Anomali Bernama Baduy (9)

Stres kalau sudah urusan mandi! Karena di perkampungan Baduy Dalam, tidak ada kamar mandi tertutup buat kami. Foto ini diambil di perkampungan Baduy luar. (Foto: Tim Geo Tour)
Stres kalau sudah urusan mandi! Karena di perkampungan Baduy Dalam, tidak ada kamar mandi tertutup buat kami. Foto ini diambil di perkampungan Baduy luar. (Foto: Tim Geo Tour)

MCK. Tidak ada yang paling membuat stres di kampung Baduy ini bagi kami selain urusan ke belakang. Apapun kami bisa tahan tetapi soal mandi, cuci dan kakus, sebagian dari kami tidak bisa menolerir. Tidak bisa tidak, kami harus mandi tanpa bisa dilihat orang lain. Dan alternatifnya cuma dua: mandi sebelum atau sesudah semua orang mandi atau mandi di tempat yang agak jauh dari permukiman (yang sebenarnya juga tidak beratap juga jadi tidak sepenuhnya kebal pandangan mata manusia lain).

Sungai menjadi tempat kami melakukan segala aktivitas yang amat sangat pribadi tersebut. Dan ketiadaan pembatas menimbulkan rasa segan, rikuh, dan tertekan. Kegiatan mandi menjadi suatu perbuatan yang harus dilakukan dengan kewaspadaan yang tidak ada redanya dan kehati-hatian ekstra serta perasaan penuh curiga. Pandangan terus disebarkan ke sekeliling. Dan memikirkan kemungkinan pakaian hanyut atau hilang terbawa orang atau sengaja dibawa orang makin membuat kepala pening. Pertanyaan “bagaimana jika…?” yang terus menghantui membuat mandi cukup menguras tenaga dan pikiran.

Sebelum mandi, saya mengkondisikan diri agar dapat menganggap kegiatan mandi sebagai suatu aktivitas berenang bersama yang mengasyikkan. Karena di sana juga tidak boleh memakai sabun, jadi berenang dan mandi terlihat sama saja. Dan itulah yang saya saksikan dan pelajari dari anak-anak Baduy yang mandi di sungai. Mereka melakukannya dengan riang gembira. Sementara orang-orang tua melakukannya sebagai kewajiban. Dan orang-orang luar yang dengan angkuhnya merasa lebih maju dan modern seperti kami menganggap mandi di alam terbuka sebagai suatu kenistaan yang tidak patut dilakukan, sangat purba, menjijikkan, permisif dan sinting.

Jika kita mencermati tata letak zona permandian di sepanjang sungai ini menunjukkan pemikiran orang Baduy juga. Begini letaknya dari hulu ke hilir: zona atas, tengah dan bawah. Zona atas ialah yang paling dekat ke hulu dan khusus diperuntukkan bagi para tetua adat Baduy. Dua kali saya mandi di sungai, saya belum pernah sekalipun menemukan tetua adat mencelupkan tubuh di sana.

Zona tengah, yang dekat dengan jembatan penyeberangan, diakses khusus oleh para pria dan anak laki-laki. Di bawah jembatan tersebut, terdapat sebuah palung yang cukup dalam. Mungkin setinggi leher orang dewasa. Karena tidak dapat berenang dengan baik, saya hindari area ceruk dalam itu dan memilih menjauhi jembatan serta memilih berendam santai sambil menggosok tubuh dengan bebatuan yang ada di dasar kali.

Sementara itu di zona bawah, para perempuan dipersilakan membasuh tubuh. Dari sini kita bisa ketahui bahwa masyarakat Baduy bersifat patriarkis karena perempuan-perempuan Baduy segala usia harus rela menggunakan air sisa mandi dari para tetua (yang notabene juga pria) dan suami, saudara laki-laki, atau anak laki-lakinya. Bahkan air sisa mandi para pria pendatang yang tidak dikenalnya!

Sebetulnya jika kita mau berjalan lebih jauh lagi agak jauh dari permukiman, ada dua bilik tertutup yang bisa dipakai mandi. Tetapi tetap saja meskipun ada dinding jerami sebagai penghalang pandang, Anda akan mandi dengan menatap langit.

Sekembalinya ke Jakarta, kami mengobrol soal MCK. Ada yang mengaku menahan selama di perkampungan. “Sampai Jakarta, langsunggg!” katanya penuh kelegaan. Ada juga teman yang berhasil menyelesaikan ‘hajat’ di sana. “Pantas tidak ada sepagian,” seloroh seorang yang lain menyadari ketidakhadiran temannya di acara tur.

Saya sendiri bukan tipe orang yang bisa melampiaskan urusan pembuangan secara serampangan. Buang air kecil masih bisa diselesaikan dengan santai. Namun, soal buang air besar, sungguh sulit. Mungkin karena dehidrasi juga. Karena sepanjang perjalanan, keringat mengucur tanpa ampun.

Kebiasaan ke toilet atau kamar mandi sebelum tidur terasa jauh lebih mudah di rumah. Di sini, kami tidak bisa sembarangan ke kali di malam hari sebab medannya yang tidak rata dan siapa tahu ada satwa yang kehadirannya tak terduga dan bisa membuat celaka? Maka sebelum berangkat tidur, kami yang laki-laki secara berkelompok saling menjagai saat ingin kencing di malam hari. Baru kali ini, kami kencing berdiri, di tepi kali, lalu menjerit-jerit minta diterangi tetapi begitu disoroti, kami minta jangan terlalu diterangi. Intinya serba salah. Ingin melihat tetapi juga tidak ingin dilihat. Saya sendiri berdoa supaya tidak ada ular yang iseng berenang melintasi titik tempat kami bergerombol. Jika ada, tamatlah kami dipatuknya. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (8)

Anak-anak Baduy tidak diperkenankan orang tua mereka untuk mengenyam pendidikan formal. Tak cukup di situ, mereka tidak disarankan menjadi terlalu pintar. (Foto: Tim Geo Tour/ Jalan- Jalan Baik)
Anak-anak Baduy tidak diperkenankan orang tua mereka untuk mengenyam pendidikan formal. Tak cukup di situ, mereka tidak disarankan menjadi terlalu pintar. (Foto: Tim Geo Tour/ Jalan- Jalan Baik)

‘LARANGAN’ PINTAR. Menjadi cerdas seolah sudah menjadi ambisi dan impian masyarakat modern. Kita diajarkan untuk menjadi makhluk yang haus informasi dan ilmu pengetahuan. Di mana-mana, kalau ada waktu, membacalah, begitu nasihat yang sudah tertanam dalam benak kita. Terus belajarlah sampai ke negeri China, begitu bahkan petuah dari agama. Dari segala arah, manusia modern sudah dibentuk sedemikian rupa untuk terus bersaing dan menyempurnakan kecerdasan mereka.

Lain halnya dengan orang-orang Baduy, terutama Baduy Dalam. Alih-alih mendidik anak-anaknya agar sepintar mungkin, masyarakat Baduy lebih memilih untuk memberikan kesempatan belajar secukupnya dan membatasi agar jangan sampai terlalu cerdas.

“Karena saat seseorang terlalu pintar, ia bisa membohongi orang lain,” ujar jaro.

Saya termangu. Ada hal-hal yang dianggap sebagai penderitaan, atau ketertinggalan yang bukannya dihindari tetapi malah dipilih secara sadar dan tanpa paksaan oleh orang, atau dalam kasus ini, sekelompok orang. Dan saya tidak bisa menghakimi ini sebagai suatu kepandiran. Ini pilihan hidup mereka dan kita sebagai orang luar mestinya menghargai.

PERMUKIMAN. Permukiman orang Baduy tidak stagnan, atau sama dari waktu ke waktu. Seperti halnya masyarakat lain yang dinamis, permukiman Baduy juga terus berubah-ubah dalam banyak aspek. Mengenai jumlahnya, ternyata bisa terjadi pertambahan sesuai kebutuhan.

Satu rumah yang dibangun bisa berisi satu atau dua keluarga. Sebuah rumah yang saya tempati satu malam bersama teman-teman serombongan juga dihuni satu keluarga besar yang kebetulan adalah keluarga Damin, salah satu anak laki-laki yang turut berjalan kaki bersama kami membawakan barang bawaan. Di akhir pekan seperti sekarang mereka menyewakan ruangan luar rumah sederhana berdinding anyaman bambu dan beralas tikar anyam itu dengan traif sukarela. Jadi, kalau bisa dikatakan mereka mirip host di layanan AirBnB. Jumlahnya mungkin tidak seberapa jika dibandingkan penghasilan manusia urban tetapi toh jumlah sebesar itu bisa menghidupi sebuah keluarga dengan 8 anak seperti di keluarga ini.

Sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia, papan juga menjadi fokus penting dalam kehidupan masyarakat Baduy. Biaya pembangunan setiap rumah di perkampungan Baduy diperoleh dari si pemilik rumah. Mereka harus menyiapkan materialnya yang sebagian besar adalah bambu, kayu keras dan dedaunan. Namun, untuk tenaga, pemilik dibantu oleh warga lain juga dalam proses pendiriannya.

Yang unik, dalam bangunan rumah dan apapun di suku Baduy Dalam, penggunaan paku sama sekali dilarang. Sehingga yang kita bisa jumpai di rumah-rumahnya hanyalah pasak kayu atau penyusunan bahan yang lebih taktis untuk mengakali ketiadaan paku sebagai perekat antarelemen bangunan. Suku Baduy Luar lebih fleksibel perkara paku. Bangunan rumah mereka masih diperbolehkan memakai paku.

KEBERSIHAN DIRI. Salah satu sumber frustrasi para wisatawan urban di daerah ini ialah larangan tegas untuk menggunakan bahan-bahan pembersih badan dan rambut yang mengandung zat dan senyawa kimiawi buatan pabrik. Larangan tersebut bukannya tanpa alasan. Selain karena memang bungkus plastik kemasannya bisa menambah gunungan sampah plastik di alam terbuka, air bilasan dari penggunaan produk-produk perawatan semacam itu juga bisa mencemari lingkungan. Saya sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika larangan itu tidak ada, padahal sungai menjadi satu-satunya andalan kami dalam berbagai urusan mandi, cuci, sampai kakus!

Tetapi karena adanya larangan tegas tersebut, saya yang terbiasa mandi di ruangan tertutup dan air bersih yang sudah disedot sedemikian rupa dari dalam perut bumi, bisa juga menikmati sesi mandi di alam terbuka dengan air mengalir di permukaan tanah tanpa ada rasa cemas yang berlebihan jika ada kotoran atau hal-hal semacamnya. Air yang mengalir begitu bersih dan jernih serta alirannya konstan. Tidak ada kotoran yang tertahan. Jikalau ada butiran pasir atau tanah pun bisa dibilas lagi.

Sebagai pengganti shampo dan sabun, masyarakat Baduy memakai bahan-bahan alami dari dedaunan untuk membersihkan diri. Untuk pengganti sikat gigi, sang jaro mengatakan sabut kelapa bisa dipakai membersihkan gigi. Daun hejo juga dapat dipakai untuk mencuci rambut.

Perkara perapian rambut, masyarakat Baduy tidak mengenal gaya rambut yang bermacam-macam. Mereka juga tidak mengenal adanya profesi penata rambut (hair stylist) atau juru potong rambut (barber). Dalam pengamatan saya, pria-pria Baduy memilih membiarkan rambut mereka tergerai sepanjang telinga atau bahu. Tidak lebih dari itu. Sementara para perempuan memanjangkan dan memelihara rambut mereka sampai ke pinggang. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (7)

Suatu bentuk arogansi yang umum kita temui dan lakukan ialah menghakimi keterbelakangan atau kemajuan sebuah masyarakat dengan menggunakan standar kita sendiri. Padahal belum tentu yang kita anggap kemajuan itu diinginkan oleh masyarakat lain yang kita nilai. (Credit: Tim Geo Tour Baduy)
Suatu bentuk arogansi yang umum kita temui dan lakukan ialah menghakimi keterbelakangan atau kemajuan sebuah masyarakat dengan menggunakan standar kita sendiri. Padahal belum tentu yang kita anggap kemajuan itu diinginkan oleh masyarakat lain yang kita nilai. (Credit: Tim Geo Tour Baduy)

KEMAJUAN. Manusia memang saling memandang kondisinya masing-masing. Ada yang memandang kondisi orang lain dengan rasa iri. Ada pula yang memandang kondisi orang lain dan merasa kasihan lalu ingin membantu karena berpikir kondisi orang lain lebih malang darinya. Hanya saja, kadang bantuan itu dibutuhkan, kadang juga sama sekali tidak. Mengapa? Karena yang ditolong merasa sudah cukup atau bahkan malah ingin mempertahankan apa yang ia miliki.

Seperti saat kami menanyakan apakah selama ini ada orang luar yang ingin memberikan pendidikan bagi orang Baduy agar bisa “semaju” masyarakat luar. Tentu menurut standar orang perkotaan, standar hidup dan pendidikan suku Baduy kurang dari kata “layak”. Tetapi di sinilah kita perlu memberikan empati kita bahwa mereka sama sekali tidak menghendaki bantuan semacam itu. Karena dengan bantuan semacam itu, justru mereka merasa terusik dan terganggu sehingga mereka tercerabut dari akar budaya mereka yang sudah susah payah dilestarikan selama ini.

Sang jaro dengan nada datar dan sabar menjawab bahwa sudah sejak dulu kala telah dilarang bagi orang Baduy untuk menerima pendidikan formal dari pihak luar. Namun demikian, bukan berarti mereka sama sekali abai dengan pentingnya pendidikan. Suku Baduy masih memperkenankan anggota sukunya untuk memberikan pendidikan bagi anak-anaknya asal dilakukan oleh kalangan dalam sendiri. Hal ini untuk mencegah upaya “brainwash” yang kelak malah membuat budaya Baduy memudar dan punah.

Antipati semacam ini memang sangat bisa dipahami. Pendidikan adalah metode penyemaian benih-benih dari sebuah masyarakat budaya. Jika pendidikannya sudah menuju ke arah yang keliru, budaya dan masyarakat itu bisa dipastikan akan segera menjemput kepunahannya. Hal inilah yang juga terjadi pada suku Jawa yang menjadi bagian dari identitas saya juga. Dalam hal jumlah populasi, kita tidak meragukannya. Akan tetapi, dalam hal kelestarian budaya, banyak orang Jawa yang sudah hilang identitas Jawa-nya. Anak-anak muda Jawa masa kini telah susah berbahasa Jawa. Jangankan bahasa Jawa krama inggil, bahasa Jawa ngoko yang kasar pun sudah tidak lagi dikuasai dengan lancar. Belum lagi soal aksara. Berapa banyak orang Jawa yang masih bisa menuliskan aksara Jawa?

Meski tidak mengenyam pendidikan formal layaknya anak-anak di luar, anak-anak suku Baduy juga belajar menulis dan membaca serta berhitung. Hanya saja cara belajar mereka menurut sang jaro tidak di bangku sekolah tetapi membaca buku atau apapun yang ada tulisannya bahkan kardus kemasan pun bisa dijadikan materi belajar. Dengan kata lain, mereka tidak belajar dari orang tua tetapi diarahkan untuk belajar secara mandiri. Anak-anak Baduy diarahkan sebagai pembelajar otodidak yang gigih. Tidak hanya menganga meminta asupan dan suapan dari guru-guru. Mereka diperbolehkan untuk belajar apa saja, asalkan tidak di sekolah formal.

Karena itulah, warga Baduy bersikap tegas soal masuknya upaya ‘peningkatan dan pemerataan’ pendidikan di wilayahnya. Begitu ada orang asing (terutama warga negara asing) yang berusaha memasuki wilayah dengan tujuan ingin ‘mencerdaskan’ generasi mudanya, mereka akan segera menindak dengan tegas untuk mengeluarkannya segera. Para petinggi suku Baduy menjalin koordinasi dengan jajaran pemerintahan kelurahan atau kecamatan di Lebak untuk mengidentifikasi jika ada WNA yang masuk ke wilayahnya. WNA yang dimaksud ini juga termasuk orang-orang yang serumpun dengan bangsa Indonesia sendiri, seperti warga Melayu dari Malaysia sekalipun. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (7)

(Credit: Cecep)
Di rumah keluarga inilah saya menginap dan mereka selalu mendahulukan kami waktu makan. Begitu kami selesai makan, baru mereka makan. Jadi, siapa bisa tega untuk menambah lagi?(Credit: Cecep)

Malam saat kami beranjak tidur memang tidak begitu dingin. Namun, begitu lepas tengah malam hingga dini hari dan subuh, hawa dingin merasuk melalui lubang-lubang di dinding rumah Baduy yang terbuat dari anyaman bambu. (B)untung bagi saya, di atas saya, sebuah lubang di dinding bambu menganga cukup lebar. Jaket bisa membendung hawa dingin pegunungan ini dari pinggang ke atas tetapi kaki saya resah bergerak ke sana kemarin mencari kehangatan karena cuma berbalut celana pendek dan sarung yang terlampau tipis.

Pukul setengah lima, saya biasa terbangun tetapi di sini, saya memutuskan bangun lebih lambat. Faktor suhu salah satu alasannya. Yang lain ialah perkara cahaya. Sepagi itu, rasanya masih riskan untuk keluar sendirian. Semua orang masih mendengkur dan berbaring meringkuk di tikar jerami anyaman wanita-wanita Baduy. Saya tidak tahu apa yang ada di luar sana karena bahkan di dalam rumah, kondisinya pekat seluruhnya. Pembaringan saya di pojok ruangan membuat saya harus berjuang melompati banyak orang jika ingin bangun lebih pagi.

Kepala yang masih setengah mengantuk ini kemudian tak jadi tidur nyenyak lagi sebab tak berselang lama, seorang bayi menangis, meraung-raung dan seorang ibu menenangkannya dengan bicara lirih-lirih. Suara mereka begitu jelas jadi saya duga mereka ada di rumah sebelah. Rupanya ini alarm dari Yang Kuasa, pikir saya. Tetapi saya tetap tidak bisa bangun, hanya terpaku dan memejamkan mata menikmati kesadaran di sini, di lantai bambu sebuah rumah yang hanya dialasi tikar dan dikelilingi anyaman bambu dan dilingkupi atap ijuk. Saya menunggu ada orang di rumah ini yang terbangun. Tetapi semenit, dua menit, kemudian tak tahu berapa lama, karena putus asa, saya tertidur juga kembali begitu bayi itu tenang kembali.

Kami mengawali hari dengan yoga sekitar pukul 7 pagi. Dan sarapan pagi nasi goreng dengan telur dadar langsung meredam rasa lapar ini. Beberapa suap terakhir masih tersisa di piring saya hingga jaro atau kepala kampung adat di Cibeo menyambangi kami. Ia tampak sebagaimana pria Baduy Dalam biasa. Pakaiannya mirip dengan yang lain sehingga jika saya bertemu dengannya lagi kapan-kapan, saya pasti tidak bisa mengenalinya lagi dalam sekumpulan pria Baduy.

Bersamanya, kami duduk di beranda kembali. Saya buru-buru mencuci tangan lalu mengambil buku catatan saya dan merangkum percakapan kami. Dengan sabar, jaro menjawab pertanyaan-pertanyaan kami yang  kritis, iseng, dan kadang ‘gila’. Untuk tiap topik, saya berikan subjudul tersendiri di bawah ini.

__***__

FAUNA. Sesaat setelah lolos dari ujian terberat Tanjakan Cinta siang itu, pemandu kami Teguh berceletuk,”Di atas tidak akan ada hewan berkaki empat.” Yang ia maksud “di atas” tentu wilayah suku Baduy Dalam.

Tidak pernah terpikir oleh saya mengapa ada kondisi ganjil semacam itu. Apakah memang tidak ada hewan berkaki empat yang sanggup mendaki sampai sejauh kami? Hipotesis itu tentu kurang bisa diterima akal sehat karena binatang-binatang itu dapat dengan lebih mudah menjelajah alam bebas seperti bukit-bukit ini jika mau daripada manusia yang lebih banyak pertimbangannya. Dan apa yang Teguh maksud dengan binatang berkaki empat? Ia menjelaskan hewan yang dimaksud ialah sapi, kambing, kerbau dan hewan-hewan ternak sejenisnya.

Betul juga. Begitu kami memasuki perkampungan Suku Baduy Dalam di Cibeo, tidak saya jumpai seekor pun hewan-hewan ternak berkaki empat. Hanya saja, ayam-ayam berkeliaran bebas di sana-sini.

Jaro atau lurah kampung Baduy Dalam yang kami kunjungi ini membeberkan jawabannya pada kami. Dalam sebuah kesempatan, sang jaro ini bersedia duduk bersama kami untuk beraudiensi, layaknya seorang walikota atau gubernur yang menyambut tamu-tamu kehormatan dari negeri asing. Usai makan pagi nasi goreng yang berhias telur dadar yang dibuat oleh ibu pemilik rumah yang kami inapi satu malam, pria yang sudah menjabat sebagai jaro selama 25 tahun terakhir ini duduk di beranda rumah yang terbuat dari bambu dan dengan sabar menanggapi semua pertanyaan dan masukan dari para pendatang.

Dalam balutan pakaian khas berupa kemeja lengan panjang yang putih agak kecokelatan akibat waktu, jaro kampung Cibeo ini mengatakan bahwa hewan-hewan pemamah biak yang disebutkan tadi berpotensi menjadi hama pengganggu bagi tanaman padi yang sudah susah payah mereka tanam. Kucing menjadi satu pengecualian. Pertama karena ia bukan hewan pemamah biak yang gemar melahap rerumputan termasuk padi-padian. Kedua ialah karena kucing dianggap suku Baduy Dalam sebagai satwa domestik yang bermanfaat untuk mengusir tikus dari rumah. Saya sendiri belum sempat menemukan seekor tikus pun di sekitar permukiman ini. Entah karena saya beruntung atau bagaimana. Tetapi itu juga menjadi sebuah kelegaan, karena jika tikus jarang ditemui di sekitar perkampungan, ular pun akan lebih jarang, karena jika kita masih ingat pelajaran rantai makanan dalam pelajaran biologi, tikus adalah makanan ular. Jadi, adanya kucing secara alami mengendalikan – kalau tidak bisa dikatakan memusnahkan – secara tidak langsung populasi ular di sekitar perkampungan. Saya sendiri tidak bisa membayangkan jika saat mandi di sungai ada ular yang tiba-tiba berenang menuju ke arah saya. Untuk perkara mandi di sungai, akan saya bahas tersendiri juga nanti.

Pertanyaan tidak terhenti di situ. Bagaimana dengan anjing? Anjing memang kami sempat temukan di wilayah kampung Baduy Luar meskipun jumlahnya juga tidak sebanyak yang kita bisa temukan di Bali. Tetapi anjing-anjing itu berkeliaran bebas. Tidak dikungkung atau diikat oleh pemiliknya sebagaimana yang dilakukan orang di perkotaan Jawa. Di sini, saya duga karena suku Baduy tidak memeluk Islam, mereka lebih liberal dalam menyikapi kehadiran anjing di sekitarnya.

Jaro kami ini juga mengamini bahwa orang Baduy tidak menyingkirkan anjing dalam kampung mereka. Justru anjing diperlukan karena bisa memberitahukan pada mereka bahwa ada manusia atau hewan yang tidak mereka kenal atau berniat buruk yang masuk ke wilayah rumah sang majikan. Aspek keamanan ini begitu penting sebab manusia Baduy tinggal di tengah hutan, tempat banyak potensi bahaya juga tersembunyi.

Ayam menjadi ternak kesukaan orang Baduy Dalam sebab hewan ini tidak peduli dengan tanaman padi yang menjadi sumber pangan utama. Mungkin ayam suka dengan beras, tetapi saat masih dalam bentuk padi, kecil kemungkinan ayam ingin mematukinya untuk memenuhi tembolok.

Karena itu, dalam berbagai kesempatan seperti hajatan, kematian, dan peristiwa penting lainnya dalam kehidupan manusia Baduy, daging ayam potong segar yang dipelihara secara organik (karena suku Baduy sama sekali tidak memakai pupuk buatan kimiawi buatan pabrik di sawah mereka) menjadi hidangan andalan. Jumlah ayam yang dipotong untuk perhelatan besar semacam itu bisa mencapai 500 ekor.

Uniknya, di kampung Baduy ini, ayam-ayam yang ada dibiarkan berkeliaran bebas. Memang ada yang dikandangkan tetapi lebih banyak yang tidak. Ayam-ayam itu kata sang jaro sudah diketahui siapa pemiliknya. Tanpa harus memberi label atau tanda pada bulu di sayapnya. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (6)

Inilah gelas kayu ala Baduy Dalam yang dibeli sejumlah teman dengan tujuan sebagai gelas untuk pensil dan pulpen padahal semestinya untuk minum. Orang kota memang aneh. (Dokumentasi pribadi)
Inilah gelas kayu ala Baduy Dalam yang dibeli sejumlah teman dengan tujuan sebagai gelas untuk pensil dan pulpen padahal semestinya untuk minum. Orang kota memang aneh. (Dokumentasi pribadi)

BINTANG. Dengan tirai raksasanya, malam mulai membungkus perkampungan Baduy di Cibeo. Badan kami terasa luluh lantak semuanya setelah menjalani rute trekking yang berat bagi kebanyakan kami. Beberapa orang yang tersisa di belakang masih tidak kuasa melangkah jauh-jauh dari rumah sebab kaki pegalnya bukan kepalang. Saya yang ada di garda depan dan memanggul bawaan sendiri sudah mulai bisa melepas penat selama perjalanan seharian. Mungkin ini berkat air kali yang sejuk itu. Jadi teringat sebuah film yang jagoan-jagoannya begitu rampung bertarung lalu pulang ke markas dan berendam tanpa sehelai benang di bak mandi berisikan air es. Itu rupanya cara efektif nan alami untuk merestorasi kondisi fisik yang baru saja diperas habis-habisan, pikir saya.

Kami pun dijamu dengan keramahan luar biasa. Keluarga yang menjadi tuan rumah bagi rombongan mempersilakan kami makan dahulu. Menunya sederhana dan bersahaja:sayur sop, teri goreng, nasi putih dan sambal cabai hijau yang nikmat. Harry membawa menu cadangan berupa abon cakalang dan abon sapi. Dugaan saya menu-menu cadangan itu untuk berjaga-jaga jikalau menu yang ada tak sesuai dengan lidah.

Saya suka terinya. Dan baru menyadari keesokan harinya bahwa tak semestinya saya makan menu itu secara liberal. Suara saya serak dan hampir hilang selama berhari-hari setelahnya.

Setelah makan, saya kebingungan mencari minum. Gelas-gelas bambu itu sudah dipakai semua orang. Lalu Harry menawari saya gelas yang dipakainya. Dan saya berseloroh,”Tadi kamu minum dari sebelah mana?” sambil mata saya pura-pura arahkan ke sekeliling bibir gelas sebelum meneguk air putih dari botol kaca berukuran besar yang dipakai menampung air minum. Kami tergelak. Di saat seperti ini, rasanya sudah tidak mungkin memikirkan standar higienis modern yang kami biasa terapkan. Saya teguk saja air dari gelas itu tanpa ingin tahu jawaban Harry.

Ada yang aneh dari rasa air putih yang saya teguk. Saya berkali-kali meneguknya untuk memastikan bahwa saya minum air putih, bukan kopi. Mungkin saja ini bekas minuman sebelumnya, karena saya baru ingat mereka tak memakai sabun apapun di kampung ini. Jadi, kemungkinan besar ada yang meminum kopi sebelumnya. Dan rasa itu terus melekati permukaan gelas bambu itu.

Kemudian kami berkumpul di beranda dua rumah yang kami inapi dan kebetulan berhadap-hadapan. Anggap saja ini sebuah acara “Saturday Night Live”. Seorang bintang tamu istimewa yang akan diwawancara hingga tuntas sampai audiens puas dihadirkan. Seorang pembawa acara bercakap-cakap menguras deposit informasi menarik dalam benak pembicara.

Bedanya malam itu, semua orang dalam rombongan kami adalah bintang tamunya. Dan satu persatu harus menjawab pertanyaan “pengalaman apa yang paling berkesan selama melakukan perjalanan?” dan “apa yang paling berkesan selama dalam perjalanan ke perkampungan Baduy ini?”

Dan karena kampung ini tak dialiri listrik sama sekali, kami hanya bisa menerangi diri dengan lilin-lilin elektrik dengan baterai. Satu persatu kami membagikan cerita. Sembari mendengarkan, pandangan saya arahkan tidak ke sumber suara tetapi malah lebih banyak ke angkasa raya. Pemandangan malam itu langka sekali saya bisa nikmati. Bintang-bintang seperti butiran kristal swarovski yang ditebarkan secara acak di permukaan kain beludru hitam yang maha lebar. Suatu kemewahan yang tidak bisa dibeli orang-orang di kota-kota yang sudah dialiri listrik.

Dari cerita-cerita itu, saya bisa simpulkan rombongan kami terdiri dari berbagai jenis pengelana. Ada yang sudah menjelajah ke mana-mana di dalam negeri sendiri seperti Didi, ada pula yang sudah menjejakkan kaki berkali-kali ke negeri manca. Ada pula yang baru ke daerah-daerah yang dekat dan familiar serta populer bagi kebanyakan orang, seperti saya.

Sebuah cerita perjalanan menarik menurut saya sendiri tidak perlu jauh dan berbiaya mahal. Asal kita setelahnya membawa pulang ‘oleh-oleh’ yang tidak ternilai harganya. Bukan oleh-oleh yang selama ini bisa peroleh di toko-toko suvenir atau makanan khas lokal (meskipun itu juga tak kalah menggoda) tetapi oleh-oleh yang berupa pelajaran dan hikmah atau pengetahuan yang baru yang kita bisa simpan lalu amalkan dalam kehidupan dan bisa kita pakai untuk memperkaya makna kehidupan kita dan orang-orang di sekitar kita. Seperti apa yang dialami oleh Didi dalam perjalanannya ke sebuah pulau yang bernama Benggala yang ternyata adalah pulau yang berlokasi di titik paling barat nusantara. Sementara itu, ada lagi pulau terluar di barat, yang kata Didi ialah pulau Rondo. Dari pengalaman perjalanannya itu, Didi mendapatkan sebuah pemahaman yang membuka mata atas asumsi keliru bahwa Sabang atau Pulau We ialah titik terluar di barat Indonesia. Didi menjelaskan Pulau Benggala memang tak banyak dikenal orang karena tidak sembarang orang bisa memasukinya. Konon tersimpan cadangan minyak yang tidak sedikit di sini dan TNI membangun pertahanan di sini agar negara-negara lain tidak begitu saja mengklaimnya sebagai wilayah mereka. Jadi, jangan berharap bisa sembarang orang singgah lalu berwisata hura-hura di pulau Bengal itu. Didi saja harus mengantongi perizinan yang rumit dan berliku untuk bisa masuk ke dalamnya, baik dari pihak kampus tempat studinya sendiri serta pendekatan khusus dengan pihak TNI yang berpangkalan di sana.

Didi ini pengalana muda yang istimewa. Ia baru saja lulus kuliah di Institut Teknologi Bandung jurusan Arsitektur Vernakular. Sebelum saya meminta penjelasan atas nama jurusan yang sangat akademik itu, pemuda berambut ikal dan berhidung mancung ini menjelaskan bahwa dalam jurusan arsitektur vernakular, ia mempelajari arsitektur yang berkaitan erat dengan rumah-rumah adat di nusantara atau seantero dunia yang membawa makna sederhana. Makna dan lambang di dalam rumah-rumah yang dipelajari dalam arsitektur vernakular ini tidak serumit apa yang kita temui dalam rumah-rumah di kebudayaan Jawa yang dikenal memiliki kandungan simbolis dan filosofis yang sarat dan berat.

Didi mengatakan rumah-rumah Baduy Dalam ini tergolong rumah yang menerapkan konsep arsitektur vernakular sebab dibangun sesuai dengan kondisi lingkungannya. “Adanya di sekitarnya bambu ya mereka memakai material bambu untuk rumah,” terangnya. Pokoknya tidak ada unsur impor. Semua material yang dipakai untuk membangun rumah dapat diperoleh dalam jarak dekat. Sungguh kearifan lokal yang kini makin langka tetapi juga mulai dipuja, karena dengan demikian, kita diajak kembali untuk memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita tanpa harus rakus menginginkan hal-hal di luar jangkauan. Dengan penerapan arsitektur vernakular, rasanya jejak karbon kita dalam membangun rumah juga pasti lebih rendah.

Sesi berbagi pengalaman ini menjadi momen refleksi yang jarang ditemui di perjalanan-perjalanan biasa. Sejauh pengetahuan saya orang-orang yang mengunjungi dan menyinggahi kampung Baduy Dalam ini tidak banyak yang tertarik untuk melakukan interaksi atau menggali lebih dalam mengenai kehidupan suku yang mengasingkan diri dari peradaban modern. Mereka menganggap kampung ini sebagai sebuah resor atau penginapan yang aman, sentosa dan damai sehingga datang, makan, menikmati alam, lalu beristirahat dan esoknya meninggalkan kampung itu cepat-cepat sebab sudah tak betah tidak bisa memakai ponsel, tidak bisa menggosok badan dengan sabun, menggosok gigi dengan pasta gigi, mandi dan buang air di toilet yang tertutup rapat dan menikmati segala aktivitas yang hanya bisa dijumpai di ibukota.

Sesi itu kami akhiri segera karena sejatinya sudah banyak yang mengeluh mengantuk karena kecapaian sepanjang hari. Ditambah dengan kurang tidur di malam sebelumnya karena berangkat pukul 3 pagi dan hanya bisa ‘tidur ayam’ di perjalanan darat yang medannya relatif menantang, kami sudah ingin meluruskan punggung dan kaki saja secepatnya.

Secara sembunyi-sembunyi saya lirik ponsel yang saya telah atur ke moda pesawat dan hening sejak kemarin sore. Layarnya menyala. Sudah pukul 21.15 rupanya. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (5)

Pemandangan ini diambil di perkampungan Baduy Luar. Curug Kahyangan sendiri ada di dekat perkampungan Baduy Dalam yang masih jauh ke dalam hutan. (Credit: Cecep)
Pemandangan ini diambil di perkampungan Baduy Luar. Curug Kahyangan sendiri ada di dekat perkampungan Baduy Dalam yang masih jauh ke dalam hutan. (Credit: Cecep)

CURUG KAHYANGAN. Begitu kelas yoga rampung sekitar pukul 8 pagi, sebuah acara kuis diadakan untuk membagi-bagikan hadiah pada peserta Geo Tour. Sebagai materi kuisnya, sejumlah foto destinasi wisata di seantero negeri digunakan. Banyak foto yang saya tidak kenali. Saya harus lebih banyak berjalan-jalan di negeri saya sendiri, pikir saya. Pantas dari tadi beberapa anak-anak Baduy itu getol melihat-lihat gambarnya karena saya duga semua foto itu menunjukkan banyak hal yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya.

Matahari yang mulai meninggi membuat udara makin gerah sehingga sebagian besar peserta pria berniat untuk segera mencelupkan tubuh ke sejuknya air sungai Baduy. Dan rupanya mereka sudah merancang suatu rencana yang tidak sempat saya ketahui.

Saya sendiri, karena ketidaktahuan saya, malah melangkahkan kaki menuju sungai yang kemarin sore saya kunjungi. Sungai itu amat lengang. Begitu lengang hingga saya memicingkan mata ke setiap sudut tersembunyi untuk memastikan apakah benar-benar tidak ada orang yang bersama saya di sana. Saya sempatkan menebar pandangan ke segala penjuru sebelum melucuti pakaian. Kaos saya sangkutkan di pucuk bambu di pinggir kali. Jam tangan saya lepaskan di bebatuan di bawahnya. Jaket saya gantungkan di dahan pohon yang roboh dan mulai melapuk. Dua lagi yang saya bisa lepaskan: celana dan rasa malu.

Tetapi sebelum Anda berfantasi, izinkan saya berkomentar bahwa ternyata pekerjaan aktor atau aktris film porno dan model pakaian renang atau pakaian dalam tidak semudah yang kita bayangkan. Tidak terkira besarnya kepercayaan diri yang mesti dikumpulkan untuk bisa menanggalkan pakaian tanpa penyesalan.

Dan di sini saya tidak mau menyesal juga jika harus melewatkan kesempatan menikmati air sungai jernih yang melimpah ruah ini sendirian. Sebuah sungai yang detik itu, menit itu, dan sampai beberapa puluh menit kemudian, saya bisa monopoli untuk diri sendiri. Dan untuk memonopoli itu semua, saya tidak perlu mengeluarkan biaya.

Saya tidak mau membuang waktu. Sebelum ada orang lain, saya harus sudah memuaskan diri di sini. Saya pun mulai berjingkat di tepi sungai yang paling dangkal untuk mencicipi suhu airnya. Masih sejuk. Saya menengok ke atas, hanya terlihat daun-daun bambu yang melengkung, membentuk kanopi yang di sela-selanya masih memungkinkan berkas-berkas cahaya mentari jatuh hingga ke dasar sungai. Porsi sinar mataharinya yang sampai ke bawah terbilang pas sekali. Tidak begitu kebanyakan sampai terik, tidak begitu sedikit hingga tubuh menggigil.

Sebuah batu yang lebar terhampar di dasar sungai yang dangkal. Begitu lebar hingga saya dapat dengan nyaman merebahkan diri sepeti di sebuah ranjang raksasa, lalu di saat yang bersamaan saya membiarkan tubuh dialiri air sungai. Saya pejamkan mata lalu membiarkan tubuh dan pikiran istirahat sejenak dalam posisi savasana.

Sungguh seperti di kahyangan saja rasanya…

Saya ingin juga memuaskan diri dengan menjajal berenang di ceruk yang lebih dalam tepat di bawah jembatan. Namun, karena saat melangkah rasanya telapak kaki sakit sekali dihunjam bebatuan dalam berbagai ukuran di dasar kali, saya urungkan. Lagipula, saya ingatkan diri bahwa di sini tidak ada orang. Jika saya tidak bisa mengayuh ke tepian, bisa tamat riwayat saya.

Belum puas rasanya menikmati air sungai sejernih ini sendirian, saya teruskan menggosok tubuh dari ubun-ubun sampai ke ujung kaki. Saya hembuskan ingus keluar, berkumur-kumur, seolah ingin mengeluarkan segala kotoran yang ada saat itu juga.

Begitu saya mulai merasa menggigil, saya putuskan untuk menepi dan mengeringkan tubuh sesegera mungkin. Saya tidak mau mengakhiri liburan dengan sakit.

Entah berapa lama saya sudah di sana. Saya bahkan tidak terpikir untuk mengukur waktunya dengan menilik jam tangan. Pokoknya saya sudah puas. Itu yang terpenting rasanya saat itu.

Saya bergegas berpakaian kembali dan berkemas ke rumah tempat saya menempatkan tas. Beberapa saat kemudian saat saya duduk santai merenungi pengalaman mandi yang tiada tertandingi tadi, lewatlah rombongan teman-teman pria yang tadi ternyata antusias ingin menikmati sebuah curug (air terjun) yang disebut Curug Kahyangan.

Anehnya, mereka kembali dalam keadaan masih berkeringat dan kering kerontang. Usut punya usut, curug yang diklaim indah dan permai itu baru mengalami musibah kekeringan akut. Alhasil, debit airnya menipis hingga hanya sanggup “membasuh sandal dan telapak kaki”, demikian pengakuan seorang teman yang begitu kecewa.

Tiba-tiba saya merasa beruntung bisa mandi dengan bebas tadi. Tiba-tiba terbetik pemahaman bahwa saya tadi memiliki sebuah curug pribadi. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (4)

Di tepian sungai inilah kami beryoga bersama setelah menyelesaikan leg pertama trekking yang ternyata masih panjang. (Credit: Machfud Achyar)
Di tepian sungai inilah kami beryoga bersama setelah menyelesaikan leg pertama trekking yang ternyata masih panjang. (Credit: Machfud Achyar)

YOGA. Hari pertama pukul 11-12 siang kami melakukan yoga di dekat sungai yang dilintasi sebuah jembatan bambu yang didirikan dengan rancangan yang tiada duanya. Jembatan bambu Gajeboh ini adalah sekumpulan bambu yang disatukan dengan tekun dan teliti memakai tali ijuk pohon aren. Ia membentang sekitar 20 meter menyatukan dua tepi sungai Ciujung. Konon konstruksi ini dibangun dengan gotong royong warga Baduy Luar.

Tidak ada logam apalagi paku dan baut serta mur untuk saling menggabungkan elemen-elemennya. Hanya elemen-elemen organik dari alam yang ada. Selain bambu, pengikatnya hanya serabut berwarna hitam yang juga dipakai sebagai atap rumah yang dipilin sedemikian rupa sehingga berbentuk tali yang besar dan kokoh. Para pelintas jembatan yang baru pertama kali pastinya merasa miris tetapi saya pikir itu karena kebiasaan mereka yang sudah terbiasa menapak di beton yang diam dan kokoh sehingga saat menyadari bambu yang mereka injak berayun-ayun, mereka panik, seakan tidak percaya dengan kekokohan desain dengan material alami ini. Padahal alam itu dapat diandalkan lebih daripada yang kita kira.

Matras-matras yoga berwarna-warni digelar di salah satu tepi sungai yang disatukan jembatan tersebut. Saya di tengah dengan pandangan menghadap ke aliran sungai yang gemericiknya terdengar lirih tersamar keriuhan suara para wisatawan lokal di akhir pekan seperti sekarang. Keramaian memuncak di hari Sabtu dan Minggu sehingga membuat perkampungan menjadi lebih hingar bingar.

Karena baru saja kami melalui jalur trekking yang begitu menantang, fokus latihan pun saya berikan pada area bahu, leher, punggung, sepanjang tulang belakang dan seluruh daerah pinggul yang mendapatkan tekanan dari beban-beban berupa barang bawaan dan tas-tas berat.

Kami berangkat lagi dari perkampungan Baduy Luar setelah makan siang serta salat zuhur. Pukul 1 siang, kami pun melangkahkan kaki untuk melanjutkan kembali perjalanan yang ternyata masih jauh. Beberapa gambar masih bisa diambil di titik ini karena meskipun kami sudah masuk ke perkampungan Baduy, ini baru wilayah Baduy Luar, yang dikenal lebih terbuka dan lebih moderat dalam menyambut pengunjung luar. Penggunaan alat-alat komunikasi dan elektronik masih diperkenankan. Meski demikian, saya enggan juga menyentuh alat-alat simbol keterhubungan – dan keterikatan – dengan dunia modern. Saya ingin menenggelamkan diri dalam kehidupan mereka tanpa komunikasi virtual dan digital. Setidaknya dalam 2 hari ini. Diet digital ini ampuh untuk mengurangi tingkat ketergantungan manusia modern perkotaan yang kerap cemas dan merasa tidak berdaya tanpa gawai-gawainya. Saya ingin memberikan gawai itu pada porsinya kembali, bahwa mereka tidak bisa menentukan suasana hati saya. Bahwa perangkat-perangkat itu hanyalah kepanjangan dari diri saya, bukan bagian dari diri saya. Jadi, jika saya tidak memakainya, saya masih merasa utuh, tidak merasa ada yang kurang dan perlu untuk dilengkapi.

Beryoga di tepi sungai seperti ini menyuguhkan suatu sensasi berbeda dari beryoga di studio bahkan di taman kota sebagaimana yang saya kerap lakukan di Jakarta. Perbedaan itu begitu subtil, halus, sampai saya kehilangan kemampuan untuk menggambarkannya dengan kata-kata yang tertata. Yang pasti, inilah bedanya beraktivitas di tengah lansekap yang sudah penuh rekayasa dan lansekap yang relatif masih terjaga kemurniannya dari intervensi manusia.

Keesokan paginya latihan yoga bersama kami adakan juga di halaman antarrumah yang sebetulnya tidak seberapa lapang. Permukaan sebidang tanah mungil itu lebih rata dan kering dibandingkan halaman yang lebih luas tetapi permukaannya lebih penuh bebatuan dan basah.

Beryoga di ruang terbuka semacam ini memang memerlukan konsentrasi ekstra agar pikiran bisa lebih terfokus. Begitu banyak potensi distraksi, yang jika dipikir-pikir akan menjadi tantangan tersendiri.

Kelas kami pagi itu mulanya berlangsung khidmat. Kami memulai dengan pikiran yang tenang. Saya sendiri harus menempatkan diri di beranda sebuah rumah yang posisinya lebih tinggi dari sekitarnya, seolah membuat saya memiliki sebuah panggung khusus untuk melakukan demonstrasi yoga. Ian, seorang peserta, saya daulat sebagai peraga juga.

Semua berjalan lancar tanpa kendala…

Hingga sekonyong-konyong entah dari arah mana seekor ayam jantan merangsek masuk ke tengah para peserta yang sedang asyik masyuk melakukan yoga. Belum cukup, seekor ayam jantan lainnya mengikuti temannya (atau lawannya?) lalu bertarung sengit di tengah-tengah halaman, seakan tidak peduli ada sejumlah peserta yang kalang kabut dan panik tidak tertahankan karena ketakutan terkena taji dan patukan.

Menyaksikan insiden itu, saya sempat kebingungan apakah harus tertawa menikmati ini semua atau mengusir dengan keji kedua satwa yang sejatinya tidak tahu apa-apa. Dan sebelum kelas yoga saya kocar-kacir dan bubar sebelum waktunya, untunglah ayam-ayam jantan itu sudah berpindah dari arena persabungan yang tidak sepatutnya. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (3)

Menyusuri suasana perkampungan Baduy Luar sebelum mendaki Tanjakan Cinta. (Credit: Cecep)
Menyusuri suasana perkampungan Baduy Luar sebelum mendaki Tanjakan Cinta. (Credit: Cecep)

TANJAKAN CINTA. Tiap tanjakan membuat jantung saya bekerja lebih keras. Pemandu kami, Teguh, mengatakan akan ada “Tanjakan Cinta” yang tiada ampun sudut kemiringannya. Ia berusaha menyiapkan mental kami rupanya. Saya sendiri tidak ingin berceletuk untuk memberikan komentar dan keluhan. Sebab semakin banyak berkomentar, makin terasa berat. “Terus saja jalan!” hardik saya pada diri sendiri.

Matahari siang makin condong ke barat tetapi teriknya sungguh di luar dugaan. Aktivitas fisik yang intens ini ditambah sengatan matahari membuat tenaga saya terasa terperas habis-habisan. Napas tersengal. Baju sudah kuyup.

Tanjakan demi tanjakan terlewati. Hingga saya tiba juga di tanjakan maut itu. Tidak salah jika ia dinamai Tanjakan Cinta sebab saat siapa saja menaikinya dengan kedua kaki (memang hanya kaki saja yang bisa menempuhnya, tidak ada kendaraan atau alat lain yang bisa), jantung akan berdegup kencang. Bukan karena jatuh cinta tetapi karena jantung diinstruksikan untuk memompa darah semaksimal mungkin ke seluruh tubuh untuk memberi tenaga pada tubuh agar sampai di atas tanjakan. Ditambah dengan adrenalin yang terpicu karena rasa cemas jika terpeleset atau pijakan kami runtuh atau pikiran-pikiran buruk lain (pingsan atau lemas mendadak di tengah tanjakan, misalnya), pendakian Tanjakan Cinta seakan menjadi puncak perjuangan trekking setengah hari ini.

Dalam kondisi semacam itu memang semestinya terus memfokuskan diri pada apa yang harus dijalani. Bukan malah berpikir yang tidak-tidak. Memberikan ruang bagi pikiran yang negatif untuk berkembang malah menyurutkan semangat dan membuat kita mudah menyerah. Jadi, saya terus mendaki saja dengan tas punggung yang lumayan berat dan mat yoga yang saya harus bawa di salah satu tangan. Satu tangan yang lain akan saya tugasi meraih apapun yang bisa saya genggam jika terpeleset. Lagipula saya tidak mendaki sendirian. Di bawah masih ada teman yang bisa menolong saya.

Matahari tidak memudarkan pancarannya. Saya memandang ke tanah yang saya pijak hanya untuk menyaksikan keringat ini menetes dari dahi langsung ke tanah, seperti tetesan air hujan.

Saya terus mendaki. Otot-otot kedua tungkai saya terus berdenyut. Lalu saya entah bagaimana bisa mendengarkan denyut jantung saya sendiri di telinga. Ini sungguh menakutkan. Rasanya jantung saya hampir meletus. Jika cinta bisa membuat hati meletus karena lika-likunya yang tiada bisa ditebak makhluk yang fana seperti manusia, tanjakan satu ini saya pikir bisa sungguh-sungguh membuat jantung saya meletus juga. Dan meletus di sini yang saya maksudkan benar-benar meletus karena dipaksa memompa darah sekencang mungkin. Saya terus mendaki dengan berhati-hati. Lengah sedikit, bisa berakibat panjang.

Entah ada berapa jumlah pijakan tanah yang ada di Tanjakan Cinta itu. Tetapi jumlahnya rasanya banyak  dan merayap panjang ke atas. Saya terus mendaki dengan segenap kekuatan yang tersisa. Niscaya habis ini napas seketika.

Sampai di atas tanjakan, saya hanya bisa bernapas lega. Beberapa teman yang berhasil naik juga dalam waktu yang kurang lebih bersamaan dengan saya berjuang mendapatkan napas mereka kembali. Wajah mereka sudah merona tidak karuan, gradasi antara kecokelatan tertimpa sinar matahari dan keringat yang membuat kulit berkilauan dengan semburat merah karena derasnya darah mengalir ke seluruh penjuru tubuh untuk menyuplai oksigen.

Kami sibuk mencari tempat untuk beristirahat begitu kami tahu masih ada rombongan lain yang juga sedang mencari hawa sejuk dan rehat sejenak di atas bukit. Sebuah pondok berdiri di tempat itu dan menjadi pit stop bagi kami yang ‘sekarat’ ini.

Sementara itu, anak-anak Baduy tadi hanya berdiri tegak sambil tetap memanggul bawaan orang-orang kota yang tak biasa mengeluarkan banyak tenaga. Mereka memang masih berkeringat dan sedikit lelah tetapi tidak banyak ekspresi yang terpasang di mimik muka. Semua sudah begitu biasa bagi mereka.

“Aceng, duduk!” imbau salah satu dari kami padanya. Yang dipanggil diam saja, seraya melempar pandang sejauh hamparan di bukit-bukit yang ada di bumi Lebak, provinsi Banten ini. Berdiri diam di bawah lindungan pohon besar sudah bermakna istirahat baginya. Tak perlu duduk lalu meluruskan kaki, mengipasi badan, atau membeli minuman dingin.

Tanjakan Cinta resmi saya taklukkan. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (2)

Aceng berfoto di Jembatan (Credit: Cecep)
Aceng berfoto di Jembatan (Credit: Cecep)

PUNCAK. Niscaya inilah bagian perjalanan trekking yang paling menantang hari ini. Kami terus dipandu oleh Teguh dan Didi yang sudah hapal dengan rute dan seluk beluk alam dan masyarakat Baduy Dalam dan Luar. Medan yang kami harus lalui dengan berjalan kaki ini cukup ganas juga.

Sebagian memutuskan untuk meminta bantuan warga lokal untuk membawakan barang-barang bawaan mereka ke tempat tujuan. Tenaga mereka kemudian dipertukarkan dengan sejumlah uang yang dapat dipakai untuk menafkahi diri.

Dua orang anak juga termasuk dalam rombongan warga lokal yang mengiringi kami masuk ke dalam wilayah perkampungan Baduy Luar dan Dalam. Aceng (11) dan Damin (12), begitu nama mereka, membawa masing-masing satu tas punggung (backpack) seukuran punggung orang dewasa. Bobotnya mantap, mungkin setara dengan setengah atau dua pertiga tubuh mereka sendiri. Sepasang kaki anak-anak Baduy ini juga kalah kekar dengan kebanyakan kaki kami.

Saya sendiri mengikuti kedua anak ini tepat di belakang mereka. Dan untuk merasakan pengalaman trekking yang sesungguhnya, saya juga memanggul barang bawaan saya sendiri. Meski saya bisa merogoh kocek, saya hanya ingin mengetahui kemampuan saya baik dalam ketahanan, kekuatan dan kecepatan. Percuma rasanya saya sudah bersusah payah memelihara kesehatan tetapi masih mengandalkan bantuan orang lain. Maka, saya putuskan membawa semuanya sendiri.

Satu-satunya yang mungkin belum saya bisa tinggalkan agar pengalaman trekking kali ini bisa sedekat mungkin dengan apa yang dirasakan Aceng dan Damin ialah alas kaki. Saya rasanya tidak sanggup menanggalkan alas kaki (sepatu) sebab medan trekking ini tidak bisa ditebak permukaannya. Kadang memang permukaan tanahnya bersahabat. Ada bebatuan sebagai pijakan, ada tanah yang padat dan kering sehingga memungkinkan saya melangkah dengan nyaman dan aman. Tetapi lebih seringnya permukaan yang saya harus lalui ialah tanah basah cenderung berlumpur, bebatuan yang licin berlumut, ranting-ranting pohon yang jatuh berserakan di lantai hutan, batu-batu mungil yang sisinya tidak beraturan sehingga jika terinjak akan menancap atau menggores telapak kaki. Untuk kemelakatan pada alas kaki ini, saya berharap permakluman karena inilah setidaknya garis demarkasi pembeda saya yang orang luar dan mereka yang kalangan dalam suku asli.

Tanjakan demi tanjakan saya lalui. Damin dan Aceng terus menapaki semua itu dengan tabah. Tanpa banyak komentar, mereka melaju. Sementara saya, yang sesekali berkeluh kesah (dan dalam diam pun masih bersumpah serapah kenapa harus menyusahkan diri seperti ini). Saya upayakan terus untuk mengimpangi kecepatan mereka yang ada di lini terdepan rombongan. Ibarat pelari, merekalah fore runners kami.

Di belakang, rombongan yang terdiri dari 33 orang seluruhnya termasuk peserta tur dan pemandu serta panitia tur terus bergerak merayap. Jika ada helikopter atau pesawat dari atas, kami terlihat bak sekoloni semut hitam yang melintasi sebuah gundukan tanah. Merayap pelan-pelan tetapi pasti. Kecepatan kami begitu lambat karena ada beban di sebagian pundak dan yang lain kakinya bekerja keras membawa berat tubuhnya sendiri, ditambah dengan cuaca Mei yang sudah memasuki musim kemarau. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (1)

(Credit: tim Geo Tour)
(Credit: tim Geo Tour)

PREAMBULE. “Gas saja terus!” kata seorang pria mempersilakan mobil elf kami di tengah keremangan fajar di Rangkasbitung. Kami tidak sedang membelah jalan biasa. Yang baru saja kami lewati dengan susah payah ialah sebuah pasar tradisional, yang layaknya pasar tradisional di daerah di pelosok Indonesia, tidak terlokalisasi dalam sebuah kawasan yang terorganisir dan resik. Semuanya chaos, seperti kejadian big bang yang konon menjadi cikal bakal alam semesta ini. Ada mentimun berserakan di sini, baju-baju bergantungan di situ, daging ayam di kiri, beras-beras beragam macam dalam ember-ember dan karung di kanan. Para penjualnya tak kalah kacau. Mereka turut meracau, menawarkan barang dagangannya dengan penuh semangat, ingin menarik calon pembeli agar barang dagangan segera tandas dan uang berkumpul di tangan saat kembali ke rumah.

Mobil terus melaju menembus kabut tatkala kami memasuki daerah perkampungan Rangkasbitung yang masih hijau dan permai. Sawah dan rumah membentang berselang-seling. Saya juga heran bagaimana bisa kabut masih ada melingkupi lansekap ini padahal waktu telah merayap ke pukul enam pagi. Semestinya kabut tiada lagi. Sirna ditelan bumi.

Seinci demi seinci mobil mendekati tujuan kami: perkampungan suku Baduy. Kendaraan yang dimuati 16 orang ini sesekali berpapasan dengan beberapa motor dan mobil melaju melawan arah. Saya amati hanya kami yang menuju ke arah pedalaman.

“Pagi,” saya sapa Harry, salah satu orang yang mengorganisir tur ini. Kami menyempatkan diri menyinggahi sebuah masjid. Sekadar menunaikan salat subuh yang agak terlambat karena sesungguhnya matahari sudah terbit.

Belok ke arah Ciboleger, kami disambut pemandangan menantang. Sebuah mobil colt hijau disesaki penumpang para pelajar berseragam pramuka. Di atas mobil, beberapa orang juga naik. Tidak cuma siswa pria juga wanita. Mereka berjilbab dan mengenakan rok. Tetapi toh tidak merasa rikuh atau terbatasi oleh busana, mereka terus merangsek tanpa segan secuilpun.

Perkampungan penduduk makin jarang semakin kami memasuki Bojongmanik. Hutan-hutan dan tegalan berisi pohon pisang dan jati serta tanaman keras lainnya mendominasi perbukitan. Jalanan berkelok-kelok dan sempit. Sesekali mobil melambat agar guncangan tidak terasa hebat bagi kami penumpang malang yang mabuk darat dalam perjalanan singkat 4 jam ini. Saya dengar Harry meminta antimo dari temannya yang mengaku tertidur pulas akibat obat itu. Saya pikir ajaib juga obat anti mabuk perjalanan itu bisa menidurkan orang selama perjalanan yang terasa kurang mulus.

Pukul 7:15. Sang surya masih berupa bulatan emas di ufuk timur. Kami sudah berada di sebuah pertigaan. Ke kiri, arah ke Baduy. Wisata budaya. Masih delapan kilometer lagi. Di samping kanan kiri, anak-anak menjerit menyambut kendaraan yang lewat. Mereka sudah mandi, berpupur lalu bersisir rapi dalam kondisi rambut setengah basah. Rumah-rumah telah membuka pintu. Sebagian terbangun dari batubata. Sisanya masih dari papan, kayu, dan bambu. Rumah panggung dari kayu juga masih dijumpai. Sebagai konsekuensi medan yang berkelok, penumpang terus terkocok-kocok. Agar risiko muntah itu dapat ditekan, saya menyengajakan diri untuk mengosongkan perut. Minum air ala kadarnya. Seteguk dua teguk. Menahan diri untuk menyedot air sepuasnya meskipun tahu bahwa tubuh perlu asupan air setelah semalam suntuk tak minum. Makanpun saya tunda. Setidaknya sampai kaki sudah menjejakkan di tempat tujuan sebelum mulai beryoga.

Sebuah sekolah kami lewati. Murid-muridnya menengok ke mobil kami. Yang perempuan duduk-duduk di warung panggung kecil yang masih tutup. Yang laki-laki berdiri agak jauh dari gerombolan lain jenisnya. Semuanya berpakaian pramuka karena ini hari Sabtu. Dan lain dari anak-anak ibukota yang sudah mengenal lima hari sekolah, mereka di sini masuk sekolah enam hari dalam sepekan. Sementara itu, dua anak laki-laki yang berpakaian olahraga berjongkok memisahkan diri mereka, di kedua tangan tersungging sebuah mangkuk. Mungkin mi instan yang mereka lahap di pagi yang sejuk ini.

Saya mulai mendapati penampakan orang Baduy yang berjalan kaki pada pukul 7:34. Mereka bertelanjang kaki dengan kecepatan melangkah yang cukup tinggi.

Sebuah gapura menyambut kami. Sebuah warung penjual pulsa mencantumkan “jual focer elektrik”. Sebuah bangunan berpapan nama “Alfamart” sedang diperbaiki. Riuh rendah beberapa tukang bekerja. Di sini memang sudah tidak kebal invasi waralaba.

Masuk melalui gapura desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, ada pelataran yang tata letaknya mirip suatu alun-alun saja. Empat patung ayah ibu dan dua anak berada di tengahnya. Lalu sekelilingnya adalah mobil-mobil wisatawan yang diparkir pararel.

Ada alasan kuat mengapa modernisasi menjadi semacam musuh yang harus diwaspadai sekaligus sekutu yang dielu-elukan di daerah semacam ini. Pertama dan yang utama ialah sampah plastik yang dihasilkannya.

Dari pelataran tersebut, kami pun melangkahkan kaki menuju jalur yang akan kami daki menuju ke perkampungan Baduy yang jaraknya lebih dari 10 km dengan medan yang naik turun.

Di sebelah kiri, sebuah bangunan sekolah berdiri. SDN 2 Bojongmenteng, demikian namanya menurut sebuah papan. Hari ini Sabtu tanggal 20 Mei 2017 adalah hari terakhir ujian akhir nasional di sana. Dan untuk menjaga ketenangan suasana, ditempelkan sebuah kertas berisi peringatan agar tidak gaduh. Tetapi kertas itu tidak bisa membungkam mulut-mulut murid yang kegirangan menyambut kedatangan kami yang menyumbangkan sejumlah buku anak-anak. Mereka keluar dari ruang kelas dan mengikuti kuis singkat yang kami adakan. Beberapa anak bahkan mau saja disuruh menyanyi lagu-lagu nasional dengan menghadap terik matahari.

Sebuah pertanyaan dilontarkan dua panitia rombongan Geo Tour kali ini, Johar dan Harry, untuk menambah kesemarakan suasana. Di antaranya ialah: ”Siapa yang tahu nama presiden Indonesia sebelum Jokowi?” Seorang anak laki-laki dengan mantap mengajukan diri sebagai penjawab. “Su… eh, SBY,” tukasnya agak gugup. Entah ia hendak mengatakan Sukarno atau Suharto atau Susilo lalu kebingungan dengan kepanjangan dua huruf setelahnya dan berpikir lebih aman menjawab dengan singkatannya saja.

Seorang ibu guru bergincu merah muda tipis dengan sandal pita pink yang sangat mencolok tampil membantu mengarahkan anak-anak didiknya sambil sesekali membetulkan jilbabnya. Ia menjadi perwakilan sekolah dalam menerima bantuan buku secara simbolis. (bersambung)