Brand VS Passion dalam Dunia Pendidikan

Penulis nonfiksi terkenal dari Kanada Malcolm Gladwell pernah secara terbuka mengkritik fenomena penyembahan brand dalam dunia pendidikan. Orang berbondong-bondong untuk mendaftarkan diri ke universitas-universitas bergengsi di seantero negeri karena ingin mendapatkan gelar dari universitas itu. Dengan begitu saat seseorang ditanya,”Lulusan kampus mana?”, ia tidak akan malu atau ragu.

Dengan komersialisasi dunia pendidikan yang semakin santer sekarang ini, kampus-kampus juga makin tidak mirip lembaga pendidikan tetapi korporasi dan bisnis yang mencari untung. Mereka meningkatkan kualitas mereka dalam berbagai lini dengan tujuan salah satunya yakni meningkatkan level brand mereka di mata masyarakat.

Gladwell mengatakan fenomena itu konyol karena pada dasarnya ini mirip dengan fenomena brand dan kualitas di pasar komoditas apapun. Brand kadang menjadi jaminan mutu tetapi tidak berarti barang yang dijual tanpa brand tersebut memiliki kualitas yang lebih rendah. Kadang ada kasus saat kita bisa menemukan brand hanya sebagai suatu alat pengungkit dan pembenar pemberian biaya yang tinggi terhadap suatu barang atau jasa.

Masih menurut Gladwell, jika sebuah universitas (atau lembaga pendidikan apapun) dilihat sebagai sebuah brand yang bisa dijual, kita bisa lihat universitas-universitas menjadi terdikotomi menjadi kelompok papan atas, menengah dan bawah. Dan ini menciptakan masalah baru, yaitu orang menjadi lebih fokus untuk mengejar brand kampus tertentu daripada mendapatkan ilmu yang sesuai passion mereka.

Jadi, Gladwell mengajukan sebuah gagasan segar bahwa idealnya kita harus mulai melihat sebuah lembaga pendidikan dengan kacamata passion di dalam diri seseorang. Alih-alih sibuk mencari berbagai cara untuk masuk ke dalam sebuah universitas idaman, seseorang bisa mengubah orientasi berpikirnya saat hendak memilih kampus dengan mengutamakan passion. Gladwell mencontohkan daripada membabi buta belajar untuk masuk ke universitas X, mengapa seseorang tidak belajar keras karena ingin diajar oleh profesor Y yang dianggap sebagai pionir atau pakar terbaik di bidang yang ingin seseorang tekuni. Itu perlu karena tidak semua program studi atau jurusan dalam sebuah universitas yang di mata orang memiliki brand bagus juga pada saat yang sama memiliki kualitas pendidikan yang sama bagusnya dengan prodi atau jurusan yang sama di universitas lainnya yang brandnya tidak setinggi itu. Dengan kata lain, saat seseorang memilih jalur pendidikan untuk masa depannya, ia tidak memilih berdasarkan brand tetapi gairah dan kecintaannya pada ilmu yang akan ditekuninya.

Cara pandang baru yang diajukan Gladwell ini memang belum populer. Jangankan di Indonesia, di Amerika Serikat saja paradigma kolot bahwa brand adalah segalanya masih bisa ditemui secara luas. Adalah sebuah kebanggaan bagi banyak orang untuk bisa memamerkan bahwa ia lulusan universitas ini atau itu. Tetapi lebih jarang orang yang bangga jika ia berhasil masuk ke sebuah jurusan tempat ia bisa diajar atau berguru langsung dan intensif kepada seorang pakar atau orang terbaik di bidang yang ia sedang tekuni.

Jadi, kita bisa bertanya pada diri kita sendiri, apakah kita belajar untuk mengejar brand agar kita bisa pamer lebih mudah atau mau mengejar ilmu agar kita bisa berkarya lebih produktif? (*)

The Perils of Branding

The Perils of Branding

Since when we stop being our authentic selves? Every single day in our life, we modern people are encouraged to adopt a certain role in the society and accordingly act and behave and also think in a certain way. No room for authenticity because you are a part of the mob with a particular permanent, fixed label that is agreed by societal convention. We are pushed to label each other a certain type and as author Gillian Flynn said about it, there’s something dangerously easy about labelling yourselves or others. This labelling is everywhere to see on contemporary media and most prevalent and easily found on social media. We always see people label themselves as something, someone, that is based on a certain type of person with a certai predominant traits and attitudes and all. This is very familiar with us. This is PERSONAL and ORGANIZATIONAL BRANDING.

What is unhealthy about this? A lot. First, you would think your life as a repetition of cliches. Boring and predictable. Horrible.
This is most prominently felt when we are to deal with a certain issue . It’s the point where we have to sit down and rethink:”Do I really think that?” or “Do I just think I should think that?”

If you really say or do something because that really comes from you, congratulations! You’re being authentic. Yes, it’s in the present continuous tense because to be authentic every time effortlessly is almost impossible. It’s a constant struggle everyone is facing in this world of ideal, flawless personae in the public eyes. We know how demanding it can be for every public figure to stay authentic because they are expected to fulfil a certain image, role and so forth. Life is suddenly so hard for them to be authentic. Laymen like us are better in this case. But too bad most of us pursue this ridiculous path of celebrities.

People who don’t even bother thinking they’re brainwashed and programmed to think in such a particular way because they’re demanded to conform with the majority – too often than not – don’t quite realize this. Labels can be many. They can be the archaic and conventional ones such as faiths, social positions as part of the nobility of the past (especially in the country where the feudalism has a long history like Indonesia), and can be so contemporary and seemingly more authentic like “an indie rocker”

Flynn said avoid packaging yourselves as a certain type of person in order to be as authentic as possible. Being authentic means you give yourselves the opportunity to have a crazily stark contrast inside you regardless of what people around you may say about the paradox. (*)