Cara Alami Menarik Murid Yoga Anda

Mencari murid yoga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak faktor menjadi penyebabnya. Di antaranya yang paling utama ialah karena tingkat persaingan antarpengajar yoga saat ini makin tinggi seiring dengan makin banyaknya lulusan sekolah yoga yang juga terus membanjiri sekitar kita. Namun, di sisi lain, hal ini juga ada bagusnya karena itu atinya akan ada makin banyak orang yang menyebarkan manfaat positif yoga. Mendapatkan pengajar yoga akan makin mudah sebab mereka makin mudah dijangkau dan makin bervariasi pilihan dan ragamnya. Jika Anda kurang cocok dengan pengajar X, Anda bisa ganti ke pengajar Y yang mungkin Anda anggap lebih cocok bagi Anda.

Meski tidak mudah, membangun sebuah kelompok murid yang setia menunggu kelas, workshop dan pelatihan Anda juga bukan hal yang mustahil. Anda ‘hanya’ perlu bekerja keras.

Mungkin Anda bertanya apa manfaatnya memiliki basis murid yang setia bagi Anda sebagai pengajar yoga. Pertama, tentu Anda akan bisa meminimalkan kerja keras dalam mendapatkan murid yang sesuai dengan jiwa dan cara Anda mengajar. Anda tidak akan kelelahan mencari murid setiap hari jika sudah ada sekelompok orang yang dengan sukarela ingin belajar yoga bersama Anda. Dan ini bukan hanya sekadar permainan diskon tarif mengajar. Ada hal-hal yang lebih jauh dan dalam daripada uang yang membuat orang lain terus belajar yoga pada Anda.

Saya sendiri pernah menjumpai para pengajar yang mengakui diri mereka sampai harus menolak tawaran mengajar di banyak tempat karena mereka kekurangan waktu atau jadwal tidak memungkinkan untuk disesuaikan dengan ketersediaan waktu sang murid. Dan setelah beberapa lama, mereka masih menunggu juga sampai jadwal si pengajar itu kosong dan terus bertanya dan mencari kontaknya. Hebat, bukan?

Namun, sekali lagi itu tidak terjadi begitu saja. Lalu bagaimana caranya agar bisa membangun kesetiaan dalam murid-murid yoga Anda?

Yang pertama ialah tetap menjadi diri Anda sendiri. Kesalahan pertama yang sebagian pengajar lakukan ialah mencoba menjadi pribadi lain agar bisa disukai oleh murid-muridnya. Hentikan ini karena akan sangat melelahkan menjadi orang lain yang bukan diri Anda selama Anda mengajar mereka. Anda akan terus diliputi kekhawatiran jika kedok Anda terbongkar dan mereka tahu bagaimana pribadi Anda sebenarnya. Meski bukan artinya Anda harus blak-blakan pada mereka mengenai sifat-sifat buruk Anda, Anda sebagai pengajar juga idealnya dapat menciptakan rasa nyaman untuk diri Anda sendiri selama berada dalam kelas agar Anda kemudian bisa menciptakan kenyamanan bagi murid-murid yang datang. Jika energi yang Anda tebarkan berdasarkan pada kecemasan dan ketidakpercayaan diri, getaran energi itu akan diterima juga oleh murid-murid Anda. Dan dengan begitu, mereka akan mulai menjaga jarak dari Anda, meskipun mereka bahkan tidak meragukan kredibilitas Anda sebagai guru. Arti guru sendiri ialah membawa dari kegelapan menuju terang. Bagaimana bisa mereka mendapatkan perbaikan dalam kehidupan bila guru itu sendiri kurang bisa bersikap jujur dan tulus sehingga mereka kurang nyaman berada di sekitar kita?

Kedua ialah ketahui tujuan utama Anda mengajar. Kita bisa maklumi bersama bahwa pragmatisme makin banyak mendominasi pengajar-pengajar yoga modern. Dengan kata lain, makin banyak pengajar yang mengajar lebih karena alasan mencari nafkah, atau memperbesar pemasukan, atau hidup sejahtera dari yoga.

Apakah itu salah?

Belum tentu.

Kenapa? Karena saya yakin perjalanan yoga masing-masing orang berbeda dan unik. Ada yang mungkin pertama mengajar sebab ia ingin uang untuk lebih kaya namun di tengah perjalanan ia menjadi sadar dan mengendalikan dirinya agar tidak tamak dengan kekayaan. Ada juga yang sebaliknya, bersentuhan dengan yoga tanpa ekspektasi apapun tetapi baru dalam perjalanannya ia sadar bahwa yoga bisa dijadikan lumbung uang. Atau bisa juga pertarungan semacam ini terus menerus berkecamuk dalam diri kita. Dan bagi yang sudah sejahtera, mereka bisa jadi menghendaki hal lain, seperti pengakuan, reputasi, yang semuanya bermuara pada ego. Padahal dalam yoga, kita terus disarankan untuk mengendalikan ego (bukan sama sekali mematikannya juga, karena dengan matinya ego kita, kita juga tidak akan lengkap lagi sebagai manusia).

Bahkan jika kita mau menelaah lagi, tujuan kita mengajar yoga juga bisa berfluktuasi dari satu kelas ke kelas lain, dari satu menit ke menit lain. Bisa saja kita mengajar satu kelas karena kita ingin uangnya karena kita memiliki kebutuhan mendesak yang solusinya ialah uang tersebut. Bisa jadi kita mengajar kelas lain karena cuma ingin berbuat baik tanpa balasan karena merasa kasihan. Atau bisa saja kita masuk di kelas dengan niat berbagi tanpa pamrih namun di satu titik saat mengajar, kita merasa adanya ketidakikhlasan dan bertanya dalam hati,”Tahu begini aku minta dibayar saja…”

Selabil itulah pikiran manusia. Ia terus menerus bergolak, bergeser, berubah. Dinamika ini tidak bisa dielakkan. Dan tugas kita adalah menertibkannya, mengendalikannya dan meluruskannya kembali sebisa mungkin yang kita mampu agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi diri dan orang di sekitar kita.

Tujuan utama mengajar juga bukan karena sekadar kebutuhan finansial atau spiritual. Ada orang yang mengajar yoga karena ia ingin membagikan pengalaman hidupnya yang pahit dan yoga membantunya untuk pulih dari kondisi keterpurukan tersebut. Dan kondisi ini bisa dialami oleh siapa saja di luar sana. Seperti seorang teman pengajar saya yang pernah menderita gangguan kesehatan yang cukup parah berupa apa yang ia asumsikan sebagai gejala kanker otak (sebagaimana diderita ibunya dulu) hingga ia tidak bisa melaksanakan aktivitas sehari-hari dengan lancar dan tidak menyusahkan orang lain di sekitarnya. Dengan menggunakan yoga sebagai salah satu jalan penyembuhan dari penyakitnya, ia merasakan peningkatan kualitas hidup yang signifikan dan kembali beraktivitas seperti sediakala dan melakukan banyak kegiatan yang sebelumnya hanya ia bisa bayangkan karena begitu susahnya melakukan itu semasa ia masih dirundung penyakit. Latar belakang inilah yang membuatnya terdorong untuk memiliki satu tujuan dalam mengajar, yaitu membuat orang hidup lebih sehat dengan yoga dan pola makan sehat agar bisa terhindar dari penyakit degeneratif yang marak diderita orang masa kini seperti kanker, diabetes, stroke, serangan jantung dan sebagainya.

Berikutnya hal yang tidak kalah penting dalam menarik murid yoga secara alamiah ialah dengan menemukan prinsip utama sebagai pengajar. Kepribadian Anda pastilah memiliki suatu corak yang paling menonjol dan Anda bisa kedepankan saat menjadi seorang pengajar yoga. Dengan mengetahui kekuatan dalam pribadi Anda sendiri, Anda akan bisa menularkannya pada orang lain dan hal ini akan secara otomatis membangun kepercayaan diri Anda sebagai pengajar. Tidak ada yang lebih menarik bagi seorang murid daripada seorang guru yang tahu kekuatan dan kelemahannya. Karena dari kekuatan seorang guru, mereka bisa belajar banyak memaksimalkan kekuatan mereka. Dari kelemahan guru, murid pun bisa belajar bagaimana meminimalkan kelemahan mereka. Seorang guru tidak perlu takut terlihat tidak sempurna karena memang itu mustahil dan sebaiknya murid memiliki ekspektasi yang tidak berlebihan pada guru, apalagi sampai menganggap guru sebagai nabi atau orang suci yang tidak bisa salah. Namun demikian, saat menemukan kesalah guru, murid idealnya juga tidak menegur secara kasar di depan umujm tetapi menyampaikannya secara pribadi dan tertutup agar tidak menyakiti yang dikritik.

Sebagai contoh mudah, misalnya prinsip utama Anda ialah disiplin, terutama dalam penggunaan waktu. Maka dengan sendirinya, Anda mewajibkan murid-murid datang tepat waktu. Sulit untuk memalsukan prinsip utama ini karena sebetulnya murid bisa merasakannya (yang tentu bergantung pada tingkat kepekaan masing-masing orang) dari waktu ke waktu. Dan prinsip utama dalam diri seorang pengajar yoga juga harus dibuktikan secara konkret dalam kesehariannya. Jadi, jika prinsip itu cuma sebatas di bibir, bisa dipastikan itu cuma ‘topeng’.  Atau jika Anda berkata prinsip utama Anda sebagai yogi ialah integritas, tetapi Anda diketahui berkata bohong atau memalsukan tandatangan maka dipastikan orang meragukan ke-yogi-an Anda.

Mengajarkan prinsip utama ini lebih berat daripada hanya mengajarkan pengetahuan yang ada dalam buku. Prinsip ini bersemayam dalam diri kita dan bekerja secara alami, tanpa direkayasa. Bagaimana meyakinkan misalnya bahwa disiplin itu sangat berharga jika seorang yogi ingin lebih baik dalam latihannya.

Untuk bisa menemukan prinsip utama Anda yang paling menonjol, cobalah untuk bertanya pada seorang atau beberapa murid yang sudah Anda sering temui dalam kelas Anda. Lontarkan pertanyaa mengenai prinsip dan nilai apa yang paling mereka anggap berharga dalam kehidupan. Dari jawaban mereka, Anda bisa menemukan sejumlah persamaan dengan prinsip dan nilai hidup Anda sendiri. Itu karena murid-murid kita yang sering bertemu juga berbagi enegi yang sama dengan kita. Yang energinya mirip, bisa berjalan berdampingan secara selaras. Dan yang energinya kurang cocok, biasanya mencari jalan masing-masing kembali untuk menemukan yang bisa cocok dengan diri kita.

Poin lain yang perlu disadari bagi pengajar yoga saat mereka sudah berusaha menarik lebih banyak orang ke kelas mereka ialah menyerahkannya pada ‘mekanisme seleksi alam.’  Artinya, Anda bisa saja sudah berupaya sekeras mungkin untuk menarik murid namun tetap saja ada orang yang menemukan alasan untuk tidak menyukai kelas Anda atau pribadi Anda. Jangan serta merta berkecil hati, karena pada hakikatnya kita tidak bisa memuaskan semua orang dan memenuhi ekspektasi mereka secara sempurna. Ada juga kasus saat seorang murid sudah cocok dengan Anda tetapi kemudian karena satu alasan (pindah rumah, pindah kantor, melahirkan, dan sebagainya) ia tidak bisa berlatih dengan Anda. Namun, suatu hari kemudian tak disangka-sangka ia kembali ke kelas Anda dan mengajak teman atau keluarganya untuk beryoga. Jadi, biarkan mereka yang tidak merasakan adanya koneksi dengan prinsip, keyakinan, atau kepribadian Anda untuk memilih jalan mereka masing-masing. Karena jika memang mereka ditakdirkan untuk belajar bersama Anda, mereka akan kembali lagi entah bagaimana caranya. Biarkan itu menjadi misteri semesta. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *