Siapa Bilang Minat Baca dan Tulis Kita Rendah?

Kami sedang duduk mendengarkan wejangan seorang pria yang konon menjadi legenda hidup sastra nusantara. Kiprahnya memang tidak bisa dianggap remeh selama ini. Beliau dikenal sebagai pengajar, setidaknya begitu mulanya bagi saya. Tetapi kemudian saya sadar ia lebih dari sekadar seorang dosen luar biasa. Ia juga penyair kampiun. Sajak-sajaknya sudah melanglang buana ke mata jutaan pembca dan penikmat susastra nusantara kontemporer. Saya harus akui pengetahuan saya tentang kiprahnya sama sekali nihil.

Di depan, ia menggumamkan sesuatu. Apa yang ia ucapkan masih bermakna dan bisa diikuti dengan logika bahasa. Tetapi perkara artikulasi, saya mengamati adanya kemunduran di otot-otot lidah dan mulutnya. Proses menua yang alamiah. Dan saya sedang ia juga habis pulih dari sakit yang cukup serius. Jadi, kehadirannya di sini sudah bisa dikatakan suatu keajaiban. Tak heran seorang teman mengatakan ia tidak ingin mengecap usia panjang karena di dalam usia panjang, mesti ada ketahanan menjalankan roda kehidupan dengan sisa-sisa tenaga penghabisan di usia yang sudah petang, hampir malam, meredup, hingga akhirnya malam.

Meskipun secara fisik Sapardi sudah begitu turun dibandingkan sedekade lalu saat saya masih menjadi salah satu mahasiswanya di Universitas Diponegoro, saya masih menemukan bara dalam tatapan matanya. Jiwanya selalu belia, saya percaya.

Kemudaan yang tak kasat mata tersebut ia ungkapkan dalam pendapat dan sikapnya terhadap perkembangan dunia sastra saat ini. Pikirannya selalu progresif, tidak malu untuk menuruti perkembangan zaman tetapi seraya mencengkeram jatidirinya juga.

Menurut Sapardi, pemikiran kolot bahwa asal kualitas isi sebuah karya sastra itu tinggi, mau diberi sampul, judul, ilustrasi atau tidak dipromosikan sekalipun, pasti akhirnya akan laris juga. Hanya saja kenyataannya lain sekarang. Justru mereka yang yakin karya mereka bagus harus mengimbanginya dengan upaya pengemasan dan pemasaran yang tidak kalah garang dan sistematis. Karena mau tidak mau diakui, unsur-unsur nonsastrawi yang sering dipinggirkan oleh kalangan sastrawan jenis puritan zaman pra-digital.

Untuk menggambarkan sikapnya itu, ia mengatakan bahwa sekarang penerbit dan sastrawan perlu sekali membuka cara pandangnya agar tidak tergerus oleh arus zaman. Unsur kebaruan, inovasi dan kreativitas dalam mengemas isi karya sastra amat dibutuhkan agar lebih banyak pembaca potensial tertarik dengan karya yang ditawarkan. Karena jika sudah gagal menarik perhatian dari kulitnya, mana mungkin isi juga akan dikulik? “Ganti judul, ganti sampul itu penting juga,” tegasnya. Buku-buku lama yang sudah tak laku kini perlu dicetak ulang dengan pengemasan dan cara pemasaran yang lebih modern. Tidak cuma menunggu pembaca yang bisa menjangkau toko buku tetapi juga siapa saja di mana saja asal tersambung dengan internet.

Sebagai contoh nyata, pria yang tidak bisa menanggalkan topi pet dari kepalanya itu menceritakan peran elemen-elemen nonsastrawi itu pada keberhasilan penjualan buku-buku puisinya. Seperti sudah kita ketahui, genre puisi di pasar tidaklah begitu menguntungkan. Penggemar puisi cuma orang-orang tertentu. Namun, itu dulu. Sekarang dengan bantuan pemasaran digital di media sosial dan bahkan film, kita saksikan melejitnya puisi karya penyair muda Aan Mansyur. Puisi terangkat. Dan itu karena ia tidak berjuang sendiri tetapi terintegrasi dengan hal-hal lain di luar dunia puisi itu sendiri.

Dalam kasus Sapardi, ia mengakui bahwa buku puisinya yang semula susah laku di toko-toko buku, bisa lebih laris manis bahkan ditampilkan di rak best seller (yang membuatnya terkejut juga) karena dilibatkannya orang-orang yang terampil dalam mengemas konten agar lebih seksi dan menarik bagi para pembaca masa kini.

Sang sastrawan veteran ini juga menyerukan pada kalangan pegiat sastra dan perbukuan dalam negeri mengenai kemandirian dalam berkarya. Tiap kali Sapardi mendengar ada keluhan bahwa pemerintah tidak mempedulikan atau tidak membantu upaya-upaya menggiatkan industri perbukuan dan aktivitas literasi domestik, beliau mengaku kurang sependapat. Hendaknya kita semua jangan terlalu mengandalkan pemerintah. Secara spesifik beliau berpesan pada kalangan penerbitan agar tidak menggantungkan semua solusi pada pemerintah. Ada masalah apapun, ditujukan ke pemerintah, seakan pemerintah dewa yang bisa memecahkan semua masalah. Padahal jika kita cermati, pemerintah juga sebetulnya tidak akan berdaya tanpa dukungan semua elemen dari rakyat Indonesia. Pemerintah memang penting, tetapi peran rakyat juga sama krusialnya. Rakyat dalam hal ini mereka yang berkepentingan dalam dunia literasi dan susastra juga hendaknya turut aktif mencari solusi demi solusi dari masalah yang dihadapi bersama-sama. Tidak hanya berpangku tangan dan menunggu bantuan pemerintah. Lalu jika tidak ada solusi dari pemerintah, akan cepat menyalahkan pihak eksternal.

Sapardi mencontohkan bahwa di AS misalnya, dunia perbukuan bisa lebih bergairah dan berkembang pesat karena baik pemerintah dan kalangan pegiat perbukuan dari masyarakat umum sama-sama bekerja di jalurnya masing-masing dan saling bersinergi. Misalnya penerbit Penguin yang berhasil sukses dan menjadi sebesar sekarang itu juga bukan perusahaan penerbitan yang ongkang-ongkang menunggu bantuan pemerintah. Mereka bekerja keras sendiri juga di bidang-bidang yang mereka bisa, tanpa dibantu atau didorong pemerintah. Justru dengan independensi tersebut, nantinya penerbit akan lebih bebas dalam menentukan kebijakan dan arah langkahnya ke depan. Dengan menjadikan pemerintah sebagai induk semang, penerbitan berisiko hanya menjadi corong gagasan dan propaganda birokrat. Padahal hal itu amat riskan bagi perkembangan demokrasi dan daya pikir kritis bangsa. Karena di tangan status quo, sastra hanya akan menjadi komoditas legalisasi gagasan mereka.

Kembali ke Sapardi, ia menguak masalah besar dunia penerbitan tanah air, yakni strategi dalam menghadapi kebangkitan dunia digital. Untuk menghadapinya, alih-alih dipandang sebagai musuh, dunia digital (yang mencakup – tetapi tidak terbata dalam – internet, ponsel cerdas, tren e-book, media sosial) idealnya dianggap sebagai kawan. Demikian pesan sang sastrawan.

Jika di zaman sekarang, seorang pengarang karyanya gagal terjual laris padahal karyanya berkualitas, bisa dipastikan pengarang itu kurang cerdik. Dengan begitu banyaknya kanal media sosial yang tersedia secara cuma-cuma, memang konyol rasanya jika pengarang malah bersikukuh menghindarinya atau mengabaikannya. Dengan munculnya media sosial, pengaran dan penerbit justru harus melihatnya sebagai alat baru yang berpotensi mendongkrak produktivitas berkarya (baca: angka penjualan).

Sering kita baca dan dengar argumen dan klaim bahwa bangsa Indonesia memiliki minat baca yang memprihatinkan, rendah, kurang memuaskan, dan sebagainya. Karena daya baca rendah, kemampuan menulis pun menjadi pincang. Intinya, minat baca dan tulis bangsa kita perlu dipacu lagi.

Terkait ini, Sapardi menampiknya tegas. “Generasi sekarang itu malah lebih banyak membaca dan menulis dari generasi sebelumnya!” Sang begawan sastra ini menggarisbawahi, di balik klaim tersebut, ada pemikiran kolot bahwa jika tidak membaca tulisan yang tercetak di kertas, tidak bisa dianggap benar-benar membaca. Ini menurut Sapardi perlu diluruskan. Mereka sudah banyak membaca juga, tetapi mereka lebih banyak membaca di gawai daripada membaca buku fisik, sehingga generasi senior masih mencibir. “(Padahal) membaca di gawai sama membacanya juga,” tandas beliau.

Unsur selain konten yang juga berperan dalam keberhasilan sebuah karya sastra ialah pemilihan nama yang dipakai pengarang untuk ditampilkan di sampul bukunya. Pengarang tidak diwajibkan penerbit, publik pembaca atau pemerintah untuk menggunakan nama asli mereka sehingga terdapat ruang bereksperimen di sini. Salah satu contoh kasus yang membuktikan bahwa nama yang berbeda dapat memberikan efek yang berbeda terhadap persepsi dan respon publik mengenai sebuah karya sastra ialah saat J. K. Rowling menggunakan nama pena (pseudonim) Robert Galbraith dalam genre novel detektf (whodunnit). Saat menggunakan nama pena yang tidak dikenal, publik tidak merespon karya tersebut secara menggembirakan layaknya serial Harry Potter. Namun, begitu penerbit memberikan keterangan bahwa Galbraith ialah nama pena J. K. Rowling, angka penjualan novel kriminal tersebut melejit.
.
Kemunculan internet dan media sosial juga hendaknya tidak menjadi kambing hitam bagi menyurutnya pencapaian industri perbukuan dan dunia sastra. Sapardi justru menjungkirbalikkan pemikiran tersebut dengan menyatakan bahwa saat ini penerbit justru memburu para sastrawan, pencipta konten. Dengan adanya ruang berkreasi yang tanpa batas melalui kehadiran dunia maya dan media sosial, kreativitas sastrawan makin bisa dicurahkan, tanpa batasan-batasan yang seketat di masa penerbitan konvensional. Kalangan penerbit juga sebaiknya keluar dari zona nyaman dan terus mengeksplorasi berbagai peluang dan potensi penerbitan di ruang digital. (*)

Formula Novel Best Seller

Novelis perempuan dengan gaya menulis feminin memiliki peluang sukses lebih tinggi daripada pria. Bagaimana bisa? (Sumber: Wikipedia)

“There’s an app for everything.” Begitu pepatah zaman digital sekarang. Setiap masalah bisa dipecahkan dengan membuat sebuah aplikasi digital di ponsel dan sabak elektronik yang setiap hari kita genggam dan kontennya kita konsumsi secara rakus dan tak kenal waktu.

Di balik aplikasi, banyak komponen yang terlibat. Salah satunya yang tidak kalah penting ialah algoritme, yang secara sederhana bisa dikatakan sebagai sebuah proses atau serangkaian aturan yang harus diikuti dalam penghitungan atau operasi pemecahan masalah, terutama oleh komputer.

Baru-baru ini dibuat sebuah algoritme berhasil dibuat sedemikian rupa untuk mencari resep jitu memproduksi novel best seller. Dan hasil pengamatan berdasarkan penggunaan algoritme pada teks-teks novel yang selama ini menjadi best seller menghasilkan simpulan-simpulan sebagai berikut, yang bisa jadi patut kita pertimbangkan jika ingin menjadi novelis yang berhasil dalam aspek penjualan (bukan dalam aspek idealisme dan sebagainya).

Tema

Kriminal dan cinta ialah dua tema yang dikatakan amat menjual dalam dunia perbukuan. Dan apapun genre yang Anda garap sekarang, jika Anda ingin novel yang Anda tulis masuk ke daftar best seller, tidak ada salahnya menambahkan dua bumbu tadi ke plot yang Anda terapkan dalam novel sehingga calon pembaca lebih tertarik memboyong pulang.

Alur Emosional

Lain dari karakteristik pembaca nonfiksi, para pembaca karya fiksi terutama novel ialah mereka yang sangat mendambakan pengalaman emosional yang kental. Dengan mengetahui hal ini, Anda bisa memberikan sentuhan emosional yang kuat pada setiap elemen novel Anda, terutama alurnya. Plot yang menghanyutkan emosi pembaca itulah yang membuat pembaca kecanduan dan tidak bisa menutup buku sebelum sampai ke lembar terakhir.

Contoh novel yang sukses berkat penggunaan plot yang emosional ialah “Fifty Shades of Grey” yang ditulis E. L. James. Novel ini menurut sebagian pihak memang memiliki prosa yang kurang estetis dan literer dan cenderung menjual fantasi seks sadomasokis. Namun, harus diakui James berhasil membuat emosi pembaca naik turun sedemikian rupa sehingga sangat mengasyikkan dan adiktif. James menunjukkan bahwa tema seks – yang meskipun menurut algoritme tidak begitu menjual sebagai tema buku best seller – ternyata mampu mengedepankan elemen emosi ini dan mendongkrak penjualannya hingga ke angka yang begitu fantastis walaupun dikritik banyak kalangan elit sastra yang merasa novel itu lebih mirip sebuah karya pornografi.

Kesederhanaan

Simplicity is the best policy”. Kesederhanaan adalah senjata utama bagi para novelis agar karya mereka bisa mendobrak jajaran bergengsi di jaringan toko buku besar dan bahkan pasar buku global. Para novelis terkemuka bisa saja menggunakan kalimat-kalimat panjang dengan diksi dan jargon yang rumit tetapi karena mereka ingin menjangkau pembaca seluas mungkin, mereka lebih memilih kata-kata yang mudah dicerna dan kalimat-kalimat yang pendek dan ringkas sehingga tidak membingungkan. Ini berlawanan dengan asumsi yang ada dalam benak novelis pemula yang mengunggulkan penggunaan kata-kata rumit dan mengawang-awang dan kalimat-kalimat panjang yang membuat pembaca terengah-engah. Justru yang sulit ialah bagaimana novelis menyuguhkan ide-ide rumitnya dalam kata dan kalimat yang mudah dipahami siapa saja.

Algoritme menjelaskan bahwa novel-novel best seller lazimnya menggunakan kata-kata aktif (do) dan menggunakan kata “sangat” (very) lebih jarang daripada novel yang lebih jarang digemari.

Femininitas

Anda novelis pria? Perlu Anda ketahui bahwa novelis perempuan memiliki peluang sukses lebih tinggi daripada mereka yang pria. Begitu tingginya peluang itu sampai bisa dikatakan peluang sukses novelis perempuan bisa menjangkau hingga 90%. Setidaknya demikian menurut hasil penelitian berdasarkan algoritma.

Namun demikian, para novelis pria tidak perlu patah arang karena sebetulnya asal mereka bisa menyesuaikan gaya bercerita mereka sehingga karya mereka memiliki elemen femininitas yang lebih kental. Algoritma membuktikan bahwa novel-novel hasil tulisan penulis pria yang terbukti sukses bisa menjadi best seller karena gaya menulis mereka mirip perempuan menurut algoritma.

Lalu kita perlu bertanya, seperti apa gaya menulis yang feminin dan maskulin? Gaya menulis feminin menonjolkan aspek ‘style’ dan kesederhanaan dan pendekatan blak-blakan yang mengena bak gaya menulis seorang jurnalis. Novelis dengan latar belakang jurnalisme dalam tingkatan tertentu terbantu untuk bisa menelurkan karya yang digemari daripada yang tidak pernah menjadi pewarta.

Sementara itu, gaya menulis maskulin mengedepankan gaya literer yang tinggi. Dengan kata lain, menulis dengan gaya berbunga-bunga yang khas pujangga justru membuat peluang sebuah novel menjadi best seller lebih rendah. Dan uniknya, gender novelis belum tentu sesuai dengan jenis gaya menulisnya. Artinya, seorang novelis pria bisa saja memiliki gaya menulis feminin dan begitu juga sebaliknya.

Kekuatan Tokoh Utama

Menggunakan judul yang mengacu langsung pada karakter utama adalah elemen lain yang mempertinggi peluang sukses suatu novel. Namun demikian, menggunakan nama karakter tersebut sudah dianggap usang (katakanlah “Anna Karenina” milik Leo Tolstoy). Novel-novel best seller masa kini tetap mengacu ke tokoh utama di dalam judulnya tetapi tanpa menguak nama si tokoh. Frase yang menarik untuk menggambarkan tokoh utama bisa memicu keingintahuan calon pembaca.

Tokoh utama yang berkarakter kuat dan terdefinisi secara jelas memberikan peluang sukses bagi sebuah novel untuk melejit. Hal ini bisa dicapai melalui penggunaan kata-kata kerja yang tegas dan mendorong terjadi serangkaian perbuatan dan aksi.

Lalu apakah yang kita mesti lakukan setelah mengetahui semua elemen sebuah novel best seller ini? Kita bisa mengamati buku-buku yang laris ini dan meniru resep sukses mereka. Dengan membaca banyak novel best seller, dengan sendirinya kita akan makin akrab dengan pola-polanya.

Namun, jangan sampai membuat kita terlalu terobsesi untuk melihat keluar, mengejar status best seller sampai lupa dengan ide-ide orisinal kita sendiri dan menggadaikan idealisme yang semula kita punya demi selera pasar.

(Disarikan dari “The Bestseller Code: Anatomy of the Blockbuster Novel” oleh Jodie Archer dan Matthew L. Jockers)

Cara Mengajarkan Menulis dalam Bahasa Asing

Menulis itu suatu seni, dan mengajarkan seni diperlukan seni tersendiri juga. (Foto: Wikimedia)

Anda mungkin bisa menulis dengan baik tanpa harus menjadi penulis buku. Karena ada begitu banyak hal yang perlu kita komunikasikan dalam kehidupan ini, tanpa harus melalui medium buku dan sejenisnya.

Pertama-tama, apakah itu menulis? Pada dasarnyam menulis ialah sebuah kegiatan literasi yang berkaitan dengan pikiran. Ia mencakup proses belajar, dengan tujuan menyempurnakan pemikiran seseorang, dan untuk mempengaruhi pemikiran orang lain. Menulis ialah kunci dalam komunikasi terutama di era melek huruf dan digital seperti sekarang. Manusia abad ke-21 adalah makhluk yang lebih banyak berkomunikasi lewat teks daripada para pendahulu mereka. Kita menggunakan media digital untuk menyampaikan apa saja dan semua itu lebih banyak dalam bentuk tulisan.

Menulis, meski bukan satu-satunya aspek dalam pendidikan, dapat dikatakan sebagai salah satu fondasi terpenting dalam pendidikan dasar hingga menengah dan tinggi. Bahkan setelah seseorang sudah meninggalkan bangku kuliah, ia akan terus memerlukan keterampilan menulis tersebut di berbagai kesempatan. Buktinya orang dewasa yang sudah melampaui usia sekolah masih saja terus belajar bahasa dengan beragam tujuan tetapi intinya ialah agar mereka dapat meraih kesempatan yang lebih luas dalam era persaingan tenaga kerja di era globalisasi yang makin sengit persaingannya ini.

Keterampilan menulis makin dibutuhkan saat ini. Kita makin banyak disuguhi informasi dengan begitu banyaknya informasi yang mengalir di Internet dan media konvensional. Dan setelah menyerap semua itu, kita diharapkan juga dapat memberikan respon atau tanggapan. Semua orang bisa memberikan tanggapan secara lisan tanpa harus banyak berpikir. Tetapi untuk menulis sebuah tanggapan yang runtut, sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan (karena makin banyak orang menulis dan tidak sadar mereka harus bertanggung jawab untuk itu, sebut saja penulis berita bohong alias hoax), tidak semua orang bisa melakukannya. Diperlukan kerja keras intelektual yang lebih besar dan waktu yang lebih panjang untuk menyiapkannya, menyuntingnya hingga sampai ke penayangannya ke publik luas. Tidak semua orang sesabar dan segigih itu.

Untuk mengukur baik buruknya keterampilan menulis sebetulnya mudah, yakni bagaimana kita bisa mengetahui mudah tidaknya sebuah gagasan dalam tulisan ditransfer dari benak penulis untuk kemudian dipahami oleh orang lain. Tulisan tersebut juga harusnya disusun secara teratur, terorganisir dan sistematis sehingga dapat dimengerti siapa saja yang membacanya. Hal ini selaras dengan pendapat Orson Wales yang berkata:”Jika seseorang tidak bisa menulis dengan baik, mereka juga kurang bisa berpikir dengan baik juga.” Dan parahnya jika kita sendiri tidak bisa berpikir untuk diri kita, orang lain yang akan berpikir untuk kita. Dengan kata lain, orang lainlah yang akan menjadi pemikir bagi kita dan dengan demikian kita hanya akan menjadi pengikut, ibarat seekor domba yang mau saja digiring oleh pemiliknya ke mana saja, bahkan ke jurang atau rumah jagal sekalipun. Karena itulah, menulis sangat penting.

Menulis juga bisa menjadi suatu tolok ukur untuk menguji seberapa dalam pemahaman seseorang tentang sebuah topik atau permasalahan. Jika seseorang bisa dengan lancar dan sistematis menuangkan informasi atau pengalaman atau apapun yang ia ingin sampaikan dalam bentuk tulisan yang runtut dan sistematis, biasanya dapat dipastikan pemahamannya soal isu atau masalah yang ia tulis itu juga lebih baik daripada mereka yang hanya bisa berkomentar singkat atau menulis status yang cuma 100-200 kata panjangnya.

Orang cerdas tanpa kemampuan menulis yang memadai juga akan sulit menyampaikan pengetahuan dan pendapatnya yang berharga itu ke khalayak yang lebih luas lagi. Hal ini dibuktikan dalam sebuah survei yang menyatakan bahwa lebih dari 50% mahasiswa Korsel yang sukses masuk dan menjalani perkuliahan di kampus-kampus bergengsi yang terkenal dengan sebutan “Ivy League” harus menelan pil pahit. Di tengah jalan mereka terpaksa keluar atau berhenti sebelum bisa lulus. Padahal kalau kita cermati, di jajaran negara-negara maju (OECD) , Korsel adalah salah satu negara dengan pencapaian mutu SDM yang paling mengagumkan. Prestasi akademik anak-anak sekolah Korsel melesat melampaui AS dan Inggris yang dianggap kiblatnya pendidikan global. Skor-skor anak-anak Korsel di atas rata-rata dan bahkan mereka sanggup mengerjakan soal yang jauh lebih sulit daripada soal yang biasa dikerjakan anak-anak seusianya di negara-negara maju lainnya. Lalu apa sebabnya anak-anak Korsel yang ‘cerdas’ itu gagal di pendidikan tinggi mereka? Ternyata pendidikan yang terlalu mengejar skor seperti di Korsel itu kurang mendukung bagi pengembangan keterampilan berpikir kritis yang vital dalam proses menulis. Mereka hanya diajarkan untuk menyerap dan menyerap tanpa diberi kesempatan menanggapi, entah itu menolak atau menerima atau menerima dengan syarat/ alasan tertentu. Mereka kehilangan kesempatan untuk menyuarakan pikiran dan pendapat mereka karena sudah dibentuk menjadi ‘robot penghapal’. Dan sejujurnya Korsel bukan satu-satunya negara dengan pendidikan pengejar skor. Banyak pendidikan di negara-negara Asia masih berhaluan sama, termasuk juga Indonesia. Anak-anak sekolah hasil didikan sistem pendidikan Asia lazimnya kesulitan beradaptasi dengan sistem pendidikan Barat terutama AS karena di sekolah-sekolah Amerika itu keterampilan menulis dibutuhkan di beragam mata kuliah, bahkan bagi mereka yang tampaknya jauh dari bidang bahasa dan sastra sekalipun masih ada tuntutan untuk bisa menulis makalah atau tesis dengan sistematis. Akibat ketidakmampuan menulis sangatlah kompleks, misalnya ketidakpercayaan diri di kelas, terlambat mengumpulkan tugas, komunikasi yang buruk dengan dosen, dan yang terparah, jika amat terdesak, anak didik yang sudah putus asa bisa melakukan pelanggaran akademis serius seperti mencontek dan meniru tulisan orang lain alias plagiarisme. Jadi, sekali lagi, para pelaku plagiarisme kadang bukan anak-anak yang pandir. Mereka terkadang memiliki intelejensia yang tinggi tetapi sayangnya masih memiliki keterampilan menulis yang kurang.

Tantangan dalam Mengajar Menulis

Begitu banyak tantangan yang kita jumpai dalam menulis. Di antaranya yang paling banyak dijumpai ialah kurangnya waktu yang disediakan, kurikulum pengajaran yang terlampau rumit, dan ketiadaan struktur yang jelas dan mudah dipahami.

Tantangan akan makin besar jika kita membicarakan soal pengajaran keterampilan menulis dalam bahasa asing. Misalnya bahasa Inggris. Hal ini karena kebanyakan anak didik dibesarkan dalam suatu lingkungan yang secara alami kurang mendukung. Keluarga dan teman-teman mereka mayoritas bukan penutur asli (native speaker) dari bahasa yang mereka pakai untuk menulis. Jadi, dengan kata lain, tantangannya lebih berlapis-lapis dari mereka yang belajar menulis dalam bahasa ibu (first language). Akhirnya, beban itu harus disangga oleh guru-guru bahasa sendirian. Dan ini konyol karena tentu tidak bisa memasrahkan perkembangan penguasaan berbahasa asing pada satu pihak saja. Diperlukan sinergi yang solid untuk bisa memaksimalkan proses belajar anak, yang justru lebih banyak di luar ruangan kelas.

Santai Itu Penting

Saat mengajarkan menulis, ada baiknya pengajar atau guru menghindari melabelinya sebagai sebuah kelas atau kursus atau kuliah. Mengapa? Karena menulis pada hakikatnya sudah terintegrasi dalam berbagai bidang atau disiplin ilmu lainnya.

Pentingnya Instruksi Menulis yang Baik

Instruksi menulis yang baik terdiri dari bahasa yang universal dan konsisten. Dengan kata lain, bahasa yang digunakan dalam pengajaran menulis idealnya memakai istilah-istilah yang disepakati bersama dan seragam sehingga siapa saja yang mengajarkan dan belajar akan bisa berkomunikasi dengan efisien. Dengan memakai bahasa yan sama dalam mengajarkan menulis, diharapkan juga pesan yang tersampaikan ke anak didik menjadi lebih konsisten.

Elemen-elemen Instruksi Menulis yang Baik

Terdapat lima elemen penting dalam menyusun instruksi menulis yang baik. Elemen-elemen tersebut ialah:

  1. Ide
  2. Pengaturan/ organisasi
  3. Suara
  4. Pilihan kata/ diksi
  5. Kelancaran kalimat
  6. Konvensi

Elemen pertama, ide, berkaitan dengan topik dan pemahaman mendetail soal aksi, pikiran, dan perasaan. Secara keeluruhan, ide ialah pesan yang kita hendak sampaikan melalui tulisan kita pada orang lain. Singkatnya, ide ialah gagasan menarik yang bisa disuguhkan ke audiens.

Elemen kedua yakni organisasi atau pengaturan. Untuk itu perlu dipakai kata-kata yang menunjukkan urutan, sehingga jelas mana yang awal dan akhir. Pemakaian elemen kedua akan menunjukkan progresi yang jelas dalam menyusun ide tulisan. Tanpa progresi, tulisan akan terkesan berputar-putar tidak tentu arah. Karenanya, model penulisan tiga babak yang mencakup pembuka, isi dan penutup ialah model yang universal dan wajib diingat dan diamalkan dalam menulis.

Suara (voice) ialah mengenai cara untuk menggunakan tujuan. Di sinilah terletak sikap, opini, energi dan kepribadian penulis yang menjadi inti yang bisa menarik pembaca. Suara inilah yang unik dan bisa membuat ide yang terkesan biasa dan membosankan terkesan lebih menarik, hangat, menggairahkan, bahkan seru untuk diikuti.

Diksi atau pilihan kata ialah bagaimana memilih kata-kata dengan jeli dan tepat untuk menyampaikan kisah yang ingin Anda sampaikan. Diksi biasanya menggunakan kata-kata yang deskriptif sehingga pembaca seolah bisa menyaksikan sesuatu yang digambarkan penulis dalam kata-katanya. Diksi yang sesuai akan mengemas ide sedemikian rupa sehingga lebih mengena ke hati pembaca.

Kelancaran kalimat ialah bagaimana seorang penulis menggunakan kalimat dalam panjang, urutan dan struktur yang bervariasi tetapi tetap menunjukkan kemulusan dalam narasinya. Di dalamnya juga tercakup naik turunnya nada ujaran. Karenanya, penulis yang baik mesti bisa merangkai kalimat dalam berbagai jenis sesuai kebutuhan dengan tujuan akhir untuk menarik minat pembaca meneruskan sampai akhir tulisan.

Konvensi meliputi aturan-aturan yang menentukan apakah sebuah tulisan bisa dikatakan baik atau tidak. Aturan-aturan ini adalah kesepakatan bersama yang dihasilkan oleh para petinggi, akademisi, atau kalangan tertentu yang dianggap sebagai otoritas, panutan, pengalaman atau kekuasaan yang lebih. Dan karena ini bersifat subjektif dan bervariasi, perbincangan dan perdebatan soal konvensi seakan tiada habisnya dari waktu ke waktu. Maka jangan terlalu menghabiskan energi di aspek ini saja dalam mengajarkan menulis. Sejumlah konvensi yang kita pakai dalam proses menulis misalnya kapitalisasi, ejaan, pemakaian tanda baca, tata bahasa, dan sebagainya.

Jenis Teks

Jenis teks dalam menulis mencakup Naratif, Informatif/ Penjelasan, dan Opini atau Argumentasi. Naratif ialah suatu kisah yang ditulis dengan berdasarkan perspektif atau sudut pandang tertentu. Seringkali isinya ialah pengalaman pribadi.

Sementara itu, Informatif/ Penjelasan memiliki banyak bentuk. Jenis ini menggunakan serangkaian fakta yang dipakai untuk menerangkan dan menyampaikan sebuah pesan yang lebih besar. Jenis teks semacam ini bisa dijumpai dalam makalah akademik, paper penelitian, buku manual.

Jenis Opini atau Argumentasi menunjukkan perasaan atau pemikiran penulis mengenai suatu isu atau tema. Dalam penulis opini, seorang penulis mesti bersikap jelas dan tegas soal pendirian dan sikapnya terhadap isu yang ia pilih. Tulisan semacam ini bisa membujuk lebih banyak orang untuk mengadopsi cara berpikir, pendapat atau sikap penulis secara lebih luas.

Proses Menulis

Dalam proses menulis, kita perlu mengingat dan menerapkan keenam elemen menulis yang vital tersebut. Adapun proses menulis mencakup lima fase utama:

  1. Pramenulis
  2. Menyusun draft
  3. Revisi
  4. Penyuntingan
  5. Penerbitan

Menulis bukanlah proses instan. Diperlukan proses yang panjangnya bervariasi tergantung kerumitan, jenis topik yang dibahas, tujuan penulisan dan banyak hal lainnya.

Model Workshop

Model workshop ini dimaksudkan untuk mendukung proses menulis. Model workshop yang dimaksud di sini mencakup:

  1. Pelajaran singkat harian
  2. Modeling/ meniru
  3. Pilihan
  4. Menulis mandiri
  5. Berbagi/ konferensi

Dalam pembelajaran menulis dengan menggunakan bahasa asing, murid akan didorong untuk menggunakan bahasa asing sebanyak mungkin dengan temannya selama menulis. Misalnya, sebelum menulis atau selama proses menulis sebuah tulisan berbahasa Inggris, siswa didorong untuk juga berdiskusi secara lisan dalam bahasa tersebut. Dengan demikian, mereka akan lebih siap menulis daripada jika diskusi dilakukan dalam bahasa ibu. Penitng juga bagi murid untuk diberikan waktu bekerja sendiri dan bekerja bersama murid lain. Dalam grup kecil, mereka bisa bekerja sama untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan masing-masing.

Komprehensif

Perlu dipahami bahwa instruksi menulis yang baik haruslah bersifat komprehensif. Untuk bisa komprehensif, perlu ditekankan jenis teks yang penting dalam meraih keberhasilan akademik di bangku kuliah dan karier.

Mengajarkan menulis dan membaca secara terpisah juga membuat kemampuan menulis sulit berkembang. Keduanya mesti disatukan secara beriringan dalam proses pembelajaran menulis. Cara untuk mengajarkan kemampuan membaca dan menulis sekaligus dalam satu kegiatan misalnya dengan menyuruh murid untuk membaca beragam teks kemudian menganalisis secara cermat dan kemudian menyusun tanggapan dalam tulisan. (bersambung)

Disarikan dari paparan Andy Shafran (Vice President ) dalam “How to Teach Writing to Young EFL Students from Beginners to Advanced Levels” dari International Businesses of Highlights of Zaner Bloser (Educational Publisher)

Penulis Kelas Bulu

“Tidak bisa tidak. Kamu harus belajar tampil lebih tua,” tegas orang yang bernama Raksasa itu pada saya karena dalam pengamatannya rupa ini tertinggal cukup jauh dari usia kalender saya. Ia kerap menggunakan nama itu untuk membuka percakapan. “Tahukah Anda berat saya dulu 110 kilogram?” begitu kalimat andalannya melenturkan lidah di pertemuan-pertemuan dengan budak-budak korporat yang bermasalah dengan bobot tubuh. Ia berani jamin langsung detik itu pembicaraan mengalir secara alami karena meski namanya begitu, perawakannya sekarang jauh dari gemuk. Tiada bekas-bekas lemak tampak di badannya yang sekarang saya taksir cuma 60-70 kilogram itu. Saya akui ia memang pesilat lidah ulung yang mampu mengemas topik sesepele apapun menjadi menarik.

Kembali pada sarannya tadi yang begitu blak-blakan, saya bereaksi datar saja. Mungkin alis saya sedikit naik karena dahi mengernyit. Bukannya saya tidak tahu. Saya juga diam-diam berpikir sama. Banyak orang lain juga, saya sangat yakin. Tetapi baru orang ini yang berkata terang-terangan.

Lalu ia menceritakan si Marto yang sama-sama sekecil saya. Ia menyarankan Marto yang dulu masih kurus itu untuk memakai jas berlapis busa di kedua bahu, kemeja lengan panjang, dan kaos dalam dalam waktu yang sama. Cara berpakaian yang hangat dan nyaman di gedung berpendingin udara terpusat yang suhunya mirip kutub tetapi neraka buat yang mesti kerja di ruangan bertemperatur semi tropis yang mesin AC-nya kadang bocor dan dikendalikan manual dengan remote control. Pokoknya ia haruskan Marto terkesan mengembang, lebih besar dari sebetulnya. Kalau Marto adonan kue, pria itu juga mungkin akan menggelonggong mulut Marto dengan berliter-liter baking soda. Padahal tempo hari bertemu Marto, saya pikir anak itu lumayan berisi. Jadi apa rahasianya jadi begitu? Saya jadi iri. Atau apakah ia juga diberinya resep menaikkan bobot secepat-cepatnya? Saya makin liar berspekulasi.

Penampilan penting, sangat penting, tandas Raksasa lagi di depan saya. “Nanti apa kata orang kalau saya bilang kamu yang akan nulis? ‘Apa pak? Anak sekecil ini yang nanti nulis? Bisa? Yakin?!!”

Bibir saya bergetar. Kebingungan mau tersenyum kecut atau tertawa. Saya tidak percaya penulis juga mesti memoles citra fisiknya seperti ini. Saya bertanya dalam hati,”Apakah saya keliru masuk ke ruangan ini? Mungkin ini ruang untuk menyaring para model catwalk, bukan penulis.” Tetapi lain daripada dia yang memuntahkan kalimat demi kalimat dengan royalnya, saya telan mentah-mentah gumaman tadi seiring dengan ludah. Saya goyang-goyangkan sepatu, mencoba melepaskan kebingungan tanpa terlihat hendak gila. Padahal sebenarnya saya hendak berkata,”Semau Anda sajalah…”

“Baiklah, Akhlis,” hibur saya pada anak kecil bernama ego yang sedang terisak-isak di suatu sudut di dalam batok kepala,”Anggap saja ini audisi akting dalam sebuah produksi film. Kau harus memerankan penulis yang tinggi besar. Itu lho seperti Ewan McGregor di film ‘Ghost Writer’.”

Internet, Penulis dan Jurnalis

14708085_10209054307732232_3047029084795165360_o
Empat pembicara Eko Endarmoko, Arif Zulkifli, Mardiyah Chamim dan Leila S. Chudori (dari kiri ke kanan) tampil di panggung Festival Menulis Sabtu (22/10/2016) di Gedung Tempo, Palmerah Barat, Jakarta. (foto: dok pribadi)

Bagaimana revolusi internet membantu para penulis dan jurnalis?

Internet kerap dituding menjadi biang keladi kemunduran dunia kepenulisan. Saya paham alasan di balik caci maki itu karena pengarang sekelas J. K. Rowling saja harus rela karyanya diunduh gratis di forum-forum dunia maya beberapa saat setelah peluncuran bukunya. Dan untuk memahami kemunduran dunia kepenulisan global, kita baru-baru ini dihentak dengan kabar bahwa seorang penyanyi dan penulis lagu gaek saja bisa diangkat menjadi penerima nobel sastra tahun ini. Sungguh menohok!

Kenapa ini bisa terjadi? Karena regenerasi yang lambat mungkin. Itu teori saya. Dan internet memang ada andil di sini. Pasalnya, internet membuai muda-mudi untuk ‘bermasturbasi’ secara intelektual dengan gaya penyampaian pikiran dan emosi yang cekak dan lebih cepat direspon. Kenapa harus pusing membuat novel ratusan halaman dan belum tentu juga disukai orang dan menghasilkan uang kalau menulis status atau cuitan atau cuap-cuap di video saja sudah bisa memuaskan hasrat berbagi dan menghasilkan ketenaran dan penghasilan?

Tapi jurnalis sekaligus novelis Leila S. Chudori menampik tuduhan bahwa internet momok bagi penulis. Justru jika kita mencermati, internet membantu penulis dalam banyak hal. Salah satunya dalam hal memasarkan buku kepada peminatnya. “Dunia digital sangat membantu dalam sisi marketing,” tandas novelis cum jurnalis tersebut.

Sebelum era internet, setelah peluncuran buku, ya sudah, tidak ada respon atau perbincangan lagi dari masyarakat pembaca. “Belum ada masukan langsung dari pembaca,” kenang Leila soal sensasi meluncurkan buku di zaman mudanya. Buku-buku Leila yang diterbitkan di era prainternet biasanya lama mendapatkan masukan dan tanggapan.

Ia mengakui pers juga turut menyebarkan kabar peluncuran bukunya. Tapi Leila menggarisbawahi bahwa dirinya sebagai pengarang tidak bisa memastikan bahwa karyanya diterima baik di masyarakat pembaca atau tidak.

Di zaman digital ini, perbincangan tentang buku bahkan sudah mulai sebelum buku yang dimaksud dijual secara bebas. “Keterlibatan pembaca mulai ada di sini, bahkan hingga urusan memilih sampul (cover) untuk buku yang akan diterbitkan,” tuturnya tadi siang (22/10) di ajang “Festival Menulis” yang digelar oleh Tempo Institute, Jakarta.

Leila menyoroti fenomena menjamurnya klub buku di dunia maya seperti Goodreads.com. “Dulu klub pecinta buku itu eksklusif, seperti pertemuan arisan. Tapi sekarang klub buku bermunculan di internet, dan semua orang kalau mau bisa masuk dan ikut membahas buku,” terang perempuan yang menjadi salah satu nara sumber di festival tersebut, selain pimpinan redaksi Tempo Arif Zulkifli, direktur Tempo Institute Mardiyah Chamim, dan penulis thesaurus bahasa Indonesia Eko Endarmoko.

Saya sepakat saat Leila mengatakan pangsa pasar buku fisik di tanah air belum sepenuhnya terlibas oleh produk e-book atau buku elektronik. Kenapa? Karena pembaca Indonesia umumnya masih menyukai buku yang bentuknya bisa dipegang. Kalau menurut saya, buku fisik lebih sesuai untuk Indonesia karena di negeri yang masih rendah minat bacanya itu, buku fisik memudahkan kita untuk menyebarkannya ke mana saja di seluruh pelosok negeri ini tak peduli ada sambungan internet atau tidak, ada toko gawai atau tidak di sana. Tapi e-book? Lain sama sekali. Konsumsi e-book tergantung pasokan listrik, kestabilan koneksi internet, ketersediaan gawai yang sesuai dan banyak faktor lain.

Sementara itu, pengaruh revolusi internet pada dunia pers cetak menurut Arif Zulkifli sudah sangat terasa. Buktinya Tempo sudah menempuh strategi khusus dalam memasarkan produk digital mereka. Ia menjelaskan bahwa saat majalah Tempo versi cetak dijual mulai hari Senin, majalah yang sama dalam versi digital sudah bisa didapatkan hari Sabtu pekan sebelumnya. “Saya sering menggoda pembaca di Twitter pada hari Sabtu, karena hanya mereka yang membaca versi digital yang bisa ikut berdiskusi,” ujar Arif menyingkap taktiknya agar pembaca Tempo mau bermigrasi ke layanan berlangganan digital.

Arif yakin bahwa pertumbuhan pelanggan cetak akan melandai dan pertumbuhan pelanggan digital akan mendaki terus hingga keduanya akan bertemu di satu titik. “Di titik itu, saya kira kita bisa menjual versi cetak Tempo 500 ribu per eksemplar. Kenapa? Karena kita bisa buat eksklusif sehingga hanya orang kaya yang hanya bisa membeli majalah Tempo cetak,” terang Arif. Sementara itu, para pembaca proletar seperti saya dan Anda akan didesak untuk mengunduh saja versi digitalnya karena harganya jauh lebih murah. Arif mengatakan diskonnya bisa sampai 50 persen bahkan. Penjelasannya memang masuk akal karena memproduksi majalah cetak sangat boros biaya. Ia menjelaskan kewajiban membayar agen, biaya pembelian kertas, tinta dan sebagainya. “Digital menolong kita dalam banyak hal,” kata Arif.

Arif juga yakin bahwa Tempo bisa bertahan di era transisi cetak menuju digital karena memiliki keunggulan konten yang khas: long form. Produk jurnalistik long form yang makin langka itu bisa disajikan dalam bentuk digital juga, tegas pria yang tidak setuju jika dikatakan konten media digital itu dangkal. Dalam hal ini saya sepakat karena masalah cetak atau digital cuma perkara medium atau alat saja. Tidak usah terlalu dipusingkan perbedaannya sebab konten apapun jika memang menarik akan selalu didatangi pembaca. “Orang sudah mulai kembali ke long form,” Arif berujar. Cukup masuk akal karena siapa yang tidak muak dengan berita-berita penuh tipu daya di dunia maya dari berbagai situs berita ‘abu-abu’ yang menjadi corong kepentingan segerombol cecunguk yang haus kekuasaan dan kekayaan.

Keunggulan itulah yang tecermin dalam semboyan Tempo: “Story behind news” (cerita di balik berita). Itu karena (majalah) Tempo sadar mereka tidak bisa terbit saban hari atau memutakhirkan perkembangan sebuah kasus segesit media daring dan televisi. “Kami sadar kami akan kalah dalam hal kecepatan jadi kami fokus ke cerita-cerita di balik berita-berita yang Anda semua konsumsi di dot com dan televisi.”

Perihal revolusi internet, Mardiyah menambahkan bahwa dari sudut edukasi kepenulisan, tersedianya ruang berkreasi yang tanpa batas di internet menjadi sebuah peluang besar yang tidak bisa dilewatkan. Ia menyinggung soal maraknya kabar bohong (hoax) di dunia maya. Di sinilah masyarakat makin membutuhkan orang-orang yang memiliki keterampilan menulis yang memadai untuk mengemas gagasan dan pemikiran secara runtut dan logis serta kritis — tidak sembrono apalagi menyajikan kebohongan atau menyembunyikan fakta yang dirasa tidak menguntungkan — agar bisa dinikmati khalayak yang lebih luas.

Aan Mansyur Wants to Go to New York

screen-shot-2016-09-22-at-11-46-31An emerging young Indonesian poet writes poems about New York – without even visiting the city. And now he reaps success out of it.

Aan Mansyur never thought of being so famous like nowadays. His poems collection book “Tidak Ada New York Hari Ini” (There Is No New York Today) is now sold out and sought after almost anywhere. A friend of mine had to contact me only to ask me to get her some for herself and another friend. “Because I couldn’t find the book at any bookstores nearby. Sold out, they said,” she explained.

Still working as a librarian at Katakerja Creative Room, Makassar, Mansyur seems to be one of the most productive and promising young poets in the archipelago. Prior to “Tidak Ada New York Hari Ini”, he already published “Aku Hendak Pindah Rumah” (I Want to Move) (2008), “Tokoh-tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita” (The Figures who Resist Us in a Story) (2012), “Sudahkah Kau Memeluk Dirimu Hari Ini?” (Have You Given Yourself a Hug Today?) (2012), “Kukila” (2012), “Kepalaku: Kantor Paling Sibuk di Dunia” (My Head: The Busiest Office on Earth) (2014), “Melihat Api Bekerja” (Witnessing Flame Working) (2015), “Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi “(The Last Crying Man on Earth) (2015).

Mansyur just recently rose to stardom when one of his poems was recited by Rangga, a dashing male protagonist of “Ada Apa dengan Cinta 2” (AADC 2)  embodied by Nicholas Saputra, one of Indonesian heart-throbs. In an instant, his poems are in demand like they had never been before. Moviegoers now know him as a fledgling and talented poet behind beautiful poems in AADC 2.

The young Indonesian poet had worked so hard to be at the point he is now at. Leaving an Islamic boarding school (pondok pesantren) at such a young age, Mansyur realized he has often been rescued by poetry in the middle of life crises. With poetry, he has managed to save himself because he felt like he had to communicate and convey something.

Mansyur fell in love for the first time with poems during his high school days. He left the boarding school and moved to another school with no one to befriend. He sought refuge to a library where he discovered “Simponi Dua”, a poetry book by Subagyo Sastrowardoyo.

As a sickly and thin young boy back then, Mansyur felt forlorn and had no friends. The lad was so pessimistic and lonely he got to the point where he felt lucky to live by and survive another day. He thought he would just die soon of sickness.

Upon reading Subagyo’s poems, he was awestruck. He suddenly realized he had so much to talk about this life. And poetry was just the right medium as he was not a talkative person in the first place. “It was so cool to see people can write short like this but it can contain many things to imagine.” Mansyur also find some literary books belonging to his grand father but there were not many poetry books in the collection.

But do not be fooled! Mansyur confessed he is no avid reader of books. As he put it, he became a librarian and poet because he was driven by his overflowing curiosity of life. He chose the job as a librarian to compel him to read. And after reading he would know more and thus he can later answer all the questions in hid own head.

From his acquaintanceship with Subagyo Sastrowardoyo’s literary works, Mansyur worked very hard during his teenage years to emulate the idol. “I failed because it turned out he was more a philosopher than a poet. He wrote about philosophy in his poems and I was clueless about philosophy at the time,” he argued. And after he worked on his poems with such energy to imitate Subagyo, a friend commented Mansyur’s poems read like ones of Sapardi Dojoko Damono, another renowned Indonesian poet. At this point, it had dawned on him that he could not be another Subagyo or another senior poet. What he could do was read their poems and identify which parts of them that he identified as piece of himself and leave other parts that simply do not fit him as a person and poet.

Raised as an orphan, Mansyur took a great deal of inspiration from his mother and grand mother. That explained why he admitted he learned a lot from female poets.

Three of his poetry books are now published in Malaysia and sell like peanuts, he claimed. This makes Mansyur believe he can go international and his works can be enjoyed by greater audience outside his home country without his works being translated into English.

At his book launch, Mansyur who was born in Bone, South Sulawesi got an offer from Lesmana in April 2015. And Mansyur was more than happy to lend a hand. He agreed on contributing his poems to the movie. He even acknowledged the movie has  contributed a lot in shaping the contemporary Indonesia’s poetry landscape. AADC was such a hit in the early 2000s not only in Indonesia but also in the neighboring countries such as Malaysia and Brunei. This years Lesmana launched the sequel and it received positive reviews and intense and widely shared enthusaism among the moviegoers.

The movie has once again brought poems into the mainstream trends. Mansyur observed it helped encourage more young readers in indonesia to read more Indonesia poetry. Suddenly everyone reads poems, and these people are not those old generation in their 60s or 70s who were born in the brighter age of Indonesian poetry.  Young readers are now thriving once again thanks to Rangga, who was depicted as a nerdy, yet tall and handsome bookworm lurking at a school library. Now reading poems seems to be a normal and cool pastime for students of all ages.

But how did the young poet get all the inspiration? How was his creative process actually taking place? First thing first, Mansyur refused to write poems only to be read by other poets. Mansyur denied he writes poems for all his female fans warmly interacting with him via his Twitter account, @hurufkecil. He admitted that the one and only person he wants to read all his poems before anyone else does is his mother, who lives far away from where he lives now. He only meets his mother once in 4-5 years. And this is why he treats all his poetry readers just like his mother. A nearness between two hearts, rather than two physical beings.

It was weird to see a poet with the most earnest and serious, long face like Mansyur’s talking out loud at a stage at Asean Literary Festival 2016 where anyone can see him exposing himself and his private details. But Mansyur admitted he is not a verbal person to his mother. “She lives in Balikpapan, while I’m in Makassar. If you find my language in my poems easy to digest, that is because my mother. She is just a graduate of junior high school,” Mansyur elaborated. His mother is not a type of demanding parent who keeps calling to check up on his son. His mother misses him, for example, when he does not write her any poem after two weeks. “I either send my poems to her or I  recite my latest poems to her on the phone for quite a long time,” he added.

To produce an ample amount of poems for AADC 2, Mansyur worked with a photographer whom he confessed he “never had met even once before”. After writing poems, the poet was to send them to the photographer who lives in New York. The Big Apple was chosen as the background because AADC 2 tells Rangga has moved to the city after 14 years of leaving Indonesia, a country where his high school crush Cinta (Dian Sastro) resides with all her friends. Though he has never visited New York so far, Mansyur was asked by the photographer,”How long have you been in New York?” That indicated the depth of his understanding of the city after doing profound research alone. From the research, he found out what poetry book titles one can normally find at book shelves at a typical bookstore in New York. One of the books inspired him to visit bookstores in New York and get him the book he mentioned but has not read just yet. He likes this poem most although it is not recited by Rangga in the movie.

In AADC 2, Rangga is portrayed as a restless yet established young man in his mature age. He tries to console himself by visiting a small bookstore in the neighborhood and get himself a poetry book to read to kill the time and  the soul-crushing loneliness he has endured.

As a young poet, Mansyur defines himself as someone who is not others. “I have to know other poets’ originality before getting to know mine. I identify myself by getting to know poets other than myself and reading and modifying their poetry until I arrived to a conclusion that every poet has her own strategy, views on languages, and ways of thinking. I realize we sometimes do have similarities but in some points we have to part ways somehow,” Mansyur remarked.

He has seen the rising significance of research as a poet these days. Armed with great details from deep research, he is convinced any poet can generate masterpieces. He strongly believes in the definition of writing poems as an intellectual undertaking. And he does research as he is fueled by unwavering curiosity because to him, writing poetry is a not a means of telling readers what he already knows. Rather, it is a means of telling them what he knows nothing about. Mansyur turns poetry into a vehicle that leads him to the answers to any questions that he thinks might threaten his life.

Mansyur is accused of taking advantage of the romantically anxious Indonesian youths because he selects love as the grand theme of his poets. But he thinks there is nothing wrong with using love as the the theme. He jokingly argued that by picking such theme helps him to state his rebel against the Bugis people way of decorating their houses. “They tend to tastelessly decorate their houses only to impress people so others know how wealthy they are. I want to protest such behavior,” he added. And as a poet, he does so by picking a simple and modest theme in his poetry that everyone can connect to relatively easily, i.e. love. “But I know not many people voluntarily read poems for its social criticism so I put more social criticism inside the deeper layers of my simple poems.”

Through his poems, he also provides enough space for readers to interpret and create their own meanings if they feel they want to. He likened his poem to a house. “If they want to gossip, I provide a living room. If people inside it want to cook, I provide a clean kitchen. If they want to sleep, I provide them a spacious bedroom.” That is how the young poet sees his poetry.

Despite his recent success, Mansyur has no intention to be a poet by profession that helps him make more money for a living. To be a poet, he is willing to do other jobs. “There is no money in poetry…,” Mansyur softly added.

Dubbed as one of literary celebrities on Twitter, Mansyur had a cold attitude. It is just another medium and there should be no overglorification of Twitter. But he agreed on the fact that Twitter really helps him reach wider audience for his poetry. And he feels that it is a good way to reach readers who in turn may purchase his books. As a poetry marketing tool, Twitter proves to be great and efficient. So he fails to understand why some poets think being on social media is dirty, cheap and inappropriate. “Poets are people of paradox. They get angry when only very few of poetry books are sold but when some poetry books sell really well, they claim those books are of very low quality.” He often deals with accusation of making use of his virtual popularity as a means of marketing his books. “They credit my best selling books for my high number of followers. But why does it seem so wrong? Don’t we just want our books to sell well?” he protested while saying he does not see his followers as consumers. Rather, he sees them as audience and Twitter enables the poet and audience interact in real time, in a much easier way. And this is a blessing.

Mansyur has an intention why he deliberately collaborates and cooperates with artists from different fields. He refuses to only cooperate with fellow poets and chooses to work together with movie makers. This way he tries to show his belief that poetry has a unifying power and he puts poetry in trial to prove it can withstand, survive and even flourish in a totally different ‘ecosystem’. With poetry, Mansyur can work together with anyone regardless of their attributes. And he wants to convey this message to everyone.

He also has a very great concern in the issue of Java-centered Indonesian literature and poetry. He has been observing the tremendous scale of Javanese influence on the the Indonesian language and literature curriculum taught in schools throughout the country, including Sulawesi. He agrees he cannot singlehandedly change the fact but he rebels in his own way through social media where everyone and every entity is equal.

Menyusuri Intisari Sastra Indonesia Abad ke-20

Screen Shot 2016-05-11 at 13.15.38Tanyakan pada generasi muda zaman sekarang mengenai asal mula sastra Indonesia dan bersiaplah untuk menganga karena sedikitnya atau bahkan tiadanya pengetahuan mereka mengenai hal tersebut. Keprihatinan pun menyeruak karena pengetahuan sastra sudah selayaknya menjadi bekal anak-anak muda terutama yang menekuni sastra untuk lebih mengenal bangsa ini dan jati dirinya. Terlebih lagi, sastra Indonesia abad ke-20 adalah masa perkecambahan yang amat penting dan berfungsi sebagai fondasi bagi sastra Indonesia kontemporer abad ke-21.

Untuk menjawab tantangan adanya jurang pengetahuan tentang sastra Indonesia di abad kemarin itu, Yayasan Lontar baru-baru ini meluncurkan proyek ambisiusnya yang kemudian berhasil menghasilkan empat buku super tebal:

  • John H. McGlynn, Dorothea Rosa Herliany, Deborah Cole, ed., Antologi Puisi Indonesia Pilihan Yayasan Lontar (Jakarta: Yayasan Lontar, 2016), +/- 850halaman.
  • The Lontar Anthology of Indonesian Poetry (Jakarta: Yayasan Lontar, 2016), +/- 550 halaman.
  • John H. McGlynn, Zen Hae, Andy Fuller, ed., Antologi Cerpen Indonesia Pilihan Yayasan Lontar, Jilid 1 dan Jilid 2 (Jakarta: Yayasan Lontar, 2016), +/- 625 halaman (Jilid 1), +/- 725 halaman (Jilid 2).
  • The Lontar Anthology of Indonesian Short Stories (Jakarta: Yayasan Lontar, 2016), +/- 550 halaman (Jilid 1), +/- 650 halaman (Jilid 2).

Pada dasarnya hanya ada dua karya tetapi dua buku lainnya yang berbahasa Inggris ialah versi terjemahan dari dua buku lainnya yang berbahasa Indonesia. Namun, tetap saja penerjemahan juga bukan pekerjaan yang sepele.

Dua jilid kumpulan cerpen ini memuat 109 fiksi pendek dari 109 pengarang yang pernah mengirimkan karya terbaik mereka ke media-media cetak masa itu yang diasuh oleh H. B. Jassin. Fokus penyeleksian yang hanya di koleksi Jassin ini sempat menuai kritik dari sastrawan Budi Darma yang menyarankan idealnya koleksi ini tidak cuma diambil dari karya-karya yang dikirimkan ke media ibukota asuhan Jassin tetapi juga mencari ke daetah-daerah karena menurut Budi karya-karya yang tak sampai ke media Jakarta juga bisa sama berkualitasnya. Hanya saja memang sang pengarangnya karena satu atau lain alasan tidak mengirimkan ke media cetak ibukota yang dipandang sebagai kiblat sastra Indonesia.

Sastra Indonesia yang bisa dinikmati dalam aksara Latin bermula muncul setelah sekelompok pemuda Indonesia yang beruntung mendapatkan pendidikan kaum penjajah Belanda menelurkan karya-karya mereka. Hingga menjelang akhir abad ke-19, tulisan fiksi pendek mereka ini dikemas dalam bahasa Melayu Pasar. Sebutan ini terbilang peyoratif menurut Zen Hai yang terlibat aktif dalam proyek ini sebagai kurator karya.

Beberapa dasawarsa pertama penulisan fiksi pendek berbahasa Melayu justru didominasi oleh sastrawan-sastrawan Cina Peranakan. Kemudian di awal abad ke-20 surat kabar beraliran nasionalis pergerakan seperti Sinar Hindia mulai memberikan ruang bagi cerita bersambung yang dipenggal menjadi 4-5 kali penerbitan. Kaum nasionalis kemudian makin aktif dalam upaya penerbitan pers dan penulisan fiksi pendek berbahasa Melayu.

Balai Pustaka kemudian berdiri sebagai reaksi dari maraknya bacaan liar di masyarakat saat itu yang didominasi karya sastra kaum Cina Peranakan dan Nasionalis abad ke-20. Balai Pustaka tidak mengizinkan adanya kritik pada pemerintah kolonial Belanda dan menyingkirkan segala macam bentuk unsur amoral dalam karya fiksi yang diedarkannya.

Dari kebangkitan Balai Pustaka itu, lalu kita mengendal kemunculan majalah sastra Panji Pustaka yang merupakan penerbitan pertama pemerintah kolonial Belanda untuk pembaca Melayu yang memberi peluang bagi penulisan fiksi pendek berbahasa Melayu tahun 1920-an. Muncullah beberapa sosok dari Sumatra yang menonjol di sini, misalnya Syuman H. S, Wachid Hasyim, dan sebagainya.

Salah satu ciri penting dari sastra Indonesia era pra revolusi 1945 ialah penggunaan bahasa Melayu. Bahasa Melayu ini sendiri sebetulnya terbagi dalam dua jenis: Melayu Kasar dan Melayu Riau (Melayu Balai Pustaka). Bahasa Melayu Riau ini dianggap berbahasa lebih baik daripada mereka yang berada di Jawa dan Sulawesi yang dipandang berbahasa Melayu lebih kasar. Periode inilah yang kemudian dimasukkan dalam kategori “Masa Permulaan hingga 1943” dalam buku Antologi Cerpen Indonesia Pilihan Yayasan Lontar. Masa ini berakhir begitu Jepang menjejakkan kaki di bumi nusantara.

Kemudian masa berikutnya ialah saat masa kemerdekaan atau masa revolusi hingga tahun 1965. Di jilid kedua termuat karya-karya yang dihasilkan selama masa panjang yakni masa Orde Baru dan seterusnya yang menurut Zen Hai merupakan masa paling kompleks dalam pertumbuhan sastra Indonesia sampai sekarang.

Zen Hae menceritakan bahwa dalam tahap awal proyek besar itu tersusun sedaftar pengarang Indonesia yang jumlahnya menembus angka 200 orang. “Akan tetapi karena pertimbangan ekonomi dan agar proyek ini bisa terus berjalan, setelah negosiasi dengan John McGlynn dan Andy Fuller maka kami sepakat menguranginya,” tegasnya dalam sambutan di depan hadirin acara diskusi buku dalam rangka peluncuran buku-buku ini.

Lebih detail, berikut ini ialah daftar pengarang yang karyanya dimasukkan dalam “Lontar Anthology of Indonesian Short Stories (LAISS)“:

  1. A’xandre Leo
  2. Bastari Asnin
  3. Kohar Ibrahim
  4. Asneli Lutan
  5. Jass
  6. Soelarto
  7. Bokor Hutasuhut
  8. Bur Rasuanto
  9. Chairul Harun
  10. Djamil Suherman
  11. Fadli Rasyid
  12. Gajus Siagian
  13. Jajak MD
  14. Julius R. Siyaranamual
  15. Kho Ping Hoo
  16. Kipanjikusmin
  17. M. Fudoli Zaini
  18. Marga T.
  19. Maria Amin
  20. Martin Aleida
  21. Matu Mona
  22. Mohammad Diponegoro
  23. Muhammad Ali
  24. Muhammad Kasim
  25. Nasjah Djamin
  26. Njoo Cheong Seng
  27. Nursjamsu Nasution
  28. Putu Arya Tirtawirya
  29. Rainy MP Hutabarat
  30. Ras Siregar
  31. Ray Fernandes
  32. Rusman Sutiasumarga
  33. S. M. Ardan
  34. S. N. Ratmana
  35. Satyagraha Hoerip
  36. Sitor Situmorang
  37. Sobron Aidit
  38. Soemantri (Synthema)
  39. Soewardi Idris
  40. Subagio Sastrowardoyo
  41. Titie Said
  42. Titis Basino
  43. Wildan Yatim
  44. Yusakh Ananda

 

Dan inilah daftar nama penyair yang karya puisinya dimuat di “Lontar Anthology of Indonesian Poetry (LAIP)” KOREKSI: Berikut ialah daftar nama penyair yang belum ditemukan kontak ahli waris atau belum mendapat izin dari pemegang hak ciptanya. Tulisan publikasi ini diharapkan bisa membantu menemukan kontak atau mendapatkan izin :

  1. Abrar Yusra
  2. Amal Hamzah
  3. Anas Ma’ruf
  4. Apip Mustopa
  5. Arifin C Noer
  6. Asrul Sani
  7. Basuki Gunawan
  8. Basyral Hamidy Harahap
  9. Bibsy Soenharjo
  10. Budiman S. Hartoyo
  11. Chairil Anwar
  12. D. W. Sijaranamual
  13. Dami N. Toda
  14. Danmeras Syamsudin
  15. Djawastin Hasugian
  16. Dodong Jiwapraja
  17. Dullah
  18. Emha Ainun Nadjib
  19. Fridolin Ukur
  20. H. D. Mangemba
  21. H. Munawar Kalahan
  22. Hamid Jabbar
  23. Hamidah
  24. Harijadi S. Hartowardojo
  25. Hidjaz Yamani
  26. HS Djurtatap
  27. Husain Landitjing
  28. Husni Djamaluddin
  29. Indonesia O’Galelano
  30. Intojo
  31. Isma Sawitri
  32. Jang Engelbert Tatengkeng
  33. Junedi Ichsan
  34. Kasim Mansur
  35. Kriapur
  36. Kuslan Budiman
  37. M. A. Iskandar
  38. M. Balfas
  39. M. Poppy Donggo Hutagalung
  40. M. Saribi Afn
  41. M. Taslim Ali
  42. M.A. Djoehana
  43. M.D. Asien
  44. M.D. Yati
  45. M.I. Nasution
  46. Magusig O Bungai
  47. Mahatmanto
  48. Mansur Samin
  49. Maria Amin
  50. Marius Ramis Dajoh
  51. Maskirbi
  52. Moh. Diponegoro
  53. Mohammad Hatta
  54. Motinggo Boesje
  55. Mozasa
  56. Muh. Rustandi Kartakusuma
  57. Muhammad Ali
  58. Muhammad Yamin
  59. N. Adil
  60. Nursjamsu Nasution
  61. Or. Mandank
  62. P. Sengodjo
  63. Purwa Atmaja
  64. Ridwan Siregar
  65. Rifai Ali
  66. Rita Oetoro
  67. Rivai Apin
  68. Rosni Idham
  69. Rustam Effendi
  70. S. Anantaguna
  71. S. Wakidjan
  72. S. Yudho
  73. Samadi
  74. Samiati Alisjahbana
  75. Sandy Tyas
  76. Sanento Yuliman
  77. Slamet Sukirnanto
  78. SM Ardan
  79. Subagio Satrowardojo
  80. Sugiarta Sriwibawa
  81. Suman HS
  82. Suparwata Wiraatmadja
  83. Supii Wisnakuntjahja
  84. Sutan Takdir Alisjahbana
  85. Sutardji Calzoum Bachri
  86. Syahril AL.
  87. Toto Sudarto Bachtiar
  88. Trisno Sumardjo
  89. Usmar Ismail
  90. Wahyu Prasetya
  91. Waluyati
  92. Yogi (Abdul Rivai)
  93. Yudhistira ANM
  94. Yusuf Sou’yb
  95. Z. Afif
  96. Z. Pangaduan Lubis

Menguntit Budi Darma di Asean Literary Festival 2016

Budi Darma (kanan) bersama narablog ini. (Dokumen pribadi)
Budi Darma (kanan) bersama narablog ini. (Dokumen pribadi)

Mengikuti Budi Darma yang sosoknya baru saja saya ketahui di perhelatan sastra akbar, Asean Literary Festival, tahun ini memberikan keasyikan tersendiri. Jujur saja, saya bagian dari generasi Y atau milenial yang (kelahiran 1980-an) yang tidak tahu lagi dengan para sastrawan Indonesia angkatan lama yang setara dengan kakek-kakek mereka. Jangankan karya-karya mereka yang dianggap berkualitas prima, nama-nama mereka saja masih terdengar asing di telinga. Pemerhati sastra Agus Nur benar. Seperti pernyataannya yang saya kutip di sini, ada banyak pembaca muda milenial yang tak tahu siapa Budi Darma. Dan ini sudah sepatutnya membuat kita semua risau. Kerisauan tersebut menurut Agus bisa diatasi dengan memperbanyak pasokan buku-buku sastrawan Indonesia yang masuk dalam jajaran klasik ke dalam perpustakaan-perpustakaan kita dan juga menerbitkannya ulang untuk dijual pada pembaca luas di toko-toko buku.

Dalam makan siang di Sabtu yang cuacanya memeras keringat itu, saya kembali bertemu Budi dalam satu meja makan. Kami berceloteh tanpa ada gangguan. Memang benar adanya bahwa Budi Darma tak begitu dikenal  kelompok pembaca muda, karena sedari tadi saya tak menemukan kerumunan anak muda di sekitarnya. Sejauh pengamatan saya, kebanyakan yang bersamanya atau menyapanya adalah mereka yang sudah tidak bisa lagi dikatakan remaja atau pemuda. Pembaca-pembaca karya Budi telah memasuki usia matang dalam kehidupan mereka. Dan karena kematangan itu pulalah, antusiasme mereka tidak akan tersalurkan seliar anak-anak muda yang mengantre untuk memburu tandatangan pengarang muda kontemporer nan populer.

Begitu ia katakan tempat kelahirannya ialah Rembang, saya bertanya lokasi tepatnya. “Apakah di sekitar Pecinan situ, pak?”

“Dari alun-alun Lasem menuju ke Pati, ada tiga jalur. Rumah saya dulu yang ada di jalur tengah. Di tengah kota,” terang pria yang masih berambut legam itu.

Saya katakan asal saya tak jauh dari tempat kelahirannya itu, dan Budi terdiam sejenak, seakan menggali ingatan-ingatannya yang sudah terkubur mengenai Kudus dan kembali dengan sebundel memori. Ia berkata ia pernah beranjangsana ke kota kretek tempat saya dilahirkan.

Dari topik itu, percakapan tiba-tiba bergulir ke berbagai tema, dari Kudus Kulon versus Kudus Wetan. Saya katakan dinding-dinding pagar rumah warga keturunan di daerah Budi Darma berasal biasanya setinggi dua kali tinggi normal manusia. Ia mengangguk seketika. Saya pernah berkunjung ke sana menyaksikannya sendiri. “Sama seperti dinding-dinding pagar rumah orang Kudus Kulon juga, pak,” tukas saya.

Budi mencap saya sebagai orang Kudus Kulon, karena rumah orang tua tempat saya dibesarkan ada di sisi barat (“kulon” adalah kata dalam bahasa Jawa untuk merujuk ke “barat”) sungai Gelis. Saya kurang sepakat. Saya tidak pernah merasa demikian sebab setahu saya wilayah Kudus Kulon tidak mencakup rumah saya.

Kemudian kami mengobrol juga soal orang kaya dari Surabaya yang membeli banyak gebyok (ukiran kayu berpelitur) rumah tradisional khas Kudus yang tersohor dengan kerumitan pembuatannya dan harganya yang selangit. Saya dengan bangga menceritakan sampai berbusa-busa mengenai ukiran Kudus. Dari Kyai The Ling Sing yang jago mengukir dan juru dakwah sampai ke ukiran kayu Kudus yang kata teman saya di Ubud bisa mencapai harga seperempat miliar rupiah.

Saya makin terkejut saat ia menyebut “rumah kapal” dalam pembicaraan. Rumah itu adalah bangunan milik pengusaha rokok di Kudus yang kebetulan hanya berjarak selemparan batu dari gedung sekolah dasar saya. Selama lima tahun saya berolahraga di sana sebagai siswa SD Muhammadiyah 1 Kudus. Budi rupanya tahu bangunan itu saat ia berkeliling di kabupaten terkecil di Jawa Tengah ini. Ia menanyakan kabar rumah unik yang didesain mirip kapal itu. Dan dengan nada sendu saya katakan rumah itu sudah tak terawat saat saya masih SD. Setelah 20 tahun lebih berselang, bangunan antik yang dibangun di masa kolonial itu saya saksikan sendiri sudah rata dengan tanah dan digantikan oleh bangunan komersial.

Setelah menerobos ke kenangan masa lalu saya, Budi mengajak saya larut dalam masa mudanya juga. Masa saat orang tua saya saja masih anak-anak. Ia mengenang masa mudanya di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang menurutnya saat ia masuk di era awal 1960-an masih carut marut. Sebagaimana mahasiswa zaman sekarang, berkumpul tidak akan luput dari tema dosen-dosen yang menyebalkan. Dan ia masih ingat seorang dosen yang konon bergelar bangsawan namun ‘raja tega’ bagi para mahasiswanya. Bayangkan saja, dosen bangsawan itu membiarkan seorang mahasiswa harus menunggu selama sembilan bulan lamanya demi keluarnya nilai sebuah mata kuliah agar ia bisa diwisuda. Begitu nilai itu keluar, ternyata tidak lulus sehingga si mahasiswa naas harus mengulang lagi dan tidak bisa segera meninggalkan kampus. Apakah mahasiswa itu teman dekat Budi atau dirinya sendiri? Entahlah. Itu masih menjadi misteri. Saya tak punya nyali menanyakan lebih lanjut karena takut dianggap lancang.

Pergolakan politik Indonesia di awal tahun 1960-an hampir mencapai titik klimaks. Efeknya terasa hingga ke dunia akademis yang menjadi tambatan Budi yang juga turut berguncang hebat. “Waktu itu tahun 60… Saya jadi sekretaris dewan nasional, kalau sekarang namanya BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Saya sering sekali melihat orang berkelahi dan menangani orang berkelahi, yaitu orang GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia – cikal bakal PDI Perjuangan, menurut Budi), CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia) dan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Mereka sering bentrok.”

Apalagi sesudah ia lulus, kekerapan perkelahian fisik makin tak terbendung. Budi lulus dari UGM tahun 1963. Dua tahun kemudian, kondisi memburuk.

Tindakan saling teror itu sebetulnya sangat kekanak-kanakan. Budi menyebut seringnya satu kelompok mensabotase pertemuan penting yang diadakan kelompok lainnya di sebuah gedung. “Satu kelompok sedang rapat, tiba-tiba lampunya mati,” kenang Budi. Saya tergelak. Lalu ada juga cerita yang beredar bahwa saat kubu GMNI menggelar pesta gila-gilaan semalam suntuk, kubu HMI mematikan sambungan listrik dan para aktivis GMNI keluar dan bentroklah mereka dengan aktivis HMI yang lebih relijius dan tentunya tak suka dengan kegiatan hedonis semacam itu. Jadi, dari dulu persengketaan semacam ini sudah ada dari dulu kala.

Setelah tampil di panggung dalam acara yang diadakan oleh Yayasan Lontar Minggu sore, tiba-tiba Budi duduk mendekati saya dan bertanya apakah saya sebagai orang Kudus masih ingat kawasan Sleko di kota kretek itu. Saya justru bertanya kembali pada si penanya,”Bagaimana pak Budi tahu Sleko?” Di dalam benak, saya mencoba keras mengingat kembali lokasi Sleko. Sungguh, ingatan itu hampir pudar. Saya hanya ingat orang tua dan semua orang di sekitar saya pernah mengatakan nama itu berkali-kali.

Dan sebelum saya bisa menyadari betapa rendah hatinya pengarang yang juga dosen ini, saya disodorinya sebuah ponsel pintar layar colek keluaran negeri ginseng. Ukuran hurufnya besar, sesuai untuk Budi agar lebih mudah membaca isi pesan pendek atau mengetik. Budi menyuruh saya mengetik nama di ponselnya itu dengan satu syarat unik:”Ketik ‘Kudus’ baru nama kamu ya.” Saya paham itu caranya memudahkan mencari nama saya di kontak ponselnya agar saat ia berkunjung ke Kudus, ia bisa mencari saya.

Saya merasa sebagai anak muda yang kurang ajar karena tidak meminta nomor ponsel atau alamat surelnya lebih dulu. Bagaimana bisa ia yang lebih tua tidak segan meminta kontak saya yang lebih muda, yang kiprahnya tak ada apa-apanya? Saya tahu sebagian besar orang, terutama yang sudah termasyhur, akan menganggap meminta detail kontak sebagai sebuah permintaan untuk menjalin hubungan kembali setelah itu. Dan saat saya sibuk mengetik nama dan nomor ponsel saya, Budi dihampiri seorang pemuda dari Kupang. Ia ikut program residensi Asean Literary Festival tahun ini dan tinggal di kampung Muara di Jakarta Utara. “Papa orang Flores, mama orang Timor,” sayup sayup si pemuda menjelaskan asal muasalnya berada di dunia ini dan Budi meladeninya sembari menggoreskan pena. Sebuah tandatangan tertoreh di halaman pertama buku karya Budi yang baru saja dibeli si penggemar belia. Sejurus kemudian, Budi terlibat dalam obrolan dengannya. Takut mengganggu waktu jeda Budi, pemuda itu beringsut pamit dan berterima kasih. Rampung juga saya mengetikkan detail kontak saya. Saya kembalikan ponsel itu padanya dan ia kembali menikmati kudapannya. Saat saya tanya kegiatan selanjutnya, Budi cuma berkata akan menyimak diskusi selanjutnya di ruangan yang sama.

Dua kali saya saksikan ia berinteraksi dengan para penggemar mudanya yang jumlahnya tidak seberapa. Di hari sebelumnya, saya saksikan Budi dihampiri tiba-tiba oleh seorang anak muda saat kami duduk di selasar Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. Saya lirik satu dua orang yang mengenali Budi Darma tetapi memutuskan untuk mengamatinya saja dari kejauhan. Sementara itu, pemuda ini melangkahkan kakinya dari ujung ruangan sana dan memperkenalkan dirinya sebagai seorang penggemar Budi Darma sejak lama. Saya sudah mengamatinya juga. Ia duduk di lantai dan bersandar di dinding seberang. Namanya Ilham, dari kota yang sekarang dibina Ridwan Kamil.  Ia mengaku bekerja di sebuah portal berita daring terkemuka di negeri ini. Lain dari saya yang membiarkan Budi larut dalam benaknya, Ilham mengajak idolanya bertanya jawab perkara sastra Indonesia dan para pembaca muda.

Tanpa bermaksud menguping, saya simak percakapan itu. Terhadap pertanyaan Ilham yang berkenaan dengan pandangan Budi terhadap para pengarang muda, si tokoh sastra menunjukkan optimismenya. Budi yakin Indonesia tidak akan fakir sastrawan, baik masa kini atau datang. Ia paham bahwa saat ini anak-anak muda yang menggebu-gebu menulis harus rela berbagi ruang dengan penulis-penulis yang seusia ayah dan kakek mereka. Karenanya ia sangat paham media-media besar dan konvensional masih memberikan saluran untuk berkreasi yang terbatas bagi anak-anak muda. Belum lagi dengan fenomena senjakala di dunia media cetak. Satu persatu majalah dan surat kabar besar gulung tikar, ambruk, tidak kuasa bertahan dari gempuran media baru. “Jadi salah satu jalan keluar ya melalui blog itu. Sayangnya, blog itu tidak ada yang mengawasi. Kalau kita menulis di koran dan majalah kan ada redaksi yang menyeleksi. Kalau di blog, tidak ada. Seleksi terletak di diri sendiri.

Ilham lagi-lagi bertanya. Kali ini soal idealisme penulis. Topik yang klasik. Budi menjelaskan panjang lebar bahwa para penulis saat ini sudah selangkah lebih maju karena menulis bukan cuma berbekal penghayatan sebagaimana yang dilakukan generasi pendahulu, tetapi juga melaksanakan penelitian sebelumnya. Sehingga tidak heran jika hasil penulisan akan lebih meyakinkan dan akurat meskipun itu karya fiksi sekalipun. Ia mengambil novel “Maryam” karya Okky Madasari sebagai contoh. Novel itu katanya dibuat dengan berdasarkan pada penelitian di Lombok. Novel Okky yang berjudul “Pasung Jiwa” juga ditulis berdasarkan pada berbagai litaratur yang membahas kasus Marsinah. Autentisitas, menurut Budi, makin dianggap penting oleh pembaca kontemporer. “Jika di novel demikian, apakah betul juga begitu di dunia nyata?”

Budi membandingkan dengan karya-karya sastra keluaran dekade 1930-an. Kata Budi, saat itu hanya satu orang yang sepengetahuannya mengadakan penelitian untuk mendukung proses menulis karya sastra. Novel “Pacar Merah” karya Matu Mona didasarkan pada perjalanan hidup Tan Malaka. Matu Mona menyengajakan diri mensurvei Singapura untuk bisa merasakan bagaimana kehidupan Tan Malaka di sana saat menyusun pemikiran-pemikiran pentingnya.

Budi Darma Tentang ‘Dosa-dosanya’ sebagai Pengarang

Budi Darma (kanan) bersama narablog ini. (Dokumen pribadi)
Budi Darma (kanan) bersama narablog ini. di Selasar, Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki di tanggal 7 Mei 2016, hari ketiga penyelenggaraan Asean Literary Festival 2016. (Dokumen pribadi)

Budi Darma agak kepayahan meniti tangga malam itu. Badannya agak membungkuk dan langkah kakinya lambat. Maklum usianya tak muda lagi. Akan tetapi, untuk standar manusia tujuh sembilan tahun di zaman modern, sastrawan ini terbilang bugar. Di tengah panggung yang megah di Teater Kecil itu, sebuah mimbar telah disediakan baginya untuk mengucapkan sekapur sirih mengenai penghargaan yang dianugerahkan padanya hari itu.

Budi memberikan apresiasi bagi kegigihan para penyelenggara Asean Literary Festival 2016 yang dipimpin Okky Madasari yang dianggap Budi berhasil menghelat dengan baik walaupun ada pihak yang menyatakan perlawanan. “Karena yang diperjuangkan oleh festival ini adalah kebenaran, akhirnya semua bisa berjalan dengan baik…,” ujar penulis kelahiran kota Kartini, Rembang, ini pada kami yang hadir dalam malam penutupan ajang yang berlangsung selama empat hari di tengah bulan Mei ini.

Sebelum bertemu dengannya saya sudah mendengar betapa rendah hatinya pria satu ini meskipun ia sebetulnya memiliki banyak hal yang bisa saja ia banggakan sebagai seorang pegiat sastra Indonesia yang sudah malang melintang dari berpuluh-puluh tahun lalu sebelum generasi milennial seperti saya lahir. “Saya tidak sepatutnya mendapat penghormatan,” kata Budi yang merasa bahwa dirinya belum seberapa dibandingkan dengan banyak rekannya yang lain dalam dunia sastra. “Mungkin mbak Okky Madasari memberikan penghormatan pada saya karena saya sudah tua.” Ucapannya disambut gelak lirih dari hadirin yang kebanyakan berusia jauh lebih muda darinya yang mungkin hanya sedikit saja yang mengenal, dan lebih sedikit lagi yang sempat membaca karya-karyanya bahkan menjadikannya sebagai idola sastrawi mereka.

Ini bukan asumsi belaka karena menurut temuan Agus Nur yang mengatakan dari hasil survei kecilnya tentang sepuluh penulis Indonesia terbaik pada 200 orang pembaca muda saat ini, mereka sudah tidak lagi mengenali sastrawan Indonesia seangkatan Budi Darma. Dan karena itulah, dirinya merasa sudah saatnya buku-buku sastrawan Indonesia harus diterbitkan ulang agar bisa menjangkau para pembaca muda sastra Indonesia. Agus sendiri yakin bahwa para pembaca muda ini bukannya tidak peduli pada karya-karya lama itu tetapi karena pasokan buku-buku karya pengarang seperti Budi Darma itu sudah begitu langka. Jadi, daripada salah menyalahkan, ia lebih memilih untuk menempuh solusi untuk menerbitkan ulang.

Namanya sendiri sudah mencerminkan kerendahhatian itu. Nama Budi di Indonesia adalah jenis nama yang semerakyat John di dunia Anglosakson. Di kerumunan, kita tidak akan bisa dengan mudah mengenali Budi karena ia begitu pendiam. Ia mirip seperti gong, yang baru berbunyi setelah dipukul, diumpani dengan aksi tertentu. Ia tidak bisa berbunyi dengan sendirinya.

Sebagai sastrawan kampiun dengan segudang pengalaman, Budi juga memberikan wejangan berdasarkan pada kesalahan-kesalahannya di masa lalu yang perlu dihindari oleh para sastrawan penerusnya. “Kesalahan saya adalah kalau saya menulis, saya tidak memiliki niat untuk menerbitkan tulisan tersebut,” ia berpesan. Kemudian Budi mengenang saat awal mula ia dalam proses menulis Orang-orang Bloomington, karyanya yang diterbitkan ulang. Agus Nur bahkan mengklaim buku kumpulan cerpen Budi Darma itu sebagai salah satu buku kumpulan cerpen yang patut dibaca oleh pembaca karya sastra kita tanpa peduli era. Begitu rampung menulis, ia kirimkan naskahnya ke redaksi majalah Horison kemudian ia diminta Satya Graha Urip agar naskah itu bisa diterbitkan menjadi buku. Setelah sekian lama stoknya habis, Budi juga tidak memiliki niat untuk menerbitkan ulang. Lalu datanglah Richard Oh yang meminta penerbitan ulang Orang-orang Bloomington. Tak disangka-sangka, penerbit Metafor yang menangani karyanya itu ambruk. Tetap Budi bergeming, tak ingin menerbitkannya. Penerbit Noura kemudian berinisiatif menerbitkan kembali karyanya sekarang. Budi menyambut baik tawaran itu dan menganggap bahwa keacuhannya pada karya miliknya itu bukan teladan yang baik bagi para sastrawan yang lebih muda. Ia ingin agar sastrawan-sastrawan sekarang tak semalas dirinya dalam menerbitkan. “Generasi muda harus lebih agresif, lebih aktif dalam mencari pemasaran, penerbitan, dan sebagainya.”

Kesalahan lain Budi Darma sebagai pengarang ialah dirinya tidak menulis secara rutin. Jika ia tidak sedang bersemangat, ia tidak menulis sama sekali seperti sekarang. Justru memlihat anak-anak muda saat ini yang menggebu-gebu dalam menulis, ia merasa optimis dan bangga.

Mendengar alasan pemberian anugerah penghormatan baginya dari Okky yang mengklaim Budi Darma memiliki pengaruh bagi generasi selanjutnya, Budi sendiri menampiknya. “… (B)ahwa karya saya memiliki pengaruh atau inspirasi pada generasi-generasi lebih muda, saya terus terang meragukannya,” sang pengarang berterus terang. Kata-katanya begitu penuh ‘unggah ungguh’, merendahkan dirinya sedemikian rupa yang sangat khas Jawa, yakni selalu merasa belum sempurna dan masih memiliki banyak cela yang tidak bisa dibanggakan.

Dengan penuh optimisme, Budi memiliki pengharapan sederhana bahwa generasi muda akan lebih baik daripada generasi sebelumnya. Ini bukan tanpa alasan karena menurut pengamatannya selama ini terhadap perkembangan sastra Indonesia, ada karya-karya sastra yang baik yang dihasilkan oleh anak-anak muda.

Lebih lanjut Budi menyoroti pentingnya bagi para seniman kata untuk menjaga keseimbangan antara privasi saat berkarya dan bersosialisasi seperti yang dilakukan dalam sebuah festival sastra. Bagi Budi, pengarang harus menulis dengan konsentrasi penuh tanpa gangguan. Akan tetapi, di samping itu mereka juga harus “bertatap muka, mengenal dan saling mempelajari”, sabda sang pengarang.

Budi memberikan saran agar dalam meninjau dan mengulas sastra Indonesia, kita sebaiknya tidak hanya berpatokan pada Jakarta sebagai pusat sastra Indonesia. Dengan kata lain, jangan mempersempit cakupan sastra Indonesia menjadi hanya Jakarta. Jakarta bukan kiblat satu-satunya. Sebuah karya sastra hendaknya masih dianggap karya sastra Indonesia yang patut diulas dan diapresiasi meskipun tidak dikirim ke Jakarta. Bagaimana dengan karya-karya sastra yang tidak sampai ke Jakarta, tidak dipublikasikan di media-media cetak ibukota? Apakah semua karya itu serta merta dibuang dari khasanah sastra kita? Budi berharap tidak demikian. “Semua pengarang di daerah yang tidak mengirimkan karyanya ke Jakarta, yang tidak mengirimkan karya-karyanya ke majalah-majalah asuhan bapak H. B. Jassin, itu tidak masuk ke dalam sejarah sama sekali. Padahal kalau kita mau menelusur, karya mereka ada juga yang baik,” Budi menegaskan sikap kontranya terhadap pemikiran sentralisasi dalam sastra Indonesia yang ia rasakan masih ada meskipun zama sudah semodern sekarang dan otonomi sudah merasuk ke berbagai lini kehidupan masyarakat Indonesia.

Tempa Karakter dengan Perjalanan

tanzils“The more I travel, the more I see. The more I see, the more I know. The more I learn, the less I know.”
Pembicaraan ini bukan tentang menulis semata-mata. Kali ini kedua pembicara di depan saya bercakap-cakap mengenai bagaimana rasanya menjelajahi bumi nusantara dan membagikannya dalam blog. Hanya saja bedanya mereka ini tidak menggunakan jasa travel, menginap di hotel yang nyaman dan mewah, atau menikmati jamuan dari restoran yang berbanderol mahal di tempat-tempat yang mereka singgahi. Kenapa? Karena mereka memilih jalur yang tidak lazim. Tidak touristy, tetapi off road, begitu kata pelancong mancanegara. Jadi perjalanan ini tidak melewati jalur atau destinasi yang sudah kita kenali dari buku-buku perjalanan yang beredar di luar sana.
Sepanjang perjalanan, tidak sekali dua kali mereka tergoda untuk berhenti dan memilih jalur atau cara yang lebih nyaman. Pemikiran-pemikiran seperti “Kapan sih ini habisnya?, “Kapan saya bisa istirahat?” dan sebagainya terus bermunculan dalam benaknya tatkala di jalan. Namun, pria itu terus teguh memegang prinsipnya untuk meneruskan perjalanan sesuai rencana semula.
Ada pelajaran yang menarik dari Youk Tanzil dan anak perempuannya, Diva Tanzil, dalam perjalanan yang menguras energi seperti itu. Gadis yang juga turut membagikan pengalamannya berkelana di seluruh Indonesia itu berkata demikian:”Apa yang saya alami itu juga adalah sebuah pembangunan karakter (character building). Pengalaman saya saat off road bisa saya aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Saya juga lebih mengenali diri sendiri, baik kekuatan dan kelemahan dalam diri.”
Dari dalam diri, mereka diajak mengenali dunia di luar diri, sebagaimana apa yang dialami oleh Youk. Dalam perjalanan di Labuan Bajo, ia dihadapkan pada banyak pernyataan dari penduduk setempat yang menurutnya mengejutkan. Apa pasal?
Di sebuah daerah bernama Waerebo, yang berupa lembah yang terpencil, ia menemukan adanya pernyataan dari penduduk setempat bahwa mereka adalah keturunan suku Minangkabau dari Sumatra Barat. Padahal jika dilihat dari peta, letak antara Waerebo dan Sumatra Barat begitu jauh dan tampak tidak berkaitan sama sekali. Tetapi nyatanya keduanya berkaitan dengan cara yang tak pernah kita duga sebelumnya.
Sementara itu saat di Dompu, Bima, ia juga menemukan warga setempat yang menampik saat disebut orang Bima. Mereka ini malah mengaku sebagai keturunan dari kerajaan Gowa di Makassar zaman dulu.
Tidak cuma di Waerebo, ia kembali dikejutkan saat berkunjung ke Samosir, Sumatra Utara. Saat diterangkan mengenai patung-patung leluhur dan raja-raja Samosir zaman baheula yang sudah mangkat, seorang penduduk lokal berkata padanya bahwa mereka juga memiliki patung Nyi Roro Kidul. “Membingungkan sekali itu bagi saya,” kenangnya. Maka tidak heran ia meyakini bahwa makin banyak orang melakukan perjalanan dalam hidup mereka, makin banyak hal yang mereka temukan sekaligus menyadarkan mereka bahwa sungguh lebih banyak lagi hal yang mereka tidak tahu. Hal ini sekaligus menyadarkan kita bahwa bangsa ini dan semua manusia pada umumnya sejatinya saling berkelindan, berkaitan. Entah bagaimana juga caranya pasti ada hubungan yang halus, tipis, subtil bahkan tersembunyi yang tidak banyak orang ketahui dan mengerti.
Ditanya mengapa ia melakukan perjalanan dengan anaknya, Youk menjelaskan tujuan utamanya ialah ingin mewariskan hal yang lebih dari sekadar materi. “Dengan perjalanan ini, saya berikan kesempatan bagi anak saya untuk menjadi patriot dengan melihat, mengenal, memahami bangsa dan negerinya sendiri. Dari sini akan lahir nasionalisme dan dari sana akan lahir juga patriotisme.