India Ala-ala

Syahdan hiduplah seekor anjing pudel. Oleh si pemeliharanya, ia sesekali dikatai,”Bulumu indah, matamu mungil seperti kucing persia. Kau seharusnya terlahir sebagai seekor kucing.” Saat ditawari makanan kucing, anjing pudel itu tanpa sadar juga menyukainya. Tak tahu itu bukan makanannya, ia cuma tahu baunya enak, rasanya nikmat, telan dan selesai. Lalu datanglah teman-teman pemiliknya, mereka juga beropini sama, bahwa si anjing pudel mirip kucing persia. “Jangan jangan ia memang kucing persia. Benar, ia memang kucing persia. Kamu kucing persia kan?” kata teman si pemilik terus menimang-nimang sang anjing yang semakin lama semakin goyah jatidirinya sebagai anjing dan mulai meyakini dirinya memang kucing.
.
Saya memahami kebingungan anjing yang dikondisikan sebagai kucing oleh lingkungan sekitarnya itu. Saat mata dan hidung ini tidak mencerminkan kekhasan rupa khas Jawadwipa – yang saya yakini sebagai akar genetik saya – susah juga untuk senantiasa gigih menampik dugaan adanya pertalian dengan gen tanah Hindustan.
.
Dari kecil memang selentingan semacam itu sudah terdengar. Mulanya tak percaya. Mana ada riwayat keturunan India di keluarga? Tidak ada. Jawa totok semuanya.
.
Lalu beberapa teman yang berkomentar seperti itu. Hidung terutama jadi bahan pembicaraan.
.
Kegemaran beryoga seakan menegaskan tuduhan tadi. Saya seperti anjing pudel yang suka makanan kucing tadi. Alami saja menyukainya tanpa tahu sebabnya. Semestinya saya tertarik ilmu kanuragan atau kejawen saja bukan?
.
Akhir-akhir ini, seolah-olah makin menjadi-jadi, di Twitter saya menemukan diri di-mention beberapa akun yang setelah saya klik ternyata akun-akun orang India yang sedang getol berkampanye #UPElection2017. Apa ini? Tanya saya dalam hati. Lalu akun itu menyebut Rahul Gandhi dan BJP for India. Sumpah saya tak memahami. Penyebutan terus berlanjut dengan menyeret akun Twitter saya dengan kalimat “the beauty of indian democracy that bla bla bla..” Makin saya membaca, makin mengerutkan dahi. Jelas ini tweet-tweet politik negeri itu. Saya itu tidak pernah mempublikasikan tweet yang membahas politik India, paling yang ada cuma soal yoga. Jadi ini sangat mengherankan.
.
Anda kira itu sudah cukup? Belum. Karena saya baru saja menerima surat elektronik berisi penawaran untuk menjadi buzzer dalam kampanye digital di Indonesia. Saya merasa tak pernah berlangganan surel dari pengirimnya. Dan anehnya lagi, perusahaan yang menawarkan itu setelah saya baca cermat berasal dari India. Lho, saya ini siapa? Saya hidup di Indonesia, pengaruh apa yang saya miliki untuk publik India? Benar-benar saya sudah habis tenaga pikiran untuk menemukan jawabannya.

Saat Sastra Mengkritisi Agama: 26 Tahun Pasca Fatwa Mati Salman Rushdie (1)

Dua puluh enam tahun tepatnya telah berlalu sejak sebuah fatwa hukuman mati yang menggemparkan jagat sastra diumumkan secara resmi oleh mendiang Ayatollah Ruhollah Khomeini, pimpinan Islam dari Iran. Tepat di hari Valentine tahun 1989, Radio Teheran menyiarkan pernyataan Khomeini yang menghukum mati novelis berkewarganegaraan Inggris kelahiran Bombay, India, Salman Rushdie. Sebuah pesan yang tentu menghenyak di tengah suasana penuh cinta kasih. Tiba-tiba dunia Rushdie seolah dirundung awan gelap. Alih-alih mendendangkan “Love is in the air, everywhere I look around,” yang terus terpikir dalam benak penulis novel The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan) itu mungkin,”Death is in the air, everywhere I look around.” Dan awan gelap itu akan terus menghantuinya setidaknya hingga hampir satu dekade setelah fatwa itu diluncurkan dari bibir sang pemimpin besar Iran.

Begini kira-kira isi fatwa Khomeini:

“Saya memberitahukan pada umat Muslim di seluruh dunia bahwa penulis buku Ayat-ayat Setan (The Satanic Verses) adalah musuh Islam, Nabi Muhammad dan Al Qur’an. Semua pihak yang terlibat dalam penerbitan buku itu dan mengetahui isinya divonis hukuman mati.”

Rushdie mengetahui kabar tersebut segera setelah seorang staf BBC meneleponnya. Dan ia menanggapi serius berita itu. Rushdie bisa dikatakan ketakutan. Dalam sebuah wawancara ia berkata, “Ruangan saya ada di lantai atas dan saya kemudian turun ke bawah begitu mendengar berita itu. Saya kunci pintu depan dan menutup tirai jendela, dan saya berkata pada diri saya sendiri seakan saya adalah orang lain karena begitu terkejut,’Berapa hari atau jam lagi saya masih bisa hidup?”

Mungkin ini adalah salah satu insiden paling bersejarah dalam dunia sastra; bahwa seorang pengarang harus diperangi dengan cara dijatuhi hukuman mati karena karyanya. Ada benarnya juga kata-kata bijak “Temukan passion-mu, lalu biarkan ia membunuhmu”. Rushdie beruntung bakat sastranya yang luar biasa itu tidak sampai membunuhnya, setidaknya hingga detik ini. Namun, kebebasan hakikinya untuk menikmati kehidupan layaknya orang biasa sudah terenggut secara paksa. Ia kini harus berada dalam kawalan penjaga-penjaga (bodyguards) yang siang malam menjaganya dari ancaman pembunuhan yang siapa tahu mengintai kapan saja, di mana saja.

Sebuah ironi dalam dunia Islam yang terus saja mengemuka adalah bagaimana umat muslim terkoyak-koyak oleh pertentangan dalam tubuh mereka sendiri. Entah karena adu domba dari pihak luar atau karena memang ego yang meraja, tetapi saya pikir perpaduan yang tak bisa diukur dari keduanya, ditambah lagi dengan masuknya berbagai kepentingan ekonomi, politik dan sebagainya, kondisi umat muslim tak kunjung bersatu. Dan apa yang terjadi adalah kerinduan akan kebangkitan kejayaan khilafah, sebuah kerajaan atau negara yang menaungi semua umat Islam secara utuh dengan menggunakan syariat Islam sebagai pondasi dan sendi-sendi kehidupannya. Sayangnya, kerinduan itu kerap menjadi – jika boleh meminjam analogi kesehatan – ‘sel-sel kanker’ yang meskipun tumbuh pesat tetapi tidak bisa dikendalikan. Pada gilirannya, kerinduan akan kejayaan Islam itu menjadi layu sebelum berkembang dan membuat citra Islam dan umatnya makin terpuruk saja di mata dunia.

Salman Rushdie: Apa dan Siapa

Penyebab kehebohan ini adalah karya Salman Rushdie, The Satanic Verses. Seperti yang dikemukakan sebelumnya, kehebohan-kehebohan dalam umat muslim kerap bukan dipicu oleh kalangan eksternal tetapi internal. Apa pasal?

Rushdie yang lulusan King’s College, Cambridge, sebenarnya bukan orang yang sama sekali tidak mengenal Islam. Ia terlahir di Bombay, 19 Juni 1947 dalam sebuah keluarga muslim beraliran liberal di India. Ayahnya Anis Ahmed Rushdie adalah seorang alumni Cambridge University yang mulanya menjadi pengacara lalu berubah haluan menjadi pebisnis. Ibunya bernama Negin Bhatt, seorang guru. Jadi ia sebenarnya juga bisa dikatakan sebagai bagian dari umat muslim sejak kecil meski dalam perkembangannya ia mengklaim dirinya sebagai seorang “atheis garis keras”.

Namun demikian, Rushdie dengan jujur mengakui dirinya sudah tak lagi memeluk dan menjalankan ajaran Islam secara formal sejak usia belia. Ia berkomentar dalam sebuah wawancara,”I ceased to be formally religious from an early age, from the teenagehood I suppose and have never changed and have never been born again. But there was always a nagging space where the religion used to be.” Dan ruang kosong dalam kehidupan relijiusnya itu membuat Rushdie menjadi semakin ‘liar’ secara intelektual.

Sebagai seorang berdarah India yang tumbuh dewasa di tanah asing, Rushdie memiliki ketertarikan terhadap dinamika hubungan peradaban Timur dan Barat dan mengembangkannya sebagai tema-tema favorit dalam karyanya. Hal ini sedikit banyak mencerminkan kegundahan terhadap dunia sekitarnya dan keterikatannya pada tanah kelahirannya India.

Begitu dewasa, Rushdie yang bersuku India Kashmir itu merintis karir di dunia industri periklanan. Ia bekerja sebagai copywriter di perusahaan iklan kenamaan yang didirikan oleh David Ogilvy, Ogilvy & Mather. Sembari bekerja di agensi iklan inilah, Rushdie juga menulis beberapa karya sastra yang berbau realisme magis dan fiksi sejarah. Novel pertama Rushdie, Grimus, dirilis tahun 1975. Karya pertamanya itu tak banyak diperbincangkan, apalagi mengundang polemik.

Muncullah novel keduanya yang berjudul “Midnight’s Children”, yang ditulisnya saat masih bekerja sebagai copywriter di Ogilvy & Mather. Tak disangka-sangka, novel itu membuatnya diganjar menjadi pemenang The Booker Prize, sebuah penghargaan sastra yang prestisius, di tahun 1981. Karyanya ini juga sudah mengundang hiruk pikuk, karena di dalamnya penggambaran seorang karakter mirip Perdana Menteri India yang saat itu berkuasa Rajiv Gandhi dipersoalkan. Alhasil, sang pejabat menyeret Rushdie ke meja hijau atas tuduhan fitnah. Namun, hal yang patut disyukurinya adalah karena kesuksesan Midnight’s Children ia berhasil keluar dari posisi copywriter dan mencari nafkah yang lebih menjanjikan sebagai penulis penuh waktu.

Novelnya yang ketiga, Shame (1983), juga menjadi buku yang laris manis di pasaran. Shame juga membuatnya terlibat perseteruan dengan otoritas sebuah negara. Novel itu dilarang beredar di Pakistan karena menyinggung wibawa Jenderal Muhammad Zia-ul-Haq. Shame memenangi penghargaan Prix du Meilleur Livre Etranger (Buku Asing Terbaik) dan menjadi salah satu pemenang di The Booker Prizer.

Dari sini saja kita sudah ketahui bahwa Rushdie sudah akrab dengan kontroversi sebelumnya. Dan kelak reputasinya sebagai sastrawan sarat kontroversi akan makin memuncak.

Dalam berbagai kesempatan, penulis liberal itu menyampaikan pesan utamanya, yaitu bahwa Islam dan para pemeluknya harus menjadi lebih terbuka dan menerima kritik untuk berubah jika tidak ingin musnah akibat apa yang ia sebut sebagai “mutasi mematikan dalam jantung Islam”. Ia menuangkan pemikiran tersebut dalam sebuah tulisan yang dimuat The Washington Post dan The Times pada pertengahan tahun 2005. Ia menghendaki adanya sebuah gerakan di luar tradisi, “untuk membawa prinsip-prinsip utama Islam ke abad modern”. Rushdie juga
mendesakralisasi kisah-kisah yang menjadi bagian dari ajaran agama Islam dengan menganggapnya sebagai “peristiwa dalam rangkaian sejarah, bukan hal supranatural”. Tidak semua pemeluk Islam sependapat dengan pandangannya itu karena menganggap pondasi keyakinan mereka adalah sesuatu yang mapan, tidak bisa lagi diperdebatkan, dikritisi, apalagi direvisi.

Membedah The Satanic Verses
Pria yang memiliki dua orang anak kandung dan 4 mantan istri itu melejit menjadi selebriti justru setelah novelnya yang keempat The Satanic Verses (1988) meledak di pasar global. Sayangnya, resistensi yang tinggi juga muncul di beberapa negara, terutama yang dihuni oleh kaum muslim yakni Pakistan, Afsel, Bangladesh, Sudan, Srilanka, Kenya, Thailand, Tanzania, Venezuela, Singapura, India, dan Indonesia tentu saja.

Ide cerita The Satanic Verses, kata Rushdie, muncul saat ia belajar sejarah Islam di King’s College, University of Cambridge. Buku fiksi sejarah ini mengangkat tema kehidupan kaum pendatang India di Inggris dan memudarnya kepercayaan di dalam diri kaum imigran. Dibutuhkan waktu 5 tahun bagi Rushdie untuk menghasilkan novel setebal 547 halaman tersebut.Viking Penguin memegang hak penerbitan setelah membayarnya US$850.000.

Yang menjadi permasalahan adalah Rushdie menggunakan isu sejarah yang peka dalam novelnya itu. The Satanic Verses ditulis setelah Rushdie menemukan dalam sebagian catatan sejarah mengenai perkembangan Islam yang ia pelajari semasa kuliah. Kisah aneh itu bertema godaan setan. Dalam kisah sejarah yang ditolak mentah-mentah validitasnya oleh sebagian besar umat muslim ini, Nabi Muhammad dikatakan tergelincir oleh godaan setan saat membuat kesepakatan dengan warga Mekah yang menyembah berhala. Saat itu Rosul ingin membujuk mereka untuk ikut menyembah Allah SWT dan masuk Islam. Seperti diketahui, penyebaran Islam di masa itu sangatlah menantang, bahkan dapat dikatakan hampir mustahil sebab banyaknya hambatan dan tantangan dari orang-orang di sekelilingnya. Namun, menurut kisah yang dijadikan referensi Rushdie itu, entah bagaimana Rosul bisa tertipu oleh setan dengan
memperbolehkan warga Mekah yang telah mau menyembah Allah SWT untuk juga menyembah dewa-dewa mereka. Hal ini tentunya bertentangan dengan ajaran tauhid dalam Islam yang selama ini dipegang teguh dan menjadi inti dari Islam itu sendiri karena Islam adalah monotheisme. Menyandingkan Allah dengan pujaan lainnya – yang disebut syirik – termasuk dosa besar yang tidak terampuni kecuali jika seseorang bertobat secara sungguh-sungguh. Rosul dalam kisah sejarah itu seolah digambarkan sebagai seorang manusia biasa yang tidak kebal terhadap kealpaan.

Istilah “ayat-ayat setan” yang dijadikan judul merujuk pada sepotong ayat yang memuat kompromi penyembahan Allah dengan berhala-berhala kaum kafir tadi. Dikatakan dalam kisah aneh tersebut juga bahwa Malaikat Jibril kemudian menyadarkan Muhammad bahwa pernyataannya yang membolehkan warga Mekah menyembah Allah dan berhala-berhala mereka sekaligus adalah bujuk rayu setan. Alhasil, ayat tadi pun dihapus dari Al Qur’an. Mayoritas muslim tidak meyakini hal semacam ini pernah terjadi karena mereka yakin Muhammad suci dari kesalahan-kesalahan manusiawi semacam itu. Akan tetapi, Rushdie tidak berpikir demikian. Ia menganggap Muhammad juga manusia biasa yang bisa salah.

Ayat-ayat setan yang dipertanyakan kebenarannya itu menjadi ide bagi Rushdie untuk menulis subplot di novelnya. Dan inilah yang menyulut kemarahan dalam diri umat muslim dan membuat Ayatollah Khomeini unjuk bicara. Bisa jadi karena Rosul diyakini memiliki sifat shiddiq (benar), sehingga tidak mungkin Rosul mengingkari atau mengatakan perkataan yang bertentangan dengan sesuatu yang ia yakini benar secara mutlak, yaitu ajaran monotheisme Islam. Dalam surat An Najm ayat 4-5, ditegaskan bawah Muhammad hanya mengucapkan wahyu yang dianugerahkan padanya.

Dalam sebuah wawancara di tahun 1988, Rushdie mengatakan bahan sejarah Islam yang mengundang polemik itu ia masukkan dalam novel. Ia mengubah nama-nama tokohnya agar berlainan dari catatan sejarah. Ia mengatakan tidak menggunakan nama Muhammad tetapi Mahound karena kisah itu ia pakai dalam konteks mimpi, bukan realita. Kisah-kisah ayat setan tadi dimasukkan oleh Rushdie sebagai isi mimpi-mimpi magis yang dialami karakter Gibreel Farishta. Jadi bisa dikatakan ia membuat karya fiksi dengan berdasarkan catatan sejarah yang menurutnya menarik.

Namun, terlepas dari subplot yang membuat geram banyak pemeluk Islam tadi, novel The Satanic Verses berkisah tentang dua orang imigran India yang bekerja sebagai aktor. Gibreel Farishta dan Saladin Chamcha beragama Islam dan tak dinyana pesawat mereka dari India ke Inggris dibajak kemudian meledak di Selat Channel. Namun, keduanya secara ajaib bertahan hidup. Kisah menjadi makin menarik saat Gibreel dan Saladin menjadi dua pribadi yang berbeda setelah insiden naas tersebut. Gibreel berhalusinasi seolah dirinya adalah malaikat Jibril, mirip seseorang yang mungkin menderita skizofrenia dalam kehidupan nyata. Sementara rekannya Saladin mendekati kepribadian dan rupa fisik iblis dan setan. Ia pun harus menderita dalam siksaan polisi karena dugaan masuk ke Inggris sebagai imigran gelap. Gibreel dan Saladin sama-sama membangun kehidupan mereka kembali setelah kecelakaan pesawat itu. Gibreel kemudian memiliki kekasih. Karena merasa ditelantarkan setelah kecelakaan, Saladin ingin membalas dendam pada Gibreel sahabatnya. Ia menghasut Allie, kekasih Gibreel, untuk merasa cemburu hingga akhirnya berakibat putusnya hubungan asmara Gibreel dan Allie. Akhirnya Gibreel menyadari bahwa Saladin sahabat yang setia. Ia pun memaafkannya dan bahkan menyelamatkan jiwa Saladin. Suatu ketika mereka memutuskan kembali ke tanah kelahiran mereka India. Gibreel yang tersulut api cemburu membunuh Allie dan kemudian melenyapkan nyawanya sendiri. Saladin yang berhasil memaafkan Gibreel pun kemudian makin dekat dengan sang ayah yang sebelumnya ia jauhi. Saladin sejak itu tinggal di sana dan meleburkan jatidirinya sebagai seorang warga India.

Satu hal lagi yang tak dapat diterima umat muslim ialah bagaimana Rushdie menggunakan nama-nama dan kepribadian istri-istri Muhammad dalam 12 karakter pelacur di sebuah rumah bordil di sebuah kota bernama Jahiliah (yang mirip Mekkah) yang didatangi seorang pembawa pesan bernama Mahound (yang memiliki kemiripan dengan Muhammad, istilah ini sendiri digunakan untuk menyebut Muhammad oleh pasukan Perang Salib yang artinya nabi palsu).

Para Penentang dan Penengah
Apa yang dilakukan oleh Rushdie ini membuat pihak Penguin India juga was-was. Penasihat editorial Penguin India kala itu, Khuswant Singh, mengkritik karya Rushdie setelah membaca manuskripnya sampai habis,”Saya menemukan 2 referensi yang menurut saya tak bisa diterima di India. Yang satu adalah tentang Al Qur’an dan satu lagi tentang para istri Muhammad.” Singh menambahkan meski dirinya agnostik tetapi ia tak memahami alasan mengapa Rushdie harus mengisahkan sebuah rumah pelacuran yang nama-nama penghuninya menggunakan nama para istri Muhammad. “Sungguh sebuah perbuatan yang buruk!” kecamnya. Ia mengutip sebuah kalimat bijak:”Katakan apapun yang kamu kehendaki tentang Tuhan tetapi waspadalah jika membahas Muhammad.”

Dalam ingatan editor Channel 4 TV, Farrukh Dhondy, Rushdie juga telah diperingatkan akan risiko dikecam tetapi ia tetap membandel. “Saya katakan padanya,’Kamu akan bicara dari studio ke studio TV hanya untuk berdebat mempertahankan pendapat melawan para ulama!’ Ia menjawab,’Ah, silakan saja,'” kata Dhondy.

Pada kesempatan lain, Rushdie yang dikabari wartawan India Shrabani Basu bahwa Penguin India menolak distribusi dan penjualan novelnya di pasar India tersentak dan berkomentar,”Sungguh absurd jika berpikir sebuah buku bisa memicu kericuhan. Itu sebuah cara pandang nan aneh terhadap dunia.”

Dari semua kaum garis keras yang mengutuk karya sastra dan penulisnya tersebut, ada satu sosok yang menarik perhatian Rushdie kelak. Hesham El Essawy, seorang dokter gigi yang menghabiskan 6 jam sehari di waktu senggangnya hanya untuk melahap The Satanic Verses. El Essawy juga menjadi representasi wajah Islam yang lebih toleran dan moderat karena ia mewakili lembaga Islamic Society for the Promotion of Religious Tolerance di Inggris. Ia mengkritik The Satanic Verses dengan cara yang santun dan intelek serta tetap berkepala dingin, tidak sampai membakar dan mendukung fatwa hukuman mati Khomeini. Pria ini menyarankan agar penerbit Penguin dan Rushdie memberikan sangkalan (disclaimer) di novel itu, bahwa isinya bukan mengenai kejadian sejarah tetapi fiksi semata. “Itu saja yang saya himbau pada mereka.” Saran itu diabaikan.

Kondisi itu diperparah dengan diamnya pemerintah Inggris pimpinan Margaret Tatcher saat itu. Umat muslim Inggris yang mengetahui isi novel yang melecehkan agama mereka itu angkat bicara dan menuntut agar Rushdie diperkarakan dengan tuduhan pelecehan agama. Namun, ternyata UU yang mengatur tentang pelecehan agama di Inggris hanya berlaku untuk agama Kristen saja. Ditambah dengan fakta bahwa Rushdie menikmati ketenaran dari novel The Satanic Verses dan penghargaan untuk karya yang menyinggung keyakinan mereka, para muslim Inggris tidak bisa lagi berpangku tangan. Sebagai minoritas, umat Islam di Inggris pun merasa perlu mengambil langkah lebih lanjut.

Di kota Bradford, umat muslim yang merasa tidak didengar keluhannya itu pun mengadakan unjuk rasa yang menuntut penarikan novel The Satanic Verses. Sebelumnya telah ada unjuk rasa di Bolton, tetapi pers pun tidak mengindahkan. Ribuan muslim berkumpul di pusat kota Bradford pada 14 Januari 1989. Pers sempat mengabadikan pembakaran novel itu. Esok harinya pemberitaan media pun muncul. Nadanya memojokkan, sehingga akhirnya membuat umat muslim Inggris makin merasa merana karena dicap terlalu ekstrim karena harus membakar buku.

Ekskalasi kontroversi novel The Satanic Verses terus terjadi dan ribuan muslim membanjiri London untuk menyuarakan keberatan mereka dengan distribusi novel tersebut. Sementara itu, Rushdie juga berjuang membela haknya untuk mengkritisi Islam melalui karya sastra. Ia menjadi sasaran ancaman pembunuhan dan penerbit Penguin juga terdampak. Kantor mereka sempat menjadi target unjuk rasa, surat kaleng dan ancaman bom. Semua itu terjadi bulan Januari 1989.

Menyatukan, Memisahkan Sekaligus Memakan Korban
Diakui oleh aktivis muslim Inggris bahwa kontroversi The Satanic Verses memberikan dampak positif. Isu ini membuat mereka memiliki satu musuh bersama, yang berbentuk seorang novelis dengan ide dan fantasi liarnya yang telah menistakan kepercayaan mereka. Sebelumnya umat muslim Inggris lebih terfragmentasi berdasarkan kebangsaan. Mereka umumnya kaum imigran dari berbagai negara dengan jumlah penduduk Islam yang cukup signifikan dari Asia. Dari sinilah, muncul kebangkitan komunitas muslim Inggris yang lebih percaya diri dalam menyuarakan aspirasi mereka di kancah nasional.

Di skala internasional, novel tersebut mulai memicu keresahan sosial di berbagai negara. Pada tanggal 12 Februari 1989, 5 demonstran terbunuh dan ratusan lainnya terluka saat ratusan ribu orang berunjuk rasa di depan Pusat Kebudayaan Amerika di Islamabad. Ini hanya awalnya saja.
Konflik makin menghebat dan meluas begitu Ayatollah Khomeini mendengar kabar dan mengeluarkan fatwa hukuman mati bagi Salman Rushdie dan semua pihak yang membantu terbitnya karya itu.

Kehidupan Rushdie berubah drastis dalam beberapa jam begitu kabar fatwa diterima. Pemerintah Inggris berupaya melindunginya, karena Rushdie dianggap tidak bersalah dalam kacamata hukum Inggris.

Dalam kenyataan, di satu sisi fatwa Khomeini membuat banyak muslim mengelu-elukannya sebagai pembela Nabi Muhammad dan Islam serta umat muslim dunia. Namun, di sisi lain fatwa Khomeini juga membuat sebagian muslim yang lain – yang lebih moderat dan toleran – tidak setuju meski pada dasarnya mereka juga mengecam isi novel The Satanic Verses. Essawy sendiri menyatakan dirinya tidak sepakat dengan fatwa itu.

Untuk menuntaskan misinya, Khomeini menawarkan hadiah 1 juta poundsterling bagi siapa saja yang mampu membunuh sang novelis. Imbalan sebanyak itu tentunya setimpal mengingat tingkat pengamanan dari pemerintah Inggris di sekitar Rushdie sepanjang waktu yang begitu tinggi. Penulis itu selalu dikelilingi oleh pasukan bersenjata dalam pakaian sipil rapi 24 jam sehari 7 hari seminggu 365 hari setahun.

(Bersambung)

Referensi:
1. Salman Rushdie and The Satanic Verses Affair (BBC Productions, 2009), produser dan sutradara Janice Sutherland
2. Wikipedia

Mengapa Menjadikan Yoga sebagai Bagian Kurikulum Sekolah Bukan Ide Bagus

‎Sementara ada seorang guru yoga di tanah air ingin memasukkan yoga dalam kurikulum sekolah, Departemen Pendidikan India telah melangkah lebih maju. Terhitung sejak 4 Februari 2015 kemarin, mereka memberlakukan sun salutation atau surya namaskar (rangkaian gerakan yang kerap dipakai sebagai pemanasan sebelum beryoga) sebagai bagian dari materi yang harus diajarkan di sekolah menengah swasta dan negeri di seluruh pelosok negeri itu, demikian dikutip dari laman The Times of India.

Tujuannya sendiri, seperti dikatakan oleh Suwalal (Direktur Pendidikan Menengah di Rajasthan), adalah “meningkatkan lingkungan pendidikan dengan menguatkan kesegaran jasmani dan mental.” Sementara ‎pemerintah Madhya Pradesh sudah menerapkan surya namaskar dalam lingkungan sekolah negeri, pemerintah Rajasthan lebih jauh lagi melangkah dengan meminta sekolah swasta memperkenalkannya pada siswa-siswi mereka.

Kita memang mengenal yoga sebagai bagian dari warisan budaya India. Mirip pencak silat dan sepak takraw bagi Indonesia. Tetapi di negeri asalnya itu, penerapan yoga dalam lingkungan sekolah juga bukannya tanpa hambatan sama sekali. Protes muncul di mana-mana pasca pemberlakuan kebijakan di atas. Pasalnya, siswa-siswi sekolah harus berkumpul bersama untuk melakukan latihan asana yoga selama 20 menit. Dan lain dari kebijakan senam kesegaran jasmani yang pernah kita alami dulu, kelas yoga itu diadakan setiap hari. Apa saja yang diajarkan selama 20 menit itu? Mereka akan diajari surya namaskar, meditasi dan membaca surat kabar dalam bahasa Inggris dan Hindi. Sebelumnya pemerintah Madhya Pradesh juga sudah mengeluarkan aturan serupa.

Yang paling dipermasalahkan adalah (lagi lagi) mantra. ‎Sebuah sumber yang dikutip media The India Times mengatakan surya namaskar, doa dan meditasi tidak bisa dilakukan tanpa mengucap mantra. Tidak heran sekolah-sekolah milik komunitas muslim dan Kristen tampaknya keberatan dengan kebijakan tersebut. Sejumlah sekolah itu bahkan memilih untuk tidak menanggapi dan menindaklanjuti kebijakan pewajiban yoga di sekolah.

Sang menteri pendidikan India, Vasudev Devnani, beralasan langkah yang ditempuhnya itu dimaksudkan untuk membangkitkan nasionalisme dalam masyarakat India modern. Karena seperti banyak masyarakat di dunia, warga India juga dianggap sudah tercabut dari akarnya. Dengan belajar yoga di sekolah, generasi muda diharap bisa mengenal kembali sistem nilai India kuno dan budayanya yang luhur.

Menurut saya, menteri itu memiliki alasan yang kuat karena memang generasi muda makin melupakan warisan budaya mereka sendiri. Seorang pemuda keturunan India yang pernah saya temui mengaku kakeknya adalah pelaku yoga yang rajin satu-satunya di keluarga besarnya. “Dan tidak ada lagi anggota keluarga kami yang beryoga. Tapi kakek memang masih sehat sampai sekarang di usia 80 tahun,” tuturnya pada saya di suatu kesempatan makan malam.

‎Maka dari itu, secara realistis, memasukkan yoga dalam kurikulum di sekolah Indonesia – yang notabene mayoritas muslim – akan lebih menantang lagi. Pertama, yoga bukan warisan budaya Indonesia. Itu yang pasti. Kalau mau mewajibkan olahraga tertentu, kenapa tidak pencak silat, atau sepak takraw yang memang asli Indonesia?

Kedua, yoga akan diseragamkan jika masuk ke lingkungan sekolah. Dan percayalah, penyeragaman itu tidak akan bisa dan memang tidak seharusnya terjadi. Yoga sangatlah personal. Bayangkan jika Anda masuk ke kelas yoga dengan perasaan terpaksa dan jengkel karena tidak bisa menolak? Saya tidak bisa membayangkan yoga akan dianggap menjadi momok bagaikan matematika atau bahasa asing bagi anak-anak sekolah. Lalu akan ada anak-anak yang mengikuti kelas yoga hanya demi nilai rapor atau agar bisa lulus sekolah.

Alangkah mengerikannya jika itu terjadi. Yoga seharusnya sesuatu yang menggembirakan, membebaskan, melegakan, menjadi kesempatan bagi anak-anak itu untuk sedikit beristirahat dari deraan dan tuntutan akademis. Dan saya sangat yakin, untuk memperkenalkan yoga kita bisa tempuh jalan lain di luar tembok sekolah.

Alih-alih menurunkan stres, yoga di sekolah malah bisa menjadi pemicu stres lainnya bagi anak-anak. Dan ini bukanlah hal yang pastinya kita semua inginkan.

Mungkin ada sebagian dari Anda yang yakin tidak sepenuhnya benar demikian. Tentu saja, Anda berhak beropini demikian. Namun, jangan lupa risiko tatkala yoga masuk ke ranah formal, kelembagaan, yang penuh rambu-rambu dan aturan. Akan muncul berbagai distorsi nilai juga yang perlu diantisipasi. Kelak bisa jadi beryoga bukan lagi cuma untuk pemuasan spiritual, dedikasi, atau sekadar menguruskan badan, ‎tetapi juga untuk kelulusan.

Mengapa Banyak Orang India Pintar Berbahasa Inggris?

Kalau dibandingkan negara-negara Asia Timur seperti Tiongkok, Jepang, Korea atau negeri Indo China seperti Thailand, kecakapan orang Indonesia berbahasa Inggris masih lebih bagus. Tetapi jika dibandingkan dengan orang Singapura, Malaysia, dan India, kecakapan kita berbahasa Inggris kurang sekali.
Bagaimana ini bisa terjadi?

Sopir taksi yang pernah saya jumpai menjelaskan mengapa rakyat India banyak yang pandai berbahasa Inggris. Rupanya karena di sana belajar bahasa Inggris bukan sebuah mata pelajaran pelengkap atau ekstrakurikuler semata. Semua orang diajari bahasa Inggris gratis.

Pemerintah India juga mendukungnya. Siapapun baik yang bersekolah menengah atau perguruan tinggi dapat dipastikan diajari bahasa internasional ini. Tidak seperti di tanah air yang mengharuskan bayar untuk kursus. Kata sopir taksi yang saya temui itu, kata mantan majikan Indianya dulu, pemerintah India memberikan subsidi untuk rakyat yang mau belajar bahasa pergaulan dunia ini. Jadi jangan heran rata-rata orang India berbahasa Inggris dengan lancar. Karena semuanya gratis! “Gratis, tinggal datang kalau mau belajar bahasa Inggris!”kata sopir taksi itu lagi.

Di India, tampaknya bahasa Inggris dianggap sebagai salah satu bekal penting dalam kecakapan menjalani hidup. Bukan hanya sekadar formalitas di rapor sekolah yang membuat murid hapal aturan berbahasa tetapi tersendat saat menulis memo atau surat pendek sehari-hari atau tergagap saat berhadapan dengan orang lain yang mengajak bercakap-cakap dalam bahasa Inggris sederhana. Mereka yang berpendidikan rendah atau tinggi pun menjadi pintar berbahasa Inggris. Bahasa Inggris sungguh-sungguh menjadi modal untuk lebih maju dan lebih sejahtera.

Mantan majikan sopir taksi itu buktinya. Sekolahnya tidak tinggi tetapi bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Dari keahliannya berbahasa (bahkan ia juga sempat belajar berbahasa Indonesia) , ia berani merantau dan berdagang di India lalu meninggalkan lingkungan masa kecilnya nan kumuh di India.

(Sumber foto: Wikimedia – portrait of Shah Nawaz Khan.jpg)

Why Isn't It Sunny in Jakarta?

It was my first time to find a new Fijian acquaintance. While she was introducing herself, I shook her hand and something in my head began operating. “Fiji… Fiji… Fiji..,”it tried to locate the given country in my virtual world map.I consider myself an avid learner of geography so I refused to give up on the search that easily but I insisted on NOT using Google Map or whatever technology solution I may readily use. But later she mentioned about how frantic she had become while the less-than-pleasant turbulence in the height almost consumed her courage completely. She had to endure 10-hour flight and landed temporarily in Hong Kong before flying to Jakarta. And that was when the turbulence appeared.

Anshoo is a media liaison officer hired by Ministry of Social Welfare, Women and Poverty Alleviation of Republic of Fiji. And I didn’t know whether it is part of culture but she wore a long skirt, which was like a shock to me. I knew some women journalists here but none of them is a fan of long skirts. Jeans are the most preferred outfit of the journos. It’s just that. It feels almost natural for them to wear any trousers because long skirts won’t give them much comfort and agility to hunt potential interviewees or prominent figures that’ll make a blast.

But she’s just different. Maybe because it was an official visit. She had to dress properly, like a lady, yet I was certain to find the rebellious girl inside.

There’s no sun here, she said. “Everyone stays in skyscrapers like this and look at the sky, something is missing!” Yes, it was cloudy that day and inside the room the temperature was not room temp at all. Too cold for tropical native inhabitants like us. We like sunrays. We adore the sun. That’s why Indian hindus worship the sun, and the Japanese too. The sun is the major source of life on earth and that’s what I have recently felt, as my health had declined after weeks of bad sun-less weather.

And speaking of Indian, Anshoo told me she’s of Indian descendant, which is so obvious. No, she didn’t put bindhi on her forehead but the face and complexion and the way she speaks explain it all. No declaration is further needed. But here she approached me after we shook hands,”Are you Indian?” She supposed I am one because perhaps due to the fact that my name sounds a lot like an Indian name (some think it’s Arabic) and at a single glance, I look like one. I have no bushy beard or any facial hair a grown-up Indian man usually has but maybe I look like an Indian teenager, adolescent who goes to college still or just graduated recently. This led her into thinking that I’m an Indian by blood. Sadly I am not. I’m quite sure I have no Indian ancestors 2-3 generations before me. So I laughed at her hypothesis.

A question made me gasp, as I tried to provide real answers for her. “The moslems don’t allow christians to practice their belief here, I heard. Is it so? Tell me?” I couldn’t and wouldn’t lie there’s no such a thing happening here but all I know is that the tolerant understanding majority don’t act that way. Though I have to bitterly admit some hardliner groups become provoked and later outraged when they see a church is going to be built. Of course it is by no means saying that Indonesia, as a nation and a country, is anti-Christ for Christians but such cases would be quite rare to find in reality. Most of us non-hardliner moslems don’t mind churches or temples or any shrines near us. It’s just the media outlets that choose to spread this story on and on and on, because such controversy is a potential commodity to them and for the business. Bad things are more likely to be read and to go viral and simultaneously leaving very meager space for more positive stories. And what’s even better than a negative piece of story which can spark continuous debates everyone wants to be involved in?

And while we were walking down the squeaky clean, super lavish and majestic mall, she praised us,”You guys are lucky to live in Indonesia. So advanced… Prosperous…(Her eyes swept every inch of the mall)… We don’t have malls like this in Fiji. This is huge.” And a moment later, we got near to the window pane through which you can see some buildings’ rooftop. There were we casting our glance at the street with friendly traffic and spotted a seemingly tiny pocket of slum area just a few hundred meters ahead. I thought she’d changed her mind. That went without saying.

As we were having lunch, a series of more topics rolled out. Like marriage. I know it was going to be discussed anyway, like I have never had enough of it so far. This 29-year-old journo is unmarried and complained how silly marriage at young age may seem to her. “That’s cool,” I thought. Yeah, it’s so cool for a girl that old to be stubborn enough about this sensitive personal issue. Get married only if you are ready and feel like you’re prepared with all the risks and consequences ahead. Either 100 percent or nothing at all, to be succinct. Indian parents, like any other Asian parents now, are also worry about their daughter but what can they do about it? It is to me a natural phenomenon. We have gone through the baby boomer era, when people got married at young age and had kids like cats and mice (I meant they produced too many children during their lifetime) and now look at what they’ve been doing, the earth is so overpopulated! And I guess there’s a mechanism to halt this awfully rapid growth of world population.

Fiji. Every time I hear that, my mind projects a tropical island like Hawaii. Beaches, coconut trees, blue oceans. I kept asking,”And are there maybe sharks? Is that somewhere in Pacific Ocean? And why is it ‘Pacific’? Is it for the pacifists? Is it where everyone is opposed to violence as a means of settling disputes?” But Anshoo was so talkative I never had a chance to ask these questions to her.

Now I know Fiji is an independent state within the British Commonwealth located on the islands. It is a group of more than 800 islands (100 inhabited) in the southwestern Pacific. Viti Levu and Vanua Levu are the two major islands, which is of volcanic origin. There’re coral reefs around Fiji and smaller islands are coral.

Anshoo never knows today is sunny here as she always expects as a lover of sunrays. Sunrays that dry up all the laundry and leave my landlady happy.

Ahimsa, Vegan dan Yogi

Mohandas K. Gandhi
Mohandas K. Gandhi (Photo credit: Wikipedia)

Kata ahimsa terdiri dari partikel ‘a’ yang artinya ‘tidak’. Dan kata benda ‘himsa’ yang berarti pembunuhan atau kekerasan. Ini lebih dari sekadar perintah untuk tidak melakukan pembunuhan  karena artinya secara lebih luas ialah cinta kasih. Cinta kasih ini merengkuh semua makhluk karena kita semua adalah ‘anak’ dari Ayah yang sama – Tuhan. Sang yogi meyakini bahwa membunuh atau menghancurkan sesuatu atau makhluk ialah tindakan yang menghina sang Pencipta. Manusia bisa membunuh karena makanan atau untuk melindungi diri dari bahaya. Namun hanya karena seorang manusia menganut pola vegetarian, tidak serta merta perangainya pasti mengikuti prinsip ahimsa atau bahwa ia adalah seorang yogi, meskipun pola makan vegetarian merupakan keharusan dalam berlatih yoga. Tiran yang haus darah mungkin seorang vegan tetapi kekerasan adalah kondisi pemikiran bukan makanan yang dimakan. Ia berada dalam pikiran seseorang dan bukan dalam alat-alat yang ia pegang di tangan. Seseorang dapat menggunakan pisau untuk mengupas buah atau untuk menusuk lawan. Kesalahan bukan ada pada alat yang dipakai tetapi pada pengguna.

Manusia menggunakan kekerasan untuk melindungin kepentingannya sendiri – tubuhnya, orang yang mereka kasihi, hak milik mereka atau harga diri mereka. Namun seseorang tidak bisa hanya mengandalkan diri sendiri untuk melindungi diri atau orang lain. Keyakinan bahwa ia dapat melakukan hal itu tidaklah benar. Seseorang harus bersandar pada Tuhan, yang menjadi sumber semua kekuatan. Kemudian ia tidak akan mudah takut pada kejahatan apapun.

Kekerasan muncul dari ketakutan, kelemahan, ketidaktahuan atau kecemasan. Untuk membasminya, apa yang paling dibutuhkan ialah perubahan cara pandang terhadap kehidupan dan mengubah orientasi pikiran. Kekerasan pasti akan menurun saat seseorang belajar untuk membangun keyakinan di atas kenyataan dan pengamatan daripada ketidaktahuan dan pengandaian.

Seorang yogi meyakini bahwa setiap makhluk memiliki hak yang sama untuk hidup sebagaimana yang dimiliki yogi. Ia yakin bahwa ia terlahir untuk membantu orang lain dan ia melihat makhluk lain dengan kasih sayang. Ia mengetahui bahwa kehidupannya terhubung secara rumit dengan kehidupan orang lain dan ia bergembira jika ia bisa membantu orang lain menjadi lebih bahagia. Ia meletakkan kebahagiaan ornag lain di atas kebahagiaan diri sendiri dan menjadi sumber kebahagiaan bagi semua orang yang bertemu dengannya. Seperti orang tua yang mendorong bayinya untuk berjalan dengan kakinya pertama kali, ia mendorong orang lain yang kurang beruntung daripada dirinya dan membuat mereka dapat bertahan dalam kehidupan.

Untuk suatu kesalahan yang dilakukan orang lain, manusia menuntut keadilan; sementara untuk kesalahan yang dilakukan dirinya sendiri, ia memohon pengampunan dan belas kasih. Seorang yogi di sisi lain meyakini bahwa untuk suatu kesalahan yang dilakukan diri sendiri, perlu ada keadilan pula, sementara untuk kesalahan yang dilakukan orang lain perlu ada pemaafan. Ia mengetahui dan mengajarkan pada orang lain bagaimana menjalani kehidupan. Dengan selalu berjuang menyempurnakan diri, seorang yogi menunjukkan pada orang di sekitarnya bagaimana memperbaiki diri dengan cinta dan kasih sayang.

Seorang yogi melawan kejahatan dalam diri orang yang melakukan kejahatan namun tidak melawan orang yang melakukannya. Ia menyarankan hukuman yang dilakukan diri sendiri bukan hukuman biasa untuk perbuatan yang salah. Perlawanan terhadap kejahatan dan cinta untuk orang yang melakukan kesalahan dapat dilakukan bersamaan. Istri seorang pemabuk dengan perasaan cinta pada suaminya mungkin melawan kebiasaan buruk itu. Perlawanan tanpa cinta menimbulkan kekerasan; mencintai orang yang berbuat salah tanpa melawan kejahatan dalam diri mereka adalah tindakan bodoh dan membuat semua menderita. Seorang yogi mengetahui bahwa untuk mencintai seseorang sembari memerangi kejahatan dalam diri orang itu ialah cara yang benar dan harus diikuti. Kemenangan akan diraih karena yogi memerangi dengan cinta. Seorang ibu yang penuh cinta kadang akan memukul anaknya untuk membuang kebiasaan buruk si anak; begitu juga halnya saat seorang pengikut sejati ahimsa yang mencintai lawannya.

Bersamaan dengan ahimsa yaitu abhaya (kebebasan dari ketakutan) dan akrodha (kebebasan dari amarah). Kebebasan dari ketakutan hanya mendatangi mereka yang menjalani hidup dengan murni. Seorang yogi tidak takut apapun dan tak ada orang yang perlu menakutinya karena ia menjadi murni dengan mempelajari Dirinya. Ketakutan mencengkeram manusia dan melumpuhkannya. Ia takut akan masa depan, hal yang tidak pasti dan yang tak aksat mata. Ia takut bahwa ia bisa kehilangan sarana mencari nafkah, kekayaan atau nama baik. Namun ketakutan terbesar ialah ketakutan terhadap kematian. Seorang yogi tahu bahwa ia berbeda dari badannya, yang menjadi rumah sementara bagi roh. Ia memandang semua makhluk dalam Diri dan Diri dalam semua makhluk dan dengan demikian ia menyingkirkan semua ketakutan. Meskipun badan bisa didera penyakit, penuaan, pembusukan dan kematian, roh akan tetap tidak terpengaruh. Bagi seorang yogi, kematian ialah sesuatu yang menambah semangat dalam kehidupan. Ia telah mendedikasikan pikirannya, akal budinya dan seluruh hidupnya pada Tuhan. Saat ia telah menghubungkan kehidupannya secara utuh pada Tuhan, lalu apa yang harus ditakuti?

Terdapat dua jenis amarah (krodha), yang pertama ialah amarah yang merusak pikiran dan yang kedua ialah amarah yang membimbing pada pertumbuhan spiritual. Akar dari amarah yang merusak pikiran ialah kesombongan yang membuat seseorang marah saat disakiti. Amarah ini mencegah pikiran melihat semua hal dalam sudut pandang yang semestinya dan mengaburkan akal sehat. Sang yogi di sisi lain marah pada dirinya sendiri saat pikirannya melemah atau saat semua pelajaran dan pengalamannya gagal mencegahnya melakukan kebodohan. Ia tegas pada dirinya sendiri saat ia berhadapan dengan kesalahannya sendiri namun tetap lembut pada kesalahan yang dilakukan orang lain. Kelembutan pikiran merupakan sifat seorang yogi yang hatinya tidak tega menyaksikan penderitaan. Dalam diri yogi, kelembutan dan ketegasan untuk orang lain dilakukan bersama-sama dan jika ia hadir, semua kebencian dan permusuhan akan sirna.

Cikal Bakal Yoga *

Suatu sinar menyinari semua benda di muka bumi ini, menyinari kita semua, menyinari langit, puncak tertinggi, lapisan langit tertinggi. inilah sinar yang menyinari hati kita semua.

Chandogya Upanishad

 

 

Yoga berasal dari keluasan dan kedalaman tradisi kuno. Banyak aliran yoga yang berakar dari sejarah eksplorasi spiritual yang kompleks, refleksi filosofis, eksperimen ilmiah dan ekspresi kreatif nan spontan. Muncul dari budaya India yang terus berkembang dan majemuk, yoga sering disamakan dan dibentuk oleh Hinduisme, Buddhisme, Jainisme, dan sejumlah kepercayaan lainnya. Filosofi, ajaran, dan praktik yoga sama bervariasinya dengan cabang-cabang dari luasnya yoga yang tak terhitung banyaknya dalam segala manifestasinya. Apa yang kita ketahui mengenai asal muasal dan perkembangan yoga berasal dari berbagai sumber, termasuk teks kuno, pewarisan pengetahuan secara verbal melalui garis keturunan spiritual atau image

yoga tertentu, ikonografi, tari-tarian dan lagu-lagu. Meskipun bagi sebagian orang yang belajar dan mengajar yoga sejarah ini bermakna sepele, bagi sebagian yang lain apresiasi penuh terhadap yoga akan menjadi lebih kaya dan lebih nyata saat diajarkan dengan pemahaman yang lebih mendalam mengenai asal muasalnya.

Dalam pembahasan ini, kita akan menggunakan sapuan kuas yang besar untuk melukis di atas sebuah kanvas yang menggambarkan kebijaksanaan tradisi yang berterima yang masih mengajarkan praktik-praktik yang kita eksplorasi dan bagikan saat ini. Kita akan membahas literatur dasar yoga untuk mengidentifikasi praktik-praktik yoga tradisional, berhenti sejenak saat membaca untuk merenungkan relevansi dan penerapan praktis dari semua praktik ini dalam melakukan dan mengajarkan yoga di abad ke-21.

Weda

Walaupun sejarah yoga mungkin berusia beberapa ribu tahun, tulisan mengenai yoga yang pertama kali diketahui ditemukan di dalam teks spiritual Hindu kuno yang dikenal sebagai Weda (yang berarti “pengetahuan”), dan yang tertua adalah Rig Weda. Meskipun para cendekiawan memperdebatkan tanggal dan asal Weda (1700-1100 SM) yang pasti, mayoritas sepakat bahwa 1.028 himne yang menjadi bagian penyusun Rig Weda, yang dianggap oleh banyak orang berasal dari dewa, merupakan sumber tertulis pertama mengenai yoga (Witzel 1997). Semua himne ini tersusun sebagai puisi oleh para pemimpin spiritual (paranormal) dalam suatu budaya yang di dalamnya sebagian besar praktik-praktik yang paling bersifat spiritual terhubung langsung dan cepat dengan alam dalam rangka pencarian makna dan keseimbangan. Himne-himne tersebut mencerminkan eksplorasi mistik mengenai kesadaran, hidup dan hubungan dengan dewa. Di sinilah, yoga yang berarti “bersatu” atau “menyatukan” pertama kali disebut. Penyatuan yang disengaja itu ialah penyatuan pikiran seseorang dan dewa, sebuah kualitas transenden mandiri yang menciptakan keadaan sadar sepenuhnya yang di dalamnya kesadaran akan adanya “Saya” sirna menjadi suatu rasa munculnya kehadiran inti ketuhanan.

Meditasi ialah alat utama yang dikisahkan para paranormal Weda dalam Rig Weda untuk mencapai keadaan sadar dan kesatuan ini. Bentuk utama meditasi ialah melalui mantra, nyanyian bunyi tertentu yang dilakukan berulang yang dibuat untuk menciptakan getaran dalam batin agar selaras dengan inti ketuhanan. Bunyi-bunyian itu sendiri disajikan oleh para paranormal dalam sesuatu yang dianggap sebagai bentuk murni ekspresi ketuhanan yang tidak luntur oleh pikiran. Keadaan meditatif diperdalam dengan membayangkan dewa dan secara total menyerap rasa hadirnya dewa itu dalam hati seseorang. Semua praktik yang saling berhubungan ini mendahului sifat-sifat meditasi yang ditemui kemudian dalam Sutra Yoga”: penarikan indra-indra dari gangguan eksternal, konsentrasi pada satu titik, pelepasan pikiran menjadi kesadaran hidup yang berpusat pada hati nurani, dan awal menuju kesatuan dengan tuhan. Banyak himne Weda disebarkan saat ini dalam kirtan – atau nyanyian panggilan dan sahutan – yang dipimpin oleh para praktisi yoga bhakti (kebaktian). Meskipun kelompok Hare Khrisna mungkin yang pertama kali mempopulerkan senandung mantra di Barat, para penyanyi pop seperti Jai Uttal, Deva Premal, dan Khrisna Das telah meleburkan praktik ini dalam studio yoga yang banyak kita temui di Barat. Kini makin mudah ditemui senandung himne Hindu dalam kelas-kelas yoga di Barat, entah itu sebagai bagian dari musik pengiring atau diiringi dengan partisipasi siswa secara penuh.

Banyak siswa merasa bahwa praktik ini memperdalam pemahaman hubungan spiritual mereka dan sekaligus mempererat hubungan sebagai satu komunitas. Apakah efek itu berasal dari getaran khusus yang diciptakan oleh cengkok nada kata-kata Sansekerta tertentu sebagaimana diklaim dalam Rig Weda, atau begitu saja muncul dari kebahagiaan dari bernyanyi dan bernapas, menjadi topik perbincangan yang hangat. Meskipun banyak siswa mengaku memiliki pengalaman yang menguatkan dan menyenangkan, sejumlah studio yoga melarang senandung (termasuk “aum”) karena banyak siswa lain, terutama yang masih baru, berpendapat bahwa bersenandung merupakan ritual agama esoterik dan aneh. Mereka ini mungkin masih belum berdamai dengan sistem kepercayaannya atau pemahaman spiritualitasnya. Dengan memperkuat dan membuka kepekaan spiritual Anda yang sebenarnya dan secara bersamaan menjadi terbiasa dengan keterbukaan siswa-siswa Anda, Anda akan terbantu dalam menentukan kapan atau apakah akan memasukkan senandung dalam kelas yoga Anda.

Mantra Gayatri yang diambil dari Rig Weda merupakan salah satu mantra yang paling sering dilantunkan dalam Hinduisme. Terjemahan dan catatan paling populer di Barat berasal dari Deva Premal:

Om bhur bhuvah svah

Tat savitur varenyam

Bhargo devasya dhimahi

Dhiyo yonah prachodayat

Terjemahan:

Melalui datangnya, perginya, dan seimbangnya kehidupan

Sifat pokok yang menerangi keberadaan ialah yang mengagumkan

Semoga semua merasakan melalui akal yang halus

Kecemerlangan pencerahan

 

(*Terjemahan dari “Teaching Yoga” oleh Mark Stephens, halaman 1-3)

How Integrity May Mean The Entire World to Yogis and Writers

The debacle of a genius: In some way, I can relate to Jonah Lehrer’s journalism faux pas (or misdeeds?). I know how it feels when people around you want more new things to read or listen from you every single day. The lesson learned? Humans’ creativity, even geniuses’, is limited. Admit that you’re tired, exhausted at all. Maybe that is much better than running ragged and settle for mediocrity. Or not? You be the judge.

Like most young people, I have been listening to an elderly tycoon who keeps repeating the significance of integrity in every step taken in this life. Truthfully, I got sick of that. Who doesn’t? It sounds like a broken old tape to my ears. But that was before I realize that the absence of integrity , or even a meager amount of integrity violation, means the end of the world to some people.

Because I also work in journalism world, let me  take Jonah Lehrer as an example. This 31-year-young author and public speaker has triggered massive outrage in the past few months. He is said and proven to have committed two big sins : fabrication of Bob Dylan’s quotes and (self?) plagiarism (source: slate.com).

And because I also love doing yoga, let me scrutinize also what John Friend has done to his integrity affairs. I am not a staunch fan of anusara yoga yet it is one of yoga schools, though it originated partially from the ancient yoga in India. Friend is accused of committing intimate sexual rituals related to the modern pagan religion of Wicca.

Both cases offer invaluable lessons to learn. I find it easy to relate to these two heroes-turn-zeroes disasters. I am not saying I am as successful or widely known as mr. Friend and mr. Lehrer but I just want to emphasize the fact that anyone – whether or not s/he is famous or talented or intelligent – cannot be immune to the peril of lust, which is part of being a human being, and lie resulted from indolence.

It’s completely irrational to see other people who seem to possess everything you want without warning and sound reason excuses making the same mistake repeatedly, which at last strip them off what they previously earned for years with so much hard work. It’s tragic on one hand, and fair on the other hand.

And suddenly it dawns on me, once someone finds out and can exploits your list of sins for the sake of anything (some say for the sake of scientific objectivity or moral purity, but really how many of us can figure it out that way?), your life so to speak is over as a member of a certain society. It’s an utter disgrace that time cannot seem to heal rapidly.

Nevertheless, in the era of instant gratification and self indulgence instead of essence and real substance, it proves to be much easier for people to forget and forgive.

Broga, Yoga untuk Kaum Pria

Apa yang terlintas di benak Anda saat disebutkan kata “yoga”? Sehat, langsing, lentur, atau lembut?  Jarang mungkin yang mengatakan kuat, berotot, atau semacamnya? Sukar memang untuk menunjukkan bahwa yoga tidak cuma untuk para wanita.

Sebenarnya isu ini juga sudah terpikir sejak dulu mulai berlatih. Saat saya berlatih tidak banyak teman pria yang demikian rutin mengikuti latihan. Ada memang beberapa yang hadir, tetapi perlahan menghilang. Sementara yang bertahan bisa dihitung dengan jari-jari di satu tangan.

Pertanyaan ini kembali mengusik setelah saya membaca artikel tulisan Mary Austin di Kykernel.com yang menanyakan pertanyaan yang sama persis meski settingnya berbeda: “Why is yoga more popular among women in the U.S.?” Dan menurut pengamatan saya, memang lebih banyak pegiat yoga wanita (yogini) daripada pegiat yoga pria (yogi). Di sejumlah kelas yoga di studio di sejumlah negara, seperti di Hong Kong, Jepang, dan sebagainya, biasanya peserta pria hanyalah minoritas. Bisa jadi mereka adalah pasangan atau teman pria yang diajak oleh peserta wanita yang sudah lebih dulu masuk dan menekuni yoga.

Hipotesis saya ini juga dikukuhkan oleh Austin, yang mengatakan, “Often urged by their wives, men have started coming to class“. Jadi kisah para pria yang bersentuhan dengan dunia yoga karena mulanya dipaksa pasangannya bukan hanya terjadi di sekitar saya saja. Di tempat saya berlatih, memang terlihat beberapa pria yang masuk dan ikut karena istri, pacar atau teman wanita mereka ingin mereka menemani dan ikut berolahraga dan sehat bersama mereka.

Mungkin ada yang salah hingga tercipta sebuah citra feminin seperti ini pada dunia yoga. Yoga bukan dunianya wanita. Bahkan sebenarnya di negeri asalnya, India, mereka yang piawai beryoga dari jaman kuno bukanlah para wanita yang selalu diasumsikan lebih lentur. Para yogi justru lebih mendominasi dahulu kala. Patanjali, sosok yogi yang juga orang bijak, adalah pria tulen. Dan dari karyanya yang sistematis mengenai yoga dan konsep ashtanga (8 tangga) dalam yoga ini makin banyak orang yang bisa mengenal dan mempelajari serta mempraktikkan yoga.

Yang patut dikritisi kemudian ialah pengemasan yoga itu setelah dunia Barat mengenalnya di pertengahan abad ke 20. Kira-kira dekade 1960-an, B. K. S. Iyengar memperkenalkan yoga ke masyarakat Barat. Yoga yang berasal dari Timur pun dianggap sebagai praktik yang eksotis dan perlu lebih banyak digali dan dipraktikkan. Untuk menarik lebih banyak penggemar untuk memasuki kelas yoga, akhirnya dibuatlah pakaian-pakaian serta aksesoris yoga yang semenarik mungkin. Muncullah kemudian mat yoga yang warna-warni, celana yoga yang ketat.

Yoga di benak banyak orang juga masih dikenal sebagai olahraga meditatif belaka. Ada benarnya tetapi tidak seluruhnya demikian. Yoga lebih kompleks dari sekadar bermeditasi, atau memperagakan asana alias pose-pose yang terlihat ‘menyakitkan’ karena membutuhkan kelenturan dan kekuatan. Saya sendiri hampir selalu menemukan orang awam di sekitar saya yang mengira bahwa ikut yoga adalah membuang waktu dengan duduk bersila dalam posisi lotus. Tak bisa disalahkan juga karena itu yang mereka baca dan lihat di media mainstream.

Yang patut diperhatikan ialah bahwa para guru dan instruktur yoga malah umumnya berjenis kelamin pria.  Guru saya yang pertama juga kebetulan pria, meskipun kemudian terjadi rotasi temporer yang menghadirkan pengajar wanita yang kualitasnya juga tak kalah bagus. Namun, tetap saja guru pertama saya yang pria ini lebih terasa mantap, mungkin juga karena pengalaman dan pengetahuan yang sudah mendalam.

Sebagian pria merasa terintimidasi saat masuk kelas yoga jaman sekarang karena dominasi para wanita di dalamnya. Apa pasal? Karena mereka merasa kalah lentur. Padahal dalam yoga, kelenturan bukan segalanya. Kekuatan otot juga diperlukan! Lagipula, kelenturan bisa dilatih.

Praktisi dan guru yoga Devi Asmarani mengatakan dalam bukunya “Yoga untuk Semua” bahwa kaum Adam tak perlu menolak melakukan yoga karena sebenarnya banyak manfaat yang bisa dituai. Dengan banyaknya pria yang suka olahraga angkat beban dan berintensitas tinggi, yoga makin dibutuhkan karena peregangan dalam yoga penting untuk memelihara otot agar tidak memendek karena berulang kali dipakai angkat beban. Intinya yoga menyeimbangkan tubuh kita, apapun jenis kelamin kita.

Austin juga menyebut istilah “broga” yang berakar pada kata “brother” dan “yoga”.  Bisa dikatakan ini merupakan gaya baru dalam beryoga karena digagas untuk mengajak lebih banyak pria melakukan yoga. Dan uniknya, kelas broga ini ditujukan hanya untuk pria. Robert Sidotti yang turut mendirikan aliran broga ini berpendapat makin banyak dijumpai pria pertengahan 30-an yang merasa kurang bugar tetapi enggan mengikuti kelas yoga yang didominasi perempuan. Kondisi ini melatarbelakangi munculnya broga, yang menurut Sidotti , gerakannya telah didesain khusus untuk badan kaum pria yang lebih suka fokus pada kekuatan alias strength.

Jadi, apakah masih segan beryoga, tuan-tuan?

(Juga dipublikasikan di Kompasiana.com)

Everything You Do, Do for God. And Everything God Does, He Does for You

image

That is what one of the boys spending all day scrubing the floor beside Elizabeth Gilbert said. He was lecturing her earnestly on how to best perform her work there. I found this on page 131 and it resonated with me at once.

Doesn’t it sound so heavenly, pleasing apart from any scepticism sneaking in after that? To these human beings with weary souls, his words hit the bull’s eye.

We’re tired of doing the best we can  as there’s no immediate appreciation or tangible instant acknowledgment for our hard work. And we either slowly or at once reconsider why we must give the best when even the mediocre is fine, acceptable? Lowering down the standards and then what? What a disastrous way of thinking…

Mediocrity and monotony DO suck. I rest my case.