Bagaimana Cara Menilai Kemajuan Latihan Yoga Saya?

PERTANYAAN ini kerap dijawab dengan menggunakan tolok ukur kuantitas atau kerangka berpikir dualitas (sukses versus gagal). Kita sering menilai keberhasilan latihan dengan mengamati apa saja yang raga kita bisa atau tidak lakukan. Caranya mudah: menghitung. Berapa kali putaran kita kuat melakukan surya namaskar, atau seberapa dalam/ intens kita bisa melakukan sebuah asana (postur yoga), atau berapa lama kita bisa menahan suatu asana? Atau jika Anda sering memotret diri dalam berasana, dalam berapa bulan pose Anda akan bisa seperti idola yoga Anda?

Mungkin semua tolok ukur kuantitas tadi bisa dipakai saat kita masih berlatih yoga sebagai pemula. Namun, setelah melewati titik tertentu, seorang praktisi tentu pernah merasa resah dan bertanya dalam dirinya:”Setelah mencapai itu semua, lalu apa atau kenapa?” Di titik tersebut, kita bisa memutuskan untuk mencapai yang lebih dari sekadar ‘permukaan’. Kita dapat menggeser tolok ukur keberhasilan latihan menjadi lebih dalam dan jauh daripada sekadar repetisi atau intensitas. Meski benar bahwa raga yang sehat dan bugar diperlukan saat kita baru memulai berlatih yoga, kesempurnaan postur fisik hendaknya tidak dijadikan sebuah tujuan akhir apalagi obsesi. Ini karena dalam yoga, raga kita hanyalah suatu alat, perkakas, bukan tujuan.

Daripada sibuk menjawab pertanyaan soal kemajuan atau perbaikan atau penyempurnaan latihan yoga Anda, mari kita coba untuk lebih memperhatikan KUALITAS. Pertanyaan di awal tulisan tadi dapat diubah menjadi :”Bagaimana saya tahu bahwa latihan yoga yang saya lakukan ialah yang terbaik bagi saya?”

Jawabannya sebetulnya sangat sederhana dan singkat. EFEK.

Dengan kata lain, rasakan (bukan ukur atau takar) efek yang muncul setiap kali kita selesai berlatih yoga. Kualitas latihan pada akhirnya ditentukan oleh efek yang diberikannya pada mutu hidup kita. Atau bisa dikatakan, saat Anda bisa menguasai yoga, Anda juga bisa menguasai kehidupan.

Inilah mengapa yogi-yogi dahulu kala memandang raga sebagai jembatan penghubung antara dunia fana ke keabadian. Eksplorasi tentang bagaimana ia bisa dipakai untuk menjangkau keindahan dan kekuatan jiwa yang sangat halus merupakan hal yang kita sekarang kenal sebagai hatha yoga. Perspektif yogi zaman dulu ini didasari oleh dua pemikiran. Pertama, bahwa semua kekuatan alam terkandung dalam bentuk fisik. Kedua, pencapaian baik material dan spiritual terjadi secara alami seiring dengan penguasaan kita terhadap kekuatan yang ada dalam tubuh kita.

Jadi, sekali lagi tidak ada salahnya saat Anda ingin mengukur kemajuan latihan yoga Anda dengan penghitungan material dan konkret. Namun, bila jiwa Anda ternyata masih resah dan ingin lebih tenang, tidak ada salahnya mencoba menjelajah lebih jauh dalam perjalanan yoga Anda.

Kapan dan bagaimana itu semua bisa kita capai bergantung pada banyak faktor dan berbeda pada tiap manusia. Akan tetapi, yang pasti semua itu mesti dilakukan sebab adanya dorongan atau kesadaran dari dalam jiwa itu sendiri. Bukan dari ego kita. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *