Hoax dan Buku

Perihal hoax, Amerika Serikat di tahun 1938 juga pernah dibuat acak-acakan seperti Indonesia masa sekarang. Sebuah sandiwara disiarkan melalui radio yang menjadi medium populer saat itu. Isinya soal serangan makhluk asing dari luar bumi. Orang Amerika bukan kumpulan orang dungu. Mereka memiliki tingkat literasi yang sudah baik saat itu. Pasalnya, hoax soal mendaratnya alien di AS itu dikemas sebagai suatu hiburan yang bertema serius. Gaya penyampaiannya seperti berita. Di radio, jika seseorang mendengarkan sekilas, dan ketinggalan konteks karena tak mendengarkan dari awal siaran, tentunya mengira itu siaran berita yang tidak main-main. Akibatnya banyak warga AS pendengar sandiwara itu yang menganggap hiburan fiktif itu sebagai fakta. Mereka kalang kabut, ketakutan karena akan dianiaya alien-alien berkepala mirip ujung korek api. Diduga pembuat sandiwara memanfaatkan ketakutan dan kecemasan dalam benak warga AS yang baru lepas dari jeratan Great Depression agar lakonnya laku di pasar. Begitu dongeng pak Hilmar Farid di atas mimbar.
.
“Jadi kalau ada anggapan orang Indonesia mudah percaya hoax karena kurang baca buku, itu patut disangsikan. Kalau ada hubungannya pun, korelasinya tidak langsung,” tegasnya.
.
Ia menambahkan bahwa tidak semua buku dan bahan bacaan cetak saat ini juga memuat fakta dan bukti yang sudah terverifikasi. “Sebagian penerbit malah mencoba mengambil keuntungan dari masyarakat yang kebingungan ini dengan menerbitkan buku-buku hoax dan menjadikannya sebagai suatu dagangan,” cerita beliau yang bersuara merdu itu. Saya pikir Dirjen Kebudayaan Kemdikbud itu cocok sebagai penyulih suara, terutama untuk tokoh-tokoh protagonis yang kebapakan dalam banyak tayangan telenovela India maupun Meksiko.
.
Ya, suka membaca juga belum tentu jaminan kita bebas virus hoax. Tetapi menurut saya kuncinya ialah ketelitian memilih buku bacaan. Kalau penulisnya tidak punya rekam jejak yang meyakinkan, dan penerbitnya juga dikenal sebagai kelas kacangan yang menerbitkan buku-buku berjudul bombastis, sebaiknya tak usah dibaca. Apalagi direkomendasikan ke orang lain. Itu seperti orang yang tidak tahu kebenaran berita copas whatsapp tapi menyebarkannya juga di grup whatsapp dia sendiri. Dan saat ditanya kenapa menyebarkan, alasannya cuma karena mau menyebarkan saja. Tidak mau bertanggung jawab secara moral karena ikut menyebarkan kekeliruan yang masif. Semoga saya dan Anda sekalian dijauhkan dari kemalasan intelektual semacam itu.
.
Namun, di antara kumpulan penerbit yang ada, buku-buku penerbit Yayasan Pustaka Obor bisa dikatakan relatif bebas hoax. Kenapa? Karena penulis-penulisnya adalah akademisi dan peneliti serta pengarang yang sudah teruji kredibilitas dan diketahui jatidiri aslinya. Bukan semacam Eny Arrow, yang dikenal luas tetapi tak pernah diketahui parasnya.
.
Selamat ultah ke-40 Obor! Semoga apimu terus menerangi Indonesia yang haus ilmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *