Tiga Pelajaran Berharga dari Ashtanga Yoga

Sebelum memilih yoga sebagai pengisi waktu luang saya di akhir pekan tahun 2010 dulu, saya pernah mengikuti sebuah kursus biola. Beberapa bulan saya mengikutinya dan menyimpulkan bahwa saya tidak memiliki banyak bakat yang bisa diasah. Saya bisa meneruskannya tetapi kemungkinan besar perkembangan saya lebih lambat dan tidak begitu pesat. Saya kepayahan bahkan mengikuti latihan dasarnya. Saya ini segera bisa memainkan sebuah lagu padahal untuk memainkan sebuah lagu, saya harus bisa menguasai teknik-teknik dasarnya, termasuk kemampuan membaca not balok, menggesek, menempatkan jari-jemari kiri ke papan senar. Saya frustrasi. Saya mogok. Saya beralih ke yoga.

Di yoga, anehnya saya tidak ada keinginan untuk mematok banyak target, terutama yang spesifik dan muluk-muluk seperti saat saya belajar memainkan biola. Saya hanya melakukan gerakan-gerakan dan postur yang disuruh guru saat itu, dan mengulang-ulang, belajar sendiri saat ada waktu kosong dan bisa saya manfaatkan untuk berlatih. Saya hanya ingin sehat dan bugar saat itu dan yoga tampaknya menjadi pengisi waktu luang yang tepat untuk menggerakkan badan yang kaku. Latihan saya relatif bebas dari ambisi yang tidak realistis dan menuntut. Saya juga merasa tidak ada penekanan dalam berlatih, misalnya minggu ke-X sudah harus bisa postur Y, bulan ke-Z sudah mesti menguasai gerakan A. Saya benar-benar berlatih tanpa beban. Tetapi juga bukan berarti berlatih suka-suka tanpa bimbingan dan hanya memilih gerakan-gerakan yang saya sukai benar. Saya lakukan semuanya, tanpa pilih-pilih. Mungkin karena saa sudah lelah dengan pola pikir mengejar target di dalam pekerjaan saya, jadi dalam beryoga saya lupakan sejenak pola pikir semacam itu dan lebih menikmati latihan.

Pertama kali saya mengetahui Ashtanga Yoga ialah beberapa tahun lalu saat saya masih benar-benar ‘hijau’ (dan masih juga ‘hijau’ sekarang).Kesan yang saya dapati saat itu mengenai jenis yoga satu ini ialah disiplin dan militansi para pelakunya yang begitu tinggi. Latihan Ashtanga yang begitu menguras tenaga juga membuat saya menganggap Ashtanga Yoga sangat berat dan hanya untuk mereka yang sudah berbakat dan berbadan kuat dan lentur. Anda mungkin berkilah bahwa saya sudah lentur, tetapi perkara kekuatan, saya masih harus banyak berlatih lagi.

Satu elemen Ashtanga Yoga yang banyak saya jumpai dalam latihan yoga sejak dulu sampai sekarang tentunya sun salutation atau surya namaskara. Rangkaian gerakan ini sudah populer di mana-mana. Bentuk modifikasinya juga sudah banyak sekali sampai saya pun kebingungan karena setiap jenis yoga tampaknya memiliki bentuk salutation sendiri, yang meski ada perbedaan dari sun salutation Ashtanga Yoga tetapi terilhami sedikit banyak darinya.

Beberapa bulan lalu saya mulai menekuni Ashtanga Yoga dan bahkan mengikuti pelatihan pengajarannya bersama pendiri Yogakarta, Noel. Dari sini, saya mungkin bisa menganalogikan Ashtanga Yoga sebagai aliran musik klasik, yang memiliki tingkat disiplin permainan yang relatif lebih tinggi, memiliki pakem yang ketat, tidak ada ruang improvisasi, dan sulit dimainkan dan dikuasai. Baru setelah mempelajari yang klasik inilah, orang umumnya menjelajahi kreasi-kreasi kontemporer.

Bahwa gerakan dan postur Ashtanga Yoga tidak bisa diubah lagi semau kita memang adalah sebuah kenyataan. Tata cara dan urutan pelaksanaannya sudah baku dan untuk sebuah latihan formal apalagi dengan guru Ashtanga Yoga yang bersertifikasi dan berdedikasi penuh, rasanya kecil kemungkinan akan nada improvisasi. Lain halnya jika Ashtanga Yoga itu dilaksanakan dalam latihan pribadi seorang yogi sehingga irama dan kecepatan latihan serta urutan gerakan bisa diubah semaunya.

Namun, meskipun Ashtanga Yoga terbilang baku dan kaku, menurut hemat saya praktik yang semacam ini malah bermanfaat bagi para pemula. Apa pasal? Karena dalam berlatih Ashtanga Yoga, kita disuguhi beberapa seri (setahu saya empat). Dan jika seorang Ashtangi (demikian nama praktisi Ashtanga Yoga) belum bisa menguasai seri primer (Primary Series), lazimnya ia tidak diperkenankan berlanjut berlatih ke seri berikut sampai ia benar-benar menguasai seri dasar tersebut.

Akan tetapi, itu adalah latihan di ashram KPJAYI (Shri K. Pattabhi Jois Ashtanga Yoga Institute), di kota Mysore, India sana. Pada kenyataannya, di dalam latihan pribadi kita bisa melakukan pendalaman pada seri dan postur yang dikehendaki dan menjadi fokus latihan kita.

Cara suka-suka ini memang hemat waktu dan terasa lebih menyenangkan. Dan cara ini banyak kita adopsi di kelas Hatha Yoga modern, sehingga muncul kelas-kelas yang berfokus pada area dan aspek tertentu, baik secara anatomi maupun lainnya. Tetapi sejatinya, jalan tersebut menabrak pakem-pakem yang sudah ditetapkan sang pendiri.

Ada beberapa pelajaran yang saya temukan dalam mempraktikkan Ashtanga Yoga sesuai pakemnya. Pertama, kita belajar arti kesabaran. Makin lama saya berlatih Ashtanga Yoga, saya yakin bahwa menjadi Ashtangi membutuhkan tingkat kesabaran yang ekstra. Tidak ada jalan singkat apalagi cara dan trik ‘curang’. Dalam tiap latihan, kita diingatkan untuk senantiasa bersabar dalam perjalanan, dalam proses. Ini amat penting, bukan hanya dalam segi fisik tetapi juga mental dan spiritual bagi mereka yang ingin yoga tidak hanya membuat mereka sehat fisik tetapi juga mampu menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih sabar. Para praktisi dan murid baru yang cenderung tergesa-gesa dan tidak patuh petunjuk pelaksanaan dan petunjukan teknis biasanya meremehkan kesabaran. Mereka lazimnya mengutamakan hasil akhir yang berupa pose atau gerakan yang indah, sempurna, dan belajarnya pun tanpa banyak kesusahan. Nafsu semacam inilah yang perlu ditundukkan dalam beryoga.

Kedua
, kita diberikan pelajaran tak ternilai mengenai kerendahhatian. Dalam pengamatan saya, jika seseorang praktisi yoga (baik teman-teman di sekitar saya dan saya sendiri) sudah bisa menguasai sebuah postur atau asana yang sulit, memukau, dengan tingkat kesulitan eksekusi yang begitu tinggi alias ‘advanced’ (entah itu secara alami atau dengan kerja keras), ia cenderung akan jumawa dan arogan. Tetapi dalam Ashtanga Yoga, tidak peduli kita sudah bisa pose sesusah apapun (katakanlah pincha mayurasana atau adhomukha vrksasana), bila kita masih belum menguasai postur-postur sederhana dengan benar dan sesuai arahan guru yang berpengalaman, maka harus dengan tekun belajar menguasai yang dasar dahulu sebelum berlanjut berlatih. Kerendahhatian yang berpadu dengan kesabaran membuat kita sebagai praktisi yoga mampu menjalani kehidupan dengan napas dan semangat yang sama pula, tidak hanya saat di atas matras yoga tetapi juga di perilaku, sikap, kata dan pikiran sehari-hari.

Ketiga
, dalam Ashtanga Yoga kita disuguhi keseimbangan. Semua orang memiliki perjalanan yoganya sendiri-sendiri, saya yakin itu. Tetapi biasanya para pemula, termasuk saya, memiliki kecenderungan untuk mengeksplorasi asana-asana yang tergolong kategori favorit. Sebuah asana bisa masuk kategori favorit karena banyak sebab. Yang paling utama lazimnya ialah karena obsesi meniru idola yoga yang pernah memeragakannya di media sosial, karena belum menguasai postur itu dengan baik, atau karena sudah menguasai dan ingin terus memperdalam sampai titik maksimal kemampuan. Sayangnya, dampak dari eksplorasi asana kesukaan setiap hari ialah overtraining, kelelahan yang menghebat, yang pada gilirannya malah menjadi bumerang bagi orang yang bersangkutan.

Mengikuti pakem yang sudah ada membuat tubuh lebih seimbang karena setiap postur memiliki pathikriyasana-nya masing-masing dalam sekuen Ashtanga Yoga. Yang dimaksud dengan pathikriyasana atau ‘counter pose’ adalah postur/ asana yang berfungsi untuk mengembalikan tubuh dan pikiran kita ke titik keseimbangan kembali setelah melakukan satu postur. Misalnya setelah melakukan kayang (urdhva dhanurasana) kita melakukan duduk mencium lutut (paschimottanasana). Hal ini penting tetapi kerap diremehkan para pemula karena hakikatnya dalam beryoga, kita tidak mengejar sesuatu sampai ke titik ekstrim tetapi mencari keseimbangan. Sebab dalam keseimbangan itulah kita bisa menemukan kesehatan dan kebahagiaan. (*)

Noel Kriwoel- Biangnya Yogakarta

12764325_966654666762399_2878079871091491264_oPara pelaku yoga di Indonesia mengenal Noel Kriwoel sebagai seorang guru Ashtanga Yoga yang meski masih berusia muda tetapi memiliki semangat belajar yang tinggi. Dalam beberapa waktu terakhir, Noel bahkan sudah menyambangi kota asal Ashtanga, Mysore, dan berguru di sana sebagai salah satu siswa Pelatihan Guru Yoga Ashtanga sebanyak 200 jam.

Di Mysore, ia mengaku harus menjalani disiplin ketat. Pelatihan sehari-hari berjalan dari pagi sampai malam. Sungguh membutuhkan keseriusan dan dedikasi yang tidak sedikit dari dalam. Latihan pun jauh lebih keras dan militan. “Kalau sudah terbiasa di sana (Mysore – pen), rasanya di sini akan jauh lebih mudah,” ujarnya.

Ashtanga Yoga memang dikenal sebagai salah satu aliran yoga yang enerjik dan menguras tenaga. Sejumlah kalangan menganggap Ashtanga Yoga cukup berat dilakukan karena mesti memiliki badan yang kuat dan lentur bukan kepalang jika mau bisa menguasainya. Padahal tidak selalu demikian. Menurut Noel,  kekuatan dan kelenturan itu akan datang perlahan jika kita berlatih secara teratur.

Bagi Noel, kemampuan hebat menghapal nama-nama Latin bagian-bagian anatomi tubuh manusia tidak serta merta membuat seseorang menjadi guru yoga hebat. Menurutnya, kemampuan menyesuaikan hal yang harus diajarkan dengan konteks lokal akan membuat kelas lebih asyik dan mudah diikuti murid. karena ia mengajar di dan berasal daeri Yogyakarta, Noel lebih memilih menjelaskan dengan nama Indonesia atau bahasa Jawa yang sederhana daripada bahasa Inggris maupun Sansekerta.

Sejak setahun ini, Noel yang kini sudah mengenyam pendidikan RYT 500 dan berstatus sebagai siswa KPJAYI itu terlibat aktif di Yogakarta, sebuah lembaga yang berisi tim pengajar yoga yang ia dirikan bersama Karolina Muszynska, sang pacar dari Polandia. Visi Noel dalam Yogakarta jelas untuk membesarkan yoga di wilayah tersebut. Ia merasa tanpa adanya naungan sebuah lembaga atau institusi, upayanya dalam menyebarkan ajaran yoga akan kurang maksimal. Dan Yogakarta bisa memenuhi visinya itu.
Nama Yogakarta sendiri berasal dari kesalahan ucap dari ibu seorang temannya dari negeri kincir angin. “Ibunya teman saya itu selalu salah saat menyebut Yogyakarta, malah menyebut Yogakarta. Saya pikir pikir kata itu bagus juga.” Apalagi Noel suka beryoga dan kata “Karta” mengacu pada “semua kebaikan”. Klop sudah! Ia berharap apapun yang baik atau semua yang menyatukan orang akan bisa diadakan di sana. Satu tahun terakhir ia sudah mendedikasikan diri untuk perkembangan Yogakarta.
Noel mengenal yoga dari ayahandanya. “Saya mengenal yoga model kejawen dari ayah. Lebih mengarah pada tenaga dalam sih.” Lebih lanjut, ia bercerita bahwa ayahnya lebih banyak menekuni pernapasan dan asana, serta energi Kundalini. Maka bisa dikatakan ia sudah mengenal dan belajar yoga sejak belia. Ia sudah tidak asing dengan laku-laku spritual (nglakoni) seperti puasa (poso) khusus dan sebagainya. Tak heran karena guru ayahnya adalah penasihat Sultan Yogyakarta.
Dengan kepribadian yang ceria dan latar belakang sebagai pekerja di industri hiburan radio, gaya mengajar Noel juga tak kalah unik. Walaupun terkesan ‘cengengesan’ (bahasa Jawa, artinya “sering bercanda”), guru yoga yang bermahkota kepala khas ini tahu kapan bisa menggunakan humor sebagai pelepas stres sehingga pikiran peserta dalam menerima pengetahuan baru akan lebih terbuka dan membekas. Dengan gaya mengajar yang penuh humor itu, Noel juga berharap agar peserta tidak terintimidasi dengan suasana kelas yang kelewat serius dan tegang. Karena saat tegang, hormon stres seperti kortisol akan menghambat proses belajar.
Namun, bukan berarti saat masuk ke kelas, Noel akan bercanda sepanjang waktu. Di saat lain, Noel lebih serius dalam menyampaikan materi. Seperti saat ia menyampaikan materi kelas yang bertema backbend yang menurutnya harus dilakukan dengan keseriusan lebih tinggi. “Karena jika kita tidak melakukannya dengan serius, risiko cedera bisa menghampiri. Ini lain dari kelas hip opening yang bisa dibawakan dengan lebih santai dan penuh humor,” tukasnya di sela kelas khusus yang digelar di Martasya Yoga Shala milik Martin Elianto dan Tasya Dante di Bogor.
Dalam beberapa kesempatan, ia kerap menjumpai peserta dalam kelasnya yang mengeluh tentang seringnya keharusan melakukan vinyasa sebelum dan setelah melakukan sebuah pose atau asana yoga. Bagi Anda yang masih asing dengan istilah “vinyasa”, istilah ini mengacu pada rangkaian dengan konsep gerakan “satu napas, satu gerak” yang biasanya terdiri dari palakhasana atau plank, chatturanga dandasana, upward facing dog dan downward facing dog, uttanasana, ardha uttanasana, dan samastiti. Noel mengungkapkan alasannya. Melakukan vinyasa setelah melakukan pose akan memberikan kesempatan bagi tubuh dan pikiran untuk kembali menguatkan diri setelah ditempa kelenturan dan ketahanannya dalam melakukan sebuah asana.

Trik Agar Kembali Giat Berlatih Yoga

Seorang pemain kirtan tampil di Hari Yoga Sedunia 2015 di Israel. Ternyata mendendangkan nyanyian dan mantra (chanting/ invocation) bisa membantu membangkitkan semangat berlatih. (Sumber foto: Wikimedia Commons)

Pernahkah Anda begitu malas untuk kembali pada jadwal latihan yoga Anda padahal sebelumnya Anda begitu displin, bahkan militan dalam menjaga jadwal latihan Anda? Namun, tiba-tiba di suatu titik waktu, Anda merasakan sebuah penurunan semangat yang tidak diketahui pemicunya. Yang Anda bisa rasakan hanya keengganan yang terus berakumulasi dari waktu ke waktu. Dan hal ini terus saja berlanjut dan seakan membutuhkan keajaiban supaya bisa membalikkannya ke kondisi semula, saat Anda masih demikian bersemangat, rajin dan antusias, tak banyak alasan saat diajak berlatih oleh teman.

Tim Feldmann, seorang guru Ashtanga yoga, suatu ketika mengalami sebuah keanehan. Ia pernah merasa begitu enggan kembali berlatih dalam sebuah periode waktu yang cukup lama. “Saya tiba-tiba merasa sangat malas untuk berlatih, saya merasa begitu berat untuk menggelar mat saya,” kenangnya.

Tak tahu penyebabnya, Feldman yang suami Kino Macgregor ini mencurahkan permasalahannya itu pada seorang guru yang lebih berpengalaman.  Dengan bijak sang guru memberi nasihat yang tak pernah terpikirkan olehnya, “Apakah ada seseorang yang sudah berlatih sebelum Anda di ruangan itu?”

Feldmann merenung dan berpikir sebelum akhirnya menjawab:”Betul. Sebelumnya memang ada orang yang berlatih di ruangan itu sebelum saya masuk.” Awalnya Feldmann merasa tidak ada keanehan dan keterkaitan antara keberadaan seseorang dan kemalasannya untuk kembali berlatih. Ia pikir itu hanya faktor internal dan ia masih juga tak bisa menemukannya walaupun sudah berusaha keras menemukan akar masalahnya.

Feldman disarankan guru tersebut untuk memutar sebuah lagu mantra (chanting) selama lima sampai sepuluh menit sebelum ia masuk untuk berlatih yoga di sebuah ruangan.

“Saya pikir itu sebuah nasihat yang sungguh funky,” ucapnya. Ia melaksanakannya dan terbukti berhasil.

Baik sang guru dan Feldman sendiri tidak mampu menjelaskannya secara ilmiah atau logis tetapi Feldman  menduga ini ada kaitannya dengan energi. “Cara itu seperti membersihkan energi yang tersisa di ruangan yang sudah dipakai seseorang sebelum kita berlatih yoga,” terang pria berkepala plontos itu.

Ia mengaku istrinya kerap berlatih lebih dulu dan ia menyusul kemudian. Dan karena berlatih setelah Macgregor, kemalasannya makin meraja. Rupanya karena masalah energi yang jenis vibrasinya berbeda, demikian dugaan Feldman.

Mengalami masalah yang sama? Coba saja saran sederhana tersebut. Hanya saja, alih-alih harus memutar mantra (karena tak semua orang suka mantra), Anda bisa memilih lagu-lagu lain yang lebih mencerminkan preferensi, jenis kepribadian dan energi Anda.

Dalam Mrtasana dengan Kino MacGregor

Jauh sebelum Instagram merasuk dalam dunia yoga kontemporer seperti sekarang, ashtangi Kino MacGregor sudah menentukan gaya berpakaiannya sendiri. Sebagian orang mungkin menyangka ia berpakaian minim hanya untuk menarik perhatian para pengikut di jejaring sosial tetapi sejak dari dulu ia memang lebih memilih demikian sebagai pakaian dalam latihan yoga sehari-hari karena kenyamanan.

Dalam sebuah foto di majalah bertema yoga edisi tahun 2008 itu, saya melihatnya sedang memeragakan pose natarajasana (lord of the dance pose) yang saya juga amat gandrungi. Kakinya kala itu belum lurus. Sekarang ia sudah bisa meluruskannya. Ia tampak samping dengan mata fokus ke depan, hanya sports bra hitam dan celana pendek ketat warna serupa yang menempel di tubuhnya. Hanya saja, rambut pirangnya masih tergelung rapi. Sekarang ia lebih suka mengurainya begitu saja secara natural.

Kino duduk siang itu di sebuah panggung kecil dengan ketinggian cuma sejengkal dari lantai. Saya mendekatinya, mencoba menyampaikan bahasa tubuh yang mengundang perhatian karena saya tidak bisa berbicara lantang di depan orang-orang dan meminta berbincang sebentar.

“Baiklah, apa yang Anda ingin tanyakan? Maaf nama Anda siapa?” tanyanya lembut. Tangannya mengurai rambut ikal mayangnya yang keemasan. Riasan wajahnya tipis dan tampak alami. Di belakangny sebuah backdrop raksasa menunjukkan Kino dengan pose natarajasana terbaiknya sembari memamerkan senyum menawannya.

Saya sebut nama saya. Kino masih kesulitan mengucapkannya. Saya contohkan pengucapannya. Masih juga ia salah ucap. Putus asa, saya berkata,”Anda tahu nama tendon di atas tumit yang jika putus akan membuat seseorang tak bisa berjalan selamanya?”

“Oh, Achilles heels?”

“Tepat sekali,” tukas saya.

“Nama Anda Achilles?”

“Bukan. Tetapi mirip seperti itu kan?”

“Iya juga,” ia menganggukkan kepala, tak sabar menjawab pertanyaan saya.

“Oke, mbak Kino. Boleh kan saya panggil begitu?”

“Silakan saja. Tapi artinya apa sih ‘mbak’?” tanya Kino ingin tahu.

“Itu artinya sebutan untuk perempuan yang dihormati,” karang saya.

“Oh ya? Hmm, saya suka kalau begitu,” ucapnya dengan mata berbinar.

Tak sabar saya mulai wawancara saya dalam bahasa Inggris acak-acakan,”Jadi bagaimana sih mbak Kino mulai tertarik dengan Ashtanga Yoga? Kok nggak tertarik sama olahraga yang lain, yang lebih modern gitu? Zumba kek, les mills kek, atau senam kegel. Yoga kan kuno ya mbak? Eh, ya nggak sih?”

“Begini ya, Achilles,” ia menatap ke bawah, tetapi bukan untuk mencari-cari uang yang jatuh.

“Bisa saya gambarkan dulu saya itu gadis Amerika…,” ucapnya.

“Ah berarti sekarang sudah tidak lagi gadis, mbak Kino???” tanya saya kepo.

“Saya sudah menikah. Tapi belum ada anak,” jawab Kino dengan menyungging senyum.

“Ok lanjut…”

“Baiklah. Begini ceritanya…”

“Oh sudah begitu saja ya?”

“Belum! Hmm..” ia mencoba bersabar menghadapi pewawancara setengah sinting ini.

“Oh oke. Silakan dilanjutkan,” ucap saya sambil mendorong dagu maju, menunjukkan antusiasme.

“Jadi saya dulu gadis Amerika yang cuma tahu sedikit tentang ikonografi ( citra-citra visual dan lambang-lambang yang dipakai dalam sebuah karya seni atau ilmu atau interpretasi dari citra dan lambang tadi) dunia Timur. Saya suka hal yang berbau Timur. Dan tiba-tiba saya terpikat dengan Ashtanga Yoga dan Dewa Syiwa,” terang Kino dengan mata berbinar. Jadi itu menjelaskan kenapa ia sangat suka dengan pose natarajasana. Konon natarajasana menggambarkan dewa perusak itu sedang menari-nari. Di antara banyak perwujudan Syiwa, sosok penari semesta inilah yang diambil sebagai inspirasi dalam asana yoga. Tarian Syiwa yang dilambangkan dalam pose natarajasana ini melambangkan ritme universal kehidupan dan kematian, proses tanpa akhir yang melibatkan penciptaan dan peluluhlantakan, kematian dan kelahiran kembali yang tidak ada habisnya dalam alam semesta.

Ia terus menceritakan mimpinya yang isinya pertemuannya dengan K. Pattabhi Jois, sang pendiri Ashtanga Yoga. Saat itu Kino sudah berlatih Ashtanga selama kurang dari setahun. “Malam itu saya bermimpi didatangi K. Pattabhi Jois yang tersohor itu. Dan tebak apa yang ia lakukan pada saya? Saya saat itu terjebak dalam situasi darurat saat Dewa Syiwa sedang mengamuk membabi buta.”

“Maksud mbak Kino? Ada peperangan begitu? Dewa Syiwa melawan siapa?”

“Nggak tahu sih. Lupa lupa inget. Tapi yang penting suasananya persis layak di film Lord of the Rings, tapi versi Hindunya gitu,” terang wanita Amerika itu dengan nada bicara yang mulai mencair.

“Wow, seru banget yak,” timpal saya lagi, memberikan jawaban yang penuh semangat dengan harapan ia memberikan lebih banyak cerita menarik pada saya.

“Lalu K. Pattabhi Jois menyelamatkan saya dari Syiwa yang sedang marah itu dan menempatkan saya dalam sebuah perahu ke kota Mysore, India.”

“Perahu apa itu, mbak?”

“Itu tidak penting, Achilles. Yang penting saya seolah mendapatkan pesan untuk segera ke Mysore. Lalu dalam dua minggu, saya mendapatkan tiket pesawat ke India. Dalam hitungan detik sejak bertemu dengan Jois dalam mimpi saya itu, saya tahu Jois akan menjadi sosok berpengaruh dalam hidup saya.”

“Begitu mbak Kino sampai di Mysore, langsung ketemu itu pak Joisnya?”

“Sebelum pikiran saya yang penuh logika ini bekerja, saya hanya memasrahkan diri dengan berlutut di depan beliau dan menyentuh kaki beliau. Dari saat itulah, saya menganggap beliau sebagai guru saya.”

Itu semua terjadi delapan belas tahun lalu. Kino bersama dengan Tim Feldman yang dulu tunangannya dan sekarang suaminya mendirikan Miami Life Center satu dekade sejak pertemuan pertama dengan Jois.

“Oh I see. Gitu yang ceritanya mbak. Eh tapi kenapa tidak pakai nama ‘studio’ gitu?” Saya merangsek dengan pertanyaan baru.

“Karena kami berdua mau Miami Life Center tidak cuma tempat berlatih yoga tetapi juga menawarkan kelas-kelas nutrisi dan mengadakan berbagai workshop tentang spiritualitas, olah tubuh dan bimbingan hidup,” katanya lagi dengan sabar.

Satu hal yang saya kagumi dari Kino ialah ia juga akademisi. Saat itu ia menyandang status sebagai kandidat Ph. D. atau S3 dalam disiplin ilmu kesehatan holistik selain statusnya sebagai seorang yogini yang serius dan pemilik sebuah pusat kesehatan paripurna. Tampak sekali ia perempuan yang tidak sembarangan dalam perkara kecerdasan dan bakat.

Saya belum menyerah,”Bagi mbak Kino, yoga itu apa sih?”

“Hmm, yoga bagi saya ialah katalis untuk mewujudkan perubahan besar dalam hidup kita. Begitu kira-kira, Achilles. Saya juga meyakini bahwa semua siswa memerlukan komunitas dan dukungan. Karena itulah saya mendirikan Miami Life Center itu,” jelas yogini yang pose-posenya menggemparkan jagat Instagram itu. “Miami Life Center pada dasarnya ingin memberikan panduan spiritual bagi mereka yang ingin mengintegrasikan pelajaran-pelajaran dari kesadaran yang lebih tinggi ke dalam kehidupan sehari-hari.”

Di lembaganya itu, Kino membuka kelas kelompok khusus Ashtanga Yoga namun ia mengaku tujuan sejatinya ialah bagaimana agar gaya yoga khas Mysore yang tradisional dan berfokus pada ritme masing-masing pelaku itu tetap lestari. “Kelas-kelas yang dipandu guru bisa membuat murid frustrasi dan menantang, Achilles,” tuturnya meyakinkan saya mengenai kelebihan gaya beryoga satu ini. Terus terang saya belum mencicipinya.

“Anda harus mencobanya. Mysore memberikan Anda banyak waktu dan ruang untuk melakukan banyak modifikasi dan waktu untuk berlatih sesuai kebutuhan masing-masing.” Kami terdiam sejenak. Saya mencari-cari pertanyaan lagi.

“Apa sih trik supaya disukai murid?”tanya saya lagi secara spontan.

“Tidak ada lah. Yang penting saya bisa membantu mereka dengan semangat keterbukaan dan empati.” Jelas ia merendahkan hati.

Kino mengibaratkan diri sebagai mercusuar yang memancarkan sinar spiritual bagi orang-orang yang ingin mencari jauh ke dalam diri mereka sendiri. “Kehadiran saya sebagai guru juga bertujuan sebagai membuka ruang menuju berbagai kemungkinan bagi murid-murid saya dan pada saat yang sama menghargai tradisi dan warisan turun-temurun yang saya ajarkan,” jelasnya.

Belum sempat pertanyaan berikutnya terlontar dari lidah ini, tiba-tiba terasa ada yang menyengat panas di pipi saya. Saya tengadahkan muka. Sekonyong-konyong Kino yang ada di hadapan saya berubah menjadi pancaran piksel-piksel halus di layar laptop. Laptop saya itu rupanya yang memanas dan menyengat pipi ini. Dalam mrtasana alias savasana singkat di sebuah kursi di Starbucks sore itu saya telah bertemu dengan idola saya yang tak bisa saya temuidi dunia nyata. Tetapi toh saya masih bersyukur, karena saya belum sampai terlambat mengajar sebuah kelas yoga yang dilimpahkan pada saya karena seorang guru senior menghadiri workshop Kino. Kedatangan Kino membawa rezeki tidak langsung juga bagi saya.

Cedera dan Perjalanan Introspektif

Yoga instan, penuh MSG, bahan pengawet, dan pewarna artfisial. (Sumber foto: Wikimedia Commons)
Cedera dan (Sumber foto: Wikimedia Commons)

Di suatu siang saya mengamati diskusi mengasyikkan seorang guru dan seorang teman yang memiliki banyak rekam jejak dalam hal cedera. Saat itu saya tak banyak bisa urun pendapat atau berkomentar. Maklum saya belum pernah tahu atau mengalami cedera (kecuali cedera hebat semasa kanak-kanak yang bisa dikesampingkan itu). Soal cedera ini ternyata bisa memantik pertukaran pendapat, pemikiran dan pandangan yang hebat. Saya cuma bisa termangu, sementara keduanya bertukar kata-kata secepat peluru. Percakapan mereka terasa mengawang-awang. Saya tak paham. Otak saya tak pernah menyimpan pengalaman itu. Pun tubuh ini.

Cedera memang tak ada habisnya menjadi bahan bicara. Dalam kelas yoga, kadang cedera terjadi. Kita berupaya yang terbaik untuk menghindarinya tetapi sesekali masih bisa terjadi juga. Itu risiko. Namun, ada juga cedera akibat kecerobohan pribadi yang tidak berkaitan dengan latihan yoga. Insiden semacam ini bisa menimpa siapa saja, tanpa pandang bulu. Termasuk penulis sendiri.

Banyak orang kesulitan membedakan rasa sakit dan cedera. Seorang pemula biasanya menganggap dirinya cedera begitu ia merasakan suatu bagian tubuhnya mengirim sinyal kurang mengenakkan keesokan hari setelah kelas yoga perdana. Perkaranya belum tentu demikian. Keduanya sama dalam hal memberikan sinyal bagi kita pemilik tubuh untuk mengamati dengan lebih seksama sesuatu yang sedang terjadi dalam diri. Dan ini lebih dari sekadar aspek fisik.

Apa yang menjadi pembedanya? Menurut yogini berambut keemasan Kino MacGregor, rasa sakit biasa terjadi dalam masa awal latihan asana. Jadi bagi Anda yang baru memulai, bukan rahasia lagi kalau sekujur tubuh didera rasa pegal dan sakit, seolah hendak patah, atau nyeri yang membuat Anda ingin berhenti saja. Ini baru ujian awalnya.

Ia sendiri mengaku — lama sebelum insiden cedera pinggulnya yang menghebohkan tahun lalu — bahwa ada cedera punggung yang ia derita selama 3-4 tahun. Banyak hal yang ia pelajari selama menderita cedera itu, katanya. Kino berucap, dirinya harus banyak belajar mengenai alignment punggung, dan bagaimana melakukan back bend yang lebih aman.

Selama cedera, Kino lebih memilih untuk berlatih asana dengan tujuan yang bersifat menyembuhkan, daripada berlatih dengan tujuan atau target menguasai pose tertentu.

Sebagaimana disinggung sebelumnya, pemulihan dari cedera juga bukan perkara fisik semata, jelas Kino. Munculnya sakit dan cedera menandakan adanya permintaan untuk perubahan, pergeseran, penggalian ke sesuatu yang lebih dalam. Perubahan ini bisa berupa perubahan postur, perubahan pola gerak, perubahan kebiasaan, perubahan pola makan, perubahan pemikiran dan sebagainya. Bagi yogi dan yogini, tubuh bukan hanya tubuh kasar atau fisik tetapi juga tubuh emosi yang diasah juga dalam latihan yoga.

Untuk pulih, berlatihlah tanpa ego, saran Kino. “Singkirkan pemikiran bahwa Anda harus tampil sempurna, atau merasa sempurna di mata orang lain, dan seterusnya.” Cedera malah harus disikapi sebagai sebuah perjalanan untuk mengenali diri sendiri dengan lebih baik lagi. Asah kepekaan itu kemudian tetap jujur pada diri sendiri. “Jika itu terjadi, transformasinya akan sangat mencengangkan.”

Waktu telah lama berselang sejak siang yang membuat saya terngiang tentang cedera itu. Saya baru memulai perjalanan itu.