MOCO, Ahok, dan Minat Baca Orang Indonesia di Era Digital (1)

Sulasmo Sudharno: MAsyarakat Indonesia maunya gratisa. (Dok. pribadi)

Lelaki itu duduk di belakang saya. Ia dipanggil ke depan beberapa menit kritis sebelum adzan maghrib yang kami nantikan berkumandang. Saya berhenti mencatat dan memberinya jalan. Saya tidak tahu apa yang akan ia sampaikan tetapi dari gelagat sang penyelenggara acara yang begitu antusias hingga mempersilakannya tetap berbicara di panggung meski momen kritis berbuka puasa sudah sebentar lagi, saya duga ia bukan orang yang bisa diremehkan. Dan memang benar, apa yang ia sampaikan bukan sesuatu yang normatif, membuat kami di kursi menguap dan gelisah memikirkan makanan dalam benak.

Sulasmo Sudharno, begitu namanya, adalah seorang lelaki Jawa tulen. Maksud saya, layaknya orang Jawa memberi pidato di depan publik, ia menunjukkan ‘unggah-ungguh’. Mimik dan bahasa tubuhnya yang merunduk-runduk di depan bangku yang dipenuhi para pegiat dunia susastra yang lebih senior, yang di antaranya mencakup penyair dan akademisi Sapardi Djoko Damono dan orang-orang di sekitar tokoh tersebut yang sudah menunjukkan pengalaman tinggi.

Dan untuk menunjukkan ke-Jawa-annya, tentu ia menyapa hadirin yang lebih sepuh dahulu daripada kami yang ada di kelompok bangku lain yang masih ‘hijau’. Saya selalu memandang kagum orang-orang yang bisa berbicara di depan publik dengan ketenangan dan kemurahsenyuman orang Jawa (sumeh, katanya). Karena saya sendiri Jawa tetapi sulit melakoninya. Ditambah rautnya yang bundar, membuat ia tampak seperti Semar yang bijak. Di masa tuanya saya pikir ia akan mirip menjadi karakter pewayangan satu itu. Bijak, uzur dan bernas, penuh dengan pelajaran hidup.

Tapi lain dari Semar yang mengabdi ke penguasa, Sulasmo tidak menggantungkan penghidupan ke pemerintah. Ia secara mandiri sebagai entrepreneur dan pendiri startup mencari nafkah dengan berjualan buku. Hanya saja, karena sudah era digital, ia memilih mencoba menjual buku dalam bentuk digital juga.

“Tidak laku, pak. Setahun omset kami cuma Rp800.000,” ujarnya, seolah-olah audiens di depannya hanyalah Sapardi Djoko Damono. Ada nada pilu dalam ceritanya tetapi beginilah orang Jawa, mereka sanggup bercerita kesedihan dengan suara mendayu-dayu sambil tetap menyungging senyum.

Saya mengangguk-anggukkan kepala, sepakat dengannya. Orang Indonesia mana mau merogoh uang untuk menebus biaya pembuatan konten? Gratis selamanya kalau bisa.

Itu omset tahun pertama. Bisa dimaklumi jika masih rendah. Tetapi apa daya, di tahun kedua, meski onset melonjak menjadi RpRp31 juta, tak banyak yang bisa dilakukan untuk bertahan dengan strategi yang sama: menyasar kaum pecinta buku.

Sulasmo terus mengoceh bagaimana nelangsanya menjual buku digital di aplikasi gratisan. “Sudah memakai strategi potong pulsa, tidak banyak yang mau beli buku dari kami. Padahal jumlah karyawan hampir 100 orang.”

Strategi yang sama ini saya pernah jumpai juga di Google Books. Dan belum pernah saya coba meski saya punya kemampuan membeli juga. Entah kenapa, membeli buku fisik masih terasa lebih mantap. Saya cenderung berpikir saat saya sudah berkutat dengan layar seharian dalam pekerjaan, di waktu luang saya ingin menatap benda lain saja tetapi masih tetap ingin membaca dan menikmati konten. Solusinya membeli buku kertas. Tidak bisa ditawar lagi. Mata saya lelah.

Setelah babak belur di tahun pertama dan kedua, Lasmo dan rekan-rekannya yang lain di Aksaramaya (Panya M. Siregar, Gani, dan Ardiansyah) yang mereka dirikan pada tanggal 4 Februari 2013, memutuskan menerapkan strategi lain untuk menggenjot pemasukan riil ke bisnis yang baru berkecambah itu. Mereka mencoba menangkap fenomena kegandrungan anak-anak muda pecinta sinetron “Ganteng-Ganteng Serigala” untuk dimasukkan sebagai lokomotif penarik animo membaca target konsumen.

Karena anak-anak generasi milenial ini adalah kelompok yang vokal dan memiliki luapan kreatif yang bisa disalurkan dalam bentuk tulisan (lain dengan kaum ibu yang saat menonton dan mengkritisi plot sinetron kesayangannya dengan mengomel dan berhenti di situ saja), mereka menuliskan jalan cerita sinetron GGS itu dengan plot yang mereka masing-masing kehendaki. Ini adalah penyaluran kreativitas menulis dari ketidakpuasan dengan skenario yang dibuat penulis naskah di rumah produksi mapan. Sebab mereka tak bisa memprotes, maka mereka memutuskan menulis skenario mereka sendiri. Tipikal anak muda yang pemberontak.

Tim Aksaramaya kemudian diperintahkan untuk bergerak menyisir dunia media sosial, terutama Instagram untuk mendapatkan sebanyak mungkin skenario-skenario GGS ‘tandingan’ tersebut. Dan dengan menggunakan alat tagar (hashtag) rasanya memang lebih mudah mencari unggahan yang dimaui di Instagram (Twitter terlalu pendek).

Hasilnya ada. Sebanyak 21 buku ditelurkan dari strategi ini. Aksaramaya pun turun tangan menjadi penerbit juga akhirnya untuk bisa mengakomodasi karya-karya anak muda tersebut. “Karena penerbit belum ada yang percaya dengan konsep semacam ini. Bukan tidak percaya pada teknologi tapi karena belum ada pasarnya,” terang Lasmo.

Tulisan-tulisan itu lalu ditayangkan di aplikasi MOCO. Terjadilah ‘traction‘, yang artinya muncul tanggapan dari pasar. Lasmo cukup bergembira karena ribuan orang membacanya.

Namun, traction itu sia-sia karena bagaimanapun juga sebuah bisnis akan mati merana tanpa ada pemasukan nyata tidak peduli sebanyak apapun orang menggemarinya. Penggemar yang tidak berdaya beli seperti tanaman bonsai yang mahal, langka dan molek tetapi tidak bisa memberi makan pemiliknya yang sekarat kelaparan. “Ada 35.000 yang mengunduh secara gratis. Begitu disuruh bayar, raib semua…” katanya lagi.

Mengenaskan.

Tetapi saya bisa katakan itu juga yang saya akan lakukan. Menikmati buku di gawai masih terbatas pada ‘permainan’. Koleksi yang serius dalam bentuk fisik. Itu paradigma saya dalam menikmati buku. Tetapi dalam kasus ini, saya duga karena muda-mudi penggemar GGS ini adalah mereka yang masih belum memiliki kekuatan membeli yang stabil, artinya belum memiliki penghasilan sendiri, masih sekolah atau kuliah. Jadi, bisa dimaklumi jika pos anggaran yang bisa disalurkan untuk pembelian konten digital dianggap jauh di luar jangkauan.

Lasmo mengajukan hipotesisnya dari pengalaman MOCO tersebut. Pertama ialah tampilan e-book yang masih belum pas untuk dinikmati di gawai. Banyak e-book yang sekadar bentuk digital hasil pemindaian (scan) atau file pdf dari buku cetaknya. Sehingga saat membaca, penikmat konten mesti susah payah scroll ke berbagai arah agar besar huruf pas di mata (bisa dimaklumi makin tua, makin susah membaca di layar ukuran kecil). Dan ini merepotkan sekali. Pengalaman menikmati e-book yang sungguh belum maksimal.

Aplikasi yang masih dalam proses pengembangan masih belum menarik konsumen. Ditambah dengan ketiadaan kanal pembayaran, membuat transaksi pembelian e-book masih terasa musykil. (*/ bersambung)

Anomali Bernama Baduy (11)

Supaya pengalaman menyinggahi kampung Baduy makin berkesan, diusulkan pengunjung mengenakan busana warga asli. Saya justru merinding membayangkannya. (Foto: Tim Geo Tour/ Jalan- Jalan Baik)
Supaya pengalaman menyinggahi kampung Baduy makin berkesan, diusulkan pengunjung mengenakan busana warga asli. Saya justru merinding membayangkannya. (Foto: Tim Geo Tour/ Jalan- Jalan Baik)

MENGHAYATI BADUY. Saya duduk di beranda sore itu. Beranda rumah orang Baduy Dalam lain dari beranda rumah orang Baduy Luar. Baduy Dalam merancang rumah mereka tidak sebagai tempat untuk bekerja (terutama bagi kaum Hawa untuk mengerjakan tenunan kain mereka) sehingga luas berandanya ala kadarnya. Barangkali cuma bisa untuk menempatkan bokong saja tanpa bisa meluruskan kaki. Kaki mesti menjuntai ke bawah jika ingin duduk santai dan bercakap-cakap lama dengan banyak orang.

Di ambang pintu rumah yang saya tinggali semalam itu, saya mendengar lamat-lamat dua jenis percakapan yang berlainan secara bersamaan. Di dalam dinding anyaman bambu, percakapan khas orang-orang urban mengalir tanpa henti. Soal dunia akademik, perkuliahan, lalu berlanjut ke pekerjaan, pendidikan, dan prestise dan tetek bengek kehidupan masyarakat perkotaan. Semua pembicaraan itu tentang dunia luar, dunia yang asing dari tempat yang kami sedang pijak sekarang.

Sementara itu, di luar rumah, saya dengarkan di waktu bersamaan sekelompok pria Baduy Dalam yang bercakap-cakap dalam bahasa Sunda Kasar yang hampir saya tidak bisa pahami.

Dua percakapan yang membuat saya kebingungan. Yang pertama membuat saya segan mengikuti karena saya sedang ingin menghayati pengalaman hidup di sini, jadi apapun soal dunia luar saya coba sekuat mungkin tinggalkan sejenak. Saya ingin tidak hanya tubuh kasar saya yang berada di kampung Baduy ini tetapi juga segenap pikiran dan jiwa saya. Karena ini saat-saat yang langka dan mungkin tidak akan terulang lagi. Begitulah saya selalu mencoba menghargai tiap momen ini. Saya yakin tidak ada hari atau kesempatan yang sama. Sabtu ini berbeda dengan Sabtu depan meskipun sekilas masih sama-sama bernama Sabtu.

Kang Cecep dari rombongan kami mengusulkan bahwa agar pengalaman tinggal di perkampungan Baduy Dalam lebih mengesankan, akan lebih baik jika segala perlengkapan dan peralatan yang dibawa dari ‘dunia luar’ Baduy dititipkan di sebuah pos khusus untuk kemudian dibawa kembali jika kunjungan sudah selesai.

Dan tidak lupa supaya lebih menghayati kehidupan orang Baduy Dalam, kami juga usulkan untuk memperbolehkan pengunjung mengenakan busana Baduy. Jadi, di sini tidak ada orang yang pakai kaos dengan tulisan aneh-aneh ala anak kota, atau celana pendek (hotpants) yang minim.

Jaro yang menemui kami menampik gagasan tersebut. Menurut hematnya, mereka warga Baduy Dalam sendiri merasa tidak tega untuk menyusahkan pengunjung sampai harus melucuti mereka dari pakaian yang biasa mereka kenakan dan berganti mengenakan pakaian tradisional seperti mereka. “Lagipula nanti susah membedakan mana orang Baduy dan yang pendatang,” jaro beralasan. Kami menerima argumentasinya itu. Masuk akal juga. Maka kami tidak memaksa lagi.

Saya sendiri bergidik jika gagasan itu diterima dan diterapkan. Bagaimana tidak? Para pria Baduy Dalam ini konon tidak mengenal pakaian dalam. Karena itulah, mereka duduk dengan kedua kaki terlipat rapat. Selalu. Meskipun ada argumentasi ilmiah bahwa tidak memakai celana dalam  apalagi yang ketat lebih kondusif bagi kesuburan, tetap saja saya tidak terlintas untuk mengaplikasikannya di luar rumah apalagi saat bepergian dan bertemu dengan banyak orang. Jadi, tidak terbayang bagaimana leganya saya karena jaro sudah menolak ide itu mentah-mentah.

Meskipun memiliki citra introvert dan konservatif, masyarakat Baduy terutama yang lelaki tidak sepenuhnya anti terhadap dunia luar. Sebagian dari mereka kadang berkunjung ke kota besar seperti Jakarta.

Jika kita menempatkan diri kita sebagai seorang manusia Baduy Dalam, memandang dunia luar tentu kita anggap sebagai sebuah dunia penuh kebebasan sementara kampung halaman sebagai tempat yang penuh kekangan. Dan kita pasti lebih merindukan kebebasan itu. Namun, mereka tidak merasakan hal itu. Mereka lebih merasa rindu pada kehidupan desa yang tenang.

Jaro kampung Cibeo ini sendiri pernah diajak berkunjung ke Jakarta. Ia bersama temannya yang pernah bertandang ke rumah mengajak untuk menonton film Barat di bioskop. Bioskop yang pernah ia kunjungi ada di Pondok Gede dan juga Mal Taman Anggrek. Bahkan mereka sempat menginap di sebuah apartemen di lantai 20.

Sebagai pihak luar, saat berada di Jakarta, warga Baduy tentunya mengalami banyak gegar budaya dan sosial sebagaimana yang warga urban alami di perkampungan Baduy. Perjuangan mereka untuk bertahan di Jakarta tentu lain dari kita yang memiliki cara hidup dan pemikiran yang hampir sama dengan masyarakat Jakarta. Ditambah lagi dengan tingginya angka kriminalitas di ibukota serta beragam risiko lainnya yang bisa datang dari interaksi kultural dan sosial, warga Baduy yang menyambangi Jakarta pasti mengalami saat-saat sulit. Jaro yang pernah ke Jakarta itu mengatakan tidak tebersit dalam pikirannya bahwa diri mereka akan tertimpa tindakan kriminal di kota besar.

Di kampung-kampung Baduy, angka kriminalitas hampir nol. Tidak ada bahkan, kata jaro yang kami ajak bicara. Kasus-kasus pencurian, perzinahan, dan segala macam penyakit masyarakat yang menjangkiti masyarakat modern di luar sana jarang sekali dijumpai di sini.

Warga Baduy yang melanglang buana ke luar daerahnya biasanya bukan karena keinginan sendiri tetapi lebih karena diundang oleh orang luar. Tetamu dari kota-kota besar seperti Jakarta kerap mengundang mereka untuk bersilaturahmi atau beranjangsana. Jika mereka beruntung, mereka akan disediakan oleh si pengundang segala moda transportasi dan tetek bengeknya. Tetapi jika tidak, mereka akan tetap berangkat juga. Dan untuk membiayai perjalanan ke Jakarta demi memenuhi undangan tadi, mereka mesti berjualan sepanjang perjalanan. Pria-pria Baduy itu berkelana ke jalan-jalan kota Jakarta tanpa alas kaki dan lazimnya karena mereka tak memiliki dana untuk menyewa tempat menginap, mereka bisa meminta pertolongan aparat kepolisian untuk menyediakan kantornya sebagai tempat menginap semalam saja. Selain kantor polisi, mereka juga biasa tidur di kantor satpam, kenalan yang berbaik hati dan kebetulan memiliki rumah yang luas, serta masjid.

Dan jaro yang kami tanyai menjawab begini saat kami tanya apakah mereka iri atau tidak melihat gemerlapnya Jakarta:”Kami tidak merasa iri. Semua sudah ada tempatnya masing-masing…” (bersambung)

Yoga, Mimpi, dan Kreativitas

Dalam savasana idealnya kita tetap sadar, jangan sampai lelap apalagi mendengkur. Inilah tantangannya. (Foto: Radiantly Alive Yoga Studio ,Ubud)
Dalam savasana idealnya kita tetap sadar, jangan sampai lelap apalagi mendengkur. Inilah tantangannya. (Foto: Radiantly Alive Yoga Studio ,Ubud)

Baru-baru ini saya bertemu dengan seorang mahasiswa yang ingin membahas yoga dalam penelitian akademiknya (skripsi). Dan saya entah kenapa menjadi orang yang ia pilih untuk menjadi narasumber. Kemungkinan besar karena saya sudah memajang berbagai kontak saya di dunia maya, sehingga tidak heran jika siapa saja termasuk dia bisa tiba-tiba memiliki akses menuju alamat surel saya dan bertanya soal yoga.

Kami pun bertukar kata lewat surel dan untuk kepentingan pemenuhan data, saya pun dikirimi sebuah daftar pertanyaan. Ia menanyakan pekerjaan saya, saya mengaku sebagai copywriter. Dan sebuah pertanyaan menggelitik yang tercakup di dalamnya ialah:”Apakah gerakan hatha yoga bisa membantu menemukan ide kreatif dalam pekerjaan Anda? Jika iya, kenapa bisa? Gerakan yoga apa saja yang bisa mengembangkan kreativitas? Apakah selama beryoga sering mendapat inspirasi? Seperti apa contoh nyata dan solusi kreatif dari yoga dalam pekerjaan Anda?”

Terus terang saya tergagap. Selama ini saya beryoga dan meyakini kontribusi yoga dalam performa kreatif dalam pekerjaan saya begitu saja. Tetapi itu saya mesti akui hanya sebatas sugesti subjektif yang tidak bisa saya jelaskan secara gamblang, apalagi secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Saya pun tidak yakin harus mengutip hasil penelitian siapa atau yang mana untuk mendukung opini saya itu, jadi saya selama ini hanya meyakini saja karena demikianlah yang setidaknya saya rasakan. Saya merasa lebih bisa bekerja dengan baik setelah beryoga. Itu saja.

Namun, begitu saya ditanya seperti ini, saya mau tak mau harus mencari jawabannya dari berbagai literatur yang saya bisa temukan. Awalnya saya hanya bisa memberikan jawaban yang mengawang-awang. Semuanya mengandalkan perasaan, sensasi, dan subjektivitas melulu.

Saya baru menyadari bahwa memang ada penjelasan yang lebih ilmiah untuk itu. Dan itu saya temukan dalam uraian Andrea Rock, seorang jurnalis investigasi yang berhasil memenangkan sejumlah penghargaan bergengsi seperti National Magazine Award dan Investigative Journalist dan Editors Award. Dalam karyanya yang berjudul “The Mind at Night”.

Tulisan Rock membahas soal mimpi dan hubungannya dengan pengasahan kreativitas. Dikatakan oleh Rock bahwa:

One way to really tap into the creative potential of dreams is to train yourself to experience lucid dreaming – that is, to realize you’re dreaming while you’re dreaming, and to stay asleep.

If you can do this, you might be able to then take control of your dream and do things that you can’t do while you’re awake, like take to the sky and fly.

This isn’t always possible, but there are a few techniques to increase you chances.

While you’re awake, stop from time to time to ask yourself whether what you’re seeing is reality or a dream. This will make it easier to raise this question in your dream without waking up, which is the key trigger to achieving lucidity.”

[Terjemahan bebas: Salah satu cara untuk menggali potensi kreatif mimpi ialah dengan melatih diri kita untuk mengalami mimpi secara jernih dan sadar – maksudnya, dengan menyadari bahwa kita sedang bermimpi saat kita tengah bermimpi dan tetap terlelap.

Jika Anda bisa melakukan ini, Anda mungkin bisa mengambil kendali atas mimpi Anda dan melakukan hal-hal yang tidak bisa Anda lakukan saat terjaga, seperti melambung ke angkasa dan terbang.

Ini memang tidak selalu mungkin tetapi terdapat sejumlah teknik untuk meningkatkan peluang untuk bisa mencapai kesadaran saat bermimpi.

Saat Anda terjaga, berhentilah dari waktu ke waktu untuk bertanya pada diri Anda sendiri apakah yang Anda saksikan itu kenyataan atau mimpi. Dengan melakukannya Anda akan lebih mudah untuk memunculkan pertanyaan yang sama dalam mimpi Anda tanpa harus terbangun, yang menjadi kunci untuk dapat mencapai kesadaran.”]

Kemudian pertanyaan saya, setelah kita tahu bahwa kreativitas yang lebih tinggi bisa dicapai dengan mencapai kesadaran (lucidity) sepanjang kita bermimpi, bagaimana yoga bisa membantu kita menjangkau dan mempertahankan level kesadaran semacam itu? Ini karena sulit sekali membangunkan kesadaran diri kita selama kita bermimpi. Kebanyakan manusia hanya akan membiarkan dirinya terhanyut dalam isi mimpinya, entah itu menyenangkan atau mengerikan atau menyedihkan. Mereka terlarut dalam emosi yang mendominasi mimpinya. Padahal saat emosi terlalu menunggangi pikiran, kesadaran sejati justru tertidur.

Dalam latihan yoga, kita biasa menemui istilah “awareness” atau kesadaran dalam instruksi-instruksi guru. Kesadaran ini memang wajib senantiasa dilatih selama beryoga, dan juga dalam kehidupan sehari-hari. Karena tanpa kesadaran, kita bakal cenderung larut dalam roda rutinitas sehari-hari. Dan inilah mengapa orang kerap berceletuk,”Waktu berjalan cepat ya?” atau “Rasanya hari/ minggu/ bulan ini cepat sekali berlalu.” Ini bisa terjadi karena orang selalu bergegas, tergesa, hingga tanpa sadar terseret dalam emosi dan pikiran keseharian yang kurang membekas dalam benak. Karena itulah, kesadaran perlu sekali dijaga dalam melakukan aktivitas apa saja.

Savasana atau pose mayat yang sering dijadikan pose penutup dalam latihan yoga serta teknik yoga nidra yang mengiringinya juga menurut saya juga ada manfaatnya dalam melatih kesadaran kita untuk membedakan mana mimpi dan kenyataan. Dan justru menurut saya pose mayat inilah yang paling menantang di antara pose-pose yoga lainnya sebab dalam pose ini seorang praktisi yoga mesti merilekskan tubuh fisik dan pikiran serta jiwanya secara menyeluruh, tanpa kecuali tetapi tidak melepaskan kesadaran begitu saja. Kesadaran sepanjang melakukan savasana idealnya terus terjaga. Dan inilah tantangan terberatnya: bagaimana pikiran kita tetap terjaga di ambang batas kesadaran dan tidak terseret dalam relaksasi sampai tidur nyenyak dan mendengkur. Dengan alasan tersebut, saya kurang setuju jika sebagian orang (terutama mereka yang pemula) berseloroh bahwa savasana adalah pose favorit mereka karena paling mudah dilakukan. Tinggal berbaring di lantai dan tidur pulas. Tunggu, itu tidur biasa, bukan savasana yang dimaksudkan dalam yoga.

Secara lebih rinci, kita perlu mengetahui perbedaan antara relaksasi dalam savasana versus tidur dalam pengertian yang dipahami khalayak umum. Swami Satyananda Saraswati dalam “Yoga Nidra” terbitan Bihar School of Yoga tahun 1976 menyatakan bahwa relaksasi tidak berarti tidur. “Relaksasi artinya kebahagaiaan sejati; ia tidak memiliki akhir. Saya menyebut kebahagiaan sebagai relaksasi mutlak; tidur ialah aktivitas yang berbeda sama sekali. Tidur hanya memberikan istirahat bagi pikiran dan indra kita. Kebahagiaan merilekskan atma, jiwa dalam diri ini; itulah kenapa, dalam tantra, Yoga Nidra ialah gerbang menuju Samadhi,” terang sang guru panjang lebar.

Kemampuan kita mengatur napas dan raga menurut saya menjadi penentu penting dalam melatih kesadaran sepanjang bermimpi. Dalam mimpi tentunya kita akan kehilangan kendali terhadap napas dan raga kita. Dalam kenyataan, kita memiliki kemampuan mengendalikan keduanya. Indra-indra aktif sehingga kita bisa merasakan sakit, nyeri, lega dengan nyata. Jadi, saat kita melakukan latihan yoga, kita coba saja untuk melakukan teknik pranayama dan asana dengan terus menerus menjaga kesadaran. Jangan lengah sedikitpun dengan menanyakan “apakah ini mimpi atau kenyataan?”.

Saat kita sudah terbiasa dengan pemeliharaan kesadaran dalam berlatih yoga, hingga dalam setiap kegiatan yang kita lakukan sehari-hari, akan lebih mudah juga untuk mengasah kemampuan untuk menyadari bahwa kita sedang bermimpi saat masih dalam mimpi. (*)

Anomali Bernama Baduy (10)

Screen Shot 2017-06-01 at 13.16.15
(Foto: Tim Geo Tour)

PLASTIK YANG MENGGELITIK. Jika Anda memiliki kesukaan untuk berperilaku aneh, biasanya Anda akan dihapal oleh orang-orang di sekitar Anda. Dan demikianlah yang terjadi di situ juga. Siang itu setelah sesi yoga dan salat zuhur di alam terbuka di tepi sungai perkampugan Baduy Luar, saya menyempatkan diri untuk berfoto dengan dua anak laki-laki Baduy Dalam yang membawakan barang-barang beberapa orang: Aceng dan Damin.

Mereka berdua tidak banyak berekspresi. Aceng dan Damin hanya bermimik muka datar saat saya ajak berfoto bersama. Saya berdiri di belakang mereka dan melakukan pose yoga bernama durvasana yang menurut saya ‘praktis’ karena tak mesti mencari tempat yang bersih atau rata. Cukup dengan berdiri tegak lalu menaikkan satu kaki ke belakang kepala, saya sudah bisa mencapainya.

Amor, teman saya yang saya titipi untuk menjepret kami bertiga, duduk dan berancang-ancang memberikan aba-aba. Saya fokus ke ponsel berkamera saya dan memasang senyum lebar. Dalam tiga kali jepret, saya amati Damin lebih salah tingkah daripada Aceng. Aceng lebih alami dan tidak setegang sahabatnya itu dalam berpose. Damin lebih pemalu dan cenderung mengarahkan pandangannya ke bawah, ke tanah tempat dedaunan mati berserakan tanpa pernah tersapu.

Selain rombongan kami, di sana juga duduk sejumlah penjual makanan dan minuman instan sebagai pengisi tenaga kami yang sudah kepayahan mendaki. Sebenarnya saya agak menyayangkan masuknya makanan dan minuman instan semacam itu ke daerah ini. Pasalnya makanan dan minuman semacam itu terbungkus dalam kemasan plastik, yang pasti menimbulkan gunungan atau ceceran sampah plastik di mana–mana. Dan jika makanan instan berkemasan plastik sudah hadir di sebuah daerah di Indonesia, kita bisa pastikan tingkat kebersihannya sudah menurun.

Perjalanan kami akan dimulai lagi ke kampung Baduy Dalam. Harry dan Johar meminta kami semua memperhatikan sampah-sampah yang kami hasilkan sepanjang kami singgah di tepi sungai. Pokoknya jangan sampai dibiarkan begitu saja mengotori lingkungan Baduy Luar ini. Penanganan sampah di sini ternyata sederhana, hanya dikumpulkan dalam sebuah kantong (plastik pula) untuk kemudian dibakar, demikian kata pemandu perjalanan kami, Teguh.

Mendengar jawaban ini, Johar dan saya sebenarnya tersentak juga. Johar berusaha menolak pembakaran sampah kami tetapi saya tahu ia tidak memiliki ide penanganan lain yang lebih masuk akal dan realistis. Apa boleh buat, kami pun tak bisa berbuat apa-apa. Saya juga cuma bisa membisu.

Melontarkan ide daur ulang sampah plastik itu tampaknya juga akan membutuhkan tindak lanjut yang panjang dan kompleks. Itu memang idealnya. Tetapi di sana saat kondisi itu, rasanya tidak mungkin dengan pongah dan idealis saya berkata,”Jangan dibakar. Daur ulang saja.” Saya sadar setelah memberikan saran semacam itu, bakal harus ada penjelasan yang lebih pelik dan pengajaran yang konkret. Berbicara sungguh mudah.

Kami pun mendaki kembali siang itu. Kami lewati ladang-ladang di perbukitan tinggi yang bermandikan sinar matahari yang teriknya tidak terbendung awan. Dan persoalan sampah plastik yang menjadi isu laten itu agak terlupakan. Namun, sejujurnya dalam hati saya tetap resah juga.

Hingga saat jaro (kepala adat di kampung) perkampungan Baduy Dalam yang kami singgahi bertandang ke beranda rumah pagi itu setelah kami menyantap sarapan pagi. Salah satu pertanyaan yang dilancarkan kepadanya juga tentang penanganan sampah plastik di kampung.

“Bagaimana penanganan sampah plastik yang dibawa oleh pendatang ke sini (kampung Cibeo)?” tanya Johar pada sang jaro.

Saya sendiri sudah menduga jawabannya setelah menyaksikan adegan di hari sebelumnya saat kami hendak berangkat mendaki setelah beryoga di tepi sungai.

“Sampah plastiknya kami kumpulkan untuk dibakar. Daripada berserakan,” ucap jaro yang bijak itu tenang.

Pengumpulan sampah plastik memang sudah relatif baik di kampung ini. Di depan beranda setiap rumah, ada sebuah anyaman bambu yang bentuknya mirip ember dan ternyata difungsikan sebagai pengumpul sampah. Dan karena para pengunjung di akhir pekan ramai, saat saya saksikan sampah begitu memenuhi wadah tadi. Dan kebanyakan adalah sampah kemasan makanan dan minuman instan.

Jaro mengakui bahwa masyarakat dan para tetua adat di kampungnya belum memiliki suatu skema penanganan sampah plastik yang terpadu dan sistematis. Saya bisa memakluminya karena sampah plastik sejatinya masalah luar yang diimpor ke dalam. Tentu mereka tidak memiliki sumber daya untuk menghadapinya. Mestinya orang-orang luar Baduy-lah yang tahu diri untuk tidak membawa sampah plastik dalam bentuk apapun ke dalam.

Kami pun mengusulkan agar warga Baduy Dalam jangan sampai disusahkan dengan penanganan sampah plastik itu. Membakar sampah plastik itu saja sudah suatu tindakan penghasil pencemaran udara. Dan patut dicamkan juga bahwa asap hasil pembakaran plastik mengandung racun yang tidak hanya berbahaya buat manusia yang ada di sekitarnya tetapi juga pastinya ekosistem alami Baduy yang relatif masih terjaga.

Di sekitar perkampungan Cibeo itu saya memang tidak sempat menemukan lokasi pembakaran sampah plastik tetapi saya duga pastinya ada. Hanya saja lokasinya tersembunyi jauh dari perkampungan.

Jaro menampik halus usulan solusi kami, mengatakan bahwa mereka tidak tega membuat pengunjung kerepotan dengan mengurus dan membawa sampah plastik lagi. Saya kemudian ingat bahwa orang-orang Baduy Dalam ini begitu ramah dalam memperlakukan kami saudara-saudara mereka dari luar. Mereka mendahulukan tetamu sebelum menyantap dan meneguk apapun. Dan soal sampah plastik, mereka juga segan menegur pengunjung luar untuk mengurus soal itu sendiri. “Kami tidak tega dan tidak ingin merepotkan jika mengingatkan,” terang jaro.

Warga Baduy Dalam juga kurang memiliki ketegasan dalam menghadapi para penjual makanan dan minuman instan dari luar sehubungan dengan sampah plastik yang dihasilkan dari kegiatan niaga mereka dengan turis-turis di sini.

Seperti seorang pria pedagang mi instan dan minuman sachet yang sekonyong-konyong menghampiri saya setelah beberapa saat menyaksikan saya bersantai di beranda setelah trekking yang melelahkan.

Dalam bahasa Sunda yang saya kurang pahami, ia bercakap-cakap dengan Damin dan Aceng sembari sesekali terkekeh memandangi saya. Saya menduga ia ingin memastikan pada Aceng dan Damin bahwa saya adalah orang yang berfoto dalam posisi berdiri di satu kaki dan menaikkan satu kaki di belakang kepala. Orang yang aneh, langka dan hanya satu-satunya ada di rombongan turis lokal yang ia jumpai hari itu.

Begitu ia yakin saya adalah orang yang ia ingat, pria itu mendekati saya tanpa meninggalkan beranda yang ia duduki di rumah seberang. Tetapi kali ini kami berhadap-hadapan lebih dekat.

Tanyanya pada saya kemudian,”Mas, biasa olahraga ya?”

Saya terbengong-bengong, tidak menyangka akan disuguhi pertanyaan seperti itu. Saya sudah biasa menghadapi pertanyaan ini di Jakarta tetapi di sini saya sama sekali tidak menduga ada yang tertarik dengan yoga.

“Ya, mas. Sudah biasa. Hehe,” tukas saya, mencoba beramah tamah dengannya. Saya mencoba mempertahankan aliran percakapan,”Tinggal di sini?”

“Tidak. Saya dari kampung luar sini,” dalam bahasa Indonesia yang berakses Sunda ia menjawab singkat. Pakaiannya memang menunjukkan ia bukan warga Baduy Dalam. Ia memakai kaos jersey sebuah klub sepakbola negeri asal pizza. Celananya jeans biru tua yang bisa ditemukan di toko-toko pakaian di pasar-pasar tradisional atau toko pakaian di Lebak.

Pria ini ialah salah satu orang dari rombongan pedagang yang mengiringi kami selama trekking. Mereka juga berjalan kaki di bawah sengatan mentari, sampai kulit legam dan berkilau.

Masyarakat Baduy Dalam di kampung Cibeo ini terbilang relatif terbuka daripada kampung Baduy Dalam lainnya. Mereka membuka diri terhadap kunjungan orang luar dan bahkan menganggap kedatangan mereka sebagai berkah, bukan bencana. Pariwisata budaya ini mereka jadikan sumber penghasilan yang bisa memacu kesejahteraan.

Hanya saja, seperti tren pariwisata pada umumnya, eksploitasi berlebihan menjadi momok yang menakutkan. Dan di sini mereka belum memikirkan kemungkinan terjadinya kerusakan yang berpotensi muncul dan mengganggu keseimbangan ekosistem alam sekitar dan kondisi keseluruhan masyarakat di dalamnya.

Masyarakat Baduy Dalam di sini belum memahami batas tipis antara pariwisata massal dan ekoturisme. Yang pertama lebih berorientasi kuantitas dan volume dan bersifat eksploitatif tanpa kendali. Yang kedua lebih beretika, terkontrol, terencana, tidak serampangan dan mengindahkan kelestarian dan daya dukung lingkungan sekitar.

Klaim saya ini terbukti setelah kami secara spontan menanyakan dan mengusulkan adanya peraturan kuota yang diberlakukan segera agar kampung tersebut tidak diluberi wisatawan secara berlebihan. Layaknya orang berkunjung ke sebuah tempat suci untuk berziarah seperti berhaji, diperlukan pembatasan jumlah orang luar yang memasuki wilayah tersebut agar ketertiban dan kebersihan kampung tetap terjaga.

Masyarakat Baduy Dalam masih memerlukan masukan dari kita mengenai solusi-solusi yang baik untuk memaksimalkan upaya-upaya dalam memanfaatkan potensi wisata budayanya sambil memelihara kelestarian dan kemurnian budaya dan alam sekitarnya. (bersambung)

Cara Mengajarkan Menulis dalam Bahasa Asing

Menulis itu suatu seni, dan mengajarkan seni diperlukan seni tersendiri juga. (Foto: Wikimedia)

Anda mungkin bisa menulis dengan baik tanpa harus menjadi penulis buku. Karena ada begitu banyak hal yang perlu kita komunikasikan dalam kehidupan ini, tanpa harus melalui medium buku dan sejenisnya.

Pertama-tama, apakah itu menulis? Pada dasarnyam menulis ialah sebuah kegiatan literasi yang berkaitan dengan pikiran. Ia mencakup proses belajar, dengan tujuan menyempurnakan pemikiran seseorang, dan untuk mempengaruhi pemikiran orang lain. Menulis ialah kunci dalam komunikasi terutama di era melek huruf dan digital seperti sekarang. Manusia abad ke-21 adalah makhluk yang lebih banyak berkomunikasi lewat teks daripada para pendahulu mereka. Kita menggunakan media digital untuk menyampaikan apa saja dan semua itu lebih banyak dalam bentuk tulisan.

Menulis, meski bukan satu-satunya aspek dalam pendidikan, dapat dikatakan sebagai salah satu fondasi terpenting dalam pendidikan dasar hingga menengah dan tinggi. Bahkan setelah seseorang sudah meninggalkan bangku kuliah, ia akan terus memerlukan keterampilan menulis tersebut di berbagai kesempatan. Buktinya orang dewasa yang sudah melampaui usia sekolah masih saja terus belajar bahasa dengan beragam tujuan tetapi intinya ialah agar mereka dapat meraih kesempatan yang lebih luas dalam era persaingan tenaga kerja di era globalisasi yang makin sengit persaingannya ini.

Keterampilan menulis makin dibutuhkan saat ini. Kita makin banyak disuguhi informasi dengan begitu banyaknya informasi yang mengalir di Internet dan media konvensional. Dan setelah menyerap semua itu, kita diharapkan juga dapat memberikan respon atau tanggapan. Semua orang bisa memberikan tanggapan secara lisan tanpa harus banyak berpikir. Tetapi untuk menulis sebuah tanggapan yang runtut, sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan (karena makin banyak orang menulis dan tidak sadar mereka harus bertanggung jawab untuk itu, sebut saja penulis berita bohong alias hoax), tidak semua orang bisa melakukannya. Diperlukan kerja keras intelektual yang lebih besar dan waktu yang lebih panjang untuk menyiapkannya, menyuntingnya hingga sampai ke penayangannya ke publik luas. Tidak semua orang sesabar dan segigih itu.

Untuk mengukur baik buruknya keterampilan menulis sebetulnya mudah, yakni bagaimana kita bisa mengetahui mudah tidaknya sebuah gagasan dalam tulisan ditransfer dari benak penulis untuk kemudian dipahami oleh orang lain. Tulisan tersebut juga harusnya disusun secara teratur, terorganisir dan sistematis sehingga dapat dimengerti siapa saja yang membacanya. Hal ini selaras dengan pendapat Orson Wales yang berkata:”Jika seseorang tidak bisa menulis dengan baik, mereka juga kurang bisa berpikir dengan baik juga.” Dan parahnya jika kita sendiri tidak bisa berpikir untuk diri kita, orang lain yang akan berpikir untuk kita. Dengan kata lain, orang lainlah yang akan menjadi pemikir bagi kita dan dengan demikian kita hanya akan menjadi pengikut, ibarat seekor domba yang mau saja digiring oleh pemiliknya ke mana saja, bahkan ke jurang atau rumah jagal sekalipun. Karena itulah, menulis sangat penting.

Menulis juga bisa menjadi suatu tolok ukur untuk menguji seberapa dalam pemahaman seseorang tentang sebuah topik atau permasalahan. Jika seseorang bisa dengan lancar dan sistematis menuangkan informasi atau pengalaman atau apapun yang ia ingin sampaikan dalam bentuk tulisan yang runtut dan sistematis, biasanya dapat dipastikan pemahamannya soal isu atau masalah yang ia tulis itu juga lebih baik daripada mereka yang hanya bisa berkomentar singkat atau menulis status yang cuma 100-200 kata panjangnya.

Orang cerdas tanpa kemampuan menulis yang memadai juga akan sulit menyampaikan pengetahuan dan pendapatnya yang berharga itu ke khalayak yang lebih luas lagi. Hal ini dibuktikan dalam sebuah survei yang menyatakan bahwa lebih dari 50% mahasiswa Korsel yang sukses masuk dan menjalani perkuliahan di kampus-kampus bergengsi yang terkenal dengan sebutan “Ivy League” harus menelan pil pahit. Di tengah jalan mereka terpaksa keluar atau berhenti sebelum bisa lulus. Padahal kalau kita cermati, di jajaran negara-negara maju (OECD) , Korsel adalah salah satu negara dengan pencapaian mutu SDM yang paling mengagumkan. Prestasi akademik anak-anak sekolah Korsel melesat melampaui AS dan Inggris yang dianggap kiblatnya pendidikan global. Skor-skor anak-anak Korsel di atas rata-rata dan bahkan mereka sanggup mengerjakan soal yang jauh lebih sulit daripada soal yang biasa dikerjakan anak-anak seusianya di negara-negara maju lainnya. Lalu apa sebabnya anak-anak Korsel yang ‘cerdas’ itu gagal di pendidikan tinggi mereka? Ternyata pendidikan yang terlalu mengejar skor seperti di Korsel itu kurang mendukung bagi pengembangan keterampilan berpikir kritis yang vital dalam proses menulis. Mereka hanya diajarkan untuk menyerap dan menyerap tanpa diberi kesempatan menanggapi, entah itu menolak atau menerima atau menerima dengan syarat/ alasan tertentu. Mereka kehilangan kesempatan untuk menyuarakan pikiran dan pendapat mereka karena sudah dibentuk menjadi ‘robot penghapal’. Dan sejujurnya Korsel bukan satu-satunya negara dengan pendidikan pengejar skor. Banyak pendidikan di negara-negara Asia masih berhaluan sama, termasuk juga Indonesia. Anak-anak sekolah hasil didikan sistem pendidikan Asia lazimnya kesulitan beradaptasi dengan sistem pendidikan Barat terutama AS karena di sekolah-sekolah Amerika itu keterampilan menulis dibutuhkan di beragam mata kuliah, bahkan bagi mereka yang tampaknya jauh dari bidang bahasa dan sastra sekalipun masih ada tuntutan untuk bisa menulis makalah atau tesis dengan sistematis. Akibat ketidakmampuan menulis sangatlah kompleks, misalnya ketidakpercayaan diri di kelas, terlambat mengumpulkan tugas, komunikasi yang buruk dengan dosen, dan yang terparah, jika amat terdesak, anak didik yang sudah putus asa bisa melakukan pelanggaran akademis serius seperti mencontek dan meniru tulisan orang lain alias plagiarisme. Jadi, sekali lagi, para pelaku plagiarisme kadang bukan anak-anak yang pandir. Mereka terkadang memiliki intelejensia yang tinggi tetapi sayangnya masih memiliki keterampilan menulis yang kurang.

Tantangan dalam Mengajar Menulis

Begitu banyak tantangan yang kita jumpai dalam menulis. Di antaranya yang paling banyak dijumpai ialah kurangnya waktu yang disediakan, kurikulum pengajaran yang terlampau rumit, dan ketiadaan struktur yang jelas dan mudah dipahami.

Tantangan akan makin besar jika kita membicarakan soal pengajaran keterampilan menulis dalam bahasa asing. Misalnya bahasa Inggris. Hal ini karena kebanyakan anak didik dibesarkan dalam suatu lingkungan yang secara alami kurang mendukung. Keluarga dan teman-teman mereka mayoritas bukan penutur asli (native speaker) dari bahasa yang mereka pakai untuk menulis. Jadi, dengan kata lain, tantangannya lebih berlapis-lapis dari mereka yang belajar menulis dalam bahasa ibu (first language). Akhirnya, beban itu harus disangga oleh guru-guru bahasa sendirian. Dan ini konyol karena tentu tidak bisa memasrahkan perkembangan penguasaan berbahasa asing pada satu pihak saja. Diperlukan sinergi yang solid untuk bisa memaksimalkan proses belajar anak, yang justru lebih banyak di luar ruangan kelas.

Santai Itu Penting

Saat mengajarkan menulis, ada baiknya pengajar atau guru menghindari melabelinya sebagai sebuah kelas atau kursus atau kuliah. Mengapa? Karena menulis pada hakikatnya sudah terintegrasi dalam berbagai bidang atau disiplin ilmu lainnya.

Pentingnya Instruksi Menulis yang Baik

Instruksi menulis yang baik terdiri dari bahasa yang universal dan konsisten. Dengan kata lain, bahasa yang digunakan dalam pengajaran menulis idealnya memakai istilah-istilah yang disepakati bersama dan seragam sehingga siapa saja yang mengajarkan dan belajar akan bisa berkomunikasi dengan efisien. Dengan memakai bahasa yan sama dalam mengajarkan menulis, diharapkan juga pesan yang tersampaikan ke anak didik menjadi lebih konsisten.

Elemen-elemen Instruksi Menulis yang Baik

Terdapat lima elemen penting dalam menyusun instruksi menulis yang baik. Elemen-elemen tersebut ialah:

  1. Ide
  2. Pengaturan/ organisasi
  3. Suara
  4. Pilihan kata/ diksi
  5. Kelancaran kalimat
  6. Konvensi

Elemen pertama, ide, berkaitan dengan topik dan pemahaman mendetail soal aksi, pikiran, dan perasaan. Secara keeluruhan, ide ialah pesan yang kita hendak sampaikan melalui tulisan kita pada orang lain. Singkatnya, ide ialah gagasan menarik yang bisa disuguhkan ke audiens.

Elemen kedua yakni organisasi atau pengaturan. Untuk itu perlu dipakai kata-kata yang menunjukkan urutan, sehingga jelas mana yang awal dan akhir. Pemakaian elemen kedua akan menunjukkan progresi yang jelas dalam menyusun ide tulisan. Tanpa progresi, tulisan akan terkesan berputar-putar tidak tentu arah. Karenanya, model penulisan tiga babak yang mencakup pembuka, isi dan penutup ialah model yang universal dan wajib diingat dan diamalkan dalam menulis.

Suara (voice) ialah mengenai cara untuk menggunakan tujuan. Di sinilah terletak sikap, opini, energi dan kepribadian penulis yang menjadi inti yang bisa menarik pembaca. Suara inilah yang unik dan bisa membuat ide yang terkesan biasa dan membosankan terkesan lebih menarik, hangat, menggairahkan, bahkan seru untuk diikuti.

Diksi atau pilihan kata ialah bagaimana memilih kata-kata dengan jeli dan tepat untuk menyampaikan kisah yang ingin Anda sampaikan. Diksi biasanya menggunakan kata-kata yang deskriptif sehingga pembaca seolah bisa menyaksikan sesuatu yang digambarkan penulis dalam kata-katanya. Diksi yang sesuai akan mengemas ide sedemikian rupa sehingga lebih mengena ke hati pembaca.

Kelancaran kalimat ialah bagaimana seorang penulis menggunakan kalimat dalam panjang, urutan dan struktur yang bervariasi tetapi tetap menunjukkan kemulusan dalam narasinya. Di dalamnya juga tercakup naik turunnya nada ujaran. Karenanya, penulis yang baik mesti bisa merangkai kalimat dalam berbagai jenis sesuai kebutuhan dengan tujuan akhir untuk menarik minat pembaca meneruskan sampai akhir tulisan.

Konvensi meliputi aturan-aturan yang menentukan apakah sebuah tulisan bisa dikatakan baik atau tidak. Aturan-aturan ini adalah kesepakatan bersama yang dihasilkan oleh para petinggi, akademisi, atau kalangan tertentu yang dianggap sebagai otoritas, panutan, pengalaman atau kekuasaan yang lebih. Dan karena ini bersifat subjektif dan bervariasi, perbincangan dan perdebatan soal konvensi seakan tiada habisnya dari waktu ke waktu. Maka jangan terlalu menghabiskan energi di aspek ini saja dalam mengajarkan menulis. Sejumlah konvensi yang kita pakai dalam proses menulis misalnya kapitalisasi, ejaan, pemakaian tanda baca, tata bahasa, dan sebagainya.

Jenis Teks

Jenis teks dalam menulis mencakup Naratif, Informatif/ Penjelasan, dan Opini atau Argumentasi. Naratif ialah suatu kisah yang ditulis dengan berdasarkan perspektif atau sudut pandang tertentu. Seringkali isinya ialah pengalaman pribadi.

Sementara itu, Informatif/ Penjelasan memiliki banyak bentuk. Jenis ini menggunakan serangkaian fakta yang dipakai untuk menerangkan dan menyampaikan sebuah pesan yang lebih besar. Jenis teks semacam ini bisa dijumpai dalam makalah akademik, paper penelitian, buku manual.

Jenis Opini atau Argumentasi menunjukkan perasaan atau pemikiran penulis mengenai suatu isu atau tema. Dalam penulis opini, seorang penulis mesti bersikap jelas dan tegas soal pendirian dan sikapnya terhadap isu yang ia pilih. Tulisan semacam ini bisa membujuk lebih banyak orang untuk mengadopsi cara berpikir, pendapat atau sikap penulis secara lebih luas.

Proses Menulis

Dalam proses menulis, kita perlu mengingat dan menerapkan keenam elemen menulis yang vital tersebut. Adapun proses menulis mencakup lima fase utama:

  1. Pramenulis
  2. Menyusun draft
  3. Revisi
  4. Penyuntingan
  5. Penerbitan

Menulis bukanlah proses instan. Diperlukan proses yang panjangnya bervariasi tergantung kerumitan, jenis topik yang dibahas, tujuan penulisan dan banyak hal lainnya.

Model Workshop

Model workshop ini dimaksudkan untuk mendukung proses menulis. Model workshop yang dimaksud di sini mencakup:

  1. Pelajaran singkat harian
  2. Modeling/ meniru
  3. Pilihan
  4. Menulis mandiri
  5. Berbagi/ konferensi

Dalam pembelajaran menulis dengan menggunakan bahasa asing, murid akan didorong untuk menggunakan bahasa asing sebanyak mungkin dengan temannya selama menulis. Misalnya, sebelum menulis atau selama proses menulis sebuah tulisan berbahasa Inggris, siswa didorong untuk juga berdiskusi secara lisan dalam bahasa tersebut. Dengan demikian, mereka akan lebih siap menulis daripada jika diskusi dilakukan dalam bahasa ibu. Penitng juga bagi murid untuk diberikan waktu bekerja sendiri dan bekerja bersama murid lain. Dalam grup kecil, mereka bisa bekerja sama untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan masing-masing.

Komprehensif

Perlu dipahami bahwa instruksi menulis yang baik haruslah bersifat komprehensif. Untuk bisa komprehensif, perlu ditekankan jenis teks yang penting dalam meraih keberhasilan akademik di bangku kuliah dan karier.

Mengajarkan menulis dan membaca secara terpisah juga membuat kemampuan menulis sulit berkembang. Keduanya mesti disatukan secara beriringan dalam proses pembelajaran menulis. Cara untuk mengajarkan kemampuan membaca dan menulis sekaligus dalam satu kegiatan misalnya dengan menyuruh murid untuk membaca beragam teks kemudian menganalisis secara cermat dan kemudian menyusun tanggapan dalam tulisan. (bersambung)

Disarikan dari paparan Andy Shafran (Vice President ) dalam “How to Teach Writing to Young EFL Students from Beginners to Advanced Levels” dari International Businesses of Highlights of Zaner Bloser (Educational Publisher)

Anomali Bernama Baduy (9)

Stres kalau sudah urusan mandi! Karena di perkampungan Baduy Dalam, tidak ada kamar mandi tertutup buat kami. Foto ini diambil di perkampungan Baduy luar. (Foto: Tim Geo Tour)
Stres kalau sudah urusan mandi! Karena di perkampungan Baduy Dalam, tidak ada kamar mandi tertutup buat kami. Foto ini diambil di perkampungan Baduy luar. (Foto: Tim Geo Tour)

MCK. Tidak ada yang paling membuat stres di kampung Baduy ini bagi kami selain urusan ke belakang. Apapun kami bisa tahan tetapi soal mandi, cuci dan kakus, sebagian dari kami tidak bisa menolerir. Tidak bisa tidak, kami harus mandi tanpa bisa dilihat orang lain. Dan alternatifnya cuma dua: mandi sebelum atau sesudah semua orang mandi atau mandi di tempat yang agak jauh dari permukiman (yang sebenarnya juga tidak beratap juga jadi tidak sepenuhnya kebal pandangan mata manusia lain).

Sungai menjadi tempat kami melakukan segala aktivitas yang amat sangat pribadi tersebut. Dan ketiadaan pembatas menimbulkan rasa segan, rikuh, dan tertekan. Kegiatan mandi menjadi suatu perbuatan yang harus dilakukan dengan kewaspadaan yang tidak ada redanya dan kehati-hatian ekstra serta perasaan penuh curiga. Pandangan terus disebarkan ke sekeliling. Dan memikirkan kemungkinan pakaian hanyut atau hilang terbawa orang atau sengaja dibawa orang makin membuat kepala pening. Pertanyaan “bagaimana jika…?” yang terus menghantui membuat mandi cukup menguras tenaga dan pikiran.

Sebelum mandi, saya mengkondisikan diri agar dapat menganggap kegiatan mandi sebagai suatu aktivitas berenang bersama yang mengasyikkan. Karena di sana juga tidak boleh memakai sabun, jadi berenang dan mandi terlihat sama saja. Dan itulah yang saya saksikan dan pelajari dari anak-anak Baduy yang mandi di sungai. Mereka melakukannya dengan riang gembira. Sementara orang-orang tua melakukannya sebagai kewajiban. Dan orang-orang luar yang dengan angkuhnya merasa lebih maju dan modern seperti kami menganggap mandi di alam terbuka sebagai suatu kenistaan yang tidak patut dilakukan, sangat purba, menjijikkan, permisif dan sinting.

Jika kita mencermati tata letak zona permandian di sepanjang sungai ini menunjukkan pemikiran orang Baduy juga. Begini letaknya dari hulu ke hilir: zona atas, tengah dan bawah. Zona atas ialah yang paling dekat ke hulu dan khusus diperuntukkan bagi para tetua adat Baduy. Dua kali saya mandi di sungai, saya belum pernah sekalipun menemukan tetua adat mencelupkan tubuh di sana.

Zona tengah, yang dekat dengan jembatan penyeberangan, diakses khusus oleh para pria dan anak laki-laki. Di bawah jembatan tersebut, terdapat sebuah palung yang cukup dalam. Mungkin setinggi leher orang dewasa. Karena tidak dapat berenang dengan baik, saya hindari area ceruk dalam itu dan memilih menjauhi jembatan serta memilih berendam santai sambil menggosok tubuh dengan bebatuan yang ada di dasar kali.

Sementara itu di zona bawah, para perempuan dipersilakan membasuh tubuh. Dari sini kita bisa ketahui bahwa masyarakat Baduy bersifat patriarkis karena perempuan-perempuan Baduy segala usia harus rela menggunakan air sisa mandi dari para tetua (yang notabene juga pria) dan suami, saudara laki-laki, atau anak laki-lakinya. Bahkan air sisa mandi para pria pendatang yang tidak dikenalnya!

Sebetulnya jika kita mau berjalan lebih jauh lagi agak jauh dari permukiman, ada dua bilik tertutup yang bisa dipakai mandi. Tetapi tetap saja meskipun ada dinding jerami sebagai penghalang pandang, Anda akan mandi dengan menatap langit.

Sekembalinya ke Jakarta, kami mengobrol soal MCK. Ada yang mengaku menahan selama di perkampungan. “Sampai Jakarta, langsunggg!” katanya penuh kelegaan. Ada juga teman yang berhasil menyelesaikan ‘hajat’ di sana. “Pantas tidak ada sepagian,” seloroh seorang yang lain menyadari ketidakhadiran temannya di acara tur.

Saya sendiri bukan tipe orang yang bisa melampiaskan urusan pembuangan secara serampangan. Buang air kecil masih bisa diselesaikan dengan santai. Namun, soal buang air besar, sungguh sulit. Mungkin karena dehidrasi juga. Karena sepanjang perjalanan, keringat mengucur tanpa ampun.

Kebiasaan ke toilet atau kamar mandi sebelum tidur terasa jauh lebih mudah di rumah. Di sini, kami tidak bisa sembarangan ke kali di malam hari sebab medannya yang tidak rata dan siapa tahu ada satwa yang kehadirannya tak terduga dan bisa membuat celaka? Maka sebelum berangkat tidur, kami yang laki-laki secara berkelompok saling menjagai saat ingin kencing di malam hari. Baru kali ini, kami kencing berdiri, di tepi kali, lalu menjerit-jerit minta diterangi tetapi begitu disoroti, kami minta jangan terlalu diterangi. Intinya serba salah. Ingin melihat tetapi juga tidak ingin dilihat. Saya sendiri berdoa supaya tidak ada ular yang iseng berenang melintasi titik tempat kami bergerombol. Jika ada, tamatlah kami dipatuknya. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (8)

Anak-anak Baduy tidak diperkenankan orang tua mereka untuk mengenyam pendidikan formal. Tak cukup di situ, mereka tidak disarankan menjadi terlalu pintar. (Foto: Tim Geo Tour/ Jalan- Jalan Baik)
Anak-anak Baduy tidak diperkenankan orang tua mereka untuk mengenyam pendidikan formal. Tak cukup di situ, mereka tidak disarankan menjadi terlalu pintar. (Foto: Tim Geo Tour/ Jalan- Jalan Baik)

‘LARANGAN’ PINTAR. Menjadi cerdas seolah sudah menjadi ambisi dan impian masyarakat modern. Kita diajarkan untuk menjadi makhluk yang haus informasi dan ilmu pengetahuan. Di mana-mana, kalau ada waktu, membacalah, begitu nasihat yang sudah tertanam dalam benak kita. Terus belajarlah sampai ke negeri China, begitu bahkan petuah dari agama. Dari segala arah, manusia modern sudah dibentuk sedemikian rupa untuk terus bersaing dan menyempurnakan kecerdasan mereka.

Lain halnya dengan orang-orang Baduy, terutama Baduy Dalam. Alih-alih mendidik anak-anaknya agar sepintar mungkin, masyarakat Baduy lebih memilih untuk memberikan kesempatan belajar secukupnya dan membatasi agar jangan sampai terlalu cerdas.

“Karena saat seseorang terlalu pintar, ia bisa membohongi orang lain,” ujar jaro.

Saya termangu. Ada hal-hal yang dianggap sebagai penderitaan, atau ketertinggalan yang bukannya dihindari tetapi malah dipilih secara sadar dan tanpa paksaan oleh orang, atau dalam kasus ini, sekelompok orang. Dan saya tidak bisa menghakimi ini sebagai suatu kepandiran. Ini pilihan hidup mereka dan kita sebagai orang luar mestinya menghargai.

PERMUKIMAN. Permukiman orang Baduy tidak stagnan, atau sama dari waktu ke waktu. Seperti halnya masyarakat lain yang dinamis, permukiman Baduy juga terus berubah-ubah dalam banyak aspek. Mengenai jumlahnya, ternyata bisa terjadi pertambahan sesuai kebutuhan.

Satu rumah yang dibangun bisa berisi satu atau dua keluarga. Sebuah rumah yang saya tempati satu malam bersama teman-teman serombongan juga dihuni satu keluarga besar yang kebetulan adalah keluarga Damin, salah satu anak laki-laki yang turut berjalan kaki bersama kami membawakan barang bawaan. Di akhir pekan seperti sekarang mereka menyewakan ruangan luar rumah sederhana berdinding anyaman bambu dan beralas tikar anyam itu dengan traif sukarela. Jadi, kalau bisa dikatakan mereka mirip host di layanan AirBnB. Jumlahnya mungkin tidak seberapa jika dibandingkan penghasilan manusia urban tetapi toh jumlah sebesar itu bisa menghidupi sebuah keluarga dengan 8 anak seperti di keluarga ini.

Sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia, papan juga menjadi fokus penting dalam kehidupan masyarakat Baduy. Biaya pembangunan setiap rumah di perkampungan Baduy diperoleh dari si pemilik rumah. Mereka harus menyiapkan materialnya yang sebagian besar adalah bambu, kayu keras dan dedaunan. Namun, untuk tenaga, pemilik dibantu oleh warga lain juga dalam proses pendiriannya.

Yang unik, dalam bangunan rumah dan apapun di suku Baduy Dalam, penggunaan paku sama sekali dilarang. Sehingga yang kita bisa jumpai di rumah-rumahnya hanyalah pasak kayu atau penyusunan bahan yang lebih taktis untuk mengakali ketiadaan paku sebagai perekat antarelemen bangunan. Suku Baduy Luar lebih fleksibel perkara paku. Bangunan rumah mereka masih diperbolehkan memakai paku.

KEBERSIHAN DIRI. Salah satu sumber frustrasi para wisatawan urban di daerah ini ialah larangan tegas untuk menggunakan bahan-bahan pembersih badan dan rambut yang mengandung zat dan senyawa kimiawi buatan pabrik. Larangan tersebut bukannya tanpa alasan. Selain karena memang bungkus plastik kemasannya bisa menambah gunungan sampah plastik di alam terbuka, air bilasan dari penggunaan produk-produk perawatan semacam itu juga bisa mencemari lingkungan. Saya sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika larangan itu tidak ada, padahal sungai menjadi satu-satunya andalan kami dalam berbagai urusan mandi, cuci, sampai kakus!

Tetapi karena adanya larangan tegas tersebut, saya yang terbiasa mandi di ruangan tertutup dan air bersih yang sudah disedot sedemikian rupa dari dalam perut bumi, bisa juga menikmati sesi mandi di alam terbuka dengan air mengalir di permukaan tanah tanpa ada rasa cemas yang berlebihan jika ada kotoran atau hal-hal semacamnya. Air yang mengalir begitu bersih dan jernih serta alirannya konstan. Tidak ada kotoran yang tertahan. Jikalau ada butiran pasir atau tanah pun bisa dibilas lagi.

Sebagai pengganti shampo dan sabun, masyarakat Baduy memakai bahan-bahan alami dari dedaunan untuk membersihkan diri. Untuk pengganti sikat gigi, sang jaro mengatakan sabut kelapa bisa dipakai membersihkan gigi. Daun hejo juga dapat dipakai untuk mencuci rambut.

Perkara perapian rambut, masyarakat Baduy tidak mengenal gaya rambut yang bermacam-macam. Mereka juga tidak mengenal adanya profesi penata rambut (hair stylist) atau juru potong rambut (barber). Dalam pengamatan saya, pria-pria Baduy memilih membiarkan rambut mereka tergerai sepanjang telinga atau bahu. Tidak lebih dari itu. Sementara para perempuan memanjangkan dan memelihara rambut mereka sampai ke pinggang. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (7)

Suatu bentuk arogansi yang umum kita temui dan lakukan ialah menghakimi keterbelakangan atau kemajuan sebuah masyarakat dengan menggunakan standar kita sendiri. Padahal belum tentu yang kita anggap kemajuan itu diinginkan oleh masyarakat lain yang kita nilai. (Credit: Tim Geo Tour Baduy)
Suatu bentuk arogansi yang umum kita temui dan lakukan ialah menghakimi keterbelakangan atau kemajuan sebuah masyarakat dengan menggunakan standar kita sendiri. Padahal belum tentu yang kita anggap kemajuan itu diinginkan oleh masyarakat lain yang kita nilai. (Credit: Tim Geo Tour Baduy)

KEMAJUAN. Manusia memang saling memandang kondisinya masing-masing. Ada yang memandang kondisi orang lain dengan rasa iri. Ada pula yang memandang kondisi orang lain dan merasa kasihan lalu ingin membantu karena berpikir kondisi orang lain lebih malang darinya. Hanya saja, kadang bantuan itu dibutuhkan, kadang juga sama sekali tidak. Mengapa? Karena yang ditolong merasa sudah cukup atau bahkan malah ingin mempertahankan apa yang ia miliki.

Seperti saat kami menanyakan apakah selama ini ada orang luar yang ingin memberikan pendidikan bagi orang Baduy agar bisa “semaju” masyarakat luar. Tentu menurut standar orang perkotaan, standar hidup dan pendidikan suku Baduy kurang dari kata “layak”. Tetapi di sinilah kita perlu memberikan empati kita bahwa mereka sama sekali tidak menghendaki bantuan semacam itu. Karena dengan bantuan semacam itu, justru mereka merasa terusik dan terganggu sehingga mereka tercerabut dari akar budaya mereka yang sudah susah payah dilestarikan selama ini.

Sang jaro dengan nada datar dan sabar menjawab bahwa sudah sejak dulu kala telah dilarang bagi orang Baduy untuk menerima pendidikan formal dari pihak luar. Namun demikian, bukan berarti mereka sama sekali abai dengan pentingnya pendidikan. Suku Baduy masih memperkenankan anggota sukunya untuk memberikan pendidikan bagi anak-anaknya asal dilakukan oleh kalangan dalam sendiri. Hal ini untuk mencegah upaya “brainwash” yang kelak malah membuat budaya Baduy memudar dan punah.

Antipati semacam ini memang sangat bisa dipahami. Pendidikan adalah metode penyemaian benih-benih dari sebuah masyarakat budaya. Jika pendidikannya sudah menuju ke arah yang keliru, budaya dan masyarakat itu bisa dipastikan akan segera menjemput kepunahannya. Hal inilah yang juga terjadi pada suku Jawa yang menjadi bagian dari identitas saya juga. Dalam hal jumlah populasi, kita tidak meragukannya. Akan tetapi, dalam hal kelestarian budaya, banyak orang Jawa yang sudah hilang identitas Jawa-nya. Anak-anak muda Jawa masa kini telah susah berbahasa Jawa. Jangankan bahasa Jawa krama inggil, bahasa Jawa ngoko yang kasar pun sudah tidak lagi dikuasai dengan lancar. Belum lagi soal aksara. Berapa banyak orang Jawa yang masih bisa menuliskan aksara Jawa?

Meski tidak mengenyam pendidikan formal layaknya anak-anak di luar, anak-anak suku Baduy juga belajar menulis dan membaca serta berhitung. Hanya saja cara belajar mereka menurut sang jaro tidak di bangku sekolah tetapi membaca buku atau apapun yang ada tulisannya bahkan kardus kemasan pun bisa dijadikan materi belajar. Dengan kata lain, mereka tidak belajar dari orang tua tetapi diarahkan untuk belajar secara mandiri. Anak-anak Baduy diarahkan sebagai pembelajar otodidak yang gigih. Tidak hanya menganga meminta asupan dan suapan dari guru-guru. Mereka diperbolehkan untuk belajar apa saja, asalkan tidak di sekolah formal.

Karena itulah, warga Baduy bersikap tegas soal masuknya upaya ‘peningkatan dan pemerataan’ pendidikan di wilayahnya. Begitu ada orang asing (terutama warga negara asing) yang berusaha memasuki wilayah dengan tujuan ingin ‘mencerdaskan’ generasi mudanya, mereka akan segera menindak dengan tegas untuk mengeluarkannya segera. Para petinggi suku Baduy menjalin koordinasi dengan jajaran pemerintahan kelurahan atau kecamatan di Lebak untuk mengidentifikasi jika ada WNA yang masuk ke wilayahnya. WNA yang dimaksud ini juga termasuk orang-orang yang serumpun dengan bangsa Indonesia sendiri, seperti warga Melayu dari Malaysia sekalipun. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (7)

(Credit: Cecep)
Di rumah keluarga inilah saya menginap dan mereka selalu mendahulukan kami waktu makan. Begitu kami selesai makan, baru mereka makan. Jadi, siapa bisa tega untuk menambah lagi?(Credit: Cecep)

Malam saat kami beranjak tidur memang tidak begitu dingin. Namun, begitu lepas tengah malam hingga dini hari dan subuh, hawa dingin merasuk melalui lubang-lubang di dinding rumah Baduy yang terbuat dari anyaman bambu. (B)untung bagi saya, di atas saya, sebuah lubang di dinding bambu menganga cukup lebar. Jaket bisa membendung hawa dingin pegunungan ini dari pinggang ke atas tetapi kaki saya resah bergerak ke sana kemarin mencari kehangatan karena cuma berbalut celana pendek dan sarung yang terlampau tipis.

Pukul setengah lima, saya biasa terbangun tetapi di sini, saya memutuskan bangun lebih lambat. Faktor suhu salah satu alasannya. Yang lain ialah perkara cahaya. Sepagi itu, rasanya masih riskan untuk keluar sendirian. Semua orang masih mendengkur dan berbaring meringkuk di tikar jerami anyaman wanita-wanita Baduy. Saya tidak tahu apa yang ada di luar sana karena bahkan di dalam rumah, kondisinya pekat seluruhnya. Pembaringan saya di pojok ruangan membuat saya harus berjuang melompati banyak orang jika ingin bangun lebih pagi.

Kepala yang masih setengah mengantuk ini kemudian tak jadi tidur nyenyak lagi sebab tak berselang lama, seorang bayi menangis, meraung-raung dan seorang ibu menenangkannya dengan bicara lirih-lirih. Suara mereka begitu jelas jadi saya duga mereka ada di rumah sebelah. Rupanya ini alarm dari Yang Kuasa, pikir saya. Tetapi saya tetap tidak bisa bangun, hanya terpaku dan memejamkan mata menikmati kesadaran di sini, di lantai bambu sebuah rumah yang hanya dialasi tikar dan dikelilingi anyaman bambu dan dilingkupi atap ijuk. Saya menunggu ada orang di rumah ini yang terbangun. Tetapi semenit, dua menit, kemudian tak tahu berapa lama, karena putus asa, saya tertidur juga kembali begitu bayi itu tenang kembali.

Kami mengawali hari dengan yoga sekitar pukul 7 pagi. Dan sarapan pagi nasi goreng dengan telur dadar langsung meredam rasa lapar ini. Beberapa suap terakhir masih tersisa di piring saya hingga jaro atau kepala kampung adat di Cibeo menyambangi kami. Ia tampak sebagaimana pria Baduy Dalam biasa. Pakaiannya mirip dengan yang lain sehingga jika saya bertemu dengannya lagi kapan-kapan, saya pasti tidak bisa mengenalinya lagi dalam sekumpulan pria Baduy.

Bersamanya, kami duduk di beranda kembali. Saya buru-buru mencuci tangan lalu mengambil buku catatan saya dan merangkum percakapan kami. Dengan sabar, jaro menjawab pertanyaan-pertanyaan kami yang  kritis, iseng, dan kadang ‘gila’. Untuk tiap topik, saya berikan subjudul tersendiri di bawah ini.

__***__

FAUNA. Sesaat setelah lolos dari ujian terberat Tanjakan Cinta siang itu, pemandu kami Teguh berceletuk,”Di atas tidak akan ada hewan berkaki empat.” Yang ia maksud “di atas” tentu wilayah suku Baduy Dalam.

Tidak pernah terpikir oleh saya mengapa ada kondisi ganjil semacam itu. Apakah memang tidak ada hewan berkaki empat yang sanggup mendaki sampai sejauh kami? Hipotesis itu tentu kurang bisa diterima akal sehat karena binatang-binatang itu dapat dengan lebih mudah menjelajah alam bebas seperti bukit-bukit ini jika mau daripada manusia yang lebih banyak pertimbangannya. Dan apa yang Teguh maksud dengan binatang berkaki empat? Ia menjelaskan hewan yang dimaksud ialah sapi, kambing, kerbau dan hewan-hewan ternak sejenisnya.

Betul juga. Begitu kami memasuki perkampungan Suku Baduy Dalam di Cibeo, tidak saya jumpai seekor pun hewan-hewan ternak berkaki empat. Hanya saja, ayam-ayam berkeliaran bebas di sana-sini.

Jaro atau lurah kampung Baduy Dalam yang kami kunjungi ini membeberkan jawabannya pada kami. Dalam sebuah kesempatan, sang jaro ini bersedia duduk bersama kami untuk beraudiensi, layaknya seorang walikota atau gubernur yang menyambut tamu-tamu kehormatan dari negeri asing. Usai makan pagi nasi goreng yang berhias telur dadar yang dibuat oleh ibu pemilik rumah yang kami inapi satu malam, pria yang sudah menjabat sebagai jaro selama 25 tahun terakhir ini duduk di beranda rumah yang terbuat dari bambu dan dengan sabar menanggapi semua pertanyaan dan masukan dari para pendatang.

Dalam balutan pakaian khas berupa kemeja lengan panjang yang putih agak kecokelatan akibat waktu, jaro kampung Cibeo ini mengatakan bahwa hewan-hewan pemamah biak yang disebutkan tadi berpotensi menjadi hama pengganggu bagi tanaman padi yang sudah susah payah mereka tanam. Kucing menjadi satu pengecualian. Pertama karena ia bukan hewan pemamah biak yang gemar melahap rerumputan termasuk padi-padian. Kedua ialah karena kucing dianggap suku Baduy Dalam sebagai satwa domestik yang bermanfaat untuk mengusir tikus dari rumah. Saya sendiri belum sempat menemukan seekor tikus pun di sekitar permukiman ini. Entah karena saya beruntung atau bagaimana. Tetapi itu juga menjadi sebuah kelegaan, karena jika tikus jarang ditemui di sekitar perkampungan, ular pun akan lebih jarang, karena jika kita masih ingat pelajaran rantai makanan dalam pelajaran biologi, tikus adalah makanan ular. Jadi, adanya kucing secara alami mengendalikan – kalau tidak bisa dikatakan memusnahkan – secara tidak langsung populasi ular di sekitar perkampungan. Saya sendiri tidak bisa membayangkan jika saat mandi di sungai ada ular yang tiba-tiba berenang menuju ke arah saya. Untuk perkara mandi di sungai, akan saya bahas tersendiri juga nanti.

Pertanyaan tidak terhenti di situ. Bagaimana dengan anjing? Anjing memang kami sempat temukan di wilayah kampung Baduy Luar meskipun jumlahnya juga tidak sebanyak yang kita bisa temukan di Bali. Tetapi anjing-anjing itu berkeliaran bebas. Tidak dikungkung atau diikat oleh pemiliknya sebagaimana yang dilakukan orang di perkotaan Jawa. Di sini, saya duga karena suku Baduy tidak memeluk Islam, mereka lebih liberal dalam menyikapi kehadiran anjing di sekitarnya.

Jaro kami ini juga mengamini bahwa orang Baduy tidak menyingkirkan anjing dalam kampung mereka. Justru anjing diperlukan karena bisa memberitahukan pada mereka bahwa ada manusia atau hewan yang tidak mereka kenal atau berniat buruk yang masuk ke wilayah rumah sang majikan. Aspek keamanan ini begitu penting sebab manusia Baduy tinggal di tengah hutan, tempat banyak potensi bahaya juga tersembunyi.

