Ahmad Ridwan: Dari Blora, Membela Indonesia

Jepretan Layar 2018-10-19 pada 23.29.01.pngUSIANYA baru 21 tahun. Namun, pengalaman dan kedewasaan Ahmad Ridwan dalam menjalani hidup mungkin melebihi orang-orang sebayanya. Atlet parashooting asal Blora, Jawa Tengah, ini beruntung dapat mengikuti Pelatnas tim Indonesia Asian Para Games 2018 yang baru-baru ini dihelat di Jakarta.

Berbincang dengan saya di tengah hingar-bingar panggung hiburan Wisma Atlet Kemayoran Kamis malam itu (11/10/2018), ia menceritakan seluk beluk perjalanannya hingga bisa sampai ke Jakarta dan bertanding di Asian Para Games tahun ini.

“Saya terlahir dalam kondisi normal sebagai anak kedua dari dua bersaudara di sebuah keluarga sederhana di Purwosari, Blora,” jelasnya lugas di tengah terpaan angin malam sepoi-sepoi Jakarta. Di depan kami, banyak atlet lalu lalang.

Di cabang parashooting, ia masuk kategori amputasi kaki (SH1), kelas menembak duduk. Sementara itu, untuk kategori SH2 diperuntukkan bagi mereka yang tangannya diamputasi tetapi bisa berdiri karena kedua kakinya masih lengkap.

Selain menekuni dunia olahraga, Ridwan mengaku dirinya tertarik untuk menjadi pekerja seni di dunia musik. “Dalam tubuh saya mengalir aliran musik dangdut,” ujar pemuda yang kini dikenal sebagai atlet oleh masyarakat Blora ini. Tak cuma memainkan alat musik dari gendang hingga seruling dan piano dan angklung, ia juga bisa menyanyikan lagu-lagu dangdut dengan baik. Semua itu dipelajarinya secara otodidak.

Dalam menjalani kegiatan sehari-hari, ia tidak pernah merasa kesulitan sehingga sangat bergantung pada orang lain. Ia sangat mandiri. “Tidak ada yang sulit.” Bahkan dalam urusan transportasi, tidak hanya ia berjalan sendiri ke berbagai tempat yang ia inginkan, Ridwan juga terbiasa menunggangi moda transportasi pribadi seperti sepeda motor. Karena mudah bosan, ia yang semula sudah memiliki kendaraan roda dua otomatis beralih ke kendaraan bermotor dengan CC besar. Ia sangat puas karena bisa membeli sepeda motor itu secara mandiri. Tidak meminta dari orang tuanya.

Termotivasi Resident Evil

Ia pertama kali bisa berkenalan dengan cabang olahraga menembak secara tak sengaja. Persentuhannya yang perdana dengan dunia olahraga menembak ini berawal dari rasa penasaran saat ia mendengar berita dibukanya lowongan untuk menjadi para atlet di ajang Asian Para Games 2018 pada bulan Desember 2017. Saat itu ia masih sibuk bekerja di sebuah pabrik meubel di Blora. “Saat itu di tiap kecamatan diumumkan pencarian atlet disabilitas yang ingin mengikuti Asian Para Games 2018. Saya bisa memilih cabang olahraga yang ingin diikuti.”

Ahmad yang sama sekali tidak mengetahui seluk beluk olahraga menembak dan kehidupan atlet memutuskan mencoba dan berhasil lolos. “Rupanya ada juga atlet yang seperti saya. Sebenarnya saya suka bulutangkis dan renang tetapi saya pikir keduanya melelahkan. Haha. Jadi saya pilih menembak saja. Apalagi saya suka main PS. Miriplah dengan main Resident Evil. Haha!”

Begitu lolos di tingkat kabupaten, ia menuju ke Stadion Manahan, Solo. Ia ikut seleksi. Meski mengaku tidak begitu bagus dan mengesankan, ternyata ia meraih poin tertinggi dibandingkan rekan-rekannya. Tanggal 10 Januari 2018, ia pun dinyatakan lolos mewakili Indonesia. Ia beruntung bisa mengikuti seleksi itu tepat waktu sebelum tanggal 10 Januari karena ada sejumlah atlet lain yang terlambat ikut seleksi dan gagal melaju.

Ia berlatih selama 6 bulan sebagai persiapan. Pelatnas ini berlangsung saban hari karena bersifat intensif. Sehari ia mengaku bisa berlatih dari pukul 6 pagi sampai maghrib atau bahkan pukul 9 malam. “Pelatih saya kadang bertanya kondisi para atlet binaannya. Kalau lebih banyak dari kami yang mengeluh lelah, kami diizinkan istirahat lebih awal. Tapi jika masih banyak yang mengatakan belum capek, kami dipersilakan berlatih.

Menemukan Tujuan Hidup

Ia masih merasa belum percaya saat menjalani pelatnas bahwa dengan menembak ‘saja’ dirinya bisa disebut sebagai atlet. “Lalu saya jelajahi YouTube untuk menemukan atlet-atlet parashooting. Yang muncul atlet-atlet China yang juara dunia. Saya berkhayal kapan bisa bertemu mereka ini, yang kemampuan menembaknya keren-keren. Tidak saya sangka, saya bisa bertemu mereka di sini (ajang Asian Para Games 2018). Saya kegirangan bertemu mereka. Wah ini kan yang saya sering tonton di YouTube itu!!!”

Atlet-atlet parashooting China yang sudah malang melintang selama 20 tahun lebih di olahraga ini sempat mengobrol dengan Ahmad. Mereka memompa semangat Ahmad untuk terus berlatih selagi masih muda agar nantinya bisa berprestasi lebih baik lagi. “Sayangi senjatamu, seperti kamu menyayangi istrimu,” tutur atlet itu padanya. “Kalau kamu bisa menyatu dengannya, hasil akan mengikuti.”

Sepanjang karier parashootingnya yang baru 8 bulan, Ahmad memang tidak perlu patah semangat karena justru ia masih punya masa depan yang lebih panjang daripada mereka yang sudah memulai lebih dulu. China memang sudah melesat lebih dulu daripada Indonesia dalam hal prestasi di banyak cabang olahraga untuk para atlet ini karena mereka sudah sejak lama membina atlet-atlet disabilitas. Sungguh bukan tandingan bagi Indonesia yang baru saja mempersiapkan atlet-atlet mereka dalam 8 bulan sebelum ajang digelar.

Bertanding di Jakarta mewakili negara bukan satu-satunya misi Ahmad. Ia juga ingin memberikan motivasi yang sama bagi para rekan-rekannya para penyandang disabilitas di kota kelahirannya. “Saya berfoto dengan atlet-atlet idola parashooting dari China itu dan ingin saya tunjukkan ke teman-teman sesama atlet diabilitas di Blora agar mereka bersemangat untuk latihan. Orang dengan disabilitas bukan manusia lemah. Pasti ada jalannya jika mau berusaha,” terangnya.

Ahmad menganggap ajang Asian Para Games sebagai ajang bagi kaum disabilitas untuk unjuk gigi bahwa mereka juga bisa berprestasi. “Justru sekarang pemerintah memandang orang dengan disabilitas melebihi orang normal,” Ahmad menegaskan.

Kepercayaan diri Ahmad meningkat dengan keikutsertaannya di ajang ini. Ia sekarang masih belum percaya sepenuhnya ia seorang atlet yang membela negara di event setingkat Asia, mengingat ia ‘hanya’ seorang anak muda dari kota kecil di Jawa Tengah.

Semua ini tak terbersit sebelumnya setelah ia tertimpa kecelakaan yang membuatnya kehilangan satu kaki. “Di tahun 2009 saat kelas 6 SD, saya memanjat sebuah pohon mahoni untuk mengambil layang-layang. Tak disangka pohon itu bersentuhan dengan kabel listrik bertegangan tinggi dan ranting mahoni yang saya pijak tidak cukup kuat,” kenanganya dengan nada getir. Ia jatuh tak sadarkan diri dan kemudian mendapati satu kaki diamputasi.

Kebangkitan

Untuk bisa bangkit dan mendapatkan semangat hidupnya lagi bahkan mencetak prestasi seperti sekarang, Ahmad harus menapaki jalan yang cukup panjang. Ia mengaku sempat stres berat karena ia terlahir normal namun harus menerima kenyataan bahwa ia akan hidup dengan disabilitas selama sisa hidupnya. Selama beberapa bulan pertama sejak kecelakaan dan kehilangan kaki, ia terus termenung membayangkan masa hidupnya sebelum kecelakaan. “Saya sempat menangis melihat teman-teman saya main sepakbola. Sebelumnya saya masih bisa bermain bola, lari, renang, voli, bulutangkis. Pokoknya saya anak yang selalu ingin menang. Sekarang saya tidak bisa melakukannya dan cuma bisa menonton.”

Dengan jalan hidup yang tiba-tiba berubah, Ahmad kecil melancarkan protesnya pada Tuhan karena menganggap-Nya kurang adil. Dampaknya tidak cuma pada dirinya sendiri tetapi juga pada keluarganya. Ibunya turut tertekan melihatnya diam saja selama sebulan penuh. Ia sama sekali menolak berinteraksi, melamun dan hanya berdiam diri, mengunci diri di kamar. Sampai kamarnya didobrak karena ibunya cemas jika ada sesuatu yang terjadi pada diri anaknya. Seolah Ahmad hidup segan, mati pun tidak mau.

Ahmad awalnya memang kaku dan merasa segan dan rendah diri untuk bergaul dengan teman-temannya kembali pasca kecelakaan. “Apakah mereka mau bergaul dengan saya? Saya berpikir teman-teman saya pasti menjauhi saya yang sudah begini. Meski ibu saya berupaya membesarkan hati saya, saya terus menyangkal bahwa orang-orang di sekeliling saya pasti tak mau berteman. Dan kalaupun mereka mau, mereka hanya berteman sebatas perkataan. Dalam hati, mereka tetap saja mencibir saya,” tutur Ahmad.

Prihatin dengan keadaan adik semata wayangnya, kakak kandung Ahmad datang dan mengajaknya tinggal di Kalimantan untuk menyegarkan pikiran dan jiwanya. Apa daya, meski sudah di sana 3 tahun dan dimanjakan sedemikian rupa, rasa frustrasinya masih belum luntur juga. Kakaknya melancarkan berbagai cara, dari membelikan Play Station dan TV sampai menawarinya kuliah setinggi mungkin agar semangat hidupnya kembali seperti sediakala. Semua percuma karena adiknya itu keras kepala. “Biarlah saya berpikir untuk diri sendiri. Tidak perlu diceramahi, kata saya,” ia menimpali sang kakak.

Kakaknya terus mengingatkan Ahmad bahwa pasti akan ada hikmah di balik apa yang menimpanya. “Mungkin hikmah itulah yang saya rasakan sekarang tetapi saat itu saya belum terpikirkan,” ungkap pemuda yang kini berpikiran lebih dewasa ini.

Dengan banyaknya waktu senggang yang ia miliki, Ahmad beruntung bisa menjelajahi YouTube untuk menemukan konten-konten yang positif dan memotivasi. “Saya sering mengetikkan istilah pencarian ‘disabilitas ala Indonesia’ dan menemukan banyak video tentang orang dengan disabilitas yang terus berkarya. Saya berpikir, kalau mereka bisa, kenapa saya tidak?” Dari sana ia memutar otak untuk mengisi hidupnya dengan menekuni musik.

Begitu ia pulang kembali ke Blora, Ahmad terus mencari pekerjaan yang sesuai. Sebab menurutnya musik hanya sebatas hobi, ia pun menekuni pekerjaan di pabrik meubel dekat rumah orang tuanya. Begitu mulai bisa menghasilkan uang sendiri dan mandiri dengan penghasilannya sebagai buruh di pabrik meubel.

Meskipun memiliki kaki palsu, Ahmad mengaku tidak betah berlama-lama memakainya. “Terasa panas apalagi kalau sampai seharian memakai. Ah saya pikir ribet pakai ginian terus! Akhirnya saya cuma pakai di saat-saat tertentu.” Ia lebih memilih beraktivitas dengan tongkat penyangga.

Fokus dan Tekad

Baginya, kesempatan berkiprah melalui Asian Para Games 2018 ini adalah sebuah keajaiban yang membelokkan jalan hidupnya kembali ke arah yang lebih baik. Ia tahu ia tak bisa selama-lamanya bekerja sebagai buruh di pabrik meubel. Dengan menekuni olahraga menembak, Ahmad menemukan kembali tujuan dan semangat hidupnya dalam parashooting. Ia paham bahwa jika ia konsisten menekuni parashooting, ia akan memiliki masa depan di sini. Ahmad terus memutar otak bagaimana bisa menabung dan memanfaatkan pemasukannya dari parashooting sebagai modalnya menapaki masa depan. Ia ingin mendirikan bisnis makanan.

Ditanya soal orang yang paling berjasa membimbingnya sampai ke titik seperti sekarang, Ahmad menyebut nama pelatihnya, Saridi. “Beliau membimbing saya dengan sabar dari nol. Berjuangan bersama-sama, bahkan kami sudah seperti keluarga.”

“Pesan saya untuk mereka yang memiliki disabilitas, jangan berpikir disabilitas pasti membuat Anda lemah. Anda bisa bangkit meski memang tidak mudah. Lebih fokuskan diri pada masa depan, daripada masa lalu,” tukas anak muda dari kota asal sastrawan Pramoedya Ananta Toer ini.

Yang sekarang Ahmad bisa lakukan ialah terus berlatih untuk memantapkan kariernya sebagai atlet parashooting sembari memikirkan masa depannya. Satu yang mengganjal, di Blora nanti ia tak menemukan tempat latihan yang memenuhi standar layaknya di Jakarta. “Tapi itu tak masalah. Saya bisa saja latihan di mana saja termasuk di rumah. Yang penting fokus dan tekad.” (*/)

Transforming Pessimism into Optimism in the Current Indonesian Politics

EXCEPT for the unexpectedly viral post-presidential-election blog post I wrote four years ago on Prabowo Subianto in in the eyes of late Lee Kuan Yew (read the post here) and how to select the most progressive political party there is (read: Parpol di Pemilu 2019: Memang Masih Bisa Dipercaya?), I hardly ever generate and publish any political content here. The main reason is simple; PESSIMISM. I’ve been so much overloaded with pessimism.

With the endless supply of hoaxy content, graft and corruption news gracing the national media, I can declare my pessimism as a normal attitude. I have that slightly disturbing views that this state and nation would just run for themselves even if I don’t vote or cast my ballots. While that can be true altogether, I question whether I had contributed something worthwhile to the advancement of my father .. (or wait, if you assume I’m a mysoginist) motherland.

I have had this small clique consisting of some friends who are of different races and walks of life. Being a Javanese male myself, I feel like I have nothing to worry about the ruler of the country because I selfishly know that every president in the country is very likely to be a Javanese male. I sometimes liken the dominance of Javanese males in Indonesia to one of white males in the States. The  republic’s most prominent statesmen are males identified as Javanese. Soekarno, our first president, was Javanese. Soeharto, his successor, was also one. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) shared the same ethnicity. For your information, you can safely ‘suspect’ someone’s Javanese background if you discover his first name starts with ‘su-‘, which means in the language of Javanese “good” or “virtuous”.  And currently, Joko Widodo (‘Joko’ itself is the most Javanese name you can find, just like ‘John’ in the Anglosaxon countries) is undoubtedly the towering media darling.

So when my three Chinese-Indonesian friends were voicing their opinion, I was startled to learn that each of them had different attitude. One showed his highest enthusiasm and optimism. He digested every piece of political news with overflowing zeal, feeling so certain that changes would be coming true soon if he woke up and voted for his dear presidential candidate. He told us how he struggled to get the chance to get into the chamber only to cast the ballot and show his little finger tinged with purplish ink.

As for me, I had never managed to display such enthusiasm. But I did vote in the last presidential election. After listening to my friend’s big struggle to grab that chance of voting,  I felt quite ashamed, partly knowing that if I had been him that time, I may not have made equally enormous efforts like he did.

But I also was dejected to see another friend in the clique who admitted he never got attracted to voluntarily cast his ballot from his early adulthood to these days when he is so eligible to vote. He just wasted his rights to vote as a citizen.

The other one seemed like a swing voter who just followed and tagged along everyone else and thus voted according to someone else’s prescription. He is so easily influenced, having no clear principles and values within himself. But he is the youngest of us so I can tell his view may change over time later.

I arrived to the conclusion that our attitude towards anything is an option we can make. An attitude is made, instead of being given or innate. In other words, a human is never born pessimistic or optimistic or doubtful or skeptic. It’s all learned.

So is our attitude towards politics.

And to bring more optimism in our current politics, which I would love to emphasize here, we all ought to learn more about our nation’s history. That does not necessarily mean reading your history textbooks or encyclopedia or visiting Wikipedia webpages that discusses significant historical events in your country but also talk with the elderly  who experienced firsthand how it felt to be living in many past regimes and in the times when freedom of speech and choice was so restricted unlike these days. That way, you will appreciate more everything you have now and thus never take them for granted. They are so precious but also prevalent like oxygen. You don’t even care less about oxygen but when you lack it, you will beg for its supply around you.

Though I know that some people would just argue that Indonesia is still oppressed by other bigger and more influential nations and that this country still fails in major ways in numerous aspects but we cannot deny the fact that there are many other silver linings as well.

We have been so adept at criticizing and commenting that we ourselves forget to produce things worthy of criticism at the same time.

That said, I am not saying criticizing is bad at all and thus must be forbidden at all cost. Criticizing is good in that it reminds us to remain on track. But too much of something good is also bad. When you busy yourselves with criticizm, you have no ample time to work on your own. Your focus and energy have been sucked out by making criticism.

And most importantly, overcriticism kills productivity and creativity.

So if you still think that participating in politics is in vain just like I did, it is time to change that. And things are better that we make achievements and generate works more than meaningless noise in the process.

What I am trying to say here is: if you know things are not right, fix them depending on your capability. That is all you have to do especially when we are now counting down to the 2019 Presidential Election. (*/)

Why Indonesians Litter Everywhere

LITTERING everywhere is one of Indonesians’ worst habits. This of course is not only found in Indonesia and its people. Thoughtless littering knows no races and geographical boundaries and nationalities. Even in the West (read: Anglosaxon countries), such a habit may be spotted in green and spotless countryside in summer. David Sedaris has been a witness and a relentless trash-picking activist in his idyllic English neighborhood where he now lives with his partner.

However, thoughtless littering has reached a shameful level in Indonesia as we all can see in public places where cleanliness must always be maintained. Such ignorance subconsciously conveys a message that thoughtless littering is never a social disgrace or misconduct. Although placards of waring have been stuck, erected and hung here and there (stating that litterers can be sued and fined for a huge sum of money or sent to jail), I personally hardly believe and feel positive that it will be in fact reinforced.

Why? Here are some underlying assumptions and perceptions why Indonesians – or people around me and myself – have come to this worst level of super massive thoughtless littering which we should have felt ashamed of but unfortunately is never taken very very seriously.

Ignorance in family education

Not many children I’ve seen these days have the innate and ingrained awareness since their early years that littering is never okay and thus must never be deemed trivial violations of norms. The simplest reason behind it is perhaps these children are advised to maintain cleanliness within their school area or home. Once they are out of the school or home zone, they understand by examples of adults aroud  them that littering is always forgiven.

Cleanliness is a mere formality

Adipura, I guess, is the most ridiculous award there is on earth. In Indonesia, the award is meant to show which city deserves the cleanest title.   It is so sickening to me because it never manages to awaken public awareness of cleanliness. Since a long time ago, I have questioned what is the essence of Adipura as winners are determined based on cleanliness of certain zones in a city or town. I know this because I read myself a sign stating that the spot must be maintained clean because judges are to observe it. It definitely ignores trash management in actuality, people’s ways of life, city plan and design and cleanliness maintenance in general. It does not only apply in certain hours, dates but also the entire year. Cleanliness here is a false mask to put on when deemed necessary, to please leaders/ superiors, and to bring more prestige to a local leader and administrations s/he leads.

Trash – including plastic – is considered perishable naturally

Indonesians treat plastic trash and other types of trash – whether it be organic, anorganic or toxic – pretty much the same. Just throw away to fill an empty patch of land and burn it down, not knowing that burning has even polluted the air even more. What an ignorance. That explains why people here buy and use plastic bags and containers liberally and guiltlessly, like their grandparents buying and using banana leaves to wrap foods without thinking twice.

Money solves all

Indonesians never think in the long term. So when they see trash, they seek instant solutions, i.e. pay other people to set trash aside from their view. “Why bother going all the way to find a trash can or litter bin if you can just throw trash away? There will always be people who are willing to get paid to clean all the mess.” That’s what is in their heads. Those who get paid for cleaning by the authorities are abundant and thus spoils everyone. Therefore, they only care about cleanliness around their own neghborhood or house or apartment. Outside their homes, cleanliness is the responsibility of the government. This overdependence on the government explains a lot why Indonesians always blame all their mess on authorities or public officials. They never blame it all on themselves. Pathetic. Now you know why it always looks clean in a well-off neghborhood but poverty-stricken neighborhoods almost always look horribly littered.

Littering is no serious offense

Is there viral news showing us how unforgiving and stern the Indonesian law is towards littering? Impossible. In the middle of a people so infatuated with sensational gossips and political updates, such news would be very much less interesting. And because of this, Indonesians are so ignorant of the awareness that littering is a serious environmental crime. And who are you to make reports even if you witness a person littering where s/he must not. Everyone must think,”Well, that’s none of my business. It’s totally the public officials (government). Who am I?” Plus, usually a litterer is a familiar person to us, e.g. a person living next door or family members you ought to respect or at least treat nicely no matter what happens. What mostly happens is pretending you never saw or witnessed it. That’s the best and easiest solution.

Trash management is never an important issue

Indonesia’s trash management is never serious and comprehensive and the government fails over time to show its goodwill to improve systematically and sustainably and real. And it is more about importing cutting-edge, very durable, and so pricey trash containers. Though it helps, of course it requires more than that to solve this extremely complicated problem. Another thing to show the failure is the fact that Indonesians don’t feel necessary to throw away trash according to its proper categories although they are already provided with 3 trashes to simply separate trash of dissimilar types. Such separate trash cans act as prention that this nation has also applied what other more developed nations have applied. But too bad it’s all fake and staged because after that the trash is treated just the same way as before.

Is cleanliness part of faith?

It is no concidence that Indonesians are mostly muslims and they never care about cleanliness. Since their early years, they are taught that cleanliness is part of their faith. “So there is no problem because there’s still the rest. Not all of it is gone,” their subconscious mind makes a lame excuse. So maybe from now on, it had better to start deconstructing such world view. Dirt is part of sin, perhaps that is how it should be taught. (*/)

In Indonesia, Terrorism Has Never Been This Close and Alarming

Prevention of terrorism attacks are never too late. Start from now before it is too late for Indonesia to become as wretched as Middle East. [Photo credit: Wikimedia Commons]
WE had this conversation over a dinner with some really good topics. As much as I hate the traffic, I also respected the person who invited me to the dinner (or ifthar). I am by no means a huge fan of bukber at a shopping center or any place where crowd gathers and people kill time by avoiding maddening traffic jams.

We had this conversations about yoga and pleasant themes but it suddenly took an unexpected turn.

I had nothing to comment about the recent terrorism attacks in Surabaya. Of course I curse and never ever condone such inhumane acts. That is perhaps because I find it hard to relate to terrorism. I kept thinking that it would never happen around me, or it would happen but I don’t think it will happen to me or my immediate family or in my neighborhood.

But one of my friends at the dining table there had opened my mind that there is always possibility that terrorism has appeared and given – even the slightest- signals around us but we choose to ignore these until it is too late to prevent them from claiming casualties around us.

We are awaken that terrorism has reached a new level. Now children have also been sacrificed to reach the so-called holy goal of realizing fully sharia nation and government, which we never knew they would do.

“Also in our WhatsApp groups of family and friends, we all have those people with fundamentalist way of thinking. And we cannot help it. They are around us,” he said.

I totally can relate to his anxiety. All of us, I guess.

Some of us have courage to fight against this by plunging into the ocean of debate and endless argument and some others just watch and sit and wait. Nothing real is done.

I used to be silent and give no comments on this issue but this time I cannot hold myself back.

WE HAVE TO FIGHT AGAINST TERRORISM.

But at the same time we should bear in mind that we should not fight against terrorists.

Why?

Because these people are actually parts of us. They can be your acquaintances, your neighbors, your coworkers, your mates, fellows, parents, siblings, and spouses who buy into the belief spread by irresponsible parties claiming that muslims in Indonesia are under attack, treated unfairly by the current government, marginalized in some way, and so forth.

If we take time to let them know and comprehend what is better for us together and let them know that the dogma and doctrines they have in mind are unfeasible in this diverse world, there must be some improvement in terrorism prevention measures.

How?

Leave screens and start building interactions. I mean real interactions with human beings in person. Because that way, we can really understand how they think and set aside bias in our own mind and theirs. It is less about finding who wins or loses but more about compromising. We can work it out. (*/)

Every time you think terrorism has a justifiable reason, see these deprived homeless young children. That is what can happen to our future generation in the country. [Photo credit: Wikimedia Commons]

The Tale of Modern, Broken Boys


YESTERDAY I WAS lucky to meet with this 53-year-young jovial top executive who conducted a small study in which he informally analyzed business leaders and their past. “I discovered that leaders who got bullied during their childhood tend to become less effective leaders,” Pieter, the executive’s name, drew his conclusion.

“Because they tend to take revenge?” I tried to guess.

He nodded, adding that these bullied leaders take revenge against the world which they think had treated them so badly. They find it hard to empathize because they had no one showing it for them.

This is why he recommended taking up sports so children as future leaders know how it feels to be in a team and becomes a part of a supportive and bullying-free environment.

===

The same morning I met with Pieter, I also read Michael Ian Black’s “The Boys Are Not All Right“. In the open-ed article, Black puts it eloquently that the root of all gun problems in the US is the lack of proper care and education given to boys. Masculinity, he writes, needs to be redefined. “There has to be a way to expand what it means to be a man without losing our masculinity,” Black highlighted.

Men feel isolated, confused and conflicted about their natures…

If you’re a man, raise your hand if you were educated in childhood by your social environment to be a brave, strong, competitive male. No matter what happens, you’re not allowed to break down. In the moment of grief, showing stoicism and maintaining composure at all times are compulsory. Which is in actuality impossible.

But what can you do about it? You’re born a man. You can’t complain. You’re granted a huge authority by the patriarch in your family to lead, to excel, to surpass, to win over others (read: women).

because we don’t have a model of masculinity that allows for fear or grief or tenderness or the day-to-day sadness that sometimes overtakes us all.

While girls have updated their role models throughout the years, boys don’t., Black argues. To add to that pain, boys are now losing ground. Their typically masculine natures such as physical strength, competitiveness and all are useless in the time of rampant unemployment, financial crisis, sluggish, uneven economic growth.

Girls now can earn more if they fight really hard. They are more daring. They can be whatever they want them to be despite the reigning patriarchy around them. Feminism helps guide them through hard times.

And boys are still stuck in the same old model of masculinity. They don’t know how to react to the changing gender relations. Masculinity is an old establishment awaiting its doom because it rejects the change. And usually when things don’t bend to follow changes, they break. Boys leak out anger, confusion, despair in any forms they can relate to: violence.

For those who know violence is not the way, they withdraw themselves from the world.

===

It also breaks my heart to find the finding of a scientific study by the University of Michigan which concerns about boys and  bullying. These bullied boys – who are expected to be much physically and mentally stronger than girls – turn out to be not that strong when they have to deal with bullying.

The researchers discovered that even a caring, affectionate mother cannot help her builled son to recover from the damaging effect of bullying. Bullied boys later on show more aggresiveness and antisocial behaviors. “For boys, early negative peer experiences lead to a significant increase in antisocial outcomes, regardless of their relationships with their mothers,” they emphasize.

And the effect can be widespread. Not only will it infect their social life, but also relationships with their peers at the later stage of life. These peers are everywhere: at work, at shrine, at neighborhood, etc. So we can imagine the scale and duration of destruction.

===

NO. Don’t you dare to think that this only happens in the US. In Indonesia, the typical tales of broken boys are easy to find. I turn to the page of Humans of New York in which Brandon Stanton tries to capture the essence of a people he is delving into.

Let’s take this man as an example of a broken boy who prefer withdrawal to aggressiveness. He was left by a treacherous wife and opted to leave everything behind and started a new chapter in a completely new place.

Or this man, who struggles to survive and maintain his clients’ trust and showing his most effective and familiar strategy of coping with depression he is suffering: smoking. He confessed he smokes four packs of cigarettes every single day. And please don’t make me rant about the money he ‘burns down’ for alleviating his depression, which instead he can use to save and save his crumbling business. Though this man’s sentences show audacity but deep inside I know it’s a false facade. Smoking shows his rotten soul screaming for help. Cigarettes like drugs can at least ease the pain of reality. Any stress or problem is bearable as long as you can still smoke. I’m no smoker but I have been living among smokers. Some other Indonesian men don’t smoke like this painter (at least he was shot not in the state of smoking like a chimney) but they are just as rare.

These typical stories of damaged men run along with the ‘wonderwomen’ stories, such as a story of a single mother raising her many children, a story of an irresponsible father and a more reliable mother, and this story of a son losing his mother and trying to forgive his incapable father.

You know there’s something wrong in this society when foreigners like Brandon Stanton even easily find this. I know most Indonesian men are not like these. In my family, I don’t even have a single example of a lousy, bad model of a man. Every man I know in the family is hardworking, responsible for their families, but yes, they are numb when they have to deal with sadness. They don’t cry or sob. Though their heart is torn apart.

I’m not saying that becoming a new man in this post-feminism era, one must shed more tears in public but, men, let’s try to unwind a bit. Let out your anxiety, stress and false masks of masculinity. Talk through your difficult times more with friends and family members. That’s sometimes the only way to survive.

===

At Pieter’s working desk, two photos of young boys at 5 and 6 were spotted. Blonde and very German. I guess they have been so fortunate to have a father like him.

Because for boys, nothing compares to growing up with their father by their side. And without belittling a mother’s significance, father’s role is as vital as there is to support not only a family’s finance but also well-being.

For one more functional father, there’ll be fewer dysfunctional boys in the society, so I believe. Strongly. (/*)

Anomali Bernama Baduy (11)

Supaya pengalaman menyinggahi kampung Baduy makin berkesan, diusulkan pengunjung mengenakan busana warga asli. Saya justru merinding membayangkannya. (Foto: Tim Geo Tour/ Jalan- Jalan Baik)
Supaya pengalaman menyinggahi kampung Baduy makin berkesan, diusulkan pengunjung mengenakan busana warga asli. Saya justru merinding membayangkannya. (Foto: Tim Geo Tour/ Jalan- Jalan Baik)

MENGHAYATI BADUY. Saya duduk di beranda sore itu. Beranda rumah orang Baduy Dalam lain dari beranda rumah orang Baduy Luar. Baduy Dalam merancang rumah mereka tidak sebagai tempat untuk bekerja (terutama bagi kaum Hawa untuk mengerjakan tenunan kain mereka) sehingga luas berandanya ala kadarnya. Barangkali cuma bisa untuk menempatkan bokong saja tanpa bisa meluruskan kaki. Kaki mesti menjuntai ke bawah jika ingin duduk santai dan bercakap-cakap lama dengan banyak orang.

Di ambang pintu rumah yang saya tinggali semalam itu, saya mendengar lamat-lamat dua jenis percakapan yang berlainan secara bersamaan. Di dalam dinding anyaman bambu, percakapan khas orang-orang urban mengalir tanpa henti. Soal dunia akademik, perkuliahan, lalu berlanjut ke pekerjaan, pendidikan, dan prestise dan tetek bengek kehidupan masyarakat perkotaan. Semua pembicaraan itu tentang dunia luar, dunia yang asing dari tempat yang kami sedang pijak sekarang.

Sementara itu, di luar rumah, saya dengarkan di waktu bersamaan sekelompok pria Baduy Dalam yang bercakap-cakap dalam bahasa Sunda Kasar yang hampir saya tidak bisa pahami.

Dua percakapan yang membuat saya kebingungan. Yang pertama membuat saya segan mengikuti karena saya sedang ingin menghayati pengalaman hidup di sini, jadi apapun soal dunia luar saya coba sekuat mungkin tinggalkan sejenak. Saya ingin tidak hanya tubuh kasar saya yang berada di kampung Baduy ini tetapi juga segenap pikiran dan jiwa saya. Karena ini saat-saat yang langka dan mungkin tidak akan terulang lagi. Begitulah saya selalu mencoba menghargai tiap momen ini. Saya yakin tidak ada hari atau kesempatan yang sama. Sabtu ini berbeda dengan Sabtu depan meskipun sekilas masih sama-sama bernama Sabtu.

Kang Cecep dari rombongan kami mengusulkan bahwa agar pengalaman tinggal di perkampungan Baduy Dalam lebih mengesankan, akan lebih baik jika segala perlengkapan dan peralatan yang dibawa dari ‘dunia luar’ Baduy dititipkan di sebuah pos khusus untuk kemudian dibawa kembali jika kunjungan sudah selesai.

Dan tidak lupa supaya lebih menghayati kehidupan orang Baduy Dalam, kami juga usulkan untuk memperbolehkan pengunjung mengenakan busana Baduy. Jadi, di sini tidak ada orang yang pakai kaos dengan tulisan aneh-aneh ala anak kota, atau celana pendek (hotpants) yang minim.

Jaro yang menemui kami menampik gagasan tersebut. Menurut hematnya, mereka warga Baduy Dalam sendiri merasa tidak tega untuk menyusahkan pengunjung sampai harus melucuti mereka dari pakaian yang biasa mereka kenakan dan berganti mengenakan pakaian tradisional seperti mereka. “Lagipula nanti susah membedakan mana orang Baduy dan yang pendatang,” jaro beralasan. Kami menerima argumentasinya itu. Masuk akal juga. Maka kami tidak memaksa lagi.

Saya sendiri bergidik jika gagasan itu diterima dan diterapkan. Bagaimana tidak? Para pria Baduy Dalam ini konon tidak mengenal pakaian dalam. Karena itulah, mereka duduk dengan kedua kaki terlipat rapat. Selalu. Meskipun ada argumentasi ilmiah bahwa tidak memakai celana dalam  apalagi yang ketat lebih kondusif bagi kesuburan, tetap saja saya tidak terlintas untuk mengaplikasikannya di luar rumah apalagi saat bepergian dan bertemu dengan banyak orang. Jadi, tidak terbayang bagaimana leganya saya karena jaro sudah menolak ide itu mentah-mentah.

Meskipun memiliki citra introvert dan konservatif, masyarakat Baduy terutama yang lelaki tidak sepenuhnya anti terhadap dunia luar. Sebagian dari mereka kadang berkunjung ke kota besar seperti Jakarta.

Jika kita menempatkan diri kita sebagai seorang manusia Baduy Dalam, memandang dunia luar tentu kita anggap sebagai sebuah dunia penuh kebebasan sementara kampung halaman sebagai tempat yang penuh kekangan. Dan kita pasti lebih merindukan kebebasan itu. Namun, mereka tidak merasakan hal itu. Mereka lebih merasa rindu pada kehidupan desa yang tenang.

Jaro kampung Cibeo ini sendiri pernah diajak berkunjung ke Jakarta. Ia bersama temannya yang pernah bertandang ke rumah mengajak untuk menonton film Barat di bioskop. Bioskop yang pernah ia kunjungi ada di Pondok Gede dan juga Mal Taman Anggrek. Bahkan mereka sempat menginap di sebuah apartemen di lantai 20.

Sebagai pihak luar, saat berada di Jakarta, warga Baduy tentunya mengalami banyak gegar budaya dan sosial sebagaimana yang warga urban alami di perkampungan Baduy. Perjuangan mereka untuk bertahan di Jakarta tentu lain dari kita yang memiliki cara hidup dan pemikiran yang hampir sama dengan masyarakat Jakarta. Ditambah lagi dengan tingginya angka kriminalitas di ibukota serta beragam risiko lainnya yang bisa datang dari interaksi kultural dan sosial, warga Baduy yang menyambangi Jakarta pasti mengalami saat-saat sulit. Jaro yang pernah ke Jakarta itu mengatakan tidak tebersit dalam pikirannya bahwa diri mereka akan tertimpa tindakan kriminal di kota besar.

Di kampung-kampung Baduy, angka kriminalitas hampir nol. Tidak ada bahkan, kata jaro yang kami ajak bicara. Kasus-kasus pencurian, perzinahan, dan segala macam penyakit masyarakat yang menjangkiti masyarakat modern di luar sana jarang sekali dijumpai di sini.

Warga Baduy yang melanglang buana ke luar daerahnya biasanya bukan karena keinginan sendiri tetapi lebih karena diundang oleh orang luar. Tetamu dari kota-kota besar seperti Jakarta kerap mengundang mereka untuk bersilaturahmi atau beranjangsana. Jika mereka beruntung, mereka akan disediakan oleh si pengundang segala moda transportasi dan tetek bengeknya. Tetapi jika tidak, mereka akan tetap berangkat juga. Dan untuk membiayai perjalanan ke Jakarta demi memenuhi undangan tadi, mereka mesti berjualan sepanjang perjalanan. Pria-pria Baduy itu berkelana ke jalan-jalan kota Jakarta tanpa alas kaki dan lazimnya karena mereka tak memiliki dana untuk menyewa tempat menginap, mereka bisa meminta pertolongan aparat kepolisian untuk menyediakan kantornya sebagai tempat menginap semalam saja. Selain kantor polisi, mereka juga biasa tidur di kantor satpam, kenalan yang berbaik hati dan kebetulan memiliki rumah yang luas, serta masjid.

Dan jaro yang kami tanyai menjawab begini saat kami tanya apakah mereka iri atau tidak melihat gemerlapnya Jakarta:”Kami tidak merasa iri. Semua sudah ada tempatnya masing-masing…” (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (10)

Screen Shot 2017-06-01 at 13.16.15
(Foto: Tim Geo Tour)

PLASTIK YANG MENGGELITIK. Jika Anda memiliki kesukaan untuk berperilaku aneh, biasanya Anda akan dihapal oleh orang-orang di sekitar Anda. Dan demikianlah yang terjadi di situ juga. Siang itu setelah sesi yoga dan salat zuhur di alam terbuka di tepi sungai perkampugan Baduy Luar, saya menyempatkan diri untuk berfoto dengan dua anak laki-laki Baduy Dalam yang membawakan barang-barang beberapa orang: Aceng dan Damin.

Mereka berdua tidak banyak berekspresi. Aceng dan Damin hanya bermimik muka datar saat saya ajak berfoto bersama. Saya berdiri di belakang mereka dan melakukan pose yoga bernama durvasana yang menurut saya ‘praktis’ karena tak mesti mencari tempat yang bersih atau rata. Cukup dengan berdiri tegak lalu menaikkan satu kaki ke belakang kepala, saya sudah bisa mencapainya.

Amor, teman saya yang saya titipi untuk menjepret kami bertiga, duduk dan berancang-ancang memberikan aba-aba. Saya fokus ke ponsel berkamera saya dan memasang senyum lebar. Dalam tiga kali jepret, saya amati Damin lebih salah tingkah daripada Aceng. Aceng lebih alami dan tidak setegang sahabatnya itu dalam berpose. Damin lebih pemalu dan cenderung mengarahkan pandangannya ke bawah, ke tanah tempat dedaunan mati berserakan tanpa pernah tersapu.

Selain rombongan kami, di sana juga duduk sejumlah penjual makanan dan minuman instan sebagai pengisi tenaga kami yang sudah kepayahan mendaki. Sebenarnya saya agak menyayangkan masuknya makanan dan minuman instan semacam itu ke daerah ini. Pasalnya makanan dan minuman semacam itu terbungkus dalam kemasan plastik, yang pasti menimbulkan gunungan atau ceceran sampah plastik di mana–mana. Dan jika makanan instan berkemasan plastik sudah hadir di sebuah daerah di Indonesia, kita bisa pastikan tingkat kebersihannya sudah menurun.

Perjalanan kami akan dimulai lagi ke kampung Baduy Dalam. Harry dan Johar meminta kami semua memperhatikan sampah-sampah yang kami hasilkan sepanjang kami singgah di tepi sungai. Pokoknya jangan sampai dibiarkan begitu saja mengotori lingkungan Baduy Luar ini. Penanganan sampah di sini ternyata sederhana, hanya dikumpulkan dalam sebuah kantong (plastik pula) untuk kemudian dibakar, demikian kata pemandu perjalanan kami, Teguh.

Mendengar jawaban ini, Johar dan saya sebenarnya tersentak juga. Johar berusaha menolak pembakaran sampah kami tetapi saya tahu ia tidak memiliki ide penanganan lain yang lebih masuk akal dan realistis. Apa boleh buat, kami pun tak bisa berbuat apa-apa. Saya juga cuma bisa membisu.

Melontarkan ide daur ulang sampah plastik itu tampaknya juga akan membutuhkan tindak lanjut yang panjang dan kompleks. Itu memang idealnya. Tetapi di sana saat kondisi itu, rasanya tidak mungkin dengan pongah dan idealis saya berkata,”Jangan dibakar. Daur ulang saja.” Saya sadar setelah memberikan saran semacam itu, bakal harus ada penjelasan yang lebih pelik dan pengajaran yang konkret. Berbicara sungguh mudah.

Kami pun mendaki kembali siang itu. Kami lewati ladang-ladang di perbukitan tinggi yang bermandikan sinar matahari yang teriknya tidak terbendung awan. Dan persoalan sampah plastik yang menjadi isu laten itu agak terlupakan. Namun, sejujurnya dalam hati saya tetap resah juga.

Hingga saat jaro (kepala adat di kampung) perkampungan Baduy Dalam yang kami singgahi bertandang ke beranda rumah pagi itu setelah kami menyantap sarapan pagi. Salah satu pertanyaan yang dilancarkan kepadanya juga tentang penanganan sampah plastik di kampung.

“Bagaimana penanganan sampah plastik yang dibawa oleh pendatang ke sini (kampung Cibeo)?” tanya Johar pada sang jaro.

Saya sendiri sudah menduga jawabannya setelah menyaksikan adegan di hari sebelumnya saat kami hendak berangkat mendaki setelah beryoga di tepi sungai.

“Sampah plastiknya kami kumpulkan untuk dibakar. Daripada berserakan,” ucap jaro yang bijak itu tenang.

Pengumpulan sampah plastik memang sudah relatif baik di kampung ini. Di depan beranda setiap rumah, ada sebuah anyaman bambu yang bentuknya mirip ember dan ternyata difungsikan sebagai pengumpul sampah. Dan karena para pengunjung di akhir pekan ramai, saat saya saksikan sampah begitu memenuhi wadah tadi. Dan kebanyakan adalah sampah kemasan makanan dan minuman instan.

Jaro mengakui bahwa masyarakat dan para tetua adat di kampungnya belum memiliki suatu skema penanganan sampah plastik yang terpadu dan sistematis. Saya bisa memakluminya karena sampah plastik sejatinya masalah luar yang diimpor ke dalam. Tentu mereka tidak memiliki sumber daya untuk menghadapinya. Mestinya orang-orang luar Baduy-lah yang tahu diri untuk tidak membawa sampah plastik dalam bentuk apapun ke dalam.

Kami pun mengusulkan agar warga Baduy Dalam jangan sampai disusahkan dengan penanganan sampah plastik itu. Membakar sampah plastik itu saja sudah suatu tindakan penghasil pencemaran udara. Dan patut dicamkan juga bahwa asap hasil pembakaran plastik mengandung racun yang tidak hanya berbahaya buat manusia yang ada di sekitarnya tetapi juga pastinya ekosistem alami Baduy yang relatif masih terjaga.

Di sekitar perkampungan Cibeo itu saya memang tidak sempat menemukan lokasi pembakaran sampah plastik tetapi saya duga pastinya ada. Hanya saja lokasinya tersembunyi jauh dari perkampungan.

Jaro menampik halus usulan solusi kami, mengatakan bahwa mereka tidak tega membuat pengunjung kerepotan dengan mengurus dan membawa sampah plastik lagi. Saya kemudian ingat bahwa orang-orang Baduy Dalam ini begitu ramah dalam memperlakukan kami saudara-saudara mereka dari luar. Mereka mendahulukan tetamu sebelum menyantap dan meneguk apapun. Dan soal sampah plastik, mereka juga segan menegur pengunjung luar untuk mengurus soal itu sendiri. “Kami tidak tega dan tidak ingin merepotkan jika mengingatkan,” terang jaro.

Warga Baduy Dalam juga kurang memiliki ketegasan dalam menghadapi para penjual makanan dan minuman instan dari luar sehubungan dengan sampah plastik yang dihasilkan dari kegiatan niaga mereka dengan turis-turis di sini.

Seperti seorang pria pedagang mi instan dan minuman sachet yang sekonyong-konyong menghampiri saya setelah beberapa saat menyaksikan saya bersantai di beranda setelah trekking yang melelahkan.

Dalam bahasa Sunda yang saya kurang pahami, ia bercakap-cakap dengan Damin dan Aceng sembari sesekali terkekeh memandangi saya. Saya menduga ia ingin memastikan pada Aceng dan Damin bahwa saya adalah orang yang berfoto dalam posisi berdiri di satu kaki dan menaikkan satu kaki di belakang kepala. Orang yang aneh, langka dan hanya satu-satunya ada di rombongan turis lokal yang ia jumpai hari itu.

Begitu ia yakin saya adalah orang yang ia ingat, pria itu mendekati saya tanpa meninggalkan beranda yang ia duduki di rumah seberang. Tetapi kali ini kami berhadap-hadapan lebih dekat.

Tanyanya pada saya kemudian,”Mas, biasa olahraga ya?”

Saya terbengong-bengong, tidak menyangka akan disuguhi pertanyaan seperti itu. Saya sudah biasa menghadapi pertanyaan ini di Jakarta tetapi di sini saya sama sekali tidak menduga ada yang tertarik dengan yoga.

“Ya, mas. Sudah biasa. Hehe,” tukas saya, mencoba beramah tamah dengannya. Saya mencoba mempertahankan aliran percakapan,”Tinggal di sini?”

“Tidak. Saya dari kampung luar sini,” dalam bahasa Indonesia yang berakses Sunda ia menjawab singkat. Pakaiannya memang menunjukkan ia bukan warga Baduy Dalam. Ia memakai kaos jersey sebuah klub sepakbola negeri asal pizza. Celananya jeans biru tua yang bisa ditemukan di toko-toko pakaian di pasar-pasar tradisional atau toko pakaian di Lebak.

Pria ini ialah salah satu orang dari rombongan pedagang yang mengiringi kami selama trekking. Mereka juga berjalan kaki di bawah sengatan mentari, sampai kulit legam dan berkilau.

Masyarakat Baduy Dalam di kampung Cibeo ini terbilang relatif terbuka daripada kampung Baduy Dalam lainnya. Mereka membuka diri terhadap kunjungan orang luar dan bahkan menganggap kedatangan mereka sebagai berkah, bukan bencana. Pariwisata budaya ini mereka jadikan sumber penghasilan yang bisa memacu kesejahteraan.

Hanya saja, seperti tren pariwisata pada umumnya, eksploitasi berlebihan menjadi momok yang menakutkan. Dan di sini mereka belum memikirkan kemungkinan terjadinya kerusakan yang berpotensi muncul dan mengganggu keseimbangan ekosistem alam sekitar dan kondisi keseluruhan masyarakat di dalamnya.

Masyarakat Baduy Dalam di sini belum memahami batas tipis antara pariwisata massal dan ekoturisme. Yang pertama lebih berorientasi kuantitas dan volume dan bersifat eksploitatif tanpa kendali. Yang kedua lebih beretika, terkontrol, terencana, tidak serampangan dan mengindahkan kelestarian dan daya dukung lingkungan sekitar.

Klaim saya ini terbukti setelah kami secara spontan menanyakan dan mengusulkan adanya peraturan kuota yang diberlakukan segera agar kampung tersebut tidak diluberi wisatawan secara berlebihan. Layaknya orang berkunjung ke sebuah tempat suci untuk berziarah seperti berhaji, diperlukan pembatasan jumlah orang luar yang memasuki wilayah tersebut agar ketertiban dan kebersihan kampung tetap terjaga.

Masyarakat Baduy Dalam masih memerlukan masukan dari kita mengenai solusi-solusi yang baik untuk memaksimalkan upaya-upaya dalam memanfaatkan potensi wisata budayanya sambil memelihara kelestarian dan kemurnian budaya dan alam sekitarnya. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (9)

Stres kalau sudah urusan mandi! Karena di perkampungan Baduy Dalam, tidak ada kamar mandi tertutup buat kami. Foto ini diambil di perkampungan Baduy luar. (Foto: Tim Geo Tour)
Stres kalau sudah urusan mandi! Karena di perkampungan Baduy Dalam, tidak ada kamar mandi tertutup buat kami. Foto ini diambil di perkampungan Baduy luar. (Foto: Tim Geo Tour)

MCK. Tidak ada yang paling membuat stres di kampung Baduy ini bagi kami selain urusan ke belakang. Apapun kami bisa tahan tetapi soal mandi, cuci dan kakus, sebagian dari kami tidak bisa menolerir. Tidak bisa tidak, kami harus mandi tanpa bisa dilihat orang lain. Dan alternatifnya cuma dua: mandi sebelum atau sesudah semua orang mandi atau mandi di tempat yang agak jauh dari permukiman (yang sebenarnya juga tidak beratap juga jadi tidak sepenuhnya kebal pandangan mata manusia lain).

Sungai menjadi tempat kami melakukan segala aktivitas yang amat sangat pribadi tersebut. Dan ketiadaan pembatas menimbulkan rasa segan, rikuh, dan tertekan. Kegiatan mandi menjadi suatu perbuatan yang harus dilakukan dengan kewaspadaan yang tidak ada redanya dan kehati-hatian ekstra serta perasaan penuh curiga. Pandangan terus disebarkan ke sekeliling. Dan memikirkan kemungkinan pakaian hanyut atau hilang terbawa orang atau sengaja dibawa orang makin membuat kepala pening. Pertanyaan “bagaimana jika…?” yang terus menghantui membuat mandi cukup menguras tenaga dan pikiran.

Sebelum mandi, saya mengkondisikan diri agar dapat menganggap kegiatan mandi sebagai suatu aktivitas berenang bersama yang mengasyikkan. Karena di sana juga tidak boleh memakai sabun, jadi berenang dan mandi terlihat sama saja. Dan itulah yang saya saksikan dan pelajari dari anak-anak Baduy yang mandi di sungai. Mereka melakukannya dengan riang gembira. Sementara orang-orang tua melakukannya sebagai kewajiban. Dan orang-orang luar yang dengan angkuhnya merasa lebih maju dan modern seperti kami menganggap mandi di alam terbuka sebagai suatu kenistaan yang tidak patut dilakukan, sangat purba, menjijikkan, permisif dan sinting.

Jika kita mencermati tata letak zona permandian di sepanjang sungai ini menunjukkan pemikiran orang Baduy juga. Begini letaknya dari hulu ke hilir: zona atas, tengah dan bawah. Zona atas ialah yang paling dekat ke hulu dan khusus diperuntukkan bagi para tetua adat Baduy. Dua kali saya mandi di sungai, saya belum pernah sekalipun menemukan tetua adat mencelupkan tubuh di sana.

Zona tengah, yang dekat dengan jembatan penyeberangan, diakses khusus oleh para pria dan anak laki-laki. Di bawah jembatan tersebut, terdapat sebuah palung yang cukup dalam. Mungkin setinggi leher orang dewasa. Karena tidak dapat berenang dengan baik, saya hindari area ceruk dalam itu dan memilih menjauhi jembatan serta memilih berendam santai sambil menggosok tubuh dengan bebatuan yang ada di dasar kali.

Sementara itu di zona bawah, para perempuan dipersilakan membasuh tubuh. Dari sini kita bisa ketahui bahwa masyarakat Baduy bersifat patriarkis karena perempuan-perempuan Baduy segala usia harus rela menggunakan air sisa mandi dari para tetua (yang notabene juga pria) dan suami, saudara laki-laki, atau anak laki-lakinya. Bahkan air sisa mandi para pria pendatang yang tidak dikenalnya!

Sebetulnya jika kita mau berjalan lebih jauh lagi agak jauh dari permukiman, ada dua bilik tertutup yang bisa dipakai mandi. Tetapi tetap saja meskipun ada dinding jerami sebagai penghalang pandang, Anda akan mandi dengan menatap langit.

Sekembalinya ke Jakarta, kami mengobrol soal MCK. Ada yang mengaku menahan selama di perkampungan. “Sampai Jakarta, langsunggg!” katanya penuh kelegaan. Ada juga teman yang berhasil menyelesaikan ‘hajat’ di sana. “Pantas tidak ada sepagian,” seloroh seorang yang lain menyadari ketidakhadiran temannya di acara tur.

Saya sendiri bukan tipe orang yang bisa melampiaskan urusan pembuangan secara serampangan. Buang air kecil masih bisa diselesaikan dengan santai. Namun, soal buang air besar, sungguh sulit. Mungkin karena dehidrasi juga. Karena sepanjang perjalanan, keringat mengucur tanpa ampun.

Kebiasaan ke toilet atau kamar mandi sebelum tidur terasa jauh lebih mudah di rumah. Di sini, kami tidak bisa sembarangan ke kali di malam hari sebab medannya yang tidak rata dan siapa tahu ada satwa yang kehadirannya tak terduga dan bisa membuat celaka? Maka sebelum berangkat tidur, kami yang laki-laki secara berkelompok saling menjagai saat ingin kencing di malam hari. Baru kali ini, kami kencing berdiri, di tepi kali, lalu menjerit-jerit minta diterangi tetapi begitu disoroti, kami minta jangan terlalu diterangi. Intinya serba salah. Ingin melihat tetapi juga tidak ingin dilihat. Saya sendiri berdoa supaya tidak ada ular yang iseng berenang melintasi titik tempat kami bergerombol. Jika ada, tamatlah kami dipatuknya. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (8)

Anak-anak Baduy tidak diperkenankan orang tua mereka untuk mengenyam pendidikan formal. Tak cukup di situ, mereka tidak disarankan menjadi terlalu pintar. (Foto: Tim Geo Tour/ Jalan- Jalan Baik)
Anak-anak Baduy tidak diperkenankan orang tua mereka untuk mengenyam pendidikan formal. Tak cukup di situ, mereka tidak disarankan menjadi terlalu pintar. (Foto: Tim Geo Tour/ Jalan- Jalan Baik)

‘LARANGAN’ PINTAR. Menjadi cerdas seolah sudah menjadi ambisi dan impian masyarakat modern. Kita diajarkan untuk menjadi makhluk yang haus informasi dan ilmu pengetahuan. Di mana-mana, kalau ada waktu, membacalah, begitu nasihat yang sudah tertanam dalam benak kita. Terus belajarlah sampai ke negeri China, begitu bahkan petuah dari agama. Dari segala arah, manusia modern sudah dibentuk sedemikian rupa untuk terus bersaing dan menyempurnakan kecerdasan mereka.

Lain halnya dengan orang-orang Baduy, terutama Baduy Dalam. Alih-alih mendidik anak-anaknya agar sepintar mungkin, masyarakat Baduy lebih memilih untuk memberikan kesempatan belajar secukupnya dan membatasi agar jangan sampai terlalu cerdas.

“Karena saat seseorang terlalu pintar, ia bisa membohongi orang lain,” ujar jaro.

Saya termangu. Ada hal-hal yang dianggap sebagai penderitaan, atau ketertinggalan yang bukannya dihindari tetapi malah dipilih secara sadar dan tanpa paksaan oleh orang, atau dalam kasus ini, sekelompok orang. Dan saya tidak bisa menghakimi ini sebagai suatu kepandiran. Ini pilihan hidup mereka dan kita sebagai orang luar mestinya menghargai.

PERMUKIMAN. Permukiman orang Baduy tidak stagnan, atau sama dari waktu ke waktu. Seperti halnya masyarakat lain yang dinamis, permukiman Baduy juga terus berubah-ubah dalam banyak aspek. Mengenai jumlahnya, ternyata bisa terjadi pertambahan sesuai kebutuhan.

Satu rumah yang dibangun bisa berisi satu atau dua keluarga. Sebuah rumah yang saya tempati satu malam bersama teman-teman serombongan juga dihuni satu keluarga besar yang kebetulan adalah keluarga Damin, salah satu anak laki-laki yang turut berjalan kaki bersama kami membawakan barang bawaan. Di akhir pekan seperti sekarang mereka menyewakan ruangan luar rumah sederhana berdinding anyaman bambu dan beralas tikar anyam itu dengan traif sukarela. Jadi, kalau bisa dikatakan mereka mirip host di layanan AirBnB. Jumlahnya mungkin tidak seberapa jika dibandingkan penghasilan manusia urban tetapi toh jumlah sebesar itu bisa menghidupi sebuah keluarga dengan 8 anak seperti di keluarga ini.

Sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia, papan juga menjadi fokus penting dalam kehidupan masyarakat Baduy. Biaya pembangunan setiap rumah di perkampungan Baduy diperoleh dari si pemilik rumah. Mereka harus menyiapkan materialnya yang sebagian besar adalah bambu, kayu keras dan dedaunan. Namun, untuk tenaga, pemilik dibantu oleh warga lain juga dalam proses pendiriannya.

Yang unik, dalam bangunan rumah dan apapun di suku Baduy Dalam, penggunaan paku sama sekali dilarang. Sehingga yang kita bisa jumpai di rumah-rumahnya hanyalah pasak kayu atau penyusunan bahan yang lebih taktis untuk mengakali ketiadaan paku sebagai perekat antarelemen bangunan. Suku Baduy Luar lebih fleksibel perkara paku. Bangunan rumah mereka masih diperbolehkan memakai paku.

KEBERSIHAN DIRI. Salah satu sumber frustrasi para wisatawan urban di daerah ini ialah larangan tegas untuk menggunakan bahan-bahan pembersih badan dan rambut yang mengandung zat dan senyawa kimiawi buatan pabrik. Larangan tersebut bukannya tanpa alasan. Selain karena memang bungkus plastik kemasannya bisa menambah gunungan sampah plastik di alam terbuka, air bilasan dari penggunaan produk-produk perawatan semacam itu juga bisa mencemari lingkungan. Saya sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika larangan itu tidak ada, padahal sungai menjadi satu-satunya andalan kami dalam berbagai urusan mandi, cuci, sampai kakus!

Tetapi karena adanya larangan tegas tersebut, saya yang terbiasa mandi di ruangan tertutup dan air bersih yang sudah disedot sedemikian rupa dari dalam perut bumi, bisa juga menikmati sesi mandi di alam terbuka dengan air mengalir di permukaan tanah tanpa ada rasa cemas yang berlebihan jika ada kotoran atau hal-hal semacamnya. Air yang mengalir begitu bersih dan jernih serta alirannya konstan. Tidak ada kotoran yang tertahan. Jikalau ada butiran pasir atau tanah pun bisa dibilas lagi.

Sebagai pengganti shampo dan sabun, masyarakat Baduy memakai bahan-bahan alami dari dedaunan untuk membersihkan diri. Untuk pengganti sikat gigi, sang jaro mengatakan sabut kelapa bisa dipakai membersihkan gigi. Daun hejo juga dapat dipakai untuk mencuci rambut.

Perkara perapian rambut, masyarakat Baduy tidak mengenal gaya rambut yang bermacam-macam. Mereka juga tidak mengenal adanya profesi penata rambut (hair stylist) atau juru potong rambut (barber). Dalam pengamatan saya, pria-pria Baduy memilih membiarkan rambut mereka tergerai sepanjang telinga atau bahu. Tidak lebih dari itu. Sementara para perempuan memanjangkan dan memelihara rambut mereka sampai ke pinggang. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (7)

Suatu bentuk arogansi yang umum kita temui dan lakukan ialah menghakimi keterbelakangan atau kemajuan sebuah masyarakat dengan menggunakan standar kita sendiri. Padahal belum tentu yang kita anggap kemajuan itu diinginkan oleh masyarakat lain yang kita nilai. (Credit: Tim Geo Tour Baduy)
Suatu bentuk arogansi yang umum kita temui dan lakukan ialah menghakimi keterbelakangan atau kemajuan sebuah masyarakat dengan menggunakan standar kita sendiri. Padahal belum tentu yang kita anggap kemajuan itu diinginkan oleh masyarakat lain yang kita nilai. (Credit: Tim Geo Tour Baduy)

KEMAJUAN. Manusia memang saling memandang kondisinya masing-masing. Ada yang memandang kondisi orang lain dengan rasa iri. Ada pula yang memandang kondisi orang lain dan merasa kasihan lalu ingin membantu karena berpikir kondisi orang lain lebih malang darinya. Hanya saja, kadang bantuan itu dibutuhkan, kadang juga sama sekali tidak. Mengapa? Karena yang ditolong merasa sudah cukup atau bahkan malah ingin mempertahankan apa yang ia miliki.

Seperti saat kami menanyakan apakah selama ini ada orang luar yang ingin memberikan pendidikan bagi orang Baduy agar bisa “semaju” masyarakat luar. Tentu menurut standar orang perkotaan, standar hidup dan pendidikan suku Baduy kurang dari kata “layak”. Tetapi di sinilah kita perlu memberikan empati kita bahwa mereka sama sekali tidak menghendaki bantuan semacam itu. Karena dengan bantuan semacam itu, justru mereka merasa terusik dan terganggu sehingga mereka tercerabut dari akar budaya mereka yang sudah susah payah dilestarikan selama ini.

Sang jaro dengan nada datar dan sabar menjawab bahwa sudah sejak dulu kala telah dilarang bagi orang Baduy untuk menerima pendidikan formal dari pihak luar. Namun demikian, bukan berarti mereka sama sekali abai dengan pentingnya pendidikan. Suku Baduy masih memperkenankan anggota sukunya untuk memberikan pendidikan bagi anak-anaknya asal dilakukan oleh kalangan dalam sendiri. Hal ini untuk mencegah upaya “brainwash” yang kelak malah membuat budaya Baduy memudar dan punah.

Antipati semacam ini memang sangat bisa dipahami. Pendidikan adalah metode penyemaian benih-benih dari sebuah masyarakat budaya. Jika pendidikannya sudah menuju ke arah yang keliru, budaya dan masyarakat itu bisa dipastikan akan segera menjemput kepunahannya. Hal inilah yang juga terjadi pada suku Jawa yang menjadi bagian dari identitas saya juga. Dalam hal jumlah populasi, kita tidak meragukannya. Akan tetapi, dalam hal kelestarian budaya, banyak orang Jawa yang sudah hilang identitas Jawa-nya. Anak-anak muda Jawa masa kini telah susah berbahasa Jawa. Jangankan bahasa Jawa krama inggil, bahasa Jawa ngoko yang kasar pun sudah tidak lagi dikuasai dengan lancar. Belum lagi soal aksara. Berapa banyak orang Jawa yang masih bisa menuliskan aksara Jawa?

Meski tidak mengenyam pendidikan formal layaknya anak-anak di luar, anak-anak suku Baduy juga belajar menulis dan membaca serta berhitung. Hanya saja cara belajar mereka menurut sang jaro tidak di bangku sekolah tetapi membaca buku atau apapun yang ada tulisannya bahkan kardus kemasan pun bisa dijadikan materi belajar. Dengan kata lain, mereka tidak belajar dari orang tua tetapi diarahkan untuk belajar secara mandiri. Anak-anak Baduy diarahkan sebagai pembelajar otodidak yang gigih. Tidak hanya menganga meminta asupan dan suapan dari guru-guru. Mereka diperbolehkan untuk belajar apa saja, asalkan tidak di sekolah formal.

Karena itulah, warga Baduy bersikap tegas soal masuknya upaya ‘peningkatan dan pemerataan’ pendidikan di wilayahnya. Begitu ada orang asing (terutama warga negara asing) yang berusaha memasuki wilayah dengan tujuan ingin ‘mencerdaskan’ generasi mudanya, mereka akan segera menindak dengan tegas untuk mengeluarkannya segera. Para petinggi suku Baduy menjalin koordinasi dengan jajaran pemerintahan kelurahan atau kecamatan di Lebak untuk mengidentifikasi jika ada WNA yang masuk ke wilayahnya. WNA yang dimaksud ini juga termasuk orang-orang yang serumpun dengan bangsa Indonesia sendiri, seperti warga Melayu dari Malaysia sekalipun. (bersambung)