Cara Mengajarkan Menulis dalam Bahasa Asing

Menulis itu suatu seni, dan mengajarkan seni diperlukan seni tersendiri juga. (Foto: Wikimedia)

Anda mungkin bisa menulis dengan baik tanpa harus menjadi penulis buku. Karena ada begitu banyak hal yang perlu kita komunikasikan dalam kehidupan ini, tanpa harus melalui medium buku dan sejenisnya.

Pertama-tama, apakah itu menulis? Pada dasarnyam menulis ialah sebuah kegiatan literasi yang berkaitan dengan pikiran. Ia mencakup proses belajar, dengan tujuan menyempurnakan pemikiran seseorang, dan untuk mempengaruhi pemikiran orang lain. Menulis ialah kunci dalam komunikasi terutama di era melek huruf dan digital seperti sekarang. Manusia abad ke-21 adalah makhluk yang lebih banyak berkomunikasi lewat teks daripada para pendahulu mereka. Kita menggunakan media digital untuk menyampaikan apa saja dan semua itu lebih banyak dalam bentuk tulisan.

Menulis, meski bukan satu-satunya aspek dalam pendidikan, dapat dikatakan sebagai salah satu fondasi terpenting dalam pendidikan dasar hingga menengah dan tinggi. Bahkan setelah seseorang sudah meninggalkan bangku kuliah, ia akan terus memerlukan keterampilan menulis tersebut di berbagai kesempatan. Buktinya orang dewasa yang sudah melampaui usia sekolah masih saja terus belajar bahasa dengan beragam tujuan tetapi intinya ialah agar mereka dapat meraih kesempatan yang lebih luas dalam era persaingan tenaga kerja di era globalisasi yang makin sengit persaingannya ini.

Keterampilan menulis makin dibutuhkan saat ini. Kita makin banyak disuguhi informasi dengan begitu banyaknya informasi yang mengalir di Internet dan media konvensional. Dan setelah menyerap semua itu, kita diharapkan juga dapat memberikan respon atau tanggapan. Semua orang bisa memberikan tanggapan secara lisan tanpa harus banyak berpikir. Tetapi untuk menulis sebuah tanggapan yang runtut, sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan (karena makin banyak orang menulis dan tidak sadar mereka harus bertanggung jawab untuk itu, sebut saja penulis berita bohong alias hoax), tidak semua orang bisa melakukannya. Diperlukan kerja keras intelektual yang lebih besar dan waktu yang lebih panjang untuk menyiapkannya, menyuntingnya hingga sampai ke penayangannya ke publik luas. Tidak semua orang sesabar dan segigih itu.

Untuk mengukur baik buruknya keterampilan menulis sebetulnya mudah, yakni bagaimana kita bisa mengetahui mudah tidaknya sebuah gagasan dalam tulisan ditransfer dari benak penulis untuk kemudian dipahami oleh orang lain. Tulisan tersebut juga harusnya disusun secara teratur, terorganisir dan sistematis sehingga dapat dimengerti siapa saja yang membacanya. Hal ini selaras dengan pendapat Orson Wales yang berkata:”Jika seseorang tidak bisa menulis dengan baik, mereka juga kurang bisa berpikir dengan baik juga.” Dan parahnya jika kita sendiri tidak bisa berpikir untuk diri kita, orang lain yang akan berpikir untuk kita. Dengan kata lain, orang lainlah yang akan menjadi pemikir bagi kita dan dengan demikian kita hanya akan menjadi pengikut, ibarat seekor domba yang mau saja digiring oleh pemiliknya ke mana saja, bahkan ke jurang atau rumah jagal sekalipun. Karena itulah, menulis sangat penting.

Menulis juga bisa menjadi suatu tolok ukur untuk menguji seberapa dalam pemahaman seseorang tentang sebuah topik atau permasalahan. Jika seseorang bisa dengan lancar dan sistematis menuangkan informasi atau pengalaman atau apapun yang ia ingin sampaikan dalam bentuk tulisan yang runtut dan sistematis, biasanya dapat dipastikan pemahamannya soal isu atau masalah yang ia tulis itu juga lebih baik daripada mereka yang hanya bisa berkomentar singkat atau menulis status yang cuma 100-200 kata panjangnya.

Orang cerdas tanpa kemampuan menulis yang memadai juga akan sulit menyampaikan pengetahuan dan pendapatnya yang berharga itu ke khalayak yang lebih luas lagi. Hal ini dibuktikan dalam sebuah survei yang menyatakan bahwa lebih dari 50% mahasiswa Korsel yang sukses masuk dan menjalani perkuliahan di kampus-kampus bergengsi yang terkenal dengan sebutan “Ivy League” harus menelan pil pahit. Di tengah jalan mereka terpaksa keluar atau berhenti sebelum bisa lulus. Padahal kalau kita cermati, di jajaran negara-negara maju (OECD) , Korsel adalah salah satu negara dengan pencapaian mutu SDM yang paling mengagumkan. Prestasi akademik anak-anak sekolah Korsel melesat melampaui AS dan Inggris yang dianggap kiblatnya pendidikan global. Skor-skor anak-anak Korsel di atas rata-rata dan bahkan mereka sanggup mengerjakan soal yang jauh lebih sulit daripada soal yang biasa dikerjakan anak-anak seusianya di negara-negara maju lainnya. Lalu apa sebabnya anak-anak Korsel yang ‘cerdas’ itu gagal di pendidikan tinggi mereka? Ternyata pendidikan yang terlalu mengejar skor seperti di Korsel itu kurang mendukung bagi pengembangan keterampilan berpikir kritis yang vital dalam proses menulis. Mereka hanya diajarkan untuk menyerap dan menyerap tanpa diberi kesempatan menanggapi, entah itu menolak atau menerima atau menerima dengan syarat/ alasan tertentu. Mereka kehilangan kesempatan untuk menyuarakan pikiran dan pendapat mereka karena sudah dibentuk menjadi ‘robot penghapal’. Dan sejujurnya Korsel bukan satu-satunya negara dengan pendidikan pengejar skor. Banyak pendidikan di negara-negara Asia masih berhaluan sama, termasuk juga Indonesia. Anak-anak sekolah hasil didikan sistem pendidikan Asia lazimnya kesulitan beradaptasi dengan sistem pendidikan Barat terutama AS karena di sekolah-sekolah Amerika itu keterampilan menulis dibutuhkan di beragam mata kuliah, bahkan bagi mereka yang tampaknya jauh dari bidang bahasa dan sastra sekalipun masih ada tuntutan untuk bisa menulis makalah atau tesis dengan sistematis. Akibat ketidakmampuan menulis sangatlah kompleks, misalnya ketidakpercayaan diri di kelas, terlambat mengumpulkan tugas, komunikasi yang buruk dengan dosen, dan yang terparah, jika amat terdesak, anak didik yang sudah putus asa bisa melakukan pelanggaran akademis serius seperti mencontek dan meniru tulisan orang lain alias plagiarisme. Jadi, sekali lagi, para pelaku plagiarisme kadang bukan anak-anak yang pandir. Mereka terkadang memiliki intelejensia yang tinggi tetapi sayangnya masih memiliki keterampilan menulis yang kurang.

Tantangan dalam Mengajar Menulis

Begitu banyak tantangan yang kita jumpai dalam menulis. Di antaranya yang paling banyak dijumpai ialah kurangnya waktu yang disediakan, kurikulum pengajaran yang terlampau rumit, dan ketiadaan struktur yang jelas dan mudah dipahami.

Tantangan akan makin besar jika kita membicarakan soal pengajaran keterampilan menulis dalam bahasa asing. Misalnya bahasa Inggris. Hal ini karena kebanyakan anak didik dibesarkan dalam suatu lingkungan yang secara alami kurang mendukung. Keluarga dan teman-teman mereka mayoritas bukan penutur asli (native speaker) dari bahasa yang mereka pakai untuk menulis. Jadi, dengan kata lain, tantangannya lebih berlapis-lapis dari mereka yang belajar menulis dalam bahasa ibu (first language). Akhirnya, beban itu harus disangga oleh guru-guru bahasa sendirian. Dan ini konyol karena tentu tidak bisa memasrahkan perkembangan penguasaan berbahasa asing pada satu pihak saja. Diperlukan sinergi yang solid untuk bisa memaksimalkan proses belajar anak, yang justru lebih banyak di luar ruangan kelas.

Santai Itu Penting

Saat mengajarkan menulis, ada baiknya pengajar atau guru menghindari melabelinya sebagai sebuah kelas atau kursus atau kuliah. Mengapa? Karena menulis pada hakikatnya sudah terintegrasi dalam berbagai bidang atau disiplin ilmu lainnya.

Pentingnya Instruksi Menulis yang Baik

Instruksi menulis yang baik terdiri dari bahasa yang universal dan konsisten. Dengan kata lain, bahasa yang digunakan dalam pengajaran menulis idealnya memakai istilah-istilah yang disepakati bersama dan seragam sehingga siapa saja yang mengajarkan dan belajar akan bisa berkomunikasi dengan efisien. Dengan memakai bahasa yan sama dalam mengajarkan menulis, diharapkan juga pesan yang tersampaikan ke anak didik menjadi lebih konsisten.

Elemen-elemen Instruksi Menulis yang Baik

Terdapat lima elemen penting dalam menyusun instruksi menulis yang baik. Elemen-elemen tersebut ialah:

  1. Ide
  2. Pengaturan/ organisasi
  3. Suara
  4. Pilihan kata/ diksi
  5. Kelancaran kalimat
  6. Konvensi

Elemen pertama, ide, berkaitan dengan topik dan pemahaman mendetail soal aksi, pikiran, dan perasaan. Secara keeluruhan, ide ialah pesan yang kita hendak sampaikan melalui tulisan kita pada orang lain. Singkatnya, ide ialah gagasan menarik yang bisa disuguhkan ke audiens.

Elemen kedua yakni organisasi atau pengaturan. Untuk itu perlu dipakai kata-kata yang menunjukkan urutan, sehingga jelas mana yang awal dan akhir. Pemakaian elemen kedua akan menunjukkan progresi yang jelas dalam menyusun ide tulisan. Tanpa progresi, tulisan akan terkesan berputar-putar tidak tentu arah. Karenanya, model penulisan tiga babak yang mencakup pembuka, isi dan penutup ialah model yang universal dan wajib diingat dan diamalkan dalam menulis.

Suara (voice) ialah mengenai cara untuk menggunakan tujuan. Di sinilah terletak sikap, opini, energi dan kepribadian penulis yang menjadi inti yang bisa menarik pembaca. Suara inilah yang unik dan bisa membuat ide yang terkesan biasa dan membosankan terkesan lebih menarik, hangat, menggairahkan, bahkan seru untuk diikuti.

Diksi atau pilihan kata ialah bagaimana memilih kata-kata dengan jeli dan tepat untuk menyampaikan kisah yang ingin Anda sampaikan. Diksi biasanya menggunakan kata-kata yang deskriptif sehingga pembaca seolah bisa menyaksikan sesuatu yang digambarkan penulis dalam kata-katanya. Diksi yang sesuai akan mengemas ide sedemikian rupa sehingga lebih mengena ke hati pembaca.

Kelancaran kalimat ialah bagaimana seorang penulis menggunakan kalimat dalam panjang, urutan dan struktur yang bervariasi tetapi tetap menunjukkan kemulusan dalam narasinya. Di dalamnya juga tercakup naik turunnya nada ujaran. Karenanya, penulis yang baik mesti bisa merangkai kalimat dalam berbagai jenis sesuai kebutuhan dengan tujuan akhir untuk menarik minat pembaca meneruskan sampai akhir tulisan.

Konvensi meliputi aturan-aturan yang menentukan apakah sebuah tulisan bisa dikatakan baik atau tidak. Aturan-aturan ini adalah kesepakatan bersama yang dihasilkan oleh para petinggi, akademisi, atau kalangan tertentu yang dianggap sebagai otoritas, panutan, pengalaman atau kekuasaan yang lebih. Dan karena ini bersifat subjektif dan bervariasi, perbincangan dan perdebatan soal konvensi seakan tiada habisnya dari waktu ke waktu. Maka jangan terlalu menghabiskan energi di aspek ini saja dalam mengajarkan menulis. Sejumlah konvensi yang kita pakai dalam proses menulis misalnya kapitalisasi, ejaan, pemakaian tanda baca, tata bahasa, dan sebagainya.

Jenis Teks

Jenis teks dalam menulis mencakup Naratif, Informatif/ Penjelasan, dan Opini atau Argumentasi. Naratif ialah suatu kisah yang ditulis dengan berdasarkan perspektif atau sudut pandang tertentu. Seringkali isinya ialah pengalaman pribadi.

Sementara itu, Informatif/ Penjelasan memiliki banyak bentuk. Jenis ini menggunakan serangkaian fakta yang dipakai untuk menerangkan dan menyampaikan sebuah pesan yang lebih besar. Jenis teks semacam ini bisa dijumpai dalam makalah akademik, paper penelitian, buku manual.

Jenis Opini atau Argumentasi menunjukkan perasaan atau pemikiran penulis mengenai suatu isu atau tema. Dalam penulis opini, seorang penulis mesti bersikap jelas dan tegas soal pendirian dan sikapnya terhadap isu yang ia pilih. Tulisan semacam ini bisa membujuk lebih banyak orang untuk mengadopsi cara berpikir, pendapat atau sikap penulis secara lebih luas.

Proses Menulis

Dalam proses menulis, kita perlu mengingat dan menerapkan keenam elemen menulis yang vital tersebut. Adapun proses menulis mencakup lima fase utama:

  1. Pramenulis
  2. Menyusun draft
  3. Revisi
  4. Penyuntingan
  5. Penerbitan

Menulis bukanlah proses instan. Diperlukan proses yang panjangnya bervariasi tergantung kerumitan, jenis topik yang dibahas, tujuan penulisan dan banyak hal lainnya.

Model Workshop

Model workshop ini dimaksudkan untuk mendukung proses menulis. Model workshop yang dimaksud di sini mencakup:

  1. Pelajaran singkat harian
  2. Modeling/ meniru
  3. Pilihan
  4. Menulis mandiri
  5. Berbagi/ konferensi

Dalam pembelajaran menulis dengan menggunakan bahasa asing, murid akan didorong untuk menggunakan bahasa asing sebanyak mungkin dengan temannya selama menulis. Misalnya, sebelum menulis atau selama proses menulis sebuah tulisan berbahasa Inggris, siswa didorong untuk juga berdiskusi secara lisan dalam bahasa tersebut. Dengan demikian, mereka akan lebih siap menulis daripada jika diskusi dilakukan dalam bahasa ibu. Penitng juga bagi murid untuk diberikan waktu bekerja sendiri dan bekerja bersama murid lain. Dalam grup kecil, mereka bisa bekerja sama untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan masing-masing.

Komprehensif

Perlu dipahami bahwa instruksi menulis yang baik haruslah bersifat komprehensif. Untuk bisa komprehensif, perlu ditekankan jenis teks yang penting dalam meraih keberhasilan akademik di bangku kuliah dan karier.

Mengajarkan menulis dan membaca secara terpisah juga membuat kemampuan menulis sulit berkembang. Keduanya mesti disatukan secara beriringan dalam proses pembelajaran menulis. Cara untuk mengajarkan kemampuan membaca dan menulis sekaligus dalam satu kegiatan misalnya dengan menyuruh murid untuk membaca beragam teks kemudian menganalisis secara cermat dan kemudian menyusun tanggapan dalam tulisan. (bersambung)

Disarikan dari paparan Andy Shafran (Vice President ) dalam “How to Teach Writing to Young EFL Students from Beginners to Advanced Levels” dari International Businesses of Highlights of Zaner Bloser (Educational Publisher)