Yoga, Mimpi, dan Kreativitas

Dalam savasana idealnya kita tetap sadar, jangan sampai lelap apalagi mendengkur. Inilah tantangannya. (Foto: Radiantly Alive Yoga Studio ,Ubud)
Dalam savasana idealnya kita tetap sadar, jangan sampai lelap apalagi mendengkur. Inilah tantangannya. (Foto: Radiantly Alive Yoga Studio ,Ubud)

Baru-baru ini saya bertemu dengan seorang mahasiswa yang ingin membahas yoga dalam penelitian akademiknya (skripsi). Dan saya entah kenapa menjadi orang yang ia pilih untuk menjadi narasumber. Kemungkinan besar karena saya sudah memajang berbagai kontak saya di dunia maya, sehingga tidak heran jika siapa saja termasuk dia bisa tiba-tiba memiliki akses menuju alamat surel saya dan bertanya soal yoga.

Kami pun bertukar kata lewat surel dan untuk kepentingan pemenuhan data, saya pun dikirimi sebuah daftar pertanyaan. Ia menanyakan pekerjaan saya, saya mengaku sebagai copywriter. Dan sebuah pertanyaan menggelitik yang tercakup di dalamnya ialah:”Apakah gerakan hatha yoga bisa membantu menemukan ide kreatif dalam pekerjaan Anda? Jika iya, kenapa bisa? Gerakan yoga apa saja yang bisa mengembangkan kreativitas? Apakah selama beryoga sering mendapat inspirasi? Seperti apa contoh nyata dan solusi kreatif dari yoga dalam pekerjaan Anda?”

Terus terang saya tergagap. Selama ini saya beryoga dan meyakini kontribusi yoga dalam performa kreatif dalam pekerjaan saya begitu saja. Tetapi itu saya mesti akui hanya sebatas sugesti subjektif yang tidak bisa saya jelaskan secara gamblang, apalagi secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Saya pun tidak yakin harus mengutip hasil penelitian siapa atau yang mana untuk mendukung opini saya itu, jadi saya selama ini hanya meyakini saja karena demikianlah yang setidaknya saya rasakan. Saya merasa lebih bisa bekerja dengan baik setelah beryoga. Itu saja.

Namun, begitu saya ditanya seperti ini, saya mau tak mau harus mencari jawabannya dari berbagai literatur yang saya bisa temukan. Awalnya saya hanya bisa memberikan jawaban yang mengawang-awang. Semuanya mengandalkan perasaan, sensasi, dan subjektivitas melulu.

Saya baru menyadari bahwa memang ada penjelasan yang lebih ilmiah untuk itu. Dan itu saya temukan dalam uraian Andrea Rock, seorang jurnalis investigasi yang berhasil memenangkan sejumlah penghargaan bergengsi seperti National Magazine Award dan Investigative Journalist dan Editors Award. Dalam karyanya yang berjudul “The Mind at Night”.

Tulisan Rock membahas soal mimpi dan hubungannya dengan pengasahan kreativitas. Dikatakan oleh Rock bahwa:

One way to really tap into the creative potential of dreams is to train yourself to experience lucid dreaming – that is, to realize you’re dreaming while you’re dreaming, and to stay asleep.

If you can do this, you might be able to then take control of your dream and do things that you can’t do while you’re awake, like take to the sky and fly.

This isn’t always possible, but there are a few techniques to increase you chances.

While you’re awake, stop from time to time to ask yourself whether what you’re seeing is reality or a dream. This will make it easier to raise this question in your dream without waking up, which is the key trigger to achieving lucidity.”

[Terjemahan bebas: Salah satu cara untuk menggali potensi kreatif mimpi ialah dengan melatih diri kita untuk mengalami mimpi secara jernih dan sadar – maksudnya, dengan menyadari bahwa kita sedang bermimpi saat kita tengah bermimpi dan tetap terlelap.

Jika Anda bisa melakukan ini, Anda mungkin bisa mengambil kendali atas mimpi Anda dan melakukan hal-hal yang tidak bisa Anda lakukan saat terjaga, seperti melambung ke angkasa dan terbang.

Ini memang tidak selalu mungkin tetapi terdapat sejumlah teknik untuk meningkatkan peluang untuk bisa mencapai kesadaran saat bermimpi.

Saat Anda terjaga, berhentilah dari waktu ke waktu untuk bertanya pada diri Anda sendiri apakah yang Anda saksikan itu kenyataan atau mimpi. Dengan melakukannya Anda akan lebih mudah untuk memunculkan pertanyaan yang sama dalam mimpi Anda tanpa harus terbangun, yang menjadi kunci untuk dapat mencapai kesadaran.”]

Kemudian pertanyaan saya, setelah kita tahu bahwa kreativitas yang lebih tinggi bisa dicapai dengan mencapai kesadaran (lucidity) sepanjang kita bermimpi, bagaimana yoga bisa membantu kita menjangkau dan mempertahankan level kesadaran semacam itu? Ini karena sulit sekali membangunkan kesadaran diri kita selama kita bermimpi. Kebanyakan manusia hanya akan membiarkan dirinya terhanyut dalam isi mimpinya, entah itu menyenangkan atau mengerikan atau menyedihkan. Mereka terlarut dalam emosi yang mendominasi mimpinya. Padahal saat emosi terlalu menunggangi pikiran, kesadaran sejati justru tertidur.

Dalam latihan yoga, kita biasa menemui istilah “awareness” atau kesadaran dalam instruksi-instruksi guru. Kesadaran ini memang wajib senantiasa dilatih selama beryoga, dan juga dalam kehidupan sehari-hari. Karena tanpa kesadaran, kita bakal cenderung larut dalam roda rutinitas sehari-hari. Dan inilah mengapa orang kerap berceletuk,”Waktu berjalan cepat ya?” atau “Rasanya hari/ minggu/ bulan ini cepat sekali berlalu.” Ini bisa terjadi karena orang selalu bergegas, tergesa, hingga tanpa sadar terseret dalam emosi dan pikiran keseharian yang kurang membekas dalam benak. Karena itulah, kesadaran perlu sekali dijaga dalam melakukan aktivitas apa saja.

Savasana atau pose mayat yang sering dijadikan pose penutup dalam latihan yoga serta teknik yoga nidra yang mengiringinya juga menurut saya juga ada manfaatnya dalam melatih kesadaran kita untuk membedakan mana mimpi dan kenyataan. Dan justru menurut saya pose mayat inilah yang paling menantang di antara pose-pose yoga lainnya sebab dalam pose ini seorang praktisi yoga mesti merilekskan tubuh fisik dan pikiran serta jiwanya secara menyeluruh, tanpa kecuali tetapi tidak melepaskan kesadaran begitu saja. Kesadaran sepanjang melakukan savasana idealnya terus terjaga. Dan inilah tantangan terberatnya: bagaimana pikiran kita tetap terjaga di ambang batas kesadaran dan tidak terseret dalam relaksasi sampai tidur nyenyak dan mendengkur. Dengan alasan tersebut, saya kurang setuju jika sebagian orang (terutama mereka yang pemula) berseloroh bahwa savasana adalah pose favorit mereka karena paling mudah dilakukan. Tinggal berbaring di lantai dan tidur pulas. Tunggu, itu tidur biasa, bukan savasana yang dimaksudkan dalam yoga.

Secara lebih rinci, kita perlu mengetahui perbedaan antara relaksasi dalam savasana versus tidur dalam pengertian yang dipahami khalayak umum. Swami Satyananda Saraswati dalam “Yoga Nidra” terbitan Bihar School of Yoga tahun 1976 menyatakan bahwa relaksasi tidak berarti tidur. “Relaksasi artinya kebahagaiaan sejati; ia tidak memiliki akhir. Saya menyebut kebahagiaan sebagai relaksasi mutlak; tidur ialah aktivitas yang berbeda sama sekali. Tidur hanya memberikan istirahat bagi pikiran dan indra kita. Kebahagiaan merilekskan atma, jiwa dalam diri ini; itulah kenapa, dalam tantra, Yoga Nidra ialah gerbang menuju Samadhi,” terang sang guru panjang lebar.

Kemampuan kita mengatur napas dan raga menurut saya menjadi penentu penting dalam melatih kesadaran sepanjang bermimpi. Dalam mimpi tentunya kita akan kehilangan kendali terhadap napas dan raga kita. Dalam kenyataan, kita memiliki kemampuan mengendalikan keduanya. Indra-indra aktif sehingga kita bisa merasakan sakit, nyeri, lega dengan nyata. Jadi, saat kita melakukan latihan yoga, kita coba saja untuk melakukan teknik pranayama dan asana dengan terus menerus menjaga kesadaran. Jangan lengah sedikitpun dengan menanyakan “apakah ini mimpi atau kenyataan?”.

Saat kita sudah terbiasa dengan pemeliharaan kesadaran dalam berlatih yoga, hingga dalam setiap kegiatan yang kita lakukan sehari-hari, akan lebih mudah juga untuk mengasah kemampuan untuk menyadari bahwa kita sedang bermimpi saat masih dalam mimpi. (*)

HUMILITY

One day a young man came to his father. The son had practiced yoga asanas a lot. He was a fervent student. No one surpassed his enthusiasm in every class he attended. All gurus he met saw his potential and praised him.
.
While his father was reading a newspaper in a rocking chair, the young man sat down to inform the great news.
.
“Dad, guess what? I can now stand with my arms flawlessly straight, bend and twist my torso to the most extreme extent no one can perform, touch my chin with my big toes…”
.
The son proudly exposes all of his abilities and achievements and shower of attention and praises he got from everyone he ran into thanks to his yoga skills.
.
The young man stopped talking. His eyes were brimming with utmost pride. He wanted more admiration. This time, it was supposed to come from his own father’s lips.
.
As he put down his newspaper, the father earnestly quipped, “So what?”
.
Before the son had a slightest chance to protest the cold reaction from the person he wanted praise most in this world, the father said to his son, in a much lower tone,”How can that be of help for others? How can your skills of putting your legs behind your head make other people’s lives better? How can your effortless success of standing on your own crown of head give benefits to people in need around you? How can your Instagram photos that show you splitting your legs as wide as you desire be useful to the world? How can all the physical prowess you mentioned earlier make the world a better one? Even a bit.”
.
The young man was stoned. Both of them were silenced. The son didn’t see this coming. The father was awaiting his son’s defensive answer. Yet, nothing came out of his mouth.
.
“Teaching?” the son blinked, as if he were seeking approval.
.
“Go teach them. You’ll show off a lot at first. But no problem. Time will teach you humility.” (*)

Triple D

TIDAK seperti cuaca sore hari biasanya, sore itu cerah. Jalan di depan Cafe Olala itu ramai dengan lalu lalang orang. Langit memang agak kelabu tetapi tidak ada titik hujan turun. Cuaca menyejuk karena makin mendekati petang hari.
Diana gelisah. Ia sedang menunggu seseorang setelah kelas yoga sorenya yang selalu membuatnya merasa terlahir kembali.
“Ke mana dia?” perempuan itu berbicara lirih pada dirinya sendiri lalu memeriksa layar ponsel pintarnya untuk mengirim pesan.
“Kau di mana?” ketiknya. Ia sudah tak sabar.
Namun, sedetik sebelum Diana mengetuk tombol ‘kirim’, sebuah suara berat dan kalem menyapanya.
“Hai. Maaf mbak Diana, saya terlambat,” ucap lelaki itu cepat-cepat seakan meminta pengampunan sesegera mungkin dari seorang ratu.
Untuk menutupi kegugupannya, pria itu duduk dan mencoba menyungging senyum. Ia tidak menampakkan giginya yang rapi. Hanya bibirnya yang agak merah itu yang memanjang ke samping. Dagunya tirus dan runcing. Kulit wajahnya mulus dan cerah, tanda kerap bercukur dan merawat diri.
Senyum yang membuat Diana meleleh seketika itu juga. Gelisahnya pun sirna. Ponsel pun ia letakkan dalam keadaan layar terbalik di meja kayu berpelitur cokelat muda. Agar tidak mengganggunya selama bercakap dengan orang di depannya.
Diana mengenalnya suara pria muda itu dengan baik. Tentu saja karena ini bukan pertama kalinya ia bersua dengan sang lawan bicara. Dari sini, Diana larut dalam percakapan yang intim, tidak peduli dengan apapun di sekitarnya.
“Kenapa kau terlalu lama, Dave?” tanyanya dengan nada manja. Lalu ia memanggil pelayan dan memesankan satu kopi lagi.
Pria itu menjawab dengan datar,”Tadi saya ada sedikit urusan. Administrasi. Maklumlah, ini kan mau dekat akhir bulan. Agar urusan cepat kelar, jadi manajemen tak mau menunda. Mereka ingin saya menandatangani beberapa dokumen segera.”
“Dokumen?! Dokumen apa?” Diana terus bertanya-tanya. Tidak ada yang tidak menarik jika sudah berkenaan dengan kehidupan Dave. Diana seakan haus dengan detail kehidupannya. Namun, Dave tetap bersikap tenang dan cenderung misterius.
“Dokumen biasa. Ah, sudahlah. Bagaimana tadi kelas yoga kita? Enak?” tanya pria yang mengajar yoga di Prasarita, sebuah studio yoga yang tak jauh dari kafe mereka mengobrol itu. Pertanyaan yang jelas terkesan basa-basi saja karena ia sebenarnya kebingungan mengawali percakapan. Dave biasa berbicara lantang di kelasnya tetapi begitu di luar kelas, ia berubah menjadi pribadi yang setenang air di danau terpencil di tengah hutan.
Ini kali pertama mereka bertemu di luar kelas yoga sore rutin yang berlangsung dua kali seminggu. Dave mengajar kelas sore di Prasarita. Sejak Diana masuk dan mengikuti kelas yoga Dave, ia selalu mengupayakan datang. Tidak ada alasan untuk absen. Sekalipun itu artinya berbohong pada Pak Artha, manajernya yang naif itu, bahwa Salita anaknya baru sakit demam di rumah. Ia mesti segera pulang, alasannya di depan Pak Artha. Tetapi kenyataannya ia naik mobil Uber pesanannya ke Prasarita. Cuma untuk ikut kelas Vinyasa yang diajar Dave.
Matanya yang besar itu berkedip pelan, membuat Diana menahan napas, seperti tersihir barang sedetik dua detik. Kalau ia tidak di tempat umum mungkin sudah ia kecup gemas sepasang mata itu.
“Badanku selalu merasa enak setelah mengikuti kelas yogamu, Dave. Itu sudah pasti,” jawab Diana yang mengiringi jawaban itu dengan senyuman genitnya. Entah ia sadari atau tidak, ia mencoba menggoda Dave.
Perempuan itu mendorong kepalanya sedikit ke depan, hingga akhirnya bersandar pada tepi meja. Godaan belum selesai. Katanya lagi,”Kau tahu rasanya tubuh ini begitu siap dan terbuka untuk menerima apa saja…” Jari telunjuk kanan Diana merapikan anak rambut di telinga kanannya. Sebuah isyarat alami bahwa ia ingin menarik guru yoganya ini dalam pusaran pesonanya yang sudah kondang di kalangan teman-teman sekelasnya.
Kedua mata Dave tidak menyaksikan kerlingan penggoda itu. Alih-alih, ia mengarahkan pandangan matanya ke wadah kopi yang dipegang kedua tangannya. Tangan-tangannya tidak sebesar tangan Max, mantan suami Diana dulu, tetapi kekar dan berurat besar berkat lebih dari 1000 kali chatturanga dandasana dalam sebulan, pose yang membuat Diana kesulitan bernapas dan menguasai diri karena lengannya yang masih lemah. Maklum baru dua bulan berlalu sejak kelas pertamanya. Dan selama dua bulan itu, Diana hanya mengunjungi kelas Dave. Tidak tertarik ia pada kelas lain yang ditawarkan di Studio Prasarita. Hanya kelas Dave yang menarik baginya. Itupun karena gurunya yang menarik. Ia lemah pada pria tampan seperti Dave.
Untuk bertemu Dave seperti sekarang, Diana sudah jauh-jauh hari merancang. Di akhir setiap kelas, jika Dave masih di kelas sibuk merapikan mat dan props, Diana mendekati. Hingga di kelas pekan lalu Dave terpancing melayani basa-basinya.
“Guru, ada tidak buku untuk belajar sendiri di rumah?” Diana bertanya seolah ia sangat antusias belajar yoga.
“Oh, ada tentu saja. Akan saya bawakan nanti ya mbak Diana,” jawab Dave santun. Pemuda itu tahu harus menjaga kesopanan di hadapan pengunjung studio, tidak peduli semenjengkelkan apapun orang itu.
Dave tahu diri. Ia memanggil muridnya itu “mbak” memang untuk memberikan jarak. Ia amat berhati-hati soal ini. Lagipula, ia tahu bahwa usia Diana lebih tua beberapa tahun darinya. Dan saat itu Dave tidak tahu statusnya yang janda.
Dua kali seminggu itulah Diana merasakan gairah hidupnya kembali menyala-nyala. Sejak perceraian yang menyakitkan dari Max, Diana berupaya memulihkan diri dari keterpurukan. Kini ia membesarkan anak semata wayangnya sendiri.
Sementara itu, Max tidak bisa memberi nafkah apa-apa. Maklumlah, ia habis dirumahkan. Perusahaan minyak tempatnya membanting tulang itu memangkas tenaga kerjanya di Indonesia dan Max ketiban sial. Kini Max stres berat. Luluh lantak karier dan pernikahannya yang baru berjalan enam tahun dengan Diana.
Dave datang di saat yang tepat saat hati Diana terasa kosong dan dingin. Dan melihat seorang pria lajang dengan tingkat kematangan dan kedewasaan yang melebihi mantan pasangannya itu, Diana merasakan hatinya menghangat kembali. Ibarat rumah yang ditinggal kosong oleh penghuninya, tiba-tiba ada api yang menyala dalam tungku perapiannya. Dan bagi Diana, yang menyalakan api itu tidak lain dan tidak bukan adalah Dave seorang saja.
Dave menggeser maju genggaman tangannya yang berisi kopi yang sudah mendingin, kemudian dengan malu-malu mengatakan pada murid wanitanya yang seksi itu, “Aku berselibat, Diana. Aku menjalankan prinsip selibat sebagai yogi tantra.”
Tangan kanan Dave mengangkat wadah kopi lalu meneguk sedikit kopi yang terasa aneh di mulutnya. Pahit.
Seperti enggan menelan kepahitan kopi itu, Dave memuntahkannya kembali. Hanya saja dalam bentuk kalimat,”Aku sudah bersumpah berhenti berhubungan seks dan tidak akan menikah sejak tiga tahun lalu.”
“Apa??! Bagaimana bisa??” Diana tercekat sejenak lalu memandang heran pada guru yoganya yang tiba-tiba baginya menjelma bak seorang biksu atau biarawan.
Masih berharap itu lelucon, Diana merangsek dengan pertanyaan lainnya,”Kenapa kau melakukannya? Kenapa? Jelaskan, Dave. Jujurlah padaku.” Alis dan dahi Diana berkerut selama menunggu jawaban terlontar dari mulut pria muda yang bijak dan spiritual di depannya.
“Tidakkah kau menyukainya? Seks, huh?” perempuan itu menginterogasi guru yoganya bak pesakitan.
Dave mengangguk cepat. “Tentu saya menyukainya. Tapi saya sudah tidak bisa. Saya sudah terikat janji dengan guru saya juga. Dan yang terpenting, terikat janji dengan diri saya sendiri dan Tuhan YME.”
Blah, batin Diana. Pria setampan dan semenarik Dave kenapa bisa berselibat? Aku bisa gila! Sungguh sebuah kesia-siaan yang tidak bisa dimaafkan.
“Siapa gurumu yang mengajarkan begitu? Ajaran tidak benar!” gerutu Diana. Ia tidak bisa dan tidak akan bisa menerima argumentasi apapun yang mengharuskan manusia apalagi manusia seperti Dave yang masih muda, penuh vitalitas dan gairah hidup untuk memendam kenikmatan dunia satu itu.
“Apakah kau tidak ingin berhubungan dengan wanita?” Diana ingin tahu lebih lanjut. Di usia semuda Dave, pasti ia masih perjaka, pikirnya. Betapa sia-sia menghabiskan hidup dalam keperjakaan yang abadi.
“Kau pasti akan berubah pikiran. Kau hanya sedang terbius perkataan gurumu itu, Dave.”
“Tidak. Bukan demikian. Beliau tidak pernah membius saya, mbak. Saya yang memilih jalan ini sendiri,” tegas Dave yang masih tenang menghadapi Diana yang menyalak-nyalak. Ia sudah mulai merasa tidak nyaman dengan percakapan ini. Segera ia ingin sekali menyudahi.
“Aku tidak percaya….,” ucap Diana. Kata-katanya mirip kebulan asap dari wadah kopi panas, yang membubung sedikit tinggi lalu menghilang ditiup angin senja yang mulai turun menyelimuti langit kota Jakarta.
“Saya sudah bosan,” Dave melanjutkan keterangannya.
“Maksudmu?” Diana menanti kelanjutan kata-kata tadi dari bibir Dave. Bibir itulah yang ia kerap fantasikan untuk dilumat dengan bibirnya.
“Karena jujur, saya sudah bosan, mbak.”
“Bosan wanita?”
“Bosan seks…” Dave menjawab lirih.
“Ah…,” Diana kehabisan kata-kata. Ia hempaskan punggungnya ke sandaran kursi kayu itu. Kini ia benar-benar lunglai.
Dengan malu-malu, Dave menceritakan kehidupan masa lalunya yang ia sembunyikan. Dulu ia sangat kecanduan seks. Pagi dan malam ia bisa berhubungan intim dengan perempuan-perempuan sewaan yang berbeda. Kalau siang tidak harus bekerja, ia bisa kembali ke apartemennya hanya untuk bercinta seharian.
Seks mirip meminum air laut. Makin diminum makin membuat haus. Bercinta dua hingga tiga kali sehari membuat Dave juga makin haus seks saja.
Tetapi sayangnya, tubuh ada batasnya. Ia sempat jatuh sakit karena memforsir diri melampiaskan nafsu pada banyak perempuan. Ia kena sifilis. Entah karena berhubungan seks dengan perempuan mana, ia tidak lagi ingat. Tetapi ia rasanya tidak pernah alpa mengenakan pengaman. Barangkali ia memang sedang sial.
Pertama tahu dirinya terkena Dave sangat malu. Ia mendiagnosis dirinya sendiri setelah membaca gejala-gejala penyakit itu di beberapa situs internet. Makanya ia tak berani ke rumah sakit dan memilih bertanya secara sembunyi-sembunyi melalui WhatsApp pada seorang dokter umum yang kebetulan kenalan lamanya. Ada juga kawan sekolahnya dulu yang kini bekerja sebagai dokter tetapi ia tidak mau mempertaruhkan nama baiknya. Bisa bisa ia kehilangan muka di reuni sekolah setiap Lebaran.
“Itu semua hanya ego,” Dave menyudahi cerita buramnya. “Dan apa yang saya pilih sekarang jauh lebih baik daripada dunia yang bergelimang wanita dan seks.”
“Oh begitu ya…,” Diana pasrah. Ia sedikit memiringkan kepalanya ke kanan dengan kedua mata menatap lekat ke wajah Dave yang menurutnya tak pernah menjemukan. Makhluk di depannya ini mirip karya seni abstrak yang indah tetapi kompleks sehingga menyulitkan untuk diterjemahkan dalam bahasa awam. Wanita itu pun menyerah.

***

Sejak pertemuan di Cafe Olala itu, Diana memutuskan berhenti total berlatih yoga. Ia tidak masuk ke kelas yoga manapun. Ia sedang pundung, kata anak zaman sekarang.
Bulan berikutnya, kelas vinyasa yoga yang diajar oleh Dave sudah diganti dengan kelas kundalini yoga. Guru baru ini wanita India. Cantiknya bukan kepalang. Mirip selebriti Bollywood Aishwarya Rai, rambut tergerai, hidung mancung dan mata lebar bagaikan mata boneka India. Sempurna.
Tetapi bukan itu yang didambakan Diana. Ia tidak peduli jika ada guru sebagus atau secantik apapun. Hatinya sudah tertawan oleh guru Dave seorang saja. Yang lain pergi saja.
Kabar Dave sendiri ia coba cari. Diana bergerilya di balik grup-grup WhatsApp teman-teman yoganya. “Apakah kau tahu di mana Dave sekarang? Bekerja di mana dia?”
Diana juga menghindari kawasan Erlangga Square, tempat Studio Prasarita dan Cafe Olala berada. Di kedua tempat itulah kenangannya mengenai Dave masih berserak dan memfosil. Tidak akan terhapus dengan mudah.
Dan yang paling ia takutkan ialah bertemu secara tak sengaja dengan semua teman-teman yoganya di Prasarita. “Kenapa kau tak lagi pernah yoga, Di?” tanya Ruri di WhatsApp beberapa pekan setelah kelas yoga di akhir bulan itu bersama Dave. “Jangan jangan kau ngambek karena Dave sudah cabut dari sini. Haha!!”
“Ini lagi sibuk dengan sekolah Salita, Rur,” ketiknya setelah beberapa saat menimbang-nimbang. Ia tidak begitu dekat dengan Ruri sehingga ia waspada jika jawabannya malah nanti menimbulkan kecurigaan baru. Tetapi apapun jawabannya, Diana tahu mereka pasti akan selalu mengaitkan mundurnya Diana dari kelas yoga di Prasarita karena ada masalah dengan Dave. Serba salah memang.
“Ah, masa?! Kau bohong ah!” tukas Ruri lagi.
Diana pun panjang lebar menjelaskan bagaimana sekarang ia juga harus memeriksa pekerjaan rumah Salita yang makin banyak. Maklumlah Salita baru masuk SD kelas 1.
“Aku mau leskan saja dia tapi masak iya masih kelas satu SD diberi les tambahan. Aku takut dia nggak bisa menikmati masa kecilnya,” terang Diana mencoba meyakinkan bahwa alasan kemundurannya karena anaknya.
Tetapi Salita cuma tameng hidup bagi ibunya. Yang sebetulnya, Diana hanya sesekali memeriksa pekerjaan rumah anaknya itu. Bukan karena ia tidak cemas atau perhatian dengan prestasi sekolah anaknya. Itu karena Salita sudah terlalu pintar untuk mengatasi tantangan akademis di level itu. Tanpa dibimbing ibunya, Salita bahkan sudah bisa mengerjakan semua pekerjaan rumahnya sendiri. Diana beruntung sekali memiliki anak yang tidak susah belajar mandiri.
Diana hampir mati kebosanan tiap waktu luangnya di rumah usai kerja. Ia ingin sekali yoga lgi bersama teman-temannya itu tetapi tidak ada semangat rasanya karena Dave sudah tidak bersama mereka. Ia rindu kesempatannya bisa melirik wajah Dave di sela-sela downward facing dog. Ia kangen mengamati bokong Dave saat memperagakan utkatasana. Diana selalu pikir pose itu bisa membuat Dave lebih seksi. Bokong Max memang besar tetapi bentuknya tidak semenarik punya Dave. Punya Dave memiliki lekukan khasnya. Max hanya besar, lekukannya tidak menarik. Sama sekali. Ia juga rindu disentuh oleh tangan-tangan Dave yang kokoh itu. Beberapa kali Diana ingin merasakan sentuhannya dengan sengaja melakukan pose itu secara salah dan berhasil menarik perhatian Dave untuk mengoreksi posturnya. Terutama di bagian bahu dan pinggul. Diana sering membuat pinggulnya miring, bahunya turun sebelah. Semua agar Dave mau menghampirinya, menjamahnya, tetapi itupun Dave lakukan dengan lembut dan memakai handuk. Ia tidak serta merta menggunakan tangannya jika menyentuh bagian-bagian sensitif. Dan Dave pun bukan hanya membetulkan Diana terus. Ia berupaya untuk adil menyebarkan perhatiannya pada semua murid di dalam kelas.

***

Sore yang melelahkan baginya sudah usai. Ia hampir saja disuruh lembur. Seminggu ini ia sudah melakukannya dan tatkala manajer itu berkata demikian, ia menolaknya mentah-mentah. tentu dengan menggunakan Salita sebagai alasan lagi. “Anak saya sedang sakit, pak. Saya harus pulang segera. Toh ada anak-anak lain yang bisa mengurusi tamu-tamu asing ini,” semburnya pada Pak Artha sebelum ia meninggalkan kantor lebih awal.
Pak Artha dengan nada datar mengatakan persetujuannya,”Baiklah. Tetapi tolong besok anak baru bernama Reny itu ditemani juga. Ia masih kebingungan melakukan tugasnya, Diana,” pinta pria yang rambutnya mulai menipis tetapi selalu saja tidak kelewatan satu haripun tanpa mengenakan pomade di rambutnya. Diana sendiri benci bau pomade Pak Artha yang menusuk. Mirip pomade punya Max. Dan itulah yang membedakan mereka dari Dave. Dave tidak pernah memakai pomade. ia menyukai kealamian. Pomade tidak alami. Sebagai ganti pomade buatan pabrik itu, Dave hanya mengoleskan minyak kemiri ke rambutnya yang lebat, hitam dan lurus. Mahkota yang membuatnya terlihat selalu menawan.
Mobil yang dikendarai oleh Diana meluncur lebih lancar karena sore itu jam kerja masih belum usai. Ia beruntung bisa melarikan diri dari kantor sebelum terjebak oleh kemacetan yang merajalela di setiap jalan di area perkantoran ini.
Di tengah jalan Otto Iskandardinata yang ia biasa lewati secara sekelebat matanya menangkap bayangan seorang pria muda yang ia pernah kenali. Iya, itu bayangan Dave.
“Itu Dave!” teriaknya dalam hati diiringi dengan desiran halus di dadanya. Ia ingin menghentikan kendaraan segera dan keluar dan memeluknya. Diana hampir saja kehilangan kendali dalam mengemudikan mobilnya.
Diana sangat mengenali tinggi tubuhnya, perawakannya, semua gaya berbusananya yang khas, urban, rapi dan new agey. Ia sangat yakin itu Dave. Ia sedang menunggu seseorang atau taksi di depan sebuah rumah sakit.
Ia memutar otak. Begitu ada area parkir di tepi jalan, Diana seketika membanting stirnya ke kiri dan memarkirnya.
Napasnya memburu. Ia mencari Dave atau orang yang ia pikir mirip Dave itu di depan gerbang rumah sakit tadi. Gedung rumah sakit itu berukuran kecil dan tidak banyak orang tahu. Bangunannya langsing, bertingkat 8, dengan sekelilingnya terkepung oleh perkampungan penduduk.
Pandangan Diana tertumbuk pada sesosok pemuda di dekat sebuah halte bus di depan rumah sakit tadi. Rupanya ia bergeser ke halte itu untuk mencari tempat duduk.
“Dave!!!” teriak Diana dari jarak selemparan batu. Ia berlari dengan tertatih. Sepatu hak tingginya agak menghalangi kecepatannya melangkah. Rambutnya yang panjang dan lurus ia biarkan terburai. Akhirnya aku bertemu kau juga Dave, batinnya girang.
Pria muda itu menoleh seketika. Betul, ia bernama Dave. Wajahnya masih sama meskipun terlihat agak lebih tirus dari beberapa bulan sebelumnya. Tampaknya ia sudah mengalami sesuatu yang berat dalam jangka waktu itu.
Diana sampai di depan Dave. Pria itu bangkit dan menundukkan wajahnya menatap mata Diana sementara wanita itu agak tersengal-sengal. Saat Diana sibuk menata napas, Dave mengulurkan tangannya lalu tersenyum tipis. Sebuah senyum yang agak dipaksakan, ia tahu. Tetapi siapa peduli? Diana mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat sang guru yoga idola.
“Aku tahu ini kamu Dave. Entah kenapa tadi aku langsung mengenalimu. Sungguh suatu kebetulan kau melewati jalan ini,” ucapnya.
“Apa kabar? Mbak Diana dari mana?” Dave menyapa dengan sopan, tidak pernah menanggalkan sebutan ‘mbak’ itu dari sapaannya pada Diana. Diana suka suara itu menyapanya kembali, persetan dengan sapaan ‘mbak’ atau ‘bu’ atau ‘nona’. Ia hanya peduli itu Dave.
“Kamu sendiri dari mana, Dave? Aku sudah kangen,” ia peluk Dave sambil terus membombardir dengan sejumlah pertanyaan. Yang dipeluk terasa ragu membalas pelukan itu. Maklum Dave tahu itu di pinggir jalan dan ia agak risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Ada beberapa anak sekolah dan karyawan yang tampaknya sedang sibuk mengutak-atik ponsel pintar mereka sambil mengonsumsi konten dalam layar itu. Mereka menengadahkan muka begitu ada Diana yang menyerocos masuk ke halte dengan sederet pertanyaannya.
Mengetahui itu, Dave menyeret dengan halus Diana menjauhi halte. Berdua mereka masuk dalam sebuah kafe. Kali ini mereka tidak masuk Kafe Olala yang selalu menjadi tempat langganan mereka untuk bercakap bersama.
Lain dari Cafe Olala, kafe langganan mereka yang dipenuhi orang-orang dewasa muda dan paruh baya itu, kafe ini lebih diperuntukkan bagi kalangan remaja. Hal itu diketahui dari desain interior kafe yang tidak konvensional, sangat simplistik, dengan wallpaper berwarna warni cerah, dipenuhi dengan poster-poster Red Velvet, MAMAMOO, BTS, BewhY, EXO, GFRIEND, Block B’s Zico, Girls’ Generation, dan TWICE. Tempat itu sebuah sarang aneh bagi kedua orang yang sudah tidak bisa lagi dikatakan remaja. Tapi toh mereka masuk juga ke dalamnya. Apa boleh buat? Ini darurat.
Dave duduk dan memesan kopi untuk mereka berdua. Gerak geriknya lebih perlahan dan kalem dari yang Diana pernah lihat sebelumnya. Entah kenapa, ada semacam beban yang berat dakam setiap helaan napas pria muda itu.
Dan begitu Diana menatap lekat wajah Dave lagi, di bawah sorotan cahaya putih lampu LED kafe itu, ia menemukan guratan-guratan kelelahan di wajah Dave. Seolah-olah ia baru saja kembali dari sebuah peperangan dahsyat. Peperangan dengan apa? Diana tidak tahu pasti. Karena itu, ia akan banyak bertanya mengenai kehidupan Dave selama beberapa bulan terakhir.
“Kau sakit, Dave?” Diana ingin tahu kondisi kesehatan pria yang ia kasihi itu. Apalagi ia tahu sendiri Dave baru saja keluar dengan langkah gontai dari pintu gerbang rumah sakit. “Kau sehat saja kan, Dave?”
Barang sedetik dua detik ada sebuah keheningan yang seolah membatasi Dave dari Diana. Bibir Dave masih terkatup, sedikit bergetar sebelum akhirnya mengucapkan,”Baik…”
“Kau kenapa tadi dari rumah sakit? Kau tidak sakit? Hanya pemeriksaan kesehatan rutin atau apa?” ujarnya.
Sebuah bendungan yang terbangun dengan baik itu mulai bocor juga. Setitik air mulai menetes kemudian lama-lama titik air tadi makin beras dan deras mengucur. Kriwikan dari grojogan, kata orang Jawa. Satu lubang berubah menjadi air terjun.
Seperti itulah Dave saat ini. Ia seakan tidak bisa lagi membendung perasaannya. Mukanya yang dulu cerah bersinar dan penuh energi kehidupan sudah lenyap, lesap bersama waktu. Mukanya pucat, dan sanggut dan kumisnya dibiarkan tumbuh sedikit. Mungkin sudah beberapa hari terakhir ini tidak punya waktu bercukur. Tidak setiap hari seperti dulu. Rambutnya juga kusut masai. Ada yang aneh dengan Dave, Diana merasakannya. Sejak memeluk tubuh Dave tadi, Diana juga sudah merasakannya. Ia merasa Dave agak lebih ringan dan kurus sekarang.
Diana pun mencoba memahami keheningan Dave. Satu yang tidak pernah berubah dari Dave ialah wataknya yang pendiam. Ia susah bersuara di luar dinding kelas yoganya.
Diana menutup mulutnya dan meraih kedua tangan Dave yang menggenggam cangkir kopi keramik itu. Dave suka memegang erat cangkir minumannya seperti itu. Diana hapal kebiasaannya. Mata Diana berkedip lemah. Ia turut merasakan keheningan Dave terserap dalam dirinya. “Ceritakan padaku, Dave, apapun yang ingin kau ceritakan,” begitu seolah pesan yang ingin disampaikan oleh perempuan itu.
“Mbak Diana, terima kasih… banyak…,” ucapannya tersendat sekali. Dave tampak ingin mengucurkan air mata dari sudut matanya. Permukaan bola matanya mulai berkilau tertimpa cahaya. Di bawah kelopak mata Dave, Diana menangkap semburat gelap. Mata Dave ia baru sadari menjadi cekung. Diana seonyong-konyong menjadi cemas dan lebih takut dengan apa yang akan dikatakan Dave padanya.
“Saya…,” Dave terhenti. Nada suaranya gugup sekali.
Tiba-tiba Diana merasakan iba. Ia pererat genggaman tangannya pada tangan kanan Dave.
“Terima kasih mbak untuk bantuannya selama ini,” tuturnya dengan senyum yang ia coba hadirkan dengan memaksakan diri. Selama 3 bulan ini Dave mengajar yoga di luar Jakarta. Sebuah tempat yoga yang kecil di sebuah resor di pulau di utara Teluk Jakarta, tanpa nama besar menaunginya, bersuasana tenang. Karena itulah, otomatis namanya juga tersingkir dari peta yoga Indonesia. Tidak banyak orang yang mengetahui apa yang ia kerjakan di sana. Dan memang itulah tujuannya ia mengasingkan diri. Ia hanya ingin menenangkan diri.
Kepada Diana, Dave menceritakan semuanya. “Asal jangan diberitahukan pada orang lain ya, mbak. Saya hanya percaya mbak seorang,” pinta Dave.
Diana tentu saja menurutinya. Ia akan melakukan apapun yang Dave minta, sekalipun itu tidak ditekankan sekalipun ia masih akan kerjakan dengan sebaik-baiknya. Apalagi sekarang Dave memintanya dengan sangat serius. Ia tidak bisa menyepelekannya begitu saja.
Tiga bulan itu sebenarnya Dave gunakan untuk menenangkan dirinya dari sebuah kenyataan hidup yang pahit. “Saya berbohong bahwa saya berselibat pada mbak,” ia mengaku.
“Apa??!” Diana gusar. Ia marah sebentar tetapi kemudian yang timbul di hatinya malah kegembiraan. Apakah artinya Dave sudah mempertimbangkan masak-masak bahwa cinta janda tua ini pantas untuknya yang masih lajang? Seketika skenario manis itu membuat optimismenya membuncah.
“Dave, aku tahu akhirnya kau akan menerima cintaku juga kan?” Diana tersenyum. Hatinya bersorak sorai.
“Maksud mbak?” Dave melepaskan genggaman tangan Diana dan ia jauhkan tubuhnya dari meja.
“Jadi selama ini mbak hanya ingin mengatakan itu?” tanya Dave lagi. Matanya bergerak nanar, seakan tidak percaya.
Dave memandang wanita di depannya itu sebagai seorang teman setia yang baik hati. Tidak lebih. Dan seketika ia teringat dengan semua perlakuan baik itu. Dave seharusnya tahu bahwa semua ajakan bertemu itu ialah upaya Diana untuk memenangkan hatinya.
“Mbak, jangan salah paham. Begini, saya jelaskan,” ia menghela napas lagi.
“Tidak perlu lagi menjelaskan apapun, Dave sayang. Kau akan menerimaku kan? Ya kan?” Diana mendesak. Kalau tidak sekarang, kapan lagi, pikir perempuan itu. Ia harus berani memperjuangkan cintanya sebelum ia lepas lagi. Pria zaman sekarang memang harus didesak supaya tahu bahwa mereka sebenarnya menginginkanku, Diana yakin.
“Ada yang saya ingin ceritakan sebentar, mbak,” kata pria itu lagi. Ada sesuatu yang lebih penting daripada percintaanmu, Dave seolah ingin menyampaikan tetapi lidahnya kelu.
Ia pun bercerita dengan perlahan-lahan, seolah berharap agar setiap kata yang ia ucapkan membekas tanpa ada keraguan setitikpun dalam benak sang lawan bicara yang kukuh dengan hipotesisnya sendiri mengenai perasaan Dave padanya. Tetapi di saat yang sama Dave ingin menyampaikan fakta tanpa menyakitkan terlalu dalam bagi pendengarnya yang satu ini.
Masih ingat hari terakhir Dave mengajar Diana? Saat itulah ia berkata sedang mengurusi berkas dan dokumen yang entah mengenai apa. Tetapi satu yang ia coba sembunyikan ialah perasaan bahwa saat itu ia merasa lelah dengan dunia di sekitarnya. Dave ingin melepaskan semuanya. Ia menandatangani berkas-berkas pengunduran dirinya dari Studio Prasarita dengan tujuan untuk menyepi dari keramaian kota besar. Kebetulan ia menemukan sebuah peluang untuk hidup sederhana di sebuah pulau yang relatif terpencil dari hiruk pikuk pusat peradaban Indonesia. Dan tanpa pikir panjang ia terima tawaran itu.
Beberapa hari sebelumnya mengantre untuk sebuah pemeriksaan medis di sebua rumah sakit di Jakarta. Di ruang tunggu, ia duduk bersama sejumlah pria muda yang juga resah. Bersamanya ada pria yang tampaknya baru saja semalam berhubungan intim dengan seorang pelacur. “Sialnya saya agak mabuk saat itu dan mau saja berhubungan tanpa pelindung…,” suaranya tenggelam dalam gelombang kekhawatiran. Sejurus kemudian ia dipanggil masuk untuk menerima bimbingan psikologis oleh seorang suster tua yang sabar memberikan wejangan-wejangan bijak agar takut pada perbuatan dosa semacam itu lagi.
Sementara Dave ditinggalkan duduk sendiri dalam badai kekalutan yang sama. Semua orang di ruang tunggu itu juga diam seribu bahasa. Mereka tampak ingin berbicara, dan saling berkeluh kesah tetapi ada yang mencegah mereka untuk melakukannya. Apa itu? Dave tidak tahu persis. Kemungkinan besar karena mereka tersedot terlalu dalam ke pusaran masalah hidup mereka sendiri, seolah menjadikan hidupnya yang payah sebagai masalah yang paling berat sealam semesta.
Dave menganggap pemuda itu lebih beruntung darinya. Setidaknya karena ia masih sadar saat melakukannya. Dan ia bisa tahu siapa orang yang sudah menularinya virus jahanam itu, jika sekiranya memang di dalam ruangan sana ia diberi vonis yang menyedihkan itu.
Uji HIV/ AIDS itu akhirnya memberikannya hasil positif. Kiamat kecil melanda mikrokosmos Dave. Ia sudah merasa dirinya menjelang ajal. Perlahan-lahan ia merasakan dirinya seperti sebatang lilin yang masih menjulang tinggi tetapi meleleh dalam kobaran api setiap detiknya.
Dave merasa tubuhnya, hidupnya akan habis juga oleh nyala itu. Dan pikirnya,”Aku harus pastikan nyala itu masih bisa bermanfaat untuk orang-orang di sekitarku. Selama mungkin yang aku bisa,” tekadnya menguatkan hati di tengah terpaan kepedihan. Begini rasanya mengetahui kau akan segera mati, pikirnya. Jauh lebih baik tidak tahu daripada tahu. Tetapi beberapa waktu kemudian ia tahu jauh lebih baik tahu daripada tidak tahu karena setidaknya ia bisa lebih baik dalam mempersiapkan diri.
“Saya terkena HIV, mbak,” Dave mengaku kini tanpa malu-malu. Selanjutnya ialah pertanyaan yang lebih sulit untuk dijawab bagi Diana, “Memang mbak mau bersuamikan orang HIV?”
Diana tercenung. Ada hal-hal di dunia ini yang bisa dijawab dengan sesederhana menjawab iya atau tidak. Tetapi pertanyaan ini tidak bisa dimasukkan dalam kelompok itu. Tidak bisa, tolak Diana.
Tetapi bagaimana dengan Salita? Apakah anak itu mau jika ayah tirinya seorang pengidap HIV? Masa depan anak perempuan semata wayangnya itu akan jauh lebih rumit dari yang sekarang — tanpa ayah di dekatnya dan hanya memiliki Diana sebagai orang tua tunggalnya. Setelah perceraiannya dengan Max yang traumatis itu, ia hanya ingin anaknya nanti menjalani hidup yang jauh lebih mudah daripada dirinya. Cuma itu harapannya. Tidak muluk-muluk.
Namun, sekarang semua itu terasa muluk-muluk. Ia hanya ingin menjadi seorang perempuan yang lebih bahagia dengan kehadiran seorang pria yang ia cintai dengan sepenuh jiwa dan raganya. Dilema yang membuatnya serasa berdiri di persimpangan. Apakah ia akan mengutamakan masa depan Salita yang ia kasihi atau masa depan dirinya sendiri yang mendamba Dave seorang? Hanya Dave yang bisa mengisi hatinya setelah kekosongan dalam kehidupan asmaranya selama 6 tahun terakhir.
Apa yang harus ia lakukan sekarang? Pikirannya kacau balau. Andai saja yoga bisa membantunya memecahkan masalah ini secepatnya. Diana sering bertanya seperti itu pada Dave. Secara realistis, Dave menjawab yoga tidak bisa menyelesaikan masalah seperti sebuah ayunan tongkat ajaib Nirmala. Ini dunia nyata, bukan negeri para penyihir. Ada begitu banyak kerja keras sebelum bisa menikmati hasil. Begitu ketetapannya dari atas sana.
Menyadari perempuan itu larut dalam pergulatan pikirannya, Dave mengundurkan dirinya sejenak dari meja. “Saya harus ke toilet.”
Diana hanya mengangguk. Otaknya masih terkejut. Semua ini seperti air bah yang melanda benaknya dalam sekejap, membuatnya tenggelam dalam kekacauan pikir yang masif.
Begitu Dave beranjak, ada sebuah lubang di dalam jiwanya. Lubang yang menganga. Jadi, Dave akan segera mati? Tetapi apakah akan secepat itu lelaki kesayangannya itu akan meninggalkan dunia fana ini? Diana ingin lebih lama bersamanya. Sekarang dan selama mungkin meskipun ia tahu waktunya terbatas. Setidaknya ia-lah yang harus meninggalkan dunia ini lebih dulu agar tidak tersiksa menyaksikan orang yang dikasihinya meregang nyawa sedemikian rupa karena penyakit semenyiksa AIDS.
Sebenarnya Diana tidak begitu keberatan dengan datangnya kematian. Ia sudah banyak belajar mengenai kematian. Kematian karena usia tua, menurutnya, adalah yang paling menguras kesabaran terutama sebelum kematian itu bahkan menjemput. Itu disebabkan oleh banyaknya orang tua harus menahan derita dengan menanggung kondisi kesehatan yang menurun dari waktu ke waktu. Seperti menyaksikan sebuah bukit menjulang yang perlahan-lahan longsor setiap detik. Penurunan yang lambat tetapi pasti dan nyata.
Kematian karena kecelakaan yang tiba-tiba, pikir Diana, juga tidak lebih baik daripada kematian akibat usia lanjut. Ia pernah mengalaminya. Dahulu saat duduk di bangku kuliah, ia pernah bersahabat dengan seorang teman pria yang juga hampir menawan hatinya. Dirga, demikian nama pemuda itu, mesti rela kakinya tergilas sebuah truk tronton dan meregang nyawa selama setengah bulan lebih dengan berbagai operasi rekonstruksi yang berujung pada kegagalan fatal yang membuat jantungnya berhenti berdetak. Pemuda itu awalnya memupuk masa depannya dengan berbagai cita-cita tetapi kemudian cita-cita itu harus direvisi karena mungkin saja ia harus hidup dengan kaki buntung. Siapa nyana, ia tidak hanya tuna daksa, tetapi menjadi tuna nyawa juga pada akhirnya. Sebuah tragedi yang membuat sebuah lubang dalam perjalanan hidup Diana juga. Sampai sekarang ia masih perih mengingat wajah Dirga. Mungkin jika Dirga masih hidup, kawannya itu masih akan segagah Dave tetapi dengan penampilan lebih dewasa dan matang.
Yang paling buruk dari kedua kematian tadi tentu saja ialah kematian akibat tertular penyakit yang mematikan semacam AIDS. Kematian yang ia tidak ingin alami pada dirinya, termasuk pada orang-orang terkasihnya seperti Salita dan Dave. Namun, bagaimanapun juga ia tidak bisa menolak takdir yang harus dijalani. Dulu saat melihat Dave, ia seperti mereguk anggur yang memabukkan. Nikmat dan melupakan kegetiran hidupnya sendiri. Kini saat ia menyaksikan Dave, Diana seperti mencicip sesloki obat pembasmi serangga. Ia takut terkena racunnya.

***

“Kematian ialah fenomena yang paling susah dipahami dan paling banyak menimbulkan kesalahpahaman”, ucap Dave samar-samar. Badannya yang makin kurus bersandar pada kursi kayu di Cafe Olala yang malam itu sepi. Mereka berdua masuk ke dalamnya saat malam menurunkan tirai tebalnya di langit, menghalangi cahaya matahari dari permukaan bumi yang sudah dipanaskan seharian.
Bersama Dave dari satu purnama ke purnama selanjutnya terasa panjang. Kini Dave mengajar secara privat saja. Ia menghindari kelas-kelas yang kolosal dan massal. Itu artinya ia sudah mengucapkan selamat tinggal pada semua kelas di studio yoga besar yang mendatangkan banyak penghasilan.
Diana membantu Dave menyewa sebuah ruangan ruko yang memadai di sebuah bangunan dekat rumah petak berukuran lima kali sepuluh meter persegi yang dikontrak Dave. Sekali kelas, akan ada maksimal 10 murid memenuhi ruangan itu. Apa yang dilakukan Diana sekarang seperti bekerja sebagai manajer bagi Dave. Dan ia melakukannya dengan ikhlas.
Kedua pipi Dave menampakkan tanda pengempisan. Dulu ia wajahnya begitu kencang dan muda, tetapi dalam beberapa bulan sejak vonis itu diketahuinya, Dave sudah menua dengan jauh lebih cepat.
Dave sengaja tidak memesan kopi. Ia tahu dirinya sudah terkena virus mematikan yang tidak semestinya ia tularkan pada orang lain dan ia sangat berhati-hati dengan semua caranya menjalani kegiatan sehari-hari. Semua peralatan makanan dan minumnya berbeda dari orang lain dan ia sangat serius.
“Tapi Dave, kau kan tahu HIV tidak bisa menular dari air liur,” terang Diana. Sejak mengetahui vonis HIV positif itu, Diana secara diam-diam belajar banyak soal AIDS dan HIV. Diana berkata demikian setelah Dave panik melihat wanita itu minum dari gelas bekasnya.
“Aku tak mau ambil risiko, Di,” Dave kini menyapa Diana dengan panggilan baru. Sapaan ‘mbak’ itu sudah luluh juga akhirnya. Mereka makin dekat karena Dave  kini hidup sebatang kara. Satu-satunya keluarga yang masih ada hanyalah seorang paman di Sumedang, kampung halaman ayah dan ibunya yang sudah meninggal beberapa tahun lalu akibat usia tua. Dave sendiri anak bungsu dari tigabelas orang bersaudara. Keluarga yang sangat besar untuk ukuran zaman sekarang. Dan hematnya, paman yang ia tak ketahui namanya itu lebih baik tidak usah mengetahui kondisinya sekarang. Stigma masyarakat apalagi di daerah seperti itu akan menambah beban berat hidup pamannya saja. Ia lebih baik menanggungnya sendiri.
Dan kini ia hanya memiliki Diana sebagai sandaran hidupnya. Meskipun demikian, ia menolak sepenuhnya bergantung pada Diana. Hanya jika sangat membutuhkan, ia akan meminta bantuan perempuan yang mencintainya itu. Jika ia masih bisa, ia akan lakukan semuanya sendiri. Fisiknya sendiri menurun bukan karena serangan HIV tetapi lebih pada penurunan kondisi mental dan psikologinya pasca vonis yang seolah mengakhiri hidupnya yang semula cerah ceria.
Dave meneguk air hangat dari wadah minuman yang ia bawa dari rumah. Sekarang begitulah kebiasaannya selama bepergian keluar, membawa semua bekal makanan dan minuman sendiri.
Selesai mereguk, bibir Dave terus komat-kamit soal kematian. Diana sebetulnya enggan berbicara kematian. Akan lebih baik jika kita membicarakan cinta dan cita, batinnya. Tetapi prianya menolak berbicara soal kenikmatan dunia apapun.
Dari buku filsuf Osho yang akhir-akhir ini dibacanya saban malam, Dave seolah memiliki perbendaharaan kata-kata baru soal kematian untuk dibicarakan dengan Diana. Dan semua diskusi kematian itu membuat Diana menjadi makin depresi, seolah tersedot dalam pusaran nestapa sang pria pujaan.
“Kematian bukan akhir tetapi permulaan bagi sebuah kehidupan baru. Ya, inilah akhir dari sesuatu yang sudah mati,” katanya mengutip kalimat Osho yang ia baru saja baca. Buku itu diletakkannya di meja lalu Dave menatap Diana lagi. Kali ini matanya sayu. Entah ia mengantuk atau sudah kehilangan semangat hidup.
“Kau mesti baca buku lain yang lebih menggembirakan,” saran Diana. “Membaca Osho boleh tapi coba ganti topiknya, Dave. Kau butuh suntikan semangat. Ini bukan suntikan semangat, malah tambahan beban bagi pikiranmu.”
Hening merajai Cafe Olala. Mereka pelan-pelan ditinggalkan para pengunjung lainnya yang mulai bosan dengan malam yang tiada istimewa. Dengan cuaca yang makin tidak mendukung di malam hari, tingkat kunjungan kafe ini terus menurun saja. Bagi Dave, satu malam lagi akan berlalu dalam hitung mundurnya menuju kematian.
“Justru aku sedang menikmati kehidupanku sekarang, Di,” tukas si guru yoga lagi. Lalu ia mengutip sebaris kalimat Osho kembali:”Kematian adalah pengalaman puncak dalam kehidupan dan awal dari pengalaman lainnya. Ia cuma sebuah pintu penghubung dua fase kehidupan…”
“Aku sepakat soal itu, Dave,” desah Diana kemudian meminum sedikit kopinya. Ia tambahkan gula lagi ke dalam kopi itu. Sesendok. Dua sendok. Lalu ia sadari ia sudah menghabiskan seluruh isi wadah gula itu.
“Hentikan itu. Kau bisa kena diabetes kalau kau minum gula sebanyak itu sekaligus!!” Dave melarang sambil kedua tangannya mencengkeram tangan Diana yang terlalu giat mengambil gula dan mengaduk dengan kesetanan. Tangannya terus berusaha mengaduk isi cangkir itu meskipun tangan Dave mencegahnya.
“Sudah, jangan kau minum…,” Dave menyarankan. Suaranya agak jengkel.
Tapi sejurus kemudian, Diana menyerobot cangkir kopi tadi dan meneguk isinya sampai habis. Ia tak peduli kopi itu masih agak panas. Mungkin Diana hanya ingin sedikit melupakan kepahitan hidupnya. Dan ia ingin kopi yang pahit itu juga menjadi lebih manis. Terlalu banyak hal pahit di dalam hidupnya sekarang. Kopinya tidak boleh ikut pahit juga. Hanya ini yang ia bisa kendalikan sepenuhnya kadar kemanisannya. Maka ia tak mau setengah-setengah. Ia mau semua gula itu masuk ke dalam cangkirnya. Ia mau semanis-manisnya kopi itu masuk dalam perutnya. Semuanya!
Frustrasi, Diana tiba-tiba menunduk lalu terisak,”Aku sudah lelah dengan semua ini, Dave. Aku capek!”
Leher Diana terasa panas. Ia pikir itu karena kopi yang masih setengah mendidih tadi baru masuk ke kerongkongannya. Namun, rasa panas itu makin tak tertahankan saja. Napas Diana mulai tersengal-sengal karena tenggorokannya yang makin terbakar oleh entah apa ia tidak tahu.
Dave yang semula mengira Diana hanya kesal padanya mulai panik mendapati Diana mengalami kejang beberapa saat.
“Kau kenapa, Di???”
“Sa…li…taa…,” ucapnya tersendat.
Seseorang tiba-tiba berlari ke arah meja mereka. Ternyata orang itu bukan pelayan wanita yang bertugas di Cafe Olala malam itu.
Itu Rury. Tangannya memgang erat tubuh Diana lalu memapahnya, “Diana kenapa, guru Dave?”
“Terima kasih sudah membantu. Hmmm…” Dave kesulitan mengingat nama perempuan berambut sebahu di depannya.
“Rury, guru Dave. Rury… Ingat itu,” ia menekankan.
Keduanya memapah Diana yang sudah kehilangan kesadaran. Tubuh Diana berat juga. Apalagi dengan tubuhnya yang makin ringkih akhir-akhir ini, Dave merasa terbantu dengan kehadiran Rury membantunya memapah temannya yang tiba-tiba pingsan itu. Diana tak pernah begini. Ia selalu sehat-sehat saja.
“Biar saya yang membawanya ke rumah sakit terdekat di sini,” tukas Rury.
Dave ingin ikut juga dan siap naik mobil itu mengantar Diana ke Instalasi Gawat Darurat terdekat. Rury mencegah. “Biar saya saja yang mengurusi Di, guru. Serahkan pada saya saja.” Setelah ia mengatakan kalimat penghiburannya itu, wanita berambut ikal mayang tersebut lekas mengunci semua pintu mobilnya dan mengerling di sudut mata kirinya. Sekilas, Dave mengira ia salah melihat. Buat apa Rury mengerling padanya di saat segenting itu? Pasti ia salah lihat.
Dengan Diana di jok belakang mobil Avanza hitamnya, Rury menginjak pedal gas dan melesatlah mobil itu membelah kegelapan malam. Asap knalpot mengepul di bawah lampu oranye jalan.
Dave terpaku. Iya, Rury mengerling padaku. (*)