Menelisik Fitartistik (9): Melenting ke Belakang

Hari ini setelah melakukan rutinitas dari jogging beberapa lap, lari mundur dan pemanasan reguler, akhirnya untuk handstand saya mulai untuk diajari teknik straddle-legged handstand. Kedua kaki panjang membuka ke samping dengan tangan menekan ke lantai dan menutup lurus ke atas. Saya masih perlu membangun kekuatan untuk meneruskan kedua kaki menutup lurus ke atas. Hari ini saya coba dan hanya bisa setengah jalan. Dengan bantuan coach Jonathan, saya lebih mulus melakukan teknik satu ini.

Hari ini saya juga kembali berlatih cartwheel. Satu hal yang saya pernah asumsikan ialah dalam gymnastik kita juga harus melatih kedua sisi badan. Jadi saat cartwheel misalnya saya selain sudah bisa dan nyaman di sisi kanan, saya mesti juga latih sisi kiri.

Tapi menurut coach J, asumsi khas yoga yang semacam itu ternyata tidak berlaku di dunia gymnastik termasuk fitartistik yang berorientasi ketrampilan. “Biasanya ada sisi yang lebih bagus dan sisi itulah yang nantinya akan dilatih agar hasil terbaik dapat dicapai,” ungkap coach J. Ia sendiri berkaca dari pengalamannya bahwa bagaimanapun kerasnya berlatih ada satu sisi yang lebih lemah, kurang nyaman dan kurang lincah. Bahkan coach saja baru bisa cartwheel di sisi kiri yang ia anggap lemah saat usianya sudah menanjak. Saat muda, justru ia lebih banyak memakai sisi yang dominan, lincah dan kuat. Karena itulah, pilih satu sisi yang mampu menunjukkan ketrampilan dan kestabilan paling baik. Kecuali memang Anda seorang ambidextrous, yang memiliki kemampuan motorik sama baik di kedua sisi badan.

Yang menarik hari ini saya dikenalkan dengan teknik melenting ke belakang. Reka ulangnya ada di serangkaian foto di atas. Dari jongkok kemudian saya harus merentangkan lengan ke depan dan mesti menekuk lutut dan bersiap melontarkan badan ke belakang.

Langkah selanjutnya ialah latihan kayang secara statis, atau diam. Dengan begitu tubuh akan lebih lentur dan siap ke gerakan melenting ke belakang.

Kemudian saya diinstruksikan melakukan semua urutan gerakan tadi dengan lancar tanpa jeda. Tentu badan saya masih belum tahu orientasinya dan kebingungan. Susah menyesuaikan antara perintah dari otak dengan gerakan tubuh. Ternyata kita tidak sepenuhnya menguasai tubuh kita sendiri. Tubuh kita perlu diajak bekerjasama dengan lembut dan bertahap. Tidak bisa dikasari secara mendadak. Perlu taktik dan kesabaran. Inilah yang sulit dan menantang.