Perjamuan Korea di Hari Raya

13575808_10208105563894229_24706567865707961_oKoran Chosun Ilbo edisi 27 Juni itu ia bawa keluar dari kamarnya. Saya tahu ia memiliki setumpuk koran itu di sana. Untuk perhelatan sederhana ini ia mengeluarkan beberapa lembar untuk kami.

Koran berbahasa Korea itu ia pakai untuk alas kami duduk di lantai. Di atas sebuah kursi ia letakkan sepanci besar sup berwarna kemerahan, sebuah hasil kerja keras petang tadi yang siap kami nikmati.

Beberapa menit sebelumnya saya memergokinya di dapur bawah. “Akhlis, where have you been?” tanyanya dalam bahasa Inggris beraksen Korea yang kental. Saya katakan saya baru pulang dari kota kelahiran dan baru saja mendarat di tanah Betawi.

Tahu ia mengaduk-aduk sesuatu di panci, saya iseng melongok ke dalamnya. Bau amis menusuk hidung. Rupanya ia merebus kimchi, lalu mencampurinya dengan udang mentah yang tidak dibersihkan kulit dan antenanya, serta seekor ikan air tawar yang saya duga adalah mujahir. Untuk memastikan, saya tanya dia,”Ikan apa ini?” Dia tidak menjawab pasti. “Tidak tahu. Makan saja. Haha.” Lalu saya tanya lagi,”Apa nama masakan ini?” Mulanya ia menyebut nama sejenis sup. Rumit namanya, saya tak bisa mengingatnya. Akhirnya ia berkata jujur, masakan itu sebetulnya tak bernama. “Ini sup kreasi saya saja.” Mata saya terbelalak,”Ya ampun, ini makanan eksperimen Anda?” Ia mengangguk lalu tertawa. Ah, dasar mr Ahn. Siapa peduli nama dan takaran? Merepotkan. Asal bisa dimakan, mengapa harus ada banyak pertanyaan?

Saya sepakat untuk turut mencicipi masakan beraliran oriental-eksperimental ini. Kebetulan saya malas ke luar rumah kos. Dan ia satu-satunya orang di rumah ini yang memasak. Untuk itu, ia rajin berbelanja di supermarket Korea dekat sini. Saya melihatnya sore tadi berjalan kaki membawa kantong plastik besar saat saya turun dari kendaraan dari bandara. Mungkin sekali ia baru membeli bahan-bahan untuk sup ikan ini. Saya yakin karena ia suka memasak bahan yang sesegar mungkin. Beli, masak, habis. Begitu seterusnya. Tak mau menyimpan lama-lama.

Saat jutaan manusia di pulau ini tengah mabuk opor dan sambal goreng hati ayam, saya di sini duduk mencicipi masakan eksperimental yang asing bagi lidah. Absurd memang rasanya. Sup ikan itu amis sekali bagi saya yang jarang makan makanan laut. Rasa asin juga tak ada. Pedas juga absen di dalamnya. Padahal keduanya yang memicu selera makan saya. Tapi saya sudah telanjur menyendok banyak kuah dan isinya. Pantang saya sisakan. Begitu semboyan saya di meja makan.

Tidak berlebihan kimchi dilabeli makanan pokok setara beras di Korea, mirip tempe atau sambal di Indonesia. Klaim tetangga ini, kimchi bisa dicampur apa saja. “Mau ikan, daging, ramen, udon, apa saja bisa dimakan bersama kimchi,” tegas pria Korea berkacamata yang wajahnya resik dari manipulasi estetik itu. Dengan berdasarkan falsafah itu dalam benaknya, ia berani mencipta berbagai kreasi baru di tengah kerinduan memuncak karena tak bisa pulang sekehendak hatinya. Apalagi sekarang di Seoul, rumahnya, sedang musim panas.

“Mengapa makanan Korea tak pakai garam?” saya ingin mengorek jawaban di balik hambarnya sup ikan hasil inovasi kulinernya. Mr Ahn menjelaskan dengan sabar dalam bahasa Inggris yang patah-patah dicampur sejumput kata bahasa Indonesia jika putus asa mendapatkan padanan kata. Untuk Anda, saya ringkaskan saja celotehannya. Jadi menurutnya semua masakan terutama yang sudah pakai kimchi sebagai bahan dasarnya tak lagi perlu tambahan garam karena saat pembuatan kimchi pun sebetulnya sudah banyak garam yang dimasukkan.

Saya juga mempersoalkan kebiasaan makan orang Korea yang secepat kilat. Apa alasan di balik kebiasaan itu? Jelas mr Ahn lagi, dulu masyarakat Korea memang cenderung makan perlahan-lahan. Namun begitu Perang Dunia menerjang negeri ginseng, kebiasaan makan menjadi berubah. Orang Korea tak bisa berlambat-lambat makan. Mereka mesti berpacu dengan waktu karena musuh perang bisa muncul kapan saja. “Jadi kami harus makan lebih cepat,” tandasnya, lalu menyuap nasi yang sudah dicampur black beans ke dalam mulutnya. Makanannya tandas dalam 3 menit. Saya 20 menit.

Belum habis makanan ini, ia menawari,”Kau mau kimchi labu dan kaen-iph (daun kaen)?” Saya tidak menampik tawarannya. Ia secepat kilat ke kamarnya, muncul kembali dengan dua bungkusan. Satu labu renyah berlumur bubuk cabai dan selembar daun beraroma kimchi ia berikan pada saya. Saya lahap semuanya. “Healthy foods!” serunya. Kepala saya mengangguk. Lidah saya menggeleng. Untung saya tipe orang yang tak segan menelan makanan apapun asal sehat dan halal.

Sembari melayani pertanyaan-pertanyaan saya, ia sesekali mengambil ponsel Samsungnya dan berbicara pada Taeyon, anak laki-lakinya yang baru belajar bahasa Inggris. “Ia baru mulai belajar dan ingin saya mendengarkannya berlatih membaca,” katanya sambil membuka aplikasi Kakao Talk. Mereka bercakap gratis via aplikasi itu setiap hari. Betapa mereka setia dengan produk-produk dalam negerinya. Sungguh lain dari kita.

Perjamuan berakhir. Sup ikan bercita rasa aneh itu hampir habis. Seekor kucing datang mendekat dari arah tangga, mengeong dengan mata fokus pada panci sup ikan itu. Kami sisihkan sisa udang dan duri ikan dan sajikan di sesobek koran alas duduk ini. Sementara itu, mr Ahn mengambil panci itu lagi dan turun ke dapur. Saya pikir ia akan membuangnya. “Mau dipanaskan lagi buat besok,” ucapnya lembut. Sungguh teladan sejati dalam aspek hidup hemat di perantauan.

Sehabis makan, ia tidak serta merta santai apalagi tidur. Justru ia ambil sepatu ketsnya dan keluar berjalan kaki. Di jalan pulangnya, kami bertemu kembali. Bedanya saya pulang dari membeli kudapan, sebatang cokelat.

“Tiga hari ini melakukan apa saja di Jakarta?” saya melancarkan pertanyaan terakhir. Membosankan, tukasnya. Ia habiskan waktu dengan makan dan berlari keliling sendirian sebagaimana biasanya. Ia hanya mau hari segera berganti Senin supaya lekas kerja. Ah malunya. Padahal kita orang Indonesia ingin memperpanjang lagi cuti bersama. Persetan dengan kemajuan bangsa, asal diri dan keluarga kenyang, mapan dan sejahtera. Meski itu tentu bukan cerminan semua.

Mengapa Korsel Menjadi Ibukota Bedah Plastik Dunia?

 

Gadis-gadis Korsel begitu keranjingan operasi plastik bukan karena ingin berbeda tetapi karena ingin sama. (Sumber foto: Wikimedia)

Jika Anda ingin merasa ada yang salah dengan wajah Anda, kunjungilah Seoul. Anda akan menemui banyak perempuan – dan pria juga – yang tampak seperti putri di film kartun. Para penumpang kereta bawah tanah menyempatkan diri berhenti di depan kaca untuk sejenak bersolek di depan kaca-kaca sepanjang tinggi badan yang dipasang stasiun-stasiun untuk tujuan berdandan. Para pelamar kerja biasanya diharuskan menyertakan foto dengan riwayat hidup mereka. Komentar-komentar dari para kerabat, seperti ”Kau akan jauh lebih cantik jika dagumu diperkecil,” dianggap bukan lagi sebuah hinaan daripada “Apartemenmu akan terjual dengan harga lebih tinggi jika kau perbaiki dapurmu.”

Orang-orang Korsel tidak hanya berpikir keras soal bentuk wajah mereka. Mereka juga menghabiskan uang mereka untuk mengembalikan posisi mulut – mata dan hidung – seperti dahulu di masa muda mereka. Menurut beberapa perkiraan, negara ini memiliki tingkat bedah plastik tertinggi per kapita di seluruh dunia. (Brazil, jika Anda ingin gelar ini, Anda harus sedikit lebih banyak mengoperasi bokong Anda.) Amerika Serikat menurun di posisi keenam meskipun mereka masih mencatatkan jumlah operasi secara keseluruhan yang terbanyak. Diperkirakan bahwa antara seperlima dan sepertiga perempuan di Seoul sudah pernah menjalani prosedur bedah plastik dan satu jajak pendapat yang dilaporkan kantor berita Inggris BBC menyatakan angkanya di 50 persen atau lebih dari itu di kelompok perempuan usia dua puluhan. Berdasarkan sebuah laporan, persentase pria yang turut menjalani prosedur bedah plastik mencapai 15 persen, termasuk mantan presiden Korsel yang menjalani pembedahan kelopak mata saat masih menduduki jabatannya. Data statistik di bidang bedah plastik tidak bisa dipastikan karena industri ini tidak diatur dan tidak ada catatan resmi tetapi kita akan membahasnya dalam paragraf yang lebih muram.

Di bulan Januari, saya menghabiskan waktu dua pekan di sebuah kawasan di Seoul yang disebut Kota Perbaikan. Area ini berada di distrik Gangnam, yang berjuluk Beverly Hills-nya Seoul. Saya menyadari bahwa terjebak di kemacetan jalan raya akan membuat kerutan di wajah saya sehingga penerjemah saya dan saya memutuskan naik kereta bawah tanah yang dilengkapi dengan Wi-Fi, kursi yang berpemanas, dan video-video instruksional mengenai apa yang harus dilakukan jika terjadi serangan senjata biologi atau kimi. Dinding-dinding stasiun kereta bawah tanah tertutup rapat oleh iklan raksasa klinik-klinik bedah plastik, banyak yang menggambarkan mahkota mungil dengan perhiasan dan baju-baju pesta tanpa lengan dan sering terpampang di samping versi diri mereka sendiri sebelumnya (foto-foto “sebelum”) – seorang gadis sendu yang kurang percaya diri dengan kedua mata yang redup, hidung pesek, dan garis rahang yang berbentuk capit kepiting. “Inilah alasan kenapa para pesohor memiliki kepercayaan diri bahkan tanpa riasan,” sebaris tulisan di bawah sebuah foto berbunyi. “Setiap orang kecuali Anda sudah pernah melakukan ini,” tulisan lainnya berbunyi.

Anda tahu Anda di lingkungan yang tepat dengan melihat banyaknya pria dan wanita di usia duapuluhan dan tigapuluhan dengan wajah yang agak memar dan bengkak yang tengah sibuk menjalani kegiatan sehari-hari meskipun mereka mengenakan plester. Petunjuk lain: terdapat sekitar empat dan lima ratus klinik dan rumah sakit dalam luas satu mil persegi. Area ini disesaki dengan bangunan beton berbentuk kubus yang tampak seolah dibangun di hari yang sama. (Area ini dulu didominasi lahan pertanian pir dan kubis dan rumah-rumah beratap jerami hingga akhirnya dirombak untuk perbaikan wajah kota jelang Olimpiade Seoul tahun 1988). Sejumlah klinik menempati enam belas lantai dan klinik terbesar memakan tempat sebanyak beberapa bangunan pencakar langit. Sebagian besar klinik ini lebih sederhana. Papan-papan nama vertikal dalam bahasa Korea yang tinggi menjulang tampak mengemuka dari bangunan-bangunan tersebut dan menggantung menutupi trotoar bak gulungan-gulungan selotip bedah yang tak terbungkus rapi. Mereka mengiklankan nama klinik mereka, beberapa di antaranya yang diterjemahkan oleh teman-teman Korea saya untuk saya: Wajah Mungil, Hidung Ajaib, Hidung Dr. 4, Perempuan Idaman, Sebelum dan Sesudah, Terlahir Kembali, Kelas Unggul, Peniru, Selamanya, Cinderella, Pusat Tampilan Manusia, dan Bedah Plastik Estetika 31 April. Juga terdapat sebuah klinik bersalin yang khusus menyediakan perawatan kecantikan bagi para ibu baru dan calon ibu.

Inilah perubahan pasca blepharoplasty, operasi penambahan kelopak mata yang membuat mata lebih lebar dan besar itu. (Sumber: Wikimedia)

Penerjemah saya, Kim Kibum, sepakat untuk berpura-pura sebagai seorang calon pasien dan saya mengikutinya saat kami berkunjung dari satu klinik ke klinik lainnya, bercakap-cakap dengan para dokter mengenai berbagai cara untuk merombak diri kami. Kibum, seorang pengajar di Sotheby’s Institute of Art, yang sedang mengunjungi keluarganya di Seoul, berusia tiga puluh satu. Pria Korsel ini tidak bisa dianggap muda lagi dalam prosedur bedah plastik, yang seperti ilmu kode komputer, senam kompetitif, dan sereal Trix, diperuntukkan bagi orang-orang yang lebih muda. Sebuah hadiah yang lazim ditemui bagi seorang remaja Korsel yang baru lulus sekolah menengah ialah operasi permak hidung atau sebuah prosedur bernama blepharoplasty, yang lebih dikenal sebagai operasi untuk membuat kelopak mata ekstra (dengan menambahkan lipatan satu lagi di kelopak mata untuk membuatnya makin tampak lebar), yang sejauh ini menjadi prosedur bedah yang paling umum dilakukan di Korsel.

***

“Mari kita tanya apakah mereka bisa membuat kita tampak mirip,” Kibum berbisik pada saya di Bedah Plastik Wajah Kecil, sebuah rumah sakit khusus perombakan wajah sebelum kami bertemu dengan seorang konsultan untuk membahas mengenai berbagai opsi bedah dan menawar harga. (Biaya operasi dan layanan di Korsel sangat bervariasi tetapi lazimnya pasien membayar sepertiga dari biaya yang dikeluarjan di AS. Sebagaimana handuk dan sprei dari Bloomingdale, mustahil untuk tidak mendapatkan diskon). Kibum memiliki sepasang mata dengan lipatan tunggal, hidung yang tajam, dan bibir atas dengan bentuk M yang sempurna dan jenggot yang dibiarkannya tumbuh sedikit. Kami duduk bersama di sebuah sofa kulit di ruang tunggu yang berlampu ungu yang mirip kapal induk Starship Enterprise, yang didekorasi ulang oleh Virgin Atlantic. Para perempuan yang bekerja di sana – sebagaimana dalam klinik-klinik yang saya sudah pernah kunjungi – mengenakan seragam berupa rok pendek, sepatu hak tinggi dan atasan yang ketat. Tubuh dan wajah mereka, terlepas dari hidung yang kadang berbentuk terlalu melengkung bak lompatan ski, adalah iklan-iklan yang dipakai untuk hasil kerajinan tangan profesi medis di Korsel. Setiap orang di sini perempuan kecuali sebagian besar dokter dan barista yang berada di balik meja kopi (cappucino gratis!) di ruang tunggu Rumah Sakit I. D.

Saya meminta Kibum menjelaskan nama Wajah Mungil. “Orang-orang Korea, dan Asia secara umum, sangat sadar diri jika memiliki kepala yang besar,” ujarnya. Inilah kenapa dalam foto-foto bersama seorang gadis akan berupaya berdiri lebih jauh di belakang supaya wajahnya tampak jauh lebih kecil. Ini juga alasan mengapa operasi pengecilan rahang atau yang populer disebut “operasi garis V” begitu digemari. “Garis rahang yang didamba itu berbentuk kecil dan sempit dan bisa dimiliki dengan mengikis mandibula (tulang rahang bawah) memakai gergaji otomatis atau dengan mencopot kemudian menyelaraskan ulang kedua rahang, sebuah operasi yang dulunya adalah prosedur penanganan bagi mereka yang memiliki cacat parah. (Tahun lalu, sebuah klinik didenda karena sudah memamerkan dengan inisiatifnya sendiri lebih dari dua ribu potongan tulang rahang di dalam dua gelas kaca, dengan setiap tulang dilabeli dengan nama pasien pemilik tulang rahang tersebut.)

Kibum dan saya menelusuri lembaran-lembaran buku “Look Book” yang berisi testimonial dan foto-foto para pasien sebelumnya. (Dari sebuah buku yang sama di Rumah Sakit Plastik Besar:”Sakit hanya untuk sesaat! Hidup sebagai perempuan sempurna dan jelita selama sisa hidup Anda!” “ Saya dulunya terlihat seperti kelaparan sepanjang hidup saya, tanpa pernah terlihat sekalipun menikmati kemewahan. Mata saya cekung, dahi saya rata…” “ Kini saya rupawan bahkan jika dilihat dari belakang!” “Saat saya masih muda, di tahun 1980-an, rupa ideal ialah yang kebarat-baratan – wajah yang tirus, bergaris tegas dengan mata lebar,” Kibum berkata pada saya. “Saya pikir bahwa hal itu sudah berubah karena budaya operasi plastik. Semua orang mulai tampak sama sehingga ‘aneh’ dan ‘berbeda’ menjadi begitu dihargai.” Banyak orang saat ini memperdebatkan ide bahwa operasi plastik Korea meniru estetika Barat, yang menonjolkan, misalnya, bahwa mata lebar dianggap menarik di mana-mana dan bahwa kulit yang cerah berarti kesejahteraan. Tetap saja hampir semua orang yang saya temui di Seoul menegaskan tren wajah bayi ini. Tampilan Gadis Bagel (kependekan dari ‘baby-faced’ dan ‘glamorous’), badan yang berlekuk dengan wajah anak sekolah, terus digemari. Prosedur bedah lainnya yang tak kalah populer ialah aegyo sal, yang artinya “senyuman mata” atau “kulit yang menggemaskan”. Dalam prosedur itu, dilakukan penyujntikan lemak di bawah mata sehingga memberikan kesan menggembung bak seorang balita yang lucu.

Dalam ruang tunggu di klinik Wajah Mungil, sebuah televisi menayangkan program yang berjudul “Kelahiran kecantikan”. Episode ini mengisahkan seorang wanita yang selalu ingin menjadi aktris namun karena rupanya ia harus berpuas diri menjadi pemeran pembantu hingga… Anda bisa tebak akhirnya. Sementara itu, Kibum mengisi lembar kuesioner bagi pasien baru. Di sini ada sejumlah pertanyaan:

Alasan menghendaki operasi?

  • menyiapkan diri untuk masuk dunia kerja
  • pernikahan
  • meningkatkan rasa percaya diri
  • saran dari orang lain

 

Wajah seperti apa yang Anda inginkan?

  • Alami
  • Sangat berbeda
  • Betul-betul berbeda
  • Pesohor mana yang Anda ingin tiru?

 

Apakah Anda memiliki teman-teman yang berminat menjalani operasi plastik? Berapa banyak?

  • 1
  • 2-3
  • 3-5
  • Banyak

Jika Anda mendapatkan hasil yang Anda inginkan dari operasi plastik ini, hal apa yang paling ingin Anda lakukan?

  • Mengunggah foto diri tanpa memakai Photoshop
  • Mendapatkan kekasih
  • Mendapatkan pekerjaan
  • Mengikuti kontes kecantikan wajah

Kami mengunjungi tiga klinik hari itu, termasuk satu klinik yang memiliki sebuah museum operasi plastik (di antaranya dilengkapi dengan potongan-potongan, tengkorak yang bentuknya cacat, shampo khusus pasca operasi dan sebuah kaca besar yang mirip dengan kaca-kaca besar) dan pusat medis yang megah (sofa-sofa kulit berwarna putih dan lantai marmer) yang diselidiki tahun lalu setelah foto-foto yang muncul di Instagram menunjukkan para staf yang histeris di ruang operasi – meniup lilin kue ulang tahun, makan hamburger, berpose dengan sepasang payudara buatan – sementara sang pasien yang terkapar di meja operasi menjadi pengganggu di foto Kami bertemu dengan tiga konsultan dan dua dokter. Protokolnya sering mengharuskan berbicara dengan seorang konsultan yang kemudian memberikan arahan bagi seorang dokter yang kemudian mencermati Anda dan mencoretkan garis-garis di wajah Anda sebelum Anda bertemu lagi dengan sang konsultan yang memastikan finalisasi kesepakatan ini. Di sebagian besar kantor, terdapat tengkorak di meja untuk tujuan edukasi.

Saat Kibum bertanya pada para praktisi itu mengenai pendapat mereka tentang apa yang harusnya ia lakukan, sebagian besar bertanya,”Apakah Anda benar-benar membutuhkan operasi ini?” Saat saya bertanya prosedur apa yang mungkin saya butuhkan, mereka berkata, di samping terapi laser dan operasi penarikan dahi (“Orang Asia tidak memiliki kerutan di area itu karena menaikkan alis dianggap kasar,” seorang dokter berkata pada saya), saya ingin mengencangkan wajah atau setidaknya prosedur tarik benang – sebuah jaringan serat di bawah kulit yang ditanam di wajah untuk mengangkat kulit ke atas seperti jembatan suspensi Calatrava — kecuali karena saya seorang Kaukasia, kulit saya terlalu tipis untuk operasi tarik benang. Saya juga mendengar begitu banyak komentar miring mengenai kantung mata saya yang saya mulai cemaskan tidak diperkenankan Korean Air untuk saya bawa masuk ke kabin sebagai barang bawaan di penerbangan pulang nanti.

Saat berbicara dengan saya, seorang dokter menyapukan tangannya dengan lebar, menandakan bahwa ia menyarankan penghilangan kantung mata itu. Kibum menerjemahkan :”Ia pikir Anda semestinya diberi Botox di sekitar area mata dan dahi dan mereposisi lemak di bawah mata Anda.”
Saya:Apakah ia pikir saya harus membuat pipi saya lebih montok?
Kibum:Ia tidak menyarankannya karena akan hilang dalam delapan bulan dan Anda perlu mengisi banyak.
Kibum dan saya tidak berani meminta untuk dioperasi agar berwajah sama namun hal itu bukan hal yang terlalu sulit bagi mereka. Setiap dokter yang saya wawancarai mengatakan bahwa ia memiliki pasien-pasien yang membawa foto selebriti, dan meminta dipermak supaya mirip selebriti itu; atau, misalnya, hidungnya dibuat semirip mungkin dengan hidung Kim Tae-Hee dan mata Lee Min-jung. Seorang dokter mengatakan pada saya bahwa ia memiliki seorang pasien yang menunjukkan padanya sebuah karakter kartun yang ia ingin tiru wajahnya. (Ia menolaknya.) Selain itu, makin banyak perempuan yang menjalani operasi pada saat bersamaan dengan anak-anak gadis mereka, dan meminta agar permak wajah itu dilakukan bersamaan dan semirip mungkin sehingga wajah si anak nantinya dikira orang adalah warisan orang tua alih-alih sebagai hasil operasi.
“Para wisatawan operasi plastik” dari luar negeri menyumbang sepertiga dari transaksi bisnis operasi plastik di Korsel dan dari jumlah tersebut, sebagian besar berasal dari Tiongkok. Salah satu alasannya ialah bahwa di semua penjuru Asia, “gelombang” budaya pop Korea (yang disebut hallyu) tidak cuma menentukan jenis musik yang Anda harus dengarkan tetapi juga bagaimana penampilan Anda saat mendengarkannya. Transformasi-transformasi kosmetik bisa sangat radikal sehingga sejumlah rumah sakit menawarkan sertifikat identitas pada pasien-pasien asing yang mungkin membantu mereka meyakinkan para petugas imigrasi bahwa mereka tidak berada dalam Program Perlindungan Saksi.

***

Kami semua ingin tampil sebaik mungkin tetapi belum pernah sejak kelas tujuh saya menemukan diri saya dikelilingi oleh orang-orang yang begitu menganggap penting penampilan. Dalam pencarian pemahaman yang lebih jelas mengapa orang Korsel begitu mengutamakan penampilan, saya mampir ke kantor Eunkook Suh, profesor psikologi Universitas Yonsei di Seoul, yang dipenuhi buku.”Satu faktor penyebabnya ialah bahwa berlawanan dari budaya Barat, aspek-aspek eksternal diri (status sosial, pakaian, bahasa tubuh dan penampilan Anda) versus aspek-aspek dalam (pikiran dan perasaan) lebih berarti di sini,” ia menjelaskan. Suh menggambarkan sebuah eksperimen yang ia lakukan yang di dalamnya ia memberikan para mahasiswa, baik di Universitas Yonsei dan Universitas California di Irvine (tempatnya dulu mengajar) sebuah foto dan deskripsi tertulis yang merujuk pada orang yang sama. Format yang mana, ia bertanya pada mereka, yang memberikanmu pemahaman lebih baik mengenai orang ini? Mahasiswa Korea memilih foto dan mahasiswa AS memiliki deskripsi. Suh, seperti yang lain, menganggap sebagian alasannya ialah pola pikir Korea yang berakar pada ajaran Konfusius yang mengajarkan bahwa perilaku pada orang lain sangatlah penting. Ia merinci,”Di Korea, kami tak peduli apa yang kau pikirkan tentang diri Anda. Pendapat orang lain mengenai diri Anda lebih penting.”
Suh menjelaskan lebih lanjut bahwa dua masyarakat ini juga memiliki gagasan berbeda mengenai perubahan pribadi:”Dalam masyarakat Asia seperti Korea, banyak orang yang berpegang teguh pada teori inkremental versus teori enttas mengenai potensi seseorang.” Jika Anda meyakini teori yang kedua, sebagaimana yang diklaim Suh dianut banyak orang di AS, Anda yakin bahwa esensi seseorang itu tetap dan bahwa hanya ada sedikit potensi untuk berubah. “Jika anak Amerika berusia 10 tahun terlahir sebagai musisi dan bukan pemain sepakbola, Anda tidak akan memaksanya bermain sepakbola,” Suh menjelaskan. “Di Korea, mereka berpikir bahwa jika Anda berupaya, Anda akan bisa berubah lebih baik sehingga Anda akan memaksa anak Anda bermain sepakbola.” Jadi di Korea, Anda tidak hanya bisa tumbuh menjadi bintang layaknya David Beckham; Anda juga bisa — asal dengan kerja keras — tumbuh mirip seperti David Beckham juga.
Korsel bukan negara yang cepat menyerah. Sebagai salah satu bangsa yang kerap dirundung di muka bumi, Korea, sebagaimana diyakini sejumlah sejarawan, telah diinvasi lebih dari 400 kali sepanjang sejarah, tanpa pernah menjadi agresor, jika Anda tidak memasukkan Perang Vietnam. Setelah Perang Korea, GDP per kapita negeri itu ($64) bahkan lebih rendah dari GDP Somalia dan warganya hidup di bawah rezim penindas. Kini, Korsel menjadi bangsa dengan GDP tertinggi keempat belas di dunia. Maka tidaklah mengherankan bukan bahwa sebuah negara yang sangat gigih untuk memperbaiki diri dengan berbagai cara juga menjadi kiblat bagi permak wajah?

 

Operasi plastik cuma-cuma dari Marinir AS untuk warga Korea yang menderita cacat permamen pasca Perang Korea dulu dianggap berkontribusi menyumbang tren permak tubuh. (Sumber: Wikimedia)

Obsesi berlebihan Korsel terhadap operasi plastik ini bermula pasca Perang Korea, yang dipicu oleh tawaran dari angkatan perang AS yang memberikan operasi bedah rekonstruksi cuma-cuma bagi para korban perang yang cacat permanen. Perbuatan baik atau kesalahan — terserah Anda yang menentukan — itu terutama berkat David Ralph Millard, pimpinan dokter bedah plastik Korps Marinir AS yang menanggapi permintaan dari para warga Korea yang ingin mengubah mata mereka menjadi mata yang kebarat-baratan, lalu disempurnakan dengan operasi blepharoplasty (operasi rekonstruksi kelopak mata – pen). Sebagaimana ditulis Millar dalam catatannya tahun 1955, mata Asia yang tidak memiliki “lipatan mata menghasilkan ekspresi pasif yang tampaknya menjadi contoh sempurna sikap Timur yang gigih dan tanpa emosi. “ Operasi ini begitu digemari dan meluas, terutama di kalangan pekerja seks komersial Korea, yang ingin menarik perhatian tentara-tentara AS. “Korea sungguh-sungguh menjelma sebagai sebuah surga dokter bedah plastik,” tulis Millard.
Ada satu kata yang Anda akan banyak dengar di Korea: woori. Kata itu bermakna “ kami” atau “kita” atau “ke-kita-an”, tetapi sebagaimana dijelaskan Kihyoung Choi dalam bukunya “Pedagogi Spiral” (A Pedagogy of Spiralling), makna kata itu juga kabur karena mirip dengan kata “Saya” dalam pengertian kolektif. Choi menulis, “Saat seseorang menyebut pasangan orang lain, ia tidak berkata ‘suami saya’ atau ‘istri saya’ tetapi ‘suami kami’ atau ‘istri kami’.” (Angka perceraian di Korea meningkat tiga kali lipat di tahun 2014.) “Sangatlah penting untuk menjadi bagian dari kelompok woori, menjadi bagian dari sebuah koalisi atau grup,” kata Eugene Yun, seorang manajer dana ekuitas swasta pada saya. “Inilah antitesis individualisme. Jika kami pergi ke restoran dengan berkelompok, kami semua memesan makanan yang sama. Jika kami berbelanja, kami sering bertanya,’Mana yang paling laris?’ dan membelinya begitu saja. Yang kami rasakan ialah jika Anda bisa tampil lebih baik, lakukanlah. Jika Anda tidak melakukannya, Anda dianggap cepat berpuas diri dan malas serta membuat grup Anda tampak buruk.” Ia menambahkan,”Ini bukan soal Anda mencoba untuk menjadi yang terbaik dan tampil memukau. Ini lebih mengenai upaya agar kita tidak terlihat buruk.” Ia meneruskan,”Masyarakat Korea sangat kompetitif. Dahulu jika tetangga Anda membeli sebuah televisi baru atau mobil baru, Anda juga harus demikian. Kini kami semua sudah bisa memenuhi semua kebutuhan dasar itu, sehingga persaingan pun beralih pada perbandingan penampilan fisik, kesehatan dan aspek spiritual satu orang dengan yang lain.”

***

Kemudian demi kebaikan semua pihak, marilah kita kembali ke rumah-rumah sakit. Berbagai pilihan disodorkan di berbagai tempat yang kami kunjungi termasuk Rhinoplasty Hidung Barbie (“Mari miliki hidung boneka yang mancung!”), Dahi Lebih Berisi (“Anda akan makin cantik!”), operasi Angkat Pinggul (untuk memiliki “garis tubuh yang feminin dan elok ala wanita Latin), pengencangan lengan, pengecilan betis, pembuatan lesung pipit, injeksi pemutih kulit (yang disebut suntikan Beyonce oleh sebuah klinik), penurunan sudut mata (sehingga Anda tidak tampak garang), pengencangan garis senyum yang menegaskan sudut-sudut bibir dan batas lengkungan yang lebih jelas sehingga Anda akan tampak selamanya bahagia seolah dilukis oleh seorang anak enam tahun (operasi ini digemari di kalangan para pramugari) dan “operasi kucing” untuk memperbaiki philtrum (garis vertikal antara bagian bawah hidung dan batas bibir atas) Anda yang melorot.

Tetapi sebagian besar operasi yang dilakukan di Korsel biasanya tidak begitu drastis dan tidak tampak sangat memukau secara teknis. Blepharoplasty bisa hanya membutuhkan waktu sesingkat 15 menit (“Lebih santai daripada tindakan pencabutan gigi,” ujar seorang pria yang saya ajak bicara.) Lain dengan Amerika Serikat, tempat tujuan operasi plastik ialah untuk memiliki bagian tubuh tertentu (yang pastinya Anda sudah bisa terka), bentuk estetis yang diinginkan di Seoul kurang dianggap memenuhi syarat – “Sedikit variasi dalam apapun yang dimiliki oleh seseorang” merupakan cara Kibum menjelaskannya. “Orang Korea masih sangat koservatif,” ungkap Kyuhee Baik, seorang mahasiswa pascasarjana antropologi, kepada saya. “Seorang gadis Korsel terlarang untuk memamerkan belahan dada – karena hal itu dianggap membuat yang bersangkutan tampak dangkal,” kata seorang remaja 19 tahun yang sudah mengoperasi mata dan rahangnya pada saya. “Anda tidak ingin berbeda dari yang lain,” imbuh Baik. “Hal itu berakar ke pondasi Konfusianisme. Korea merupakan masyarakat yang sangat konformis.”

“Tak pernah terpikir oleh saya untuk menjalani operais plastik,” ungkap Stella Ahn, yang saya temui di sebuah kedai kopi dengan teman-temannya Jen Park dan Sun Lee, semuanya adalah teman-temannya di tingkat dua universitas. “Namun kemudian ayah saya mengatakan begini,’Kau punya mataku, jadi aku berkonsultai pada seorang dokter bedah plastik yang bisa membuatmu lebih cantik.” Setelah itu, saya amat menyesalinya. Saya pikir:Saya bukan diri saya sendiri, saya sudah kehilangan diri saya. Mata saya memar awalnya sehingga keduanya tampak lebih kecil.” Saat matanya tak lagi bengkak, Ahn pun menyukai bentuk matanya. Lee juga mengoperasi matanya atas saran sang ayah. “Ayah mengatakan kecantikan bisa menjadi kelebihan seorang perempuan. Misalnya saat kau ikut wawancara kerja, jika si pewawancara melihat dua orang perempuan yang memiliki kemampuan sama, tentu ia akan lebih memilih yang lebih cantik.” Hal ini mendukung kenyataan bahwa di antara 27 negara OECD (Organization for Economic Cooperation and Development), Korea yang menjadi tempat yang penuh tekanan untuk menikah, menduduki peringkat terakhir dalam hal kesetaraan gender.

Ahn menambahkan,”Sebelum saya mendapatkan kelopak mata ekstra, para pria tidak begitu menghargai saya.” Lee sepakat. Saya bertanya apakah mereka tergoda untuk berbohong dan mengatakan bahwa mereka tidak pernah menjalani operasi plastik. “Zaman sekarang, tren ini sudah menjadi rahasia umum,” kata Park. “Alasan mengapa para wanita tidak perlu berbohong ialah karena kamu tidak merasa bersalah karena menjalani operasi plastik,” terang Lee. “Kami memberi ucapan selamat bagi mereka yang melakukannya.”

***

Ingat “Queen for a Day” (“Ratu Sehari”), sebuah acara televisi yang di dalamnya sebuah mahkota bertatahkan perhiasan dan hadiah-hadiah seperti mesin pengering sekaligus pencuci pakaian, diberikan pada para kontestan yang adalah para ibu rumah tangga menjengkelkan yang bisa meyakinkan penonton dalam studio bahwa dirinya adalah yang paling menjengkelkan di antara rekan-rekannya yang lain? Sebuah versi dari pertunjukan tersebut,”Let Me In” (“Biarkan Saya Masuk”) merupakan salah satu di antara program televisi yang paling banyak disaksikan orang di Korsel. Setiap kontestan di acara itu — yang sudah diberi nama panggilan seperti “Gadis yang Wajahnya Seperti Frankenstein”, “Wanita yang Tak Bisa Tertawa”, “Ibu Berdada Rata”, “Monyet” — menjelaskan kondisi dirinya di depan sebuah panel yang terdiri dari para pakar kecantikan sehingga bentuk fisiknya sudah tidak memungkinkan lagi baginya untuk menjalani kehidupan yang wajar sehingga operasi plastik yang menyeluruh sangat dibutuhkan. Para orang tua peserta acara ini dibawa ke panggung juga untuk meminta maaf pada anak-anak mereka karena tidak hanya mereka sudah menurunkan gen-gen yang buruk tetapi juga karena terlalu miskin sampai mereka tidak bisa memberikan uang pada anak-anaknya untuk menjalani operasi plastik. Di akhir acara, tiap peserta yang sudah dipermak tampilan fisiknya ditampilkan di hadapan penonton yang kemudian menyambut dengan kekaguman, bahkan tepuk tangan dan isak tangis penuh haru.

Terdapat sejumlah acara bedah plastik di Korea yang bertema serupa tetapi satu acara yang berjudul “Back to My Face” (Kembali ke Mukaku”) mengambil pendekatan yang berbeda. Saya bertemu dengan Siwon paek, produser episode percobaan acara tersebut. Dalam episode pertama itu, para peserta acara yang sudah menjalani setidaknya sepuluh prosedur pembedahan kosmetik akan bersaing satu sama lain untuk menjalani operasi akhir yang menjanjikan mereka untuk bisa mendapatkan kembali bentuk fisik semula seperti sebelum menjalani semua operasi. Paek menekankan bahwa tujuan acaranya ialah untuk membantu para pecandu operasi plastik untuk menerima secara psikologis apapun penampilan alami mereka. Orang-orang yang berpendapatan lebih rendah, ia berkata, cenderung untuk lebih kompulsif dalam hal operasi plastik. “Mereka pikir sudah tak ada cara lain untuk membuktikan diri pada orang lain dan mengangkat derajat sosial dan ekonomi,” ujarnya. Meskipun acara perdana “Back to My Face” sangat digemari, Paek mengatakan ia akan berhenti memproduksinya. “Saya tak cukup kuat untuk meneruskan produksi,” ungkapnya. Tanggung jawab merombak kehidupan orang ia anggap terlalu berat baginya, tutur Paek, dan menemukan para kontestan sangat susah. “Selama sebulan, saya berdiri di luar sebuah klub tari,” ujarnya. “Saya mengundang dua ratus orang. Sebagian besar tak mau kembali ke penampilan mereka sebelumnya.”

Dalam beberapa tahun terakhir, sebuah kata baru dalam bahasa Korea, sung-gui, mulai muncul di dunia maya. Artinya ialah “monster operasi plastik”. Seorang mahasiswa yang saya ajak bicara mendefinisikan kata itu sebagai seseorang yang sudah menjalani begitu banyak perombakan kosmetik di tubuhnya sehingga ia tampak “tidak alami dan membuat orang jijik”. Baru-baru ini, Badan konsumen Korea melaporkan bahwa sepertiga pasien operasi plastik tidak puas dengan hasil yang mereka dapatkan dan tujuh belas persen mengklaim menderita setidaknya satu efek negatif dari operasi. Lembaga ini tidak memiliki catatan resmi kecelakaan atau pembedahan yang gagal namun setiap beberapa bulan sekali mucnul kisah di surat kabar mengenai seseorang yang tidak bangun dari efek anastesi meski operasi sudah usai.

Yang mengagumkan, berita-berita itu tak sampai menyurutkan aktivitas bisnis operasi plastik ini. Hyon-Ho Shin selaku pimpinan cabang asosiasi pengacara Korea yang khusus menangani kasus-kasus malpraktik mengatakan pada saya sembari menikmati teh di kantornya,”Saat ini ada begitu banyak kecelakaan dalam prosedur bedah plastik dan hampir semua rumah sakit sudah mengalami satu insiden serius sehingga banyak yang menyelepekan. Mereka yang menjalani prosedur bedah plastik menganggapnya sebagai risiko yang sudah harus diterima. “ Tepat sebelum saya tiba di Korsel, seorang mahasiswa yang menjalani operasi kelopak mata meninggal dunia. Sebelum disuntik dengan anastesi, korban menawarkan operasi rahang gratis sebagai bonusnya jika si korban bersedia mengizinkan rumah sakit untuk menggunakan foto sebelum dan sesudah menjalani operasi sebagai alat promosi. Tak lama kemudian dilaporkan bahwa di dokter sebetulnya adalah dokter gigi. Shin memperkirakan bahwa sebanyak 80 persen dokter yang melakukan pembedahan plastik di Korea tidak memiliki sertifikat di bidang tersebut; mereka ini dikenal sebagai “dokter-dokter hantu”. Sebuah laporan BBC tahun 2005 menyebutkan para radiolog bisa melakukan pembedahan kelopak mata ganda dan para psikiater sampai lolos dan bekerja menggunakan mesin penyedot lemak. Shin yakin bahwa para perawat dan para asisten yang belum terlatih dengan baik juga sudah sampai menggunakan pisau bedah di ruang operasi. Kadang seorang dokter yang sudah sangat ahli dan berpengalaman dengan reputasi bagus akan berada di sana untuk menyalami seorang pasien namun begitu obat bius mulai merasuk, pasien tidak bisa memastikan bahwa dokter itu atau yang lain yang melakukan prosedur bedahnya.

Dokter bedah lainnya, Dr. Ha, mengatakan pada saya,”Rumah-rumah sakit yang lebih besar sudah menjelma sebagai pabrik. Satu rumah sakit bahkan memasang penghitung waktu dalam ruang operasi sehingga misalnya setiap dokter harus menyelesaikan sebuah prosedur operasi kelopak mata dalam waktu kurang dari 30 menit atau perombakan hidung dalam waktu kurang dari 1,5 jam. Jika mereka terlalu lama menyelesaikan pekerjaan, ada denda finansial dan teguran verbal. “ Penurunan kualitas kerja semacam ini sudah menjadi masalah nasional. Tahun lalu seorang anggota legislatif Korea mengeluh pada parlemen bahwa sebanyak 77 persen klinik operasi plastik tak dilengkapi ventilator atau defibriliator yang wajib dipakai di ruang operasi.

***

Saat ibu mantan presiden Korsel Chun Doo Hwan mencoba untuk mengandung, di tahun 1920-an, ia bertemu dengan seorang rahib yang tengah berkelana yang mengatakan padanya bahwa wanita itu memiliki wajah yang nantinya akan menjadi seorang ibu dari sosok hebat — dengan syarat ia membuag gigi depannya yang tonggos. Mengetahui saran sang rahib, wanita itu merontokkan gigi depannya itu dengan sebatang kayu. (Sebagian kisah menyebutkan bahwa ia memakai batu.) Anak laki-lakinya kemudian tercatat dalam sejarah sebagai presiden Korea tahun 1980 sampai 1988 dengan nama besar sebagai diktator yang represif dan brutal.

Jika saran itu bisa membuat ibu Chun Doo Hwan berhasil mengantar sang anak ke lingkaran kekuasaan, bisa jadi saran yang sama bisa membuat Anda sukses. Sudah menjadi rahasia umum bagi warga Korea yang ingin merombak wajah untuk mencari saran dari seorang ahli pembaca wajah profesional – yaitu, seseorang yang memberikan nasihat mengenai bagian wajah mana yang mesti diubah agar perubahan wajah berimbas positif pada perubahan nasib orang yang bersangkutan. Profesi semacam ini begitu disukai setelah krisis keuangan tahun 1997-1998 saat persaingan dunia kerja begitu ketat.

Di hari terakhir saya di Seoul, saya memutuskan untuk membayar 50 dollar AS untuk berkonsultasi pada seorang ahli pembaca wajah. “Haruskah saya tersenyum?” saya bertanya pada penerjemah saya, yang menyampaikan pertanyaan itu pada seorang pria renta yang berjongkok dengan memakai jaket bergaya Tiongkok, yang seperti banyak orang lain yang sudah saya temui dalam pekan itu, memandangi rupa saya dengan cermat. Ia menjawab, “Bersikaplah biasa saja.“ Kami berada dalam ruang kerja yang gelap dan kecil milik sang pembaca wajah yang disesaki dengan lukisan-lukisan cat minyak, sebuah televisi, gambar tubuh yang terpotong-potong seolah potongan daging sapi dan banyak hiasan mungil (pembeban kertas Manchester United, patung kecil Buddha, dan celengan babi).

Setelah bertanya pada saya kapan tanggal lahir saya, si pembaca wajah memberikan sejumlah fakta umum. “Ia mengatakan ada bekas luka di antara dua mata Anda yang membuat Anda tak bisa meraih semua cita-cita. Lalu tentu saja, iya. Anda perlu operasi plastik,” ujar penerjemah saya. “Ia mengatakan jika ada bagian tulang hidung yang kurang lurus sehingga membuat Anda renggang dari keluarga.”

Namun, saya bertanya, bagaimana dengan saya sendiri?

“Ia mengatakan alis mata Anda mengatakan Anda memiliki banyak teman,” ujar penerjemah. “Dan hidung Anda menunjukkan bahwa Anda akan menjadi kaya raya.”

Haruskah saya mengubah sesuatu di wajah ini?

“Ia tidak menyebut adanya sesuatu yang buruk mengenai Anda. Namun, gigi Anda mungkin agak lemah. Dan Anda perliu makan banyak daging sapi.” (Diterjemahkan dari “Letter from Seoul: ABOUT FACE” oleh Patricia Marx, Majalah New Yorker edisi 23 Maret 2015)

Songpyeon Warna Warni dan Indahnya Berbagi

IMG_3697.JPG
Terakhir kali mengetuk pintu kamarku di malam hari, ia meminta pinjaman uang. Saat itu ia mau ke Bandung. Butuh uang Rp400.000, pintanya dalam bahasa Inggris yang lancar. Katanya ia belum terima transfer dari istrinya di Seoul. Semua gajinya ditransfer ke sana, dan ia akan mendapat uang dari istrinya. Kadang kiriman uang itu terlambat dan ia panik bukan kepalang. Pasalnya ia harus membiayai pengeluaran sehari-hati. Tapi aku cuma punya Rp200.000 di dompet. Kuserahkan ke dia. Ia pun pernah meminjam sekali dan uangku dikembalikan tepat waktu, sehingga rekam jejaknya cukup bagus. Katanya 3 hari lagi setelah kembali ke Jakarta, dan uang itu ada, ia akan lunasi segera.

Ia menepatinya. Tanpa aku menagih, ia sudah mengetuk pintu kamarku lagi. Di tangannya ada 2 lembaran uang 100 ribu Rupiah baru. Kamsahamnida, ucap mr Ahn dengan mata berbinar. Aku paham, berkat sebulan kursus bahasa ini di tahun 2009. Kedua matanya sipit tetapi bukan sipit khas Tiongkok. Entah lah bagaimana perbedaannya tetapi sipit keduanya sedikit berbeda.

Hidup terpisah dari sanak keluarga memang membutuhkan ketabahan tersendiri. Untung mr Ahn memiliki teman-teman setanah air di sini. Jika tidak, aku pastikan ia bisa gila seketika. Jakarta bukan tempat yang ramah bagi mereka yang berasal dari luar. Bandingkan saja dengan Seoul, maka Jakarta seperti itik buruk rupa. Sangat kusam, carut marut.

Namun, ia di sini bukan untuk menikmati hidup tetapi membangun hidup. Ia ingin anaknya lebih sejahtera darinya. Karenanya ia berhemat selalu. Pulang ke kampung pun cuma sekali dalam 4 tahun. Ia pulang akhir tahun lalu setelah dari 2009 berada di ibukota Indonesia.

Malam ini ia ketuk pintuku lagi. Kali ini bukan untuk meminjam uang atau melunasi pinjaman. Aku pikir ia ingin aku membantunya memperbaiki koneksi Internet yang macet. Pernah juga ia mengetuk pintuku tengah malam. Modemnya gagal bekerja. Padahal ada pekerjaan penting yang harus diselesaikan. Aku buka modemnya. Masih bagus. Lalu aku masukkan kartu modemnya ke smartphone Samsung Galaxy Young mungilnya. Tak ada kerusakan. Saat tethering dicoba, memang tidak bisa. Jadi bukan modem yang bersalah. Kuperiksa jumlah pulsa kartunya. Nol. Pantas saja.

Rupanya ia kembali mengetuk pintuku hanya untuk mengantarkan songpyeon, makanan bulat berwarna-warni asli negerinya. “Halal,”ia memberikan setengah kotak songpyeon penuhnya padaku. Ia selalu mengatakan itu sebelum memberikan makanan apapun padaku. Dulu ia juga yang memberiku kimchi asli buatan rumah dari temannya. Bagaimana kudapan ini tidak halal? Songpyeon hanya terbuat dari tepung ketan dan isi kacang tanah yang manis. Warnanya bervariasi dan cerah bukan main. Cerahnya sama dengan suasana hati kami para semut pekerja di akhir pekan ini. Semut-semut pekerja kecil yang bekerja sepanjang waktu melayani ibunda ratu yang cuma bisa duduk di singgasana dan makan lalu bertelur sebanyak-banyaknya.

Kamsahamnida, mr Ahn…

Ia pun masuk lagi ke peraduannya yang ada selangkah dari pintu kamarku. Mungkin untuk kembali bekerja. Begitulah orang Korea. Hidup untuk berkarya. Sementara orang Indonesia lebih terlena dengan alamnya yang berlimpah tiada tara.

Korea dalam Realita

(Image credit: Wikimedia)

Seperti gading, tiada bos yang tak retak…

Begitu peribahasa modifikasinya. Pokok bahasan yang satu itu tidak pernah kering sampai akhir zaman nanti, saya yakin. Selalu saja ada yang bisa diperbincangkan, dikritisi, dicela, dicaci, dan jika ada, dipuji, dari seorang bos.

“Halo, gimana kabarnya?”sapanya ramah di suatu pagi yang bersuasana biasa saja di sebuah ruang bawah tanah yang sedikit pengap tetapi hangat.

Saya terkejut seorang wanita menyapa saya dengan ceria. Beberapa nano detik dibutuhkan otak ini untuk menemukan informasi identitas si nona dalam otak saya. Ah, namanya X, panggil saja Xena. Kibasan rambutnya yang panjang tergerai itu mengingatkan saya pada Xena sang wanita perkasa.

Tetapi lain dari Xena, tubuhnya tidak kekar. Bahkan jika dibandingkan dengan tubuhnya beberapa bulan lalu sebelum pindah kerja ke perusahaan lain, ia tampak jauh lebih menggembung. Entah pilihan kata ini benar atau terlalu kasar, tetapi memang tidak ada yang benar kalau sudah menyoal bentuk dan berat badan. Kata-kata sifat apapun bisa diartikan sebagai pelecehan karya Tuhan. Mulut saya katupkan agar tidak keluar kata-kata semacam:”Hai, makin gemuk saja kamu?! Tambah makmur ya?” Meskipun lebih berisi, ia tampak lelah. Senyumnya agak sedikit dipaksakan.

Kami bercerita panjang lebar dari pengalaman menghadapi bos-bos terdahulu hingga yang sekarang. Tawa sesekali pecah saat kisah-kisah lucu dan absurd mengalir dari mulut. Bos-bos eksentrik dengan kebiasaan dan cara kerja dan perilaku yang tidak lazim.

Hingga di suatu titik, ia menceritakan bos lelakinya yang masih berusia 32 tahun di depan saya. Sambil sesekali menyedot jus jeruk segar dari wadahnya, ia berceloteh,”Bosku ini orang Korea…” Jeda, karena ia tengah merangkai kata.

Pria Korea. Kupikir ia akan bercerita dengan mengharu biru, bangga dengan si bos baru. Raut mukanya biasa saja. Malah cenderung datar. Tetapi saya ingat ia sedang membicarakan seorang manajer, bukan selebriti K-pop atau K-drama. Mimik muka dan bahasa tubuhnya, saya lalu menduga, menunjukkan bahwa si manajer bukan orang yang menyenangkan, apalagi rupawan. Kalau pun tampan, minusnya kelakuan menjadi sandungan memberi sanjungan.

Benar saja. Lanjutnya,”Bosku itu udah punya istri ama anak tapi orangnya ambisius gitu, jadi suka menjilat. Ngintilin presidennya ke mana-mana.” Oh, saya memberi simpati singkat sembari membatin,”Lanjutkan…” Otak saya mencatat dengan huruf besar:”KOREA PENJILAT…”

Teman saya resah, menengok jam tangan. Sementara saya masih tenang dan tekun mendengar. Selesaikan dulu ceritamu, batin saya memohon. Padahal percuma saja. Memangnya dia bisa membaca pikiran saya?

Saya pancing,”Memang pria Korea brengsek ya?” Saya sedikit bergeser menjadi seorang devil’s advocate agar pembicaraan lebih seru. Devil’s advocate adalah orang yang mendukung sisi buruk argumentasi agar perbincangan lebih membara. Begitulah kira-kira.

Pancingan itu sukses. Tak dinyana ia mengeluarkan ekspresi persetujuan spontan. “Iyaaa!! PK banget!!” PK, kependekan dari istilah prokem masa kini Penjahat Kelamin, mengacu pada pria yang suka berselingkuh. Otak saya seolah mengambil pensil dan kertas kemudian menulis dengan huruf tebal font kapital:”KOREA PK”.

Bagaimana ia tahu? Ia pernah menangani reimbursement bertanda terima dari klub malam ternama ibukota, Alexis. Sebetulnya kalau orang berkata Alexis yang teringat dalam benak saya adalah gadis baik- baik, manis dan cerdas seperti Alexis Bledel, pemeran utama Gilmore Girl. Tetapi klub malam ini membuat reputasi nama Alexis tercemar parah. Andai Bledel pernah ke sini dan mengetahuinya, bisa jadi ia akan minta rehabilitasi nama, atau menuntut klub itu di muka hukum. Saya berkomentar,”Wah, kenapa tidak ditegur? Kan kalau ketahuan bisa mencemarkan nama baik perusahaan itu.” Sebelum menjawab ia tersenyum simpul,”Itu dia sama-sama Presidennya, buat entertain tamu rekanan sih… Susah kalau urusan moral di sini.”

Manajer yang menurutnya kurang kompeten itu bekerja tidak becus. Ia bertekad dipromosikan menjadi general manager tetapi prestasinya dapat dikatakan tidak istimewa. B, begitu kalau ia dapat nilai di kuliah. Tidak bodoh tetapi juga tidak mencengangkan.

Tidak jarang ia dan teman-teman kerjanya mengaku dilimpahi pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab si manajer Korea tadi. Supervisor disuruh mengisi lembar penilaian kinerja rekan supervisornya, padahal hidup matinya karir yang bersangkutan akan ditentukan dari penilaian tersebut. Mana tega kalau memberi penilaian buruk pada teman sendiri? Kalau memberi penilaian terlalu bagus nanti bisa menjadi bumerang buat diri sendiri. Dilematis.

Orang Korea yang bekerja di Indonesia, tutur dia, banyak yang bertingkah seperti OKB, Orang Kaya Baru. Di negerinya sana mereka cuma orang dengan gaya hidup biasa saja tetapi begitu bekerja di Indonesia, dengan kurs kita yang lebih rendah, mereka menjadi lebih leluasa meningkatkan level gaya hidup.

Tetapi tidak semua pria Korea juga seperti itu. Sebagai penyeimbang informasi saja, mr. Ahn yang tinggal di sebelah kamar saya terlihat lebih sederhana dalam hal gaya hidup. Kemejanya beberapa. Laptopnya Acer yang biasa dipakai mahasiswa. Ia juga tidak punya mobil. Ke mana-mana berjalan kaki. Saya menduga karena tingkat pendidikannya. Ia tak seberuntung pria Korea lainnya, termasuk si manajer muda teman saya. Mungkin mr. Ahn bukan manajer. Tetapi yang aneh, ia tidak ingin diketahui bermukim di tempat kami oleh teman-teman kerjanya apalagi atasannya di kantor. Ia tidak sebutkan alasannya secara jelas. Mungkin saja ia mau berhemat hingga titik darah penghabisan tetapi malu. Mengencangkan ikat pinggang sampai maksimal dan menjadikan gengsi sebagai tumbalnya.

MBC Akan Putar Sekuel 'Jewel in the Palace" Oktober 2015

Stasiun televisi Korsel MBC tengah mengerjakan sekuel dari serial drama sejarah korea yang menjadi tersohor di seluruh dunia “Jewel in the Palace”. Kemungkinan bintang utamanya adalah Lee Young-ae lagi. Sebagaimana diketahui, Lee adalah pemeran Dae Jang Geum, karakter perempuan yang menjadi protagonis dalam serial yang banyak digemari juga di Indonesia itu.

Kim Young-hyun, yang menulis naskahnya, mengatakan Kamis bahwa serial baru itu dijadwalkan akan mengudara Oktober 2015. Tahun lalu, Presiden MBC Kim Jog-guk mengatakan dalam sebuah konferensi bahwa pihak penyiar serial ini akan mengejar agar target penayangan sekuel tersebut bisa dipenuhi di paruh pertama tahun 2015.

Agensi Lee Young-ae menyatakan bahwa mereka belum menandatangani kontrak formal tetapi mereka mengaku menerima sebuah sinopsis di bulan Januari dan tengah mempertimbangkannya. “Lee mungkin akan menjadi bagian dari proyek besar ini,”ungkap mereka.

Agensi itu menambahkan bahwa tanggapan di antara penggemar di China sangat besar dan sejumlah perusahaan menawarkan berinvestasi dalam sekuel ini dan menanyakan mengenai hak penjualannya.

Jika benar serial ini akan tayang kembali dan menghadirkan Lee, saya sebagai penggemar serial ini juga akan sangat gembira dan tidak sabar untuk kembali menikmati intrik-intrik dalam istana kerajaan Korea di abad pertengahan itu. Semoga tahun depan, kita bisa menyaksikannya!

Korea National Contemporary Dance Company "Bul-ssang" Tomorrow Evening!

This just in!

If you’re into Korean contemporary arts, you won’t miss this FREE event. Bul-ssang, Korea national contemporary dance company, is to be held on Sunday, October 20, 2013. The show will begin at 8 pm sharp and end at 9pm. Lucky you if you stay in Jakarta because the event takes place at Theater Jakarta Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya 73 Jakarta 10330.
There is invitation needed to attend. RSVP email at reserve@kccindonesia.org. Don’t forget the dress code is smart and casual.
Don’t know where that is? Here is the Google Maps for you.
View Larger Map

Indonesia U-19 Team Won over South Korea. Sounds Awesome… until PSSI Takes over!

The same old story. Prodigies now, losers later. That’s partly why I loathe football. The drama off the field is too much. But I want to post something different tonight even my thumbs don’t really want to.
Leave the pessimism for now because Indonesia national U-19 (under 19 years old) team just won 3-2 over the Taeguk Warriors tonight at Gelora Bung Karno, Jakarta. That said, the team is officially allowed to compete in the final match of Asia Cup 2014 in Burma.
The team is coached by Indra Syafri, so make sure you don’t mistakenly credit this victory to any of House of Representatives or shitty bureaucrats or legislators like the shameless Marzuki Alie.
And tonight, after a huge downpour, Ravi Murdianto et al can take a warm bath immediately and grab some hot drinks and whole foods to curb the seeds of flu because seriously, flu is running rampant in this city these days! The weather has been extreme and harsh. One can sweat profusely during the day and get cold in an instant after being caught in the rain like today’s.
But hats of for Lee Tae-hui et al for the fair game. Some haters say they can come back and put on their makeup again but I also see some women asking if someone knows who wore number 6, admiring the cuteness of the brondongs (slang for ‘cute young men’ in Indonesian). Obviously they’re heartthrobs and we Indonesian men are already sick with this Korean Wave phenomenon, because these Korean men fill up our women’s imagination with the so-called perfection blatantly doled out by Korean screenwriters and songwriters and all of their artists through the Korean dramas and movies and songs and korea-graphers.
Evan Dimas got a hat-trick. The three goals were scored by Dimas, who served as the captain.
As promising as the U-19 team looks like, how long until the sweet victory turns sour in the next few years? PSSI must be proud of their knack for killing these young auspicious talents.

When Kimchi is Traded with Jengkol

Ahn Bak-hyun is a nice, decent, withdrawn Korean man living next door. Literally the next door because we stay like in a rented house with a bunch of separate rooms inside it.

He speaks very basic Indonesian, which makes it almost impossible to sustain a long conversation with him. His command of English is not quite impressive but when I compared to the girl at a booth where I got shirts at Yeosu premium outlet last year, he is a lot better. Living in Seoul for his entire lifetime, he couldn’t fathom the heat of living in the tropical Jakarta. But from what I heard, he had traveled extensively to some islands other than Java. His job enables him to do so. That’s the privilege I don’t have. I am Indonesian with literally no traveling experience in Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku and Western Papua. But ironically enough, I have visited Macau, Hongkong, Singapore and South Korea. That said, I really feel like a fraud. “How dare you declare yourself an Indonesian native?”a voice inside me protested. I shrugged and argued,”I had no option. Air fares to Papua, for your information, is much much higher than ones to Singapore or Malaysia!”

Mr. Ahn says he’s got a grownup daughter. I saw her on the laptop screen a long time ago when they were Skype-ing. The connection speed was a top source of frustration. It didn’t work afterall and it seemed to him that chatting by text is the most plausible type of interaction with his daughter in Seoul.

So one afternoon, mbak Erna, the caretaker of the rented house (she is paid to stay with us by the house owner and to do the laundry and she sells foods too), was seen busy in the kitchen. She cooked jengkol, the type of food you cannot see anywhere else but in Indonesia.It is more or less like “petai” or “pete” but bigger in size. Some people still consume it although obviously consuming petai and jengkol makes you urine stink. Yes, literally and seriously STINK. I am not lying or overstating. You’ll know the smell of the urine of jengkol eaters instantly, at times so effortlessly you may frown and stop inhaling for a moment so as not to be choked by the intensity.

And mr. Ahn smelled the fried jengkol mbak Erna just cooked. He was walking down the stairs and yelling,”Apa ini?” (What’s this?).

“Jengkol”, mbak Erna replied.

He picked some and tasted the jengkol served on the plate.

“Enak,”mr. Ahn said. Delicious. He was awestruck by the taste of jengkol, something I couldn’t describe by words simply because I have NEVER tasted that before.

I, however, have eaten kimchi. A few times. And I feel like I am a fraud once again.

Korean Culture Fair at Lotte Shopping Avenue (a Photoblog)

Korean culture fair is held in Jakarta

image

Just at the entrance, the dashing Hyun Bin and one of the SNSD members are welcoming you. You can see the banner prepared for the president’s visit.

image

Enjoy the enchanting stairs just after the entrance.

image

And this one too is for Park Geun-hye ssi.

image

We have to pay to take pictures here, I guess. I don’t know how much to strike a pose with traditional costumes of Koreans but maybe not much.

image

image

image

The paintings of Korean artists are displayed on flat plasma Samsung TV screens. Slightly classic.

image

image

Another work of art from a Korean artist with more contemporary flavor.

image

image

image

And some Indonesian artists’ works with the modern, urban, contemporary art taste.

South Korea President Park Geun-Hye to Come to Jakarta

President of South Korea to visit Jakarta.

image
Yesterday afternoon, South Korean President Park Geun-hye visited Indonesia in her presidential capacity for the very first time since she was appointed in February this year. Mari Elka Pangestu, minister tourism and creative economy, was seen accompanying Park at the mall.

Reportedly, she was scheduled to talk with SBY but managed to pay a very brief visit to Lotte Shopping Avenue where Korean Culture Fair is being held. The fair is planned to last for several weeks. Visitors may sightsee around the mall to enjoy the art works of the select contemporary artists from both countries.

The Lotte premium shopping arena is located at Ciputra World Jakarta, just the opposite of where I work. Park’s visit caused a huge traffic jam around the already packed street of prof. Dr. Satrio (Casablanca, Mega Kuningan, South Jakarta). As we all know, Friday traffic in the capital is the last thing we hope to be stranded in while the weekend mood is already in the air.

(Image credit: @lotte_love_jkt)