Kolaborasi Serasi dari Asti

Alessandro Vignola dan Neva Epoque berkolaborasi bersama adalam seni lukis kontemporer beraliran exitential mechanics yang harmonis. (Image source: LinkedIn)

Perkenalkan, kami Alessandro Vignola dan Neva Epoque. Kami bersua pertama kali kemudian saling jatuh hati satu dasarwarsa lebih yang lalu. Kami suka psikologi dan juga seni rupa. Sebuah kombinasi passion yang jarang ditemui. 

Kami sepakat untuk menjalani hidup sebagai seniman begitu menuai tanggapan positif dari para penikmat karya kami. Kami pun memilih nama “Delta NA” sebagai satu brand yang menaungi kami berdua dalam berkesenian. Delta dipilih karena ia adalah nama tempat kami berdua bertemu dan kemudian berjumpa lagi beberapa tahun kemudian. Sementara itu, NA adalah inisial gabungan nama depan kami.

Kami pun memutuskan membuka studio seni di pusat kota Asti, yang terletak di Italia bagian utara. Di sini dikenal dengan hamparan pegunungan yang luas dan diselimuti salju saat musim dingin. 

Seperti kami sudah katakan sebelumya, pada mulanya kami belajar psikologi di kampus yang sama.  Saat kuliah tahun 2001 itulah kami bertemu pertama kali. Setelah lulus, kami tak bertemu lagi. Setelah tujuh tahun berselang, kami bertemu kembali di tempat yang sama saat kami terakhir bertemu. Kami  percaya dengan takdir (destiny) dan itulah kenapa kami memilih nama “delta” untuk kami berdua dalam berkesenian.

Asal Muasal Kolaborasi

Dulu kami melukis sendiri-sendiri tetapi kemudian ada kolektor lukisan kami yang ingin agar kami melukis lukisan yang lebih besar. Karena salah satu dari kami tak punya banyak waktu untuk membuat lukisan sebesar itu, kami putuskan mengerjakan lukisan itu bersama-sama.  Lukisan kolaborasi pertama kami tak begitu memuaskan. Dari sana, kami sadar kolaborasi sangat menarik dan sejak itu kami selalu berkolaborasi dalam melukis. Dalam berkolaborasi kami membutuhkan waktu untuk menemukan gaya melukis kami yang baru karena ini berbeda dari melukis sendiri. Gaya ini baru dan lain dari gaya kami saat melukis solo.

Jika Anda perhatikan, ada ciri khas lukisan kolaborasi kami. Kami bereksperimen dengan warna-warna yang merilekskan dan memberi nuansa harmoni tetapi kami tidak merencanakan sehingga proses itu terjadi begitu saja. Prosesnya menarik karena entah kenapa kami mengalir dari warna biru, hijau, pink, merah, seperti gelombang yang berulang. Kami tak tahu alasannya tetapi mungkin karena berkaitan dengan emosi dan perasaan kami. Bisa juga berkaitan dengan irama hidup, dari tidur, beraktivitas hingga tidur kembali. Kami harus cermat memilih warna untuk emosi tertentu. Meski kami tidak membatasi warna-warna yang dipakai, kami tidak bisa menggunakan sejumlah warna seperti kuning dan hitam. Untuk kuning, kami hanya memakai warna emas atau kuning yang pucat. Sementara warna hitam kami hindari karena menandakan ketiadaan cahaya dan merusak harmoni lukisan. Untuk tandatangan kami memilih memakai warna biru tua yang terasa lebih alami.

Setiap karya kami bisa dikatakan sebagai bayi yang kami lahirkan bersama-sama. Sehingga sulit untuk memilih mana yang kami paling sukai tetapi lukisan terbaru yang kami rampungkan biasanya kami lebih sukai dari yang lain karena memiliki koneksi emosional yang lebih erat dengan diri kami.

Tentang Proses Kreatif

Proses kreatif kami sebagai seniman biasanya dimulai dengan banyak menggambar. Baru setelah selesai, kami lanjutkan dengan memberikan cat. Saat memulai, biasanya kami tidak tahu apa yang akan kami hasilkan tetapi kami terus mengerjakannya. Kami bisa merasakan ada banyak yang bisa dikuak dari sana. Seperti ada sebongkah marmer di hadapan kami, dan kami yakin ada patung di dalamnya. Dan yang bisa kami lakukan hanyalah terus memahatnya dengan seksama.

Jika Anda bertanya soal aliran yang kami pakai dalam melukis, kami sulit menjawabnya. Anda bisa menyebutnya abstrak tetapi tidak sepenuhnya demikian. Ada nuansa ekspresionisme, tetapi juga tidak sama persis dengan itu. Awalnya kami sebut “instinctive expressionism” karena kami pakai jari untuk melukis. Kami memilih menyebut ini sebagai “existential mechanics”, yang menjadi dasar bagi kami dalam berkarya kolaborasi. Kami menggabungkan gaya abstrak yang informal agar dalam proses melukis, kami tidak terlalu banyak berpikir sehingga kami bisa memberikan sensasi keterbukaan dan relaksasi pada mereka yang menyaksikan karya lukisan kami. Kami juga mempersilakan khalayak untuk menginterpretasikan karya-karya kami sesuai dengan pemahaman mereka masing-masing.

Pentingnya Chemistry

Hal terpenting ialah memastikan kolaborasi terjadi secara seimbang dan bagaimana kita menemukan orang yang tepat dan membuat kita nyaman untuk diajak berkolaborasi. Prosesnya bisa memakan waktu lama agar bisa tercipta harmoni dan keselarasan.  Bila ada salah satu yang ternyata terlalu dominan, pihak lain harus mengimbanginya dengan lebih berupaya menghadirkan dan membuka diri dalam karya bersama itu.

Dalam proses berkreasi, kami tidak menentukan ukuran kanvas. Saat kami akan bekerja, kami belum tahu apa yang akan keluar, kami merasakan adanya ketertarikan pada ukuran kanvas tertentu. Jadi, ini bukan semata-mata pilihan kami secara sadar. Bisa dikatakan, kanvas itulah yang memilih kami. Jadi, tiap lukisan muncul dengan makna, ukuran, dan warna masing-masing.

Kami memiliki banyak pesan dalam karya kami. Dalam beberapa tahun terakhir kami menerapkan teori existential mechanics, yang menyatakan bahwa seniman memiliki cara menangkap realita di balik dunia yang kasat mata ini. Realita bisa dimaknai sebagai serangkaian lapisan yang saling tumpang tindih, mirip dengan anyaman serat kain yang berpola dan berulang. Kami bermula dari bentuk geometrik dan statik untuk kemudian beralih ke semesta yang terbuat dari bentuk-bentuk geometrik tersebut.  Pesan kami ialah bahwa realita itu mirip mimpi. Dan realita bukan semata-mata hal yang kita bisa tangkap dengan netra tetapi sesuatu yang lebih besar.  Inilah cara kami memadukan kehidupan nyata dan energi spiritual.  Kami mendorong audiens untuk menikmati lukisan dengan cara yang bertahap, tidak sekali saja dan berpuas diri karena di balik lukisan tersembunyi banyak makna yang bisa digali setiap kali menikmatinya. Lukisan juga seperti kehidupan, yang selalu memberikan kejutan jika kita mau membuka pikiran kita terhadap berbagai kemungkinan baru.  

Memadukan Dua Jiwa

Baru-baru ini kami hadir dalam sebuah workshop dan pameran. Dalam workshop melukis kolaborasi selama dua hari yang digelar di Istituto Italiano di Cultura, Jakarta, lansekap pegunungan khas kota asal kami – Asti – dijadikan sebagai inspirasi.

Para peserta kami suguhi foto pegunungan di Asti untuk kemudian menuangkannya dalam gaya gambar masing-masing di atas kertas. Bedanya dari workshop melukis lainnya, tiap peserta menggambar di dua lembar kertas berbeda sehingga nantinya bisa dipertukarkan dengan karya peserta lain.

Begitu waktu menggambar solo usai, para peserta dipersilakan memilih rekan kolaborasi mereka dengan syarat merasakan kesesuaian dengan pribadi masing-masing dan tidak ada keterpaksaan. Dari sinilah, tiap peserta mulai bekerjasama dengan peserta lain sebagai mitra untuk merampungkan sebuah lukisan menjadi satu karya utuh yang harmonis.

Seorang peserta workshop, Michael, mengaku lokakarya ini memberikan pengalaman dalam kolaborasi penciptaan karya. “Prosesnya terstruktur dengan menggambar dulu jadi tiap peserta berkesempatan menjadi diri sendiri dulu. Saat kolaborasi, peserta dipertemukan dengan gaya peserta lain untuk kemudian mencari jalan tengah. Baru gambar dikerjakan dengan pewarnaan.” Demikian ia menjelaskan.

Kami sendiri gembira dengan hasil kolaborasi peserta, yang relatif seimbang, tidak ada yang terlalu mendominasi. Yang terpenting ialah mereka mampu mengekspresikan emosi dalam diri mereka dalam karya. Dengan demikian, mereka yang menyaksikan lukisan itu akan mendapatkan sensasi tertentu.” (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *