The Feast of West and East

‎A HEAD-ON COLLISION between west and east the night was. In the west, you’d see the grandeur of mosque in its past colonial architectural style. But in the east, you’d behold the feast reflecting the contemporary, tolerant, open-minded face of Indonesian moslems with all the modernity and musicality.

Music was what united us that very night at the yard of Cut Meutia Mosque, located at the heart of Jakartan old development area, Cikini. ‎This was my first time to witness a jazz music festival inside a mosque’s railings and I had no clue what to expect moment after moment. In fact, I was completely in awe, shock and disgust at the same time. “This is nuts,” the conservative of me complained upon seeing a stage behind us.

While my companion said it was Ramadhan Jazz Festival 2015 (the fifth event to date) that lured him into coming there, I placed praying as my top priority. ‎I’m a moslem and I felt like the commercialism got a little bit too far. I felt odd to be asked whether I went to the mosque for a concert or praying.

And I was not alone. A couple of friends showing up there expressed their slight disappointment, citing it was not what they had in mind about an Islamic musical event. They remembered in 2012, they came to the mosque, enjoying the jazz festival with solemnity. “We just sat and it was free of charge. What mattered most was there was no ‎booths like now,” she reminisced while casting her view around. There were booths of culinary businesses in front of the mosque’s facade, getting more and more packed with hungry millenials-dominated customers as the night got darker. I couldn’t agree more. It was more a sight of a market than a place where you can interact with the Ultimate Divinity.

Though I was a first timer, I could relate to her disappointment. The hectic, noisy and uproarious music festival ‎simply failed to blend perfectly with the graveness and solitude of Cut Meutia Mosque.

Ramadhan Jazz Festival they held was boasted as “the first jazz festival held at a mosque.” It was held by, instead of a professional event organizer, the association of ‎youths at the aforementioned mosque. Of 54 jazz festivals ever held in Indonesia, certainly this had its own uniqueness.

Inside my head, I was torn into two. One facet of me wanted to approve of the combination of Islam and modernity. That was what partly made the nation could be unified, by embracing new foreign elements and integrating them into the culture and even rituals. And the other one lamented over the violated solemnity of Ramadhan and the mosque. ‎When I came to a mosque, I expect some degree of more intense solemnity to be away and free from the worldly affairs for a while. Here, I couldn’t find it.

To my eyes, it was a night of contradiction showcased so blatantly. A group of young males and females full of makeup wore Betawi traditional attires, entertaining the youthful audience. They danced hand in hand, and one manouvre entailed them turning around 360 degrees, with faces almost touching each other. One loss of focus or mistake would end up kissing each other in public. In the meantime, a flock of elderly inside the mosque were observing casually from the mosque, as if keeping everything in check. A middle-aged man with a moustache stood and watched it all; the crowd and the beats of drum didn’t seem to please him. He shook his head while I was behind him.

But apart from it all, I like to see how tolerant the people here looked. They were so much different from fundamentalist Islam you may see on media. ‎This was the Islam intepreted by contemporary Indonesians which surprisingly mirrored how actually Islam spread in the country centuries ago. Islam came to Indonesia with no bloodspill. The Islamization of Indonesia, according to the history record, was started in the 12th century and proceeded in a gradual and peaceful fashion for hundreds of years afterwards. So this festival was in accordance with the spirit of pacifist Islam, only more modern.

The event was more than just a secular festivity, apparently. As announced, to be there one had to provide alms starting from IDR 25K. We were told the alms gathered would be given to those in need of clean water supply with the assistance of social organization Dompet Dhuafa, healthy blood supply, and Saba Foundation which focused its efforts on providing assistance to the disabled.

And the secular, way-more-tolerant Indonesia government nowadays fully supported this jazz festival’s spirit. Minister of Labor Hanif Dhakiri was to be present on stage in favor of the two-day event. “Being a moslem in Indonesia encompasses two different perspectives: I am a moslem who happens to be living in Indonesia and I am an Indonesian who happens to be a moslem. I pick the second,” said he. “My being a moslem can never be separated from my being Indonesian. This Ramadhan Jazz Festival justifies it all, that we can be a devout moslem and a good Indonesian. You don’t have to be conservative, ‘jadul’ (Indonesian slang for ‘obsolete’) or ‘katrok’ (Indonesian slang for ‘rustic’).”

He later specified the importance of being a moslem without stripping away the local cultures and identity. Added he,”You can be a good Sundanese — or Javanese — and a good moslem at the same time.”

The festival was just getting absurd as the public official stayed on stage after he concluded his speech. He sang out loud for all of us there while I absurdly watch him through the window panes inside the mosque with both of my legs stretched. Sipping my bottled drinking water, I turned my head around only to find a notice saying,”Do not open the windows as the mosque is air-conditioned.” The doors and windows were all opened, making me scratch my head. I made up my mind: It was not only a night of collision but also full of contradiction.

Saat Sastra Mengkritisi Agama: 26 Tahun Pasca Fatwa Mati Salman Rushdie (1)

Dua puluh enam tahun tepatnya telah berlalu sejak sebuah fatwa hukuman mati yang menggemparkan jagat sastra diumumkan secara resmi oleh mendiang Ayatollah Ruhollah Khomeini, pimpinan Islam dari Iran. Tepat di hari Valentine tahun 1989, Radio Teheran menyiarkan pernyataan Khomeini yang menghukum mati novelis berkewarganegaraan Inggris kelahiran Bombay, India, Salman Rushdie. Sebuah pesan yang tentu menghenyak di tengah suasana penuh cinta kasih. Tiba-tiba dunia Rushdie seolah dirundung awan gelap. Alih-alih mendendangkan “Love is in the air, everywhere I look around,” yang terus terpikir dalam benak penulis novel The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan) itu mungkin,”Death is in the air, everywhere I look around.” Dan awan gelap itu akan terus menghantuinya setidaknya hingga hampir satu dekade setelah fatwa itu diluncurkan dari bibir sang pemimpin besar Iran.

Begini kira-kira isi fatwa Khomeini:

“Saya memberitahukan pada umat Muslim di seluruh dunia bahwa penulis buku Ayat-ayat Setan (The Satanic Verses) adalah musuh Islam, Nabi Muhammad dan Al Qur’an. Semua pihak yang terlibat dalam penerbitan buku itu dan mengetahui isinya divonis hukuman mati.”

Rushdie mengetahui kabar tersebut segera setelah seorang staf BBC meneleponnya. Dan ia menanggapi serius berita itu. Rushdie bisa dikatakan ketakutan. Dalam sebuah wawancara ia berkata, “Ruangan saya ada di lantai atas dan saya kemudian turun ke bawah begitu mendengar berita itu. Saya kunci pintu depan dan menutup tirai jendela, dan saya berkata pada diri saya sendiri seakan saya adalah orang lain karena begitu terkejut,’Berapa hari atau jam lagi saya masih bisa hidup?”

Mungkin ini adalah salah satu insiden paling bersejarah dalam dunia sastra; bahwa seorang pengarang harus diperangi dengan cara dijatuhi hukuman mati karena karyanya. Ada benarnya juga kata-kata bijak “Temukan passion-mu, lalu biarkan ia membunuhmu”. Rushdie beruntung bakat sastranya yang luar biasa itu tidak sampai membunuhnya, setidaknya hingga detik ini. Namun, kebebasan hakikinya untuk menikmati kehidupan layaknya orang biasa sudah terenggut secara paksa. Ia kini harus berada dalam kawalan penjaga-penjaga (bodyguards) yang siang malam menjaganya dari ancaman pembunuhan yang siapa tahu mengintai kapan saja, di mana saja.

Sebuah ironi dalam dunia Islam yang terus saja mengemuka adalah bagaimana umat muslim terkoyak-koyak oleh pertentangan dalam tubuh mereka sendiri. Entah karena adu domba dari pihak luar atau karena memang ego yang meraja, tetapi saya pikir perpaduan yang tak bisa diukur dari keduanya, ditambah lagi dengan masuknya berbagai kepentingan ekonomi, politik dan sebagainya, kondisi umat muslim tak kunjung bersatu. Dan apa yang terjadi adalah kerinduan akan kebangkitan kejayaan khilafah, sebuah kerajaan atau negara yang menaungi semua umat Islam secara utuh dengan menggunakan syariat Islam sebagai pondasi dan sendi-sendi kehidupannya. Sayangnya, kerinduan itu kerap menjadi – jika boleh meminjam analogi kesehatan – ‘sel-sel kanker’ yang meskipun tumbuh pesat tetapi tidak bisa dikendalikan. Pada gilirannya, kerinduan akan kejayaan Islam itu menjadi layu sebelum berkembang dan membuat citra Islam dan umatnya makin terpuruk saja di mata dunia.

Salman Rushdie: Apa dan Siapa

Penyebab kehebohan ini adalah karya Salman Rushdie, The Satanic Verses. Seperti yang dikemukakan sebelumnya, kehebohan-kehebohan dalam umat muslim kerap bukan dipicu oleh kalangan eksternal tetapi internal. Apa pasal?

Rushdie yang lulusan King’s College, Cambridge, sebenarnya bukan orang yang sama sekali tidak mengenal Islam. Ia terlahir di Bombay, 19 Juni 1947 dalam sebuah keluarga muslim beraliran liberal di India. Ayahnya Anis Ahmed Rushdie adalah seorang alumni Cambridge University yang mulanya menjadi pengacara lalu berubah haluan menjadi pebisnis. Ibunya bernama Negin Bhatt, seorang guru. Jadi ia sebenarnya juga bisa dikatakan sebagai bagian dari umat muslim sejak kecil meski dalam perkembangannya ia mengklaim dirinya sebagai seorang “atheis garis keras”.

Namun demikian, Rushdie dengan jujur mengakui dirinya sudah tak lagi memeluk dan menjalankan ajaran Islam secara formal sejak usia belia. Ia berkomentar dalam sebuah wawancara,”I ceased to be formally religious from an early age, from the teenagehood I suppose and have never changed and have never been born again. But there was always a nagging space where the religion used to be.” Dan ruang kosong dalam kehidupan relijiusnya itu membuat Rushdie menjadi semakin ‘liar’ secara intelektual.

Sebagai seorang berdarah India yang tumbuh dewasa di tanah asing, Rushdie memiliki ketertarikan terhadap dinamika hubungan peradaban Timur dan Barat dan mengembangkannya sebagai tema-tema favorit dalam karyanya. Hal ini sedikit banyak mencerminkan kegundahan terhadap dunia sekitarnya dan keterikatannya pada tanah kelahirannya India.

Begitu dewasa, Rushdie yang bersuku India Kashmir itu merintis karir di dunia industri periklanan. Ia bekerja sebagai copywriter di perusahaan iklan kenamaan yang didirikan oleh David Ogilvy, Ogilvy & Mather. Sembari bekerja di agensi iklan inilah, Rushdie juga menulis beberapa karya sastra yang berbau realisme magis dan fiksi sejarah. Novel pertama Rushdie, Grimus, dirilis tahun 1975. Karya pertamanya itu tak banyak diperbincangkan, apalagi mengundang polemik.

Muncullah novel keduanya yang berjudul “Midnight’s Children”, yang ditulisnya saat masih bekerja sebagai copywriter di Ogilvy & Mather. Tak disangka-sangka, novel itu membuatnya diganjar menjadi pemenang The Booker Prize, sebuah penghargaan sastra yang prestisius, di tahun 1981. Karyanya ini juga sudah mengundang hiruk pikuk, karena di dalamnya penggambaran seorang karakter mirip Perdana Menteri India yang saat itu berkuasa Rajiv Gandhi dipersoalkan. Alhasil, sang pejabat menyeret Rushdie ke meja hijau atas tuduhan fitnah. Namun, hal yang patut disyukurinya adalah karena kesuksesan Midnight’s Children ia berhasil keluar dari posisi copywriter dan mencari nafkah yang lebih menjanjikan sebagai penulis penuh waktu.

Novelnya yang ketiga, Shame (1983), juga menjadi buku yang laris manis di pasaran. Shame juga membuatnya terlibat perseteruan dengan otoritas sebuah negara. Novel itu dilarang beredar di Pakistan karena menyinggung wibawa Jenderal Muhammad Zia-ul-Haq. Shame memenangi penghargaan Prix du Meilleur Livre Etranger (Buku Asing Terbaik) dan menjadi salah satu pemenang di The Booker Prizer.

Dari sini saja kita sudah ketahui bahwa Rushdie sudah akrab dengan kontroversi sebelumnya. Dan kelak reputasinya sebagai sastrawan sarat kontroversi akan makin memuncak.

Dalam berbagai kesempatan, penulis liberal itu menyampaikan pesan utamanya, yaitu bahwa Islam dan para pemeluknya harus menjadi lebih terbuka dan menerima kritik untuk berubah jika tidak ingin musnah akibat apa yang ia sebut sebagai “mutasi mematikan dalam jantung Islam”. Ia menuangkan pemikiran tersebut dalam sebuah tulisan yang dimuat The Washington Post dan The Times pada pertengahan tahun 2005. Ia menghendaki adanya sebuah gerakan di luar tradisi, “untuk membawa prinsip-prinsip utama Islam ke abad modern”. Rushdie juga
mendesakralisasi kisah-kisah yang menjadi bagian dari ajaran agama Islam dengan menganggapnya sebagai “peristiwa dalam rangkaian sejarah, bukan hal supranatural”. Tidak semua pemeluk Islam sependapat dengan pandangannya itu karena menganggap pondasi keyakinan mereka adalah sesuatu yang mapan, tidak bisa lagi diperdebatkan, dikritisi, apalagi direvisi.

Membedah The Satanic Verses
Pria yang memiliki dua orang anak kandung dan 4 mantan istri itu melejit menjadi selebriti justru setelah novelnya yang keempat The Satanic Verses (1988) meledak di pasar global. Sayangnya, resistensi yang tinggi juga muncul di beberapa negara, terutama yang dihuni oleh kaum muslim yakni Pakistan, Afsel, Bangladesh, Sudan, Srilanka, Kenya, Thailand, Tanzania, Venezuela, Singapura, India, dan Indonesia tentu saja.

Ide cerita The Satanic Verses, kata Rushdie, muncul saat ia belajar sejarah Islam di King’s College, University of Cambridge. Buku fiksi sejarah ini mengangkat tema kehidupan kaum pendatang India di Inggris dan memudarnya kepercayaan di dalam diri kaum imigran. Dibutuhkan waktu 5 tahun bagi Rushdie untuk menghasilkan novel setebal 547 halaman tersebut.Viking Penguin memegang hak penerbitan setelah membayarnya US$850.000.

Yang menjadi permasalahan adalah Rushdie menggunakan isu sejarah yang peka dalam novelnya itu. The Satanic Verses ditulis setelah Rushdie menemukan dalam sebagian catatan sejarah mengenai perkembangan Islam yang ia pelajari semasa kuliah. Kisah aneh itu bertema godaan setan. Dalam kisah sejarah yang ditolak mentah-mentah validitasnya oleh sebagian besar umat muslim ini, Nabi Muhammad dikatakan tergelincir oleh godaan setan saat membuat kesepakatan dengan warga Mekah yang menyembah berhala. Saat itu Rosul ingin membujuk mereka untuk ikut menyembah Allah SWT dan masuk Islam. Seperti diketahui, penyebaran Islam di masa itu sangatlah menantang, bahkan dapat dikatakan hampir mustahil sebab banyaknya hambatan dan tantangan dari orang-orang di sekelilingnya. Namun, menurut kisah yang dijadikan referensi Rushdie itu, entah bagaimana Rosul bisa tertipu oleh setan dengan
memperbolehkan warga Mekah yang telah mau menyembah Allah SWT untuk juga menyembah dewa-dewa mereka. Hal ini tentunya bertentangan dengan ajaran tauhid dalam Islam yang selama ini dipegang teguh dan menjadi inti dari Islam itu sendiri karena Islam adalah monotheisme. Menyandingkan Allah dengan pujaan lainnya – yang disebut syirik – termasuk dosa besar yang tidak terampuni kecuali jika seseorang bertobat secara sungguh-sungguh. Rosul dalam kisah sejarah itu seolah digambarkan sebagai seorang manusia biasa yang tidak kebal terhadap kealpaan.

Istilah “ayat-ayat setan” yang dijadikan judul merujuk pada sepotong ayat yang memuat kompromi penyembahan Allah dengan berhala-berhala kaum kafir tadi. Dikatakan dalam kisah aneh tersebut juga bahwa Malaikat Jibril kemudian menyadarkan Muhammad bahwa pernyataannya yang membolehkan warga Mekah menyembah Allah dan berhala-berhala mereka sekaligus adalah bujuk rayu setan. Alhasil, ayat tadi pun dihapus dari Al Qur’an. Mayoritas muslim tidak meyakini hal semacam ini pernah terjadi karena mereka yakin Muhammad suci dari kesalahan-kesalahan manusiawi semacam itu. Akan tetapi, Rushdie tidak berpikir demikian. Ia menganggap Muhammad juga manusia biasa yang bisa salah.

Ayat-ayat setan yang dipertanyakan kebenarannya itu menjadi ide bagi Rushdie untuk menulis subplot di novelnya. Dan inilah yang menyulut kemarahan dalam diri umat muslim dan membuat Ayatollah Khomeini unjuk bicara. Bisa jadi karena Rosul diyakini memiliki sifat shiddiq (benar), sehingga tidak mungkin Rosul mengingkari atau mengatakan perkataan yang bertentangan dengan sesuatu yang ia yakini benar secara mutlak, yaitu ajaran monotheisme Islam. Dalam surat An Najm ayat 4-5, ditegaskan bawah Muhammad hanya mengucapkan wahyu yang dianugerahkan padanya.

Dalam sebuah wawancara di tahun 1988, Rushdie mengatakan bahan sejarah Islam yang mengundang polemik itu ia masukkan dalam novel. Ia mengubah nama-nama tokohnya agar berlainan dari catatan sejarah. Ia mengatakan tidak menggunakan nama Muhammad tetapi Mahound karena kisah itu ia pakai dalam konteks mimpi, bukan realita. Kisah-kisah ayat setan tadi dimasukkan oleh Rushdie sebagai isi mimpi-mimpi magis yang dialami karakter Gibreel Farishta. Jadi bisa dikatakan ia membuat karya fiksi dengan berdasarkan catatan sejarah yang menurutnya menarik.

Namun, terlepas dari subplot yang membuat geram banyak pemeluk Islam tadi, novel The Satanic Verses berkisah tentang dua orang imigran India yang bekerja sebagai aktor. Gibreel Farishta dan Saladin Chamcha beragama Islam dan tak dinyana pesawat mereka dari India ke Inggris dibajak kemudian meledak di Selat Channel. Namun, keduanya secara ajaib bertahan hidup. Kisah menjadi makin menarik saat Gibreel dan Saladin menjadi dua pribadi yang berbeda setelah insiden naas tersebut. Gibreel berhalusinasi seolah dirinya adalah malaikat Jibril, mirip seseorang yang mungkin menderita skizofrenia dalam kehidupan nyata. Sementara rekannya Saladin mendekati kepribadian dan rupa fisik iblis dan setan. Ia pun harus menderita dalam siksaan polisi karena dugaan masuk ke Inggris sebagai imigran gelap. Gibreel dan Saladin sama-sama membangun kehidupan mereka kembali setelah kecelakaan pesawat itu. Gibreel kemudian memiliki kekasih. Karena merasa ditelantarkan setelah kecelakaan, Saladin ingin membalas dendam pada Gibreel sahabatnya. Ia menghasut Allie, kekasih Gibreel, untuk merasa cemburu hingga akhirnya berakibat putusnya hubungan asmara Gibreel dan Allie. Akhirnya Gibreel menyadari bahwa Saladin sahabat yang setia. Ia pun memaafkannya dan bahkan menyelamatkan jiwa Saladin. Suatu ketika mereka memutuskan kembali ke tanah kelahiran mereka India. Gibreel yang tersulut api cemburu membunuh Allie dan kemudian melenyapkan nyawanya sendiri. Saladin yang berhasil memaafkan Gibreel pun kemudian makin dekat dengan sang ayah yang sebelumnya ia jauhi. Saladin sejak itu tinggal di sana dan meleburkan jatidirinya sebagai seorang warga India.

Satu hal lagi yang tak dapat diterima umat muslim ialah bagaimana Rushdie menggunakan nama-nama dan kepribadian istri-istri Muhammad dalam 12 karakter pelacur di sebuah rumah bordil di sebuah kota bernama Jahiliah (yang mirip Mekkah) yang didatangi seorang pembawa pesan bernama Mahound (yang memiliki kemiripan dengan Muhammad, istilah ini sendiri digunakan untuk menyebut Muhammad oleh pasukan Perang Salib yang artinya nabi palsu).

Para Penentang dan Penengah
Apa yang dilakukan oleh Rushdie ini membuat pihak Penguin India juga was-was. Penasihat editorial Penguin India kala itu, Khuswant Singh, mengkritik karya Rushdie setelah membaca manuskripnya sampai habis,”Saya menemukan 2 referensi yang menurut saya tak bisa diterima di India. Yang satu adalah tentang Al Qur’an dan satu lagi tentang para istri Muhammad.” Singh menambahkan meski dirinya agnostik tetapi ia tak memahami alasan mengapa Rushdie harus mengisahkan sebuah rumah pelacuran yang nama-nama penghuninya menggunakan nama para istri Muhammad. “Sungguh sebuah perbuatan yang buruk!” kecamnya. Ia mengutip sebuah kalimat bijak:”Katakan apapun yang kamu kehendaki tentang Tuhan tetapi waspadalah jika membahas Muhammad.”

Dalam ingatan editor Channel 4 TV, Farrukh Dhondy, Rushdie juga telah diperingatkan akan risiko dikecam tetapi ia tetap membandel. “Saya katakan padanya,’Kamu akan bicara dari studio ke studio TV hanya untuk berdebat mempertahankan pendapat melawan para ulama!’ Ia menjawab,’Ah, silakan saja,'” kata Dhondy.

Pada kesempatan lain, Rushdie yang dikabari wartawan India Shrabani Basu bahwa Penguin India menolak distribusi dan penjualan novelnya di pasar India tersentak dan berkomentar,”Sungguh absurd jika berpikir sebuah buku bisa memicu kericuhan. Itu sebuah cara pandang nan aneh terhadap dunia.”

Dari semua kaum garis keras yang mengutuk karya sastra dan penulisnya tersebut, ada satu sosok yang menarik perhatian Rushdie kelak. Hesham El Essawy, seorang dokter gigi yang menghabiskan 6 jam sehari di waktu senggangnya hanya untuk melahap The Satanic Verses. El Essawy juga menjadi representasi wajah Islam yang lebih toleran dan moderat karena ia mewakili lembaga Islamic Society for the Promotion of Religious Tolerance di Inggris. Ia mengkritik The Satanic Verses dengan cara yang santun dan intelek serta tetap berkepala dingin, tidak sampai membakar dan mendukung fatwa hukuman mati Khomeini. Pria ini menyarankan agar penerbit Penguin dan Rushdie memberikan sangkalan (disclaimer) di novel itu, bahwa isinya bukan mengenai kejadian sejarah tetapi fiksi semata. “Itu saja yang saya himbau pada mereka.” Saran itu diabaikan.

Kondisi itu diperparah dengan diamnya pemerintah Inggris pimpinan Margaret Tatcher saat itu. Umat muslim Inggris yang mengetahui isi novel yang melecehkan agama mereka itu angkat bicara dan menuntut agar Rushdie diperkarakan dengan tuduhan pelecehan agama. Namun, ternyata UU yang mengatur tentang pelecehan agama di Inggris hanya berlaku untuk agama Kristen saja. Ditambah dengan fakta bahwa Rushdie menikmati ketenaran dari novel The Satanic Verses dan penghargaan untuk karya yang menyinggung keyakinan mereka, para muslim Inggris tidak bisa lagi berpangku tangan. Sebagai minoritas, umat Islam di Inggris pun merasa perlu mengambil langkah lebih lanjut.

Di kota Bradford, umat muslim yang merasa tidak didengar keluhannya itu pun mengadakan unjuk rasa yang menuntut penarikan novel The Satanic Verses. Sebelumnya telah ada unjuk rasa di Bolton, tetapi pers pun tidak mengindahkan. Ribuan muslim berkumpul di pusat kota Bradford pada 14 Januari 1989. Pers sempat mengabadikan pembakaran novel itu. Esok harinya pemberitaan media pun muncul. Nadanya memojokkan, sehingga akhirnya membuat umat muslim Inggris makin merasa merana karena dicap terlalu ekstrim karena harus membakar buku.

Ekskalasi kontroversi novel The Satanic Verses terus terjadi dan ribuan muslim membanjiri London untuk menyuarakan keberatan mereka dengan distribusi novel tersebut. Sementara itu, Rushdie juga berjuang membela haknya untuk mengkritisi Islam melalui karya sastra. Ia menjadi sasaran ancaman pembunuhan dan penerbit Penguin juga terdampak. Kantor mereka sempat menjadi target unjuk rasa, surat kaleng dan ancaman bom. Semua itu terjadi bulan Januari 1989.

Menyatukan, Memisahkan Sekaligus Memakan Korban
Diakui oleh aktivis muslim Inggris bahwa kontroversi The Satanic Verses memberikan dampak positif. Isu ini membuat mereka memiliki satu musuh bersama, yang berbentuk seorang novelis dengan ide dan fantasi liarnya yang telah menistakan kepercayaan mereka. Sebelumnya umat muslim Inggris lebih terfragmentasi berdasarkan kebangsaan. Mereka umumnya kaum imigran dari berbagai negara dengan jumlah penduduk Islam yang cukup signifikan dari Asia. Dari sinilah, muncul kebangkitan komunitas muslim Inggris yang lebih percaya diri dalam menyuarakan aspirasi mereka di kancah nasional.

Di skala internasional, novel tersebut mulai memicu keresahan sosial di berbagai negara. Pada tanggal 12 Februari 1989, 5 demonstran terbunuh dan ratusan lainnya terluka saat ratusan ribu orang berunjuk rasa di depan Pusat Kebudayaan Amerika di Islamabad. Ini hanya awalnya saja.
Konflik makin menghebat dan meluas begitu Ayatollah Khomeini mendengar kabar dan mengeluarkan fatwa hukuman mati bagi Salman Rushdie dan semua pihak yang membantu terbitnya karya itu.

Kehidupan Rushdie berubah drastis dalam beberapa jam begitu kabar fatwa diterima. Pemerintah Inggris berupaya melindunginya, karena Rushdie dianggap tidak bersalah dalam kacamata hukum Inggris.

Dalam kenyataan, di satu sisi fatwa Khomeini membuat banyak muslim mengelu-elukannya sebagai pembela Nabi Muhammad dan Islam serta umat muslim dunia. Namun, di sisi lain fatwa Khomeini juga membuat sebagian muslim yang lain – yang lebih moderat dan toleran – tidak setuju meski pada dasarnya mereka juga mengecam isi novel The Satanic Verses. Essawy sendiri menyatakan dirinya tidak sepakat dengan fatwa itu.

Untuk menuntaskan misinya, Khomeini menawarkan hadiah 1 juta poundsterling bagi siapa saja yang mampu membunuh sang novelis. Imbalan sebanyak itu tentunya setimpal mengingat tingkat pengamanan dari pemerintah Inggris di sekitar Rushdie sepanjang waktu yang begitu tinggi. Penulis itu selalu dikelilingi oleh pasukan bersenjata dalam pakaian sipil rapi 24 jam sehari 7 hari seminggu 365 hari setahun.

(Bersambung)

Referensi:
1. Salman Rushdie and The Satanic Verses Affair (BBC Productions, 2009), produser dan sutradara Janice Sutherland
2. Wikipedia

Pola Makan Sehat dan Olahraga Ala Rasulullah SAW

“Perawakan Nabi Muhammad SAW tidak tinggi, tidak pendek. Rambutnya keriting, tak pula lurus. Wajah beliau tak bulat, bukan pula persegi. Kulit Nabi cerah, putih kemerah-merahan. Rambutnya disisir ketika sebahu, digerai ketika sepapak daun telinga. Dahi beliau lebar. Alis Nabi melengkung panjang, tebal dan nyaris bertaut di tengah. Di antara keduanya terdapat urat yang memerah kala beliau marah. Bola mata Nabi indah dan hitam, bulu matanya lentik menawan. Hidungnya mancung, bagian atasnya memancar cahaya. Dua pipinya datar. Janggut sang Nabi menggaris dari depan telinga, menebal menuju dagu. Mulutnya lebar, giginya besar dari selanya memancar cahaya. Dari bawah janggut Nabi menggalur ke bawah bebulu halus, lewat leher, melebat di dada, melajur bagai tongkat hingga ke pusarnya. Leher Nabi jenjang dan indah. Perut beliau sama rata dengan dadanya nan bidang. Jarak antara kedua bahu lebar. Persendiannya kokoh.  Dulu Nabi suka menyisir rambut ke belakang mirip Ahli Kitab. Saat nyata keingkaran mereka, beliau berselisih dengan menyisir belahnya. Nabi makan roti dari tepung utuh tak diayak (dulu dianggap rendah, kini sehat berserat), lauknya garam, minyak zaitun, cuka dan labu. Nabi yang penuh cinta memberi nama bebarang miliknya; dari perkakas RT, bejana, gelas, kuda, keledai, pedang, tombak. Nabi tak pernah mencela makanan. Jika menyukainya, beliau memakannya penuh syukur. Jika tidak suka, beliau cukup diam tanpa komentar….”

Begitu deskripsi singkat yang seorang unggah ke Facebook pagi kemarin, hari Maulid Nabi tepat di hari ketiga tahun 2015. Di bawahnya tertera nama seorang ustadz. Salim A Fillah, tulisnya.

Saya tak tahu sumber semua deskripsi ini tetapi kalimat-kalimat deskriptif ini memang kerap disebarkan sebagai cara membayangkan sosok fisik Muhammad SAW. Kita boleh membayangkannya, boleh menuangkannya dalam kalimat tetapi tidak boleh menjadikannya sebuah lukisan atau gambar atau patung. Bisa jadi karena pembuatan lukisan atau gambar atau patungnya akan membuat risiko kultus individu makin tinggi. Semua orang mungkin akan membuatnya sebagai jimat atau penolak sial atau memuja-muja benda-benda itu bak berhala. Karena inilah yang biasa terjadi di masyarakat luas yang memiliki tingkat fanatisme yang tak bisa kita bayangkan. Tidak boleh syirik, menyekutukan Allah, tetapi toh tetap juga terjadi bukan? Karena itulah wujud kecintaan pada Nabi, mungkin begitu dalih mereka.

Deskripsi itu membuat saya ingin meminjam mesin waktu Doraemon, untuk memastikan apakah demikian kenyataannya. Sebuah upaya verifikasi keabsahan sebuah pernyataan yang perlu sekali dilakukan para jurnalis sebelum memuatnya. Bagaimanapun juga sumber primer, observasi langsung, lebih meyakinkan daripada sumber sekunder, atau bahkan tersier, seperti kutipan dari kutipan dari pernyataan seseorang. Kita bisa bayangkan tingginya risiko kesalahan redaksional atau pengutipan yang bisa terjadi selama ratusan tahun hingga informasi deskripsi Nabi itu bisa sampai ke saya.

Mungkin inti dari deskripsi itu adalah betapa Nabi Muhammad adalah seorang yang secara fisik biasa-biasa saja, seperti kita semua. Saya teringat dengan perkataan seorang teman yang mengatakan bahwa justru orang-orang yang istimewa itulah yang kerap kali kita remehkan. Ia lalu menyebut agen-agen badan intelijen negeri ini yang sama sekali bukan orang yang memiliki badan dan rupa yang tipikal agen khusus intelijen seperti James Bond dan sebagainya. Mereka, kata teman saya, tampil sangat biasa sehingga sangat melebur dengan orang-orang dan lingkungan di sekitarnya. Seorang pria paruh baya kurus atau anak muda yang terlihat ‘alay’ bisa saja seseorang yang telah diangkat sebagai agen khusus intelijen. Ini berkebalikan dari orang-orang biasa yang ingin diakui sebagai istimewa. Mereka justru ingin diakui sebagai istimewa dan agar bisa diakui istimewa, mereka harus berpenampilan mencolok.Kita menjumpai banyak orang seperti ini di dunia bisnis. Sungguh perbedaan yang amat mencolok antara dunia intelijen dan bisnis.

Terlepas dari semua itu, saya lebih tertarik dengan pola makan dan olahraga yang menurut penjelasan dalam buku “Pola Makan Rasulullah” karya Prof. Dr. Abdul Basith Muhammad as-Sayyid, seorang “ahli biofisika dan biokimia sekaligus pakar pengobatan alternatif,” demikian dijelaskan oleh Penerbit Almahira, di Jaktim, yang mencetak buku ini pertama kali September 2006. Buku hasil terjemahan M. Abdul Ghoffar dan H. M. Iqbal Haetami , Lc. ini memberikan penjelasan gamblang mengenai kebiasaan makan Rasul dan olahraga yang membuatnya tetap berperut rata di segala usia hingga akhir hayatnya di usia 63 tahun.

Nabi Muhammad SAW menggunakan Al Qur’an surat Al A’raf ayat 31 sebagai panduan, yang terjemahannya ialah:”Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaian kalian yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” Kalimat kuncinya ialah:”Jangan berlebih-lebihan.” Nasihat ini sesuai dengan saran seorang dokter yang saya kenal di tempat kerja. Ia pernah berkata, “Semua orang boleh saja makan semua makanan yang ia inginkan.” Saya tidak percaya dengan apa yang ia katakan. Ia kemudian menambahkan,”Asal sedikit-sedikit saja makannya…” Nah, itulah yang sulit dilakukan banyak sekali orang. Kita boleh saja makan apa saja asal cuma sesuap? Sayangnya, terlalu sering sesuap itu bisa menjadi dua suap, dua puluh suap, hingga dua ratus suap saat suasana hati sedang buruk atau ingin menggunakan makanan sebagai pelampiasan.

Meski melarang makan dan minum berlebihan, Islam juga tidak menganjurkan puasa berlebihan. “Syariat melarang seseorang berpuasa wishal (puasa yang tidak pernah buka selama berhari-hari). Sebab hal itu bisa melemahkan tubuh, mematikan jiwa, dan melemahkan keinginan beribadah,” tulis Abdul Basith Muhammad as-Sayyid di halaman 242.

Dijelaskan bahwa Ali bin Husain pernah bercakap-cakap dengan seorang dokter Nasrani. Saat sang dokter mengklaim Al Qur’an tidak mengandung ilmu kedokteran, Ali bin Husain mengatakan:”Allah SWT telah menghimpun ilmu kedokteran hanya dalam setengah ayat dari kitab kami.” Ayat yang dimaksud ialah:”Allah berfirman, ‘Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.’” Sang dokter terus bertanya apakah Rosul juga memahami ilmu kedokteran. Ali menjawab:”Lambung adalah gudang penyakit, dan diet adalah sumber obat. Berikanlah untuk setiap anggota tubuh sesuai dengan kebiasaannya.”

Islam juga menganut pengendalian asupan makanan dan minuman. Penulis Abdul Basith Muhammad as-Sayyid mengatakan mengobati orang sakit dapat dilakukan dengan dua hal, obat dan diet (pantang makanan tertentu). Jika keduanya disatukan, orang akan jauh lebih sehat daripada hanya sekadar minum obat atau melakukan diet ketat.

Abdul Basith juga menyebut bagaimana tradisi penyembuhan melalui diet atau pembatasan konsumsi makanan dan minuman itu sudah dilakukan oleh orang India zaman dulu. “Oleh karena itu, sebagian besar pengobatan yang dilakukan oleh orang-orang India adalah “berpantang”. Dimana (sic) orang sakit dilarang minum, makan dan berbicara selama beberapa hari, sehingga dia sembuh dan sehat,” terang Abdul Basith di halaman 244.

Bahkan jika memiliki makanan berlebih, kita disarankan untuk memberikannya pada hewan-hewan di sekitar kita yang masih kelaparan. Ini lebih baik daripada memakan semuanya sendiri hingga terlalu kenyang. Dijelaskan Abdul Basith bahwa Luqman (yang dikisahkan dalam Al Qur’an surat Al Luqman) pernah berpesan untuk tidak makan terlalu kenyang. Abdul Basith menulis,“ Jika engkau memberikan makanan itu untuk anjing, maka yang demikianlah itu lebih baik daripada engkau terus memakannya.”

Rasulullah memerintahkan agar kita berolahraga agar memperbaiki tubuh dan hati, kata Abdul Basith. Ia menegaskan hal itu dengan mengutip sebuah hadis Nabi:

“Berperanglah kalian, niscaya kalian akan memperoleh ghanimah (harta rampasan), dan lakukanlah perjalanan, niscaya kalian akan menjadi sehat.” (Riwayat Ath-Thabarani di kitab al-Ausath, sanad dhaif/ lemah).

Dalam hal ini, yang dimaksud “melakukan perjalanan” ialah menunggang kuda, karena kuda ialah moda transportasi utama di Arab saat itu. Olahraga juga lebih baik dilakukan saat lambung kosong yaitu lima jam setelah makan, bisa kurang bisa juga lebih ( as-Sayyid: Pola Makan Rasulullah, halaman 98).

Untuk aturan tidur, Rasul menurut penuturan Abdul Basith menyarankan umatnya tidur setelah proses pencernaan selesai. Artinya, antara waktu tidur dan waktu makan besar (menu berat, bukan sekadar makanan ringan atau buah) idealnya 3-4 jam. Setelah 3-4 jam lambung telah kosong dan kita dapat mulai berbaring untuk tidur malam.

Berbaring dalam tidur juga disarankan oleh Rosul untuk bertumpu di sisi kanan tubuh. Mengapa? Karena sepengetahuan saya pernah dikatakan bahwa jantung kita ada di sebelah kiri, sehingga berbaring dengan sisi kanan bersentuhan dengan tempat tidur akan lebih baik. Pun demikian saat kita akan bangun tidur, gunakan sisi kanan tubuh sebagai tumpuan. Diriwayatkan dari Aisyah RA bahwa Nabi biasa mengawali tidur dengan berbaring ke sebelah kanan dengan menghadap kiblat (as-Sayyid: Pola Makan Rasulullah, halaman 99).

Terkait tidur siang, Rasul tidak melarang karena jika kita tidur siang, akan ada kekuatan untuk bangun di malam hari, mungkin untuk sholat malam. Syaratnya tidur siang ini tidak dilakukan setelah ashar atau di pagi hari karena menurut Aisyah RA barangsiapa tidur setelah Ashar lalu hilang akalnya, maka janganlah sekali-kali mencela, kecuali dirinya sendiri (as-Sayyid: Pola Makan Rasulullah, halaman 101).

Sekat-sekat Muslihat

Dalam berita yang saya pernah dengar menjelang malam Natal, yang biasanya saya dengar adalah aparat kepolisian disibukkan dengan penjagaan di Gereja Katedral Jakarta. Saya tidak banyak bertanya mengapa katedral yang kerap kali disebut. Jika saya cermati memang lebih jarang saya mendengar ada pemberitaan penjagaan aparat di gereja-gereja Kristen Protestan di media massa.

Saya tak ambil pusing dengan itu karena saya tidak terpikir ada perbedaan di antara gereja Kristen Katholik dan Protestan.

Hingga suatu hari saya bertemu dengan seorang teman yang berkeyakinan Katholik. Pagi itu kami bersantap bersama di sebuah kedai makanan di alam terbuka. Kami menyinggung tentang Ahok yang berhalangan datang ke taman meskipun sudah diundang jauh-jauh hari.

“Saya juga sudah ragu kalau Ahok benar-benar akan datang ke sini,” terang teman saya itu. Pasalnya, Ahok memeluk Kristen Protestan. Dan katanya lagi, pemeluk Kristen Protestan memiliki keterikatan dengan gereja tempat ia menjadi jemaat. Seperti ada keanggotaan tetap dan mereka diwajibkan untuk datang dan menyumbang ke gereja itu sepanjang waktu.

“Lain dengan orang Katholik seperti saya,” imbuhnya. Gereja-gereja Katholik kata dia lebih terbuka dalam hal menyambut orang yang ingin beribadah. Tidak ada keanggotaan yang mengikat dan mereka diperkenankan untuk beribadah di gereja Katholik manapun di dunia ini, tidak cuma di satu gereja yang sudah menjadi tempat mereka memberikan komitmen penuh untuk beribadah.

Itulah mengapa kita tidak perlu heran saat ada tetangga yang memeluk Kristen Protestan yang tidak memilih untuk beribadah di gereja protestan di dekatnya dan lebih memilih beribadah di gereja yang lebih jauh. Ternyata itu karena ia sudah menjadi semacam anggota di gereja yang bersangkutan.

Karena itulah gereja Katholik lebih rawan terhadap penyusupan dan pemboman teroris yang mencoba mengacaukan kondisi yang kurang kondusif di antara umat beragama saat ini. Apalagi kita telah tahu munculnya bibit-bibit radikalisme di masyarakat Indonesia.

Dalam umat Islam sendiri – yang di dalamnya saya menjadi bagian – bisa dijumpai pula fenomena semacam ini. Ayah saya yang bergabung dalam Muhammadiyah hanya beribadah di satu masjid yang sudah ia bangun bersama kawan-kawannya. Lalu meninggalkan masjid Muhammadiyah di kampung lainnya yang sebelumnya biasa ia kunjungi yang juga sama dekatnya untuk beribadah hanya untuk beribadah di masjid baru tadi. Dan sangat tipis kemungkinan ayah saya mau sholat di masjid dekat rumah yang dibangun orang Nahdlatul Ulama (NU), kecuali semua masjid Muhammadiyah di desa, kecamatan atau kabupaten kami runtuh, rata dengan tanah.

Memang ayah saya tidak sampai seekstrim menghindari sholat di masjid lain saat berada di luar kota tetapi tetap saja ini membuat saya jengah. Mengapa harus fanatik seperti itu? Mengapa tidak sesekali ke masjid-masjid lain di sekitar kita, menjumpai orang baru yang sama sekali bukan warga kampung, orang yang bukan anggota organisasi yang sudah kita masuki, yang bukan bagian dari keluarga besar kita?

Sapi Tak Boleh, Kerbau pun Jadi (Wisata Kuliner Kudus)

Jika Anda berkunjung ke Kudus, jangan lewatkan warung soto satu ini.
Jika Anda berkunjung ke Kudus, jangan lewatkan warung soto satu ini.

Di Kudus, jarang dijumpai makanan dan olahan daging dari sapi. Semuanya berasal dari daging ayam, daging kerbau atau daging bebek (kami menyebutnya mentok), atau sebagian lainnya yang Anda tidak pernah terpikir, seperti seluruh tubuh burung puyuh mungil yang malang.

Mengapa orang Kudus tidak dibiasakan mengkonsumsi daging sapi?

Konon, dahulu kala sebelum Islam masuk ke daerah ini, lebih banyak pemeluk agama Hindu yang tinggal di Kudus. Itulah mengapa Anda bisa menemukan sebuah masjid dengan menara yang mirip candi di sebelah warung soto yang fotonya saya unggah di sini. Masjid dengan menara itu kami sebut “Masjid Menara Kudus“, tetapi penduduk lokal cukup menyebutnya “Menoro”.  Dan seperti kita ketahui, ajaran agama Hindu meyakini sapi itu binatang suci. Sapi merupakan simbol kekayaan, kekuatan, kelimpahan, semangat memberi yang tulus, dan kehidupan yang makmur dan lengkap dalam bumi (sumber:Wikipedia). Karena itulah, para pemeluk Hindu terutama di Nepal dan sejumlah negara bagian di India mengharamkan mengkonsumsi daging sapi dan olahannya. Sapi disucikan bisa jadi karena mereka adalah hewan ternak yang hasilnya bisa menghidupi manusia. Dari susu dan tenaganya bisa dimanfaatkan untuk memberi makan dan membantu manusia mengolah dan kotoran mereka menyuburkan tanah pertanian. Bahkan menurut Mahatma Gandhi, keyakinan bahwa sapi adalah binatang suci dan tidak boleh dikorbankan ialah ajaran inti Hindu (sumber: Wikipedia). Namun, seiring dengan makin berkurangnya penganut Hindu di Kudus, tradisi dan keyakinan yang menganggap suci sapi memang makin lama makin pudar tetapi toh tidak sepenuhnya hilang.

Sebenarnya cukup banyak warung soto kerbau yang ada di Kudus. Ada soto kerbau (dan ayam) di “Soto Pak Denuh” yang berada di jalan Jepara dan Agil Kusumadya (jalan provinsi ke arah Semarang), warung soto “Karso Karsi” yang ada juga di jalan Agil Kusumadya, tetapi warung soto satu ini unik karena bangunannya yang amat sangat lusuh. Dari dulu sampai sekarang, tidak ada perbaikan mencolok di sana. Sejak saya kecil sampai terakhir berkunjung di sana Lebaran tahun ini, tata ruang warungnya masih sama, dindingnya masih persis. Kuno dan entahlah, vintage mungkin? Namun, saya pikir tidak semua tempat harus terus menerus diperbarui agar tampak segar. Beberapa tempat lebih cocok jika dibiarkan begitu saja apa adanya karena kelak di sinilah kita akan berkunjung sesekali untuk bisa mengenang memori-memori di masa lalu. Dan bagi saya, mengunjungi warung ini bukan hanya memesan dan makan soto kerbau saja tetapi juga menikmati rasa dan ingatan lama.

305
Soto kerbau dan jeruk hangat yang akan mengurangi efek negatif lemak. Kombinasi yang unik kan? Bayangkan perut Anda panci yang baru dipakai membuat sup daging. Untuk mencucinya hingga bersih lagi, Anda akan gunakan jeruk nipis itu mengangkat lemaknya.

Saya sering diolok-olok bahwa orang Kudus, terutama Kudus Kulon (Kudus bagian barat sungai Gelis yang membelah kota), adalah orang-orang yang kikir. Warung ini kebetulan juga berada di sisi barat sungai itu. Anda bisa lihat ukuran mangkuk soto Kudus memang unik karena ukurannya yang mungil. Satu porsi soto kerbau ini harganya termasuk mahal untuk ukuran orang lokal. Dengan bakso sekitar Rp5-6 ribu per porsi dengan ukuran yang mengenyangkan, porsi soto kerbau ini hanya terasa separuh kenyang. Tanggung, begitu kata orang yang suka makan banyak. Soto kerbau di warung ini harganya Rp8.000. Bukan harga yang mengeruk kantung bagi turis ibukota tentunya yang sudah biasa makan di mall dengan harga per sajian yang rata-rata Rp50.000.

Bersama dengan hidangan itu, Anda bisa mencoba krupuk paru. Dan satu rekomendasi lainnya adalah mencicipi krupuk rambaknya yang khas. Krupuk ini terbuat dari kulit. Kulit hewan ternak apa, saya tidak tahu persisnya. Tetapi intinya keduanya sangat amat gurih. Cocok untuk mereka penggemar makanan ringan yang membangkitkan selera makan.

Penjualnya ada dua wanita paruh baya. Mereka bersaudara, jadi tidak heran muka dan perawakan badan pun sangat mirip.

304
Pembeli harus bersabar karena pelayannya hanya 2 orang!

Terbatasnya sumber daya membuat warung ini kurang cepat melayani konsumen. Saat saya meminta tambah 1 mangkok lagi, misalnya, ibu itu tampak sibuk dengan ponsel. Ia mengurus pesanan makanan dari pelanggan setia yang tidak datang tetapi sudah mengubunginya untuk dikirimi makanan. Apalagi saat itu baru Lebaran, saat orang-orang bisa lupa daratan dengan makanan. Karena itu, pesanan saya terlupakan dan saya harus mengulang lagi permintaan saya padanya. Perempuan itu pontang-panting bersama saudaranya melayani pembeli warungnya, lalu menyiapkan makanan untuk dibungkus lalu dikirim ke sana.

303
Mukanya sangat familiar. Ia mungkin pemilik sekaligus pelayan utama di sini.

Kalau dalam pembahasan entrepreneurship, saya jadi teringat dengan kata-kata Sandiaga Uno tentang scaling-up. Saya pikir perempuan-perempuan ini adalah pebisnis yang ulet dan tangguh. Buktinya mereka sudah bertahan selama puluhan tahun. Dan mustahil mereka tidak menikmati untung besar dari sini karena jika bisnis soto kerbau dan sate kerbau ini cuma untung sedikit, kenapa mereka harus repot-repot bertahan sampai selama itu? Mereka bisa saja mencoba bidang bisnis lain. Bisa jadi karena mereka sudah memiliki kekhasan dan jati diri brand bisnis di sini. Orang Kudus yang mana yang tidak tahu lokasi Menara Kudus yang dianggap sebagai ikon kota kretek Kudus? Dan warung ini terletak tepat di sebelahnya. Sangat strategis dan tidak bisa terlupakan oleh mereka yang berkunjung dari luar kota, misalnya. Masalahnya mereka sudah berpuas diri. Tidak ada keinginan atau ambisi untuk membesarkan bisnis itu menjadi, katakanlah, sebuah waralaba yang tersebar ke seluruh Indonesia , bahkan dunia.

302
Dindingnya sejak dulu begitu. Tidak makin putih. Tetap kelabu. Mungkin karena asap masakan.

Tetapi kadang mindset tradisional dan konservatif seperti ini menjadikan UMKM seperti ini menjadi begitu otentik, begitu lokal, khas, tiada duanya. Pengalaman yang bisa dinikmati di sini tidak akan bisa ditemukan di tempat lain di dunia, tak peduli seberapa mewah dan bersihnya. Malah kalau tempat ini direnovasi, memori  – hal yang paling disayang manusia – bisa terhapus. Untuk alasan tertentu, saya bersyukur kapitalisme tidak sampai menyentuh warung ini. Bila dinding warung soto kerbau itu menjadi bersih, rasanya pasti akan lain. Jika soto mereka itu kemudian diwaralabakan, cita rasanya mungkin akan berubah. Membakukan bahan baku dan cara memasak mungkin sukar tetapi yang lebih sukar lagi adalah bagaimana mempertahankan sensasi yang membuat orang bisa melayang dalam benak mereka cuma untuk bernostalgia ke masa lalu mereka saat masih kecil, masih muda. Warung ini bukanlah mesin waktu Doraemon yang bisa membuat pengunjungnya kembali ke masa lalu seenaknya tetapi setidaknya ada kepuasan tersendiri saat memasukinya. Semacam melankoli atau apalah. Sulit mendefinisikannya dengan kata dan logika. Karena ini berkaitan dengan RASA.

Pandangan Islam tentang Kartu Kredit

Kartu kredit

Zaman sekarang, kartu kredit lumrah digunakan. Meski di Indonesia masih ‎rendah jumlah pemiliknya, tidak bisa dipungkiri trennya terus meningkat seiring dengan makin agresifnya bank-bank konvensional dalam menawarkan produk satu ini. Kartu kredit memang menggoda. Ia memudahkan kita dalam bertransaksi, bahkan hingga jumlah yang melebihi persediaan uang tunai yang kita miliki saat ini.

Namun, di balik kemudahan itu juga ada bahaya yang mengintai para pemilik kartu kredit. Terutama bagi mereka yang nafsu konsumsinya sangat tinggi, kartu kredit bisa menjadi bumerang yang akan menghantam kondisi keuangan cepat atau lambat. ‎Ibu-ibu rumah tangga yang kerap lupa daratan tergiur diskon di mall, anak-anak muda yang belum mengetahui susahnya menghasilkan uang sendiri, para karyawan yang tak banyak bertransaksi demi kegiatan yang produktif adalah sebagian orang yang tidak dianjurkan memiliki kartu kredit. Seseorang misalnya bisa terperosok pada kemudahan kartu kredit dan menghabiskan gaji bulanannya cuma untuk melunasi tagihan-tagihan kartu kredit. Tak heran, ada orang yang menjuluki kartu ini sebagai “kartu setan”, “kartu laknat”, dan sebagainya.

Akan tetapi, lain kasus bila Anda adalah seorang pebisnis, entrepreneur yang cukup aktif bepergian dan bertransaksi bisnis. Untuk menunjang dan memperlancar aktivitas-aktivitas ‎yang ingin dilakukan, pebisnis memerlukan kartu kredit. Katakanlah ia memerlukan tiket pesawat terbang atau memesan kamar hotel di luar kota. Semua akan lebih hemat waktu dan tenaga bila tersedia kartu kredit yang masih valid di dompet. Cukup menggunakan layanan online, semua terselesaikan dengan mudah dalam beberapa menit.

‎Dalam tinjauan agama Islam, seperti diketahui bersama masalah yang dihadapi dalam penggunaan kartu kredit ialah BUNGA yang mesti dibayarkan dalam cicilan angsuran, dsb. Memang bunga harus dihindari. Masalahnya apakah jika kita menggunakan kartu kredit, kita bisa menghindari terbebani iuran tahunan dan bunga? Bisa saja, asal kita tahu triknya.

Pertama, negosiasikanlah dengan bank penerbit kartu kredit itu supaya Anda tak diwajibkan membayar biaya atau iuran tahunan yang cukup besar. Caranya mungkin bermacam-macam. Anda bisa menjanjikan akan lebih giat bertransaksi dengan kartu kredit mereka, atau Anda bersedia dikurangi poinnya, dst. Ada banyak alternatif agar Anda bisa terbebas. Bagaimana jika bank menolak? Katakan saja Anda akan menutup kartu kredit. Mendengar Anda akan menutup tentu bank akan mempertimbangkan lebih serius permohonan Anda.

‎Lalu bagaimana agar Anda tidak terkena bunga dalam transaksi? Gunakan kartu kredit sebagai alat transaksi bukan penunda transaksi. Artinya, di akhir periode bulanan, begitu tagihan terkirimkan, bayarlah semuanya dengan lunas. Jangan tergiur untuk hanya membayar jumlah pembayaran minimal yang biasanya cuma 10 persen dari tagihan total. Tagihan total memang terasa meringankan secara sekilas tetapi begitu dikalkulasi secara keseluruhan, kerugian berada di sisi Anda karena Anda terbebani bunganya. Jika Anda bisa membayar tagihan sampai lunas, janganlah ditunda! Bunga kartu kredit sangat tinggi.

Hal lain yang harus dihindari ialah menarik tunai dengan kartu kredit. Alasannya adalah Anda akan dikenai bunga yang relatif tinggi. Karenanya, sebisa mungkin tahan diri agar tidak menarik tunai dengan kartu kredit Anda‎. Bunganya bisa mencapai 3 persen per bulan. Tentu ini sangat tinggi, bahkan jika dibandingkan bunga pinjaman atau bunga tabungan bank yang dihitung per tahun.

Idul Fitri and The Frustration of an Introvert

Our fictitious superhuman Superman has kryptonite, and introverts have their own kryptonite as well: huge crowd, unfriendly jokes, inquisitive and annoying half-strangers having distant blood ties and plenty supply of awkward conversations coming afterwards. And all these things are summed up into one cultural moment: Idul Fitri. I’m not anti Idul Fitri, I am a moslem myself so I of course embrace the spiritual nuance of it but when it comes to social and cultural aspects, Idul Fitri brings more frustration than anything else to an introvert.

As I read Susan Cain’s book “Quiet”, I came to deeper understanding of my own self and psyche. The book really speaks to me. I cannot disagree on so many things elaborated in it. Cain recounts lengthy stories coupled with some scientific explanation on why introverts feel and act and think and work in different ways. ‎I cannot tell you how joyful I am to suddenly have a book which can easily explain and defend my being recluse in a huge congregation, why I find it uneasy to share private stuff in public where too many people can learn and hear without intending to eavesdrop, why I shun public speaking or any appearance that may result in unnecessary public attanetion. Back then I thought my being introverted is “curable”. Yes, I used to perceive it as a disorder because I don’t see many people around me having such personality, or even they are around, they don’t come to sight that much or noticably. Yet, now as I see more people, I encounter more people with this inclination.

Which is why I am so relieved to know I am not alone…

An ideal Idul Fitri, to an introvert, would be depicted as lovely as having no unwanted and unsensitive guests around your house, having no distant relatives that get too curious about your private life details, and the rather lenient convention of spending time in unnecessarily loud and meaningless celebrations. ‎

Allah di Indonesia, Saya di Tiongkok!

Selamat pagi!

Saya mau berbagi cerita tentang ‘ulah’ oknum turis Indonesia yang pernah saya temui. Turis Indonesia itu membingungkan ya. Saya pernah membawa rombongan turis Indonesia yang sebagian beragama Islam. Mereka ikut mengantre membeli siao lung pau, makanan khas Shanghai serupa roti dengan isi daging babi. Mereka ikut antre dan makan tanpa bertanya lebih dulu pada saya. Setelah mereka makan, mereka baru memberitahu saya. Tiba-tiba saya disalahkan,”Kenapa kamu tidak beritahu kami sejak awal, Candy?!! Kalau kamu beritahu, pasti kami tidak akan makan.”

Belajar dari pengalaman tadi, dalam tur berikutnya yang diikuti rombongan beragama Islam, saya pun menjelaskan dengan lantang:”Jangan beli apalagi makan siao lung pao karena ada daging B2 ya!” Pengumuman itu saya sampaikan di bus sebelum mereka turun. Sebagai gantinya, mereka bisa berbelanja benda lainnya.

Akan tetapi dari kejauhan terlihat oleh saya seorang bapak dari rombongan yang ikut mengantre di depan toko penjual siao lung pao.

“Bapak, kenapa Anda ikut antre? Anda tadi kan saya sudah beritahu di bus, itu mengandung babi! Anda tidak bisa makan!”Saya menjelaskan dengan emosi, karena saya merasa sudah memberitahu tetapi tetap tidak diperhatikan.

Bapak itu menjawab dengan nada tenang,”Saya tahu isinya daging babi. Sebelum berangkat ke sini, saya diberitahu teman untuk mencoba makanan khas Shanghai ini. Jadi saya tidak mau melewatkannya, katanya enak sekali. Saya juga mau coba.”

Saya pun bingung. Bapak ini beragama Islam tetapi kok masih makan babi?

Untuk menjawab keraguan saya, bapak itu berkata lagi,”Candy, Tuhan ada di Indonesia. Saya sekarang di Tiongkok.”

Sehabis memesan, ia mencari tempat yang aman untuk melahap siao lung pau tadi agar tidak kepergok teman-teman serombongan. Ia malu melanggar aturan agamanya rupanya.

Saya tanya rasanya. Katanya enak sekali. Kemudian saya berkata dalam hati,”Dasar Islam aspal!”

Salam hangat,

Candy

Nyaris Jadi Agen Negara Islam Kurnia (Kisah Nyataku-3)

(Kisah sebelumnya bagian pertama di sini dan bagian kedua di sini )

Setelah mushaf Al Qur’an itu terbuka, si B seolah mengeluarkan seluruh hafalan ayat-ayat pilihannya untuk mendukung gagasannya. Ia berkata dengan nada meyakinkan,” Indonesia adalah negara yang di akhir jaman nanti akan menjadi tempat terjadinya kebangkitan Islam yang sudah terpuruk selama beberapa abad.” Tanpa saya meminta, ia menjelaskan bahwa kesimpulan itu ia dapat dari terjemahan di salah satu ayat Al Qur’an yang saya baca setelah ia tunjuk.

Saya berusaha mencerna setiap kata dan gagasan yang ia lontarkan bertubi-tubi. Mungkin itulah tujuannya berbicara seperti salesman yang bersenjatakan katalog produk yang menunjukkan sejumlah keunggulannya.

Masalahnya, ia menggunakan kitab suci sebagai dasarnya. Saat pikiran saya masih berontak, ia menghujani saya dengan serentetan ‘bukti’ lain.

Dan saat si A yang juga masih bersama kami dan turut menyimak mengangguk-anggukkan kepala di samping saya menghadap si B dan berkomentar atas penjelasan si B, seketika saya terkesiap. Saya ibarat sebuah domba yang berada di muka 2 serigala berbulu domba yang saling berkonspirasi menjebak si domba dengan segala daya upaya.

Entah bagaimana, tiba-tiba saya berpikir si A berakting sebagai murid yang tidak tahu apa-apa di hadapan saya karena ia ingin saya meyakini dengan sepenuh hati semua yang disampaikan oleh si B. tapi akal sehat saya menolak.

Menolak Al Qur’an? Tentu tidak. Saya seorang muslim. Saya tentu meyakini kebenaran Al Qur’an. Jika tidak, saya sudah tidak berhak mengaku sebagai seorang muslim. Yang menjadi permasalahan di sini adalah bagaimana ia menggunakan ayat-ayat dan terjemahan literal Al Qur’an sebagai pondasi argumennya. Si B, yang saya yakin sudah demikian terlatih oleh apapun nama organisasi tempat ia bernaung, menggunakan ayat-ayat yang sudah secara cermat dipilih dan dihafal sebagai alat berkampanye tentang gagasan politiknya untuk membangun sebuah negara independen di luar kekuasaan presiden RI. Sekali lagi, ia memiliki penafsiran atas isi Al Qur’an yang memang jauh berbeda dari muslim kebanyakan.

Ia terus meyakinkan saya dengan interpretasi ‘ngawurnya’ itu. Dan saya semakin sadar, saya harus bisa keluar dari pembicaraan tak berujung yang bisa-bisa membuat saya makin terjerumus dalam sesuatu yang saya sendiri masih pertanyakan.

Si B tampaknya tahu bahwa saya sudah bosan. Ia belikan saya makanan. Gorengan yang ia belikan tidak membuat saya diam menyimak. Saya berulang kali melirik ke ponsel Motorola V3 saya yang sudah mulai habis baterainya. Saya panik juga. Muncul pikiran negatif: bagaimana jika saya tidak bisa menolak dan dibawa ke tempat mereka?

Kami pun bertukar nomor ponsel. Saya berikan ponsel saya dan si B memberikan nomornya pula. Inilah satu-satunya penghubung yang mereka pikir akan berguna untuk menjangkau saya tak peduli jarak yang memisahkan kami secara fisik. Namun saya berpikir lain, saya tak segan memberikan nomor saya agar mereka segera mengakhiri pembicaraan melelahkan dan saya tahu bahwa menggunakan alasan apapun untuk meninggalkan mereka akan sangat sulit.

Ponsel saya bergetar. Alhamdulillah! Begitu senangnya hingga saya mau sujud syukur di situ juga. Tapi itu akan mencurigakan tentunya. Pas, panggilan telpon ini bisa saya gunakan untuk mencuri waktu agar bisa mengatur siasat meninggalkan mereka.

Panggilan itu dari ayah. Sore itu saya rasanya menjadi orang paling beruntung memiliki ayah. He saved me by the phone call!

Saya berkata pada si A dan B, “Bentar ya, ada telepon nih.” Saya tak mau sebut siapa yang menelepon pada 2 orang ini.

Ayah menanyakan keadaan saya karena ia tahu saya sedang melamar kerja sendirian di tempat yang baru pertama kali saya kunjungi. “Bagaimana sudah selesai?” tanya ayah saya dalam bahasa Jawa, bahasa ibu saya. “Iya sudah pak, tapi mungkin harus menginap satu malam lagi untuk menunggu hasilnya,” jawab saya. Saya tidak mungkin menjawab:”Sudah selesai pak tapi di sini ada orang-orang dengan pemikiran khas aliran sesat yang mau merekrutku menjadi bagian dari jamaah mereka dengan mengajakku ke markas mereka di Lebak Bulus. Gimana nih pak? Please help!

Yang saya tak habis pikir adalah bagaimana tidak seorang pun yang merasa aneh dengan saya dan 2 orang ini yang di masjid dari zuhur sampai asar tiba, bahkan hingga pukul 4.30.

Well, setidaknya jika mereka niat melakukan brainwash pada saya, mereka memberikan saya makanan dan minuman yang proper. Yang layak. Masak hanya gorengan begini?

Setelah menerima telepon, si B kembali beraksi dengan agitasinya. Ia menceritakan bagaimana kini sedang dirintis sebuah negara Islam yang mandiri, terpisah dari Indonesia yang pemerintah dan rakyatnya sudah cenderung kafir dan durhaka terhadap Allah ini. Si B mengatakan pula bahwa tunduk pada pemerintah yang tidak Islami seperti sekarang dan perangkat-perangkat hukumnya yang jauh dari idealisme Islam dalam kitab suci dan hadis Rosul akan menyebabkan kita menjadi terlaknat pula.

Si B sekali lagi meyakinkan saya bahwa semua muslim dan muslimat di seluruh dunia perlu bersatu padu di bawah satu pemerintahan Islam yang ia sebut sebagai khalifah. Dan ia dengan nada mengajak mengatakan,”Kalau kamu mau bergabung, kami sambut dengan senang hati. Caranya mudah, jalani saja bai’at. Akan kami kenalkan kamu pada pimpinan kami. Kamu bisa tinggal dengan kami dulu di Lebak Bulus. Tidak usah khawatir, tempatnya lapang, bisa untuk menginap.”

Sang ‘juru dakwah’ kemudian bertanya dengan muka serius pada saya,”Siap bergabung?” Saya jawab dengan diplomatis saja,”Saya pikir-pikir dulu. Boleh kan?” Kabur tetapi cukup memberikan isyarat bahwa saya tidak tertarik. Tapi saya tahu orang-orang seperti ini tidak semudah itu menyerah, mereka tahu ‘calon anggota’ bisa berubah pikiran. Ibarat seorang swing voter dalam pemilihan umum, peluang saya untuk memilih dan tidak memilih sama imbangnya: 50%-50%.

Dan saya lapar. Mungkin satu pelajaran yang bisa dipetik oleh Anda yang mau menjadi juru dakwah andal (dalam pengertian apapun) adalah sediakan logistik (pangan) sebagai bahan bakar bagi otak untuk ber-logika (teringat kata teman penerjemah saya yang suka yoga, Dina Begum). Akan tetapi, bisa saja strategi mereka adalah dengan membuat si calon korban selapar mungkin hingga tidak dapat berpikir cermat dan kritis sehingga akan lebih mudah membujuknya masuk dalam organisasi mereka. Only Heaven knows. And why did I bother to find out?

To be continued…

Nyaris Jadi Agen Negara Islam Kurnia (Kisah Nyataku -2)

Di sebuah seminar entrepreneurship di UI Depok beberapa hari lalu. Mahasiswa/i adalah spons paling hebat di dunia. Mereka menyerap apapun di sekitar mereka dan itulah yang menarik para brainwasher aliran-aliran sesat datang ke kampus-kampus.

(Sambungan dari Nyaris Jadi Agen Negara Islam Kurnia bagian 1)

Pikiran saya saat itu masih melayang-layang, memikirkan apakah mereka akan terkesan dengan resume saya atau hanya melemparkan dokumen saya di tong sampah begitu saja. Rasanya tak sanggup lagi kalau harus gagal. Sambil menanti azan dzuhur yang segera bergaung, saya mencoba bersantai setelah beberapa hari sekujur tubuh dan pikiran penat di atas kereta dan merenung tentang masa depan.

Saya bukan orang yang mudah akrab dengan orang. Dan saya diajarkan untuk tidak menerima keramahan yang tanpa alasan jelas oleh orang asing. There’s no free lunch, literally. And I take the advice without question. Ayah saya selalu mengingatkan jangan minum atau makan apapun yang diberikan orang selama perjalanan. Meski pada akhirnya saya juga sadar, tidak semua orang bermaksud buruk, toh kewaspadaan itu perlu. Apalagi di tengah Jakarta. Dan saya saat itu sedang di Depok, di luar wilayah ibukota, jadi nasihat ayah bisa sedikit  saya abaikan. Demi Tuhan, ini kan lingkungan terpelajar! Universitas Indonesia! Sulit sekali membayangkan ada tindak kriminal terjadi di sini atau penjahat mengintai di balik tembok kampus yang penuh muda-mudi berwajah, yang menurut istilah sekarang, unyu.

Si pemuda berbadan gelap (sebut saja si A) ini menyapa saya yang terlihat termangu di hadapannya. “Assalamualaikum, lagi apa di sini?” Saya pun menjelaskan alasan saya di sini dengan nada setengah hati. Sungguh, berbincang-bincang dengan orang asing adalah hal terakhir yang terpikir ingin saya lakukan di hari itu. Saya cuma ingin sendiri, makan dan tidur di sebuah ruangan gelap tanpa goncangan dan bau pesing  a la gerbong kereta bisnis karena lelah luar biasa. Obrolan dengan orang asing juga menjadi semacam rentetan interogasi karena banyak yang harus saya jelaskan dan pada saat yang sama saya tidak atau kurang ingin bertanya pada mereka. Saya tidak ingin terlalu mengurusi kehidupan orang lain, itu pikiran saya.

Dia menyebutkan nama sepintas lalu. Saya tak berusaha mengingat. Toh saya tidak akan bertemu dengan mereka lagi, batin saya. Tetapi saya mencoba bersikap ramah, apalagi dengan saudara seiman.

Pertama si  A menanyakan asal saya, saya jawab apa adanya. “Di mana kuliah?” si A bertanya lagi. Saya tak ingat pertanyaan apa lagi yang ia ajukan tetapi ia memberondong saya sedemikian rupa sehingga saya tidak terpikir untuk bertanya balik.

Sejurus kemudian, mereka mengaku sedang menunggu temannya. Katanya si teman yang ditunggu ini (sebut saja si B) bekerja di sebuah rumah produksi, yang seolah menyiratkan bahwa ia dekat dengan kalangan selebritas. Si A juga berceloteh bahwa si B ini tinggal di sebuah studio yang bisa saya tinggali sementara karena saya mungkin harus tinggal di sebuah penginapan atau kos malam itu untuk menunggu hasil tes wawancara kerja yang baru usai.

Benar saja. Si A pun mengutak-atik ponselnya. Ponsel murahan Esia dengan layar super sempit itu ia angkat dan tempelkan ke telinga sejenak, berkata-kata sebentar pada orang yang ada di ujung sambungan seluler lain. Tampaknya si B hanya beberapa langkah saja dari tempat kami berada.

Si B pun tiba. Penampilannya sungguh perlente. Kemeja lengan pendek rapi. Kumis dan jenggot bersih mulus. Celana berikat pinggang rapi dengan panjang yang wajar menurut standar fashion terkini, tak terlalu pendek lah.

Sekali saya mendengarnya berkata, tak diragukan lagi ia jenis orang yang pandai bersilat lidah. Bahkan si B ini bisa jadi senior si A dan si C (yang sama sekali pasif sepanjang bersama saya, bisa jadi ia baru seorang ‘anak magang’).

Kami pun berbincang. “Damnation, mau rehat malah terjebak dalam pembicaraan yang tidak jelas juntrungannya begini,” keluh saya dalam hati. Ia terus meracau. Si A mengulang beberapa potongan informasi yang sudah saya berikan tentang diri saya pada si B.

Azan berkumandang. Kami bergegas ke musholla kampus terdekat yang mengharuskan kami menyeberangi jembatan merah dia atas danau artifisial nan indah dan resik itu. Asri kampus UI memang.

Musholla kampus itu penuh sesak dengan mahasiswa dan mahasiswi. Inilah kelemahan memiliki area kampus yang begitu luas dan lapang, susah mengontrol keluar masuknya orang terutama yang bukan mahasiswa dan staf kampus.

Saya ingin menunggu hingga musholla agak lega, tetapi si A dan B tampak tak sabar. Mereka seolah menggiring saya ke masjid lain yang lebih besar. Jelas mereka tidak sekali baru ke kampus UI. Mereka tampak sudah familiar dengan tata letak kampus.

Tema obrolan pun makin ‘berat’. Dari sekadar penawaran untuk menginap di studio tempat si B konon tinggal makin lama makin bergeser ke masalah agama, sosial, politik dan kenegaraan. Intinya mereka ingin saya merasakan adanya ketidakpuasan dari kondisi yang ada sekarang dan mengapa harus memberontak melawan status quo: pemerintah Indonesia yang menurut mereka sudah zolim dan KAFIR. Nah!

Obrolan ini terhenti karena solat zuhur. Saya solat agak terpisah dari mereka tetapi setelah solat pun mereka kembali menghampiri saya. Mereka masih tertarik mengobrol dengan saya. “Sial!”

Perut sudah sangat meronta. Gesekan dinding usus yang kosong melompong ini sangat menyiksa. Dan 3 keparat itu masih mencoba mengajak saya mengobrol. “Dasar orang-orang ini tidak peka, jamnya makan siang diajak diskusi berat,” pikir saya. Makin tidak bersimpati saya pada gerombolan ini.

Mulailah tampak tujuan asli mereka.

Sebuah mushaf (naskah) Al Qur’an diambil si A dari rak buku masjid atas perintah si B. Jelas ada hubungan hirarkis vertikal antara keduanya. Sementara si C cuma tidur-tiduran.

To be continued…