Menelisik Fitartistik (5):Membina Ketekunan

PADA LATIHAN KELIMA, saya menjadi lebih tahu kemampuan tubuh sendiri. Eksplorasi gerakan-gerakan dasar sudah dilakukan, dan saya menjadi lebih tahu batasan kemampuan, kelemahan dan kekuatan saya.

Di titik ini, saya tidak diperkenalkan dengan gerakan-gerakan baru lagi. Level yang saya sudah lampaui juga masih kabur. Ini karena dalam Fitartistik, ada lima aspek yang diajarkan: mobilitas, fleksibilitas, kekuatan core, skills, dan conditioning. ┬áDalam hal mobilitas dan fleksibilitas, karena saya sudah beryoga selama bertahun-tahun, kendala relatif nihil. Dalam tiga aspek sisanya, saya akui masih memiliki segunung ‘pekerjaan rumah’.

Karena saya tidak diberikan gerakan-gerakan baru, saya pun harus fokus pada gerakan-gerakan yang sudah diberikan pada pertemuan-pertemuan sebelumnya namun saya masih belum bisa secara sempurna lakukan.

Misalnya saat melakukan cartwheel, saya merasa lebih nyaman dengan tangan kanan mendarat lebih dulu. Kalau saya daratkan tangan kiri, tubuh limbung dan koordinasi tubuh menjadi kacau balau. Ini menunjukkan sisi kiri saya sangat perlu dilatih agar seimbang.

Lalu pekerjaan rumah lainnya ialah melakukan roll depan yang lebih mulus dan efisien. Bagaimana menilai roll depan kita efisien atau tidak? Caranya cukup dengan mengukur jarak sekali berguling ke depan. Apakah jaraknya jauh atau cuma sedikit saja? Jika saya bandingkan dengan coach Jonathan Sianturi yang membimbing, sekali roll depan saja ia bisa setidaknya menempuh jarak dua kali dari saya. Saya perlu lebih berani mendorong tubuh ke depan sehingga tubuh terlontar lebih jauh ke depan. Selama ini saya merasa masih harus berhati-hati dengan leher dan sedikit menjadi ‘mental block’. Padahal jika leher sudah ditundukkan sampai dagu kena dada, leher relatif aman. Sekarang masalahnya ialah bahu. Karena bahu saya kecil dan tulangnya menonjol, saya merasa sakit karena langsung beradu dengan lantai berpegas yang menjadi arena kami berlatih (bayangkan saja sakitnya jika di lantai atau mat yoga biasa).

Saya juga kembali harus menyempurnakan latihan planche saya yang masih tertatih-tatih. Seperti yang bisa disaksikan di foto di atas, saya merasa masih berat untuk bisa mendorong bahu dan dada saya ke depan agar saya bisa meluruskan kaki ke samping (ini yang disebut straddle legs). Genggaman jari tangan dan pergelangan tangan saya belum sekuat harapan rupanya. Atau setidaknya belum terbiasa dengan gerakan itu sebab selama dalam yoga tidak pernah diajarkan untuk itu. Jadi mungkin saja saya bisa suatu saat nanti jika terus berlatih. Kapan? Saya tidak tahu. Asalkan terus berlatih, pasti akan datang juga saatnya.

Sementara itu, untuk pengayaan, saya melakukan eksperimen sehabis kelas dengan ring. Saya lakukan gerakan untuk melatih mobilitas sendi bahu dan otot core. Back lever dengan kaki terbuka ke samping juga masih belum stabil. Untuk naik ke atas dalam posisi l-sit juga belum bisa lebih dari dua kali (entah karena habis tenaga setelah latihan selama dua jam lamanya atau belum terbiasa). Selanjutnya keterampilan-keterampilan dasar ini masih harus terus saya latih karena merekalah fondasi untuk gerakan-gerakan yang lebih sukar dan menantang. (*/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *