Tidak Perlu Menganggap Terlalu Serius Guru Yoga Modern

Screen Shot 2016-07-15 at 16.39.25GURU yoga sekarang terlalu menganggap dirinya ‘serius’, ‘tinggi’ dan ‘agung’. Padahal itu cuma ilusi semata. Begitu kira-kira pesan dari guru yoga Alexander Medin.

Menarik, pikir saya.

Hanya karena seseorang bisa memeragakan sebuah asana dengan lancar dan ahli, seolah otomatis dia bisa dikatakan sebagai guru. “Itu tidak bisa dibenarkan,” ujarnya.

Kita, para guru yoga di abad ke-21 ini, tidak memiliki hak untuk mengklaim diri kita memahami yoga hanya dengan mengatakan indahnya yoga dengan menunjukkan duduk dalam pose lotus atau meliuk ke belakang dalam gerakan backbend yang mencengangkan.

Banyak tuduhan yang mencoreng nama yoga karena adanya sejumlah guru yoga yang terlalu berambisi menonjolkan diri mereka dalam jagat yoga. Mereka ini justru tidak begitu mengindahkan dan memperdalam pengalaman yang lebih mendalam soal yoga dengan dirinya sendiri.

Tetapi inilah kehidupan. Anda mesti terlihat lebih berkharisma, kalem, dan berwibawa sebagai guru yoga. Bisa dikatakan ini hanya penciptaan sebuah ilusi untuk menarik murid untuk belajar pada guru-guru yoga ini.

Sehingga satu hal yang patut dicamkan dalam menghadapi segala macam tingkah guru yoga saat ini ialah jangan terlalu menganggap mereka sebagai sosok yang serius dan agung. Tidak ada satu orangpun yang tahu persis apa yang mereka sesungguhnya lakukan meskipun itu sudah dibuktikan dengan pengalaman beryoga selama bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun atau seumur hidup sekalipun. Kerap kita menemukan pernyataan dan perbuatan mereka yang sangat melenceng dari apa yang digariskan dalam ajaran yoga.

Saat seorang guru yoga mengklaim dirinya tahu sesuatu tentang yoga, kita semestinya skeptis untuk tetap mempertanyakan keabsahan klaimnya itu secara kritis tanpa secara terang-terangan menghina atau menyinggung harga diri atau ego guru yang bersangkutan. Kita semestinya tetap kritis saat seorang guru yoga menyatakan dirinya seorang guru yoga yang tahu X atau Y dengan hanya mengandalkan sertifikat, garis keturunan, dan label -label eksternal semacam itu. Kebenaran yoga tidak bisa dibatasi dan didefinisikan hanya dengan menggunakan semua label yang lazim kita temui saat ini.

Manusia dari berbagai jalan hidup dan pekerjaan juga bisa dikatakan seorang yogi. Hanya karena seseorang pandai berasana tidak serta merta membuatnya menjadi seorang yogi. Seorang ‘guru yoga’ belum pasti seorang yogi juga, tetapi sebaliknya seorang musisi, pedagang, pejabat dan sebagainya bisa juga menjadi seeorang yogi.

Jika obsesi seseorang untuk berlatih yoga adalah untuk menjaga kesehatan dan menjaga kerampingan dan keawetmudaan tubuh fisiknya, seseorang mungkin belum dapat dikatakan sebagai seorang yogi. Seorang yogi semestinya mengejar ketidakterbatasan, kebahagiaan sejati. (*)

Agar Lutut Terjauh dari Cedera dalam Yoga

800px-flickr_-_nicholas_t_-_tautLatihan yoga memang bisa menyehatkan tubuh kita tapi dalam sebagian kasus, beryoga malah memperburuk beberapa kondisi kesehatan yang sudah diderita. Itu bisa terjadi karena mungkin latihan tidak didampingi dengan guru yang berpengalaman, atau si praktisi terlalu bersemangat sehingga kesadaran untuk berlatih secara sabar menjadi menurun. Kemungkinan lainnya ialah karena masih memaksa untuk berlatih meski tahu sudah cedera atau memerlukan istirahat dalam periode waktu tertentu.

Salah satu bagian tubuh yang sering dilanda badai cedera dalam banyak olahraga termasuk yoga ialah sendi lutut. Mengapa? Karena sendiri ini termasuk sendi yang paling banyak dipakai dalam pergerakan sehari-hari. Risiko akan makin meningkat begitu seseorang memiliki berat badan yang berlebihan. Pun kebiasaan yang salah dalam memperlakukan lutut.

Cedera lutut – tidak seperti cedera kepala atau otak – mungkin tidak akan membunuh seseorang tetapi dapat dipastikan produktivitasnya akan menurun sebab mobilitas menjadi sebuah masalah besar. Begitu kesehatan sendi lutut memburuk, melangkahkah kaki dalam jarak dekat saja sudah membuat kita terengah-engah atau meringis kesakitan. Alhasil, kita akan terkungkung dan terpaku lebih lama di satu tempat. Sangat membosankan.

Salah satu indikator menentukan seorang praktisi yoga berpotensi menderita masalah pada sendi lututnya, menurut  guru yoga David Robson, ialah melihat caranya melakukan lotus pose atau duduk dalam posisi teratai. Cara duduk ini dilabeli banyak orang sebagai cara duduk yogi tingkat mahir. Dalam beberapa kasus ekstrem, sejumlah yogi dan yogini memerlukan beberapa tahun untuk menguasai ini. Bahkan ada yang sama sekali gagal, tak peduli kemarin atau sekarang atau besok. Tiada kemajuan yang dicapai, bahkan tidak memandang frekuensi dan jam latihan.

Masih menurut Robson, cara melakukan cara duduk teratai yang kurang tepat dan tergesa-gesa dapat memicu sakit di sendi lutut yang berakumulasi hingga kemudian hari.

Dalam pengamatan Robson, mereka yang rentan menderita sakit lutut ialah mereka yang dalam kelas yoga sering menarik tungkai bawahnya ke atas dulu baru mendekatkan telapak kaki ke arah selakangan. Dan parahnya, cara yang salah ini dilakukan oleh mayoritas pelaku yoga yang pernah ia temui dan mengeluhkan sakit lutut. Ia bahka berani mengklaim 90-% lebih yogi dan yogini meniru cara salah tadi dalam latihan sehari-hari mereka.

“Agar risiko itu berkurang, tarik telapak kaki mendekat ke selakangan dulu tanpa mengangkatnya lebih tinggi dari kaki satunya. Jika sudah dekat kemudian barulah Anda tarik telapak dan pergelangan kaki itu ke atas dan bertumpu di paha sisi lain,” terang Robson.

Dengan melakukan cara yang lebih aman tadi, gerakan perputaran terjadi lebih banyak pada sendi pinggul dan tulang paha (femur) daripada tulang kering dan sendi lutut yang lebih lemah.

Poin lain yang perlu diperhatikan dalam pose lotus ini ialah agar pergelangan kaki tidak terlalu ke bawah. Jika memungkinkan, tariklah pergelangan kaki ke atas lagi sehingga berada tepat di garis batas antara paha atas dan perut bawah. Alasannya ialah agar sendi dan tendon pergelangan kaki lebih aman dari tekanan yang bisa memicu terkilir.

Plus, dengan menaikkan pergelangan kaki ke atas, pergelangan kaki akan didukung oleh paha dan jika Anda ingin menurunkan tubuh ke depan seperti dalam janu sirsasana (dalam posisi kaki half lotus), kaki akan menekan perut sehingga tercapai efek pemijatan organ-organ dalam yang diinginkan. “Jika pergelangan kaki Anda bisa di posisi itu (antara paha dan perut), itulah yang terbaik,” tegasnya.

Jadi singkatnya, untuk bisa melakukan pose duduk teratai dengan aman, tingkatkan mobilitas sendi pinggul dahulu. Jika sendi pinggul belum siap dan masih kaku, biasanya yang terjadi tekanan akan dialihkan ke sendi lutut. Bila ini terus menerus terjadi, kompromi atas kekakuan sendi pinggul tadi akan memicu masalah di sendi lutut yang terlalu terbebani.

Untungnya Jadi Guru Yoga Berusia Senja

Selalu ada yang menarik dan tak terduga dalam setiap percakapan. Seperti sore itu saat kami mengobrol tak tentu arah. Sahabat yang guru yoga ini mengingat seorang murid yoganya yang kala itu baru berkunjung dari seorang dokter.

Badannya menderita cedera dan ia berkonsultasi pada dokter yang sudah seumur ayahnya. Sebelumnya ia pernah datang ke dokter ini sehingga mereka sudah terbiasa mengobrol terbuka.

Punggung bawahnya yang bermasalah itu membuat si murid tidak leluasa membungkukkan badan. Ia kesakitan dalam waktu lama dan semua aktivitasnya terganggu. Sang dokter menyarankan resep ini itu tetapi cuma mengusir rasa sakitnya. Mobilitas masih tersendat.

Karena tak tahu harus ke mana lagi, tatkala ia mendapati informasi yoga bisa mengobati dan ada guru yoga di sekitar tempatnya berdomisili, si murid ini pun menemui teman saya tadi. Singkat cerita, ia berlatih yoga bersama teman saya hingga secara bertahap keluhannya sirna. Masalah itu sudah tuntas dan ia lepas dari penderitaan juga.

Dipicu keingintahuan, dokternya melontarkan pertanyaan,”Bagaimana latihan yoganya kok bisa sampai sembuh seperti sekarang?” Dengan polosnya si murid contohkan semua gerakan. Dokter itu mengamati dan membuat catatan di benaknya.

Lalu terbetik sebuah pemikiran yang diwujudkan dalam sebuah pertanyaan. Begini tanya si dokter,”Guru yogamu sudah tua atau masih muda?”

“Sudah tua tapi casing-nya masih muda kok, dok,” ujarnya sambil bercanda. “Kenapa kok tanya begitu, dok?”

Usut punya usut, sang dokter meyakini bahwa para instruktur yoga yang berusia belia biasanya masih fakir pengalaman. Risiko miskinnya pengalaman itu adalah mereka masih belum banyak paham mengajar dengan aman. Mereka biasanya baru saja lulus dari pelatihan mengajar yoga sehingga patut dimaklumi masih mencari jati diri sebagai yogi atau yogini. Dan saat semangat yang membara sejumlah guru-guru muda ini memicu cedera, sudah terlambat untuk waspada.

Dunia memang aneh. Di satu sisi, guru-guru tua yang sudah banyak cedera dan tak leluasa saat menjadi peraga itu ‘mengeluh’ makin tergerus di ceruknya karena tak bisa lagi bergerak selincah mereka di masa muda. Akan tetapi, bila dicermati lagi, di sisi lain mereka diganjar dengan kebijaksanaan yang berlimpah ruah berkat pengalaman sekian lama.

Namun, sebagaimana memilih buah matang dari yang mentah di pasar, menggunakan muka dan usia sebagai tolok ukur menilai kompetensi mengajar yoga sebenarnya juga tingkah diskriminatif yang naluriah dan tidak terhindarkan. Meskipun tidak bisa dinafikan jika jumlah kerutan tak sama dengan kualitas.

Jadi guru yoga yang tua dan penuh cedera juga ada untungnya. (Photo credit: Wikimedia Commons)

Pabrik Guru Yoga

Sebuah fenomena yang sudah lazim terjadi di dunia pendidikan di mana-mana. Sekolah kini dianggap sebagai sebuah pabrik. Iya, pabrik penghasil  manusia-manusia bertitel tertentu.

Di dunia pendidikan tinggi, kita sudah maklum dengan menjamurnya kampus-kampus saat ini, kualitas lulusan menjadi makin memprihatinkan karena fokus lembaga -lembaga pendidikan itu hanyalah bagaimana makin banyak menjaring mahasiswa dan meraup untung lalu meluluskan mereka dengan gelar yang dijanjikan. Kualitas belakangan.

Di dunia yoga juga ada fenomena semacam ini. Dan semua ini terjadi dalam beberapa tahun terakhir saat makin banyak sekolah yang meluluskan guru-guru yoga yang masih ‘hijau’ tetapi sudah berani melanglang buana.

Tentu bukan maksud saya seorang guru yoga harus membatasi gerak maju dirinya. Justru kemajuan itu haruslah didukung penuh.

Akan tetapi, patut dipikirkan juga apakah hasrat untuk mencapai kemajuan yang cepat dan pesat itu setara dengan kemampuan diri yang ada. Apakah sudah pantas bagi kita untuk mengedepankan ambisi daripada kelayakan diri dalam kenyataan?

Seorang teman yang guru yoga mencurahkan kecemasannya mengenai lubernya pasar dengan guru-guru yoga baru. Ah, saya juga termasuk juga. Saya juga guru yoga dengan jam terbang baru seumur jagung. Sangat ‘hijau’ jika tidak bisa dikatakan baru sama sekali.

Teman saya itu mengatakan betapa pusingnya ia dengan banyaknya guru yoga baru yang meskipun sudah lulus tetapi sangat ceroboh dalam mengajarkan asana-asana tanpa mengetahui lebih lanjut kontraindikasinya pada murid-murid yang jelas memiliki kondisi kesehatan ‘khusus’.

Sebuah kasus ia jelaskan secara gamblang. Seorang kenalan baiknya yang kebetulan menderita kanker otak yakin bahwa yoga bisa memberikannya perbaikan kualitas hidup, yang dalam kasusnya bisa berakhir kapan saja. Guru yoga yang kebetulan mengajar sang kenalan ini memang terbilang baru.

Usai mengikuti kelas dengan guru yoga yang baru itu, sang kenalan mengunggah dengan bangga sebuah foto headstand di dinding. Mengetahui itu, teman saya berang. “Kenapa kamu melakukan headstand padahal kamu tahu kamu menderita kanker otak? Apakah gurumu tahu kamu menderita kanker otak?!”

“Sudah tahu,” jawab sang kenalan lagi.

Teman saya lebih terkejut lagi atas jawaban itu. Bagaimana bisa seorang guru yoga mengizinkan atau bahkan mendukung keinginan muridnya yang menderita penyakit parah di kepalanya untuk melakukan pose inversion atau berbalik dengan kepala di bawah tanpa banyak pertimbangan? Teman saya tidak habis pikir dan memperingatkan sang kenalan agar tidak mengulangi pose itu lagi karena risikonya tidak sebanding dengan kesan ‘keren’ yang didapat dari foto.

Usut punya usut, guru yoga baru ini memang baru setahun terakhir praktik mengajar setelah mengambil sebuah pelatihan guru yoga (yoga teacher training). Maka tidak heran bahwa banyak hal yang masih ia belum ketahui dalam yoga. Termasuk kecerobohan satu ini. Kecerobohan yang terbilang fatal.

Jason Crandell: Yoga Mungkinkan Saya Menjadi Diri Sendiri


Perjalanan menuju yoga sangat bervariasi dari satu orang ke yang lain. Ada yang secara sengaja menenggelamkan diri untuk menekuni yoga. Ada juga yang tidak tertarik pada awalnya. Namun, jalannya roda takdir sungguh tidak bisa diduga sehingga di suatu titik terjadilah persinggungan dengan yoga yang tidak terencana. Persinggungan itu mampu membuat sejumlah orang berubah menjadi benci atau enggan menjadi cinta. Dan itulah yang terjadi pada Jason Crandell, pria yang saat ini dikenal sebagai seorang guru yoga terkenal di Amerika Serikat.

Crandell memiliki pendekatan yang unik dalam mengajar. Ia menekankan pada detil. “Saya lebih memilih melakukan asana-asana yang sederhana tetapi bisa dilakukan dengan baik karena dari sana kita bisa banyak belajar mengenai kesadaran diri, keseimbangan, ketrampilan, kerendahan hati, ketepatan.”

Pemikiran Crandell yang bagi saya menarik untuk diaplikasikan dalam kelas-kelas kita ialah bagaimana ia memandang tubuh dan asana. Begini ia menyikapinya:”…. [O]rang (cenderung memilih – pen) menggunakan tubuh mereka untuk melakukan pose-pose yoga (asana) daripada menggunakan asana sebagai cara untuk memahami lebih baik rasanya memiliki atau berada dalam sebuah tubuh.”

Untuk mencapai pengetahuan dan pengalaman sedalam itu, Crandell yang berasal dari Ohio, kawasan Midwest itu sudah mengenal yoga sejak ia duduk di bangku kuliah. Untuk menggambarkan bagaimana enggannya ia terhadap ide melakukan yoga yang diajukan oleh pacarnya kala itu untuk menggenapi kredit di kuliahnya agar bisa lulus segera, Crandell mengatakan dirinya ketakutan. “Hal itu (yoga -pen) adalah hal terakhir yang saya ingin coba lakukan. […] Dari sudut pandang kultur, saya tidak ingin melakukannya,” ujar Crandell yang pernah mengakrabi olahraga skateboard selama belasan tahun itu. Begitu ia keluar dari kelas yoga pertamanya, kesan awal yang didapat Crandell hanyalah: nyata, jernih, dan seimbang.

Sama dengan apa yang dialami sejumlah orang, ketertarikan Crandell pada yoga berawal dari sebuah “perjuangan internal”. Ia menampik masa kecilnya tidak seindah anak-anak kebanyakan. Namun, tetap saja ia masih menyimpan keinginan untuk bisa menjadi seseorang yang lebih damai dan seimbang dan mengeksplorasi ketertarikan besarnya pada kondisi manusia.

Awal karier Crandell sebagai pengajar yoga bermula saat ia diperintahkan seorang gurunya saat itu untuk mengajar sebuah kelas Ashtanga untuk pemula di tahun 1996-1997. Saat itu, Crandell masih kuliah untuk mengejar gelar master hubungan internasional. Sebelumnya, Crandel sudah menggenggam gelar sarjana ilmu filsafat.

Pertama mengajar yoga, Crandell belum paham bahwa mengajar yoga tidaklah sama dengan melakukan yoga. Diperlukan sebuah ketrampilan khusus untuk bisa mengajarkan sesuatu pada orang lain. “Saya masih belum memahami bahwa melakukan sebuah postur  dan mengajarkannya membutuhkan jenis ketrampilan yang berbeda.” Dari pengalaman itu, Crandell menyadari bahwa dirinya membutuhkan sebuah pelatihan khusus untuk menjadi seorang guru yoga yang profesional. Crandell pun kemudian mendaftarkan diri dalam pelatihan mengajar yoga yang diselenggarakan oleh Rodney Yee selama dua tahun penuh. Di dalamnya, Crandell belajar banyak sebagai seorang guru yoga magang.

Kita bisa maklumi bagaimana masa pengasahan diri sebagai guru yoga yang begitu panjang tersebut membentuk karakter Crandell sebagai seorang guru dengan kualitas seperti sekarang. Sungguh lain dengan kondisi saat ini, sebuah masa saat guru-guru yoga yang baru saja lulus sudah bisa mengajar yoga sendiri, tanpa panduan dari guru yang lebih berpengalaman, karena toh sudah bersertifikat.

Pentingnya Melek Media Sosial Agar Guru Yoga Tidak ‘Sial’

Yoga instan, penuh MSG, bahan pengawet, dan pewarna artfisial. (Sumber foto: Wikimedia Commons)
Instruktur yoga di era digital juga tidak cuma makin dituntut untuk menguasai pengetahuan yoga tetapi juga perlu melek media sosial. Sebagian dari mereka mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi informasi ini. Yang lain tertatih bahkan terseok. (Sumber foto: Wikimedia Commons)

Sore itu di sebuah studio yoga bersama dengan beberapa teman, saya terkekeh karena melihat salah satu dari teman kami, guru yoga juga, yang tampak kebingungan. Ia memiliki iPhone baru setelah berpindah dari ponsel cerdas Android. Karena baru beberapa hari memiliki ponsel keluaran Apple itu, ia dibuat pusing bukan kepalang karena ada penyesuaian-penyesuaian cara penggunaan yang menuntutnya harus belajar banyak. Hal-hal teknis semacam trik praktis menyunting foto, aplikasi yang mampu menyunting dengan hasil lebih menawan, hingga menarik kembali otorisasi akun media sosialnya dari aplikasi ponsel sebelumnya untuk mengatasi error saat mengunggah konten ke akunnya, membuat teman saya itu pening.

Lalu saya berceletuk,”Tampaknya kita perlu mengadakan kursus SOCIAL MEDIA 101 FOR YOGA TEACHERS di studio ini kapan-kapan ya? Hahaha!” Kami tergelak. Isi kursus intensif itu, saya bayangkan dalam benak, akan mencakup cara-cara menjepret foto-foto asana yang berkualitas unggul, yang akan memukau jika dipamerkan di jejaring sosial, yang memicu banyak orang mengklik tombol like, memakai tagar (hashtag) yang mudah diingat dan tidak lupa memberikan jeda saat mengetiknya di ponsel agar tetap bisa diklik untuk pelacakan lebih lanjut dan spesifik, dan begitu seterusnya.

Pikir punya pikir, saya rasa aspek-aspek teknis itu penting tetapi masih agak dangkal. Guru yoga tak perlu seahli fotografer dalam menghiasi galeri media sosialnya. Mereka juga tidak perlu seserius sebuah korporasi dalam menyusun kalender atau agenda konten yang akan diunggah secara kaku dan sangat terstruktur. Mereka hanya perlu ketrampilan teknis yang dasar lalu lebih mendalami bagaimana menciptakan konten yang terasa lebih ‘yoga’. Maksud saya adalah bagaimana seorang guru yoga bisa mencerminkan ajaran dan nilai-nilai bajik dari yoga melalui unggahan-unggahannya di media sosial (entah itu Facebook, Twitter, Snapchat atau Instagram).  Dan yang sama pentingnya ialah bagaimana ia bisa ‘berjualan’, alias memasarkan kemampuannya dalam memberikan manfaat pada orang lain melalui pengetahuan dan pengalaman yoganya, melalui cara yang lebih etis dan halus. Tentu saja menempuh cara-cara yang cenderung bersifat menyampah atau spammy akan membuat citra sebagai guru yoga ternoda. Pendekatan soft selling yang lebih personal dan humanis akan lebih sesuai. Caranya dengan tidak membombardir orang melalui tagging massal (Anda pasti tahu betapa menjengkelkannya itu). Mengedepankan pemberian manfaat dalam ‘menjual’ akan lebih efektif dan mengena daripada sekadar berpromosi membabi buta.

Akun-akun media sosial guru yoga hendaknya tidak hanya mengumbar foto-foto yoga asana yang menantang dan kurang masuk akal bagi mayoritas manusia. Kita tahu banyak bertebaran akun-akun semacam ini. Bukannya tidak diperbolehkan, tetapi kadang bagi para pengamat atau peminat yoga yang ingin mencoba, mereka bisa terintimidasi (Bisa saya katakan ini juga catatan bagi diri saya sendiri!).

Dalam akun media sosial, seorang guru yoga juga sebaiknya tidak menceritakan terlalu banyak detil kehidupan pribadi seperti putus cinta atau trauma. Saya menjumpai ada akun guru yoga yang secara blak-blakan mengaku sedang patah hati lalu mengunggah fotonya dengan rambut yang terurai masai, warna fotonya secara sengaja dibuat muram. Entah pendapat Anda, namun saya lebih mengapresiasi guru yoga yang tetap jujur dengan apa yang mereka alami tanpa harus membuka detil privat itu dengan terlalu ‘boros’.

Seorang guru yoga juga sebaiknya tidak terlalu banyak berpromosi di akun media sosialnya. Mesti ada proporsi yang disepakati sebelumnya. Katakanlah, 70 persen unggahan bersifat murni yoga, lalu sisanya 30 persen bisa bersifat komersial atau advertorial. Porsinya memang bisa fleksibel sesuai kebutuhan, tetapi jangan sampai sembarangan dan membuat jenuh dan jengah para pengikut setia.

Akun media sosial juga idealnya tidak digunakan untuk mengumbar kemesraan pribadi dengan keluarga dan teman dekat. Mengapa? Karena kita tidak tahu apa yang akan dilakukan orang-orang kurang waras di luar sana setelah mengetahui wajah orang yang Anda kasihi terutama anak-anak Anda yang belum bisa menjaga diri mereka dari perbuatan-perbuatan pihak yang kurang bertanggung jawab. Tetapi sebuah akun media sosial yang dimiliki guru yoga malah memuat foto dirinya bersama sang anak, dan bahkan guru yoga itu membuatkan sebuah akun Instagram tersendiri untuknya. Bagi saya itu tindakan yang kurang bijak. Namun, tentu saja semua terpulang pada diri masing-masing.

Yang perlu dihindari juga ialah sebaiknya guru yoga tidak hanya selalu menghiasi akun media sosialnya dengan foto-foto asana yang memiliki keterangan atau caption dari kutipan orang-orang bijak yang entah itu relevan atau tidak relevan dengan foto yang ditampilkan bersamanya.

Sebuah akun media sosial guru yoga menurut hemat saya idealnya:

  1. memuat cerita-cerita bajik yang menghibur dan jujur atau menceritakan mengenai anekdot-anekdot sehari-hari, perjalanan yoga sang pemilik akun misalnya apa yang dilakukan oleh Masumi (@masumi_g) yang mengunggah fotonya sedang handstand dengan apik namun menceritakan bahwa itulah dirinya dahulu. Ia penyuka yoga yang ‘keras’ dahulu namun setelah ia melalui perjalanan uniknya sendiri, setelah mengalami perawatan medis dan penyakit Lyme (sejenis arthritis yang dipicu oleh semacam kutu), ia lebih memilih yin yoga dan mendalami meditasi. Ia mengisahkan perjalanan yoganya dengan jujur bahwa apa yang ia alami itu hanyalah sebuah perbedaan dalam mempraktikan yoga. Dan semua itu membuatnya makin baik. Akun @kinoyoga juga menarik untuk diikuti karena Kino Macgregor memiliki kemampuan menceritakan (storytelling skills) yang relatif lebih baik dari para guru yoga pada umumnya. Kalimat-kalimatnya memang lebih panjang tetapi padat berisi pesan-pesan bijak mengenai yoga dan kehidupan.
  2. memberikan informasi dan kiat agar mencapai pose tertentu dalam foto dengan lebih aman dan nyaman, seperti apa yang dilakukan oleh akun @bohemian_heart yang menjelaskan bagaimana mengesksekusi pose urdhva dhanurasana dengan bertahap.
  3. memberikan peringatan, seperti apa yang dilakukan akun @gypsetgoddess yang menceritakan bagaimana ia dulu mengejar mati-matian foto-foto bagus hanya untuk diunggah di akunnya hingga harus jatuh dari pohon dan cedera hampir fatal. Ia mengatakan bagaimana yoga di Instagram bisa menyatukan para pelakunya dari seluruh dunia tetapi juga bisa membuat orang terluka karena terobsesi pada apa yang mereka lihat di dalamnya. Pose-pose menantang dan menawan bisa membuat kita terluka dan jika cedera, semua itu tidak setara dengan deritanya.
  4. memberikan kiat modifikasi pose yoga jika diperlukan seperti yang dilakukan oleh akun @yogini_rachel. Ia memberikan penjelasan dalam gambar dengan tulisan instruksional dalam foto yang singkat tetapi jelas disertai dengan deskripsi yang lebih detil dalam caption foto. Misalnya saat kita akan melakukan sebuah pose yang final dan dimodifikasi kita bisa lakukan semuanya dengan sama baik dan amannya sesuai dengan kondisi anatomi masing-masing pelakunya.
  5. memberikan tema berbeda yang tak berhubungan dengan yoga sama sekali tetapi tetap menunjukkan kebijakan seorang pelaku yoga. Misalnya apa yang dilakukan opleh @denisepayneyoga, yang mengunggah sebuah foto kelapa muda dan mengomentari bahwa kadang ia mendapati sebuah kelapa yang begitu sempurna. Rasa airnya sempurna, bentuknya dan suhunya juga tanpa cela. Dan ia menghargai semua detil itu untuk menunjukkan rasa syukurnya pada apapun yang ia temui. Ia menghayati hidup itu sendiri melalui hal-hal remeh temeh namun bermakna jika kita mau berhenti sejenak mengamati dan menghayati.
  6. memberikan sebuah misi sosial untuk dicapai bersama-sama, seperti apa yang dilakukan oleh @brianmilleryoga yang mengajak kita lebih peduli pada kesehatan kaum Adam dalam kampanyenya yang bertajuk “Yoga Beards Unite” dengan meninggalkan pisau cukur dan memanjangkan jenggot sebagai itikad positif dalam mengumpulkan dana untuk misi sosial itu.

Bagaimana menurut Anda? Sebagai guru, apakah ada poin yang terlewatkan? Atau dari sudut pandang murid, adakah yang ingin Anda tambahkan? Silakan berikan opini di kotak komentar.

Haruskah Menganggap Murid Yoga sebagai Klien atau Anak?

Konsumen adalah raja. Kita semua sudah tahu semboyan kapitalis satu itu. Semuanya bila perlu bisa dihalalkan demi menarik dan mempertahankan konsumen yang membawa pendapatan bagi bisnis yoga kita. Istilah “acquiring and retaining consumers” pun lambat laun bisa diaplikasikan dalam hubungan murid dan guru yoga kontemporer.

 Lagi-lagi menurut seorang guru populer Ashtanga Yoga yang baru saja menyambangi Jakarta, guru-guru yoga masa kini mesti berdiri di sebuah percabangan jalan. Sebuah jalur menuju ke yoga sebagai sebuah entitas bisnis, industri yang mengejar keuntungan material, dan jalur lain menuju ke sebuah tujuan akhir yoga sebagai sebuah jalan pengabdian yang tulus dan tanpa pamrih.
Saya mengamati sebuah fenomena perpecahan yang klise dan klasik. Satu grup memilih untuk menggunakan yoga sebagai cara mencari nafkah yang menguntungkan sehingga setiap kesempatan memonetisasi tidak bisa dilewatkan begitu saja. Apa hanya terjadi di masa sekarang? Ah, mungkin tidak. Itu sudah ada sejak dulu pasti. karena sudah kodrat manusia untuk menginginkan kenikmatan duniawi. Hanya saja, masalahnya intensitas hasrat duniawi itu berbeda-beda dari satu individu ke individu lainnya.
Satu kelompok lainnya lebih ekstrim puritan, seperti seorang praktisi pertama dan perintis yoga yang sudah sepuh di Indonesia. Dalam sebuah perhelatan yoga di ibukota, beliau pernah diundang dan diganjar penghargaan atas dedikasi dan kerja kerasnya selama ini. Dan tebak saja wejangan yang ia semburkan pada kami yang lebih muda ini,”Anda semua jangan mengeksploitasi yoga layaknya sebuah tambang emas.” Saya membayangkan apa yang berkecamuk dalam pikiran orang-orang yang berada di depannya dan mendengar pesan berharganya itu. Saya gamang sejujurnya, mengingat orang-orang di depannya itu mengais rupiah dari yoga sebagai ladang peruntungan. Musykil sekali rasanya mereka bisa terapkan mentah-mentah, gumam saya.
Kemudian ada satu kelompok lain yang mencari solusi tengah. Alih-alih menjadi lebih ekstrim kanan atau kiri, mereka lebih memilih untuk menjadi moderat dalam menjalankan fungsi ekonomi dan peran sebagai yogi sejati.
Kelompok pertama tentu saja ingin agar murid-muridnya puas sebab dalam benak mereka murid adalah konsumen yang sudah membayar dan mesti dipuaskan kebutuhannya. Mereka berorientasi pada murid. Kepuasan murid ialah tujuan utama. Saat ketidaknyamanan muncul dan dilontarkan murid, guru yoga kelompok pertama merespon dengan  baik dan sigap.
Kelompok kedua cenderung untuk bersikukuh mempertahankan orientasi pada ajaran yoga, bukan pada kepuasan dan kenyamanan murid. Di kelompok ini, guru yoga menanamkan pemahaman bahwa murid perlu mengendalikan hasrat mengejar kenikmatan dan kenyamanan (craving) dan kemelekatan (attachment). Kelompok kedua ini mengibaratkan hubungan guru dan murid sebagai hubungan orang tua dan anak kandungnya yang senantiasa harus dijaga. Namun, bukan berarti orang tua mesti terus memanjakan anaknya. Orang tua harus tahu batasan agar anak-anaknya bisa tetap aman tetapi juga terus berkembang. Dan di sinilah, guru yoga idealnya menemukan keseimbangan agar para murid bisa memahami pentingnya disiplin dan tetap merasakan keamanan dan kenyamanan tanpa mengorbankan tujuan utama:belajar yoga dengan cara yang baik dan benar.
Hal ini mencakup pemberian peringatan dan nasihat yang tak kenal lelah bagi murid-murid yang masih memiliki kebiasaan buruk yang bertentangan dengan jalan yoga yang mereka sudah pilih secara sadar dan bertanggung jawab. Misalnya, sebuah aturan dalam Ashtanga Yoga yang mewajibkan para pengikutnya tidak minum atau makan apapun selama berlatih. Ini sudah menjadi harga mati, mutlak. Jika dilanggar, bisa jadi ada sanksi tertentu. Ada guru-guru yoga tertentu yang juga memberlakukan aturan ketat soal penggunaan gawai (ponsel pintar atau sabak elektronik) yang memang jika dibiarkan bisa mengganggu jalannya kelas.  Di mata murid, guru-guru ini mungkin terkesan otoriter dan kaku.
Namun demikian, seorang guru yoga sebaiknya bisa memainkan keduanya dengan baik, sesuai kebutuhan dan konteks. Saat menghadapi murid-murid yang lebih susah diperingatkan untuk mematuhi aturan agar suasana kelas yoga berjalan lancar, (misalnya murid yang sering memegang ponsel di kelas, berbicara dengan temannya sendiri saat guru sudah menjelaskan), guru perlu menjalankan peran otoriter itu dengan tegas. Lain halnya saat berinteraksi dengan murid-murid di luar ruang kelas, bersikap ramah dan membumi serta memperlakukan mereka seperti klien atau konsumen setia yang sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga dipandang lebih humanis dan sesuai daripada mempertahankan kesan kaku dan militan. Intinya, sebagai guru yoga seseorang perlu cerdik dan luwes memainkan berbagai peran.

Ketakutan Terbesar Guru Yoga

Jadikan ketakutan sebagai sumber kewaspadaan, bukan pengekang gerak untuk maju. (Sumber foto: Wikimedia Commons)

“The enemy is fear. We think it is hate, but it is fear.” 

–Gandhi

Di balik gerakannya yang indah dan memukau kami semua di depan kelas dan kalimat-kalimat penjelasannya yang lugas dan runtut itu, ternyata ia menyimpan sebuah ketakutan terbesar dalam dirinya. Begini aku si guru yoga yang sudah satu dekade lebih mengajar yoga itu kepada saya saat saya bertanya tentang kecemasan terbesarnya selama bekerja di ranah satu ini.

“Ketakutan saya yang terbesar ialah ‘dituduh’ menjadi penyebab suatu cedera, atau memang menyebabkan cedera pada murid-murid saya,” ucapnya dengan raut muka tegang, serius. Saya paham.

Ia angkat jari-jari tangan kanannya dan memegang satu titik di tengah kedua alis, seolah ingin meredakan pikiran yang berkecamuk saat saya memburunya lagi dengan bertanya,”Lalu apa lagi?” Saya belum puas. Saat seperti ini saya merasa seperti Freeport dan ia bumi Papua yang kaya emas. Bedanya saya mengeruk informasi, bukan logam mulia yang bisa memengaruhi kestabilan politik nusantara bahkan ekonomi dunia.

Jeda panjang terentang. Sunyi berdendang. Ia menghela beberapa napas panjang sejenak. Saya sudah bersiap kecewa, dan mengakhiri topik ini saat itu juga. Masalah sepeka ini memang bukan hal yang mudah diungkapkan begitu saja.

Saat saya sudah menegakkan tubuh hendak berpamitan dengan sopan, ia berceletuk,”Dituduh meraba-raba murid, saat saya hanya benar-benar bermaksud untuk membenarkan posturnya yang kurang sesuai dengan pemahaman saya.”

Ah, ternyata ketakutan saya sendiri belum seberapa. Ketakutan bahwa murid-murid itu ternyata jauh lebih berpengalaman dan pintar daripada yang mengajar. Karena paling sial pun hanya malu saat menjawab pertanyaan-pertanyaan rumit dengan berkata polos,”Belum belajar sampai situ” (karena memang tidak tahu dan tidak mau sok tahu untuk menjaga reputasi) atau didepak karena dianggap kurang banyak pengalaman. Atau bisa jadi karena dianggap tak setara dengan kualitas guru yoga yang sudah lebih dulu berjaya. Atau gagal menjelaskan sekaligus mencontohkan bagaimana mengeksekusi sebuah asana yang canggihnya di luar kewajaran. Atau dikritik pedas di depan kelas. Atau kalau beruntung, cuma dibicarakan negatif di belakang. Tetapi ya pantas saja, toh saya juga belum apa-apa.

Karena lambung sudah terasa mengkerut dan kisut, saya pun beringsut. Saya jabat tangannya barang sedetik dua detik. Hangat. Saya balikkan punggung, bergegas menyongsong makan malam. Sadar belum mengucapkan salam, tanpa membalikkan punggung, saya satukan kedua telapak tangan di punggung dan berkata lirih,”Namaste”.

Kapankah Seseorang Siap Mengajar Yoga?

Yoga instan, penuh MSG, bahan pengawet, dan pewarna artfisial. (Sumber foto: Wikimedia Commons)
Malu-malu mau, begitu sebagian orang memilih menjadi seorang guru yoga. Tetapi ada juga yang langsung terjun, seperti seorang penyelam dari ketinggian puluhan meter ke sebuah jurang di samudera yang dasarnya berkarang tajam. Haruskah ini menjadi masalah? (Sumber foto: Wikimedia Commons)

Seorang teman yoga, sebutlah namanya A, pernah mencibir temannya yang lain, B. Kata A, B pernah ditanya apakah ia akan nantinya mengajar selepas lulus dari pelatihan mengajar yoga yang mereka ikuti. Si B menampik ide itu, beralasan bahwa ia akan menggunakan pengetahuan dan pengalaman selama pelatihan itu untuk latihan pribadinya dahulu. B tidak merinci apakah dirinya memang akan melanjutkan pengamalannya ke cakupan yang lebih luas lagi, ke orang-orang lain di sekitarnya. Waktu pun berlalu. Hingga suatu hari A menemukan B mengajar di sebuah studio yoga megah. Muridnya terbilang banyak. Namun, saat A menemui B dan menanyakan apakah B mengajar yoga sekarang, B malu-malu berkata tidak. Padahal A menyaksikan sendiri murid-murid itu mengerumuni si B.

Tetapi begitulah pendekatan sebagian orang saat ingin mengajar yoga. Mereka mulanya cuma ingin belajar untuk diri mereka dan orang-orang terdekat. Akan tetapi, begitu makin banyak orang yang menawari untuk mengajar, tergiurlah ia untuk mempertimbangkan lagi keputusan tersebut. Ia tahu ia akan diolok-olok karena pendiriannya sebelumnya tetapi apakah hal itu perlu dipermasalahkan?

Seorang guru yang menurutnya sendiri sudah belajar yoga sejak belasan tahun lalu itu, pengajar-pengajar yoga sekarang memang tergolong lulusan kualitas instan. Hanya dengan mengikuti beberapa ratus jam pelatihan, sebagian dari mereka sudah merasa siap dan jumawa mengajarkan yoga bagi orang lain. Bukan hal yang haram tentu saja.

Harus saya akui, saya juga hasil lulusan cara instan itu. Kalau dibandingkan guru-guru yoga di masa lalu yang baru merasa siap mengajar setelah belasan atau puluhan tahun mengikuti latihan setiap hari, rasanya pengalaman dan praktik saya beryoga sangatlah dangkal dan kurang memadai.

Namun, di sisi lain patut diakui pula bahwa mengajar tidaklah harus langsung dalam skala yang luas dan melibatkan banyak peserta. Cukup dimulai dari diri sendiri saja, baru kemudian dikembangkan secara bertahap.

Mengapa harus bersabar, tidak bisa lulus dan langsung mengajar? Karena kepercayaan diri, menurut pengalaman saya, mesti dipupuk secara perlahan. Cara bertahap ini ampuh membuat kita lebih mantap dalam menularkan ilmu. Dan percaya atau tidak, semua itu akan terpancar dari setiap gerak gerik dan kata-kata yang terucapkan di depan kelas. Apakah itu bisa dihasilkan hanya dengan mengikuti pelatihan mengajar yoga beberapa ratus jam itu? Mungkin bisa, tetapi bagi saya sendiri, belum tentu.

Mengajar di fase awal saat kita sendiri masih belajar kadang riskan. Kita bisa menyebarkan ilmu yang salah, pemahaman yang keliru atau misinterpretasi ajaran guru kita yang sebenarnya X tetapi kita pahami sebagai Y.

Karena itu, menurut saya, perlu adanya fase pengendapan. Apanya yang harus diendapkan? Mungkin begitu tanya Anda. Begini, kalau saya bisa ibaratkan, saat belajar dengan orang lain, otak kita rasanya diaduk-aduk, dicampuri dengan bahan-bahan asing yang belum tentu kita bisa terima. Otak manusia lain dari spon yang asal menyerap apa saja yang diberikan. Kita bisa memilih untuk menyerap sesuatu atau meninggalkannya. Itu karena kita memiliki sebuah mekanisme penyaring, suatu filter dalam pikiran kita. Filter itu bisa pemikiran sebelumnya yang begitu teguh bercokol, atau kepribadian dan watak masing-masing yangs udah menjadi bawaan sejak lahir, atau juga bisa jadi keyakinan/ agama yang sudah berakar dari usia dini. Setelah kita mengikuti sebuah pelatihan mengajar yoga, tentu rasanya otak kita penuh, kejang sebab masih berupaya menerima ilmu baru, dan tentunya menolak ilmu-ilmu sisanya yang tidak bisa kita terima karena berbagai alasan. Ini mirip dengan kondisi air dalam sebuah gelas yang setelah diaduk, ditambahi dengan berbagai zat — katakanlah sirup, minyak, daun kering, biji-bijian — kemudian dibiarkan sejenak untuk mengetahui zat-zat yang sanggup larut dan zat yang mengambang di permukaan air itu karena tak bisa menyatu sempurna dengan sang air.  Air itu tak bisa begitu saja diminum, ia harus disaring kembali untuk memisahkan zat-zat yang mengambang karena gagal larut itu. Begitulah metaforanya bagi saya.

Apapun jalan yang kita tempuh hingga sampai ke posisi sekarang, mengajarkan yoga, hendaknya tidak perlu terlalu dipersoalkan. Toh, tujuannya semuanya baik. Kalaupun tujuannya kurang baik atau di jalan menjadi berbelok ke arah yang tidak semestinya, ingatlah bahwa ia pasti akan terbentur sendiri juga nantinya. Ada mekanisme alamiah dari alam semesta yang mengingatkannya. Itu sudah keniscayaan yang tak perlu lagi diragukan. Jadi kita tidak perlu sampai turun tangan dan memburu untuk menghakiminya karena sekali lagi toh tidak ada dasar hukum untuk itu.

Maka dari itu, bila ditanya,”Kapan seseorang sudah siap mengajar yoga?” Jawabannya tidak cuma satu karena setiap orang memiliki kondisinya sendiri dan argumennya yang unik. Dan kalau Anda menanyakan pada saya, saya akan katakan dengan penuh keyakinan:”Saat seseorang sudah bisa mempertanggungjawabkan apa yang ia akan ajarkan (baik dalam ucapan, perbuatan dan pemikiran), saat itulah ia sudah siap menjadi seorang pengajar yoga.”

Paket Instan

Yoga instan, penuh MSG, bahan pengawet, dan pewarna artfisial. (Sumber foto: Wikimedia Commons)
Ada yoga yang mirip mi instan, penuh MSG, bahan pengawet, dan pewarna artifisial. (Sumber foto: Wikimedia Commons)

Seorang teman ingin segera bisa mengapung saat berenang di air dan ia tergiur tawaran instan kursus renang yang memberikan jaminan sukses dalam kurun waktu tertentu. Bahkan ada juga tawaran keberhasilan dengan mengambil kelas seharga jumlah nominal tertentu, sebut saja Rp 2 juta. “Ah, benarkah bisa?” saya pikir dengan skeptis. Terkesan terlalu instan dan bombastis. Entah karena saya yang belum bisa berenang juga atau alasan lain, tetapi intinya saya kurang percaya.

Di dunia pengajaran bahasa asing juga ada fenomena yang mirip. Beberapa poster dan spanduk di tiang-tiang di jalan kerap menjanjikan kepiawaian berkomunikasi dalam bahasa asing dalam hitungan beberapa kali pertemuan, atau dalam 3 pekan atau satu bulan sejak pertama masuk kelas dan belajar dengan si tutor. Saya sendiri tak tahu metode yang dipakai, yang seolah sangat efektif dan efisien itu. Tetapi yang saya tahu, cara organik-lah yang terbaik dalam belajar bahasa. Tidak ada rekayasa macam-macam. Hanya cukup banyak berlatih dan berbekal rasa suka yang menggelora dari dalam diri siswa. Itu saja. Yang lain bumbu semata. Istilahnya sekarang, add-on belaka.

Lalu saya teringat dengan seseorang yang dulu terobsesi ingin menguasai pose-pose jenis arm balance. Ia menghubungi saya hanya karena terpukau foto-foto di media sosial itu dan menawarkan kesempatan mengajarinya sampai bisa mengeksekusi pose-pose keseimbangan dengan tumpuan tangan itu secara effortless dengan berlatih tiap beberapa hari seminggu. Sayang waktu saya yang tersedia kurang sesuai jadwal yang ia mau dan kelas kami pun batal.

Kalau dipikir-pikir, sebaiknya memang berakhir begitu. Karena bagaimanapun juga yoga bukan cuma olahraga. Saya pun tak mau mengajar yoga seperti halnya mengajar renang yang hanya mengejar target penguasaan asana-asana idaman dalam periode waktu tertentu atau anggaran keuangan tertentu serta mengabaikan unsur-unsur lain yang tak kalah penting dalam yoga yang paripurna bagi raga dan jiwa. Dan seperti dalam pembelajaran apapun termasuk renang, bahasa asing atau yoga sekalipun, saya lebih suka menempuh jalan yang organik, mengalir, alami. Memang rasanya lebih lama, lebih sulit, lebih acak, tetapi akan sangat berakar dalam. Sukar tercerabut dari dalam pikiran dan jiwa.