Nederlands Is Makellijk

NEDERLANDS is makellijk, tulis meneer Tonny dengan huruf besar di papan tulis yang lebar, putih, dan mulus itu. Kalimat itu saja yang ia tegaskan untuk mencuci otak kami agar semangat tidak keropos di tahap awal belajar bahasa kompeni ini. “Nederlands is makeuleuk,” ucap kami serempak menirukan.
.
Ia katakan kelebihan bahasa Belanda dari bahasa Inggris ialah pengucapannya yang apa adanya. Apa yang tertera, dibaca saja, tuturnya. Tetapi saya sangkal pernyataannya dalam hati,”Kalau mudah, kenapa orang Indonesia merasa lidah mereka kaku saat membaca tulisan Belanda?” .
.
Namun, itulah enaknya belajar bahasa, yang tak masuk dalam ranah eksakta. Semuanya relatif, suka suka. Anda bisa mengajukan klaim mudah dan menambahkan pengecualian. Dan pengecualian itulah yang tak bisa dipahami secara logis dan susah dipahami dan dihapalkan.
.
Semangat belajar memang penting untuk dipelihara selama perjalanan mencari ilmu. Sebab tidak semua fase belajar itu menyenangkan untuk dijalani.
.
Tetapi seorang teman mengatakan, bahasa bekas penjajah ini susah. Begitu susah, sampai novelis termasyhur Eka Kurniawan bertekuk lutut saat mengikuti kursus ini.
.
Berkali-kali meneer Tonny mengajukan bukti pendukung pernyataannya bahwa Nederlands is makellijk (bahasa Belanda itu mudah). Disuruhnya kami mengajukan contoh kata-kata dalam bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa ini, dari verboden (terlarang), kraag (krah), tas, handoek (handuk), korsluit (korslet), koelkast (kulkas), pootlood (pensil/ potlot), kantoor (kantor), fiets (pit, bahasa Jawa), om, tante, dan daftarnya tak habis-habis.
.
Sayangnya panjangnya daftar itu cuma menunjukkan besarnya cengkeraman mereka pada bangsa ini, bahkan di luar urusan politik dan kenegaraan. Sementara itu, pengaruh bangsa (yang kuantitasnya) besar yang (berdaya saing) ‘kecil’ ini relatif sangat rendah pada mereka. Buktinya, susah sekali menemukan kata-kata bahasa Indonesia yang diserap oleh penutur Belanda.
.
Di antara yang langka itu, meneer Tonny menyebut beberapa. Pertama, kata “pienter” yang diserap dari bahasa kita. Artinya juga sama dengan kata “pintar” yang kita sering pakai.
.
Lalu ada juga “piekeren”, yang kata meneer Tonny, memiliki makna “memikirkan sesuatu”. Setelah itu, meneer Tonny beralih topik. Sudah kehabisan contoh atau karena ingin fokus ke topik selanjutnya.
.
Saya manggut-manggut, dengan mata tidak berani menerawang liar ke mana-mana agar tidak ditunjuk saat lengah lagi.
.
Sambil menancapkan mata ke depan agar tetap terlihat memperhatikan, saya terus berpikir. Mau sebanyak apapun jumlah penutur bahasa Indonesia tetap tidak bisa dimasukkan menjadi kelompok bahasa berpengaruh di dunia. Salah satu sebab utamanya pengaruh Indonesia yang masih lemah di konstelasi pergaulan bangsa-bangsa. Dan salah satu aspek yang bisa diukur untuk menentukan tingkat pengaruh suatu bangsa di lingkaran global ialah banyaknya kata-kata dalam bahasa mereka yang dipinjam dari bahasa lain. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *