Menelisik Fitartistik (4): Membangun Keseimbangan

Handstand pushup ternyata tidak semudah dugaan. Ada teknik tersendiri yang mesti dikuasai.

MENCAPAI KESEIMBANGAN TERNYATA juga adalah inti Fitartistik. Maksud saya, keseimbangan dalam membangun kekuatan di bagian tubuh bawah dan atas. Jika kita selama ini berpikir bahwa dalam gymnastics hanya diperlukan kelenturan, kekuatan serta kelincahan tubuh bagian atas (itulah kenapa para pesenam terutama yang laki-laki banyak yang memiliki tubuh bagian atas yang lebih besar daripada tubuh bagian bawah mereka), ternyata tidak sepenuhnya benar. Dalam latihan pembuka, ada juga menu jogging dan lari dengan loncatan untuk membangun kekuatan tubuh bagian bawah (tungkai dan pinggul). Putarannya dilakukan sesuai kebutuhan dan ditambah dari latihan ke latihan. Setelah itu ada melangkah mundur dan inilah yang menegangkan: meloncati beberapa anak tangga sekaligus. Dari satu anak tangga, dua hingga kalau bisa tiga anak tangga!

Sedikit tips buat mereka yang ingin jogging tapi susah ‘panas’ dan sulit berkeringat seperti saya sebelum Fitartistik ialah pakailah jaket untuk menutup pori-pori tubuh. Alasannya ialah supaya tubuh tidak lekas dingin lagi karena diterpa angin yang melalui kita saat bergerak. Dan ini memang benar, karena saya yang memang sudah susah berkeringat dan memakai baju tanpa lengan makin susah ‘panas’ dibandingkan dengan Torik yang memakai baju berlengan dan pak Jonathan yang memakai jaket.¬†Lari kecil dengan kecepatan stabil seperti ini, kata Jonathan, diperlukan untuk bisa tetap bugar saat usia menanjak dan dibutuhkan pesenam untuk mengimbangi latihan tubuh bagian atas yang lebih dominan selama latihan setelahnya.

Hari ini kami fokus berlatih handstand (lagi). Masih dengan bantuan matras untuk menyokong pergelangan tangan saya, saya bisa menahan handstand ini dalam alignment yang diharapkan selama 30 detik. Kiat agar saat mencoba handstand tidak mengalami sakit di pergelangan tangan ialah dengan mengusahakan sudut antara punggung tangan dan lengan tidak lebih dari 90 derajat. Jika lebih dari 90, biasanya akan membuat nyeri setelah itu. Nah, itulah gunanya menggunakan matras senam yang padat dan tebal. Saya dilatih untuk menjaga awareness untuk menekan telapak tangan dan jari-jari secara merata dengan sudut yang pas 90 derajat agar aman dan bentuk handstandnya lurus benar. Sendi bahu dan pergelangan tangan saya dilatih untuk terus menahan berat tubuh (yang tidak seberapa ini) dengan lebih stabil. Dan ini jauh lebih efektif daripada dengan dinding atau menendang-nendang ke udara.

Lalu kami mencoba pull-up dan chin-up khas Fitartistik yang berbeda dengan yang sudah saya kenal di calisthenics. Selama ini di calisthenics saya mengenal pull-up dengan eksekusinya yang smooth, no jerking. Di sini, saya diajari untuk sedikit menggunakan ayunan kaki agar bisa naik dengan sedikit jerking (goncangan/ hentakan) hingga dagu lalu turun perlahan. Alasannya menurut saya ialah dalam calisthenics, palang yang dipakai biasanya besi biasa sementara di gymnastics ini, palangnya memiliki karakteristik lebih lentur. Ia bisa agak melengkung saat pesenam menggelayutinya. Dan hentakan-hentakan saat bergerak akan lebih sedikit mencederai pergelangan tangan dan lengan. Inilah yang berbeda dari palang di calisthenics yang kaku dan kokoh karena hanya dari besi biasa. Tubuh saya memang masih protes karena terbiasa dengan gaya calisthenics tapi begitu saya mengamati lebih jauh alasan di balik perbedaan ini, saya bisa menerimanya dan mencoba sedikit mengayunkan tungkai ke belakang saat hendak mengangkat tubuh ke atas sampai dagu di atas palang.

Kesalahan pemula dalam handstand pushup, kata Jonathan, biasanya di siku yang terlalu jauh ke samping. Dorong dada ke depan dan siku tetap sedekat mungkin ke dada, sarannya pada saya.

Tantangan berikutnya ialah handstand pushups. Ok, ini memang terdengar agak ekstrim tapi tidak juga sebab saya melakukannya tentu dengan bantuan coach Jonathan. Handstand pushups ini tidak dilakukan dengan bersandar di dinding atau palang tetapi idealnya hanya dengan palang sejajar yang lebih rendah dengan lebar sama dengan bahu kita dan tanpa ada sandaran. “Oke…,” batin saya. Dengan keyakinan bahwa ada matras empuk di sekeliling saya dan bantuan coach yang memegang kaki dan pinggul saya jika saya limbung, saya pun mencoba. Awalnya saya kira akan mudah. Dan memang mudah, karena saya bisa melakukan sampai delapan repetisi. Hanya saja, bentuk (form) handstand pushups saya kurang benar karena lengan saya terlalu jauh ke samping luar. Padahal kata Jonathan idealnya siku tetap sedekat mungkin ke dada/ tulang iga dan dada didorong ke depan saat turun. Saya baru paham setelah ingat cara Ollie Torkel melakukannya dalam sebuah video. “Ah, iya saya salah,” keluh saya. Tapi tidak masalah karena saya setidaknya bisa sampai 8 kali. “Ya, kamu menang ringan aja,” komentar coach J. Dalam hati saya membenarkan.

Setelah itu kami mencoba gelang-gelang alias ring. Sensasi pertama yang berbeda dari ring yang saya selama ini pakai di taman ialah bahwa ring dari kayu ini justru lebih berat! Padahal saya pikir lebih ringan daripada ring logam di taman-taman di tengah Jakarta. Entah ini benar atau cuma perasaan saya saja karena tubuh sudah makin lelah.

Saya mencoba gerakan yang bernama ‘skin the cat‘. Di sini saya naik dengan melompat susah payah (karena entah kenapa aturan mengharuskan ring ditempatkan begitu tinggi dari permukaan matras di bawahnya). Sebetulnya gerakan ini juga sudah tidak asing lagi bagi saya tapi sekali lagi alat dan situasi yang baru membuat saya juga harus beradaptasi. Dan memang itu tidak mudah. Karena itulah diberlakukan standarisasi alat-alat gymnastics di seluruh dunia. Jonathan bercerita bahwa pernah dahulu di zamannya berlatih ia menemukan banyak alat yang berbeda-beda ukuran dan bahan di setiap negara yang ia tandangi. Perbedaan itu membuat pesenam harus pontang-panting mengadaptasikan diri. Pelana kuda misalnya dulu sebelum ada standarisasi terbuat hanya dari besi dibungkus kulit, yang pastinya keras bukan main. Sekarang pelana kuda sudah dibuat lebih empuk dan sama ukurannya di mana-mana. Namun, justru saya pikir ketidaksamaan itulah yang membuat pesenam zaman dulu lebih tangguh dan tidak cengeng.

Kembali ke skin the cat, gerakan ini menjadi perkenalan bagi mereka yang masih asing dengan ring. Anda bisa mencoba ini sendiri karena tingkat kesulitannya minimal dan tidak membutuhkan orang lain untuk memegangi (kecuali jika memang betul-betul awam).

Kegunaan gerakan ini banyak. Selain melatih mobilitas sendi bahu dan melatih awareness di area pinggul, terasa juga penggunaan kekuatan core muscles yang dipakai saat meluruskan kaki lalu menggulung badan ke atas. Sungguh perjuangan bagi yang belum terbiasa. Tetapi sekali lagi, pastinya akan membuat ketagihan. (*/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *