Nobar yang Membuat Hambar

“SUARA apa itu, mbak?” tanya saya was-was. Saya baru saja duduk dan memesan makanan. Lalap, nasi merah dan segala perlengkapan. Rumah makan ini baru. Begitu baru sampai-sampai yang beli cuma saya seorang.

“Nggak tahu…,” tukas perempuan muda itu acuh. Lalu ia melanjutkan bergosip dengan kawannya.

Begitu makanan saya tiba di meja, saya makin tak berselera gara-gara musik pengiring itu. Ya, saya kenal musik itu. Musik dari film yang membuat saya tak bisa tidur saban 30 September. Film yang membuat saya selalu mematikan televisi dan tidur cepat karena toh isinya tidak menarik dan traumatis. Lebih baik saya disuruh belajar sampai penat dan mata merah daripada menonton film itu.

Saya menyadari kebodohan saya yang bertanya pada gadis muda tadi. Usianya pasti baru belasan. Mana tahu soal film ini?

Dialog pun terdengar. Bukan lamat-lamat lagi tetapi hingar bingar. Seakan memang diatur sedemikian rupa agar membangkitkan keingintahuan orang yang lewat.

Nafsu makan saya makin hilang begitu saya mengicipi sambal. Blah! Tidak enak. Saya gigit selada keritingnya. Pahitnya seperti pil kina. Ingin saya lepeh seketika itu juga tapi saya takut menyakiti hati si pelayan itu. Akhirnya saya telan juga. Lalu mentimun yang diiris tipis itu juga tak segar lagi. Kisut, kering di satu sisi. Benar-benar memadamkan nafsu makan. Ditambah dengan makin menggemanya dialog film Orba itu ke liang telinga dan membangkitkan kenangan buruk di sudut batok kepala, klop sudah! Tetapi meski saya sudah tak ada nafsu makan, saya berupaya menelan sebisanya juga karena terbiasa mendengar dogma “mubazir temannya setan”.

Saya bayar makanan yang mengecewakan lidah ini dan bergegas meraih sepeda lalu mengayuh pulang.

Tetapi sedetik sebelum saya mengayuh, terbetik rasa ingin tahu,”Siapa gerangan yang menghelat acara nobar itu?!!”

Saya pun ke gang tempat rumah makan soto Kudus Saraswati yang selalu saya gadang-gadang itu. Letaknya kebetulan dekat dengan warung baru tempat saya baru saja bersantap malam. Gang itu ditutup. Bangku-bangku menandakan pemblokiran jalan. Sebuah sepeda motor juga malang melintang.

Dan di sana, di jalan depan rumah makan soto kudus kesayangan saya, terbentang sebuah layar dari kain putih. Film itu tersorot entah dari peralatan apa. Saya tidak peduli. Yang saya lihat hanya muka seorang pria di tengah kepekatan malam. Apakah di situ banyak orang, saya sudah tak peduli lagi, saya terobos saja ke depan sampai sepeda menerjang layar dan semuanya bubar. “Bubar!!! Pergi semua. Ini jalan umum!”

Tapi sayangnya itu cuma angan-angan saja. Kenyataannya, saya tercekat di mulut gang, dan enggan menatap layar itu lagi, mendengar musik latar yang menegakkan bulu kuduk ini, dan mengangkat sepeda ke arah seharusnya. Saya pulang dulu, jendral!

Di tengah jalan, lewatlah saya di warung langganan. Untuk melampiaskan kekecewaan, saya mampir. Dengan kata lain, saya makan malam lagi untuk menghibur hati dari kekecewaan dan kengerian malam ini. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *