Parpol di Pemilu 2019: Memang Masih Bisa Dipercaya?

M.U.A.K.

Cuma itu satu kata dari saya setelah selama ini mengikuti bagaimana perkembangan politik Indonesia beserta tingkah polah petinggi-petinggi parpol, DPR, dan segerombol politisi yang sudah menjabat sebagai kepala daerah dan tertangkap tangan KPK.

Jarang saya mau berbicara soal politik apalagi mengomentari polah ‘badut-badut’ di dalamnya. Karena tidak akan ada habisnya dan saya memiliki pekerjaan yang lebih penting daripada duduk membaca berita politik lalu berkomentar sinis soal perilaku politisi X atau munafiknya pejabat Y.

Di satu sisi saya juga sadar bahwa saya harus ikut berpartisipasi dalam pemilihan umum nanti. Bahwa saya memiliki kekuatan – meski demikian kecilnya – untuk membantu bangsa ini mencapai perubahan.

Hanya saja di sisi lain saya tahu benar bahwa saya tidak boleh membuat kesalahan yang sama. Apakah itu? Memilih parpol yang sama di masa lalu dan sudah terbukti tidak mampu menunjukkan kinerja tetapi malah haus kekuasaan, korup, busuk, dan mengkhianati rakyat yang sudah memilih.

INTINYA: Saya tidak bisa dan jangan sampai menjadi golput!

“Baiklah, kalau kesadaran itu sudah ada lalu bagaimana selanjutnya?” Tanya sebuah suara dalam tempurung kepala.

CORET DAN BLACKLIST PARPOL-PARPOL YANG SUDAH KAMU KENAL SELAMA INI.

Saya sangat amat percaya bahwa kita tidak bisa menyelesaikan masalah dengan menggunakan pola pemikiran dan orang-orang yang sama dalam membuat masalah.

Dengan kata lain, parpol-parpol dari rezim-rezim sebelumnya itu sudah memfosil dan tidak layak pilih. Sukar mengharapkan mereka membantu bangsa dan negara ini keluar dari masalah karena: MEREKA JUGA BAGIAN DARI MASALAH!

Selanjutnya, setelah menyingkirkan parpol-parpol yang sudah memiliki rekam jejak kotor di masa lalu, kita beralih pada tahap seleksi selanjutnya yakni: apakah parpol-parpol baru yang tersisa ini digawangi atau diperkuat oleh sekelompok barisan pecundang politik yang sakit hati karena kekalahan masa lampau dan mencoba peruntungan sekali lagi untuk berebut tampuk kekuasaan?

Karena itu, marilah duduk sejenak menyeleksi parpol-parpol yang akan bertanding tahun 2019 nanti.

Berikut sedikit data untuk menentukan pilihan yang saya temukan di sampul Koran Tempo tanggal 19 Februari 2018.

  1. Partai Kebangkitan Bangsa

Berdiri: 23 Juli 1998

Ketum: Muhaimin Iskandar

2. Partai Gerakan Indonesia Raya

Berdiri: 6 Februari 2008

Ketum: Prabowo Subianto

3. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan

Berdiri: 1 Februari 1999

Ketum: Megawati Soekarnoputri

4. Partai Golongan Karya

Berdiri: 20 Oktober 1964

Ketum: Airlangga Hartato

5. Partai Nasional Demokrat

Berdiri: 26 Juli 2011

Ketum: Surya Paloh

6. Partai Gerakan Perubahan Indonesia

Berdiri: 16 April 2015

Pendiri dan ketum: Ahmad Ridha Sabana

7. Partai Berkarya

Berdiri: 15 Juli 2016

Ketum: Neneng Tutty

Pendiri: Tommy Soeharto

8. Partai Keadilan Sejahtera

Berdiri: 20 April 2002

Presiden: Mohamad Sohibul Iman

9. Partai Persatuan Indonesia

Berdiri: 7 Februari 2015

Pendiri dan ketum: Hary Tanoesoedibjo

10. Partai Persatuan Pembangunan

Berdiri: 5 Januari 1973

Ketum: Muhammad Romahurmuziy

11. Partai Solidaritas Indonesia

Berdiri: 16 November 2014

Pendiri dan ketum: Grace Natalie

12. Partai Amanat Nasional

Berdiri: 23 Agustus 1998

Ketum: Zulkifli Hasan

13. Partai Hati Nurani Rakyat

Berdiri: 14 November 2006

Ketum: Oesman Sapta Odang

14. Partai Demokrat

Berdiri: 9 September 2001

Pendiri dan ketum: Susilo Bambang Yudhoyono

Yang mana pilihan Anda? Kalau saya sih RAHASIA. (*/)

Menelisik Fitartistik

Memang alam semesta memiliki alurnya sendiri. Tidak ada yang bisa dipercepat atau diperlambat. Semua sudah ada waktu dan jalurnya, layaknya benda-benda langit yang memiliki waktu edar dan garis orbitnya masing-masing.

Begitu juga dengan pertemuan saya dengan fitartistik. Sebetulnya dulu saya suka olahraga tetapi karena kebanyakan yang diajarkan di sekolah adalah jenis-jenis yang tidak saya suka dan saya juga tidak bisa (dari sepakbola, lari, voli, basket, sampai renang), saya jadi terkesan tidak suka bergerak. Padahal tidak.

Dan itu ada berkah tersendiri memang karena saat teman-teman sebaya saya yang dulu jago olahraga dan atletis mulai menggembul, saya justru mulai menemukan keasyikan tersendiri. Kenapa? Karena saya berolahraga bukan untuk nilai atau prestasi. Hanya sekadar ekspresi diri dan pemeliharaan kesehatan serta peningkatan produktivitas plus kualitas hidup.

Perkenalan saya dengan olahraga senam lantai yang ada kesamaan dengan gymnastik sebenarnya sudah lama, bahkan lebih lama dari perkenalan saya dengan yoga yang saya tekuni sekarang. Bisa dikatakan saya sudah tahu olah tubuh ini sejak di bangku sekolah. Saya ingat tiap kali guru olahraga saya sudah menyuruh ke aula untuk menggelar matras, saya merasa lega dan girang. Selamat tinggal bola-bola keparat ( saya buruk dengan olahraga apapun yang berkaitan dengan bola) dan selamat datang matras empuk yang meski berdebu tapi saya rela geluti berjam-jam.

Sayangnya senam lantai bukan fokus utama pelajaran pendidikan kesehatan jasmani (namanya kala itu). Ibaratnya saat itu hanya kesempatan untuk mencicipinya saja. Dengan tidak adanya tempat yang layak untuk berlatih, saya terpaksa melupakan minat saya.

Saat saya mengenal yoga, saya menyukainya juga atas dasar persamaannya dengan senam lantai dan juga karena tidak ada lawan yang harus dihadapi kecuali diri sendiri. Dengan demikian, intrik-intrik licik yang banyak ditemui dalam olahraga tim tidak akan ada di sini. Olahraga permainan saya akui memang bukan untuk saya, sebuah alasan yang juga dikemukakan Haruki Murakami saat memilih lari sebagai olahraganya yang utama. Mungkin karena kami sama-sama orang yang suka bekerja dengan kecepatan sendiri.

Dalam fitartistik yang saya baru kenal ini, saya juga menemukan keleluasaan itu: untuk berlatih sesuai dengan kemampuan dan kecepatan saya.

Yang membuat saya pertama-tama ingin mencoba fitartistik selain karena mirip gymnastik ialah karena penggagas sekaligus pelatih utamanya ialah Jonathan Sianturi. Kalau Anda besar di era 1990-an, namanya sudah tidak asing di kuping. Bisa dikatakan bahwa Jonathan adalah nama besar di dunia senam nusantara. Jadi, tekad saya bertambah bulat untuk mencicipinya.

Dan benar saja, saya menyukai fitartistik! Memasuki gedung senam di jalan Raden Inten, Duren Sawit, Jaktim Sabtu siang lalu, rasanya saya seekor ikan yang masuk kembali ke air setelah sekian lama terkurung di akuarium dan sebelumnya dipaksa hidup di darat sehingga memilih untuk mati suri hingga waktu yang tidak pasti. Dengan beryoga, saya mulai kembali berolahraga setelah sekian lama jeda dan setelah mengenal fitaristik, saya menjadi ingin berolahraga dengan lebih dinamis, tidak ‘terpenjara’ dalam mat saya.

Apa beda fitaristik dengan yoga dan gymnastik yang sudah kita kenal bersama? Yoga memiliki kandungan filosofis dan spiritual universalnya sendiri dan gymnastik menjurus pada olahraga kompetisi yang mengharuskan seseorang untuk berlatih keras, habis-habisan. Kalau belum capek, berarti belum maksimal latihan, kata Jonathan.

Menurut pria yang masih ramping dan lincah di usianya ke 47 tahun itu, fitartistik ia gagas dengan memahami kebutuhan untuk tetap bugar di masyarakat luas. “Tetapi bedanya di fitartistik, ada unsur plusnya. Yaitu fun!”ucap sang pelatih yang langsung mencap saya sebagai murid advanced (padahal handstand masih kepayahan). Militansi berlatih sampai tubuh benar-benar ‘hancur lebur’ yang biasa ditemui dalam pola latihan khusus atlet senam tidak akan ditemui di fitartistik. Justru Jonathan tidak segan menurunkan dosis latihan bila melihat pesertanya masih belum menguasai benar apa yang diajarkan baru saja. Seperti saat siang itu, ia mengajarkan kami enam gerakan untuk melatih beragam otot tubuh secara optimal. Ada enam gerakan yang diajarkan, yang berfokus membangun kekuatan bahu, tangan, otot core, kelenturan, daya ledak otot, dan sebagainya. Dan saat kami dinilainya masih belum menguasai gerakan, Jonathan memperlama waktu untuk tiap gerakan agar kami bisa dikoreksi dan lebih hapal gerakan.

Fitartistik ini kalau boleh saya definisikan sendiri ialah gymnastik yang lebih disesuaikan dengan kemampuan orang awam yang ingin sehat dan lebih fungsional. Maksud saya dengan ‘fungsional’ ialah saat berkegiatan sehari-hari, kita masih bisa melakukan apapun dengan baik. Tidak ada hambatan dan kendala gerak. Kasarnya, buat apa olahraga kalau angkat galon air saja masih menyuruh orang? Dan karena berolahraga bukan untuk prestasi, risiko cedera juga ditekan serendah mungkin.

Satu hal yang menarik dari fitartistik ialah adanya ruang untuk bereksplorasi. “Tidak ada batasnya, kalau Anda bisa lebih, silakan saja,” ujarnya. Jonathan mencontohkan jika seseorang bisa roll atau guling depan tiga kali, terus tambahkan jadi empat kali, dan seterusnya. Sangat menarik bagi kita yang menyukai tantangan, dengan syarat mesti tahu batas kemampuan agar tidak celaka.

Di sini, saya menemukan pendekatan-pendekatan yang baru bagi saya. Misalnya saat mencoba handstand, alih-alih diinstruksikan menendang-nendang ke udara sampai capek, kami digiring Jonathan dan asistennya Torik dan Dede yang atlet senam muda itu untuk tengkurap di platform busa empuk yang lumayan tinggi dan bergantian mengangkat satu kaki dengan kedua lengan menopang sebagian berat tubuh. Cara yang kontraintuitif bagi pelaku yoga tapi kenapa tidak?

Lebih lanjut Jonathan mengatakan,”Fitartistik bertujuan untuk menyehatkan. Lalu untuk apa sehat? Agar kita bisa melayani sesama,” tukasnya sedikit filosofis.

Apakah fitartistik bisa dilakukan siapa saja? Tentu. Bagi Anda yang bertubuh sehat tanpa luka dan cedera, silakan saja bergabung di tempat latihan fitartistik di Gedung Senam jl. Raden Inten Duren Sawit, Jaktim setiap Rabu (pukul 13:00) dan Sabtu (pukul 10:30). Siapa tahu kita bisa latihan bersama-sama. (*/)

“Bisik-bisik”: Storytelling ‘Telanjang Bulat’

Buku ini diberikan oleh penulisnya pada saya di suatu pagi sehabis yoga di Taman Suropati tahun 2013 (mungkin). Reda Gaudiamo, penulis yang juga penyanyi itu, mengamati mata saya dulu setelah saya setengah merengek,”Mbak, minta bukunya…”

Duh, setelah beberapa waktu saya sadar betapa norak permintaan itu. Seharusnya saya membelinya saja untuk mendukung proses kreatifnya. Pemikiran ini baru tercetus setelah saya lebih serius menjadi penulis. Okelah jika saya mau memberikan tulisan atau hasil karya intelektual secara gratis. Namun, bila ada orang yang secara sukarela berkata ia akan membarter karya saya dengan sejumlah uang, itu memupuk kepercayaan diri saya dalam berkarya. Sungguh. Di antara pembajakan yang tidak ada habisnya di Indonesia ( secara global juga tetapi di sini tergolong parah sekali), apresiasi semacam itu sungguh tiada ternilai. Jadi, kalau saya harus bicara pada diri saya di masa lalu yang merengek minta buku gratis itu, saya akan sergah,”Penulis juga butuh makan woy!!! Lagian lo pikir royalti dari buku itu senilai saham bluechip apa? Banyak dan ngalir terus?” Ya, kalau Indonesia sebagus itu sistem penerbitan dan regulasinya, bakal ada banyak penulis kaya raya dan tidak akan ada Tere Liye yang tempo hari menyemburkan ‘api’ kesumatnya ke seantero negeri terutama para aparat pajak yang memajakinya tanpa ampun.

Baiklah, kembali ke buku Reda.

Buku ini saya katakan kocak dan ringan tapi juga bermakna. Gaya ceritanya unik sebab pembaca tidak akan disuguhi narasi yang bertele-tele. Cerpen-cerpen di dalamnya disajikan secara minimalis. Cuma dialog yang akan pembaca temui dan nikmati.

Tanpa narasi, kerja pengarang juga lebih cepat sebetulnya. Ia tidak perlu menyusun kata-kata indah dan sastrawi untuk merekatkan dialog-dialog. Alasannya mungkin karena pengarang hendak merangsang daya imajinasi pembaca. Ia biarkan pembaca menebak-nebak siapa di balik setiap baris kalimat itu. Dan ini sangat amat mengasyikkan bagi saya.

Karena cuma ada dialog, jalan cerita juga mengalir begitu saja. Alami pokoknya. Tidak ada yang direkayasa terlalu pelik. Isi obrolan ialah isu-isu keseharian yang membumi. Bukan masalah semacam hidup mati atau apakah tujuan hidup dan bagaimana kehidupan pasca kematian. Kumcer ini, maka dari itu, bersifat amat ringan dan menghibur.

Tantangannya muncul begitu karakter ada lebih dari tiga. Selain pengarang kesulitan untuk menuangkannya, pembaca juga harus lebih jeli menerka-nerka.

Setelah menelusuri buku berukuran saku setebal 155 halaman yang bisa dihabiskan sekali duduk di kafe atau perpustakaan ini, saya selalu membayangkan Reda ke mana-mana dengan membawa perekam suara di kantong bajunya. Atau kalau tidak, ia memiliki kemampuan mengingat lontaran-lontaran menggelitik dari orang-orang yang ia jumpai yang kemudian ia bisa pakai di kumpulan cerpen alias kumcer ini.

Bagi Anda yang ingin menikmati kumcer bergaya unik ini, cobalah buka aplikasi email di ponsel Anda dan ketik beberapa patah kata lalu kirimkan ke redagaudiamo@yahoo.com. Siapa tahu masih banyak buku di gudang penerbitnya. Dan tentu jangan merengek di surel untuk mendapatkannya secara cuma-cuma. Dukunglah para penulis kita untuk berkembang. (*/)

How to Be an Influencer Without Being Fake

Many millenials are tempted to gain benefits from online fame. And that costs them more than they can imagine. (Wikimedia)

IT APPEARS EXTREMELY cool to be an influencer. You’re looked upon by almost everyone around you though you know deep down inside you’re just an ordinary person. You know what’s best in you and some people give acknowledgment for that. It gives you a boost in self confidence and life seems so much easier when you’re more known and thus respected by others.

I have some friends in the yoga world who I think deserve this title. They’re well-known in a certain circle. They may not be as famous as actors or worldwide entertainers. But still, they have their own audience. And if this audience is loyal and a given influencer can sustainably build warm  and sincere ties with them, it’s not impossible for the influencer to live a more established life in general instead of enjoying a brief taste of stardom and poof! Gone with the wind.

This very morning I read a concise story of an Instagram celebrity  told on Twitter by some account whose identity is anonymous but responded to warmly by its followers because it sounds so true and real. I felt so intrigued after that to write down a perspective of mine on this highly controversial subject.

Being a selebgram (a term they use to refer to a person with an online fame especially on Instagram), a 27-year-old good-looking young man with a decent, middle-class family background. I know it sounds too surreal like a soap opera plot that the young man – let’s call him Nick – turned from a modest young man living in a small town to an idol with a huge Instagram following. Essentially, he struggled so hard to climb up the social ‘Everest’ called Jakarta.  The path he took led him to a life he never thought of living. As a high-school graduate who failed to secure a high-paying job, he made a totally wrong choice by putting off his college. He at last graduated at 26 but that was kind of late for a fresh graduate to apply most jobs offered. As a consequence, he was trapped in debts yet still never hesitated to maintain the jetset lifestyle. He knew he wouldn’t succeed in conquering the demand of such  lifestyle so he used any tactics to survive. He finally ended up being a gigolo. He sold himself to a ‘sugar daddy’ (some call this kind of elder men ‘gadun‘). He then managed to stay afloat and funded his super expensive lifestyle as an online celebrity. But the next problem was he lost this sugar daddy to a close friend. And that meant he also lost his last financial support. At the end, his Instagram account was suddenly deleted.

A fake never succeeds…

Though a fake person who fail can still look as wise, successful and glamorous as really successful people, in actuality they may be as miserable as or even more pathetic as ordinary people without fame.

So what to do if we still want to be an influencer with fame and financial stability?

Build reputation organically

Put our best self out there and introduce ourselves to as many people as possible. Make them know what we do and what our true passions are.

This takes a great deal of time. This could be years or even longer. But that’s worth the wait.

Why?

Imagine a tree growing so slowly. That means its root also reaches more deeply into the soil. In time of storm, this proves helpful to wither any blowing wind coming. The tree won’t tumble too easily. Thanks to the deeply-penetrating root down there.

The same thing applies to online reputation. The virtual world allows us to be famous overnight but the thing is such instant fame doesn’t last forever and it is mostly about negativity (people tend to rave more about bad news than good news). It fades away eventually. Some very rapidly; some others gradually. There has much to be done to maintain this level of reputation.

Make use of our best talents and skills

Expenses for making our image up are not necessary if we already know our best strengths beforehand. That way, it’s easier for us to find focus in creating content and selecting a suitable niche. If we know our best talent is cooking, find a way to cook dishes or cakes that require ingredients that cost within our budget or, even better,  ingredients that any other parties would love to supply for free or at lower prices. This way, we can avoid unnecessary expenses and thus make more money in the process.

Devise a sustainable business model

Fame is the best asset but though it’s very invaluable, it’s also very easy to vanish and temporary by nature. One may become very famous one day and soon forgotten so easily once another star is discovered or after the public is fed up.

That said, it’s advisable that an influencer set up a proper business model. It’s a design for the successful operation of a business, identifying revenue sources, customer base, products, and details of financing. Earning money as an influencer looks effortless but actually it is not. One needs to compete against any other fellow influencers. This is necessary if one wants to make a stable living from being an influencer on social media. An influencer is a content producer and to produce great quality content s/he needs a sum of money. Along with money, it also takes expertise and creativity that never drains.

Dare to be yourselves

We might not give it a thought from the very beginning but are we ready to allow us to be ourselves later on? This is not an easy question to answer. Decide how much of ourselves can be exposed throughout our career as an influencer. Would we reveal almost everything of our private details to the rest of the world or would we retain most of privacy and only give out most profesionally relevant parts of our personal life to audience?

Build network and be humble

Once we rise to peak of stardom, it won’t hurt to stay down-to-earth along the way. Bear in our mind that to stay on top forever is impossible and it’s only made possible if we have a tightly-knit network and friendship. People with unfit personalities will soon meet their fall from top. That’s the universal law that applies also in the influencer world. (*/)

Investigative Journalism as the Future of Print Media

QUALITY JOURNALISM HAS not ended. It still survives despite the collapse of print media. Churnalists – pseudojournalists who sit and type like crazy in their comfortable cubicles days and nights until their backs ache and eyes redden- certainly always win the war of pageviews but it is journalists who work hard out there in field, in reality, to gather materials, write reports from scratch, and bear the risks of getting injured or harmed in the process.

When hoax and biased news run rampant like nowadays both in Indonesia and the world, pessimissm reigns, questioning whether our press organizations will eventually perish or survive the hardship.

I myself srongly believe that quality journalism will be still around after I met with Amarzan Loebis, an Indonesia senior journalist who opened up from A to Z about Investigative Journalism (from now on abbreviated as IJ).

Linguistically, the phrase IJ was derived from a Latin phrase ‘diurna vestigium’, meaning that it’s a sort of journalism which tracks down trails. IJ is notorius for its chaos-making nature. It’s meant to wake people up and open their eyes after reading.

IJ is obviously not intended for every newcomer. One must be patiently working his or her way up to the ladder. Bit by bit. “Experience is everything,” he emphasized. It therefore doesn’t matter much that one is from an outstanding academic background or certified as a journalist in an official journalism institution. What matters most is whether one has been doing the work for quite a long time well or not. Because according to Amran, in journalism seniority is determined by means of depth and maturity. “It’s not about one’s tenure in a certain position or post,” added Loebis. It’s definitely a hands-on kind of profession.

Some think Investigative Reporting and In-depth Reporting are two same things. But in fact, if we care to observe more, the two are dissimilar. Loebis pointed out this confusing misconception does exist. “In-depth Reporting springs out of curiosity,” he explained. A journalist writes an in-depth report in order to describe something, an important issue for public to learn and criticize.

Meanwhile, Investigative Reporting starts from suspicion. A journalist works with an investigative reporting method to expose something hidden, an issue that is not obvious or unknown by public but very crucial to the betterment of the society and state. Its objective is greater than financial gains and fame.

In the US, IJ has emerged since 1902 amidst social changes. It proved able to help shape the social structure. Businesswise, it also helped the media tycoons make a lot of profits.

In 1920s, investigative journalism associations mushroomed in the US.The trend was even achieving a new height after a number investigative reports were rewritten and published as literary works/ novels. Repackaging investigative journalism works was a tactic to make it timeless and more consumable to wider audiences, crossing geographical boundaries.

Though it is possible to launch an investigative endeavor on one’s own, naturally IJ is conducted in teams. This holds true especially when journalists are after an issue at a grand scale or involving prominent figures and their cronies. An IJ team consists of not only seasoned journalists but also newcomers as their faces are much less recognizable to the public (because senior journalists are presumably have appeared so often in public, making foes recognize them more easily).

IJ may always be oriented to the West (read: the US and UK) but IJ in the East (Asia) has actually made its appearance. The thing is its development was not well documented, making it less probable to track down.

Loebis showed his optimism that even under the amounting threat of online news outlets, IJ never fades away and has its own place. It is somehow irreplacable.

He sees opportunities for IJ in the epoch of internet. “IJ can be a golden opportunity for old-school media organizations to outlive the public forecast [that they would die sooner or later],” he underscored.

I understand that IJ is so hard to execute that only very few journalists willingly and indefatigably dedicate themselves to the pursuit of truth the hard way like this.

He likened IJ to ‘jihad’ or struggle. “IJ is a fighting journalism, which is born out of the spirit of resisting,” he defined. That said, those who work in this field have to be prepared for any possible risks.

“But thanks to the heavy and serious nature of IJ, most modern press accolades are intended for IJ works,” Loebis spoke.

It is no exaggeration, I suppose, when the jovial journalist concluded his talk by stating: “The future of Indonesia’s print media is IJ.” (*/)

Chris Dharmawan Orbitkan Seniman Jateng Lewat Galeri Semarang

DI KOTA LAMA yang kini menjadi areal pariwisata ramai di Semarang Utara, berdirilah sebuah galeri seni yang dikenal sebagai pengorbit seniman lokal potensial. Galeri Semarang – demikian namanya – menempati salah satu bangunan tua di sana dan kemudian direnovasi untuk dapat digunakan sebagai galeri seni kontemporer. Lokasinya dekat Gereja Blenduk yang menjadi landmark Kota Tua Semarang.

Beroperasi sejak 16 tahun lalu (2001), Galeri Semarang didirikan oleh Chris Dharmawan dan dua orang mitranya yang bernama Hendra dan Handoko. Mereka bertiga bersama menjalankan galeri itu sampai tahun 2005. Di tahun itu, dua rekan lainnya mundur dan membuat Chris menjadi satu-satunya yang bertahan mengelola galeri itu hingga detik ini. Dan meski latar belakang Chris bukanlah seni rupa atau lukis, ia tidak gentar menjalankan galeri itu. Ia mengaku sebagai seorang arsitek yang kebetulan memiliki passion besar di bidang seni.

Chris dengan tekun mengumpulkan dan menyeleksi karya dari komunitas seni lokal. Ia banyak berinteraksi dengan seniman-seniman muda dan berpotensi di wilayah semarang dan sekitarnya. “Jika saya lihat ada yang berpotensi, saya ajak ikut pameran,” ujarnya.

Ditanya soal kriteria seniman potensial yang layak diikutsertakan dalam pameran di galerinya, Chris menjelaskan bahwa seorang seniman harus memiliki teknik dan konsep. “Aspek lain ialah kepribadian seniman tersebut memenuhi syarat,” imbuh pria itu. Karena seniman juga sebuah profesi, ia juga memperhitungkan bakat artistik orang yang bersangkutan. Ia mengklaim dari seniman-seniman muda berpotensi yang ia angkat di galerinya, ada beberapa yang sudah mendulang kesuksesan.

Chris beruntung karena meskipun Semarang belum seaktif Jakarta atau Yogyakarta, di kota pesisir itu sudah ada sebuah institusi pendidikan yang menjadi pusat lahirnya seniman-seniman baru. “Di Semarang, ada jurusan Seni Rupa Unnes (Universitas Negeri Semarang -pen) yang menghasilkan banyak seniman.”

Ditanya soal jumlah seniman muda yang ia orbitkan ke dunia seni, Chris tidak yakin jumlah pastinya. Dengan frekuensi mengadakan pameran di galerinya dari enam sampai sepuluh kali dalam setahun, bisa ditaksir jumlah seniman muda yang karya-karyanya ia sudah tampilkan di galeri tersebut. “Dalam satu kali pameran, ada sekitar 5-7 seniman yang berpartisipasi. Jadi, bisa dikira-kira sendiri.”

Dalam urusan kurasi karya, Chris sengaja menyewa jasa kurator andal dan ia anggap cocok dan sukai. Ia tidak mengerjakan sendiri, apalagi ia berlatar belakang arsitektur.

Dengan kiprahnya selama belasan tahun ini, Galeri Semarang sudah diperhitungkan dalam arena seni Jawa Tengah dan sekitarnya. Buktinya ialah baru-baru ini galeri tersebut dipilih sebagai salah satu tempat perhelatan ajang bergengsi “Biennale Jawa Tengah”. “Ada empat bangunan peninggalan masa kolonial Belanda di Kota Lama Semarang yang menjadi venue acara tersebut, dan salah satunya Galeri Semarang ini,” terangnya mengenai event yang diramaikan seratus lebih seniman Jateng.

Chris membidik para seniman ‘muda’ yang lulus dari institusi-institusi seni lokal. “Istilah ‘muda’ memang subjektif, tetapi intinya mereka seniman yang masih berkarya aktif dan masih masuk kategori ‘emerging‘. Usia bukan masalah. Empat puluhan pun masih bisa saya anggap muda,” tuturnya sambil diiringi tawa. Tema-tema karya seniman itu juga harus mengikuti perkembangan zaman sehingga lebih segar saat disuguhkan kepada audiens.

Di Semarang, Chris mengamati bahwa ada dua kelompok besar. Pertama yakni kelompok yang memiliki ketertarikan sebagai penikmat tetapi belum sampai tergerak untuk memboyong pulang karya seni yang dipamerkan. Sementara itu, yang kedua ialah kelompok yang memiliki ketertarikan sekaligus daya beli yang nyata. Mereka ini biasanya kolektor muda. “Kelompok pertama jauh lebih banyak daripada yang kedua,” tegasnya.

Untuk menjangkau kolektor baik di skala nasional dan internasional, ia memang masih mengandalkan jaringan kolektor di kota-kota besar di Indonesia dan mancanegara. Ia menyebut Jakarta dan Singapura sebagai kota yang memiliki jaringan kolektor yang bisa ia andalkan.

Biasanya seniman-seniman tersebut adalah anak-anak muda yang kuliah atau baru saja lulus kuliah di program studi seni rupa di institusi pendidikan formal. Biasanya mereka baru pulang kampung dari studi di kota besar di Jawa. “Tapi biasanya jika asalnya dari kota kecil dan kuliah di Yogyakarta misalnya, mereka akan cenderung berkarya di Yogyakarta. Jadi sebenarnya asal seniman-seniman di Yogyakarta itu bervariasi,” ucap pria berkacamata itu.

Galeri Semarang telah mengikuti beragam pameran seni bertaraf internasional. Chris mengaku ini kali keduanya ikut dalam Art Stage di Jakarta setelah yang pertama ia ikuti di Singapura. Kemudian ia juga pernah ke pameran seni di Hongkong dan Brussel. Dengan mengikuti pameran, ia terus bisa memperluas jaringan dan menjangkau lebih banyak kolektor seni di berbagai pelosok dunia.

Chris sendiri tidak dibesarkan di keluarga yang kental dengan pendidikan seni. “Keluarga saya keluarga pedagang,” tegasnya.

Tertarik pada seni sejak kuliah arsitektur, Chris mengakui ia mengenal seni rupa secara lebih dekat sejak awal dekade 1990-an. Ia mulai mengoleksi karya seni yang sekarang jumlahnya ratusan buah. Chris tidak memiliki sebuah tema khusus dalam koleksi seninya tetapi ia sangat meminati karya-karya ‘old masters’ yang telah berpulang. “Inilah yang dinamai orang Indonesian modern art,’ ia menjelaskan. Sementara itu, publik menamai karya-karya seniman yang lebih muda pasca era old masters sebagai contemporary Indonesian art.

Kekuatan Indonesia terletak pada keragamannya yang menonjol. Di kawasan Asia Tenggara saja, ujar Chris, Indonesia dapat dikatakan memiliki kemajuan seni yang relatif membanggakan. “Paling beragam dan menarik. Orang-orangnya memiliki keragaman latar belakang budaya dan meski studi di lembaga yang sama, karena latar belakang budaya berbeda, seniman-seniman itu menghasilkan karya yang berbeda,” tegasnya. (*/)

Culinary Diplomacy

After living under the same roof for more than eight years (with other lodgers of course), mr Ahn and I have gradually forged a sort of cultural exchanges. At multiple times, we not only exchange stories but also foods.

I was introduced to kimchi, quite traumatizingly, in one afternoon. For Indonesians like me who hardly ever enjoyed fermented (almost rotten) foods except terasi and tempeh throughout our life span, eating kimchi is pretty much like munching some long-kept vegetables in the home refrigerator is foreign and inconceivable.

But as an amateurish occasional culinary adventurer, I took a risk this time. Kimchi, which is like vegemite to Australians, is an almost staple food. It is omnipresent in Korean dishes and recipes. Mr Ahn mentions there are around 120 food recipes he knows that includes kimchi as one of the ingredients. “You can add kimchi to rice, to miso soup, to thick soup, literally anything. And you can make sure the food is more palatable,” he voluntarily explains to me.

I am in awe.

So tonight he pulls up his sleeves and goes downstairs with me. “Let me cook for you. Get the kimchi now!” He rushes enthusiastically to the kitchenette and turns the stove on. “Oh and your olive oil!” He knows I save a bottle of it in my room.

I am standing next to him while he is in action.

A Korean man living alone like him for years abroad knows what it takes to survive in Indonesia: a little knack for cooking your own food. Because if you can hardly swallow local foods down your throat, you have to feed yourself still. This is why Korean folks here form a tightly-knit community. The stress is much higher if you are living alone as an expatriate and if you work to earn a living for your family, defiitely you are not allowed to commit suicide abroad. To avoid such suicidal tendency, Mr Ahn, for example, regularly goes to church. The church located in South Jakarta was built and is currently attended by Koreans mostly. It is here at the church he frequently gets his real Korean food supply. The kimchi he gives me is not one everyone can buy at a commercial Korean restaurant. “It is made by an ajuma (a married middle-aged lady) at the church and she gave free kimchi for members of church.”

How nice that ajuma is.

Though I never actively encourage him to try Indonesian foods, mr Ahn finds his favorite naturally. He is known to be a greedy eater of rambutan, a tropical food he can never find in Korea unless it is imported.

His freestyle Korean fried rice is finally done. In a plate, the rice is mixed evenly with kimchi and poached egg.

“It’s all natural. No flavoring. Healthy.”

He really understands my tendency towards eating health foods.

“You know me so well. Gamsahamnida,” I quickly remark, thanking him in Korean. A simple expression I long ago acquired from Song Hye-kyo in “Full House” drama series.

I scoop the reddened yet plain-flavored rice. And with a smile from ear to ear, I give a diplomatic brief review,”Massisseoyo!” (delicious).

He smiles back at me and that pretty much concludes our culinary exchange session tonight. (*/)

The Real Challenge Muslims are Facing Today

IT’S NOT EASY to be living as a moslem these days. Especially when one lives in the West, where the religion is prejudiced negatively by the public and media. It’s been always under scrutinity and criticism. In the recent years the intensity is greater than before.

A moslem Indonesian young man experienced this greater intensity, too, while he stayed abroad. As a young hopeful scholar, let’s call him Hasan, his future is quite promising. He has a strong background in worldly education, helping him make his way to one of the German top universities. But along with it, he has a baggage of thick religious familial setting since his very young age. He has been exposed to Islamic values, norms and practices on daily basis as his father, a highly influential leader and figure in the patriarchal family system of Indonesia, teaches everyone in the family the significance and love of Islam. In brief, the religious dedication runs in the family members’ vein.

To cut the story short, one day Hasan discovered a wallet in a train he was taking somewhere in Germany. With all his father’s internalized teaching of the obligation of doing good unto others in life, he was so ready to find the owner out and give it back to whoever that was. As he opened the wallet to find who this owner was, Hasan read a man’s identity card on which he could learn the address and contact number. He contacted this man called Philip. They agreed to meet. Philip was obviously glad to learn his wallet would be returned. And Hasan was equally glad to be of help. But instead of returning the wallet as it was, Hasan did a little bit further. He had an idea of wrapping it carefully as if it were a gift from him to Philip. To add to the ‘gift’, Hasan had sweets to accompany the wallet.

Upon seeing Hasan, Philip was panic-stricken. He took several steps back after Hasan told the man that he was the person saving his belonging.

Philip could not believe his eyes. Hasan with his Asian looks and a white cap typically worn by muslim men did not fit Philip’s image of a kind personality.

“No, it can’t be possible!” Philip shrieked. He shook Hasan’s shoulders out of disbelief. Hasan himself did not move an inch as he felt there was no need to. He believed Philip would not do him any harm.

Philip is one of million Europeans who put so much trust upon the Western media coverage, which is to some extent more against and less in favor of muslims.

In Europe nowadays especially post Arab Spring, the anti-muslim sentiment has been building up. Like Philip, some people in the European countries see these Arabs and mostly muslim refugees as uninvited guests with potential problems. And to add to the mess, some of these refugees commit crimes in their already peaceful and stable homelands, putting more stress on the struggling European countries’ economy and security. Philip’s prejudice towards Hasan, therefore, can be very much understood.

This is a point to ponder especially if you’re a muslim yourself. As a muslim, we’re the embodiment of our religious teachings and values. Certainly, Islamic teachings are great, noble and flawless but if what people see in its followers is poverty, anger, bitterness towards the rest of the world, exclusivity and a sense of self-entitlement (to being considered the best religious group on earth), who wants to believe it?

In the past, Islam was represented by its best ambassadors. These were affulent and influential merchants sailing to foreign soils outside Arab world and Europe. In Indonesia, that was what is told in the history, that Islamic teachings were brought in peace by expatriate traders.

Knowing himself is one of Islam ambassadors, Hasan renounced Philip’s presupposition that muslims are a group of terrorists or thugs. While there are muslims who fit that not-so-positive image, there are many more of them who are like Hasan. They are peace messengers. They are erudite. They are educated and adaptive to the contemporary world without neglecting their cultural and religious roots. And these representatives are what the increasingly hostile world badly needs instead of more Al Qaeda and ISIS fighters. (*/)

Dolorosa Sinaga: Seni Itu Mencerdaskan

“Jangan hidup seperti gelas yang sudah penuh,” tandasnya berapi-api. “Tak bisa lagi diisi.” Wanita itu tampak amat menjiwai perkataannya tadi. Ia hidup dengan pikiran yang terbuka, siap menyambut berbagai dialog, interaksi, dan pertukaran gagasan.

Dolo, demikian panggilan akrabnya, tak pernah merasa puas sehingga ia menolak untuk menjadi gelas yang penuh. Ia menyandarkan diri ke kursi lalu mengatakan sesuatu yang coba ia ingat dari masa lalu. Pandangannya menerawang sejenak dan sedetik kemudian berucap,”Setiap saya bertemu wartawan, saya teringat dengan tulisan seorang budayawan yang mengatakan ada empat aspek yang membuat kekuasaan tak bisa berdiri lagi. Yang pertama, kaum intelektualnya. Kedua, budayawannya. Ketiga, teknologi informasi. Dan terakhir, jurnalis.”

Ia mengimbuhi pernyataannya tadi dengan penjelasan: kaum cendekiawan akan selalu mempertanyakan kebijakan-kebijakan yang diambil pemegang kekuasaan; kaum budayawan akan terus-menerus berupaya mempertahankan nilai-nilai masyarakat yang bisa tergerus karena ambisi kekuasaan; teknologi informasi juga bisa meruntuhkan benteng kokoh penguasa di era digital seperti sekarang; dan kelompok pewarta berperan menjembatani penguasa dan rakyat banyak.  “Jadi, you are the agent of change, actually,” tegas perempuan itu lagi.

Sebagai agen perubahan, para jurnalis memiliki kekuatan dalam membentuk dan mengarahkan opini publik. “Saya juga bisa membangun opini publik tetapi tidak sehebat dan semasif kalian karena kalian mencetak berjuta-juta dan berulang kali dikonsumsi para pembaca sementara saya hanya satu.”

Dolorosa bukan penganut aliran realis dalam berkarya sebagai perupa. Ia justru lebih tertarik pada bentuk-bentuk yang tidak secara jelas menggambarkan sosok manusia. Yang ia suguhkan pada para penikmat karyanya ialah bentuk-bentuk tiga dimensi yang sarat dengan gestur-gestur yang bermakna. Setiap kekaburan bentuk itu malah sanggup memberikan ruang yang lebih bebas bagi penikmat seni rupanya dalam menginterpretasikan. Ada ruang yang tersisa yang justru dapat diisi dengan fantasi dalam benak masing-masing orang yang melihatnya.

Ia mencontohkan dalam sebuah pameran, ia menyaksikan bahwa karyanya yang bertajuk “Tak Terjudulkan” menjadi perhatian pengunjung karena pesan di dalamnya tidak mudah ditebak. Namun, karena Dolorosa piawai menyematkan pesan ke dalam karyanya, tanpa judul ia bisa mengajak audiens untuk berpikir lebih kritis memaknainya. Ia sempat menyaksikan diskusi seorang ibu dan anaknya mengenai “Tak Terjudulkan”. Sang ibu rupanya tengah menasihati anaknya untuk tidak takut dalam menyampaikan aspirasi dan pendapatnya, sebagaimana makna besar yang ia tangkap dari karya tersebut. Mengetahui diskusi yang terbangun dari karyanya itu, Dolorosa merasa berhasil sebagai seorang perupa.

Dolorosa memiki keahlian yang tidak diragukan lagi dalam hal analisis anatomi manusia. Pendidikannya di mancanegara memungkinkannya belajar aspek penting raga manusia sebagai subjek seni, yang turut berperan memberikannya ciri khas dalam setiap karya. Sebab ia merasa sudah ‘kenyang’ dengan gaya realisme itulah, Dolorosa kemudian memutuskan untuk menjajal gaya yang lebih unik, yakni dengan mengambil pemahaman atas gerak sebuah subjek. Jadi, ia tidak semata-mata menyuguhkan subjek secara ‘mentah’. Ia kemas lagi dengan gayanya sendiri yang tiada duanya.

Untuk menemukan seniman realis di Indonesia, kita lebih mudah. Di Yogyakarta, kita bisa jumpai banyak seniman realis, terang perempuan yang memiliki sapaan akrab Dolo ini. “Tetapi membuat figur itu mempunyai nyawa, dan bagaimana ia bisa dibuat gesturnya sehingga membuat orang berhenti.”

Dinamis dan ekspresif menjadi dua kata kunci utama yang ia utamakan dalam karya-karyanya. Dolo mengatakan figur-figur realis terlalu mementingkan akurasi dan menekankan aspek-aspek yang sebetulnya sudah diingat dan diketahui dengan baik oleh audiens. Inilah alasan Dolo tidak membuat figur-figur realistis. “Tetapi saya reenact (memeragakan kembali) gestur-gestur mereka sehingga membuat audiens harus berpikir lebih keras. Dengan begitu, mereka menjadi lebih produktif dan cerdas.”

Dolo memiliki suatu slogan dalam beraktivitas di ranah seni. “Seni itu mencerdaskan,” tegasnya. Ia meyakini bahwa semua produk manusia yang di dalamnya ada unsur kreativitas, membuat kita melihat adanyah kecerdasan dan kerja keras di dalamnya. Pencerdasan ialah suatu aspek terpenting dalam seni, menurutnya. Seni sepatutnya mendorong pikiran kita lebih bersemangat dan kritis dalam berpikir.

Di samping alat untuk mencerdaskan manusia, seni juga kata Dolo bisa berperan sebagai alat yang ampuh dalam menangkal kekerasan. Karena seni mendorong kita menuju keindahan dalam berbagai variasi bentuknya.

Meskipun bergerak dalam seni rupa, Dolo juga penikmat musik. Dalam berkarya di studionya, ia mengaku selalu mendengarkan musik untuk memacu semangat menghasilkan karya-karya anyar.

Ada alasan kenapa menurutnya musik bisa menggiring pendengarnya ke suasana hati tertentu, kenangan masa lalu yang mengharu biru, dan semacamnya. “Karena telinga lebih dekat ke otak daripada indra lainnya,” terangnya.

Ditanya soal jenis musik yang ia dengarkan, Dolo berkata ia mendengar semua jenis musik. Bahkan dangdut sekalipun. “Dalam dangdut, Anda bisa menelusuri jejak sejarah,” terang perempuan berambut bergelombang itu. Ia menggarisbawahi keterbukaan dangdut sebagai bentuk seni yang dengan luwes mengakomodasi elemen-elemen yang datang dari luar dirinya. “Dangdut bisa memakai melodi-melodi melengking dari Zeppelin. Para pemusik dangdut itu mengadaptasikannya dan melebur menjadi dangdut juga,” tegasnya.

Seni itu menurut Dolo suatu entitas yang terbuka dan mampu memberikan pemahaman pada kita yang masih berpandangan sempit ini bahwa perbedaan itu ada dalam diri setiap manusia. Itulah mengapa setiap manusia dinamai berbeda, ia mencontohkan. Karena itu, ia sangat prihatin dengan adanya tren yang berkembang di tanah air untuk mengarah pada keseragaman dan memadamkan semangat pluralisme.

Selain sebagai perupa yang sudah berkarya ke tataran dunia, Dolo juga mendarmabaktikan waktunya sebagai seorang pengajar di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Dan soal pendidikan, ia banyak memiliki kritik. “Negara kita memiliki pendidikan yang sangat terbelakang,” tandasnya dengan nada sedih.

Bentuk pendidikan seni kita juga mengalami kemunduran. Dahulu, anak-anak selain mendapatkan pendidikan formal di sekolah, mereka juga mendapatkan waktu untuk menekuni seni di lingkungan sekitar mereka. “Dengan begitu, generasi muda masih memiliki jiwa tetapi sekarang sudah luntur,” tuturnya.

Dolo menyoroti bahwa jejak-jejak rezim militer Orde Baru yang represif itu masih ada. Reformasi juga ia anggap belum berjalan sebagaimana mestinya karena baru sanggup menggulingkan Suharto tetapi tidak memiliki fondasi yang kuat untuk menentukan masa depan Indonesia. “Jika saat itu, kita memiliki basis kuat itu dalam menentukan masa depan, ada banyak hal yang bisa kita kerjakan. (*/)

A Little Life, A Gigantic Read

[This contains too much spoiler. So if you haven’t read this novel and wish to read it anytime soon, I have warned you. Or save this page to read later on.]

HANYA Yanagihara is one of those novelists who shun reading reviews. That makes sense as not all reviews are worth her time. And reading online reviews about your book seems to be very daunting and exhausting mentally.

What I’m writing below can never be called a proper review. Rather, it’s a sincere flattery of her tremendously thick and rich work.

Verbose, that’s certainly what came to my mind after I read the novel from cover to cover. But Yanagihara has a strong and sensible argument as to why the novel must be verbose.

I’ve been working for quite a while in magazines, which is why I’m so familiar with Yanagihara’s style of writing [for your information she’d worked as editor at CondeNast Traveler]. Her style is so magazinelike, making me sure that what I’m reading is actually a compilation of short stories or novellas skillfully sewn together as a mega novel. 

Salman Rushdie’s son recommended once after reading Harry Potter series that his father should write books published in series. Why? Rushdie said,”Easy. It’s more lucrative to publish that way.” Smart.

So I’m curious as to why Yanagihara never gave the idea any single consideration.  The idea that publishing in series or sequels does really make sense and enticing if one is a for-profit, commercial author. Yanagihara, as she admitted, is not one. She said an author especially those writing fiction must have a day job. Not only for the healthcare benefits, she added, but also because a day job provides you (paid) escape from all the emotional hardship one has to endure in the writing process of a long novel.

She mentions about her wish to make the story to become as claustrophobic as possible because she always tells it everything indoor. There’s not much told and narrated about the city’s landmarks, or landscape, or its wide array of population and all the humanity in it. Yanagihara is like using a microscope when telling the story of a horribly abused, lonesome, battered protagonist who never ever recovered thorughout his unexpectedly long life, Jude Saint Francis. She doesn’t allow any outdoor details coming into the story in abundance. Yet, the novel seems very generous when it comes to private lives of its characters. The author adds every detail (like their habit of getting together at a Vietnamese restaurant) and makes the story flow in a perfectly smooth fashion.

I like Yanagihara’s preference to pick some characters as her focus. She concentrates more on Willem and Jude’s relationships and how they and the ties change from time to time. Malcom and JB’s life may be considered supplementary compared to the other two though both later mentioned are also in the same clique.

If there’s something I’m very upset about the story is the fact that Jude is made in such a way to be an incurable victim throughout the novel. He is made to be forever suffering, relapsing, and going downhill.  All of betterment or progress he seems to make are fake and delusional. He is so rotten and damaged from the inside and out (I cannot imagine seeing his arms and legs which are depicted to be full of cuttings and infected wounds).

The issue of pedophilia raised here is so much relevant to the current issue of the day especially in Indonesia. I read KPAI (The Commission of Children Protection in Indonesia) has released a statement that now young boys are as fragile as girls when it comes to sexual abuse (considering the growing number of young male victims of sexual abuse). That said, the social problem doesn’t discriminate genders now. Whether you’re a parent of a boy or a girl, you need to be equally worrisome because boys apparently are also in need of protection also. It is always that way but public had never realized it until recently.

I’m also glad to see a new perspective towards male and masculinity from the point of view of a female author. This offers a unique  and fresh story and novel criticism not only towards people with penis but also the entire humanity as a whole unity.

I like her proposed ideology that males are allowed to feel weak and fragile and can speak up about their pain and suffering just like their female counterparts. Though I have to admit that such view takes a long time to be practiced in real life.  (*/)