Anomali Bernama Baduy (10)

Screen Shot 2017-06-01 at 13.16.15
(Foto: Tim Geo Tour)

PLASTIK YANG MENGGELITIK. Jika Anda memiliki kesukaan untuk berperilaku aneh, biasanya Anda akan dihapal oleh orang-orang di sekitar Anda. Dan demikianlah yang terjadi di situ juga. Siang itu setelah sesi yoga dan salat zuhur di alam terbuka di tepi sungai perkampugan Baduy Luar, saya menyempatkan diri untuk berfoto dengan dua anak laki-laki Baduy Dalam yang membawakan barang-barang beberapa orang: Aceng dan Damin.

Mereka berdua tidak banyak berekspresi. Aceng dan Damin hanya bermimik muka datar saat saya ajak berfoto bersama. Saya berdiri di belakang mereka dan melakukan pose yoga bernama durvasana yang menurut saya ‘praktis’ karena tak mesti mencari tempat yang bersih atau rata. Cukup dengan berdiri tegak lalu menaikkan satu kaki ke belakang kepala, saya sudah bisa mencapainya.

Amor, teman saya yang saya titipi untuk menjepret kami bertiga, duduk dan berancang-ancang memberikan aba-aba. Saya fokus ke ponsel berkamera saya dan memasang senyum lebar. Dalam tiga kali jepret, saya amati Damin lebih salah tingkah daripada Aceng. Aceng lebih alami dan tidak setegang sahabatnya itu dalam berpose. Damin lebih pemalu dan cenderung mengarahkan pandangannya ke bawah, ke tanah tempat dedaunan mati berserakan tanpa pernah tersapu.

Selain rombongan kami, di sana juga duduk sejumlah penjual makanan dan minuman instan sebagai pengisi tenaga kami yang sudah kepayahan mendaki. Sebenarnya saya agak menyayangkan masuknya makanan dan minuman instan semacam itu ke daerah ini. Pasalnya makanan dan minuman semacam itu terbungkus dalam kemasan plastik, yang pasti menimbulkan gunungan atau ceceran sampah plastik di mana–mana. Dan jika makanan instan berkemasan plastik sudah hadir di sebuah daerah di Indonesia, kita bisa pastikan tingkat kebersihannya sudah menurun.

Perjalanan kami akan dimulai lagi ke kampung Baduy Dalam. Harry dan Johar meminta kami semua memperhatikan sampah-sampah yang kami hasilkan sepanjang kami singgah di tepi sungai. Pokoknya jangan sampai dibiarkan begitu saja mengotori lingkungan Baduy Luar ini. Penanganan sampah di sini ternyata sederhana, hanya dikumpulkan dalam sebuah kantong (plastik pula) untuk kemudian dibakar, demikian kata pemandu perjalanan kami, Teguh.

Mendengar jawaban ini, Johar dan saya sebenarnya tersentak juga. Johar berusaha menolak pembakaran sampah kami tetapi saya tahu ia tidak memiliki ide penanganan lain yang lebih masuk akal dan realistis. Apa boleh buat, kami pun tak bisa berbuat apa-apa. Saya juga cuma bisa membisu.

Melontarkan ide daur ulang sampah plastik itu tampaknya juga akan membutuhkan tindak lanjut yang panjang dan kompleks. Itu memang idealnya. Tetapi di sana saat kondisi itu, rasanya tidak mungkin dengan pongah dan idealis saya berkata,”Jangan dibakar. Daur ulang saja.” Saya sadar setelah memberikan saran semacam itu, bakal harus ada penjelasan yang lebih pelik dan pengajaran yang konkret. Berbicara sungguh mudah.

Kami pun mendaki kembali siang itu. Kami lewati ladang-ladang di perbukitan tinggi yang bermandikan sinar matahari yang teriknya tidak terbendung awan. Dan persoalan sampah plastik yang menjadi isu laten itu agak terlupakan. Namun, sejujurnya dalam hati saya tetap resah juga.

Hingga saat jaro (kepala adat di kampung) perkampungan Baduy Dalam yang kami singgahi bertandang ke beranda rumah pagi itu setelah kami menyantap sarapan pagi. Salah satu pertanyaan yang dilancarkan kepadanya juga tentang penanganan sampah plastik di kampung.

“Bagaimana penanganan sampah plastik yang dibawa oleh pendatang ke sini (kampung Cibeo)?” tanya Johar pada sang jaro.

Saya sendiri sudah menduga jawabannya setelah menyaksikan adegan di hari sebelumnya saat kami hendak berangkat mendaki setelah beryoga di tepi sungai.

“Sampah plastiknya kami kumpulkan untuk dibakar. Daripada berserakan,” ucap jaro yang bijak itu tenang.

Pengumpulan sampah plastik memang sudah relatif baik di kampung ini. Di depan beranda setiap rumah, ada sebuah anyaman bambu yang bentuknya mirip ember dan ternyata difungsikan sebagai pengumpul sampah. Dan karena para pengunjung di akhir pekan ramai, saat saya saksikan sampah begitu memenuhi wadah tadi. Dan kebanyakan adalah sampah kemasan makanan dan minuman instan.

Jaro mengakui bahwa masyarakat dan para tetua adat di kampungnya belum memiliki suatu skema penanganan sampah plastik yang terpadu dan sistematis. Saya bisa memakluminya karena sampah plastik sejatinya masalah luar yang diimpor ke dalam. Tentu mereka tidak memiliki sumber daya untuk menghadapinya. Mestinya orang-orang luar Baduy-lah yang tahu diri untuk tidak membawa sampah plastik dalam bentuk apapun ke dalam.

Kami pun mengusulkan agar warga Baduy Dalam jangan sampai disusahkan dengan penanganan sampah plastik itu. Membakar sampah plastik itu saja sudah suatu tindakan penghasil pencemaran udara. Dan patut dicamkan juga bahwa asap hasil pembakaran plastik mengandung racun yang tidak hanya berbahaya buat manusia yang ada di sekitarnya tetapi juga pastinya ekosistem alami Baduy yang relatif masih terjaga.

Di sekitar perkampungan Cibeo itu saya memang tidak sempat menemukan lokasi pembakaran sampah plastik tetapi saya duga pastinya ada. Hanya saja lokasinya tersembunyi jauh dari perkampungan.

Jaro menampik halus usulan solusi kami, mengatakan bahwa mereka tidak tega membuat pengunjung kerepotan dengan mengurus dan membawa sampah plastik lagi. Saya kemudian ingat bahwa orang-orang Baduy Dalam ini begitu ramah dalam memperlakukan kami saudara-saudara mereka dari luar. Mereka mendahulukan tetamu sebelum menyantap dan meneguk apapun. Dan soal sampah plastik, mereka juga segan menegur pengunjung luar untuk mengurus soal itu sendiri. “Kami tidak tega dan tidak ingin merepotkan jika mengingatkan,” terang jaro.

Warga Baduy Dalam juga kurang memiliki ketegasan dalam menghadapi para penjual makanan dan minuman instan dari luar sehubungan dengan sampah plastik yang dihasilkan dari kegiatan niaga mereka dengan turis-turis di sini.

Seperti seorang pria pedagang mi instan dan minuman sachet yang sekonyong-konyong menghampiri saya setelah beberapa saat menyaksikan saya bersantai di beranda setelah trekking yang melelahkan.

Dalam bahasa Sunda yang saya kurang pahami, ia bercakap-cakap dengan Damin dan Aceng sembari sesekali terkekeh memandangi saya. Saya menduga ia ingin memastikan pada Aceng dan Damin bahwa saya adalah orang yang berfoto dalam posisi berdiri di satu kaki dan menaikkan satu kaki di belakang kepala. Orang yang aneh, langka dan hanya satu-satunya ada di rombongan turis lokal yang ia jumpai hari itu.

Begitu ia yakin saya adalah orang yang ia ingat, pria itu mendekati saya tanpa meninggalkan beranda yang ia duduki di rumah seberang. Tetapi kali ini kami berhadap-hadapan lebih dekat.

Tanyanya pada saya kemudian,”Mas, biasa olahraga ya?”

Saya terbengong-bengong, tidak menyangka akan disuguhi pertanyaan seperti itu. Saya sudah biasa menghadapi pertanyaan ini di Jakarta tetapi di sini saya sama sekali tidak menduga ada yang tertarik dengan yoga.

“Ya, mas. Sudah biasa. Hehe,” tukas saya, mencoba beramah tamah dengannya. Saya mencoba mempertahankan aliran percakapan,”Tinggal di sini?”

“Tidak. Saya dari kampung luar sini,” dalam bahasa Indonesia yang berakses Sunda ia menjawab singkat. Pakaiannya memang menunjukkan ia bukan warga Baduy Dalam. Ia memakai kaos jersey sebuah klub sepakbola negeri asal pizza. Celananya jeans biru tua yang bisa ditemukan di toko-toko pakaian di pasar-pasar tradisional atau toko pakaian di Lebak.

Pria ini ialah salah satu orang dari rombongan pedagang yang mengiringi kami selama trekking. Mereka juga berjalan kaki di bawah sengatan mentari, sampai kulit legam dan berkilau.

Masyarakat Baduy Dalam di kampung Cibeo ini terbilang relatif terbuka daripada kampung Baduy Dalam lainnya. Mereka membuka diri terhadap kunjungan orang luar dan bahkan menganggap kedatangan mereka sebagai berkah, bukan bencana. Pariwisata budaya ini mereka jadikan sumber penghasilan yang bisa memacu kesejahteraan.

Hanya saja, seperti tren pariwisata pada umumnya, eksploitasi berlebihan menjadi momok yang menakutkan. Dan di sini mereka belum memikirkan kemungkinan terjadinya kerusakan yang berpotensi muncul dan mengganggu keseimbangan ekosistem alam sekitar dan kondisi keseluruhan masyarakat di dalamnya.

Masyarakat Baduy Dalam di sini belum memahami batas tipis antara pariwisata massal dan ekoturisme. Yang pertama lebih berorientasi kuantitas dan volume dan bersifat eksploitatif tanpa kendali. Yang kedua lebih beretika, terkontrol, terencana, tidak serampangan dan mengindahkan kelestarian dan daya dukung lingkungan sekitar.

Klaim saya ini terbukti setelah kami secara spontan menanyakan dan mengusulkan adanya peraturan kuota yang diberlakukan segera agar kampung tersebut tidak diluberi wisatawan secara berlebihan. Layaknya orang berkunjung ke sebuah tempat suci untuk berziarah seperti berhaji, diperlukan pembatasan jumlah orang luar yang memasuki wilayah tersebut agar ketertiban dan kebersihan kampung tetap terjaga.

Masyarakat Baduy Dalam masih memerlukan masukan dari kita mengenai solusi-solusi yang baik untuk memaksimalkan upaya-upaya dalam memanfaatkan potensi wisata budayanya sambil memelihara kelestarian dan kemurnian budaya dan alam sekitarnya. (bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *