Menelisik Fitartistik (3): Planche dan Cartwheel untuk Pemula

MEMASUKI PERTEMUAN KETIGA, kelas Fitartistik makin menguji kesabaran dan keteguhan semangat.

Kenapa?

Karena di pertemuan ketiga ini saya merasakan proses belajar yang sebenarnya mulai berjalan. Di dua pertemuan awal, level tantangan masih teratasi dengan baik. Buktinya saya masih bisa senyum senyum dan santai sepanjang kelas. Tidak ada tantangan berarti yang mesti saya taklukkan (kecuali handstand tanpa bantuan penopang pergelangan tangan). Dan memang bagaimanapun juga, proses belajar yang sebetulnya justru dimulai saat kita mulai kewalahan dan menyeret kita menjauh dari zona nyaman. Inilah kenapa belajar itu kurang menyenangkan. Karena tidak semua orang suka tantangan, bukan?

Saya pun tidak suka tantangan. Akan tetapi, saya sangat suka dengan kepuasan yang tercapai di balik tantangan.

Latihan ini – sebagaimana proses belajar apapun yang saya jalani – bagi saya adalah proses tarik ulur ego. Saat merasa bisa, ego membubung tinggi dan inilah waktunya untuk mengekangnya agar tidak terus tinggi sampai talinya putus. Sebaliknya, saat merasa tidak mampu dan kurang percaya diri, ego menukik tajam seperti pesawat terbang kehabisan avtur dan pilotnya mati mendadak karena kena serangan jantung atau ditembak teroris. Di situ, ego perlu diberdayakan untuk bisa membawa kita menuju ke pencapaian yang diinginkan. Jadi, ego itu bukan musuh abadi yang absolut. Ia bisa jadi kawan dan lawan, bergantung pada kondisi dan situasi.

Saya merasa perlu untuk menuangkan pemikiran ini karena di Fitartistik, memang tidak akan pernah ada pembahasan yang bersifat meditatif, kontemplatif atau reflektif ke dalam semacam ini (karena ini khas yoga) tapi saya pikir pada akhirnya konsep itu bisa diterapkan dalam proses belajar apapun.

Di pertemuan ketiga ini, pelatih saya Jonathan Sianturi mulai membaca kemampuan dan minat tiap peserta dan memberikan apa yang mereka butuhkan sesuai dengan tujuan masing-masing.

Kali ini, ada seorang pendatang baru yang benar-benar baru. Ia mengaku suka berlari. Namanya Indri.

Tantangannya meski lari masuk kategori olahraga, ia amat berbeda dengan Fitartistik. Ketrampilan motorik dalam kelas Fitartistik lebih menantang dari sekadar berpacu dengan kedua tungkai ke depan. Istilahnya anak zaman sekarang, semua bagian tubuh nggak bisa santai. Semuanya terlibat aktif.

Bahkan saya yakin mereka yang tampak kekar karena biasa latihan beban berat pun bisa bertekuk lutut di kelas Fitartistik. Ya, sebab ini bukan cuma berorientasi pada aspek estetik, misalnya supaya otot perut tampak terbagi enam layaknya roti bantal. Fokusnya ialah penguasaan skills dan keindahan fisik itu sebagai bonus yang akan terberikan secara otomatis. Jadi ukuran besar saja akan percuma jika gagal difungsikan secara penuh.

Kembali ke pemula seperti Indri ini, ia memang tidak langsung didorong untuk menjalani latihan yang intens. Misalnya setelah roll ke depan beberapa kali dan merasa pusing, ia diizinkan pelatih untuk menepi dan memulihkan diri dahulu. Sebab tubuhnya masih belum sepenuhnya bisa menerima.

Lain dengan beberapa orang lain yang sudah lebih terbiasa. Mereka dipersilakan meningkatkan intensitas dan tingkat kesulitan roll bila mau. Dari roll sekali, tambah dua kali baru berdiri, lalu tiga kali roll baru berdiri dan seterusnya.

Untuk quarter handstand, saya tampaknya sudah mencapai kemajuan dan tinggal memantapkannya. Bila saya rajin berlatih, saya mungkin bisa handstand tanpa penopang lagi. Tapi kita lihat saja nanti.

Lalu terdengarlah sekonyong-konyong instruksi untuk core drills di palang ganda. Muncul firasat bahwa akan ada sesuatu yang mendebarkan di sini.

“Untuk kamu, coba ke level 2,5,” tutur pelatih pada saya. “Belum level 3 tapi sudah di atas level 2.”

Level 3 yang ia maksudkan ialah mengeksekusi planche secara mumpuni, yang pada saat ini saya belum bisa lakukan. Dan agar bisa disebut planche yang paripurna atau final, saya mesti bisa menahannya selama setidaknya dua detik. “Hitungannya nol, satu, dua. Baru boleh dilepas. Kalau belum bisa menahan selama itu, berarti belum bisa dikatakan berhasil menguasai planche.”

Membayangkannya saja saya sudah gentar. Tapi saya katakan lagi pada diri sendiri,”Ayolah tidak ada ruginya mencoba.”

Baiklah, tukas saya.

Saya pun diajak ke double bar dan menahan tubuh dengan mengaktifkan bahu dan tangan mencengkeram di bar. Baru level selanjutnya ialah mengangkat kedua kaki ke dada, dan bila ini masih terasa mudah, lakukan L-sit alias kedua kaki lurus ke depan sejajar permukaan lantai. Di sinilah saya merasa sudah mencapai puncak kemampuan. Saya memang masih bisa menahan L-sit selama beberapa detik namun itu sudah terasa cukup menguras tenaga. Itupun lebih karena bobot tubuh bawah saya (pinggang ke bawah) yang ringan.

Dari sinilah, pelatih mendorong saya mencoba meninggalkan zona nyaman, yakni dengan menjaga tangan tetap lurus, dan mengangkat tubuh bawah lalu memanjangkan torso dan kaki lurus menjulur ke belakang. Karena saya masih dibantu, saya tidak melakukan planche dengan cara straddle (kedua kaki terentang ke samping luar) agar tidak menendang muka pelatih.

Di sini saya sudah tidak bisa mengobral senyum lagi. Susahnya minta ampun! Pergelangan tangan saya terasa masih terlalu rapuh; bahu saya masih terlampau mungil; kekuatan core saya begitu tidak berarti. Dengan kata lain, planche masih musykil buat saya hari ini.

Asisten pelatih Trisna Ramdhany bersedia memberikan secuil bocoran soal cara menguasai planche ini. “Latihannya pakai dumbbell dulu, ditahan begini,” ujar atlet senam senior yang dibimbing Jonathan itu dengan menunjukkan kedua lengannya lurus ke depan dengan telapak tangan menggenggam dan menghadap ke atas dan bawah.

Skill lainnya yang juga diajarkan di kelas ketiga saya ialah cartwheel. Pelatih menyuruh saya mencoba cartwheel dengan prosedur Fitartistik, yang masih asing untuk badan saya yang meski sudah sedikit bisa melakukan cartwheel tapi lain caranya.

Di sinilah saya melakukan kekeliruan-kekeliruan yang mesti diperbaiki. Misalnya sikap badan sebelum cartwheel. Di Fitartistik, saya mesti mengambil posisi awalan yang proper: kedua lengan lurus ke atas kepala lalu turun ke samping badan barulah satu kaki ke depan, tangan ke bawah dan melakukan cartwheel.

Baru kemudian saya sadari sisi kanan saya begitu dominan hingga saat saya hendak cartwheel dengan sisi kiri dahulu, saya tertahan karena kepercayaan diri surut. Cuma karena saya lebih terbiasa dengan tangan kanan turun dulu ke lantai. Untuk pesenam, agar seimbang dua sisi perlu digunakan secara adil. Karena itulah, proporsi tubuh pesenam rata rata bagus (simetris). Tidak ada sisi yang lebih tinggi atau besar atau dominan.

Lalu ada juga versi lanjutan cartwheel yang lebih sukar. Kedua kaki bertemu di atas lalu saat turun dan mendarat keduanya masih menyatu. Saya mencoba dan limbung seketika.

Untuk pertemuan berikutnya, saya kemungkinan besar masih akan terus berjuang memperbaiki fondasi untuk planche. Dan asyiknya Fitartistik, saya tidak melulu melakukan satu latihan yang sama dan monoton secara berulang hingga bosan dan capek. Saya bisa mengeskplorasi gerakan lain dulu, baru kemudian kembali. Sebuah hak istimewa yang dimiliki seseorang yang bukan atlet profesional.

Saya ingin menikmati proses belajar ini dengan menghayati tiap perjuangan. Agar setelah bisa, tidak merasa jumawa. Bukankah kemampuan itu setelah tercapai juga akhirnya akan hilang juga seiring menanjaknya usia? (*/)