Wartawan ‘Plus-Plus’: Sebuah Pledoi

 (Photo credit: Wikimedia Commons)
Wartawan sekarang juga mesti plus-plus. (Photo credit: Wikimedia Commons)

Melalui WhatsApp, suatu siang saya diajak bertemu oleh seorang teman di hari libur di tengah pekan. Saya berkelit dari kewajiban untuk hadir segera  untuk memenuhi ajakannya bertandang ke rumah seorang teman lain yang cukup jauh dari tempat tinggal saya di jantung ibukota. Kata saya,”Saya masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan. Mungkin habis makan siang saya baru bisa ke sana.” Begitulah kira-kira janji saya kepadanya dalam bahasa yang lebih halus.

“Ah, kamu ini! Bekerja terus tapi nggak kaya-kaya!” selorohnya pada saya. Saya tersenyum kecut meskipun saya hanya menatap layar gawai. Saya memang tidak mengada-ada. Ada sebuah pekerjaan menerjemahkan yang saya sedang tangani. Dan saya sudah menetapkan disiplin ketat untuk menyelesaikan setidaknya sepuluh halaman dalam sehari agar bisa lekas selesai pada batas waktu yang sudah disepakati. Jika gagal saya penuhi, denda sudah menanti.

Anda pikir saya penerjemah penuh waktu? Tidak, saya wartawan. Dan saya sudah menekuni pula banyak pekerjaan selain jurnalisme. Di waktu luang saya berusaha untuk melengkapi diri dengan beragam ketrampilan selain jurnalistik yang bisa bermanfaat dalam mengais rezeki halal. Karena memang mengandalkan nafkah dari jurnalisme saja tidak mungkin cukup untuk bisa bertahan hidup di pasar tenaga kerja Jakarta yang makin mahal dan kompetitif serta dunia bisnis dan ekonomi makro yang secara umum masih terhimpit.

Di tengah degradasi jurnalisme seperti sekarang, saat konten orisinal dan berkualitas makin jarang dan daur ulang konten makin menjadi-jadi, belum lagi dengan desakan teknologi informasi, rasanya profesi wartawan makin tergerus. Saya sudah pernah membaca bahwa jurnalis ialah salah satu profesi yang akan segera digantikan oleh mesin/ algoritma. Programmer sudah bisa membuat kode-kode khusus yang nantinya akan mengumpulkan konten secara otomatis, yang hasilnya kemudian bisa disajikan sebagai berita dan disuguhkan pada pembaca. Berita jenis ‘hard news’ misalnya berita gempa bumi akan bisa dengan mudah dibuat karena sudah memiliki pola (template) 5W dan 1H yang sudah lazim itu. Tidak perlu menyuruh seorang reporter mengetik, algoritma itu akan bekerja mengumpulkan data dari pusat data seismik yang ada dan mengirimkannya ke kantor-kantor berita yang membutuhkan dan menyebarkannya secepatnya.

Saya tentu awalnya takut mendengar ramalan semacam itu. Kemudian saya mulai menyiasatinya dengan melakukan diversifikasi ketrampilan diri. Saya harus bisa lebih dari hanya sekadar menyajikan fakta dalam berita, atau mendaur ulang konten dari portal berita lain yang sudah ada. Saya pun mencari berbagai celah potensial untuk mengembangkan diri saya agar menjadi wartawan plus-plus.

Pekerjaan sehari-hari saya sebagai jurnalis daring membuat saya terpapar dengan media sosial secara terus menerus, perlahan-lahan saya mulai belajar media sosial juga. Saya menyisihkan waktu secara sengaja untuk belajar lebih mendalam tentang media komunikasi baru ini. Dan dari sana, saya bereksperimen dengan apapun yang saya miliki, baik itu alat, kesempatan dan berbagai metodenya yang memungkinkan untuk belajar media sosial karena saya sadar akan makin banyak orang memerlukan ketrampilan berkomunikasi secara lebih efektif dan efisien di kemudian hari. Saya pun nekat mengikuti lokakarya media sosial selama beberapa hari di tengah pekan meskipun itu artinya jatah cuti saya tergerus. Saya tahu ini merupakan investasi masa depan, karena sebagai wartawan, sampai kapan saya mesti mengetik berita daur ulang dan mewawancarai orang-orang hanya untuk dibaca di portal berita hanya untuk dilupakan setelahnya? Dan investasi ini terbukti menghasilkan karena saya baru-baru ini diundang untuk menerangkan media sosial dan mekanisme pemanfaatannya sesuai tujuan komunikasi kelembagaan.

Bidang pekerjaan jurnalisme juga berkaitan erat dengan dunia tulis menulis kreatif (creative writing). Sehingga saya pun mencoba menulis artikel di media jurnalisme warga. Selain itu, saya beruntung karena beberapa kali artikel yang saya tulis termuat di dalam surat kabar juga. Upah untuk satu artikelnya memang tidak seberapa tetapi toh sudah membantu memupuk reputasi saya sebagai wartawan yang tidak cuma bisa menulis berita tetapi juga lainnya (karena ada juga wartawan yang menulis hanya saat mereka bekerja, sebab passion mereka bukanlah menulis). Semua itu membantu saya mendapat pekerjaan sebagai ghostwriter (penulis bayangan) sebuah buku dan penulis di sebuah majalah seni.

Setelah itu, saya juga berhasil memasukkan tulisan-tulisan saya dalam beberapa buku yang diterbitkan oleh teman-teman saya. Sekali lagi, memang imbalannya sangat tidak seberapa tetapi saya terus melakukannya sebab saya yakin saya melakukan ini untuk mengasah ketrampilan saya dan memperkaya wawasan dan memperluas jaringan. Pendeknya, tidak ada yang sia-sia jika saya berpikir dalam jangka panjang.

Dalam membuat berita/ konten, saya juga terbiasa menerjemahkan (karena saya diserahi segmen berita mancanegara). Dengan ditambahi dengan latar belakang pendidikan yang mendukung (Sastra Inggris), saya pun juga melakoni profesi penerjemah paruh waktu. Saya mencoba menjalin relasi dengan banyak orang karena saya sadar dari banyaknya kenalan, saya bisa menawarkan jasa saya sebagai penerjemah. Dan relasi itu dibangun dengan organik, yang maksudnya ialah hubungan yang saya bangun tidak melulu karena saya berhasrat menawarkan jasa penerjemahan pada mereka tetapi juga karena saya ingin menjadi teman yang baik. Saya paling benci jika menemukan orang yang terlalu bernafsu memonetisasi hubungan mereka dengan orang. Jika menguntungkan, ia dekati dan berhubungan baik dengan orang tetapi jika tidak ada keuntungan yang bisa dipetik, orang itu diacuhkan begitu saja.

Hobi lain yang saya minati juga kemudian saya terus tekuni. Saya menyukai yoga untuk diri sendiri awalnya. Saya anggap ini upaya menyehatkan diri agar saya bisa bekerja leboih produktif, karena profesi wartawan sungguh identik dengan kebiasaan kurang sehat, dari merokok, mengopi, begadang, makan sembarangan (asal kenyang dan enak)  Hingga kemudian saya menemukan celah untuk memaksimalkan minat saya ini lebih jauh. Saya terus berlatih dan akhirnya memutuskan belajar lebih dalam sampai mengikuti pelatihan mengajar yoga. Singkatnya, saya terjun dalam dunia yoga sebagai pengajar dengan salah satu alasannya, yakni untuk meragamkan ketrampilan hidup saya di samping kemampuan dan pengalaman jurnalistik yang ada.

Selain semua bidang di atas tadi, saya juga masih meluangkan waktu untuk mengajar bahasa Inggris untuk klien pribadi. Saya juga sebelumnya sudah mengajar di sebuah kampus tempat seorang politisi memberikan celetukannya soal gaji kecil pewarta. Saya meninggalkan tempat itu sekarang. Tidak lain karena gajinya juga tidak kalah memprihatinkan dari gaji wartawan. Dari pengalaman itu, saya lebih suka mengajar klien individual karena tidak perlu kerja ‘rodi’ mengajar kelas berisi 60 orang dan meneliti kertas jawaban ujian tertulis sampai larut malam. Upah lebih tinggi karena saya yang menentukan jumlah dan jadwalnya sendiri. Mau, ambil. Tidak mau, silakan cari yang lain. Dan setelah les, saya bebas. Tidak terbebani kewajiban menyetor nilai, menandatangani lembar ini itu untuk bisa mengambil honor, berbasa-basi dengan rekan pengajar yang mengira saya mahasiswa juga. Merepotkan.

Jadi, kalau saya mendengar politisi itu mengolok-olok gaji pewarta dan mengukur kesejahteraan dari kekerapan mengunjungi mall dan berbelanja barang-barang konsumtif, saya hanya bisa berdehem dan menggulingkan bola mata. Saya tidak akan terhina karena memang begitulah faktanya. Akan tetapi meskipun itu benar, kalau mau berpikir lebih bijak, tidaklah etis bagi seorang tokoh publik untuk melontarkannya dalam kesempatan terbuka, saat leluconnya bisa dikutip dan disebarkan setelah konteksnya dipreteli secara semena-mena.

Alih-alih  merasa terhina dan berang, saya anggap lelucon yang sama sekali tidak lucu itu sebagai sebuah cambuk untuk menjadi wartawan ‘plus-plus’. Maksud ‘plus-plus’ itu tentu bukan wartawan yang menyambi menjadi pekerja seks komersial (meskipun memang harus diakui lumayan menggiurkan, tetapi masalahnya berapa banyak wartawan yang bahkan peduli dengan penampilan fisik mereka sendiri), tetapi menjadi wartawan yang sanggup menjadi lebih dari sekadar pekerja teks komersial. Karena wartawan plus-plus akan memiliki kekuatan tersendiri, tidak hanya bisa pasrah pada pemodal yang mau menang sendiri dengan menggaji mereka sekecil-kecilnya. Jadi jika idealisme wartawan dilanggar, wartawan itu tidak akan kelaparan saat harus meninggalkan kantor-kantor berita para pemodal kikir atau kantor redaksi yang tercemar kapitalisme digital yang mengukur kinerja dengan pageviews. (*)

The Diarist (2)

YOUNGER YEARS. I was named Widjaja Djawawi by my parents. My father and mother were Wagiran and Masirah, respectively. Though my parents had no recollection of my date of birth, they have this kind of belief that I was born on one day in 1927. Which date specifically, please don’t ask. They didn’t even bother to mark the calendar simply because they did not have such a thing. Time was never a serious concept of life to my parents. Though they felt and talked about it, time never bothered them as a human being. They didn’t feel the necessity of saving time or making plans or keeping records of the past events for the purpose of the next generation or such. I found this to be such a shame and loss because as I grew up later and learned more with my limitation of education access, I finally realized the significance of writing our history. In this case, my own history.

My education had been brief but the effect was lifelong, indeed. It was 1936, father said, when I was enrolled as a first grader of Sekolah Rakyat Pertama (roughly translated: The Elementary Laymen School). It was true. What my parents could afford for me was laymen basic education. Not more. Not less.

The school was located in the village of Prambatan Kidul, Onduan Kaliwungu, the regency of Kudus, Central Java province, Indonesia. The word “onduan” sounds foreign because it was not Indonesian. Onduan refers to “subdistrict” or “kecamatan”, for your information.

In 1936, as we all know, Indonesia was under the Dutch Occupation. No historical fact can deny this. And I don’t need my father or mother to tell me our people were suppressed in many ways. I didn’t understand I at first but as time went by, it seeped into every corner of my brain. Being part of the oppressed people had always felt humiliated and embarassed. It was like being a lady, who every day gets objectified, teased, tortured and raped. We suffered a lot physically, financially, psychologically, and mentally.

I had an elder maternal brother named Kaswadi. We were not as close as two brothers are supposed to be. We have different fathers. It wasn’t that he was a horrible or evil person but it was hunch that he preferred to be with his friends to being with me, his sole brother. I had not asked him as to why he did so but I refrained myself from doing so. I believed it was his right to do so.

In 1938, I was a fourth grader at the time. And during the holiday before the classes began that academic year, I became officially and religiously an adult. How was that even possible? As a moslem man, you know you’ve entered the adulthood after you lose your foreskin. You have to lose something in order to get something else. The universe works fairly. My parents rejoiced as we got visits from relatives and neighbors. Presents were flowing into our household. It was a joyful moment but not quite for me. The recovery process ran lengthy and of course, painfully enough for me to undergo. But this, I believe, was a part of going mature every male who is a moslem as well have to experience. I had no choice but go through this no matter what.

While our household was bathed in a little joy during my circumcision as the adulthood initiation ritual, we had to suffer from another calamity. I was too devastated though not completely. After ten days of agony, Kaswadi died of tubercolosis. Though we were not really close to each other and got along like two brothers in an ideal way, but I felt the pain of loss of his presence.

In Indonesia during the Dutch Colonial Era, we already had a special institution handling this highly infectious disease. The Dutch Colonial Government at the time had set up Stichting Centrale Vereniging tot Bestrijding der Tuberculose (SCVT). By the end of the Second World War, they had established 20 diagnostic units and 15 sanatoriums concentrated in Java.

My mother often wept after he passed away. The late Kasmudi might be my distant sibling but I had to admit he was the one and only brother I had. So after his passing, I honestly felt the loneliness more and more. But of course, it was easier for me as a young boy to pass through the grievance phase because I was able to engage myself in many other social and academic and physical activities I wished to take part in. My parents, especially my mother, had to encounter and deal with the absolutely different situation and I felt so sorry for her that she never managed to get this over from her head. But I couldn’t do anything about it. It was her own struggle within her soul. Even I, then the one and only son left, couldn’t help her in this phase because all I could do for her was pray. Only that. My father and I were so helpless to see her forlorn and grief-struck in the rest of her days on earth. The grief had sucked up her life from us. She was now a breathing corpse.

My life after Kasmudi’s death went on. In July 1941, I had left the school (Sekolah Rakyat or the School of Laymen) after leaving my five grade.

The year of 1942 witnessed the arrival of the Japanese soldiers. After my leaving, I continued to work as a cigarette factory worker.

Three years after Kasmudi’s passing, my mother followed. She left us for good in January 1941. I was not quite surprised though because she had gone so depressed after all these years. It was creeping to haunt all of the family members and finally my mother fell victim to it. (to be continued)

Kolaborasi Serasi dari Asti

Alessandro Vignola dan Neva Epoque berkolaborasi bersama adalam seni lukis kontemporer beraliran exitential mechanics yang harmonis. (Image source: LinkedIn)

Perkenalkan, kami Alessandro Vignola dan Neva Epoque. Kami bersua pertama kali kemudian saling jatuh hati satu dasarwarsa lebih yang lalu. Kami suka psikologi dan juga seni rupa. Sebuah kombinasi passion yang jarang ditemui. 

Kami sepakat untuk menjalani hidup sebagai seniman begitu menuai tanggapan positif dari para penikmat karya kami. Kami pun memilih nama “Delta NA” sebagai satu brand yang menaungi kami berdua dalam berkesenian. Delta dipilih karena ia adalah nama tempat kami berdua bertemu dan kemudian berjumpa lagi beberapa tahun kemudian. Sementara itu, NA adalah inisial gabungan nama depan kami.

Kami pun memutuskan membuka studio seni di pusat kota Asti, yang terletak di Italia bagian utara. Di sini dikenal dengan hamparan pegunungan yang luas dan diselimuti salju saat musim dingin. 

Seperti kami sudah katakan sebelumya, pada mulanya kami belajar psikologi di kampus yang sama.  Saat kuliah tahun 2001 itulah kami bertemu pertama kali. Setelah lulus, kami tak bertemu lagi. Setelah tujuh tahun berselang, kami bertemu kembali di tempat yang sama saat kami terakhir bertemu. Kami  percaya dengan takdir (destiny) dan itulah kenapa kami memilih nama “delta” untuk kami berdua dalam berkesenian.

Asal Muasal Kolaborasi

Dulu kami melukis sendiri-sendiri tetapi kemudian ada kolektor lukisan kami yang ingin agar kami melukis lukisan yang lebih besar. Karena salah satu dari kami tak punya banyak waktu untuk membuat lukisan sebesar itu, kami putuskan mengerjakan lukisan itu bersama-sama.  Lukisan kolaborasi pertama kami tak begitu memuaskan. Dari sana, kami sadar kolaborasi sangat menarik dan sejak itu kami selalu berkolaborasi dalam melukis. Dalam berkolaborasi kami membutuhkan waktu untuk menemukan gaya melukis kami yang baru karena ini berbeda dari melukis sendiri. Gaya ini baru dan lain dari gaya kami saat melukis solo.

Jika Anda perhatikan, ada ciri khas lukisan kolaborasi kami. Kami bereksperimen dengan warna-warna yang merilekskan dan memberi nuansa harmoni tetapi kami tidak merencanakan sehingga proses itu terjadi begitu saja. Prosesnya menarik karena entah kenapa kami mengalir dari warna biru, hijau, pink, merah, seperti gelombang yang berulang. Kami tak tahu alasannya tetapi mungkin karena berkaitan dengan emosi dan perasaan kami. Bisa juga berkaitan dengan irama hidup, dari tidur, beraktivitas hingga tidur kembali. Kami harus cermat memilih warna untuk emosi tertentu. Meski kami tidak membatasi warna-warna yang dipakai, kami tidak bisa menggunakan sejumlah warna seperti kuning dan hitam. Untuk kuning, kami hanya memakai warna emas atau kuning yang pucat. Sementara warna hitam kami hindari karena menandakan ketiadaan cahaya dan merusak harmoni lukisan. Untuk tandatangan kami memilih memakai warna biru tua yang terasa lebih alami.

Setiap karya kami bisa dikatakan sebagai bayi yang kami lahirkan bersama-sama. Sehingga sulit untuk memilih mana yang kami paling sukai tetapi lukisan terbaru yang kami rampungkan biasanya kami lebih sukai dari yang lain karena memiliki koneksi emosional yang lebih erat dengan diri kami.

Tentang Proses Kreatif

Proses kreatif kami sebagai seniman biasanya dimulai dengan banyak menggambar. Baru setelah selesai, kami lanjutkan dengan memberikan cat. Saat memulai, biasanya kami tidak tahu apa yang akan kami hasilkan tetapi kami terus mengerjakannya. Kami bisa merasakan ada banyak yang bisa dikuak dari sana. Seperti ada sebongkah marmer di hadapan kami, dan kami yakin ada patung di dalamnya. Dan yang bisa kami lakukan hanyalah terus memahatnya dengan seksama.

Jika Anda bertanya soal aliran yang kami pakai dalam melukis, kami sulit menjawabnya. Anda bisa menyebutnya abstrak tetapi tidak sepenuhnya demikian. Ada nuansa ekspresionisme, tetapi juga tidak sama persis dengan itu. Awalnya kami sebut “instinctive expressionism” karena kami pakai jari untuk melukis. Kami memilih menyebut ini sebagai “existential mechanics”, yang menjadi dasar bagi kami dalam berkarya kolaborasi. Kami menggabungkan gaya abstrak yang informal agar dalam proses melukis, kami tidak terlalu banyak berpikir sehingga kami bisa memberikan sensasi keterbukaan dan relaksasi pada mereka yang menyaksikan karya lukisan kami. Kami juga mempersilakan khalayak untuk menginterpretasikan karya-karya kami sesuai dengan pemahaman mereka masing-masing.

Pentingnya Chemistry

Hal terpenting ialah memastikan kolaborasi terjadi secara seimbang dan bagaimana kita menemukan orang yang tepat dan membuat kita nyaman untuk diajak berkolaborasi. Prosesnya bisa memakan waktu lama agar bisa tercipta harmoni dan keselarasan.  Bila ada salah satu yang ternyata terlalu dominan, pihak lain harus mengimbanginya dengan lebih berupaya menghadirkan dan membuka diri dalam karya bersama itu.

Dalam proses berkreasi, kami tidak menentukan ukuran kanvas. Saat kami akan bekerja, kami belum tahu apa yang akan keluar, kami merasakan adanya ketertarikan pada ukuran kanvas tertentu. Jadi, ini bukan semata-mata pilihan kami secara sadar. Bisa dikatakan, kanvas itulah yang memilih kami. Jadi, tiap lukisan muncul dengan makna, ukuran, dan warna masing-masing.

Kami memiliki banyak pesan dalam karya kami. Dalam beberapa tahun terakhir kami menerapkan teori existential mechanics, yang menyatakan bahwa seniman memiliki cara menangkap realita di balik dunia yang kasat mata ini. Realita bisa dimaknai sebagai serangkaian lapisan yang saling tumpang tindih, mirip dengan anyaman serat kain yang berpola dan berulang. Kami bermula dari bentuk geometrik dan statik untuk kemudian beralih ke semesta yang terbuat dari bentuk-bentuk geometrik tersebut.  Pesan kami ialah bahwa realita itu mirip mimpi. Dan realita bukan semata-mata hal yang kita bisa tangkap dengan netra tetapi sesuatu yang lebih besar.  Inilah cara kami memadukan kehidupan nyata dan energi spiritual.  Kami mendorong audiens untuk menikmati lukisan dengan cara yang bertahap, tidak sekali saja dan berpuas diri karena di balik lukisan tersembunyi banyak makna yang bisa digali setiap kali menikmatinya. Lukisan juga seperti kehidupan, yang selalu memberikan kejutan jika kita mau membuka pikiran kita terhadap berbagai kemungkinan baru.  

Memadukan Dua Jiwa

Baru-baru ini kami hadir dalam sebuah workshop dan pameran. Dalam workshop melukis kolaborasi selama dua hari yang digelar di Istituto Italiano di Cultura, Jakarta, lansekap pegunungan khas kota asal kami – Asti – dijadikan sebagai inspirasi.

Para peserta kami suguhi foto pegunungan di Asti untuk kemudian menuangkannya dalam gaya gambar masing-masing di atas kertas. Bedanya dari workshop melukis lainnya, tiap peserta menggambar di dua lembar kertas berbeda sehingga nantinya bisa dipertukarkan dengan karya peserta lain.

Begitu waktu menggambar solo usai, para peserta dipersilakan memilih rekan kolaborasi mereka dengan syarat merasakan kesesuaian dengan pribadi masing-masing dan tidak ada keterpaksaan. Dari sinilah, tiap peserta mulai bekerjasama dengan peserta lain sebagai mitra untuk merampungkan sebuah lukisan menjadi satu karya utuh yang harmonis.

Seorang peserta workshop, Michael, mengaku lokakarya ini memberikan pengalaman dalam kolaborasi penciptaan karya. “Prosesnya terstruktur dengan menggambar dulu jadi tiap peserta berkesempatan menjadi diri sendiri dulu. Saat kolaborasi, peserta dipertemukan dengan gaya peserta lain untuk kemudian mencari jalan tengah. Baru gambar dikerjakan dengan pewarnaan.” Demikian ia menjelaskan.

Kami sendiri gembira dengan hasil kolaborasi peserta, yang relatif seimbang, tidak ada yang terlalu mendominasi. Yang terpenting ialah mereka mampu mengekspresikan emosi dalam diri mereka dalam karya. Dengan demikian, mereka yang menyaksikan lukisan itu akan mendapatkan sensasi tertentu.” (*)

Siapa Bilang Minat Baca dan Tulis Kita Rendah?

Kami sedang duduk mendengarkan wejangan seorang pria yang konon menjadi legenda hidup sastra nusantara. Kiprahnya memang tidak bisa dianggap remeh selama ini. Beliau dikenal sebagai pengajar, setidaknya begitu mulanya bagi saya. Tetapi kemudian saya sadar ia lebih dari sekadar seorang dosen luar biasa. Ia juga penyair kampiun. Sajak-sajaknya sudah melanglang buana ke mata jutaan pembca dan penikmat susastra nusantara kontemporer. Saya harus akui pengetahuan saya tentang kiprahnya sama sekali nihil.

Di depan, ia menggumamkan sesuatu. Apa yang ia ucapkan masih bermakna dan bisa diikuti dengan logika bahasa. Tetapi perkara artikulasi, saya mengamati adanya kemunduran di otot-otot lidah dan mulutnya. Proses menua yang alamiah. Dan saya sedang ia juga habis pulih dari sakit yang cukup serius. Jadi, kehadirannya di sini sudah bisa dikatakan suatu keajaiban. Tak heran seorang teman mengatakan ia tidak ingin mengecap usia panjang karena di dalam usia panjang, mesti ada ketahanan menjalankan roda kehidupan dengan sisa-sisa tenaga penghabisan di usia yang sudah petang, hampir malam, meredup, hingga akhirnya malam.

Meskipun secara fisik Sapardi sudah begitu turun dibandingkan sedekade lalu saat saya masih menjadi salah satu mahasiswanya di Universitas Diponegoro, saya masih menemukan bara dalam tatapan matanya. Jiwanya selalu belia, saya percaya.

Kemudaan yang tak kasat mata tersebut ia ungkapkan dalam pendapat dan sikapnya terhadap perkembangan dunia sastra saat ini. Pikirannya selalu progresif, tidak malu untuk menuruti perkembangan zaman tetapi seraya mencengkeram jatidirinya juga.

Menurut Sapardi, pemikiran kolot bahwa asal kualitas isi sebuah karya sastra itu tinggi, mau diberi sampul, judul, ilustrasi atau tidak dipromosikan sekalipun, pasti akhirnya akan laris juga. Hanya saja kenyataannya lain sekarang. Justru mereka yang yakin karya mereka bagus harus mengimbanginya dengan upaya pengemasan dan pemasaran yang tidak kalah garang dan sistematis. Karena mau tidak mau diakui, unsur-unsur nonsastrawi yang sering dipinggirkan oleh kalangan sastrawan jenis puritan zaman pra-digital.

Untuk menggambarkan sikapnya itu, ia mengatakan bahwa sekarang penerbit dan sastrawan perlu sekali membuka cara pandangnya agar tidak tergerus oleh arus zaman. Unsur kebaruan, inovasi dan kreativitas dalam mengemas isi karya sastra amat dibutuhkan agar lebih banyak pembaca potensial tertarik dengan karya yang ditawarkan. Karena jika sudah gagal menarik perhatian dari kulitnya, mana mungkin isi juga akan dikulik? “Ganti judul, ganti sampul itu penting juga,” tegasnya. Buku-buku lama yang sudah tak laku kini perlu dicetak ulang dengan pengemasan dan cara pemasaran yang lebih modern. Tidak cuma menunggu pembaca yang bisa menjangkau toko buku tetapi juga siapa saja di mana saja asal tersambung dengan internet.

Sebagai contoh nyata, pria yang tidak bisa menanggalkan topi pet dari kepalanya itu menceritakan peran elemen-elemen nonsastrawi itu pada keberhasilan penjualan buku-buku puisinya. Seperti sudah kita ketahui, genre puisi di pasar tidaklah begitu menguntungkan. Penggemar puisi cuma orang-orang tertentu. Namun, itu dulu. Sekarang dengan bantuan pemasaran digital di media sosial dan bahkan film, kita saksikan melejitnya puisi karya penyair muda Aan Mansyur. Puisi terangkat. Dan itu karena ia tidak berjuang sendiri tetapi terintegrasi dengan hal-hal lain di luar dunia puisi itu sendiri.

Dalam kasus Sapardi, ia mengakui bahwa buku puisinya yang semula susah laku di toko-toko buku, bisa lebih laris manis bahkan ditampilkan di rak best seller (yang membuatnya terkejut juga) karena dilibatkannya orang-orang yang terampil dalam mengemas konten agar lebih seksi dan menarik bagi para pembaca masa kini.

Sang sastrawan veteran ini juga menyerukan pada kalangan pegiat sastra dan perbukuan dalam negeri mengenai kemandirian dalam berkarya. Tiap kali Sapardi mendengar ada keluhan bahwa pemerintah tidak mempedulikan atau tidak membantu upaya-upaya menggiatkan industri perbukuan dan aktivitas literasi domestik, beliau mengaku kurang sependapat. Hendaknya kita semua jangan terlalu mengandalkan pemerintah. Secara spesifik beliau berpesan pada kalangan penerbitan agar tidak menggantungkan semua solusi pada pemerintah. Ada masalah apapun, ditujukan ke pemerintah, seakan pemerintah dewa yang bisa memecahkan semua masalah. Padahal jika kita cermati, pemerintah juga sebetulnya tidak akan berdaya tanpa dukungan semua elemen dari rakyat Indonesia. Pemerintah memang penting, tetapi peran rakyat juga sama krusialnya. Rakyat dalam hal ini mereka yang berkepentingan dalam dunia literasi dan susastra juga hendaknya turut aktif mencari solusi demi solusi dari masalah yang dihadapi bersama-sama. Tidak hanya berpangku tangan dan menunggu bantuan pemerintah. Lalu jika tidak ada solusi dari pemerintah, akan cepat menyalahkan pihak eksternal.

Sapardi mencontohkan bahwa di AS misalnya, dunia perbukuan bisa lebih bergairah dan berkembang pesat karena baik pemerintah dan kalangan pegiat perbukuan dari masyarakat umum sama-sama bekerja di jalurnya masing-masing dan saling bersinergi. Misalnya penerbit Penguin yang berhasil sukses dan menjadi sebesar sekarang itu juga bukan perusahaan penerbitan yang ongkang-ongkang menunggu bantuan pemerintah. Mereka bekerja keras sendiri juga di bidang-bidang yang mereka bisa, tanpa dibantu atau didorong pemerintah. Justru dengan independensi tersebut, nantinya penerbit akan lebih bebas dalam menentukan kebijakan dan arah langkahnya ke depan. Dengan menjadikan pemerintah sebagai induk semang, penerbitan berisiko hanya menjadi corong gagasan dan propaganda birokrat. Padahal hal itu amat riskan bagi perkembangan demokrasi dan daya pikir kritis bangsa. Karena di tangan status quo, sastra hanya akan menjadi komoditas legalisasi gagasan mereka.

Kembali ke Sapardi, ia menguak masalah besar dunia penerbitan tanah air, yakni strategi dalam menghadapi kebangkitan dunia digital. Untuk menghadapinya, alih-alih dipandang sebagai musuh, dunia digital (yang mencakup – tetapi tidak terbata dalam – internet, ponsel cerdas, tren e-book, media sosial) idealnya dianggap sebagai kawan. Demikian pesan sang sastrawan.

Jika di zaman sekarang, seorang pengarang karyanya gagal terjual laris padahal karyanya berkualitas, bisa dipastikan pengarang itu kurang cerdik. Dengan begitu banyaknya kanal media sosial yang tersedia secara cuma-cuma, memang konyol rasanya jika pengarang malah bersikukuh menghindarinya atau mengabaikannya. Dengan munculnya media sosial, pengaran dan penerbit justru harus melihatnya sebagai alat baru yang berpotensi mendongkrak produktivitas berkarya (baca: angka penjualan).

Sering kita baca dan dengar argumen dan klaim bahwa bangsa Indonesia memiliki minat baca yang memprihatinkan, rendah, kurang memuaskan, dan sebagainya. Karena daya baca rendah, kemampuan menulis pun menjadi pincang. Intinya, minat baca dan tulis bangsa kita perlu dipacu lagi.

Terkait ini, Sapardi menampiknya tegas. “Generasi sekarang itu malah lebih banyak membaca dan menulis dari generasi sebelumnya!” Sang begawan sastra ini menggarisbawahi, di balik klaim tersebut, ada pemikiran kolot bahwa jika tidak membaca tulisan yang tercetak di kertas, tidak bisa dianggap benar-benar membaca. Ini menurut Sapardi perlu diluruskan. Mereka sudah banyak membaca juga, tetapi mereka lebih banyak membaca di gawai daripada membaca buku fisik, sehingga generasi senior masih mencibir. “(Padahal) membaca di gawai sama membacanya juga,” tandas beliau.

Unsur selain konten yang juga berperan dalam keberhasilan sebuah karya sastra ialah pemilihan nama yang dipakai pengarang untuk ditampilkan di sampul bukunya. Pengarang tidak diwajibkan penerbit, publik pembaca atau pemerintah untuk menggunakan nama asli mereka sehingga terdapat ruang bereksperimen di sini. Salah satu contoh kasus yang membuktikan bahwa nama yang berbeda dapat memberikan efek yang berbeda terhadap persepsi dan respon publik mengenai sebuah karya sastra ialah saat J. K. Rowling menggunakan nama pena (pseudonim) Robert Galbraith dalam genre novel detektf (whodunnit). Saat menggunakan nama pena yang tidak dikenal, publik tidak merespon karya tersebut secara menggembirakan layaknya serial Harry Potter. Namun, begitu penerbit memberikan keterangan bahwa Galbraith ialah nama pena J. K. Rowling, angka penjualan novel kriminal tersebut melejit.
.
Kemunculan internet dan media sosial juga hendaknya tidak menjadi kambing hitam bagi menyurutnya pencapaian industri perbukuan dan dunia sastra. Sapardi justru menjungkirbalikkan pemikiran tersebut dengan menyatakan bahwa saat ini penerbit justru memburu para sastrawan, pencipta konten. Dengan adanya ruang berkreasi yang tanpa batas melalui kehadiran dunia maya dan media sosial, kreativitas sastrawan makin bisa dicurahkan, tanpa batasan-batasan yang seketat di masa penerbitan konvensional. Kalangan penerbit juga sebaiknya keluar dari zona nyaman dan terus mengeksplorasi berbagai peluang dan potensi penerbitan di ruang digital. (*)

Formula Novel Best Seller

Novelis perempuan dengan gaya menulis feminin memiliki peluang sukses lebih tinggi daripada pria. Bagaimana bisa? (Sumber: Wikipedia)

“There’s an app for everything.” Begitu pepatah zaman digital sekarang. Setiap masalah bisa dipecahkan dengan membuat sebuah aplikasi digital di ponsel dan sabak elektronik yang setiap hari kita genggam dan kontennya kita konsumsi secara rakus dan tak kenal waktu.

Di balik aplikasi, banyak komponen yang terlibat. Salah satunya yang tidak kalah penting ialah algoritme, yang secara sederhana bisa dikatakan sebagai sebuah proses atau serangkaian aturan yang harus diikuti dalam penghitungan atau operasi pemecahan masalah, terutama oleh komputer.

Baru-baru ini dibuat sebuah algoritme berhasil dibuat sedemikian rupa untuk mencari resep jitu memproduksi novel best seller. Dan hasil pengamatan berdasarkan penggunaan algoritme pada teks-teks novel yang selama ini menjadi best seller menghasilkan simpulan-simpulan sebagai berikut, yang bisa jadi patut kita pertimbangkan jika ingin menjadi novelis yang berhasil dalam aspek penjualan (bukan dalam aspek idealisme dan sebagainya).

Tema

Kriminal dan cinta ialah dua tema yang dikatakan amat menjual dalam dunia perbukuan. Dan apapun genre yang Anda garap sekarang, jika Anda ingin novel yang Anda tulis masuk ke daftar best seller, tidak ada salahnya menambahkan dua bumbu tadi ke plot yang Anda terapkan dalam novel sehingga calon pembaca lebih tertarik memboyong pulang.

Alur Emosional

Lain dari karakteristik pembaca nonfiksi, para pembaca karya fiksi terutama novel ialah mereka yang sangat mendambakan pengalaman emosional yang kental. Dengan mengetahui hal ini, Anda bisa memberikan sentuhan emosional yang kuat pada setiap elemen novel Anda, terutama alurnya. Plot yang menghanyutkan emosi pembaca itulah yang membuat pembaca kecanduan dan tidak bisa menutup buku sebelum sampai ke lembar terakhir.

Contoh novel yang sukses berkat penggunaan plot yang emosional ialah “Fifty Shades of Grey” yang ditulis E. L. James. Novel ini menurut sebagian pihak memang memiliki prosa yang kurang estetis dan literer dan cenderung menjual fantasi seks sadomasokis. Namun, harus diakui James berhasil membuat emosi pembaca naik turun sedemikian rupa sehingga sangat mengasyikkan dan adiktif. James menunjukkan bahwa tema seks – yang meskipun menurut algoritme tidak begitu menjual sebagai tema buku best seller – ternyata mampu mengedepankan elemen emosi ini dan mendongkrak penjualannya hingga ke angka yang begitu fantastis walaupun dikritik banyak kalangan elit sastra yang merasa novel itu lebih mirip sebuah karya pornografi.

Kesederhanaan

Simplicity is the best policy”. Kesederhanaan adalah senjata utama bagi para novelis agar karya mereka bisa mendobrak jajaran bergengsi di jaringan toko buku besar dan bahkan pasar buku global. Para novelis terkemuka bisa saja menggunakan kalimat-kalimat panjang dengan diksi dan jargon yang rumit tetapi karena mereka ingin menjangkau pembaca seluas mungkin, mereka lebih memilih kata-kata yang mudah dicerna dan kalimat-kalimat yang pendek dan ringkas sehingga tidak membingungkan. Ini berlawanan dengan asumsi yang ada dalam benak novelis pemula yang mengunggulkan penggunaan kata-kata rumit dan mengawang-awang dan kalimat-kalimat panjang yang membuat pembaca terengah-engah. Justru yang sulit ialah bagaimana novelis menyuguhkan ide-ide rumitnya dalam kata dan kalimat yang mudah dipahami siapa saja.

Algoritme menjelaskan bahwa novel-novel best seller lazimnya menggunakan kata-kata aktif (do) dan menggunakan kata “sangat” (very) lebih jarang daripada novel yang lebih jarang digemari.

Femininitas

Anda novelis pria? Perlu Anda ketahui bahwa novelis perempuan memiliki peluang sukses lebih tinggi daripada mereka yang pria. Begitu tingginya peluang itu sampai bisa dikatakan peluang sukses novelis perempuan bisa menjangkau hingga 90%. Setidaknya demikian menurut hasil penelitian berdasarkan algoritma.

Namun demikian, para novelis pria tidak perlu patah arang karena sebetulnya asal mereka bisa menyesuaikan gaya bercerita mereka sehingga karya mereka memiliki elemen femininitas yang lebih kental. Algoritma membuktikan bahwa novel-novel hasil tulisan penulis pria yang terbukti sukses bisa menjadi best seller karena gaya menulis mereka mirip perempuan menurut algoritma.

Lalu kita perlu bertanya, seperti apa gaya menulis yang feminin dan maskulin? Gaya menulis feminin menonjolkan aspek ‘style’ dan kesederhanaan dan pendekatan blak-blakan yang mengena bak gaya menulis seorang jurnalis. Novelis dengan latar belakang jurnalisme dalam tingkatan tertentu terbantu untuk bisa menelurkan karya yang digemari daripada yang tidak pernah menjadi pewarta.

Sementara itu, gaya menulis maskulin mengedepankan gaya literer yang tinggi. Dengan kata lain, menulis dengan gaya berbunga-bunga yang khas pujangga justru membuat peluang sebuah novel menjadi best seller lebih rendah. Dan uniknya, gender novelis belum tentu sesuai dengan jenis gaya menulisnya. Artinya, seorang novelis pria bisa saja memiliki gaya menulis feminin dan begitu juga sebaliknya.

Kekuatan Tokoh Utama

Menggunakan judul yang mengacu langsung pada karakter utama adalah elemen lain yang mempertinggi peluang sukses suatu novel. Namun demikian, menggunakan nama karakter tersebut sudah dianggap usang (katakanlah “Anna Karenina” milik Leo Tolstoy). Novel-novel best seller masa kini tetap mengacu ke tokoh utama di dalam judulnya tetapi tanpa menguak nama si tokoh. Frase yang menarik untuk menggambarkan tokoh utama bisa memicu keingintahuan calon pembaca.

Tokoh utama yang berkarakter kuat dan terdefinisi secara jelas memberikan peluang sukses bagi sebuah novel untuk melejit. Hal ini bisa dicapai melalui penggunaan kata-kata kerja yang tegas dan mendorong terjadi serangkaian perbuatan dan aksi.

Lalu apakah yang kita mesti lakukan setelah mengetahui semua elemen sebuah novel best seller ini? Kita bisa mengamati buku-buku yang laris ini dan meniru resep sukses mereka. Dengan membaca banyak novel best seller, dengan sendirinya kita akan makin akrab dengan pola-polanya.

Namun, jangan sampai membuat kita terlalu terobsesi untuk melihat keluar, mengejar status best seller sampai lupa dengan ide-ide orisinal kita sendiri dan menggadaikan idealisme yang semula kita punya demi selera pasar.

(Disarikan dari “The Bestseller Code: Anatomy of the Blockbuster Novel” oleh Jodie Archer dan Matthew L. Jockers)

MOCO, Ahok, dan Minat Baca Orang Indonesia di Era Digital (1)

Sulasmo Sudharno: MAsyarakat Indonesia maunya gratisa. (Dok. pribadi)

Lelaki itu duduk di belakang saya. Ia dipanggil ke depan beberapa menit kritis sebelum adzan maghrib yang kami nantikan berkumandang. Saya berhenti mencatat dan memberinya jalan. Saya tidak tahu apa yang akan ia sampaikan tetapi dari gelagat sang penyelenggara acara yang begitu antusias hingga mempersilakannya tetap berbicara di panggung meski momen kritis berbuka puasa sudah sebentar lagi, saya duga ia bukan orang yang bisa diremehkan. Dan memang benar, apa yang ia sampaikan bukan sesuatu yang normatif, membuat kami di kursi menguap dan gelisah memikirkan makanan dalam benak.

Sulasmo Sudharno, begitu namanya, adalah seorang lelaki Jawa tulen. Maksud saya, layaknya orang Jawa memberi pidato di depan publik, ia menunjukkan ‘unggah-ungguh’. Mimik dan bahasa tubuhnya yang merunduk-runduk di depan bangku yang dipenuhi para pegiat dunia susastra yang lebih senior, yang di antaranya mencakup penyair dan akademisi Sapardi Djoko Damono dan orang-orang di sekitar tokoh tersebut yang sudah menunjukkan pengalaman tinggi.

Dan untuk menunjukkan ke-Jawa-annya, tentu ia menyapa hadirin yang lebih sepuh dahulu daripada kami yang ada di kelompok bangku lain yang masih ‘hijau’. Saya selalu memandang kagum orang-orang yang bisa berbicara di depan publik dengan ketenangan dan kemurahsenyuman orang Jawa (sumeh, katanya). Karena saya sendiri Jawa tetapi sulit melakoninya. Ditambah rautnya yang bundar, membuat ia tampak seperti Semar yang bijak. Di masa tuanya saya pikir ia akan mirip menjadi karakter pewayangan satu itu. Bijak, uzur dan bernas, penuh dengan pelajaran hidup.

Tapi lain dari Semar yang mengabdi ke penguasa, Sulasmo tidak menggantungkan penghidupan ke pemerintah. Ia secara mandiri sebagai entrepreneur dan pendiri startup mencari nafkah dengan berjualan buku. Hanya saja, karena sudah era digital, ia memilih mencoba menjual buku dalam bentuk digital juga.

“Tidak laku, pak. Setahun omset kami cuma Rp800.000,” ujarnya, seolah-olah audiens di depannya hanyalah Sapardi Djoko Damono. Ada nada pilu dalam ceritanya tetapi beginilah orang Jawa, mereka sanggup bercerita kesedihan dengan suara mendayu-dayu sambil tetap menyungging senyum.

Saya mengangguk-anggukkan kepala, sepakat dengannya. Orang Indonesia mana mau merogoh uang untuk menebus biaya pembuatan konten? Gratis selamanya kalau bisa.

Itu omset tahun pertama. Bisa dimaklumi jika masih rendah. Tetapi apa daya, di tahun kedua, meski onset melonjak menjadi RpRp31 juta, tak banyak yang bisa dilakukan untuk bertahan dengan strategi yang sama: menyasar kaum pecinta buku.

Sulasmo terus mengoceh bagaimana nelangsanya menjual buku digital di aplikasi gratisan. “Sudah memakai strategi potong pulsa, tidak banyak yang mau beli buku dari kami. Padahal jumlah karyawan hampir 100 orang.”

Strategi yang sama ini saya pernah jumpai juga di Google Books. Dan belum pernah saya coba meski saya punya kemampuan membeli juga. Entah kenapa, membeli buku fisik masih terasa lebih mantap. Saya cenderung berpikir saat saya sudah berkutat dengan layar seharian dalam pekerjaan, di waktu luang saya ingin menatap benda lain saja tetapi masih tetap ingin membaca dan menikmati konten. Solusinya membeli buku kertas. Tidak bisa ditawar lagi. Mata saya lelah.

Setelah babak belur di tahun pertama dan kedua, Lasmo dan rekan-rekannya yang lain di Aksaramaya (Panya M. Siregar, Gani, dan Ardiansyah) yang mereka dirikan pada tanggal 4 Februari 2013, memutuskan menerapkan strategi lain untuk menggenjot pemasukan riil ke bisnis yang baru berkecambah itu. Mereka mencoba menangkap fenomena kegandrungan anak-anak muda pecinta sinetron “Ganteng-Ganteng Serigala” untuk dimasukkan sebagai lokomotif penarik animo membaca target konsumen.

Karena anak-anak generasi milenial ini adalah kelompok yang vokal dan memiliki luapan kreatif yang bisa disalurkan dalam bentuk tulisan (lain dengan kaum ibu yang saat menonton dan mengkritisi plot sinetron kesayangannya dengan mengomel dan berhenti di situ saja), mereka menuliskan jalan cerita sinetron GGS itu dengan plot yang mereka masing-masing kehendaki. Ini adalah penyaluran kreativitas menulis dari ketidakpuasan dengan skenario yang dibuat penulis naskah di rumah produksi mapan. Sebab mereka tak bisa memprotes, maka mereka memutuskan menulis skenario mereka sendiri. Tipikal anak muda yang pemberontak.

Tim Aksaramaya kemudian diperintahkan untuk bergerak menyisir dunia media sosial, terutama Instagram untuk mendapatkan sebanyak mungkin skenario-skenario GGS ‘tandingan’ tersebut. Dan dengan menggunakan alat tagar (hashtag) rasanya memang lebih mudah mencari unggahan yang dimaui di Instagram (Twitter terlalu pendek).

Hasilnya ada. Sebanyak 21 buku ditelurkan dari strategi ini. Aksaramaya pun turun tangan menjadi penerbit juga akhirnya untuk bisa mengakomodasi karya-karya anak muda tersebut. “Karena penerbit belum ada yang percaya dengan konsep semacam ini. Bukan tidak percaya pada teknologi tapi karena belum ada pasarnya,” terang Lasmo.

Tulisan-tulisan itu lalu ditayangkan di aplikasi MOCO. Terjadilah ‘traction‘, yang artinya muncul tanggapan dari pasar. Lasmo cukup bergembira karena ribuan orang membacanya.

Namun, traction itu sia-sia karena bagaimanapun juga sebuah bisnis akan mati merana tanpa ada pemasukan nyata tidak peduli sebanyak apapun orang menggemarinya. Penggemar yang tidak berdaya beli seperti tanaman bonsai yang mahal, langka dan molek tetapi tidak bisa memberi makan pemiliknya yang sekarat kelaparan. “Ada 35.000 yang mengunduh secara gratis. Begitu disuruh bayar, raib semua…” katanya lagi.

Mengenaskan.

Tetapi saya bisa katakan itu juga yang saya akan lakukan. Menikmati buku di gawai masih terbatas pada ‘permainan’. Koleksi yang serius dalam bentuk fisik. Itu paradigma saya dalam menikmati buku. Tetapi dalam kasus ini, saya duga karena muda-mudi penggemar GGS ini adalah mereka yang masih belum memiliki kekuatan membeli yang stabil, artinya belum memiliki penghasilan sendiri, masih sekolah atau kuliah. Jadi, bisa dimaklumi jika pos anggaran yang bisa disalurkan untuk pembelian konten digital dianggap jauh di luar jangkauan.

Lasmo mengajukan hipotesisnya dari pengalaman MOCO tersebut. Pertama ialah tampilan e-book yang masih belum pas untuk dinikmati di gawai. Banyak e-book yang sekadar bentuk digital hasil pemindaian (scan) atau file pdf dari buku cetaknya. Sehingga saat membaca, penikmat konten mesti susah payah scroll ke berbagai arah agar besar huruf pas di mata (bisa dimaklumi makin tua, makin susah membaca di layar ukuran kecil). Dan ini merepotkan sekali. Pengalaman menikmati e-book yang sungguh belum maksimal.

Aplikasi yang masih dalam proses pengembangan masih belum menarik konsumen. Ditambah dengan ketiadaan kanal pembayaran, membuat transaksi pembelian e-book masih terasa musykil. (*/ bersambung)

Anomali Bernama Baduy (11)

Supaya pengalaman menyinggahi kampung Baduy makin berkesan, diusulkan pengunjung mengenakan busana warga asli. Saya justru merinding membayangkannya. (Foto: Tim Geo Tour/ Jalan- Jalan Baik)
Supaya pengalaman menyinggahi kampung Baduy makin berkesan, diusulkan pengunjung mengenakan busana warga asli. Saya justru merinding membayangkannya. (Foto: Tim Geo Tour/ Jalan- Jalan Baik)

MENGHAYATI BADUY. Saya duduk di beranda sore itu. Beranda rumah orang Baduy Dalam lain dari beranda rumah orang Baduy Luar. Baduy Dalam merancang rumah mereka tidak sebagai tempat untuk bekerja (terutama bagi kaum Hawa untuk mengerjakan tenunan kain mereka) sehingga luas berandanya ala kadarnya. Barangkali cuma bisa untuk menempatkan bokong saja tanpa bisa meluruskan kaki. Kaki mesti menjuntai ke bawah jika ingin duduk santai dan bercakap-cakap lama dengan banyak orang.

Di ambang pintu rumah yang saya tinggali semalam itu, saya mendengar lamat-lamat dua jenis percakapan yang berlainan secara bersamaan. Di dalam dinding anyaman bambu, percakapan khas orang-orang urban mengalir tanpa henti. Soal dunia akademik, perkuliahan, lalu berlanjut ke pekerjaan, pendidikan, dan prestise dan tetek bengek kehidupan masyarakat perkotaan. Semua pembicaraan itu tentang dunia luar, dunia yang asing dari tempat yang kami sedang pijak sekarang.

Sementara itu, di luar rumah, saya dengarkan di waktu bersamaan sekelompok pria Baduy Dalam yang bercakap-cakap dalam bahasa Sunda Kasar yang hampir saya tidak bisa pahami.

Dua percakapan yang membuat saya kebingungan. Yang pertama membuat saya segan mengikuti karena saya sedang ingin menghayati pengalaman hidup di sini, jadi apapun soal dunia luar saya coba sekuat mungkin tinggalkan sejenak. Saya ingin tidak hanya tubuh kasar saya yang berada di kampung Baduy ini tetapi juga segenap pikiran dan jiwa saya. Karena ini saat-saat yang langka dan mungkin tidak akan terulang lagi. Begitulah saya selalu mencoba menghargai tiap momen ini. Saya yakin tidak ada hari atau kesempatan yang sama. Sabtu ini berbeda dengan Sabtu depan meskipun sekilas masih sama-sama bernama Sabtu.

Kang Cecep dari rombongan kami mengusulkan bahwa agar pengalaman tinggal di perkampungan Baduy Dalam lebih mengesankan, akan lebih baik jika segala perlengkapan dan peralatan yang dibawa dari ‘dunia luar’ Baduy dititipkan di sebuah pos khusus untuk kemudian dibawa kembali jika kunjungan sudah selesai.

Dan tidak lupa supaya lebih menghayati kehidupan orang Baduy Dalam, kami juga usulkan untuk memperbolehkan pengunjung mengenakan busana Baduy. Jadi, di sini tidak ada orang yang pakai kaos dengan tulisan aneh-aneh ala anak kota, atau celana pendek (hotpants) yang minim.

Jaro yang menemui kami menampik gagasan tersebut. Menurut hematnya, mereka warga Baduy Dalam sendiri merasa tidak tega untuk menyusahkan pengunjung sampai harus melucuti mereka dari pakaian yang biasa mereka kenakan dan berganti mengenakan pakaian tradisional seperti mereka. “Lagipula nanti susah membedakan mana orang Baduy dan yang pendatang,” jaro beralasan. Kami menerima argumentasinya itu. Masuk akal juga. Maka kami tidak memaksa lagi.

Saya sendiri bergidik jika gagasan itu diterima dan diterapkan. Bagaimana tidak? Para pria Baduy Dalam ini konon tidak mengenal pakaian dalam. Karena itulah, mereka duduk dengan kedua kaki terlipat rapat. Selalu. Meskipun ada argumentasi ilmiah bahwa tidak memakai celana dalam  apalagi yang ketat lebih kondusif bagi kesuburan, tetap saja saya tidak terlintas untuk mengaplikasikannya di luar rumah apalagi saat bepergian dan bertemu dengan banyak orang. Jadi, tidak terbayang bagaimana leganya saya karena jaro sudah menolak ide itu mentah-mentah.

Meskipun memiliki citra introvert dan konservatif, masyarakat Baduy terutama yang lelaki tidak sepenuhnya anti terhadap dunia luar. Sebagian dari mereka kadang berkunjung ke kota besar seperti Jakarta.

Jika kita menempatkan diri kita sebagai seorang manusia Baduy Dalam, memandang dunia luar tentu kita anggap sebagai sebuah dunia penuh kebebasan sementara kampung halaman sebagai tempat yang penuh kekangan. Dan kita pasti lebih merindukan kebebasan itu. Namun, mereka tidak merasakan hal itu. Mereka lebih merasa rindu pada kehidupan desa yang tenang.

Jaro kampung Cibeo ini sendiri pernah diajak berkunjung ke Jakarta. Ia bersama temannya yang pernah bertandang ke rumah mengajak untuk menonton film Barat di bioskop. Bioskop yang pernah ia kunjungi ada di Pondok Gede dan juga Mal Taman Anggrek. Bahkan mereka sempat menginap di sebuah apartemen di lantai 20.

Sebagai pihak luar, saat berada di Jakarta, warga Baduy tentunya mengalami banyak gegar budaya dan sosial sebagaimana yang warga urban alami di perkampungan Baduy. Perjuangan mereka untuk bertahan di Jakarta tentu lain dari kita yang memiliki cara hidup dan pemikiran yang hampir sama dengan masyarakat Jakarta. Ditambah lagi dengan tingginya angka kriminalitas di ibukota serta beragam risiko lainnya yang bisa datang dari interaksi kultural dan sosial, warga Baduy yang menyambangi Jakarta pasti mengalami saat-saat sulit. Jaro yang pernah ke Jakarta itu mengatakan tidak tebersit dalam pikirannya bahwa diri mereka akan tertimpa tindakan kriminal di kota besar.

Di kampung-kampung Baduy, angka kriminalitas hampir nol. Tidak ada bahkan, kata jaro yang kami ajak bicara. Kasus-kasus pencurian, perzinahan, dan segala macam penyakit masyarakat yang menjangkiti masyarakat modern di luar sana jarang sekali dijumpai di sini.

Warga Baduy yang melanglang buana ke luar daerahnya biasanya bukan karena keinginan sendiri tetapi lebih karena diundang oleh orang luar. Tetamu dari kota-kota besar seperti Jakarta kerap mengundang mereka untuk bersilaturahmi atau beranjangsana. Jika mereka beruntung, mereka akan disediakan oleh si pengundang segala moda transportasi dan tetek bengeknya. Tetapi jika tidak, mereka akan tetap berangkat juga. Dan untuk membiayai perjalanan ke Jakarta demi memenuhi undangan tadi, mereka mesti berjualan sepanjang perjalanan. Pria-pria Baduy itu berkelana ke jalan-jalan kota Jakarta tanpa alas kaki dan lazimnya karena mereka tak memiliki dana untuk menyewa tempat menginap, mereka bisa meminta pertolongan aparat kepolisian untuk menyediakan kantornya sebagai tempat menginap semalam saja. Selain kantor polisi, mereka juga biasa tidur di kantor satpam, kenalan yang berbaik hati dan kebetulan memiliki rumah yang luas, serta masjid.

Dan jaro yang kami tanyai menjawab begini saat kami tanya apakah mereka iri atau tidak melihat gemerlapnya Jakarta:”Kami tidak merasa iri. Semua sudah ada tempatnya masing-masing…” (bersambung)

Yoga, Mimpi, dan Kreativitas

Dalam savasana idealnya kita tetap sadar, jangan sampai lelap apalagi mendengkur. Inilah tantangannya. (Foto: Radiantly Alive Yoga Studio ,Ubud)
Dalam savasana idealnya kita tetap sadar, jangan sampai lelap apalagi mendengkur. Inilah tantangannya. (Foto: Radiantly Alive Yoga Studio ,Ubud)

Baru-baru ini saya bertemu dengan seorang mahasiswa yang ingin membahas yoga dalam penelitian akademiknya (skripsi). Dan saya entah kenapa menjadi orang yang ia pilih untuk menjadi narasumber. Kemungkinan besar karena saya sudah memajang berbagai kontak saya di dunia maya, sehingga tidak heran jika siapa saja termasuk dia bisa tiba-tiba memiliki akses menuju alamat surel saya dan bertanya soal yoga.

Kami pun bertukar kata lewat surel dan untuk kepentingan pemenuhan data, saya pun dikirimi sebuah daftar pertanyaan. Ia menanyakan pekerjaan saya, saya mengaku sebagai copywriter. Dan sebuah pertanyaan menggelitik yang tercakup di dalamnya ialah:”Apakah gerakan hatha yoga bisa membantu menemukan ide kreatif dalam pekerjaan Anda? Jika iya, kenapa bisa? Gerakan yoga apa saja yang bisa mengembangkan kreativitas? Apakah selama beryoga sering mendapat inspirasi? Seperti apa contoh nyata dan solusi kreatif dari yoga dalam pekerjaan Anda?”

Terus terang saya tergagap. Selama ini saya beryoga dan meyakini kontribusi yoga dalam performa kreatif dalam pekerjaan saya begitu saja. Tetapi itu saya mesti akui hanya sebatas sugesti subjektif yang tidak bisa saya jelaskan secara gamblang, apalagi secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Saya pun tidak yakin harus mengutip hasil penelitian siapa atau yang mana untuk mendukung opini saya itu, jadi saya selama ini hanya meyakini saja karena demikianlah yang setidaknya saya rasakan. Saya merasa lebih bisa bekerja dengan baik setelah beryoga. Itu saja.

Namun, begitu saya ditanya seperti ini, saya mau tak mau harus mencari jawabannya dari berbagai literatur yang saya bisa temukan. Awalnya saya hanya bisa memberikan jawaban yang mengawang-awang. Semuanya mengandalkan perasaan, sensasi, dan subjektivitas melulu.

Saya baru menyadari bahwa memang ada penjelasan yang lebih ilmiah untuk itu. Dan itu saya temukan dalam uraian Andrea Rock, seorang jurnalis investigasi yang berhasil memenangkan sejumlah penghargaan bergengsi seperti National Magazine Award dan Investigative Journalist dan Editors Award. Dalam karyanya yang berjudul “The Mind at Night”.

Tulisan Rock membahas soal mimpi dan hubungannya dengan pengasahan kreativitas. Dikatakan oleh Rock bahwa:

One way to really tap into the creative potential of dreams is to train yourself to experience lucid dreaming – that is, to realize you’re dreaming while you’re dreaming, and to stay asleep.

If you can do this, you might be able to then take control of your dream and do things that you can’t do while you’re awake, like take to the sky and fly.

This isn’t always possible, but there are a few techniques to increase you chances.

While you’re awake, stop from time to time to ask yourself whether what you’re seeing is reality or a dream. This will make it easier to raise this question in your dream without waking up, which is the key trigger to achieving lucidity.”

[Terjemahan bebas: Salah satu cara untuk menggali potensi kreatif mimpi ialah dengan melatih diri kita untuk mengalami mimpi secara jernih dan sadar – maksudnya, dengan menyadari bahwa kita sedang bermimpi saat kita tengah bermimpi dan tetap terlelap.

Jika Anda bisa melakukan ini, Anda mungkin bisa mengambil kendali atas mimpi Anda dan melakukan hal-hal yang tidak bisa Anda lakukan saat terjaga, seperti melambung ke angkasa dan terbang.

Ini memang tidak selalu mungkin tetapi terdapat sejumlah teknik untuk meningkatkan peluang untuk bisa mencapai kesadaran saat bermimpi.

Saat Anda terjaga, berhentilah dari waktu ke waktu untuk bertanya pada diri Anda sendiri apakah yang Anda saksikan itu kenyataan atau mimpi. Dengan melakukannya Anda akan lebih mudah untuk memunculkan pertanyaan yang sama dalam mimpi Anda tanpa harus terbangun, yang menjadi kunci untuk dapat mencapai kesadaran.”]

Kemudian pertanyaan saya, setelah kita tahu bahwa kreativitas yang lebih tinggi bisa dicapai dengan mencapai kesadaran (lucidity) sepanjang kita bermimpi, bagaimana yoga bisa membantu kita menjangkau dan mempertahankan level kesadaran semacam itu? Ini karena sulit sekali membangunkan kesadaran diri kita selama kita bermimpi. Kebanyakan manusia hanya akan membiarkan dirinya terhanyut dalam isi mimpinya, entah itu menyenangkan atau mengerikan atau menyedihkan. Mereka terlarut dalam emosi yang mendominasi mimpinya. Padahal saat emosi terlalu menunggangi pikiran, kesadaran sejati justru tertidur.

Dalam latihan yoga, kita biasa menemui istilah “awareness” atau kesadaran dalam instruksi-instruksi guru. Kesadaran ini memang wajib senantiasa dilatih selama beryoga, dan juga dalam kehidupan sehari-hari. Karena tanpa kesadaran, kita bakal cenderung larut dalam roda rutinitas sehari-hari. Dan inilah mengapa orang kerap berceletuk,”Waktu berjalan cepat ya?” atau “Rasanya hari/ minggu/ bulan ini cepat sekali berlalu.” Ini bisa terjadi karena orang selalu bergegas, tergesa, hingga tanpa sadar terseret dalam emosi dan pikiran keseharian yang kurang membekas dalam benak. Karena itulah, kesadaran perlu sekali dijaga dalam melakukan aktivitas apa saja.

Savasana atau pose mayat yang sering dijadikan pose penutup dalam latihan yoga serta teknik yoga nidra yang mengiringinya juga menurut saya juga ada manfaatnya dalam melatih kesadaran kita untuk membedakan mana mimpi dan kenyataan. Dan justru menurut saya pose mayat inilah yang paling menantang di antara pose-pose yoga lainnya sebab dalam pose ini seorang praktisi yoga mesti merilekskan tubuh fisik dan pikiran serta jiwanya secara menyeluruh, tanpa kecuali tetapi tidak melepaskan kesadaran begitu saja. Kesadaran sepanjang melakukan savasana idealnya terus terjaga. Dan inilah tantangan terberatnya: bagaimana pikiran kita tetap terjaga di ambang batas kesadaran dan tidak terseret dalam relaksasi sampai tidur nyenyak dan mendengkur. Dengan alasan tersebut, saya kurang setuju jika sebagian orang (terutama mereka yang pemula) berseloroh bahwa savasana adalah pose favorit mereka karena paling mudah dilakukan. Tinggal berbaring di lantai dan tidur pulas. Tunggu, itu tidur biasa, bukan savasana yang dimaksudkan dalam yoga.

Secara lebih rinci, kita perlu mengetahui perbedaan antara relaksasi dalam savasana versus tidur dalam pengertian yang dipahami khalayak umum. Swami Satyananda Saraswati dalam “Yoga Nidra” terbitan Bihar School of Yoga tahun 1976 menyatakan bahwa relaksasi tidak berarti tidur. “Relaksasi artinya kebahagaiaan sejati; ia tidak memiliki akhir. Saya menyebut kebahagiaan sebagai relaksasi mutlak; tidur ialah aktivitas yang berbeda sama sekali. Tidur hanya memberikan istirahat bagi pikiran dan indra kita. Kebahagiaan merilekskan atma, jiwa dalam diri ini; itulah kenapa, dalam tantra, Yoga Nidra ialah gerbang menuju Samadhi,” terang sang guru panjang lebar.

Kemampuan kita mengatur napas dan raga menurut saya menjadi penentu penting dalam melatih kesadaran sepanjang bermimpi. Dalam mimpi tentunya kita akan kehilangan kendali terhadap napas dan raga kita. Dalam kenyataan, kita memiliki kemampuan mengendalikan keduanya. Indra-indra aktif sehingga kita bisa merasakan sakit, nyeri, lega dengan nyata. Jadi, saat kita melakukan latihan yoga, kita coba saja untuk melakukan teknik pranayama dan asana dengan terus menerus menjaga kesadaran. Jangan lengah sedikitpun dengan menanyakan “apakah ini mimpi atau kenyataan?”.

Saat kita sudah terbiasa dengan pemeliharaan kesadaran dalam berlatih yoga, hingga dalam setiap kegiatan yang kita lakukan sehari-hari, akan lebih mudah juga untuk mengasah kemampuan untuk menyadari bahwa kita sedang bermimpi saat masih dalam mimpi. (*)

Anomali Bernama Baduy (10)

Screen Shot 2017-06-01 at 13.16.15
(Foto: Tim Geo Tour)

PLASTIK YANG MENGGELITIK. Jika Anda memiliki kesukaan untuk berperilaku aneh, biasanya Anda akan dihapal oleh orang-orang di sekitar Anda. Dan demikianlah yang terjadi di situ juga. Siang itu setelah sesi yoga dan salat zuhur di alam terbuka di tepi sungai perkampugan Baduy Luar, saya menyempatkan diri untuk berfoto dengan dua anak laki-laki Baduy Dalam yang membawakan barang-barang beberapa orang: Aceng dan Damin.

Mereka berdua tidak banyak berekspresi. Aceng dan Damin hanya bermimik muka datar saat saya ajak berfoto bersama. Saya berdiri di belakang mereka dan melakukan pose yoga bernama durvasana yang menurut saya ‘praktis’ karena tak mesti mencari tempat yang bersih atau rata. Cukup dengan berdiri tegak lalu menaikkan satu kaki ke belakang kepala, saya sudah bisa mencapainya.

Amor, teman saya yang saya titipi untuk menjepret kami bertiga, duduk dan berancang-ancang memberikan aba-aba. Saya fokus ke ponsel berkamera saya dan memasang senyum lebar. Dalam tiga kali jepret, saya amati Damin lebih salah tingkah daripada Aceng. Aceng lebih alami dan tidak setegang sahabatnya itu dalam berpose. Damin lebih pemalu dan cenderung mengarahkan pandangannya ke bawah, ke tanah tempat dedaunan mati berserakan tanpa pernah tersapu.

Selain rombongan kami, di sana juga duduk sejumlah penjual makanan dan minuman instan sebagai pengisi tenaga kami yang sudah kepayahan mendaki. Sebenarnya saya agak menyayangkan masuknya makanan dan minuman instan semacam itu ke daerah ini. Pasalnya makanan dan minuman semacam itu terbungkus dalam kemasan plastik, yang pasti menimbulkan gunungan atau ceceran sampah plastik di mana–mana. Dan jika makanan instan berkemasan plastik sudah hadir di sebuah daerah di Indonesia, kita bisa pastikan tingkat kebersihannya sudah menurun.

Perjalanan kami akan dimulai lagi ke kampung Baduy Dalam. Harry dan Johar meminta kami semua memperhatikan sampah-sampah yang kami hasilkan sepanjang kami singgah di tepi sungai. Pokoknya jangan sampai dibiarkan begitu saja mengotori lingkungan Baduy Luar ini. Penanganan sampah di sini ternyata sederhana, hanya dikumpulkan dalam sebuah kantong (plastik pula) untuk kemudian dibakar, demikian kata pemandu perjalanan kami, Teguh.

Mendengar jawaban ini, Johar dan saya sebenarnya tersentak juga. Johar berusaha menolak pembakaran sampah kami tetapi saya tahu ia tidak memiliki ide penanganan lain yang lebih masuk akal dan realistis. Apa boleh buat, kami pun tak bisa berbuat apa-apa. Saya juga cuma bisa membisu.

Melontarkan ide daur ulang sampah plastik itu tampaknya juga akan membutuhkan tindak lanjut yang panjang dan kompleks. Itu memang idealnya. Tetapi di sana saat kondisi itu, rasanya tidak mungkin dengan pongah dan idealis saya berkata,”Jangan dibakar. Daur ulang saja.” Saya sadar setelah memberikan saran semacam itu, bakal harus ada penjelasan yang lebih pelik dan pengajaran yang konkret. Berbicara sungguh mudah.

Kami pun mendaki kembali siang itu. Kami lewati ladang-ladang di perbukitan tinggi yang bermandikan sinar matahari yang teriknya tidak terbendung awan. Dan persoalan sampah plastik yang menjadi isu laten itu agak terlupakan. Namun, sejujurnya dalam hati saya tetap resah juga.

Hingga saat jaro (kepala adat di kampung) perkampungan Baduy Dalam yang kami singgahi bertandang ke beranda rumah pagi itu setelah kami menyantap sarapan pagi. Salah satu pertanyaan yang dilancarkan kepadanya juga tentang penanganan sampah plastik di kampung.

“Bagaimana penanganan sampah plastik yang dibawa oleh pendatang ke sini (kampung Cibeo)?” tanya Johar pada sang jaro.

Saya sendiri sudah menduga jawabannya setelah menyaksikan adegan di hari sebelumnya saat kami hendak berangkat mendaki setelah beryoga di tepi sungai.

“Sampah plastiknya kami kumpulkan untuk dibakar. Daripada berserakan,” ucap jaro yang bijak itu tenang.

Pengumpulan sampah plastik memang sudah relatif baik di kampung ini. Di depan beranda setiap rumah, ada sebuah anyaman bambu yang bentuknya mirip ember dan ternyata difungsikan sebagai pengumpul sampah. Dan karena para pengunjung di akhir pekan ramai, saat saya saksikan sampah begitu memenuhi wadah tadi. Dan kebanyakan adalah sampah kemasan makanan dan minuman instan.

Jaro mengakui bahwa masyarakat dan para tetua adat di kampungnya belum memiliki suatu skema penanganan sampah plastik yang terpadu dan sistematis. Saya bisa memakluminya karena sampah plastik sejatinya masalah luar yang diimpor ke dalam. Tentu mereka tidak memiliki sumber daya untuk menghadapinya. Mestinya orang-orang luar Baduy-lah yang tahu diri untuk tidak membawa sampah plastik dalam bentuk apapun ke dalam.

Kami pun mengusulkan agar warga Baduy Dalam jangan sampai disusahkan dengan penanganan sampah plastik itu. Membakar sampah plastik itu saja sudah suatu tindakan penghasil pencemaran udara. Dan patut dicamkan juga bahwa asap hasil pembakaran plastik mengandung racun yang tidak hanya berbahaya buat manusia yang ada di sekitarnya tetapi juga pastinya ekosistem alami Baduy yang relatif masih terjaga.

Di sekitar perkampungan Cibeo itu saya memang tidak sempat menemukan lokasi pembakaran sampah plastik tetapi saya duga pastinya ada. Hanya saja lokasinya tersembunyi jauh dari perkampungan.

Jaro menampik halus usulan solusi kami, mengatakan bahwa mereka tidak tega membuat pengunjung kerepotan dengan mengurus dan membawa sampah plastik lagi. Saya kemudian ingat bahwa orang-orang Baduy Dalam ini begitu ramah dalam memperlakukan kami saudara-saudara mereka dari luar. Mereka mendahulukan tetamu sebelum menyantap dan meneguk apapun. Dan soal sampah plastik, mereka juga segan menegur pengunjung luar untuk mengurus soal itu sendiri. “Kami tidak tega dan tidak ingin merepotkan jika mengingatkan,” terang jaro.

Warga Baduy Dalam juga kurang memiliki ketegasan dalam menghadapi para penjual makanan dan minuman instan dari luar sehubungan dengan sampah plastik yang dihasilkan dari kegiatan niaga mereka dengan turis-turis di sini.

Seperti seorang pria pedagang mi instan dan minuman sachet yang sekonyong-konyong menghampiri saya setelah beberapa saat menyaksikan saya bersantai di beranda setelah trekking yang melelahkan.

Dalam bahasa Sunda yang saya kurang pahami, ia bercakap-cakap dengan Damin dan Aceng sembari sesekali terkekeh memandangi saya. Saya menduga ia ingin memastikan pada Aceng dan Damin bahwa saya adalah orang yang berfoto dalam posisi berdiri di satu kaki dan menaikkan satu kaki di belakang kepala. Orang yang aneh, langka dan hanya satu-satunya ada di rombongan turis lokal yang ia jumpai hari itu.

Begitu ia yakin saya adalah orang yang ia ingat, pria itu mendekati saya tanpa meninggalkan beranda yang ia duduki di rumah seberang. Tetapi kali ini kami berhadap-hadapan lebih dekat.

Tanyanya pada saya kemudian,”Mas, biasa olahraga ya?”

Saya terbengong-bengong, tidak menyangka akan disuguhi pertanyaan seperti itu. Saya sudah biasa menghadapi pertanyaan ini di Jakarta tetapi di sini saya sama sekali tidak menduga ada yang tertarik dengan yoga.

“Ya, mas. Sudah biasa. Hehe,” tukas saya, mencoba beramah tamah dengannya. Saya mencoba mempertahankan aliran percakapan,”Tinggal di sini?”

“Tidak. Saya dari kampung luar sini,” dalam bahasa Indonesia yang berakses Sunda ia menjawab singkat. Pakaiannya memang menunjukkan ia bukan warga Baduy Dalam. Ia memakai kaos jersey sebuah klub sepakbola negeri asal pizza. Celananya jeans biru tua yang bisa ditemukan di toko-toko pakaian di pasar-pasar tradisional atau toko pakaian di Lebak.

Pria ini ialah salah satu orang dari rombongan pedagang yang mengiringi kami selama trekking. Mereka juga berjalan kaki di bawah sengatan mentari, sampai kulit legam dan berkilau.

Masyarakat Baduy Dalam di kampung Cibeo ini terbilang relatif terbuka daripada kampung Baduy Dalam lainnya. Mereka membuka diri terhadap kunjungan orang luar dan bahkan menganggap kedatangan mereka sebagai berkah, bukan bencana. Pariwisata budaya ini mereka jadikan sumber penghasilan yang bisa memacu kesejahteraan.

Hanya saja, seperti tren pariwisata pada umumnya, eksploitasi berlebihan menjadi momok yang menakutkan. Dan di sini mereka belum memikirkan kemungkinan terjadinya kerusakan yang berpotensi muncul dan mengganggu keseimbangan ekosistem alam sekitar dan kondisi keseluruhan masyarakat di dalamnya.

Masyarakat Baduy Dalam di sini belum memahami batas tipis antara pariwisata massal dan ekoturisme. Yang pertama lebih berorientasi kuantitas dan volume dan bersifat eksploitatif tanpa kendali. Yang kedua lebih beretika, terkontrol, terencana, tidak serampangan dan mengindahkan kelestarian dan daya dukung lingkungan sekitar.

Klaim saya ini terbukti setelah kami secara spontan menanyakan dan mengusulkan adanya peraturan kuota yang diberlakukan segera agar kampung tersebut tidak diluberi wisatawan secara berlebihan. Layaknya orang berkunjung ke sebuah tempat suci untuk berziarah seperti berhaji, diperlukan pembatasan jumlah orang luar yang memasuki wilayah tersebut agar ketertiban dan kebersihan kampung tetap terjaga.

Masyarakat Baduy Dalam masih memerlukan masukan dari kita mengenai solusi-solusi yang baik untuk memaksimalkan upaya-upaya dalam memanfaatkan potensi wisata budayanya sambil memelihara kelestarian dan kemurnian budaya dan alam sekitarnya. (bersambung)

Cara Mengajarkan Menulis dalam Bahasa Asing

Menulis itu suatu seni, dan mengajarkan seni diperlukan seni tersendiri juga. (Foto: Wikimedia)

Anda mungkin bisa menulis dengan baik tanpa harus menjadi penulis buku. Karena ada begitu banyak hal yang perlu kita komunikasikan dalam kehidupan ini, tanpa harus melalui medium buku dan sejenisnya.

Pertama-tama, apakah itu menulis? Pada dasarnyam menulis ialah sebuah kegiatan literasi yang berkaitan dengan pikiran. Ia mencakup proses belajar, dengan tujuan menyempurnakan pemikiran seseorang, dan untuk mempengaruhi pemikiran orang lain. Menulis ialah kunci dalam komunikasi terutama di era melek huruf dan digital seperti sekarang. Manusia abad ke-21 adalah makhluk yang lebih banyak berkomunikasi lewat teks daripada para pendahulu mereka. Kita menggunakan media digital untuk menyampaikan apa saja dan semua itu lebih banyak dalam bentuk tulisan.

Menulis, meski bukan satu-satunya aspek dalam pendidikan, dapat dikatakan sebagai salah satu fondasi terpenting dalam pendidikan dasar hingga menengah dan tinggi. Bahkan setelah seseorang sudah meninggalkan bangku kuliah, ia akan terus memerlukan keterampilan menulis tersebut di berbagai kesempatan. Buktinya orang dewasa yang sudah melampaui usia sekolah masih saja terus belajar bahasa dengan beragam tujuan tetapi intinya ialah agar mereka dapat meraih kesempatan yang lebih luas dalam era persaingan tenaga kerja di era globalisasi yang makin sengit persaingannya ini.

Keterampilan menulis makin dibutuhkan saat ini. Kita makin banyak disuguhi informasi dengan begitu banyaknya informasi yang mengalir di Internet dan media konvensional. Dan setelah menyerap semua itu, kita diharapkan juga dapat memberikan respon atau tanggapan. Semua orang bisa memberikan tanggapan secara lisan tanpa harus banyak berpikir. Tetapi untuk menulis sebuah tanggapan yang runtut, sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan (karena makin banyak orang menulis dan tidak sadar mereka harus bertanggung jawab untuk itu, sebut saja penulis berita bohong alias hoax), tidak semua orang bisa melakukannya. Diperlukan kerja keras intelektual yang lebih besar dan waktu yang lebih panjang untuk menyiapkannya, menyuntingnya hingga sampai ke penayangannya ke publik luas. Tidak semua orang sesabar dan segigih itu.

Untuk mengukur baik buruknya keterampilan menulis sebetulnya mudah, yakni bagaimana kita bisa mengetahui mudah tidaknya sebuah gagasan dalam tulisan ditransfer dari benak penulis untuk kemudian dipahami oleh orang lain. Tulisan tersebut juga harusnya disusun secara teratur, terorganisir dan sistematis sehingga dapat dimengerti siapa saja yang membacanya. Hal ini selaras dengan pendapat Orson Wales yang berkata:”Jika seseorang tidak bisa menulis dengan baik, mereka juga kurang bisa berpikir dengan baik juga.” Dan parahnya jika kita sendiri tidak bisa berpikir untuk diri kita, orang lain yang akan berpikir untuk kita. Dengan kata lain, orang lainlah yang akan menjadi pemikir bagi kita dan dengan demikian kita hanya akan menjadi pengikut, ibarat seekor domba yang mau saja digiring oleh pemiliknya ke mana saja, bahkan ke jurang atau rumah jagal sekalipun. Karena itulah, menulis sangat penting.

Menulis juga bisa menjadi suatu tolok ukur untuk menguji seberapa dalam pemahaman seseorang tentang sebuah topik atau permasalahan. Jika seseorang bisa dengan lancar dan sistematis menuangkan informasi atau pengalaman atau apapun yang ia ingin sampaikan dalam bentuk tulisan yang runtut dan sistematis, biasanya dapat dipastikan pemahamannya soal isu atau masalah yang ia tulis itu juga lebih baik daripada mereka yang hanya bisa berkomentar singkat atau menulis status yang cuma 100-200 kata panjangnya.

Orang cerdas tanpa kemampuan menulis yang memadai juga akan sulit menyampaikan pengetahuan dan pendapatnya yang berharga itu ke khalayak yang lebih luas lagi. Hal ini dibuktikan dalam sebuah survei yang menyatakan bahwa lebih dari 50% mahasiswa Korsel yang sukses masuk dan menjalani perkuliahan di kampus-kampus bergengsi yang terkenal dengan sebutan “Ivy League” harus menelan pil pahit. Di tengah jalan mereka terpaksa keluar atau berhenti sebelum bisa lulus. Padahal kalau kita cermati, di jajaran negara-negara maju (OECD) , Korsel adalah salah satu negara dengan pencapaian mutu SDM yang paling mengagumkan. Prestasi akademik anak-anak sekolah Korsel melesat melampaui AS dan Inggris yang dianggap kiblatnya pendidikan global. Skor-skor anak-anak Korsel di atas rata-rata dan bahkan mereka sanggup mengerjakan soal yang jauh lebih sulit daripada soal yang biasa dikerjakan anak-anak seusianya di negara-negara maju lainnya. Lalu apa sebabnya anak-anak Korsel yang ‘cerdas’ itu gagal di pendidikan tinggi mereka? Ternyata pendidikan yang terlalu mengejar skor seperti di Korsel itu kurang mendukung bagi pengembangan keterampilan berpikir kritis yang vital dalam proses menulis. Mereka hanya diajarkan untuk menyerap dan menyerap tanpa diberi kesempatan menanggapi, entah itu menolak atau menerima atau menerima dengan syarat/ alasan tertentu. Mereka kehilangan kesempatan untuk menyuarakan pikiran dan pendapat mereka karena sudah dibentuk menjadi ‘robot penghapal’. Dan sejujurnya Korsel bukan satu-satunya negara dengan pendidikan pengejar skor. Banyak pendidikan di negara-negara Asia masih berhaluan sama, termasuk juga Indonesia. Anak-anak sekolah hasil didikan sistem pendidikan Asia lazimnya kesulitan beradaptasi dengan sistem pendidikan Barat terutama AS karena di sekolah-sekolah Amerika itu keterampilan menulis dibutuhkan di beragam mata kuliah, bahkan bagi mereka yang tampaknya jauh dari bidang bahasa dan sastra sekalipun masih ada tuntutan untuk bisa menulis makalah atau tesis dengan sistematis. Akibat ketidakmampuan menulis sangatlah kompleks, misalnya ketidakpercayaan diri di kelas, terlambat mengumpulkan tugas, komunikasi yang buruk dengan dosen, dan yang terparah, jika amat terdesak, anak didik yang sudah putus asa bisa melakukan pelanggaran akademis serius seperti mencontek dan meniru tulisan orang lain alias plagiarisme. Jadi, sekali lagi, para pelaku plagiarisme kadang bukan anak-anak yang pandir. Mereka terkadang memiliki intelejensia yang tinggi tetapi sayangnya masih memiliki keterampilan menulis yang kurang.

Tantangan dalam Mengajar Menulis

Begitu banyak tantangan yang kita jumpai dalam menulis. Di antaranya yang paling banyak dijumpai ialah kurangnya waktu yang disediakan, kurikulum pengajaran yang terlampau rumit, dan ketiadaan struktur yang jelas dan mudah dipahami.

Tantangan akan makin besar jika kita membicarakan soal pengajaran keterampilan menulis dalam bahasa asing. Misalnya bahasa Inggris. Hal ini karena kebanyakan anak didik dibesarkan dalam suatu lingkungan yang secara alami kurang mendukung. Keluarga dan teman-teman mereka mayoritas bukan penutur asli (native speaker) dari bahasa yang mereka pakai untuk menulis. Jadi, dengan kata lain, tantangannya lebih berlapis-lapis dari mereka yang belajar menulis dalam bahasa ibu (first language). Akhirnya, beban itu harus disangga oleh guru-guru bahasa sendirian. Dan ini konyol karena tentu tidak bisa memasrahkan perkembangan penguasaan berbahasa asing pada satu pihak saja. Diperlukan sinergi yang solid untuk bisa memaksimalkan proses belajar anak, yang justru lebih banyak di luar ruangan kelas.

Santai Itu Penting

Saat mengajarkan menulis, ada baiknya pengajar atau guru menghindari melabelinya sebagai sebuah kelas atau kursus atau kuliah. Mengapa? Karena menulis pada hakikatnya sudah terintegrasi dalam berbagai bidang atau disiplin ilmu lainnya.

Pentingnya Instruksi Menulis yang Baik

Instruksi menulis yang baik terdiri dari bahasa yang universal dan konsisten. Dengan kata lain, bahasa yang digunakan dalam pengajaran menulis idealnya memakai istilah-istilah yang disepakati bersama dan seragam sehingga siapa saja yang mengajarkan dan belajar akan bisa berkomunikasi dengan efisien. Dengan memakai bahasa yan sama dalam mengajarkan menulis, diharapkan juga pesan yang tersampaikan ke anak didik menjadi lebih konsisten.

Elemen-elemen Instruksi Menulis yang Baik

Terdapat lima elemen penting dalam menyusun instruksi menulis yang baik. Elemen-elemen tersebut ialah:

  1. Ide
  2. Pengaturan/ organisasi
  3. Suara
  4. Pilihan kata/ diksi
  5. Kelancaran kalimat
  6. Konvensi

Elemen pertama, ide, berkaitan dengan topik dan pemahaman mendetail soal aksi, pikiran, dan perasaan. Secara keeluruhan, ide ialah pesan yang kita hendak sampaikan melalui tulisan kita pada orang lain. Singkatnya, ide ialah gagasan menarik yang bisa disuguhkan ke audiens.

Elemen kedua yakni organisasi atau pengaturan. Untuk itu perlu dipakai kata-kata yang menunjukkan urutan, sehingga jelas mana yang awal dan akhir. Pemakaian elemen kedua akan menunjukkan progresi yang jelas dalam menyusun ide tulisan. Tanpa progresi, tulisan akan terkesan berputar-putar tidak tentu arah. Karenanya, model penulisan tiga babak yang mencakup pembuka, isi dan penutup ialah model yang universal dan wajib diingat dan diamalkan dalam menulis.

Suara (voice) ialah mengenai cara untuk menggunakan tujuan. Di sinilah terletak sikap, opini, energi dan kepribadian penulis yang menjadi inti yang bisa menarik pembaca. Suara inilah yang unik dan bisa membuat ide yang terkesan biasa dan membosankan terkesan lebih menarik, hangat, menggairahkan, bahkan seru untuk diikuti.

Diksi atau pilihan kata ialah bagaimana memilih kata-kata dengan jeli dan tepat untuk menyampaikan kisah yang ingin Anda sampaikan. Diksi biasanya menggunakan kata-kata yang deskriptif sehingga pembaca seolah bisa menyaksikan sesuatu yang digambarkan penulis dalam kata-katanya. Diksi yang sesuai akan mengemas ide sedemikian rupa sehingga lebih mengena ke hati pembaca.

Kelancaran kalimat ialah bagaimana seorang penulis menggunakan kalimat dalam panjang, urutan dan struktur yang bervariasi tetapi tetap menunjukkan kemulusan dalam narasinya. Di dalamnya juga tercakup naik turunnya nada ujaran. Karenanya, penulis yang baik mesti bisa merangkai kalimat dalam berbagai jenis sesuai kebutuhan dengan tujuan akhir untuk menarik minat pembaca meneruskan sampai akhir tulisan.

Konvensi meliputi aturan-aturan yang menentukan apakah sebuah tulisan bisa dikatakan baik atau tidak. Aturan-aturan ini adalah kesepakatan bersama yang dihasilkan oleh para petinggi, akademisi, atau kalangan tertentu yang dianggap sebagai otoritas, panutan, pengalaman atau kekuasaan yang lebih. Dan karena ini bersifat subjektif dan bervariasi, perbincangan dan perdebatan soal konvensi seakan tiada habisnya dari waktu ke waktu. Maka jangan terlalu menghabiskan energi di aspek ini saja dalam mengajarkan menulis. Sejumlah konvensi yang kita pakai dalam proses menulis misalnya kapitalisasi, ejaan, pemakaian tanda baca, tata bahasa, dan sebagainya.

Jenis Teks

Jenis teks dalam menulis mencakup Naratif, Informatif/ Penjelasan, dan Opini atau Argumentasi. Naratif ialah suatu kisah yang ditulis dengan berdasarkan perspektif atau sudut pandang tertentu. Seringkali isinya ialah pengalaman pribadi.

Sementara itu, Informatif/ Penjelasan memiliki banyak bentuk. Jenis ini menggunakan serangkaian fakta yang dipakai untuk menerangkan dan menyampaikan sebuah pesan yang lebih besar. Jenis teks semacam ini bisa dijumpai dalam makalah akademik, paper penelitian, buku manual.

Jenis Opini atau Argumentasi menunjukkan perasaan atau pemikiran penulis mengenai suatu isu atau tema. Dalam penulis opini, seorang penulis mesti bersikap jelas dan tegas soal pendirian dan sikapnya terhadap isu yang ia pilih. Tulisan semacam ini bisa membujuk lebih banyak orang untuk mengadopsi cara berpikir, pendapat atau sikap penulis secara lebih luas.

Proses Menulis

Dalam proses menulis, kita perlu mengingat dan menerapkan keenam elemen menulis yang vital tersebut. Adapun proses menulis mencakup lima fase utama:

  1. Pramenulis
  2. Menyusun draft
  3. Revisi
  4. Penyuntingan
  5. Penerbitan

Menulis bukanlah proses instan. Diperlukan proses yang panjangnya bervariasi tergantung kerumitan, jenis topik yang dibahas, tujuan penulisan dan banyak hal lainnya.

Model Workshop

Model workshop ini dimaksudkan untuk mendukung proses menulis. Model workshop yang dimaksud di sini mencakup:

  1. Pelajaran singkat harian
  2. Modeling/ meniru
  3. Pilihan
  4. Menulis mandiri
  5. Berbagi/ konferensi

Dalam pembelajaran menulis dengan menggunakan bahasa asing, murid akan didorong untuk menggunakan bahasa asing sebanyak mungkin dengan temannya selama menulis. Misalnya, sebelum menulis atau selama proses menulis sebuah tulisan berbahasa Inggris, siswa didorong untuk juga berdiskusi secara lisan dalam bahasa tersebut. Dengan demikian, mereka akan lebih siap menulis daripada jika diskusi dilakukan dalam bahasa ibu. Penitng juga bagi murid untuk diberikan waktu bekerja sendiri dan bekerja bersama murid lain. Dalam grup kecil, mereka bisa bekerja sama untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan masing-masing.

Komprehensif

Perlu dipahami bahwa instruksi menulis yang baik haruslah bersifat komprehensif. Untuk bisa komprehensif, perlu ditekankan jenis teks yang penting dalam meraih keberhasilan akademik di bangku kuliah dan karier.

Mengajarkan menulis dan membaca secara terpisah juga membuat kemampuan menulis sulit berkembang. Keduanya mesti disatukan secara beriringan dalam proses pembelajaran menulis. Cara untuk mengajarkan kemampuan membaca dan menulis sekaligus dalam satu kegiatan misalnya dengan menyuruh murid untuk membaca beragam teks kemudian menganalisis secara cermat dan kemudian menyusun tanggapan dalam tulisan. (bersambung)

Disarikan dari paparan Andy Shafran (Vice President ) dalam “How to Teach Writing to Young EFL Students from Beginners to Advanced Levels” dari International Businesses of Highlights of Zaner Bloser (Educational Publisher)