How To Not Make Any Health Resolutions and Still Achieve Them in 2018

I read a magazine this afternoon. It was an edition of January 2018. My eyes hit a compilation of random people interviews. They’re from various walks of life apparently.

And I don’t know why but everytime they were asked to answer the question “Was there any unaccomplished resolution last year?”, their remarks were diverse but when I’m allowed to extract them all into one single phrase, it’d be: “FAILURE OF ACHIEVING A HEALTHY LIFESTYLE.

They blamed it all on the jobs they chose, the schedules they had, the families they love most.

They in fact blamed the failure of being healthier on whatever external factors they could find, just to feel “I’m innocent and I had worked hard towards that but they dragged me down. They didn’t allow me to get better healthwise.”

This is why I hate health resolutions. Not to mention making up ones. Not because I know I must fail after all but because I’m so convinced that this life always goes the way you never ever predict. With that belief in mind, I seem so zen to most of you.

But it’s not. I actually am too lazy to plan (in restrospect,  I saw myself as an anti-planner). Perhaps because planning almost always ends up with disappointment in various scales. So instead of ruminatively making meticulous plans on how I must live my life from now, I focus more on the what I can do best with anything I have in hand to begin my health-related undertaking.

The best trick I can pick to remind myself of my ‘goal’ and how I stay on the right track without being too halucinated by the daily grind is KEEPING A HEALTH JOURNAL.

I know, keeping a personal journal based on health-related activities seems so womanish but I’ve proved its efficiency.

For several recent years, I’ve been unintentionally jotting down my own exercise frequency and types of practice (not for public consumption though). The journal itself began as a general note on my daily activities and the ups and downs. And whenever I reread my notes, I can always find my documentation of yoga practice and calisthenics, which has never been my initial intention to start a journal. But because the notes were done casually, the details were not quite satisfactory.

So in this first week of the new year, I’m committed myself to taking notes on what I’m working on with my body and soul (because I want a wellbeing progress which goes beyond physical vigor and flexibility) on a single particular day.

How about you? Do you have any tips on how to get healthier without setting even a resolution? (*)

Mengapa Sebagian Teman Reuni Kita Tampak Tetap Muda dan Sama

SELAIN MUSIMNYA HEDONISME, LEBARAN juga menjadi musimnya reuni. Satu hal yang niscaya ditemui ialah menyaksikan penuaan yang terjadi pada orang-orang yang kita temui. Frekuensi pertemuan yang lebih jarang membuat kita lebih dapat menemukan perubahan yang terjadi pada mereka. Demikian juga sebaliknya, orang lain yang lebih jarang bertemu kita lebih bisa menemukan perubahan itu daripada kita sendiri.

Reuni SMA, misalnya, di 5 tahun pertama tak memberikan banyak kejutan. Begitu pula tahun ke-10. Namun, penuaan itu makin kentara begitu reuni SMA memasuki tahun ke-20. Semuanya memang menua tetapi Anda bisa temui orang yang menua lebih lambat dan lebih cepat dibandingkan usia kronologis mereka sebenarnya.

Beberapa hari yang lalu saya mendengar kisah yang lebih ekstrim lagi. Reuni SD yang diadakan oleh orang-orang usia pensiun, yang kebetulan dihadiri seorang paman. Anda bisa hitung waktu antara kelulusan mereka dengan usia saat ini yang rata-rata 60-an tahun. “Ada yang dulu tampak tinggi menjulang, tetapi sekarang pendek (Pengapuran tulang? Bungkuk?) Ada yang sudah tampak seperti kakek-kakek benar, ada yang masih enerjik. Bahkan ada yang sebagian sudah meninggal,”cerita paman saya sepulang dari sana sambil terkekeh sesekali. Ia tampak menikmati hidup. Kualitas hidupnya itu menurut pengamatan saya bisa lebih baik karena dua faktor: pendidikan yang lebih memadai dan kesadaran tentang pemeliharaan kesehatan yang lebih tinggi. Semua itu berkontribusi pada tampilan fisiknya yang lebih muda dan segar untuk orang seusianya.

