradaban manusia.

Samprajnata-samadhi: Baca samadhi.

Samsara (“pertemuan”): Samsara merupakan dunia perubahan yang terbatas. Lawannya ialah Realitas tertinggi yang dinamai brahman atau nirvana.

Samskara (“aktivator”): Kesan bawah sadar yang ditinggalkan oleh setiap tindakan yang muncul dari kekuatan kehendaknya sendiri yang kemudian menggiring pada kegiatan psikomental yang baru. Samskara yang tidak terhingga dan tersembunyi dalam pikiran akhirnya hanya bisa tersingkir dengan asamprajnata-samadhi (baca samadhi).

Samyama (“batasan”): Praktik gabungan dari konsentrasi (dharana), meditasi (dhyana), dan kebahagiaan hakiki (samadhi) yang berkaitan dengan objek yang sama.

Sansekerta: Sebuah bahasa kuno yang lazim dipakai dalam Hinduisme dan wilayah India. Sebagai bagian dari rumpun bahasa Indo Eropa, bahasa Sansekerta diketahui sebagai bahasa tertua yang pernah diketahui manusia. Ia telah muncul setidaknya 2000 SM, sementara bahasa Yunani 800 Sm dan bahasa Latin 500 SM. Bahkan ada klaim bahwa bahasa Sansekerta menjadi nenek moyang bagi semua bahasa di dunia. Dikatakan bahwa ia adalah akar dari bahasa itu sendiri. Teks-teks klasik yoga ditulis dalam bahasa Sansekerta. Veda atau Vedanta konon menjadi teks suci spiritual pertama yang ditulis dalam bahasa ini. Saat ini, ada begitu banyak teks bersejarah yang ditulis dalam bahasa Sansekerta yang berasal dari berbagai studi, dari astrologi, astronomi, kedokteran, arsitektur.

Sarvanga: Tubuh secara keseluruhan.

Sat (“realitas/ kebenaran”): Realitas tertinggi (atman or brahman).

Sat-sanga (“teman sejati/ teman kebenaran”): Praktik mengunjungi orang-orang suci, orang bijak, orang yang telah mencapai Realitas tertinggi dan para muridnya, karena dengan mendekatkan diri pada mereka, seseorang dapat lebih mudah merasakan dan menjangkau Realitas tertinggi itu.

Satya (“kebenaran/ kejujuran”): Kebenaran, pencapaian seseorang ke tahap Realitas tertinggi. Kata tersebut dapat bermakna praktik kejujuran dalam kehidupan yang menjadi salah satu aspek disiplin moral (yama).

Sava: Mayat.

Savasana: Nama ini dikenal sebagai asana atau postur yang menutup sebuah kelas yoga. Disebut juga sebagai pose mayat, savasana merupakan postur yang biasanya dipertahankan di akhir latihan yoga. Saat Anda mendengar instruksi untuk melakukan savasana, segera berbaring dengan kedua mata tertutup dan merilekskan tubuh dan pikiran secara menyeluruh.

Setu: Jembatan.

Shakti (“kekuatan”): Realitas tertinggi dalam aspek feminin atau kutub kekuatan dari Ilahi. Baca juga kundalini-shakti.

Shakti pata (“turunnya kekuatan”): Proses inisiasi, atau pembaptisan spiritual dengan menggunakan transmisi lunak dari sang guru yang tercerahkan atau yang sudha berpengalaman (siddha) yang membangkitkan shakti di dalam diri seorang murid, sehingga menginisiasi atau meningkatkan proses pembebasan atau moksha.

Shalabha: Belalang atau jangkrik.

Shankara (“Dia yang pengasih”): Seorang terpelajar pada abad ke-8 M yang dikenal sebagai sosok paling vokal dalam mengusung paham nondualisme (Advaita Vedanta). Ia memiliki sekolah filsafat yang mungkin bertanggung jawab atas tersingkirnya buddhisme di India.

Shanti: Kedamaian, damai, perdamaian. Kata ini kerap kita dengarkan di akhir kelas yoga dan diucapkan tiga kali berturut-turut.

Shat Karma: Teknik pembersihan internal yang membantu pembersihan lendir, cairan dan lemak yang berlebihan dalam tubuh.

Shishya (“Murid/ anak asuh”): Seorang murid yang dibimbing oleh seorang guru.

Shodhana (“pembersihan/ pemurnian”): Sebuah aspek dasar dari semua jalan yoga. Shodhana juga kategori praktik pemurnian diri dalam Hatha Yoga.

Shraddha (“keyakinan”): Sebuah pandangan penting dalam jalan yoga yang harus dibedakan dari keyakinan semata.

Shuddhi (“pemurnian/kemurnian”): Kondisi murni, yang bersinonim dengan shodhana.

Siddha (“tercapai”): Seorang praktisi ahli, seringkali dalam Tantra. Jika secara penuh mencapai Kesadaran tertinggi, pengangkatan maha-siddha atau ahli yang agung kerap dipakai.

Siddha-Yoga (“Yoga para ahli”): Sebuah pemnunjukan yang diterapkan terutama pada yoga dari Kashmiri Shaivisme sebagaimana yang diajarkan oleh Swami Muktananda dari abad ke-20.

Siddhi (“pencapaian/ kesempurnaan”): Kesempurnaan spiritual, pencapaian jatidiri tanpa cela dengan Realitas tertinggi (atman atau brahman). Ia juga bermakna kemampuan paranormal yang dalam yoga memiliki banyak jenis.

Sirsa: Kepala

Sivananda Yoga: Metode yoga ini bersifat spiritual dan berjalan lambat. Ia menggabungkan surya namaskara dan 12 asana yang sama dalam setiap kelasnya. Aliran yoga ini berfokus pada pernapasan, relaksasi, diet, olahraga dan pemikiran positif sebagai cara untuk menjalankan gaya hidup sehat. Ajaran yang diberikan dalam Sivananda Yoga berasal dari ajaran yang diturunkan oleh Swami Sivananda yang mendirikan banyak ashram internasional pada pertengahan abad ke-20. Kelas-kelas Sivananda dimulai dengan surya namaskara atau sun salutation dengan kecepatan moderat dan mencakup sejumlah savasana singkat (relaksasi  yang dalam saat savasana)  yang tersebar dalam praktik Hatha Yoga. Garis ajaran ini juga menekankan filosofi dan teks yoga (terutama Bhagavad Gita) dan pembacaan mantra, meditasi, pranayama dan nutrisi dalam kerangka ayurveda. Berdasarkan ajaran Swami Sivananda, gaya yoga ini condong pada spiritualitas daripada fisik. Tiap kelas yang berlangsung selama 90 menit fokus pada 12 pose utama dan mantra bahasa Sansekerta, olah napas, meditasi dan relaksasi.  Sivananda Yoga dirancang untuk mengubah dan memperbaiki kesadaran manusia pelakunya. Selain itu, ia juga ingin memfokuskan diri pada lima pondasi utama yoga:olah tubuh, pernapasan, relaksasi, asupan (vegan), dan pemikiran dan meditasi positif.

Spanda (“vibrasi”): Sebuah konsep utama dalam Shavisme Kashmir yang mengajarkan bahwa Realitas tertinggi itu sendiri “bergoyang”. Konsep ini memiliki nilai intrinsik kreatif yang lebih banyak daripada statis (sebagaimana dikemukakan dalam Advaita Vedanta).

Sri Tirumalai Krishnamacharya (1888-1989): Beliau dijuluki Bapak Yoga Modern karena guru dari guru-guru besar yoga modern seperti penggagas Iyengar Yoga B. K. S. Iyengar (1918-2014), pendiri Ashtanga Yoga K. Pathabi Jois (1915-2009).

Sun Salutation: Sebuah rangkaian asana yang dilakukan secara mengalir dan terkait satu sama lain. Di dalamnya, Anda akan menemukan pose gunung (tadasana/ mountain pose), pose-pose membungkuk ke depan, lunge, plank (palakhasana), chatturangan dandasana, upward-facing dog, dan downward-facing dog.

Sushumna-nadi (“saluran yang sangat diberkati”): Arus atau lengkungan energi kehidupan (prana) pusat yang menjadi saluran bagi kekuatan ular (kundalini-shakti) harus naik menuju pusat psikoenergetik (chakra) di mahkota kepala untuk mendapatkan pembebasan (moksha).

Sutra (“benang”): Sebuah pernyataan aforistik atau suatu karya yang terdiri dari pernyataan-pernyataan aforistik seperti Yoga Sutra Patanjali atau Sutra Syiwa yang disusun Vasugupta.

Svadishthana (Chakra pinggul):  Chakra ini berada di area sacrum kita. Ia menjadi pusat air, tempat tersimpannya organ reproduksi dan hasrat kita. Saat kesadaran kita bergerak dengan bebas di area ini, kita bisa mengakses potensi kita dalam hal penyembuhan diri dan kesenangan indrawi. Saat chakra ini tetap tertidur di bawah kesadaran kita, kita bisa tergantung pada hal-hal eksternal dan hidup kita bergantung pada hal-hal itu. Serupa dengan chakra akar, asana-asana yang menarget area ini ialah pose yang bersifat menekuk ke depan (forward bending), pembuka pinggul (hip opener), lunge dan pose jongkok. Pose-pose tadi mengarahkan kesadaran ke pinggul dan chakra svadishtana.

Svana: Anjing.

Svaroopa yoga: Kelas-kelas dalam svaroopa (kegembiraan menjadi Diri) yoga banyak memakai alat bantu (props) dan dilakukan di lantai. Penyesuaian (adjustment) yang rinci juga diberikan di sepanjang kelas. Kelas diawali dan diakhiri dengan savasana serta lebih banyak bertujuan melepaskan ketegangan. Kata “svaroopa” sendiri mengacu pada pandangan khas Tantra terhadap tubub kasar manusia sebagai sebuah bentuk kesadaran. Tujuan svaroopa yoga ialah menciptakan “pembukaan inti” demi menyingkirkan halangan energi menuju transformasi dalam diri. Svaroopa didirikan tahun 1992 oleh Swami Nirmalananda dan Saraswati, seorang siswa setia Swami Muktananda (1908-1982), yang sudah ditahbiskan sebagai rahib Saraswati. Pusat svaroopa yoga ada di Malvern, Pennsylvania.

Swadaya (“perjalanan mandiri seseorang”): Studi, sebuah aspek penting dalam jalan yoga, yang tertera dalam daftar praktik pengendalian diri (niyama) dalam delapan tangga yoga yang dikemukakan oleh Patanjali dalam sutranya. Swadaya juga bisa bermakna pelafalan berulang mantra (baca juga japa).Syiwa (“Ia yang lembut”): Ilahi, dewa yang menjadi teladan bagi yogi selama berabad-abad.

Syiwa Sutra (“Aforisme Syiwa”): Aforisme atau kalimat ringkas berisi ajaran-ajaran penting Syiwa mirip dengan Yoga Sutra Patanjali. Ini adalah karya klasik dalam dunia yoga. Syiwa Sutra diajarkan dalam Shaivisme Kashmir. Syiwa Sutra konon disusun oleh Vasugupta yang hidup pada abad ke-9 M.

===

T

Tada: Gunung.

Tantra (“Tenunan”): Tantra ialah teks kuno mistik Budhis atau Hindu yang bermuasal dari abad ketujuh Masehi. Karya ini ditulis dalam bahasa Sansekerta. Isinya adalah ajaran dan tradisi Tantrisme yang berfokus pada aspek Shakti (baca juga shakti) dalam kehidupan spiritual. Tradisi Tantrisme dikatakan telah muncul sejak era pasca Kristus dan mencapai kemapanannya pada tahun 1000 M. Tantrisme memiliki “tangan kanan” (dakshina) atau “tangan kiri” dan konservatif (vama) atau cabang yang tidak konvensional. Vama menggunakan ritual-ritual seksual juga.

Tapas (“pendaran/ panas”): Pengendalian, kontrol diri yang menjadi unsur utama dalam pendekatan-pendekatan yoga karena dari sini, transendensi diri akan tercapai.

Tattva (“keituan”): Sebuah fakta atau kenyataan; satu kategori tertentu seperti ahamkara, buddhi, manas;  Realitas tertinggi (baca juga atman, brahman).

Thai Yoga Massage: Gaya pijatan/ yoga berpasangan ini berasal dari Thailand. Sebagian besar gerakannya melibatkan dua orang pelaku. Yang satu memberikan pengarahan dan penyesuaian pada rekannya yang menerima pijatan dalam kondisi berbaring. Pijatan dilakukan dengan kedua tangan, atau bisa juga siku dan kaki jika diperlukan. Fokusnya ialah pada jalur-jalur energi dan titik-titik tekanan yang dipelajari dalam ilmu pengobatan tradisional Tiongkok Kuno.

Tim Miller: Miller merupakan orang Barat pertama yang mengantongi sertifikat mengajar Ashtanga Yoga dari Shri K. Pattabhi Jois. Ia menjadi salah satu orang pertama yang membawa yoga ke Amerika Serikat. Miller mulai berlatih yoga di Encinitas, California, di Ashtanga Yoga Nilayam pada tahun 1978, dan enam bulan kemudian setelah ia mulai berlatih, ia bertemu dengan Pattabhi Jois. Miller pun memutuskan untuk pergi ke India untuk belajar padanya di Mysore. Miller kembali ke california dan pada tahun 1981 ia mengambil alih kepemimpinan di  Ashtanga Yoga Nilayam, yang sejak itu pindah lokasi dan disebut Ashtanga Yoga Center of Carlsbad.

Tola: Timbangan.

Tri: Tiga.

TriYoga: Sebuah kelas TriYoga berisi  latihan asana, pranayama, mudra, dharana, dan meditasi. Gerakan tulang belakang yang mirip spiral dan pernapasan yang selaras dibuat sedemikian rupa untuk membangunkan prana atau energi hidup dalam tubuh. TriYoga didirikan oleh Kali Ray di tahun 1980. Ray mengalami pembangunan Kundalini dan menciptakan praktik yoga yang bernuansa kundalini-hatha. Pusat TriYoga di Los Angeles.

Turiya (“keempat”), juga disebut cathurtha: Realitas transdental, yang melampaui tiga kondisi kesadaran lazim, yakni bangun, tidur, dan bermimpi.

===

U

Uddiyana bandha: Teknik kuncian ini merupakan salah satu dari enam jenis kriya yang ada dan direkomendasikan dalam teks Hatha Yoga dan Ayurveda. Uddiyana bandha dianggap menjadi salah satu teknik kuncian terpenting untuk latihan asana karena ia berguna untuk meningkatka aliran prana dalam tubuh dan menyeimbangkan api (agni) dalam diri manusia pelakunya, serta membersihkan organ-organ dalam. Dibutuhkan latihan lama untuk menguasainya. Khasiat kesehatan lainnya ialah memperbaiki kinerja sistem pencernaan, membentuk otot perut, dan merangsang dan menaikkan energi dalam perut bawah (apana vayu), untuk menyatukannya dengan energi-energi yang terlokalisiri di pusar (samana vayu) dan jantung (prana vayu). Uddiyana bandha tidak disarankan bagi mereka yang menderita tekanan darah tinggi, penyakit mata, penyakit usus dan dan pencernaan, wanita hamil, wanita menstruasi, atau ibu menyusui.

Upanishad (“duduk berdekatan”): Upanishad merupakan sejenis teks sakral dalam bahasa Sansekerta yang termasuk dalam literatur Hindu, dan konon ditulis sekitar 800-200 SM. Ia menerangkan Vedas dalam istilah yang lebih mistis dan monistik. Baca juga Aranyaka, Brahmana, Veda.

Upaya (“alat”): Dalam yoga Buddhis, praktik kasih sayang (karuna). Baca juga prajna.

Urdhva: Naik/ atas.

Ustra: Unta.

Ujjayi: Kadang ujjayi disebut juga sebagai napas samudra, pernapasan mendesis, atau pernapasan kemenangan. Pernapasan ini merupakan jenis pranayama yang di dalamnya kapasitas paru-paru digunakan secara maksimal dan dada dikembungkan sebisa mungkin. Pernapasan ini kerap dijumpai dalam kelas vinyasa.

Utthita: Panjang, dipanjangkan, diregangkan.

====

V

Vairagya (“kelesuan”): Sikap

Vedanta: Kata ini merupakan gabungan dua kata yaitu “veda” (ilmu pengetahuan” dan “anta” (tujuan). Pengetahuan yang dimaksud ialah pengetahuan mengenai Tuhan dan pengetahuan sifat ilahiah. Vedanta dapat dimaknai sebagai pencarian pengetahuan Diri atau pencarian Tuhan. Menurut Vedanta, Tuhan ialah eksistensi tanpa batas, kesadaran tanpa batas dan kebahagiaan hakiki. Tuhan juga bisa berada dalam diri manusia masing-masing sebagai Atman. Sang Atman ini tidak pernah lahir atau mati. Atman juga tidak terpengaruh perubahan pikiran atau badan bahkan emosi. Tujuan hidup menurut Vedanta ialah mengalami dan mewujudkan keilahian kita sendiri sebab keilahian itu ialah sifat kita yang asli dan perwujudan tersebut sudah merupakan hak kita sejak lahir.

Viniyoga: Dirancang sesuai dengan kebutuhan tiap orang, kelas Viniyoga bervariasi dan bisa mencakup asana, pranayama, chanting, meditasi, doa dan ritual. Semua kelas menekankan pada penggerakan tulang belakang dan koordinasi gerakan dengan napas. Viniyoga berguna dalam terapi tubuh dan meningkatkan pernapasan, suara, ingatan, kecerdasan, karakter, dan hati. Viniyoga menganggap yoga  sebagai alat meningkatkan sisi positif, mengurangi sisi negatif,  dan membantu tiap praktisi mencapai kesadaran yang berbeda-beda. — kunci menuju semua proses transformasi diri. Gary Kraftsow mendirikan American Viniyoga Institute tahun 1999. Guru utamanya yakni T. K. V. Desikachar. Gary Kraftsow dan Mirka Scalco Kraftsow menjabat sebagai guru senior di dalam lembaga itu. Kelas Viniyoga disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing muridnya.

Vinyasa: Kata ini bersifat agak polisemik yang artinya tidak cuma satu tetapi banyak. Dalam konteks yoga, Vinyasa mengacu pada sebuah aliran yoga yang kelasnya mengalir dan dinamis dengan ciri utama pengendalian napas dengan menyelaraskan gerak tubuh dan pernapasan.

Vinyasa Yoga: Ini adalah kategori aliran yoga yang lebih luas dan mencakup Ashtanga, Power Yoga dan Jivamukti. Kelas Vinyasa Yoga biasanya mengalir dan ritmis. Kata ‘vinyasa’ sendiri juga bermakna progresi apapun dari postur-postur yang mengalir.

Vira: Pahlawan.

Vishuddhi chakra (Chakra Tenggorokan): Chakra visuddhi ini berkaitan dengan unsur gas. Tugasnya ialah bertanggung jawab atas pendengaran dan pengucapan. Di sini jugalah terletak kelenjar-kelenjar endokrin yang mengendalikan metabolisme tubuh. Pada tingkatan spiritual, chakra ini berhubungan dengan komunikasi kita dengan Ilahi. Untuk menyembuhkan dan memurnikan tenggorokan, kita bisa menggunakan mantra, Jalandhara Bandha, dan sejumlah asana seperti postur bajak (sethu bandasana/ plow pose), postur unta (ustrasana/ camel pose), postur berdiri dengan bahu (sarvangasana/ shoulderstand), dan postur ikan (fish pose).

Vritti: Umumnya vritti dapat diartikan sebagai pikiran. Jenisnya ada beberapa. Berikut adalah lima di antaranya yang paling utama dan berpengaruh besar pada kesadaran luar diri kita, yakni pengetahuan benar (pramana), pengetahuan yang tidak benar (viparyaya), imajinasi atau fantasi (vikalpa), tidur (nidra) dan ingatan atau memori (smrti).

Vrksa: Pohon.

====

Y

Yama: Lima prinsip hidup yang (bersama dengan niyama) menjadi pondasi moral dan etis yoga. Kelimanya ialah Satya (kebenaran), Ahimsa (antikekerasan), Asteya (tidak mencuri), Bramacharya (pengendalian diri dan tanggung jawab seksual) dan Aparigraha (antiketamakan).

Yogi/Yogini: Yogi mengacu pada praktisi yoga pria dan yogini praktisi yoga perempuan.

Yogi Bhajan: Sosok terkemuka ini dikenal sebagai seorang perintis dalam banyak bidang. Ia mendirikan sejumlah lembaga permanen dan menyusun ajaran-ajaran yang kompleks. Ia adalah sosok yang pertama kali mengajarkan Kundalini Yoga secara luas setelah tiba di Barat pada tahun 1968. Tujuannya kala itu adalah untuk mencetak guru, bukan agar mendapatkan sebanyak mungkin murid. Sebagai penganut Shikh yang taat, Yogi Bhajan memberikan inspirasi dan teladan bagi banyak orang untuk menjalani cara hidupnya. Melalui upaya pribadinya, Sikh Dharma akhirnya bisa dikukuhkan sebagai salah satu keyakinan resmi di Amerika Serikat sejak tahun 1971. Ia terlahir dengan nama Harbhajan Singh Puri dengan ayah seorang dokter pada tanggal 26 Agustus 1929, di sebuah daerah di India yang kemudian menjadi wilayah Pakistan pada tahun 1948. Saat ia masih berusia delapan tahun, ia sudah mulai berlatih yoga dengan seorang guru bernama Sant Hazara Singh yang menyebut Bhajan sebagai Master Kundalini Yoga saat masih berusia enambelas tahun. Selama masa pergolakan tahun 1947, di usia 18 tahun ia memimpin desanya yang terdiri dari 7.000 jiwa yang berlokasi di dekat kota Lahore, Pakistan, saat ini, dengan berjalan kaki sepanjang 325 mil untuk mencari perlindungan di ibukota india, New Delhi. Ia meneruskan pendidikannya di Punjab University tempatnya belajar debat dan olahraga hingga ia menjadi pembicara dan atlet hoki dan sepakbola yang dikenal. Setelah lulus dan mengantongi gelar dalam ilmu ekonomi, ia bekerja di layanan pemerintah India. Kariernya di kepegawaian cukup cemerlang karena ia sukses menjabat kepala Bea Cukai di bandara ibukota India tersebut. Bhajan menikahi Inderjit Kaur pada tahun 1952. Mereka memiliki dua anak laki-laki bernama Ranbir Singh dan Kulbir Singh, dan seorang anak perempuan bernama Kamaljit Kaur. Pada September 1968, Bhajan meninggalkan India untuk menuju ke Kanada dengan tujuan untuk mengajar yoga di Toronto University, dengan berbekal surat rekomendasi dari Sir James George, Komisioner Besar Kanada di New Delhi, yang pernah menjadi muridnya. Setelah dua bulan di sana, ia pergi ke Los Angeles untuk berkunjung di akhir pekan. Di LA, ia bertemu dengan sejumlah anak muda hippies yang ingin belajar spiritualisme yang mencoba menemukan kesadaran lebih tinggi dengan narkoba. Ia segera menemukan bahwa dengan melakukan Kundalini Yoga, pengalaman untuk mencapai kesadaran yang sama juga bisa dicapai tanpa obat-obatan tersebut. Di samping itu, Kundalini Yoga membantu anak-anak muda ini untuk membangun kembali sistem syaraf mereka. Kundalini Yoga yang sebelumnya dipelajari secara diam-diam kini diajarkan oleh Bhajan secara terbuka. Ia mulai mengajarkannya pada generasi baby boomers saat itu yang dilanda budaya narkoba yang masif dengan yoga yang mengajarkan panduan hidup 3HO, yakni Healthy (Sehat), Happy (Bahagia) dan Holy (Suci). Dari kehidupan masa muda yang sederhana dan kemudian mencapai kemakmuran dan ketenaran di Amerika Serikat, ia berperan layaknya magnet. Para murid berdatangan ke kelasnya. Bahkan kampus-kampus AS seperti Claremont dan UCLA bergantian mengundangnya. Pada bulan Juli 1969, Yayasan nirlaba 3HO didirikan di California, AS. Di bawah nanungan Direktur Pendidikan Spiritual, 3HO menjamur di seluruh dunia sampai memiliki lebih dari 300 pusat yoga di 35 negara. Pada tahun 1994, 3HO menjadi anggota PBB sebagai sebuah lembaga swadaya masyarakat yang mandiri. Dari ajarannya, banyak muridnya menghasilkan pahatan patung, lukisan, video, musik, seni dan puisi yang menggambarkan kebijaksanaan Bhajan. Bahkan lebih dari 200 buku sudah diterbitkan berdasarkan ajarannya. Tahun 1971, Bhajan diberi gelar Mahan Tantric, yang artinya Master Tantra Yoga Putih yang satu-satunya masih hidup. Ajaran-ajarannya dalam lokakarya pun didokumentasikan dalam bentuk rekaman video dan disebarkan ke seluruh dunia. Tahun 1973 menjadi saksi saat Bhajan mendirikan program rehabilitasi pengguna narkoba bernama 3HO SuperhEalth dengan menggabungkan prinsip yoga kuno  dari Timur dan teknologi modern Barat. Program itu bahkan mendapat rekomendasi instansi resmi AS dan diakui sebagai salah satu lembaga pemulihan pengguna narkoba teratas di AS. International Kundalini Yoga Teachers Association dan KRI (Kundalini Research Institute) pun mulai membuka kursus pelatihan mengajar Kundalini Yoga di seluruh dunia. Ia sangat aktif mengkampanyekan perdamaian dunia dengan terlibat dalam perayaan Hari Doa Perdamaian Dunia pada Juni 1985 di New Mexico, AS. Selain memiliki pengetahuan luas dalam Kundalini Yoga, ia juga entrepreneur ulung dan mendorong para muridnya mendirikan usaha sendiri. Dalam bidang akademik, Bhajan juga menorehkan prestasi dengan mengantongi gelar Ph. D. dengan sebuah disertasi berjudul “Communication: Liberation or Condemnation.” Bhajan meninggal dunia akibat serangan jantung di usia 75 tahun pada tanggal 6 Oktober 2004 di Espanola, New Mexico, di antara keluarga dan temannya.

Yin Yoga: Jenis yoga ini bersifat meditatif dan lambat dengan tujuan memberikan kesempatan bagi otot untuk beristirahat dan membiarkan gravitasi menggantikan kinerja otot selama mempertahankan postur. Sebagai pelengkap kelas yoga yang berfokus pada penguatan otot, kelas Yin Yoga dapat membantu memperpanjang jaringan ikat.  Aliran yoga ini memberikan peluang bagi kita untuk melepas penat dan mengurangi ketegangan otot sehingga lebih mudah melepas stres dan beban dalam pikiran. Ia bertujuan memperdalam kelenturan fascia, tendon dan ligamen. Sebagian besar postur Yin Yoga dilakukan dengan duduk dan berbaring di lantai dengan bantuan props (alat bantu) untuk meminimalkan kerja otot. Setiap posturnya ditahan kira-kira 10 menit.

Yoga Tradisi Krisnamcharya: Kelas-kelas aliran yoga ini dilakukan secara berkelompok dan lebih privat karena jumlahnya terbatas. Untuk praktik asana, tiap gerakan diselaraskan dengan dengan napas dan efek yang dirasa dalam tubuh dan napas serta emosi. Siswa diharapkan bisa menjalani kehidupan dengan lebih penuh dan lancar setelah kelas. Sri T. Krishnamacharya (1888-1989) dikenal sebagai Bapak Yoga Modern. Di Krishnamacharya Yoga mandiram di Chennai, India, anak laki-lakinya T. K. V. Desikachar dan cucunya Kausthub Desikachar meneruskan tradisi itu dan menyesuaikannya dengan perkembangan dunia yoga modern yang makin dinamis.

===

REFERENSI

http://www.anamayaresort.com/yoga-glossary-most-important-yoga-vocabulary-words/

http://www.yogajournal.com/article/beginners/200-key-sanskrit-yoga-terms/

http://www.yogajournal.com/slideshow/40-common-sanskrit-words-for-yogis/

http://www.yogaglossary.com/

https://yogisurprise.com/the-yogi-dictionary-21-essential-words-and-phrases

http://greatist.com/fitness/ultimate-guide-yoga-lingo

Excerpted with permission from the author: traditionalyogastudies.com. Copyright 1999 by Georg Feuerstein

http://www.looseyoga.co.uk/yoga-words-meanings/

hindusim.ygoy.com/2011/06/22/the-story-of-narada-muni/

eaglespace.com/spirit/gayatribywords.php

http://www.yogajournal.com/article/practice-section/to-infinity-and-beyond/

http://www.yogajournal.com/video/video/uddiyana-bandha/

https://www.yogapedia.com/definition/5114/jalandhara-bandha

http://www.yogajournal.com/yoga-101/a-guide-to-the-chakras/

https://www.3ho.org/yogi-bhajan/about-yogi-bhajan/yogi-bhajans-biography

http://www.yinyoga.com/ys1_4.2.1.1_five_vrittis.php

https://www.britannica.com/topic/Aranyaka

 

A Day in the Life as a Copywriter

As the year changed , I also did some changes in my life. Professionally, now I’m no longer a full-time yoga teacher and writer cum journalist. And I’m learning and adapting to a new profession of copywriting.

No one says it’s easy. And guess what, it is NOT. I have to deal with a great deal of deadlines every single day. Even at night I still have to do some work and weekends might not be immune to deadline, too. News told us how horrible life of a copywriter can be. We’ve read news about Indonesian copywriter dying of overwork.

As crazy as it may seem what I like from this new world is the challenge, which is enormous and daunting at times. But that’s, if you think more, manageable still.

Copywriting that I do is more of writing copies for corporations, be it annual reports (mostly though) or manual books or calendars.

So today I woke up around 10 to five am. Why so early? I push myself to wake up early to pray. And after performing my morning prayer, I resumed my sleep for around 1-2 hours. This is not advisable though but what can I do if I still feel drowsy?

Yesterday was weekend but I had to finish a draft of a chapter of annual report on good corporate governance. For you foreign to this stuff, good corporate governance or simply abbreviated GCG (I swear there’re many other abbreviations you won’t ever heard elsewhere in the realm of copywriting) means how a corporation runs its business responsibly. That’s all. And they report it in detail. Very detailed you can find a company with hundreds of pages dedicated only to this page. So you can imagine how thick it is.

The copywriting of annual report I’m doing is relatively easy because I may take a look at the previous year’s release and imitate what is already used there. But of course I have to modify here and there according to necessary and latest changes and updates. This is where the hardest part of the job. I need to pay a great attention to details. And that’s not an easy thing to do for like more than 10 hours a day.

The first semester of the year like now is the most hectic period of the copywriting gigs because companies need their reports done before a set date of their annual shareholders meeting. And it causes a lot of tension and drama because I’ve been in a company too and I’ve seen people in it get stressed out and work overtime to collect data to complete their reports for the bosses. Collecting data internally seems a piece of cake but it is not. It’s another hardwork for anyone doing it.

At 8 am, I had my morning walk (because I take a bus from where I live to where I work) and it takes usually 15 minutes, enough to make me sweat if I have no time to work out. Today I have no such privilege but usually I bike to the nearby park and do some workout and brief yoga session.

Though the office hour starts at 9 am, I try to start earlier (though most of my coworkers start whenever they feel like starting). I decide I have to apply discipline and regularities in my work life to be living better or else, I can get sick easily. I like this job but I won’t be dying for this.

It’s now 14:30 and I just found out I was working on the wrong document. The document I translated yesterday was not the updated version and there were some changes left out. If you think I would freak out to discover this while working on another document, you are wrong. I was as calm as a swan floating on a serene lake. I might be distracted but then I came to think of the problem. “Just do it. It’s only updating the result of your toil yesterday…” No drama. And poof by 16:30 the document is done and translated perfectly into English.

The clock shows 6 pm. And that means we may leave this workplace. I won’t stay if I really have the chance to leave. It’s not that I hate the place or the people in it. It’s just because I need my down time as an introverted worker. In my own place is what I badly need after a day of getting together with others. Being alone is my oasis in the desert of social life. And anyway, I can still work anywhere else. As long as the deadline is met, there’s no reason to get stuck here although some of my coworkers prefer to stay thoughout the day. Yes, they really spend the nights at the office. But I’m not one of those communal, extroverted people who feel convenient enough to spend my entire 24-hour life with others without my own private space. I need that private space, physically and mentally, to survive the tight schedule and workload.

It’s 9 pm and I’m still working on a company’s report but then a coworker calls and tells me,”We still need a document of improvement. Please send it out by 9.30 pm. We must have it with us to see the client tomorrow.”

What can I do?

All I can do is do what is asked, of course. I have to what I have to do. Thank God, we copywriters have templates. That helps a lot in this time of urgency and emergency when the brain is like almost falling apart for working too long.

The document is sent via email and I can see the wind blowing hard outside. The weather has not been very kind lately so I prefer going home early than staying too long in the office. The night weather is so unpredictable and unforgiving. Health is my very treasured asset especially in this demanding profession. I won’t let myself fall sick when I can stay as healthy as possible. It’s silly to see how people always push themselves for work but neglect what their body and mind need. That’s awful. I like and love and adore my job but still I have to leave it when I have to because that’s what I must do to be able to do it longer in my life. Working long hours insanely just doesn’t work for me. And I keep telling no to such demands. I know my limits and that’s my rule and people must respect that.

It’s 9.30 pm and I’m done with the work stuff. It’s time to shower. A cold shower after so much brain work really helps me unwind. And then the head is getting sleepy. But before the night rest, I’m tempted to check up on what my friends are up to on social media. I know I shouldn’t have done that. Because it’s very hard to stop. Everytime I or one of us says good night, that’s when another person begins another topic to discuss or a line to respond to.

It’s 11.13 pm, I guess and I’m really sleepy after more than an hour of chat. Nuts! I planned to go to bed way earlier but somehow I failed. But anyway, it’s time well spent to have a chat with them while I feel like I have to reconnect with them. It’s been weeks I don’t see them and we grow apart. We get too busy with ourselves and this is the only chance to get close together. Albeit virtually, it’s enough already.

The Diarist

PROLOG. Today, the twenty second of October of nineteen fifty, marks the beginning of my autobiography. People popularly call it “diary writing” or “journal” but that sounds too private, contrary to what I actually intend here, which is to disclose.

First and foremost, I feel it is necessary to emphasize that this narration is about my adulthood. If you wish to discover how I grew up or was raised by my parents, which I can hardly remember, I am afraid you will only spend toomuch time for nothing. But I of course would feel very honored and flattered to have you as my readers until the very end of my life story.

To be frank, I am clueless as to when and where I was born. Yet, all I could tell you about my birth year and place is 1930-s and Java. My parents were illiterate, which explains why I was not registered at the nearby civic service office to obtain a birth certificate to legalize my existence as human being as soon as I was born.

My nuclear family was totally illiterate so I don’t hope much to get more information of my childhood. We were so poverty-stricken that we survived on very very modest life style and meager earnings. Education, even the basic one, was such luxury we could never ever afford.

What I wrote about my childhood here is the information that my biological father had told me. Some days we had time to sit together and talked to each other. I was reserved even from my very early years and had always been growing up that way. So when we talked, it was always because my father began the conversation. I never dared to start because if you were raised as a Javanese back then in the 1930-s when things were still far from the influence of the Western way of thinking, children or younger people were discouraged from starting a chat with those older than they were. And I obeyed this unwritten convention. It was in this cultural upringing, I grew as a meek, calm yet ambitious young man.

As a part of the less educated majority of the society, I had no privilege to access higher education. It seems sad for people nowadays but back then I felt okay. It was not because I accepted the reality without resistance or protest whatsoever but more because it was the norm at the time and there was nothing I could do about it. Had I been in the modern world like now, I might have already crazily cried days and nights for being uneducated.

Regardless of that, I am what I am now. All of my past was not a series of events to regret throughout my life. Rather, I consider that as my formative years during which I could just learn and learn, absorbing knowledge around me like a chunk of sponge.

That said, here is my life story.

YOUNGER YEARS. I was named Widjaja Djawawi by my parents. My father and mother were Wagiran and Masirah, respectively. Though my parents had no recollection of my date of birth, they have this kind of belief that I was born on one day in 1927. Which date specifically, please don’t ask. They didn’t even bother to mark the calendar simply because they did not have such a thing. Time was never a serious concept of life to my parents. Though they felt and talked about it, time never bothered them as a human being. They didn’t feel the necessity of saving time or making plans or keeping records of the past events for the purpose of the next generation or such. I found this to be such a shame and loss because as I grew up later and learned more with my limitation of education access, I finally realized the significance of writing our history. In this case, my own history.

My education had been brief but the effect was lifelong, indeed. It was 1936, father said, when I was enrolled as a first grader of Sekolah Rakyat Pertama (roughly translated: The Elementary Laymen School). It was true. What my parents could afford for me was laymen basic education. Not more. Not less.

The school was located in the village of Prambatan Kidul, Onduan Kaliwungu, the regency of Kudus, Central Java province, Indonesia. The word “onduan” sounds foreign because it was not Indonesian. Onduan refers to “subdistrict” or “kecamatan”, for your information.

In 1936, as we all know, Indonesia was under the Dutch Occupation. No historical fact can deny this. And I don’t need my father or mother to tell me our people were suppressed in many ways. I didn’t understand I at first but as time went by, it seeped into every corner of my brain. Being part of the oppressed people had always felt humiliated and embarassed. It was like being a lady, who every day gets objectified, teased, tortured and raped. We suffered a lot physically, financially, psychologically, and mentally.

I had an elder maternal brother named Kaswadi. We were not as close as two brothers are supposed to be. We have different fathers. It wasn’t that he was a horrible or evil person but it was hunch that he preferred to be with his friends to being with me, his sole brother. I had not asked him as to why he did so but I refrained myself from doing so. I believed it was his right to do so.

In 1938, I was a fourth grader at the time. And during the holiday before the classes began that academic year, I became officially and religiously an adult. How was that even possible? As a moslem man, you know you’ve entered the adulthood after you lose your foreskin. You have to lose something in order to get something else. The universe works fairly. My parents rejoiced as we got visits from relatives and neighbors. Presents were flowing into our household. It was a joyful moment but not quite for me. The recovery process ran lengthy and of course, painfully enough for me to undergo. But this, I believe, was a part of going mature every male who is a moslem as well have to experience. I had no choice but go through this no matter what.

While our household was bathed in a little joy during my circumcision as the adulthood initiation ritual, we had to suffer from another calamity. I was too devastated though not completely. After ten days of agony, Kaswadi died of tubercolosis. Though we were not really close to each other and got along like two brothers in an ideal way, but I felt the pain of loss of his presence.

In Indonesia during the Dutch Colonial Era, we already had a special institution handling this highly infectious disease. The Dutch Colonial Government at the time had set up Stichting Centrale Vereniging tot Bestrijding der Tuberculose (SCVT). By the end of the Second World War, they had established 20 diagnostic units and 15 sanatoriums concentrated in Java.

My mother often wept after he passed away. The late Kasmudi might be my distant sibling but I had to admit he was the one and only brother I had. So after his passing, I honestly felt the loneliness more and more. But of course, it was easier for me as a young boy to pass through the grievance phase because I was able to engage myself in many other social and academic and physical activities I wished to take part in. My parents, especially my mother, had to encounter and deal with the absolutely different situation and I felt so sorry for her that she never managed to get this over from her head. But I couldn’t do anything about it. It was her own struggle within her soul. Even I, then the one and only son left, couldn’t help her in this phase because all I could do for her was pray. Only that. My father and I were so helpless to see her forlorn and grief-struck in the rest of her days on earth. The grief had sucked up her life from us. She was now a breathing corpse.

My life after Kasmudi’s death went on. In July 1941, I had left the school (Sekolah Rakyat or the School of Laymen) after leaving my five grade.

The year of 1942 witnessed the arrival of the Japanese soldiers. After my leaving, I continued to work as a cigarette factory worker.

Three years after Kasmudi’s passing, my mother followed. She left us for good in January 1941. I was not quite surprised though because she had gone so depressed after all these years. It was creeping to haunt all of the family members and finally my mother fell victim to it. (to be continued)

On WhatsApp Diet

I failed again.

After some time ago I uninstalled WhatsApp and tried so hard to resist the inner temptation of adopting it back in my daily routine of virtual communications (the peer pressure to be back was too huge), now I experimented with a milder strategy of controlled disconnecting in the time of hyperconnectivity. 

This time I tried to leave some WhatsApp groups. But believe me, it is not because I despise those in them. They are kind and nice. Several verbal attacks might occur occasionally but are relatively forgivable.

At first, I thought this would be a successful strategy to restrict my WhatsApp data consumption, which according to my casual digital audit contributed the biggest percentage of my online activity. It dawned on me too that financially this has to be managed and controlled. It is not that I can’t afford the data plan but as I think more this 

Very alarming.

And then I wish to limit my screen time, too. I have done too much work with computers in all sorts. Laptops, Smartphones, both combined are so lethal and eye strain kills me at the end of the day. My eyes suffer. And the dark circles and eye bags don’t seem very nice on me. This is getting serious, I thought.

So unhealthy.

But apart from all that mentioned above, my relationships may suffer in some way. Because I left the groups announced, without any prior notice or – even worse- conflicts, I might be seen as impolite, uncivilized, overly sensitive ( baper as Jakartans call it), silly, eccentric, bizarre, even cocky and mentally unpredictable. 

3 Elemen Sengketa Utama di Indonesia

Mau drama dan lakon seperti apapun di panggung bernama Indonesia ini, pasti ada 3 aktor utamanya:Jawa, Arab dan China. Orang Jawa dominasinya di mana-mana, apalagi di politik dan birokrasi. Presiden-presiden kita banyak yang Jawa. Para petinggi bawahannya juga.

Orang berdarah Arab berkuasa lebih kuat hampir selalu di ranah keyakinan. Berbekal nama, rupa dan garis keturunan itu, dengan tingkat penguasaan ilmu agama yang relatif sama dengan orang alim yang bukan Arab, mereka pasti dipandang lebih istimewa.

Lalu orang berdarah China, sebagai rahasia umum, merajai sektor ekonomi. Mereka, meski tak semua, pintar mengelola dan mengembangbiakkan harta. Sebuah keahlian yang membuat iri etnis lain.

Kemudian datanglah masa perubahan ini. Semuanya dikocok ulang. Paradigma yang berlaku sejak masa kolonial di atas menjadi kacau balau karena ternyata ada China yang bisa mengelola pemerintahan dengan lebih bagus. Dan kalau tidak dihalangi, bisa saja ia melaju ke kursi nomor satu negeri ini. Bahaya sekali!

Mungkin jika ada Jawa yang sukses berbisnis, skala kegaduhannya tidak sebesar ini karena sekup dunia bisnis itu bisa dikatakan tak terhingga. Siapa saja bisa masuk ke dalamnya. Lain dari domain politik yang hanya bisa dilakoni oleh orang-orang yang lebih terbatas. Arena politik makin ramai dengan masuknya Arab yang juga tertarik masuk ke birokrasi.

Agama juga sama terbuka. Bahkan kalau ada China yang jadi ulama akan dianggap sebagai anomali yang menarik hati. Ambil saja Syafi’i Antonio sebagai modelnya. Lagipula agama mengajarkan kesetaraan. Yang bermakna cuma ketakwaan.

Dan sebagai alas dari panggung akbar ini adalah akar rumput yang ‘kering’ karena kemiskinan. Saking keringnya, kecokelatan hangus seperti rumput lapangan sepakbola kampung yang tak pernah diurus. Akibat sedikit gesekan langkah dan polah elit ketiga unsur tadi, musnahlah mereka. Lagi-lagi mereka tidak sadar menjadi tumbal bagi pertarungan sengit yang nanti juga bakal rujuk lagi jika ada kesamaan kepentingan. Tapi bukan akar rumput namanya jika mengenal kata ‘kapok’. Kebandelan mereka mirip bandelnya rumput teki yang meski diinjak-injak masih tetap bisa tumbuh lagi dan menyediakan keempukan bagi kaki-kaki para penginjaknya. Konyol.

Ya semua pola itu sudah, masih dan akan selalu berlaku di sini. Kita semua hanya cukup memaklumi jika suatu hari nanti akan terjadi kejadian-kejadian serupa itu lagi lalu mengingatnya sebagai “wolak waliking jaman” (terbolak-baliknya zaman). Ah, Jawa ini muncul juga. (*)

Diarist

When you develop a certain fascination towards something that no one in your immediate family is interested in, you might think hard,”Where is this tendency from? Were there any of my predecessors having the same syndrome? Is it only me?”

I’ve been asking the same questions over and over only to find no answers. But recently I found the reason why I feel the strong pull towards writing more than anything else in this world.

My grandfather’s diary explained it all. Suddenly I can understand why I have this obsession of taking notes or jotting down trivial facts that no people pays attention to.

Samantha Chang of Iowa Writers Workshop once said she always thinks a good literary piece is one that can transport its readers’ mind to somewhere else. And the diary is such a treasure to me because his sentences transported me back to the days when he – a grandfather who never knew me, his grandson, owing to his untimely death – had to suffer from a great deal of hardship in the period of the Dutch and Japanese Oppression.

When it comes to writing style, he was very modest and plain. Boring, if I can be as blunt as possible. There was no dramatic element in the way he told tensions of his life story. His sentences were flat and almost read like a collection of daily murmur and complaint about the pain of mundane life. I suppose he was not quite a literary reader. Yet, that I can totally understand because during such turbulent epoch when plagues and diseases were everywhere to find (I just knew Kudus was also hit badly by the Flu Epidemic back then but the family members survived), enjoying literature was of course an impossible luxury and prestige that no poor man from less-than-impressive familial background like him could afford. He was so sickly and the entire family might die anytime so I made sense he had no money for such intellectual pleasure. His life was all about how to survive one day and let God take care of tomorrow.

It is too bad he left too soon. But thanks to writing, I knew him more. Though he in my mind is more like a fictional legendary character than a real person who decades ago breathed and stomped his feet on earth just like everyone else.

Mass Tourism vs Ethical Tourism

This is what you’ll see in Raja Ampat, West Papua, Indonesia. (Wikimedia Commons)

It was one fine morning when we got there. Anton was there with me. We just finished visiting and sightseeing at a tourist attraction which was spiritually fulfilling to me. The air was as pristine as it could be, the greenery was everywhere to behold and enjoy. I did enjoy every second  of our visit there. No complaint whatsoever.

Just at the threshold of the exit, Anton bumped into another man earning a living from tourism. A curly-haired man with sunburned skin that I guess is from the eastern part of the archipelago. I didn’t intend to be physical but it was just a possible and easy way to identify his origin. And his accent simply justified my hunch.

As we sat together, they chattered some serious stuff. “What are you husy now with, Jerry?” Anton asked.

I made no remarks. I had no intention to contribute any ideas or topics to this conversation. I just acted silent and observant as well as curious at the same time.

Jerry exuberantly replied,”This time I’m ready for Raja Ampat. Are you in?”

He tried to talk Anton into the idea of guiding foreign tourists around the highly popular tiurist destination which I have never seen with my own eyes. To lure these tourists, he offered a very affordable getaway package price.

The more, the merrier, that is his marketing concept.

Intriguing, I must say. This is especially alluring to those Raja Ampat virgins like myself.

Jerry operates his own travelling agency. It was a startup but thanks to the connections of his throughout his career as a tourism worker for years, the business is going well. He and the startup target cost-sensitive tourists, hoping to get as much as discount as they can. The more they can save, the better. Even if that means stripping away the convenience features and surviving only with essentials. Not more. Not less.

Anton was a little bit taken aback. He may be surprised in a major way at how his friend approached tourism in one of the most exotic and hyped tourist destinations on the planet. The pricing is incredibly tempting yet somehow  suspiciously low. But that’s what all of tourists who have budget restrictions desire in fact.

As we – Anton and I – were on our way home, he elaborated his arguments opn this and how he disagreed with Jerry in many fundamental manners.

