Dolorosa Sinaga: Seni Itu Mencerdaskan

“Jangan hidup seperti gelas yang sudah penuh,” tandasnya berapi-api. “Tak bisa lagi diisi.” Wanita itu tampak amat menjiwai perkataannya tadi. Ia hidup dengan pikiran yang terbuka, siap menyambut berbagai dialog, interaksi, dan pertukaran gagasan.

Dolo, demikian panggilan akrabnya, tak pernah merasa puas sehingga ia menolak untuk menjadi gelas yang penuh. Ia menyandarkan diri ke kursi lalu mengatakan sesuatu yang coba ia ingat dari masa lalu. Pandangannya menerawang sejenak dan sedetik kemudian berucap,”Setiap saya bertemu wartawan, saya teringat dengan tulisan seorang budayawan yang mengatakan ada empat aspek yang membuat kekuasaan tak bisa berdiri lagi. Yang pertama, kaum intelektualnya. Kedua, budayawannya. Ketiga, teknologi informasi. Dan terakhir, jurnalis.”

Ia mengimbuhi pernyataannya tadi dengan penjelasan: kaum cendekiawan akan selalu mempertanyakan kebijakan-kebijakan yang diambil pemegang kekuasaan; kaum budayawan akan terus-menerus berupaya mempertahankan nilai-nilai masyarakat yang bisa tergerus karena ambisi kekuasaan; teknologi informasi juga bisa meruntuhkan benteng kokoh penguasa di era digital seperti sekarang; dan kelompok pewarta berperan menjembatani penguasa dan rakyat banyak.  “Jadi, you are the agent of change, actually,” tegas perempuan itu lagi.

Sebagai agen perubahan, para jurnalis memiliki kekuatan dalam membentuk dan mengarahkan opini publik. “Saya juga bisa membangun opini publik tetapi tidak sehebat dan semasif kalian karena kalian mencetak berjuta-juta dan berulang kali dikonsumsi para pembaca sementara saya hanya satu.”

Dolorosa bukan penganut aliran realis dalam berkarya sebagai perupa. Ia justru lebih tertarik pada bentuk-bentuk yang tidak secara jelas menggambarkan sosok manusia. Yang ia suguhkan pada para penikmat karyanya ialah bentuk-bentuk tiga dimensi yang sarat dengan gestur-gestur yang bermakna. Setiap kekaburan bentuk itu malah sanggup memberikan ruang yang lebih bebas bagi penikmat seni rupanya dalam menginterpretasikan. Ada ruang yang tersisa yang justru dapat diisi dengan fantasi dalam benak masing-masing orang yang melihatnya.

Ia mencontohkan dalam sebuah pameran, ia menyaksikan bahwa karyanya yang bertajuk “Tak Terjudulkan” menjadi perhatian pengunjung karena pesan di dalamnya tidak mudah ditebak. Namun, karena Dolorosa piawai menyematkan pesan ke dalam karyanya, tanpa judul ia bisa mengajak audiens untuk berpikir lebih kritis memaknainya. Ia sempat menyaksikan diskusi seorang ibu dan anaknya mengenai “Tak Terjudulkan”. Sang ibu rupanya tengah menasihati anaknya untuk tidak takut dalam menyampaikan aspirasi dan pendapatnya, sebagaimana makna besar yang ia tangkap dari karya tersebut. Mengetahui diskusi yang terbangun dari karyanya itu, Dolorosa merasa berhasil sebagai seorang perupa.

Dolorosa memiki keahlian yang tidak diragukan lagi dalam hal analisis anatomi manusia. Pendidikannya di mancanegara memungkinkannya belajar aspek penting raga manusia sebagai subjek seni, yang turut berperan memberikannya ciri khas dalam setiap karya. Sebab ia merasa sudah ‘kenyang’ dengan gaya realisme itulah, Dolorosa kemudian memutuskan untuk menjajal gaya yang lebih unik, yakni dengan mengambil pemahaman atas gerak sebuah subjek. Jadi, ia tidak semata-mata menyuguhkan subjek secara ‘mentah’. Ia kemas lagi dengan gayanya sendiri yang tiada duanya.

Untuk menemukan seniman realis di Indonesia, kita lebih mudah. Di Yogyakarta, kita bisa jumpai banyak seniman realis, terang perempuan yang memiliki sapaan akrab Dolo ini. “Tetapi membuat figur itu mempunyai nyawa, dan bagaimana ia bisa dibuat gesturnya sehingga membuat orang berhenti.”

Dinamis dan ekspresif menjadi dua kata kunci utama yang ia utamakan dalam karya-karyanya. Dolo mengatakan figur-figur realis terlalu mementingkan akurasi dan menekankan aspek-aspek yang sebetulnya sudah diingat dan diketahui dengan baik oleh audiens. Inilah alasan Dolo tidak membuat figur-figur realistis. “Tetapi saya reenact (memeragakan kembali) gestur-gestur mereka sehingga membuat audiens harus berpikir lebih keras. Dengan begitu, mereka menjadi lebih produktif dan cerdas.”

Dolo memiliki suatu slogan dalam beraktivitas di ranah seni. “Seni itu mencerdaskan,” tegasnya. Ia meyakini bahwa semua produk manusia yang di dalamnya ada unsur kreativitas, membuat kita melihat adanyah kecerdasan dan kerja keras di dalamnya. Pencerdasan ialah suatu aspek terpenting dalam seni, menurutnya. Seni sepatutnya mendorong pikiran kita lebih bersemangat dan kritis dalam berpikir.

Di samping alat untuk mencerdaskan manusia, seni juga kata Dolo bisa berperan sebagai alat yang ampuh dalam menangkal kekerasan. Karena seni mendorong kita menuju keindahan dalam berbagai variasi bentuknya.

Meskipun bergerak dalam seni rupa, Dolo juga penikmat musik. Dalam berkarya di studionya, ia mengaku selalu mendengarkan musik untuk memacu semangat menghasilkan karya-karya anyar.

Ada alasan kenapa menurutnya musik bisa menggiring pendengarnya ke suasana hati tertentu, kenangan masa lalu yang mengharu biru, dan semacamnya. “Karena telinga lebih dekat ke otak daripada indra lainnya,” terangnya.

Ditanya soal jenis musik yang ia dengarkan, Dolo berkata ia mendengar semua jenis musik. Bahkan dangdut sekalipun. “Dalam dangdut, Anda bisa menelusuri jejak sejarah,” terang perempuan berambut bergelombang itu. Ia menggarisbawahi keterbukaan dangdut sebagai bentuk seni yang dengan luwes mengakomodasi elemen-elemen yang datang dari luar dirinya. “Dangdut bisa memakai melodi-melodi melengking dari Zeppelin. Para pemusik dangdut itu mengadaptasikannya dan melebur menjadi dangdut juga,” tegasnya.

Seni itu menurut Dolo suatu entitas yang terbuka dan mampu memberikan pemahaman pada kita yang masih berpandangan sempit ini bahwa perbedaan itu ada dalam diri setiap manusia. Itulah mengapa setiap manusia dinamai berbeda, ia mencontohkan. Karena itu, ia sangat prihatin dengan adanya tren yang berkembang di tanah air untuk mengarah pada keseragaman dan memadamkan semangat pluralisme.

Selain sebagai perupa yang sudah berkarya ke tataran dunia, Dolo juga mendarmabaktikan waktunya sebagai seorang pengajar di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Dan soal pendidikan, ia banyak memiliki kritik. “Negara kita memiliki pendidikan yang sangat terbelakang,” tandasnya dengan nada sedih.

Bentuk pendidikan seni kita juga mengalami kemunduran. Dahulu, anak-anak selain mendapatkan pendidikan formal di sekolah, mereka juga mendapatkan waktu untuk menekuni seni di lingkungan sekitar mereka. “Dengan begitu, generasi muda masih memiliki jiwa tetapi sekarang sudah luntur,” tuturnya.

Dolo menyoroti bahwa jejak-jejak rezim militer Orde Baru yang represif itu masih ada. Reformasi juga ia anggap belum berjalan sebagaimana mestinya karena baru sanggup menggulingkan Suharto tetapi tidak memiliki fondasi yang kuat untuk menentukan masa depan Indonesia. “Jika saat itu, kita memiliki basis kuat itu dalam menentukan masa depan, ada banyak hal yang bisa kita kerjakan. (*/)

Catut

“MAKAN lagi? Sudah berapa kali kamu makan sehari ini?” tanya dia setengah mengejek. Ia selalu bertanya sudah berapa piring saya makan sejak tahu besarnya nafsu makan saya yang bersemayam dalam tubuh yang alit ini.

“Enak saja. Tadi kan sarapan pagi. Yang ini makan siang!” sergah saya untuk meluruskan tuduhannya. Ia anggap saya black hole alias lubang hitam. Terus menyedot tetapi tak jua mengembang, tetap kempis pis.

Saya baru baca presidennya mundur secara paksa melalui mekanisme resmi bernama “impeachment” atau pemakzulan. Sebab keingintahuan semata, saya ajukan pertanyaan. Tak lupa sesekali menyuap santapan siang yang terhidang tentunya.

“Ya, presiden Park baru mundur, Akhlise,” ujarnya.

“Kenapa?” tanya saya polos. Saya sudah baca beberapa artikel tentang itu tapi saya ingin tahu perspektifnya saja. Saya pura-pura bodoh saja.

“Namanya dicatut seorang teman untuk mengumpulkan dana dari chaebol-chaebol (konglomerat),” jelas pria yang sudah satu dasawarsa di rumah kos ini. Ia sebut beberapa perusahaan, termasuk produsen ponsel pintar yang mungkin di genggaman Anda sekarang.

“Lha kan cuma dicatut? Masak iya sampai kudu mundur? Kan itu salah orang tadi, bukan bu presiden,” protes saya seolah saya kroni presiden malang yang dulu pernah berkunjung di mall di seberang jalan.

“Tapi di Korea, Akhlise, orang yang dicatut namanya untuk tindakan kurang terpuji semacam itu juga dituntut masyarakat untuk ikut bertanggung jawab,” ia menjelaskan latar belakang adat kebiasaan dan watak bangsanya dalam berpolitik.

“Hah apa? Kasihan dong. Padahal kan belum tentu atas kehendak dia juga,” saya sok protes lagi atas nama Park. Saya belum sadar saya pakai logika berpolitik orang Indonesia yang tidak tahu malu saat tersangkut perkara hukum untuk menghakimi perkara di tanah asing. Jangankan dicatut, jadi tersangka dan jelas jelas melanggar hukum juga masih bisa melenggang tanpa rasa sesal.

“Sudah seperti itu kebiasaan kami,” tegasnya lagi memaklumi. Tidak ada presidennya yang tidak ada masalah. Semuanya bermasalah, ucap teman kos saya itu dengan sendu.

Saya sampaikan kecemasan bahwa kasus Park bisa mempengaruhi ekonomi negerinya. Ia menampik,”Tidak banyak berpengaruh kok.”

“Ah masak sih?” saya bersikukuh karena sebuah artikel di Chosun Ilbo yang saya baca membahas kecemasan risiko itu.

“Tidak. Karena pondasi perekonomian kami kokoh jadi bagaimanapun konflik politik tak banyak menghambat pertumbuhan ekonomi,” dengan gamblang ia jelaskan.

Saya pikir akan membuat ekonomi negeri Anda limbung, tutur saya. Ia tetap menggeleng.

“Hhh, lain dengan Indonesia ya,” saya mulai memancingnya berkomentar. “Di sini selalu ricuh politiknya.”

“Ah, masa? Indonesia tenang begini,” respon dia kalem.

Saya menangkap sekilas senyum cemoohan dan sebelum ia meneruskan aktingnya, saya sambar saja,”Tenang apanyaaa?!! Pusing semua kita gara-gara politik kok.”

Menyaksikan kegusaran saya, ia kembali ke kamarnya. Ia bawa telur rebus dan kacang kedelai hitam. “Mau?”ia menawarkan.

Ia memang tahu titik lemah saya. Sekali hap makanannya tadi sudah berpindah ke rongga mulut saya.

Daripada memakai mulut untuk bicara politik Indonesia, memakainya untuk mengunyah saya pastikan lebih sehat bagi keseimbangan jiwa dan raga saya. (*)

Mengalahkan Distraksi

“Jika Anda kebal terhadap rasa bosan, tak ada yang Anda mustahil raih di dunia ini.” – David Foster Wallace

Rencana tinggal rencana, karena begitu ada sesuatu baru yang menarik, ditinggalkan begitu saja. Padahal yang baru dan lewat sekilas itu malah membuat kita lebih jauh dari tujuan utama. Pernahkah Anda mengalami itu? Saya juga. Sering. Inilah susahnya menjadi pribadi yang reaktif.

Sikap reaktif biasanya dijumpai pada mereka yang berbuat sesuai dengan rangsangan luar. Mereka lebih memilih untuk menjadi sebuah mesin yang menangkap stimuli eksternal daripada fokus pada tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya untuk dirinya sendiri. Alhasil, akhirnya kelelahan mendera tanpa melihat adanya hasil nyata dari kerja keras. Tampak aktif, rajin tapi sebenarnya tidak produktif sama sekali.

Apakah itu bisa diubah? Tentu saja. Dengan syarat, tekad harus lebih keras dari baja.

Setelah membaca sebuah artikel, saya ingin berbagi tentang cara mengalahkan distraksi atau gangguan dalam mencapai tujuan utama kita dalam hidup sekaligus mengendalikan sikap reaktif:

  • Kendalikan konteks Anda: Anda jauhi segala hal yang membuat pikiran terganggu saat akan bekerja mencapai tujuan utama. Makin jauh sumber gangguan, makin bagus. Sering terganggu bunyi telepon saat bekerja? Jauhkan telepon itu dari meja kerja Anda. Makin jauh telepon, Anda akan makin malas menjangkaunya dan lebih terfokus pada pekerjaan yang jauh lebih penting.
  • Tetap tenang: Stres membuat manusia kurang bisa berpikir jernih. Dengan kata lain, manusia cenderung berbuat dan berucap bodoh saat tertekan. Agar Anda tidak memalukan diri sendiri, saat dirundung stres cobalah tetap tenang. Di sini, peran teknik pranayama dalam yoga bisa membantu kita. Bernapaslah dengan lebih dalam dan penuh kesadaran kapan saja kita merasa pikiran berada dalam tekanan.
  • Fokus pada tujuan utama: Setelah tahu apa tujuan utama kita, adopsilah sikap tenang dalam berpikir dan bertindak, terapkan kesadaran dan hormon dopamin akan muncul dan membuat Anda lebih jernih dalam berpikir jauh ke depan, daripada hanya memikirkan efek pendek dan saat ini saja.
  • Buat keputusan tegas: Saat Anda membuat keputusan tegas layaknya seoramg hakim memberikan vonis, otak Anda akan lebih baik dalam menolak semua distraksi jahanam itu. Dalam membuat keputusan, akan lebih baik jika Anda menggunakan kesadaran penuh yang hanya ada dalam ketenangan dan keheningan. Sebelum melayani distraksi-distraksi tadi, pejamkan mata dan tarik napas lalu pikirkan tujuan utama dan putuskan melakukan hal yang lebih bermanfaat membawa lebih dekat pada tujuan utama, apapun itu.

Saat setia pada tujuan utama, kadang kebosanan menyeruak. Tapi saat itulah saya harus kembali mengingat perkataan mendiang penulis David Foster Wallace di depan.

 

Telur Kebajikan

“Beli telor sekilo, cik,” pinta laki-laki itu. Ia mau makan telur rebus sebanyak-banyaknya hari ini. Lima atau enam butir. Tapi ia urung karena takut berlebihan dan terkena efek tingkat kolesterol tinggi atau stroke tiba-tiba seperti seorang tersangka penghasut kericuhan di pulau seberang.

Perempuan itu menjawab lirih,”Hmm, sekilo ya…”

Laki-laki itu bergumam cemas,”Duh jangan-jangan naik lagi. Pasti deh.”

“Dua puluh tiga,” akhirnya harga itu terlontar dari mulut penjualnya. Ia masukkan satu persatu telur ayam itu ke timbangan.

Laki-laki itu percaya saja, tak mengamati apakah satu kilogram persis berat telur-telur pesanannya. Malah ia sibuk membaca sebuah plakat beraksara Mandarin yang digantung perempuan itu di dinding tokonya, tepat di belakangnya.

Ia tidak bisa membaca kaligrafi China itu. Cuma, ia bisa membaca terjemahan di bawah guratan kuas hitam tersebut. Begini bunyinya: “Orang yang berbuat baik, walaupun rezeki belum menghampirinya, bencana sudah menjauhinya. Orang yang berbuat buruk, walaupun bencana belum menghampirinya, rezeki sudah menjauhinya.”

Sebelum itu, laki-laki itu juga pernah membaca sebuah pernyataan berisi sepuluh poin yang mirip perintah agama. Jangan berbohong, jangan mencuri, jangan berzina, semacam itulah. Ia tak ingat persis karena pikirannya sibuk menghitung kembalian.

Jadi kalau kau menimbang telur-telurku dengan curang, kau akan dijauhi rezeki dan dihampiri bencana, batin si laki-laki pembeli telur. Sehingga dia tak merasa harus kritis mengawasinya. Semua pasti ada imbalan dari sang Penguasa.

Di tengah jalan pulang, laki-laki itu sontak ingat di belakang rumah si penjual ada sebuah pengeras suara yang dengan tingkat desibel cukup tinggi menyebarkan rapalan doa-doa di pagi buta. Tapi belakangan ini, pengurus tunggal sekaligus pengguna pengeras suara itu tengah rehat, sakit atau sibuk atau bangun kesiangan sehingga tak ada lagi suara itu di pagi hari.

“Sabar sekali berarti dia ya,” pikir laki-laki itu lagi sambil memasukan telur-telur itu ke panci lalu memantik api. Mungkin ia anggap saja panggilan suci yang bukan untuk dirinya itu sebagai alarm bangun pagi yang efektif. Tak perlu repot pasang, sudah saban pagi berbunyi lantang.

Catatan Berharga dari Kelas Gobind Vashdev

  • Manusia makhluk kebiasaan karena itu saat kita ingin menerapkan kebiasaan baik akan lebih sulit.
  • Konsep bahagia kita malah membuat kita tidak bahagia. Perlu dikoreksi.
  • Reaksi menghadapi kemarahanan berasal dari setiap perilaku didasari emosi sebagai latar belakang.
  • Bisnis pengalihan perhatian laris karena orang ingin lari dan menekan diri di dalam.
  • Marah dan benci menunjukkan luka batin dalam diri. Sadari dan pahami itu.
  • Vonis atas suatu masalah (benar dan salah) tidaklah penting. Yang lebih penting adalah bagaimana kita memahami semua itu sampai bisa terjadi.
  • Usia 0-7 tahun menjadi usia penting dalam tahap perkembangan psikologis manusia karena di usia tersebut luka batin seorang anak bisa terjadi antara orang tua dan orang dekat dan dirinya. Jika dipendam, potensi masalah akan meledak di masa datang.
  • Tak perlu menahan amarah tetapi cukup sadarilah kemarahan. Karena dengan menahan, akan merusak diri. Tetapi dengan menyadari, kita akan bisa menyalurkan dengan lebih tepat sasaran dan efektif.
  • Emosi ialah sebuah komunikasi bawah sadar menuju ke alam kesadaran manusia. Ia berfungsi sebagai indikator untuk membenahi, membereskan sebuah kondisi sehingga jika tidak disikapi dengan bijak, akan memberikan dampak negatif.
  • Komposisi bicara dibandingkan mendengar idealnya ialah satu banding tujuh. Mudahnya, satu detik yang dipakai untuk berbicara disusul dengan tujuh detik mendengarkan.
  • Hindari penghakiman atau memberikan solusi pada orang yang sedang bermasalah. atau meminta bantuan. Berikan bantuan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Ini juga berlaku untuk menghadapi rengekan anak-anak.
  • Solusi kurang penting jika dibandingkan dengan perasaan bahwa dirinya dimengerti sepenuhnya.
  • Perlunya seseorang untuk mengakui perasaan atau emosi yang berkecamuk dalam hatinya.
  • Saat menghadapi orang yang emosional, buatlah ia merasa nyaman dahulu sehingga otaknya bisa bekerja secara jernih.
  • Analisis emosi dan persilakan solusi itu dari dalam diri kita sendiri.
  • Dalam dua abad terakhir, pertumbuhan populasi dunia bergerak pesat dari 1 miliar (1812) menjadi 7 miliar (2012). Ternyata itu karena makin banyak pelarangan malah memicu lebih banyak pelanggaran. 
  • Kekayaan dan kesejahteraan naik, kebahagiaan turun.
  • Kata apresiasi lebih tepat daripada toleransi, karena toleransi bermakna ada anggapan yang lain salah dan ia menahan perasaan itu, tetapi makna apresiasi lain karena berarti menghargai sesuatu yang berbeda dan di sini tidak ada anggapan salah.
  • Sebagian besar manusia membelanjakan uang untuk memuaskan kebutuhan di bawah leher tetapi begitu pelit saat harus memberikan makanan untuk otak mereka.
  • Saat menghadapi masalah, jangan cari jalan keluar. Carilah jalan ke dalam karena masalah itu bisa juga dipecahkan dari dalam diri.
  • Kita secara konyol menghukum diri karena faktor-faktor eksternal. Misalnya saat kita marah, tubuh dan pikiran kita yang menderita tetapi orang lain malah tidak terkena.
  • Kata Ali bin Abi Thalib, saat ia ingin membunuh seseorang dalam peperangan, ia memastikan seorang lawan ditaklukkan karena sebuah niat untuk jihad, bukan atas nama ego sendiri. Dan karena itulah ia tidak membunuh seseorang yang meludahinya saat ia bisa melakukannya, karena Ali tidak ingin ego yang terluka itu mencampuri niat suci untuk berjuang di jalan Allah SWT.
  • Tentang dharma, Arjuna dinasihati Krishna untuk menunaikan dharma/ tugasnya meski harus memerangi keluarganya sendiri. Inilah perang suci yang ia harus menangkan bagaimanapun juga. 
  • Anggapan bahwa “we are what we eat” bisa juga diterapkan dalam konteks intelektual. Kita adalah apa yang kita konsumsi setiap saat. Jika kita menonton dan membaca konten-konten yang penuh kekerasan, bisa jadi kita lebih permisif pada kekerasan.
  • Energy flows where intention goes
  • Kita diajari untuk terus menggapai dan menggenggam begitu tercapai, tetapi lupa bagaimana sampai harus melepaskan. Padahal agar hidup seimbang, kita harus bisa melakukan keduanya dengan baik.
  • Whatever you fight, you strengthen. And what you resist, persist.” -Eckhart Tolle
  • Dalam suku Boti, jika ada warganya yang mencuri, warga itu akan diberikan kebutuhan hidup agar tidak lagi mencuri. Ia tak lagi dihakimi apalagi dihukum. Karena dalam suku ini, ada pemahaman bersama bahwa semua orang memiliki andil dalam memicu sebuah kejahatan terjadi di tengah mereka.
  • Dalam suku Babemba , seseorang yang melakukan kejahatan akan ditempatkan di tengah dan didekati kemudian diberikan kata-kata penyemangat yang isinya mengingatkan jasa-jasa baik si orang yang berbuat kesalahan. Dengan mengingatkan betapa baiknya ia, sebenarnya ia diingatkan kembali untuk kembali ke jalan yang benar. Kejahatan dianggap sebagai sebuah panggilan dari alam bagi suku itu untuk kembali menyatukan diri. 
  • Apa yang kita perangi mati-matian akan makin kuat. Contohnya kasus rabies di Bali yang malah membandel pasca pembantaian anjing-anjing kampung. Tidak pernah dalam sejarah ada wabah rabies yang berhasil dihentikan hanya dengan membantai anjing. Karena anjing adalah makhluk teritorial, ia akan mengisi wilayah kekuasaan anjing lain yang sudah dibantai. Sehingga virus rabies itu sukar diberantas. Cara mengatasinya sebenarnya mudah yakni dengan memvaksin dari titik terluar menuju ke dalam, pusat wabah rabies. Inilah yang menjadi inti dalam ajaran Yesus juga, kasihanilah musuh kita. Maksudnya ialah dengan mengasihani musuh, kita juga sebenarnya mengasihani diri kita sendiri. Karena kerap musuh itu adalah kemarahan kita sendiri.
  • Dalam bahasa Mandarin, karakter untuk menyimbolkan kata “sibuk” bermakna dua: hati dan mati. Karena memang saat terlalu sibuk, hati kita menjadi mati. Ini juga menjadi teguran bagi kita yang sering membagikan konten di grup chat dengan hanya mengutip, salin rekat tanpa mau membaca dan menelaah lebih lanjut apakah hal yang dibagikan itu bermanfaat atau tidak, baik atau tidak bagi orang lain yang membaca, 
  • Saat kita melihat tiap makhluk hidup lain sebagai percikan Ilahi, kita akan lebih menghargai kehadiran mereka.
  • If you look closely at the form, you lose the essence,” – Rumi. 
  • “Life is not happening to you. Life is responding to you.” 
  • Saat getaran berubah, yang datang juga akan berubah.
  • Nightmare wakes you up. Nightmare is misery and pain. Painful is physical and misery is mental.
  • Sakit datang agar kita masuk dalam Diri (Self).
  • Saat tidak suka dengan seseorang, ingat emosi negatif di dalam yang kita benci adalah sosok yang kita ciptakan dalam pikiran kita itu.
  • Memaafkan itu egois karena kita meletakkan kebencian dan menguntungkan diri sendiri.
  • Termaafkan atau tidaknya seseorang atau suatu hal dalam diri kita bisa diketahui dengan membayangkan rupanya dan memeriksa apakah dan bagaimana emosi yang muncul dalam diri.
  • Kecewa dapat dihadapi dengan menarik napas dan menyadari kekecewaan dan menerimanya sebagai bagian dari diri kita.
  • Semakin tergores, lubang makin besar, dan makin banyak menerima kebahagiaan.
  • Cari guru dengan hubungan karma yang dekat (sinergis). Bagaimana mengetahui dekat atau sinergis? Kita bisa tanya dengan orang terdekat kita apakah setelah itu kita menjadi lebih welas asih atau tidak. Jika sebaliknya, patut dipertanyakan.
  • Mengubah mindset dengan merenung lebih dalam (tafakur dalam Islam).
  • Rabiah dicatat sebagai seorang sufi perempuan yang ingin beribadah pada Tuhan hanya karena dorongan cinta, bukan pahala atau ketakutan atas hukuman terhadap dosa.
  • Otak manusia terdiri dari tiga bagian: otak reptil, otak mamalia dan primata. Otak reptil yang menjadi bagian terendah mencakup kemampuan 4F (feeding atau makan, fighting atau bersaing, flying atau bertahan hidup, dan fucking atau bereproduksi). Kemudian otak mamalia yang lebih maju mengurusi emosi (senang, sedih, takut, semangat, dst). Otak primata yang teratas mengurusi cinta, kasih sayang, kebahagiaan, keseimbangan hidup, dan sebagainya.
  • Kisah raksasa pemakan waktu bernama Batara Kala dalam mitos kuno menjadi penanda bahwa waktu itu tidak berwujud dan hanya bisa dirasakan melalui perbandingan (yaitu sebelum dan sesudah). Agar Batara Kala kalah, kita harus menyingkirkan perbandingan itu dalam pikiran kita sejenak. Caranya dengan berhenti membandingkan kondisi di masa lalu yang sudah lewat dan tidak bisa diubah atau kondisi masa depan yang belum pasti datangnya kemudian lebih berfokus pada masa kini yang sudah jelas dialami.
  • CINTA
  • dianggap sebagai sebuah emosi tetapi sebenarnya kesadaran.
  • Cinta adalah sebuah keadaan sadar, cara mengada di dunia ini, dan sebuah cara utnuk melihat ke dalam Diri dan makhluk lain.
  • Cinta itu membebaskan. Kecanduan penerimaan, penghargaan. 
  • Kecanduan bisa berupa banyak hal.
  • Self acceptance juga merupakan wujud cinta.
  • “To be beautiful means to be yourself. You don’t need to be accepted by others. You need to accept yourself.”
  • From understanding, comes love.” – Rumi
  • Genius asal katanya adalah jin karena dulu kala orang jenius dianggap sebagai orang yang kerasukan jin saat bekerja dan menghasilkan karya besar dan dahsyat.
  • Panglima perang Rustam meninggalkan istrinya dan bayinya Sulhab di saat masih dalam kandungan. Agar Rustam bisa mengenalinya nanti saat bayi itu sudah dewasa, ia pun berpesan pada sang istri agar anaknya diberikan sebuah gelang khusus. Rustam berlaga di medan perang dan harus membela tanah airnya. Bertahun-tahun ia membela tanah air tanpa mundur dan kemudian ia bertemu dengan lawan tangguh yang lebih muda. Rustam begitu membencinya sehingga suatu saat ia bisa berduel dengannya dan mereka bertarung hingga titik darah penghabisan. Saat akan menghabisi Sulhab, Rustam melihat adanya gelang khusus yang dulu ia berikan pada sang istri sebelum bertempur. Dan ia tahu bahwa Sulhab adalah anak kandungnya yang selama ini ia tinggalkan. Mengetahui Sulhab sekarat akibat pertarungan dengan dirinya, Rustam kemudian memohon pada sang raja untuk memberikannya pengobatan. Namun, sang raja menolak karena pada dasarnya Sulhab — meski anak kandung orang kepercayaannya — tetaplah musuh kerajaan. Tidak ada pengecualian. Akhirnya saat Rustam kembali ke medan laga, ia hanya menemukan jasad tak bernyawa anaknya itu. Di sini kita bisa petik pelajaran bahwa ego bisa mengotak-ngotakkan manusia. 
  • Kadang kita tidak perlu harus sampai mengetahui apakah sesuatu baik atau buruk untuk kita, tetapi setidaknya kita lebih paham mengenai sesuatu tersebut dengan lebih mendalam. Dualitas baik dan buruk ini tidak akan terpisahkan selamanya.  
  • Jangan menyelesaikan masalah dengan berdasarkan kebencian atau pemahaman bahwa Anda lebih baik dari orang lain yang bermasalah itu. 
  • Saat rumah kita terbakar, kita padamkan dulu apinya baru kemudian mencari pemicunya. Begitu juga dengan hati ini.
  • Susah karena sudah telanjur didoktrin dengan cara yang berbeda dari dulu.
  • Pelarian terbaik ialah pelarian ke dalam detik ini.
  • Meditasi lalu muncul ide-ide liar itu normal.
  • Tanyakan apakah pujian itu memiliki “agenda tersembunyi”.
  • Pujian dan cacian mendefinisikan si pemberinya, bukan orang yang menerimanya.
  • Ungkapkan fakta, bukan persepsi. Misalnya, “Kamu mendapat lima. Tetapi saya harap jamu mendapat 10.”
  • Tetap berikan persepsi tetapi dengan halus.
  • Compassion senang memabtnu dan menaggung penderitaan orang lain.
  • Kebahagiaan adalah dengan senang melihat makhluk lain senang.

Burung Gagak, Batu dan Sungai

(Sumber foto: Wikimedia Commons)

Seekor burung gagak tengah kehausan. Kemudian ia terbang ke sana kemari untuk menemukan sumber air.

Malang baginya, musim kering mencapai puncaknya. Angin yang berhembus membawa udara panas dari gurun menuju wilayah lain di sisa benua.

Di sebuah rumah, akhirnya ia temukan wadah air dari kaca. Isinya cuma air bening setinggi kening tikus. Tak seberapa tetapi bisa membuatnya bertahan hidup dalam beberapa hari lagi.

Mulanya ia mencoba memasukkan paruhnya yang lancip itu ke melalui mulut wadah. Sayangnya terlalu sempit. Paruhnya belum sampai, kepalanya sudah tertahan mulut wadah air.

Kemudian tak kurang akal, ia memutar otak. Burung hitam itu mencoba menendang-nendang wadah air itu dengan setengah putus asa. Gagal, wadah itu tak kunjung miring pula. Dan ia kemudian berpikir, risiko wadah itu jatuh dan air tumpah ke tanah tanpa ia bisa meneguknya terlalu besar. Ia urung menempuh strategi itu.

Otak yang kecil tak membuatnya dungu. Terbersit dalam benak burung gagak itu ide untuk memenuhi wadah itu dengan sebanyak mungkin batu kerikil agar permukaan airnya naik dan ia bisa mencecapnya lebih mudah.

“Tapi aku harus ke mana untuk menemukan batu-batu kerikil?” gumamnya lagi.

Burung itu mengangkasa kembali. Ia lempar pandangannya seluas mungkin ke bawah.

Sebuah tepian sungai tampak dipenuhi batu-batu kerikil. Dan burung itu akhirnya kegirangan. “Akhirnya ya Tuhan!!!”

Ia pun menukik ke lokasi. Tak sabar membawa sebanyak mungkin kerikil ke wadah air lalu minum air.

Satu persatu batu kerikil ia angkut dengan paruh kecilnya. Tanpa kenal lelah karena ia tahu itu akan menuntaskan rasa hausnya yang sudah parah.

Akhirnya ia bisa juga memenuhi wadah itu dengan 108 bongkah batu kerikil.

Lalu ia terhenyak saat suara tertawa terdengar dari belakangnya.

“Hahahaha…,” kekeh makhluk itu.

Burung gagak menoleh ingin tahu. Seekor burung gagak muda menertawakannya.

“Lihat kau ini, burung tua bodoh,” ejek burung gagak yang terlihat lebih kuat dan gagah itu.

Burung gagak tua tetap tenang meskipun ia sempat tersinggung. Ia tahu kepongahan ala anak muda semacam ini tidak bisa dihadapi dengan kegusaran. Itu seperti menyiram bara dengan minyak tanah.

“Kau sudah terbang ke sana kemari mengangkut semua batu itu dengan dungu. Kamu kan bisa minum air dari sungai itu tadi! Hahaha, sudah tua bodoh pula!!!” cemooh si anak muda. “Lihat aku. Tadi aku sudah segar bugar dengan meneguk sebanyak mungkin air dari sungai itu. Sekarang aku sudah tak haus lagi. Makanya, pakai otakmu untuk berpikir lebih cerdas. Dasar orang tua tak berguna.”

Dengan nada bijak sang burung gagak tua berkomentar,”Aku juga sudah berpikir seperti itu, anak muda. Tetapi tak tahukah kau, air sungai yang kau minum tadi sudah tercemar limbah logam berat dari sebuah pabrik pengolahan emas di balik bukit sana. Aku harus menghindarinya. Muntahkan air itu sekarang juga jika kau tak mau sekarat sebentar lagi…”

Burung gagak muda tercekat seketika.

Benar saja. Sejurus kemudian, napasnya mulai tersengal-sengal dan menjemput ajal.

3 Saringan Sebelum Menulis Sebuah Topik

Penulis pun perlu menerapkan 3 saringan ala Socrates. (Sumber foto: Wikimedia Commons)

Ada pelajaran yang menarik bagi para penulis dalam sebuah kisah Socrates, sang orang bijak dari era Yunani Kuno. Dikatakan bahwa suatu hati Socrates pernah bertemu dengan seseorang yang hendak mengabarkan padanya sebuah berita tentang seorang teman. Kepada sang pembawa kabar itu, filsuf itu berkata,”Sebelum memberitahukan saya kabar itu, saya ingin bertanya sebagai sebuah ujian. Namanya Ujian Saringan Tiga Lapis.”

“Saringan pertama ialah:Apakah Anda sudah pastikan bahwa kabar yang akan Anda sampaikan pada saya itu benar adanya?”tanya Socrates.

“Tidak,” jawab pembawa kabar.

“Saringan kedua, apakah kabar itu mengandung kebaikan?” Socrates bertanya lagi.

“Tidak. Malah mengandung keburukan,” ucap pria itu lagi.

“Saringan ketiga, apakah kabar tadi memberikan manfaat bagi yang mengetahuinya?” Socrates melontarkan pertanyaan terakhirnya.

“Tidak,” tukas sang pembawa kabar.

“Itu artinya kabar yang akan Anda sampaikan tidak perlu saya ketahui…”

—00o00—-

Seorang penulis, blogger, atau jurnalis adalah pekerja kata yang pada hakikatnya ialah penyampai kabar seperti orang yang ditemui oleh Socrates di atas.

Apapun yang ia tulis merupakan kata-kata yang mengandung energi bagi orang lain yang membacanya. Jadi jangan remehkan perkataan yang Anda tuliskan dalam setiap tulisan Anda sebab dampaknya akan sangat besar. Kata-kata dan ide-ide negatif akan memberi makan pikiran negatif dalam diri pembaca kita. Sementara itu, hal-hal positif akan menyuburkan pikiran positif dalam tubuh kita juga. Apalagi jika Anda memiliki hak istimewa untuk menyampaikannya melalui media yang dikenal banyak sekali orang dan sudah dianggap sebagai tujuan mendapatkan informasi yang tepercaya. Amanah dan nama baik itu hendaknya dijaga dengan menerapkan aturan 3 saringan tersebut di atas.

Menimba Kebajikan dan Kebijakan bersama Gobind Vashdev (1)

image

Sepekan lalu saya bersua pertama kalinya dengan penulis dan pembicara dari Ubud, Gobind Vashdev, yang berkunjung ke Jakarta demi menyemarakkan sejumlah acara bertema sosial. Seperti banyak orang, saya menemukan Gobind di newsfeed Facebook saya. Kala itu saya menemukan sebuah tulisannya yang dibagikan oleh seorang teman dan saya iseng membaca dindingnya juga. Sangat inspiratif bagi mereka yang sudah bosan dengan status-status Facebook yang penuh energi ‘panas’ dan ‘gelap’. Anda pasti tahu maksud saya.

Ada begitu banyak kalimat yang saya ingin uraikan untuk menggambarkan sosok Gobind tetapi lebih baik rasanya Anda harus bertemu sendiri untuk itu. Namun, jika Anda bertanya pada saya:”Seperti apa Gobind Vashdev?” Saya hanya bisa pilih satu kata:baik. Itu saja. Bukannya saya malas mendeskripsikan, tetapi karena saya kebingungan menerangkannya.

Selama Gobind di Jakarta akhir minggu lalu, saya berkesempatan menghadiri dua acaranya, yang pertama di Organik Klub di Tebet dan di Komunitas Sane Step yang digagas Adjie Silarus, di SCTV Tower, bilangan Senayan.

Seperti yang ia selalu katakan, Gobind tidak pernah ingin dibayar untuk hadir dalam acara-acara seperti itu. Sehingga jikalau kitapun dipungut bayaran, hampir semua itu disalurkan oleh komunitas yang menyelenggarakan acara pada sebuah upaya amal (tentunya setelah dikurangi biaya operasional).

Itulah yang dilakukannya saat hadir di Organik Klub, Sabtu, tanggal 12 Februari 2016. Gobind ikut hadir dalam rangka mengumpulkan sumbangan untuk pendirian sebuah organisasi sosial Graha Karsa, yang digagas Santi Wibisono (pemilik Organik Klub) dan kawan-kawan yang bervisi sama. Tujuan pendirian Graha Karsa sendiri ialah untuk menyediakan sebuah ruang belajar lanjutan bagi anak-anak berkebutuhan khusus (usia 13 tahun ke atas) yang memasuki fase remaja dan dewasa sehingga mereka memiliki ketrampilan khusus. Menurut Santi, upaya pemerintah yang dilakukan dalam menyediakan lapangan pekerjaan untuk warga negara yang memiliki kebutuhan khusus masih sangat kurang. Namun demikian, bukan artinya kita harus semata-mata mengandalkan dan menunggu pemerintah mengulurkan tangan, ucap Santi. “Dan saya yakin bahwa kita sebagai organisme harus saling melayani. Inilah realisasi pelayanan itu,” tandasnya.

Saya sepakat. Saya pun memiliki keprihatinan yang sama sebetulnya. Santi memiliki Kay, seorang anak laki-laki yang hidup bersama autisme. Sementara itu, saya juga memiliki Ulya, adik bungsu yang hidup bersama hypothiroid. Kini usai menamatkan pendidikan menengahnya, adik saya tinggal di rumah dan memerlukan banyak kegiatan yang bermanfaat agar ia bisa memberikan sumbangsih pada orang-orang di sekitarnya dalam kapasitas dan kondisi yang ia punya.

Sepanjang pemaparan Gobind, saya sempat mencatat beberapa pemikirannya yang saya paling sukai karena begitu mengena. Boleh dikatakan saya hanya satu dari sedikit yang sibuk mencatat karena otak saya begitu ‘kiri’. Begitulah saya bisa menyerap informasi. Tidak cukup mendengar dan bengong. Saya harus menggoreskan pena di atas kertas seperti seorang pematung menatah gelondongan kayu. Saya menulis juga bukan karena saya orang yang suka menulis sebetulnya. Saya suka menulis karena aktivitas itu menghindarkan diri saya dari ketidakberdayaan karena lupa. Otak saya susah mengingat detil, maka saya ingin menulis sedetil-detilnya demi mengompensasikan ‘kelemahan’ itu.

Cara belajar saya sangat bertolak belakang dengan cara belajar Gobind semasa muda. Ia mengaku tidak pernah membaca buku pelajaran. Semua pembelajarannya sangat intuitif. Mencatat di kelas pun ia lakukan cuma sesekali. “Tiap naik kelas, buku catatan saya hanya disobek beberapa lembar saja. Lalu saya pakai lagi untuk tahun berikutnya. Karena saya begitu jarang mencatat. Hahaha,” kenang ayah dari Rigpa itu.

Dari masa belia, Gobind sudah menunjukkan keunikan-keunikan dalam caranya menjalani dan menyikapi kehidupan. Ia bercerita dirinya beberapa tahun belakangan berkomitmen untuk tidak pernah memakai alas kaki apapun lagi. Semuanya demi sebuah upaya amal bernama solemen.org yang mewajibkan relawannya melepas alas kaki sepanjang waktu dan mengampanyekan pada masyarakat mengenai pentingnya keterhubungan dengan ibu pertiwi atau planet bumi. Kita manusia sudah terpapar oleh ion-ion negatif dari matahari, tetapi kurang terkoneksi dengan bumi agar menetralkan ion-ion tersebut. Ia bahkan setuju jika penemuan alas kaki adalah salah satu penemuan terkeji sepanjang peradaban manusia. “Karena alas kaki memisahkan kita dari ibu kita, bumi,” Gobind beralasan.

Karena gaya hidupnya yang tak lazim ini, Gobind sempat kesulitan saat harus memasuki berbagai tempat umum. Pasalnya, para petugas keamanan biasanya mencurigainya sebagai orang aneh. Ia bercerita saat ia dihentikan seorang petugas keamanan sebuah gedung karena perkara tidak membawa alasa kaki ke dalam gedung.

Kata Gobind, manusia perlu menyisihkan waktu untuk bersentuhan kembali dengan bumi. Ia menyarankan kita untuk setidaknya selama 30 menit melepaskan alas kaki dan menapakkan kaki ke salah satu media alami berikut ini: tanah, pasir, batu, rumput. Namun, ia tidak menyarankan semen, paving, ubin atau pelapis artifisial semacamnya yang pada intinya menghalangi kita dari permukaan bumi yang sejati.

Saya ingat dalam sebuah kelas yin yoga, seorang guru menceritakan di sela meditasi bergerak itu sebuah cerita nyata mengenai  patung buddha bersepuh emas murni di sebuah desa di Thailand. Saat datang bala tentara musuh ke desa itu, para penduduk sibuk menimbunnya dengan tanah agar harta berharga mereka itu tak dijarah para penindas. Mereka pun bertekuk lutut pada para prajurit yang bersenjata lengkap dan ditawan. Desa pun ditinggalkan begitu saja. Beberapa lama kemudian, kawasan itu dihuni kembali oleh sekelompok orang. Dan seorang anak menemukan suatu kilauan keemasan yang ditimbulkan dari sebuah permukaan tersembunyi di sebuah siang saat ia bermain-main di sebuah gundukan besar. Ternyata itulah patung buddha raksasa bersepuh emas yang dulu ditinggalkan.

Kalau bisa saya tarik analoginya dengan misi pencarian kebahagiaan yang tak pernah lekang oleh waktu, seperti itulah manusia mencari kebahagiaan. Mereka sibuk mencari ke sana ke mari tetapi sebetulnya kebahagiaan itu sudah ada dalam diri mereka sendiri. Padahal yang kita butuhkan untuk menggalinya kembali hanyalah duduk tenang, bermain dengan diri sendiri untuk mengasah mata batin, seperti anak kecil penemu patung tadi. “Masalahnya, kita selalu ingin meletakkan kebahagiaan itu di luar diri kita,” terang Gobind. Intinya kita diajarkan bahwa kita akan lebih bahagia jika kita mencapai sesuatu di luar diri kita, jika kita bisa memiliki sesuatu yang belum kita punyai, dan sebagainya. Semua itu membuat kita yang sebenarnya bisa bahagia dengan alami, harus mengalami keresahan berkepanjangan karenanya. Sebuah ironi yang tidak hanya dialami manusia modern, tetapi juga manusia sepanjang zaman.

 (Bersambung)

Bhagavadgita Modern

“Saya telah mengubah diri saya menjadi manusia sehingga saya bisa menjadi pemandumu untuk menyadari dharmamu. Apakah kau siap?”

“Pertanyaan pertama. Apakah kau mencintai negaramu seperti rakyat yang lain atau apakah kamu mencintainya dengan intensitas yang tak bisa ditemui dalam diri pemuda-pemudi Indonesia lainnya? Apa rencanamu dengan cinta ini agar bangsa dan negaramu yang begitu besar namun miskin bisa lebih baik?”

“Hmm. Aku sedang berpikir. Dan memilah kata-kata, Krishna.”
“Saya yakin Anda tidak akan mengabaikan cinta itu, membiarkannya layu begitu saja tanpa makna dalam hati, bukan?”
“Betul.”
“Bagus. Betul adalah kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu dengan tepat.”
“Saya ingin melakukan hal terbaik bagi negara dan bangsa ini. Untuk umat manusia. Melakukan yang terbaik dengan bakat dan kemampuan yang kumiliki.”
“Artinya, kau akan memproyeksikan cinta itu dari hatimu menuju sesuatu yang positif dan nyata, Ya, jadi apa saja bakatmu? Sebutkan sesuai prioritasmu.”
“Bakat terbesar saya saat ini adalah menulis dan yoga.”
“Ya, Tuhan sudah menganugerahkan padamu semua itu untuk membantumu menyelesaikan misi itu.”
“Namun, apa yang membedakanmu dari seseorang yang juga berbakat serupa?’
“Saya melakukan dengan sepenuh hati.”
“Di samping itu? Kau pikir semua orang sebelum kamu tidak bekerja dengan sepenuh hati mereka? Kenapa mereka tetap tinggal dan kau pergi?”
“Karena aku tahu mereka tidak bekerja dengan sepenuh hati.”
“Bagaimana maksudmu yang sebenarnya? Bisakah kau pakai kata lain selain ‘sepenuh hati’? Apakah mereka bekerja dengan … sebagaimana yang kau lakukan? Isilah titik-titik itu.”
“Hmm. Saya tidak tahu. Gairah, semangat, mungkin itu. Mereka berpuas diri dengan yang sudah ada, yang mudah, status quo. Mereka tidak berpikir ada yang lebih baik lagi dari saat ini.”
“Baiklah,  Beri penjelasan. mengapa kau pergi meninggalkan tempat itu dan semua orang di dalamnya?”
“Mereka tidak lagi memiliki semangat belajar terus, menyempurnakan ketrampilan dan menambah wawasan dan pengalaman mereka.”
“Namun, itu bukan alasan KAU meninggalkan tempat itu, bukan? Kenapa KAU keluar dari sana?”
“Karena saya sudah muak dengan semua sistem di dalamnya.”
“Mengapa? Apa yang dituntut oleh sistem yang tidak bisa kau terima?”
“Sistem itu menuntut saya melakukan hal-hal yang berlawanan dengan etika dan keyakinan saya sebagai seorang manusia yang berbudi, berasa, bermoral dan berakal. Ada ketidakadilan dalam sistem itu dan saya tidak bisa memperbaikinya sendiri dan tidak ada yang cukup peduli untuk itu.”
“Ya itulah alasannya. Anda dianugerahi oleh Indra sebuah tingkat integritas tertinggi yang akan dibutuhkan untuk mencapai misi Anda di dunia ini.  Anda memiliki tingkat integritas yang lebih tinggi dari pada kolega dan rekan Anda.”
“Terima kasih. Karena saya sangat yakin bekerja bukan hanya menghasilkan uang.”
“Hentikan. Jangan ucapkan terima kasih lagi. Saya di sini bukan untuk menyanjungmu. Ya, saya tahu. Di kahyangan kami membicarakan tentang Anda sepanjang waktu. Kami para dewa tahu Anda mencintai kehormatan lebih dari uang. Kau pikir kenapa kami memilihmu?”
“Maaf, saya orang Jawa yang terbiasa untuk berterima kasih atas pujian sekecil apapun yang kami terima dari orang lain. Meski itu terdengar bukan pujian sekalipun bagi orang lain. Saya tidak bisa menahan diri untuk mengucapkan itu saat ada sanjungan sesepele apapun.”
“Bukan, karena kau memiliki potensi untuk melakukan sesuatu yang besar dan bermakna.”

Linguis Fasis

Kata seorang ulama Jawa dengan penuh rasa bangga, bahasa Jawa lebih kaya dan kompleks daripada bahasa Inggris. Ia ambil contoh saat bahasa Inggris hanya punya kata “rice” untuk beras, bahasa Jawa memiliki “beras”, “pari”, “gabah”, “upo”, “sego”.

Logis, saya akui. Karena bahasa Jawa memang didesain khusus untuk menjelaskan semesta khas Jawa. Ia diciptakan orang Jawa untuk menerangkan semua hal yang ada di sekitar mereka, yang mungkin tidak bisa dijumpai di luar wilayah fisik, budaya maupun ideologis itu. Beras itu makanan pokok orang Jawa. Jangan heran bahasa Jawa punya serangkaian kosakata yang lebih lengkap dan detil untuk menjelaskannya. Sebaliknya, para penutur bahasa Inggris bukan pemakan nasi. Melihat langsung nasi sekali setahun juga belum tentu. Sehingga membuat kosakata rinci semacam itu dalam bahasa mereka sedikit sekali faedahnya dalam memudahkan penyampaian pesan. Dengan kata lain, buat apa punya banyak tetapi hampir tidak pernah dipakai?

Karena itu, saya kurang sepakat dengan pernyataan sang ulama. Bagaimana kalau bahasa Jawa harus menerangkan fenomena salju, keju, flora fauna di kutub bumi atau berbagai olahan daging babi? Lumpuh juga kan. Bahkan bahasa Jawa mungkin tidak kenal kosakata itu semua karena di alam Jawa tidak ada hal-hal itu. Atau setidaknya kurang dikenal mayoritas penutur bahasa Jawa.

Lagipula, kalau boleh berkomentar secara keseluruhan dari tulisan di bawah itu, apa hubungannya kitab suci dan bahasa Jawa serta kosakata nasi?

Sebuah bahasa akan terlihat agung, canggih dan cerdas tatkala digunakan untuk menelaah budaya, masyarakat serta peradaban yang menjadi tempatnya bernaung. Di luar daerah kekuasaannya itu, kemungkinan besar ia menjadi seperangkat produk kebudayaan yang layuh, mungkin disfungsional atau bahkan dungu. Mirip sebuah perangkat teknologi dari pabrikan tertentu dengan sistem operasi khusus yang dipaksa dipakai di ekosistem lain yang berbeda sama sekali. Tidak berguna? Kurang berkualitas? Rendahan? Belum tentu. Itu cuma masalah kecocokan lingkungan saja.

Jadi intinya, mencintai bahasa sendiri tak perlu ditunjukkan dengan mengklaimnya lebih inilah itulah dari bahasa lain. Sebab kalau klaim itu ternyata salah, yang malu kita juga sendiri. Jawa bukan pusat alam semesta; ia cuma secuil bagian darinya.

Saya yakin setiap bahasa memang berbeda karakternya tetapi pada hakikatnya setara. Sebab bahasa juga seperti para manusia penggagasnya, tidak luput dari keterbatasan meski tidak bisa dipungkiri pasti punya kelebihan.