Apakah benar demikian?

Temuan sebuah studi di Selandia Baru menyatakan bahwa faktor lingkungan berpengaruh signifikan pada kecepatan menua kita. Dan faktor genetis memiliki kontribusi yang rendah (sekitar 20 persen) pada kecepatan menua seseorang.

Dan awet muda secara biologis ini bukan hanya diukur dalam tataran kulit semata tetapi juga kebugaran fisik luar dan kesehatan organ dalam secara detil. Jadi operasi plastik secanggih apapun tak akan bisa mengubah usia biologis seseorang yang kecepatan menuanya tinggi akibat, misalnya, stres berlebihan atau pola diet yang buruk. Kriteria awet muda yang digunakan di sini lebih utuh, komprehensif, dan holistik.

Studi ilmiah yang dimuat di makalah dalam Proceedings of the National Academy of Sciences itu melibatkan pengukuran 18 indikator biologis — seperti tekanan darah, imunitas tubuh, kondisi ginjal, gigi, paru-paru, tingkat metabolisme dan kesehatan liver hingga panjang telomeres (tutup pelindung di ujung kromosom yang memendek seiring usia) — sebagai tolok ukur kecepatan menua manusia pada lebih dari 1000 subjek yang lahir tahun 1972-1973 di kota yang sama hingga saat ini.

Proses penuaan itu memang tampak di mata, sendi, dan rambut yang lebih mudah dilihat tetapi penuaan itu juga lebih cepat di dalam organ dalam manusia sebetulnya.

Ditemukan bahwa sebagian orang memiliki laju penuaan lebih cepat dari usia kronologisnya. Sementara yang lain memiliki laju penuaan nol persen per tahun, sehingga dianggap awet muda. Seseorang berusia 38 tahun (usia kronologis) bisa memiliki usia biologis 40 tahun, yang artinya ia menua lebih cepat dari seharusnya.

Dan pencegahan penuaan dan mortalitas dini ini mesti dilakukan sejak dini dan terpadu, tidak hanya saat dirasa mendesak atau dilakukan secara setengah-setengah.

Dan ternyata bonus dari pemeliharaan kesehatan dari dalam itu adalah penampilan awet muda di luar. Buktinya, foto-foto wajah subjek studi yang mengalami penuaan organ dalam lebih cepat akan terlihat lebih tua juga di mata banyak orang. Jadi, ubahlah pendekatan kita selama ini yang mengutamakan penampilan muda di luar dan mengabaikan yang di dalam dengan berbagai campur tangan bedah medis yang sebenarnya tidak diperlukan jika cara hidup tertata dengan baik.

(sumber: Duke University‎/ sumber foto: wikimedia commons)



Exercise More, and Be Happier with Your Life

If you think physical workout brings you muscles and better health exam results only, think again. Some scientists found that whenever someone exercise longer or heavier, s/he is likely to feel more content with whatever s/he has now as a human being. Sounds great huh?

“Shifts in depression, anxiety, and stress would be expected to influence a person’s satisfaction with life at any given point in time,” says David Conroy, professor of kinesiology. “In addition, fatigue can be a barrier to engaging in physical activity, and a high Body Mass Index associated with being overweight may cause a person to be less satisfied in a variety of ways.”(source: futurity.org)

That, I guess, is no more big secret. In my case, I almost always feel lighter and happier to a certain extent whenever I can find time and space to do some brief yoga session, sweat a bit, gasp a bit. I used to hate workouts and I grew as a sport hater to be brutally honest. Yet now I’ve changed my mind completely.

So when my couch potato friend said,”Maintaining health is the business of minds. Think positively and everything’s gonna be OK”. He is very likely NOT to realize the existing mutual relationship between physical and mental wellbeing. And for everyone of you who happen to abbhor exercise, I feel sorry for you. That’s like a suicidal option to me.

Now’s the time! Leave that couch and move!