Anomali Bernama Baduy (10)

Screen Shot 2017-06-01 at 13.16.15
(Foto: Tim Geo Tour)

PLASTIK YANG MENGGELITIK. Jika Anda memiliki kesukaan untuk berperilaku aneh, biasanya Anda akan dihapal oleh orang-orang di sekitar Anda. Dan demikianlah yang terjadi di situ juga. Siang itu setelah sesi yoga dan salat zuhur di alam terbuka di tepi sungai perkampugan Baduy Luar, saya menyempatkan diri untuk berfoto dengan dua anak laki-laki Baduy Dalam yang membawakan barang-barang beberapa orang: Aceng dan Damin.

Mereka berdua tidak banyak berekspresi. Aceng dan Damin hanya bermimik muka datar saat saya ajak berfoto bersama. Saya berdiri di belakang mereka dan melakukan pose yoga bernama durvasana yang menurut saya ‘praktis’ karena tak mesti mencari tempat yang bersih atau rata. Cukup dengan berdiri tegak lalu menaikkan satu kaki ke belakang kepala, saya sudah bisa mencapainya.

Amor, teman saya yang saya titipi untuk menjepret kami bertiga, duduk dan berancang-ancang memberikan aba-aba. Saya fokus ke ponsel berkamera saya dan memasang senyum lebar. Dalam tiga kali jepret, saya amati Damin lebih salah tingkah daripada Aceng. Aceng lebih alami dan tidak setegang sahabatnya itu dalam berpose. Damin lebih pemalu dan cenderung mengarahkan pandangannya ke bawah, ke tanah tempat dedaunan mati berserakan tanpa pernah tersapu.

Selain rombongan kami, di sana juga duduk sejumlah penjual makanan dan minuman instan sebagai pengisi tenaga kami yang sudah kepayahan mendaki. Sebenarnya saya agak menyayangkan masuknya makanan dan minuman instan semacam itu ke daerah ini. Pasalnya makanan dan minuman semacam itu terbungkus dalam kemasan plastik, yang pasti menimbulkan gunungan atau ceceran sampah plastik di mana–mana. Dan jika makanan instan berkemasan plastik sudah hadir di sebuah daerah di Indonesia, kita bisa pastikan tingkat kebersihannya sudah menurun.

Perjalanan kami akan dimulai lagi ke kampung Baduy Dalam. Harry dan Johar meminta kami semua memperhatikan sampah-sampah yang kami hasilkan sepanjang kami singgah di tepi sungai. Pokoknya jangan sampai dibiarkan begitu saja mengotori lingkungan Baduy Luar ini. Penanganan sampah di sini ternyata sederhana, hanya dikumpulkan dalam sebuah kantong (plastik pula) untuk kemudian dibakar, demikian kata pemandu perjalanan kami, Teguh.

Mendengar jawaban ini, Johar dan saya sebenarnya tersentak juga. Johar berusaha menolak pembakaran sampah kami tetapi saya tahu ia tidak memiliki ide penanganan lain yang lebih masuk akal dan realistis. Apa boleh buat, kami pun tak bisa berbuat apa-apa. Saya juga cuma bisa membisu.

Melontarkan ide daur ulang sampah plastik itu tampaknya juga akan membutuhkan tindak lanjut yang panjang dan kompleks. Itu memang idealnya. Tetapi di sana saat kondisi itu, rasanya tidak mungkin dengan pongah dan idealis saya berkata,”Jangan dibakar. Daur ulang saja.” Saya sadar setelah memberikan saran semacam itu, bakal harus ada penjelasan yang lebih pelik dan pengajaran yang konkret. Berbicara sungguh mudah.

Kami pun mendaki kembali siang itu. Kami lewati ladang-ladang di perbukitan tinggi yang bermandikan sinar matahari yang teriknya tidak terbendung awan. Dan persoalan sampah plastik yang menjadi isu laten itu agak terlupakan. Namun, sejujurnya dalam hati saya tetap resah juga.

Hingga saat jaro (kepala adat di kampung) perkampungan Baduy Dalam yang kami singgahi bertandang ke beranda rumah pagi itu setelah kami menyantap sarapan pagi. Salah satu pertanyaan yang dilancarkan kepadanya juga tentang penanganan sampah plastik di kampung.

“Bagaimana penanganan sampah plastik yang dibawa oleh pendatang ke sini (kampung Cibeo)?” tanya Johar pada sang jaro.

Saya sendiri sudah menduga jawabannya setelah menyaksikan adegan di hari sebelumnya saat kami hendak berangkat mendaki setelah beryoga di tepi sungai.

“Sampah plastiknya kami kumpulkan untuk dibakar. Daripada berserakan,” ucap jaro yang bijak itu tenang.

Pengumpulan sampah plastik memang sudah relatif baik di kampung ini. Di depan beranda setiap rumah, ada sebuah anyaman bambu yang bentuknya mirip ember dan ternyata difungsikan sebagai pengumpul sampah. Dan karena para pengunjung di akhir pekan ramai, saat saya saksikan sampah begitu memenuhi wadah tadi. Dan kebanyakan adalah sampah kemasan makanan dan minuman instan.

Jaro mengakui bahwa masyarakat dan para tetua adat di kampungnya belum memiliki suatu skema penanganan sampah plastik yang terpadu dan sistematis. Saya bisa memakluminya karena sampah plastik sejatinya masalah luar yang diimpor ke dalam. Tentu mereka tidak memiliki sumber daya untuk menghadapinya. Mestinya orang-orang luar Baduy-lah yang tahu diri untuk tidak membawa sampah plastik dalam bentuk apapun ke dalam.

Kami pun mengusulkan agar warga Baduy Dalam jangan sampai disusahkan dengan penanganan sampah plastik itu. Membakar sampah plastik itu saja sudah suatu tindakan penghasil pencemaran udara. Dan patut dicamkan juga bahwa asap hasil pembakaran plastik mengandung racun yang tidak hanya berbahaya buat manusia yang ada di sekitarnya tetapi juga pastinya ekosistem alami Baduy yang relatif masih terjaga.

Di sekitar perkampungan Cibeo itu saya memang tidak sempat menemukan lokasi pembakaran sampah plastik tetapi saya duga pastinya ada. Hanya saja lokasinya tersembunyi jauh dari perkampungan.

Jaro menampik halus usulan solusi kami, mengatakan bahwa mereka tidak tega membuat pengunjung kerepotan dengan mengurus dan membawa sampah plastik lagi. Saya kemudian ingat bahwa orang-orang Baduy Dalam ini begitu ramah dalam memperlakukan kami saudara-saudara mereka dari luar. Mereka mendahulukan tetamu sebelum menyantap dan meneguk apapun. Dan soal sampah plastik, mereka juga segan menegur pengunjung luar untuk mengurus soal itu sendiri. “Kami tidak tega dan tidak ingin merepotkan jika mengingatkan,” terang jaro.

Warga Baduy Dalam juga kurang memiliki ketegasan dalam menghadapi para penjual makanan dan minuman instan dari luar sehubungan dengan sampah plastik yang dihasilkan dari kegiatan niaga mereka dengan turis-turis di sini.

Seperti seorang pria pedagang mi instan dan minuman sachet yang sekonyong-konyong menghampiri saya setelah beberapa saat menyaksikan saya bersantai di beranda setelah trekking yang melelahkan.

Dalam bahasa Sunda yang saya kurang pahami, ia bercakap-cakap dengan Damin dan Aceng sembari sesekali terkekeh memandangi saya. Saya menduga ia ingin memastikan pada Aceng dan Damin bahwa saya adalah orang yang berfoto dalam posisi berdiri di satu kaki dan menaikkan satu kaki di belakang kepala. Orang yang aneh, langka dan hanya satu-satunya ada di rombongan turis lokal yang ia jumpai hari itu.

Begitu ia yakin saya adalah orang yang ia ingat, pria itu mendekati saya tanpa meninggalkan beranda yang ia duduki di rumah seberang. Tetapi kali ini kami berhadap-hadapan lebih dekat.

Tanyanya pada saya kemudian,”Mas, biasa olahraga ya?”

Saya terbengong-bengong, tidak menyangka akan disuguhi pertanyaan seperti itu. Saya sudah biasa menghadapi pertanyaan ini di Jakarta tetapi di sini saya sama sekali tidak menduga ada yang tertarik dengan yoga.

“Ya, mas. Sudah biasa. Hehe,” tukas saya, mencoba beramah tamah dengannya. Saya mencoba mempertahankan aliran percakapan,”Tinggal di sini?”

“Tidak. Saya dari kampung luar sini,” dalam bahasa Indonesia yang berakses Sunda ia menjawab singkat. Pakaiannya memang menunjukkan ia bukan warga Baduy Dalam. Ia memakai kaos jersey sebuah klub sepakbola negeri asal pizza. Celananya jeans biru tua yang bisa ditemukan di toko-toko pakaian di pasar-pasar tradisional atau toko pakaian di Lebak.

Pria ini ialah salah satu orang dari rombongan pedagang yang mengiringi kami selama trekking. Mereka juga berjalan kaki di bawah sengatan mentari, sampai kulit legam dan berkilau.

Masyarakat Baduy Dalam di kampung Cibeo ini terbilang relatif terbuka daripada kampung Baduy Dalam lainnya. Mereka membuka diri terhadap kunjungan orang luar dan bahkan menganggap kedatangan mereka sebagai berkah, bukan bencana. Pariwisata budaya ini mereka jadikan sumber penghasilan yang bisa memacu kesejahteraan.

Hanya saja, seperti tren pariwisata pada umumnya, eksploitasi berlebihan menjadi momok yang menakutkan. Dan di sini mereka belum memikirkan kemungkinan terjadinya kerusakan yang berpotensi muncul dan mengganggu keseimbangan ekosistem alam sekitar dan kondisi keseluruhan masyarakat di dalamnya.

Masyarakat Baduy Dalam di sini belum memahami batas tipis antara pariwisata massal dan ekoturisme. Yang pertama lebih berorientasi kuantitas dan volume dan bersifat eksploitatif tanpa kendali. Yang kedua lebih beretika, terkontrol, terencana, tidak serampangan dan mengindahkan kelestarian dan daya dukung lingkungan sekitar.

Klaim saya ini terbukti setelah kami secara spontan menanyakan dan mengusulkan adanya peraturan kuota yang diberlakukan segera agar kampung tersebut tidak diluberi wisatawan secara berlebihan. Layaknya orang berkunjung ke sebuah tempat suci untuk berziarah seperti berhaji, diperlukan pembatasan jumlah orang luar yang memasuki wilayah tersebut agar ketertiban dan kebersihan kampung tetap terjaga.

Masyarakat Baduy Dalam masih memerlukan masukan dari kita mengenai solusi-solusi yang baik untuk memaksimalkan upaya-upaya dalam memanfaatkan potensi wisata budayanya sambil memelihara kelestarian dan kemurnian budaya dan alam sekitarnya. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (6)

Inilah gelas kayu ala Baduy Dalam yang dibeli sejumlah teman dengan tujuan sebagai gelas untuk pensil dan pulpen padahal semestinya untuk minum. Orang kota memang aneh. (Dokumentasi pribadi)
Inilah gelas kayu ala Baduy Dalam yang dibeli sejumlah teman dengan tujuan sebagai gelas untuk pensil dan pulpen padahal semestinya untuk minum. Orang kota memang aneh. (Dokumentasi pribadi)

BINTANG. Dengan tirai raksasanya, malam mulai membungkus perkampungan Baduy di Cibeo. Badan kami terasa luluh lantak semuanya setelah menjalani rute trekking yang berat bagi kebanyakan kami. Beberapa orang yang tersisa di belakang masih tidak kuasa melangkah jauh-jauh dari rumah sebab kaki pegalnya bukan kepalang. Saya yang ada di garda depan dan memanggul bawaan sendiri sudah mulai bisa melepas penat selama perjalanan seharian. Mungkin ini berkat air kali yang sejuk itu. Jadi teringat sebuah film yang jagoan-jagoannya begitu rampung bertarung lalu pulang ke markas dan berendam tanpa sehelai benang di bak mandi berisikan air es. Itu rupanya cara efektif nan alami untuk merestorasi kondisi fisik yang baru saja diperas habis-habisan, pikir saya.

Kami pun dijamu dengan keramahan luar biasa. Keluarga yang menjadi tuan rumah bagi rombongan mempersilakan kami makan dahulu. Menunya sederhana dan bersahaja:sayur sop, teri goreng, nasi putih dan sambal cabai hijau yang nikmat. Harry membawa menu cadangan berupa abon cakalang dan abon sapi. Dugaan saya menu-menu cadangan itu untuk berjaga-jaga jikalau menu yang ada tak sesuai dengan lidah.

Saya suka terinya. Dan baru menyadari keesokan harinya bahwa tak semestinya saya makan menu itu secara liberal. Suara saya serak dan hampir hilang selama berhari-hari setelahnya.

Setelah makan, saya kebingungan mencari minum. Gelas-gelas bambu itu sudah dipakai semua orang. Lalu Harry menawari saya gelas yang dipakainya. Dan saya berseloroh,”Tadi kamu minum dari sebelah mana?” sambil mata saya pura-pura arahkan ke sekeliling bibir gelas sebelum meneguk air putih dari botol kaca berukuran besar yang dipakai menampung air minum. Kami tergelak. Di saat seperti ini, rasanya sudah tidak mungkin memikirkan standar higienis modern yang kami biasa terapkan. Saya teguk saja air dari gelas itu tanpa ingin tahu jawaban Harry.

Ada yang aneh dari rasa air putih yang saya teguk. Saya berkali-kali meneguknya untuk memastikan bahwa saya minum air putih, bukan kopi. Mungkin saja ini bekas minuman sebelumnya, karena saya baru ingat mereka tak memakai sabun apapun di kampung ini. Jadi, kemungkinan besar ada yang meminum kopi sebelumnya. Dan rasa itu terus melekati permukaan gelas bambu itu.

Kemudian kami berkumpul di beranda dua rumah yang kami inapi dan kebetulan berhadap-hadapan. Anggap saja ini sebuah acara “Saturday Night Live”. Seorang bintang tamu istimewa yang akan diwawancara hingga tuntas sampai audiens puas dihadirkan. Seorang pembawa acara bercakap-cakap menguras deposit informasi menarik dalam benak pembicara.

Bedanya malam itu, semua orang dalam rombongan kami adalah bintang tamunya. Dan satu persatu harus menjawab pertanyaan “pengalaman apa yang paling berkesan selama melakukan perjalanan?” dan “apa yang paling berkesan selama dalam perjalanan ke perkampungan Baduy ini?”

Dan karena kampung ini tak dialiri listrik sama sekali, kami hanya bisa menerangi diri dengan lilin-lilin elektrik dengan baterai. Satu persatu kami membagikan cerita. Sembari mendengarkan, pandangan saya arahkan tidak ke sumber suara tetapi malah lebih banyak ke angkasa raya. Pemandangan malam itu langka sekali saya bisa nikmati. Bintang-bintang seperti butiran kristal swarovski yang ditebarkan secara acak di permukaan kain beludru hitam yang maha lebar. Suatu kemewahan yang tidak bisa dibeli orang-orang di kota-kota yang sudah dialiri listrik.

Dari cerita-cerita itu, saya bisa simpulkan rombongan kami terdiri dari berbagai jenis pengelana. Ada yang sudah menjelajah ke mana-mana di dalam negeri sendiri seperti Didi, ada pula yang sudah menjejakkan kaki berkali-kali ke negeri manca. Ada pula yang baru ke daerah-daerah yang dekat dan familiar serta populer bagi kebanyakan orang, seperti saya.

Sebuah cerita perjalanan menarik menurut saya sendiri tidak perlu jauh dan berbiaya mahal. Asal kita setelahnya membawa pulang ‘oleh-oleh’ yang tidak ternilai harganya. Bukan oleh-oleh yang selama ini bisa peroleh di toko-toko suvenir atau makanan khas lokal (meskipun itu juga tak kalah menggoda) tetapi oleh-oleh yang berupa pelajaran dan hikmah atau pengetahuan yang baru yang kita bisa simpan lalu amalkan dalam kehidupan dan bisa kita pakai untuk memperkaya makna kehidupan kita dan orang-orang di sekitar kita. Seperti apa yang dialami oleh Didi dalam perjalanannya ke sebuah pulau yang bernama Benggala yang ternyata adalah pulau yang berlokasi di titik paling barat nusantara. Sementara itu, ada lagi pulau terluar di barat, yang kata Didi ialah pulau Rondo. Dari pengalaman perjalanannya itu, Didi mendapatkan sebuah pemahaman yang membuka mata atas asumsi keliru bahwa Sabang atau Pulau We ialah titik terluar di barat Indonesia. Didi menjelaskan Pulau Benggala memang tak banyak dikenal orang karena tidak sembarang orang bisa memasukinya. Konon tersimpan cadangan minyak yang tidak sedikit di sini dan TNI membangun pertahanan di sini agar negara-negara lain tidak begitu saja mengklaimnya sebagai wilayah mereka. Jadi, jangan berharap bisa sembarang orang singgah lalu berwisata hura-hura di pulau Bengal itu. Didi saja harus mengantongi perizinan yang rumit dan berliku untuk bisa masuk ke dalamnya, baik dari pihak kampus tempat studinya sendiri serta pendekatan khusus dengan pihak TNI yang berpangkalan di sana.

Didi ini pengalana muda yang istimewa. Ia baru saja lulus kuliah di Institut Teknologi Bandung jurusan Arsitektur Vernakular. Sebelum saya meminta penjelasan atas nama jurusan yang sangat akademik itu, pemuda berambut ikal dan berhidung mancung ini menjelaskan bahwa dalam jurusan arsitektur vernakular, ia mempelajari arsitektur yang berkaitan erat dengan rumah-rumah adat di nusantara atau seantero dunia yang membawa makna sederhana. Makna dan lambang di dalam rumah-rumah yang dipelajari dalam arsitektur vernakular ini tidak serumit apa yang kita temui dalam rumah-rumah di kebudayaan Jawa yang dikenal memiliki kandungan simbolis dan filosofis yang sarat dan berat.

Didi mengatakan rumah-rumah Baduy Dalam ini tergolong rumah yang menerapkan konsep arsitektur vernakular sebab dibangun sesuai dengan kondisi lingkungannya. “Adanya di sekitarnya bambu ya mereka memakai material bambu untuk rumah,” terangnya. Pokoknya tidak ada unsur impor. Semua material yang dipakai untuk membangun rumah dapat diperoleh dalam jarak dekat. Sungguh kearifan lokal yang kini makin langka tetapi juga mulai dipuja, karena dengan demikian, kita diajak kembali untuk memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita tanpa harus rakus menginginkan hal-hal di luar jangkauan. Dengan penerapan arsitektur vernakular, rasanya jejak karbon kita dalam membangun rumah juga pasti lebih rendah.

Sesi berbagi pengalaman ini menjadi momen refleksi yang jarang ditemui di perjalanan-perjalanan biasa. Sejauh pengetahuan saya orang-orang yang mengunjungi dan menyinggahi kampung Baduy Dalam ini tidak banyak yang tertarik untuk melakukan interaksi atau menggali lebih dalam mengenai kehidupan suku yang mengasingkan diri dari peradaban modern. Mereka menganggap kampung ini sebagai sebuah resor atau penginapan yang aman, sentosa dan damai sehingga datang, makan, menikmati alam, lalu beristirahat dan esoknya meninggalkan kampung itu cepat-cepat sebab sudah tak betah tidak bisa memakai ponsel, tidak bisa menggosok badan dengan sabun, menggosok gigi dengan pasta gigi, mandi dan buang air di toilet yang tertutup rapat dan menikmati segala aktivitas yang hanya bisa dijumpai di ibukota.

Sesi itu kami akhiri segera karena sejatinya sudah banyak yang mengeluh mengantuk karena kecapaian sepanjang hari. Ditambah dengan kurang tidur di malam sebelumnya karena berangkat pukul 3 pagi dan hanya bisa ‘tidur ayam’ di perjalanan darat yang medannya relatif menantang, kami sudah ingin meluruskan punggung dan kaki saja secepatnya.

Secara sembunyi-sembunyi saya lirik ponsel yang saya telah atur ke moda pesawat dan hening sejak kemarin sore. Layarnya menyala. Sudah pukul 21.15 rupanya. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (5)

Pemandangan ini diambil di perkampungan Baduy Luar. Curug Kahyangan sendiri ada di dekat perkampungan Baduy Dalam yang masih jauh ke dalam hutan. (Credit: Cecep)
Pemandangan ini diambil di perkampungan Baduy Luar. Curug Kahyangan sendiri ada di dekat perkampungan Baduy Dalam yang masih jauh ke dalam hutan. (Credit: Cecep)

CURUG KAHYANGAN. Begitu kelas yoga rampung sekitar pukul 8 pagi, sebuah acara kuis diadakan untuk membagi-bagikan hadiah pada peserta Geo Tour. Sebagai materi kuisnya, sejumlah foto destinasi wisata di seantero negeri digunakan. Banyak foto yang saya tidak kenali. Saya harus lebih banyak berjalan-jalan di negeri saya sendiri, pikir saya. Pantas dari tadi beberapa anak-anak Baduy itu getol melihat-lihat gambarnya karena saya duga semua foto itu menunjukkan banyak hal yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya.

Matahari yang mulai meninggi membuat udara makin gerah sehingga sebagian besar peserta pria berniat untuk segera mencelupkan tubuh ke sejuknya air sungai Baduy. Dan rupanya mereka sudah merancang suatu rencana yang tidak sempat saya ketahui.

Saya sendiri, karena ketidaktahuan saya, malah melangkahkan kaki menuju sungai yang kemarin sore saya kunjungi. Sungai itu amat lengang. Begitu lengang hingga saya memicingkan mata ke setiap sudut tersembunyi untuk memastikan apakah benar-benar tidak ada orang yang bersama saya di sana. Saya sempatkan menebar pandangan ke segala penjuru sebelum melucuti pakaian. Kaos saya sangkutkan di pucuk bambu di pinggir kali. Jam tangan saya lepaskan di bebatuan di bawahnya. Jaket saya gantungkan di dahan pohon yang roboh dan mulai melapuk. Dua lagi yang saya bisa lepaskan: celana dan rasa malu.

Tetapi sebelum Anda berfantasi, izinkan saya berkomentar bahwa ternyata pekerjaan aktor atau aktris film porno dan model pakaian renang atau pakaian dalam tidak semudah yang kita bayangkan. Tidak terkira besarnya kepercayaan diri yang mesti dikumpulkan untuk bisa menanggalkan pakaian tanpa penyesalan.

Dan di sini saya tidak mau menyesal juga jika harus melewatkan kesempatan menikmati air sungai jernih yang melimpah ruah ini sendirian. Sebuah sungai yang detik itu, menit itu, dan sampai beberapa puluh menit kemudian, saya bisa monopoli untuk diri sendiri. Dan untuk memonopoli itu semua, saya tidak perlu mengeluarkan biaya.

Saya tidak mau membuang waktu. Sebelum ada orang lain, saya harus sudah memuaskan diri di sini. Saya pun mulai berjingkat di tepi sungai yang paling dangkal untuk mencicipi suhu airnya. Masih sejuk. Saya menengok ke atas, hanya terlihat daun-daun bambu yang melengkung, membentuk kanopi yang di sela-selanya masih memungkinkan berkas-berkas cahaya mentari jatuh hingga ke dasar sungai. Porsi sinar mataharinya yang sampai ke bawah terbilang pas sekali. Tidak begitu kebanyakan sampai terik, tidak begitu sedikit hingga tubuh menggigil.

Sebuah batu yang lebar terhampar di dasar sungai yang dangkal. Begitu lebar hingga saya dapat dengan nyaman merebahkan diri sepeti di sebuah ranjang raksasa, lalu di saat yang bersamaan saya membiarkan tubuh dialiri air sungai. Saya pejamkan mata lalu membiarkan tubuh dan pikiran istirahat sejenak dalam posisi savasana.

Sungguh seperti di kahyangan saja rasanya…

Saya ingin juga memuaskan diri dengan menjajal berenang di ceruk yang lebih dalam tepat di bawah jembatan. Namun, karena saat melangkah rasanya telapak kaki sakit sekali dihunjam bebatuan dalam berbagai ukuran di dasar kali, saya urungkan. Lagipula, saya ingatkan diri bahwa di sini tidak ada orang. Jika saya tidak bisa mengayuh ke tepian, bisa tamat riwayat saya.

Belum puas rasanya menikmati air sungai sejernih ini sendirian, saya teruskan menggosok tubuh dari ubun-ubun sampai ke ujung kaki. Saya hembuskan ingus keluar, berkumur-kumur, seolah ingin mengeluarkan segala kotoran yang ada saat itu juga.

Begitu saya mulai merasa menggigil, saya putuskan untuk menepi dan mengeringkan tubuh sesegera mungkin. Saya tidak mau mengakhiri liburan dengan sakit.

Entah berapa lama saya sudah di sana. Saya bahkan tidak terpikir untuk mengukur waktunya dengan menilik jam tangan. Pokoknya saya sudah puas. Itu yang terpenting rasanya saat itu.

Saya bergegas berpakaian kembali dan berkemas ke rumah tempat saya menempatkan tas. Beberapa saat kemudian saat saya duduk santai merenungi pengalaman mandi yang tiada tertandingi tadi, lewatlah rombongan teman-teman pria yang tadi ternyata antusias ingin menikmati sebuah curug (air terjun) yang disebut Curug Kahyangan.

Anehnya, mereka kembali dalam keadaan masih berkeringat dan kering kerontang. Usut punya usut, curug yang diklaim indah dan permai itu baru mengalami musibah kekeringan akut. Alhasil, debit airnya menipis hingga hanya sanggup “membasuh sandal dan telapak kaki”, demikian pengakuan seorang teman yang begitu kecewa.

Tiba-tiba saya merasa beruntung bisa mandi dengan bebas tadi. Tiba-tiba terbetik pemahaman bahwa saya tadi memiliki sebuah curug pribadi. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (1)

(Credit: tim Geo Tour)
(Credit: tim Geo Tour)

PREAMBULE. “Gas saja terus!” kata seorang pria mempersilakan mobil elf kami di tengah keremangan fajar di Rangkasbitung. Kami tidak sedang membelah jalan biasa. Yang baru saja kami lewati dengan susah payah ialah sebuah pasar tradisional, yang layaknya pasar tradisional di daerah di pelosok Indonesia, tidak terlokalisasi dalam sebuah kawasan yang terorganisir dan resik. Semuanya chaos, seperti kejadian big bang yang konon menjadi cikal bakal alam semesta ini. Ada mentimun berserakan di sini, baju-baju bergantungan di situ, daging ayam di kiri, beras-beras beragam macam dalam ember-ember dan karung di kanan. Para penjualnya tak kalah kacau. Mereka turut meracau, menawarkan barang dagangannya dengan penuh semangat, ingin menarik calon pembeli agar barang dagangan segera tandas dan uang berkumpul di tangan saat kembali ke rumah.

Mobil terus melaju menembus kabut tatkala kami memasuki daerah perkampungan Rangkasbitung yang masih hijau dan permai. Sawah dan rumah membentang berselang-seling. Saya juga heran bagaimana bisa kabut masih ada melingkupi lansekap ini padahal waktu telah merayap ke pukul enam pagi. Semestinya kabut tiada lagi. Sirna ditelan bumi.

Seinci demi seinci mobil mendekati tujuan kami: perkampungan suku Baduy. Kendaraan yang dimuati 16 orang ini sesekali berpapasan dengan beberapa motor dan mobil melaju melawan arah. Saya amati hanya kami yang menuju ke arah pedalaman.

“Pagi,” saya sapa Harry, salah satu orang yang mengorganisir tur ini. Kami menyempatkan diri menyinggahi sebuah masjid. Sekadar menunaikan salat subuh yang agak terlambat karena sesungguhnya matahari sudah terbit.

Belok ke arah Ciboleger, kami disambut pemandangan menantang. Sebuah mobil colt hijau disesaki penumpang para pelajar berseragam pramuka. Di atas mobil, beberapa orang juga naik. Tidak cuma siswa pria juga wanita. Mereka berjilbab dan mengenakan rok. Tetapi toh tidak merasa rikuh atau terbatasi oleh busana, mereka terus merangsek tanpa segan secuilpun.

Perkampungan penduduk makin jarang semakin kami memasuki Bojongmanik. Hutan-hutan dan tegalan berisi pohon pisang dan jati serta tanaman keras lainnya mendominasi perbukitan. Jalanan berkelok-kelok dan sempit. Sesekali mobil melambat agar guncangan tidak terasa hebat bagi kami penumpang malang yang mabuk darat dalam perjalanan singkat 4 jam ini. Saya dengar Harry meminta antimo dari temannya yang mengaku tertidur pulas akibat obat itu. Saya pikir ajaib juga obat anti mabuk perjalanan itu bisa menidurkan orang selama perjalanan yang terasa kurang mulus.

Pukul 7:15. Sang surya masih berupa bulatan emas di ufuk timur. Kami sudah berada di sebuah pertigaan. Ke kiri, arah ke Baduy. Wisata budaya. Masih delapan kilometer lagi. Di samping kanan kiri, anak-anak menjerit menyambut kendaraan yang lewat. Mereka sudah mandi, berpupur lalu bersisir rapi dalam kondisi rambut setengah basah. Rumah-rumah telah membuka pintu. Sebagian terbangun dari batubata. Sisanya masih dari papan, kayu, dan bambu. Rumah panggung dari kayu juga masih dijumpai. Sebagai konsekuensi medan yang berkelok, penumpang terus terkocok-kocok. Agar risiko muntah itu dapat ditekan, saya menyengajakan diri untuk mengosongkan perut. Minum air ala kadarnya. Seteguk dua teguk. Menahan diri untuk menyedot air sepuasnya meskipun tahu bahwa tubuh perlu asupan air setelah semalam suntuk tak minum. Makanpun saya tunda. Setidaknya sampai kaki sudah menjejakkan di tempat tujuan sebelum mulai beryoga.

Sebuah sekolah kami lewati. Murid-muridnya menengok ke mobil kami. Yang perempuan duduk-duduk di warung panggung kecil yang masih tutup. Yang laki-laki berdiri agak jauh dari gerombolan lain jenisnya. Semuanya berpakaian pramuka karena ini hari Sabtu. Dan lain dari anak-anak ibukota yang sudah mengenal lima hari sekolah, mereka di sini masuk sekolah enam hari dalam sepekan. Sementara itu, dua anak laki-laki yang berpakaian olahraga berjongkok memisahkan diri mereka, di kedua tangan tersungging sebuah mangkuk. Mungkin mi instan yang mereka lahap di pagi yang sejuk ini.

Saya mulai mendapati penampakan orang Baduy yang berjalan kaki pada pukul 7:34. Mereka bertelanjang kaki dengan kecepatan melangkah yang cukup tinggi.

Sebuah gapura menyambut kami. Sebuah warung penjual pulsa mencantumkan “jual focer elektrik”. Sebuah bangunan berpapan nama “Alfamart” sedang diperbaiki. Riuh rendah beberapa tukang bekerja. Di sini memang sudah tidak kebal invasi waralaba.

Masuk melalui gapura desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, ada pelataran yang tata letaknya mirip suatu alun-alun saja. Empat patung ayah ibu dan dua anak berada di tengahnya. Lalu sekelilingnya adalah mobil-mobil wisatawan yang diparkir pararel.

Ada alasan kuat mengapa modernisasi menjadi semacam musuh yang harus diwaspadai sekaligus sekutu yang dielu-elukan di daerah semacam ini. Pertama dan yang utama ialah sampah plastik yang dihasilkannya.

Dari pelataran tersebut, kami pun melangkahkan kaki menuju jalur yang akan kami daki menuju ke perkampungan Baduy yang jaraknya lebih dari 10 km dengan medan yang naik turun.

Di sebelah kiri, sebuah bangunan sekolah berdiri. SDN 2 Bojongmenteng, demikian namanya menurut sebuah papan. Hari ini Sabtu tanggal 20 Mei 2017 adalah hari terakhir ujian akhir nasional di sana. Dan untuk menjaga ketenangan suasana, ditempelkan sebuah kertas berisi peringatan agar tidak gaduh. Tetapi kertas itu tidak bisa membungkam mulut-mulut murid yang kegirangan menyambut kedatangan kami yang menyumbangkan sejumlah buku anak-anak. Mereka keluar dari ruang kelas dan mengikuti kuis singkat yang kami adakan. Beberapa anak bahkan mau saja disuruh menyanyi lagu-lagu nasional dengan menghadap terik matahari.

Sebuah pertanyaan dilontarkan dua panitia rombongan Geo Tour kali ini, Johar dan Harry, untuk menambah kesemarakan suasana. Di antaranya ialah: ”Siapa yang tahu nama presiden Indonesia sebelum Jokowi?” Seorang anak laki-laki dengan mantap mengajukan diri sebagai penjawab. “Su… eh, SBY,” tukasnya agak gugup. Entah ia hendak mengatakan Sukarno atau Suharto atau Susilo lalu kebingungan dengan kepanjangan dua huruf setelahnya dan berpikir lebih aman menjawab dengan singkatannya saja.

Seorang ibu guru bergincu merah muda tipis dengan sandal pita pink yang sangat mencolok tampil membantu mengarahkan anak-anak didiknya sambil sesekali membetulkan jilbabnya. Ia menjadi perwakilan sekolah dalam menerima bantuan buku secara simbolis. (bersambung)