Begini Cara Media-media Ini Bisa Bertahan dan Hasilkan Laba Tanpa Taktik Clickbait

KITA SEMUA TAHU apa itu “clickbait”. Judul berita (konten) yang menggoda untuk diklik karena membangkitkan emosi dan perasaan tertentu dalam diri pembacanya. Jangankan orang awam yang berpendidikan rata-rata, mereka yang tergolong intelektual dan berpemikiran dewasa dan matang saja kadang terperosok ke jebakan satu ini. Kenapa? Karena clickbait menyasar ke elemen emosi manusia, bukan akal. Mereka berupaya memuaskan emosi-emosi yang tak tersalurkan dan hasrat itu cuma bisa disalurkan hanya dengan satu tap (di layar ponsel) atau klik (di laptop atau desktop).

Saat ini clickbait sudah menjadi taktik yang lumrah dan murah(an). Tinggal mengutak-atik judul menjadi bombastis dan sedikit menipu, pembaca pasti gatal mengklik.

Tapi kita tahu bahwa cara semacam itu akan ada akhir masa efektifnya. Orang makin terlatih untuk mengenali judul-judul yang menjebak. Dan meskipun sebagian pembaca memang tidak jera jatuh di ‘perangkap’ yang sama, sebagian lainnya sudah mengenali betul judul-judul konten tipe clickbait dan meninggalkannya tanpa ingin sekalipun membaca.

Saya sendiri sebagai seorang jurnalis di era media baru sekarang ini makin jengah juga dengan kondisi jurnalisme yang makin semrawut. Siapa saja bisa mempublikasikan pendapat dan pemikiran mereka di internet dan tidak peduli apakah itu memang layak dipublukasikan atau tidak, pokoknya ada yang baca dan mengklik lalu ada yang mau beriklan, sudah baguslah.

Tanggung jawab terhadap kemaslahatan masyarakat yang membaca seolah dikesampingkan, kalau tidak bisa dikatakan diabaikan sama sekali.

Dan yang paling mencemaskan, perusahaan media lama yang sejak lama sudah punya nama besar dan reputasi baik di mata masyarakat lama-lama juga larut ke dalam pusaran tren clickbait ini.

Saya pernah mendengarkan sekelompok jurnalis dari perusahaan media tertentu yang mengeluhkan rekan-rekan mereka di segmen daring (alias para wartawan online) yang secara bebas memanipulasi judul berita sedemikian rupa tanpa mempertimbangkan faktor lain kecuali hitungan ditampilkannya sebuah laman web atau pageviews. Mereka ini jurnalis-jurnalis dari era media lama yang menyayangkan ‘pengkhianatan’ yang dilakukan rekan-rekan mereka di media baru.

Apakah clickbait itu salah?

Tentu tidak serta merta salah. Jurnalisme bukan bidang yang tidak membutuhkan modal besar (apalagi jika ingin melakukannya dalam koridor jurnalisme yang sebenarnya). Produk jurnalisme yang berkualitas bagus dihasilkan dengan biaya yang tinggi, waktu yang relatif lama dan melibatkan banyak pihak (tidak cuma kutip satu sumber lalu klik ‘publish’). Bisnis media juga bukan jenis bisnis yang bisa dilakukan sembarang orang. Perlu keterampilan dan pengalaman dalam melakukannya.

Hanya saja masalahnya ialah cara untuk meraup untung agar bisa bertahan hidup itulah yang melenceng dari hakikat jurnalisme semula.

Judul-judul clickbait sudah semestinya tidak menjadi andalan utama media-media saat ini untuk menarik pengunjung dan melejitkan hitungan pageviews.

Berikut adalah beberapa media yang terbukti sukses memanfaatkan strategi lain yang lebih kreatif dan menarik daripada sekadar memperbanyak pageviews melalui judul-judul yang menyesatkan dan isi/ konten yang kurang edukatif, informatif dan terkesan asal.

“Le Un” memang nomor wahid dalam hal menyajikan informasi dalam bentuk dan desain cetak yang menarik dan unik.

LE UN

Perusahaan media bernama “Le Un” (Satu) ini mengandalkan cita rasa seni untuk mengemas kontennya agar menarik pembaca. Media ini menggabungkan seniman dengan penulis-penulis. Le Un yang terbit mingguan ini berbentuk mirip sebuah peta raksasa yang dilipat dengan apik, memakai kertas yang mengkilap dan font yang rapi dan elegan. Konon format dan bentuk itu didapat dari poster propaganda yang turut membentuk sejarah Prancis modern seperti sekarang. Dan teks di dalamnya tidak mendominasi. Justru konten teks disajikan secara harmonis dengan grafis dan ilustrasi serta foto yang warna-warni sehingga tidak menjemukan pembaca. Ada komik, cerpen, kolom dan konten lain yang biasa ada dalam surat kabar atau majalah.

SUDDEUTSCHE ZEITUNG MAGAZIN

Majalah dari Jerman ini lain dari majalah lazimnya. Apa pasal? Sampul-sampulnya dihiasi dengan karya seni abstrak yang menggelitik keingintahuan calon pembelinya. Hal ini diakui sebagai kelebihan yang menjual bagi majalah tersebut karena banyak media mengandalkan foto dan ilustrasi yang terlalu gamblang untuk dipahami di sampul depan.  

Sebagai konsekuensinya, Suddeutsche Zeitung Magazin tidak bisa sembarangan memilih gambar sampul. Berbagai pilihan ditentukan secara cermat oleh seorang direktur seni yang berpengalaman. Dan penyunting kepala (editor in-chief) harus bekerja secara selaras dengan direktur seni tadi agar tercipta sampul yang memukau calon pembeli.

Monocle, majalah yang kemudian berkembang menjadi bisnis media yang komplit.

MONOCLE

Tahun 2007, majalah Monocle diluncurkan dengan konten yang global. Kini dengan jumlah pembaca yang makin besar, mereka mengandalkan komunitasnya sebagai daya tarik utama. Dengan kata lain, para pembaca diperlakukan secara istimewa dengan memberikan mereka banyak kesempatan untuk menghadiri event khusus pelanggan majalah tersebut saja. Layanan yang prima juga menggenjot daya saing di tengah persaingan yang tiada ampun di industri media.

Konten-konten di situs web dan majalahnya sama sekali tidak dibumbui headline yang terlalu ‘merangsang’. Mereka tetap berpegang teguh pada prinsip jurnalisme yang berimbang dan gaya penuturan yang bercerita (storytelling).

Tidak cuma web dan majalah, Monocle juga menyediakan kanal komunikasi radio, Monocle 24, yang disiarkan dari kantor pusat mereka di Midori House, London.

Tidak bisa dipungkiri Monocle memang menyasar segmen terbatas, yakni mereka yang tidak sungkan menghabiskan sejumlah uang untuk menikmati hidup dengan kualitas yang prima. (foto: Monocle/*)

Investigative Journalism as the Future of Print Media

QUALITY JOURNALISM HAS not ended. It still survives despite the collapse of print media. Churnalists – pseudojournalists who sit and type like crazy in their comfortable cubicles days and nights until their backs ache and eyes redden- certainly always win the war of pageviews but it is journalists who work hard out there in field, in reality, to gather materials, write reports from scratch, and bear the risks of getting injured or harmed in the process.

When hoax and biased news run rampant like nowadays both in Indonesia and the world, pessimissm reigns, questioning whether our press organizations will eventually perish or survive the hardship.

I myself srongly believe that quality journalism will be still around after I met with Amarzan Loebis, an Indonesia senior journalist who opened up from A to Z about Investigative Journalism (from now on abbreviated as IJ).

Linguistically, the phrase IJ was derived from a Latin phrase ‘diurna vestigium’, meaning that it’s a sort of journalism which tracks down trails. IJ is notorius for its chaos-making nature. It’s meant to wake people up and open their eyes after reading.

IJ is obviously not intended for every newcomer. One must be patiently working his or her way up to the ladder. Bit by bit. “Experience is everything,” he emphasized. It therefore doesn’t matter much that one is from an outstanding academic background or certified as a journalist in an official journalism institution. What matters most is whether one has been doing the work for quite a long time well or not. Because according to Amran, in journalism seniority is determined by means of depth and maturity. “It’s not about one’s tenure in a certain position or post,” added Loebis. It’s definitely a hands-on kind of profession.

Some think Investigative Reporting and In-depth Reporting are two same things. But in fact, if we care to observe more, the two are dissimilar. Loebis pointed out this confusing misconception does exist. “In-depth Reporting springs out of curiosity,” he explained. A journalist writes an in-depth report in order to describe something, an important issue for public to learn and criticize.

Meanwhile, Investigative Reporting starts from suspicion. A journalist works with an investigative reporting method to expose something hidden, an issue that is not obvious or unknown by public but very crucial to the betterment of the society and state. Its objective is greater than financial gains and fame.

In the US, IJ has emerged since 1902 amidst social changes. It proved able to help shape the social structure. Businesswise, it also helped the media tycoons make a lot of profits.

In 1920s, investigative journalism associations mushroomed in the US.The trend was even achieving a new height after a number investigative reports were rewritten and published as literary works/ novels. Repackaging investigative journalism works was a tactic to make it timeless and more consumable to wider audiences, crossing geographical boundaries.

Though it is possible to launch an investigative endeavor on one’s own, naturally IJ is conducted in teams. This holds true especially when journalists are after an issue at a grand scale or involving prominent figures and their cronies. An IJ team consists of not only seasoned journalists but also newcomers as their faces are much less recognizable to the public (because senior journalists are presumably have appeared so often in public, making foes recognize them more easily).

IJ may always be oriented to the West (read: the US and UK) but IJ in the East (Asia) has actually made its appearance. The thing is its development was not well documented, making it less probable to track down.

Loebis showed his optimism that even under the amounting threat of online news outlets, IJ never fades away and has its own place. It is somehow irreplacable.

He sees opportunities for IJ in the epoch of internet. “IJ can be a golden opportunity for old-school media organizations to outlive the public forecast [that they would die sooner or later],” he underscored.

I understand that IJ is so hard to execute that only very few journalists willingly and indefatigably dedicate themselves to the pursuit of truth the hard way like this.

He likened IJ to ‘jihad’ or struggle. “IJ is a fighting journalism, which is born out of the spirit of resisting,” he defined. That said, those who work in this field have to be prepared for any possible risks.

“But thanks to the heavy and serious nature of IJ, most modern press accolades are intended for IJ works,” Loebis spoke.

It is no exaggeration, I suppose, when the jovial journalist concluded his talk by stating: “The future of Indonesia’s print media is IJ.” (*/)

The Real Challenge Muslims are Facing Today

IT’S NOT EASY to be living as a moslem these days. Especially when one lives in the West, where the religion is prejudiced negatively by the public and media. It’s been always under scrutinity and criticism. In the recent years the intensity is greater than before.

A moslem Indonesian young man experienced this greater intensity, too, while he stayed abroad. As a young hopeful scholar, let’s call him Hasan, his future is quite promising. He has a strong background in worldly education, helping him make his way to one of the German top universities. But along with it, he has a baggage of thick religious familial setting since his very young age. He has been exposed to Islamic values, norms and practices on daily basis as his father, a highly influential leader and figure in the patriarchal family system of Indonesia, teaches everyone in the family the significance and love of Islam. In brief, the religious dedication runs in the family members’ vein.

To cut the story short, one day Hasan discovered a wallet in a train he was taking somewhere in Germany. With all his father’s internalized teaching of the obligation of doing good unto others in life, he was so ready to find the owner out and give it back to whoever that was. As he opened the wallet to find who this owner was, Hasan read a man’s identity card on which he could learn the address and contact number. He contacted this man called Philip. They agreed to meet. Philip was obviously glad to learn his wallet would be returned. And Hasan was equally glad to be of help. But instead of returning the wallet as it was, Hasan did a little bit further. He had an idea of wrapping it carefully as if it were a gift from him to Philip. To add to the ‘gift’, Hasan had sweets to accompany the wallet.

Upon seeing Hasan, Philip was panic-stricken. He took several steps back after Hasan told the man that he was the person saving his belonging.

Philip could not believe his eyes. Hasan with his Asian looks and a white cap typically worn by muslim men did not fit Philip’s image of a kind personality.

“No, it can’t be possible!” Philip shrieked. He shook Hasan’s shoulders out of disbelief. Hasan himself did not move an inch as he felt there was no need to. He believed Philip would not do him any harm.

Philip is one of million Europeans who put so much trust upon the Western media coverage, which is to some extent more against and less in favor of muslims.

In Europe nowadays especially post Arab Spring, the anti-muslim sentiment has been building up. Like Philip, some people in the European countries see these Arabs and mostly muslim refugees as uninvited guests with potential problems. And to add to the mess, some of these refugees commit crimes in their already peaceful and stable homelands, putting more stress on the struggling European countries’ economy and security. Philip’s prejudice towards Hasan, therefore, can be very much understood.

This is a point to ponder especially if you’re a muslim yourself. As a muslim, we’re the embodiment of our religious teachings and values. Certainly, Islamic teachings are great, noble and flawless but if what people see in its followers is poverty, anger, bitterness towards the rest of the world, exclusivity and a sense of self-entitlement (to being considered the best religious group on earth), who wants to believe it?

In the past, Islam was represented by its best ambassadors. These were affulent and influential merchants sailing to foreign soils outside Arab world and Europe. In Indonesia, that was what is told in the history, that Islamic teachings were brought in peace by expatriate traders.

Knowing himself is one of Islam ambassadors, Hasan renounced Philip’s presupposition that muslims are a group of terrorists or thugs. While there are muslims who fit that not-so-positive image, there are many more of them who are like Hasan. They are peace messengers. They are erudite. They are educated and adaptive to the contemporary world without neglecting their cultural and religious roots. And these representatives are what the increasingly hostile world badly needs instead of more Al Qaeda and ISIS fighters. (*/)

Politik Indonesia dalam ‘Kutukan’ Roda Hamster

Lelah tapi tidak maju-maju. Itulah hamster yang sibuk. Seperti politikus kita. (Foto: Wikimedia)

ENTAH apa yang mendorong saya untuk meraih dan membuka buku berwarna merah dan putih itu. Saya buka buku yang berisi kumpulan tajuk milik salah satu pewarta terbaik negeri ini, Muchtar Lubis. Di dalamnya saya baca tulisan-tulisan pendeknya soal berbagai isu politik dalam negeri dan masalah nasional. Tulisan-tulisan lugas itu diterbitkan dalam surat kabar Indonesia Raya di awal Orde Baru dari 1968 dan 1974 dan kemudian dikumpulkan serta diterbitkan ulang oleh Penerbit Obor pada tahun 1997 lalu.

Membaca isinya, sungguh saya seperti membaca konten di portal berita daring hari ini saja. Temanya masih sangat relevan. Yang paling relevan misalnya ialah ancaman Partai Komunis Indonesia (PKI) yang diserukan untuk tetap diwaspadai. Di halaman 216 misalnya, kita bisa menemukan tulisan Muchtar yang berapi-api soal PKI. “Tetaplah Waspada terhadap PKI!” – demikian judulnya – membahas soal peringatan Hari Berkabung Nasional pada tanggal 18 September yang khusus diperingati untuk mengenang pengkhianatan kaum komunis terhadap revolusi bangsa Indonesia, tulis Muchtar. Ia dengan lantang menuduh PKI sebagai alat ekspansi pengaruh komunisme di Indonesia. “Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tidak percaya!” tulis Muchtar penuh antipati di harian Indonesia Raya pada 18 September 1970.

Soal kondisi politik dalam negeri yang saat ini ricuh, saya juga menemukan keluhan serupa dalam tajuk Muchtar. Judulnya “Politisi Kita Tak Berubah” (hal, 104-106). Meledak tawa saya karena membacanya. Ya, mereka memang tidak akan pernah berubah. Dari tahun 1969 saat Muchtar menulisnya sampai detik ini, karakter politisi Indonesia secara umum tidak banyak berubah. Begini tulis Muchtar:”Kita heran melihat betapa politisi kita masih saja berpikir pada taraf melempar semboyan saja.”

Muchtar mengulangi lagi kritiknya itu di “Jangan Terpesona oleh Slogan” (27 Januari 1970). “Orang Indonesia memang sejak zaman Soekarno mudah teperdaya oleh slogan alias semboyan,” tulisnya tegas, tanpa ampun.

Ingin saya mengatakan pada Muchtar yang sudah berpulang, “Pak, sampai sekarang mereka juga masih begitu kok! Masih sama!” Saya yakin banyak kita juga semua bisa mengamininya.

Gong pernyataan Muchtar soal politik Indonesia ialah saat ia menyimpulkan:”Kita ingin melihat agar di Indonesia orang jangan puas dengan kulit saja. Tapi kita harus belajar menyelami sesuatu sampai ke dalam hakikatnya agar kita jangan terus menerus menipu diri kita sendiri” (hal 106). Lagi-lagi, saya ingin terpingkal-pingkal dan berkomentar,”Pak, sampai tahun 2017, empat puluh delapan tahun setelah bapak menulis itu, Indonesia kok rasanya juga masih sama. Mementingkan kulit saja. Mereka tahu ada politisi-politisi busuk yang sudah mengecewakan di masa lalu tapi tetap saja dipilih, dicoblos, dicontreng. Kalaupun ada yang berubah cuma nama depan saja, nama belakang tidak, alias politisi-politisi baru itupun sebenarnya istri, anak, saudara kandung atau saudara dekat politisi busuk. Dan orang Indonesia terus saja memilih itu. Tidak trauma, tidak peduli. Pokoknya bisa dapat uang sebelum mencoblos.”

Pada tanggal 10 April 1970, Muchtar menerbitkan tulisannya yang berjudul “Perkembangan Politik Ketinggalan”. Di sini, wartawan kampiun Indonesia itu menceritakan betapa saat itu perpolitikan nusantara dianggapnya tidak bisa mengimbangi perkembangan ekonomi Indonesia. “Ia jauh tertinggal dan hal ini merupakan kelemahan,” tegasnya.

Kekacauan juga terlihat dari banyaknya campur aduk keanggotaan orang-orang yang memegang teguh konsep Nasakom Orde Lama di era Soekarno dan semangat pembaruan di Orde Baru. Hal yang sama persis juga terjadi saat ini. Kita benar-benar tidak bisa memisahkan partai politik yang murni mengemban semangat reformasi dan mana yang sudah tercemar kerinduan terhadap stabilitas khas Orde Baru (ingat dengan semboyan “Enak jamanku tho?”). Upaya untuk membanding-bandingkan pencapaian rezim Orde Baru dengan era saat ini juga membuat suasana makin gerah saja. Jangankan yang sudah dikenal jelas sebagai pendukung Orba, yang semula dikenal sebagai pengusung reformasi saja ternyata bisa berbalik haluan menjadi pendukung Orba lagi. Benar-benar oportunis.

Mengakhiri tulisannya yang bernada kesal itu, palu vonis itu pun diketukkan oleh Muchtar dengan menyatakan:”Kini prasarana politik kita masih berengsek dan kucar-kacir tidak keruan, dan dukungan-dukungan politik formal yang diberikan kebanyakan merupakan hasil dari manipulasi-manipulasi yang hasilnya hanya bersifat sementara.” Hampir setengah abad kemudian, keluhan Muchtar saya pikir masih amat sangat relevan. Politik kita gaduh melulu dan cenderung mengganggu produktivitas pemerintahan yang sedang bekerja.

Kemudian isu besar yang tidak kalah klasik dalam perpolitikan Indonesia ialah korupsi. Masalah ini sudah mendapat sorotan utama sejak dulu dan Muchtar Lubis juga tidak tinggal diam. ia terus mengangkatnya dalam berbagai kesempatan. Seperti dalam “Menghapuskan ‘Kleptokrasi’” (4 Februari 1970), ia memberikan penghargaan atas pembentukan Komisi Empat sebagai hasil keputusan rezim Soeharto. Bung Hatta diangkat sebagai penasihat presiden kala itu untuk memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme. Muchtar menuliskan demikian:

”Perkataan kleptokrasi ini dipergunakan seorang sarjana kemasyarakatan berbangsa Polandia dalam bukunya The African Predicament. Dia menulis bahwa kelas yang memerintah di kebanyakan negara Afrika di tahun 60-an termasuk kaum ‘kleptokrasi’ alias kaum pencopet, alias kaum pencuri, alias kaum koruptor. Gejala serupa ini, yang meluas di zaman rezim Soekarno, kini menjadi warisan kita dan tiada berkurang-kurangnya. […] Kami mengusulkan agar rakyat kita memberikan dukungan yang berlimpah-limpah pada tekad Presiden Soeharto ini, pada Komisi Empat, sehingga kaum koruptor jadi gemetaran dan tak berani lagi mencoba-coba mengelabui orang untuk menyelamatkan diri mereka.” (hal. 148-149)

Saya tidak bisa membayangkan reaksi Muchtar Lubis kalau beliau membaca berita-berita soal koruptor di Indonesia sekarang. Lolosnya para terduga tindak mega korupsi, insiden-insiden operasi tangkap tangan para pejabat publik, dan belum lagi ditambah dengan mengguritanya dinasti-dinasti politik di daerah-daerah seiring era otonomi daerah, membuat kata-katanya soal korupsi masih sangat relevan dengan Indonesia 2017; menjadi warisan kita dan tiada berkurang-kurangnya. Malah semakin mengakar dan membandel.

Jelas sudah dalam soal korupsi, kita ini bukan memerangi orang lain tetapi saudara setanah air kita sendiri dan yang paling utama, memerangi sisi gelap diri sendiri. Siapa saja bisa menjadi pelaku korupsi. Skalanya tentu tidak harus bermiliar-miliar. Apapun yang sudah mencuri yang bukan haknya, itu sudah korupsi. Dan kalaupun tidak mendapat kesempatan melakukan korupsi, kita pasti juga pernah menjadi pendukung. Caranya dengan diam atau tutup mulut atau memilih takluk pada pelaku korupsi. Sesederhana itu. Dan semua yang kecil dan remeh ini menggunung dan turun lalu membesar bak bola salju.

Muchtar memahami karakter politik Indonesia yang “setiap ada pergolakan, setiap suhu situasi politik naik jadi lebih hangat, tentulah ada saja golongan-golongan yang hendak mencoba menungganginya”.

Dan satu lagi fenomena yang juga sudah ada dalam dunia politik Indonesia dari dulu: kabar bohong (hoax) yang beredar. Betul, hoax sudah beredar sejak internet belum ada. Tentunya dalam bentuk desas-desus dan kabar burung yang bersifat spekulatif. Hal ini bisa kita temui dalam “Jangan Main Spion Melayu” (24 Januari 1970). Muchtar menggunakan surat kabar Indonesia Raya yang ia pimpin itu sebagai ruang untuk membela diri atas tuduhan-tuduhan yang menurutnya tidak benar yang dialamatkan kepadanya.

Untuk menegaskan betapa politikus dan perpolitikan kita masih dalam jebakan ‘roda hamster’ yang melelahkan, membuat berkeringat dan bersemangat tetapi tidak membawa bangsa ke mana-mana, kita bisa membaca “Peran Bumiputera Agar Paling Utama” (10 Januari 1973). Di dalamnya dijelaskan sikap pro-pribumi Muchtar terhadap Rencana Garis-garis Besar Haluan Negara yang digagas Badan Pekerja MPR akhir tahun 1972 yang ia anggap masih lembek soal prioritas peran pribumi dalam ekonomi Indonesia. Pandangan yang memisahkan pribumi-nonpribumi ini ternyata masih saja ada di Indonesia tahun 2017 meskipun 45 kalender sudah kita habiskan. Dan sialnya, orang Indonesia makin susah juga menahan diri untuk tidak berkomentar dan larut dalam debat kusir berkepanjangan di dalamnya. Klop sudah!

Jadi, kapan kita bisa kirim astronot kita ke bulan agar tahu betul apakah bumi ini bulat atau datar? Kapan kita bisa berdaulat pangan? Kapan kita bisa memberantas tuntas korupsi? Kapan kita bisa menjadi bangsa yang lebih disegani di percaturan dunia? Kapan kita bisa memberikan akses kesehatan agar tidak ada lagi orang yang ditolak lalu meregang nyawa di rumah sakit? Kapan kita bisa berhenti membicarakan perbedaan-perbedaan yang terus ada dan lebih berfokus pada persamaan? Kapan kita bisa bersatu padu dan mencapai cita-cita bersama-sama? (*)

Wartawan ‘Plus-Plus’: Sebuah Pledoi

 (Photo credit: Wikimedia Commons)
Wartawan sekarang juga mesti plus-plus. (Photo credit: Wikimedia Commons)

Melalui WhatsApp, suatu siang saya diajak bertemu oleh seorang teman di hari libur di tengah pekan. Saya berkelit dari kewajiban untuk hadir segera  untuk memenuhi ajakannya bertandang ke rumah seorang teman lain yang cukup jauh dari tempat tinggal saya di jantung ibukota. Kata saya,”Saya masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan. Mungkin habis makan siang saya baru bisa ke sana.” Begitulah kira-kira janji saya kepadanya dalam bahasa yang lebih halus.

“Ah, kamu ini! Bekerja terus tapi nggak kaya-kaya!” selorohnya pada saya. Saya tersenyum kecut meskipun saya hanya menatap layar gawai. Saya memang tidak mengada-ada. Ada sebuah pekerjaan menerjemahkan yang saya sedang tangani. Dan saya sudah menetapkan disiplin ketat untuk menyelesaikan setidaknya sepuluh halaman dalam sehari agar bisa lekas selesai pada batas waktu yang sudah disepakati. Jika gagal saya penuhi, denda sudah menanti.

Anda pikir saya penerjemah penuh waktu? Tidak, saya wartawan. Dan saya sudah menekuni pula banyak pekerjaan selain jurnalisme. Di waktu luang saya berusaha untuk melengkapi diri dengan beragam ketrampilan selain jurnalistik yang bisa bermanfaat dalam mengais rezeki halal. Karena memang mengandalkan nafkah dari jurnalisme saja tidak mungkin cukup untuk bisa bertahan hidup di pasar tenaga kerja Jakarta yang makin mahal dan kompetitif serta dunia bisnis dan ekonomi makro yang secara umum masih terhimpit.

Di tengah degradasi jurnalisme seperti sekarang, saat konten orisinal dan berkualitas makin jarang dan daur ulang konten makin menjadi-jadi, belum lagi dengan desakan teknologi informasi, rasanya profesi wartawan makin tergerus. Saya sudah pernah membaca bahwa jurnalis ialah salah satu profesi yang akan segera digantikan oleh mesin/ algoritma. Programmer sudah bisa membuat kode-kode khusus yang nantinya akan mengumpulkan konten secara otomatis, yang hasilnya kemudian bisa disajikan sebagai berita dan disuguhkan pada pembaca. Berita jenis ‘hard news’ misalnya berita gempa bumi akan bisa dengan mudah dibuat karena sudah memiliki pola (template) 5W dan 1H yang sudah lazim itu. Tidak perlu menyuruh seorang reporter mengetik, algoritma itu akan bekerja mengumpulkan data dari pusat data seismik yang ada dan mengirimkannya ke kantor-kantor berita yang membutuhkan dan menyebarkannya secepatnya.

Saya tentu awalnya takut mendengar ramalan semacam itu. Kemudian saya mulai menyiasatinya dengan melakukan diversifikasi ketrampilan diri. Saya harus bisa lebih dari hanya sekadar menyajikan fakta dalam berita, atau mendaur ulang konten dari portal berita lain yang sudah ada. Saya pun mencari berbagai celah potensial untuk mengembangkan diri saya agar menjadi wartawan plus-plus.

Pekerjaan sehari-hari saya sebagai jurnalis daring membuat saya terpapar dengan media sosial secara terus menerus, perlahan-lahan saya mulai belajar media sosial juga. Saya menyisihkan waktu secara sengaja untuk belajar lebih mendalam tentang media komunikasi baru ini. Dan dari sana, saya bereksperimen dengan apapun yang saya miliki, baik itu alat, kesempatan dan berbagai metodenya yang memungkinkan untuk belajar media sosial karena saya sadar akan makin banyak orang memerlukan ketrampilan berkomunikasi secara lebih efektif dan efisien di kemudian hari. Saya pun nekat mengikuti lokakarya media sosial selama beberapa hari di tengah pekan meskipun itu artinya jatah cuti saya tergerus. Saya tahu ini merupakan investasi masa depan, karena sebagai wartawan, sampai kapan saya mesti mengetik berita daur ulang dan mewawancarai orang-orang hanya untuk dibaca di portal berita hanya untuk dilupakan setelahnya? Dan investasi ini terbukti menghasilkan karena saya baru-baru ini diundang untuk menerangkan media sosial dan mekanisme pemanfaatannya sesuai tujuan komunikasi kelembagaan.

Bidang pekerjaan jurnalisme juga berkaitan erat dengan dunia tulis menulis kreatif (creative writing). Sehingga saya pun mencoba menulis artikel di media jurnalisme warga. Selain itu, saya beruntung karena beberapa kali artikel yang saya tulis termuat di dalam surat kabar juga. Upah untuk satu artikelnya memang tidak seberapa tetapi toh sudah membantu memupuk reputasi saya sebagai wartawan yang tidak cuma bisa menulis berita tetapi juga lainnya (karena ada juga wartawan yang menulis hanya saat mereka bekerja, sebab passion mereka bukanlah menulis). Semua itu membantu saya mendapat pekerjaan sebagai ghostwriter (penulis bayangan) sebuah buku dan penulis di sebuah majalah seni.

Setelah itu, saya juga berhasil memasukkan tulisan-tulisan saya dalam beberapa buku yang diterbitkan oleh teman-teman saya. Sekali lagi, memang imbalannya sangat tidak seberapa tetapi saya terus melakukannya sebab saya yakin saya melakukan ini untuk mengasah ketrampilan saya dan memperkaya wawasan dan memperluas jaringan. Pendeknya, tidak ada yang sia-sia jika saya berpikir dalam jangka panjang.

Dalam membuat berita/ konten, saya juga terbiasa menerjemahkan (karena saya diserahi segmen berita mancanegara). Dengan ditambahi dengan latar belakang pendidikan yang mendukung (Sastra Inggris), saya pun juga melakoni profesi penerjemah paruh waktu. Saya mencoba menjalin relasi dengan banyak orang karena saya sadar dari banyaknya kenalan, saya bisa menawarkan jasa saya sebagai penerjemah. Dan relasi itu dibangun dengan organik, yang maksudnya ialah hubungan yang saya bangun tidak melulu karena saya berhasrat menawarkan jasa penerjemahan pada mereka tetapi juga karena saya ingin menjadi teman yang baik. Saya paling benci jika menemukan orang yang terlalu bernafsu memonetisasi hubungan mereka dengan orang. Jika menguntungkan, ia dekati dan berhubungan baik dengan orang tetapi jika tidak ada keuntungan yang bisa dipetik, orang itu diacuhkan begitu saja.

Hobi lain yang saya minati juga kemudian saya terus tekuni. Saya menyukai yoga untuk diri sendiri awalnya. Saya anggap ini upaya menyehatkan diri agar saya bisa bekerja leboih produktif, karena profesi wartawan sungguh identik dengan kebiasaan kurang sehat, dari merokok, mengopi, begadang, makan sembarangan (asal kenyang dan enak)  Hingga kemudian saya menemukan celah untuk memaksimalkan minat saya ini lebih jauh. Saya terus berlatih dan akhirnya memutuskan belajar lebih dalam sampai mengikuti pelatihan mengajar yoga. Singkatnya, saya terjun dalam dunia yoga sebagai pengajar dengan salah satu alasannya, yakni untuk meragamkan ketrampilan hidup saya di samping kemampuan dan pengalaman jurnalistik yang ada.

Selain semua bidang di atas tadi, saya juga masih meluangkan waktu untuk mengajar bahasa Inggris untuk klien pribadi. Saya juga sebelumnya sudah mengajar di sebuah kampus tempat seorang politisi memberikan celetukannya soal gaji kecil pewarta. Saya meninggalkan tempat itu sekarang. Tidak lain karena gajinya juga tidak kalah memprihatinkan dari gaji wartawan. Dari pengalaman itu, saya lebih suka mengajar klien individual karena tidak perlu kerja ‘rodi’ mengajar kelas berisi 60 orang dan meneliti kertas jawaban ujian tertulis sampai larut malam. Upah lebih tinggi karena saya yang menentukan jumlah dan jadwalnya sendiri. Mau, ambil. Tidak mau, silakan cari yang lain. Dan setelah les, saya bebas. Tidak terbebani kewajiban menyetor nilai, menandatangani lembar ini itu untuk bisa mengambil honor, berbasa-basi dengan rekan pengajar yang mengira saya mahasiswa juga. Merepotkan.

Jadi, kalau saya mendengar politisi itu mengolok-olok gaji pewarta dan mengukur kesejahteraan dari kekerapan mengunjungi mall dan berbelanja barang-barang konsumtif, saya hanya bisa berdehem dan menggulingkan bola mata. Saya tidak akan terhina karena memang begitulah faktanya. Akan tetapi meskipun itu benar, kalau mau berpikir lebih bijak, tidaklah etis bagi seorang tokoh publik untuk melontarkannya dalam kesempatan terbuka, saat leluconnya bisa dikutip dan disebarkan setelah konteksnya dipreteli secara semena-mena.

Alih-alih  merasa terhina dan berang, saya anggap lelucon yang sama sekali tidak lucu itu sebagai sebuah cambuk untuk menjadi wartawan ‘plus-plus’. Maksud ‘plus-plus’ itu tentu bukan wartawan yang menyambi menjadi pekerja seks komersial (meskipun memang harus diakui lumayan menggiurkan, tetapi masalahnya berapa banyak wartawan yang bahkan peduli dengan penampilan fisik mereka sendiri), tetapi menjadi wartawan yang sanggup menjadi lebih dari sekadar pekerja teks komersial. Karena wartawan plus-plus akan memiliki kekuatan tersendiri, tidak hanya bisa pasrah pada pemodal yang mau menang sendiri dengan menggaji mereka sekecil-kecilnya. Jadi jika idealisme wartawan dilanggar, wartawan itu tidak akan kelaparan saat harus meninggalkan kantor-kantor berita para pemodal kikir atau kantor redaksi yang tercemar kapitalisme digital yang mengukur kinerja dengan pageviews. (*)

Kolaborasi Serasi dari Asti

Alessandro Vignola dan Neva Epoque berkolaborasi bersama adalam seni lukis kontemporer beraliran exitential mechanics yang harmonis. (Image source: LinkedIn)

Perkenalkan, kami Alessandro Vignola dan Neva Epoque. Kami bersua pertama kali kemudian saling jatuh hati satu dasarwarsa lebih yang lalu. Kami suka psikologi dan juga seni rupa. Sebuah kombinasi passion yang jarang ditemui. 

Kami sepakat untuk menjalani hidup sebagai seniman begitu menuai tanggapan positif dari para penikmat karya kami. Kami pun memilih nama “Delta NA” sebagai satu brand yang menaungi kami berdua dalam berkesenian. Delta dipilih karena ia adalah nama tempat kami berdua bertemu dan kemudian berjumpa lagi beberapa tahun kemudian. Sementara itu, NA adalah inisial gabungan nama depan kami.

Kami pun memutuskan membuka studio seni di pusat kota Asti, yang terletak di Italia bagian utara. Di sini dikenal dengan hamparan pegunungan yang luas dan diselimuti salju saat musim dingin. 

Seperti kami sudah katakan sebelumya, pada mulanya kami belajar psikologi di kampus yang sama.  Saat kuliah tahun 2001 itulah kami bertemu pertama kali. Setelah lulus, kami tak bertemu lagi. Setelah tujuh tahun berselang, kami bertemu kembali di tempat yang sama saat kami terakhir bertemu. Kami  percaya dengan takdir (destiny) dan itulah kenapa kami memilih nama “delta” untuk kami berdua dalam berkesenian.

Asal Muasal Kolaborasi

Dulu kami melukis sendiri-sendiri tetapi kemudian ada kolektor lukisan kami yang ingin agar kami melukis lukisan yang lebih besar. Karena salah satu dari kami tak punya banyak waktu untuk membuat lukisan sebesar itu, kami putuskan mengerjakan lukisan itu bersama-sama.  Lukisan kolaborasi pertama kami tak begitu memuaskan. Dari sana, kami sadar kolaborasi sangat menarik dan sejak itu kami selalu berkolaborasi dalam melukis. Dalam berkolaborasi kami membutuhkan waktu untuk menemukan gaya melukis kami yang baru karena ini berbeda dari melukis sendiri. Gaya ini baru dan lain dari gaya kami saat melukis solo.

Jika Anda perhatikan, ada ciri khas lukisan kolaborasi kami. Kami bereksperimen dengan warna-warna yang merilekskan dan memberi nuansa harmoni tetapi kami tidak merencanakan sehingga proses itu terjadi begitu saja. Prosesnya menarik karena entah kenapa kami mengalir dari warna biru, hijau, pink, merah, seperti gelombang yang berulang. Kami tak tahu alasannya tetapi mungkin karena berkaitan dengan emosi dan perasaan kami. Bisa juga berkaitan dengan irama hidup, dari tidur, beraktivitas hingga tidur kembali. Kami harus cermat memilih warna untuk emosi tertentu. Meski kami tidak membatasi warna-warna yang dipakai, kami tidak bisa menggunakan sejumlah warna seperti kuning dan hitam. Untuk kuning, kami hanya memakai warna emas atau kuning yang pucat. Sementara warna hitam kami hindari karena menandakan ketiadaan cahaya dan merusak harmoni lukisan. Untuk tandatangan kami memilih memakai warna biru tua yang terasa lebih alami.

Setiap karya kami bisa dikatakan sebagai bayi yang kami lahirkan bersama-sama. Sehingga sulit untuk memilih mana yang kami paling sukai tetapi lukisan terbaru yang kami rampungkan biasanya kami lebih sukai dari yang lain karena memiliki koneksi emosional yang lebih erat dengan diri kami.

Tentang Proses Kreatif

Proses kreatif kami sebagai seniman biasanya dimulai dengan banyak menggambar. Baru setelah selesai, kami lanjutkan dengan memberikan cat. Saat memulai, biasanya kami tidak tahu apa yang akan kami hasilkan tetapi kami terus mengerjakannya. Kami bisa merasakan ada banyak yang bisa dikuak dari sana. Seperti ada sebongkah marmer di hadapan kami, dan kami yakin ada patung di dalamnya. Dan yang bisa kami lakukan hanyalah terus memahatnya dengan seksama.

Jika Anda bertanya soal aliran yang kami pakai dalam melukis, kami sulit menjawabnya. Anda bisa menyebutnya abstrak tetapi tidak sepenuhnya demikian. Ada nuansa ekspresionisme, tetapi juga tidak sama persis dengan itu. Awalnya kami sebut “instinctive expressionism” karena kami pakai jari untuk melukis. Kami memilih menyebut ini sebagai “existential mechanics”, yang menjadi dasar bagi kami dalam berkarya kolaborasi. Kami menggabungkan gaya abstrak yang informal agar dalam proses melukis, kami tidak terlalu banyak berpikir sehingga kami bisa memberikan sensasi keterbukaan dan relaksasi pada mereka yang menyaksikan karya lukisan kami. Kami juga mempersilakan khalayak untuk menginterpretasikan karya-karya kami sesuai dengan pemahaman mereka masing-masing.

Pentingnya Chemistry

Hal terpenting ialah memastikan kolaborasi terjadi secara seimbang dan bagaimana kita menemukan orang yang tepat dan membuat kita nyaman untuk diajak berkolaborasi. Prosesnya bisa memakan waktu lama agar bisa tercipta harmoni dan keselarasan.  Bila ada salah satu yang ternyata terlalu dominan, pihak lain harus mengimbanginya dengan lebih berupaya menghadirkan dan membuka diri dalam karya bersama itu.

Dalam proses berkreasi, kami tidak menentukan ukuran kanvas. Saat kami akan bekerja, kami belum tahu apa yang akan keluar, kami merasakan adanya ketertarikan pada ukuran kanvas tertentu. Jadi, ini bukan semata-mata pilihan kami secara sadar. Bisa dikatakan, kanvas itulah yang memilih kami. Jadi, tiap lukisan muncul dengan makna, ukuran, dan warna masing-masing.

Kami memiliki banyak pesan dalam karya kami. Dalam beberapa tahun terakhir kami menerapkan teori existential mechanics, yang menyatakan bahwa seniman memiliki cara menangkap realita di balik dunia yang kasat mata ini. Realita bisa dimaknai sebagai serangkaian lapisan yang saling tumpang tindih, mirip dengan anyaman serat kain yang berpola dan berulang. Kami bermula dari bentuk geometrik dan statik untuk kemudian beralih ke semesta yang terbuat dari bentuk-bentuk geometrik tersebut.  Pesan kami ialah bahwa realita itu mirip mimpi. Dan realita bukan semata-mata hal yang kita bisa tangkap dengan netra tetapi sesuatu yang lebih besar.  Inilah cara kami memadukan kehidupan nyata dan energi spiritual.  Kami mendorong audiens untuk menikmati lukisan dengan cara yang bertahap, tidak sekali saja dan berpuas diri karena di balik lukisan tersembunyi banyak makna yang bisa digali setiap kali menikmatinya. Lukisan juga seperti kehidupan, yang selalu memberikan kejutan jika kita mau membuka pikiran kita terhadap berbagai kemungkinan baru.  

Memadukan Dua Jiwa

Baru-baru ini kami hadir dalam sebuah workshop dan pameran. Dalam workshop melukis kolaborasi selama dua hari yang digelar di Istituto Italiano di Cultura, Jakarta, lansekap pegunungan khas kota asal kami – Asti – dijadikan sebagai inspirasi.

Para peserta kami suguhi foto pegunungan di Asti untuk kemudian menuangkannya dalam gaya gambar masing-masing di atas kertas. Bedanya dari workshop melukis lainnya, tiap peserta menggambar di dua lembar kertas berbeda sehingga nantinya bisa dipertukarkan dengan karya peserta lain.

Begitu waktu menggambar solo usai, para peserta dipersilakan memilih rekan kolaborasi mereka dengan syarat merasakan kesesuaian dengan pribadi masing-masing dan tidak ada keterpaksaan. Dari sinilah, tiap peserta mulai bekerjasama dengan peserta lain sebagai mitra untuk merampungkan sebuah lukisan menjadi satu karya utuh yang harmonis.

Seorang peserta workshop, Michael, mengaku lokakarya ini memberikan pengalaman dalam kolaborasi penciptaan karya. “Prosesnya terstruktur dengan menggambar dulu jadi tiap peserta berkesempatan menjadi diri sendiri dulu. Saat kolaborasi, peserta dipertemukan dengan gaya peserta lain untuk kemudian mencari jalan tengah. Baru gambar dikerjakan dengan pewarnaan.” Demikian ia menjelaskan.

Kami sendiri gembira dengan hasil kolaborasi peserta, yang relatif seimbang, tidak ada yang terlalu mendominasi. Yang terpenting ialah mereka mampu mengekspresikan emosi dalam diri mereka dalam karya. Dengan demikian, mereka yang menyaksikan lukisan itu akan mendapatkan sensasi tertentu.” (*)

11 Cara Cerdas Bedakan Berita yang Tepercaya dari Hoax

Berita bohong membanjiri dunia informasi kita. Yang kita perlukan adalah cara untuk menyaringnya sebelum masuk ke otak kita. (Foto: Wikimedia Commons)

KEMUAKAN terhadap beredarnya berita bohong (hoax) di dunia maya saat ini sudah mencapai titik klimaks. Sampai-sampai media sosial Facebook mesti turun tangan dan mengeluarkan pernyataan bahwa pihaknya akan menempuh langkah konkret untuk memberangus konten berita bohong yang berlalu lalang di sana.

 

Dan parahnya lagi ialah hal ini tidak hanya melanda kaum muda yang secara intelektual belum matang tetapi juga kaum dewasa dan cendekia. Tak peduli pendidikan formal yang sudah ditempuh, seseorang masih berpeluang menyebarkan berita bohong sebab hasrat untuk menyebarkan berita yang sesuai dengan selera dan tendensi pemikiran kita memang akan selalu ada. Jika berita tidak mendukung opini yang kita sokong, apakah kita akan membagikannya di dinding atau me-retweet di linimasa kita? Saya rasa kecil kemungkinan demikian kecuali untuk sebagian orang yang memang sangat berpikiran terbuka (open-minded), yang berani mengakui kesalahan pemikirannya sebelumnya dan meluruskan jalan pikirannya sendiri. Tetapi di era sekarang, orang macam itu sudah langka. Sangat langka. Kita semua, tak terkecuali penulis sendiri, juga berlomba untuk menjadi yang jawara. Mana ada yang mau terlihat bodoh dan kurang mutakhir di media sosial. Daripada terlihat dungu, lebih baik tidak usah tampil saja, bukan?

 

Dari pemilihan presiden RI tahun 2014 kita sudah banyak belajar mengenai soal jurnalisme abal-abal ini sebetulnya. Menjelang Pilkada DKI Jakarta kali ini, rasanya kita masih juga belum banyak belajar dari pengalaman tersebut. Bahkan akumulasi kekesalan di Pilpres masuk dan menambah parah kondisi di Pilkada DKI. Dan ini juga bukan masalah yang dihadapi oleh bangsa kita saja. Amerika Serikat yang mengklaim dirinya lebih maju dalam banyak hal termasuk jurnalisme dan demokrasi juga mengalami masalah yang serupa. Publik AS kerap teperdaya semasa masa kampanye Pilpres mereka yang baru saja berakhir dengan hasil yang membuat banyak orang terperangah.

 

Menyebarkan berita bohong di media sosial memang sepintas tidak merugikan karena mudahnya menyebarkan. Tinggal klik ’bagikan’ atau ‘retweet’ atau ‘repath’ dan selesai. Tetapi kita seolah tidak bertanggung jawab atas apa yang kita sebarkan melalui akun-akun kita itu. Seolah kita sudah mempercayakan semuanya pada mereka yang sudah menyebarkannya sebelum kita. Namun, dampaknya makin lama tidak bisa diabaikan.

 

Namun, sekarang masalahnya ialah apakah kita bisa membedakan berita yang faktual dan objektif dari berita bohong di internet? Dan jika memang bisa, bagaimana caranya?

 

Pertama-tama ialah mengendalikan dulu diri akal sehat kita masing-masing. Emosi berperan penting dalam menyebarkan berita bohong. Para pembuat berita bohong tahu bahwa jika judul dan konten merangsang emosi naik, akan lebih mudah bagi mereka untuk mengeruk keuntungan.

 

Keuntungan apa? Banyak. Kalau mereka mengincar keuntungan ekonomi, mungkin bisa dari segi pendapatan iklan. Makin kontroversial sebuah artikel berita, makin banyak dikunjungi, makin banyak dibagikan, makin viral, otomatis akan makin banyak orang berkunjung dan tingkat kunjungan situs mereka naik pesat. Dari sini, mereka bisa menjual traffic tinggi itu pada para pihak yang berminat memasang iklan (advertisers). Kalau bukan keuntungan material yang diincar, bisa jadi keuntungan tidak langsung lain yang tidak terpikir oleh kalangan awam, misalnya saja situs berita ‘aspal’ (asli tapi palsu) yang mengemas dirinya seolah situs berita tetapi hanya berisi opini satu pihak, tidak ada cross check, sehingga pemberitaannya menjadi penuh bias, dengan tujuan ingin mengarahkan opini masyarakat luas ke arah tertentu, atau menggerakkan massa. Bahkan bisa saja ada situs yang berpura-pura menjelek-jelekkan satu pihak agar membuat pihak yang bersangkutan seperti difitnah dan dari sana citra korban fitnah yang tertindas akan terpatri dalam benak masyarakat dan simpati bermunculan untuknya. Intinya, semua bisa terjadi. Apalagi dengan makin murahnya pembelian domain dan hosting website saat ini. Untuk memiliki blog ini saja saya cuma harus bayar sewa Rp160.000 per tahun. Bagi mereka yang punya banyak modal, uang itu cuma sekeping receh.

 

Masalahnya saat kita menemukan berita yang kurang selaras dengan pemikiran kita, biasanya kita memverifikasinya pada orang yang pemikirannya sepaham dengan kita. Langkah semacam ini bukannya memberikan pencerahan tetapi kadang lebih menyulut emosi secara kolektif karena dengan begitu, kita hanya seperti ingin mencari pembenaran atas emosi yang muncul. Dari sini bola salju itu mulai menggelinding. Padahal semestinya, kita melakukan cross check ke pihak yang berseberangan itu, bukannya teman-teman yang sudah pasti sepemahaman dengan kita, yang dengan menggebu-gebu akan mengatakan kita benar.

 

Kedua ialah menghindari memakai popularitas sebuah situs sebagai ukuran kredibilitasnya. Kadang memang kita tidak bisa mempercayai mentah-mentah sebuah media (baik cetak dan daring) yang sudah mapan dan beredar luas di masyarakat selama jangka waktu lama tetapi kebanyakan sumber berita yang paling dapat dipercaya di dunia maya adalah organisasi-organisasi media lama. Materi berita mereka masih bisa dikatakan relatif lebih dapat dipertanggungjawabkan daripada isi berita dari portal-portal berita baru. Ini karena mereka lebih banyak makan asam garam di dunia jurnalisme. Lain kasusnya jika media lama ini kemudian diintervensi oleh kepentingan pemilik modal di dalamnya. Secara otomatis, media lama semacam ini mesti dimasukkan ‘daftar hitam’. Sehingga bila kita ingin memastikan apakah sebuah berita di dunia maya benar atau tidak , kita bisa cek situs-situs berita media yang mapan dan sudah memiliki rekam jejak dan pengalaman yang lama. Jika ada di sana, artinya peluang berita yang Anda sebar adalah hoax lebih rendah. Namun demikian, kita juga mesti tetap waspada jika ada isi berita yang sengaja dilebih-lebihkan atau diberikan sorotan yang kurang proporsional agar mengaburkan kenyataan yang sebenarnya dan seutuhnya (sebab benar pun kalau tidak utuh bisa disalahartikan).

 

Ketiga ialah meneliti apakah ada banyak kesalahan ejaan (typo) dalam konten berita yang dimaksud, terutama jika itu adalah konten teks (artikel). Biasanya makin banyak typo yang ditemukan, makin tidak tepercaya juga isinya dan situs beritanya. Saya pernah menemukan sebuah artikel yang dengan sembrono dibagikan oleh kolega yang terdidik. Rupanya ia juga terjebak oleh judul yang bombastis dan mengukuhkan opininya sendiri soal seseorang atau suatu isu. Di dalam artikel, banyak dijumpai salah ejaan dan tipografi (gaya dan tampilan teks berita di sebuah situs berita) juga acak-acakan. Lain dari penataan situs yang lebih mapan, yang cenderung lebih rapi dan dibuat dengan pertimbangan matang.

 

Keempat ialah menemukan ada tidaknya nama (atau setidaknya inisial) reporter atau penyunting (editor) yang bertanggung jawab atas berita yang diunggah di situs tersebut. Selain itu, cari tahu juga di halaman “About” atau “Tentang Kami”, yang isinya mengenai seluk beluk situs daring tersebut. Siapa saja orang-orang di meja redaksinya? Bagaimana dan kapan mereka berdiri? Siapa pemilik dan pemegang sahamnya (karena ini sangat menentukan sikap mereka pada isu-isu tertentu)? Berada dalam grup bisnis apa situs berita itu? Siapa pimpinan redaksinya? Dan juga carilah alamat kantor redaksinya. Ini sangat penting karena dengan mencantumkan alamat yang jelas dan nyata, mereka akan berpikir lebih panjang jika akan menyebarkan berita bohong atau yang tidak objektif. Media yang mencantumkan alamat resmi redaksinya bisa dikatakan patut diapresiasi karena itu sudah menjadi satu langkah berani. Jika ada sesuatu yang terjadi, citra mereka akan buruk di masyarakat dan aparat bisa langsung mendatangi kantor dan menciduk mereka jika ada aduan dari pihak-pihak yang merasa dirugikan dari berita bohong yang disebarkan. Belum lagi risiko keselamatan jiwa yang dihadapi jika ada teror dari pihak-pihak yang berseberangan.

 

Kelima ialah bagaimana situs berita itu menggambarkan pihak lain dan mencoba meluruskan jika memang ada yang kurang benar. Jika situs itu menggambarkan pihak lain (baca: lawan) sebagai pihak yang 100 persen jahat atau patut dibasmi, Anda mesti waspada. Ini ciri berita bohong dan situs media abal-abal. Begitu juga sebaliknya jika Anda menjumpai berita yang isinya mendewa-dewakan satu pihak saja. Di dalam situs berita bohong, cuma ada hitam dan putih. Itu saja. Padahal di realita, tidak semudah itu.

 

Keenam ialah kewajiban untuk jeli memilah berita dari konten kehumasan (PR). Berita objektif berbeda dari artikel yang dibuat oleh staf humas sebuah korporasi. Berita objektif cenderung netral, tidak memihak dan menyuguhkan keterangan pihak-pihak yang bersangkutan dengan sebuah isu yang diberitakan. Sementara itu, konten kehumasan biasanya bersifat mengelu-elukan, mengunggulkan satu pihak saja. Tidak ada atau sedikit sekali unsur kritis dalam konten kehumasan sejenis ini.

 

Ketujuh ialah meneliti jika konten itu sangat memancing Anda untuk membagikannya di media sosial. Makin gatal Anda merasa untuk menyebarkannya setelah membaca (bahkan hanya dengan membaca judulnya saja), makin besar potensi berita itu hoax.

 

Kedelapan, apakah berita itu memiliki nada tajam dan penuh penghinaan pada satu pihak? Berita yang tendensius dan menempatkan satu pihak sebagai inferior, orang yang lebih rendah harkat dan martabatnya, atau lebih bodoh dan menjijikkan besar kemungkinan masuk dalam kategori hoax.

 

Kesembilan ialah monopoli atas fakta. Ketahuilah bahwa tidak ada manusia di dunia ini yang bisa memonopoli fakta. Jika sebuah berita mengklaim apa yang disajikannya sebagai fakta dan berita di sumber lain sebagai fitnah semata, di situ Anda mulai harus berpikir cerdas.

 

Kesepuluh ialah status nonpartisan. Ini sangat berlaku dalam masa-masa pemilihan jabatan publik atau pemilu. Semakin ngotot sebuah media berkata dirinya bukan situs partisan, biasanya kenyataannya adalah sebaliknya.

 

Kesebelas ialah dengan meneliti apakah situs berita itu cuma menulis ulang berita dari sumber-sumber lain atau mereka juga melakukan peliputan sendiri? Jika Anda menemukan berita di sebuah situs yang beritanya kebanyakan diperoleh dari sumber lain yang lebih mapan dan besar, dan beritanya juga sedikit atau bahkan tidak ada yang bersifat analisis dan mendalam (alias cuma artikel-artikel pendek 200-300 kata sebagai pemuas dahaga pengunjung akan informasi semu), bisa jadi itu cuma situs berita palsu. Biasanya juga artikel-artikel itu dikemas dengan judul yang berlebihan, hiperbola dan memicu orang mengklik dan membagikan. Inilah yang namanya ‘click bait’. Tujuannya agar orang mau datang ke situs itu dan menaikkan pendapatan iklannya.

 

Mungkin semua cara di atas belum mencakup semua. Tambahkan di kotak komentar jika Anda memiliki pendapat lain tentang bagaimana membedakan berita bohong dari berita yang objektif. (*)

Internet, Penulis dan Jurnalis

14708085_10209054307732232_3047029084795165360_o
Empat pembicara Eko Endarmoko, Arif Zulkifli, Mardiyah Chamim dan Leila S. Chudori (dari kiri ke kanan) tampil di panggung Festival Menulis Sabtu (22/10/2016) di Gedung Tempo, Palmerah Barat, Jakarta. (foto: dok pribadi)

Bagaimana revolusi internet membantu para penulis dan jurnalis?

Internet kerap dituding menjadi biang keladi kemunduran dunia kepenulisan. Saya paham alasan di balik caci maki itu karena pengarang sekelas J. K. Rowling saja harus rela karyanya diunduh gratis di forum-forum dunia maya beberapa saat setelah peluncuran bukunya. Dan untuk memahami kemunduran dunia kepenulisan global, kita baru-baru ini dihentak dengan kabar bahwa seorang penyanyi dan penulis lagu gaek saja bisa diangkat menjadi penerima nobel sastra tahun ini. Sungguh menohok!

Kenapa ini bisa terjadi? Karena regenerasi yang lambat mungkin. Itu teori saya. Dan internet memang ada andil di sini. Pasalnya, internet membuai muda-mudi untuk ‘bermasturbasi’ secara intelektual dengan gaya penyampaian pikiran dan emosi yang cekak dan lebih cepat direspon. Kenapa harus pusing membuat novel ratusan halaman dan belum tentu juga disukai orang dan menghasilkan uang kalau menulis status atau cuitan atau cuap-cuap di video saja sudah bisa memuaskan hasrat berbagi dan menghasilkan ketenaran dan penghasilan?

Tapi jurnalis sekaligus novelis Leila S. Chudori menampik tuduhan bahwa internet momok bagi penulis. Justru jika kita mencermati, internet membantu penulis dalam banyak hal. Salah satunya dalam hal memasarkan buku kepada peminatnya. “Dunia digital sangat membantu dalam sisi marketing,” tandas novelis cum jurnalis tersebut.

Sebelum era internet, setelah peluncuran buku, ya sudah, tidak ada respon atau perbincangan lagi dari masyarakat pembaca. “Belum ada masukan langsung dari pembaca,” kenang Leila soal sensasi meluncurkan buku di zaman mudanya. Buku-buku Leila yang diterbitkan di era prainternet biasanya lama mendapatkan masukan dan tanggapan.

Ia mengakui pers juga turut menyebarkan kabar peluncuran bukunya. Tapi Leila menggarisbawahi bahwa dirinya sebagai pengarang tidak bisa memastikan bahwa karyanya diterima baik di masyarakat pembaca atau tidak.

Di zaman digital ini, perbincangan tentang buku bahkan sudah mulai sebelum buku yang dimaksud dijual secara bebas. “Keterlibatan pembaca mulai ada di sini, bahkan hingga urusan memilih sampul (cover) untuk buku yang akan diterbitkan,” tuturnya tadi siang (22/10) di ajang “Festival Menulis” yang digelar oleh Tempo Institute, Jakarta.

Leila menyoroti fenomena menjamurnya klub buku di dunia maya seperti Goodreads.com. “Dulu klub pecinta buku itu eksklusif, seperti pertemuan arisan. Tapi sekarang klub buku bermunculan di internet, dan semua orang kalau mau bisa masuk dan ikut membahas buku,” terang perempuan yang menjadi salah satu nara sumber di festival tersebut, selain pimpinan redaksi Tempo Arif Zulkifli, direktur Tempo Institute Mardiyah Chamim, dan penulis thesaurus bahasa Indonesia Eko Endarmoko.

Saya sepakat saat Leila mengatakan pangsa pasar buku fisik di tanah air belum sepenuhnya terlibas oleh produk e-book atau buku elektronik. Kenapa? Karena pembaca Indonesia umumnya masih menyukai buku yang bentuknya bisa dipegang. Kalau menurut saya, buku fisik lebih sesuai untuk Indonesia karena di negeri yang masih rendah minat bacanya itu, buku fisik memudahkan kita untuk menyebarkannya ke mana saja di seluruh pelosok negeri ini tak peduli ada sambungan internet atau tidak, ada toko gawai atau tidak di sana. Tapi e-book? Lain sama sekali. Konsumsi e-book tergantung pasokan listrik, kestabilan koneksi internet, ketersediaan gawai yang sesuai dan banyak faktor lain.

Sementara itu, pengaruh revolusi internet pada dunia pers cetak menurut Arif Zulkifli sudah sangat terasa. Buktinya Tempo sudah menempuh strategi khusus dalam memasarkan produk digital mereka. Ia menjelaskan bahwa saat majalah Tempo versi cetak dijual mulai hari Senin, majalah yang sama dalam versi digital sudah bisa didapatkan hari Sabtu pekan sebelumnya. “Saya sering menggoda pembaca di Twitter pada hari Sabtu, karena hanya mereka yang membaca versi digital yang bisa ikut berdiskusi,” ujar Arif menyingkap taktiknya agar pembaca Tempo mau bermigrasi ke layanan berlangganan digital.

Arif yakin bahwa pertumbuhan pelanggan cetak akan melandai dan pertumbuhan pelanggan digital akan mendaki terus hingga keduanya akan bertemu di satu titik. “Di titik itu, saya kira kita bisa menjual versi cetak Tempo 500 ribu per eksemplar. Kenapa? Karena kita bisa buat eksklusif sehingga hanya orang kaya yang hanya bisa membeli majalah Tempo cetak,” terang Arif. Sementara itu, para pembaca proletar seperti saya dan Anda akan didesak untuk mengunduh saja versi digitalnya karena harganya jauh lebih murah. Arif mengatakan diskonnya bisa sampai 50 persen bahkan. Penjelasannya memang masuk akal karena memproduksi majalah cetak sangat boros biaya. Ia menjelaskan kewajiban membayar agen, biaya pembelian kertas, tinta dan sebagainya. “Digital menolong kita dalam banyak hal,” kata Arif.

Arif juga yakin bahwa Tempo bisa bertahan di era transisi cetak menuju digital karena memiliki keunggulan konten yang khas: long form. Produk jurnalistik long form yang makin langka itu bisa disajikan dalam bentuk digital juga, tegas pria yang tidak setuju jika dikatakan konten media digital itu dangkal. Dalam hal ini saya sepakat karena masalah cetak atau digital cuma perkara medium atau alat saja. Tidak usah terlalu dipusingkan perbedaannya sebab konten apapun jika memang menarik akan selalu didatangi pembaca. “Orang sudah mulai kembali ke long form,” Arif berujar. Cukup masuk akal karena siapa yang tidak muak dengan berita-berita penuh tipu daya di dunia maya dari berbagai situs berita ‘abu-abu’ yang menjadi corong kepentingan segerombol cecunguk yang haus kekuasaan dan kekayaan.

Keunggulan itulah yang tecermin dalam semboyan Tempo: “Story behind news” (cerita di balik berita). Itu karena (majalah) Tempo sadar mereka tidak bisa terbit saban hari atau memutakhirkan perkembangan sebuah kasus segesit media daring dan televisi. “Kami sadar kami akan kalah dalam hal kecepatan jadi kami fokus ke cerita-cerita di balik berita-berita yang Anda semua konsumsi di dot com dan televisi.”

Perihal revolusi internet, Mardiyah menambahkan bahwa dari sudut edukasi kepenulisan, tersedianya ruang berkreasi yang tanpa batas di internet menjadi sebuah peluang besar yang tidak bisa dilewatkan. Ia menyinggung soal maraknya kabar bohong (hoax) di dunia maya. Di sinilah masyarakat makin membutuhkan orang-orang yang memiliki keterampilan menulis yang memadai untuk mengemas gagasan dan pemikiran secara runtut dan logis serta kritis — tidak sembrono apalagi menyajikan kebohongan atau menyembunyikan fakta yang dirasa tidak menguntungkan — agar bisa dinikmati khalayak yang lebih luas.

Repotnya Jadi Repo(r)ter

Repotnya pekerjaan yang dilakukan seorang reporter mungkin akan membuat anak-anak muda urung menempuh karier di jalur ini. (Sumber foto: Wikimedia Commons)

Beberapa tahun lalu saya menemukan sebuah lowongan pekerjaan yang ditawarkan di sebuah situs lowongan pekerjaan daring. Tulisannya “repoter”. Saya ingin tahu pekerjaan macam apa reporter itu. Saya baca dengan lebih cermat, deskripsi kerjanya mirip dengan reporter. Orang mengenalnya sebagai jurnalis, wartawan, atau sejenisnya. Profesi yang mungkin tidak banyak diminati anak muda saat ini kecuali mereka tidak tahu apa yang akan mereka lakukan dengan masa depan mereka.

Saya pikir lagi. Typo atau salah eja tadi memang cocok untuk menggambarkan pekerjaan seorang reporter. “Repot”, sebuah kata sifat, bisa diubah menjadi kata benda yang merujuk pada orang yang mengalaminya jika ditambahi akhiran -or atau -er. Melakoni pekerjaan ini memang membuat orang pontang-panting.

Akan tetapi, meski begitu kerepotan, pekerjaan reporter relatif kurang dihargai oleh masyarakat. Di Indonesia, jarang sekali orang tua menyarankan sejak kecil anak mereka agar bercita-cita sebagai reporter. Lihat saja, rata-rata pasti menyarankan anak menjadi dokter, insinyur, dokter, presiden. Tidak aneh, karena memang ada gengsi juga di sana (walaupun apresiasi finansial juga kadang tidak bisa dipatok — ada dokter yang pendapatannya juga kecil sekali meski prevalensinya rendah).

Penulis humor Raditya Dika pernah menuliskan dalam salah satu bukunya, “Babi Ngesot“, bahwa menjadi reporter itu “pekerjaan yang keren” hanya karena Superman adalah seorang reporter juga. Dan kalau saya boleh tambahkan, Spiderman atau Peter Parker juga seorang wartawan juga. Hanya saja ia jurnalis foto yang kerap ditindas pemberi kerjanya. Sebuah gagasan yang delusional khas anak muda yang penuh dengan idealisme. Ia mengaku dulu pernah bekerja sebagai tenaga magang di sebuah stasiun televisi swasta di ibukota.

Ia bercerita asyiknya menjadi seorang reporter di sana. Berbagai pengalaman sinting dan kocak ia alami. Dari salah paham saat mewawancarai narasumber, liputan ancaman bom palsu sampai harus kerja pagi sampai dini hari.

Menyoal kewajiban seorang reporter untuk memiliki ketajaman telinga saat mewawancarai via telepon saya juga pernah alami. Maka dari itu, dalam berbagai kesempatan jika saya tidak benar-benar terpaksa saya akan menggunakan media tertulis saja untuk menghubungi narasumber (entah itu via aplikasi obrolan bergerak) atau surel. Lebih baik lagi jika saya bisa bertemu langsung dan merekam perkataan narasumber itu. Saya tidak cuma mengandalkan pendengaran dan daya ingat saya yang begitu tidak bisa dipercaya. Kecepatan menulis saya juga kurang tinggi. Alhasil, untuk mencegah salah kutip saya selalu berupaya merekam dan transkripsi hasil wawancara itu dengan lebih baik

Kerepotan menjadi reporter sudah terjadi saat melamar lowongan kerja. Biasanya reporter sudah diwajibkan menyerahkan sebuah karya jurnalistik. Lalu bagaimana jika belum berpengalaman sehingga belum ada karya yang bisa dikumpulkan? Itu repotnya.

Kerepotan lain menjadi reporter muncul saat sudah diterima kerja. Tiba-tiba saja reporter bisa ditugasi beat atau ditempatkan di desk yang sama sekali tidak dikuasai. Beat sendiri bisa dimaknai sebagai sebuah area peminatan seorang reporter. Namun, tetap saja menurut pengalaman penugasan bisa mengabaikan minat seorang reporter dan di sini reporter harus rela kerepotan menyesuaikan diri, belajar dari nol tentang semuanya dengan sangat cepat. Pokoknya tidak ada waktu untuk santai. Harus belajar mandiri setiap hari.

Bagi reporter, setiap hari baru berarti sebuah tantangan baru. Reporter, sepintar apapun, tidak akan bisa meramal berita yang akan muncul dari dalam pikiran keesokan hari. Selalu ada insiden baru yang harus dicari dan diceritakan pada pembacanya.

Reporter juga mesti rela repot bekerja lembur tanpa diberi upah ekstra. Secara teoretis, seorang pewarta memang dikategorikan karyawan seperti buruh tetapi pada dasarnya beban kerja dan rentang waktu kerja mereka di lapangan sangat panjang dan penuh tekanan.

Tantangan bekerja sebagai reporter yang tak kalah besar bisa jadi ialah keharusan untuk bekerja jika diperlukan saat semua orang lazimnya berlibur atau santai. Bekerja di hari libur nasional, tanggal merah atau menghadiri sebuah event di akhir pekan, sudah terasa biasa bagi reporter.

Terakhir tetapi bukan yang satu-satunya ialah kerepotan yang jauh lebih hebat, yaitu kerepotan menjaga idealisme sebagai pewarta. Kita semua pasti tahu kecilnya gaji wartawan hingga memunculkan fenomena “wartawan bodrex”.

Sertifikasi Wartawan, Perlukah?

wp-1451576891709.pngSiang itu sebuah ruangan di Perpusatakaan Pemerintah DKI, Kuningan, tengah dipadati mereka yang berminat dengan tema UU ITE (Undang Undang Informasi Transaksi Elektronik) yang beberapa tahun terakhir membuat kehebohan tersendiri. Dari kasus Prita Mulyasari versus sebuah rumah sakit internasional yang kemudian bergulir menjadi sebuah gerakan solidaritas yang masif di jejaring sosial dan memicu perdebatan hangat di sana-sini selama beberapa lama.
Salah satu pembicara ialah Kamsul Hasan, yang menjabat sebagai ketua kompetensi PWI Pusat, Ketua Dewan Kehormatan PWI Jaya. Salah satu isu yang ia bahas adalah sertifikasi wartawan di tanah air. Akhir-akhir ini sertifikasi memang ada di berbagai bidang. Dari pendidikan (guru) sampai ketenagakerjaan (tenaga kerja spesialis), program sertifikasi rasanya sudah ada. Dan dunia jurnalistik tampaknya tidak terkecuali.
Kepada beliau saya bertanya terkait dengan sertifikasi wartawan. “Apakah ada bedanya jika seorang wartawan memiliki sertifikat atau tidak? Karena toh menurut pengalaman saya selama ini sebagai wartawan daring (online), tidak ada yang berbeda drastis perlakuan terhadap mereka yang bersertifikat dan tidak,” tutur saya dengan nada skeptis.
Saya tidak mengada-ada. Sepanjang yang saya tahu, di lapangan perbedaan perlakuan itu tidak kentara. Dan mungkin memang dianggap tidak perlu. Saya tidak bisa menjawab persis. Para pemberi kerja juga tidak terlalu memusingkan apakah calon jurnalis yang mereka akan rekrut memiliki sertifikat itu atau tidak. Lihat saja iklan-iklan lowongan kerja untuk para jurnalis. Tidak sedikitpun yang menyinggung sertifikat semacam itu. Rata-rata pemberi kerja hanya mensyaratkan calon wartawan untuk memiliki kemampuan menulis yang hebat, meriset dengan teliti dan akurat, mewawancarai dengan lancar, bersedia bekerja dengan waktu yang fleksibel di akhir pekan dan hari libur, memiliki kendaraan sendiri sehingga mobilitas lebih mudah, memiliki kompetensi dalam bidang teknologi informasi sehingga mereka bisa menyampaikan konten secara lebih cepat, bisa bekerja dengan tenggat waktu yang ketat, atau bisa bekerjasama dengan baik dalam sebuah tim editorial yang diisi dengan berbagai macam orang. Namun, herannya aspek sertifikat tidak dimasukkan ke dalam daftar persyaratan.
Kamsul sepakat dengan pernyataan saya. Memang saat ini belum ada perbedaannya, ia berargumen. Namun, begitu nanti para pemberi kerja itu tahu pentingnya standarisasi kompetensi jurnalistik seorang wartawan, sertifikasi akan menjadi sebuah daya saing, kelebihan yang bisa membuat pemiliknya menonjol dibandingkan mereka yang tidak memilikinya.
Dalam benak, saya ingin bertanya lagi, “Lalu kira-kira kapan para pemilik modal itu tahu bahwa sertifikasi wartawan itu penting bagi dunia jurnalisme Indonesia yang sudah demikian porak poranda ini?” Saya tahan pertanyaan itu dalam hati karena saya sadar jawabannya sangat bergantung pada banyak faktor di luar kendali banyak orang, bahkan organisasi sebesar PWI sekalipun. Ini semua memerlukan upaya sinergis, tidak bisa setengah hati, atau cuma menonjolkan sebagian aspek.
Untuk menolak lupa, mari kita ingat betapa semrawutnya media di Indonesia selama ajang Pemilihan Presiden yang lalu. Saat itu banyak wartawan yang melacurkan diri demi pageviews, traffic atau kunjungan ke situs berita mereka. Demi kepentingan pemilik modal, mereka juga rela menmanipulasi fakta dan data. Suatu catatan yang memilukan dalam sejarah jurnalisme Indonesia jika suatu saat nanti para mahasiswa jurusan jurnalisme menengok ke belakang. Boleh saya katakan masa itu adalah sebuah ujian bagi para jurnalis di negeri ini, dan sebagian besar dari mereka GAGAL melewatinya dengan baik. Status sebagai salah satu pilar penting dalam demokrasi tidak bisa lagi disandang dengan kepala tegak. Ada isu-isu yang bisa membungkam para jurnalis karena isu-isu itu ternyata berkaitan dengan para petinggi perusahaan tempat mereka mengabdikan hampir seluruh jiwa dan raga mereka.