Rayakan 100 Tahun Kemerdekaan, Finlandia ‘Hijaukan’ Dunia

18221926_10210825091840728_8677192890590831198_nPESTA kemerdekaan di negeri kita identik dengan upacara bendera dan beragam lomba unik. Sebut saja makan kerupuk, balap karung, sampai panjat pinang. Anehnya, setahu saya pohon yang dipanjat untuk lomba panjat pinang itu kebanyakan malah bambu. Bisa dikatakan, untuk merayakan kemerdekaan tak terhitung banyaknya batang pohon pinang dan bambu yang kita tebang. Tidak cuma untuk lomba tetapi juga sebagai tiang untuk memasang bendera dan umbul-umbul yang menjamur di sepanjang jalan sepanjang bulan Agustus tiap tahun.

Tradisi perayaan kita berbeda dari Finlandia yang ada di utara nun jauh sana. Alih-alih menebang pohon, untuk merayakan kemerdekaan mereka yang ke-100 di tanggal 6 Desember 2017 nanti, bangsa yang tinggal di negeri yang 78% wilayahnya didominasi hutan dan alam bebas ini malah memilih untuk ‘menghijaukan’ dunia. “The Spruce of the Future”, begitulah nama kampanye penanaman pohon yang dilakukan perwakilan-perwakilan Finlandia di berbagai belahan dunia.

Sebagaimana dinyatakan Duta Besar Finlandia untuk Indonesia, Päivi Hiltunen-Toivio, tadi pagi (5/5/2017) dalam sebuah seremoni sederhana dan singkat di Taman Menteng, Jakarta Pusat, penanaman sejumlah pohon cemara dengan didampingi Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dimaksudkan tidak hanya sebagai selebrasi atas kemerdekaan 100 tahun bangsa Finlandia dari dua bangsa yang menghimpitnya di masa lalu (Rusia dan Swedia) tetapi juga sebagai sebuah momen untuk meningkatkan hubungan persahabatan “dan membangun masa depan yang lebih baik dengan teman-teman di Indonesia”.

Tema “The Spruce of the Future” dipilih karena pohon spruce merupakan pohon identitas nasional Finlandia. Menurut atase urusan konsuler Finlandia yang berkedudukan di Jakarta Mika Kaikkonen, pohon spruce yang kemudian disebut sebagai “Home Spruce” ini merupakan flora alami di Eropa Utara yang mencakup Swedia, Rusia bagian utara dan Finlandia sendiri. “Bentuknya mirip dengan pohon cemara yang kita tanam secara simbolis di sini. Kami memilih pohon cemara untuk ditanam di sini, bukan spruce yang asli, karena perbedaan iklim,” tutur sang atase.

Kebiasaan selebrasi kemerdekaan yang begitu ramah lingkungan ini sudah dilakukan sejak 50 tahun lalu. Di tahun 1967, lebih dari 30 ribu bibit spruce ditanam di berbagai wilayah untuk menandai kemerdekaan Finlandia yang ke-50. Kita bisa bayangkan berapa banyak pohon yang sudah ditanam sejak itu. Dengan asumsi jumlah pohon yang ditanam per tahunnya sama, kita bisa estimasi jumlahnya sekarang mencapai 1,5 juta pohon! Dan Finlandia tidak berhenti di angka tersebut. Dengan dukungan Environment Online (ENO- jaringan global untuk sekolah dan komunitas bagi pembangunan berkelanjutan), mereka mencanangkan ambisi untuk menanam 100 juta pohon hingga tahun ini.

Bersamaan dengan tiga cemara yang ditanam, saya temukan sebuah prasasti baru berukuran kecil dan bercat hijau dengan sebuah plat yang berwarna keemasan dan bertuliskan “Tulevausuuden Kuusi Framtidens Gran 2017”. Prasasti ini tidak mencolok perhatian dan memang seakan dibuat ala kadarnya sebab prasasti dan monumen yang sebenarnya ialah pohon-pohon yang ditanam. Bagi bangsa Finlandia yang kita kenal sebagai produsen ponsel Nokia di masa lalu, pohon spruce merupakan monumen peringatan kemerdekaan mereka yang lebih berharga daripada apapun. Itu karena dalam pemikiran mereka, pohon dan hutan selalu menjadi bagian yang amat penting dalam kehidupan. Pohon merupakan simbol kelestarian kehidupan dan keyakinan terhadap masa depan serta perdamaian.

Atase Kaikkonen menerangkan betapa pentingnya pohon spruce bagi bangsanya. Pohon ini diketahui memiliki banyak kegunaan. “Kami bisa memakai getahnya untuk mempercepat penyembuhan luka dan meredakan ruam di kulit,” ujarnya. Selain itu, kayunya juga kokoh dan bisa dipakai sebagai material bangunan dan furnitur.

Finlandia dikenal memiliki hubungan yang harmonis dengan alam. Lansekapnya dihiasi dengan bentangan taiga, hutan heterogen, dan hutan birch serta padang rumput luas. Finlandia juga memiliki 188.000 danau dan terdiri dari 179.000 pulau, tidak kalah dengan Indonesia. Dengan penduduk cuma sekitar 5,4 juta jiwa dan luas wilayah 338.424 km persegi, bisa dikatakan Finlandia merupakan salah satu negara dengan kepadatan penduduk terjarang di dunia. Bayangkan saja, untuk setiap kilometer persegi hanya dihuni rata-rata oleh 16 jiwa. Kita rasakan ketimpangannya jika bandingkan dengan Indonesia secara keseluruhan. Bila membandingkannya dengan Jakarta (yang jumlah penduduknya mungkin juga selisih tipis dengan total populasi mereka), sungguh terasa dramatis perbedaannya.

Untuk mengabadikan kampanye ini, disediakan dokumentasi daring di media sosial sehingga dapat dipantau dari manapun. Di tautan http://tulevaisuudenkuusi.fi/welcome/en , saya menemukan laman yang menayangkan perkembangan realisasi inisiatif global tersebut. ENO sendiri membuka kemitraan dengan pihak apa saja yang tertarik untuk mewujudkan target 100 juta pohon tadi hingga akhir tahun 2017. Berminat bergabung? (*)

Rayuan Pulau Harapan

Perahu kami membelah ombak Laut Jawa yang sunyi karena tidak ada lagi canda dan tawa dari turis-turis lokal yang sudah kelelahan seharian berkecimpung di air laut.
Perahu kami membelah ombak Laut Jawa yang makin senja makin sunyi karena tidak ada lagi canda dan tawa dari turis-turis lokal yang sudah lapar dan kelelahan seharian berkecimpung di air laut.

Sebuah perdebatan mengemuka perihal negara mana yang memiliki jumlah pulau paling banyak di muka bumi ini. Ada yang berkata Finlandia; ada yang mengatakan Indonesia. Namun, menurut CIA World Factbook Indonesia-lah sang jawara. Kalau saya tilik laman Wikipedia, jumlah pulau di negeri yang kita tinggali ini mencapai lebih dari 13.000 pulau. Dan untuk menjelajahi semuanya sungguh tidak mungkin kecuali jika kita mau hidup berkelana setiap harinya untuk berpindah dari satu pulau ke pulau lain. Lalu saya iseng menghitung, angka 13.000 saya bagi dengan 365 hari, hasilnya 35,6. Itu artinya dibutuhkan waktu 35 tahun lebih hanya untuk menjejakkan kaki dari satu pulau ke pulau lain di Indonesia agar semua pulau tadi terjelajahi tuntas tanpa kecuali. Syaratnya setiap hari Anda harus bergerak ke pulau yang berbeda, tak peduli kondisi atau cuaca. Pokoknya terus berpindah, nomaden.

LOKAL TAPI TAK KENAL

Kalau boleh jujur, saya bisa katakan orang Indonesia adalah warga dunia yang naluri berkelananya terbilang rendah. Jadi, jangan heran jika kita sering menemukan orang Indonesia yang belum pernah ke daerah-daerah di dekat tempat tinggalnya sendiri. Itu karena ada banyak alasan. Ada yang tidak bisa berlibur karena kendala kesibukan mencari nafkah (jika Anda butuh pemasukan untuk membiayai hidup, seperti banyak orang Indonesia yang harus mati-matian memenuhi kebutuhan dasar mereka), berlibur bukanlah sebuah kebutuhan tapi kemewahan. Bahkan untuk menjelajahi pelosok-pelosok daerah yang ada di pulau yang mereka tinggali sendiri pun belum tentu terlaksana. Kecuali jika pekerjaan mereka mengharuskan demikian.

Kedua, orang Indonesia penyuka zona nyaman. Mereka cenderung menyukai daerah-daerah wisata yang sudah jelas akan menawarkan keindahan. Menjelajahi daerah-daerah yang belum banyak dikunjungi orang apalagi daerah yang sama sekali belum tersentuh manusia bukanlah sesuatu yang menarik bagi kebanyakan orang Indonesia. Jika punya waktu berlibur, mereka akan mencari wisata yang menyenangkan di tempat-tempat yang sudah pasti nyaman, bersih, dan indah, misalnya wisata belanja, wisata kuliner dan sebagainya. Mendaki gunung, menyelam laut, atau berkenalan dengan suku di pedalaman pulau terpencil bukan jenis aktivitas yang menyenangkan buat mayoritas warga kita.

Ketiga, ketersediaan moda transportasi dan infrastruktur di daerah yang belum merata memicu biaya perjalanan yang tinggi. Akhirnya, sebelum melancong, wisatawan Indonesia harus berpikir beberapa kali. Contohnya lihat saja harga tiket pesawat ke negeri jiran Singapura atau Malaysia dibandingkan dengan harga tiket ke daerah-daerah timur Indonesia. Harga ke negeri tetangga itu bisa berkali lipat lebih murah daripada ke, katakanlah, Labuhan Bajo atau Raja Ampat.

Keempat, orang Indonesia menyukai unsur prestise dari liburan. Saya pernah mengobrol bersama seorang sopir taksi daring yang berkomentar tentang asyiknya liburan ke luar negeri. Saya berceletuk,”Pak, justru liburan ke Indonesia Timur itu lebih mahal lho daripada ke Singapura atau Malaysia.” Ia menyanggah,”Oh ya? Tapi siapa peduli, mas. Yang penting kan sudah terlihat pernah keluar negeri. Kalau hanya di Indonesia, sejauh apapun, semahal apapun, sepertinya kok kurang wah.” Saya hanya mengangguk dan diam, mencoba memahami pemikirannya yang bisa jadi mencerminkan pola pikir jutaan orang Indonesia lainnya.

NAIK GARUDA

Akhir pekan kemarin saya menyempatkan diri untuk sekadar mencicipi beberapa pulau dari 13.000 lebih yang ada. Kalau boleh mengaku dan menyisihkan rasa malu, saya memang bukan pelancong domestik yang tahu luar dalam negeri sendiri. Hingga 3 dekade lebih umur saya, cuma pulau Jawa dan Bali yang pernah saya jejaki tanahnya. Padahal saya sudah pernah ke beberapa negara tetangga. Ini sebuah ironi memang. Maka sepanjang akhir pekan itulah saya menantang diri untuk sekadar menikmati Laut Jawa, yang hanya secuil dari keindahan lautan Indonesia. Dan mungkin karena saya juga bukan penyuka air dan saya tak bisa berenang dan tidak pernah menyukai teriknya matahari di pesisir, saya selama ini enggan mencoba wisata semacam ini.

Saya pikir ini saatnya saya mencoba. Siapa tahu di balik keengganan dan ketakutan itu tersimpan pengalaman yang menarik dan berharga untuk saya ceritakan di hari tua nanti?

Untuk ke pulau Harapan dan beberapa pulau di sekitar Kepulauan Seribu Utara itu, Ronald – seorang teman yang memimpin rombongan kami – bekerjasama dengan seorang pemandu lokal di sana, Jun. Dari penuturan beberapa orang teman dalam rombongan, kunjungan ke pulau Harapan masih lebih menyenangkan dibandingkan dengan Pulau Bira, yang kata mereka masih sepi, makanannya kurang sesuai ekspektasi, kurang higienis dan sebagainya. Mungkin semuanya sekarang sudah berubah karena itu berdasarkan pengalamannya beberapa tahun lalu.

Bertolak dari pelabuhan Muara Angke (Kaliadem) yang lekat dengan kesan kumuh dan bising di Pluit, Jakarta Utara, pukul 8 Sabtu pagi lalu, kami sampai di pulau Harapan lebih awal dari perkiraan yang semula 3 jam. Saat kami masih punya banyak waktu di atas kapal sebelum angkat jangkar, kami berfoto-foto sampai bosan di atas geladak. Pelabuhan bukan pemandangan yang terbaik untuk mengambil gambar karena suasananya kurang asri. Di sepanjang jalan ke dermaga, kanan kiri berserakan sampah plastik yang mengganggu sekali, bertolak belakang dari panorama lepas pantai yang terlihat begitu sempurna.

Seorang teman berkata kami akan naik Garuda. Tapi ini bukan Garuda, maskapai penerbangan yang identik dengan kemewahan dan kenyamanan. Kapal kami yang bernama Garuda ini jauh dari kesan mewah dan nyaman itu. Wajar saja karena harga tiketnya cuma Rp56.000 per penumpang. Kapalnya terbuat dari kayu-kayu yang sudah teruji ketahanannya. Di dalamnya sumpek dan gerah, tapi bagaimanapun juga kami tak bisa mengeluh karena inilah satu-satunya cara menjangkau pulau di utara Jakarta itu. Untuk mendapatkan suasananya, bayangkan saja sebuah gerbong kereta api ekonomi jauh sebelum perbaikan besar-besaran yang terjadi sekarang, saat penumpang masih dibiarkan menggelar koran dan tidur di bawah lalu mendengkur sampai tujuan. Kapal yang kami tumpangi memiliki tiga lantai: atas, tengah dan bawah. Bagi Anda yang tak suka berpengap ria, lantai atas menawarkan udara bebas, begitu bebas hingga Anda bisa masuk angin dan kering tertimpa sinar matahari laut setelah beberapa jam ada di atasnya. Di lantai tengah yang saya pilih tempati, kondisinya lebih bersahabat bagi mereka yang tak mau terkena banyak angin laut dan sinar mentari. Hanya saja, Anda mesti siap sedikit gegar otak karena setidaknya kepala Anda akan terantuk kayu-kayu di langit-langitnya. Tinggi kabin tengah kapal mungkin hanya 1,5 meter saja sehingga membuat mereka yang jangkung dan jangkungnya tanggung seperti saya sangat tersiksa. Sekitar pukul 10.40 kami sudah menyentuh bibir pantai pulau Harapan.

JELAJAH PULAU

Bentuk-bentuk rumah di pulau Harapan mirip dengan bentuk rumah di pulau Jawa. TIdak ada semacam rumah panggung khas pantai yang kami temui setidaknya di bibir pantai dekat dermaga. Di jalan masuk utama dari dermaga kami juga disambut dengan sebuah gapura yang juga bisa ditemukan di desa-desa di Jawa. Di belakang gapura selamat datang itu, kita bisa menemukan kantor-kantor penting administrasi pemerintahan desa yang masuk wilayah kepulauan Seribu Utara itu. Kantor kepala desa, puskesmas berdiri tegak di sekitar gapura, kemudian masjid juga bisa ditemukan di jalan masuk di belakang kantor-kantor ini.

Setidaknya ada beberapa pulau yang kami berhasil jelajahi dalam dua hari perjalanan itu: Harapan, Macan, Perak, Genteng Kecil/ Besar, Bulat dan Putri. Setelah meletakkan semua barang bawaan, di tempaan matahari Sabtu siang itu kami meluncur membelah laut ke pulau Macan yang kata Jun pemandu kami sangat indah dan memukau. Saya dan Yoga, seorang teman lainnya yang mengaku tak bisa berenang sama sekali, sempat panik karena kami akan mengarungi lautan lepas dengan perahu sekecil itu tanpa pelampung. Setiap percikan ombak seperti sebuah pertanda laut akan menelan kami dan sulit untuk menekan adrenalin yang melonjak. Namun, saya menenangkan diri karena saya tahu teman-teman saya akan menolong saya jika itu terjadi. Tetap saja kami tak mau gegabah. Kami pun meminta pelampung, dan Jun juga meminta yang lain untuk memakai karena jika tidak memakai dan tertangkap basah patroli laut, mungkin kita akan mendapatkan teguran.

Di lepas pantai pulau Macan kami pun membuang jangkar. Jun memilih tempat yang aman agar tidak merusak terumbu karang. Di sini saya mencoba mencicipi untuk pertama kali bagaimana rasanya snorkeling. Dengan belajar singkat tentang cara menggunakan goggle (kacamata renang) dan mengenakan jaket pelampung, saya memberanikan diri turun. Saya gigit kencang ujung pipa di mulut ini dan membiasakan bernapas dari mulut. Mulanya saya mencoba berpegangan dengan tangga di perahu agar terbiasa dulu di air kemudian perlahan melepaskan pegangan tangan itu. Saya mencoba lebih rileks dan membenamkan kepala ke bawah permukaan air dan menyaksikan ikan-ikan kecil berwarna-warni melewati jari jemarin saya. Sebuah debut yang cukup berhasil karena saya bahkan tidak harus dipandu Jun selama sesi snorkeling. Tahu diri dengan kemampuan ini, saya tidak mencoba meninggalkan perahu terlalu jauh karena jika walaupun ada jaket pelampung, mengayuh cukup menguras tenaga juga. Saya pun naik ke perahu kembali dan menghangatkan tubuh.

Sesi snorkeling kedua berlangsung di pulau Genteng Besar dan Kecil yang juga diluberi dengan wisatawan lokal. Saya memutuskan tidak turun karena tubuh sudah merasa kedinginan terkena semburan angin laut yang kencang di tengah cuaca yang mendingin begitu matahari mulai turun dari titik kuliminasi. Alih-alih menceburkan diri, saya berfoto-foto saja di atas perahu dan menonton ulah semua orang yang berenang di bawah sana dengan berbagai gawai untuk mengabadikan. Semua ‘persenjataan’ mahal dikeluarkan, dari kamera bawah air, ponsel anti air, dome, dan sebagainya. Mereka merekam semuanya sampai ruang penyimpanan data di gawai itu penuh sesak.

Satu hal yang patut disayangkan ialah saat berada di perjalanan menuju ke tempat snorkeling di pantai pulau Macan yang dangkal itu, baling-baling mesin perahu kami sempat terhenti karena sampah yang menjerat. Tak perlu banyak menyelidik, insiden ini pastinya karena polusi yang makin tinggi akibat kunjungan turis yang membludak dari waktu ke waktu ke wilayah ini. Di sepanjang perjalanan sendiri saya saksikan benda-benda yang tidak seharusnya berada di laut  seperti botol plastik air mineral, ban bekas, busa, mengapung begitu saja di permukaan air. Belum ada kesadaran penuh untuk menjaga kebersihan lautan dan pulau-pulau yang molek ini. Dan ini tentunya sangat merisaukan meskipun sudah menjadi kelaziman bagi warga lokal. Masih diperlukan banyak upaya edukasi dan realisasi pengelolaan sampah anorganik yang berbahaya bagi kelestarian lingkungan di pulau-pulau kita.

Soal pengelolaan sampah juga menjadi sumber keprihatinan di pulau Perak yang kami kunjungi sore itu. Begitu kami mendarat di pulau kecil itu, kami menyaksikan banyak sekali orang sudah di sana menikmati keindahan laut sambil makan dan minum, yang kemudian membuat sampah anorganik seperti bekas botol plastik bertumpuk sembarangan di hampir seluruh pulau. Tampaknya pemerintah DKI Jakarta dan lembaga-lembaga pemerhati lingkungan hidup swadaya masyarakat (LSM) belum mengantisipasi isu manajemen sampah di pulau-pulau kecil di utara Jakarta itu dengan lebih maksimal.

Harga yang dipatok di sini bervariasi karena itu Anda perlu berhati-hati agar tidak terkena penggelembungan harga yang tidak perlu terjadi. Saran saya, selalu membeli didampingi pemandu lokal Anda agar Anda bisa mendapat harga termurah. Beberapa teman saya sempat gusar karena harus membayar Rp25.000 hanya untuk menikmati sebuah kelapa muda, yang bahkan sudah agak tua sehingga dagingnya tak begitu lezat dinikmati. Harga sempat turun ke Rp20.000 dan mereka pikir itu sudah murah, ternyata saat saya membeli bersama dengan Jun di samping saya, harganya bisa jatuh sampai Rp15.000. Untung mereka memang melimpah ruah di akhir pekan sebab inilah waktu emas pariwisata di daerah tersebut. Di hari-hari kerja (workdays), kunjungan wisatawan turun drastis. Sehingga saya bisa maklum jika kemudian si penjual yang ibu paruh baya itu menaikkan harga kelapa muda dan mi instan serta bakwan goreng bercampur bumbunya itu dengan harga dua atau tiga kali lipat dari harga biasa di daerah lain atau harga normal di hari biasa.

Menjelang senja, saya pikir kami akan kembali langsung ke pulau Harapan namun ternyata perahu mampir ke sebuah pulau yang dinamai “Bulat”. Dinamai begitu karena dulu bentuknya bulat, tetapi tampak sekali abrasi sudah memupus bentuk bundar itu menjadi pejal yang aneh. Pemecah gelombang yang dibuat manusia untuk perahu yang hendak berlabuh di situ sudah keropos dan hancur sedikit demi sedikit tidak kuasa menahan hantaman ombak setiap hari. Pulau ini sangat kecil karena hanya bisa dilintasi hanya dalam beberapa menit berjalan kaki santai. Di atasnya ada sebuah bangunan besar. Mungkin sebuah penginapan atau resor dahulu tapi sekarang ditinggalkan tanpa penghuni. “Ini masih lumayan karena yang jaga masih mau kerja tanpa dibayar,” kata pemandu lokal kami yang berperawakan kecil itu.

Karena penduduk pulau Harapan sudah relatif padat ditambah lagi dengan makin derasnya kunjungan wisatawan di sana, fasilitas yang ada juga sudah lebih baik di pulau tersebut. Air tawar untuk mandi juga sudah tersedia melimpah dan sebuah mesin pendingin udara terpasang di dinding kamar meski kami harus menunggu sampai pukul 1 siang hingga aliran listrik kembali menyala. Kami sempat tercengang karena bak mandi kami hampir kosong melompong dan listrik tidak ada. Saya pun maklum karena sudah pernah membaca bahwa ketersediaan listrik masih menjadi kendala bagi warga di pulau-pulau kecil yang bertebaran di lautan Indonesia. Sebuah masalah yang bisa jadi sebuah peluang usaha juga bagi Anda yang tahu bagaimana caranya membangkitkan energi listrik dengan tenaga alam.

Kerisauan itu sirna begitu kami kembali ke penginapan yang bentuknya sebuah rumah bata di permukiman penduduk di tepian sebuah kolam penangkaran bibit ikan. Listrik sudah menyala begitu kami masuk ke rumah penginapan kecil namun nyaman itu. Pemandangan laut lepas ada di kanan kiri sementara di depan kami bisa memandang lalu lalang orang dari dan ke dermaga yang dipenuhi perahu-perahu besar dan kecil.

SUNRISE

Esok harinya saya bangun paling pagi di penginapan itu. Sekitar pukul 4.30 saya sudah terbangun mendengar panggilan salat subuh dari masjid yang ternyata tidak jauh dari penginapan kami. Sesekali saya temui warga lokal yang sudah berangkat melaut di jalan menuju dermaga, sementara beberapa lainnya sudah bersiap mencari nafkah sebagai penjual makanan keliling di situ. Beberapa saat kemudian setelah langit agak terang, gerobak-gerobak bermunculan di dekat gapura, mengais rezeki dengan menjual makanan ringan atau sarapan pagi yang tidak seberapa mengenyangkan tetapi sudah cukup memuaskan nafsu makan.

Anak-anak muda yang melancong di sini perlahan-lahan mulai menampakkan batang hidung mereka. Di tangan mereka tergenggam gawai-gawai yang siap mengabadikan pemandangan matahari terbit. Di tempat saya berdiri ufuk timur terhalang sedikit dengan galah-galah bambu yang dipakai untuk memasang jaring-jaring agar ikan-ikan kecil di kolam penangkaran tidak bisa lolos ke Laut Jawa. Demi foto sunrise yang sempurna, sekelompok anak muda nekat berjalan kaki menelusuri jalan setapak kecil yang dibuat warga untuk membatasi kolam tersebut dengan laut lepas.

Karena sudah terlalu kenyang dengan suasana laut, saya putuskan untuk tetap di darat hari ini bersama dua teman saya yang juga tidak bersemangat bermain air lagi. Yoga menolak pergi ke pulau Putri yang ramai tetapi terawat itu karena memang tidak terlalu suka berenang. Sementara Charles kena masuk angin karena perut kosong dan kedinginan selama perjalanan pulang dari snorkeling. Karena itu, jika Anda berniat untuk snorkeling juga, akan lebih baik jika Anda membawa baju ganti dan jaket serta bekal makanan secukupnya agar tidak di laut dengan perut kosong dan pakaian lembab. Dan pastikan tubuh dalam kondisi bugar dan sehat sebelum menceburkan diri ke laut dan begitu mengentaskan diri dari laut segera keringkan tubuh dengan sempurna dan isilah perut agar rasa kembung dan dingin terusir segera. Sebab semua itu jika ditambah terpaan angin laut akan membuat kesehatan tubuh rubuh.

Menghabiskan waktu hanya sehari semalam di pulau Harapan memang kurang jika ingin mengenalnya lebih dalam. Tapi setidaknya ini menjadi satu awal yang baik bagi Anda yang ingin lebih dalam lagi mengenal pulau-pulau di Indonesia yang jumlahnya puluhan ribu itu.

 

Mengapa Sampah Plastik Tidak Boleh Dibakar

(Foto: Wikimedia Commons)

Melintasi perdesaan dengan kereta api, semuanya terkesan indah. Sawah-sawah menghijau, udara bersih, langit biru dengan awan berarak. Pemandangan yang sangat filmis.

Begitu kereta memasuki daerah yang lebih padat penduduk, pemandangan pun berubah makin ruwet. Menyedihkan bahkan. Karena di berbagai titik, saya bisa temukan sampah plastik bertebaran. Sebagian tertimbun bersamaan tanah, mencemarinya. Ada yang tersapu arus sungai. Lalu ada yang membakarnya, berharap bahwa plastik pengganggu pandangan akan lenyap seiring dengan dilahapnya benda itu oleh nyala api. Dan payahnya, pembakaran sampah plastik itu dilakukan di pagi hari sehingga mengganggu pernapasan dan pemandangan. Sangat merusak suasana hati di saat Anda harus memulai hari dengan semangat yang positif.

Sebetulnya pemandangan pembakaran sampah plastik bukan cuma di perdesaan semacam wilayah yang jauh dari perkotaan. Di perkotaan hal seperti ini malah lebih marak. Saya kerap prihatin jika di perempatan jalan ada pos ojek yang penuh ludah, dan yang lebih menjengkelkan lagi penuh dengan sampah plastik bungkus makanan atau rokok yang dibakar tak sampai ludes. Jadi apa gunanya dibakar kalau toh masih menyisakan ampas seperti itu?  Saya benar-benar tidak habis pikir. Dan saat saya lewat asap pembakaran itu merasuk ke hidung dan baunya membuat pening kepala.

Usut punya usut, memang sampah plastik TIDAK BOLEH dibakar seperti itu. Karena selain cuma menghabiskan bensin dan korek api serta menimbulkan polusi udara, pembakaran sampah plastik atau karet (ban kendaraan) membahayakan kesehatan dan lingkungan hidup. Banyak zat kimi berbahaya yang terlepas ke udara jika kta membakar plastik. Bahan itu misalnya ialah dioksin dan furans.

Mungkin kita belum tahu apa itu dioksin dan furan. Keduanya diketahui memiliki kaitan dengan penyakit kanker dan gangguan pernapasan, bahkan disebut sebagai bahan-bahan paling berbahaya yang pernah ada (ejnet.org). Plastik seperti PVC (polyvinylchloride) terkandung dalam botol, wadah air, bungkus plastik makanan kita. Jika benda-benda ini terbakar, tidak cuma dioksin dan furan tapi juga karbon monoksida akan mencemari atmosfer.

Apa itu dioksin? Dioksin dihasilkan selama proses pembuatan bahan-bahan yang mengandung klorin, termasuk PVS dan benda plastik lainnya yang berklorin. Dioksin memicu kanker dan zat karsinogen sintetis terkuat yang pernah diketahui dalam uji laboratorium pada hewan percobaan. Racun organik ini akan muncul begitu klorin dan hidrokarbon dipanaskan di suhu tinggi. Saat Anda menghirup atau terpapar pada asap pembakaran sampah plastik yang mengandung dioksin, akibat yang tak diduga bisa terjadi. Jadi Anda bayangkan sendiri akibatnya pada anak-anak yang lebih rentan paru-parunya. Dan kalaupun tidak meninggal seketika, manusia yang terpapar dioksin bisa saja mengalami gangguan hormonal, menderita akumulasi racun dalam tubuhnya. Jika orang itu adalah ibu menyusui, ia bisa memberikan dioksin lewat air susunya atau plasentanya pada bayi (sumber: onlinesciences).

Kata furans merupakan singkatan dari  “chlorinated dibenzofurans” dan secara kimiawi berkaitan dengan dioksin. Keduanya kerap ditemukan bersamaan mencemari lingkungan.

Karbon monoksida beracun sekali dan bisa memicu kematian apalagi jika ia masuk ke dalam sebuah ruangan yang tidak berventilasi banyak. Kita tentu pernah mendengar bagaimana orang pernah meninggal begitu saja di dalam rumah saat mesin mobil di garasi lupa dimatikan. Sisa pembakaran sampah plastik ini juga jangan sampai tersebar ke tanah atau meresap ke sumber air kita.

Jadi jika tetangga Anda ada yang getol membakari sampah di halaman mereka, jangan hanya diam saja sebab asapnya juga bisa sampai ke rumah Anda dan meracuni keluarga dan tetangga lainnya. Bila terus menerus dibiarkan, asap pembakaran bisa memicu penyakit paru, syaraf, dan berkaitan dengan serangan jantung dan sejumlah penyakit kanker.

 

Dengan Silvofishery, Perhutani Ajak kita Kembali pada Jati Diri

Baru-baru ini Perhutani dan Perindo (Perum Perikanan Indonesia) meneken perjanjian kerjasama mengenai upaya penggunaan hutan sebagai lahan silvofishery. Tujuannya ialah agar fungsi area hutan mangrove di pesisir yang dinaungi oleh Perum Perhutani dapat dimaksimalkan. Dengan memakai metode khusus ini, wilayah pesisir tidak cuma akan memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi tetapi juga pada waktu yang sama menjaga kelestarian lingkungan di wilayah tersebut. Sebagaimana kita ketahui bersama, kelestarian are mangrove di sebuah wilayah pesisir turut menentukan kualitas kehidupan masyarakat dan lingkungan hidup di sana secara keseluruhan. Jika abrasi terjadi, misalnya, aktivitas dan penghidupan masyarakat di sekitarnya sedikit banyak akan terganggu.

Bagi saya yang masih awam, istilah ini tentu mengundang tanda tanya. Apa itu silvofishery? Secara sederhana, silvofishery dapat diartikan sebagai bentuk aktivitas pengelolaan gabungan antara hutan budidaya ikan. Silvofishery menjadi salah satu jenis agroforestry atau dalam bahasa Indonesia disebut “wanatani”.

Sebetulnya jika saya amati lebih lanjut, konsep ini berlawanan dengan konsep monokultur, yakni membuka hutan dan menanami lahan bekas hutan tadi untuk ditanami satu jenis tanaman saja (misalnya yang populer kelapa sawit). Monokultur merugikan ekosistem termasuk manusia karena keseimbangan unsur hara tanah terganggu, kelestarian flora dan fauna juga menurun, dan kerugian lingkungan lainnya yang sungguh tidak terbayangkan.

Konsep wanatani termasuk silvofishery ini menjadi salah satu solusi atas kerusakan lingkungan akibat praktik-praktik monokultur yang merajalela dan membuat kerusakan lingkungan. Dan ironisnya, wanatani sudah diterapkan sejak dulu oleh masyarakat tradisional di tanah air. Hanya saja dalam beberapa dekade ini sudah meluntur penerapannya, ditambah dengan makin maraknya industrialisasi.

Silvofishery ini mengajak para nelayan dan masyarakat umum untuk hidup berdampingan secara harmonis dengan alam, mengintervensi secara minimal dan etis. Tidak sembarangan dan tanpa perhitungan seperti yang banyak dijumpai akhir-akhir ini. Perlu diingat bahwa pada hakikatnya manusia adalah bagian dari alam, bukan entitas yang lebih tinggi atau superior. Karenanya, umat manusia harus menghormati alam seisinya agar keseimbangan yang sudah terongrong selama ini bisa dicapai kembali demi kelestarian bumi yang akan diwariskan pada anak cucu kita.

Indonesia sudah kaya raya dan memiliki semua. Hanya saja, kita terlalu sering kali lalai untuk menjaga kekayaan dan jatidiri sebagai sebuah bangsa besar. Kini saatnya kembali ke kearifan lokal nenek moyang. Dan sekali lagi, langkah Perhutani ini patut diapresiasi.

Referensi:

www.perumperhutani.com

silvofishery.com

http://apriyanto-purnomo.blogspot.co.id/2010/05/silvofishery.html)

Awaiting the Dragon by the Sea

DARKNESS SET IN when the bus I took crawled slowly on a bumpy and narrow road. The machine kept making noise, moving forward to reach our destination. I cast a glance outside. Nothing was perfectly lit. I was on a street with a name I could even pronounce. The road split a seemingly calm and orderly neighborhood. Once in a while, there were a few residentials belonging to locals. And amongst these small and modestly built houses, I spotted some establishments in Korean alphabets, hangeul.

I, however, was not on a trip in any part of Korean Peninsula. Apparently, these are properties of expatriate Korean entrepreneurs in the Vietnamese territory. Most of them were Korean restaurants set to serve Koreans and any tourists passing through the serene neighborhood. All looked dimly lit from behind the bus window I was in.

A larger restaurant was seen afar as if it were a diamond in a pitch-dark night, accentuating the typically humid tropical night with a lot of breeze sweeping softly the skin’s surface.

It was clear that the advancement in the area is thanks to the presence of foreign investors and business folks. All was made possible by the blessings of Vietnamese Communist government. It discovered that living in total isolation would do nothing but suppress its people’s living standard below the poverty line. Opening up itself to the rest of the globe seemed the best way to improve general welfare.

The 4-hour bus trip from Hanoi to this exotic destination tired me down. I grabbed a magazine. There on a page, it read in capital letters:”We’re not asking you to save the world. Just its greatest places.” Twelve breathtaking scenery photos of twelve most magnificent places on earth surrounded the aforementioned sentences. One of the photographs was one I planned to enjoy the following day: Ha Long Bay.

—-

THAT NIGHT I slept like a baby. An inexplicable enjoyment. The night before when I was staying in Hanoi, it took me a while after midnight before I finally succumbed to the lure of bed. Toni, my Vietnamese guide’s  nickname (his real name is much too difficult to pronounce for foreigners), told me Ha Long Bay is not only renowned for its natural beauty but also the coal potential.

The bay was listed as one of the World Heritage Sites in 1994 by the UNESCO. The town of Hong Gai (literally meaning “the island of women”, thanks to its womanlike landscape contour) located nearby has been increasingly busy and hectic with more people ever since. It was then stated as the capital of Ha Long province.

“There is an international port built by the French to export goods to Hai Fong port as far as 70-km from here or abroad,” Toni explained. He is a man in his mid forties, looking tanned during the smoldering summer like now.

In the 1980s, when there was a diaspora of Vietnamese, millions of natives fled their homeland. Some escaped the war-torn country by sailing on boats to more promising and stable neighbors like China, Hongkong, Malaysia, Thailand and even Batam, Indonesia before they were eventually allowed by laws to enter European countries or the United States.

I found it hard to believe that the place where I visited and is flooded by around 8 million tourists per year was also not immune to the raging Vietnam War. In 1964, the US airplanes flew low and landed there with one single mission, i.e. to demolish the significant Ha Long port. The sea port used to play an important role for the Northern Vietnam to help their Southern compatriots survive under the ruthless US opression. Yet, nowadays there is no remnant showing the bloody past.

—-

THAT MORNING I was seeing through a French-styled window frame. Ha Long City that the night before seemed so eeriely dim was now basked under sunlight. Bright and welcoming. The hilly landscape outside caught my eyes. There was no noise, amazingly. The traffic was low.

The not-so-sunny weather enveloped us along our bus ride from the hotel to the bay. The dark clouds could not sustain long up there. The downpour wetted the coast of Ha Long at last but oddly enough, the high humidity remained.

Once my 15,000-dong cruise boat ticket was in hand, I was ready to stand in line at the port which since that morning had been swarmed with international tourists. One large blue boat approached towards where I stood like a statue for about an hour. It would carry me around the vast bay which at the time was showered heavily with raindrops.

The local legend has it that a dragon ruling the bay was said to be residing somewhere in it. The mythic beast had formed the grand spot and all of the gigantic underground caves. I almost told Toni, who narrated the story, that maybe the downpour was the dragon’s tears as it was saddened by the sudden increase of human presence in its formerly tranquil home. But I managed to hold my tongue.

A number of local fishermen in a documentary movie had claimed they saw a glimpse of a long-shaped creature under water, which resembled a dragon’s long body. It is never proven that they told the truth or allegedly sparked controversy to attract more visitors. Upon hearing that, I was reminded of Loch Ness lake in the Western Europe. Both bear the mysterious appeal exploited by humans to bring more tourists in their businesses. It is a truly best-selling story that helps them make more profits.

VIETNAMESE MOTORBIKERS ARE known to be rather unruly on streets. And it turned out the attitude was adopted by these boat drivers. They raced and bumped their boats against each other when they were leaving the quay. I panicked as I experienced a major shock after an abrupt hit. I thought it was a pure accident and both boats would crack and all of their passengers would drown (this was the time I promised to hone my miserable swimming skills). But several minutes later I came to understand that that was how they say hi to each other.

It was raining harder and harder when we almost stepped on the land again. Thankfully, the guide provided us free, thin, colorful, plastic raincoat. As the passengers in my boat and several others rushed out to sightsee, we prepared ourselves to climb up hundreds of stairs. This made some elderly and physically-challenged tourists quit their walks and took a seat to enjoy whatever they could when the other younger visitors continued the walks, slightly panting.

Sprawling around 1,553 square km in Quang Ninh Province, Vietnam, the bay is where I can find a numerous number of limestone karsts and isles.  After 500 million years, the limestone here has been going through amazingly diverse conditions. Aside from its rich geodiversity and biodiversity, Ha Long Bay serves as the habitat for 14 endemic plants and 60 endemic animals.

Vietnam took seriously the UNESCO stipulation. They took further steps to beautify all the caves in Ha Long Bay. When I succeeded to roam the caves, from afar I saw colorful lights to accentuate the uniquely-shaped stalactites and stalagmites. Toni broke the silence to explain why these natural shapes are marvels. Enthusiastically, he mentioned that this stalagmite resembles the shape of an old man, another one of a giant dragon, another one of a couple and so on. I forced myself to make use of my highest level of imagination but failed. These were more artistically demanding than going on an abstract painting exhibition tour.

As the day was approaching the lunch time, I went out with Toni beside me still explaining why that day was one of the most crowded days in the year in Ha Long Bay. It was summer and thus the peak season.

While savoring the protein-laden dish, the cruise in the bay went on through the thousands of limestone islands rising out of the emerald water. The place looks like God’s artworks on the sea with limestone pillar rocks.

I was wondering what we would have as our lunch. The dish was specially made for me, Toni remarked. The cook in the boat served us a wide variety of seafood, from fish, clamshells, to lobsters. I got so stuffed afterwards I almost fell asleep on our way home back to the hotel.

As the boat was slowly but certainly slicing the water forward, I noticed the drizzle had completely stopped. Everyone else on board seemed so eager to climb up to the deck, observing what the crew was doing. Some others hoping to immortalize their visit took multiple shots of the calm and flat water scattered with high rocky islets, clear blue easy sky and horizon.

If one cannot stay long due to time constraint, even a day trip from Hanoi and enough to catch a glimpse of the picturesque Halong Bay and sunset view. would suffice. Toni recommended that I stay at night with other travellers on an overnight cruise. But too bad I had to leave for Hanoi so I wouldn’t miss my flight back.

A day trip like this would normally cost around USD 50 from a decent and reputable tour operator, with a professional guide like Toni. One may get cheaper one but be sure to check and compare what is included in the package before booking.

Toni suggested that I navigate the area either by kayak, which I row on my own, or by a bamboo boat which the villagers of the floating village row for me (and tipping around 2-3 dollars). I set aside the first option in fear of capsizing as I am no experienced kayaker as the currents can turn quite strong, and there are rocks which may cause me to either capsize the kayak or get stuck.

The bay is a natural beauty, calming and exotic with rock outcrops and small islands, surrounded by floating villages of local fishermen. A real treasure of Vietnam, the region, and in fact the world.

I sat down and lay my sleepy head on a shady bench. “Toni, please wake me up when we get onshore,” I requested. “Or when the dragon appears,” I added.

It was one fine day at Ha Long Bay but I hadn’t encountered the dragon yet. Perhaps in my slumber, the dragon would show up. (*)

Happy Earth Day, Everyone!

“Who are we? We find that we live on an insignificant planet of a humdrum star lost in a galaxy tucked away in some forgotten corner of a universe in which there are far more galaxies than people.”- Carl Sagan

If this planet is so insignificant, insubstantial, and
inconsequential, how about each of us? Totally meaningless cosmic dust particles???! But anyway, happy earth day! I love my planet and I hope so do you all.

{image credit: wikimedia}

Plastik Biodegradable Tak Seramah Lingkungan yang Kita Duga

Jangan tertipu. Hanya karena ada awalan “bio”, tidak serta merta sesuatu pasti ramah lingkungan. Seperti itulah yang ditemukan oleh tim peneliti dalam sebuah studi ilmiah yang menyimpulkan bahwa zat tambahan yang umum dibubuhkan dalam plastik yang diklaim biodegradable (lebih mudah dan cepat diurai secara alami di alam bebas) sebenarnya tidak lebih cepat membantu penguraian bahan tersebut dibandingkan plastik yang tidak diklaim biodegradable.

Dengan naiknya populasi manusia dan meluasnya tempat penimbunan sampah, sampah plastik menimbulkan masalah besar di seluruh dunia. Lain dari banyak jenis sampah lainnya, plastik membutuhkan puluhan tahun untuk bisa terurai. Sejumlah perusahaan mengklaim telah bisa memecahkan masalah itu dengan memproduksi plastik yang mereka klaim sebagai “biodegradable”. Plastik jenis itu memiliki zat tambahan yang dikatakan mampu mempercepat penguraian bahan-bahan kimia dalam plastik.

Plastik yang tidak tertimbun di tempat pembuangan akhir (TPA) kerap tertimbun begitu saja di jalan-jalan perkotaan, dan berakumulasi di sungai-sungai, lautan dan sumber air minum.

Baru-baru ini, sebuah tim peneliti dari Michigan State University yang dikelapai oleh Susan Selke dan Rafael Auras menguji tingkat
keteruraian plastik yang memiliki 5 senyawa berbeda yang dikatakan bisa meningkatkan kecepatan proses penguraian plastik.

Tim peneliti yang menjadi bagian dari Center for Packaging Innovation and Sustainability
kampus tersebut menguji plastik di bawah timbunan sampah di lab dan plastik yang terkubur dalam tanah selama 3 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada satu pun senyawa itu yang meningkatkan kadar keteruraiannya.

Studi ini diterbitkan pekan ini dalam jurnal Environmental Science and Technology.

“Saya merasaskeptis mengenai plastik biodegradable dari awal karena material itu tak biasanya terurai dengan mudah,” ujar Fred Michel, pakar manajemen sampah dan profesor di Ohio State University yang dikutip oleh KQED. “Sulit untuk membayangkan material yang Anda tambahkan ke plastik yang akan secara ajaib membuatnya terurai dengan lebih mudah.”

Michel dan rekan-rekannya juga menemukan bahwa klaim dari
pabrikan-pabrikan plastik itu sebagian besar tidak dapat
dipertanggungjawabkan.

“Saya tidak terkejut,” ucap Michel,”tetapi menarik mengetahui adanya material di pasar yang seperti itu, yang memiliki klaim yang tak bisa dibuktikan dalam pengujian kami.”

Welcome Drought…

‎It’s been 3 days since the last time when the water pump operated and managed to suck water from the bowel of earth for us to shower and wash our dirty laundry and whatever needs cleaning. Now, we are almost entering the state of waterlessness if the other well is dried completely.

We’re not alone though. Some households are also experiencing the similar problem around the neighborhood, Karet Kuningan. They claimed the problem is the rain hasn’t arrived just yet. It was only super light drizzle for several days, but the temperature itself has already gone down. As we all know, the peak of dry season this year has been unusually horrifying. The temp reached 35 degree centigrade and it felt like in Sahara.

Now that ‎we are under such circmstance, we try to seek a scapegoat instead of fixing this unsustainable nature-exploiting behaviors like watering your dear plants or your dusty front yard with CLEAN tap water that actually is more suitable for other purposes like drinking, or bathing. Seriously, this infuriates me. Please, don’t act like clean water is cheap now. Even if it is, your money is useless anyway once the water supply is all used up with such recklessness by us. I cannot stress more! Clean water is a limited natural resource.

It’s time to teach ourselves how to save clean water. Perhaps you can start from closing the tap before you undo your wristwatch or roll your sleeves during wudhu. Or while you brush your teeth‎! I hate it so much when people leave the water runs while they are brushing teeth. No offense but it’s moronic. They let it run just like that and I can’t believe they do it. Craziness!

So the long-term solution wouldn’t be drilling deeper to suck more water from the mother earth, but how we all can change this behavior pattern and mindset towards clean water.

On that note, I think it’s the best time to tell these kids to change the way they use clean water. Unless they’re in a swimming pool, playing with too much clean water ‎should be considered a SIN. Make them feel the guilt of using too much clean water when showering, and they’ll understand:water is NOT to be used at their own disposal.

Kita Mau #indonesiabersih!!!

‎Kebersihan sebagian dari iman, begitu katanya. Indah dan ideal sekali. Nyatanya? Di negeri yang secara statistik dipenuhi muslim ini, konsep itu cuma LIP SERVICE! Cuma slogan, hanya motto, semboyan, kata-kata mutiara! Sepanjang mudik kemarin, misalnya, saya saksikan sendiri bagaimana tepi jalan di jalur mudik juga menjadi korban sampah.’

Kasus lain yang baru-baru ini terjadi adalah di jalur hijau seberang gedung Mahkamah Konstitusi. Sejumlah orang tanpa ampun menginjak tanaman. Menginjak rumput masih dimaklumi, tetapi mereka menginjak dan menduduki tanaman yang lebih besar, untuk kemudian duduk, makan dan minum. Bisa ditebak, kemasan plastik dan kertas bungkusnya tersebar ke mana-mana. Tidak ada yang mau peduli. Sangat menjijikkan!

Saya peduli, tetapi saya malu memungut sampah mereka. Malu dianggap gila.
Gila karena terlalu gandrung kebersihan di lingkungan sekitar.
Gila karena ingin negeri ini lebih bersih dan tertata.
Gila karena ingin Indonesia dianggap lebih Islami daripada negeri-negeri Barat.
Gila karena ada orang-orang yang belum sadar mereka mengotori rumahnya sendiri dan tidur di dalamnya!

Saya teringat dengan penulis David Sedaris yang juga dianggap gila. Selain karena tulisannya yang gila dan blak-blakan, Sedaris punya satu kebiasaan yang amat ingin saya contoh. Sebelum ke luar rumah untuk berjalan-jalan di bukit dan padang rumput luas di rumahnya di Inggris, ia membawa kantong belanja. Bukan untuk membawa belanjaan, tetapi untuk menampung sampah-sampah yang ia pungut sepanjang perjalanan. Sedaris selalu melakukannya setelah menulis di pagi hari. Ia menyusuri bukit dan jalanan di pedesaan Inggris yang sepi dan indah tetapi menyimpan sampah. ‎Persetan dengan orang yang menganggapnya eksentrik. Ia mengaku pernah dianggap orang sedang menjalani hukuman kerja sosial memungut sampah karena sudah berbuat kejahatan. Padahal tidak demikian adanya. Untungnya, tidak seperti saya yang malu dicap gila, Sedaris terus melakukannya. Ia terus berjalan dan memungut sampah, membawanya ke rumah dan membuangnya pada tempat yang semestinya.

Lalu tiba-tiba tadi malam saya dihubungi ‎oleh seorang teman yang mengajak saya untuk menggalakkan semangat menjaga kebersihan ini. Ia ibu 3 anak, dengan suami berasal dari Prancis. Bosan dan kesal, itulah yang ia rasakan tatkala anak-anaknya membandingkan Indonesia dengan Prancis soal kesadaran menjaga kebersihan lingkungan dan alam sekitar. Indonesia, mau tidak mau harus diakui, adalah bangsa yang masih harus belajar banyak soal satu itu ke bangsa-bangsa lain. Teman saya ingin sekali “memunguti semua sampah plastik yang bertebaran di Senayan”. Mungkin karena Ia kerap membawa anak-anaknya ke sana.

Begitu mengakarnya budaya buang sampah sesuka hati itu membuat saya memiliki satu hipotesis bahwa orang Indonesia sebagian besar tidak peduli atau memilih tidak peduli pada urusan sampah (terutama plastik dan ‎bahan-bahan kimia non-organik berbahaya lainnya) karena mereka belum diberi edukasi bahwa sampah anorganik itu tidak akan bisa membusuk begitu saja dan terurai di alam bebas layaknya sampah organik. “Kenapa harus dipungut dan dikumpulkan? Toh nanti akan lenyap sendiri,”pikiran mereka bisa jadi begitu. Tetapi sampah plastik bukanlah daun rontok yang bisa lenyap dan menyuburkan tanah secara alami. Sampah plastik berasal dari senyawa-senyawa kimia buatan manusia yang tidak secara alami ada dan terbentuk di alam bebas sehingga ia dianggap asing oleh alam dan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk akhirnya terurai, diterima kembali oleh alam ini.

Sekali lagi, perlu ada edukasi untuk membangkitkan kesadaran menjaga kebersihan dan menjaga kelestarian alam. Dan yang tak kalah penting ialah memberikan keteladanan, seperti halnya teman saya yang ingin dirinya bisa menjadi panutan bagi anak-anaknya dalam menjaga kebersihan. Jangan beralasan:”Yang penting hatinya bersih” karena kita tahu keduanya – kebersihan fisik dan rohani – itu penting.

Siap membuat #indonesiabersih dari sampah?

Baca juga: Bagaimana Amerika Serikat Bergulat dengan Sampah Plastiknya

Jalur Pantura saat mudik kemarin terasa seperti lautan sampah. Semua orang berhenti dan beristirahat lalu makan dan minum kemudian membuang sampah seenaknya. Kenapa orang Indonesia seperti ini? Sebuah keprihatinan bagi kita semua yang merasa warga negara yang peduli.

Aku Seneng Ono Sumur Resapan. Tapi Nggawene Rodo Cepet Sithik yo, Pak!

image

Koyo ngene kahanane dalanan ning kutha Jakarta nek wis bar udan. Opo maneh dina Jumat sore. Wis ora usah sambat nak meh lelungan karo nitih sepeda motor utowo mobil lan taksi. Mesthi macete. Mesthi strese. Mesthi mangkele.
Soko pirang dino kapungkur, trotoar ngarepe kantor panggonku nyambut gawe tambah ajur-ajuran. Ora iso dilewati. Iku amargo pemerintah Jakarta lagi semangat mbangun sumur resapan sing gunane nyalurake banyu udan. Wis ora gumun menowo ning Jakarta banjir kuwi lumrah, opo meneh wayahe rendeng koyo saiki. Mlebu wulan Nopember, udane soyo gede, mendung saben dino. Bu kosku sambat,”Pakeane ora garing-garing amargo mendung.” Pas udan gede wingi, bu kosku yo dadi wedhi olehe nyetriko klambi. Ndheke wedhi menowo kilate nyamber kabel listrik terus nyetrum awake sing pas lagi nyekel setriko. Dadine bu kos luwih milih turu wae. Nyetrikone mbengi sakwise udanr mandhek.
Perkoro sumur resapan, aku yo setuju wae karo pak Jokowi lan Ahok. Ananging kuwi pelaksanaane ojo sampek kesuwen. Delengen dhewe ning ndhalan koyo piye kuwi kahanane. Wis dalane macete gawe emosi, ditambah trotoare ajur mumur lagi diorak arik mbangun sumur. Yo sing sabar wae. Tapi menowo oleh menehi masukan, apike mbangune pas mongso ketigo. Dadi ora kebak blethok dalane mlaku.
Tapi nek wis kedarung yo piye maneh. Sing penting ora suwe-suwe iku mbangune pak! Aku emoh lho nek suwe-suwe nggawene.