Anomali Bernama Baduy (9)

Stres kalau sudah urusan mandi! Karena di perkampungan Baduy Dalam, tidak ada kamar mandi tertutup buat kami. Foto ini diambil di perkampungan Baduy luar. (Foto: Tim Geo Tour)
Stres kalau sudah urusan mandi! Karena di perkampungan Baduy Dalam, tidak ada kamar mandi tertutup buat kami. Foto ini diambil di perkampungan Baduy luar. (Foto: Tim Geo Tour)

MCK. Tidak ada yang paling membuat stres di kampung Baduy ini bagi kami selain urusan ke belakang. Apapun kami bisa tahan tetapi soal mandi, cuci dan kakus, sebagian dari kami tidak bisa menolerir. Tidak bisa tidak, kami harus mandi tanpa bisa dilihat orang lain. Dan alternatifnya cuma dua: mandi sebelum atau sesudah semua orang mandi atau mandi di tempat yang agak jauh dari permukiman (yang sebenarnya juga tidak beratap juga jadi tidak sepenuhnya kebal pandangan mata manusia lain).

Sungai menjadi tempat kami melakukan segala aktivitas yang amat sangat pribadi tersebut. Dan ketiadaan pembatas menimbulkan rasa segan, rikuh, dan tertekan. Kegiatan mandi menjadi suatu perbuatan yang harus dilakukan dengan kewaspadaan yang tidak ada redanya dan kehati-hatian ekstra serta perasaan penuh curiga. Pandangan terus disebarkan ke sekeliling. Dan memikirkan kemungkinan pakaian hanyut atau hilang terbawa orang atau sengaja dibawa orang makin membuat kepala pening. Pertanyaan “bagaimana jika…?” yang terus menghantui membuat mandi cukup menguras tenaga dan pikiran.

Sebelum mandi, saya mengkondisikan diri agar dapat menganggap kegiatan mandi sebagai suatu aktivitas berenang bersama yang mengasyikkan. Karena di sana juga tidak boleh memakai sabun, jadi berenang dan mandi terlihat sama saja. Dan itulah yang saya saksikan dan pelajari dari anak-anak Baduy yang mandi di sungai. Mereka melakukannya dengan riang gembira. Sementara orang-orang tua melakukannya sebagai kewajiban. Dan orang-orang luar yang dengan angkuhnya merasa lebih maju dan modern seperti kami menganggap mandi di alam terbuka sebagai suatu kenistaan yang tidak patut dilakukan, sangat purba, menjijikkan, permisif dan sinting.

Jika kita mencermati tata letak zona permandian di sepanjang sungai ini menunjukkan pemikiran orang Baduy juga. Begini letaknya dari hulu ke hilir: zona atas, tengah dan bawah. Zona atas ialah yang paling dekat ke hulu dan khusus diperuntukkan bagi para tetua adat Baduy. Dua kali saya mandi di sungai, saya belum pernah sekalipun menemukan tetua adat mencelupkan tubuh di sana.

Zona tengah, yang dekat dengan jembatan penyeberangan, diakses khusus oleh para pria dan anak laki-laki. Di bawah jembatan tersebut, terdapat sebuah palung yang cukup dalam. Mungkin setinggi leher orang dewasa. Karena tidak dapat berenang dengan baik, saya hindari area ceruk dalam itu dan memilih menjauhi jembatan serta memilih berendam santai sambil menggosok tubuh dengan bebatuan yang ada di dasar kali.

Sementara itu di zona bawah, para perempuan dipersilakan membasuh tubuh. Dari sini kita bisa ketahui bahwa masyarakat Baduy bersifat patriarkis karena perempuan-perempuan Baduy segala usia harus rela menggunakan air sisa mandi dari para tetua (yang notabene juga pria) dan suami, saudara laki-laki, atau anak laki-lakinya. Bahkan air sisa mandi para pria pendatang yang tidak dikenalnya!

Sebetulnya jika kita mau berjalan lebih jauh lagi agak jauh dari permukiman, ada dua bilik tertutup yang bisa dipakai mandi. Tetapi tetap saja meskipun ada dinding jerami sebagai penghalang pandang, Anda akan mandi dengan menatap langit.

Sekembalinya ke Jakarta, kami mengobrol soal MCK. Ada yang mengaku menahan selama di perkampungan. “Sampai Jakarta, langsunggg!” katanya penuh kelegaan. Ada juga teman yang berhasil menyelesaikan ‘hajat’ di sana. “Pantas tidak ada sepagian,” seloroh seorang yang lain menyadari ketidakhadiran temannya di acara tur.

Saya sendiri bukan tipe orang yang bisa melampiaskan urusan pembuangan secara serampangan. Buang air kecil masih bisa diselesaikan dengan santai. Namun, soal buang air besar, sungguh sulit. Mungkin karena dehidrasi juga. Karena sepanjang perjalanan, keringat mengucur tanpa ampun.

Kebiasaan ke toilet atau kamar mandi sebelum tidur terasa jauh lebih mudah di rumah. Di sini, kami tidak bisa sembarangan ke kali di malam hari sebab medannya yang tidak rata dan siapa tahu ada satwa yang kehadirannya tak terduga dan bisa membuat celaka? Maka sebelum berangkat tidur, kami yang laki-laki secara berkelompok saling menjagai saat ingin kencing di malam hari. Baru kali ini, kami kencing berdiri, di tepi kali, lalu menjerit-jerit minta diterangi tetapi begitu disoroti, kami minta jangan terlalu diterangi. Intinya serba salah. Ingin melihat tetapi juga tidak ingin dilihat. Saya sendiri berdoa supaya tidak ada ular yang iseng berenang melintasi titik tempat kami bergerombol. Jika ada, tamatlah kami dipatuknya. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (8)

Anak-anak Baduy tidak diperkenankan orang tua mereka untuk mengenyam pendidikan formal. Tak cukup di situ, mereka tidak disarankan menjadi terlalu pintar. (Foto: Tim Geo Tour/ Jalan- Jalan Baik)
Anak-anak Baduy tidak diperkenankan orang tua mereka untuk mengenyam pendidikan formal. Tak cukup di situ, mereka tidak disarankan menjadi terlalu pintar. (Foto: Tim Geo Tour/ Jalan- Jalan Baik)

‘LARANGAN’ PINTAR. Menjadi cerdas seolah sudah menjadi ambisi dan impian masyarakat modern. Kita diajarkan untuk menjadi makhluk yang haus informasi dan ilmu pengetahuan. Di mana-mana, kalau ada waktu, membacalah, begitu nasihat yang sudah tertanam dalam benak kita. Terus belajarlah sampai ke negeri China, begitu bahkan petuah dari agama. Dari segala arah, manusia modern sudah dibentuk sedemikian rupa untuk terus bersaing dan menyempurnakan kecerdasan mereka.

Lain halnya dengan orang-orang Baduy, terutama Baduy Dalam. Alih-alih mendidik anak-anaknya agar sepintar mungkin, masyarakat Baduy lebih memilih untuk memberikan kesempatan belajar secukupnya dan membatasi agar jangan sampai terlalu cerdas.

“Karena saat seseorang terlalu pintar, ia bisa membohongi orang lain,” ujar jaro.

Saya termangu. Ada hal-hal yang dianggap sebagai penderitaan, atau ketertinggalan yang bukannya dihindari tetapi malah dipilih secara sadar dan tanpa paksaan oleh orang, atau dalam kasus ini, sekelompok orang. Dan saya tidak bisa menghakimi ini sebagai suatu kepandiran. Ini pilihan hidup mereka dan kita sebagai orang luar mestinya menghargai.

PERMUKIMAN. Permukiman orang Baduy tidak stagnan, atau sama dari waktu ke waktu. Seperti halnya masyarakat lain yang dinamis, permukiman Baduy juga terus berubah-ubah dalam banyak aspek. Mengenai jumlahnya, ternyata bisa terjadi pertambahan sesuai kebutuhan.

Satu rumah yang dibangun bisa berisi satu atau dua keluarga. Sebuah rumah yang saya tempati satu malam bersama teman-teman serombongan juga dihuni satu keluarga besar yang kebetulan adalah keluarga Damin, salah satu anak laki-laki yang turut berjalan kaki bersama kami membawakan barang bawaan. Di akhir pekan seperti sekarang mereka menyewakan ruangan luar rumah sederhana berdinding anyaman bambu dan beralas tikar anyam itu dengan traif sukarela. Jadi, kalau bisa dikatakan mereka mirip host di layanan AirBnB. Jumlahnya mungkin tidak seberapa jika dibandingkan penghasilan manusia urban tetapi toh jumlah sebesar itu bisa menghidupi sebuah keluarga dengan 8 anak seperti di keluarga ini.

Sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia, papan juga menjadi fokus penting dalam kehidupan masyarakat Baduy. Biaya pembangunan setiap rumah di perkampungan Baduy diperoleh dari si pemilik rumah. Mereka harus menyiapkan materialnya yang sebagian besar adalah bambu, kayu keras dan dedaunan. Namun, untuk tenaga, pemilik dibantu oleh warga lain juga dalam proses pendiriannya.

Yang unik, dalam bangunan rumah dan apapun di suku Baduy Dalam, penggunaan paku sama sekali dilarang. Sehingga yang kita bisa jumpai di rumah-rumahnya hanyalah pasak kayu atau penyusunan bahan yang lebih taktis untuk mengakali ketiadaan paku sebagai perekat antarelemen bangunan. Suku Baduy Luar lebih fleksibel perkara paku. Bangunan rumah mereka masih diperbolehkan memakai paku.

KEBERSIHAN DIRI. Salah satu sumber frustrasi para wisatawan urban di daerah ini ialah larangan tegas untuk menggunakan bahan-bahan pembersih badan dan rambut yang mengandung zat dan senyawa kimiawi buatan pabrik. Larangan tersebut bukannya tanpa alasan. Selain karena memang bungkus plastik kemasannya bisa menambah gunungan sampah plastik di alam terbuka, air bilasan dari penggunaan produk-produk perawatan semacam itu juga bisa mencemari lingkungan. Saya sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika larangan itu tidak ada, padahal sungai menjadi satu-satunya andalan kami dalam berbagai urusan mandi, cuci, sampai kakus!

Tetapi karena adanya larangan tegas tersebut, saya yang terbiasa mandi di ruangan tertutup dan air bersih yang sudah disedot sedemikian rupa dari dalam perut bumi, bisa juga menikmati sesi mandi di alam terbuka dengan air mengalir di permukaan tanah tanpa ada rasa cemas yang berlebihan jika ada kotoran atau hal-hal semacamnya. Air yang mengalir begitu bersih dan jernih serta alirannya konstan. Tidak ada kotoran yang tertahan. Jikalau ada butiran pasir atau tanah pun bisa dibilas lagi.

Sebagai pengganti shampo dan sabun, masyarakat Baduy memakai bahan-bahan alami dari dedaunan untuk membersihkan diri. Untuk pengganti sikat gigi, sang jaro mengatakan sabut kelapa bisa dipakai membersihkan gigi. Daun hejo juga dapat dipakai untuk mencuci rambut.

Perkara perapian rambut, masyarakat Baduy tidak mengenal gaya rambut yang bermacam-macam. Mereka juga tidak mengenal adanya profesi penata rambut (hair stylist) atau juru potong rambut (barber). Dalam pengamatan saya, pria-pria Baduy memilih membiarkan rambut mereka tergerai sepanjang telinga atau bahu. Tidak lebih dari itu. Sementara para perempuan memanjangkan dan memelihara rambut mereka sampai ke pinggang. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (7)

Suatu bentuk arogansi yang umum kita temui dan lakukan ialah menghakimi keterbelakangan atau kemajuan sebuah masyarakat dengan menggunakan standar kita sendiri. Padahal belum tentu yang kita anggap kemajuan itu diinginkan oleh masyarakat lain yang kita nilai. (Credit: Tim Geo Tour Baduy)
Suatu bentuk arogansi yang umum kita temui dan lakukan ialah menghakimi keterbelakangan atau kemajuan sebuah masyarakat dengan menggunakan standar kita sendiri. Padahal belum tentu yang kita anggap kemajuan itu diinginkan oleh masyarakat lain yang kita nilai. (Credit: Tim Geo Tour Baduy)

KEMAJUAN. Manusia memang saling memandang kondisinya masing-masing. Ada yang memandang kondisi orang lain dengan rasa iri. Ada pula yang memandang kondisi orang lain dan merasa kasihan lalu ingin membantu karena berpikir kondisi orang lain lebih malang darinya. Hanya saja, kadang bantuan itu dibutuhkan, kadang juga sama sekali tidak. Mengapa? Karena yang ditolong merasa sudah cukup atau bahkan malah ingin mempertahankan apa yang ia miliki.

Seperti saat kami menanyakan apakah selama ini ada orang luar yang ingin memberikan pendidikan bagi orang Baduy agar bisa “semaju” masyarakat luar. Tentu menurut standar orang perkotaan, standar hidup dan pendidikan suku Baduy kurang dari kata “layak”. Tetapi di sinilah kita perlu memberikan empati kita bahwa mereka sama sekali tidak menghendaki bantuan semacam itu. Karena dengan bantuan semacam itu, justru mereka merasa terusik dan terganggu sehingga mereka tercerabut dari akar budaya mereka yang sudah susah payah dilestarikan selama ini.

Sang jaro dengan nada datar dan sabar menjawab bahwa sudah sejak dulu kala telah dilarang bagi orang Baduy untuk menerima pendidikan formal dari pihak luar. Namun demikian, bukan berarti mereka sama sekali abai dengan pentingnya pendidikan. Suku Baduy masih memperkenankan anggota sukunya untuk memberikan pendidikan bagi anak-anaknya asal dilakukan oleh kalangan dalam sendiri. Hal ini untuk mencegah upaya “brainwash” yang kelak malah membuat budaya Baduy memudar dan punah.

Antipati semacam ini memang sangat bisa dipahami. Pendidikan adalah metode penyemaian benih-benih dari sebuah masyarakat budaya. Jika pendidikannya sudah menuju ke arah yang keliru, budaya dan masyarakat itu bisa dipastikan akan segera menjemput kepunahannya. Hal inilah yang juga terjadi pada suku Jawa yang menjadi bagian dari identitas saya juga. Dalam hal jumlah populasi, kita tidak meragukannya. Akan tetapi, dalam hal kelestarian budaya, banyak orang Jawa yang sudah hilang identitas Jawa-nya. Anak-anak muda Jawa masa kini telah susah berbahasa Jawa. Jangankan bahasa Jawa krama inggil, bahasa Jawa ngoko yang kasar pun sudah tidak lagi dikuasai dengan lancar. Belum lagi soal aksara. Berapa banyak orang Jawa yang masih bisa menuliskan aksara Jawa?

Meski tidak mengenyam pendidikan formal layaknya anak-anak di luar, anak-anak suku Baduy juga belajar menulis dan membaca serta berhitung. Hanya saja cara belajar mereka menurut sang jaro tidak di bangku sekolah tetapi membaca buku atau apapun yang ada tulisannya bahkan kardus kemasan pun bisa dijadikan materi belajar. Dengan kata lain, mereka tidak belajar dari orang tua tetapi diarahkan untuk belajar secara mandiri. Anak-anak Baduy diarahkan sebagai pembelajar otodidak yang gigih. Tidak hanya menganga meminta asupan dan suapan dari guru-guru. Mereka diperbolehkan untuk belajar apa saja, asalkan tidak di sekolah formal.

Karena itulah, warga Baduy bersikap tegas soal masuknya upaya ‘peningkatan dan pemerataan’ pendidikan di wilayahnya. Begitu ada orang asing (terutama warga negara asing) yang berusaha memasuki wilayah dengan tujuan ingin ‘mencerdaskan’ generasi mudanya, mereka akan segera menindak dengan tegas untuk mengeluarkannya segera. Para petinggi suku Baduy menjalin koordinasi dengan jajaran pemerintahan kelurahan atau kecamatan di Lebak untuk mengidentifikasi jika ada WNA yang masuk ke wilayahnya. WNA yang dimaksud ini juga termasuk orang-orang yang serumpun dengan bangsa Indonesia sendiri, seperti warga Melayu dari Malaysia sekalipun. (bersambung)