Siapa Bilang Minat Baca dan Tulis Kita Rendah?

Kami sedang duduk mendengarkan wejangan seorang pria yang konon menjadi legenda hidup sastra nusantara. Kiprahnya memang tidak bisa dianggap remeh selama ini. Beliau dikenal sebagai pengajar, setidaknya begitu mulanya bagi saya. Tetapi kemudian saya sadar ia lebih dari sekadar seorang dosen luar biasa. Ia juga penyair kampiun. Sajak-sajaknya sudah melanglang buana ke mata jutaan pembca dan penikmat susastra nusantara kontemporer. Saya harus akui pengetahuan saya tentang kiprahnya sama sekali nihil.

Di depan, ia menggumamkan sesuatu. Apa yang ia ucapkan masih bermakna dan bisa diikuti dengan logika bahasa. Tetapi perkara artikulasi, saya mengamati adanya kemunduran di otot-otot lidah dan mulutnya. Proses menua yang alamiah. Dan saya sedang ia juga habis pulih dari sakit yang cukup serius. Jadi, kehadirannya di sini sudah bisa dikatakan suatu keajaiban. Tak heran seorang teman mengatakan ia tidak ingin mengecap usia panjang karena di dalam usia panjang, mesti ada ketahanan menjalankan roda kehidupan dengan sisa-sisa tenaga penghabisan di usia yang sudah petang, hampir malam, meredup, hingga akhirnya malam.

Meskipun secara fisik Sapardi sudah begitu turun dibandingkan sedekade lalu saat saya masih menjadi salah satu mahasiswanya di Universitas Diponegoro, saya masih menemukan bara dalam tatapan matanya. Jiwanya selalu belia, saya percaya.

Kemudaan yang tak kasat mata tersebut ia ungkapkan dalam pendapat dan sikapnya terhadap perkembangan dunia sastra saat ini. Pikirannya selalu progresif, tidak malu untuk menuruti perkembangan zaman tetapi seraya mencengkeram jatidirinya juga.

Menurut Sapardi, pemikiran kolot bahwa asal kualitas isi sebuah karya sastra itu tinggi, mau diberi sampul, judul, ilustrasi atau tidak dipromosikan sekalipun, pasti akhirnya akan laris juga. Hanya saja kenyataannya lain sekarang. Justru mereka yang yakin karya mereka bagus harus mengimbanginya dengan upaya pengemasan dan pemasaran yang tidak kalah garang dan sistematis. Karena mau tidak mau diakui, unsur-unsur nonsastrawi yang sering dipinggirkan oleh kalangan sastrawan jenis puritan zaman pra-digital.

Untuk menggambarkan sikapnya itu, ia mengatakan bahwa sekarang penerbit dan sastrawan perlu sekali membuka cara pandangnya agar tidak tergerus oleh arus zaman. Unsur kebaruan, inovasi dan kreativitas dalam mengemas isi karya sastra amat dibutuhkan agar lebih banyak pembaca potensial tertarik dengan karya yang ditawarkan. Karena jika sudah gagal menarik perhatian dari kulitnya, mana mungkin isi juga akan dikulik? “Ganti judul, ganti sampul itu penting juga,” tegasnya. Buku-buku lama yang sudah tak laku kini perlu dicetak ulang dengan pengemasan dan cara pemasaran yang lebih modern. Tidak cuma menunggu pembaca yang bisa menjangkau toko buku tetapi juga siapa saja di mana saja asal tersambung dengan internet.

Sebagai contoh nyata, pria yang tidak bisa menanggalkan topi pet dari kepalanya itu menceritakan peran elemen-elemen nonsastrawi itu pada keberhasilan penjualan buku-buku puisinya. Seperti sudah kita ketahui, genre puisi di pasar tidaklah begitu menguntungkan. Penggemar puisi cuma orang-orang tertentu. Namun, itu dulu. Sekarang dengan bantuan pemasaran digital di media sosial dan bahkan film, kita saksikan melejitnya puisi karya penyair muda Aan Mansyur. Puisi terangkat. Dan itu karena ia tidak berjuang sendiri tetapi terintegrasi dengan hal-hal lain di luar dunia puisi itu sendiri.

Dalam kasus Sapardi, ia mengakui bahwa buku puisinya yang semula susah laku di toko-toko buku, bisa lebih laris manis bahkan ditampilkan di rak best seller (yang membuatnya terkejut juga) karena dilibatkannya orang-orang yang terampil dalam mengemas konten agar lebih seksi dan menarik bagi para pembaca masa kini.

Sang sastrawan veteran ini juga menyerukan pada kalangan pegiat sastra dan perbukuan dalam negeri mengenai kemandirian dalam berkarya. Tiap kali Sapardi mendengar ada keluhan bahwa pemerintah tidak mempedulikan atau tidak membantu upaya-upaya menggiatkan industri perbukuan dan aktivitas literasi domestik, beliau mengaku kurang sependapat. Hendaknya kita semua jangan terlalu mengandalkan pemerintah. Secara spesifik beliau berpesan pada kalangan penerbitan agar tidak menggantungkan semua solusi pada pemerintah. Ada masalah apapun, ditujukan ke pemerintah, seakan pemerintah dewa yang bisa memecahkan semua masalah. Padahal jika kita cermati, pemerintah juga sebetulnya tidak akan berdaya tanpa dukungan semua elemen dari rakyat Indonesia. Pemerintah memang penting, tetapi peran rakyat juga sama krusialnya. Rakyat dalam hal ini mereka yang berkepentingan dalam dunia literasi dan susastra juga hendaknya turut aktif mencari solusi demi solusi dari masalah yang dihadapi bersama-sama. Tidak hanya berpangku tangan dan menunggu bantuan pemerintah. Lalu jika tidak ada solusi dari pemerintah, akan cepat menyalahkan pihak eksternal.

Sapardi mencontohkan bahwa di AS misalnya, dunia perbukuan bisa lebih bergairah dan berkembang pesat karena baik pemerintah dan kalangan pegiat perbukuan dari masyarakat umum sama-sama bekerja di jalurnya masing-masing dan saling bersinergi. Misalnya penerbit Penguin yang berhasil sukses dan menjadi sebesar sekarang itu juga bukan perusahaan penerbitan yang ongkang-ongkang menunggu bantuan pemerintah. Mereka bekerja keras sendiri juga di bidang-bidang yang mereka bisa, tanpa dibantu atau didorong pemerintah. Justru dengan independensi tersebut, nantinya penerbit akan lebih bebas dalam menentukan kebijakan dan arah langkahnya ke depan. Dengan menjadikan pemerintah sebagai induk semang, penerbitan berisiko hanya menjadi corong gagasan dan propaganda birokrat. Padahal hal itu amat riskan bagi perkembangan demokrasi dan daya pikir kritis bangsa. Karena di tangan status quo, sastra hanya akan menjadi komoditas legalisasi gagasan mereka.

Kembali ke Sapardi, ia menguak masalah besar dunia penerbitan tanah air, yakni strategi dalam menghadapi kebangkitan dunia digital. Untuk menghadapinya, alih-alih dipandang sebagai musuh, dunia digital (yang mencakup – tetapi tidak terbata dalam – internet, ponsel cerdas, tren e-book, media sosial) idealnya dianggap sebagai kawan. Demikian pesan sang sastrawan.

Jika di zaman sekarang, seorang pengarang karyanya gagal terjual laris padahal karyanya berkualitas, bisa dipastikan pengarang itu kurang cerdik. Dengan begitu banyaknya kanal media sosial yang tersedia secara cuma-cuma, memang konyol rasanya jika pengarang malah bersikukuh menghindarinya atau mengabaikannya. Dengan munculnya media sosial, pengaran dan penerbit justru harus melihatnya sebagai alat baru yang berpotensi mendongkrak produktivitas berkarya (baca: angka penjualan).

Sering kita baca dan dengar argumen dan klaim bahwa bangsa Indonesia memiliki minat baca yang memprihatinkan, rendah, kurang memuaskan, dan sebagainya. Karena daya baca rendah, kemampuan menulis pun menjadi pincang. Intinya, minat baca dan tulis bangsa kita perlu dipacu lagi.

Terkait ini, Sapardi menampiknya tegas. “Generasi sekarang itu malah lebih banyak membaca dan menulis dari generasi sebelumnya!” Sang begawan sastra ini menggarisbawahi, di balik klaim tersebut, ada pemikiran kolot bahwa jika tidak membaca tulisan yang tercetak di kertas, tidak bisa dianggap benar-benar membaca. Ini menurut Sapardi perlu diluruskan. Mereka sudah banyak membaca juga, tetapi mereka lebih banyak membaca di gawai daripada membaca buku fisik, sehingga generasi senior masih mencibir. “(Padahal) membaca di gawai sama membacanya juga,” tandas beliau.

Unsur selain konten yang juga berperan dalam keberhasilan sebuah karya sastra ialah pemilihan nama yang dipakai pengarang untuk ditampilkan di sampul bukunya. Pengarang tidak diwajibkan penerbit, publik pembaca atau pemerintah untuk menggunakan nama asli mereka sehingga terdapat ruang bereksperimen di sini. Salah satu contoh kasus yang membuktikan bahwa nama yang berbeda dapat memberikan efek yang berbeda terhadap persepsi dan respon publik mengenai sebuah karya sastra ialah saat J. K. Rowling menggunakan nama pena (pseudonim) Robert Galbraith dalam genre novel detektf (whodunnit). Saat menggunakan nama pena yang tidak dikenal, publik tidak merespon karya tersebut secara menggembirakan layaknya serial Harry Potter. Namun, begitu penerbit memberikan keterangan bahwa Galbraith ialah nama pena J. K. Rowling, angka penjualan novel kriminal tersebut melejit.
.
Kemunculan internet dan media sosial juga hendaknya tidak menjadi kambing hitam bagi menyurutnya pencapaian industri perbukuan dan dunia sastra. Sapardi justru menjungkirbalikkan pemikiran tersebut dengan menyatakan bahwa saat ini penerbit justru memburu para sastrawan, pencipta konten. Dengan adanya ruang berkreasi yang tanpa batas melalui kehadiran dunia maya dan media sosial, kreativitas sastrawan makin bisa dicurahkan, tanpa batasan-batasan yang seketat di masa penerbitan konvensional. Kalangan penerbit juga sebaiknya keluar dari zona nyaman dan terus mengeksplorasi berbagai peluang dan potensi penerbitan di ruang digital. (*)

Chandra Satria dan Kerinduan Lirik Sastrawi di Musik Indonesia

17358861_10210397962162753_2697696549788307423_oJika Anda tanya saya tentang lagu-lagu Indonesia yang banyak digemari saat ini, saya tidak akan bisa menjawab. Mungkin karena secara usia, saya sudah beranjak dari masa remaja sehingga jenis lagu-lagu kesukaan saya hanya ada di masa lalu. Jadi, daftar putar alias playlist saya lebih didominasi lagu-lagu dekade 1990-an atau 2000-an. Lagu-lagu sekarang tidak memberikan kesan dan pertalian emosional yang semendalam lagu-lagu di dua dekade itu bagi saya.

Selain hambarnya emosi yang saya rasakan saat mendengarkan lagu-lagu kontemporer Indonesia, saya juga mengamati bahwa lirik-lirik lagu Indonesia –maaf jika ada yang tersinggung – semakin cheesy alias murahan dari waktu ke waktu. Mudah dihapal tetapi juga mudah sekali dilupakan karena cepat usang di siklus perputaran dunia musik pop. Saya tidak menemukan unsur yang membuatnya lebih layak dijadikan karya ‘canon’ yang di masa depan bisa dinikmati kembali. Mungkin itu perasaan saya saja. Atau mungkin Anda juga sepakat?

Akan tetapi, saat saya mendengarkan lagu-lagu dari Chandra Satria yang terkompilasi dalam albumnya yang bertajuk “Ketika Itu dan Kini” yang dirilis tahun 2016. Lirik-liriknya mengingatkan saya pada lirik-lirik lagu Indonesia masa 1980-an yang everlasting, tidak lekang oleh terpaan zaman. Begit indah liriknya sampai saya tidak percaya lagu-lagu ini digubah baru-baru ini saja.

Tilik saja lirik “Kirana” yang ada di sini. Bentuknya mirip puisi.

Dalam risau ini

Sering kubertanya

Sampai kapankah aku bertahan

Tak henti memuja

Satu yang tercinta

Walau tak pernah ada jawabnya

Akal sehatku mempertanyakan akhirnya

Selama engkau ada hati enggan berganti

Karena engkau matahari

Tak pernah kuingkari

Menjadi bayangmu, ke manapun kau pergi

Cinta ini tak sempurna

Namun ku selalu ada

Dalam gelap malam dan terangnya kirana

Kutunggu…

 

Dari delapan lagu yang ada dalam album ini, yang saya paling sukai bisa jadi yang berjudul “Pakutapa” (Kutakpapa) yang liriknya bercerita soal si ‘aku’ yang bisa melupakan mantan kekasihnya. Meskipun awalnya nadanya terkesan sendu serta mendayu-dayu, pendengar kemudian diajak untuk berjingkrakan seiring dengan makin rancaknya irama lagu gubahan Bemby Noor ini.

Menelusuri setiap detail dalam album ini membuat saya yakin bahwa ini adalah sebuah proyek penuh passion milik Chandra Satria sendiri. Hal itu dikuatkan dengan terteranya nama penyanyi solo pria itu sebagai salah satu produser eksekutif sekaligus salah satu produser dalam albumnya sendiri. Bagi saya, itu berarti ia ingin memegang kendali lebih besar dalam realisasi albumnya, bukan cuma menuruti instruksi dan arahan dari orang lain.

Keseriusan Chandra menggarap albumnya tecermin sungguh-sungguh dalam pemilihan orang-orang yang ia ajak bekerjasama dalam pembuatan album. Tercatat ada sejumlah nama besar di dunia musik Indonesia yang masuk di sini. Di antaranya yaitu Bebi Romeo dan Ari Lasso (komposer untuk lagu “Cinta Sejati”), Tohpati (aransemen musik/ pengarah), Dewi Lestari (komposer untuk lagu “Keping”), alm. Chrisye serta Eros Djarot (komposer untuk lagu “Kisah Insani”), sampai Ubiet yang di televisi dikenal sebagai salah satu guru vokal termasyhur, serta Guruh Soekarno Putra (komposer di lagu “Seni”). Album ini juga melibatkan Czech Symphony Orchestra dan dimasteri oleh Steve Smart di Australia.

Yang unik dari album ini ialah sampul CD-nya yang tidak hanya memuat lirik masing-masing lagu tetapi juga berisi penggalan-penggalan narasi atau cerita lugas dari sang penyanyi yang melatarbelakangi masing-masing lagu itu. Chandra seakan-akan hendak memberikan penjelasan mengapa setiap karya itu memiliki makna bagi dirinya, dan dengan demikian, ia juga berharap pendengarnya bisa memahami makna itu atau memberikan makna tersendiri dari pengalaman mereka sendiri pada lagu-lagu yang ia persembahkan di dalamnya. Karena ia seniman dan bukankah penikmat karya seni dipersilakan juga menafsirkan makna di balik karya seni itu sesuai dengan keinginan dan selera mereka?

Lirik-lirik yang sastrawi ini terasa lebih abadi. Dan karena itulah, saya pikir wajar saja bahwa panitia Penghargaan Nobel itu memilih penyanyi veteran Bob Dylan sebagai penerima anugerah Nobel Sastra. Sastra itu tidak cuma ada di lembaran-lembaran kertas. Kalau kita mau berpikiran lebih luas dan terbuka, sastra juga tertuang dalam bentuk lirik lagu. Bukan begitu? (*)

Sastra dan Teror

Saat ingin belajar sastra, seseorang mungkin pertama-tama membayangkan keindahan peradaban, kehalusan budi pekerti, sehingga rasa kemanusiaan makin terasah kemudian kita makin beradab dan berbudaya. Sastra juga mungkin salah satu ciri pembeda manusia dari binatang primata atau mamalia secerdas apapun. Lihat saja simpanse, lumba-lumba, atau orang utan. Apakah ada yang bisa sampai membuat kalimat-kalimat indah berima bak pujangga? Tidak ada. Cuma kita.

Namun, sebagai manusia dewasa kita juga tahu bahwa dunia ini penuh dengan paradoks. Hal-hal yang tampaknya saling bertentangan bisa saling berdampingan. Ada yang memicu pertentangan sengit; ada yang cuma persengketaan suam-suam kuku; ada pula yang hanya sesekali membara lalu terlupa selamanya. Dan ada yang saling mengada tanpa saling menyinggung satu sama lain.

Dari pemahaman paradoks ini, kita bisa pahami bahwa sudah menjadi rahasia umum juga bahwa sastra dan bahasa juga bisa dipakai sebagai alat propaganda hal-hal yang bertolak belakang dengan kepentingan kemanusiaan, kemaslahatan umat manusia, dan kehalusan budi pekerti. Ia ternyata cuma kendaraan, bisa disetir siapa saja yang ada di atasnya.

Karenanya, jangan heran tatkala kita menemukan fakta bahwa sastra juga bisa ditunggangi teror, dalam hal ini ISIS. Tentu hal ini bukan sebuah kebetulan yang begitu saja terjadi. Penjelasannya sudah ada dalam budaya Arab, tempat ISIS berkembang subur.

Tersebutlah kalimat mutiara kuno “Al-shi’r diwan al-‘arab” (“Syair ialah catatan bangsa Arab”), yang cukup jelas memberikan alasan betapa dekatnya sastra dan Arab sebagai entitas kebudayaan yang lestari sampai kini. Catatan sejarah bangsa Arab yang dikenal berwatak keras, temperamental, sangar dan menyukai pertarungan itu tertuang dalam bentuk baris-baris puisi dan sajak indah dengan isi yang bertema peperangan, pertumpahan darah, gugurnya pendahulu dan sebagainya. Mereka yang piawai menggubah syair dipandang sebagai sosok terhormat di masyarakat Arab. Karena itulah, saat nabi Muhammad yang buta huruf tiba-tiba bisa membacakan ayat-ayat Al Quran yang lebih indah dari syair dan sajak gubahan penyair berpengalaman, para penyair itu tak percaya. Ego mereka terlalu tinggi untuk mengakui bahwa mereka tak bisa menyainginya tapi di saat yang sama juga mengagumi dalam hati.

Sebagian kalangan menemukan puisi-puisi gubahan para aktivis ISIS di internet dan mengklaim bahwa karya-karya itu cuma produk sampingan kampanye jihad mereka. Namun, jika Anda paham budaya dan sastra Arab yang lekat dengan sastra terutama puisi, tentu semua itu tidak bisa disepelekan. Tulisan-tulisan itu bukan cuma deretan aksara sampah yang tidak berefek apa-apa pada pembacanya. Jika ditemukan pembaca yang tepat, puisi sebagaimana produk kebudayaan lain (misalnya novel, cerpen, lagu) bisa mencuci otak dan membakar semangat tertentu. Puisi-puisi inilah makanan jiwa bagi para pejuang ‘jihad’ yang sebenarnya juga memiliki ketakutannya sendiri-sendiri. Meski dilingkupi ketakutan, secara mental mereka tetap bisa bertahan dan terus melakukan kekejaman di luar nalar sebagian berkat membaca bacaan (puisi) yang tepat untuk bisa menguatkan keyakinan mereka dalam berjuang di jalur tersebut karena puisi mengandung gagasan-gagasan abstrak, kehidupan fantasi para penyair simpatisan teror yang menjanjikan nikmatnya surga setelah detonator itu menceraiberaikan tubuh mereka.

Karena itu, saat tempo hari saya membaca sebuah baris dalam kitab klasik Tiongkok Kuno, Di Zi Gui, perihal karya sastra, saya sempat tertegun dan berpikir. Bacalah karya sastra yang ditulis oleh orang bijak dan orang suci, selain itu jangan dibaca, begitu kira-kira imbauannya.

Masalahnya sekarang, kita mesti cermat dan teliti sekali dalam mendefinisikan “orang bijak” dan “orang suci” itu secara gamblang dan objektif, jika memungkinkan. Karena sebagaimana kata sifat lainnya, “bijak” dan “suci” itu taksa, kabur, abu-abu, berbayang dan multi tafsir.

Menyusuri Intisari Sastra Indonesia Abad ke-20

Screen Shot 2016-05-11 at 13.15.38Tanyakan pada generasi muda zaman sekarang mengenai asal mula sastra Indonesia dan bersiaplah untuk menganga karena sedikitnya atau bahkan tiadanya pengetahuan mereka mengenai hal tersebut. Keprihatinan pun menyeruak karena pengetahuan sastra sudah selayaknya menjadi bekal anak-anak muda terutama yang menekuni sastra untuk lebih mengenal bangsa ini dan jati dirinya. Terlebih lagi, sastra Indonesia abad ke-20 adalah masa perkecambahan yang amat penting dan berfungsi sebagai fondasi bagi sastra Indonesia kontemporer abad ke-21.

Untuk menjawab tantangan adanya jurang pengetahuan tentang sastra Indonesia di abad kemarin itu, Yayasan Lontar baru-baru ini meluncurkan proyek ambisiusnya yang kemudian berhasil menghasilkan empat buku super tebal:

  • John H. McGlynn, Dorothea Rosa Herliany, Deborah Cole, ed., Antologi Puisi Indonesia Pilihan Yayasan Lontar (Jakarta: Yayasan Lontar, 2016), +/- 850halaman.
  • The Lontar Anthology of Indonesian Poetry (Jakarta: Yayasan Lontar, 2016), +/- 550 halaman.
  • John H. McGlynn, Zen Hae, Andy Fuller, ed., Antologi Cerpen Indonesia Pilihan Yayasan Lontar, Jilid 1 dan Jilid 2 (Jakarta: Yayasan Lontar, 2016), +/- 625 halaman (Jilid 1), +/- 725 halaman (Jilid 2).
  • The Lontar Anthology of Indonesian Short Stories (Jakarta: Yayasan Lontar, 2016), +/- 550 halaman (Jilid 1), +/- 650 halaman (Jilid 2).

Pada dasarnya hanya ada dua karya tetapi dua buku lainnya yang berbahasa Inggris ialah versi terjemahan dari dua buku lainnya yang berbahasa Indonesia. Namun, tetap saja penerjemahan juga bukan pekerjaan yang sepele.

Dua jilid kumpulan cerpen ini memuat 109 fiksi pendek dari 109 pengarang yang pernah mengirimkan karya terbaik mereka ke media-media cetak masa itu yang diasuh oleh H. B. Jassin. Fokus penyeleksian yang hanya di koleksi Jassin ini sempat menuai kritik dari sastrawan Budi Darma yang menyarankan idealnya koleksi ini tidak cuma diambil dari karya-karya yang dikirimkan ke media ibukota asuhan Jassin tetapi juga mencari ke daetah-daerah karena menurut Budi karya-karya yang tak sampai ke media Jakarta juga bisa sama berkualitasnya. Hanya saja memang sang pengarangnya karena satu atau lain alasan tidak mengirimkan ke media cetak ibukota yang dipandang sebagai kiblat sastra Indonesia.

Sastra Indonesia yang bisa dinikmati dalam aksara Latin bermula muncul setelah sekelompok pemuda Indonesia yang beruntung mendapatkan pendidikan kaum penjajah Belanda menelurkan karya-karya mereka. Hingga menjelang akhir abad ke-19, tulisan fiksi pendek mereka ini dikemas dalam bahasa Melayu Pasar. Sebutan ini terbilang peyoratif menurut Zen Hai yang terlibat aktif dalam proyek ini sebagai kurator karya.

Beberapa dasawarsa pertama penulisan fiksi pendek berbahasa Melayu justru didominasi oleh sastrawan-sastrawan Cina Peranakan. Kemudian di awal abad ke-20 surat kabar beraliran nasionalis pergerakan seperti Sinar Hindia mulai memberikan ruang bagi cerita bersambung yang dipenggal menjadi 4-5 kali penerbitan. Kaum nasionalis kemudian makin aktif dalam upaya penerbitan pers dan penulisan fiksi pendek berbahasa Melayu.

Balai Pustaka kemudian berdiri sebagai reaksi dari maraknya bacaan liar di masyarakat saat itu yang didominasi karya sastra kaum Cina Peranakan dan Nasionalis abad ke-20. Balai Pustaka tidak mengizinkan adanya kritik pada pemerintah kolonial Belanda dan menyingkirkan segala macam bentuk unsur amoral dalam karya fiksi yang diedarkannya.

Dari kebangkitan Balai Pustaka itu, lalu kita mengendal kemunculan majalah sastra Panji Pustaka yang merupakan penerbitan pertama pemerintah kolonial Belanda untuk pembaca Melayu yang memberi peluang bagi penulisan fiksi pendek berbahasa Melayu tahun 1920-an. Muncullah beberapa sosok dari Sumatra yang menonjol di sini, misalnya Syuman H. S, Wachid Hasyim, dan sebagainya.

Salah satu ciri penting dari sastra Indonesia era pra revolusi 1945 ialah penggunaan bahasa Melayu. Bahasa Melayu ini sendiri sebetulnya terbagi dalam dua jenis: Melayu Kasar dan Melayu Riau (Melayu Balai Pustaka). Bahasa Melayu Riau ini dianggap berbahasa lebih baik daripada mereka yang berada di Jawa dan Sulawesi yang dipandang berbahasa Melayu lebih kasar. Periode inilah yang kemudian dimasukkan dalam kategori “Masa Permulaan hingga 1943” dalam buku Antologi Cerpen Indonesia Pilihan Yayasan Lontar. Masa ini berakhir begitu Jepang menjejakkan kaki di bumi nusantara.

Kemudian masa berikutnya ialah saat masa kemerdekaan atau masa revolusi hingga tahun 1965. Di jilid kedua termuat karya-karya yang dihasilkan selama masa panjang yakni masa Orde Baru dan seterusnya yang menurut Zen Hai merupakan masa paling kompleks dalam pertumbuhan sastra Indonesia sampai sekarang.

Zen Hae menceritakan bahwa dalam tahap awal proyek besar itu tersusun sedaftar pengarang Indonesia yang jumlahnya menembus angka 200 orang. “Akan tetapi karena pertimbangan ekonomi dan agar proyek ini bisa terus berjalan, setelah negosiasi dengan John McGlynn dan Andy Fuller maka kami sepakat menguranginya,” tegasnya dalam sambutan di depan hadirin acara diskusi buku dalam rangka peluncuran buku-buku ini.

Lebih detail, berikut ini ialah daftar pengarang yang karyanya dimasukkan dalam “Lontar Anthology of Indonesian Short Stories (LAISS)“:

  1. A’xandre Leo
  2. Bastari Asnin
  3. Kohar Ibrahim
  4. Asneli Lutan
  5. Jass
  6. Soelarto
  7. Bokor Hutasuhut
  8. Bur Rasuanto
  9. Chairul Harun
  10. Djamil Suherman
  11. Fadli Rasyid
  12. Gajus Siagian
  13. Jajak MD
  14. Julius R. Siyaranamual
  15. Kho Ping Hoo
  16. Kipanjikusmin
  17. M. Fudoli Zaini
  18. Marga T.
  19. Maria Amin
  20. Martin Aleida
  21. Matu Mona
  22. Mohammad Diponegoro
  23. Muhammad Ali
  24. Muhammad Kasim
  25. Nasjah Djamin
  26. Njoo Cheong Seng
  27. Nursjamsu Nasution
  28. Putu Arya Tirtawirya
  29. Rainy MP Hutabarat
  30. Ras Siregar
  31. Ray Fernandes
  32. Rusman Sutiasumarga
  33. S. M. Ardan
  34. S. N. Ratmana
  35. Satyagraha Hoerip
  36. Sitor Situmorang
  37. Sobron Aidit
  38. Soemantri (Synthema)
  39. Soewardi Idris
  40. Subagio Sastrowardoyo
  41. Titie Said
  42. Titis Basino
  43. Wildan Yatim
  44. Yusakh Ananda

 

Dan inilah daftar nama penyair yang karya puisinya dimuat di “Lontar Anthology of Indonesian Poetry (LAIP)” KOREKSI: Berikut ialah daftar nama penyair yang belum ditemukan kontak ahli waris atau belum mendapat izin dari pemegang hak ciptanya. Tulisan publikasi ini diharapkan bisa membantu menemukan kontak atau mendapatkan izin :

  1. Abrar Yusra
  2. Amal Hamzah
  3. Anas Ma’ruf
  4. Apip Mustopa
  5. Arifin C Noer
  6. Asrul Sani
  7. Basuki Gunawan
  8. Basyral Hamidy Harahap
  9. Bibsy Soenharjo
  10. Budiman S. Hartoyo
  11. Chairil Anwar
  12. D. W. Sijaranamual
  13. Dami N. Toda
  14. Danmeras Syamsudin
  15. Djawastin Hasugian
  16. Dodong Jiwapraja
  17. Dullah
  18. Emha Ainun Nadjib
  19. Fridolin Ukur
  20. H. D. Mangemba
  21. H. Munawar Kalahan
  22. Hamid Jabbar
  23. Hamidah
  24. Harijadi S. Hartowardojo
  25. Hidjaz Yamani
  26. HS Djurtatap
  27. Husain Landitjing
  28. Husni Djamaluddin
  29. Indonesia O’Galelano
  30. Intojo
  31. Isma Sawitri
  32. Jang Engelbert Tatengkeng
  33. Junedi Ichsan
  34. Kasim Mansur
  35. Kriapur
  36. Kuslan Budiman
  37. M. A. Iskandar
  38. M. Balfas
  39. M. Poppy Donggo Hutagalung
  40. M. Saribi Afn
  41. M. Taslim Ali
  42. M.A. Djoehana
  43. M.D. Asien
  44. M.D. Yati
  45. M.I. Nasution
  46. Magusig O Bungai
  47. Mahatmanto
  48. Mansur Samin
  49. Maria Amin
  50. Marius Ramis Dajoh
  51. Maskirbi
  52. Moh. Diponegoro
  53. Mohammad Hatta
  54. Motinggo Boesje
  55. Mozasa
  56. Muh. Rustandi Kartakusuma
  57. Muhammad Ali
  58. Muhammad Yamin
  59. N. Adil
  60. Nursjamsu Nasution
  61. Or. Mandank
  62. P. Sengodjo
  63. Purwa Atmaja
  64. Ridwan Siregar
  65. Rifai Ali
  66. Rita Oetoro
  67. Rivai Apin
  68. Rosni Idham
  69. Rustam Effendi
  70. S. Anantaguna
  71. S. Wakidjan
  72. S. Yudho
  73. Samadi
  74. Samiati Alisjahbana
  75. Sandy Tyas
  76. Sanento Yuliman
  77. Slamet Sukirnanto
  78. SM Ardan
  79. Subagio Satrowardojo
  80. Sugiarta Sriwibawa
  81. Suman HS
  82. Suparwata Wiraatmadja
  83. Supii Wisnakuntjahja
  84. Sutan Takdir Alisjahbana
  85. Sutardji Calzoum Bachri
  86. Syahril AL.
  87. Toto Sudarto Bachtiar
  88. Trisno Sumardjo
  89. Usmar Ismail
  90. Wahyu Prasetya
  91. Waluyati
  92. Yogi (Abdul Rivai)
  93. Yudhistira ANM
  94. Yusuf Sou’yb
  95. Z. Afif
  96. Z. Pangaduan Lubis

Yang Terkurung Tapi Terlindung

Si Cantik (15)

Terus mencoba dan gagal melayang

Berulang-ulang hingga rasanya mau patah arang

Burung-burung yang belum matang

Sayap mereka lemah saat terkembang

Hingga satu saat mereka hendak pasrah

Karena otot terasa lelah melemah

Tak mereka nyana sayap bukannya patah

Malah membuat terbang makin terarah

“Bebas itu di atas!”

Cuit mereka lepas

Enaknya bergerak tanpa alas

Mengepak di lapisan udara dingin dan panas

Ah lihat, itu si Burung Emas!

Sangkar emas tak jua membuatnya lemas

Terkurung tetapi tak tampak murung

Terkungkung tetapi tak tampak linglung

“Aku terlindung!”