Tiga Pelajaran Berharga dari Ashtanga Yoga

Sebelum memilih yoga sebagai pengisi waktu luang saya di akhir pekan tahun 2010 dulu, saya pernah mengikuti sebuah kursus biola. Beberapa bulan saya mengikutinya dan menyimpulkan bahwa saya tidak memiliki banyak bakat yang bisa diasah. Saya bisa meneruskannya tetapi kemungkinan besar perkembangan saya lebih lambat dan tidak begitu pesat. Saya kepayahan bahkan mengikuti latihan dasarnya. Saya ini segera bisa memainkan sebuah lagu padahal untuk memainkan sebuah lagu, saya harus bisa menguasai teknik-teknik dasarnya, termasuk kemampuan membaca not balok, menggesek, menempatkan jari-jemari kiri ke papan senar. Saya frustrasi. Saya mogok. Saya beralih ke yoga.

Di yoga, anehnya saya tidak ada keinginan untuk mematok banyak target, terutama yang spesifik dan muluk-muluk seperti saat saya belajar memainkan biola. Saya hanya melakukan gerakan-gerakan dan postur yang disuruh guru saat itu, dan mengulang-ulang, belajar sendiri saat ada waktu kosong dan bisa saya manfaatkan untuk berlatih. Saya hanya ingin sehat dan bugar saat itu dan yoga tampaknya menjadi pengisi waktu luang yang tepat untuk menggerakkan badan yang kaku. Latihan saya relatif bebas dari ambisi yang tidak realistis dan menuntut. Saya juga merasa tidak ada penekanan dalam berlatih, misalnya minggu ke-X sudah harus bisa postur Y, bulan ke-Z sudah mesti menguasai gerakan A. Saya benar-benar berlatih tanpa beban. Tetapi juga bukan berarti berlatih suka-suka tanpa bimbingan dan hanya memilih gerakan-gerakan yang saya sukai benar. Saya lakukan semuanya, tanpa pilih-pilih. Mungkin karena saa sudah lelah dengan pola pikir mengejar target di dalam pekerjaan saya, jadi dalam beryoga saya lupakan sejenak pola pikir semacam itu dan lebih menikmati latihan.

Pertama kali saya mengetahui Ashtanga Yoga ialah beberapa tahun lalu saat saya masih benar-benar ‘hijau’ (dan masih juga ‘hijau’ sekarang).Kesan yang saya dapati saat itu mengenai jenis yoga satu ini ialah disiplin dan militansi para pelakunya yang begitu tinggi. Latihan Ashtanga yang begitu menguras tenaga juga membuat saya menganggap Ashtanga Yoga sangat berat dan hanya untuk mereka yang sudah berbakat dan berbadan kuat dan lentur. Anda mungkin berkilah bahwa saya sudah lentur, tetapi perkara kekuatan, saya masih harus banyak berlatih lagi.

Satu elemen Ashtanga Yoga yang banyak saya jumpai dalam latihan yoga sejak dulu sampai sekarang tentunya sun salutation atau surya namaskara. Rangkaian gerakan ini sudah populer di mana-mana. Bentuk modifikasinya juga sudah banyak sekali sampai saya pun kebingungan karena setiap jenis yoga tampaknya memiliki bentuk salutation sendiri, yang meski ada perbedaan dari sun salutation Ashtanga Yoga tetapi terilhami sedikit banyak darinya.

Beberapa bulan lalu saya mulai menekuni Ashtanga Yoga dan bahkan mengikuti pelatihan pengajarannya bersama pendiri Yogakarta, Noel. Dari sini, saya mungkin bisa menganalogikan Ashtanga Yoga sebagai aliran musik klasik, yang memiliki tingkat disiplin permainan yang relatif lebih tinggi, memiliki pakem yang ketat, tidak ada ruang improvisasi, dan sulit dimainkan dan dikuasai. Baru setelah mempelajari yang klasik inilah, orang umumnya menjelajahi kreasi-kreasi kontemporer.

Bahwa gerakan dan postur Ashtanga Yoga tidak bisa diubah lagi semau kita memang adalah sebuah kenyataan. Tata cara dan urutan pelaksanaannya sudah baku dan untuk sebuah latihan formal apalagi dengan guru Ashtanga Yoga yang bersertifikasi dan berdedikasi penuh, rasanya kecil kemungkinan akan nada improvisasi. Lain halnya jika Ashtanga Yoga itu dilaksanakan dalam latihan pribadi seorang yogi sehingga irama dan kecepatan latihan serta urutan gerakan bisa diubah semaunya.

Namun, meskipun Ashtanga Yoga terbilang baku dan kaku, menurut hemat saya praktik yang semacam ini malah bermanfaat bagi para pemula. Apa pasal? Karena dalam berlatih Ashtanga Yoga, kita disuguhi beberapa seri (setahu saya empat). Dan jika seorang Ashtangi (demikian nama praktisi Ashtanga Yoga) belum bisa menguasai seri primer (Primary Series), lazimnya ia tidak diperkenankan berlanjut berlatih ke seri berikut sampai ia benar-benar menguasai seri dasar tersebut.

Akan tetapi, itu adalah latihan di ashram KPJAYI (Shri K. Pattabhi Jois Ashtanga Yoga Institute), di kota Mysore, India sana. Pada kenyataannya, di dalam latihan pribadi kita bisa melakukan pendalaman pada seri dan postur yang dikehendaki dan menjadi fokus latihan kita.

Cara suka-suka ini memang hemat waktu dan terasa lebih menyenangkan. Dan cara ini banyak kita adopsi di kelas Hatha Yoga modern, sehingga muncul kelas-kelas yang berfokus pada area dan aspek tertentu, baik secara anatomi maupun lainnya. Tetapi sejatinya, jalan tersebut menabrak pakem-pakem yang sudah ditetapkan sang pendiri.

Ada beberapa pelajaran yang saya temukan dalam mempraktikkan Ashtanga Yoga sesuai pakemnya. Pertama, kita belajar arti kesabaran. Makin lama saya berlatih Ashtanga Yoga, saya yakin bahwa menjadi Ashtangi membutuhkan tingkat kesabaran yang ekstra. Tidak ada jalan singkat apalagi cara dan trik ‘curang’. Dalam tiap latihan, kita diingatkan untuk senantiasa bersabar dalam perjalanan, dalam proses. Ini amat penting, bukan hanya dalam segi fisik tetapi juga mental dan spiritual bagi mereka yang ingin yoga tidak hanya membuat mereka sehat fisik tetapi juga mampu menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih sabar. Para praktisi dan murid baru yang cenderung tergesa-gesa dan tidak patuh petunjuk pelaksanaan dan petunjukan teknis biasanya meremehkan kesabaran. Mereka lazimnya mengutamakan hasil akhir yang berupa pose atau gerakan yang indah, sempurna, dan belajarnya pun tanpa banyak kesusahan. Nafsu semacam inilah yang perlu ditundukkan dalam beryoga.

Kedua
, kita diberikan pelajaran tak ternilai mengenai kerendahhatian. Dalam pengamatan saya, jika seseorang praktisi yoga (baik teman-teman di sekitar saya dan saya sendiri) sudah bisa menguasai sebuah postur atau asana yang sulit, memukau, dengan tingkat kesulitan eksekusi yang begitu tinggi alias ‘advanced’ (entah itu secara alami atau dengan kerja keras), ia cenderung akan jumawa dan arogan. Tetapi dalam Ashtanga Yoga, tidak peduli kita sudah bisa pose sesusah apapun (katakanlah pincha mayurasana atau adhomukha vrksasana), bila kita masih belum menguasai postur-postur sederhana dengan benar dan sesuai arahan guru yang berpengalaman, maka harus dengan tekun belajar menguasai yang dasar dahulu sebelum berlanjut berlatih. Kerendahhatian yang berpadu dengan kesabaran membuat kita sebagai praktisi yoga mampu menjalani kehidupan dengan napas dan semangat yang sama pula, tidak hanya saat di atas matras yoga tetapi juga di perilaku, sikap, kata dan pikiran sehari-hari.

Ketiga
, dalam Ashtanga Yoga kita disuguhi keseimbangan. Semua orang memiliki perjalanan yoganya sendiri-sendiri, saya yakin itu. Tetapi biasanya para pemula, termasuk saya, memiliki kecenderungan untuk mengeksplorasi asana-asana yang tergolong kategori favorit. Sebuah asana bisa masuk kategori favorit karena banyak sebab. Yang paling utama lazimnya ialah karena obsesi meniru idola yoga yang pernah memeragakannya di media sosial, karena belum menguasai postur itu dengan baik, atau karena sudah menguasai dan ingin terus memperdalam sampai titik maksimal kemampuan. Sayangnya, dampak dari eksplorasi asana kesukaan setiap hari ialah overtraining, kelelahan yang menghebat, yang pada gilirannya malah menjadi bumerang bagi orang yang bersangkutan.

Mengikuti pakem yang sudah ada membuat tubuh lebih seimbang karena setiap postur memiliki pathikriyasana-nya masing-masing dalam sekuen Ashtanga Yoga. Yang dimaksud dengan pathikriyasana atau ‘counter pose’ adalah postur/ asana yang berfungsi untuk mengembalikan tubuh dan pikiran kita ke titik keseimbangan kembali setelah melakukan satu postur. Misalnya setelah melakukan kayang (urdhva dhanurasana) kita melakukan duduk mencium lutut (paschimottanasana). Hal ini penting tetapi kerap diremehkan para pemula karena hakikatnya dalam beryoga, kita tidak mengejar sesuatu sampai ke titik ekstrim tetapi mencari keseimbangan. Sebab dalam keseimbangan itulah kita bisa menemukan kesehatan dan kebahagiaan. (*)