Travel Writer Anida Dyah Berbagi di #awesomejourney

MERANDAI ITU BRUTAL! Ia memaksa setiap orang yang ada di dalamnya untuk melepas ego, mempercayai orang asing dan kehilangan semua kenyamanan yang selama ini sudah dinikmati. Menjadi perandai juga mau tidak mau mendorong manusia membuka pikirannya terhadap hal-hal yang ada di luar dirinya. Itulah sisi menantang dari kegiatan berkelana bebas alias backpacking di tanah asing. Begitu kata penulis perjalanan (travel writer) Anida Dyah, yang siang tadi di Conclave Wijaya Jakarta mencoba meyakinkan kami bahwa aktivitas melancong tak selamanya indah. Ada sisi-sisi liar yang harus dimaklumi dan diatasi.

Saya sepakat. Jangankan bepergian dengan orang yang baru dikenal, bepergian dengan keluarga terdekat atau teman kerja kita ke
tempat-tempat yang lazim dikunjungi turis saja sudah memunculkan banyak masalah. Apalagi jika kita harus bersama-sama dalam sebuah perjalanan dengan orang asing ke tujuan yang entah kapan akan berakhir. Karena rencana di atas kertas atau dalam benak bisa saja buyar dari detik pertama perjalanan dimulai.

Lain dari kebanyakan orang yang menganggap melancong sebagai cara melarikan diri dari rutinitas (baca: dunia nyata), Anida menggunakan perjalanan sebagai sebuah alat untuk memberikan terapi bagi diri. “[…] juga media untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya waktu kecil dan pencarian jati diri,” ungkap wanita lulusan jurusan arsitektur Universitas Parahyangan yang telah membuahkan satu karya buku dari perjalanannya itu.

Anida ‘menyalahkan’ sang ayah atas hasratnya yang begitu tinggi dengan petualangan. Perempuan asal kota gudeg itu mengakui sudah ‘dicekoki’ buku-buku petualangan sejak kecil. Dari buku tulisan Daniel Defoe Robinson Crusoe hingga Lima Sekawan karya Enid Blyton dilahapnya.

Keinginannya merandai ke luar negeri makin berkuliminasi tatkala ia merasakan kejenuhan yang tidak terbendung lagi di tahun kelima bekerja dalam sebuah perusahaan Singapura.

Tahun 2009 menjadi titik balik bagi kehidupan Anida karena sang ibunda meninggal dunia akibat kanker. “Saya terpikir untuk keluar dari zona nyaman dan me-reset hidup saya dari nol,” kenang penulis buku Under the Southern Star itu.

Tak pikir panjang, Anidya memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Australia. “Saya beli tiket untuk pergi ke Australia dan izin ke ayah saya untuk melakukan perjalanan setidaknya satu tahun. Saya sejujurnya tidak tahu kapan akan pulang.”

Dan mental Anida diasah begitu ia tiba di Perth, Australia. Ia yang sudah merasakan kenyamanan bekerja sebagai seorang project manager di perusahaan besar saat itu harus rela bekerja kasar sebagai pelayan restoran selama 3 bulan yang gajinya ia tabung untuk biaya berkelana.

“Setelah 3 bulan itu, saya melanjutkan perjalanan dengan mencari tumpangan dari Perth untuk sampai ke Melbourne,” ucapnya.Ia mencari tumpangan dengan mengiklankan dirinya di sebuah situs di negeri kanguru. Ia dipertemukan oleh takdir dengan sebuah rombongan backpacker yang isinya 3 orang Jerman dan 1 dari Prancis. Kisah perjalanannya selama 30 hari bersama rombongan inilah yang kemudian ia tuangkan dalam buku Under the Southern Star.

Dari Australia, Anida berlanjut ke Selandia Baru. Sebagai penggemar berat film trilogi Lord of the Ring, ia mewajibkan diri berkunjung ke setting film tersebut di sana dan menyaksikan pemandangan dari langit. Bekerja sebagai fotografer lepas, ia pun menuju ke Skandinavia (Finlandia) dan Afrika Utara, tepatnya Maroko.

Anida mengklaim destinasi bukan hal terpenting. Ia juga sudah mengabaikan panduan, biaya, dan sebagainya yang biasa diperhatikan pelancong reguler atau turis. “Kita tidak bisa menentukan budget karena tiap orang bisa berbeda tergantung cara melakukan perjalanan,” cetusnya.

Dalam mengabadikan pengalaman perjalanan, Anida mengandalkan cerita yang bermuatan emosi yang bisa mengajak pembaca terlibat di dalamnya. Seolah pembaca turut berada di belakangnya. Ini yang membuat kisah perjalanan menarik diikuti, bukan cuma sederet fakta atau jurnal pribadi biasa.

ANIDA BEBERKAN KIATNYA untuk menulis kisah perjalanan yang bernas. Yang pertama yakni setting/ latar tempat. Jangan hanya menggambarkan secara mentah tetapi juga membagikan kisah di balik latar itu.

Interaksi juga penting untuk dilakukan dengan manusia yang ditemui di sekeliling selama perjalanan. Karena dengan begitu, asumsi-asumsi dan stigma dalam benak kita yang terbentuk pasca observasi semata bisa diverifikasi. Apakah memang benar demikian atau tidak? Sikap skeptis itu perlu dipelihara seorang penulis perjalanan. Anida mencontohkan saat ia menulis tentang detil mengenai tato seorang teman
perjalanannya yang bertema Viking. Nuansa unik dan personal inilah yang ia telisik dan angkat untuk memperkaya kisahnya. Dan untuk itu, ia tak segan bertanya pada orang yang bersangkutan. Untuk bisa mendapatkan detil unik itu, Anida menyarankan kita untuk selalu mencatat. Urusan nanti dipakai dalam tulisan atau tidak bukan masalah besar. Yang penting mencatatnya dulu serinci-rincinya.

Temukan juga hal-hal baru dan menarik yang belum banyak diangkat orang. Caranya bisa saja dengan menjelajahi tempat-tempat yang tak banyak dikunjungi wisatawan. Anida sendiri menemukan bahwa ternyata Australia bukan hanya kota-kota besar modern dan tempat tinggal koala dan kanguru, tetapi juga sarang banyak hewan beracun seperti kalajengking, ular, dan sebagainya. “Australia juga duta masa lalu — duta purba,” tuturnya sambil menunjukkan fotonya di sebuah bebatuan raksasa lebar di tepi pantai selatan benua itu yang ia katakan sebagai titik patahan antara Australia dan Antartika puluhan juta tahun lalu saat Pangea (satu benua raksasa) masih ada. Sejarah masa lalu ini bisa diselipkan dalam kisah perjalanan juga.

“Konflik itu pemicu agar orang terus membaca,” saran Anida. Jadi tidak hanya dalam novel atau cerpen saja penulis membutuhkan konflik. Dalam kisah perjalanan pun, hendaknya kita bisa mempertajam konflik agar pembaca terus membaca hingga lembar terakhir. Konflik kecil bisa digunakan sedemikian rupa untuk menarik kisah perjalanan. Memilih makanan untuk dikonsumsi saja bisa dijadikan satu konflik menarik, jelas Anida. Konflik yang dialami rombongan Anida saat itu misalnya adalah saat mobil mereka melintasi gurun di tengah musim panas yang suhunya bisa mencapai 45 derajat Celcius dan kehabisan bensin sebelum mencapai tujuan.

Akhirnya, semua konflik eksternal itu menggiring kita untuk masuk dalam diri kita sendiri. Refleksi diri juga menjadi bagian penting dalam sebuah kisah perjalanan sehingga membuat kisah itu lebih personal dan emosional. Sepanjang perjalanannya, Anida kadang teringat dengan ingatan-ingatan masa lalu yang masih tertanam dalam.
Kontemplasi internal ini menarik pula untuk dikemukakan. Bagi Anida, aspek kontemplasi ini disimbolkan dalam judul bukunya. Bintang selatan itu melambangkan sang ayah yang sejak kecil mengenalkannya pada rasi bintang pari yang menjadi penunjuk arah selatan. “Dan kebetulan rasi bintang pari juga menjadi lambang dalam benderanya. Bagi kaum Aborigin, rasi bintang pari itu jelmaan dari ketua suku mereka Mirabuka yang setelah wafat diangkat sebagai dewa langit dan bertugas menunjukkan arah bagi mereka yang tersesat.”

Vegemite Virgin

Dalam mata kuliah “Pranata Masyarakat Australia” (Australian Studies) yang saya ikuti bertahun-tahun lalu di bangku kuliah, disebut sebuah kata baru oleh dosen kami saat itu. VEGEMITE. “Rasanya enak sekali. Khas Aussie,”tuturnya saat itu di depan kelas. Nada bicaranya meyakinkan, wajahnya penuh semangat saat menjelaskan. Alhasil, kami mengangguk-ngangguk, berharap suatu saat kami akan mendapat kesempatan mencicipi makanan enak satu itu langsung di tempat asalnya, di benua kanguru. Saat itu pikiran kami melayang ke luar jendela kelas karena ingin sekali mencoba vegemite yang bahkan kami tidak tahu bagaimana bentuk dan rasanya. Konyol memang. Ya, siapa tahu lebih enak dari nasi pecel di kantin kampus yang mahalnya bukan main untuk kantong kami itu.

Karena selama ini belum pernah berkesempatan melancong ke sana, saya mengubur keinginan itu dalam benak. Hingga pekan lalu saya bertemu dengan seorang tetangga kantor. Tetangga, karena saya dan dia tidak bekerja di satu perusahaan, tetapi kami memang berada di gedung yang sama. Ia berpesan kalau saya mau menulis tentang dirinya di blog ini, saya harus menulis seperti ini:”Temanku yang punya cerita seru. Begini ceritanya…” Kurang lebih begitu pesannya untuk saya. Untungnya sebagai narablog, saya memiliki ‘editorial independence’ yang lumayan KUAT.

Mengetahui ia pernah kuliah di Australia, saya pun penasaran apakah ia pernah mencicipi vegemite yang legendaris itu.

“Sudah pernah mencicipi vegemite dong ya? Was it tasty?”tanya saya penuh keingintahuan.

“Semua temanku bilang vegemite enak. Aku sendiri disuruh mencicipi. Oh man, yeah! Memang ‘enak’!!!”ia menjawab dengan ekspresi dramatis, tetapi bagi saya sedikit meragukan, antara lelucon dan penjelasan serius. Dahi saya berkerut, menanti kelanjutannya. Karakter orang ini ialah kadang air muka dan nada bicaranya tidak bisa ditebak.

“Rasanya….Blehhh. Pait banget!!! Mereka bilang enak, harus coba tapi …. Not for me, man!”

Vegemite khas Australia itu bentuk fisiknya mirip selai (istilahnya “spread”) tetapi rasanya lain dari selai yang kita jumpai di Indonesia. Bahan asli vegemite adalah ragi, kaldu rebusan sayuran dan garam. Semua itu adalah sisa dari proses pembuatan bir. Anda bisa bayangkan rasanya bagaimana rasanya sekarang. Di labelnya, Kraft menulis:”Concentrated Yeast Extract” alias konsentrat ekstrak ragi. Betapa intens rasanya! Konsentrat dari ekstrak. Oh!

Sepertinya saya sekarang memilih nasi pecel di kantin kampus yang lebih familiar di lidah daripada vegemite itu. Bagaimana dengan Anda?

When a Yogi Falls Sick…

English: Praveen Gurukkal from Kalarickal Ayur...
English: Praveen Gurukkal from Kalarickal Ayurveda shows the use of Yoga in Kalari practise. (Photo credit: Wikipedia)

…Everyone would think one of these:

1. “Look at him. In spite of being thin, he would never listen to me. Eat a lot, for God’s sake! What is going through his mind? Does starving himself really pay? So eccentricly addicted to healthy life style. What’s the point of that? Now he’s sick and ..oh…poor wretched petite bony boy.”

2. “What is wrong with him? He’s been so fit so far and just as suddenly he declares he gets sick. That must have to do with the changing seasons.”

3. “If yoga can heal people, he should be able to cure himself. Well, he is supposed to be… Let him be.”

4. “He must have bent too much, twisted his body too often. ”

5. “He’s a human. That happens. It’s not like he gets sick every week or month. His sickness is once in an entire year. Why worry?”

6. “If that usually healthy and agile man can fall sick, how about me?? With all these abundant daily consumption of fried foods, sugary bread, greasy carnivore diets… Ah, leave it to God, and my insurance company. The world keeps spinning.”

7. “He needs bear hugs and intimate chats, I suppose. Let see if I can be of help.”

8. “He must’ve cheated on the diet plan too often.”

9. “His chakras may be clogged. He needs to fix them all.”

10. “He ought to a physician nearby.  He can heal on his own with Ayurveda but that’ll take much longer time. ”

 

As Creative Industry Thrives, More Indonesian Translators are Needed

The Indonesian creative industry is blooming, and gaming is one of the most  promising.  As more and more games with foreign languages on the interface should be localized, translators’ service is needed.

“International social media sites targetting Indonesia require translators’ service. Hence the demand of such a profession is high,” stated Indra Blanquita Danudiningrat, a sworn translator and a linguist to Hilda Sabri Sulistyo, a journalist of Bisnis Indonesia.

Recently there are more variations of games played on social media, Internet-based media, or even other celular devices.

The increasingly numerous number of players in the Indonesian gaming market triggers higher demand of games with Bahasa Indonesia on the interface. This explains why there are pools of opportunities for translators in Indonesia to focus on games translation niche.

“Aside from games translation opportunities, the development of creative industry also taps another stream of opportunities due to the higher demand in Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions business (MICE business),” added Indra.

Linguists or interpreters are required in almost every international conferences and seminars. Last year after Indonesia served as the ASEAN leader and host to various international conferences, it is revealed that there are high prospects in this MICE industry.

Sadly, translator as a profession has not received wide acknowledgment  of people yet so translators need to work hard on getting this. It is such an anomaly as the profession started to come into existence since the country regained independence.

“Translators’ service is badly needed but it is not admitted as one of profession types here. That’s why we translators find it difficult to apply for credit to banks,” Indra reasoned.(Translated from the Bisnis.com)

Tentang Damai

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=6YKuph1WP0c&w=420&h=315]

Berikut adalah ringkasan dari apa yang disampaikan oleh Mala dari Brahma Kumaris, organisasi spiritualis yang diundang ke Yoga Gembira, Taman Suropati hari Minggu tanggal 11 September 2011. Temanya ialah perdamaian.

Mala yang berasal dari Australia ini mengutip sebuah kalimat inspiratif dari Mahatma Gandhi di awal pertemuan: “Be the change you want to see the world”. Kemudian ia berkata dalam bahasa Indonesia yang tergolong amat lancar bagi ekspatriat, “Dalam konteks perdamaian maka bisa diubah menjadi: “Be the wave of peace you want to see the world””.

Mala kemudian bertutur panjang lebar tentang bagaimana mencapai kedamaian batin dalam diri kita. Kedamaian batin, menurutnya, tercermin dalam:

-Stabilitas/keseimbangan emosi

Dalam hidup pasti ada naik turun, fluktuasi, tetapi jika seseorang damai dalam batinnya, ia bisa stabil, menyeimbangkan diri. Pikiran berfluktuasi karena emosi karena itulah emosi perlu dikendalikan.

-Ketenangan sehingga tidak mudah terpancing.

Pause button dalam diri seseorang. Ia tidak bereaksi secara langsung. Mengheningkan diri sebelum bereaksi, mengambil keputusan, berbicara.berpikir lebih pelan, untuk melihat lebih jelas dan ambil tindakan yang lebih bijak. Terlalu cepat ambil keputusan, bisa berbuah petaka.

– Kesabaran

Kesabaran dalam menerima dan memahami sesama, suatu wujud kedamaian karena tak merasa terancam. Saat tak nyaman, kita cenderung hostile.

-Kesukarelaan

Saat terpaksa melakukan sesuatu, hati tidak damai karena merasa terkekang. Berpikir jernih dan damai kita bisa melakukan semua hal dengan sukarela, datang dari diri kita sendiri, bukan karena situasi.

-Harga diri yang bisa dipertahankan

Orang sakit merasa tidak bisa mempertahankan harga dirinya karena tidak bisa bermakna pada orang lain. Pertahankan harga diri dalam sakit, musibah itu adalah wujud kedamaian batin.

-Kemampuan merelakan

Ketenangan batin tercapai saat kita bisa melepaskan pengalaman buruk dari pikiran.

Kedamaian harus dimulai dari diri kita. Saat kita terus menuntut dunia eksternal di sekitar kita untuk damai sebagai prasyarat agar diri kita bisa merasa damai, maka kita tak akan merasa damai. Dengan meditasi dan yoga, kedamaian ini bisa dicapai.

Bagaimana kita bisa menerima orang yang berbeda?

Pahami bahwa setiap orang itu unik, karena memiliki misi hidup yang berbeda dari kita. Sebab lain kita sulit menerima orang lain ialah karena kita selalu punya harapan/ tuntutan terhadap orang lain. Saat orang lain tidak bisa memenuhi harapan kita, kita menolak kehadiran mereka. Meskipun tujuan sama, cara untuk meraih bisa berbeda.

Saat memaksa orang menuruti kemauan/ tuntutan kita, kita pada dasarnya belum paham akan drama kehidupan ini.

Perjalanan hidup mereka juga berbeda dari kita. Ibarat kita tengah menumpang kereta, kita tidak bisa memaksa penumpang lain untuk menempuh rute yang sama dan turun di stasiun yang persis dengan kita. Kita tak bisa memaksa orang lain untuk selalu ada di samping kita.

Ada hikmah/ pelajaran dalam segala kejadian dalam hidup ini

Segala sesuatu di alam ini terjadi untuk alasan tertentu. Tidak ada kebetulan, tidak ada yang salah (kata “salah” hanya label dari manusia, karena suatu hal tidak sesuai keinginannya). Dengan menggunakan cara pandang seperti itu dalam memaknai semua peristiwa dalam kehidupan, kedamaian dalam batin akan lebih mudah dicapai. Dama itu juga berarti kita bisa menerima sesuatu apa adanya.

Segala sesuatu yang terjadi di alam sudah tercatat dan kita hanya menjalani yang sudah ditakdirkan. Perlu waktu untuk memahaminya, “Apa maknanya bagi saya? Bagaimana ini memperkaya saya?”

Pengalaman pahit atau manis akan bisa digunakan sebagai bekal hidup dan ditularkan ke orang lain.

 

Bagaimana saya harus bereaksi terhadap tuntutan dari suatu situasi yang saya belum mengerti?

Pertanyaan reflektif ini perlu kita tanyakan pada diri sendiri saat berkata, “Saya punya satu pengalaman buruk, sangat buruk, tak ada hal positif di dalamnya”.

Kita perlu menganggap setiap hal dalam hidup, termasuk peristiwa/hal terburuk , sebagai sebuah hadiah indah yang terbungkus rapat oleh kertas rombeng. Kita perlu membukanya dengan perlahan.

Kedamaian memang tercapai saat tidak ada gangguan tetapi gangguan justru bisa menunjukkan seberapa baiknya kita dalam memelihara ketenangan batin. Setiap gangguan membawa kita ke tingkatan kedamaian yang lebih dalam. Jadi kalau kita masih merasa terganggu, kedamaian batin kita belum begitu dalam. Maka kita perlu memperdalam kembali.

 

Saat kita menghadapi orang yang marah, apa yang sebaiknya dilakukan?

Menghadapi kemarahan sebaiknya dengan memahami alasan mengapa ia marah. Seseorang tidak akan marah tanpa sebab yang  jelas. Saat kita berusaha memahaminya, perasaan marah kita sebagai balasan kepadanya akan teredam.

Orang yang marah itu bak seorang pengemis. Orang yang tengah marah adalah pengemis dalam pengertian emosional dan psikologis. Ia perlu empati, kasih, solusi, perhatian dari orang-orang yang mereka marahi. Tanyakan pada diri kita, “Apa yang orang ini butuhkan dari saya?”  Posisikan diri kita sebagai pemberi agar kita tidak larut dalam kemarahannya. Saat kita berada dalam posisi memberi, kita akan terlindung dari serangan emosi negatif orang lain. Ini bisa diterapkan di masa modern saat banyak manusia bertindak tanduk layaknya penyedot debu yang suka mencari untung tanpa memberi. Mereka terus menuntut tanpa memenuhi kewajibannya.

Apa yang bisa dilakukan saat kita tidak bisa menemukan sisi positif seseorang?

Kadang kita begitu benci dengan seseorang hingga kita menjadi buta dengan sisi-sisi baik yang mereka miliki. Adalah sebuah kemalangan bagi kita sendiri jika kita tak bisa menemukan sisi baik seseorang. Ego kita membutakan kita, menganggap orang lain lebih rendah. Kita lupa bahwa seseorang itu buruk di mata kita bukan karena orang lain itu tidak punya sisi baik sama sekali. Justru yang patut dikasihani ialah kita yang tidak bisa menemukan kebaikan dalam diri orang lain.

Dunia nan damai terwujud dari diri sendiri.

Namaste!