Anton can’t and refuses to work with people with different ways of thinking and world view. And Jerry was one of them.

“He only wants to make as much money as he can off of Raja Ampat. I don’t think I can do the same. I just don’t want.”

While Jerry wants more and more people to come by puchasing his package of getaway , Anton shuns such a thing. Not as brutally agressive as Jerry is, he has in his mind and ethical approach to tourism.

“Mass tourism looks easy and promising at the beginning. But it takes quite a while to realize how destructive it can really become and impact on every element of ecosystem, particularly the living environment around the adjacent area of a increasingly-heavily-swarmed-and-exploited tourist destination.

“Can you imagine what happens to a place where no one inhabited or rarely visited back then and then at an alarming rate, more people start to flock there? I can’t!” he reasoned.

I nodded. He made his point.

Anton was very concerned as more people know and throng an untouched, naturally beautiful area, the risks of environmental sustainability also soars. It does make sense to me.

So how can we make use of these available resources and potentials without exploiting too much?

I started to think of applying quotas. Yes, it might be useful to apply quota system to control so as to prevent the environment and the entire fragile sea ecosystem from collapsing way too early and from being used up greedily by capitalism.

Should the government intervene? The sooner government interventions are to be made, the better I think things would turn out because when things are too late to recover and reorganize, the costs are much higher. This has always been the case in Indonesia: madly exploiting, profiting, realizing the mistakes and eventually regretting for ever. Repeated mistakes that no one seems to care must be prevented from occuring once again. (*)

Cradle

IT WAS SUNDAY night when I saw someone’s text on my phone. An unsolicited text it really was but I almost dropped my jaw. It was from a person I look up to. A man of significance. Such a figure to me and many other aspiring writers.

He is of Chinese descendant but other than the genetic factor, he is more Javanese than I am. He opened his text with Islamic salutation I even only seldom use in very limited circles. But he liberally uses it as if it were normality, part of daily conversation at home. He managed to abbreaviate the salutation into “Ass.Wr.Wb” and concluded the text with “Wass”. Very considerate about me, knowing I’m a Javanese and moslem.

“How are you? Sometime ago I wrote this short story with your hometown Kudus as the setting. Your birth place surely possesses a great deal of potential. Go explore it!” he advised me.

I sighed and frowned. Really? Why can’t I see that? I must have been so short-sighted.

I could not return his text immediately that night as it took me a while or a whole night to be exact as to how I had to select the most appropriate words to respond to this hugely humble literary giant’s message.

I tried to please him, saying I was more than flattered to know he still remembers this unknown literary enthusiast who keeps wanting to get published but has to drag himself so hard to the finish line.

Three hours after that, he returned my text and showed me in what newspaper the short story about my tiny hometown was published. I guess he has kept a neat filing system and record containing all his academic and literary works.

“Kudus is a unique town, mas Akhlis. Please explore it.” His words sank down in my silence for a moment or two, leaving me empty-headed, not knowing what to do next.

But it is true that we humans need people like him to remind us of how far we have gone from our home and now that we long for more adventures, more novelty, more experience, more meaning and values and the list goes on and on, we almost always take the potential of our own cradle for granted. (*)

Ngetril

TANGAN kiri pria itu tanpa saya duga turun ke bawah. Bukan ke kakinya sendiri tetapi malah menjamahi kaki saya yang sedang duduk dalam kondisi jiwa separuh terguncang. Tanpa saya bisa tolak, ditepuk-tepuknya betis kiri saya dengan perasaan sayang bagai tepukan seorang ayah pada anaknya. Mulutnya sendiri terkatup dan wajahnya menghadap lurus ke depan. Ia tidak mau membuat kesalahan yang sama. Dengan tepukan tadi seolah ia ingin memastikan saya masih utuh, tidak ada satu kerat daging atau sepotong tulang saya yang tercecer di atas jalanan beraspal tak rata yang baru kami lintasi.
Beberapa detik sebelumnya, kendaraan roda dua ini masih dengan mulus mengarungi jalanan ibukota. Dari pengamatan saya, pria ini bukan pengendara yang sembarangan. Ia malah terkesan sangat berhati-hati. Lajunya wajar, bahkan jika harus bermanuver pun ia tergolong moderat.
Sembari menikmati keindahan langit senja yang diabaikan mayoritas pengguna jalan yang memacu tunggangan masing-masing karena cuma mau secepat mungkin sampai di peraduan masing-masing itu, saya sedikit bersenandung tetapi tanpa earphone di telinga sebab sudah bosan mendengarkan musik dari alat satu itu sepanjang hari di meja kerja. Saya gumamkan nada-nada yang masih tersisa dalam kepala.
Lalu kami hendak berbelok ke arah kiri. Sebuah tikungan menyongsong, dan akan mengantar kami ke suatu gedung megah stasiun televisi nasional milik orang yang memiliki bank dan jaringan supermarket besar itu.
Sekonyong-konyong, pria yang mengendarai kendaraan yang saya juga naiki itu berseru kencang,”Woy!!!”
Saya tidak ambil pusing sebenarnya. Mungkin ia bertemu pengemudi lain yang juga kenalan dekatnya. Atau keluarganya. Atau tetangganya.
Tetapi yang membuat jantung saya hendak terlontar melalui tenggorokan ini adalah saat kendaraan kami menikung ke kiri, berpisah dari kendaraan yang pengemudinya tadi ia serui, dan tak disangka-sangka ada sebuah lubang kecil namun menganga cukup dalam sejauh lemparan santai pandangan ke bawah. Begitu dalamnya lubang itu sampai roda belakang kendaraan turun sejenak lalu membubung lagi ke atas, seakan-akan melemparkan saya ke angkasa. Selama beberapa nano detik, saya rasakan bokong ini terpisah dari jok. Kedua tangan tak sempat mencengkeram apapun. Hanya kedua tungkai kaki yang masih melekat di kendaraan. Sisanya terdorong ke atas, menolak daya tarik bumi.
Pendaratannya cukup menyakitkan. Bisa jadi karena joknya keras. Bisa juga karena otot-otot gluteus dan jaringan lemak di sekitarnya kurang memadai kuantitasnya. Atau bisa jadi gabungan keduanya. Entahlah. Pokoknya guncangan itu terasa dari tulang ekor hingga ke ubun-ubun kepala. Guncangan yang menggetarkan sukma.

Lalu ia tepuk kaki kiri saya, karena ia tahu dan merasakan tubuh saya hampir terlontar ke langit karena ia kurang waspadai permukaan jalan di depan. Ironisnya, katanya setelah itu,”Maaf. Saya tadi ingatkan orang di depan saya. Di tikungan malah mainan hp!”

“Tapi kau di tikungan malah memainkan tubuh ringkih ini sembarangan, pak,” rintih saya dalam hati. Saya buka mulut untuk sekadar menunjukkan ketegaran pasca insiden yang mengejutkan itu,”Oh gitu…” Tetap tak bisa berkata banyak selama beberapa detik karena getaran di pinggul yang rapuh dan berpembungkus minim ini masih menjalari seluruh tulang belakang. (*)