Menelisik Fitartistik (Jilid Dua): Handstand Adalah Koentji!

SEMENTARA DI YOGA, sebagian orang menganggap handstand sebagai puncak yang diidamkan, dalam fitartistik handstand ialah ‘menu pembuka’. Setidaknya begitulah yang saya tangkap dari pelatih Jonathan Sianturi yang menggarisbawahi pentingnya handstand dalam fitartistik. Handstand ialah koentji, begitu sabdanya.

Alasan kenapa penguasaan handstand dengan teknik yang tepat dan aman menjadi begitu vital ialah karena dengan melakukannya, mental block dan paranoia dalam alam bawah sadar kita dapat diluruhkan. Mereka yang sudah biasa handstand dapat lebih leluasa mengeksplorasi beragam gerakan fitartistik lainnya yang tak kalah mendebarkan karena tidak mudah gentar, lebih berani. Dan ini menjadi sejenis fondasi untuk berlatih seterusnya.

Bahkan Jonathan sendiri menandaskan bahwa handstand ialah fitartistik. Begitu mendengarnya, tentu saya yang masih bersusah payah bertumpu di kedua telapak tangan ini tersentak lalu sedikit menggigil gugup.

Setelah mencoba half handstand atau baby handstand, sekarang saatnya saya mencoba quarter handstand.

Pelatih menitahkan saya mencobanya sebab menurutnya saya telah fasih di tahap baby handstand di platform busa yang tingginya seketiak itu.

Bedanya, di quarter handstand ini, penopang lengan saya makin dikurangi. Kini saya cuma akan memakai dua matras tebal empuk setinggi siku sebagai penopang. Saya ucapkan bismillah sebelum mencoba.

Saya aktifkan telapak tangan dan jari jari tangan serta bahu, kemudian dengan mengerahkan seluruh daya upaya raga ini, saya angkat kedua kaki ke atas. Kedua matras itu menyokong bagian lengan di bawah siku saya. Kedua pergelangan tangan juga sedekat mungkin ke matras. Saya gunakan jari jari sebagai rem agar tidak tumbang ke depan.

Di titik ini saya masih bisa dan karena itulah saya membuktikan bahwa hipotesis saya soal kenapa handstand saya payah ialah karena pergelangan tangan saya kurang stabil. Dengan sokongan tumpukan matras untuk menstabilkan pergelangan tangan saja, ternyata saya sudah bisa bertahan di handstand saya tanpa menendang-nendang di udara.

Kemajuan kecil. “Memuaskan tapi jangan girang berlebihan.” Sergah saya menegur ego yang sudah hendak bereuforia.

Beetje bij beetje, saya ingat peribahasa Belanda itu. Sedikit demi sedikit. Sabarlah. Jangan arogan.

Kemudian selanjutnya ialah menguji kekuatan tangan ini di palang tunggal. Saya harus pull up dan chin up. Sebetulnya saya sudah biasa namun di fitartistik pelatih saya menyuruh melakukan dengan sedikit hentakan. Mungkin untuk mendorong daya ledak otot. Terus terang saya tidak terbiasa pull up dan chin up dengan gaya begitu. Saya lebih suka gaya yang smooth, tanpa jerking. Tapi sekali lagi, saya katakan saya harus menundukkan kebiasaan lama dan berlapang dada dan kepala agar ilmu baru bisa masuk dan terserap. Tidak boleh banyak beralasan ini itu. Just do it. Karena saya yakin semua itu ada alasannya.

Untuk latihan kekuatan core dengan palang ganda sejajar, ada beberapa level. Yang paling dasar ialah kedua tangan mengangkat tubuh secara stabil. Bahu berperan penting di sini. Lalu level berikutnya ialah mengangkat kedua kaki ke arah dada. Jika itu sudah lancar dan tidak membuat muka merah padam dan seram, beralihlah ke tingkat yang lebih lanjut, yakni L-sit dengan tumpuan kedua tangan di palang. Semua ini terlewati dengan mulus. Ego saya masih bisa sombong dan menyungging senyum bahkan saat pelatih Jonathan menghitung lewat dari 8. “Juara kamu!!” Batin saya memuji diri.

Benar adanya jika arogansi cepat atau lambat akan menumbangkan diri. Dalam kasus ini, tumbangnya arogansi saya begitu cepat datang. Begitu tahu itu sudah bukan masalah, saya diberi perintah melakukan planche, kedua tangan di palang lalu dada diangkat dan tubuh sejajar lantai dengan kedua kaki lurus ke samping.

Bendera putih melambai…

Ego saya tunduk. Takluk. “You’re not that great. Sorry.”

Tahu tubuh saya belum setegar itu, pelatih Jonathan memberi sebuah solusi untuk berlatih secara bertahap. Saya bisa mencoba bakasana dengan memakai dua dumbbell. Hanya saja bakasana di sini tidak menyentuhkan ketiak ke lutut. Jadi antara lutut dan dada ada ruang.

Untuk diri saya hari ini, skill itu masih musykil. Untuk beberapa bulan lagi mungkin. Siapa tahu? (*/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *