Meditasi: Dari Latar Belakang Sejarah, Cara, Hingga Manfaatnya 

MENDENGAR kata ‘meditasi’ pertama kali, saya bergidik. Dalam benak saya, tertanam kesan bahwa hal itu cuma dilakukan oleh segelintir orang terutama para biksu dan pertapa serta pengelana spiritual yang membiarkan diri mereka larut dalam kehampaan dalam pikiran mereka hingga lupa makan, lupa minum, lupa segala-galanya.

Setelah saya menekuni yoga, saya juga kemudian mengetahui bahwa dalam yoga juga tercakup meditasi. Dan di benak sebagian orang, meditasi adalah yoga itu sendiri. “Yoga kan duduk duduk diem gitu, mana bisa keringetan?” Begitu persepsi masyarakat awam. Seseorang bahkan memiliki ingatan buruk soal yoga karena salah satu tetangganya yang hidup menyendiri dan cenderung anti sosial kemudian duduk dalam posisi lotus di rumahnya setelah sekian lama tidak keluar rumah. “Kami memasuki rumahnya karena banyak lalat dan bau busuk yang menyengat dari dalam. Begitu dibuka kami temukan orangnya. Atau jenazahnya tepatnya. Sudah tidak bernyawa. Membusuk di dalam posisi duduk bermeditasi..,” terang orang yang saya temui di sebuah taman di Jakarta itu.

Jelas ada kesimpangsiuran perihal apa meditasi sebetulnya. Betul meditasi melibatkan posisi duduk. Akan tetapi, meditasi tidak cuma aktivitas batiniah yang berujud duduk lama dan mewajibkan pelakunya untuk ‘mengosongkan pikiran’ (sebuah frasa yang keliru) sebagaimana yang saya juga kerap dengar dari komentar orang-orang awam di sekitar saya. Dalam perjalanan saya belajar yoga, saya pun akhirnya tahu bahwa meditasi bukanlah sesempit itu. Meditasi memiliki cakupan makna yang lebih luas dan mendalam.

Sebelum membahas makna meditasi, ada baiknya kita kembali ke masa lalu untuk mengetahui secara singkat sejarahnya. Dan dari pengetahuan mengenai sejarah ini, kita akan paham bahwa meditasi bukanlah monopoli kepercayaan atau agama tertentu.

Seperti yoga dan pengetahuan dari Timur lainnya, tidak ada yang tahu persis siapa penggagas/ pencipta dan kapan ilmu tentang meditasi dibuat atau disusun. Semuanya merupakan taksiran kasar, dan hanya diwariskan secara turun temurun sehingga sulit dilacak asal muasalnya yang pasti. Salah satu dugaan kenapa hal ini terjadi ialah karena sosok-sosok guru hebat dan bijak itu justru ingin menghindari publikasi dan menepikan kepentingan pribadinya (baca: ego) untuk lebih berfokus pada spiritualisme yang ia sudah rengkuh susah payah.

Selama era penyusunan kitab Upanishad (salah satu teks suci dan dianggap sakral di Asia Selatan), ilmu meditasi dikembangkan secara sistematis di wilayah India kuno. Lalu Patanjali menyusunnya secara tertulis dan sistematis sehingga lebih mudah dipelajari dan disebarluaskan ke mana saja dan diajarkan pada siapapun juga. Praktik meditasi pun makin berkembang dan menyebar luas hingga di luar India. Salah satu tanda perkembangan meditasi yang pesat ialah ditemukannya bukti sejarah yang menyatakan bahwa sekitar abad ke-3 atau 4 Masehi telah ada sekolah khusus meditasi yang didirikan para biksu tanah Hindustan di negeri para firaun Mesir. Di Tiongkok, tercatat dalam sejarah bahwa berdiri sekolah meditasi mulai sekitar tahun 525 SM.

Dari Tiongkok, ajaran meditasi menyebar ke Jepang. Kata ‘zen’ yang kita kenal sekarang diduga memiliki asal muasal dan keterkaitan dengan kata Sansekerta ‘dhyana’ yang artinya meditasi.

Sebelumnya saya pikir meditasi cuma didominasi para penganut agama Hindu dan Budha, tetapi menurut catatan sejarah ternyata tradisi meditasi juga ada dalam Kristen. Dirintis Saint Anthony, tradisi meditasi Kristiani ini turut dipraktikkan Saint Francis dan yang lain. Akan tetapi, karena ada kekhawatiran bahwa ia akan menjadi objek persekusi agama, seni meditasi di lingkaran pemeluk Kristen hanya dilakukan oleh sosok-sosok bijak dalam agama tersebut dan tidak disebarluaskan sebagaimana layaknya ajaran meditasi lain.

Selama berabad-abad, para yogi terus mengembangkan meditasi hingga menjadi suatu disiplin ilmu yang maju dan sistematis dengan tujuan utama memperluas kesadaran manusia. Dalam ranah yoga, kesadaran diwajibkan untuk selalu dijaga karena tiap manusia harus menjalankan apa yang diajarkan guru secara mandiri. Ia tidak bisa serta merta mengikuti semua perkataan sang guru tanpa pernah menjajal mempraktikkannya dalam kehidupan nyata. Karenanya loyalitas buta sangat dijauhi dalam yoga. Praktik-praktik tertentu beserta manfaat yang dapat diraih digambarkan oleh guru dan tugas murid ialah mempraktikkannya sendiri dan meyakinkan dirinya mengenai keabsahan hasil eksperimen tersebut. Apakah sesuai dengan yang dikatakan guru atau tidak? Jika tidak, kenapa itu bisa terjadi? Dan jika ada yang keliru, apa yang harus diperbaiki? Dengan pendekatan berbasis pengalaman nyata itulah, seseorang dapat secara langsung mengalami suatu kondisi kesadaran yang menjadi bukti keberadaannya di alam semesta ini. Tidak perlu ada bukti lain.

MAKNA MEDITASI

Meditasi sendiri merupakan suatu kata yang sudah terlalu sering dipakai secara bebas dan kurang tepat oleh banyak orang saat ini. Itulah kenapa muncul kebingungan masif mengenai bagaimana cara yang tepat dalam berlatih meditasi. Sebagian orang menggunakan kata tersebut saat mereka merujuk pada suatu kegiatan perenungan atau berpikir secara mendalam dalam waktu yang lama. Ada juga yang memakainya untuk menyebut aktivitas melamun atau berimajinasi. Namun, sayangnya meditasi yang sejati bukanlah itu semua.

Disarikan dari “The Real Meaning of Meditation” oleh Swami Rama, meditasi dapat didefinisikan sebagai teknik yang tepat dalam mengistirahatkan pikiran dan mencapai kondisi kesadaran yang berbeda sekali dari kondisi sadar yang lumrah. Meditasi ialah alat membayangkan semua level dalam diri dan pada akhirnya menjangkau pusat kesadaran dalam diri.

Yang patut digarisbawahi ialah: Meditasi bukanlah bagian dari agama apapun. Ia merupakan sains, sehingga prosesnya mengikuti urutan dan syarat tertentu, didasari oleh sejumlah prinsip dan menghasilkan hal-hal yang dapat diverifikasi.

Dalam meditasi, batin menjadi lebih jernih, rileks dan fokus ke dalam. Saat Anda bermeditasi, kesadaran dan kewaspadaan masih ada. Bedanya, pikiran tidak lagi berkonsentrasi pada dunia luar atau kejadian di sekitar Anda. Meditasi memerlukan kemampuan untuk masuk ke dalam diri yang diam dan terfokus sehinga batin menjadi hening. Saat benak lebih tenang dan tak lagi mengganggu, saat itulah meditasi masuk ke tahapan yang lebih dalam.

MENGAPA BERMEDITASI

Dari kecil kita diajari oleh manusia di sekeliling kita mengenai cara untuk mengamati dan bereaksi pada dunia luar. Dan kita lupa bahwa kita juga perlu mengamati diri sendiri. Inilah mengapa banyak manusia belum bisa mengenali diri mereka dan lebih mudah mengenali orang lain di sekitarnya. Di kemudian hari, ketidakmampuan mengenali diri memunculkan sejumlah problem. Misalnya kegagalan dalam hubungan dengan manusia lain, kecemasan dan kekecewaan yang mendalam terhadap orang di sekitar kita.

Sangat jarang kita melatih batin ini untuk mengenali diri karena waktu kita habis untuk dunia eksternal. Kita amat hapal dengan dunia fisik yang melingkupi kita beserta manusia-manusianya namun saat kita diajak menyelami alam bawah sadar kita, kita kerap menjadi ketakutan. Alam bawah sadar ini sekian lama menjadi tanah tak bertuan yang kita telantarkan. Meditasi membantu kita untuk tidak cuma mendisiplinkan batin, baik yang sadar dan bawah sadar.

Kemudian tujuan meditasi juga bukanlah untuk menjadi orang yang lebih bijak saja, tetapi agar kita bisa menjangkau di luar pikiran sadar kita dan mengalami hal-hal yang menjadi esensi diri kita sebagai makhluk. Di sinilah terdapat kedamaian, kebahagiaan dan ketenangan yang hakiki.

Namun, masalahnya pikiran juga sangat sulit dikendalikan. Pikiran yang liar ini menjadi karang penghalang antara diri kita dan kesadaran yang hakiki tadi. Alih-alih mencapai kondisi meditatif, kita malah terjebak dalam fantasi, lamunan atau ilusi masa lalu atau masa depan.

Dan bagi manusia modern, meditasi menjadi alat praktis dalam menenangkan batin dan pikiran, untuk melepaskan diri dari bias-bias dan dapat menyaksikan dan memahami fenomena di sekitar kita secara lebih jernih, tenang dan terkendali (tidak reaktif, tidak tergesa-gesa, tidak impulsif). Kiranya ini yang amat dibutuhkan tatkala kita membaca berita-berita yang memihak, cenderung menampilkan satu sisi yang ‘menjual’, tendensius, yang mengoyak ketenangan batin, dan memunculkan emosi-emosi negatif.

BAGAIMANA BERMEDITASI

Metode meditasi ialah belajar bagaimana kita dapat tenang dan hening. Proses mencapai keheningan tersebut dimulai dari raga. Dalam tradisi yoga, murid dipandu guru untuk menjaga tubuh dalam posisi tegak saat duduk bermeditasi. Setelah merasa nyaman dalam posisi duduk ini, biasakanlah untuk duduk diam dalam waktu yang lebih lama tiap hari.

Pilihlah sebuah tempat yang tenang, nyaman dan bersih serta bersirkulasi udara baik untuk bermeditasi. Duduklah di lantai (dengan alas yang bersih dan empuk bila perlu) atau duduklah di kursi dan tegakkan punggung dan tutup mata. Kemudian fokuskan kesadaran pada semua bagian tubuh dan rasakan setiap bagian tubuh makin berat dan rileks, kecuali yang menyangga kepala, leher dan punggung. Nikmati posisi ini sejenak dengan terus melepaskan ketegangan apapun yang kita miliki baik dalam tubuh atau pikiran. Ingatlah bahwa esensi meditasi ialah melepaskan ketegangan dan pikiran yang terus sibuk. Bila sudah lebih santai dan rileks, saatnya fokuskan perhatian pada pernapasan. Perhatikan bagaimana paru-paru Anda bekerja. Bila Anda bernapas dengan dada, cobalah untuk menggunakan diafragma. Namun, bila Anda merasa kurang nyaman, tidak perlu memaksakan diri. Bernapaslah sebagaimana Anda biasa bernapas. Yang penting ialah Anda bisa lebih memusatkan perhatian pada pernapasan tanpa harus berhasrat berlebihan dalam mengendalikannya. Perhatikan bagaimana napas kita yang semula cepat dan pendek menjadi makin panjang dan rileks. Tidak perlu terburu-buru dalam bermeditasi karena tidak ada kompetisi untuk itu.

Meditasi menjadi suatu proses yang melibatkan penyerahan perhatian secara penuh dan bulat terhadap satu objek yang sudah kita pilih secara sadar. Objek ini tergantung pada selera masing-masing orang. Misalnya, napas kita sendiri, nyala lilin dalam kegelapan, ibu jari atau sebuah botol di depan mata kita. Katakanlah bahwa kita memilih napas sebagai objek pusat konsentrasi. Biarkan napas mengalir daripada sibuk mengaturnya (terutama jika Anda sudah merasa terlalu berfokus pada bagaimana menyempurnakan napas sehingga menimbulkan ketegangan baru). Bukalah diri sedemikian rupa agar Anda dan napas itu sendiri melebur jadi satu dengan harmonis. Dalam proses peleburan ini, biasanya akan ada ‘pemberontakan’ dalam pikiran. Benak kita dipenuhi dengan beragam pikiran dan gagasan yang melintas secara tidak terkendali, seperti sensasi gatal yang merengek untuk segera minta digaruk tetapi setelah digaruk, rasa gatal itu makin meluas dan menular ke bagian lain.

Di titik ini, tetaplah diam dalam hening serta amati bagaimana pikiran Anda terus berkecamuk tanpa harus terlibat secara aktif dalam meresponnya.Ibarat Anda merasakan gatal yang sudah amat sangat tetapi Anda abaikan saja. Bila Anda sudah dapat mengendalikan keinginan untuk memberikan respon atas pikiran-pikiran yang liar tadi, berarti Anda telah berada di jalur yang tepat. Dan kondisi ini bisa berfluktuasi dari waktu ke waktu. Namun, meskipun memang terjadi fluktuasi, sebaiknya jangan berhenti berlatih meditasi tiap hari apalagi saat kita sibuk dan serasa tidak ada waktu untuk itu, karena justru pada saat pikiran kita paling sibuk dan harus terus bekerja, itulah saatnya kita paling memerlukan meditasi sebelum ‘bom waktu’ meledak.

Jadi kuncinya dalam meditasi ialah Anda biarkan saja pikiran lalu lalang, tetapi kendalikanlah diri Anda untuk tidak memberikan tanggapan, penghakiman, pelabelan, kemelekatan, dan sebagainya. Contohnya,  saat kita diam dan duduk, pikiran kita akan menggelitik dan menggoda agar kita lepas dari konsentrasi:”Apakah cara napas saya sudah benar?”, “Apakah cara duduk saya sudah tegak?”, “Kapan ini akan berakhir? Saya sudah mengantuk”, “Saya lupa menelepon klien. Saya harus lakukan sekarang atau saya akan kehilangan deal ini”, “Rasanya kepala saya berat. Lebih baik rebahan saja daripada bermeditasi terlalu lama.” Semuanya itu biarkan muncul, berkeliaran dalam kepala Anda lalu berlalu. Sepanjang Anda tidak memberikan reaksi dan bisa terus fokus pada napas (atau apapun yang Anda pilih sebagai objek), Anda telah bermeditasi dengan baik. Yang patut diingat ialah pada hakikatnya, bukan pikiran-pikiran tadi yang mengganggu diri kita tapi REAKSI kita terhadap semua itulah yang membuat kita sibuk dan konsentrasi menjadi terpecah.

Analoginya yang lebih sesuai dengan dunia digital yang kita akrabi ialah bagaimana saat orang-orang yang menjadi teman kita di media sosial memasang status yang menurut kita bertentangan dengan keyakinan dan sikap kita dalam hal apapun. Semua status itu sebenarnya bukan gangguan bagi kita kalau kita bisa membiarkannya lalu begitu saja. Namun, sebagian besar orang MEMILIH BAIK SECARA SADAR ATAU TIDAK untuk merasa terganggu dengan melabeli status-status tadi sebagai ‘musuh’ yang harus diburu dan dimusnahkan, ‘argumen’ yang harus didebat, ‘kebodohan’ yang mesti dibasmi, dan ‘kekonyolan’ yang harus disebarkan dan diolok-olok. Ada yang secara impulsif dan spontan melakukannya; ada yang lebih lambat dan cenderung ikut-ikutan saja atas dasar solidaritas; ada yang secara sadar menunggangi emosi-emosi negatif tersebut untuk melancarkan taktiknya mencapai tujuan. Jadi, sebetulnya cara orang bermedia sosial bisa menampakkan juga bagaimana tingkat kejernihan dan pengendalian pikirannya yang berkaitan erat dengan meditasi.

KONSENTRASI YANG TAK TERBAGI

Sebuah pandangan yang beredar di kalangan awam bahwa meditasi ialah ‘mengosongkan pikiran’ perlu diluruskan. Sebab seperti yang sudah dijelaskan tadi, meditasi masih membolehkan pikiran terisi tetapi bedanya saat bermeditasi, semua pikiran itu dibiarkan berlalu apa adanya tanpa penghakiman sementara dalam kondisi di luar meditasi, kita bisa lebih leluasa memberikan reaksi. Jadi, ini sebenarnya adalah pengendalian dari apa yang sudah ada – dan sekali lagi – bukan pengosongan atau pemusnahan yang ada. Mirip berpuasa, hanya saja ini puasa untuk level pikiran, yang lebih berat dan rumit dari sekadar berpantang makanan dan minuman atau berkata-kata kotor.

Sehingga meditasi bisa dikatakan sederhana. Intinya ialah memberikan perhatian yang tidak terbagi pada satu hal dala  benak kita. Anda bisa memulai dengan berfokus pada napas, dan jika suatu pikiran muncul dan sadarilah pikiran itu tetapi biarkan ia berlalu begitu saja tanpa harus membenci atau menyukainya secara berlebihan. Sadarilah bahwa pikiran itu bersifat sementara dan bisa berubah seiring waktu dan banyak faktor. Bisa jadi Anda membenci X saat ini, dan saat X besok berubah, Anda juga berubah menyukainya, dan sebaliknya. Itulah kefanaan dunia. Karena itulah, sekali lagi bersikaplah terbuka terhadap segala yang ada di dunia. Bila seseorang mendasarkan kebahagiaannya berdasarkan semua hal yang temporer ini, ia akan sangat sibuk untuk memberikan reaksi pada masing-masing hal itu sampai dirinya tenggelam dalam lautan kebingungan dan lupa pada tujuan hidupnya yang sejati. Ini seperti bepergian dengan banyak barang bawaan. Makin banyak beban, makin berat seseorang rasanya dalam menjalani kehidupan. Dalam meditasi, Anda belajar melepaskan beban-beban itu agar Anda dapat menjalani kehidupan dengan lebih ringan dan lincah, tidak terseok-seok dan kehabisan tenaga sebelum mencapai garis akhir.

Meditasi pada akhirnya bukan menjadi sebuah pelarian dari dunia nyata. Akan tetapi, ia berfungsi sebagai sebuah ‘liburan’ bagi diri ini, menguatkannya untuk menemukan kedamaian yang sejatinya sudah ada dalam diri tetapi terkubur seiring dengan kesibukan sehari-hari.

Di kemudian hari, kita dapat mengamati diri sendiri dan membandingkannya sebelum dan sesudah rutin bermeditasi. Biasanya sebelumnya, mungkin kita memberikan reaksi pada pengalaman-pengalaman yang menghampiri kita dengan reaksi yang sama saat kita memikirkannya. Saat bertemu dengan orang yang kita anggap sudah menyakiti kita, kita akan menjadi marah (dan mengabaikan kemungkinan bahwa di balik itu, mungkin orang yang kita benci itu memberikan pelajaran hidup yang berharga bagi kita). Atau jika kita menyaksikan peristiwa yang tragis, kita sedih sekali (dan pada saat yang sama menutup pikiran dari sudut pandang lain bahwa tragedi memberikan ruang bagi jiwa kita untuk tumbuh dan lebih kuat). Tiba-tiba kita sadari bahwa ‘kebahagiaan’ kita  begitu ditentukan oleh dunia luar. Kita hanya menjadi makhluk penderita yang cuma bisa memberikan reaksi terhadap rangsangan/ impuls yang bertubi-tubi dari luar secara konstan sampai lupa bahwa diri kita di dalam sudah bahagia dan tenang. Tentu bukan berarti mereka yang bermeditasi akan mengalami penumpulan emosi atau menjadi zombie atau robot yang bergerak tapi tidak bisa menangis atau tertawa. Emosi-emosi manusiawi masih ada dan tentu masih ada gunanya (karena inilah yang membuat kita bisa mempertahankan diri dalam kehidupan) tetapi hendaknya kita jangan sampai terhanyut di dalam aliran derasnya. Di sini, meditasi berfungsi sebagai jangkar yang membuat kita tetap di titik semula dan juga sebagai kemudi yang mengembalikan kapal ke jalur pelayarannya yang sudah direncanakan tanpa terbawa arus laut atau tiupan angin.

Meditasi tidak cuma bisa diterapkan saat kita duduk diam. Prinsip meditasi sebetulnya lebih luas dari itu. Kita bisa menerapkannya dalam menjalani kehidupan sehari-hari kita, saat menghadapi momen-momen menentukan dan bermakna dalam perjalanan hidup kita.

Caranya?

Cukup dengan mencurahkan konsentrasi sepenuhnya pada setiap aktivitas kita yang kita lakukan (ingat bahwa inti meditasi ialah perhatian yang tidak terbagi).  Kita bisa mengamati reaksi awal kita pada sesuatu tanpa bereaksi pada reaksi tersebut. Saya ibaratkan hal ini dengan mengamati diri Anda sendiri dari luar (seolah Anda seorang yang sedang mati suri dan roh Anda sudah melayang ke luar dari tubuh tetapi Anda masih hidup dan bisa melakukan apapun yang Anda mau). ‘Roh’ ini akan mengamati diri Anda yang biasanya reaktif, impulsif, bertindak tanpa berpikir dan kembali lagi dalam pikiran Anda untuk melaporkan,”Oh, lihat bagaimana kamu merasa terhina atau tersinggung saat si X mengatakan ini.” Inilah kenapa orang-orang yang bermeditasi tampak lebih tenang dan stabil emosinya dalam hidup karena mereka sibuk mengamati dirinya sendiri dalam memberikan reaksi pada dunia eksternal daripada mengamati dunia luar dan memberikan respon secara terus-menerus.

Karenanya, dapat dikatakan  meditasi memberikan peluang untuk penyembuhan bagi jiwa-jiwa yang sakit. Meditasi yang terapeutik ini tidak hanya membimbing pelakunya menuju keseimbangan dan stabilitas dalam diri (Self), tetapi juga membuat pelakunya mampu mengakses pribadinya sendiri, tindak-tanduk dan sikap yang kurang baik dan kurang dewasanya, kebiasaan-kebiasaan dan kecenderungan yang mengakar dan sulit diubah seperti kerak di dasar panci yang semakin lama dibiarkan semakin sulit dibersihkan. Alih-alih terus menerus terjebak dalam pola pikiran dan kebiasaan lama yang kurang baik, meditasi membawa kita ke gerbang perubahan seiring dengan makin meningkatnya kesadaran kita dalam menjalani hidup dan memberikan konsentrasi penuh dalam tiap detiknya. Hanya dengan demikian, hidup yang jernih akan teraih.

MENGINTEGRASIKAN DALAM KESEHARIAN

Tidak semua orang beruntung bisa bermeditasi setiap hari di bawah bimbingan seorang guru meditasi yang siap memandu kapanpun dan di manapun diperlukan. Kecuali mereka tinggal dalam sebuah asrama (ashram) di India yang dikelola secara ketat dan berlokasi di lingkungan yang tenang, aman dan nyaman. Ini semua merupakan ilusi atau impian dan ‘kemewahan’ yang tidak terjangkau bagi kita yang tinggal di perkotaan atau di tengah peradaban yang makin hiruk pikuk.

Jadi, bagaimana kita bisa menjadikan meditasi sebagai bagian dari keseharian?

Izinkan saya mengutip saran dari Mingyur Rinpoche. Ia mengibaratkan kecenderungan banyak orang untuk membiasakan meditasi sebagai cara seekor sapi kencing. Dari aliran yang kecil dan lambat dan lama-lama membesar dan deras lalu tiba-tiba berhenti sama sekali. Jadi, orang biasanya akan berlatih secara ambisius dan bersemangat pada awal-awalnya lalu menikmati puncaknya. Namun, begitu mulai bosan dan merasa bahwa meditasi menjadi semacam kewajiban, mereka mengendurkan diri. Dan akhirnya sama sekali melepaskan kebiasaan itu karena berbagai sebab dan alasan.

Rinpoche menyarankan agar kita berlatih meditasi secara bertahap dan sabar. “Sedikit demi sedikit,” ujarnya.

Alih-alih kencing sapi, kita lebih baik memiliki kebiasaan meditasi yang mirip tetesan air dari ember. Setitik demi setitik. Kecil tetapi terus menerus. Tapi terus menerus dan konsisten. Dan akhirnya bisa melubangi sebuah batu yang sekeras apapun.

Ada dua jenis latihan menurut Ringpoche yang bisa diterapkan dalam keseharian kita: meditasi formal dan informal. Meditasi formal ialah meluangkan waktu (durasi waktu terserah kita sendiri, asal setia pada komitmen tersebut) untuk duduk bermeditasi di jam tertentu.

Untuk meditasi informal, Anda bisa memakai banyak metode. “Karena Anda bisa bermeditasi kapanpun dan di manapun,” tandasnya.

Dan pesannya yang tidak kalah penting ialah: melepaskan ekspektasi. Daripada mencanangkan sebuah tujuan (“Meditasiku harus menyenangkan”, misalnya), Anda bisa berfokus pada keteguhan niat untuk melakukan meditasi sebaik yang Anda bisa tanpa berharap muluk-muluk dan membiarkan perjalanan meditasi Anda mengalir alami.

MERASAKAN PERBAIKAN

Mengukur kemajuan kita dalam berlatih meditasi sangat sulit karena aspeknya yang non-fisik. Dan sebagaimana dalam latihan asana, kita akan juga dihadapkan dalam kompetisi (ya, ada kompetisi juga dalam meditasi) yang kita bisa temukan dalam pembicaraan-pembicaraan soal pengalaman meditasi. Bukan berarti seminar atau diskusi soal meditasi buruk tetapi di dalamnya terdapat ‘jebakan-jebakan’ yang amat halus bagi para pelakunya untuk memamerkan ‘prestasi’ meditasi mereka. Saat Anda mendengar pengalaman meditasi orang lain yang berbeda dan menurut Anda lebih ‘tercerahkan’, Anda mungkin akan merasa sedih atau kecewa karena Anda tidak kunjung ke tahap tersebut. Yang lebih buruk lagi ialah jika berbicara tentang meditasi membuat Anda menjadi berbohong dan tidak nyaman dengan diri sendiri. Misalnya karena Anda ingin membuat orang lain terkesan, Anda akan mengarang pengalaman meditasi Anda. Jadi, jujurlah pada orang lain dan terutama diri Anda sendiri.  Abaikan opini orang lain atau pengalaman orang lain dalam perjalanan meditasi mereka. Perjalanan Anda adalah milik Anda. Tetaplah dalam jalur Anda tanpa merasa iri atau dengki pada yang lain. Dan sekali lagi, ini merupakan tantangan yang sangat abstrak dan memerlukan kepekaan spiritual yang tinggi.

Namun, untuk mengukur kemajuan itu secara lebih pasti, kita bisa mengamati perubahan-perubahan dalam aspek kehidupan kita. Apakah badan kita merasa lebih rileks usai meditasi? Apakah emosi kita lebih terkendali sehabis meditasi? Itu hanya beberapa indikator yang konkret. Seiring berjalannya waktu dan makin sering bermeditasi, kita akan menemukan perubahan-perubahan lain yang lebih halus dan abstrak.  Kadang perubahan itu begitu halus hingga kita sendiri tidak menyadarinya dan hanya orang lain yang bisa merasakannya. Tetapi sekali lagi, konsistenlah dalam berlatih dan rasakan kebahagiaan dalam tiap detik hidup kita sekarang dan di sini. (*)

Memilih Minyak yang Tepat untuk Anda Ala Ayurveda

JIKA Anda mirip seperti saya yang memiliki kulit kering dan tubuh yang kurus serta tulang dan sendi yang menonjol, saat-saat seperti sekarang ini (musim hujan) ialah musim yang lebih menyiksa karena cuaca berubah-ubah dan cenderung basah serta berangin.

Dalam perspektif ayurveda (metode perawatan kesehatan tradisional ala India), orang-orang seperti saya memiliki kecenderungan untuk memiliki keluhan kesehatan seperti:

  • sendi yang ngilu saat dingin
  • istirahat malam yang kurang nyenyak
  • gangguan pencernaan
  • sembelit
  • gas
  • gangguan punggung bawah
  • pikiran yang gelisah
  • rutinitas yang kurang teratur
  • sakit telinga
  • kurang percaya diri
  • kesepian

Perawatan diri dengan minyak yang sesuai dapat meringankan dan/ atau menghilangkan keluhan-keluhan kesehatan ringan di atas.

Bagi orang dengan unsur vata (angin) yang berlebihan seperti saya, penggunaan minyak yang tepat akan membuat saya bisa lebih membumi karena tubuh saya memiliki kecenderungan ringan, mengalir dan tidak stabil layaknya angin yang terus menerus bertiup dan tidak bisa diam.

Vasant Lad, BAMS, MASc, (pakar ayurveda yang bermukim di New Mexico, AS) menyarankan bahwa untuk bisa lebih seimbang, kita perlu menemukan jenis minyak yang tepat untuk diri kita. Di tanah Hindustan, minyak-minyak dianggap sebagai berkah bagi umat manusia. Minyak berkhasiat menyembuhkan tubuh yang sakit, mempercantik kulit secara alami, serta memberikan asupan gizi bagi sistem pencernaan kita.

Jadi, jenis minyak yang mana yang sesuai bagi kita?

Ayurveda merekomendasikan minyak sesuai tipe kecenderungan tubuh kita (dosha). Dalam ilmu ayurveda, ada tiga jenis dosha yang perlu diketahui. Seorang manusia bisa saja memiliki satu dosha yang dominan atau kombinasi dari dua unsur. Ketiganya yakni:

  • vata:  unsur ini mewakili angkasa dan angin. Minyak yang disarankan yaitu minyak biji wijen, minyak zaitun, minyak alpukat, minyak kelapa dan minyak mustard
  • pitta: Dosha ini mewakili elemen air dan api. Minyak yang disarankan yaitu ghee (mentega murni yang telah dijernihkan), minyak biji bunga matahari, minyak zaitun, minyak kedelai, minyak flaxseed, minyak walnut dan minyak kelapa
  • kapha: Dosha ini mewakili elemen air dan bumi. Jenis minyak yang disarankan ialah minyak jagung, minyak kanola, minyak biji wijen, minyak biji bunga matahari dan minyak mustard

Bila Anda berbelanja, temukan minyak-minyak di atas yang diproduksi secara organik dan tidak dicampur dengan bahan-bahan lain karena minyak itulah yang terbaik untuk Anda gunakan.

Untuk merasakan khasiatnya, pijatlah tubuh dengan minyak pilihan Anda. Cara memijat tubuh dengan minyak ini disarankan dilakukan sebelum tidur. Hangatkan minyak pilihan Anda baru kemudian pijatkan dengan lembut ke sekujur tubuh. Fokuskan pijatan pada bagian-bagian yang peka dan menjadi jalur masuknya angin (yang berhembus kencang di musim hujan), seperti kedua telinga, lubang hidung dan bibir, pusar, genitalia, dan dubur.

Jika mengalami kesulitan tidur di malam hari, cobalah untuk menggosokkan minyak ke bagian telapak kaki dan gosok lembut juga kepala Anda dengan minyak. Kemudian mandilah dengan air hangat dengan sabun lalu gosok seluruh tubuh dengan perlahan. Otot-otot akan terasa meleleh dan mengendur dan Anda akan tertidur pulas seperti bayi.

MULUT DAN GUSI

Tiap malam sebelum tidur, gunakan beberapa tetes minyak biji wijen dan balurkan ke gigi dan gusi lalu biarkan sejenak kira-kira 1-2 menit. Baru bilas dengan berkumur.

Kemudian Anda bisa menuangkan sedikit minyak lagi dan menaruhnya di di ujung jari telunjuk lalu memijatkannya di gusi. Ini disebut kavala. Cara ini baik untuk meredakan keluhan di gigi dan gusi, seperti gigi yang bengkak atau baru tumbuh, gusi yang terkikis (karena terlalu keras menggosok gigi setiap hari), gigi sensitif, dan mencegah lubang di gigi serta sakit telinga.

TELINGA

Charaka, bapak ilmu ayurveda, menyarankan penggunaan beberapa tetes minyak bawang putih segar ke setiap telinga tiap hendak tidur malam setiap dua minggu sekali.

Didihkan 1 sendok makan minyak biji wijen dan setengah butir bawang putih segar yang dicacah kecil hingga bawang putih itu kecokelatan. Kemudian peras bawang itu agar keluar minyaknya. Dinginkan minyak tadi sejenak hingga sama dengan suhu tubuh. Berbaringlah ke sisi kiri dan masukkan 5-10 tetes minyak tadi ke lubang telinga kanan Anda. Berbaringlah beberapa menit. Kemudian berganti ke sisi lain dan tuangkan minyak ke lubang telinga kiri. Nikmatilah tidur Anda yang niscaya akan lebih nyenyak setelahnya.

Minyak bawang putih ini memiliki aroma yang khas yang dapat menenangkan pikiran dan membuat Anda sendu. Cara ini baik bagi mereka yang menderita TMJ (temporomandibular joint disorder), tinnitus, kotoran telinga dan menurunnya daya dengar. Namun, perhatikan jika ada keluhan infeksi di telinga, hindari menuangkan minyak ini ke dalamnya.

HIDUNG

Meski terkesan aneh, memasukkan minyak ke lubang hidung dapat menenangkan mereka yang ber-dosha vata. Cara ini disebut nasya. Selain itu, ia dapat meningkatkan penglihatan dan mengurangi dengkuran.  Minyak juga bisa dimasukkan ke hidung untuk melegakan hidung yang tersumbat (asal minyak itu sudah dihangatkan hingga sesuai suhu tubuh normal), mata yang kering, leher yang kaku, sakit kepala, migrain, dan bahkan spondylarthritis.

Anda bisa melakukan nasya hingga dua kali sehari (dalam kondisi perut kosong dan setidaknya sejam sebelum atau sesudah mandi). Caranya ialah berbaringlah dengan wajah menghadap ke atas, dengan bantal di bawah bahu dan kepala Anda menengadah ke belakang sehingga lubang hidung Anda menghadap ke atas. Teteskan minyak khusus hidung/ ghee hangat sebanyak 3-5 kali untuk tiap lubang hidung. Istirahatlah dalam kondisi kepala Anda di posisi ini selama semenit.

USUS BESAR

Untuk menghindari sembelit atau konstipasi (karena kekurangan cairan akibat mengabaikan minum di hawa dingin), masukkan kira-kira satu cangkir minyak wijen hangat ke rektum dan cobalah menahannya selama mungkin. Cobalah setidaknya 10 menit dan coba lebih lama keesokan harinya. Barulah ke kamar mandi untuk buang air.

Enema minyak ala ayurveda ini disebut sebagai anuvasana basti. Cara ini akan melumasi usus besar, meringankan sembelit, menyembuhkan pendarahan di area sekitar anus, dan meringankan sakit pinggang. Bagi wanita, cara ini baik juga untuk meringankan keluhan dysmenorrhea, menstruasi yang sakit serta post menstrual syndrome (PMS). Hindari penggunaan enema jika lidah Anda diselaputi lapisan putih yang tebal. Wanita hamil, datang bulan, dan didiagnosis menderita keluahn di bagian vagina juga tidak disarankan menjalani enema. (*/)

My 10 Yogic Reflections [Jason Crandell’s Instagram ‘Challenge’]

I’m very intrigued by Jason Crandell‘s unique approach to giving an Instagram yoga challenge! No apparel sponsor, no friends’ tagging, no obligation to perform asanas (well, you still need to post a photo to accompany the caption though) and thus no material or financial prizes to win, which I don’t mind.

It’s a reflection of yogic values, which entails us to go deeper to our conscience and awareness. So here I am, trying to give it a shot. ‎There’ll be 10 values.

‎#1 *Continue to Grow and Revise*

I once heard a piece of advice from a teacher around my circle that to be a competent practitioner of anything – be it yoga or any other fields – one is to possess the patience of a seed. In order to grow into a tall, large tree with roots that holds the earth, ‎there is no shortcut to take. One has to take the journey really slowly so as to let the knowledge and experience sink in and instilled into the very soul. Enjoy the process without complaining.

In my yoga practice, I’m a slow learner to be sure. It’s been 7 years of practice and I feel there is so much stuff to learn in many years ahead.

Continuing to grow and revise also means to me that the more I learn diverse knowledge and insights which sometimes conflict against each other, I need to firmly hold the principle of openmindedness. It is very essential because I need to stay that way if I want to be a long-life student of yoga or anything. ‎Once I go narrow-minded, I might as well end my journey of being a student. Because I feel content already with what I know and understand.

#2 *Be Critical Thinkers and Engaged Practitioners*

I am so lucky to have been born in a family of educators. With both of my parents working as teachers, they laid the foundation of my education. I took my first English course, for example, when I was a six grader. I thanked them for letting me in the course.

But my enthusiasm started way earlier than that. Armed with proper level of literacy and basic English proficiency, I read more and more books on various issues, ranging from fiction to culture. I can safely conclude that my third parent — intellectwise — is books.

And at a certain point in my book reading, I found some conflicting sources of ‘truths’. At first, it felt odd but then it became okay to me. Reading books with various contradictory ideas is much better than watching debates on television or reading pointless debates of some morons on social media. All of the arguments were served systematically and neatly.

That is why I always observe authorities — whether they be my parents, my boss(es), my senior colleagues, and also my yoga teachers. If I notice any behaviors or attitudes different from messages they convey to me, I challenge them in various ways. Most of the time, I don’t confront in person (I’m introverted, by the way) which is why I resort to writing. Writing a piece that deconstruct their opinion or mind construction. That way, I can get my messages across to other people without hurting anyone’s ego.

Being a critical yoga practitioner also means that I don’t solely dedicate myself to one teacher as a source of knowledge. Neither do I belong to a single yoga style or school or lienage. I humbly thank this invaluable lesson of non-attachment to some of my first teachers whose names I keep for myself.

Being critical also engages me more with my yoga practice. To study better, we certainly need a teacher to guide. But when a teacher directs us to an aim we don’t feel quite right for any reason, stop and take time. We’re not sheep to herd. We’re humans with physical, intellectual and spiritual independence.

#3 *Develop a Point of View Without Minimizing Other Points of View*

As a yogi, I learn so much not only from other yogis and yoginis (and books on yoga obviously) but also from people from diverse walks of life. Ones of them are politicians. We all know politicians are creatures that make most headlines in any countries on earth. They are highly influential, sickeningly controversial, horrifyingly smart figures. Yes, these folks, especially, showed what can happen when they utilize black campaigns for their own political gains.

But I also discover very few of politicians who stay true to their conscience despite this. As far as I can observe, they seem to disallow the use of black campaign. They focus on what their work, tasks, chores, and at the same time reacting to any efforts of disgrace shown by foes.

Because we humans are creatures (zoon politicon) that always have political structures and patterns when we live as a group, I believe also that yogis and yoginis are also like these politicians. Some are angelic, almost like saints. Some are still in their journey to get wiser. Some are getting into the wagon because of financial needs and power-influence greed.

So when Jason says yoga teachers should know how to be confident to defend their belief without condemning others, it really rings true to me. That in order to survive, you don’t need to wage wars against others. But guard your values and ideas like holding onto your last shreds of dignity.

It’s day 4 of @jason_crandell ‘s unorthodox yoga challenge. I’m no huge fan of challenges but if I do‎ take part in one, I want it to be meaningful and reflective. It’s pretty much my yoga diary.

#4 *Be an Advocate of Your Students*

‎On one particular occasion, my first guru stated that yoga is his ‘religion’. Yet, though he is so attached to yoga in some way, he also reminded everyone of the fact that yoga is one of myriad tools available in the universe for human beings to use for their best interest.

That being said, he never gets too bored to let people know this message:”If you get sick, go see your trusted doctor as well. Don’t just do yoga and wish you can recover tomorrow miraculously.”

I cannot agree more on his proposition. Yoga is good and awesome and healthy, but using yoga alone to‎ heal ourselves from acute or chronic pain, any disorders, terminal illnesses, is quite risky. Ridiculous even.

As complex as causes of illnesses that we suffer from, so are our methods of healing. This is in line with Jason’s openmindedness regarding various types of approach other than yoga when it comes to handling a problem of wellbeing. (*)

(Credit: Machfud Achyar)

P. S.: This post will be updated until completion.

Ronan Tang Cares for the Heart

THERE are two types of class I always take at a yoga festival. One is a class I’m most familiar with and second is one I’m most unfamiliar with. The first is to deepen and refresh my prior knowledge in case I’d left something important in my daily practice. A gentle reminder, I can say. The second helps me broaden my views. This type of class is very much exciting as I see myself as a triar.

Ronan Tang brought us in that quite humid afternoon a reminder of how crucial and vital but almost forgotten our heart really is. This is an organ that shows one’s life. Once it stops beating, it means an end of a life. And thus, the health of it guarantees a productive, full life.

Getting to Know our Heart 

What is unique about heart is that it’s one of very few organs in human body which never gets attacked by cancer. “Have you ever heard of heart cancer? No!” he convincingly quipped.

