Bagaimana Hidup Bahagia dengan Alam

Alam dan pohon memiliki kekuatan menyembuhkan fisik dan jiwa.

APAKAH tujuan hidup manusia? Tidak lain dan tidak bukan pada intinya ialah menjadi bahagia. Semua upaya dan jerih payah yang kita lakukan pada dasarnya adalah cara-cara untuk membahagiakan diri kita.

Masalahnya yang muncul kemudian ialah bagaimana masing-masing manusia mendefinisikan kebahagiaan itu. Setiap orang memiliki kebahagiaannya masing-masing dan ini membuat banyak hal menjadi saling tumpang tindih dan silang sengkarut, dan memperumit apa yang seharusnya sederhana dan mudah dipahami.

Alam dan Kebahagiaan

Berikut ini adalah 4 perspektif dari 4 orang dengan rekam jejak dalam peradaban manusia modern yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Dan satu benang merah yang menyatukan beragam pandangan ini ialah keterkaitannya dengan alam. Bahwa tanpa alam, tiada kebahagiaan bisa diraih. Dan karena alam sangat erat kaitannya dengan hutan, pohon menjadi suatu lambang yang tidak tergantikan untuk merujuk pada keterkaitan kita dengan alam.

Pertama, Helen Keller. Menurut sosok pemikir nan inspiratif ini, kemapanan yang banyak orang anggap sebagai bagian penting dalam mencapai kebahagiaan hakiki ialah mitos belaka. Ia hanyalah khayalan dan imajinasi. “Kemapanan tidak bisa dijumpai di alam ini, tidak juga ada seorang pun dari kita sebagai umat manusia di dunia ini yang pernah merasakannya. Menghindari bahaya tidaklah lebih aman dalam jangka panjang daripada membiarkan diri kita masuk ke dalamnya. Hidup berisi dua pilihan, yakni bertualang dengan gagah berani atau tidak sama sekali. Merupakan suatu kekuatan yang tidak bisa dipatahkan untuk bisa mengangkat dagu dan menghadapi semua perubahan dalam hidup dan berbuat layaknya jiwa yang bebas di hadapan takdir.

Sementara itu, Majorie Kinnan Rawlings berpendapat bahwa setiap manusia semestinya memiliki satu tempat untuk menjadi peraduannya. Tempat ini bisa dianggap sebagai tempat secara fisik atau konseptual. Terserah pada bagaimana Anda memaknai kata “peraduan” di sini. Namun, untuk lebih bagusnya tentu kita bisa mendefinisikan secara lebih luas, yakni peraduan secara lebih abstrak. Dalam pemahaman saya, peraduan itu ialah Tuhan YME.

Kemudian ada David J. Wolpe yang mengumpamakan keingintahuan seorang manusia untuk menemukan kebahagiaan sebagai seorang anak kecil yang berkeliaran di hutan setiap hari. Anak kecil ini kebetulan anak seorang rabbi (pemuka agama Yahudi). Pertama kali mengetahuinya, sang rabbi tidak merasakan adanya keanehan. Namun karena sang buah hati masuk ke hutan setiap hari, akhirnya mau tidak mau ia juga penasaran dan bertanya. “Kenapa kau masuk ke hutan setiap hari padahal di sana banyak bahaya mengintaimu, anakku?” ucapnya dengan sabar. Anak itu menjawab dengan lembut,”Aku ke sana untuk menemukan Tuhan, ayah.” Ayahnya mengangguk senang bahwa di usia semuda itu, anaknya sudah memahami keberadaan Tuhan dalam hdiupnya. “Tetapi mengapa kamu berkeliaran di hutan. Toh Tuhan di mana-mana sama saja bukan?” ungkap ayahnya, masih bersikukuh untuk meyakinkan sang anak agar meninggalkan kebiasaannya masuk hutan. “Betul, ayah. Tuhan sama di mana-mana. Tapi aku tidak,” ujarnya. Dengan kata lain, ia harus menemukan dirinya sendiri sebelum ia bisa menemukan Tuhannya. Dan cara menemukan diri ialah dengan menyepi sejenak dari keriuhan duniawi.

Jiddhu Krishnamurti memiliki pemahaman lain soal kebahagiaan. Menurutnya, kita perlu belajar untuk bisa berteman dengan semua makhluk di alam raya ini. Salah satunya ialah bagaimana menjalin persahabatan dengan pepohonan di sekitar kita. Berkawan dengan mereka bak berkawan dengan manusia juga. Mereka adalah makhluk hidup yang bernapas, bisa berkembang biak dan akhirnya mati.

“Alkisah ada sebuah pohon yang berada di tepian sungai dan kami telah menyaksikannya  hari demi hari saat mentari akan terbit. Saat fajar, pohon ini akan tampak keemasan. Semua dedaunannya cerah dan penuh kehidupan dan saat Anda mengamatinya terus, Anda akan menemukan kualitas luar biasa yang terpancar ke sekelilingnya, ke sungai pula. Dan saat mentari naik, daun-daunnya mulai menari-nari. Tiap jam memberikan kualitas yang berbeda pada pohon tersebut. Begitu hari mulai sibuk dengan aktivitas manusia, dedaunan yang disinari mentari itu terus menari dan memancarkan kecantikannya yang tiada tara. Saat tengah hari, bayang-bayangnya makin pekat dan meneduhi kami semua yang duduk di bawahnya. Kami tak pernah merasa sendirian karena ia menaungi kami. Saat kau duduk di bawahnya, akan terasa bahwa ada rasa aman dan kebebasan yang diberikan oleh pohon itu. Bila kau berteman dengannya, berarti kau juga berteman dengan seluruh manusia. Kau bertanggung jawab atas pohon itu dan semua pohon di dunia ini. Tapi jika kau kehilangan pertemanan dengan makhluk hidup di sekitarmu, kau akan kehilangan hubungan dengan manusia juga di muka bumi ini.”

Spiritualitas ekologi merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan perspektif Henryk Skolimwski mengenai pohon dan manusia serta hubungan keduanya. Untuk bertindak sesuatu di dunia ini, seolah-olah ia bagai suatu tempat suci, ialah dengan membuatnya syahdu dan sakral. Bagaimana alam semesta berubah bergantung pada manusia yang hidup di dalamnya. Perlakukan ia sebagai mesin dan ia akan menjadi mesin. Perlakukan ia sebagai kuil dan ia akan menjadi tempat nan suci. Pemahaman mendalam mengenai ekologi merupakan kekaguman dalam bentuk konkret dan identifikasi yang mengakar mengenai keindahan hidup melalui alam semesta hingga kita melebur ke dalamnya. Maka, pemahaman menjadi empati. Dan empati menjadi rasa hormat yang universal. Rasa hormat ini merupakan bentuk spiritualitas tersendiri.

Alam dan Kekuatan Penyembuh

Saat kita stres, tiada kekuatan lain yang bisa menyembuhkan sebaik pelukan alam. Cara ini sudah dikenal dalam tradisi masyarakat Jepang. Shinrin-yoku atau secara harafiah artinya “mandi hutan” ialah  membiarkan diri kita masuk ke dalam hutan dan menikmati keindahan alam (dan keganasannya). Namun, tradisi unik ini berbeda dari hiking atau camping yang kita kenal karena kita mesti banyak berjalan kaki, duduk di luar tenda, menatap dan berolahraga di antara pepohonan, memakan hanya makanan sehat dan alami yang dipelihara secara organik dan diperoleh secara lokal serta mandi di sumber mata air panas. Semua indra mesti terlibat penuh (jadi jangan harap membawa gawai selama shinrin-yoku. Jika dilakukan dengan baik, level kortisol (hormon stres) akan turun secara signifikan (meski juga tergantung pada banyak faktor lainnya). Namun, intinya ialah saat seseorang masuk ke dalam hutan dan bersentuhan serta menjadi satu dengan alam bebas, ia menjadi lebih rileks dan menikmati hidup. Dengan demikian, kebahagiaan itu muncul secara alami.

Tradisi ini sudah ada berabad-abad tetapi baru beberapa dekade lalu diteliti secara ilmiah untuk membuktikan manfaatnya secara keeluruhan. Sangat sedikit penelitian yang berfokus pada kekuatan penyembuhan alam, hingga tahun 1982 barulah ilmuwan bernama Tomohide Akiyama menceburkan diri dalam bidang penelitian itu secara serius. Akiyama bukan ilmuwan biasa. Ia menjabat sebagai sekretaris Biro Kehutanan di negeri matahari terbit. Akiyama-lah orang yang menetapkan istilah shinrin-yoku tersebut.

Alam memang memiliki kekuatan penyembuh yang luar biasa. Tidak cuma secara fisik dan psikologis, tetapi juga secara spiritual. Seperti anak rabbi di cerita di atas, alam juga menjadi tempat bersemayamnya kedamaian yang bisa dicapai dengan cara mengenali diri kita sendiri sebagai manusia. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *