Cara Alami Menarik Murid Yoga Anda

Mencari murid yoga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak faktor menjadi penyebabnya. Di antaranya yang paling utama ialah karena tingkat persaingan antarpengajar yoga saat ini makin tinggi seiring dengan makin banyaknya lulusan sekolah yoga yang juga terus membanjiri sekitar kita. Namun, di sisi lain, hal ini juga ada bagusnya karena itu atinya akan ada makin banyak orang yang menyebarkan manfaat positif yoga. Mendapatkan pengajar yoga akan makin mudah sebab mereka makin mudah dijangkau dan makin bervariasi pilihan dan ragamnya. Jika Anda kurang cocok dengan pengajar X, Anda bisa ganti ke pengajar Y yang mungkin Anda anggap lebih cocok bagi Anda.

Meski tidak mudah, membangun sebuah kelompok murid yang setia menunggu kelas, workshop dan pelatihan Anda juga bukan hal yang mustahil. Anda ‘hanya’ perlu bekerja keras.

Mungkin Anda bertanya apa manfaatnya memiliki basis murid yang setia bagi Anda sebagai pengajar yoga. Pertama, tentu Anda akan bisa meminimalkan kerja keras dalam mendapatkan murid yang sesuai dengan jiwa dan cara Anda mengajar. Anda tidak akan kelelahan mencari murid setiap hari jika sudah ada sekelompok orang yang dengan sukarela ingin belajar yoga bersama Anda. Dan ini bukan hanya sekadar permainan diskon tarif mengajar. Ada hal-hal yang lebih jauh dan dalam daripada uang yang membuat orang lain terus belajar yoga pada Anda.

Saya sendiri pernah menjumpai para pengajar yang mengakui diri mereka sampai harus menolak tawaran mengajar di banyak tempat karena mereka kekurangan waktu atau jadwal tidak memungkinkan untuk disesuaikan dengan ketersediaan waktu sang murid. Dan setelah beberapa lama, mereka masih menunggu juga sampai jadwal si pengajar itu kosong dan terus bertanya dan mencari kontaknya. Hebat, bukan?

Namun, sekali lagi itu tidak terjadi begitu saja. Lalu bagaimana caranya agar bisa membangun kesetiaan dalam murid-murid yoga Anda?

Yang pertama ialah tetap menjadi diri Anda sendiri. Kesalahan pertama yang sebagian pengajar lakukan ialah mencoba menjadi pribadi lain agar bisa disukai oleh murid-muridnya. Hentikan ini karena akan sangat melelahkan menjadi orang lain yang bukan diri Anda selama Anda mengajar mereka. Anda akan terus diliputi kekhawatiran jika kedok Anda terbongkar dan mereka tahu bagaimana pribadi Anda sebenarnya. Meski bukan artinya Anda harus blak-blakan pada mereka mengenai sifat-sifat buruk Anda, Anda sebagai pengajar juga idealnya dapat menciptakan rasa nyaman untuk diri Anda sendiri selama berada dalam kelas agar Anda kemudian bisa menciptakan kenyamanan bagi murid-murid yang datang. Jika energi yang Anda tebarkan berdasarkan pada kecemasan dan ketidakpercayaan diri, getaran energi itu akan diterima juga oleh murid-murid Anda. Dan dengan begitu, mereka akan mulai menjaga jarak dari Anda, meskipun mereka bahkan tidak meragukan kredibilitas Anda sebagai guru. Arti guru sendiri ialah membawa dari kegelapan menuju terang. Bagaimana bisa mereka mendapatkan perbaikan dalam kehidupan bila guru itu sendiri kurang bisa bersikap jujur dan tulus sehingga mereka kurang nyaman berada di sekitar kita?

Kedua ialah ketahui tujuan utama Anda mengajar. Kita bisa maklumi bersama bahwa pragmatisme makin banyak mendominasi pengajar-pengajar yoga modern. Dengan kata lain, makin banyak pengajar yang mengajar lebih karena alasan mencari nafkah, atau memperbesar pemasukan, atau hidup sejahtera dari yoga.

Apakah itu salah?

Belum tentu.

Kenapa? Karena saya yakin perjalanan yoga masing-masing orang berbeda dan unik. Ada yang mungkin pertama mengajar sebab ia ingin uang untuk lebih kaya namun di tengah perjalanan ia menjadi sadar dan mengendalikan dirinya agar tidak tamak dengan kekayaan. Ada juga yang sebaliknya, bersentuhan dengan yoga tanpa ekspektasi apapun tetapi baru dalam perjalanannya ia sadar bahwa yoga bisa dijadikan lumbung uang. Atau bisa juga pertarungan semacam ini terus menerus berkecamuk dalam diri kita. Dan bagi yang sudah sejahtera, mereka bisa jadi menghendaki hal lain, seperti pengakuan, reputasi, yang semuanya bermuara pada ego. Padahal dalam yoga, kita terus disarankan untuk mengendalikan ego (bukan sama sekali mematikannya juga, karena dengan matinya ego kita, kita juga tidak akan lengkap lagi sebagai manusia).

Bahkan jika kita mau menelaah lagi, tujuan kita mengajar yoga juga bisa berfluktuasi dari satu kelas ke kelas lain, dari satu menit ke menit lain. Bisa saja kita mengajar satu kelas karena kita ingin uangnya karena kita memiliki kebutuhan mendesak yang solusinya ialah uang tersebut. Bisa jadi kita mengajar kelas lain karena cuma ingin berbuat baik tanpa balasan karena merasa kasihan. Atau bisa saja kita masuk di kelas dengan niat berbagi tanpa pamrih namun di satu titik saat mengajar, kita merasa adanya ketidakikhlasan dan bertanya dalam hati,”Tahu begini aku minta dibayar saja…”

Selabil itulah pikiran manusia. Ia terus menerus bergolak, bergeser, berubah. Dinamika ini tidak bisa dielakkan. Dan tugas kita adalah menertibkannya, mengendalikannya dan meluruskannya kembali sebisa mungkin yang kita mampu agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi diri dan orang di sekitar kita.

Tujuan utama mengajar juga bukan karena sekadar kebutuhan finansial atau spiritual. Ada orang yang mengajar yoga karena ia ingin membagikan pengalaman hidupnya yang pahit dan yoga membantunya untuk pulih dari kondisi keterpurukan tersebut. Dan kondisi ini bisa dialami oleh siapa saja di luar sana. Seperti seorang teman pengajar saya yang pernah menderita gangguan kesehatan yang cukup parah berupa apa yang ia asumsikan sebagai gejala kanker otak (sebagaimana diderita ibunya dulu) hingga ia tidak bisa melaksanakan aktivitas sehari-hari dengan lancar dan tidak menyusahkan orang lain di sekitarnya. Dengan menggunakan yoga sebagai salah satu jalan penyembuhan dari penyakitnya, ia merasakan peningkatan kualitas hidup yang signifikan dan kembali beraktivitas seperti sediakala dan melakukan banyak kegiatan yang sebelumnya hanya ia bisa bayangkan karena begitu susahnya melakukan itu semasa ia masih dirundung penyakit. Latar belakang inilah yang membuatnya terdorong untuk memiliki satu tujuan dalam mengajar, yaitu membuat orang hidup lebih sehat dengan yoga dan pola makan sehat agar bisa terhindar dari penyakit degeneratif yang marak diderita orang masa kini seperti kanker, diabetes, stroke, serangan jantung dan sebagainya.

Berikutnya hal yang tidak kalah penting dalam menarik murid yoga secara alamiah ialah dengan menemukan prinsip utama sebagai pengajar. Kepribadian Anda pastilah memiliki suatu corak yang paling menonjol dan Anda bisa kedepankan saat menjadi seorang pengajar yoga. Dengan mengetahui kekuatan dalam pribadi Anda sendiri, Anda akan bisa menularkannya pada orang lain dan hal ini akan secara otomatis membangun kepercayaan diri Anda sebagai pengajar. Tidak ada yang lebih menarik bagi seorang murid daripada seorang guru yang tahu kekuatan dan kelemahannya. Karena dari kekuatan seorang guru, mereka bisa belajar banyak memaksimalkan kekuatan mereka. Dari kelemahan guru, murid pun bisa belajar bagaimana meminimalkan kelemahan mereka. Seorang guru tidak perlu takut terlihat tidak sempurna karena memang itu mustahil dan sebaiknya murid memiliki ekspektasi yang tidak berlebihan pada guru, apalagi sampai menganggap guru sebagai nabi atau orang suci yang tidak bisa salah. Namun demikian, saat menemukan kesalah guru, murid idealnya juga tidak menegur secara kasar di depan umujm tetapi menyampaikannya secara pribadi dan tertutup agar tidak menyakiti yang dikritik.

Sebagai contoh mudah, misalnya prinsip utama Anda ialah disiplin, terutama dalam penggunaan waktu. Maka dengan sendirinya, Anda mewajibkan murid-murid datang tepat waktu. Sulit untuk memalsukan prinsip utama ini karena sebetulnya murid bisa merasakannya (yang tentu bergantung pada tingkat kepekaan masing-masing orang) dari waktu ke waktu. Dan prinsip utama dalam diri seorang pengajar yoga juga harus dibuktikan secara konkret dalam kesehariannya. Jadi, jika prinsip itu cuma sebatas di bibir, bisa dipastikan itu cuma ‘topeng’.  Atau jika Anda berkata prinsip utama Anda sebagai yogi ialah integritas, tetapi Anda diketahui berkata bohong atau memalsukan tandatangan maka dipastikan orang meragukan ke-yogi-an Anda.

Mengajarkan prinsip utama ini lebih berat daripada hanya mengajarkan pengetahuan yang ada dalam buku. Prinsip ini bersemayam dalam diri kita dan bekerja secara alami, tanpa direkayasa. Bagaimana meyakinkan misalnya bahwa disiplin itu sangat berharga jika seorang yogi ingin lebih baik dalam latihannya.

Untuk bisa menemukan prinsip utama Anda yang paling menonjol, cobalah untuk bertanya pada seorang atau beberapa murid yang sudah Anda sering temui dalam kelas Anda. Lontarkan pertanyaa mengenai prinsip dan nilai apa yang paling mereka anggap berharga dalam kehidupan. Dari jawaban mereka, Anda bisa menemukan sejumlah persamaan dengan prinsip dan nilai hidup Anda sendiri. Itu karena murid-murid kita yang sering bertemu juga berbagi enegi yang sama dengan kita. Yang energinya mirip, bisa berjalan berdampingan secara selaras. Dan yang energinya kurang cocok, biasanya mencari jalan masing-masing kembali untuk menemukan yang bisa cocok dengan diri kita.

Poin lain yang perlu disadari bagi pengajar yoga saat mereka sudah berusaha menarik lebih banyak orang ke kelas mereka ialah menyerahkannya pada ‘mekanisme seleksi alam.’  Artinya, Anda bisa saja sudah berupaya sekeras mungkin untuk menarik murid namun tetap saja ada orang yang menemukan alasan untuk tidak menyukai kelas Anda atau pribadi Anda. Jangan serta merta berkecil hati, karena pada hakikatnya kita tidak bisa memuaskan semua orang dan memenuhi ekspektasi mereka secara sempurna. Ada juga kasus saat seorang murid sudah cocok dengan Anda tetapi kemudian karena satu alasan (pindah rumah, pindah kantor, melahirkan, dan sebagainya) ia tidak bisa berlatih dengan Anda. Namun, suatu hari kemudian tak disangka-sangka ia kembali ke kelas Anda dan mengajak teman atau keluarganya untuk beryoga. Jadi, biarkan mereka yang tidak merasakan adanya koneksi dengan prinsip, keyakinan, atau kepribadian Anda untuk memilih jalan mereka masing-masing. Karena jika memang mereka ditakdirkan untuk belajar bersama Anda, mereka akan kembali lagi entah bagaimana caranya. Biarkan itu menjadi misteri semesta. (*)

Meditasi: Dari Latar Belakang Sejarah, Cara, Hingga Manfaatnya 

MENDENGAR kata ‘meditasi’ pertama kali, saya bergidik. Dalam benak saya, tertanam kesan bahwa hal itu cuma dilakukan oleh segelintir orang terutama para biksu dan pertapa serta pengelana spiritual yang membiarkan diri mereka larut dalam kehampaan dalam pikiran mereka hingga lupa makan, lupa minum, lupa segala-galanya.

Setelah saya menekuni yoga, saya juga kemudian mengetahui bahwa dalam yoga juga tercakup meditasi. Dan di benak sebagian orang, meditasi adalah yoga itu sendiri. “Yoga kan duduk duduk diem gitu, mana bisa keringetan?” Begitu persepsi masyarakat awam. Seseorang bahkan memiliki ingatan buruk soal yoga karena salah satu tetangganya yang hidup menyendiri dan cenderung anti sosial kemudian duduk dalam posisi lotus di rumahnya setelah sekian lama tidak keluar rumah. “Kami memasuki rumahnya karena banyak lalat dan bau busuk yang menyengat dari dalam. Begitu dibuka kami temukan orangnya. Atau jenazahnya tepatnya. Sudah tidak bernyawa. Membusuk di dalam posisi duduk bermeditasi..,” terang orang yang saya temui di sebuah taman di Jakarta itu.

Jelas ada kesimpangsiuran perihal apa meditasi sebetulnya. Betul meditasi melibatkan posisi duduk. Akan tetapi, meditasi tidak cuma aktivitas batiniah yang berujud duduk lama dan mewajibkan pelakunya untuk ‘mengosongkan pikiran’ (sebuah frasa yang keliru) sebagaimana yang saya juga kerap dengar dari komentar orang-orang awam di sekitar saya. Dalam perjalanan saya belajar yoga, saya pun akhirnya tahu bahwa meditasi bukanlah sesempit itu. Meditasi memiliki cakupan makna yang lebih luas dan mendalam.

Sebelum membahas makna meditasi, ada baiknya kita kembali ke masa lalu untuk mengetahui secara singkat sejarahnya. Dan dari pengetahuan mengenai sejarah ini, kita akan paham bahwa meditasi bukanlah monopoli kepercayaan atau agama tertentu.

Seperti yoga dan pengetahuan dari Timur lainnya, tidak ada yang tahu persis siapa penggagas/ pencipta dan kapan ilmu tentang meditasi dibuat atau disusun. Semuanya merupakan taksiran kasar, dan hanya diwariskan secara turun temurun sehingga sulit dilacak asal muasalnya yang pasti. Salah satu dugaan kenapa hal ini terjadi ialah karena sosok-sosok guru hebat dan bijak itu justru ingin menghindari publikasi dan menepikan kepentingan pribadinya (baca: ego) untuk lebih berfokus pada spiritualisme yang ia sudah rengkuh susah payah.

Selama era penyusunan kitab Upanishad (salah satu teks suci dan dianggap sakral di Asia Selatan), ilmu meditasi dikembangkan secara sistematis di wilayah India kuno. Lalu Patanjali menyusunnya secara tertulis dan sistematis sehingga lebih mudah dipelajari dan disebarluaskan ke mana saja dan diajarkan pada siapapun juga. Praktik meditasi pun makin berkembang dan menyebar luas hingga di luar India. Salah satu tanda perkembangan meditasi yang pesat ialah ditemukannya bukti sejarah yang menyatakan bahwa sekitar abad ke-3 atau 4 Masehi telah ada sekolah khusus meditasi yang didirikan para biksu tanah Hindustan di negeri para firaun Mesir. Di Tiongkok, tercatat dalam sejarah bahwa berdiri sekolah meditasi mulai sekitar tahun 525 SM.

Dari Tiongkok, ajaran meditasi menyebar ke Jepang. Kata ‘zen’ yang kita kenal sekarang diduga memiliki asal muasal dan keterkaitan dengan kata Sansekerta ‘dhyana’ yang artinya meditasi.

Sebelumnya saya pikir meditasi cuma didominasi para penganut agama Hindu dan Budha, tetapi menurut catatan sejarah ternyata tradisi meditasi juga ada dalam Kristen. Dirintis Saint Anthony, tradisi meditasi Kristiani ini turut dipraktikkan Saint Francis dan yang lain. Akan tetapi, karena ada kekhawatiran bahwa ia akan menjadi objek persekusi agama, seni meditasi di lingkaran pemeluk Kristen hanya dilakukan oleh sosok-sosok bijak dalam agama tersebut dan tidak disebarluaskan sebagaimana layaknya ajaran meditasi lain.

Selama berabad-abad, para yogi terus mengembangkan meditasi hingga menjadi suatu disiplin ilmu yang maju dan sistematis dengan tujuan utama memperluas kesadaran manusia. Dalam ranah yoga, kesadaran diwajibkan untuk selalu dijaga karena tiap manusia harus menjalankan apa yang diajarkan guru secara mandiri. Ia tidak bisa serta merta mengikuti semua perkataan sang guru tanpa pernah menjajal mempraktikkannya dalam kehidupan nyata. Karenanya loyalitas buta sangat dijauhi dalam yoga. Praktik-praktik tertentu beserta manfaat yang dapat diraih digambarkan oleh guru dan tugas murid ialah mempraktikkannya sendiri dan meyakinkan dirinya mengenai keabsahan hasil eksperimen tersebut. Apakah sesuai dengan yang dikatakan guru atau tidak? Jika tidak, kenapa itu bisa terjadi? Dan jika ada yang keliru, apa yang harus diperbaiki? Dengan pendekatan berbasis pengalaman nyata itulah, seseorang dapat secara langsung mengalami suatu kondisi kesadaran yang menjadi bukti keberadaannya di alam semesta ini. Tidak perlu ada bukti lain.

MAKNA MEDITASI

Meditasi sendiri merupakan suatu kata yang sudah terlalu sering dipakai secara bebas dan kurang tepat oleh banyak orang saat ini. Itulah kenapa muncul kebingungan masif mengenai bagaimana cara yang tepat dalam berlatih meditasi. Sebagian orang menggunakan kata tersebut saat mereka merujuk pada suatu kegiatan perenungan atau berpikir secara mendalam dalam waktu yang lama. Ada juga yang memakainya untuk menyebut aktivitas melamun atau berimajinasi. Namun, sayangnya meditasi yang sejati bukanlah itu semua.

Disarikan dari “The Real Meaning of Meditation” oleh Swami Rama, meditasi dapat didefinisikan sebagai teknik yang tepat dalam mengistirahatkan pikiran dan mencapai kondisi kesadaran yang berbeda sekali dari kondisi sadar yang lumrah. Meditasi ialah alat membayangkan semua level dalam diri dan pada akhirnya menjangkau pusat kesadaran dalam diri.

Yang patut digarisbawahi ialah: Meditasi bukanlah bagian dari agama apapun. Ia merupakan sains, sehingga prosesnya mengikuti urutan dan syarat tertentu, didasari oleh sejumlah prinsip dan menghasilkan hal-hal yang dapat diverifikasi.

Dalam meditasi, batin menjadi lebih jernih, rileks dan fokus ke dalam. Saat Anda bermeditasi, kesadaran dan kewaspadaan masih ada. Bedanya, pikiran tidak lagi berkonsentrasi pada dunia luar atau kejadian di sekitar Anda. Meditasi memerlukan kemampuan untuk masuk ke dalam diri yang diam dan terfokus sehinga batin menjadi hening. Saat benak lebih tenang dan tak lagi mengganggu, saat itulah meditasi masuk ke tahapan yang lebih dalam.

MENGAPA BERMEDITASI

Dari kecil kita diajari oleh manusia di sekeliling kita mengenai cara untuk mengamati dan bereaksi pada dunia luar. Dan kita lupa bahwa kita juga perlu mengamati diri sendiri. Inilah mengapa banyak manusia belum bisa mengenali diri mereka dan lebih mudah mengenali orang lain di sekitarnya. Di kemudian hari, ketidakmampuan mengenali diri memunculkan sejumlah problem. Misalnya kegagalan dalam hubungan dengan manusia lain, kecemasan dan kekecewaan yang mendalam terhadap orang di sekitar kita.

Sangat jarang kita melatih batin ini untuk mengenali diri karena waktu kita habis untuk dunia eksternal. Kita amat hapal dengan dunia fisik yang melingkupi kita beserta manusia-manusianya namun saat kita diajak menyelami alam bawah sadar kita, kita kerap menjadi ketakutan. Alam bawah sadar ini sekian lama menjadi tanah tak bertuan yang kita telantarkan. Meditasi membantu kita untuk tidak cuma mendisiplinkan batin, baik yang sadar dan bawah sadar.

Kemudian tujuan meditasi juga bukanlah untuk menjadi orang yang lebih bijak saja, tetapi agar kita bisa menjangkau di luar pikiran sadar kita dan mengalami hal-hal yang menjadi esensi diri kita sebagai makhluk. Di sinilah terdapat kedamaian, kebahagiaan dan ketenangan yang hakiki.

Namun, masalahnya pikiran juga sangat sulit dikendalikan. Pikiran yang liar ini menjadi karang penghalang antara diri kita dan kesadaran yang hakiki tadi. Alih-alih mencapai kondisi meditatif, kita malah terjebak dalam fantasi, lamunan atau ilusi masa lalu atau masa depan.

Dan bagi manusia modern, meditasi menjadi alat praktis dalam menenangkan batin dan pikiran, untuk melepaskan diri dari bias-bias dan dapat menyaksikan dan memahami fenomena di sekitar kita secara lebih jernih, tenang dan terkendali (tidak reaktif, tidak tergesa-gesa, tidak impulsif). Kiranya ini yang amat dibutuhkan tatkala kita membaca berita-berita yang memihak, cenderung menampilkan satu sisi yang ‘menjual’, tendensius, yang mengoyak ketenangan batin, dan memunculkan emosi-emosi negatif.

BAGAIMANA BERMEDITASI

Metode meditasi ialah belajar bagaimana kita dapat tenang dan hening. Proses mencapai keheningan tersebut dimulai dari raga. Dalam tradisi yoga, murid dipandu guru untuk menjaga tubuh dalam posisi tegak saat duduk bermeditasi. Setelah merasa nyaman dalam posisi duduk ini, biasakanlah untuk duduk diam dalam waktu yang lebih lama tiap hari.

Pilihlah sebuah tempat yang tenang, nyaman dan bersih serta bersirkulasi udara baik untuk bermeditasi. Duduklah di lantai (dengan alas yang bersih dan empuk bila perlu) atau duduklah di kursi dan tegakkan punggung dan tutup mata. Kemudian fokuskan kesadaran pada semua bagian tubuh dan rasakan setiap bagian tubuh makin berat dan rileks, kecuali yang menyangga kepala, leher dan punggung. Nikmati posisi ini sejenak dengan terus melepaskan ketegangan apapun yang kita miliki baik dalam tubuh atau pikiran. Ingatlah bahwa esensi meditasi ialah melepaskan ketegangan dan pikiran yang terus sibuk. Bila sudah lebih santai dan rileks, saatnya fokuskan perhatian pada pernapasan. Perhatikan bagaimana paru-paru Anda bekerja. Bila Anda bernapas dengan dada, cobalah untuk menggunakan diafragma. Namun, bila Anda merasa kurang nyaman, tidak perlu memaksakan diri. Bernapaslah sebagaimana Anda biasa bernapas. Yang penting ialah Anda bisa lebih memusatkan perhatian pada pernapasan tanpa harus berhasrat berlebihan dalam mengendalikannya. Perhatikan bagaimana napas kita yang semula cepat dan pendek menjadi makin panjang dan rileks. Tidak perlu terburu-buru dalam bermeditasi karena tidak ada kompetisi untuk itu.

Meditasi menjadi suatu proses yang melibatkan penyerahan perhatian secara penuh dan bulat terhadap satu objek yang sudah kita pilih secara sadar. Objek ini tergantung pada selera masing-masing orang. Misalnya, napas kita sendiri, nyala lilin dalam kegelapan, ibu jari atau sebuah botol di depan mata kita. Katakanlah bahwa kita memilih napas sebagai objek pusat konsentrasi. Biarkan napas mengalir daripada sibuk mengaturnya (terutama jika Anda sudah merasa terlalu berfokus pada bagaimana menyempurnakan napas sehingga menimbulkan ketegangan baru). Bukalah diri sedemikian rupa agar Anda dan napas itu sendiri melebur jadi satu dengan harmonis. Dalam proses peleburan ini, biasanya akan ada ‘pemberontakan’ dalam pikiran. Benak kita dipenuhi dengan beragam pikiran dan gagasan yang melintas secara tidak terkendali, seperti sensasi gatal yang merengek untuk segera minta digaruk tetapi setelah digaruk, rasa gatal itu makin meluas dan menular ke bagian lain.

Di titik ini, tetaplah diam dalam hening serta amati bagaimana pikiran Anda terus berkecamuk tanpa harus terlibat secara aktif dalam meresponnya.Ibarat Anda merasakan gatal yang sudah amat sangat tetapi Anda abaikan saja. Bila Anda sudah dapat mengendalikan keinginan untuk memberikan respon atas pikiran-pikiran yang liar tadi, berarti Anda telah berada di jalur yang tepat. Dan kondisi ini bisa berfluktuasi dari waktu ke waktu. Namun, meskipun memang terjadi fluktuasi, sebaiknya jangan berhenti berlatih meditasi tiap hari apalagi saat kita sibuk dan serasa tidak ada waktu untuk itu, karena justru pada saat pikiran kita paling sibuk dan harus terus bekerja, itulah saatnya kita paling memerlukan meditasi sebelum ‘bom waktu’ meledak.

Jadi kuncinya dalam meditasi ialah Anda biarkan saja pikiran lalu lalang, tetapi kendalikanlah diri Anda untuk tidak memberikan tanggapan, penghakiman, pelabelan, kemelekatan, dan sebagainya. Contohnya,  saat kita diam dan duduk, pikiran kita akan menggelitik dan menggoda agar kita lepas dari konsentrasi:”Apakah cara napas saya sudah benar?”, “Apakah cara duduk saya sudah tegak?”, “Kapan ini akan berakhir? Saya sudah mengantuk”, “Saya lupa menelepon klien. Saya harus lakukan sekarang atau saya akan kehilangan deal ini”, “Rasanya kepala saya berat. Lebih baik rebahan saja daripada bermeditasi terlalu lama.” Semuanya itu biarkan muncul, berkeliaran dalam kepala Anda lalu berlalu. Sepanjang Anda tidak memberikan reaksi dan bisa terus fokus pada napas (atau apapun yang Anda pilih sebagai objek), Anda telah bermeditasi dengan baik. Yang patut diingat ialah pada hakikatnya, bukan pikiran-pikiran tadi yang mengganggu diri kita tapi REAKSI kita terhadap semua itulah yang membuat kita sibuk dan konsentrasi menjadi terpecah.

Analoginya yang lebih sesuai dengan dunia digital yang kita akrabi ialah bagaimana saat orang-orang yang menjadi teman kita di media sosial memasang status yang menurut kita bertentangan dengan keyakinan dan sikap kita dalam hal apapun. Semua status itu sebenarnya bukan gangguan bagi kita kalau kita bisa membiarkannya lalu begitu saja. Namun, sebagian besar orang MEMILIH BAIK SECARA SADAR ATAU TIDAK untuk merasa terganggu dengan melabeli status-status tadi sebagai ‘musuh’ yang harus diburu dan dimusnahkan, ‘argumen’ yang harus didebat, ‘kebodohan’ yang mesti dibasmi, dan ‘kekonyolan’ yang harus disebarkan dan diolok-olok. Ada yang secara impulsif dan spontan melakukannya; ada yang lebih lambat dan cenderung ikut-ikutan saja atas dasar solidaritas; ada yang secara sadar menunggangi emosi-emosi negatif tersebut untuk melancarkan taktiknya mencapai tujuan. Jadi, sebetulnya cara orang bermedia sosial bisa menampakkan juga bagaimana tingkat kejernihan dan pengendalian pikirannya yang berkaitan erat dengan meditasi.

KONSENTRASI YANG TAK TERBAGI

Sebuah pandangan yang beredar di kalangan awam bahwa meditasi ialah ‘mengosongkan pikiran’ perlu diluruskan. Sebab seperti yang sudah dijelaskan tadi, meditasi masih membolehkan pikiran terisi tetapi bedanya saat bermeditasi, semua pikiran itu dibiarkan berlalu apa adanya tanpa penghakiman sementara dalam kondisi di luar meditasi, kita bisa lebih leluasa memberikan reaksi. Jadi, ini sebenarnya adalah pengendalian dari apa yang sudah ada – dan sekali lagi – bukan pengosongan atau pemusnahan yang ada. Mirip berpuasa, hanya saja ini puasa untuk level pikiran, yang lebih berat dan rumit dari sekadar berpantang makanan dan minuman atau berkata-kata kotor.

Sehingga meditasi bisa dikatakan sederhana. Intinya ialah memberikan perhatian yang tidak terbagi pada satu hal dala  benak kita. Anda bisa memulai dengan berfokus pada napas, dan jika suatu pikiran muncul dan sadarilah pikiran itu tetapi biarkan ia berlalu begitu saja tanpa harus membenci atau menyukainya secara berlebihan. Sadarilah bahwa pikiran itu bersifat sementara dan bisa berubah seiring waktu dan banyak faktor. Bisa jadi Anda membenci X saat ini, dan saat X besok berubah, Anda juga berubah menyukainya, dan sebaliknya. Itulah kefanaan dunia. Karena itulah, sekali lagi bersikaplah terbuka terhadap segala yang ada di dunia. Bila seseorang mendasarkan kebahagiaannya berdasarkan semua hal yang temporer ini, ia akan sangat sibuk untuk memberikan reaksi pada masing-masing hal itu sampai dirinya tenggelam dalam lautan kebingungan dan lupa pada tujuan hidupnya yang sejati. Ini seperti bepergian dengan banyak barang bawaan. Makin banyak beban, makin berat seseorang rasanya dalam menjalani kehidupan. Dalam meditasi, Anda belajar melepaskan beban-beban itu agar Anda dapat menjalani kehidupan dengan lebih ringan dan lincah, tidak terseok-seok dan kehabisan tenaga sebelum mencapai garis akhir.

Meditasi pada akhirnya bukan menjadi sebuah pelarian dari dunia nyata. Akan tetapi, ia berfungsi sebagai sebuah ‘liburan’ bagi diri ini, menguatkannya untuk menemukan kedamaian yang sejatinya sudah ada dalam diri tetapi terkubur seiring dengan kesibukan sehari-hari.

Di kemudian hari, kita dapat mengamati diri sendiri dan membandingkannya sebelum dan sesudah rutin bermeditasi. Biasanya sebelumnya, mungkin kita memberikan reaksi pada pengalaman-pengalaman yang menghampiri kita dengan reaksi yang sama saat kita memikirkannya. Saat bertemu dengan orang yang kita anggap sudah menyakiti kita, kita akan menjadi marah (dan mengabaikan kemungkinan bahwa di balik itu, mungkin orang yang kita benci itu memberikan pelajaran hidup yang berharga bagi kita). Atau jika kita menyaksikan peristiwa yang tragis, kita sedih sekali (dan pada saat yang sama menutup pikiran dari sudut pandang lain bahwa tragedi memberikan ruang bagi jiwa kita untuk tumbuh dan lebih kuat). Tiba-tiba kita sadari bahwa ‘kebahagiaan’ kita  begitu ditentukan oleh dunia luar. Kita hanya menjadi makhluk penderita yang cuma bisa memberikan reaksi terhadap rangsangan/ impuls yang bertubi-tubi dari luar secara konstan sampai lupa bahwa diri kita di dalam sudah bahagia dan tenang. Tentu bukan berarti mereka yang bermeditasi akan mengalami penumpulan emosi atau menjadi zombie atau robot yang bergerak tapi tidak bisa menangis atau tertawa. Emosi-emosi manusiawi masih ada dan tentu masih ada gunanya (karena inilah yang membuat kita bisa mempertahankan diri dalam kehidupan) tetapi hendaknya kita jangan sampai terhanyut di dalam aliran derasnya. Di sini, meditasi berfungsi sebagai jangkar yang membuat kita tetap di titik semula dan juga sebagai kemudi yang mengembalikan kapal ke jalur pelayarannya yang sudah direncanakan tanpa terbawa arus laut atau tiupan angin.

Meditasi tidak cuma bisa diterapkan saat kita duduk diam. Prinsip meditasi sebetulnya lebih luas dari itu. Kita bisa menerapkannya dalam menjalani kehidupan sehari-hari kita, saat menghadapi momen-momen menentukan dan bermakna dalam perjalanan hidup kita.

Caranya?

Cukup dengan mencurahkan konsentrasi sepenuhnya pada setiap aktivitas kita yang kita lakukan (ingat bahwa inti meditasi ialah perhatian yang tidak terbagi).  Kita bisa mengamati reaksi awal kita pada sesuatu tanpa bereaksi pada reaksi tersebut. Saya ibaratkan hal ini dengan mengamati diri Anda sendiri dari luar (seolah Anda seorang yang sedang mati suri dan roh Anda sudah melayang ke luar dari tubuh tetapi Anda masih hidup dan bisa melakukan apapun yang Anda mau). ‘Roh’ ini akan mengamati diri Anda yang biasanya reaktif, impulsif, bertindak tanpa berpikir dan kembali lagi dalam pikiran Anda untuk melaporkan,”Oh, lihat bagaimana kamu merasa terhina atau tersinggung saat si X mengatakan ini.” Inilah kenapa orang-orang yang bermeditasi tampak lebih tenang dan stabil emosinya dalam hidup karena mereka sibuk mengamati dirinya sendiri dalam memberikan reaksi pada dunia eksternal daripada mengamati dunia luar dan memberikan respon secara terus-menerus.

Karenanya, dapat dikatakan  meditasi memberikan peluang untuk penyembuhan bagi jiwa-jiwa yang sakit. Meditasi yang terapeutik ini tidak hanya membimbing pelakunya menuju keseimbangan dan stabilitas dalam diri (Self), tetapi juga membuat pelakunya mampu mengakses pribadinya sendiri, tindak-tanduk dan sikap yang kurang baik dan kurang dewasanya, kebiasaan-kebiasaan dan kecenderungan yang mengakar dan sulit diubah seperti kerak di dasar panci yang semakin lama dibiarkan semakin sulit dibersihkan. Alih-alih terus menerus terjebak dalam pola pikiran dan kebiasaan lama yang kurang baik, meditasi membawa kita ke gerbang perubahan seiring dengan makin meningkatnya kesadaran kita dalam menjalani hidup dan memberikan konsentrasi penuh dalam tiap detiknya. Hanya dengan demikian, hidup yang jernih akan teraih.

MENGINTEGRASIKAN DALAM KESEHARIAN

Tidak semua orang beruntung bisa bermeditasi setiap hari di bawah bimbingan seorang guru meditasi yang siap memandu kapanpun dan di manapun diperlukan. Kecuali mereka tinggal dalam sebuah asrama (ashram) di India yang dikelola secara ketat dan berlokasi di lingkungan yang tenang, aman dan nyaman. Ini semua merupakan ilusi atau impian dan ‘kemewahan’ yang tidak terjangkau bagi kita yang tinggal di perkotaan atau di tengah peradaban yang makin hiruk pikuk.

Jadi, bagaimana kita bisa menjadikan meditasi sebagai bagian dari keseharian?

Izinkan saya mengutip saran dari Mingyur Rinpoche. Ia mengibaratkan kecenderungan banyak orang untuk membiasakan meditasi sebagai cara seekor sapi kencing. Dari aliran yang kecil dan lambat dan lama-lama membesar dan deras lalu tiba-tiba berhenti sama sekali. Jadi, orang biasanya akan berlatih secara ambisius dan bersemangat pada awal-awalnya lalu menikmati puncaknya. Namun, begitu mulai bosan dan merasa bahwa meditasi menjadi semacam kewajiban, mereka mengendurkan diri. Dan akhirnya sama sekali melepaskan kebiasaan itu karena berbagai sebab dan alasan.

Rinpoche menyarankan agar kita berlatih meditasi secara bertahap dan sabar. “Sedikit demi sedikit,” ujarnya.

Alih-alih kencing sapi, kita lebih baik memiliki kebiasaan meditasi yang mirip tetesan air dari ember. Setitik demi setitik. Kecil tetapi terus menerus. Tapi terus menerus dan konsisten. Dan akhirnya bisa melubangi sebuah batu yang sekeras apapun.

Ada dua jenis latihan menurut Ringpoche yang bisa diterapkan dalam keseharian kita: meditasi formal dan informal. Meditasi formal ialah meluangkan waktu (durasi waktu terserah kita sendiri, asal setia pada komitmen tersebut) untuk duduk bermeditasi di jam tertentu.

Untuk meditasi informal, Anda bisa memakai banyak metode. “Karena Anda bisa bermeditasi kapanpun dan di manapun,” tandasnya.

Dan pesannya yang tidak kalah penting ialah: melepaskan ekspektasi. Daripada mencanangkan sebuah tujuan (“Meditasiku harus menyenangkan”, misalnya), Anda bisa berfokus pada keteguhan niat untuk melakukan meditasi sebaik yang Anda bisa tanpa berharap muluk-muluk dan membiarkan perjalanan meditasi Anda mengalir alami.

MERASAKAN PERBAIKAN

Mengukur kemajuan kita dalam berlatih meditasi sangat sulit karena aspeknya yang non-fisik. Dan sebagaimana dalam latihan asana, kita akan juga dihadapkan dalam kompetisi (ya, ada kompetisi juga dalam meditasi) yang kita bisa temukan dalam pembicaraan-pembicaraan soal pengalaman meditasi. Bukan berarti seminar atau diskusi soal meditasi buruk tetapi di dalamnya terdapat ‘jebakan-jebakan’ yang amat halus bagi para pelakunya untuk memamerkan ‘prestasi’ meditasi mereka. Saat Anda mendengar pengalaman meditasi orang lain yang berbeda dan menurut Anda lebih ‘tercerahkan’, Anda mungkin akan merasa sedih atau kecewa karena Anda tidak kunjung ke tahap tersebut. Yang lebih buruk lagi ialah jika berbicara tentang meditasi membuat Anda menjadi berbohong dan tidak nyaman dengan diri sendiri. Misalnya karena Anda ingin membuat orang lain terkesan, Anda akan mengarang pengalaman meditasi Anda. Jadi, jujurlah pada orang lain dan terutama diri Anda sendiri.  Abaikan opini orang lain atau pengalaman orang lain dalam perjalanan meditasi mereka. Perjalanan Anda adalah milik Anda. Tetaplah dalam jalur Anda tanpa merasa iri atau dengki pada yang lain. Dan sekali lagi, ini merupakan tantangan yang sangat abstrak dan memerlukan kepekaan spiritual yang tinggi.

Namun, untuk mengukur kemajuan itu secara lebih pasti, kita bisa mengamati perubahan-perubahan dalam aspek kehidupan kita. Apakah badan kita merasa lebih rileks usai meditasi? Apakah emosi kita lebih terkendali sehabis meditasi? Itu hanya beberapa indikator yang konkret. Seiring berjalannya waktu dan makin sering bermeditasi, kita akan menemukan perubahan-perubahan lain yang lebih halus dan abstrak.  Kadang perubahan itu begitu halus hingga kita sendiri tidak menyadarinya dan hanya orang lain yang bisa merasakannya. Tetapi sekali lagi, konsistenlah dalam berlatih dan rasakan kebahagiaan dalam tiap detik hidup kita sekarang dan di sini. (*)

Bagaimana Insomnia Bisa Sirna dengan Yoga

Problem manusia modern: sekuat tenaga mengusir kantuk di siang hari dan berupaya setengah mati mengundangnya kembali di malam hari. (Foto: Radiantly Alive Yoga Studio ,Ubud)

“WARAS ya kamu sudah tidur jam delapan malam???!!”

Begitu kira-kira jerit teman saya yang penderita insomnia dalam sebuah percakapan di grup WhatsApp begitu saya pamit bahwa saya mesti segera tidur, lampu kamar telah padam, dan ‘ritual-ritual’ relaksasi telah terlaksana tuntas dan akhirnya mematikan ponsel agar ketenangan tercapai segera.

Sebenarnya saya masih belajar untuk menerapkan disiplin ketat dalam istirahat malam saya. Ini semua karena ingin tahu efeknya pada kesehatan dan keseimbangan hidup saya.

Seorang teman lain mencemooh,”Bukannya orang yang IQ-nya tinggi itu suka begadang ya?”

Saya katakan padanya tanpa tersinggung,”Tidak masalah kok. IQ bukan segala-galanya dalam hidup. Yang penting hepi.”

Lalu ia makin mencemooh saya dengan mengunggah foto di Instagramnya dengan mengunci kotak komentar. Caption fotonya yang sedang di kolam renang berbunyi:”Yang penting hepi.” Ada-ada saja memang.

Saya menulis ini bukan karena saya juga terbebas dari ‘dosa-dosa’ begadang. Justru karena saya sudah pernah merasakan dampak buruk begadang dan saya sudah tahu dampak positif displin jam tidur, saya bisa memutuskan mana yang saya pilih agar saya bisa menjadi manusia yang tidak mensabotase kesehatan dan nyawanya sendiri dalam jangka panjang.

Sebelumnya tahun lalu saya sudah berupaya keras mengatur jam tidur dengan memajukan sesi persiapan tidur dari maksimal pukul 11 malam menjadi 8 malam karena saya harus bangun pukul 4 untuk beribadah (jadi setidaknya 8 jam istirahat setiap malam, yang sudah mencakup persiapan jadi tidur lelapnya kurang dari 8 jam juga sebetulnya).

Dibutuhkan KONSISTENSI dan KETEGASAN untuk menolak ajakan-ajakan bersosialisasi di malam hari (entah itu hang out di kafe sampai larut atau menonton bioskop tengah malam atau merayakan tahun baru). Ini tentu agak kurang bisa diterima  dalam tatanan masyarakat ibukota, yang menuntut kesediaan untuk kapan saja bisa bekerja dan bersosialisasi baik itu secara maya maupun nyata.

Namun, dari penataan pola tidur yang saya majukan itu, saya mulai merasakan perubahan yang positif. Pertama, saya bisa bangun lebih pagi dan tidak melewatkan salat subuh. Ada semacam kelegaan dalam memulai hari bahkan sebelum matahari menampakkan diri dan bulan masih ada di langit. Saya seolah sudah ‘mencuri start’ dan saat yang lain masih mendengkur saya sudah memulai aktivitas. Dan meski toh nantinya mereka akan tidur lebih larut dan bekerja lebih lama, dan saya tidur lebih cepat dan bekerja lebih pendek, sampai kapan tubuh dan pikiran mereka bisa menahan semua siksaan ini? Hanya Tuhan yang tahu. Namun, para ilmuwan sudah membuktikan bahwa tidur berkualitas merawat ingatan dan kestabilan emosi dan juga kesehatan jasmani dan rohani.

Teman saya lagi-lagi berkilah bahwa saya bisa tidur cepat karena saya memiliki beban pikiran yang lebih ringan dan lalu lintas pikiran saya tidak sepadat dirinya. Kata ‘padat’ sangatlah subjektif di sini. Dan musykil untuk benar-benar mengetahui pikiran siapa yang lebih padat daripada yang lain. Semua manusia saya pikir memiliki beban pikirannya masing-masing. Namun, mereka juga diberikan pilihan untuk bisa mengendalikan pikiran mereka atau balik dikendalikan pikiran mereka. Saya memilih yang pertama. Saya majikan dari pikiran saya. Jadi, apapun yang terjadi dalam pikiran saya, begitu saatnya harus istirahat, “istirahatlah”, perintah saya pada pikiran (dan ini akan menjadi perjuangan yang konstan sepanjang hayat).

Dampak perubahan jam tidur itu juga membuat saya bisa menikmati yoga di pagi hari yang terasa lebih menyegarkan dibandingkan beryoga di malam hari. Dan saya merasakan kekebalan tubuh yang terpelihara selama saya mengadopsi pola hidup ini. Saya duga ada alasan mengapa latihan yoga asana di pagi hari dimulai dengan menghadap matahari. Bukan karena ingin menyembah matahari, tetapi karena sinar matahari bagus untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh.  Bergerak sampai berkeringat sambil merasakan hangatnya sinar matahari menjadi asuransi kesehatan yang tidak terhingga dan gratis bagi saya. Dan saya merasa sehat wal afiat selama memelihara pola bangun dan tidur semacam ini. Keluhan-keluhan kesehatan ringan semacam flu, sakit kepala dan sakit perut dan semacamnya, sangat jarang saya alami (yang tentunya sebagian juga diimbangi dengan asupan yang sehat).

Dari sini, saya tarik simpulan bahwa salah satu faktor penting dari cara hidup sehat (bukan ‘gaya hidup’ sehat, karena gaya terkesan sementara, kalau sedang tren saja), ialah memelihara jam istirahat malam sebaik mungkin. Jika sangat tidak terpaksa untuk begadang, sebaiknya hindari. Sesekali boleh saja. Namun, bila sudah menjadi kebiasaan, atau gangguan tidur yang akut dan kronis, perlu diambil tindakan segera.

Lalu apa yang saya biasa lakukan sebelum tidur?

Saya menghindari KAFEIN (saya tidak begitu suka kopi kebetulan) dan NIKOTIN (saya tidak pernah menyukai rokok) dan ALKOHOL (saya bukan penggemar miras). Tetapi bagi Anda yang sangat sangat suka kopi, Anda tahu pilihan Anda: kesehatan atau kesenangan. Karena manusia sekali lagi hidup dengan pilihan mereka dan menanggung konsekuensi pilihan-pilihan mereka. Itulah karma. Hukum sebab akibat yang bisa Anda rasakan tanpa perlu melewati beberapa fase kehidupan. Intinya saya hindari semua makanan dan minuman yang terlalu merangsang sistem pencernaan. Dan yang terpenting juga: makanlah 3-4 jam sebelum tidur. Artinya jika Anda hendak tidur pukul 9 malam, makanlah pukul 6 petang. Setelah itu jika masih lapar, makan buah atau minum air putih. Saya suka dengan ide berhenti makan selama 12 jam ini karena mirip dengan puasa. Jadi, kalau saya melakukan ini setiap hari (makan malam pukul 6 petang dan makan pagi esoknya pukul 6), sistem pencernaan saya memiliki waktu jeda yang lumayan panjang sehingga proses pembersihan (detoksifikasi) harian bisa tuntas, yang artinya tubuh lebih sehat. Bagaimana tubuh bisa bersih dari racun jika Anda masih membuatnya bekerja saat ia sudah harus dibersihkan? Ini seperti mengepel lantai saat masih banyak orang lalu lalang. Yang mengepel lelah dan tetap kotor. Lalu harus bagaimana? Tutup pintu agar orang tidak lewat dan pel hingga bersih. Begitulah juga yang terjadi dengan tubuh kita. Jika kita terus kita pakai saat ia sendiri ingin istirahat dan membersihkan diri, apakah prosesnya akan optimal? Anda bisa menjawabnya sendiri.

Yang sama adiktifnya dengan ketiga zat di atas dan menjadi musuh bagi  istirahat malam Anda ialah:

PONSEL CERDAS DI TANGAN ANDA!

Saya tidak mengatakan Anda mesti buang ponsel mahal itu ke tong sampah tetapi setidaknya tetapkan disiplin dalam waktu penggunaannya. Cahaya dari layar ponsel diketahui membuat kita terjaga. Dan saya membuktikan itu juga. Benar memang. Saya lebih susah tidur dengan lampu menyala dan ponsel yang terus hidup di tangan. Meletakkan di samping tempat tidur tanpa mematikannya juga sia-sia karena Anda terus gelisah, seolah menanti jika ada pesan atau panggilan penting. Tentu ada urusan-urusan darurat yang membutuhkan kita menghidupkan ponsel semalaman, tetapi jika urusan darurat itu ialah tenggat waktu pekerjaan, saya sarankan jangan terlalu sering sampai mengorbankan kesehatan. Apalagi menunggui ponsel semalaman hanya untuk melihat siapa saja yang sudah komentar atau like unggahan terbaru Anda. Duh! Lagipula, ponsel dan benda apapun yang mengeluarkan cahaya membuat otak Anda terus aktif. Makanya, redupkan atau lebih baik lagi padamkan semua benda elektronik di ruang tidur Anda. Sebelum tidur ssaya matikan atau saya atur ke moda pesawat (airplane mode) agar tidak ada panggilan atau pesan masuk selama saya tidur dan bisa mengagetkan saya, serta menjaga kesehatan saya karena dengan begitu mengurangi paparan radiasi pada tubuh dan kepala juga.

“Lalu mana yoganya???!!” Begitu mungkin protes Anda yang membaca.

Pernah saya ditanya,”Mas, pose yoga apa yang membuat tidur lebih nyenyak?

Saya tidak menjawab dengan memberikan pose-pose yang ia maksud, seakan memberikan solusi instan yang pasti jitu dan manjur. Bukan. Jika Anda ingin solusi instan kesulitan tidur, tenggak saja pil tidur. Tapi karena saya yakin kesulitan tidur itu salah satu gejala dari adanya masalah lain yang lebih kompleks maka saya jawab,”Bisa cari dulu sebabnya sulit tidur karena faktornya sangat kompleks sehingga mengobatinya juga kompleks. Baru setelah diketahui akar masalahnya, diatasi dengan penanganan lainnya, dan di saat yang sama silakan mencoba yoga.” Lagipula sangat absurd untuk bertanya soal obat keluhan ini atau itu degan yoga tanpa memberikan konteks (penjelasan) mengenai riwayat orang yang dimaksud, bagaimana pola hidupnya, pekerjaannya (jenis pekerjaan juga sangat berpengaruh), karakter orang yang bersangkutan dan caranya menghadapi tantangan hidup.

Dalam yoga, para yogi yakin bahwa bagaimana seseorang tidur erat kaitannya dengan cara seseorang bangun. Sehingga semuanya saling terkait. Seperti telur dan ayam. Mana yang lebih dulu ada, mana yang lebih penting? Meskipun saya benci tebakan semacam ini karena konyol, saya jawab keduanya sama-sama penting. Kembali pada pendapat para yogi, mereka menyarankan orang-orang yang sulit tidur untuk mengelola energi (prana) dalam tubuh halus kita. Bagi orang dengan kondisi keluhan sulit tidur yang relatif simpel, mengelola raga (dengan cara berolahraga berat setelah matahari tenggelam agar tubuh capek dan lebih cepat tidur) mungkin solusinya. Tapi bagi Anda yang penyebab masalah sulit tidurnya lebih rumit, cara ini (berolahraga dengan intensitas berat seperti weightlifting, kelas power yoga atau vinyasa yoga) bahkan bisa membuat Anda lebih gelisah sepanjang malam karena adrenalin terpompa dan sirkulasi darah lebih lancar dan tubuh menjadi lebih hangat seakan siap beraktivitas (padahal tubuh harus dikondisikan lebih rileks dan dalam kondisi sejuk agar bisa rehat). Namun, sekali lagi, kasus per kasus berbeda. Satu orang bisa mengatakan cara X efektif sementara yang lain tidak. Jika berolahraga berat tidak bisa menidurkan Anda, cobalah yoga yang bersifat relaksasi seperti yoga restoratif (yang bertujuan mengembalikan kondisi tubuh agar lebih segar) atau yoga nidra (yoga dalam kondisi savasana dan diiringi dengan panduan dari seorang guru).

Bagi Anda yang ingin mencoba beberapa teknik yoga untuk mengatasi atau setidaknya meringankan insomnia di malam hari, cobalah dua kiat berikut ini yang disarankan oleh guru yoga Tara Sakti.

BERNAPAS DENGAN RASIO 2-1

Pernapasan ini dilakukan untuk mengaktifkan sistem syaraf parasimpatetik sehingga kondisi rileks tercapai. Caranya ialah dengan berbaring di tempat tidur (setelah semua kondisi kondusif) dan bernapas dengan teknik hitungan 2 banding satu. Artinya, Anda mengeluarkan napas (exhale) lebih lama daripada saat mengambil napas masuk (inhale). Perbandingannya dua banding satu, jadi saat Anda membuang napas, pastikan dalam dua hitungan, dan mengambil napas masuk dalam satu hitungan saja. Dan jika perlu, perpanjang hitungan napas tersebut, misalnya dari 2-1, menjadi 4-2, atau 6-3, dan makin panjang lagi jika bisa namun sebaiknya tidak terobsesi untuk mencapai hitungan tertentu. Yang penting Anda merasa napas menjadi lebih panjang dan dalam, serta meminimalkan ketersendatan irama napas. Dengan kata lain, Anda mengubah pola napas dengan memperpanjang napas keluar, karena dengan demikian tubuh dan pikiran akan cenderung lebih santai dan rileks. Istilah yang sering dipakai guru-guru yoga untuk menggambarkan ini ialah “surrender”. Anda memasrahkan diri agar pikiran bisa menjadi lebih tenang dan rileks, sekaligus meyakinkan diri Anda bahwa semua beban pikiran dan apapun itu yang mengganjal dalam benak pasti ada jalan keluarnya dan esok hari masih ada waktu untuk memperbaiki atau menyelesaikannya. Yang penting sekarang adalah waktu Anda mengistirahatkan diri sepenuhnya.

HITUNG NAPAS

Gunakan pola 2-1 di atas dalam teknik berikut ini. Berbaringlah dengan nyaman dan perhatikan lebih cermat napas Anda sendiri dalam kondisi mata tertutup. Halus dan ringankan napas jika tersengal atau berat secara bertahap dan perlahan-lahan. Setelah Anda merasakan pola napas lebih ringan dan lancar, ambillah 8 repetisi napas dengan berbaring, 16 repetisi napas di sisi kanan tubuh Anda, kemudian 32 repetisi napas di sisi kiri tubuh Anda.

Nah, jika Anda sudah membaca ini, jangan cuma dibaca lalu tetap memandangi layar ponsel atau laptop sepanjang malam. Matikan dan praktikkan segera. Selamat rehat! (*)

Memilih Minyak yang Tepat untuk Anda Ala Ayurveda

JIKA Anda mirip seperti saya yang memiliki kulit kering dan tubuh yang kurus serta tulang dan sendi yang menonjol, saat-saat seperti sekarang ini (musim hujan) ialah musim yang lebih menyiksa karena cuaca berubah-ubah dan cenderung basah serta berangin.

Dalam perspektif ayurveda (metode perawatan kesehatan tradisional ala India), orang-orang seperti saya memiliki kecenderungan untuk memiliki keluhan kesehatan seperti:

  • sendi yang ngilu saat dingin
  • istirahat malam yang kurang nyenyak
  • gangguan pencernaan
  • sembelit
  • gas
  • gangguan punggung bawah
  • pikiran yang gelisah
  • rutinitas yang kurang teratur
  • sakit telinga
  • kurang percaya diri
  • kesepian

Perawatan diri dengan minyak yang sesuai dapat meringankan dan/ atau menghilangkan keluhan-keluhan kesehatan ringan di atas.

Bagi orang dengan unsur vata (angin) yang berlebihan seperti saya, penggunaan minyak yang tepat akan membuat saya bisa lebih membumi karena tubuh saya memiliki kecenderungan ringan, mengalir dan tidak stabil layaknya angin yang terus menerus bertiup dan tidak bisa diam.

Vasant Lad, BAMS, MASc, (pakar ayurveda yang bermukim di New Mexico, AS) menyarankan bahwa untuk bisa lebih seimbang, kita perlu menemukan jenis minyak yang tepat untuk diri kita. Di tanah Hindustan, minyak-minyak dianggap sebagai berkah bagi umat manusia. Minyak berkhasiat menyembuhkan tubuh yang sakit, mempercantik kulit secara alami, serta memberikan asupan gizi bagi sistem pencernaan kita.

Jadi, jenis minyak yang mana yang sesuai bagi kita?

Ayurveda merekomendasikan minyak sesuai tipe kecenderungan tubuh kita (dosha). Dalam ilmu ayurveda, ada tiga jenis dosha yang perlu diketahui. Seorang manusia bisa saja memiliki satu dosha yang dominan atau kombinasi dari dua unsur. Ketiganya yakni:

  • vata:  unsur ini mewakili angkasa dan angin. Minyak yang disarankan yaitu minyak biji wijen, minyak zaitun, minyak alpukat, minyak kelapa dan minyak mustard
  • pitta: Dosha ini mewakili elemen air dan api. Minyak yang disarankan yaitu ghee (mentega murni yang telah dijernihkan), minyak biji bunga matahari, minyak zaitun, minyak kedelai, minyak flaxseed, minyak walnut dan minyak kelapa
  • kapha: Dosha ini mewakili elemen air dan bumi. Jenis minyak yang disarankan ialah minyak jagung, minyak kanola, minyak biji wijen, minyak biji bunga matahari dan minyak mustard

Bila Anda berbelanja, temukan minyak-minyak di atas yang diproduksi secara organik dan tidak dicampur dengan bahan-bahan lain karena minyak itulah yang terbaik untuk Anda gunakan.

Untuk merasakan khasiatnya, pijatlah tubuh dengan minyak pilihan Anda. Cara memijat tubuh dengan minyak ini disarankan dilakukan sebelum tidur. Hangatkan minyak pilihan Anda baru kemudian pijatkan dengan lembut ke sekujur tubuh. Fokuskan pijatan pada bagian-bagian yang peka dan menjadi jalur masuknya angin (yang berhembus kencang di musim hujan), seperti kedua telinga, lubang hidung dan bibir, pusar, genitalia, dan dubur.

Jika mengalami kesulitan tidur di malam hari, cobalah untuk menggosokkan minyak ke bagian telapak kaki dan gosok lembut juga kepala Anda dengan minyak. Kemudian mandilah dengan air hangat dengan sabun lalu gosok seluruh tubuh dengan perlahan. Otot-otot akan terasa meleleh dan mengendur dan Anda akan tertidur pulas seperti bayi.

MULUT DAN GUSI

Tiap malam sebelum tidur, gunakan beberapa tetes minyak biji wijen dan balurkan ke gigi dan gusi lalu biarkan sejenak kira-kira 1-2 menit. Baru bilas dengan berkumur.

Kemudian Anda bisa menuangkan sedikit minyak lagi dan menaruhnya di di ujung jari telunjuk lalu memijatkannya di gusi. Ini disebut kavala. Cara ini baik untuk meredakan keluhan di gigi dan gusi, seperti gigi yang bengkak atau baru tumbuh, gusi yang terkikis (karena terlalu keras menggosok gigi setiap hari), gigi sensitif, dan mencegah lubang di gigi serta sakit telinga.

TELINGA

Charaka, bapak ilmu ayurveda, menyarankan penggunaan beberapa tetes minyak bawang putih segar ke setiap telinga tiap hendak tidur malam setiap dua minggu sekali.

Didihkan 1 sendok makan minyak biji wijen dan setengah butir bawang putih segar yang dicacah kecil hingga bawang putih itu kecokelatan. Kemudian peras bawang itu agar keluar minyaknya. Dinginkan minyak tadi sejenak hingga sama dengan suhu tubuh. Berbaringlah ke sisi kiri dan masukkan 5-10 tetes minyak tadi ke lubang telinga kanan Anda. Berbaringlah beberapa menit. Kemudian berganti ke sisi lain dan tuangkan minyak ke lubang telinga kiri. Nikmatilah tidur Anda yang niscaya akan lebih nyenyak setelahnya.

Minyak bawang putih ini memiliki aroma yang khas yang dapat menenangkan pikiran dan membuat Anda sendu. Cara ini baik bagi mereka yang menderita TMJ (temporomandibular joint disorder), tinnitus, kotoran telinga dan menurunnya daya dengar. Namun, perhatikan jika ada keluhan infeksi di telinga, hindari menuangkan minyak ini ke dalamnya.

HIDUNG

Meski terkesan aneh, memasukkan minyak ke lubang hidung dapat menenangkan mereka yang ber-dosha vata. Cara ini disebut nasya. Selain itu, ia dapat meningkatkan penglihatan dan mengurangi dengkuran.  Minyak juga bisa dimasukkan ke hidung untuk melegakan hidung yang tersumbat (asal minyak itu sudah dihangatkan hingga sesuai suhu tubuh normal), mata yang kering, leher yang kaku, sakit kepala, migrain, dan bahkan spondylarthritis.

Anda bisa melakukan nasya hingga dua kali sehari (dalam kondisi perut kosong dan setidaknya sejam sebelum atau sesudah mandi). Caranya ialah berbaringlah dengan wajah menghadap ke atas, dengan bantal di bawah bahu dan kepala Anda menengadah ke belakang sehingga lubang hidung Anda menghadap ke atas. Teteskan minyak khusus hidung/ ghee hangat sebanyak 3-5 kali untuk tiap lubang hidung. Istirahatlah dalam kondisi kepala Anda di posisi ini selama semenit.

USUS BESAR

Untuk menghindari sembelit atau konstipasi (karena kekurangan cairan akibat mengabaikan minum di hawa dingin), masukkan kira-kira satu cangkir minyak wijen hangat ke rektum dan cobalah menahannya selama mungkin. Cobalah setidaknya 10 menit dan coba lebih lama keesokan harinya. Barulah ke kamar mandi untuk buang air.

Enema minyak ala ayurveda ini disebut sebagai anuvasana basti. Cara ini akan melumasi usus besar, meringankan sembelit, menyembuhkan pendarahan di area sekitar anus, dan meringankan sakit pinggang. Bagi wanita, cara ini baik juga untuk meringankan keluhan dysmenorrhea, menstruasi yang sakit serta post menstrual syndrome (PMS). Hindari penggunaan enema jika lidah Anda diselaputi lapisan putih yang tebal. Wanita hamil, datang bulan, dan didiagnosis menderita keluahn di bagian vagina juga tidak disarankan menjalani enema. (*/)

My 10 Yogic Reflections [Jason Crandell’s Instagram ‘Challenge’]

I’m very intrigued by Jason Crandell‘s unique approach to giving an Instagram yoga challenge! No apparel sponsor, no friends’ tagging, no obligation to perform asanas (well, you still need to post a photo to accompany the caption though) and thus no material or financial prizes to win, which I don’t mind.

It’s a reflection of yogic values, which entails us to go deeper to our conscience and awareness. So here I am, trying to give it a shot. ‎There’ll be 10 values.

‎#1 *Continue to Grow and Revise*

I once heard a piece of advice from a teacher around my circle that to be a competent practitioner of anything – be it yoga or any other fields – one is to possess the patience of a seed. In order to grow into a tall, large tree with roots that holds the earth, ‎there is no shortcut to take. One has to take the journey really slowly so as to let the knowledge and experience sink in and instilled into the very soul. Enjoy the process without complaining.

In my yoga practice, I’m a slow learner to be sure. It’s been 7 years of practice and I feel there is so much stuff to learn in many years ahead.

Continuing to grow and revise also means to me that the more I learn diverse knowledge and insights which sometimes conflict against each other, I need to firmly hold the principle of openmindedness. It is very essential because I need to stay that way if I want to be a long-life student of yoga or anything. ‎Once I go narrow-minded, I might as well end my journey of being a student. Because I feel content already with what I know and understand.

#2 *Be Critical Thinkers and Engaged Practitioners*

I am so lucky to have been born in a family of educators. With both of my parents working as teachers, they laid the foundation of my education. I took my first English course, for example, when I was a six grader. I thanked them for letting me in the course.

But my enthusiasm started way earlier than that. Armed with proper level of literacy and basic English proficiency, I read more and more books on various issues, ranging from fiction to culture. I can safely conclude that my third parent — intellectwise — is books.

And at a certain point in my book reading, I found some conflicting sources of ‘truths’. At first, it felt odd but then it became okay to me. Reading books with various contradictory ideas is much better than watching debates on television or reading pointless debates of some morons on social media. All of the arguments were served systematically and neatly.

That is why I always observe authorities — whether they be my parents, my boss(es), my senior colleagues, and also my yoga teachers. If I notice any behaviors or attitudes different from messages they convey to me, I challenge them in various ways. Most of the time, I don’t confront in person (I’m introverted, by the way) which is why I resort to writing. Writing a piece that deconstruct their opinion or mind construction. That way, I can get my messages across to other people without hurting anyone’s ego.

Being a critical yoga practitioner also means that I don’t solely dedicate myself to one teacher as a source of knowledge. Neither do I belong to a single yoga style or school or lienage. I humbly thank this invaluable lesson of non-attachment to some of my first teachers whose names I keep for myself.

Being critical also engages me more with my yoga practice. To study better, we certainly need a teacher to guide. But when a teacher directs us to an aim we don’t feel quite right for any reason, stop and take time. We’re not sheep to herd. We’re humans with physical, intellectual and spiritual independence.

#3 *Develop a Point of View Without Minimizing Other Points of View*

As a yogi, I learn so much not only from other yogis and yoginis (and books on yoga obviously) but also from people from diverse walks of life. Ones of them are politicians. We all know politicians are creatures that make most headlines in any countries on earth. They are highly influential, sickeningly controversial, horrifyingly smart figures. Yes, these folks, especially, showed what can happen when they utilize black campaigns for their own political gains.

But I also discover very few of politicians who stay true to their conscience despite this. As far as I can observe, they seem to disallow the use of black campaign. They focus on what their work, tasks, chores, and at the same time reacting to any efforts of disgrace shown by foes.

Because we humans are creatures (zoon politicon) that always have political structures and patterns when we live as a group, I believe also that yogis and yoginis are also like these politicians. Some are angelic, almost like saints. Some are still in their journey to get wiser. Some are getting into the wagon because of financial needs and power-influence greed.

So when Jason says yoga teachers should know how to be confident to defend their belief without condemning others, it really rings true to me. That in order to survive, you don’t need to wage wars against others. But guard your values and ideas like holding onto your last shreds of dignity.

It’s day 4 of @jason_crandell ‘s unorthodox yoga challenge. I’m no huge fan of challenges but if I do‎ take part in one, I want it to be meaningful and reflective. It’s pretty much my yoga diary.

#4 *Be an Advocate of Your Students*

‎On one particular occasion, my first guru stated that yoga is his ‘religion’. Yet, though he is so attached to yoga in some way, he also reminded everyone of the fact that yoga is one of myriad tools available in the universe for human beings to use for their best interest.

That being said, he never gets too bored to let people know this message:”If you get sick, go see your trusted doctor as well. Don’t just do yoga and wish you can recover tomorrow miraculously.”

I cannot agree more on his proposition. Yoga is good and awesome and healthy, but using yoga alone to‎ heal ourselves from acute or chronic pain, any disorders, terminal illnesses, is quite risky. Ridiculous even.

As complex as causes of illnesses that we suffer from, so are our methods of healing. This is in line with Jason’s openmindedness regarding various types of approach other than yoga when it comes to handling a problem of wellbeing. (*)

(Credit: Machfud Achyar)

P. S.: This post will be updated until completion.

Ronan Tang Cares for the Heart

THERE are two types of class I always take at a yoga festival. One is a class I’m most familiar with and second is one I’m most unfamiliar with. The first is to deepen and refresh my prior knowledge in case I’d left something important in my daily practice. A gentle reminder, I can say. The second helps me broaden my views. This type of class is very much exciting as I see myself as a triar.

Ronan Tang brought us in that quite humid afternoon a reminder of how crucial and vital but almost forgotten our heart really is. This is an organ that shows one’s life. Once it stops beating, it means an end of a life. And thus, the health of it guarantees a productive, full life.

Getting to Know our Heart 

What is unique about heart is that it’s one of very few organs in human body which never gets attacked by cancer. “Have you ever heard of heart cancer? No!” he convincingly quipped.

He has an argument. Heart is an organ that constantly works throughout one’s lifetime (besides small intestines). Because our heart always moves and pumps blood, it’s very hot by nature and cancer cells can’t thrive in it. “Cancer cells are like mushrooms, they can only thrive in humid, dark places. They can’t survive in a place where sunlight is too much. They die instantly.”

That being said, Ronan can’t stress more on the importance of keeping our extremeties (body limbs such as arms and legs) warm. But this warmth is not produced by external heat source. The heat must come from inside, i.e. one’s heart. A healthy heart can pump blood strongly so as to keep the furthest bodily parts warm and well circulated with oxygenated, fresh blood. So he advises that if one wants to stay healthy, always make sure that one’s hands and feet are warm.

When one is attacked by any type of cancer, more focus is put on how to get rid of cancer cells. Seldom do people try to seek a root problem of this. Why do cancer cells grow there? That’s a question one needs to address in the first place. Ronan mentions the importance of having extra energy in the ‘dantien’ to warm up the lower and upper extremities (feet and hands).

Besides showing how healthy one is, feet can also indicate one’s aging process. People grow old from their feet, Ronan said. Normal and healthy babies usually have warm, supple and soft feet. Old men have just the opposite condition of feet. Their feet get dry, cold and hard.

Ronan points out that if we want to take care of our heart better, we must pay more attention to how our feet and hands stay warm all the time from inside. It’s a sign of a normally-working, healthy heart. Another sign of healthy heart is normal, fully functioning reproductive organs.

Afterwards, the next question is: How can we maintain this ideal warmth in our hands and feet and at the same time, cool down our head? Because our problem these days is that most people usually experience this: cool dantien but warm (or hot) heads.

How to Care for Our Heart

Taking care of our heart where anahata chakra lies is the key to getting rid of various illnesses, disorders resulting from imbalance. “Your mind and body determines everything,” Ronan pointed out.

When someone is trapped in a vicious energy pattern which eventually drags them to the abyss of suffering (whether it be anxiety, depression, cancer. etc), it’s vital that the heart is once again revitalized so as to bring more energy to someone’s soul, nourishing it to deal with whatever challenges life may bring.

The first step to break this evil circle is making efforts to concentrate our mind on the inner self. “And then from there, we can bring the fire down,” he added.

Whenever obstacles get in the way to bring heat down, fix the root problem first. First thing first: correct our bodily posture. Provide enough space for heart by avoiding hunching too often and too long. “Beneath our heart lies our diaphragm. When we get stressed out, diaphragm keeps pushing up against our heart, leaving less space for heart to expand. Because to achieve a healthy heart, it should expand itself. When it can expand, it can receive blood.”

After the heart is revitalized and thus full with energy, the next step is channel the energy down to our extremities. “Problems arise when the energy is stuck around our chest. To channel it downward, we stay away from too much cold foods and drinks, or eat too little or too much.

What is interesting to me is when Ronan stated that it’s not enough with meditation only. After concentrating your mind on clearing all blockages, the next thing to do is move our body to manifest this improvement process. Meditation (which involves visualization of channeling energy downards) is therefore not enough to achieve holistic health. One must also move the physical body.

Techniques to Apply

Now we arrive to the most practical part of the class, which I like most. Here are some tehcniques for us (especially for those with cancer and other terminal diseases) to apply on daily basis Ronan recommends:

  1. Deepening and prolonging breaths: This is done by opening our thoraxic area (chest) and practicing pranayama. Performed correctly, this is effective to release tension in heart. A simple breathing technique to release is take a deep breath and then hold for a few seconds and then exhale slowly from mouth.
  2. Thunderdrum: Imagine you’re like a gorilla punching its chest with its fists. This move may activate T cells which are helpful for our immunity system. This is good for people with cancer. Pressing the center of sternum is also effective to get rid of stress and anxiety, indicated by shallow breaths.
  3. Releasing the superficial layers of myofascia: You can do this by pinching gently your own skin, from the lower waist to shoulders. Ronan says it helps us prevent breast cancer.
  4. Energy clapping: In the morning, use your hands to slap your body softly but powerfully. The parts of body to slap on are ones where accupressure points lie. This technique is to create space for lower dantien. One may slap from several dozens to a hundred in a single session.
  5. Laughing is the best medicine: It’s not the external artificial medicine that cures us but our chi, our own energy, that can cure our diseases. This can be done by gently beat chest with fist in the morning while mouth is half open to let out the air. Laugh and play with children when you feel stressed out to release any tension in the heart. If one finds it hard to laugh, try emulating laughs by pronouncing “hahaha” for several minutes.
  6. Changes of lifestyle: Ronan highlighted some lifestyles these days that he thinks is not worth it. To take care of heart, avoid at all cost modern lifestyle such as partying all night long, drinking liquor excessively. He also advised that one reduce sexual activity when getting older and under unfit conditions.

Ronan also challenges some modern approaches that see and cure illnesses unholistically. Such as when someone suffers from a spine problem, s/he is told to strengthen back and abs muscles. That may be effective to some extent but doesn’t necessarily address the root of problem. “Where does the energy come from in this case? From our kidney. Because our kidney and our lower dantien are connected. They both give energy to our spine.”  (*)

Mark Yeo on Finding the Middle Path in Our Yoga Practice 

The blog keeper (left) and Mark Yeo (right) at Namaste Festival 2017

IT’S been a while since the last time I attended Namaste Festival. It was two years ago as last year it wasn’t held. I remember in 2015 I came to the festival as a media volunteer, working as a blogger and then getting an access to a class or two, which was quite good because we did it for pleasure and fun. We love yoga and nothing is hard to do when you do it for passion. At least for me. But the committee unfortunately no longer deemed the existence of media center volunteers necessary and vital to the event so we can’t do anything about it.

This year I made a comeback as a full participant. That didn’t necessarily mean I used up all the class tickets though. I tried to stay sensible by not exhausting myself to death from participating in 6 classes all day long. Besides, this festival is not always about taking more classes and see cool teachers from foreign countries or idol teachers you’ve been longing for since the first second you’re stalking his or her Instagram newsfeed. It’s more about to find a fresh approach to my own yoga practice, to me.

When a friend mentioned the name of Mark Yeo, I subtly felt the attraction. Inexplicable one. Maybe because it isn’t a household name for yogis actively sharing their practice on Instagram. So I got curious as to what kind of style this teacher was about to present us. But I had a feeling that his class was different.

The first time Mark told us to do was lying prostrate on our mat with our knees meeting opposite ankles. Pretty much like double pigeon pose which I’m famiiar with. His words were less demanding. He provided alternatives, rather than instructions. There was no need to try very hard. We just had to do it naturally.

“Relax and breathe comfortably and deeply,” he said as he spread his view around the class. Good Yoga was the title of his class that afternoon.

As he found a participant was spotted struggling to reach the full pose, he told her not to do so. “You’re tense. Your body tells…” Because he argued that tension may be counterproductive. Then I knew his approach is unconventional.

The Middle Path

Mark believes that it’s important to find the middle path in our practice. How to find it? Listen to your breath. An asana which is too easy for you can only make you fall asleep, and your breath too slow and effortless. You’re wasting your time of practice. Yet, too much of effort causes tension, which is not a good idea either. Your breath is short and hard. Plus, you struggle too much to sustain it. That’s not a good yoga. So good asanas are just good, balanced configurations of your body. Conventional ways of stretching our body may only cause discomfort and tightness problems in other parts, he said.

He also demonstrated how we can in fact massage ourselves and release tension with our own body. In this case, no props are required. For instance, when we feel fatigued around forearms, we can massage them with our kneecaps slowly accompanied with slow and deep breathing. This method is quite new to me, which is great because that was what I was here for. To learn new things, rather than draining my energy out with ‘yoga marathon’ throughout the day.

His approach is more effortless. Ease and comfort are the priority in good yoga practice. Meanhwile, certain forms are not central.

Mark has previously learned and practiced Ashtanga Vinyasa Yoga but seeing his way of teaching here, he seems to offer a totally different perspective. And this may resemble yin yoga approach to some extent as far as I’m concerned.

His practice focuses on relaxing, stretching, less resisting and less push in every asana we perform in a yoga class.

He can’t emphasize more on the importance of long, nice and even breaths. Because when we focus more on perfecting our asanas, we tend to lose our breaths, forgetting the significance. And the benefits of asanas once we forget our breath is “vastly reduced”, he said.

In this class, Mark helped me with some postures and he pretty much knew at the first sight my abnormally loose joints and long tendons. In a supine pigeon pose, ‎he adjusted my body to reach the deepest stretch my body can reach. (*)

Inikah Yoga Mat Terbaik di Dunia?

Mat yoga bukan sekadar pelengkap latihan yoga asana Anda. (Credit: Machfud Achyar)

Di awal latihan yoga, saya bukanlah orang yang berpikir bahwa mat menjadi salah satu faktor penentu yang krusial dan mutlak. Saya menganggap mat sebagai sebuah pelengkap saja. Ini memang benar, karena meskipun yoga sudah ada sejak lebih dari 5.000 tahun lalu, mat yoga baru dibuat mungkin abad ke-20. Hal ini bisa menerangkan mengapa saya begitu abainya saya terhadap mat, sampai saya hanya menggunakan alas seadanya (yang berupa banner bekas) saat berlatih yoga di kelas-kelas pertama saya di tahun 2010 dan 2011.

Baru kemudian saya memakai mat yoga yang pantas pada saat saya kebetulan mendapatkan mat yoga secara cuma-cuma dalam sebuah acara yoga bersama sekitar tahun 2012. Mat ini berbahan PVC dan setelah kotor saya kesulitan untuk membersihkannya. Bahkan setelah saya bersihkan dengan sikat dan deterjen, mat saya bukannya tambah bersih tapi masih ada nodanya (dari debu dan tanah bekas kaki karena saya lebih banyak beryoga di luar ruangan) dan permukaannya cepat terkikis. Plus, mat ini tampaknya memiliki celah di permukaannya sehingga saat dibasuh air, ia seperti menyerap kandungan air dan sangat sukar kering sampai tuntas. Setelah dicuci terasa ada air yang masih tertinggal di dalamnya, apalagi jika saya tekan. Air dan sisa deterjen masih bisa keluar dari mat itu. Memang kualitas dan harga tidak bisa berbohong.

Saya sendiri kemudian pernah menggunakan mat yoga produksi Adidas. Bahannya lebih baik dan mudah dibersihkan. Namun, permukaannya begitu licin bahkan bagi saya yang tidak banyak berkeringat. Kemudian saya beralih ke travel mat produksi Tortue yang tipis dan bisa dilipat. Kemudahan dibawa menjadi pertimbangan utama saya karena saya lebih banyak beryoga di luar ruangan dan tidak hanya di satu tempat.

Lalu saya ingin tahu mat yoga yang berkualitas paling tinggi yang pernah ada untuk membantu kawan-kawan saya di luar sana yang masih kebingungan mendapatkan mat ideal mereka (sepanjang dana memungkinkan tentunya). Saya mencoba untuk mendapatkan sejumlah data dan informasi yang objektif dan bisa dipertanggungjawabkan mengenai mat yoga paling berkualitas yang pernah diproduksi hingga sekarang. Menurut penelitian dan wawancara yang dilakukan oleh Reviews.com baru-baru ini, Manduka PROlite menjadi jawara di antara 10 mat terbaik yang tersaring secara ketat. Untuk sampai ke simpulan itu, pihak Reviews.com tidak main-main karena mereka mengklaim telah menghabiskan waktu sampai 50 jam untuk meneliti masing-masing produk yang dimaksud, melaksanakan survei pada lebih dari 100 pengajar yoga profesional dan berkonsultasi dengan “Instruktur Yoga Terbaik di Boston tahun 2014”.

Manduka PROlite dianggap terbaik dalam aspek keawetan berkat adanya jaminan seumur hidup dari produsennya. Ini sebenarnya cukup mengherankan bagi saya karena ‘kakak seniornya’, Manduka Black Mat Pro, yang lebih mahal malah gagal menjadi yang terbaik. Sejumlah mat berkualitas unggul lainnya juga tersingkir meskipun level harganya ada yang jauh lebih tinggi. Mat-mat terbaik ini bermacam-macam, dari Jade Harmony Professional Mat, Hugger Mugger Para Rubber, PrAna Revolutionary Sticky Mat, Kharma Khare (jenama/ brand yang jarang sekali saya dengar), PrAna E.C.O, Gaiam Print Premium, Liforme Yoga Mat (yang cukup tersohor di Indonesia), hingga Yoloha Native Cork Yoga Mat.

Jadi, yang mana yang terbaik untuk Anda? Jawabannya, seperti halnya keragaman anatomi kita, bergantung juga pada selera dan kebutuhan serta kecenderungan masing-masing individu yang menekuni yoga.

Jika Anda yogi yang peduli lingkungan…

Yoga mat Jade Harmony Professional Mat pilihan yang lebih baik. Kenapa? Karena bahannya seratus persen dari karet alami sehingga kesat, tidak licin meski telapak tangan berkeringat deras di tengah kelas ashtanga atau power yoga atau bikram yang menguras tenaga.

Jika Anda yogi yang peduli kantong…

PrAna E.C.O patut dilirik karena meskipun harganya yang termurah dibandingkan mat-mat dalam daftar di atas tetapi kualitasnya bisa ditandingkan.

Jika Anda yogi yang tidak mau terpeleset kubangan keringat sendiri…

Liforme Yoga Mat saya anjurkan untuk diboyong ke rumah. Tetapi ingat untuk menyediakan anggaran cukup sebelumnya sebab harganya relatif lebih mahal bahkan untuk jajaran mat yoga berkualitas terbaik di sini. Omong-omong, harga satu helainya ‘cuma’ 140 dolar AS. Bukan dolar Zimbabwe ya.

Jika Anda yogi yang malas bersih-bersih mat…

Saya tahu saya bukan satu-satunya yogi yang malas soal membersihkan mat sehabis latihan yoga. Enaknya setelah latihan, bukankah istirahat dan makan? Membersihkan mat yoga adalah hal paling terakhir yang terlintas dalam benak saat kita sudah hampir pingsan di akhir kelas. Untuk para yogi yang malas soal ini, cobalah Yoloha Native Cork Yoga Mat.

Kembali lagi, apakah kita harus memiliki yoga mat supaya bisa ‘tercerahkan’ dalam latihan yoga kita? Tidak juga. Yoga mat hanyalah sebuah alat untuk berlatih sehingga akan sangat dangkal untuk mengukur kedalaman latihan yoga seseorang hanya dari yoga mat yang dimilikinya. Namun demikian, yoga mat bukan dibuat tanpa alasan. Yoga mat memberikan kita kenyamanan, keamanan, kebersihan, dan ruang pribadi yang tidak bisa dilanggar orang lain saat berlatih kecuali Anda izinkan. Begitulah yang saya rasakan jika saya beryoga di ruang terbuka. Yoga mat membuat saya tidak harus berguling-guling di tanah yang membuat pakaian kotor (yang tentu bertentangan dengan asas saucha atau kebersihan dalam yoga) dan memberikan saya sebuah teritori untuk berlatih yoga tanpa harus menegakkan tanda atau peringatan “Jangan Mengganggu. Ada Orang Yoga di Sini!” Mat yoga Anda sudah menjelaskan semuanya. Untuk aspek keamanan, mat  dapat mengurangi risiko cedera terutama saat kita melakukan postur-postur tertentu yang mengharuskan bagian-bagian tubuh beradu dengan kerasnya lantai dan bumi. (*)

Kiat untuk Parivritta Trikonasana (Revolved Triangle)

SAAT memulai yoga di beberapa kelas pertama saya, salah satu asana yang terlihat sederhana dan mudah tetapi ternyata sama sekali tidak ialah parivritta trikonasana. Postur ini memiliki tingkat kesulitan eksekusi yang lebih tinggi daripada triangle pose karena mengharuskan saya memuntir tubuh atas ke sisi yang berseberangan.

Saat masih kaku, badan terutama area pinggang dan perut saya cenderung susah diputar. Belum lagi kepala yang mengalami disorientasi/ kebingungan karena torso (batang tubuh) diposisikan sejajar dengan lantai. Kaki juga tidak bisa menapak dengan sempurna. Dan ini berakibat pada hilangnya keseimbangan tubuh secara keseluruhan.

Solusinya? Gunakan props atau alat bantu untuk menjaga keseimbangan dan stabilitas kedua kaki. Props seperti balok yoga juga bisa mengarahkan seluruh tulang belakang agar mencapai ekstensi yang maksimal, atau menjaganya tetap panjang, tidak kolaps ke bawah.

Dengan memakai props berupa balok, mereka yang masih pemula juga bisa memutar kepala dengan lebih nyaman.

Kini, cobalah berdiri dalam posisi parivritta trikonasana dengan kaki kiri di depan. Bawa tubuh atas ke bawah dengan menjaga kesadaran bahwa sumbu pergerakan ialah sendiri pinggul. Dengan kata lain, pinggang ke atas tetap tegak dan stabil meski dilipat ke depan.

Kini letakkan tangan kanan di atas balok untuk menopang tubuh. Balok lebih baik diletakkan di sis dalam kaki kiri. Dengan demikian, tulang belakang terasa lebih panjang dan terentang maksimal serta mengokohkan kaki kanan.

Kemudian putar perut ke kiri saat membuang napas, lalu terus panjangkan tulang belakang dari tulang ekor sampai ubun-ubun.
Tekan tangan kanan secara keseluruhan ke blok dan bukalah area dada dengan mengarahkan lengan kiri ke atas. Di titik ini, parivritta trikonasana idealnya terasa stabil (di kedua kaki) dan panjang (sensasi di sepanjang tulang belakang) serta lega (di area dada).

Bila leher masih kaku atau ada sensasi pusing dan mata masih susah difokuskan ke jari tengah tangan kiri, jangan cemas. Coba dulu memfokuskan ke satu titik di lantai. Baru perlahan putar sedikit leher 90 derajat sehingga mata mengarah ke samping.

Bagi yang mengalami cedera leher atau kaku, disarankan berhati-hati di postur ini. Dalam kondisi tersebut, biarkan kepala terkulai begitu saja agar terasa lebih rileks. (*)

English for Yoga Teachers: Perlukah?

SIANG itu saya bertemu dengan seorang teman di salah satu gerai Seven Eleven yang ada di bilangan Mega Kuningan. Kala itu, Seven Eleven memang masih beroperasi bahkan tergolong bisnis yang menguntungkan. Kami duduk di kursi dalam ruangan yang bebas rokok. Teman saya ini sudah mulai mengajar yoga lebih dahulu dari saya jadi dalam bidang yoga, ia jelas sudah lebih berpengalaman dari saya. Namun, dalam pertemuan kami siang itu ia malah menghendaki saya mengajarinya.

Awalnya memang ia bertanya-tanya soal bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di kelas yoganya. “Aku mengajar di klub yang kadang ada orang asing ikut, Akhlis. Kalau mengajar orang kita sendiri sih, aku tidak masalah. Tinggal pakai bahasa Indonesia. Tapi kalau ada orang asing yang masuk dan tidak bisa berbahasa Indonesia, aku terpaksa memakai bahasa Inggris.”

Saya tahu arah pembicaraan kami ke mana. Ia meminta saya untuk memberikannya beberapa kalimat yang dapat dipakainya dalam kelas saat orang asing berpartisipasi. Saya pun memberikan sejumlah ungkapan yang biasa dipakai dalam kelas yoga dan dalam beberapa kali pertemuan ia merasa sudah cukup.

Saya saat itu menduga tak banyak pengajar yoga terutama di kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya yang bermasalah saat mesti mengajar dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di dalam kelas mereka. PIkir saya, tinggal di ibukota apalagi di zaman yang serba terbuka dan modern seperti sekarang, sudah semestinya kendala bahasa semacam itu telah turun menjadi minimal.

Ternyata saya salah besar.

Kemudian saya menyadari bahwa tingkat kecakapan berbahasa Inggris sejumlah pengajar dan calon pengajar yoga ternyata masih perlu ditingkatkan. Dalam beberapa kesempatan mengikuti kelas dan lokakarya (workshop) yang menghadirkan guru-guru asing yang tentunya disajikan dalam bahasa Inggris, ada sebagian peserta yang tampak kesulitan untuk mengungkapkan pertanyaan mereka. “Sering ada banyak pertanyaan di otak tapi begitu mau dikeluarkan susah. Tertahan di tenggorokan. Akhirnya batal bertanya,” kenang seorang teman lainnya mengenai kendala bahasa yang menyulitkan proses bertukar informasi dalam lokakarya yoga yang ia hadiri. Dan ia tak sendirian.

Dalam pelatihan mengajar, saya juga menemukan sebagian teman yang tampaknya kurang bisa memahami literatur atau buku-buku sumber ajaran yoga yang kebanyakan ditulis dalam bahasa Inggris. Sebagaimana kita ketahui, penerbitan literatur soal yoga didominasi oleh India dan bangsa-bangsa Anglosaxon (bangsa-bangsa Barat yang berbahasa Inggris seperti AS, Inggris dan Australia beserta semua bekas jajahan Inggris seperti India, Singapura, Malaysia, dan sebagainya). Dan sebagai solusi instannya, mereka memakai jasa penerjemah dan juru bahasa (interpreter). Bagi Anda yang belum tahu beda keduanya, begini bedanya: penerjemah mengerjakan mengalihbahasakan teks sementara juru bahasa mengalihbahasakan tuturan/ ucapan. Penerjemah bekerja dengan komputer dan piranti lunak, sementara juru bahasa dengan mulut dan mikrofon. Di lokakarya, saya pernah menyaksikan penyelenggaranya memakai jasa seorang juru bahasa. Meskipun memang bagus karena bisa mengakomodasi keterbatasan berbahasa sejumlah peserta, ternyata itu berdampak pada durasi dan efisiensi penyampaian pengetahuan sepanjang lokakarya. Untuk mereka yang sudah terbiasa berkomunikasi dengan bahasa Inggris, jalannya lokakarya menjadi lambat dan terkesan membuang waktu.

Bukan Minder

Setelah beberapa tahun berselang, fenomena yang sama tampaknya masih dapat ditemui. Dan bukannya mereda, malah makin banyak rupanya. Apa pasal? Karena lulusan sekolah yoga makin banyak juga dari tahun ke tahun. Ironisnya, para pengajar yoga ini lulus dari sekolah-sekolah yoga yang sudah terdaftar di sebuah organisasi standarisasi tingkat global untuk praktik pengajaran yoga. Jadi, akan lebih baik jika seorang pengajar bisa terdaftar di sebuah sekolah yoga berstandar global dan memiliki kemampuan berkomunikasi yang seimbang dengan level global itu.

Di sini, mari kita pisahkan para pengajar yang sudah merasa puas dengan menuntut ilmu, belajar pada guru-guru lokal dan mengajar rekan-rekan senegaranya sendiri. Sehingga tentu lain kasusnya dengan mereka yang berkeinginan untuk dapat mengembangkan diri melewati batas-batas negara. Mereka ini tentu harus berani dan piawai dalam berinteraksi dengan yogi-yogi luar negeri dan berani mengemukakan pendapat dan sikap di lingkaran yogi internasional agar yogi Indonesia lebih dikenal di dunia, tidak cuma menjadi pengikut. Bukankah sayang sekali jika banyak pemikiran dan potensi yogi-yogi kita yang terkubur karena kendala bahasa ini? Dan kalaupun tidak hendak menjadi sebesar itu, pastilah akan sangat membantu jika masing-masing pengajar yoga Indonesia memiliki kecakapan berbahasa sehingga bila mereka paling tidak bisa mengikuti berbagai program dan event yoga internasional dengan lebih leluasa dan percaya diri. Dengan berbekal kecakapan berbahasa Inggris yang memadai, mereka akan lebih banyak menyerap ilmunya secara akurat (tanpa kesalahan dalam memahami pengetahuan yang disampaikan) sehingga saat mengajar juga niscaya akan lebih akurat dalam melakukan transfer pengetahuan ke murid-muridnya.

Ini bukan berarti Anda yang ingin belajar bahasa Inggris termasuk golongan orang Indonesia yang tidak nasionalis atau memiliki perasaan minder sebab dalam pandangan saya, bahasa hanyalah alat. Ia benda mati ciptaan kita juga. Persisnya, ia produk budaya manusia sebuah bangsa. Sehingga jangan kita menyalahkan bahasa karena sikap kita yang kurang nasionalis sebagai warga negara. Setiap alat bisa kita pakai sesuai kemauan dan tujuan kita. Jadi, semuanya kembali ke pribadi masing-masing soal tujuan dan niat mempelajari sebuah bahasa: untuk memuja bangsa lain atau mengangkat bangsa sendiri?

Lebih Berdaya Saing

Alasan lain kenapa kecakapan berbahasa Inggris menjadi krusial bagi para pengajar yoga ialah sudah dimulainya era perdagangan bebas di negara-negara anggota ASEAN yang akrab disebut MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). Selama ini, kita tahu bahwa Indonesia adalah pasar yang menggiurkan. Penduduk kita begitu banyak dan sering dianggap sebagai pasar potensial bagi negara-negara lain, termasuk negara-negara tetangga kita yang lebih kecil tetapi harus diakui lebih cerdas dan cerdik seperti Singapura, Thailand dan Malaysia.

Dengan memiliki kecakapan berbahasa Inggris, para pengajar yoga Indonesia memiliki daya saing yang lebih tinggi tanpa harus takut murid-murid mereka (baca: ‘pangsa pasar’) direbut oleh guru-guru asing dan bahkan mereka bisa dengan percaya diri mengundang orang asing untuk (bukan lagi mengajar tetapi) belajar yoga ke Indonesia.

Berkaca dari semua poin di atas, saya bisa simpulkan bahwa kemampuan menggunakan bahasa Inggris yang baik akan lebih mudah membuka beragam pintu peluang bagi para pengajar yoga Indonesia. Jika itu terjadi, impian menuju Indonesia sebagai negara destinasi yoga selain India bisa menjadi nyata. (*)