He has an argument. Heart is an organ that constantly works throughout one’s lifetime (besides small intestines). Because our heart always moves and pumps blood, it’s very hot by nature and cancer cells can’t thrive in it. “Cancer cells are like mushrooms, they can only thrive in humid, dark places. They can’t survive in a place where sunlight is too much. They die instantly.”

That being said, Ronan can’t stress more on the importance of keeping our extremeties (body limbs such as arms and legs) warm. But this warmth is not produced by external heat source. The heat must come from inside, i.e. one’s heart. A healthy heart can pump blood strongly so as to keep the furthest bodily parts warm and well circulated with oxygenated, fresh blood. So he advises that if one wants to stay healthy, always make sure that one’s hands and feet are warm.

When one is attacked by any type of cancer, more focus is put on how to get rid of cancer cells. Seldom do people try to seek a root problem of this. Why do cancer cells grow there? That’s a question one needs to address in the first place. Ronan mentions the importance of having extra energy in the ‘dantien’ to warm up the lower and upper extremities (feet and hands).

Besides showing how healthy one is, feet can also indicate one’s aging process. People grow old from their feet, Ronan said. Normal and healthy babies usually have warm, supple and soft feet. Old men have just the opposite condition of feet. Their feet get dry, cold and hard.

Ronan points out that if we want to take care of our heart better, we must pay more attention to how our feet and hands stay warm all the time from inside. It’s a sign of a normally-working, healthy heart. Another sign of healthy heart is normal, fully functioning reproductive organs.

Afterwards, the next question is: How can we maintain this ideal warmth in our hands and feet and at the same time, cool down our head? Because our problem these days is that most people usually experience this: cool dantien but warm (or hot) heads.

How to Care for Our Heart

Taking care of our heart where anahata chakra lies is the key to getting rid of various illnesses, disorders resulting from imbalance. “Your mind and body determines everything,” Ronan pointed out.

When someone is trapped in a vicious energy pattern which eventually drags them to the abyss of suffering (whether it be anxiety, depression, cancer. etc), it’s vital that the heart is once again revitalized so as to bring more energy to someone’s soul, nourishing it to deal with whatever challenges life may bring.

The first step to break this evil circle is making efforts to concentrate our mind on the inner self. “And then from there, we can bring the fire down,” he added.

Whenever obstacles get in the way to bring heat down, fix the root problem first. First thing first: correct our bodily posture. Provide enough space for heart by avoiding hunching too often and too long. “Beneath our heart lies our diaphragm. When we get stressed out, diaphragm keeps pushing up against our heart, leaving less space for heart to expand. Because to achieve a healthy heart, it should expand itself. When it can expand, it can receive blood.”

After the heart is revitalized and thus full with energy, the next step is channel the energy down to our extremities. “Problems arise when the energy is stuck around our chest. To channel it downward, we stay away from too much cold foods and drinks, or eat too little or too much.

What is interesting to me is when Ronan stated that it’s not enough with meditation only. After concentrating your mind on clearing all blockages, the next thing to do is move our body to manifest this improvement process. Meditation (which involves visualization of channeling energy downards) is therefore not enough to achieve holistic health. One must also move the physical body.

Techniques to Apply

Now we arrive to the most practical part of the class, which I like most. Here are some tehcniques for us (especially for those with cancer and other terminal diseases) to apply on daily basis Ronan recommends:

  1. Deepening and prolonging breaths: This is done by opening our thoraxic area (chest) and practicing pranayama. Performed correctly, this is effective to release tension in heart. A simple breathing technique to release is take a deep breath and then hold for a few seconds and then exhale slowly from mouth.
  2. Thunderdrum: Imagine you’re like a gorilla punching its chest with its fists. This move may activate T cells which are helpful for our immunity system. This is good for people with cancer. Pressing the center of sternum is also effective to get rid of stress and anxiety, indicated by shallow breaths.
  3. Releasing the superficial layers of myofascia: You can do this by pinching gently your own skin, from the lower waist to shoulders. Ronan says it helps us prevent breast cancer.
  4. Energy clapping: In the morning, use your hands to slap your body softly but powerfully. The parts of body to slap on are ones where accupressure points lie. This technique is to create space for lower dantien. One may slap from several dozens to a hundred in a single session.
  5. Laughing is the best medicine: It’s not the external artificial medicine that cures us but our chi, our own energy, that can cure our diseases. This can be done by gently beat chest with fist in the morning while mouth is half open to let out the air. Laugh and play with children when you feel stressed out to release any tension in the heart. If one finds it hard to laugh, try emulating laughs by pronouncing “hahaha” for several minutes.
  6. Changes of lifestyle: Ronan highlighted some lifestyles these days that he thinks is not worth it. To take care of heart, avoid at all cost modern lifestyle such as partying all night long, drinking liquor excessively. He also advised that one reduce sexual activity when getting older and under unfit conditions.

Ronan also challenges some modern approaches that see and cure illnesses unholistically. Such as when someone suffers from a spine problem, s/he is told to strengthen back and abs muscles. That may be effective to some extent but doesn’t necessarily address the root of problem. “Where does the energy come from in this case? From our kidney. Because our kidney and our lower dantien are connected. They both give energy to our spine.”  (*)

Kiat untuk Parivritta Trikonasana (Revolved Triangle)

SAAT memulai yoga di beberapa kelas pertama saya, salah satu asana yang terlihat sederhana dan mudah tetapi ternyata sama sekali tidak ialah parivritta trikonasana. Postur ini memiliki tingkat kesulitan eksekusi yang lebih tinggi daripada triangle pose karena mengharuskan saya memuntir tubuh atas ke sisi yang berseberangan.

Saat masih kaku, badan terutama area pinggang dan perut saya cenderung susah diputar. Belum lagi kepala yang mengalami disorientasi/ kebingungan karena torso (batang tubuh) diposisikan sejajar dengan lantai. Kaki juga tidak bisa menapak dengan sempurna. Dan ini berakibat pada hilangnya keseimbangan tubuh secara keseluruhan.

Solusinya? Gunakan props atau alat bantu untuk menjaga keseimbangan dan stabilitas kedua kaki. Props seperti balok yoga juga bisa mengarahkan seluruh tulang belakang agar mencapai ekstensi yang maksimal, atau menjaganya tetap panjang, tidak kolaps ke bawah.

Dengan memakai props berupa balok, mereka yang masih pemula juga bisa memutar kepala dengan lebih nyaman.

Kini, cobalah berdiri dalam posisi parivritta trikonasana dengan kaki kiri di depan. Bawa tubuh atas ke bawah dengan menjaga kesadaran bahwa sumbu pergerakan ialah sendiri pinggul. Dengan kata lain, pinggang ke atas tetap tegak dan stabil meski dilipat ke depan.

Kini letakkan tangan kanan di atas balok untuk menopang tubuh. Balok lebih baik diletakkan di sis dalam kaki kiri. Dengan demikian, tulang belakang terasa lebih panjang dan terentang maksimal serta mengokohkan kaki kanan.

Kemudian putar perut ke kiri saat membuang napas, lalu terus panjangkan tulang belakang dari tulang ekor sampai ubun-ubun.
Tekan tangan kanan secara keseluruhan ke blok dan bukalah area dada dengan mengarahkan lengan kiri ke atas. Di titik ini, parivritta trikonasana idealnya terasa stabil (di kedua kaki) dan panjang (sensasi di sepanjang tulang belakang) serta lega (di area dada).

Bila leher masih kaku atau ada sensasi pusing dan mata masih susah difokuskan ke jari tengah tangan kiri, jangan cemas. Coba dulu memfokuskan ke satu titik di lantai. Baru perlahan putar sedikit leher 90 derajat sehingga mata mengarah ke samping.

Bagi yang mengalami cedera leher atau kaku, disarankan berhati-hati di postur ini. Dalam kondisi tersebut, biarkan kepala terkulai begitu saja agar terasa lebih rileks. (*)

Penultimate

Screen Shot 2017-04-07 at 10.26.33
Utkatasana variation with one leg folded

My thighs were shaking. My quads were screaming for help. My seemingly insubstantial yet efficient gluteus was growing numb already.
.
I was squatting or in a yogic term, performing my best utkatasana. I was not alone. With another man, I was there. In the middle of a mall. With numerous pairs of eyeballs staring at me, at him, at us, at our gruelling struggle to hold our butts off the ground.
.
I had no idea who this guy was. But he was one of those guys who love to do that hardcore body weight workout. Compared to my miniscule musculature, they looked way more admirable, curvy, and manly.
.
But I was not going down without a fight. Around ten of us were asked to come forward and squat as long as we could. Yes, it was a squat contest.
.
I felt less than ambitious to be the longest but I couldn’t retreat so let me make my best efforts after all, I said to myself.
.
One, three, seven, ten seconds, everyone seemed quite strong. And then at the sixtieth second, one or two people began succumbing. I too thought I couldn’t make it but I persisted still. This is the right time to celebrate this feather weight and flat ass as cheerfully as I possibly could, I mumbled.
.
Then more and more people who I thought were way stronger and durable eventually surrendered. They stood up, panting and cursing the torturing contest.
.
Until I realized the timer crawled to 120 seconds. I had glimpsed at this guy a few steps beside me still squatting strong like before. I felt I almost wanted to faint and I didn’t know my form was less than perfect until a spotter warned me. I couldn’t believe this guy still held the squat like a pro.
.
It was only two of us squatting. Things were getting fierce. I heard people around us yelling and trying to provoke.
.
It was a few seconds before 3 minutes of holding our squat before I gave up. I stood up and let him won and took the prize and pride. But as a penultima, I made my best efforts.

Yogikrat

Suasana masih lengang. Sebelum dirongrong tenggat, saya sempatkan untuk mengetikkan kata kunci “ketua [isi dengan nama lembaga negara] provinsi X” di kotak pencarian Google. Tertampillah beberapa tautan. Saya klik secara naluriah tautan yang paling memenuhi rasa ingin tahu saya.
.
Saya terperangah. Di sebuah halaman web, terpampang sebuah foto acara serah terima jabatan. Betul itu wajah pria yang saya temui pagi tadi. Deskripsi foto juga memuat sebuah nama yang ia berikan pada saya tadi. Tak salah lagi. Ia orangnya.
.
Perjumpaan saya dengannya bukan cuma kali ini. Sebetulnya sudah beberapa kali saya lihat sosoknya berseliweran di sebuah taman di jantung ibukota. Saya pikir ia seorang warga sekitar taman. Hanya saja ia jarang keluar jadi tak saban hari sosoknya terlihat.
.
Pertama kali melihatnya saya tahu ia mempraktikkan sedikit yoga meski ia lebih suka menghabiskan waktu berlari kecil memutari taman atau berjalan cepat. Namun, di akhir sesi olah tubuhnya ia selalu memungkasi dengan beberapa set surya namaskara. Ia menghadap ke timur di rerimbunan pepohonan yang justru menyembunyikan dirinya dari terpaan surya.
.
Dalam beberapa kali kesempatan, saya lihat ia bertumpu di lengan bawahnya dan memeragakan apa yang para yogi modern sebut dengan pincha mayurasana. Salah satu postur idaman yang amat populer, jika Anda mau mencermati media sosial. Tak terhitung banyaknya orang di sekitar saya yang tergila-gila dengan pose satu ini. Sampai siku robek berdarah juga tak masalah asal bisa berpincha mayurasana dengan semena-mena, begitu tekad mereka.
.
Tetapi pria paruh baya yang masih bugar, berperut ramping dan berperawakan tegap itu sekonyong-konyong mendekati saya tadi pagi. Begini ucapnya agak malu-malu begitu ia tahu saya sudah rampung berlatih,”Tadi bagaimana ya caranya supaya kakinya bisa pegang di belakang kepala?” Lalu tubuhnya memeragakan sebisanya. Ah, ia melirik-lirik dari tadi hanya karena ingin bertanya ini pada saya. Ia pasti sempat menyaksikan sekilas saat saya latihan sendiri tadi.
.
Saya sebut nama pose idamannya itu, natarajasana. Ia tidak tampak ambil pusing dengan nama. Persetan dengan nama, saya cuma mau bisa melakukannya, mungkin itu dalam benaknya. Kemudian saya tunjukkan tekniknya, bagian-bagian mana saja yang perlu diregangkan dulu agar pose sukses dieksekusi dengan aman dan nyaman.
.
“Saya dulu pernah diajari surya namaskara oleh seorang teman S3 di Leiden, Belanda. Saya hapalkan dan masih terus praktikkan sampai sekarang,” jelasnya. Saya mengangguk percaya karena saya melihatnya sendiri. “Setelah itu, saya masih sering latihan yoga sendiri tapi di YouTube.”
.
Sebagai seorang birokrat, ia memiliki disiplin yang mengagumkan untuk menjaga kesehatan pribadi. Tak peduli deretan kesibukan, katanya, ia masih menyempatkan menggerakkan badan. Gerakan-gerakannya hasil dari eksperimen dan observasi dari video YouTube. “Yang paling favorit seperti ini…,”ia duduk di mat yang hampir saya hendak gulung. Ia duduk dalam posisi kaki teratai lalu tangannya bertumpu ke depan dalam posisi mirip upward facing dog, kemudian duduk lagi dengan punggung terjulur ke depan dan merebahkan diri ke mat. Semua ia laksanakan dalam posisi kaki lotus yang sempurna. Boleh juga bapak ini, batin saya.
.
Belum puas, ia pertunjukkan pada saya kemampuannya melakukan kayang. Sungguh saya tak memerintahnya melakukan itu tetapi dengan sukarela ia berbaring telentang dengan kedua tangan di samping telinga dan ia dorong tubuhnya sampai melengkung ke atas. Saya betulkan telapak kakinya yang mengarah ke samping luar dan membantu meluruskan tangannya. Tampak bahunya masih kaku. Namun, ini sudah termasuk bagus untuk orang yang tidak secara khusus mendedikasikan waktunya pada yoga saban hari seperti sebagian dari Anda dan saya.
.
Ia katakan sedang berkunjung ke Jakarta karena tugas dan tinggal beberapa hari di sebuah hotel di dekat kantor lembaga negara yang pusing mengurusi pilkada di seantero nusantara. Saat pagi hari ia sempatkan diri ke taman ini untuk merawat kesehatan di tengah kelimpahan oksigen dan sinar matahari pagi agar siap berjibaku lagi melalui siang dan petang untuk membicarakan perkara-perkara pemilihan kepala daerah yang tiada henti-hentinya itu.
.
Ia beruntung memiliki teman yang mengenalkannya pada kebiasaan yang sehat dan baik. Dan keberuntungan itu makin tumbuh subur lagi dengan tekad dan disiplinnya dalam menjaga konsistensi. Karena semua orang sudah tahu apa yang baik bagi mereka tetapi sangat sedikit yang benar-benar melaksanakannya apalagi rutin melakukannya. Dan yang terpenting, jika ia sebagai individu memiliki kedisiplinan dan konsistensi sedemikian rupa, sebagai pemimpin di lembaganya, keberhasilannya sudah bisa dipastikan. Bukankah kita semua sudah muak dengan pemimpin yang tidak konsisten dan disiplin?

HUMILITY

One day a young man came to his father. The son had practiced yoga asanas a lot. He was a fervent student. No one surpassed his enthusiasm in every class he attended. All gurus he met saw his potential and praised him.
.
While his father was reading a newspaper in a rocking chair, the young man sat down to inform the great news.
.
“Dad, guess what? I can now stand with my arms flawlessly straight, bend and twist my torso to the most extreme extent no one can perform, touch my chin with my big toes…”
.
The son proudly exposes all of his abilities and achievements and shower of attention and praises he got from everyone he ran into thanks to his yoga skills.
.
The young man stopped talking. His eyes were brimming with utmost pride. He wanted more admiration. This time, it was supposed to come from his own father’s lips.
.
As he put down his newspaper, the father earnestly quipped, “So what?”
.
Before the son had a slightest chance to protest the cold reaction from the person he wanted praise most in this world, the father said to his son, in a much lower tone,”How can that be of help for others? How can your skills of putting your legs behind your head make other people’s lives better? How can your effortless success of standing on your own crown of head give benefits to people in need around you? How can your Instagram photos that show you splitting your legs as wide as you desire be useful to the world? How can all the physical prowess you mentioned earlier make the world a better one? Even a bit.”
.
The young man was stoned. Both of them were silenced. The son didn’t see this coming. The father was awaiting his son’s defensive answer. Yet, nothing came out of his mouth.
.
“Teaching?” the son blinked, as if he were seeking approval.
.
“Go teach them. You’ll show off a lot at first. But no problem. Time will teach you humility.” (*)

Being a Vegan Yogi: Is It Really Necessary?

Can being a vegan make any difference in your yoga practice? (Wikimedia Commons)

Must a yogi or yogini be a vegan?
It’s a bit confusing to me as a yogi for these recent years. Some of my gurus and senior practitioners provide various examples on this way of life. The vegan way of life.
I know some yoga gurus who eat no meat. Some others don’t abide this rule. They eat somewhat liberally, if I cannot say haphazardly. A few try to be vegans but to no avail they retreat. Eating as a vegan in Indonesia is quite hard unless you have your own kitchen. Not to mention the temptation. But that is a series excuses. They just don’t have the consistency and determination, I guess.
Uniquely enough, I also ran into a guru who used to avoid eating meat but then he practiced it no more ever since. His cease of vegan way of life occured after he was on his brief excursion in India. He told me he stumbled upon an Indian. A vegan he was, the guru specified. But the thing is the guru then discovered he got scammed as a helpless foreigner and tourist by the vegan Indian.
“So what’s the point of being a vegan?” the guru protested. All he know about being a vegan is bringing ourselves closer to virtue. To God the Almighty. Yet, the fraud that just happened to him changed his perception on vegan way of life.
“It’s overly hyped,” he concluded. “Being a vegan doesn’t guarantee you to be more virtuous, to be kinder, to be better as a human being.”
In his case, I cannot refute. The experience was so raw and mind-boggling. This might be true or false. He is entitled to his own opinion that vegetarianism is vanity.
So far, I have never had such incidences. Bad vegans probably exist out there but they are outnumbered by the good ones, I am sure. As far as I am concerned, vegans around me are kind, compassionate and lovely human beings. They are less judging, and as energetic as carnivores but more controlled in some way.
So I look for more examples in the yoga world. And I found some teachers like Kino MacGregor and Sharon Gannon who advocate the vegetarianism. An ashtangi I know also happens to be a vegan.
Gannon, dubbed also as a spiritual activist and animal rights defender, remarked that yogis and yoginis “must remain steady and solid in our convictions.” She exemplified the Earth as the perfect example of this steadiness in conviction. Never does it slip away from its course.
“Patanjali says in his sutra:’sthiram sukham asanam’,” she explained. The word ‘sthiram’ means firm and steady in our life. It means sticking to our course of action, she added.
Often we are confronted by people who think we are overreacted by avoiding eating meat, accusing us of loving animals more than fellow human beings. But Gannon said it is not supposed to be like that. And she reasoned that loving should not be restricted to human beings. “Extend it (compassion) to all beings because we are all one, connected to each other,” said she. That said, hurting animals means hurting ourselves. Poisoning rivers mean poisoning ourselves. When we pollute the air, we pollute ourselves.
Speaking of the issue of yoga and vegetarianism, Gannon bases her logic and arguments on Patanjali’s Yoga Sutra and particularly on the second chapter of the sutra. “Otherness is the biggest obstacle to enlightenment, because in enlightenment is when you perceive the oneness in all being. An enlightened being doesn’t see others. An enlightened being only sees God,” she expounded.
This otherness can be dissolved by not hurting beings that are different from us. This is ahimsa. And do not lie to them, which means satya or honesty. And never steal from them, called asteya. What is more important is never abuse others for sexual pleasure, that is brahmacharya. And never let yourself swept by greediness. This is aparigraha or greedlessness.
Maybe we ask in mind, if eating animals cannot be justified, what about eating plants? Well, plants are creatures, too. Plants can feel. They are alive. Kino MacGregor, a renowned ashtangi, answered,”Plants as sentient beings are lower on the totem pole.”
MacGregor also mentioned that teh leats harmful food we can eat is a fallen fruit. “It’s given freely, ripe and a tree wants you to eat its fruit to spread seeds,” she elucidated.
So if a yogi or yogini desires enlightenment, which is the ultimate goal of yoga practice, hurting other creatures is never allowed. This means not eating animals, too. Happiness, she said, cannot come from exploiting others.Finally, we should answer the question in the opening of this writing: “Must a yogi or yogini be a vegan?” Only you can answer. (*)

Daphne Tse Empowers Others by Voice

Living in a modern age, most people seek recovery and cure from external sources. At the same time, they ignore what the mother nature has provided them simply because they take these ubiquitous yet invaluable resources for granted. One of these resources is sound, which can be used as medicine as well. Natural sounds such as every human being’s voice is unique and proves to be effective to heal us. Daphne Tse is one of the big believers of the powerful healing effect of voice. Having music and yoga as her roots, Daphne who is from Texas invented what she called “Nada Yoga”. Simply put, she blended yoga practice with folk music.
Back then, Daphne learned music formally at University of Texas in Austin, The Old Town School of Folk Music in Chicago. With Jai Uttal, she studied kirtan music. Kirtan is a devotional song in which a group repeats lines sung by a leader. She also released music on Shiva Rea’s yoga music compilations. The singer cum songwriter also recorded 2 solo albums titled “Mata” and “Finding Water”.

In her class “Nada Yoga: Chakra Chanting, Toning and Sound Meditation” at Namaste Festival 2014, Daphne showed us how our own voice can be the best tool to cure the ailing body and spirit by opening and balancing chakras with toning and sounding. With more open and balanced chakras, energy inside us is expected  to flow better than before.

Her main teaching is “if you can breathe, you can do yoga.” The very first step of doing yoga is people become aware of their breath. “Because most people breathe all day long and they’re not even aware they’re breathing. The breath (pranayam) is the most sustainable yoga practice of all yoga branches.”

“Many people are afraid of their singing voices, and we try to move away from that,”she explained. She leads students how to find the love of their voices again and be able to find that expression in life and find the empowerment around [the notion that] they can change their life just by their own voice.

Sound healing and music therapy sparked her interest years ago as she decided to study with Jonathan Goldman in Colorado in 2001. Through Goldman, Daphne learned the scientific studies of how sounds create space in the body and how it can be used as medicine.

As a gymnast in middle school almost 20 years ago, Daphne whose father practices meditation regularly started doing yoga. In Los Angeles, she met teachers such as Eric Schiffman, Shiva Rea, etc and learned yoga asanas more seriously.

Her first and favorite yoga teacher is Eric Schiffman, a student of Krisnamurti. “Practice in the Stillness”, Schiffman’s practice, drew Daphne’s interest. “He inspired me in the fact that I could see all elements of yoga especially meditation,”she reminisced. The teacher used the word “maliable”, which means we can move, shift, change and flow just like water. That’s the big, impactful teaching of Schiffman she always remembers.

The older Daphne gets, the more she realizes that everything is yoga. Yogis are not only the ones on the yoga mats, she said. Her father does meditate and swim but never steps on a yoga mat, and that doesn’t mean he’s a yogi. “Yoga is a very integrated practice, and what I’m interested in now is all the integration of yoga, from the asana to the breath work, to the dance, to the music, and mantra. Integrating it all into our lives on a daily basis.”

Daphne has a big interest in mantras, sounds, sound healing, and the use of yoga sound (Nada Yoga). While doing asanas, finding the sound that matches works into the body. She further explained,”Let’s say you’re doing a hip opener [pose], and sound it into your hip, not sitting there silently.”

In spite of that, Daphne also told me that one of the teachings she learned is that we can also stand silently inside our own body and be healed.

Now she’s not doing as much of asanas. Daphne prefers meditation, dancing and singing. “Twenty years of doing triangle pose and surya namaskar… It’s beautiful, I love it and it’s a great practice and I liked then the flexibility and maliability.” She believes yoga practice doesn’t have to look a certain way.

It took a moment for Daphne to think how she wants to be remembered. Yet, simply put, by her teaching she wants to help create spaciousness in her students’ heart to love and to be able to give love selflessly.

To Daphne, it’s much easier to stand in the podium and teach what you know without paying attention to students. She doesn’t teach that way because she believes that a yoga teacher needs to be open and be received by students. Teaching is actually serving the people so the most important thing is “look at your audience, your students and see what their needs are first.” She put emphasis on simplicity of teaching, too.

As technology seeps into every and each part of our lives, yoga teachers also have to adapt to it. At 43, Daphne admitted she’s not into it that much, like younger generation. Also, she cautioned against the dominant ego while we post stuff on social media. There has to be separation between the yoga teachings and themselves on the web. “It’s a great tool to connect with the community but at the same time not to depend on it.”

Freedom, flow and love are three words she’d use to describe yoga succinctly. With yoga, she finds freedom as well as maliability like water. And by love, she meant “connecting to the heart”.