A Little Life, A Gigantic Read

[This contains too much spoiler. So if you haven’t read this novel and wish to read it anytime soon, I have warned you. Or save this page to read later on.]

HANYA Yanagihara is one of those novelists who shun reading reviews. That makes sense as not all reviews are worth her time. And reading online reviews about your book seems to be very daunting and exhausting mentally.

What I’m writing below can never be called a proper review. Rather, it’s a sincere flattery of her tremendously thick and rich work.

Verbose, that’s certainly what came to my mind after I read the novel from cover to cover. But Yanagihara has a strong and sensible argument as to why the novel must be verbose.

I’ve been working for quite a while in magazines, which is why I’m so familiar with Yanagihara’s style of writing [for your information she’d worked as editor at CondeNast Traveler]. Her style is so magazinelike, making me sure that what I’m reading is actually a compilation of short stories or novellas skillfully sewn together as a mega novel. 

Salman Rushdie’s son recommended once after reading Harry Potter series that his father should write books published in series. Why? Rushdie said,”Easy. It’s more lucrative to publish that way.” Smart.

So I’m curious as to why Yanagihara never gave the idea any single consideration.  The idea that publishing in series or sequels does really make sense and enticing if one is a for-profit, commercial author. Yanagihara, as she admitted, is not one. She said an author especially those writing fiction must have a day job. Not only for the healthcare benefits, she added, but also because a day job provides you (paid) escape from all the emotional hardship one has to endure in the writing process of a long novel.

She mentions about her wish to make the story to become as claustrophobic as possible because she always tells it everything indoor. There’s not much told and narrated about the city’s landmarks, or landscape, or its wide array of population and all the humanity in it. Yanagihara is like using a microscope when telling the story of a horribly abused, lonesome, battered protagonist who never ever recovered thorughout his unexpectedly long life, Jude Saint Francis. She doesn’t allow any outdoor details coming into the story in abundance. Yet, the novel seems very generous when it comes to private lives of its characters. The author adds every detail (like their habit of getting together at a Vietnamese restaurant) and makes the story flow in a perfectly smooth fashion.

I like Yanagihara’s preference to pick some characters as her focus. She concentrates more on Willem and Jude’s relationships and how they and the ties change from time to time. Malcom and JB’s life may be considered supplementary compared to the other two though both later mentioned are also in the same clique.

If there’s something I’m very upset about the story is the fact that Jude is made in such a way to be an incurable victim throughout the novel. He is made to be forever suffering, relapsing, and going downhill.  All of betterment or progress he seems to make are fake and delusional. He is so rotten and damaged from the inside and out (I cannot imagine seeing his arms and legs which are depicted to be full of cuttings and infected wounds).

The issue of pedophilia raised here is so much relevant to the current issue of the day especially in Indonesia. I read KPAI (The Commission of Children Protection in Indonesia) has released a statement that now young boys are as fragile as girls when it comes to sexual abuse (considering the growing number of young male victims of sexual abuse). That said, the social problem doesn’t discriminate genders now. Whether you’re a parent of a boy or a girl, you need to be equally worrisome because boys apparently are also in need of protection also. It is always that way but public had never realized it until recently.

I’m also glad to see a new perspective towards male and masculinity from the point of view of a female author. This offers a unique  and fresh story and novel criticism not only towards people with penis but also the entire humanity as a whole unity.

I like her proposed ideology that males are allowed to feel weak and fragile and can speak up about their pain and suffering just like their female counterparts. Though I have to admit that such view takes a long time to be practiced in real life.  (*/)

Meditasi Basa-basi

(Sumber foto: Wikimedia Commons)

Ting! Layar gawainya menyala tiba-tiba. Azwar membuka pesan baru di WhatsApp. Tampaknya pesan itu dari nama yang belum tercatat di dalam kontak ponsel pintarnya. Ia menerka dari foto profil sang pengirim. Foto tak menjawab pertanyaan Azwar karena si pemilik nomor memasang foto tanda sakral Om. “Siapa lagi ini?” batinnya. Ia tidak merasa memberikan nomor ke sembarang orang yang tidak ia kenal dengan baik jadi bagaimana orang ini mendapatkannya dan yang terpenting siapa dia?

Segera ia baca dengan sedikit tergesa karena mesti mengejar bus Trans Jakarta jurusan Dukuh Atas. Begini bunyi pesan itu: “Hai Azwar. Apa kabar? Aku dapat nomormu ini dari Robby, temanmu. Kita bertemu di kelas yoga pekan lalu di Eco Yoga di Ancol. Kau masih ingat kan? Aku ada informasi workshop meditasi. Tanggal 16 April nanti, hari Minggu, jam 6. Kata Robby, kau berminat belajar meditasi jadi kupikir kau akan suka. RUSLI.”

Sialan si Robby, umpat Azwar. Berani-beraninya dia memberikan nomorku ke orang asing seperti ini. Saat Azwar hendak mengetik umpatan dalam benaknya dalam jendela percakapan di ponsel, sebaris kalimat tanya muncul menyita perhatian.

Rupanya dari Robby. Rupanya ia sudah menunggu dengan tekun hingga pesannya terbaca oleh si penerima. Begitu dua tanda centang biru itu muncul dan tulisan ONLINE tertera, seketika ia ketikkan pesan lagi pada Azwar. Ketiknya,”Tempatnya di Balai Kartini. Gurunya Sogyal Rinpoche yang terkenal itu. Dia dari Tibet. Kalau kita booking sekarang masih lebih murah. Nanti H-7 sudah naik banyak.”

Azwar dengan santai mengetik jawabannya sembari sesekali menoleh ke kanan kiri. Ternyata bus TJ keparat itu belum sampai ke halte ini juga, batinnya.
“Baiklah, memang berapa tiketnya?” ia mengetuk tombol ‘kirim’.

Sejurus kemudian Rusli mengirimkan jawaban. “Waktunya 3 jam penuh. Biayanya cuma Rp3 juta, bro.”

Azwar mengernyit. Ia tidak suka dipanggil “bro”, apalagi oleh orang yang belum begitu ia kenal seperti Rusli. Ia baru sekali bertemu Rusli dan itupun secara sekilas di sebuah kelas yoga tempo hari. Sehubungan dengan pertemanan, Azwar memang pribadi yang cukup pemilih.

Ia tidak begitu suka gaya Rusli. Dari pengamatannya, Rusli yang berambut gondrong dan tidak tersisir itu membuatnya cukup mual. Apa pasal? Pakaiannya kerap terlihat kumal dan bau badannya lumayan memicu rasa mual. Apalagi setelah kelas yoga yang membuat kelenjar keringat bekerja sangat giat.

Azwar berkata pada diri sendiri,” Acara meditasi sesingkat itu biayanya 3 juta?! Gila saja.”

“Mahal juga ya…” jawab Azwar lagi. Ia mengharap sinyal penampikan itu tertangkap oleh si penerima pesan.

“Tapi kita bisa dapat diskon 50% jika mendaftar berdua sekarang juga. Hari ini.”

Azwar menetralkan mukanya. Kalau Rp1,5 juta mungkin ia bisa mempertimbangkan. Toh ini lokakarya meditasi yang menghadirkan praktisi meditasi terkenal dari mancanegara. Wajarlah kalau biayanya mahal. 

Sedetik dua detik kemudian, sebuah file foto tertampil di layar percakapan. Tertera di situ sebuah pengumuman lokakarya meditasi dengan kalimat persuasif begini: 

“A MEDITATION WORKSHOP YOU’LL REGRET TO MISS

WITH SOGYAL RINPOCHE FROM TIBET

FEEL THE TRUEST MEDITATION EXPERIENCE…”

Sebagai latar belakang, tertampil foto seorang pria berkulit kuning dan bermata sipit, berkepala plontos.

Aneh sekali, gumam Azwar lagi. Di situ tidak ia jumpai keterangan biaya atau harga tiket masuk.

“Ini kok tidak ada harganya ya?” tanya Azwar. 

“Iya. Harganya baru diberitahukan jika menelepon ke nomor itu,” jawab Rusli dari ujung sana.

Karena Robby sudah menjerumuskannya untuk bertemu dengan orang itu dan masuk dalam lokakarya meditasi ini, akhirnya Azwar mendapatkan sebuah ide pembalasan. 

“Bagaimana kalau Robby sekalian saja diajak bareng ke sana?” Azwar melontarkan gagasannya.

“Oh, mau ajak Robby? Oke, bisa juga kok. Nanti aku daftarkan. Aku biasa ikut acara begini dan sudah kenal dengan panitia acaranya.”

Azwar mengangguk perlahan-lahan. Jadi, Rusli itu biasa meditasi. Pantas ia mirip pertapa begitu. Penampilannya agak tak terurus. 

Sebelum Azwar merespon, Rusli sudah menimpali lagi,”Kalau Robby ikut juga, tiket masuknya jadi cuma Rp1,25 juta, bro.”

“Oh ya?” tanya Azwar tidak percaya. “Okelah kalau begitu aku akan ajak dia secepatnya.”

“Hari ini ya, bro. Jangan terlalu lama.”

Bus Trans Jakarta itu datang juga. Azwar mengetik, “OK.” 

Sekejap ia sudah melompat, dan duduk di sebuah kursi di bus nyaman itu. Ponselnya tak ia hiraukan lagi. Ia takut jadi korban pencopet lagi jika pamer gawai di angkutan umum seperti ini.

 

***


Esok paginya, Azwar memeriksa WhatsApp. Mendadak ia ingat dengan pesan semalam. Ia terlalu sibuk menonton DVD sampai tertidur dan lupa mengirimkan biaya lokakarya meditasi ke rekening di pengumuman yang dikirimkan Rusli.

Karena merasa tidak enak, Azwar menghubungi Rusli. 

“Hai, maaf baru ingat transfer. Apa masih bisa transfer sekarang? Rp1,25 juta kan?” tanya Azwar.

Rusli segera menjawab,”Iya, jangan khawatir aku sudah bayarkan dulu, bro. Rp2,5 juta buat kamu dan Robby. Nanti transfer saja ke rekeningku di BCA 6524373649.”

“Oh sudah dibayarkan dulu? Wah jadi nggak enak nih,” alasan Azwar. Ia agak terkejut juga kenapa Azwar bisa melakukan hal itu padahal mereka belum berteman dekat. Mungkin itulah yang terjadi jika seseorang rajin bermeditasi. Mereka menjadi penuh welas asih, bahkan pada orang yang baru ditemui.

Segera ia hubungi Robby. “Hei Rob, kamu yang kasih nomerku ke Rusli ya? Sekarang kamu juga harus ikut lokakarya meditasi ini, kunyuk!” Ia ketuk tanda ‘kirim’.

Beberapa menit berlalu. Balasan dari Robby sampai juga. “Iya aku kasih ke dia. Kenapa? Kan orangnya juga baik sih. Jangan su’udzon dulu, War.”

“Ah sudahlah. Sekarang kamu juga mesti bayar Rp1,25 juga buat ikut acara itu. Aku mau transfer uang itu ke Rusli. Dia sudah bayarkan dulu untuk kita karena kemarin harusnya kalau kita bayar, kita dapat diskon lumayan,” tukas Azwar sedikit jengkel.

“Oke oke. Tapi mahal banget sih, War. Acara gitu doang juga,” timpal Robby.

“Tapi tahu gak itu harga awalnya malah Rp3 juta, cong!” 

“Hah masak 3 juta sih??!!” tukas Robby tak percaya.

“Iye, udah deh kamu cepetan transfer ke Rusli daripada kita malu,” ketik Azwar lagi.

Ia ke ATM terdekat di sebuah gerai minimarket dan mengirimkan uang itu ke rekening Rusli. 

 

***

 

Hari itu datang juga. Lokakarya meditasi akan berlangsung dalam beberapa menit lagi. 

Dari seberang jalan, Azwar dan Robby tampak panik. Mereka hampir terlambat. 

Mereka sempat menghubungi Rusli di WhatsApp tetapi belum ada jawaban. Pikir keduanya, Rusli tengah asyik menyiapkan diri untuk ke acara besar itu.

Sebuah gedung berdiri megah di hadapan mereka. Tak punya waktu untuk mengagumi kekokohan dan arsitektur gedung kuno itu, mereka masuk saja ke dalam, merapal doa agar masih bisa diperbolehkan masuk. 

“Gara-gara kamu mules pagi-pagi sih, kita jadi telat…,” Robby berbisik mengkritik.

“Siapa yang mau juga mencret kayak gitu, Rob! Sepertinya aku salah makan tadi malam,” Azwar memegang perutnya dengan sedikit meringis.

Mereka ke meja pendaftaran dan seorang gadis mempersilakan masuk. Tidak ada pemeriksaan tiket. Gadis itu cuma menunjukkan mereka jalan masuk ke auditorium yang sudah dipenuhi orang. Sebuah tulisan besar terpampang, bunyinya:”MEDITASI BERSAMA SOGYAL RINPOCHE”. 

Azwar sejenak bertanya dalam hatinya,”Judul acaranya sedikit lain dari poster digital yang dikirimkan Rusli padaku. Ah, mungkin itu hanya perasaanku.” Ia usir pemikiran itu dan berfokus pada apa yang ia harus lakukan: mengikuti lokakarya meditasi ini dengan khusyuk.

Kata Rusli tempo hari, mereka hanya cukup menunjukkan bukti pembayaran. Tapi gadis ini sama sekali tidak menunjukkan keinginan memastikan mereka pengunjung gelap. Aneh. Karena acara hampir dimulai, keduanya segera duduk tanpa banyak protes. Tempat duduk mereka kurang strategis. Di sudut yang agak gelap dan di barisan paling belakang. Sial sekali.

Lokakarya dimulai. Semua peserta sudah berdiam diri, bersiap menyambut sang pembicara Rinpoche yang termasyhur sebagaimana dikatakan Rusli pada keduanya. Ini kali pertama Azwar dan Robby menghadiri acara meditasi semacam ini. Dan pikiran mereka bercampur aduk, dari cemas sampai antusias. Cemas karena tidak tahu apa yang mesti dilakukan, Antusias karena tahu mereka akan belajar banyak hal berharga bagi diri mereka.

Mereka duduk di bantal meditasi tebal. Siapa saja tak diperbolehkan menghidupkan gawai di dalam auditorium dan suasana remang meraja di dalamnya. Membuat keduanya langsung merasa terbuai kantuk. Ditambah lagi dengan kondisi udara dalam ruangan yang makin sejuk.

Lampu menyorot ke sebuah panggung di depan. Pria itu duduk diam tanpa suara. Hanya beralaskan bantal tipis, ia tangkupkan kedua telapak tangannya di kedua kakinya yang terlipat. Azwar mengenali laki-laki itu sebagai Rinpoche yang tersohor ke mana-mana, yang selalu dielu-elukan Rusli. “Hei, tapi di mana Rusli? Aku tak bisa menemukannya…,” pikiran itu melintas dalam benaknya namun ia cepat singkirkan karena ia hendak berkonsentrasi pada meditasi.

Tetap tidak ada suara. Suasana hening sekali. Dan semua orang di dalam auditorium tampak bergeming. Akhirnya Azwar memejamkan matanya juga, mengikuti semua orang yang melakukan hal yang sama di sekitarnya. 

“Heh…,” bisik Robby menepuk lembut paha Azwar. “Apa yang kita perbuat di sini? Cuma diam saja seperti ini?”

“Iya,” tukas Azwar selirih mungkin yang ia bisa. Ia khawatir akan ditegur orang karena berisik.

Mereka pun duduk diam sampai 5 ,menit kemudian 10 menit dan 15 menit. Robby yang sudah terkantuk-kantuk akhirnya bertanya,”Sampai kapan begini?”

“Sebentar lagi,” bisik Azwar. Ia berpikir ini hanya meditasi pembuka jadi tak akan berlangsung terlalu lama. 

Memasuki menit ke 30, Azwar mulai gelisah juga. Seperti Robby, ia mulai bertanya dalam hati, sampai kapan duduk diam ini akan berakhir? Ia datang untuk belajar meditasi, bukan duduk diam. Kalau duduk diam saja, ia bisa melakukannya sendirian di rumah.

Musik berupa tetabuhan bambu terdengar mengalun pelan dan lirih tetapi itu malah makin meninabobokkan Azwar. Robby sendiri sudah dari awal berjuang menyingkirkan kantuknya. Beberapa menit kemudian Azwar mendengar dengkuran halus di sebelahnya. Dalam keremangan ia lihat Robby duduk bersandar dan kepalanya tergolek lemah ke samping.

“Dasar pelor,” ejek Azwar dalam hati. Ia pejamkan matanya lagi. Sebenarnyaia juga ingin menidurkan dirinya saja tetapi ada semacam gengsi dalam dirinya. 

“Sebentar lagi pasti Rinpoche akan berbicara sesuatu,” gumamnya.

Satu jam berlalu. Robby yang sudah bangun lagi menepuk halus paha Azwar yang sudah kesemutan parah. “Belum juga?” bisiknya.

“Lum,” jawabnya sependek mungkin. Azwar mulai merasa bosan juga. 

Dua jam berlalu dan tidak tampak adanya tanda-tanda Rinpoche akan berbicara jua. “Ada apa ini? Acara macam apa ini? Katanya lokakarya meditasi, kok cuma duduk duduk begini?” Azwar mulai kebosanan juga.

Sesekali ia mendengar orang terbatuk, bergerak membetulkan duduknya, atau memutar bahu yang pegal. Mereka sekadar ingin bergerak agar peredaran darah lancar kembali.

Hampir tiga jam berlalu, dan belum ada tanda-tanda Rinpoche akan membuka mulut dan memberikan pada kami petunjuk mengenai bagaimana melakukan meditasi dengan baik dan benar. 

Kesabaran Azwar hampir habis juga. “Masak tiga jam dan bayar satu juta lebih cuma untuk duduk duduk begini?”

Beberapa menit kemudian sebuah lampu menyorot ke depan. Rinpoche membuka matanya. Ia berdiri, tersenyum simpul, dan beringsut ke belakang panggung. Kakinya yang telanjang membuat suara berdecit halus di panggung yang alasnya terbuat dari kayu. Benar-benar sepi, bahkan saat sang bintang keluar panggung, hadirin tidak bertepuk tangan. 

Seorang gadis berambut panjang, berkacamata dan berdandanan sederhana tampil di depan, mengisi kekosongan panggung akibat kepergian sang meditator. Ucapnya santun,”Demikian meditasi bersama Rinpoche kali ini. Semoga bapak dan ibu dapat merasakan energi positif dalam ruangan ini. Sampai berjumpa kembali di sesi meditasi bersama Rinpoche tahun depan. Ajak keluarga dan teman menghadiri acara gratis ini.”

Gratis?! Azwar tersentak. Seketika Robby menoleh pada Azwar. “Jadi? Si Rusli…??!”

Penuh amarah, mereka berdua berlari meninggalkan ruangan meditasi itu dan menuju pintu depan. (*)

Pemberontakan Akasia

Tirai malam terangkat perlahan-lahan dari bumi. Dari kejauhan, ada sepasang mata yang mengintai saya dari keremangan fajar. Kemudian ia mendekat tanpa berlari. Santai. Setapak demi setapak ia mendekat ke tempat saya berdiri sepanjang waktu. Perutnya keroncongan. Ia mengendap-endap ke arah saya untuk mengunyah bagian tubuh terluar saya. Saya tak suka dengan prilakunya yang semena-mena itu. Ia terus mengajak teman-teman dan keluarganya menuju ke sini.

Tanpa menunda, ia melahap semua yang bisa ia makan dari tubuh saya yang sudah lemah ini. Saya bahkan tidak bisa meronta sedikitpun. Badan saya sudah kaku sejak dari dulu. Saya berteriak tetapi tidak ada yang mendengar. Kecuali saudara-saudara saya. Dari rasa kesal dan muak itu, saya menenangkan diri dan menggenjot, mengerahkan sesuatu dari dalam tubuh saya. Pemangsa ini memang tidak akan bisa melihatnya, atau membela diri mereka dari senjata mematikan terhalus di dunia. Rasakan kau! Saya konsentrasikan kekuatan pembunuh itu dalam pucuk-pucuk daun yang tersisa ini. Hewan idiot itu terus melumatnya dan menelannya. Saya lega. Ini semua akan berakhir. Saya hanya cukup bersiaga setiap saat. Hingga mereka tahu bahwa saya dan kami semua tidak akan menyerah begitu saja terhadap penindasan ini.

Satu menit, sepuluh menit, tiga puluh menit lalu satu jam berlalu. Proses kematian itu memang lebih lama dari semestinya namun saya pastikan itu akan lebih menyakitkan. Ya, akhirnya roboh!!! Berhasil juga saya binasakan hewan sialan itu setelah beberapa bulan terakhir ini saya dan semua teman-teman harus bersabar dalam diam yang terasa tidak berujung. Meskipun sudah menang untuk pertarungan kali ini, saya pun tetap diam dalam ketegaran senyap yang sudah bangsa kami akrabi sejak lahir ke dunia ini. Kalah kami diam; menang kami juga tetap bungkam. Tak ada perayaan yang gegap gempita, penuh kemeriahan dan membuai ego kami. Musuh sudah takluk saja kami sangat bersyukur sekali. Setelah kemenangan tercapai, kami kembali berjaga lagi agar tidak melemahkan kewaspadaan kami untuk kemungkinan serangan hebat selanjutnya. Kami diam tetapi tidak berarti lemah dan bisa ditindas begitu saja dengan semena-mena.

Badan kami sakit semua dikunyahnya. Saya juga menderita hal serupa. Kami semua di daerah padang rumput ini sudah lelah dengan penindasan yang tanpa toleransi. Di waktu lalu, saat alam masih lebih bersahabat, kami relakan sejumput dua jumput bagian tubuh kami untuk dimangsa kawanan hewan rakus itu. Sekarang? Jangan harap bisa seleluasa sebelumnya.

Apapun yang terjadi kami harus tetap berdiri, menjulang ke arah langit yang tanpa penghalang. Aku tak peduli dengan apa yang bisa mereka lakukan pada kami demi membalas dendam.

Semua pemberontakan ini bermula sejak satwa-satwa berkaki empat itu mulai mengerumuni kami sejak 3 bulan terakhir. Suhu udara makin meningkat. Kami sudah kesusahan di dalam kondisi kekeringan hebat seperti sekarang dan mereka mulai berulah dengan menyesaki tempat kami tinggal. Sementara kami terus menggenjot kerja akar-akar kami yang sudah menghunjam ke bumi sampai sedalam mungkin untuk mencari titik-titik air yang makin langka, mereka terus mengandalkan pucuk-pucuk daun hijau kami yang baru saja bersemi untuk mempertahankan kelangsungan hidup spesies mereka. Seakan tak peduli dengan keberlangsungan bangsa kami yang hanya bisa mematung dan berdiri saat dizhalimi.

Kami harus mempertahankan diri jika kami tidak mau musnah dalam hitungan hari dari sini. Kami pun mulai sekarat. Sayangnya, mereka tuli dan buta terhadap isyarat-isyarat yang kami kirimkan secara halus. Kami terus menajamkan duri-duri di tubuh kami. Sia-sia.

Alhasil, cara ekstrem mesti ditempuh. Dan di sebuah malam yang penuh keprihatinan, kami semua yang tinggal di rumpun ini sepakat untuk menyusun siasat perang yang jitu dan matang.

Selama ini kami hanya dianggap sebagai makhluk bisu, tuli dan lumpuh yang tidak tahu apa-apa. Rantai makanan memberikan ruang pada kami di strata terbawah. Sialan memang para ilmuwan manusia itu! Dan menggelikannya mereka menempatkan dirinya di puncak. Seolah menjadi jawara satu-satunya di permukaan bumi ini. Bisa berdiri sendiri tanpa kami yang berada di bawahnya sebagai “pecundang”. Sungguh congkak. Padahal bangsa kami yakin bahwa semua spesies itu setara. Tidak ada spesies yang lebih baik atau lebih buruk, lebih tinggi atau rendah. Semuanya sama. Hanya mereka yang picik cara pikirnya yang menganggap spesies mereka berjaya di atas keberadaan yang lain.

Entah sejak kapan kami sudah berada di permukaan planet ini, menyuplai zat asam ke selimut udaranya yang turut memungkinkan kehidupan ini berkembang seperti sekarang. Mangsa memangsa bagi kami sudah alami karena meskipun kami diam dan bisu, kami sebetulnya juga bisa memangsa mereka dalam keheningan kami ini. Semua bangkai para pemangsa kami, pemangsa dari pemangsa kami dan semuanya tanpa kecuali kami serap kembali ke dalam bumi untuk menutrisi tubuh kami agar bisa menjulang lagi walaupun sudah banyak yang ditebang dan dibakar dengan berbagai alasan.

Rencana kami sederhana saja. Kami akan memproduksi sebanyak mungkin zat tanin yang kami bisa sampai daun-daun kami itu penuh dengannya. Betul, sebanyak-banyaknya, menjejalkannya dalam setiap sel daun kami yang makin tandas karena tak sanggup mengimbangi tingkat nafsu makan kawanan hewan yang makan bak kesetanan.

Tanin telah lama berada dalam tubuh kami sejak awal penciptaan. Tuhan menganugerahkannya pada kami. Dan kami telah menggunakannya untuk mempertahankan diri dari berbagai macam serangan yang mengancam keberlangsungan kehidupan kami, dari serbuan makhluk parasit hingga serangga perongrong pertumbuhan.

Tanin adalah molekul yang bangsa kami bisa hasilkan sendiri. Tidak ada makhluk lain yang bisa melakukannya.

Di hari-hari wajar, kami hanya memproduksi tanin dalam jumlah seadanya. Dalam level serendah itu, hewan-hewan pemakan kami tidak akan terbunuh. Namun, kami harus melakukan sesuatu agar mereka berhenti memangsa kami yang sudah terdesak di tengah kemarau panjang ini.

Ide menaikkan produksi tanin itu muncul dari sang tetua. Di masa lampau, ia menceritakan pada kami, taktik sederhana untuk bertahan hidup ini juga pernah digunakan para leluhur. Tanin menurut sang tetua akan menghambat proses fermentasi dalam tubuh hewan pemakan dedaunan kami. Kemampuan untuk mencerna makanan juga akan menurun pesat begitu tanin masuk dalam tubuh mereka dalam jumlah yang membludak. Saat perut mereka terjejali dengan ampas makanan dan kapasitasnya tidak bertambah, mereka akan merasakan sensasi meledak. Itulah yang kami lakukan juga dalam peperangan melawan kawanan satwa bandel itu.

Manusia dan hewan menganggap kami hanya bisa pasrah begitu saja saat mereka memperlakukan kami semena-mena. Ada betulnya. Kami tidak bisa secara langsung membalas perlakuan mereka tetapi kami memiliki kecerdasan juga. Kami tidak sebodoh yang mereka bayangkan. Mereka menduga kami hanya seonggok makhuk pelengkap keindahan alam, tanpa otak, tanpa anggota badan.

Dengan jatuhnya seekor pemangsa tadi, sekarang kami tahu siasat tadi berhasil juga memukul mundur para pemangsa. Kami bisa membuat mereka setidaknya berpikir dua atau tiga kali sebelum melumat daun-daun hijau muda kami yang baru semi.

Dan yang paling menyakitkan hati adalah bagaimana ributnya para ilmuwan itu tatkala menemukan hewan-hewan yang tumbang karena kami racun itu. Pagi itu seorang pegawai patroli menemukan bangkainya di dekat tempat saya berdiri. Sungguh menyakitkan bahwa mereka mengkhawatirkan bangkai yang sudah tidak memiliki harapan barang setitikpun daripada kami yang masih berdiri, berjuang sebisa kami untuk melalui siksaan paceklik yang menghebat ini. Kami juga tidak kalah sekarat, tetapi apa mereka bisa mendengar jeritan kami? Hanya karena kami tidak memiliki lidah, kami tidak diacuhkan.

Binatang-binatang pemamah biak itu berjatuhan satu persatu. Kami tersenyum dalam hening. Bukan karena menang, tetapi karena kami masih bisa bertahan sehari lagi melawan kerasnya hidup ini. Kami hanya ingin merayakannya dalam kebersahajaan.

Ilmuwan-ilmuwan itu terus saja mengangkut bangkai-bangkai ke truk patroli kawasan hutan lindung ini. Seorang di antaranya terlihat serius dan sibuk dengan pikirannya sendiri, merangkai hipotesis dalam kepalanya yang membotak tetapi terlindung sebuah topi safari. Kemudian ia mengitari tempat penemuan sebuah bangkai pemamah biak yang berhasil saya tumbangkan dengan racun alami dari tubuh ini. Ia terus mengamati dan menemukan bahwa bangkai itu tidak mengalami luka atau cedera fisik yang membuatnya sekarat. “Pasti ada sesuatu yang lain, yang mematikan tetapi tersembunyi… Racun???” gumamnya sendiri. Saya ingin tertawa lepas sambil mengamatinya raut mukanya yang penuh kerut keingintahuan mendapatkan jawaban. Tubuh saya berguncang dan angin berhembus kencang menerpa saya, menyembunyikan kegirangan ini. Ia pikir pohon seperti kami hidup dan mengada saja, namun tak bernyawa. Ia keliru. Kami juga bisa berinteraksi. Hanya saja, dimensi waktu kami berjalan jauh lebih lambat daripada mereka semua. Saya ingat saat sang tetua mengatakan usianya sudah 100 tahun. Kami pikir itu batas maksimal usia sebuah pohon akasia. Tetapi kami yang lebih muda ini salah sangka. Konon, kata sang tetua, nun jauh di sana ada pohon yang bernama baobab. Ia bisa bertahan hidup sampai ribuan tahun.

Tengara Usia

Lelehan lilin yang terus bersinar sampai luluh lantak

“Wah, selamat. Umurmu bakal panjang,” ia mengemukakan simpulannya setelah melirik sekilas telapak tangan yang saya pakai menopang kepala karena mengantuk dalam perjalanan darat lintaskota yang melebihi lama penerbangan lintasnegara.

“Ah, masak?” saya menanggapi dengan gembira. Hanya sejenak. Apakah ia hanya bergurau demi menyenangkan hati ini? Saya curiga dan skeptis. Tampaknya ia bukan orang yang seperti itu. Ia bisa pedas jika perlu dan santun meski dihadapkan pada orang yang tak tahu adab. Penampilan dan busananya yang bersahaja menyamarkan pribadi yang kaya raya dalam makna sebenarnya.

“Iya, lihat garis kehidupanmu. Panjang sampai ke bawah kan? Itu artinya kau panjang umur,” tuturnya tanpa menyebut nama saya. Saya maklum. Perlu waktu bagi sebagian orang untuk melafalkannya dengan benar. Bukan masalah. Sebagian lagi tak akan pernah melafalkannya dengan benar. Juga bukan masalah. Karena terus membenarkan juga lelah.

Ia benar. Garis itu melintang panjang tetapi kemudian bercabang saat hendak mencapai pergelangan tangan.

“Akan ada sedikit gangguan menjelang akhir,” suaranya agak tertahan. Rupanya menyembunyikan sesuatu. Saya tak mau mengorek takdir saya lebih dalam sehingga saya putuskan diam. Biarkan menjadi kejutan.

“Kau pernah belajar palmistry?” saya lebih suka menelisik sisi itu. Lebih asyik menggali daripada digali.

Ia mendengus saja. Kurang tertarik menjelaskannya. Cakupan pengetahuannya tak henti memukau saya. Dari dunia kuliner, yoga sampai budaya dan sejarah tanah kelahiran saya yang belum pernah saya ketahui. Saya menyerah saat ia menanyai saya macam-macam perkara warisan budaya kerajaan ‘anu’ yang terdiri dari penduduk pendatang nan kaya raya karena intan berlian namun sudah dibantai habis sebuah suku lokal dalam pertumpahan darah di suatu malam.

Ia meyakini tipisnya kehidupan dan kematian lalu menyebut beberapa kali soal ajaran tantra. Saya pikir ia menyepakatinya. Ia sebut cerita biksu yang wajib menyetubuhi mayat untuk mendesakralisasi makna mati yang membuat ngeri. Dan soal kematian ia sanggup menjadikannya bahan guyonan. Dengan usia dua kali lipat umur saya, ia sudah siap untuk dijemput, ujarnya. Mungkin dalam dua puluh tahun lagi, ia menaksir. Ia masih dalam sebuah misi besar dan harus bekerja keras mewujudkan itu sekarang. “Ah, jangan bercanda, kau tak akan pernah tahu,” saya menangkis ramalan tentang rentang hidupnya.

“Usiaku juga katanya panjang,” ia hela napas panjang. Bukankah seharusnya ia menjura karena panjang usia?

“Sekilas memang enak jika panjang umur tapi kalau saya ingat cerita teman saya yang ayahnya umur 100 tahun lebih dan ia terpaksa pulang kerja mendadak hanya karena membantu ayahnya buang air, rasanya saya tak sanggup memikirkan menjadi sejompo itu. Menyusahkan orang lain di sekitar saya yang saya kasihi. Padahal mereka bisa hidup dengan lebih leluasa,” terangnya lebar, panjang serta dalam. Lalu maunya apa? Mati sebelum perlahan-lahan tersiksa dalam raga yang renta dan tanpa asa tetapi masih saja bisa mengerjapkan mata? Manusia memang makhluk paling membingungkan. Untung Tuhan tak secara instan mengabulkan semua doa mereka karena terlalu sering doa-doa itu saling kontradiktif dan kacau balau.

Kami terdiam lalu menatap keluar kaca jendela lagi. Tujuan kami sudah dekat. Beralih dari obrolan hidup dan mati, ia terus menerus mengritik betapa buruk selera pembangun dan pendesain bangunan-bangunan di tepi jalan di kawasan pinggiran emakkota yang makin mekar saja itu. Begitu buruk sampai ia simpan kritik itu dalam pangkal lidahnya dan memuntahkannya pada nyonya rumah yang menyambut kami siang itu. “Kenapa sih kau mau saja punya rumah di sini, nyonya?” protesnya dengan nada bergurau dan meracau. Pada wanita berusia 70-an itu, ia memancarkan antusiasmenya. Seakan lupa telah membahas kematian beberapa saat sebelumnya. Kini ia berlagak seperti manusia kekal. Cukup membuat malaikat pencabut nyawa yang menunggu merasa sebal.

Begitulah mungkin ia akan mengisi waktunya sembari menunggu kematian yang terus merayap mendekatinya. Mendekati kita semua. Bak lilin yang terus menyala seterang ia bisa tanpa menghiraukan hendak lebur rata dengan bak tembaga yang menampungnya.

Dalam Mrtasana dengan Kino MacGregor

Jauh sebelum Instagram merasuk dalam dunia yoga kontemporer seperti sekarang, ashtangi Kino MacGregor sudah menentukan gaya berpakaiannya sendiri. Sebagian orang mungkin menyangka ia berpakaian minim hanya untuk menarik perhatian para pengikut di jejaring sosial tetapi sejak dari dulu ia memang lebih memilih demikian sebagai pakaian dalam latihan yoga sehari-hari karena kenyamanan.

Dalam sebuah foto di majalah bertema yoga edisi tahun 2008 itu, saya melihatnya sedang memeragakan pose natarajasana (lord of the dance pose) yang saya juga amat gandrungi. Kakinya kala itu belum lurus. Sekarang ia sudah bisa meluruskannya. Ia tampak samping dengan mata fokus ke depan, hanya sports bra hitam dan celana pendek ketat warna serupa yang menempel di tubuhnya. Hanya saja, rambut pirangnya masih tergelung rapi. Sekarang ia lebih suka mengurainya begitu saja secara natural.

Kino duduk siang itu di sebuah panggung kecil dengan ketinggian cuma sejengkal dari lantai. Saya mendekatinya, mencoba menyampaikan bahasa tubuh yang mengundang perhatian karena saya tidak bisa berbicara lantang di depan orang-orang dan meminta berbincang sebentar.

“Baiklah, apa yang Anda ingin tanyakan? Maaf nama Anda siapa?” tanyanya lembut. Tangannya mengurai rambut ikal mayangnya yang keemasan. Riasan wajahnya tipis dan tampak alami. Di belakangny sebuah backdrop raksasa menunjukkan Kino dengan pose natarajasana terbaiknya sembari memamerkan senyum menawannya.

Saya sebut nama saya. Kino masih kesulitan mengucapkannya. Saya contohkan pengucapannya. Masih juga ia salah ucap. Putus asa, saya berkata,”Anda tahu nama tendon di atas tumit yang jika putus akan membuat seseorang tak bisa berjalan selamanya?”

“Oh, Achilles heels?”

“Tepat sekali,” tukas saya.

“Nama Anda Achilles?”

“Bukan. Tetapi mirip seperti itu kan?”

“Iya juga,” ia menganggukkan kepala, tak sabar menjawab pertanyaan saya.

“Oke, mbak Kino. Boleh kan saya panggil begitu?”

“Silakan saja. Tapi artinya apa sih ‘mbak’?” tanya Kino ingin tahu.

“Itu artinya sebutan untuk perempuan yang dihormati,” karang saya.

“Oh ya? Hmm, saya suka kalau begitu,” ucapnya dengan mata berbinar.

Tak sabar saya mulai wawancara saya dalam bahasa Inggris acak-acakan,”Jadi bagaimana sih mbak Kino mulai tertarik dengan Ashtanga Yoga? Kok nggak tertarik sama olahraga yang lain, yang lebih modern gitu? Zumba kek, les mills kek, atau senam kegel. Yoga kan kuno ya mbak? Eh, ya nggak sih?”

“Begini ya, Achilles,” ia menatap ke bawah, tetapi bukan untuk mencari-cari uang yang jatuh.

“Bisa saya gambarkan dulu saya itu gadis Amerika…,” ucapnya.

“Ah berarti sekarang sudah tidak lagi gadis, mbak Kino???” tanya saya kepo.

“Saya sudah menikah. Tapi belum ada anak,” jawab Kino dengan menyungging senyum.

“Ok lanjut…”

“Baiklah. Begini ceritanya…”

“Oh sudah begitu saja ya?”

“Belum! Hmm..” ia mencoba bersabar menghadapi pewawancara setengah sinting ini.

“Oh oke. Silakan dilanjutkan,” ucap saya sambil mendorong dagu maju, menunjukkan antusiasme.

“Jadi saya dulu gadis Amerika yang cuma tahu sedikit tentang ikonografi ( citra-citra visual dan lambang-lambang yang dipakai dalam sebuah karya seni atau ilmu atau interpretasi dari citra dan lambang tadi) dunia Timur. Saya suka hal yang berbau Timur. Dan tiba-tiba saya terpikat dengan Ashtanga Yoga dan Dewa Syiwa,” terang Kino dengan mata berbinar. Jadi itu menjelaskan kenapa ia sangat suka dengan pose natarajasana. Konon natarajasana menggambarkan dewa perusak itu sedang menari-nari. Di antara banyak perwujudan Syiwa, sosok penari semesta inilah yang diambil sebagai inspirasi dalam asana yoga. Tarian Syiwa yang dilambangkan dalam pose natarajasana ini melambangkan ritme universal kehidupan dan kematian, proses tanpa akhir yang melibatkan penciptaan dan peluluhlantakan, kematian dan kelahiran kembali yang tidak ada habisnya dalam alam semesta.

Ia terus menceritakan mimpinya yang isinya pertemuannya dengan K. Pattabhi Jois, sang pendiri Ashtanga Yoga. Saat itu Kino sudah berlatih Ashtanga selama kurang dari setahun. “Malam itu saya bermimpi didatangi K. Pattabhi Jois yang tersohor itu. Dan tebak apa yang ia lakukan pada saya? Saya saat itu terjebak dalam situasi darurat saat Dewa Syiwa sedang mengamuk membabi buta.”

“Maksud mbak Kino? Ada peperangan begitu? Dewa Syiwa melawan siapa?”

“Nggak tahu sih. Lupa lupa inget. Tapi yang penting suasananya persis layak di film Lord of the Rings, tapi versi Hindunya gitu,” terang wanita Amerika itu dengan nada bicara yang mulai mencair.

“Wow, seru banget yak,” timpal saya lagi, memberikan jawaban yang penuh semangat dengan harapan ia memberikan lebih banyak cerita menarik pada saya.

“Lalu K. Pattabhi Jois menyelamatkan saya dari Syiwa yang sedang marah itu dan menempatkan saya dalam sebuah perahu ke kota Mysore, India.”

“Perahu apa itu, mbak?”

“Itu tidak penting, Achilles. Yang penting saya seolah mendapatkan pesan untuk segera ke Mysore. Lalu dalam dua minggu, saya mendapatkan tiket pesawat ke India. Dalam hitungan detik sejak bertemu dengan Jois dalam mimpi saya itu, saya tahu Jois akan menjadi sosok berpengaruh dalam hidup saya.”

“Begitu mbak Kino sampai di Mysore, langsung ketemu itu pak Joisnya?”

“Sebelum pikiran saya yang penuh logika ini bekerja, saya hanya memasrahkan diri dengan berlutut di depan beliau dan menyentuh kaki beliau. Dari saat itulah, saya menganggap beliau sebagai guru saya.”

Itu semua terjadi delapan belas tahun lalu. Kino bersama dengan Tim Feldman yang dulu tunangannya dan sekarang suaminya mendirikan Miami Life Center satu dekade sejak pertemuan pertama dengan Jois.

“Oh I see. Gitu yang ceritanya mbak. Eh tapi kenapa tidak pakai nama ‘studio’ gitu?” Saya merangsek dengan pertanyaan baru.

“Karena kami berdua mau Miami Life Center tidak cuma tempat berlatih yoga tetapi juga menawarkan kelas-kelas nutrisi dan mengadakan berbagai workshop tentang spiritualitas, olah tubuh dan bimbingan hidup,” katanya lagi dengan sabar.

Satu hal yang saya kagumi dari Kino ialah ia juga akademisi. Saat itu ia menyandang status sebagai kandidat Ph. D. atau S3 dalam disiplin ilmu kesehatan holistik selain statusnya sebagai seorang yogini yang serius dan pemilik sebuah pusat kesehatan paripurna. Tampak sekali ia perempuan yang tidak sembarangan dalam perkara kecerdasan dan bakat.

Saya belum menyerah,”Bagi mbak Kino, yoga itu apa sih?”

“Hmm, yoga bagi saya ialah katalis untuk mewujudkan perubahan besar dalam hidup kita. Begitu kira-kira, Achilles. Saya juga meyakini bahwa semua siswa memerlukan komunitas dan dukungan. Karena itulah saya mendirikan Miami Life Center itu,” jelas yogini yang pose-posenya menggemparkan jagat Instagram itu. “Miami Life Center pada dasarnya ingin memberikan panduan spiritual bagi mereka yang ingin mengintegrasikan pelajaran-pelajaran dari kesadaran yang lebih tinggi ke dalam kehidupan sehari-hari.”

Di lembaganya itu, Kino membuka kelas kelompok khusus Ashtanga Yoga namun ia mengaku tujuan sejatinya ialah bagaimana agar gaya yoga khas Mysore yang tradisional dan berfokus pada ritme masing-masing pelaku itu tetap lestari. “Kelas-kelas yang dipandu guru bisa membuat murid frustrasi dan menantang, Achilles,” tuturnya meyakinkan saya mengenai kelebihan gaya beryoga satu ini. Terus terang saya belum mencicipinya.

“Anda harus mencobanya. Mysore memberikan Anda banyak waktu dan ruang untuk melakukan banyak modifikasi dan waktu untuk berlatih sesuai kebutuhan masing-masing.” Kami terdiam sejenak. Saya mencari-cari pertanyaan lagi.

“Apa sih trik supaya disukai murid?”tanya saya lagi secara spontan.

“Tidak ada lah. Yang penting saya bisa membantu mereka dengan semangat keterbukaan dan empati.” Jelas ia merendahkan hati.

Kino mengibaratkan diri sebagai mercusuar yang memancarkan sinar spiritual bagi orang-orang yang ingin mencari jauh ke dalam diri mereka sendiri. “Kehadiran saya sebagai guru juga bertujuan sebagai membuka ruang menuju berbagai kemungkinan bagi murid-murid saya dan pada saat yang sama menghargai tradisi dan warisan turun-temurun yang saya ajarkan,” jelasnya.

Belum sempat pertanyaan berikutnya terlontar dari lidah ini, tiba-tiba terasa ada yang menyengat panas di pipi saya. Saya tengadahkan muka. Sekonyong-konyong Kino yang ada di hadapan saya berubah menjadi pancaran piksel-piksel halus di layar laptop. Laptop saya itu rupanya yang memanas dan menyengat pipi ini. Dalam mrtasana alias savasana singkat di sebuah kursi di Starbucks sore itu saya telah bertemu dengan idola saya yang tak bisa saya temuidi dunia nyata. Tetapi toh saya masih bersyukur, karena saya belum sampai terlambat mengajar sebuah kelas yoga yang dilimpahkan pada saya karena seorang guru senior menghadiri workshop Kino. Kedatangan Kino membawa rezeki tidak langsung juga bagi saya.

Kaya Itu Penyakit

Nyonya Kelinci mengetuk-ngetukkan kepalan jarinya ke meja makan dari kayu jati tua itu beberapa kali. Suara ketukannya menggema di ruang makan yang menyatu dengan ruang keluarga yang luasnya tak terkira untuk ukuran para penghuni rumah petak di tengah Jakarta. Ia tak mau hal yang baru saja diucapkan Tuan Kera terjadi padanya. Itu karena Tuan Kera baru saja berkata lantang,”Kau tahu, Nyonya? Kaya itu penyakit. Menjadi kaya raya bisa membuatmu sakit. Miskin itu lebih baik.”

Nyonya Kelinci tidak yakin dan tidak sepakat. Begitu juga Tuan Muda Babi di depannya. Sebagaimana babi pada umumnya, ia masih rakus dengan harta. Apalagi di umurnya yang sekarang. Keduniawian menjadi santapan harian. Miskin bukan pilihan. Ia mau menjadi lebih makmur dari waktu ke waktu.

Tuan Kera kemudian bercerita,”Dengar dulu kisah nyata saya sebagai buktinya, Nyonya. Kau tahu ibu saya sudah tua dan sakit-sakitan. Untung kakak saya mau merawatnya. Suatu saat ia jatuh sakit. Ya namanya juga sudah usia senja begitu, ada saja yang dikeluhkan.”

Tuan Muda Babi sedikit beringsut dari duduknya. Bahasa tubuhnya menunjukkan keresahan, takut kalau ia akan percaya dengan cerita Tuan Kera di akhir penuturan. Ini bisa mengusik keyakinannya yang sudah bercokol lama.

Lanjutnya lagi,”Kakak saya membawa ibu ke rumah sakit terbaik yang ada di negeri kami. Sebuah rumah sakit termewah, dengan gelaran prasmanan alias buffet lengkap tanpa pungutan demi menyambut semua pengunjung di lobi depannya. Orang-orang dari negeri Anda juga banyak yang berkunjung ke sana, Nyonya. Saya benci mereka karena mereka ‘menyumbang’ pada kenaikan biaya berobat yang gila-gilaan di sana.”

Nyonya Kelinci terbelalak,”Memberi makan gratis pada orang ??! Gila! Agar mereka bisa sakit??!!”

“Lalu kakak saya meminta dokter terbaik dan obat termanjur untuk ibu kami. Tak peduli lagi kami perihal uang. Kami tidak berkekurangan. Kami lebih dari berkecukupan. Tapi kemudian apa yang kami dapatkan? Ibu malah makin parah saja,” ia memutus sejenak untaian katanya lalu meneguk teh chai favoritnya. Ia tergila-gila dengan teh jenis itu sampai ia menyimpan lusinan kantong teh chai di dalam tasnya.

“Hampir putus asa, kami pindahkan ia ke rumah sakit yang lebih ‘murah’. Kami cuma mau ibu sembuh jadi kami buang gengsi jauh-jauh. Kami pilih-pilih obat dengan cermat, tidak seasal dan seroyal sebelumnya. Perkara dokter juga begitu. Hasilnya, ibu akhirnya sembuh dan baik-baik saja,” terangnya.

Seorang teman Tuan Kera juga mengalami hal yang kurang lebih sama. Tuan Kobra namanya. Sebagai pengumpul benda seni, Tuan Kobra mendapati dirinya berkubang uang begitu sebuah benda koleksinya berhasil terjual dengan harga selangit. Beberapa waktu kemudian suka rianya berujung di tempat tidur rumah sakit. Kata sang Tuan Kobra,”Kaya-lah yang membuat saya sakit, Tuan Kera. Saya bersenang-senang tanpa peduli orang lain, makan enak tiap hari, minum anggur kapan pun saya kehendaki, lalu akhirnya seperti ini.”

“Makanya, Anda harus berhati-hati dengan kekayaan, Nyonya,” nasehat Tuan Kera. Ia teguk lagi teh chai di cangkir mahalnya seperti seorang pecandu yang menyedot opium, salah satu jenis tanaman yang membuat kakek buyutnya mampu meningkatkan kesejahteraan keluarganya dua abad lalu.

Tuan Muda Babi mendengus dengan lubang hidungnya yang lebar. Di depannya dua orang yang bergelimang harta bercakap-cakap tentang faedah kemiskinan dan mudharat kekayaan. Ia tidak tahu mana yang bisa dipercaya.

Simpul sang Tuan Muda Babi dalam hati, saat kita berlimpah sumber daya, biasanya kita lengah dan sembrono. Mau yang ‘terbaik’ padahal belum tentu cocok, pas, serasi dan tepat guna dengan kebutuhan.

Nyonya Kelinci – yang paling tua di antara ketiganya – masih membuktikan kutukan kekayaan itu tak berdampak pada dirinya. Ia baik-baik saja. Segar bugar, berjalan ke sana kemari dengan postur tegak. Mungkin karena ia lebih bijak dalam menyikapi kekayaannya dibanding Tuan Kobra yang mendadak kaya bak kejatuhan durian runtuh. Kebijaksanaan yang ia peroleh karena berhasil dari nol mengumpulkan semua aset dengan susah payah, penuh kecermatan dan perhitungan.

Perlahan dalam hati Tuan Muda Babi merapalkan doa agar mendapatkan kekayaan yang juga mengayakan dan memperkuat jiwa, bukannya membawa kemunduran apalagi kemalangan.

Papa Tapi Bangga

Terus menerus dan tak pernah bosan selama percakapan Nyonya Kelinci menandaskan,”Saya itu orang tak punya. Saya sama miskinnya dengan orang lain kok. Tidak percaya? Saat semua orang berlomba memiliki barang-barang bermerek, saya tidak punya.”

 

Tuan Kera dan Tuan Muda Babi memandanginya, lalu saling berpandangan dan sedetik kemudian terkekeh bersama. Tangan keduanya memukul-mukul meja makan dari kayu jati tua itu. Mereka tidak tahu apakah mereka harus mengingkari semua hal yang mata mereka lihat sendiri sepanjang perjalanan dari gerbang depan sampai ke meja makan itu atau percaya begitu saja dengan ucapan Nyonya Kelinci yang tidak hanya beranak banyak tetapi juga pandai sekali mengembangbiakkan aset-aset berharganya.

 

Kau tahu bagaimana reaksi Tuan Kera dan Tuan Muda Babi saat seorang penjaga rumah Nyonya Kelinci membuka gerbang depan yang mungil itu? Mereka terperangah dengan rahang bawah hampir menyentuh tanah, persis seperti dua orang anak kecil yang menemukan sebuah tempat rahasia yang ternyata menjadi portal yang membimbing mereka menuju ke sebuah negeri ajaib. Beberapa orang tampak menyiangi gulma di lahan di kanan kiri jalan menuju rumah. Tempat tinggal perempuan berkelas itu berada di tengah kepungan tanaman dan pepohonan besar dengan halaman berumput yang tebal namun terpangkas dengan baik. Begitu masuk pintu rumah, hanya ada Nyonya Kelinci seorang yang menyambut di beranda yang dipenuhi barang antik. Sebut saja barang-barang yang diburu kolektor seni: dari lukisan, kain berharga, guci, permadani, koin, buku, tas, bahkan sampai ke sebuah ranjang tua bergaya Tionghoa yang teronggok di sebuah sudut di beranda samping yang sederhana itu. Meskipun semua itu miliknya, ia mengakui tidak ada yang bisa ia sombongkan karena awalnya ia juga sama miskinnya dengan orang lain.

 

“Aku harap aku bisa semiskin dirimu, Nyonya,”tukas Tuan Kelinci dengan guyonannya yang sarkastis.Sementara itu, Tuan Muda Babi hanya tersenyum tipis. Ia menginginkan sedikit saja harta benda Nyonya Kelinci tetapi apa daya, ia bukan termasuk salah seorang ahli waris sahnya.

 

Nyonya Kelinci memang jeli melihat celah peluang untuk mempertahankan diri dan keluarganya yang terpuruk. Setelah suaminya ditendang begitu saja dari tempatnya bekerja selama itu tanpa pesangon sepeserpun, ia harus memutar otak agar bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi keluarga dan negara.

 

“Saat itu saya beruntung mendengar kabar dari teman bahwa akan ada pemotongan nilai nominal uang kita,” kenangnya mengenai peristiwa devaluasi yang traumatis bagi banyak orang sampai sekarang.

 

Kegemaran Nyonya Kelinci membelanjakan uangnya untuk barang antik seperti lukisan dan kain mahal serta sebidang tanah tak berpeminat di pelosok desa membuat gemas suaminya yang konservatif soal finansial. Kalau menabung ya di bank saja, tegas suaminya.

 

Menjadi korban kegusaran sang suami karena dianggap kurang peka dengan kondisi keuangan keluarga, Nyonya Kelinci bukannya membabi buta membela diri. Ia perempuan Timur. Ia diam dan menunggu kebenaran terkuak dengan campur tangan dari Tuhan. Di suatu malam setelah itu, sebuah pengumuman digaungkan pihak berwenang yang mengurusi moneter negara yang morat-marit. Devaluasi radikal itu jadi fakta. Suaminya menelan pil pahit, sepahit empedu. Sementara kebahagiaan Nyonya Kelinci membuncah. Uang simpanan sang suami di bank jadi seperseribu nilai semula. Untungnya Nyonya Kelinci punya pendirian sendiri.

 

Nyonya Kelinci sungguh beruntung karena ia berjual beli dengan menggunakan uang asing yang lebih bernilai tinggi. Jika ditukar dengan uang cetakan negerinya sendiri, uang itu bisa memungkinkan keluarganya bertahan hidup hingga tujuh turunan.

 

Penggemar-penggemar benda seni milik Nyonya Kelinci ialah kalangan asing berduit. Untuk menggambarkan betapa berlimpahnya uang itu, Nyonya Kelinci berkata dirinya sampai kebingungan menyimpan cek dari para pembeli benda-benda seni koleksinya.

 

Nyonya Kelinci juga kerap mengakali sang suami. Bukan dalam arti negatif, karena ia memakai uang itu untuk membeli tanah yang sebetulnya tak begitu disetujui suaminya. Sehingga saat orang mengatakan,”Kau pintar sekali ya beli tanah begitu banyak sekarang jadi mahal harganya,” ia hanya membatin,”Bukan aku yang pintar, hanya suamiku yang bodoh. Kami sama-sama punya uang tetapi ia malah berinvestasi di bank. Begitulah. Semua berawal dari uang 1 juta saja.”

 

Taktik akuisisi lahan Nyonya Kelinci tidak begitu mengejutkan. Cuma memang memerlukan ketelatenan. Keluarganya membeli tanah di bagian depan dekat jalan raya dahulu. Kemudian membeli di belakang yang jauh lebih murah karena belum sekaya sekarang. Bagian tengah masih dimiliki oleh sebuah keluarga yang kemudian bercerai dan menjual tanahnya pada keluarga Nyonya Kelinci. Ditambah lagi keluarga lain di sekitarnya yang sedang butuh uang untuk berangkat ke Tanah Suci. Semua terjadi tanpa rencana dan mengalir begitu saja. Keluarga lain yang ada di tengah-tengah lahannya merasa terjepit dan akhirnya melepaskan tanahnya pada mereka juga. Rata-rata harga tanah masa itu hanya 200 perak per meter persegi. “Murah kan?” katanya pada kedua tamu.

 

Tanah murah itu sudah disulap menjadi sebuah lahan apik dan di belakang rumah ada sebuah kolam renang dengan ubin-ubin yang dicongkel. Kata Nyonya Kelinci, kolam renang itu sudah berusia 20 tahun lebih. “Sudah layak direnovasi,” tutur perempuan bijak itu meyakinkan kedua tetamu. Kolam renang itu akan menjadi sebuah pemanis bagi pesta kebun yang ia kerap gelar untuk sahabat-sahabat karibnya. “Dan saya akan pasang di luar situ begitu banyak lampu. Wuuu!! Dan di rumah kaca yang akan saya bangun itu kami akan meledakkan tawa bersama-sama dan mendengarkan betapa miskinnya saya.”

 

On Injuries

“Should a yoga teacher be voluntarily open about his or her injury?” Bruce nicely opened their conversation. It was one fine Sunday afternoon and some breeze blew the three gentlemen’s hair. Yet, the enquiry felt as though it had been an unexpected typhoon. They just reminisced about how inspiring the class they took with a guru had been so far. And suddenly the conversation turned to an utterly dissimilar topic.

“Gurus are people, too. Even Buddha admitted in his old age that his body ached and that he had pain continuing day and night,” Aaron the wise guy replied. He’s been into Buddhism recently and thought it was time to cite some lines he can recall from those heaps of books the monks generously lent him.

In his most convincing tone, Aaron who worked for an agency argued before the other two,”You need to be open about it, but not to impose it onto your students. Asanas are just a tiny portion of yoga; even smaller than the tip of the iceberg. Honesty, truthfulness — asteya — is one of the first steps of 8-limb ashtanga yoga — Raja Yoga.”

“And your final verdict is…” Bruce impatiently leaned his body forward on the wooden desk where they had eaten their lunch.

“So yes, you should be open about it. If a guru cannot teach how to be truthful, how to follow the yamas and the niyamas, what good are they to the spread of this deeply rooted knowledge that is part of Yoga?”

Being left out of the exchange of thoughts, Chip joined in. He sipped his kombucha, that new agey beverage a little and swiftly blurted,”Well, the alternative is to be closed about your injury. Opening and closing would seem to be two sides or aspects of a whole unified thing. I know a lot of yoga focuses on opening up, but that is as a remedy to the many things in life which are closing us up. Like heat is a remedy for the cold, but neither heat nor cold in themselves are better. It’s just a matter of balancing.”

Chip kept on opining,”Perhaps you feel you need to protect your injury and so not be open about it. A lot of traumas are literally like wounds, you want to bandage them up for a while until they have healed. If you feel that you want to remain closed there’s no reason you ‘should’ be open, just as if you had a client who didn’t want to open their legs for a pose, you wouldn’t force them to.”

Bruce was leaning forward, readying himself to argue Chip’s stance but this youngest participant in the chat wouldn’t seem to give in,”And they wouldn’t have to tell you why! You would just ask that if anyone has an injury that they listen to their own bodies.”

The cool breeze blew them once again, while Bruce was retreating, leaning back on the rattan chair with his eyes transfixed to his interlocutor.

“I know a gal who knows a gal who taught dance, and had no arm, she didn’t tell anyone and lots of people never noticed. So if she could teach dance without telling people she had a missing arm, then it must be possible to not higlight an injury. Presuming you have a lesser injury than a missing limb. But if you feel like you want to share the injury tell your story, bring people into that story. Then do that. You can visualise telling people and see how your chest feels, does it feel like it wants to hide behind a tree? Or jump out and shout it at everyone with a smile?”

There was a pause for a moment. Aaron and Bruce glanced at Chip and said nothing. They felt simply exhausted. Blame it on the overly sunny day.

“Only you know what you should do…” Chip ended his somewhat lengthy argument and decided to remove his shirt and jumped into the pool to get cooled in the hot, damp, and cloudy November weather.

Menulis Fiksi Yogi

Setelah sempat terjebak dalam pola kerja jurnalis spesialis award yang cukup memuaskan ambisi kuliner (karena terlampau sering menghadiri gala dinner dan buffet yang herannya tak berhasil membantu peningkatan diri dalam satuan kilogram) tetapi tak banyak menawarkan tantangan, rasanya ingin menjajal sisi lain dunia ini: menulis karya fiksi. Sebenarnya kendala ini cuma bersifat psikologis. Alah bisa karena biasa, begitu kata orang. Kalau saya mencoba membiasakan, mungkin saya akan bisa juga. 

Sekarang pekerjaan rumah saya ialah bagaimana caranya menulis fiksi dengan indah. Ini susah bagi reporter seperti saya yang terbiasa menuliskan kenyataan apa adanya, seakurat mungkin. Misalnya, kebiasaan mengutip dengan harus berdasarkan pada rekaman suara, tak berani mengandalkan rekaman mental di benak semata. Saya tidak mau salah kutip, apalagi menggunakan imajinasi dan kreativitas secara keliru dalam menuliskan kabar pada orang lain.

Di penulisan fiksi, tantangannya justru sebaliknya. Penulis ditantang memelintir kenyataan yang dicerapnya agar tidak disajikan mentah bagi pembaca. Pembaca fiksi ingin mendapatkan kesenangan sastrawi, bukan pemuasan hasrat mendapatkan sederet fakta dan angka, serta data hasil investigasi yang mendalam. Fiksi, meski diklaim berdasarkan kisah nyata sekalipun, tak bisa sama persis dengan berita biasa buatan pewarta.

Ibarat menjadi koki, saya sendiri suka yang mentah-mentah, tak banyak olahan, sehingga semua nutrisinya juga relatif utuh untuk kita serap. Tetapi kadang terlalu banyak makanan mentah membuat mual, mendorong manusia mencari variasi. Akhirnya mau tak mau, kini harus bisa mengolah bahan mentah supaya lebih layak dinikmati. Lebih memakan waktu tentu proses penyiapannya, tetapi banyak kebebasan yang bisa diperoleh di dalamnya dan hasilnya lebih bisa memuaskan diri, bukan cuma kewajiban profesi.

Lalu saat saya dihadapkan pada tantangan menulis fiksi, saya tak bisa memilih hal yang asing bagi saya untuk ditulis. Jadi mengapa tidak menulis sebuah karya fiksi bertema yoga? Terlepas dari kemungkinan jumlah pembaca, saya tak begitu pikirkan. Yang penting menyelesaikan dulu. Urusan lain menyusul. Namun, kalaupun tak ada yang mau membaca, saya bisa simpan dulu untuk dikeluarkan kapan-kapan.

Burung Mungil nan Kedinginan

(Sumber foto: Wikimedia Commons)
(Sumber foto: Wikimedia Commons)

Semua dimulai dari waktu tidur. Suatu sensasi kedinginan. Sebuah formalitas.

Martin dan Rachel menyelimutinya, sebagaimana biasanya, kemudian membungkuk untuk mencium anak laki-laki itu.

“Tolong jangan lakukan itu,”katanya, memalingkan wajahnya ke dinding.

Mereka menganggapnya sebagai kelucuan, meloncat ke tempat tidur anak itu untuk menciumi dan menggelitikinya.

Anak itu berubah kaku dalam dekapan, kemudian berteriak kencang pada keduanya,”Aku sungguh tidak suka dipeluk!”

“Jonah?” Martin berkata sambil duduk.

“Tak usah membantuku saat akan tidur lagi,” tukasnya. “Aku bukan bayi. Kau punya Lester. Sana peluk saja dia.”

“Sayang,” ucap Rachel. “Kami tidak membantumu. Kami hanya ingin mengucapkan selamat malam. Kau suka dicium, kan? Tak sukakah kau dengan ciuman dan pelukan? Kau sungguh konyol.”

Jonah bersembunyi di bawah selimut. Mulutnya berkerut jengkel seperti biasa. Kecuali bahwa ia tidak biasanya seperti itu, ia juga tidak biasa bersembunyi. Jonah anak laki-laki yang pendiam dan biasanya menunjukkan minat ilmiahnya pada ledakan emosi dan beragam emosi anak-anak lain, mengamati semua itu dengan kagum seolah emosi-emosi itu ialah bentuk aneh dari teater jalanan.

Martin mencoba menggelitik tubuh manusia yang terselimuti yang sebetulnya anaknya sendiri. Ia tidak tahu bagian tubuh Jonah yang ia sedang pegang. Ia hanya berusaha memegang dengan tangannya yang tegang dan menduga sebuah tawa akan meledak, suara yang menandakan keriangan. Dulu hal itu membuat Jonah tertawa. Gelitikan dengan satu jari saja dan anak itu akan tertawa lepas. Namun, Jonah tak berbicara, tak bergerak.

“Kami sangat menyayangimu. Kau tahu kan?” kata Martin. “Jadi kami ingin menunjukkannya. Terasa alami.”

“Tidak bagiku. Aku tak merasa seperti itu.”

“Seperti apa? Apa maksudmu?”
Mereka berdua duduk di tempat tidur Jonah, bingung, dan mencoba menggosok punggungnya, tetapi ia berguling ke tepi tempat tidur, menempelkan hampir seluruh tubuhnya ke dinding.

“Aku tak menyayangimu,” Jonah berkata.

“Oh, sekarang,” Martin berkata. “Kau cuma lelah. Tak perlu berkata seperti itu. Tidurlah.”

“Kau menyuruhku berkata jujur, dan aku mengatakan sejujurnya. Aku. Tidak. Menyayangimu.”

Ini bukan hal aneh. Anak-anak menguji ketergantungan mereka. Mereka mencoba menjauhimu hanya untuk mengetahui seberapa jauh hingga ia benar-benar akan kehilangan Anda. Sebagai orang tua, Anda menerima perilaku itu, bahkan membantunya mengasah pisau dengan tangan Anda sendiri sebelum memberikan pisau itu pada setan-setan kecil itu, yang kemudian berdiri maju dan terjun begitu saja. Atau begitulah yang diketahui Martin.

Mereka mengitari tempat tidur Jonah untuk meyakinkannya bahwa hari ini melelahkan – meskipun sepanjang hari itu tak ada yang istimewa – dan ia merasa lebih baik di pagi hari.

Martin merasa seperti robot dengan mengatakan itu. Ia merasa mirip robot dengan memikirkannya. Tak ada hal yang bisa ia lakukan kecuali meninggalkan anak itu sendiri, membiarkannya tidur bersama pikirannya sendiri.

Di lantai bawah, mereka membersihkan dapur dalam keheningan. Entah Rachel memikirkan masalah tersebut atau tidak, Martin tidak bisa memastikan, dan sebaiknya ia tidak perlu memastikannya sekarang. Entah bagaimana, Martin memikirkan masalah itu. Bila ia menjadi Jonah, berusia sepuluh tahun dan cukup cerdas, mulai mengenal dunia dan menemukan sudut pandangnya, hal ini mungkin sesuatu yang patut direnungkan. Menyingkirkan para penyedia yang bodoh, hangat dan lembut yang menghamparkan peluang di sekelilingmu terus menerus, menjawab semua kebutuhanmu. Permainan yang bagus, Jonah. Tetapi bagaimana kau mengikuti permainan yang pembuka yang kuat dan teguh itu? Sekarang apa lagi?

Selama beberapa pekan selanjutnya, Jonah tetap teguh pada perkataannya. Ia bergerak mengapung di sekitar kehidupan mereka bak sejumlah tahanan perang yang sudah dilatih untuk tutup mulut. Ia bertahan dalam keheningan itu di sekitar orang tuanya, meninggalkan rumah ke sekolah di pagi hari hampir tanpa mengucapkan selamat tinggal. Saat tiba di rumah, Jonah meletakkan mantel dan sepatunya, mengerjakan pekerjaan rumah tanpa disuruh. Ia mengambil kudapan sendiri, menarik sebuah kursi ke dapur sehingga ia bisa naik ke meja dapur. Ia mengambil gelasnya sendiri, mengisinya dengan air di bak cuci. Saat ia selesai makan, ia meletakkan piringnya ke mesin pencuci piring otomatis. Martin, yang bekerja di rumah di sore hari, menyaksikan semua itu, dengan perasaan terkesan tetapi cemas. Ia terus menawarkan bantuan, tetapi Jonah selalu mengatakan ia bisa melakukan sendiri. Di saat tidur, Martin dan Rachel masih terus memperbincangkan Lester, yang di usia 6 tahun, yang tak beranjak besar dan menganggap dirinya masih bayi demi mendapatkan lebih banyak perhatian dari orang tuanya. Jonah bersikeras mengucapkan selamat malam tanpa ciuman dan pelukan. Ia menutup pintu kamarnya dan lenyap setiap pukul 8 malam.

Saat Martin atau Rachel menatap mata Jonah, anak itu memaksa diri untuk tersenyum. Tetapi senyumnya jelas terlihat palsu. Bisakah anak laki-laki seumurannya berbuat semacam itu?

“Tentu saja,” Rachel berkata. “Kau pikir ia tidak tahu cara berpura-pura?”

“Tidak, aku tahu ia bisa berpura-pura. Tetapi ini berbeda. Maksudku, berpura-pura senang melihat kita. Pertama-tama, kenapa ia begitu kesal? Dan kedua, tampaknya perilaku itu bisa dibilang agak… dewasa. Tetapi dalam pengertian yang buruk. Senyum palsu. Itu cuma alat yang kita pakai saat berhadapan dengan orang asing.”

“Entahlah, aku tak tahu. Ia masih sepuluh tahun. Ia memiliki ketrampilan sosial. Ia bisa menyembunyikan perasaannya. Dan itu bukan hal yang sulit.”

Martin mengamati sang istri.

“Baiklah, jadi menurutmu semuanya baik-baik saja?”

“Kupikir mungkin ia sedang tumbuh dewasa dan kau tak menyukainya.”

“Dan kau menyukainya? Itukah yang ingin kau katakan? Kau menyukai kondisi itu?”
Suara Martin naik. Ia kehilangan kendali atas dirinya sejurus dan sialannya seperti biasa, hal itu menjadi kendala tercapainya kesepakatan. Rachel mengangkat kedua tangannya dan ia pergi. Dari ruangan lain, Martin mendengar Rachel bergumam,”Aku tidak akan berbicara denganmu saat kau seperti itu.”

Baiklah, pikirnya. Selamat tinggal. Kita akan berbicara lain kali saat aku tidak seperti ini, alias tidak pernah. Jonah ternyata berperilaku seperti itu hanya di hadapan orang tuanya. Sebuah catatan pengamatan untuk gurunya menunjukkan semuanya. Jonah baik-baik saja di sekolah, tidak tampak menarik diri, berhasil memimpin proyek tim mengenai topik Antartika, dan tampak berlarian dan bermain bersama teman-temannya selama waktu istirahatnya. Berlarian dan bermain? Hewan apa yang mereka bicarakan di sini? Setiap orang dipastikan menyukai Jonah bersama dengan pernyataan betapa bahagia tampaknya anak itu. “Tampaknya” adalah satu-satunya masalah. Tampaknya! Jika Anda orang bodoh yang tak mengenal anak ini, yang tidak mengetahui seluk beluk perilaku manusia.

Di rumah, Jonah mengawasi adiknya, membacakan cerita untuknya, bermain dengannya, bahkan membiarkan Lester menaiki punggungnya untuk bermain kuda-kudaan di sekeliling rumah, semuanya tampak tak mungkin sebelumnya, saat minat Jonah pada Lester hanya sebatas teori. Lester amat girang dengan itu semua. Tiba-tiba ia memiliki teman bar, kakak laki-laki yang ia puja, yang dulunya mengabaikannya. Namun, bagi Martin, pemandangan itu terasa seperti pertunjukan yang sudah dirancang. Dengan mempertontonkan kelembutannya pada sang adik, Jonah kelihatannya ingin mengatakan,”Lihat, inilah apa yang tidak lagi kau dapatkan. Lihat kan? Semua sudah usai bagimu. Persetan denganmu.”

Martin menganggapnya serius, ia tahu. Mungkin karena memang itu serius.

Satu malam, saat Jonah belum menyentuh makan malamnya, mereka bertanya padanya apakah ia menginginkan makanan lain untuk dimakan, dan, karena ia tidak menjawab, dan sampai sekarang tidak menjawab selain jawaban satu kata yang kaku dan formal, Martin dan Rachel mengabaikan aturan mereka sebelumnya, yang mereka jadikan sebagai panduan utama dan bergeser mengandalkan sejumlah suap. Mereka mengiming-iminginya dengan es krim, dan kemudian makhluk-makhluk berbentuk aneh yang lewat menawarkan es krim batangan Popsicles, dengan rupa mirip hewan yang mengenakan topi atau wajah coklat, yang dulu membuat Jonah ketakutan dan lemas. Saat Jonah tutup mulut dan tampak lelah, Martin menawarkan permen padanya. Jonah bisa menikmati permen jika ia mau sekarang. Hanya saja syaratnya ia harus mau berbicara.

“Masalahnya kau muncul di hadapannya terus,” kata Rachel padanya kemudian. “Bagaimana ia bisa bernapas?”

“Kau pikir keinginanku agar ia berbicara malah membuatnya main diam?

“Mungkin itu tidak bisa membantu.”

“Sementara pendekatanmu begitu hebat.”

“Pendekatanku? Maksudmu sebagai ibunya? Mencintainya sebagaimana apa adanya dia? Menjaganya? Ya, memang sangat hebat.”

Martin membalikkan tubuhnya untuk tidur sementara Rachel memasang lampu baca bukunya.”

Mereka akan menghabiskan malam itu dalam kesunyian rupanya.

Ya, begitulah. Mereka telah menulis janji mereka sendiri, yang isinya “sangat jujur” satu sama lain. Mereka tidak secara khusus mengatakan bahwa mereka akan menyimpan kekurangan masing-masing dengan sebaik mungkin yang mereka bisa lakukan, lalu menyebutkan semua kesalahan terkecil pihak lain, seperti sukar percaya, karena mereka berdua yakin bahwa mungkin pernikahan akan bisa bertahan hanya jika semua kesalahan pribadi dibeberkan. Misi ini tidak pernah dinyatakan.

Di pagi hari, saat Martin bangun, Jonah duduk membaca sementara Lester memainkan boneka-boneka serdadunya di atas karpet. Lester sudah memakai pakaian bersih, tas punggungnya di dekat pintu. Tidak mungkin Lester melakukan semua itu sendiri. Jelas, Jonah sudah membantunya berpakaian, mengosongkan tas adiknya dari barang-barang kelas kerajinan seni di kelas satu yang dipenuhi dengan pujian yang di dalamnya diikuti sang adik, dan menyiapkan yang harus dibawa untuk hari itu. Beberapa bulan lalu, mereka meminta Jonah untuk berpakaian dan membantu adiknya bersiap-siap sehingga kedua orang tuanya bisa beristirahat dan Jonah mematuhinya beberapa kali, tetapi melakukan semua itu dengan setengah hati, sampai membuat si kecil Lester sedikit menderita karena kerap tidak bisa berkata-kata dan berkubang air mata saat orang tuanya melihatnya. Tugas itu berlangsung cepat dan biasanya Martin terbangun dan melihat Lester menunggu bantuannya dalam kondisi separuh telanjang dan masih kelaparan.

Hari ini, Lester tampak senang. Tidak ada tanda menangis.

“Selamat pagi, Ayah,” ucapnya.

“Pagi Les, temanku. Tidur nyenyak tadi malam?”

“Jonah membuatkanku sarapan pagi. Aku minum jus dan makan Cheerios. Kubawa sendiri makananku.”

“Hebat kamu! Terima kasih.”

Martin berpikir ia cukup berperilaku santai saja supaya tidak menarik terlalu banyak perhatian.

“Selamat pagi, jagoan,” sapanya pada Jonah. “Apa yang sedang kaubaca itu?”

Martin menyiapkan dirinya untuk disambut dengan keheningan, dengan diam, dengan seorang anak yang tidak mendengarnya atau tidak ingin menjawab sama sekali. Akan tetapi, Jonah melihatnya.

“Judul buku ini ‘The Short’. Ini novel,” terangnya, lalu ia melanjutkan membaca.

Sebuah gambar kilat besar terpampang di sampul novel itu. Seorang anak laki-laki berada di bawah kilat. Huruf-huruf judulnya terdiri dari jalinan grafis seutas kawat, sebuah kabel listrik yang terjulur ke mana-mana memenuhi sampulnya.

“Oh ya?” tukas Martin. “Apa isinya? Ceritakanlah.”

Ada jeda yang panjang kali ini. Martin masuk ke dapur untuk menyiapkan kopinya. Ia kembali muncul di ruang tamu dan menjentikkan jari-jemarinya.

“Jonah, halo. Bukumu. Apa isinya?”

Jonah berucap lirih. Kemeja mungil berbahan flanel miliknya terkancing hingga ke krah leher, seolah-olah ia bersiap keluar rumah menghadapi badai salju hebat. Martin hampir mendengarkan permintaan maaf dalam suaranya.

“Karena aku harus berangkat sekolah dalam 15 menit, dan karena aku ingin sampai di halaman 100 pagi ini, apakah tidak keberatan jika aku tidak menjelaskannya padamu? Kau bisa mencari ulasannya di Amazon.”

Martin menceritakan kejadian itu pada Rachel di pagi yang sama, mengenai tanggapan anak mereka yang kalem tetapi ganjil.

“Ya, aku tak tahu,” ujarnya. “Maksudku, bukannya bagus untuknya, bukan? Ia hanya ingin membaca, dan ia mengatakan itu padamu. Jadi apa masalahnya?”
“Huh,” kata Martin.

Rachel sibuk merapikan rumah. Ia tidak memandang ke arah Martin. Perdebatan mereka kemarin malam entah telah terlupakan atau tersimpan sementara untuk kemudian dibahas kembali. Ia akan tahu juga. Rachel tampak berfokus penuh pada kegiatannya merapikan rumah. Ia membersihkan dengan sikap panik seolah rumah itu akan diperiksa PBB. Martin berkeliling mengikutinya sembari bercakap-cakap, karena jika ia tidak melakukannya, suara Rachel akan keluar dari jangkauan pendengarannya dan percakapan itu akan menguap begitu saja.

“Ia hanya tampak seperti orang asing bagiku,” tutur Martin, mencoba menambahkan nada santai pada suaranya sehingga Rachel tidak akan menyangkanya sebagai sebuah keluhan.

Rachel menghentikan aktivitasnya sejenak. ”Yah.”

Selama beberapa waktu, rupanya Rachel mungkin sepakat dengan Martin dan mereka menemukan kesamaan.

“Tapi ia bukan orang asing. Aku tak tahu. Ia sedang tumbuh dewasa. Kau semestinya bahagia ia suka membaca. Setidaknya ia tidak merengek agar diizinkan menggunakan iPad yang bebal itu, dan rupanya ia berbicara lagi. Ia ingin membaca, dan kau cemas. Begitu kenyataannya.”

Ya, benar. Kau memiliki semua makhluk ini di rumahmu. Kau menafkahi mereka. Kau membersihkan mereka. Dan inilah manusia yang ikut serta bersamamu menciptakan mereka. Ia cantik, mungkin. Ia cerdas, mungkin. Sudah tak mungkin mengetahui jawaban itu semua. Martin mengamati Rachel menggunakan saringan yang kurang jernih, tentunya. Ia bisa saja melampiaskan kemarahannya yang luar biasa padanya yang kemudian bisa menguap begitu saja jika Rachel menyentuh tangannya. Apa yang terjadi? Ia sudah melakukan sesuatu atau ia belum melakukan sesuatu. Temukan itu, batin Martin. Temukan akar kebencian itu. Minta maaflah dengan sungguh-sungguh hingga maaf itu keluar dan terpancar darinya seolah cairan. Kemudian minumlah cairannya. Atau gunakanlah cairan itu dalam sup. Terserah.

Jonah datang dan pergi, anak itu seperti seekor burung aneh, begitu serius. Martin mencoba memahaminya perlahan. Ia mencoba untuk amat berhati-hati. Lebih baik perlahan-lahan melangkah, untuk memungkinkan dinginnya sikap anak sulungnya hingga membekukan rumah mereka. Ia mengamati kewaspadaan, kerelaan memberikan ruang, rasa hormat, kepercayaan yang dimiliki Rachel yang tidak ia miliki, bahkan saat Martin menyaksikan Rachel banyak berkorban untuk itu, apa yang menjelma sebagai seorang wanita yang merasa rindu menyentuh anak laki-lakinya tetapi tidak bisa.

Kemudian, satu sore, ia melupakan itu semua. Martin pulang ke rumah dengan membawa barang belanjaan dan melihat jonah duduk di karpet bersama Lester, menata kotak-kotak Lego untuk sang adik, sungguh manusia yang sungguh mungil, berpakaian begitu cermat dengan kedua tangannya sendiri, anak laki-lakinya – tampaknya masih konyol dan sebuah keajaiban bagi Martin bahwa ia memiliki seorang anak laki-laki, bahwa makhluk mungil di dunia ini akan menjadi miliknya yang harus dilindungi dan diakrabi. Tanpa berpikir tentang itu, ia duduk di samping Jonah dan memeluk seluruh tubuh sang anak dalam rengkuhan tangannya. Ia tidak ingin membuatnya takut dan ia tidak ingin melukainya, tetapi ia harus melakukannya agar anak itu tahu bagaimana rasanya dipeluk, bagaimana rasanya seluruh tubuhnya dipeluk dengan lengan ayahnya. Mungkin ia bisa memeras keluar semua keterasingan dan jarak dari anaknya, cukup dengan mencekik sampai semuanya keluar dan sirna.

Jonah tidak membalas. Tubuhnya tak bergerak dan pelukan itu tidak lagi efektif sebagaimana diharapkan Martin sebelumnya. Kau tak bisa melakukannya sendiri. Orang yang dipeluk harus juga melakukan sesuatu, menjadi sesuatu. Orang yang dipeluk ini sialnya harus benar-benar ada. Dan siapapun itu, siapapun yang ia peluk, terasa hampa.

Akhirnya, Martin melepaskannya dan Jonah merapikan rambutnya. Ia tak tampak senang.

“Aku tahu kau dan Ibu bertanggung jawab dan kau membuat aturan,” ujar Jonah. “Tapi bahkan meski aku masih 10 tahun, apakah aku seharusnya punya hak untuk tidak disentuh?”

Anak itu terdengar begitu logis.

“Tentu,” jawab Martin. “Aku meminta maaf.”

“Aku terus memohon, tetapi kau tak mendengarkan.”

“Aku mendengarkan.”

“Kau tidak mendengarkan. Karena kau terus melakukannya. Begitu juga Ibu. Kau ingin memperlakukanku seperti binatang yang berang, dan aku tidak ingin diperlakukan seperti itu.”

“Tidak, aku tidak, teman.”

“Aku tak mau dipanggil, teman. Atau tuan. Atau jagoan. Aku tidak melakukannya padamu. Kau tidak ingin aku selalu memanggilku dengan nama konyol baru.”

“Baiklah,” Martin mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. “Tidak ada lagi nama panggilan. Aku berjanji. Cuma kau anakku dan aku suka memelukmu. Kami suka memelukmu.”

“Aku tidak mau kau memelukku lagi. Dan aku sudah mengatakan itu.”

“Tentu, sayang sekali,” ujar Martin, tertawa dan, seolah membuktikan ia benar, ia memeluk Lester, dan Lester berteriak girang, menggeliat dalam dekapan sang ayah.

Tahukah kamu bagaimana rasanya sebelumnya? Martin ingin mengatakan itu pada Jonah. Inilah dirimu dulu, inilah kita.

Jonah terlihat bingung. “Apakah tidak penting bagimu kalau aku tak menyukainya?”

“Penting, tetapi kau salah. Kau mungkin salah, tahu. Kau akan mati, tanpa kasih sayang. Aku serius. Kau akan mengering dan mati.”

Lagi, ia menemukan dirinya harus menjelaskan cintaya pada anak ini, untuk menjelaskan secara rinci bagaimana rasanya saat kau merasakan hubungan yang penuh keputusasaan dengan orang lain, bagaimana kau ingin memegangnya dengan erat dan menghancurkannya dengan pelukan. Namun, begitu Martin bertarung melalui diskusi konyol dan alot, ia merasa seakan ia sedang bercakap-cakap dengan seorang pengacara. Seorang pengacara, seorang ibu paruh baya yang getol mengomel, seorang bedebah. Yang makin segan ia peluk dari waktu ke waktu. Mungkin akan lebih sederhana dengan memberikan Jonah apa yang dikehendakinya. Apa yang ia pikir ia inginkan.

Jonah tampak serius, penuh pemikiran.

“Apakah semua itu masuk akal bagimu?” Martin bertanya.

“Masalahnya aku memilih untuk tidak mengatakan sesuatu yang bisa menyakiti seseorang,” ungkap Jonah.

“Baiklah… itu bagus. Itulah bagaimana seharusnya perasaanmu.”

“Aku lebih memilih untuk tidak mengatakan apapun mengenai dirimu dan Ibu. Di sekolah. Pada pak Fourenay.”

Pak Fourenay adalah orang yang mereka sebut sebagai “dokter perasaan”. Ia digaji, tentunya tidak banyak, untuk menganggap anak-anaknya dan perasaan mereka dengan sangat amat serius. Tidak mudah bagi Martin dan Rachel untuk menganggapnya serius. Ia terlihat seperti seorang pria yang sudah mandiri dalam waktu yang sangat lama dengan mengandalkan asupan yang ketat berupa perasaan anak-anak. Kecewa, terbuang dan lemah.

“Jonah, apa yang kau bicarakan?”
“Mengenai kau yang menyentuhku saat aku tidak bersedia disentuh. Aku tidak mau harus membahas hal itu pada seseorang di sekolah. Aku sungguh-sungguh tidak mau.”

Martin berdiri. Ibarat sebuah tangan telah bergerak ke dalam tubuhnya.

Ia memandang Jonah, yang menatap dengan sabar, menunggu sebuah jawaban.

“Pesan diterima. Aku akan membahasnya dengan Ibu.”

“Terima kasih.”

Tanpa serius memikirkannya, Martin telah menciptakan masa kedewasaan yang tidak berteman. Tentu saja, ada teman-teman pernikahannya, yang mengetahuinya sebagai bagian dari sebuah pasangan – bagian yang kaku dan membusuk – sehingga mereka menolak apapun yang apa adanya, seperti sebuah pengakuan sialan mengenai apa yang sebetulnya sedang terjadi di rumahnya sendiri. Sebelum anak-anaknya lahir, Martin kadang masih berkomunikasi dan membina pertemanan yang hangat dengan beberapa teman-teman prianya. Percakapan-percakapan yang mendalam, penuh keingintahuan, dan tampak melelahkan melalui telepon dengan para lelaki yang agak tak bahagia dan setengah lancar dalam berbicara. Umumnya, pertemanan ini memanas dan berakhir dengan berpacaran atau pemutusan hubungan, saat sebuah lagu dengan iringan keluhan atau hasrat bisa diselaraskan oleh seorang komplotan yang menyedihkan. Namun setelah Jonah lahir, dan Lester menyusul, panggilan telepon dengan teman-teman ditolaknya. Tidak ada waktu yang tepat atau menyenangkan untuk mengobrol melalui telepon. Saat ia di rumah, ia sangat waspada, menjelajahinya dengan perlahan dan brutal ke setiap sudutnya, membersihkan, menyingkirkan makanan dari karpet, melipat dan menyimpan pakaian dan jika tak ada yang melihat, kadang ia melihat laptopnya untuk memastikan apakah prospeknya telah terangkat dengan keberuntungan yang besar, dikirimkan melalui surat elektronik. Saat ia akhirnya istirahat, di kursi yang tertutup dengan muntahan, Martin mengakhiri harinya. Ia menuangkan sejumlah botol bir secara berurutan, tepat di pusat kesenangannya, yang sebenarnya bisa tetap kering dan layu tak peduli apapun yang membasahinya.

Perjudian masa akil balig yang tanpa teman, apakah itu sengaja atau tidak, ialah bahwa pasangan Anda akan maju mengisi peran itu. Ia menggantikan peran Anda, dan Anda menggantikan perannya.

Akan tetapi, saat Martin berpikir mengenai ancaman Jonah – pemerasan tepatnya – ia tahu ia tidak bisa memberitahukan hal itu pada Rachel. Dalam pemahaman tertentu, pemahaman satu-satunya yang masih berarti, ia berada di pihak yang salah. Instruksinya sudah jelas bahwa mereka tidak boleh sembarangan memeluk Jonah, dan tetap saja ia melanggarnya. Rachel akan bertanya padanya mengenai hal yang ia harapkan dan mengapa ia terkejut Jonah geram padanya karena tak menghormati batasan.

Jadi, ya, mungkin, mungkin itu semua benar. Tetapi ada bagian lain. Ancaman yang datang dari anak itu. Kekuatan yang sunyi darinya. Untuk menyebut bahwa Jonah telahb mengancam melaporkan mereka karena sudah menyentuhnya memunculkan kecurigaan yang tak bisa ditepis dalam pikiran orang. Anda tidak bisa membahasnya. Anda tidak bisa menyebutnya. Bahkan Anda lebih baik tidak memikirkannya, melakukan pekerjaan yang akan mulai memblokir peristiwa itu dari ingatan.

Mereka berbicara dengan perlahan di sofa suatu sore beberapa hari kemudian. Martin sedang di kamar sebelah dan ia mendengar nada yang manis, kedua suara yang ia sayangi, yang bahkan tidak bisa ia tahan lagi. Selama beberapa saat, ia lupa apa yang tengah terjadi dan mendengarkan kehidupan yang ia bantu ciptakan. Mereka berbicara bak orang-orang kecil, bukan anak-anak, panjang lebar, sebuah percakapan sebenarnya. Jonah menjelaskan sesuatu pada Lester, dan Lester mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mendengarkan dengan sabar. Sungguh menyentuh.

Martin menyelinap keluar melihat kedua anaknya duduk di sofa, Lester duduk dekat dengan kakaknya yang memegang sebuah buku besar. Buku bacaan orang dewasa. Di sampul, alih-alih gambar seorang anak laki-laki berlari di bawah sebuah kilatan petir, tampak Menara Kembar tua yang megah. Judulnya,”Kebohongan,” terpampang dengan tulisan merah darah, menetes turun dari kedua pencakar langit itu.

Oh, sial sekali.

“Apa ini?” tanya Martin. “Apa itu yang kau baca?”

“Sebuah buku tentang 9/11. Siapa yang menyebabkannya.”

Martin merebutnya, membuka halaman-halamannya. “Dari mana kau dapatkan ini?”

“Dari Amazon. Dengan kartu hadiah ulang tahunku.”

“Hmm. Apa kau percaya dengan ini?”

“Apa maksudmu? Itu benar.”

“Apanya yang benar?”

“Bahwa orang Yahudi-lah yang menyebabkan 9/11 dan mereka semua tinggal di dalam rumah mereka hari itu sehingga mereka tidak terbunuh.”

Martin menyuruh Lester meninggalkan ruangan itu. Menyuruhnya untuk pergi secepatnya dan, ya, menonton televisi bukan masalah meskipun waktu menonton televisi belum mulai. Pokoknya pergi, pergi.

“Baiklah, Jonah,” ia berbisik. “Jonah, hentikan. Ini tidak bisa dibiarkan. Sama sekali tidak bisa dibiarkan. Pertama-tama, Jonah, kau harus mendengarkanku. Ini gila. Buku ini ditulis orang gila.”

“Kau tahu penulisnya?”

“Tidak, aku tak tahu. Aku tak harus tahu. Dengarkan aku, kau tahu kita orang Yahudi, bukan? Kau, aku, Ibu, Lester. Kita semua Yahudi.”

“Tidak juga.”

“Apa maksudmu, tidak juga?”

“Kau tak rutin ke sinagog. Kau tampaknya tidak beribadah. Kau tidak pernah membicarakannya.”

“Bukan itu yang penting.”

“Bulan lalu adalah Yom Kippur dan kau tidak puasa. Kau tidak beribadah bersama. Kau tidak pernah mengatakan Selamat tahun Baru saat Rosh Hashanah.”

“Itu semua ritual. Kau tidak perlu mematuhinya untuk menjadi bagian dari kepercayaan itu.”

“Tapi apakah kau tahu semua tentang itu?”

“9/11?”

“Tidak, mengenai makna menjadi Yahudi. Apakah kau tahu apa maknanya dan apa yang semestinya kau yakini dan bagaimana kau seharusnya bertindak?”

“Ya, aku tahu. Aku memiliki pemahaman yang cukup bagus.”

“Lalu jelaskan padaku.”

“Jonah.”

“Apa? Aku hanya ingin tahu bagaimana kau bisa memanggil dirimu sendiri Yahudi.”

“Bagaimana? Sialan, apakah kau sedang bercanda?”

Martin harus pergi dari situ sebelum ia melakukan sesuatu.

“Baiklah, Jonah, sebenarnya itu semua cukup mudah. Aku akan jelaskan. Karena semua orang di dunia ini memanggilku Yahudi. Tanpa perdebatan. Tak ada sama sekali perdebatan. Karena orang tuaku dan orang tua mereka, dan orang tua dari orang tua mereka, termasuk siapa saja yang musnah menjadi debu di peperangan. Seluruh keluarga Zayde Anshel. Kau melihat foto-foto mereka setiap hari di aula. Kau pikir kau tidak punya ikatan dengan mereka? Dan karena aku dipanggil kike di saat SMP, dan di SMA, dan saat kuliah, dan mungkin setelah itu, sampai detik sialan ini. Dan karena jika mereka mulai mengumpulkan orang-orang Yahudi lagi, mereka akan membaca nama kita dan mereka akan tahu. Dan itu termasuk kau, tuan. Mereka akan datang menghampiri kita dan membunuh kita. Paham? Kau.”

Ia mengepalkan tangan di depan wajah anaknya. Hanya berteriak gaya lama. Ia ingin melakukannya lagi. Ia ingin mencabik-cabik sesuatu sekarang. Tidak ada cara yang aman untuk tetap berperilaku beradab saat ini.

“Mereka akan membunuhmu. Dan kau akan mati. Kau akan mati.”

“Martin?” Rachel berkata. “Apa yang terjadi?”
Tentu. Ia ada di sana. Bersembunyi. Ia tak tahu sudah berapa lama Rachel berdiri di sana, dan apa saja yang sudah ia dengar.

Martin belum selesai. Jonah tampak terpukau, kedua matanya melebar begitu sang ayah lepas kendali.

“Bahkan jika kau mengatakan kau benci Yahudi juga dan bahwa orang-orang Yahudi jahat dan menyebabkan semua penderitaan di dunia ini, mereka akan melihatmu dan memastikanmu orang Yahudi juga! Teman, jagoan, tuan” – memuntahkan semua nama panggilan itu pada sang anak – “karena hanya seorang Yahudi, kata mereka, hanya orang Yahudi yang akan mengkhianati orangnya sendiri seperti itu.”

Jonah memandanginya. “Aku paham,” ucapnya. Ia tak terlihat gentar. Ia tak tampak terganggu. Apakah ia mendengar? Bagaimana ia sungguh-sungguh memahami?”

Anak itu memungut buku tersebut dan membuka halamannya.

“Ini cuma sebuah sudut pandang yang berbeda. Kau selalu mengatakan bahwa aku seharusnya memiliki pikiran yang terbuka, bahwa aku seharusnya berpikir untuk diriku sendiri. Kau katakan hal itu padaku sepanjang waktu.’

“Ya, aku memang katakan itu. Kau benar,” suara Martin bergetar.

“Lalu apakah aku harus mendapatkan izinmu untuk bisa terus membacanya?”

“Tidak, kau tidak boleh membacanya. Tidak kali ini. Permohonan izin ditolak.”

Rachel menggelengkan kepalanya.

“Apakah kau lihat apa yang ia sedang baca? Apakah kau menyaksikannya?” ia berteriak.

Ia menunjukkan buku itu pada Rachel dan ia hanya melihat Martin tanpa ekspresi sama sekali.

Setelah anak-anak tidur, dan rumah perlahan-lahan kembali tenang, Rachel mengatakan mereka harus berbicara.

Ya, kita harus, pikirnya, dan membicarakan tentang waktu yang sial.

“Sejujurnya,” ucap Rachel. “Memang ia tak sepatutnya membaca buku itu, tetapi caramu berbicara padanya? Aku tak ingin kau mendekatinya.”

“Ya, baiklah, memang itu bukan hal yang sepatutnya kau ucapkan. Kau ibunya, bukan aku. Kau mau menggugat cerai sekarang? Kau mau mendapatkan hak asuh anak kita? Semoga beruntung, Bu Beku. Aku ayahnya. Dan kau tak memahaminya. Kau tidak memahaminya sama sekali. Sialnya, kau sama sekali tak tahu.”

“Aku paham itu dan aku memahamimu. Martin, kau butuh bantuan. Kau, entahlah, depresi. Kau mengasihani diri sendiri. Kau pikir semuanya berkomplot menyerangmu. Perlu kau ketahui, aku cemas mengenai Jonah. Sangat cemas. Ada kesalahan yang sangat serius. Ini sudah pasti. Tetapi kau mitra terburuk yang pernah ada dalam kecemasan ini – sialnya yang terburuk – karena kau membuat semuanya makin sukar, dan kita tidak bisa membicarakannya tanpa harus menganalisis perasaanmu yang omong kosong itu. Kau bertindak seperti orang yang terluka dan tersakiti, dan kita semua harus memaklumimu. Untukmu! Ini bukan tentangmu. Jadi jangan sok tersakiti agar dikasihani.”

Saat pembicaraan semacam ini terjadi, Martin tahu ia harus mendengar. Ini omelan yang Rachel simpan selama ini, dan jika Martin bisa menahannya, dan menerimanya, mungkin akan ada pelepasan dan kejelasan di ujung sana. Satu sisi dalam dirinya menemukan letupan-letupan emosi dari dalam diri Rachel, dan entah bagaimana ia merasa bahwa dirinya turut berkontribusi dalam membuat ledakan-ledakan itu terjadi, tanpa sungguh-sungguh memikirkannya.

Melakukan tarian narsistik dan bertabiat buruk yang sepanjang waktu akan menghasilkan erupsi semacam ini dari Rachel. Istrinya hidup. Ia peduli. Bahkan jika tampaknya ia mungkin membencinya.

Ia mengelilingi rumahnya beberapa lama, mendinginkan kepala, membiarkan serangan – bukan, bukan, kebenaran – itu mengendap. Argumen atau perbincangan apapun yang sebaliknya justru hanya akan memberinya pembenaran atas opininya dan terkesan sebagai pembelaan defensif seorang pria yang tersudut. Perkataan apapun, yakni, terkecuali izin, penyesalan dan maaf, tiga pemicu.

Yang kemudian membawanya kembali ke dalam ruangan bersamanya.

Rachel membaca di tempat tidur, kedua matanya terpaku pada halaman buku. Tampak ia belum bisa menundukkan amarahnya.

“Hei, begini,” ujar Martin. “Aku tahu kamu marah, tetapi aku hanya ingin mengatakan aku setuju dengan semua perkataanmu. Aku ketakutan dan cemas dan aku minta maaf.”

Martin membiarkannya sejenak. Kalimatnya harus menyebar, meresap. Ia harus menyadari bahwa suaminya sepakat dengannya.

Sulit dipastikan, tetapi rupanya sebagian amarahnya, yang tidak bisa dilampiaskan, menguap.

“Dan,” lanjutnya. Ia menunggu Rachel menatapnya, yang memang kemudian dilakukan wanita itu. “Pikirmu aku pasti bercanda dan aku tahu kau bahkan tak tahu menahu hal ini sekarang, tetapi itu memang benar, dan aku harus sampaikan itu. Aku sedikit terangsang mendengarnya.”

Rachel menggelengkan kepalanya saat mendengar lelucon yang tak lucu itu, yang artinya setidaknya masih ada ruang untuk bergerak di sini.

“Diam kau,” ujar Rachel.

Inilah caranya masuk. Martin menempuhnya.

“Kamu yang diam.”

“Maaf aku sudah berteriak, Martin aku hanya – Ini sungguh berat. Aku minta maaf.”

Mungkin ia tidak sungguh-sungguh minta maaf. Ini cuma skenario untuk bisa damai kembali, keduanya bersatu, dan mereka berdua mengetahuinya. Satu hari, salah satu dari mereka akan memilih untuk tidak bermain di dalamnya lagi. Sangatlah mudah untuk tidak mengatakan kalimat mereka sendiri.

“Bukan, itu bukan masalah,” katanya pada Rachel, yang naik ke tempat tidur. “Aku paham. Dengar, mari kita ajak anak bangsat itu ke toko. Buat ia merasa lebih senang. Aku akan “panggil beberapa dokter di pagi hari.”

Mereka berpelukan. Sebuah pelukan yang sebenarnya, antara dua orang yang berdamai. Sebuah pembaruan dalam rumah ini.

“Baiklah,” ujarnya. “Aku ketakutan. Aku tak tahu apa yang sedang terjadi. Aku melihatnya dan begitu ingin memeluknya, tetapi sekarang ia sudah sirna. Apa yang sudah ia lakukan pada dirinya?”

“Mungkin ia hanya butuh pembedahan kecil. Apakah itu berhasil untuk mereka yang meyakini tragedi 9/11?”

“Oh, begini,” ujarnya pada Martin dengan lembut. “Kau kembali. Dirimu yang sejati. Kami merindukanmu.”

Mereka bercakap-cakap sebentar dan berdekatan di tempat tidur. Sejenak, perasaan senang itu datang dalam diri mereka – meskipun hanya berupa sebuah versi dari kesenangan. Rasanya lembut dan sementara, tetapi Martin menerimanya. Terasa nyaman. Ia berada di tempat tidur dengan istrinya, dan mereka membahas masalah ini.

“Dengar,” katanya pada Rachel. “Apakah kau ingin tidur sekarang, kembali ke semula?”
“Aku tak tahu,” katanya. “Aku merasa kotor. Aku merasa tertekan.”

“Aku merasa kotor juga. Mari kita lakukan. Dua orang kotor saling menjilat pusar mereka.”

Rachel menuju kamar mandi dan mengambil sebotol ramuan. Keduanya bersiap di tempat tidur. Martin berharap ia bisa. Ia berharap ia bisa. Ia berharap ia bisa.

Ia merasa dingin dan tak percaya diri, sehingga ia menanggalkan kemejanya. Dan kaos kakinya.

Mereka menggunakan sejenis krim. Mereka gunakan tangan. Mereka memakai alat bantu. Selama ketegangan sejenak dalam persetubuhan yang sebenarnya mereka pertahankan dengan percakapan santai mengenai urusan remeh temeh esok harinya. Di awal pernikahan mereka, seks tampak menyenangkan dan seksi, semacam penyeimbang terhadap kerakusan hewani. Kini ia cuma tampak efisien dan nafsu hewani itu tak lagi muncul. Tanpa kebasahan yang menjadi pamungkasnya, dan rasa berbinar sebentar yang kadang terasa, seks mereka tak ubahnya sama dengan menaiki kereta bawah tanah.

Ternyata ada begitu banyak pekerja medis profesional yang dengan senang hati menerima mereka dalam konsultasi mengenai masalah anak yang perkembangannya terganggu. Marah, tertekan, cemas, terkucil, aneh. Bahkan seorang anak Yahudi yang membenci Yahudi yang mungkin sudah mati dari dalam. Tetapi hanya saat kedua orang tuanya memandangnya. Hanya saat kedua orang tuanya berbicara dengannya. Parameter penting sebagai pembeda.

Mereka memfokuskan pada saran-saran dengan bantuan partisipan berkaliber tinggi di dunia ini, seorangv teman bernama Maureen, yang memiliki anak-anak luar biasanya sudah banyak makan asam garam dalam berbagai layanan psikologi sejak mereka sudah bisa berjalan. Setiap anaknya tampak akrab dengan beragam diagnosis setiap bulan, sehingga Maureen tahu benar siapa yang bisa mengobati siapa dan berapa biayanya.

Saat mereka mengatakan pada Maureen, dengan muka pucat, mengenai Jonah, ia sebagai seorang pakar dalam perilaku pengucilan anak-anak, merasa bersemangat.

“Kasus ini begitu ‘The Fifth Child’,” ungkapnya. “Apakah kalian sudah pernah membacanya? Maksudku, kau mungkin seharusnya tidak membacanya. Tapi apakah kau sudah membacanya? Buku itu seperti novel fiksi. Kupikir itu tidak sungguh-sungguh terjadi. Tapi tetap saja memukau.”

Rachel sudah membacanya. Sepasang suami istri dengan empat anak dan kehidupan yang sempurna hingga lahirlah anak kelima yang menggiring mereka pada kehidupan yang kurang sempurna. Sangat, sangat, sangat kurang sempurna. Penderitaan, penderitaan, penderitaan, duka, dan penderitaan. Bukan kehidupan yang sejati.

“Ya, tapi anak dalam buku itu sebuah monster,” ujar Rachel. “Begitu dingin. Ia tidak nyata. Dan ia hanya ingin membawa penderitaan. Jonah tidak menyakiti siapapun. Ia hanya ingin sendiri. Atau, bukan itu, tetapi. Aku tak tahu apa yang dikehendaki Jonah. Meski tentu ia tidak agresif. Atau bahkan gila. Saya tidak berpikir demikian.”

“Baiklah, tetapi ia menyakitimu, bukan?” Maureen berkata. “Maksudku, semua ini rupanya membuat kalian berdua sangat menderita.”

“Aku belum membaca buku itu, kata Martin. “Tapi ini bukan mengenai kami. Ini tentang Jonah. Rasa sakitnya, penderitaannya. Kami hanya ingin membantunya mengatasi akar masalah. Membantunya. Mendukungnya.”

Dalam sikap diam Rachel, Martin bisa merasakan persetujuan dari istrinya itu dan, mungkin, kejutannya bahwa ia akan, atau bahkan bisa, berpikir semacam itu. Ia tahu apa yang harus dikatakan sekarang. Ia tidak akan terbakar lagi. Namun, apakah ia menyadarinya juga? Apakah itu benar? Ia sebetulnya tak tahu menahu, dan ia tidak begitu yakin itu bermakna penting.

Sang dokter ingin menemui kedua orang tua itu dahulu. Ia mengaakan bahwa sudah menjadi pekerjaannya untuk mendengar. Sehingga mereka pun bercakap-cakap, meluapkan semuanya begitu saja. Pikir Martin, tampaknya tak bagus namun itulah gambaran umum dari apa yang tengah terjadi. Si dokter menuliskan sesuatu, sesekali berhenti menatap mereka, untuk bisa mencermati lebih mendalam keduanya, dan mengangguk. Sejak kapan mendengarkan menjadi sebuah kepura-puraan yang ganjil? Kemudian sang dokter menemui Jonah, untuk menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, mengumpulkan bukti dari mulut si pelakunya sendiri. Martin dan Rachel duduk di sebuah ruang tinggi dan menatap pintu. Apa yang diliaht si dokter? Anak semacam apa yang ia temui? Apakah mereka gila dan semua ini hanyalah kesintingan pra masa remaja?

Akhirnya, semuanya berkumpul dalam satu ruangan – dokter, orang tua dan anak – untuk menyusun rencana, Jonah yang duduk dengan sopan dan penuh waspada sementara masa depan otaknya dibahas. Mereka mengatakan pada Jonah bahwa ada sebuah proposal: kenaikan dosis antidepresan yang bertahap, bersamaan dengan terapi mingguan, dan kemudian, bergantung pada kondisi, beberapa tugas kelompok, jika semua itu terkesan baik menurut Jonah.

Jonah tak menanggapi.

“Bagaimana menurutmu?” tanya dokter itu. “Jadi Anda bisa merasa lebih baik? Dan keadaan mungkin bisa kembali ke normal?”

“Sudah kukatakan, aku merasa baik-baik saja,” Ucap Jonah.

“Ya, bagus! Tapi kadang saat kita sakit kita berpikir kita baik-baik saja. Itu bisa menjadi gejala sakit – berpikir bahwa kita baik-baik saja.”

“Jadi semua orang sehat membohongi dirinya sendiri?”

“Baiklah, tidak, tentu tidak,” tukas sang dokter.

“Sekarang aku tidak pernah ingin menyakiti diri sendiri, tetapi Anda ingin memberikan saya perawatan yang mungkin membuat saya menjadi berpikir bahwa saya sedang menyakiti diri?”

Dokter itu tampak kurang nyaman.

“Ini disebut sebagai pembentukan gagasan bunuh diri,” kata Jonah.

“Dan bagaimana Anda tahu tentang itu?” ujarnya.

“Internet.”

Orang-orang dewasa itu saling berpandangan.

“Bagaimana mungkin orang begitu terkejut saat seseorang mengetahui sesuatu?” tanya Jonah. “Generasimu lebih baik membiasakan diri dengan bagaimana biasanya seorang anak bisa mengakses informasi medis secara daring dan mempelajari efek-efek sampingnya. Bukannya aku memiliki kecenderungan tertentu. Aku hanya menggunakan komputer dunguku.”

“Baiklah, bagus. Begini, kau benar, kau harus tahu, dan saya ingin memberikan ucapan selamat padamu karena sudah menemukan semua itu untuk dirimu sendiri. Bagus sekali, Jonah.”

Martin mengamati Jonah. Ia merasa dirinya berharap bahwa Jonah yang sesungguhnya akan muncul, kritis dan dingin, untuk menunjukkan pada sang dokter apa yang mereka hadapi selama ini.

“Terima kasih,” ujar Jonah. “Aku sangat bangga dengan diriku sendiri. Aku tidak berpikir ak bisa melakukannya, tetapi aku sungguh putus asa dengan apa yang terjadi dan aku terus mencoba hingga aku bisa.”

Martin tidak bisa memastikan apakah sang dokter menangkap nada tanggapan ini.

“Tetapi kau mungkin bisa juga membaca bahwa itu gejala yang sangat tidak lazim. Hampir tidak pernah terjadi. Kita hanya ingin memperingatkanmu dan orang tuamu tentang ini, agar waspada.”

“Mungkin. Tetapi aku tak punya gejala-gejala depresi juga. Jadi mengapa Anda menempuh risiko membuat aku merasa aku ingin bunuh diri jika aku tidak menderita depresi dan merasa baik-baik saja?”
“Baiklah, Jonah. Tahukah kau? Aku akan berbicara dengan orang tuamu sekarang tanpamu. Apakah boleh? Kau bisa menunggu di luar di tempat bermain. Ada banyak buku dan permainan.”

“Baiklah,” Jonah menjawab. “Aku akan berlarian dan bermain sekarang.”

“Begitulah,” ujar Martin. “Begitulah,” setelah Jonah menutup pintu. “Begitulah dia. Itulah yang ia lakukan.”

“Sarkasme? Mungkin Anda tak menyukainya, tetapi kami tidak menganggap sarkasme sebagai kondisi yang harus ditangani dalam generasi muda. Menurut saya, itu virus yang sangat ganas.” Dokter itu terkekeh.

“Jangan tersinggung,” tutur Martin pada dokter itu, ”dan saya yakin Anda tahu pekerjaan Anda dan ini bukan keahlian Anda, tetapi saya pikiri cara berbcara seperti itu pada Jonah –“

“Cara yang mana?”

“Anda tahu, seolah ia lebih muda dari usianya. Ia hanya – menurut saya cara seperti itu tidak akan efektif.“

“Dan bagaimana Anda berbicara dengannya?”

“Maaf?”

“Bagaimana Anda berbicara dengannya? Saya ingin tahu.”

Rachel batuk dan menunjukkan ketidaknyamanan. Mereka sepakat untuk bersikap terbuka, mengungkapkan pemikiran dan pendapat pada satu sama lain tanpa harus merasa marah atau terancam.

“Itu benar,” ujarnya. “Maksudku, Martin, kupikir kau sudah terkejut akhir-akhir ini Jonah sematang dirinya sekarang. Kenyataan itu rupanya membuatmu sangat jengkel. Kau tahu, kau sesungguhnya sudah sering berkata kasar padanya. Kita tidak bisa berpura-pura bahwa hal itu tak terjadi.” Ia menatap suaminya dengan penuh rasa menyesal. “Terkecuali,” imbuhnya,”hal-hal menakutkan yang sudah ia ucapkan.”

“Apakah itu kedewasaan? Kupikir tidak. Apakah aku sudah jengkel? Sialan, tentu saja. Dan juga kau, Rachel. Dan bukan karena Jonah berpikir orang yahudi menyebabkan tragedi 9/11 atau karena ia mengancam melaporkan kita karena tuduhan pelecehan seksual karena mencoba memeluknya, yang sepantasnya, aku hindarkan darimu, Rachel.

Aku menghindarkanmu. Karena aku berpikir kau tidak bisa menanggungnya.”

Rachel cuma menatapnya.

“Apa yang Anda saksikan ialah seorang anak laki-laki yang sangat, sangat cerdas,” dokter itu berujar.

“Terlalu cerdas untuk ditangani?” Martin berkata.

“Saya pikir terapi keluarga akan produktif. Sangat menantang, tetapi layak dicoba, menurut saya. Saya bisa merekomendasikan terapis. Apa yang menjadi sumber kekesalan Anda, terkait dengan anak laki-laki Anda, mungkin tidak bisa diatasi dengan perawatan medis.”

“Di luar jangkauan medis? Sungguhkah?”
“Sejujurnya, saya tidak menganjurkan perawatan medis. Apapun yang terjadi dengan Jonah, itu bukan depresi. Menurut saya, Jonah tidak memiliki kondisi medis sejenis itu.”

Martin berdiri.

“Ia tidak sakit, ia hanya seorang bedebah, itukah yang Anda ingin katakan?”

“Saya pikir itu cara pikir yang sangat berbahaya bagi seorang orang tua,” tegas sang dokter.

“Ya?” ucap Martin, berdiri di depan dokter itu sekarang. “Anda betul. Anda mengatakannya dengan benar. Karena semua perasaan orang tua berbahaya, kau bedebah.”

Sampai di rumah malam itu, Martin memasak seekor ayam dengan sebuah lemon yang dibelah dua, merendamnya dalam minyak zaitun, menaburinya dengan sejumput garam di atasnya, dan memasukkannya ke dalam oven hingga ayam itu menjadi sangat berkilau, dengan kulit yang sekering kaca. Rachel menuangkan minuman bagi keduanya, dan mereka memasak dalam keheningan. Bagi Martin, keheningan itu tak berbahaya. Ia bisa memercayainya, dan jika ia tidak bisa, maka persetan dengannya. Ia tidak akan mengejar semua yang tak terkatakan dan meneriakkannya di dalam rumahnya, seolah semua pesan penting di planet ini harus disebarluaskan. Ia mengatakan cukup, hal-hal yang ia yakini, hal-hal yang tidak ia yakini. Kuota tercapai. Kuota terlampaui.

Rachel terlihat mungil dan lelah. Di samping itu, ia tidak yakin. Martin lebih sadar dari sebelumnya, saat Rachel menyiapkan meja dan menata cangkir Lester dan gelas sang anak dewasa Jonah, bagaimana misteriusnya Rachel selama ini – apa yang ia pikirkan, apa yang ia rasakan – bagaimana hal-hal yang paling berharga dalam dirinya menjadi cara nan cermat yang ia lestarikan sebisa mungkin.

Tidak peduli teorinya – mengenai Jonah atau satu sama lain atau dunia yang lebih besar – tugas mereka ialah mengawasi Jonah dalam perjalananya yang dingin itu. Jonah harus kembali. Kesunyian yang terkendali itu tidak bisa berlangsung terus menerus. Tak seorangpun bisa melakukannya, terutama seseorang yang begitu belia. Kecuali bahwa alasannya tentang kesenyapan ini, ia tahu, hanyalah omong kosong penuh angan-angan dari seorang orang tua. Tentu saja seorang anak bisa melakukannya. Siapa lagi kecuali anak-anak yang bisa menggiring spesies sialan ini menuju kegelapan? Yang entah artinya apa bagi generasi sebelumnya yang masih tersisa?

Makan malam berlangsung singkat, suasananya dirusak oleh nafsu makan Lester yang begitu ganas sampai menelan makan malam Martin bahkan sebelum Rachel menelan suapan pertamanya dan memohon, memohon untuk diperbolehkan meninggalkan meja makan sehingga ia bisa kembali menunggu perintah selanjutnya. “Aku harus memerintahkan anak buahku siapa yang mereka harus binasakan! Teriaknya. “Aku berkuasa!” Saat Lester mencapai puncak agresivitasnya, Jonah, yang diam sejak keluarga itu kembali dari tempat praktik sang dokter, mencondongkan tubuhnya ke Lester, menaruh tangannya ke bahu si adik, dan menasihatinya perlahan agar tidak berteriak.

“Jangan gunakan nada bicara seperti itu,” terangnya. “Ibu dan ayah akan mengizinkanmu jika mereka sudah siap.”

“Baiklah,” ucap Lester, menatap kakaknya dengan sebuah ketakjuban, dan demi semua orang yang sedang menyantap makan malam itu, Lester kembali duduk menunggu, sesabar yang bisa dilakukan seorang anak laki-laki seusianya bisa lakukan, kedua tangannya terlipat di pangkuan.

Saat waktu tidur menjelang, Rachel bertanya pada Martin apakah ia tidak keberatan mengizinkannya tidur sendiri. Rachel cuma merasa amat penat. Ia tidak sanggup tidur bersama dengan Martin. Ia tersenyum tipis, dan Martin mengetahui upaya yang dilakukan istrinya untuk tersenyum. Rachel menarik bantal dan selimutnya ke sebuah sudut di ruang keluarga dan berbaring nyaman di sana. Martin menguasai kamar tidur itu sendiri. Ia beringsut ke sisi kasur yang biasa ditiduri Rachel, yang lebih tinggi, lebih lembut, lebih bagus, lalu tertidur.

Keesokan paginya, Jonah tidak mengucapkan selamat tinggal saat berangkat ke sekolah, apalagi mengucapkan salam pada ayahnya saat pulang ke rumah. Saat Martin bertanya mengenai kegiatannya di sekolah hari itu, Jonah, tanpa menatapnya, menjawab semuanya baik-baik saja. Mungkin itu saja yang ia bisa ucapkan, dan mengapa, sebenarnya, kau harus mengkritik jawaban semacam itu?

Jonah duduk di tempat favoritnya di sofa dan membuak sebuah buku, membaca dengan tenang hingga waktu makan malam tiba, sementara Lester berlarian. Martin mengamati Jonah. Apakah itu sebuah senyum lebar atau raut muka yang buruk di wajah anak itu? ia bertanya. Dan akhirnya, apa perbedaannya? Mengapa ia harus memiliki wajah jika apa yang ada di dalam dirimu tersembunyi dengan begitu sempurna? Buku yang Jonah baca tidak penting, hanya sebuah buku yang konyol. Buku yang penuh kepalsuan dan berwarna-warni dan tak berbahaya. Buku itu tampaknya salah satu bagian dari sebuah seri, yang juga mencakup buku berjudul “The Short” itu. Di sampulnya terlihat seorang anak laki-laki, dengan kedua lengan terentang, sedang memegang erat kabel-kabel di setiap tangannya, dan seluruh tubuhnya bergemerlapan. ♦ (Diterjemahkan dari cerpen “Little Cold Bird” karya Ben Marcus yang dimuat di laman newyorker.com)