Mengenal Odin Mode di Android

Pagi kemarin tiba-tiba ponsel cerdas saya Nexus 2 menampilkan ikon robot hijau dengan tulisan: “Dowloading
Do not turn off target”

Apa maksudnya ini? Saya teliti lagi semua tulisan itu dan saya temukan tulisan “Odin Mode” yang berukuran halus sekali di pojok layar.

Apa itu Odin Mode? Apakah itu artinya ponsel saya rusak? Tidak. Tenang dulu. Ponsel saya masih bisa dipakai sampai sekarang. Normal, berjalan mulus sama seperti sebelumnya. Saya cukup tekan tombol ON/OFF di samping kanan atas dan ponsel kembali reboot ( restart) dan semuanya kembali. Tak ada yang hilang. Jadi kalau Anda menghadapi masalah yang sama, tenang. Tidak berarti smartphone Android kesayangan sedang “sakit”.

Jika cara saya tadi gagal, coba lepas baterai dan mulai hidupkan ulang. Tekan tombol volume saat menghidupkan, saran seseorang di forum droidforums.net.

Odin Mode merupakan mode unduhan yang dibuat dan dimasukkan Samsung ke dalam software ponsel dengan tujuan menyegarkan kembali perangkat Android itu. “Serupa dengan SBF (factory restore) pada perangkat Moto besutan Motorola Mobility. Inilah cara alternatif bagi smartphone untuk kembali ke kondisi awal sebelum diubah-ubah sesuai keinginan pemilik.

Untungnya bagi pemilik Nexus, fastbook juga dapat dipakai.

Dalam kasus saya, penyebabnya bisa jadi kernel baru, atau aktivasi toggle charging cepat.

Indonesian Bloggers Day 2012: Blogging is Easy. Consistency and Authenticity are Not!

First thing first, let me congratulate Indonesian bloggers on the National Bloggers Day 2012. It is the third annual commemoration if my memory serves right. The minister of communications and informatics of the Republic of Indonesia, Tifatul Sembiring,  officiated the day three years ago (October 27th, 2009). I would never forget the day easily as the date is also my birthday.

As recent as this morning, I saw this provoking blog post title of a seasoned digital media practitioner Nukman Luthfie: “Mengapa Perlu Aktif Ngeblog Lagi?” (Why (You) Have to Actively Blog Again?) . In his blog post, he elaborates several reasons why blogging, instead of social media, still remains the best tool to document our ideas, thoughts, feelings, and emotions published in chunks called blog posts.

As we can easily observe these days, the trend of social media is on the rise. Everyone seems to be talking about the miracle of social media. The craze is overwhelming at times.

Nukman and many other formerly active bloggers have been getting dormant for several days, months, and even years. The severity levels do vary but one thing in common is that bloggers are gradually or drastically shifting to social media.

That doesn’t surprise me anymore. Considering how easy people can tweet and post an update on Facebook, of course blogging entails more intellectual hard work, expertise, time, depth of knowledge, and so forth. And what strikes me more is the fact that people now tend to blog shorter. They want to write a blog post that gets read only in 2-3 minutes, 5 minutes top, I assume. Look at Detik.com or Vivanews.com. Both famed news portal in Indonesia share real authentic news content with ultra brevity. It contains only around 200-500 words in each piece. Some are even 100! And they get read still, thanks mostly to provoking and mischievous wording in the titles.

Today, when everyone can literally build a blog, they can also leave their blogs that easily too. And I have to admit, being a consistent blogger with unwavering frequency of rolling out a new post and similar perseverance day by day is not a piece of cake. Some others prefer blogging regularly by sacrificing their content quality and authenticity, for example by plagiarizing. It happens and we have to make a choice.

But once again, to sum up this brief blog post, I’d say our existence on social media cannot replace the importance of writing a neatly organized blog. You can easily trace back a blog post on the web but as far as it is well tagged and indexed by the major search engines. But tracing a given tweet that got published, let’s say, 60 hours ago is even a greater challenge.

Yet, I’m not saying every blogger must delete their social media accounts. It’s just that we need to ensure which one is our home and which one is our hangout spots. Social media is cool but never replaces the role of blogs. Never ever. Instead, I’m convinced the two are supportive to each other. Social media needs a blog as a library of the rapidly buried but worth sharing, invaluable ideas and shoutouts. Likewise, a blog needs social media presence to attract visitors and generate leads.

5 Langkah Lindungi Smartphone Android dari Serangan Malware

smartphonesSaya masih ingat bagaimana dulu populernya Symbian dalam beberapa jenis ponsel Nokia di pertengahan tahun 2000-an. Saya masih terkesima dengan ponsel-ponsel Nokia berkamera VGA yang saat itu masih tergolong canggih dan terdepan. Sayangnya, satu kelemahan ponsel Nokia yang dijalankan dalam platform Symbian ialah risikonya untuk terjangkit virus dan gangguan keamanan lainnya yang cukup riskan. Sementara di ponsel sederhana seperti Nokia 3315 saya saat itu, data pribadi akan tersimpan dengan aman, karena sederhana saja, ponsel itu tak terhubung dengan dunia maya.

Dan saya sadar bahwa semakin populer sebuah sistem operasi, akan semakin tinggi pula risikonya terkena serangan virus, atau malware. Software jahat ini bisa membuat ponsel mengalami berbagai gangguan dari yang ringan sampai berat. Untungnya saya belum pernah harus mengalami serangan seperti itu yang misalnya bisa menghapus semua data dalam memori ponsel atau membuat ponsel terus menyedot pulsa.

Sebagai jawara dalam dunia smartphone, ponsel-ponsel yang bersistem operasi Android menjadi sasaran empuk bagi pihak-pihak iseng dengan itikad kurang baik. Tidak heran karena jumlah penggunanya makin banyak dari hari ke hari, dan semakin tidak terbendung laju pertambahannya. Malware makin banyak dan payahnya belum banyak orang yang menyadari bahaya di balik malware itu. Apalagi di Indonesia, tempat banyak pengguna ponsel masih begitu abai dengan isu security isi ponselnya yang berharga.

Baru-baru ini IC3, sebuah kemitraan antara FBI dan kelompok pendukung penegakan hukum The National White Collar Crime Center (Pusat Kejahatan Kerah Putih Nasional), telah mengidentifikasi “Loozfon” dan “Finfisher” sebagai versi terbaru jenis malware yang telah diketahui.

Sebagai informasi saja, ‘malware’ ialah software atau piranti lunak seperti program atau dalam konteks smartphone adalah aplikasi mobile yang tersebar melimpah di arena Android Market atau yang sekarang disebut Google Play.

Menurut IC3, satu cara yang digunakan para kriminal untuk menyembunyikan malware Loozfon dari deteksi program antivirus ialah menyamarkannya sebagai sebuah iklan tawaran bekerja di rumah yang menjanjikan uang dalam jumlah menggiurkan hanya dengan mengirim surel. Setelah pengguna klik di iklan yang tampil, mereka akan digiring menuju situs web yang menambahkan malware itu pada smartphone yang digunakan tanpa sepengetahuan pengguna yang awam. Aplikasi ini kemudian mencuri detil kontak dari daftar kontak ponsel pengguna dan nomor ponsel pengguna.

Sementara itu, Finfisher ialah satu jenis spyware, yang artinya software yang berguna untuk memata-matai pengguna ponsel. Spyware sangat berbahaya karena bisa mengambil alih komponen perangkat bergerak. Dengan kata lain, saat ponsel Anda terinfeksi spyware, seketika itu juga ponsel bisa dikendalikan dari jarak jauh oleh si pembuat spyware. Malware ini biasa disamarkan sebagai tautan/ link atau teks mengenai pemutakhiran atau update sistem, kata IC3.

Di samping mengunduh software virus dari vendor yang tepercaya seperti Norton, FBI memberikan 5 kiat dasar agar ponsel Android Anda tetap aman dari serangan malware.

Gunakan enkripsi

Beberapa jenis ponsel Android dilengkapi dengan kemampuan enkripsi. Aktifkan kemampuan itu jika ponsel Android Anda memilikinya. Enkripsi bisa digunakan untuk melindungi data pribadi Anda jika suatu saat ponsel hilang atau dicuri. Jika ponsel tidak memiliki kemampuan enkripsi, jangan cemas karena masih ada alternatif lainnya seperti aplikasi WhisperCore dari Whisper Systems yang diakuisisi oleh Twitter tahun lalu. Juga pertimbangkan untuk menambahkan kata kunci saat harus membuka ponsel.

Ketahui pengembang aplikasi sebelum menginstal

Saat akan menginstal aplikasi dari Google Play / Android Market, cermati dulu baik-baik ulasan/ review pihak pengembang yang membuat aplikasi. Juga pastikan untuk memahami perijinan (permission) yang harus Anda berikan sebelum menggunakan aplikasi. Sejumlah aplikasi meminta akses menuju informasi-informasi sensitif dan pribadi seperti lokasi dan daftar kontak di ponsel.

Pastikan menggunakan jaringan wi-fi yang aman

Jangan menggunakan jaringan wi-fi yang Anda tidak ketahui. Para peretas alias hacker biasa menggunakan jaringan wi-fi yang tidak terlindungi kata kunci untuk mendapatkan informasi yang ditransfer antara perangkat ponsel Anda dan server.

Pertimbangkan masak-masak sebelum melakukan ‘jailbreaking’ atau ‘rooting’ pada ponsel

Setelah Anda melakukan jailbreak dan rooting, ponsel Anda secara otomatis akan lebih berisiko terkena malware karena kedua jenis manipulasi ini akan menghilangkan pembatasan dari pabrikan ponsel. Anda bisa menginstal segala jenis program termasuk aplikasi yang Anda mau. Namun di saat yang sama Anda harus tahu bahwa ponsel juga akan lebih rentan diserang, jelas IC3.

Hapus semua data dan aplikasi sebelum menjual kembali

Siapa tidak pernah menjual kembali ponsel lamanya setelah merasa bosan atau karena berbagai sebab? Nah, jika Anda memutuskan menjual atau menukar ponsel pintar, pastikan Anda tidak lupa melakukan ‘factory reset’ yang biasanya ada di bagian pengaturan ponsel. Setelah ‘factory reset’, ponsel akan kembali seperti baru, dalam arti software dan memorinya bersih sama sekali dari data yang sudah pernah disimpan sebelumnya. Ini bisa menghindarkan Anda dari kerepotan dan insiden penyebarluasan informasi pribadi yang sebenarnya tidak perlu terjadi karena pencegahannya sangat mudah, yakni dengan memulihkan kondisi ponsel ke kondisi semula seperti baru. (Entrepreneur Mag)

Perlunya Menahan Diri Mengatakan "Cari di Google Aja!"

Salah satu tanda sejauh mana sebuah produk teknologi merasuk dalam kehidupan manusia ialah mengamati penggunaan terminologi produk yang bersangkutan dalam percakapan sehari-hari. Kita bisa ambil contoh “Google” dan “email”. Keduanya tak akan bisa dijumpai di kamus-kamus bahasa terbitan dekade 1980-an tetapi di kamus bahasa kontemporer terbitan pertengahan 1990-an dan abad 21 ini keduanya dipastikan ada. Ini saya temukan di kamus Oxford saya semasa kuliah. Kata “email” sudah tercantum di dalamnya. Namun “Google” belum. Dan kini seiring perkembangan masyarakat penggunanya, kata benda atau nomina “Google” bisa digunakan juga sebagai verba: “google”, yang artinya kurang lebih “mencari informasi di Internet dengan bantuan mesin pencari Google”. Begitulah bahasa berkembang mengikuti perubahan manusia. Dan karena manusia juga turut dipengaruhi ciptaannya sendiri yakni teknologi, akhirnya bahasa juga tak bisa menghindari pengaruh perkembangan teknologi.

Malam ini baru saja saya menyadari kemudahan teknologi membuat sebagian dari kita justru lebih cuek, tak acuh pada lingkungan,bahkan pada lingkungan sosial virtual kita sendiri. Benar! Saya hampir saja mengomentari status seorang teman Facebook yang bertanya tentang lambang kimia glukosa dengan “Cari aja di Google.” Dan sebuah pesan pendek dari sepupu masuk menanyakan makna sederet kata dalam bahasa asing. Saya hampir tega membalas “Pakai Google Translate napa!”
Saat pertama membaca status teman di Facebook saya secara otomatis berpikir, kalau dia bisa menuliskan status di sana berarti ponselnya terhubung dengan Internet dan mengapa ia tidak menuju Google saja untuk bertanya itu. Konyol untuk bertanya mengenai materi pelajaran kimia di jejaring pertemanan yang ia sendiri tahu lebih banyak dihuni mahasiswa bahasa Inggris (karena ia pun demikian). Tentu saja susah mendapat jawaban.
Sementara kasus sepupu saya, respon pertama dalam benak adalah:” Lah kan bapakmu punya BlackBerry. Pake buat cari di Google kan bisa!”
Tiba-tiba saya merasa seperti orang paling kejam dan egois sedunia. Dan muncul rasa syukur dalam hati karena masih ada orang yang mau bertanya pada saya karena dengan demikian mereka menganggap saya ada dan bermakna.

These First 7 Days as a Glasses Boy

I had been avoiding wearing glasses since a long time ago. They look cool on others but when it came to think of it, they don’t on me. I don’t know. I just felt it was an odd idea.
But then I quit teaching in 2009, which provided me a lot of spare time to blog actively on a daily basis ever since. Prolonged contact with screen was then unavoidable. I could, let’s say, spend hours with eyes glued to the laptop screen every single day for like 8 months. In the 8th month, I already complained how strained my eyes felt after every day working with laptop. My eyes screamed for help. I was surprised if they didn’t , considering how mean the way I used them both.
In my hometown, only fewer opticians are found. Frames are too cheap I couldn’t think they can last for years. I don’t mean to sound snobbish but I’d rather spend more money for something worth my money than a cheaper thing which can barely survive a year.
So this time is different. My eyes are in dire need of help. Professional help. And that brought me to Ambassador Mall, where anyone can find practically everything. Spectacles are among them.
That Saturday night, I went home with glasses on my face. Kind of weird to stare at the floor for the first time.
The first day was Sunday. I remembered my yoga teacher quipped,”So you wear glasses now?” That was the first response to smile at before the others’ similar response upon learning my new looks.
There have been varied responses to my wearing glasses. Some are neutral, some of mockery, some others provoking, and the rest jovial.
Upu – coworker: “Peter Parker look-alike. Hence I call you Peter Pilot” (He referred to “Parker”, a brand of luxury pen, and “Pilot”, a brand of cheaper pen, bah!)
Andri -coworker : “Since when did you wear glasses” (He forgot a long time ago I wore but later ditched them)
 Eky – coworker: “Hi Superboy!” ( Are glasses with thick dark frame and working as a reporter prerequisites for becoming Superboy?)
Lina – coworker: “You look like a real genius” ( Which means I am actually NOT?)
Asep – coworker: “So they’re not  plano” (A term eye care professionals use to describe lenses with no corrective power. The term is most often applied to nonprescription sunglasses or contact lenses that are worn for cosmetic purposes only.)
Danu – coworker: “Are you some new employee I haven’t known before? Btw, your frame doesn’t suit your face. Why not pick the thinner one for your thin face?” (I did try thinner frame, and yes I looked like an erudite scholar. Nonetheless, the thinner frames gave me an impression of older looks as well. That would be something a 30-40 year olds to pick.)
 Guna – coworker : “Yeah, you really look like Korean ….after a prolonged tanning session” (How I love the punch line!)

Ternyata Dulu Google Ingin Subsidi Pengguna Android

Screenshot of Android Emulator for SDK (latest...
Screenshot of Android Emulator for SDK (latest version, now v2.3) (Photo credit: Wikipedia)

Fakta masa lalu ini ialah satu bagian dari sejumlah fakta menarik yang bermunculan seputar maraknya perselisihan antara Google dan Oracle yang pada intinya berhubungan dengan tuduhan pelanggaran hak paten dan Android. Ponsel rancangan Google yang direncanakan pada awalnya untuk dijual ke pasar sebenarnya tidak didominasi layar sentuh seperti yang kita ketahui kini.Tak hanya pemerintah kita yang getol menerapkan kebijakan subsidi. Google dulu juga pernah berniat melakukannya pada para pengguna perangkat Android. Namun, itu hanya sebatas wacana karena kita ketahui itu tidak pernah terjadi hingga sekarang.

Jadi, kembali pada soal subsidi tadi. Ternyata Google pernah melemparkan usulan untuk memberikan subsidi. Untuk apa subsidi tersebut? Subsidi itu diberikan bagi para early adopter Android atau mereka yang menggunakan Android pada tahap awal saat sistem operasi ini baru bisa digunakan kalangan terbatas. Alasan Google hendak melakukannya ialah untuk mempromosikan Android sebagai sistem operasi perangkat mobile baru yang belum banyak diadopsi orang.
Menurut detil yang didapat, Google berniat untuk mengucurkan subsidi biaya data dengan T-Mobile untuk pengguna ponsel pintar Android sebanyak 9,99 dollar per bulan. Paket abonemen data ini diperuntukkan bagi Google agar menjual ponsel secara langsung melalui toko dan gerainya sendiri. T-Mobile sendiri rencananya akan memberikan paket tersebut. Jika terealisasi, Google mungkin tidak akan mendapat keuntungan dari T-Mobile atau dari penjualan perangkat Android dan sudah menggunakan uang itu untuk  mengganti biaya paket data bagi pengguna.

Meski tampaknya rencana yang matang dan sesuatu yang akan disambut baik konsumen, sayangnya kesepakatan Google dan T-Mobile urung terealisasi saat T-Mobile tak pernah menawarkan paket data pada kisaran tersebut di atas. Google juga menemukan bahwa menjual ponsel pintar secara langsung tidak terlalu menguntungkan.

Bagaimana pendapat Anda? Apakah Anda sebagai pengguna Android juga masih menginginkan rencana ini diwujudkan oleh Google?
[via SlashGear]

Facebook Diisukan Buat Ponsel dengan HTC

ImageFacebook kembali dikabarkan akan membuat langkah besar untuk bisa bertahan di jagat social media yang makin sengit tingkat persaingannya. Kali ini bukan aspek softwarenya, tetapi hardware. Selama ini kita hanya bisa mengenal Facebook melalui layanan jejaring sosialnya yang gratis itu. Lalu akankah kita menyaksikan babak baru dari ekspansi Facebook dalam sisi hardware?

Sejumlah situs teknologi seperti TechCrunch, PandoDaily, dan sebagainya kembali menghembuskan kabar mengenai kemungkinan Facebook akan bekerja sama dengan pabrikan ponsel Taiwan HTC untuk memproduksi ponsel bercita rasa Facebook yang kental. Digitimes, blog teknologi dari Taiwan, tampaknya menjadi sumber berita utama karena semuanya mengacu ke sini.

Isu ini bukan pertama kalinya beredar di dunia maya. Isu semacam ini pernah dihembuskan Michael Arrington di tahun 2010 namun ditepis Mark Zuckerberg dalam sebuah wawancara oleh TechCrunch yang menyatakan pihaknya tak ingin menjadi “pesaing bagi Apple, Droid, atau pabrikan hardware lainnya”.

Sebagian merasa isu ini, jika benar adanya, adalah ide bodoh, sebagaimana yang ditulis Hamish McKenzie dengan judulnya yang provokatif: “Does Anyone Else Around Here Think a Facebook Phone is a Stupid Idea?” Meski kita tidak bisa menghakimi sekarang, karena bahkan kita belum mengetahui kebenaran rencana tersebut, jika benar Facebook memproduksi sebuah ponsel sendiri, ponsel tersebut mungkin bisa disamakan dengan Samsung Nexus bagi Google.

Kerjasama antara para penguasa pasar software seperti Google dan Samsung, dan kini jika benar, Facebook dan HTC, bisa jadi adalah solusi bagi HTC untuk terus melaju menyaingi Samsung yang menjadi jawara di industri ponsel pintar. Sangat beralasan, dengan demikian, jika HTC yang labanya makin menurun akibat tergerus Samsung dan Apple ingin menjalin hubungan bisnis yang lebih erat dengan raksasa jejaring sosial Facebook demi kelanggengan bisnisnya.(image credit: springwise.com)


"Social Bro" Kini Bekerjasama dengan "Hootsuite"

Per tanggal 7 Maret 2012, sebuah kerjasama antara dua pihak penyelenggara aplikasi social media dibangun demi kenyamanan dan efektivitas bekerja para pegiat jejaring sosial terutama yang membangun brand di sini.

Berikut keterangan dalam surel yang saya terima:

We’re happy to release today a new round of features for your SocialBro dashboard. The most important one is that now you can export your optimal tweet schedule from SocialBro to HootSuite in order to expose your tweets to the maximum audience! Now, you, as a HootSuite fan, have another reason to use it: your message will be delivered when you have most followers online. Isn’t it awesome?

To get all details about the new version: look at the blog post and at our user guide.

If you use SocialBro for Chrome, the app will update automatically during the day, but if you can’t wait, update it manually. If you use the Adobe Air version, visit our download page and click on “Download” in “SocialBro for Desktop”

Share it on Twitter and join us on Facebook and Google Plus too.

Multiple Users to a List With One Click

Multiple Users to a List With One Click

Another new feature is the new button “Add all to list”, that you can find on the bottom navigation bar. Now, you can add multiple users to a list with one click! This new feature is very useful if you want to clone a list from your competitor on Twitter, for example.
Read more…

More Powerful Best time to tweet report

More Powerful Best Time to Tweet

We offer you a different way to take advantage of the “Best Time Tweet” report, one of our highlight features. You can apply the “Best Time to Tweet” to a custom sample of users: get the report for any search, list, 3rd party Twitter account, etc.
Read more…

14 Tips Dasar dalam SEO Copywriting

Google 的貼牌冰箱(Google refrigerator)
SEO copywriter harus bersahabat dengan Google. (Photo credit: Aray Chen)

 

 

 

 

 

 

 

 

SEO copywriting? Saya selalu merasa gelisah saat mendengar istilah yang satu ini. Dalam bayangan saya, terbayang blog-blog dengan logika kalimat dan alur pemikiran yang kacau balau karena dijejali oleh kata kunci, tak ada konten yang relevan atau bermanfaat. Saya akui sebagai blogger, dari dulu sampai sekarang pun, saya kurang menyukai istilah “SEO”. Bagi saya konten yang baik adalah yang tampil apa adanya, bermanfaat. Toh nanti kalau memang ada orang tertarik pasti juga akan mampir. WRONG!

Mungkin ada benarnya peribahasa “tak kenal , maka tak sayang” karena jika saya telisik lebih jauh konten yang bermanfaat dan relevan bagi pengguna Internet akan sia-sia saja terserak tanpa disajikan dengan teknik yang tepat. Dan untuk bisa ditemukan oleh orang yang membutuhkan, diperlukan teknik khusus. SEO copywriting-lah yang diperlukan.

Apa itu SEO copywriting?

Menurut Brian Clark dari Copyblogger.com,”SEO copywriting” bisa didefinisikan secara tradisional sebagai “optimisasi salinan laman web dengan membidik frase kata kunci dalam frekuensi tertentu dan kepadatan tertentu”.Riset mesin pencari juga menunjukkan bahwa hampir 85% faktor keseluruhan yang menentukan bagaimana sebuah laman web diperingkatkan dalam hasil mesin pencarian didasarkan pada hal-hal yang berada di luar laman web itu. SEO copywriting memerlukan sebuah intuisi karena ia juga sebuah bentuk seni verbal yang terdiri dari SEO dan ketrampilan menulis yang baik.

Bagi blogger, SEO copywriting sangat penting untuk mengundang lebih banyak pengunjung. Seorang praktisi SEO copywriting yang profesional juga biasanya memiliki pendapatan yang tinggi (See!). Tetapi meskipun sebuah bentuk seni yang mengandalkan naluri, ia juga bisa dilatih. Caranya? Dengan selalu terapkan 14 kiat berikut ini.

14 Tips SEO copywriting

Menulis konten yang ramah mesin pencari dan berkualitas tinggi untuk situs dan blog kita

Hingga sekarang, cara terbaik untuk meningkatkan kinerja situs dalam hasil mesin pencari ialah dengan menghasilkan konten yang disukai oleh mesin pencari. Tapi bagaimana Google menentukan sejauh mana manfaat sebuah laman web? Bagaimana Google memutuskan peringkat semua laman yang berhubungan dengan satu pertanyaan? Algoritma Google menggunakan setidaknya 100 parameter atau tolok ukur untuk membuat keputusan ini. Kualitas intrinsik sebuah laman web hanya sebagian faktor saja.

SEO copywriting sekali lagi adalah sebuah seni menghasilkan konten yang disukai Google dan mesin pencari lainnya. Tentu saja, setelah kamu membuat konten yang OK, kamu harus mendapatkan backlink untuk situs / blogmu.

Bagi yang hendak mempelajari copywriting, idealnya memiliki kamus sinonim atau yang disebut thesaurus.

1. Tulis dengan baik

 Konten adalah raja. Itulah kalimat ajaib yang selalu didengungkan pengembang web yang menyadari pentingnya SEO untuk situs yang ia buat. Google dan mesin pencari lain menyukai konten yang ditulis dengan baik dan berguna bagi yang membaca. Jika pengguna Internet merasa kontenmu berguna, mereka tak akan segan untuk membuat link/ tautan menuju situsmu dan mereka akan memberitahukan pada teman-teman mereka. Saat Google menemukan tautan inbound ini, peringkat laman itu akan naik yang pada gilirannya akan membawa lebih banyak pengunjung!
Salah satu implikasi menulis dengan baik ialah kamu harus menggunakan sebanyak mungkin kata yang berbeda yang masih relevan dengan judul. Jika teks menggunakan kata kunci yang sama secara terus menerus, mesin pencari akan menyimpulkan bahwa  artikel itu dangkal dan tak begitu berguna. Sebaliknya, jika kamu menggunakan kosakata yang luas dan beragam dan relevan, mesin pencari akan menyimpulkan bahwa artikelmu memiliki otoritas yang tinggi dalam topik itu, mendetil serta berguna. Kemampuan Google untuk menentukan nilai sejati sebuah tulisan dilakukan dengan menyisir kata-kata selain kata kunci. Inilah yang disebut dengan latent semantic indexing. Untuk alasan ini, penting bagi blogger atau content writer agar menggunakan sinonim dari kata kunci yang sedang menjadi target.

2. Gunakan tag “headline 1″(h1) untuk judul

Gunakan tag h1 (headline 1) untuk judul sehingga Google akan memberikan perhatian lebih besar pada judul, dengan syarat menyebarkan kata-kata judul di beberapa sudut konten. Tag h1 memungkinkan kata kunci kita mendapatkan perhatian tertinggi. Tag h1 ialah salah satu kiat terbaik bagi pembuat konten sehingga peringkat hasil di mesin pencari bisa lebih tinggi akan naik.

Kalau artikel dibuat dalam bentuk hirarkis, gunakan juga “h2″,”h3” pada sub judul dan untuk bagian penjelasan rinci pakailah “paragraph”. Google konon suka artikel dengan hirarki yang terstruktur dengan baik. Sistematisasi dalam menulis karena itu amat diperlukan. Jangan sembarang menulis.

3. Perhatikan kepadatan kata kunci (keyword density)

 Kata kunci yang kita bidik seharusnya muncul di awal, di sebagian besar bagian paragraf dan di sudut lain di dekat akhir artikel. Setelah Anda menerapkannya, fokuslah pada konten yang berguna dan komprehensif. Jangan jejali artikel dengan kata kunci di mana-mana. Ini percuma karena mesin pencari akan mengenalinya sebagai spam saja dan yang terpenting orang tak akan kembali karena konten tak berkualitas, cuma mengejar peringkat di mesin pencari. Peluang untuk dapatkan inbound link juga makin tipis jika ketrampilan copywriting kita buruk.

4. Tebalkan, Miringkan, atau Garisbawahi kata kunci

 Saat menekankan sebuah kata dengan font miring/ italic, menggarisbawahi atau menebalkannya, mesin pencari berpikir bahwa itulah kata kuncinya. Gunakan hal ini sebagai trik memperkenalkan kata kunci dengan lebih baik ke mesin pencari. Tetapi yang patut diperhatikan ialah bahwa kita seharusnya HANYA menggunakan tag-tag ini untuk kata kunci atau mesin pencari akan kebingungan.

5. META tags

 Gunakan kata kunci di judul kita dalam tag <judul> dan tag DESCRIPTION. Google akan menyukai tag judul dan deskripsi yang identik atau sama.Jangan mengulang kata kunci di tag ini atau tag lain, karena bisa dianggap spam.

6. Daftar bernomor

 Daftar dengan nomor memudahkan orang mencerna ide yang disampaikan. Karena itu mereka lebih menyukainya daripada sebuah paparan yang panjang lebar dan tidak dibagi dalam poin-poin atau angka-angka.

7. Nama file

 Gunakan 5 kata kunci dalam nama file-file kita. Menggunakan kata kunci dalam nama file juga memiliki manfaat SEO. Kita harus juga menggunakan kata kunci untuk menamai direktori yang menampung file tersebut. Dengan demikian, semua URL akan terdiri dari nama domain yang diikuti oleh kata kunci yang relevan dengan konten laman web.

8. Saling tautkan artikel-artikel kita

 Saling menautkan laman-laman dalam situs/blog kita akan memastikan PageRank dibagikan ke banyak artikel dalam situs kita. Singkatnya kita ingin membagi rata peringkat yang diperoleh satu laman terbaik di situs kita ke laman lainnya. Saling menautkan secara kontekstual yang teks anchornya (tampak oleh pembaca tanpa di-hover dengan kursor) relevan dengan laman target. DI samping meratakan PageRank di seluruh situs , teknik satu ini akan membantu Google juga untuk menentukan tema laman kita.

9. Dapatkan tautan luar yang berguna

 External links atau tautan luar menuju situs memegang peran penting. Telah dijelaskan secara eksperimental bahwa dengan asumsi faktor-faktor lain juga setimbang dan sama, laman-laman dengan tautan ke luar (outbound links) memiliki peringkat yang lebih tinggi daripada laman tanpa tautan ke luar (outbound links). Kita seharusnya hanya menautkan ke laman yang relevan dengan konten laman kita. Kita juga harus pastikan bahwa laman-laman itu tidak dihukum oleh Google. Ini untuk menghindari agar laman kita akan kena hukuman serupa pula dari Google.

10. Naikkan rasio konten-kode

 Laman kita semestinya memiliki rasion konten dan kode yang tinggi. Ini dikenal sebagai signal-to-noise ratio, jumlah teks relatif dibandingkan jumlah kode. Jika kita membongkar code source sebuah laman web (di Internet Explorer cukup dengan klik “view” di toolbar dan pilih “source”) , harusnya ada lebih banyak teks daripada kode HTML di sana. Mesin pencari akan menyukai laman web seperti itu. Minim kode HTML, lebih banyak teks. Jika kita tulis sebuah artikel dengan jumlah 700 kata dengan kode HTML yang sederhana, signal-to-noise ratio dengan sendirinya akan tinggi dan mesin pencari menyukai ini.

11. Hindari Flash

 Flash menyulitkan para pembuat konten SEO. Flash bisa dikatakan musuh bebuyutan SEO bersamaan dengan frames. Flash membuat laman web lama untuk bisa dimuat sempurna dan tak bisa dibaca mesin pencari. Semua informasi yang ada dalam flash tidak bisa dibaca mesin pencari karena tidak terindeks. Ini bertentangan dengan tujuan upaya SEO, yakni membuat semua konten sebisa mungkin terindeks dengan sempurna oleh mesin pencari. Flash juga sering membuat kesal pengunjung situs dan membuat mereka segan kembali. Anggap flash sebagai alternatif terakhir untuk menarik pengunjung.

12. Hindari frame

 Tak ada yang perlu diragukan lagi, frame bukan alat yang  tepat untuk SEO. Frame tidak bisa digabungkan dengan unit fundamental navigasi web. Frame menghancurkan peluang situs / blog untuk bisa terindeks dengan baik oleh mesin pencari. Jika sebuah situs menggunakan frame, bisa saja yang terindeks mesin pencari hanyalah laman depannya saja (homepage).

13. Gunakan sinonim and bentuk jamak

 Untuk membuat artikel kita relevan dengan sebanyak mungkin pertanyaan yang dimasukkan dalam mesin pencari, kita harus gunakan sinonim dalam teks / artikel. Google menyukai artikel seperti ini (yang kosakatanya bervariasi tetapi tetap bertalian dengan satu tema) dan dengan sendirinya artikel itu akan dianggap berkualitas untuk ditampilkan dalam hasil pencarian. Argumen serupa juga berlaku untuk kata-kata jamak. Kata jamak membuat Google lebih mudah merujuk untuk versi kata tunggal dan jamak dari sebuah kata tertentu.

14. Tautan harus dibenamkan dalam teks, tidak terisolasi

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, tautan harus menjadi bagian kalimat. Tidak tahu caranya? Pertama, tentukan anchor texts yang diinginkan dengan menyorot kata tertentu. Kedua, temukan ikon “insert/edit links” (saya pakai WordPress). Ketiga, masukkan URL laman web yang dikehendaki/ mau ditautkan. Terakhir, jika perlu pilih “open link in a new window” dan simpan dengan klik “add link”. Selesai! Ini contohnya.

“Google privacy policy changes now.”

anchor text: “privacy”

URL : http://pandodaily.com/2012/03/01/verified-the-clipboard-data-privacy-scandal/

Tautan/ link yang terpisah cenderung akan diturunkan oleh Google karena itulah masukkan URL dengan cara demikian ke teks yang kita tulis.

(Sumber: Squidoo.com)