Anomali Bernama Baduy (9)

Stres kalau sudah urusan mandi! Karena di perkampungan Baduy Dalam, tidak ada kamar mandi tertutup buat kami. Foto ini diambil di perkampungan Baduy luar. (Foto: Tim Geo Tour)
Stres kalau sudah urusan mandi! Karena di perkampungan Baduy Dalam, tidak ada kamar mandi tertutup buat kami. Foto ini diambil di perkampungan Baduy luar. (Foto: Tim Geo Tour)

MCK. Tidak ada yang paling membuat stres di kampung Baduy ini bagi kami selain urusan ke belakang. Apapun kami bisa tahan tetapi soal mandi, cuci dan kakus, sebagian dari kami tidak bisa menolerir. Tidak bisa tidak, kami harus mandi tanpa bisa dilihat orang lain. Dan alternatifnya cuma dua: mandi sebelum atau sesudah semua orang mandi atau mandi di tempat yang agak jauh dari permukiman (yang sebenarnya juga tidak beratap juga jadi tidak sepenuhnya kebal pandangan mata manusia lain).

Sungai menjadi tempat kami melakukan segala aktivitas yang amat sangat pribadi tersebut. Dan ketiadaan pembatas menimbulkan rasa segan, rikuh, dan tertekan. Kegiatan mandi menjadi suatu perbuatan yang harus dilakukan dengan kewaspadaan yang tidak ada redanya dan kehati-hatian ekstra serta perasaan penuh curiga. Pandangan terus disebarkan ke sekeliling. Dan memikirkan kemungkinan pakaian hanyut atau hilang terbawa orang atau sengaja dibawa orang makin membuat kepala pening. Pertanyaan “bagaimana jika…?” yang terus menghantui membuat mandi cukup menguras tenaga dan pikiran.

Sebelum mandi, saya mengkondisikan diri agar dapat menganggap kegiatan mandi sebagai suatu aktivitas berenang bersama yang mengasyikkan. Karena di sana juga tidak boleh memakai sabun, jadi berenang dan mandi terlihat sama saja. Dan itulah yang saya saksikan dan pelajari dari anak-anak Baduy yang mandi di sungai. Mereka melakukannya dengan riang gembira. Sementara orang-orang tua melakukannya sebagai kewajiban. Dan orang-orang luar yang dengan angkuhnya merasa lebih maju dan modern seperti kami menganggap mandi di alam terbuka sebagai suatu kenistaan yang tidak patut dilakukan, sangat purba, menjijikkan, permisif dan sinting.

Jika kita mencermati tata letak zona permandian di sepanjang sungai ini menunjukkan pemikiran orang Baduy juga. Begini letaknya dari hulu ke hilir: zona atas, tengah dan bawah. Zona atas ialah yang paling dekat ke hulu dan khusus diperuntukkan bagi para tetua adat Baduy. Dua kali saya mandi di sungai, saya belum pernah sekalipun menemukan tetua adat mencelupkan tubuh di sana.

Zona tengah, yang dekat dengan jembatan penyeberangan, diakses khusus oleh para pria dan anak laki-laki. Di bawah jembatan tersebut, terdapat sebuah palung yang cukup dalam. Mungkin setinggi leher orang dewasa. Karena tidak dapat berenang dengan baik, saya hindari area ceruk dalam itu dan memilih menjauhi jembatan serta memilih berendam santai sambil menggosok tubuh dengan bebatuan yang ada di dasar kali.

Sementara itu di zona bawah, para perempuan dipersilakan membasuh tubuh. Dari sini kita bisa ketahui bahwa masyarakat Baduy bersifat patriarkis karena perempuan-perempuan Baduy segala usia harus rela menggunakan air sisa mandi dari para tetua (yang notabene juga pria) dan suami, saudara laki-laki, atau anak laki-lakinya. Bahkan air sisa mandi para pria pendatang yang tidak dikenalnya!

Sebetulnya jika kita mau berjalan lebih jauh lagi agak jauh dari permukiman, ada dua bilik tertutup yang bisa dipakai mandi. Tetapi tetap saja meskipun ada dinding jerami sebagai penghalang pandang, Anda akan mandi dengan menatap langit.

Sekembalinya ke Jakarta, kami mengobrol soal MCK. Ada yang mengaku menahan selama di perkampungan. “Sampai Jakarta, langsunggg!” katanya penuh kelegaan. Ada juga teman yang berhasil menyelesaikan ‘hajat’ di sana. “Pantas tidak ada sepagian,” seloroh seorang yang lain menyadari ketidakhadiran temannya di acara tur.

Saya sendiri bukan tipe orang yang bisa melampiaskan urusan pembuangan secara serampangan. Buang air kecil masih bisa diselesaikan dengan santai. Namun, soal buang air besar, sungguh sulit. Mungkin karena dehidrasi juga. Karena sepanjang perjalanan, keringat mengucur tanpa ampun.

Kebiasaan ke toilet atau kamar mandi sebelum tidur terasa jauh lebih mudah di rumah. Di sini, kami tidak bisa sembarangan ke kali di malam hari sebab medannya yang tidak rata dan siapa tahu ada satwa yang kehadirannya tak terduga dan bisa membuat celaka? Maka sebelum berangkat tidur, kami yang laki-laki secara berkelompok saling menjagai saat ingin kencing di malam hari. Baru kali ini, kami kencing berdiri, di tepi kali, lalu menjerit-jerit minta diterangi tetapi begitu disoroti, kami minta jangan terlalu diterangi. Intinya serba salah. Ingin melihat tetapi juga tidak ingin dilihat. Saya sendiri berdoa supaya tidak ada ular yang iseng berenang melintasi titik tempat kami bergerombol. Jika ada, tamatlah kami dipatuknya. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (8)

Anak-anak Baduy tidak diperkenankan orang tua mereka untuk mengenyam pendidikan formal. Tak cukup di situ, mereka tidak disarankan menjadi terlalu pintar. (Foto: Tim Geo Tour/ Jalan- Jalan Baik)
Anak-anak Baduy tidak diperkenankan orang tua mereka untuk mengenyam pendidikan formal. Tak cukup di situ, mereka tidak disarankan menjadi terlalu pintar. (Foto: Tim Geo Tour/ Jalan- Jalan Baik)

‘LARANGAN’ PINTAR. Menjadi cerdas seolah sudah menjadi ambisi dan impian masyarakat modern. Kita diajarkan untuk menjadi makhluk yang haus informasi dan ilmu pengetahuan. Di mana-mana, kalau ada waktu, membacalah, begitu nasihat yang sudah tertanam dalam benak kita. Terus belajarlah sampai ke negeri China, begitu bahkan petuah dari agama. Dari segala arah, manusia modern sudah dibentuk sedemikian rupa untuk terus bersaing dan menyempurnakan kecerdasan mereka.

Lain halnya dengan orang-orang Baduy, terutama Baduy Dalam. Alih-alih mendidik anak-anaknya agar sepintar mungkin, masyarakat Baduy lebih memilih untuk memberikan kesempatan belajar secukupnya dan membatasi agar jangan sampai terlalu cerdas.

“Karena saat seseorang terlalu pintar, ia bisa membohongi orang lain,” ujar jaro.

Saya termangu. Ada hal-hal yang dianggap sebagai penderitaan, atau ketertinggalan yang bukannya dihindari tetapi malah dipilih secara sadar dan tanpa paksaan oleh orang, atau dalam kasus ini, sekelompok orang. Dan saya tidak bisa menghakimi ini sebagai suatu kepandiran. Ini pilihan hidup mereka dan kita sebagai orang luar mestinya menghargai.

PERMUKIMAN. Permukiman orang Baduy tidak stagnan, atau sama dari waktu ke waktu. Seperti halnya masyarakat lain yang dinamis, permukiman Baduy juga terus berubah-ubah dalam banyak aspek. Mengenai jumlahnya, ternyata bisa terjadi pertambahan sesuai kebutuhan.

Satu rumah yang dibangun bisa berisi satu atau dua keluarga. Sebuah rumah yang saya tempati satu malam bersama teman-teman serombongan juga dihuni satu keluarga besar yang kebetulan adalah keluarga Damin, salah satu anak laki-laki yang turut berjalan kaki bersama kami membawakan barang bawaan. Di akhir pekan seperti sekarang mereka menyewakan ruangan luar rumah sederhana berdinding anyaman bambu dan beralas tikar anyam itu dengan traif sukarela. Jadi, kalau bisa dikatakan mereka mirip host di layanan AirBnB. Jumlahnya mungkin tidak seberapa jika dibandingkan penghasilan manusia urban tetapi toh jumlah sebesar itu bisa menghidupi sebuah keluarga dengan 8 anak seperti di keluarga ini.

Sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia, papan juga menjadi fokus penting dalam kehidupan masyarakat Baduy. Biaya pembangunan setiap rumah di perkampungan Baduy diperoleh dari si pemilik rumah. Mereka harus menyiapkan materialnya yang sebagian besar adalah bambu, kayu keras dan dedaunan. Namun, untuk tenaga, pemilik dibantu oleh warga lain juga dalam proses pendiriannya.

Yang unik, dalam bangunan rumah dan apapun di suku Baduy Dalam, penggunaan paku sama sekali dilarang. Sehingga yang kita bisa jumpai di rumah-rumahnya hanyalah pasak kayu atau penyusunan bahan yang lebih taktis untuk mengakali ketiadaan paku sebagai perekat antarelemen bangunan. Suku Baduy Luar lebih fleksibel perkara paku. Bangunan rumah mereka masih diperbolehkan memakai paku.

KEBERSIHAN DIRI. Salah satu sumber frustrasi para wisatawan urban di daerah ini ialah larangan tegas untuk menggunakan bahan-bahan pembersih badan dan rambut yang mengandung zat dan senyawa kimiawi buatan pabrik. Larangan tersebut bukannya tanpa alasan. Selain karena memang bungkus plastik kemasannya bisa menambah gunungan sampah plastik di alam terbuka, air bilasan dari penggunaan produk-produk perawatan semacam itu juga bisa mencemari lingkungan. Saya sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika larangan itu tidak ada, padahal sungai menjadi satu-satunya andalan kami dalam berbagai urusan mandi, cuci, sampai kakus!

Tetapi karena adanya larangan tegas tersebut, saya yang terbiasa mandi di ruangan tertutup dan air bersih yang sudah disedot sedemikian rupa dari dalam perut bumi, bisa juga menikmati sesi mandi di alam terbuka dengan air mengalir di permukaan tanah tanpa ada rasa cemas yang berlebihan jika ada kotoran atau hal-hal semacamnya. Air yang mengalir begitu bersih dan jernih serta alirannya konstan. Tidak ada kotoran yang tertahan. Jikalau ada butiran pasir atau tanah pun bisa dibilas lagi.

Sebagai pengganti shampo dan sabun, masyarakat Baduy memakai bahan-bahan alami dari dedaunan untuk membersihkan diri. Untuk pengganti sikat gigi, sang jaro mengatakan sabut kelapa bisa dipakai membersihkan gigi. Daun hejo juga dapat dipakai untuk mencuci rambut.

Perkara perapian rambut, masyarakat Baduy tidak mengenal gaya rambut yang bermacam-macam. Mereka juga tidak mengenal adanya profesi penata rambut (hair stylist) atau juru potong rambut (barber). Dalam pengamatan saya, pria-pria Baduy memilih membiarkan rambut mereka tergerai sepanjang telinga atau bahu. Tidak lebih dari itu. Sementara para perempuan memanjangkan dan memelihara rambut mereka sampai ke pinggang. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (5)

Pemandangan ini diambil di perkampungan Baduy Luar. Curug Kahyangan sendiri ada di dekat perkampungan Baduy Dalam yang masih jauh ke dalam hutan. (Credit: Cecep)
Pemandangan ini diambil di perkampungan Baduy Luar. Curug Kahyangan sendiri ada di dekat perkampungan Baduy Dalam yang masih jauh ke dalam hutan. (Credit: Cecep)

CURUG KAHYANGAN. Begitu kelas yoga rampung sekitar pukul 8 pagi, sebuah acara kuis diadakan untuk membagi-bagikan hadiah pada peserta Geo Tour. Sebagai materi kuisnya, sejumlah foto destinasi wisata di seantero negeri digunakan. Banyak foto yang saya tidak kenali. Saya harus lebih banyak berjalan-jalan di negeri saya sendiri, pikir saya. Pantas dari tadi beberapa anak-anak Baduy itu getol melihat-lihat gambarnya karena saya duga semua foto itu menunjukkan banyak hal yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya.

Matahari yang mulai meninggi membuat udara makin gerah sehingga sebagian besar peserta pria berniat untuk segera mencelupkan tubuh ke sejuknya air sungai Baduy. Dan rupanya mereka sudah merancang suatu rencana yang tidak sempat saya ketahui.

Saya sendiri, karena ketidaktahuan saya, malah melangkahkan kaki menuju sungai yang kemarin sore saya kunjungi. Sungai itu amat lengang. Begitu lengang hingga saya memicingkan mata ke setiap sudut tersembunyi untuk memastikan apakah benar-benar tidak ada orang yang bersama saya di sana. Saya sempatkan menebar pandangan ke segala penjuru sebelum melucuti pakaian. Kaos saya sangkutkan di pucuk bambu di pinggir kali. Jam tangan saya lepaskan di bebatuan di bawahnya. Jaket saya gantungkan di dahan pohon yang roboh dan mulai melapuk. Dua lagi yang saya bisa lepaskan: celana dan rasa malu.

Tetapi sebelum Anda berfantasi, izinkan saya berkomentar bahwa ternyata pekerjaan aktor atau aktris film porno dan model pakaian renang atau pakaian dalam tidak semudah yang kita bayangkan. Tidak terkira besarnya kepercayaan diri yang mesti dikumpulkan untuk bisa menanggalkan pakaian tanpa penyesalan.

Dan di sini saya tidak mau menyesal juga jika harus melewatkan kesempatan menikmati air sungai jernih yang melimpah ruah ini sendirian. Sebuah sungai yang detik itu, menit itu, dan sampai beberapa puluh menit kemudian, saya bisa monopoli untuk diri sendiri. Dan untuk memonopoli itu semua, saya tidak perlu mengeluarkan biaya.

Saya tidak mau membuang waktu. Sebelum ada orang lain, saya harus sudah memuaskan diri di sini. Saya pun mulai berjingkat di tepi sungai yang paling dangkal untuk mencicipi suhu airnya. Masih sejuk. Saya menengok ke atas, hanya terlihat daun-daun bambu yang melengkung, membentuk kanopi yang di sela-selanya masih memungkinkan berkas-berkas cahaya mentari jatuh hingga ke dasar sungai. Porsi sinar mataharinya yang sampai ke bawah terbilang pas sekali. Tidak begitu kebanyakan sampai terik, tidak begitu sedikit hingga tubuh menggigil.

Sebuah batu yang lebar terhampar di dasar sungai yang dangkal. Begitu lebar hingga saya dapat dengan nyaman merebahkan diri sepeti di sebuah ranjang raksasa, lalu di saat yang bersamaan saya membiarkan tubuh dialiri air sungai. Saya pejamkan mata lalu membiarkan tubuh dan pikiran istirahat sejenak dalam posisi savasana.

Sungguh seperti di kahyangan saja rasanya…

Saya ingin juga memuaskan diri dengan menjajal berenang di ceruk yang lebih dalam tepat di bawah jembatan. Namun, karena saat melangkah rasanya telapak kaki sakit sekali dihunjam bebatuan dalam berbagai ukuran di dasar kali, saya urungkan. Lagipula, saya ingatkan diri bahwa di sini tidak ada orang. Jika saya tidak bisa mengayuh ke tepian, bisa tamat riwayat saya.

Belum puas rasanya menikmati air sungai sejernih ini sendirian, saya teruskan menggosok tubuh dari ubun-ubun sampai ke ujung kaki. Saya hembuskan ingus keluar, berkumur-kumur, seolah ingin mengeluarkan segala kotoran yang ada saat itu juga.

Begitu saya mulai merasa menggigil, saya putuskan untuk menepi dan mengeringkan tubuh sesegera mungkin. Saya tidak mau mengakhiri liburan dengan sakit.

Entah berapa lama saya sudah di sana. Saya bahkan tidak terpikir untuk mengukur waktunya dengan menilik jam tangan. Pokoknya saya sudah puas. Itu yang terpenting rasanya saat itu.

Saya bergegas berpakaian kembali dan berkemas ke rumah tempat saya menempatkan tas. Beberapa saat kemudian saat saya duduk santai merenungi pengalaman mandi yang tiada tertandingi tadi, lewatlah rombongan teman-teman pria yang tadi ternyata antusias ingin menikmati sebuah curug (air terjun) yang disebut Curug Kahyangan.

Anehnya, mereka kembali dalam keadaan masih berkeringat dan kering kerontang. Usut punya usut, curug yang diklaim indah dan permai itu baru mengalami musibah kekeringan akut. Alhasil, debit airnya menipis hingga hanya sanggup “membasuh sandal dan telapak kaki”, demikian pengakuan seorang teman yang begitu kecewa.

Tiba-tiba saya merasa beruntung bisa mandi dengan bebas tadi. Tiba-tiba terbetik pemahaman bahwa saya tadi memiliki sebuah curug pribadi. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (4)

Di tepian sungai inilah kami beryoga bersama setelah menyelesaikan leg pertama trekking yang ternyata masih panjang. (Credit: Machfud Achyar)
Di tepian sungai inilah kami beryoga bersama setelah menyelesaikan leg pertama trekking yang ternyata masih panjang. (Credit: Machfud Achyar)

YOGA. Hari pertama pukul 11-12 siang kami melakukan yoga di dekat sungai yang dilintasi sebuah jembatan bambu yang didirikan dengan rancangan yang tiada duanya. Jembatan bambu Gajeboh ini adalah sekumpulan bambu yang disatukan dengan tekun dan teliti memakai tali ijuk pohon aren. Ia membentang sekitar 20 meter menyatukan dua tepi sungai Ciujung. Konon konstruksi ini dibangun dengan gotong royong warga Baduy Luar.

Tidak ada logam apalagi paku dan baut serta mur untuk saling menggabungkan elemen-elemennya. Hanya elemen-elemen organik dari alam yang ada. Selain bambu, pengikatnya hanya serabut berwarna hitam yang juga dipakai sebagai atap rumah yang dipilin sedemikian rupa sehingga berbentuk tali yang besar dan kokoh. Para pelintas jembatan yang baru pertama kali pastinya merasa miris tetapi saya pikir itu karena kebiasaan mereka yang sudah terbiasa menapak di beton yang diam dan kokoh sehingga saat menyadari bambu yang mereka injak berayun-ayun, mereka panik, seakan tidak percaya dengan kekokohan desain dengan material alami ini. Padahal alam itu dapat diandalkan lebih daripada yang kita kira.

Matras-matras yoga berwarna-warni digelar di salah satu tepi sungai yang disatukan jembatan tersebut. Saya di tengah dengan pandangan menghadap ke aliran sungai yang gemericiknya terdengar lirih tersamar keriuhan suara para wisatawan lokal di akhir pekan seperti sekarang. Keramaian memuncak di hari Sabtu dan Minggu sehingga membuat perkampungan menjadi lebih hingar bingar.

Karena baru saja kami melalui jalur trekking yang begitu menantang, fokus latihan pun saya berikan pada area bahu, leher, punggung, sepanjang tulang belakang dan seluruh daerah pinggul yang mendapatkan tekanan dari beban-beban berupa barang bawaan dan tas-tas berat.

Kami berangkat lagi dari perkampungan Baduy Luar setelah makan siang serta salat zuhur. Pukul 1 siang, kami pun melangkahkan kaki untuk melanjutkan kembali perjalanan yang ternyata masih jauh. Beberapa gambar masih bisa diambil di titik ini karena meskipun kami sudah masuk ke perkampungan Baduy, ini baru wilayah Baduy Luar, yang dikenal lebih terbuka dan lebih moderat dalam menyambut pengunjung luar. Penggunaan alat-alat komunikasi dan elektronik masih diperkenankan. Meski demikian, saya enggan juga menyentuh alat-alat simbol keterhubungan – dan keterikatan – dengan dunia modern. Saya ingin menenggelamkan diri dalam kehidupan mereka tanpa komunikasi virtual dan digital. Setidaknya dalam 2 hari ini. Diet digital ini ampuh untuk mengurangi tingkat ketergantungan manusia modern perkotaan yang kerap cemas dan merasa tidak berdaya tanpa gawai-gawainya. Saya ingin memberikan gawai itu pada porsinya kembali, bahwa mereka tidak bisa menentukan suasana hati saya. Bahwa perangkat-perangkat itu hanyalah kepanjangan dari diri saya, bukan bagian dari diri saya. Jadi, jika saya tidak memakainya, saya masih merasa utuh, tidak merasa ada yang kurang dan perlu untuk dilengkapi.

Beryoga di tepi sungai seperti ini menyuguhkan suatu sensasi berbeda dari beryoga di studio bahkan di taman kota sebagaimana yang saya kerap lakukan di Jakarta. Perbedaan itu begitu subtil, halus, sampai saya kehilangan kemampuan untuk menggambarkannya dengan kata-kata yang tertata. Yang pasti, inilah bedanya beraktivitas di tengah lansekap yang sudah penuh rekayasa dan lansekap yang relatif masih terjaga kemurniannya dari intervensi manusia.

Keesokan paginya latihan yoga bersama kami adakan juga di halaman antarrumah yang sebetulnya tidak seberapa lapang. Permukaan sebidang tanah mungil itu lebih rata dan kering dibandingkan halaman yang lebih luas tetapi permukaannya lebih penuh bebatuan dan basah.

Beryoga di ruang terbuka semacam ini memang memerlukan konsentrasi ekstra agar pikiran bisa lebih terfokus. Begitu banyak potensi distraksi, yang jika dipikir-pikir akan menjadi tantangan tersendiri.

Kelas kami pagi itu mulanya berlangsung khidmat. Kami memulai dengan pikiran yang tenang. Saya sendiri harus menempatkan diri di beranda sebuah rumah yang posisinya lebih tinggi dari sekitarnya, seolah membuat saya memiliki sebuah panggung khusus untuk melakukan demonstrasi yoga. Ian, seorang peserta, saya daulat sebagai peraga juga.

Semua berjalan lancar tanpa kendala…

Hingga sekonyong-konyong entah dari arah mana seekor ayam jantan merangsek masuk ke tengah para peserta yang sedang asyik masyuk melakukan yoga. Belum cukup, seekor ayam jantan lainnya mengikuti temannya (atau lawannya?) lalu bertarung sengit di tengah-tengah halaman, seakan tidak peduli ada sejumlah peserta yang kalang kabut dan panik tidak tertahankan karena ketakutan terkena taji dan patukan.

Menyaksikan insiden itu, saya sempat kebingungan apakah harus tertawa menikmati ini semua atau mengusir dengan keji kedua satwa yang sejatinya tidak tahu apa-apa. Dan sebelum kelas yoga saya kocar-kacir dan bubar sebelum waktunya, untunglah ayam-ayam jantan itu sudah berpindah dari arena persabungan yang tidak sepatutnya. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (3)

Menyusuri suasana perkampungan Baduy Luar sebelum mendaki Tanjakan Cinta. (Credit: Cecep)
Menyusuri suasana perkampungan Baduy Luar sebelum mendaki Tanjakan Cinta. (Credit: Cecep)

TANJAKAN CINTA. Tiap tanjakan membuat jantung saya bekerja lebih keras. Pemandu kami, Teguh, mengatakan akan ada “Tanjakan Cinta” yang tiada ampun sudut kemiringannya. Ia berusaha menyiapkan mental kami rupanya. Saya sendiri tidak ingin berceletuk untuk memberikan komentar dan keluhan. Sebab semakin banyak berkomentar, makin terasa berat. “Terus saja jalan!” hardik saya pada diri sendiri.

Matahari siang makin condong ke barat tetapi teriknya sungguh di luar dugaan. Aktivitas fisik yang intens ini ditambah sengatan matahari membuat tenaga saya terasa terperas habis-habisan. Napas tersengal. Baju sudah kuyup.

Tanjakan demi tanjakan terlewati. Hingga saya tiba juga di tanjakan maut itu. Tidak salah jika ia dinamai Tanjakan Cinta sebab saat siapa saja menaikinya dengan kedua kaki (memang hanya kaki saja yang bisa menempuhnya, tidak ada kendaraan atau alat lain yang bisa), jantung akan berdegup kencang. Bukan karena jatuh cinta tetapi karena jantung diinstruksikan untuk memompa darah semaksimal mungkin ke seluruh tubuh untuk memberi tenaga pada tubuh agar sampai di atas tanjakan. Ditambah dengan adrenalin yang terpicu karena rasa cemas jika terpeleset atau pijakan kami runtuh atau pikiran-pikiran buruk lain (pingsan atau lemas mendadak di tengah tanjakan, misalnya), pendakian Tanjakan Cinta seakan menjadi puncak perjuangan trekking setengah hari ini.

Dalam kondisi semacam itu memang semestinya terus memfokuskan diri pada apa yang harus dijalani. Bukan malah berpikir yang tidak-tidak. Memberikan ruang bagi pikiran yang negatif untuk berkembang malah menyurutkan semangat dan membuat kita mudah menyerah. Jadi, saya terus mendaki saja dengan tas punggung yang lumayan berat dan mat yoga yang saya harus bawa di salah satu tangan. Satu tangan yang lain akan saya tugasi meraih apapun yang bisa saya genggam jika terpeleset. Lagipula saya tidak mendaki sendirian. Di bawah masih ada teman yang bisa menolong saya.

Matahari tidak memudarkan pancarannya. Saya memandang ke tanah yang saya pijak hanya untuk menyaksikan keringat ini menetes dari dahi langsung ke tanah, seperti tetesan air hujan.

Saya terus mendaki. Otot-otot kedua tungkai saya terus berdenyut. Lalu saya entah bagaimana bisa mendengarkan denyut jantung saya sendiri di telinga. Ini sungguh menakutkan. Rasanya jantung saya hampir meletus. Jika cinta bisa membuat hati meletus karena lika-likunya yang tiada bisa ditebak makhluk yang fana seperti manusia, tanjakan satu ini saya pikir bisa sungguh-sungguh membuat jantung saya meletus juga. Dan meletus di sini yang saya maksudkan benar-benar meletus karena dipaksa memompa darah sekencang mungkin. Saya terus mendaki dengan berhati-hati. Lengah sedikit, bisa berakibat panjang.

Entah ada berapa jumlah pijakan tanah yang ada di Tanjakan Cinta itu. Tetapi jumlahnya rasanya banyak  dan merayap panjang ke atas. Saya terus mendaki dengan segenap kekuatan yang tersisa. Niscaya habis ini napas seketika.

Sampai di atas tanjakan, saya hanya bisa bernapas lega. Beberapa teman yang berhasil naik juga dalam waktu yang kurang lebih bersamaan dengan saya berjuang mendapatkan napas mereka kembali. Wajah mereka sudah merona tidak karuan, gradasi antara kecokelatan tertimpa sinar matahari dan keringat yang membuat kulit berkilauan dengan semburat merah karena derasnya darah mengalir ke seluruh penjuru tubuh untuk menyuplai oksigen.

Kami sibuk mencari tempat untuk beristirahat begitu kami tahu masih ada rombongan lain yang juga sedang mencari hawa sejuk dan rehat sejenak di atas bukit. Sebuah pondok berdiri di tempat itu dan menjadi pit stop bagi kami yang ‘sekarat’ ini.

Sementara itu, anak-anak Baduy tadi hanya berdiri tegak sambil tetap memanggul bawaan orang-orang kota yang tak biasa mengeluarkan banyak tenaga. Mereka memang masih berkeringat dan sedikit lelah tetapi tidak banyak ekspresi yang terpasang di mimik muka. Semua sudah begitu biasa bagi mereka.

“Aceng, duduk!” imbau salah satu dari kami padanya. Yang dipanggil diam saja, seraya melempar pandang sejauh hamparan di bukit-bukit yang ada di bumi Lebak, provinsi Banten ini. Berdiri diam di bawah lindungan pohon besar sudah bermakna istirahat baginya. Tak perlu duduk lalu meluruskan kaki, mengipasi badan, atau membeli minuman dingin.

Tanjakan Cinta resmi saya taklukkan. (bersambung)