India Ala-ala

Syahdan hiduplah seekor anjing pudel. Oleh si pemeliharanya, ia sesekali dikatai,”Bulumu indah, matamu mungil seperti kucing persia. Kau seharusnya terlahir sebagai seekor kucing.” Saat ditawari makanan kucing, anjing pudel itu tanpa sadar juga menyukainya. Tak tahu itu bukan makanannya, ia cuma tahu baunya enak, rasanya nikmat, telan dan selesai. Lalu datanglah teman-teman pemiliknya, mereka juga beropini sama, bahwa si anjing pudel mirip kucing persia. “Jangan jangan¬†ia memang kucing persia. Benar, ia memang kucing persia. Kamu kucing persia kan?” kata teman si pemilik terus menimang-nimang sang anjing yang semakin lama semakin goyah jatidirinya sebagai anjing dan mulai meyakini dirinya memang kucing.
.
Saya memahami kebingungan anjing yang dikondisikan sebagai kucing oleh lingkungan sekitarnya itu. Saat mata dan hidung ini tidak mencerminkan kekhasan rupa khas Jawadwipa – yang saya yakini sebagai akar genetik saya – susah juga untuk senantiasa gigih menampik dugaan adanya pertalian dengan gen tanah Hindustan.
.
Dari kecil memang selentingan semacam itu sudah terdengar. Mulanya tak percaya. Mana ada riwayat keturunan India di keluarga? Tidak ada. Jawa totok semuanya.
.
Lalu beberapa teman yang berkomentar seperti itu. Hidung terutama jadi bahan pembicaraan.
.
Kegemaran beryoga seakan menegaskan tuduhan tadi. Saya seperti anjing pudel yang suka makanan kucing tadi. Alami saja menyukainya tanpa tahu sebabnya. Semestinya saya tertarik ilmu kanuragan atau kejawen saja bukan?
.
Akhir-akhir ini, seolah-olah makin menjadi-jadi, di Twitter saya menemukan diri di-mention beberapa akun yang setelah saya klik ternyata akun-akun orang India yang sedang getol berkampanye¬†#UPElection2017. Apa ini? Tanya saya dalam hati. Lalu akun itu menyebut Rahul Gandhi dan BJP for India. Sumpah saya tak memahami. Penyebutan terus berlanjut dengan menyeret akun Twitter saya dengan kalimat “the beauty of indian democracy that bla bla bla..” Makin saya membaca, makin mengerutkan dahi. Jelas ini tweet-tweet politik negeri itu. Saya itu tidak pernah mempublikasikan tweet yang membahas politik India, paling yang ada cuma soal yoga. Jadi ini sangat mengherankan.
.
Anda kira itu sudah cukup? Belum. Karena saya baru saja menerima surat elektronik berisi penawaran untuk menjadi buzzer dalam kampanye digital di Indonesia. Saya merasa tak pernah berlangganan surel dari pengirimnya. Dan anehnya lagi, perusahaan yang menawarkan itu setelah saya baca cermat berasal dari India. Lho, saya ini siapa? Saya hidup di Indonesia, pengaruh apa yang saya miliki untuk publik India? Benar-benar saya sudah habis tenaga pikiran untuk menemukan jawabannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *