Militaryoga

“Semua sudah pernah, kecuali yoga,” ucapnya seolah memohon. Keingintahuan pria itu pada yoga tercetus begitu melihat saya berlatih dalam jarak beberapa langkah darinya. Saya pikir ia tak berminat tetapi tampaknya ia menunggu saat yang yang tepat untuk melancarkan serangan bombardir pertanyaan.
.
Usai bertanya sejak kapan latihan, kekerapan latihan, dan pertanyaan-pertanyaan standar orang awam pada pelaku yoga, barulah ia membeberkan ceritanya, bahwa di kesatuan infantrinya, olahraga yang diperintahkan untuk dipelajari para prajurit Angkatan Darat itu bergantung pada selera atasan. “Silat sudah pernah. Taekwondo juga. Pernah juga mendatangkan guru aerobik ke markas. Pokoknya tiap ganti pemimpin, ganti olahraga. Sekarang beda lagi, senam jantung. Tidak berat sih tapi malas bangun soalnya jam 5 harus sudah di lapangan untuk senam. Padahal kan itu pas enak-enaknya tidur kan mas?”
.
Saya bayangkan malasnya pagi buta dibangunkan secara brutal dan dipaksa bangkit dari kasur yang terasa mencengkeram sekujur badan. Seakan tak ingin melepaskan. Hangat dan empuk. Melenakan kewajiban.
.
“Enak ya kalau rutin yoga. Badannya enteng, segar. Saya juga mau yoga,” komentarnya lagi. Mungkin jika ia tak sedang bertugas, ia akan mencoba bersama saya. Tetapi ia tidak bisa melakukannya sebab di tepi jalan depan sana terparkir sebuah tank perang yang dikeluarkan untuk berjaga-jaga tiap kali ada unjuk rasa. Beberapa anak muda pernah saya saksikan meminta izin berfoto di atas tank itu, tetapi tak bisa masuk ke dalamnya secara sembarangan. Di belakangnya, tiga orang prajurit infantri duduk-duduk santai, menyisir dunia maya di genggaman tangan. Semua tak ada yang berminat olahraga. Bukan karena malas tapi karena ada tugas. Begitu ada komando kondisi genting dari atasan, mungkin mereka akan lekas meninggalkan titik itu dan menggilas aspal jalan protokol ibukota. Tampaknya mereka mengamankan Jakarta di lapis yang kesekian.
.
“Dulu saat masih muda, umur dua puluhan awal saya masih bisa lari kencang. Sekarang sudah habis napas,” kenang pria muda berambut cepak itu, lalu menyedot rokoknya, yang terang-terang menjelaskan penyebab kemerosotan staminanya.
.
Tiba-tiba ia melempar pertanyaan,”Usia berapa?”
.
Saya jawab spontan juga dengan apa adanya.
.
Reaksinya terkejut karena ia ternyata enam tahun lebih belia dari saya. Seolah saya spesimen aneh, ia panggil temannya dan bertanya sebagai tebakan tentang umur saya. Temannya sendiri 35 tahun dan sudah menunjukkan tanda-tanda makin tambun.
.
“Kalau prajurit sudah malas olahraga, gemuk, susahlah mau naik pangkat, mas,” keluhnya. Ia menjelaskan enaknya naik pangkat di era sebelumnya. Kini prajurit-prajurit muda mesti diuji kebugaran sebelum bisa naik pangkat.
.
“Banyak teman-teman saya yang frustrasi karena hasil tes fisik mereka kurang. Susah naik pangkat. Stres!” ia memprotes sistem baru itu di depan saya, seolah saya bisa membantu meringankan deritanya.
.
Sistem kenaikan pangkat itu memang lebih kejam. Hasil tes fisik akan dikonversi sesuai kategori usia. Jadi, kalau misalnya bisa push-up 40 kali dalam semenit dengan bentuk sempurna jangan gembira dulu. Kalau usia masih duapuluhan, bobot nilainya akan rendah juga. “Paling 70. Untuk naik pangkat butuh lebih dari itu,” ia menghela napas.
.
Untuk seorang warga berlatar belakang sipil, ia termasuk tegar juga. Mulanya ingin kuliah saja, akhirnya ia masuk militer karena takut lulus kuliah jadi pengangguran.
.
“Pertanyaan pertama saya pada paman yang menyarankan masuk militer,’Apa bakal ada perang?’ Itu saja,” ujarnya.
.
Pamannya menenangkan hati sang keponakan dengan menjawab,”Masa damai begini mana ada perang, le. Haha sudah masuk saja.”
.
Tapi di masa peralihan dari dunia sipil ke militer, ia merasa sungguh berat. Ia pernah ditempeleng senior gara-gara dengan sopan ala orang Jawa menanyakan cara mengikat tali sepatu lars panjang. “Jangan kayak banci! Prajurit kok nanyanya lembut begitu!!!” Padahal ia hanya ingin bersikap sopan dan penuh unggah ungguh, melestarikan didikan orang tua yang masih tinggal di Bojonegoro sana.
.
Andai saja ia masuk ke sekolah yoga, ia tidak akan mendapati tempelengan di hari pertama menjadi murid. Akan tetapi, saya tak akan ceritakan itu. Sebab kalau tahu, ia mungkin akan menyesal. Ia tak harus rela dikasari senior dan tak perlu takut menganggur apalagi takut akan pecah perang. Namun, saya paham pula jalan hidup manusia berbeda-beda. Baginya sekarang, membaktikan diri pada negeri mesti menjadi prioritas tertinggi daripada menjadi seorang yogi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *