Kolaborasi Serasi dari Asti

Alessandro Vignola dan Neva Epoque berkolaborasi bersama adalam seni lukis kontemporer beraliran exitential mechanics yang harmonis. (Image source: LinkedIn)

Perkenalkan, kami Alessandro Vignola dan Neva Epoque. Kami bersua pertama kali kemudian saling jatuh hati satu dasarwarsa lebih yang lalu. Kami suka psikologi dan juga seni rupa. Sebuah kombinasi passion yang jarang ditemui. 

Kami sepakat untuk menjalani hidup sebagai seniman begitu menuai tanggapan positif dari para penikmat karya kami. Kami pun memilih nama “Delta NA” sebagai satu brand yang menaungi kami berdua dalam berkesenian. Delta dipilih karena ia adalah nama tempat kami berdua bertemu dan kemudian berjumpa lagi beberapa tahun kemudian. Sementara itu, NA adalah inisial gabungan nama depan kami.

Kami pun memutuskan membuka studio seni di pusat kota Asti, yang terletak di Italia bagian utara. Di sini dikenal dengan hamparan pegunungan yang luas dan diselimuti salju saat musim dingin. 

Seperti kami sudah katakan sebelumya, pada mulanya kami belajar psikologi di kampus yang sama.  Saat kuliah tahun 2001 itulah kami bertemu pertama kali. Setelah lulus, kami tak bertemu lagi. Setelah tujuh tahun berselang, kami bertemu kembali di tempat yang sama saat kami terakhir bertemu. Kami  percaya dengan takdir (destiny) dan itulah kenapa kami memilih nama “delta” untuk kami berdua dalam berkesenian.

Asal Muasal Kolaborasi

Dulu kami melukis sendiri-sendiri tetapi kemudian ada kolektor lukisan kami yang ingin agar kami melukis lukisan yang lebih besar. Karena salah satu dari kami tak punya banyak waktu untuk membuat lukisan sebesar itu, kami putuskan mengerjakan lukisan itu bersama-sama.  Lukisan kolaborasi pertama kami tak begitu memuaskan. Dari sana, kami sadar kolaborasi sangat menarik dan sejak itu kami selalu berkolaborasi dalam melukis. Dalam berkolaborasi kami membutuhkan waktu untuk menemukan gaya melukis kami yang baru karena ini berbeda dari melukis sendiri. Gaya ini baru dan lain dari gaya kami saat melukis solo.

Jika Anda perhatikan, ada ciri khas lukisan kolaborasi kami. Kami bereksperimen dengan warna-warna yang merilekskan dan memberi nuansa harmoni tetapi kami tidak merencanakan sehingga proses itu terjadi begitu saja. Prosesnya menarik karena entah kenapa kami mengalir dari warna biru, hijau, pink, merah, seperti gelombang yang berulang. Kami tak tahu alasannya tetapi mungkin karena berkaitan dengan emosi dan perasaan kami. Bisa juga berkaitan dengan irama hidup, dari tidur, beraktivitas hingga tidur kembali. Kami harus cermat memilih warna untuk emosi tertentu. Meski kami tidak membatasi warna-warna yang dipakai, kami tidak bisa menggunakan sejumlah warna seperti kuning dan hitam. Untuk kuning, kami hanya memakai warna emas atau kuning yang pucat. Sementara warna hitam kami hindari karena menandakan ketiadaan cahaya dan merusak harmoni lukisan. Untuk tandatangan kami memilih memakai warna biru tua yang terasa lebih alami.

Setiap karya kami bisa dikatakan sebagai bayi yang kami lahirkan bersama-sama. Sehingga sulit untuk memilih mana yang kami paling sukai tetapi lukisan terbaru yang kami rampungkan biasanya kami lebih sukai dari yang lain karena memiliki koneksi emosional yang lebih erat dengan diri kami.

Tentang Proses Kreatif

Proses kreatif kami sebagai seniman biasanya dimulai dengan banyak menggambar. Baru setelah selesai, kami lanjutkan dengan memberikan cat. Saat memulai, biasanya kami tidak tahu apa yang akan kami hasilkan tetapi kami terus mengerjakannya. Kami bisa merasakan ada banyak yang bisa dikuak dari sana. Seperti ada sebongkah marmer di hadapan kami, dan kami yakin ada patung di dalamnya. Dan yang bisa kami lakukan hanyalah terus memahatnya dengan seksama.

Jika Anda bertanya soal aliran yang kami pakai dalam melukis, kami sulit menjawabnya. Anda bisa menyebutnya abstrak tetapi tidak sepenuhnya demikian. Ada nuansa ekspresionisme, tetapi juga tidak sama persis dengan itu. Awalnya kami sebut “instinctive expressionism” karena kami pakai jari untuk melukis. Kami memilih menyebut ini sebagai “existential mechanics”, yang menjadi dasar bagi kami dalam berkarya kolaborasi. Kami menggabungkan gaya abstrak yang informal agar dalam proses melukis, kami tidak terlalu banyak berpikir sehingga kami bisa memberikan sensasi keterbukaan dan relaksasi pada mereka yang menyaksikan karya lukisan kami. Kami juga mempersilakan khalayak untuk menginterpretasikan karya-karya kami sesuai dengan pemahaman mereka masing-masing.

Pentingnya Chemistry

Hal terpenting ialah memastikan kolaborasi terjadi secara seimbang dan bagaimana kita menemukan orang yang tepat dan membuat kita nyaman untuk diajak berkolaborasi. Prosesnya bisa memakan waktu lama agar bisa tercipta harmoni dan keselarasan.  Bila ada salah satu yang ternyata terlalu dominan, pihak lain harus mengimbanginya dengan lebih berupaya menghadirkan dan membuka diri dalam karya bersama itu.

Dalam proses berkreasi, kami tidak menentukan ukuran kanvas. Saat kami akan bekerja, kami belum tahu apa yang akan keluar, kami merasakan adanya ketertarikan pada ukuran kanvas tertentu. Jadi, ini bukan semata-mata pilihan kami secara sadar. Bisa dikatakan, kanvas itulah yang memilih kami. Jadi, tiap lukisan muncul dengan makna, ukuran, dan warna masing-masing.

Kami memiliki banyak pesan dalam karya kami. Dalam beberapa tahun terakhir kami menerapkan teori existential mechanics, yang menyatakan bahwa seniman memiliki cara menangkap realita di balik dunia yang kasat mata ini. Realita bisa dimaknai sebagai serangkaian lapisan yang saling tumpang tindih, mirip dengan anyaman serat kain yang berpola dan berulang. Kami bermula dari bentuk geometrik dan statik untuk kemudian beralih ke semesta yang terbuat dari bentuk-bentuk geometrik tersebut.  Pesan kami ialah bahwa realita itu mirip mimpi. Dan realita bukan semata-mata hal yang kita bisa tangkap dengan netra tetapi sesuatu yang lebih besar.  Inilah cara kami memadukan kehidupan nyata dan energi spiritual.  Kami mendorong audiens untuk menikmati lukisan dengan cara yang bertahap, tidak sekali saja dan berpuas diri karena di balik lukisan tersembunyi banyak makna yang bisa digali setiap kali menikmatinya. Lukisan juga seperti kehidupan, yang selalu memberikan kejutan jika kita mau membuka pikiran kita terhadap berbagai kemungkinan baru.  

Memadukan Dua Jiwa

Baru-baru ini kami hadir dalam sebuah workshop dan pameran. Dalam workshop melukis kolaborasi selama dua hari yang digelar di Istituto Italiano di Cultura, Jakarta, lansekap pegunungan khas kota asal kami – Asti – dijadikan sebagai inspirasi.

Para peserta kami suguhi foto pegunungan di Asti untuk kemudian menuangkannya dalam gaya gambar masing-masing di atas kertas. Bedanya dari workshop melukis lainnya, tiap peserta menggambar di dua lembar kertas berbeda sehingga nantinya bisa dipertukarkan dengan karya peserta lain.

Begitu waktu menggambar solo usai, para peserta dipersilakan memilih rekan kolaborasi mereka dengan syarat merasakan kesesuaian dengan pribadi masing-masing dan tidak ada keterpaksaan. Dari sinilah, tiap peserta mulai bekerjasama dengan peserta lain sebagai mitra untuk merampungkan sebuah lukisan menjadi satu karya utuh yang harmonis.

Seorang peserta workshop, Michael, mengaku lokakarya ini memberikan pengalaman dalam kolaborasi penciptaan karya. “Prosesnya terstruktur dengan menggambar dulu jadi tiap peserta berkesempatan menjadi diri sendiri dulu. Saat kolaborasi, peserta dipertemukan dengan gaya peserta lain untuk kemudian mencari jalan tengah. Baru gambar dikerjakan dengan pewarnaan.” Demikian ia menjelaskan.

Kami sendiri gembira dengan hasil kolaborasi peserta, yang relatif seimbang, tidak ada yang terlalu mendominasi. Yang terpenting ialah mereka mampu mengekspresikan emosi dalam diri mereka dalam karya. Dengan demikian, mereka yang menyaksikan lukisan itu akan mendapatkan sensasi tertentu.” (*)

Mencari Presiden Boneka (1)

 

Selamat datang Presiden Trump! (Foto: Wikimedia Commons)

Hari ini Tom tampak gelisah dan bolak-balik memeriksa gawai di tangannya. Laptopnya terbuka. Waktu sudah lewat tengah malam. Udara dingin musim gugur menusuk tetapi ia tak kunjung terlelap.

Ia sibuk bercakap dengan saya yang berada di Jakarta. Kami mulai bersahabat di dunia maya sejak saya kebetulan menemukan blognya suatu hari di tahun 2009 saat saya mulai menulis blog ini. Ia poliglot. Ia menulis dalam Bahasa Indonesia, Inggris dan Prancis.

Tom secara usia masuk ke golongan milenial. Ia baru saja duduk di semester terakhir di sebuah kampus di negara bagian Kentucky. Dan untuk membiayai kuliahnya ia bekerja juga di sebuah gudang milik Amazon, bisnis besar milik Jeff Bezos.

Bagi Tom, ini bukan saatnya untuk bergembira. Ia baru saja mengunggah fotonya sehabis memberikan suara di sana. Tom memang sudah menjadi warga negara AS meskipun dulu ia lahir dan besar di Indonesia. Namun, Tom masih merasakan koneksi dengan Indonesia juga. Maklum, Indonesia merupakan bagian dari kenangan masa kecilnya. Ia masih beberapa kali mengunggah foto-fotonya bahkan seekor kucing yang ia bawa dari Indonesia baru saja mati beberapa pekan lalu.

Ini bukan kali pertama bagi Tom memberikan suara dalam pemilihan presiden. Ia sudah pernah berpartisipasi juga dalam Pilpres 2008. “Saya memilih Obama,” ujarnya. Entah ia bangga atau tidak. Anda akan tahu nanti.

Tom tidak suka dengan dua kandidat yang dianggap paling perkasa: Hillary Clinton dan Donald Trump. Baginya, keduanya sama-sama parahnya. Ia lebih menyukai Jill Stein, seorang kandidat perempuan yang sudah jelas-jelas akan kalah karena kurang populer. Mengenai alasannya memilih Stein, Tom menjelaskan pada saya,”Saya tidak ingin bermusuhan dengan orang Meksiko atau kaum muslim. (saya memilihnya -pen) karena Stein memiliki rekam jejak yang bersih.”

Tom tahu Stein akan kalah juga akhirnya jadi ia tidak banyak menaruh harapan. Ia cuma memastikan hak suaranya tidak jatuh ke kedua kandidat yang ia benci. Stein, menurutnya, tidak menerima dana mencurigakan yang mencurigakan dari Arab Saudi dan Inggris. Sebagai generasi milenial, ia tidak serta merta berpendapat. Ia punya bukti meski itu cuma sebuah tautan tulisan di dunia maya.

“Kau pikir siapa yang akan menang?” tanya saya pada Tom.

“Trump yang akan menang. Kau akan terkejut,” tukasnya.

Saya menjawab dengan ungkapan keterkejutan. Tetapi kemudian mulai bisa menerima kenyataan bahwa politik mirip dengan pertandingan sepakbola. Semua kemungkinan di atas kertas, semua prediksi, semua analisis dan komentar dari para komentator kenamaan dan berpengalaman bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan hasil pemungutan suara tahap akhir.

Kebencian terhadap Nyonya Clinton tidak bisa dianggap remeh sebetulnya. Tetapi di lingkungan sekitar Tom, sentiment anti-Clinton lebih kental dibandingkan rasa kontra terhadap Trump. Untuk memberikan bukti, ia mencoba meyakinkan saya bahwa di media orang hanya mengetahui bahwa orang-orang Latin membenci Trump. “Tetapi saya tahu beberapa orang Latin yang memilih Trump. Tidak semua orang membenci Trump.”

Saya tidak habis pikir karena setahu saya Trump sudah pernah menghina kelompok imigran Latin di AS. Jadi, kurang masuk akal kalau sudah dihina masih juga memilih si penghina. Namun, itulah yang terjadi. Di sini, logika kita dijungkirbalikkan dengan fakta. Lalu kita bisa apa dan mau apa? “Kau harus tinggal di sini dulu untuk bisa memahami semua ini,” tegasnya. Ia benar. Saya pun menyimak lagi.

Bagaimana dengan Indonesia jika Trump menjadi pucuk pimpinan AS? Tom tidak menjawab langsung pertanyaan saya. Ia malah memberikan penjelasan panjang lebar soal pandangannya tentang kondisi hidup para politisi elit di negerinya. Kata Tom, para politisi hidup nyaman di ibukota. Mereka ini misalnya keluarga Obama, Clinton dan Bush.

Kemudian mereka menerima donasi berlimpah dari berbagai perusahaan multinasional dan negara asing. “Tetapi mereka mengklaim berjuang demi kepentingan rakyat dan di saat yang sama juga menerima kucuran dana-dana tadi,” tuturnya. Jika ia di hadapan saya, saya bisa bayangkan mukanya sendu, kecewa. Obama, yang ia elu-elukan dulu, ternyata juga menjadi bagian dari grup elit yang bergelimang harta di tengah kemelaratan rakyatnya. Sebagian besar warga AS hanya mampu menyumbang 100 sampai 1000 dollar untuk upaya kampanye mereka sehingga kecil kemungkinan mengandalkan pemasukan dari sumbangan saja.

Tom sebenarnya kecewa. Kandidat jagoannya terjegal di langkahnya menuju putaran final ini. Bernie Sanders sudah ia gadang-gadangkan sebab ia sangat yakin politisi gaek itu lebih bersih dari politisi-politisi elit tadi. Inilah kenapa saya memilihnya, tukasnya.

Dan menurutnya, Trump juga bagian dari lingkaran elit politik tadi. Kekayaan Trump didapat dari warisan orang tuanya dan bisnisnya. Jadi dalam aspek ini, Trump memiliki keunggulan.

Tom mendukung kampanye #NeverHillary dan tidak pernah berubah pikiran. Ia juga tidak ingin menghakimi pilihan orang lain. Bahkan saat saya tanya pilihan orang tuanya, ia tidak menjawab secara jelas. “Mereka bisa memilih kandidat manapun yang mereka anggap paling mewakili kepentingan mereka.” Simpulan saya, ia tidak ingin tahu pilihan orang tuanya juga. Dan orang tuanya juga tidak merasa harus tahu apalagi turut campur dengan preferensi politik anaknya. Ini berbeda dari keluarga Indonesia. Saat Pilpres 2014 lalu, orang tua saya beberapa kali menanyakan kandidat pilihan saya. Saya sendiri merasa kurang nyaman dengan pertanyaan yang menyelidik semacam itu. Bagi saya, itu bagian dari privasi saya sebagai seorang warga negara, tidak peduli mereka orang tua saya atau bukan. Tetapi memang untuk isu politik, saya berusaha untuk netral dan tidak mengumbar ke siapa saja. Karena saya juga tidak mau diintervensi atau dikomentari atau diajak berdebat soal pilihan saya. Bagi saya, sekali suka, apapun alasannya akan tetap suka. Biasanya setelah diajak berdebat juga orang tidak akan berubah pikiran dan anehnya makin mantap pilihannya. Jadi bagi saya sendiri, tidak ada faedahnya berdebat dengan orang lain dan menimbulkan kegaduhan di sekitar.

Saya ingin tahu bagaimana perspektifnya sebagai bagian kaum milenial di AS. “Setahumu, kandidat manakah yang dipilih banyak generasi milenial?”

Ia agak ragu tetapi menaksir bahwa kurang dari separuhnya memilih Clinton. Kaum milenial membenci Nyonya Clinton sebab menurut Tom, mereka tidak menghendaki seorang kandidat yang sudah memiliki riwayat korup. Ini juga rupanya alasan mengapa seorang teman saya di AS yang pernah masuk dan naik kereta bawah tanah di Washington D. C. merasa terintimidasi oleh para pemilih milenial perempuan yang melihatnya mengenakan kaos pendukung Hillary Clinton.

Dari situ, saya berpendapat warga AS menghendaki perubahan. Dan karena perubahan drastis harus dilakukan oleh orang di luar lingkaran elit kekuasaan, hanya Trump satu-satunya kandidat yang memenuhi persyaratan itu dan juga memiliki kekuatan dan dukungan besar untuk terus maju. Mereka hanya ingin perubahan. Bukan masalah apakah perubahan itu baik atau buruk, yang penting ada perubahan dulu. Dan bersama perubahan, akan ada ketidakpastian. Inilah yang ditakutkan banyak pihak.

Tom sendiri menganggap kecenderungan AS memilih Trump sebagai sebuah fenomena ayunan pendulum. “Jika Anda ingin pendulum itu bergoyang jauh ke kiri, Anda harus melemparnya sejauh mungkin ke kanan dulu.”

Sebelumnya menjadi pendukung Obama, Tom menyatakan jagoannya itu juga sudah tertular korup oleh keluarga Clinton. Obama menurut kabar akan membeli sebuah rumah senilai 6 juta dollar AS pasca pensiun. Padahal jika kita menilik gaji tahunannya sebagai presiden AS yang ‘cuma’ 400 ribu dollar, rasanya rumah sebesar itu terlalu mewah. “Gajinya selama 8 tahun sebagai presiden hanya 3,2 juta dollar,” Tom menghitung serius. Jadi, patutlah dipertanyakan sumber dana sebesar itu. “Artinya ada 2,8 juta dollar yang muncul tiba-tiba dalam rekening Obama,” tandas Tom lagi.

“Ini menjadi peringatan bagi Amerika!” cetus Tom.

“Bagi seluruh dunia,” timpal saya. Saya pun tertular kekhawatirannya karena sudah pasti dampak Pilpres AS ini akan menjalar ke seluruh dunia. Apalagi Indonesia, sebagai salah satu pion AS.

Di mata Tom, Obama cuma versi ‘ringan’ dari keluarga Clinton. Sebagai politisi, Hillary Clinton mengantongi pemasukan 20 juta dollar per tahun. Sangat besar untuk ukuran standar penghidupan politisi di sana. “Rata-rata politisi AS cuma berpendapatan antara 200 sampai 400 ribu dollar per tahun.”

Tom memberikan saya sebuah tautan di laman New York Times, yang isinya daftar sumbangan ke Yayasan Clinton. Di dalamnya ada juga keterangan dari ajudan Clinton.

Meski awalnya dicalonkan Partai Republik, anehnya Trump kemudian dibenci oleh para politisi dari sana. Mayoritas petinggi Republik menghendaki Cruz, Jeb Bush, atau Mitt Romney saja yang melaju ke kursi kepresidenan.

Tom menjelaskan lebih detail mengapa kemenangan Trump lebih baik daripada kemenangan Clinton. “Jadi dengan menangnya Trump dan Partai Republik, kami akan bisa lebih banyak melakukan check and balance tapi jika Clinton yang menang, Partai Demokrat akan tunduk begitu mudahnya di bawah komando Clinton. Apalagi jika terpilih ia akan jadi presiden perempuan pertama AS. Itu saja sudah membuatnya kekuasaannya amat kuat. Ia bisa saja menjadi diktator,” jelasnya panjang lebar.

Tom ada benarnya. Karena Trump memiliki kekuasaan dan kharisma serta pengalaman politik yang jauh lebih sedikit daripada Nyonya Clinton yang bahkan sejak suaminya menjabat sudah banyak makan asam garam perpolitikan AS.

Untuk memastikan, saya bertanya lagi, “Jadi, itu artinya warga AS lebih ingin mencari kandidat yang lebih mudah dikendalikan?”

“Bisa dikatakan demikian,” Tom mengkonfirmasi.

Banyak orang terkecoh dengan tidak banyaknya komentar Clinton soal kaum muslim. Justru Trump yang lebih dikenal dengan sikap anti-muslimnya padahal kata Tom, sikap dan pendekatan Clinton terhadap muslim tidak kalah mengerikannya dan itu bukan sekadar wacana tetapi sudah menjadi pengetahuan umum. Untuk mendukung opininya, Tom lagi-lagi melayangkan pada saya sebuah tautan dari sebuah laman berita Israel. Ringkasnya, isinya ialah Clinton sudah menjalin hubungan erat dengan Israel dan menolak keberadaan negara merdeka Palestina serta berjanji mendanai organisasi IDF (Israeli Defense Force). Logikanya, jika Clinton menggelontorkan lebih banyak dana ke IDF, akan ada lebih banyak warga Palestina tewas sehingga jatuhnya wilayah Palestina akan makin mungkin dan nyata.

Sementara itu, Trump memiliki sikap yang justru lebih netral daripada Clinton dalam hal konflik Israel versus Palestina. Dari laman hareetz.com, Tom mengutip demikian: “And despite his careful concessions to pro-Israel rhetoric at AIPAC, he curiously and perhaps somewhat defiantly hasn’t stopped championing his neutrality when it comes to the Israeli-Palestinian conflict.”

Dalam sebuah video kampanyenya, Trump bahkan menyatakan secara gamblang bahwa dirinya akan sangat senang jika bisa menyaksikan tercapainya kesepakatan antara kedua kelompok yang terus bertikai itu. “Saya ingin tetap senetral mungkin karena jika tanpa netralitas, pihak lain juga tidak akan berbuat yang sama. Namun, ingat Israel, saya mencintaimu.” (bersambung)

 

Setengah Jam Bersama Devi Purnaningsih

Pertama kalinya sore ini saya menunggangi ojek kuda besi daring dengan joki yang memiliki uterus. Maaf, bukannya saya vulgar tetapi begitulah istilahnya dalam ilmu hayat bab sistem reproduksi yang saya pelajari sepanjang sekolah menengah.

Sebelumnya saya memang pernah bersua dengan pengendara ojek aplikasi yang berkelamin perempuan. Saat itu di sebuah ruas jalan di Jakarta Utara dan penumpangnya perempuan. Lalu saya pikir memang ada ojek perempuan yang khusus melayani penumpang perempuan.

Tetapi saya salah. Ojek perempuan tak sungkan mengantarkan penumpang yang berkelenjar prostat juga.

Tulisan “Devi Purnaningsih”, begitu nama pengendara ojek saya sore tadi, muncul di layar ponsel saya. Saya pikir saya salah baca. Mungkin itu Devi Purnawira, Devis Purnaningsyah, atau Devi Purnato. Akhiran -sih membuat saya bimbang. Benarkah ini perempuan?

Sejurus sebuah panggilan masuk. Halo, saya sapa. Suara seorang wanita mengalun dari mikrofon ponsel. Iya, ia memang seorang pemilik tuba falopi.

Apa yang membuat Devi tergerak turun mengojek ke jalan? Klise memang. Apalagi alasannya kalau bukan perihal finansial. Dan dalam kasus Devi, itu yang jadi alasan. Saya tanya pekerjaannya sebelumnya. “Jualan pakaian, mas. Susah muterin duitnya. Ngutangin malah macet tagihannya,” keluhnya. Tangannya yang bersarung tangan coklat memegang erat stang sepeda motor itu. Menderu seru. Seolah menyalurkan kegeramannya pada para penunggak utang.

Sebagai tukang ojek daring, Devi baru seumur jagung. Kariernya baru dijalani dua bulan. Meski demikian, itu sudah lumayan, pikir saya. Berkendara di jalanan ibukota sungguh bukan perkara gampang. Saya saja 5 tahun di sini tak kunjung hapal nama-nama jalannya secara sempurna.

Devi mengaku masih harus banyak belajar. Meski terhitung pemula, “prestasinya” tidak bisa disepelekan. Sebagian “prestasi” Devi sebagai pengendara Gojek ialah membuat seorang penumpang pria muda pusing tujuh keliling di suatu malam pukul 11 di kawasan Mega Kuningan. Kok muter di sini melulu ya, tanyanya pasrah. Area yang ia kuasai ialah Jakarta Utara, dan dekat Tangerang. Jadi kalau di Jaksel, saya tak banyak tahu jalan, aku Devi.

Sembari menikmati percakapan, sesekali saya amati kakinya yang tak begitu jenjang menapaki tepian trotoar. Caranya menapak begitu hati-hati. Metode manuvernya saat menyalip kendaraan lain juga lebih halus. Tarikan gasnya lebih terkendali. Khas wanita pokoknya. Jauh dari kesan ugal-ugalan.

“Bisa pilih penumpang nggak, bu?”tanya saya karena ingin tahu. Saya tidak bisa bayangkan sosok semungil itu mengangkut penumpang pria berbadan besar. Jauh lebih besar dari saya. Devi mengaku belum pernah tetapi ia sudah dua kali angkut penumpang wanita berbodi ekstra. Seorang siswa SMA yang gemuk lalu satu lagi entah siapa. Saya tak bisa mendesaknya mengulangi lagi. Takut mengganggu konsentrasi mengemudi. Jadi saya simpulkan ia cukup beruntung mendapatkan saya sebagai penumpang.

“Bukan masalah berat atau tidak. Kadang ada penumpang kurus yang rasanya lebih berat karena badannya tegang, seperti takut jatuh. Yang berat badannya lebih kalau rileks saja malah terasa relatif lebih ringan”, ucapnya.

“Prestasi” Devi lainnya ialah menyusuri jalan layang Tanah Abang sampai Kota Kasablanka dengan penuh percaya diri. Maklumlah ia belum tahu jalan gantung itu khusus buat mobil dan truk. Begitu turun ia dipanggil seorang pengemudi Gojek lainnya. “Kamu dari mana? Gila kamu ya. Lewat atas kan gak boleh!”hardik kolega prianya. Habisnya kan tidak tahu, jawabnya lalu terkekeh. Mulutnya terkatup begitu rekannya berceloteh,”Jangan lewat situ apalagi malem malem. Ada orang hamil mati bunuh diri di situ. Tau!” Saya yang tahu kisahnya mencoba meluruskan. Sebenarnya bukan bunuh diri tetapi wanita hamil itu naas karena sepeda motor yang ia bonceng dengan sang suami di suatu malam melawan arah dan nekat naik ke jalan layang. Panik akibat kejaran polisi yang siap menilang, mereka melaju terus meski sudah diklakson banyak mobol. Akibatnya sepeda motor itu kehilangan keseimbangan dan jatuhlah di depan putaran Kuningan City. Tragis dan mengiris.

Perjalanan kami berakhir paripurna di depan pintu kos saya. Sekelebat ibu kos muncul dan masuk lagi. Lalu bertanya dalam bisik:” Ojeknya perempuan ya?” Saya mengangguk lalu berucap santai,”Kenapa mau juga (ngojek kayak dia daripada bosen di rumah melulu untuk mencuci pakaian, menyeterika dan memasak)?” Saya lupa. Ia saban pagi mengandalkan suami dan anaknya untuk ke pasar. Ia tak bisa menunggangi kuda besi apapun. Lain dari Devi yang sudah melesat pergi menjemput penumpang berikutnya.

Rudi Fernandez-Cardenas: Follow Something Bigger than You!

Coming from the great jungle of Amazon, Rudi Fernandez-Cardenas never gave living as a singer a thought but he made it. (Image credit: Rudi)
Coming from the great jungle of Amazon, Rudi Fernandez-Cardenas never gave living as a singer a thought but he made it. (Image credit: Rudi)

Almost everyone of us can sing but only very few can sing exceptionally well. One of these very few people who can sing like nobody can is Rudi Fernandez-Cardenas. Coming from Peru, the gentleman was sitting down and talked with me in one fine afternoon after a brief photo shot session. It was a few hours prior to “Amistad” (meaning “friendship”), a classical music show in which he and a female Indonesian classical singer would perform in tandem.

The bariton singer looked relaxed. Not a single symptom of stage freight was shown by his facial expression. I bet it was thanks to his blend of pure talent and relentless practice for so many years. My hunch proved right. As a well-trained professional singer, Rudi managed to show the audience his caliber that night.

He enjoys being considered younger than he actually is. Who doesn’t? As I mentioned “twenty five”, he smiled at me and kindly corrected me:”thirty two.” I gasped and a second later a laughter broke the awkward silence. “We’re peers!” I screamed with joy. He mentioned we both are under the same Chinese horoscope: swine. I had no slightest idea that Peruvians know Chinese horoscope, too. So our interview – just like the title of his performance that very night – was not really like an interview, which is supposed to be formal and succinct. I felt the warmth of friendship as I was conversing with him. And to forge our amistad, he offered me to connect on Facebook. I agreed.

Having sung since 10 years old, Rudi started singing in public 2 years later. “So I have been singing for 20 years. In the meantime, I studied a lot with teachers and in conservatoires,” said the dark-haired singer.

Before Rudi made mention of his birth place, I was imagining he was born in the capital of Peru, Lima, where the access to education was relatively easy. But then he explained he was born in the middle of Amazon Jungle of Peru. I was floored. His success story was quite random as it may seem; from the tropical forest to the place he lives in currently, Paris.

Rudi thought he himself found the talent. “No one really pushed me to do this (singing). I did it by myself but they (his family) always supported me,” he remarked. He was lucky that he launched his career from early on as it was quite common for most parents in Peru to push their children to make a living as a doctor or lawyer. “Anything but a musician. Singing is okay, as long as it is a hobby, not a profession,” Rudi murmured. Peru is evidently not alone.

As a singer, Rudi who now is a voice coach with several students feels the urge to pay attention to his instrument. “Even if I’m having fun, I’m trying not to do it excessively as it may harm my body and voice.”

He admitted he loved nature exploration. “I like nature, of course.” Yet, I’m sure he likes singing than nature. Rudi loved botany and understood a little bit of it. He showed me his cracked-screened iPhone and mentioned about a ravishing plant he recently found in Jakarta. In Iquitos, his hometown, it’s called “patikina”.

As he landed on Jakarta, Rudi was reminded of his motherland. Both places have tropical climate. Hot and humid all year long, he added. “But we (Lima) don’t have huge buildings like you (Jakarta). We only have one 10-story building,” he elaborated in a modest tone. I had no chance to tell him those skyscrapers cost us a great deal, environmentally speaking. The groundwater in Jakarta has been severely drained from perpetual and massive suck by millions of households and thousands of grand buildings he admired. That said, I guessed Lima is much more fortunate to have and still preserve the pristine environment.

Since a decade ago, Rudi had stayed in Paris. The last-born son who have two elder brothers seems to enjoy his staying there after leaving Lima (2000-2004). In Paris, he studied music at a conservatoire from 2005 to 2009. “It was the biggest music school in France, Conservatoire National Superiur de Musique et de Danse de Paris.

Claiming he isn’t that original, Rudi admitted Maria Callas (1923-1977) was his heaviest influencer. “Callas was bigger than opera,” he affirmed with utmost enthusiasm. The Greek-descent woman was an American-born operatic, coloratura soprano whose bel canto style of singing was particularly suited to 19th-century Italian opera. “Coloratura” itself can be roughly defined as “elaborate ornamentation of a vocal melody, in operatic singing in particular.” And “bel canto” refers to a lyrical style of operatic singing using a full, rich, broad tone and smooth phrasing. With his brimming eyes, Rudi added,”To me, she was a genius.”

Rudi’s long and successful singing career thus far apparently has no obvious patterns. He is the one and only singer in the family; whereas, his father makes a living by building things. He is an engineer. Her mother is a full-time housewife, who according to Rudi “never sang but had a very good pair of ears”.

As to why he loves singing, Rudi failed to explain logically. “There’re things you can’t explain. I even didn’t realize it (his love of singing). I just do it, following something bigger than me,” he uttered.

To be successful, Rudi revealed his ‘secret’. You need to be in the state of work 24 hours a day and practically live with your singing job “inside”, he told me. He likened his dear voice cord to muscles of a bodybuilder. “You cannot spend 10 hours a day working out at a gym. Only 1-2 hours a day. You cannot force it too much,” Rudi spoke, snapping his fingers to give emphasis. And because it’s still work no matter what, Rudi gives himself days-off. He learned it the hard way after singing without taking proper rest. As a solo singer, sometimes he didn’t work or perform for a long time because in Europe, in times of crisis like now, there’s less work for people and this fact affects musicians as well. Sometimes, however, all the work comes together at the same time. So it makes sense that singers there don’t want to say no when offered a job. At last, Rudi learned when to say no and started taking care of his instrument.

Rudi applies discipline to stay fit to sing. He sleeps 8 hours every day and muts not consume hot spicy foods right before performance.

As a singer, he knows how to deal with critics and dissenting audiences. “If they don’t like it, what can you do? If it doesn’t work, it’s okay.”