Ayam menjadi ternak kesukaan orang Baduy Dalam sebab hewan ini tidak peduli dengan tanaman padi yang menjadi sumber pangan utama. Mungkin ayam suka dengan beras, tetapi saat masih dalam bentuk padi, kecil kemungkinan ayam ingin mematukinya untuk memenuhi tembolok.

Karena itu, dalam berbagai kesempatan seperti hajatan, kematian, dan peristiwa penting lainnya dalam kehidupan manusia Baduy, daging ayam potong segar yang dipelihara secara organik (karena suku Baduy sama sekali tidak memakai pupuk buatan kimiawi buatan pabrik di sawah mereka) menjadi hidangan andalan. Jumlah ayam yang dipotong untuk perhelatan besar semacam itu bisa mencapai 500 ekor.

Uniknya, di kampung Baduy ini, ayam-ayam yang ada dibiarkan berkeliaran bebas. Memang ada yang dikandangkan tetapi lebih banyak yang tidak. Ayam-ayam itu kata sang jaro sudah diketahui siapa pemiliknya. Tanpa harus memberi label atau tanda pada bulu di sayapnya. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (6)

Inilah gelas kayu ala Baduy Dalam yang dibeli sejumlah teman dengan tujuan sebagai gelas untuk pensil dan pulpen padahal semestinya untuk minum. Orang kota memang aneh. (Dokumentasi pribadi)
Inilah gelas kayu ala Baduy Dalam yang dibeli sejumlah teman dengan tujuan sebagai gelas untuk pensil dan pulpen padahal semestinya untuk minum. Orang kota memang aneh. (Dokumentasi pribadi)

BINTANG. Dengan tirai raksasanya, malam mulai membungkus perkampungan Baduy di Cibeo. Badan kami terasa luluh lantak semuanya setelah menjalani rute trekking yang berat bagi kebanyakan kami. Beberapa orang yang tersisa di belakang masih tidak kuasa melangkah jauh-jauh dari rumah sebab kaki pegalnya bukan kepalang. Saya yang ada di garda depan dan memanggul bawaan sendiri sudah mulai bisa melepas penat selama perjalanan seharian. Mungkin ini berkat air kali yang sejuk itu. Jadi teringat sebuah film yang jagoan-jagoannya begitu rampung bertarung lalu pulang ke markas dan berendam tanpa sehelai benang di bak mandi berisikan air es. Itu rupanya cara efektif nan alami untuk merestorasi kondisi fisik yang baru saja diperas habis-habisan, pikir saya.

Kami pun dijamu dengan keramahan luar biasa. Keluarga yang menjadi tuan rumah bagi rombongan mempersilakan kami makan dahulu. Menunya sederhana dan bersahaja:sayur sop, teri goreng, nasi putih dan sambal cabai hijau yang nikmat. Harry membawa menu cadangan berupa abon cakalang dan abon sapi. Dugaan saya menu-menu cadangan itu untuk berjaga-jaga jikalau menu yang ada tak sesuai dengan lidah.

Saya suka terinya. Dan baru menyadari keesokan harinya bahwa tak semestinya saya makan menu itu secara liberal. Suara saya serak dan hampir hilang selama berhari-hari setelahnya.

Setelah makan, saya kebingungan mencari minum. Gelas-gelas bambu itu sudah dipakai semua orang. Lalu Harry menawari saya gelas yang dipakainya. Dan saya berseloroh,”Tadi kamu minum dari sebelah mana?” sambil mata saya pura-pura arahkan ke sekeliling bibir gelas sebelum meneguk air putih dari botol kaca berukuran besar yang dipakai menampung air minum. Kami tergelak. Di saat seperti ini, rasanya sudah tidak mungkin memikirkan standar higienis modern yang kami biasa terapkan. Saya teguk saja air dari gelas itu tanpa ingin tahu jawaban Harry.

Ada yang aneh dari rasa air putih yang saya teguk. Saya berkali-kali meneguknya untuk memastikan bahwa saya minum air putih, bukan kopi. Mungkin saja ini bekas minuman sebelumnya, karena saya baru ingat mereka tak memakai sabun apapun di kampung ini. Jadi, kemungkinan besar ada yang meminum kopi sebelumnya. Dan rasa itu terus melekati permukaan gelas bambu itu.

Kemudian kami berkumpul di beranda dua rumah yang kami inapi dan kebetulan berhadap-hadapan. Anggap saja ini sebuah acara “Saturday Night Live”. Seorang bintang tamu istimewa yang akan diwawancara hingga tuntas sampai audiens puas dihadirkan. Seorang pembawa acara bercakap-cakap menguras deposit informasi menarik dalam benak pembicara.

Bedanya malam itu, semua orang dalam rombongan kami adalah bintang tamunya. Dan satu persatu harus menjawab pertanyaan “pengalaman apa yang paling berkesan selama melakukan perjalanan?” dan “apa yang paling berkesan selama dalam perjalanan ke perkampungan Baduy ini?”

Dan karena kampung ini tak dialiri listrik sama sekali, kami hanya bisa menerangi diri dengan lilin-lilin elektrik dengan baterai. Satu persatu kami membagikan cerita. Sembari mendengarkan, pandangan saya arahkan tidak ke sumber suara tetapi malah lebih banyak ke angkasa raya. Pemandangan malam itu langka sekali saya bisa nikmati. Bintang-bintang seperti butiran kristal swarovski yang ditebarkan secara acak di permukaan kain beludru hitam yang maha lebar. Suatu kemewahan yang tidak bisa dibeli orang-orang di kota-kota yang sudah dialiri listrik.

Dari cerita-cerita itu, saya bisa simpulkan rombongan kami terdiri dari berbagai jenis pengelana. Ada yang sudah menjelajah ke mana-mana di dalam negeri sendiri seperti Didi, ada pula yang sudah menjejakkan kaki berkali-kali ke negeri manca. Ada pula yang baru ke daerah-daerah yang dekat dan familiar serta populer bagi kebanyakan orang, seperti saya.

Sebuah cerita perjalanan menarik menurut saya sendiri tidak perlu jauh dan berbiaya mahal. Asal kita setelahnya membawa pulang ‘oleh-oleh’ yang tidak ternilai harganya. Bukan oleh-oleh yang selama ini bisa peroleh di toko-toko suvenir atau makanan khas lokal (meskipun itu juga tak kalah menggoda) tetapi oleh-oleh yang berupa pelajaran dan hikmah atau pengetahuan yang baru yang kita bisa simpan lalu amalkan dalam kehidupan dan bisa kita pakai untuk memperkaya makna kehidupan kita dan orang-orang di sekitar kita. Seperti apa yang dialami oleh Didi dalam perjalanannya ke sebuah pulau yang bernama Benggala yang ternyata adalah pulau yang berlokasi di titik paling barat nusantara. Sementara itu, ada lagi pulau terluar di barat, yang kata Didi ialah pulau Rondo. Dari pengalaman perjalanannya itu, Didi mendapatkan sebuah pemahaman yang membuka mata atas asumsi keliru bahwa Sabang atau Pulau We ialah titik terluar di barat Indonesia. Didi menjelaskan Pulau Benggala memang tak banyak dikenal orang karena tidak sembarang orang bisa memasukinya. Konon tersimpan cadangan minyak yang tidak sedikit di sini dan TNI membangun pertahanan di sini agar negara-negara lain tidak begitu saja mengklaimnya sebagai wilayah mereka. Jadi, jangan berharap bisa sembarang orang singgah lalu berwisata hura-hura di pulau Bengal itu. Didi saja harus mengantongi perizinan yang rumit dan berliku untuk bisa masuk ke dalamnya, baik dari pihak kampus tempat studinya sendiri serta pendekatan khusus dengan pihak TNI yang berpangkalan di sana.

Didi ini pengalana muda yang istimewa. Ia baru saja lulus kuliah di Institut Teknologi Bandung jurusan Arsitektur Vernakular. Sebelum saya meminta penjelasan atas nama jurusan yang sangat akademik itu, pemuda berambut ikal dan berhidung mancung ini menjelaskan bahwa dalam jurusan arsitektur vernakular, ia mempelajari arsitektur yang berkaitan erat dengan rumah-rumah adat di nusantara atau seantero dunia yang membawa makna sederhana. Makna dan lambang di dalam rumah-rumah yang dipelajari dalam arsitektur vernakular ini tidak serumit apa yang kita temui dalam rumah-rumah di kebudayaan Jawa yang dikenal memiliki kandungan simbolis dan filosofis yang sarat dan berat.

Didi mengatakan rumah-rumah Baduy Dalam ini tergolong rumah yang menerapkan konsep arsitektur vernakular sebab dibangun sesuai dengan kondisi lingkungannya. “Adanya di sekitarnya bambu ya mereka memakai material bambu untuk rumah,” terangnya. Pokoknya tidak ada unsur impor. Semua material yang dipakai untuk membangun rumah dapat diperoleh dalam jarak dekat. Sungguh kearifan lokal yang kini makin langka tetapi juga mulai dipuja, karena dengan demikian, kita diajak kembali untuk memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita tanpa harus rakus menginginkan hal-hal di luar jangkauan. Dengan penerapan arsitektur vernakular, rasanya jejak karbon kita dalam membangun rumah juga pasti lebih rendah.

Sesi berbagi pengalaman ini menjadi momen refleksi yang jarang ditemui di perjalanan-perjalanan biasa. Sejauh pengetahuan saya orang-orang yang mengunjungi dan menyinggahi kampung Baduy Dalam ini tidak banyak yang tertarik untuk melakukan interaksi atau menggali lebih dalam mengenai kehidupan suku yang mengasingkan diri dari peradaban modern. Mereka menganggap kampung ini sebagai sebuah resor atau penginapan yang aman, sentosa dan damai sehingga datang, makan, menikmati alam, lalu beristirahat dan esoknya meninggalkan kampung itu cepat-cepat sebab sudah tak betah tidak bisa memakai ponsel, tidak bisa menggosok badan dengan sabun, menggosok gigi dengan pasta gigi, mandi dan buang air di toilet yang tertutup rapat dan menikmati segala aktivitas yang hanya bisa dijumpai di ibukota.

Sesi itu kami akhiri segera karena sejatinya sudah banyak yang mengeluh mengantuk karena kecapaian sepanjang hari. Ditambah dengan kurang tidur di malam sebelumnya karena berangkat pukul 3 pagi dan hanya bisa ‘tidur ayam’ di perjalanan darat yang medannya relatif menantang, kami sudah ingin meluruskan punggung dan kaki saja secepatnya.

Secara sembunyi-sembunyi saya lirik ponsel yang saya telah atur ke moda pesawat dan hening sejak kemarin sore. Layarnya menyala. Sudah pukul 21.15 rupanya. (bersambung)