Chandra Satria dan Kerinduan Lirik Sastrawi di Musik Indonesia

17358861_10210397962162753_2697696549788307423_oJika Anda tanya saya tentang lagu-lagu Indonesia yang banyak digemari saat ini, saya tidak akan bisa menjawab. Mungkin karena secara usia, saya sudah beranjak dari masa remaja sehingga jenis lagu-lagu kesukaan saya hanya ada di masa lalu. Jadi, daftar putar alias playlist saya lebih didominasi lagu-lagu dekade 1990-an atau 2000-an. Lagu-lagu sekarang tidak memberikan kesan dan pertalian emosional yang semendalam lagu-lagu di dua dekade itu bagi saya.

Selain hambarnya emosi yang saya rasakan saat mendengarkan lagu-lagu kontemporer Indonesia, saya juga mengamati bahwa lirik-lirik lagu Indonesia –maaf jika ada yang tersinggung – semakin cheesy alias murahan dari waktu ke waktu. Mudah dihapal tetapi juga mudah sekali dilupakan karena cepat usang di siklus perputaran dunia musik pop. Saya tidak menemukan unsur yang membuatnya lebih layak dijadikan karya ‘canon’ yang di masa depan bisa dinikmati kembali. Mungkin itu perasaan saya saja. Atau mungkin Anda juga sepakat?

Akan tetapi, saat saya mendengarkan lagu-lagu dari Chandra Satria yang terkompilasi dalam albumnya yang bertajuk “Ketika Itu dan Kini” yang dirilis tahun 2016. Lirik-liriknya mengingatkan saya pada lirik-lirik lagu Indonesia masa 1980-an yang everlasting, tidak lekang oleh terpaan zaman. Begit indah liriknya sampai saya tidak percaya lagu-lagu ini digubah baru-baru ini saja.

Tilik saja lirik “Kirana” yang ada di sini. Bentuknya mirip puisi.

Dalam risau ini

Sering kubertanya

Sampai kapankah aku bertahan

Tak henti memuja

Satu yang tercinta

Walau tak pernah ada jawabnya

Akal sehatku mempertanyakan akhirnya

Selama engkau ada hati enggan berganti

Karena engkau matahari

Tak pernah kuingkari

Menjadi bayangmu, ke manapun kau pergi

Cinta ini tak sempurna

Namun ku selalu ada

Dalam gelap malam dan terangnya kirana

Kutunggu…

 

Dari delapan lagu yang ada dalam album ini, yang saya paling sukai bisa jadi yang berjudul “Pakutapa” (Kutakpapa) yang liriknya bercerita soal si ‘aku’ yang bisa melupakan mantan kekasihnya. Meskipun awalnya nadanya terkesan sendu serta mendayu-dayu, pendengar kemudian diajak untuk berjingkrakan seiring dengan makin rancaknya irama lagu gubahan Bemby Noor ini.

Menelusuri setiap detail dalam album ini membuat saya yakin bahwa ini adalah sebuah proyek penuh passion milik Chandra Satria sendiri. Hal itu dikuatkan dengan terteranya nama penyanyi solo pria itu sebagai salah satu produser eksekutif sekaligus salah satu produser dalam albumnya sendiri. Bagi saya, itu berarti ia ingin memegang kendali lebih besar dalam realisasi albumnya, bukan cuma menuruti instruksi dan arahan dari orang lain.

Keseriusan Chandra menggarap albumnya tecermin sungguh-sungguh dalam pemilihan orang-orang yang ia ajak bekerjasama dalam pembuatan album. Tercatat ada sejumlah nama besar di dunia musik Indonesia yang masuk di sini. Di antaranya yaitu Bebi Romeo dan Ari Lasso (komposer untuk lagu “Cinta Sejati”), Tohpati (aransemen musik/ pengarah), Dewi Lestari (komposer untuk lagu “Keping”), alm. Chrisye serta Eros Djarot (komposer untuk lagu “Kisah Insani”), sampai Ubiet yang di televisi dikenal sebagai salah satu guru vokal termasyhur, serta Guruh Soekarno Putra (komposer di lagu “Seni”). Album ini juga melibatkan Czech Symphony Orchestra dan dimasteri oleh Steve Smart di Australia.

Yang unik dari album ini ialah sampul CD-nya yang tidak hanya memuat lirik masing-masing lagu tetapi juga berisi penggalan-penggalan narasi atau cerita lugas dari sang penyanyi yang melatarbelakangi masing-masing lagu itu. Chandra seakan-akan hendak memberikan penjelasan mengapa setiap karya itu memiliki makna bagi dirinya, dan dengan demikian, ia juga berharap pendengarnya bisa memahami makna itu atau memberikan makna tersendiri dari pengalaman mereka sendiri pada lagu-lagu yang ia persembahkan di dalamnya. Karena ia seniman dan bukankah penikmat karya seni dipersilakan juga menafsirkan makna di balik karya seni itu sesuai dengan keinginan dan selera mereka?

Lirik-lirik yang sastrawi ini terasa lebih abadi. Dan karena itulah, saya pikir wajar saja bahwa panitia Penghargaan Nobel itu memilih penyanyi veteran Bob Dylan sebagai penerima anugerah Nobel Sastra. Sastra itu tidak cuma ada di lembaran-lembaran kertas. Kalau kita mau berpikiran lebih luas dan terbuka, sastra juga tertuang dalam bentuk lirik lagu. Bukan begitu? (*)

How Integrity May Mean The Entire World to Yogis and Writers

The debacle of a genius: In some way, I can relate to Jonah Lehrer’s journalism faux pas (or misdeeds?). I know how it feels when people around you want more new things to read or listen from you every single day. The lesson learned? Humans’ creativity, even geniuses’, is limited. Admit that you’re tired, exhausted at all. Maybe that is much better than running ragged and settle for mediocrity. Or not? You be the judge.

Like most young people, I have been listening to an elderly tycoon who keeps repeating the significance of integrity in every step taken in this life. Truthfully, I got sick of that. Who doesn’t? It sounds like a broken old tape to my ears. But that was before I realize that the absence of integrity , or even a meager amount of integrity violation, means the end of the world to some people.

Because I also work in journalism world, let me  take Jonah Lehrer as an example. This 31-year-young author and public speaker has triggered massive outrage in the past few months. He is said and proven to have committed two big sins : fabrication of Bob Dylan’s quotes and (self?) plagiarism (source: slate.com).

And because I also love doing yoga, let me scrutinize also what John Friend has done to his integrity affairs. I am not a staunch fan of anusara yoga yet it is one of yoga schools, though it originated partially from the ancient yoga in India. Friend is accused of committing intimate sexual rituals related to the modern pagan religion of Wicca.

Both cases offer invaluable lessons to learn. I find it easy to relate to these two heroes-turn-zeroes disasters. I am not saying I am as successful or widely known as mr. Friend and mr. Lehrer but I just want to emphasize the fact that anyone – whether or not s/he is famous or talented or intelligent – cannot be immune to the peril of lust, which is part of being a human being, and lie resulted from indolence.

It’s completely irrational to see other people who seem to possess everything you want without warning and sound reason excuses making the same mistake repeatedly, which at last strip them off what they previously earned for years with so much hard work. It’s tragic on one hand, and fair on the other hand.

And suddenly it dawns on me, once someone finds out and can exploits your list of sins for the sake of anything (some say for the sake of scientific objectivity or moral purity, but really how many of us can figure it out that way?), your life so to speak is over as a member of a certain society. It’s an utter disgrace that time cannot seem to heal rapidly.

Nevertheless, in the era of instant gratification and self indulgence instead of essence and real substance, it proves to be much easier for people to forget and forgive.