Menelisik Fitartistik

Memang alam semesta memiliki alurnya sendiri. Tidak ada yang bisa dipercepat atau diperlambat. Semua sudah ada waktu dan jalurnya, layaknya benda-benda langit yang memiliki waktu edar dan garis orbitnya masing-masing.

Begitu juga dengan pertemuan saya dengan fitartistik. Sebetulnya dulu saya suka olahraga tetapi karena kebanyakan yang diajarkan di sekolah adalah jenis-jenis yang tidak saya suka dan saya juga tidak bisa (dari sepakbola, lari, voli, basket, sampai renang), saya jadi terkesan tidak suka bergerak. Padahal tidak.

Dan itu ada berkah tersendiri memang karena saat teman-teman sebaya saya yang dulu jago olahraga dan atletis mulai menggembul, saya justru mulai menemukan keasyikan tersendiri. Kenapa? Karena saya berolahraga bukan untuk nilai atau prestasi. Hanya sekadar ekspresi diri dan pemeliharaan kesehatan serta peningkatan produktivitas plus kualitas hidup.

Perkenalan saya dengan olahraga senam lantai yang ada kesamaan dengan gymnastik sebenarnya sudah lama, bahkan lebih lama dari perkenalan saya dengan yoga yang saya tekuni sekarang. Bisa dikatakan saya sudah tahu olah tubuh ini sejak di bangku sekolah. Saya ingat tiap kali guru olahraga saya sudah menyuruh ke aula untuk menggelar matras, saya merasa lega dan girang. Selamat tinggal bola-bola keparat ( saya buruk dengan olahraga apapun yang berkaitan dengan bola) dan selamat datang matras empuk yang meski berdebu tapi saya rela geluti berjam-jam.

Sayangnya senam lantai bukan fokus utama pelajaran pendidikan kesehatan jasmani (namanya kala itu). Ibaratnya saat itu hanya kesempatan untuk mencicipinya saja. Dengan tidak adanya tempat yang layak untuk berlatih, saya terpaksa melupakan minat saya.

Saat saya mengenal yoga, saya menyukainya juga atas dasar persamaannya dengan senam lantai dan juga karena tidak ada lawan yang harus dihadapi kecuali diri sendiri. Dengan demikian, intrik-intrik licik yang banyak ditemui dalam olahraga tim tidak akan ada di sini. Olahraga permainan saya akui memang bukan untuk saya, sebuah alasan yang juga dikemukakan Haruki Murakami saat memilih lari sebagai olahraganya yang utama. Mungkin karena kami sama-sama orang yang suka bekerja dengan kecepatan sendiri.

Dalam fitartistik yang saya baru kenal ini, saya juga menemukan keleluasaan itu: untuk berlatih sesuai dengan kemampuan dan kecepatan saya.

Yang membuat saya pertama-tama ingin mencoba fitartistik selain karena mirip gymnastik ialah karena penggagas sekaligus pelatih utamanya ialah Jonathan Sianturi. Kalau Anda besar di era 1990-an, namanya sudah tidak asing di kuping. Bisa dikatakan bahwa Jonathan adalah nama besar di dunia senam nusantara. Jadi, tekad saya bertambah bulat untuk mencicipinya.

Dan benar saja, saya menyukai fitartistik! Memasuki gedung senam di jalan Raden Inten, Duren Sawit, Jaktim Sabtu siang lalu, rasanya saya seekor ikan yang masuk kembali ke air setelah sekian lama terkurung di akuarium dan sebelumnya dipaksa hidup di darat sehingga memilih untuk mati suri hingga waktu yang tidak pasti. Dengan beryoga, saya mulai kembali berolahraga setelah sekian lama jeda dan setelah mengenal fitaristik, saya menjadi ingin berolahraga dengan lebih dinamis, tidak ‘terpenjara’ dalam mat saya.

Apa beda fitaristik dengan yoga dan gymnastik yang sudah kita kenal bersama? Yoga memiliki kandungan filosofis dan spiritual universalnya sendiri dan gymnastik menjurus pada olahraga kompetisi yang mengharuskan seseorang untuk berlatih keras, habis-habisan. Kalau belum capek, berarti belum maksimal latihan, kata Jonathan.

Menurut pria yang masih ramping dan lincah di usianya ke 47 tahun itu, fitartistik ia gagas dengan memahami kebutuhan untuk tetap bugar di masyarakat luas. “Tetapi bedanya di fitartistik, ada unsur plusnya. Yaitu fun!”ucap sang pelatih yang langsung mencap saya sebagai murid advanced (padahal handstand masih kepayahan). Militansi berlatih sampai tubuh benar-benar ‘hancur lebur’ yang biasa ditemui dalam pola latihan khusus atlet senam tidak akan ditemui di fitartistik. Justru Jonathan tidak segan menurunkan dosis latihan bila melihat pesertanya masih belum menguasai benar apa yang diajarkan baru saja. Seperti saat siang itu, ia mengajarkan kami enam gerakan untuk melatih beragam otot tubuh secara optimal. Ada enam gerakan yang diajarkan, yang berfokus membangun kekuatan bahu, tangan, otot core, kelenturan, daya ledak otot, dan sebagainya. Dan saat kami dinilainya masih belum menguasai gerakan, Jonathan memperlama waktu untuk tiap gerakan agar kami bisa dikoreksi dan lebih hapal gerakan.

Fitartistik ini kalau boleh saya definisikan sendiri ialah gymnastik yang lebih disesuaikan dengan kemampuan orang awam yang ingin sehat dan lebih fungsional. Maksud saya dengan ‘fungsional’ ialah saat berkegiatan sehari-hari, kita masih bisa melakukan apapun dengan baik. Tidak ada hambatan dan kendala gerak. Kasarnya, buat apa olahraga kalau angkat galon air saja masih menyuruh orang? Dan karena berolahraga bukan untuk prestasi, risiko cedera juga ditekan serendah mungkin.

Satu hal yang menarik dari fitartistik ialah adanya ruang untuk bereksplorasi. “Tidak ada batasnya, kalau Anda bisa lebih, silakan saja,” ujarnya. Jonathan mencontohkan jika seseorang bisa roll atau guling depan tiga kali, terus tambahkan jadi empat kali, dan seterusnya. Sangat menarik bagi kita yang menyukai tantangan, dengan syarat mesti tahu batas kemampuan agar tidak celaka.

Di sini, saya menemukan pendekatan-pendekatan yang baru bagi saya. Misalnya saat mencoba handstand, alih-alih diinstruksikan menendang-nendang ke udara sampai capek, kami digiring Jonathan dan asistennya Torik dan Dede yang atlet senam muda itu untuk tengkurap di platform busa empuk yang lumayan tinggi dan bergantian mengangkat satu kaki dengan kedua lengan menopang sebagian berat tubuh. Cara yang kontraintuitif bagi pelaku yoga tapi kenapa tidak?

Lebih lanjut Jonathan mengatakan,”Fitartistik bertujuan untuk menyehatkan. Lalu untuk apa sehat? Agar kita bisa melayani sesama,” tukasnya sedikit filosofis.

Apakah fitartistik bisa dilakukan siapa saja? Tentu. Bagi Anda yang bertubuh sehat tanpa luka dan cedera, silakan saja bergabung di tempat latihan fitartistik di Gedung Senam jl. Raden Inten Duren Sawit, Jaktim setiap Rabu (pukul 13:00) dan Sabtu (pukul 10:30). Siapa tahu kita bisa latihan bersama-sama. (*/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *