“Oostindisch doof zijn”

IDIOM satu ini memiliki riwayat yang panjang dalam sejarah Belanda yang berkaitan dengan Indonesia. Secara harafiah, maknanya ialah “pura-pura tidak mendengar ala Hindia Timur”.

Idiom ini berasal dari masa lampau saat Indonesia masih menjadi jajahan Belanda yang bernama resmi Hindia Timur (Ooost Indie). Mereka menganggap Indonesia sebagai bagian dari kerajaan Belanda hingga 1949, kata tutor yang mengajarkan saya dari Belanda itu.

Kenapa 1949? Bukankan kita bangsa Indonesia sudah menyatakan proklamasi kemerdekaan di tahun 1945. Ternyata mereka menghitung masa kemerdekaan kita dari sejak kekalahan agresi militer, bukannya dari proklamasi kemerdekaan pasca kekalahan Jepang di Perang Dunia II.

Idiom ini muncul dari kejengkelan para pemimpin bangsa Indonesia yang kala itu harus menghadapi dan berdebat dengan para pejabat Hindia Belanda. Mereka kerap menemui jalan buntu saat harus berkomunikasi dengan perwakilan Belanda yang berpura-pura tidak memahami mereka tetapi sebetulnya mereka paham dan tahu benar duduk permasalahan keluhan bangsa Indonesia. (*)

Hoer VS Huur

Salah satu yang guyonan tentang bahasa yang paling populer ialah kesalahan pengucapan oleh pembelajar bahasa asing yang memicu kesalahpahaman penutur asli. Dalam bahasa Belanda ada juga lelucon semacam itu.

Mevrouw Ita yang menggantikan Meneer Tonny yang entah kenapa absen sore itu menerangkan pentingnya pelafalan yang baik agar kami tidak terjebak dalam kesalahan yang menggelikan. Wanita itu berkacamata dengan warna hitam dan elegan. Rambutnya sebahu dan warnanya legam dan berkilau. Saya curiga ia mengecatnya secara rutin.

“Jadi hati-hati kalau mau mengucapkan ‘huur‘ dan ‘hoer‘ ya…,” pintanya. Ia tak menjelaskan pada kami arti kedua kata itu secara langsung.
.
Mevrouw Ita meraih spidol dan mulai menulis. Begitu kelar ( yang merupakaan serapan dari ‘klaar‘ yang artinya selesai), ada dua kalimat di papan tulis:
– Ik betaal de huur.
– Ik betaal de hoer.

Yang pertama, jelas Mevrouw Ita, maknanya lebih beradab. Yang kedua seperti sebuah pengakuan dosa.

Ia melanjutkan:”Bedakan pengucapan keduanya. Jika tidak, Anda bisa kehilangan muka.”

Kata ‘huur’ berasal dari kata kerja dasar ‘huren‘ yang artinya menyewa. Mevrouw Ita secara samar menyebut arti ‘hoer’ sebagai pekerja seks – bukannya teks – komersial. Otak saya mencari-cari padanan katanya dalam kosakata dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Ah, pasti kata ‘whore’. Sejumlah kata bahasa Belanda memang mirip dengan bahasa Inggris tetapi lain pengejaannya.

Mevrouw Ita melanjutkan,”Kalimat pertama artinya ‘saya membayar sewa’ dan kedua ‘saya membayar pelacur’.

Kata-kata kotor semacam ini entah kenapa langsung menancap dalam ingatan tanpa banyak upaya. Begitu juga dengan kata-kata umpatan dalam bahasa kumpeni seperti “je moeder” (mbokmu), “kuss mijn kont” (kiss my ass), “hoerenjong” (son of a bitch), “godverdomme” (goddamit), “moederneuker” (mother fucker), “schijt” (shit) dan sebagainya. Semua kata kata kotor itu tentu tidak diberikan oleh Mevrouw Ita yang anggun dan sopan itu di depan kelas. Saya mencarinya sendiri. Dengan penuh semangat. (*)

Beetje Bij Beetje

Di dunia bahasa, dikenal citra-citra subjektif juga. Pernah saya membaca bahwa bahasa Rusia lekat dengan kesan jantan. Apakah karena Putin sang presiden dikenal sebagai duda yang sangar dan kerap berkuda bertelanjang dada sebagaimana pernah ditangkap kamera pekerja media? Entahlah. Lalu bahasa Prancis lebih diasosiasikan dengan femininitas. Mungkin karena pelafalannya yang sulit dan rumit, mengharuskan lidah dan bibir bermanuver sedemikian rupa sampai terpilin-pilin tanpa ampun. Bahasa yang seksi, kata orang. Tapi sumber frustrasi bagi saya.
.
Beetje bij beetje,” tulis guru bahasa Belanda saya yang berasal dari kota yang berlokasi tepat di garis khatulistiwa itu di papan tulis. Maknanya mirip “little by little”, sedikit demi sedikit. Lalu kami diinstruksikan menirunya,”Beice bei beiceee..”
.
“Ya ampun, lenjeh banget rasanya mengucapkan frasa satu ini,”komentar saya secara spontan. Tentu dalam volume suara terkendali agar tak menarik perhatian Tonny, guru kami.
.
Seorang teman di sebelah saya mendengar dan menukas dengan nada sepakat:”Lhah, kan emang bahasa bencong-bencong nyerap banyak bahasa Belanda! Ik, jij!”
.
Saya mengiyakan dalam hati juga jawabannya lalu tergoda membayangkan citra apa yang bisa dilekatkan dengan bahasa Indonesia. Bahasa tanpa perubahan kata kerja berdasarkan waktu dan subjek, tanpa variasi kata ganti orang, hewan dan benda baik yang maskulin, feminin (saya stres kalau melihat orang mengeja “feminim”).
.
Dan sebelum saya menemukan jawabannya, Tonny menyebut nama saya saat mata saya asyik menerawangi langit-langit ruangan yang pendek sambil membayangkan betapa tersiksanya orang-orang Belanda yang jangkung-jangkung itu jika di dalam sini. Ia sekonyong-konyong menunjuk gambar Barack Obama di layar samping papan tulis.
.
“Wat is zijn naam?” tanyanya tajam pada saya, seolah-olah dirinya seekor macan tutul yang sukses menangkap seekor kijang yang sedang lengah-lengahnya.
.
Gelagapan saya menjawab,”Beetjeee… Uhh ohh, Obama, meneer!”

Nederlands Is Makellijk

NEDERLANDS is makellijk, tulis meneer Tonny dengan huruf besar di papan tulis yang lebar, putih, dan mulus itu. Kalimat itu saja yang ia tegaskan untuk mencuci otak kami agar semangat tidak keropos di tahap awal belajar bahasa kompeni ini. “Nederlands is makeuleuk,” ucap kami serempak menirukan.
.
Ia katakan kelebihan bahasa Belanda dari bahasa Inggris ialah pengucapannya yang apa adanya. Apa yang tertera, dibaca saja, tuturnya. Tetapi saya sangkal pernyataannya dalam hati,”Kalau mudah, kenapa orang Indonesia merasa lidah mereka kaku saat membaca tulisan Belanda?” .
.
Namun, itulah enaknya belajar bahasa, yang tak masuk dalam ranah eksakta. Semuanya relatif, suka suka. Anda bisa mengajukan klaim mudah dan menambahkan pengecualian. Dan pengecualian itulah yang tak bisa dipahami secara logis dan susah dipahami dan dihapalkan.
.
Semangat belajar memang penting untuk dipelihara selama perjalanan mencari ilmu. Sebab tidak semua fase belajar itu menyenangkan untuk dijalani.
.
Tetapi seorang teman mengatakan, bahasa bekas penjajah ini susah. Begitu susah, sampai novelis termasyhur Eka Kurniawan bertekuk lutut saat mengikuti kursus ini.
.
Berkali-kali meneer Tonny mengajukan bukti pendukung pernyataannya bahwa Nederlands is makellijk (bahasa Belanda itu mudah). Disuruhnya kami mengajukan contoh kata-kata dalam bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa ini, dari verboden (terlarang), kraag (krah), tas, handoek (handuk), korsluit (korslet), koelkast (kulkas), pootlood (pensil/ potlot), kantoor (kantor), fiets (pit, bahasa Jawa), om, tante, dan daftarnya tak habis-habis.
.
Sayangnya panjangnya daftar itu cuma menunjukkan besarnya cengkeraman mereka pada bangsa ini, bahkan di luar urusan politik dan kenegaraan. Sementara itu, pengaruh bangsa (yang kuantitasnya) besar yang (berdaya saing) ‘kecil’ ini relatif sangat rendah pada mereka. Buktinya, susah sekali menemukan kata-kata bahasa Indonesia yang diserap oleh penutur Belanda.
.
Di antara yang langka itu, meneer Tonny menyebut beberapa. Pertama, kata “pienter” yang diserap dari bahasa kita. Artinya juga sama dengan kata “pintar” yang kita sering pakai.
.
Lalu ada juga “piekeren”, yang kata meneer Tonny, memiliki makna “memikirkan sesuatu”. Setelah itu, meneer Tonny beralih topik. Sudah kehabisan contoh atau karena ingin fokus ke topik selanjutnya.
.
Saya manggut-manggut, dengan mata tidak berani menerawang liar ke mana-mana agar tidak ditunjuk saat lengah lagi.
.
Sambil menancapkan mata ke depan agar tetap terlihat memperhatikan, saya terus berpikir. Mau sebanyak apapun jumlah penutur bahasa Indonesia tetap tidak bisa dimasukkan menjadi kelompok bahasa berpengaruh di dunia. Salah satu sebab utamanya pengaruh Indonesia yang masih lemah di konstelasi pergaulan bangsa-bangsa. Dan salah satu aspek yang bisa diukur untuk menentukan tingkat pengaruh suatu bangsa di lingkaran global ialah banyaknya kata-kata dalam bahasa mereka yang dipinjam dari bahasa lain. (*)

Pusat Penerjemahan Sastra: Impian Eliza Vitri Handayani, Penerjemah dan Masyarakat Sastra Indonesia

Dari kiri ke kanan: Penerjemah David Colmer, penggagas InisiatifPenerjemahanSastra.org Eliza Vitri Handayani, penerjemah Kari Dickson dan penerjemah bahasa Inggris-Norwegia Kate Griffin

Saat saya masuki aula besar di atas galeri seni di Erasmus Huis Sabtu pukul 7 lewat 15 menit malam kemarin (13/10/2012), suasana khidmat terasa. Ruangan yang besar tersebut tidak terisi penuh. Kursi di bagian depan cuma terisi satu dua orang. Hampir setahun lalu saya juga pernah berada di sini, untuk menonton film pemenang ajang SBM Golden Lens Award di bulan November 2011. Sangat berkesan.

Malam kemarin juga tak kalah berkesan. Saya bertemu teman yang selama ini hanya bersua secara virtual di Facebook dan blog, Dina Begum. Teman-teman baru sesama penerjemah juga banyak bertebaran di seantero ruangan sampai saya bingung harus memilih meredam gesekan usus yang masih kosong atau berkenalan dengan sebanyak mungkin orang di kesempatan langka malam itu. Cuma sempat berkenalan dengan Budi Suryadi yang membuat kami tergelak dengan lelucon angsa dan kuda nil di tengah danau dan Asep Gunawan yang mengira saya masih lulusan  baru.

Eliza Vitri Handayani malam itu membuka acara pembacaan hasil penerjemahan karya sastra penulis Gustaaf Peek dari Belanda dan Kjesrti A. Skomsvold dari Norwegia. Wanita muda penggagas InisiatifPenerjemahanSastra.org itu menyampaikan pidato pembukaan dengan fasih di hadapan peserta lokakarya penerjemahan sastra yang telah berlangsung selama 5 hari sebelumnya, para pembicara dan sejumlah pemerhati dunia penerjemahan di tanah air. Kalangan penerbit dan badan lain yang menaruh minat pada penerjemahan juga menyempatkan hadir.

Eliza tampak sibuk melayani percakapan dengan tamu lain sehingga saya harus berpikir beberapa kali untuk menemukan cara menyela obrolannya dengan orang lain. Terus terang saya bukan orang yang suka menyela. Itu salah satu hal yang paling tidak berbudaya menurut saya.  Dan sekonyong-konyong, saya terkejut saat Eliza menghampiri saat saya menundukkan pandangan untuk berfokus pada makanan di piring yang sudah hampir tandas. Mungkin ia dengan sengaja menghampiri semua orang di ruangan ini. Peluang emas, pikir saya. Saya bombardir saja dengan pertanyaan-pertanyaan spontan. Inilah cuplikan singkat wawancara impromptu saya dengan Eliza.

 

Apa tujuan utama diadakannya lokakarya ini?

Tujuannya sebagai alat pengembangan kompetensi penerjemah. Berdasarkan wawancara dengan penerjemah, editor dan penerbit, saya temukan 3 kendala utama dalam dunia penerjemahan di tanah air yakni: kompetensi penerjemah, kondisi kerja di penerbitan, dan rendahnya apresiasi terhadap karya terjemahan. Dan tahun ini tujuan acara ini (lokakarya penerjemahan di Erasmus Huis) adalah untuk memecahkan masalah-masalah tersebut. Pertama, meningkatkan kompetensi penerjemah dengan mengadakan lokakarya, seminar, membahas kondisi kerja dan acara umum seperti ini untuk mengangkat profil penerjemah. Apalagi mereka jarang diundang. Jika diundang pun, penerjemah jarang diberikan kesempatan berbicara di depan. Di sini, mereka diwawancarai dan diberikan kesempatan berbicara.

Orang juga perlu menyadari bahwa proses penerjemahan karya sastra itu tidak hanya baca karyanya lalu mengetik, atau menbuka kamus dan tinggal memasukkan arti kata. Prosesnya sangat rumit.

Ada alasan khusus mengapa memilih karya sastra dari Norwegia dan Belanda untuk lokakarya tahun ini?

Sebenarnya bisa dari mana saja karena kebetulan saya tinggal di Norwegia separuh tahun dan (kita memilih) Belanda karena kita memiliki hubungan sejarah yang kuat dan dukungan praktisnya juga karena mereka juga memiliki lembaga tersendiri untuk mendukung penerjemahan karya-karya sastra mereka.

Apakah benar apresiasi terhadap hasil penerjemahan karya sastra lebih rendah dibandingkan terhadap karya aslinya?

Saya pikir tidak. Hanya banyak yang kurang percaya dengan terjemahan bahasa Indonesia sebab banyak orang berpikir dengan kemampuan berbahasa Inggris sedikit, orang sudah bisa menerjemahkan, banyak buku yang tidak diedit, penerbit cuma mengejar tenggat waktu untuk merilis buku, dan banyak pembaca yang bisa membaca bahasa Inggris. Jadi mereka tidak percaya dengan hasil terjemahan dalam bahasa Indonesia.

Mengapa memilih karya Gustaaf Peek?

Ada berbagai pertimbangan yang tidak hanya dari kita tetapi juga dari donor. Gustaaf belum menerjemahkan karyanya ke bahasa Inggris, kita ingin karyanya bisa diterjemahkan ke bahasa Inggris dan lainnya. Dan karena karyanya menarik.

Dalam lokakarya dilakukan penerjemahan secara relay (dari bahasa Norwegia –> Inggris –> Indonesia). Apakah dengan cara ini risiko kesalahan justru akan makin tinggi?

Betul, biasanya memang demikian. Tapi kita berusaha mengatasi itu dengan mendatangkan penulis aslinya dan penerjemah asal. Saya dengan berat hati mengadakan penerjemahan relay tetapi tidak merekomendasikan relay translation tanpa partisipasi penerjemah pertama.

Apakah nanti jika penerjemah Indonesia membutuhkan bantuan untuk menghubungi penulis atau penerjemah pertama, apakah akan dibantu?

Ya, jika kami nanti sudah menjadi sebuah pusat penerjemahan sastra di Indonesia. Sekarang pun jika kami bisa membantu, akan kami bantu.

Seberapa perlu penerjemah karya sastra memahami konteks sosial budaya yang menjadi latar belakang karya sastra?

Itu juga perlu, seperti tadi saat membahas keadaan cuaca di Norwegia yang tidak bisa ditemui di Indonesia. Unsur pakaian juga. Dengan menghadirkan penulis, kita bisa mengetahui semua itu, bagaimana rasanya memakai pakaian itu.

Itu kalau penulisnya masih ada, jadi proses penerjemahan lebih lancar karena masih bisa berdiskusi. Bagaimana jika penulisnya sudah meninggal?

Tujuan lokakarya ini bukan supaya kita menjadi lebih tergantung pada penulis. Kita tidak selalu memiliki kesempatan untuk bertukar pikiran dengan penulis. Ini hanya sebagai cara untuk membaca teks lebih dekat. Karena penulis juga sebisa mungkin ingin memasukkan semua yang ingin ia sampaikan ke dalam teks.

Untuk tahun-tahun mendatang, apa yang akan dilakukan setelah penyelenggaraan lokakarya penerjemahan karya sastra ini?

Kita memiliki ide untuk memberikan penghargaan bagi buku terjemahan karya sastra terbaik karena belum ada yang khusus mengapresiasi terjemahan sastra sampai sekarang. Padahal itu ada prosesnya dan seninya sendiri.

Kira-kira kapan realisasinya?

Pinginnya tahun depan.

Sudah melobi pihak apa saja untuk realisasi ini?

Rahasia dulu deh. Haha.

Tapi secara umum, apakah antusiasmenya sudah ada terhadap apresiasi terjemahan karya sastra?

Sudah. Secara umum saja, dari Festival Sastra. Sebab itu pesta, kita memberi anugerah untuk merayakan pencapaian jadi alangkah baiknya kalau di Festival Sastra. Jadi akan ada banyak penonton sehingga suasananya meriah. Pihak lain ialah organisasi yang tertarik dalam bidang penerjemahan, media yang banyak bergerak di bidang penerjemahan.

Apakah tahun depan diadakan lagi lokakarya seperti ini?

Sedang direncanakan. Kalau bisa dari bahasa-bahasa Asia.

Apakah ada rencana untuk memberikan lokakarya tetapi yang melibatkan bahasa-bahasa lain yang tidak sepopuler bahasa Inggris?

Ada. Tantangannya akan lebih sulit mencari pesertanya. Tetapi itu memang harus ditumbuhkan seperti misalnya yang sekarang di lokakarya yang langsung dari bahasa Belanda, kan kebanyakan dosen atau pengajar bahasa dan itu memiliki kesulitan sendiri karena mereka belum tentu memiliki kemampuan menulis yang baik tapi di sisi lain kita harus tumbuhkan minat mereka untuk menerjemahkan karya sastra Belanda.

Bagaimana dengan kualitas para penerjemah kita?

Banyak yang sudah hebat seperti para pembicara di lokakarya tadi. Tapi banyak juga yang lain yang masih perlu ditingkatkan.

Wawancara pun harus berhenti karena dua teman Elisa menghampiri dan mengajak mengobrol sejenak untuk berpamitan dan mengucapkan dukungan terhadap inisiatifnya mendirikan pusat penerjemahan sastra pertama di Indonesia. Saya pun mempersilakan padanya untuk menyantap makanan yang sudah diambil sebelum saya memberondongnya dengan pertanyaan.

Semoga impian Eliza, yang juga impian kita semua, akan terwujud dengan lancar segera!