English for Yoga Teachers: Perlukah?

SIANG itu saya bertemu dengan seorang teman di salah satu gerai Seven Eleven yang ada di bilangan Mega Kuningan. Kala itu, Seven Eleven memang masih beroperasi bahkan tergolong bisnis yang menguntungkan. Kami duduk di kursi dalam ruangan yang bebas rokok. Teman saya ini sudah mulai mengajar yoga lebih dahulu dari saya jadi dalam bidang yoga, ia jelas sudah lebih berpengalaman dari saya. Namun, dalam pertemuan kami siang itu ia malah menghendaki saya mengajarinya.

Awalnya memang ia bertanya-tanya soal bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di kelas yoganya. “Aku mengajar di klub yang kadang ada orang asing ikut, Akhlis. Kalau mengajar orang kita sendiri sih, aku tidak masalah. Tinggal pakai bahasa Indonesia. Tapi kalau ada orang asing yang masuk dan tidak bisa berbahasa Indonesia, aku terpaksa memakai bahasa Inggris.”

Saya tahu arah pembicaraan kami ke mana. Ia meminta saya untuk memberikannya beberapa kalimat yang dapat dipakainya dalam kelas saat orang asing berpartisipasi. Saya pun memberikan sejumlah ungkapan yang biasa dipakai dalam kelas yoga dan dalam beberapa kali pertemuan ia merasa sudah cukup.

Saya saat itu menduga tak banyak pengajar yoga terutama di kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya yang bermasalah saat mesti mengajar dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di dalam kelas mereka. PIkir saya, tinggal di ibukota apalagi di zaman yang serba terbuka dan modern seperti sekarang, sudah semestinya kendala bahasa semacam itu telah turun menjadi minimal.

Ternyata saya salah besar.

Kemudian saya menyadari bahwa tingkat kecakapan berbahasa Inggris sejumlah pengajar dan calon pengajar yoga ternyata masih perlu ditingkatkan. Dalam beberapa kesempatan mengikuti kelas dan lokakarya (workshop) yang menghadirkan guru-guru asing yang tentunya disajikan dalam bahasa Inggris, ada sebagian peserta yang tampak kesulitan untuk mengungkapkan pertanyaan mereka. “Sering ada banyak pertanyaan di otak tapi begitu mau dikeluarkan susah. Tertahan di tenggorokan. Akhirnya batal bertanya,” kenang seorang teman lainnya mengenai kendala bahasa yang menyulitkan proses bertukar informasi dalam lokakarya yoga yang ia hadiri. Dan ia tak sendirian.

Dalam pelatihan mengajar, saya juga menemukan sebagian teman yang tampaknya kurang bisa memahami literatur atau buku-buku sumber ajaran yoga yang kebanyakan ditulis dalam bahasa Inggris. Sebagaimana kita ketahui, penerbitan literatur soal yoga didominasi oleh India dan bangsa-bangsa Anglosaxon (bangsa-bangsa Barat yang berbahasa Inggris seperti AS, Inggris dan Australia beserta semua bekas jajahan Inggris seperti India, Singapura, Malaysia, dan sebagainya). Dan sebagai solusi instannya, mereka memakai jasa penerjemah dan juru bahasa (interpreter). Bagi Anda yang belum tahu beda keduanya, begini bedanya: penerjemah mengerjakan mengalihbahasakan teks sementara juru bahasa mengalihbahasakan tuturan/ ucapan. Penerjemah bekerja dengan komputer dan piranti lunak, sementara juru bahasa dengan mulut dan mikrofon. Di lokakarya, saya pernah menyaksikan penyelenggaranya memakai jasa seorang juru bahasa. Meskipun memang bagus karena bisa mengakomodasi keterbatasan berbahasa sejumlah peserta, ternyata itu berdampak pada durasi dan efisiensi penyampaian pengetahuan sepanjang lokakarya. Untuk mereka yang sudah terbiasa berkomunikasi dengan bahasa Inggris, jalannya lokakarya menjadi lambat dan terkesan membuang waktu.

Bukan Minder

Setelah beberapa tahun berselang, fenomena yang sama tampaknya masih dapat ditemui. Dan bukannya mereda, malah makin banyak rupanya. Apa pasal? Karena lulusan sekolah yoga makin banyak juga dari tahun ke tahun. Ironisnya, para pengajar yoga ini lulus dari sekolah-sekolah yoga yang sudah terdaftar di sebuah organisasi standarisasi tingkat global untuk praktik pengajaran yoga. Jadi, akan lebih baik jika seorang pengajar bisa terdaftar di sebuah sekolah yoga berstandar global dan memiliki kemampuan berkomunikasi yang seimbang dengan level global itu.

Di sini, mari kita pisahkan para pengajar yang sudah merasa puas dengan menuntut ilmu, belajar pada guru-guru lokal dan mengajar rekan-rekan senegaranya sendiri. Sehingga tentu lain kasusnya dengan mereka yang berkeinginan untuk dapat mengembangkan diri melewati batas-batas negara. Mereka ini tentu harus berani dan piawai dalam berinteraksi dengan yogi-yogi luar negeri dan berani mengemukakan pendapat dan sikap di lingkaran yogi internasional agar yogi Indonesia lebih dikenal di dunia, tidak cuma menjadi pengikut. Bukankah sayang sekali jika banyak pemikiran dan potensi yogi-yogi kita yang terkubur karena kendala bahasa ini? Dan kalaupun tidak hendak menjadi sebesar itu, pastilah akan sangat membantu jika masing-masing pengajar yoga Indonesia memiliki kecakapan berbahasa sehingga bila mereka paling tidak bisa mengikuti berbagai program dan event yoga internasional dengan lebih leluasa dan percaya diri. Dengan berbekal kecakapan berbahasa Inggris yang memadai, mereka akan lebih banyak menyerap ilmunya secara akurat (tanpa kesalahan dalam memahami pengetahuan yang disampaikan) sehingga saat mengajar juga niscaya akan lebih akurat dalam melakukan transfer pengetahuan ke murid-muridnya.

Ini bukan berarti Anda yang ingin belajar bahasa Inggris termasuk golongan orang Indonesia yang tidak nasionalis atau memiliki perasaan minder sebab dalam pandangan saya, bahasa hanyalah alat. Ia benda mati ciptaan kita juga. Persisnya, ia produk budaya manusia sebuah bangsa. Sehingga jangan kita menyalahkan bahasa karena sikap kita yang kurang nasionalis sebagai warga negara. Setiap alat bisa kita pakai sesuai kemauan dan tujuan kita. Jadi, semuanya kembali ke pribadi masing-masing soal tujuan dan niat mempelajari sebuah bahasa: untuk memuja bangsa lain atau mengangkat bangsa sendiri?

Lebih Berdaya Saing

Alasan lain kenapa kecakapan berbahasa Inggris menjadi krusial bagi para pengajar yoga ialah sudah dimulainya era perdagangan bebas di negara-negara anggota ASEAN yang akrab disebut MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). Selama ini, kita tahu bahwa Indonesia adalah pasar yang menggiurkan. Penduduk kita begitu banyak dan sering dianggap sebagai pasar potensial bagi negara-negara lain, termasuk negara-negara tetangga kita yang lebih kecil tetapi harus diakui lebih cerdas dan cerdik seperti Singapura, Thailand dan Malaysia.

Dengan memiliki kecakapan berbahasa Inggris, para pengajar yoga Indonesia memiliki daya saing yang lebih tinggi tanpa harus takut murid-murid mereka (baca: ‘pangsa pasar’) direbut oleh guru-guru asing dan bahkan mereka bisa dengan percaya diri mengundang orang asing untuk (bukan lagi mengajar tetapi) belajar yoga ke Indonesia.

Berkaca dari semua poin di atas, saya bisa simpulkan bahwa kemampuan menggunakan bahasa Inggris yang baik akan lebih mudah membuka beragam pintu peluang bagi para pengajar yoga Indonesia. Jika itu terjadi, impian menuju Indonesia sebagai negara destinasi yoga selain India bisa menjadi nyata. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *