Invasi Arabia

Menara yang pernah didaftarkan sebagai bangunan hotel tertinggi di nusantara itu sedikit berbeda malam hari ini. Sebelumnya sejauh pengamatan mata saya, lampu-lampunya yang berpendar kekuningan bak gemerlap emas itu cuma beberapa lantai saja yang dinyalakan. Tingkat okupansinya memang masih relatif rendah. Pasalnya penginapan ini terbilang masih baru dan yang paling penting, bukan kelas sembarangan.
.
Saya pernah menginjakkan kaki di lobi dan restorannya meski bukan sebagai penginap. Cuma kebetulan ada kewajiban kerja yang kebetulan menyeret saya ke sana.
.
Setelah nama tempat tadi disebut sebagai salah satu dalam deretan penginapan prestisius yang akan disambangi kaum bangsawan dari semenanjung itu, petang tadi saya tidak heran menyaksikan seorang yang pernah saya kenal pontang-panting di depan pintu masuk bangunan menjulang yang memblokir pandangan mata saya ke arah Gunung Salak tiap pagi. Ia mungkin tengah menjalankan instruksi atasan untuk menyambut tetamu yang saya berani bertaruh menyumpah serapahi kemacetan jalan di depan bangunan yang akan mereka masuki. Entah itu memasang rambu-rambu, umbul-umbul, atau apapun benda yang bisa menambah kesan megah, eksklusif, tidak lazim, dan tak terjangkau mayoritas manusia jelata yang melata di muka bumi.
.
Perempuan itu, yang pernah saya temui di sebuah siang dalam sebuah perhelatan, pasti sekarang bekerja mati-matian. Sebagai ujung tombak humas, inilah saat-saat genting dan menentukan dalam kariernya. Saya bayangkan ia bahkan tak akan sempat ke kamar kecil berlama-lama. Harus selalu waspada. Satu kesalahan dan kelalaian yang didapati oleh tetamu bisa membuat hidupnya terasa dalam neraka. Sepotong keluhan bisa menentukan keruntuhan atau kemantapan reputasi. Sungguh profesi dengan tuntutan dan risiko – serta imbalan – yang tinggi.
.
Malam ini lampu-lampu di menara itu lebih banyak yang menyala. Suatu tanda kedatangan tetamu agung sudah menjadi nyata. Dan itu artinya tingkat pengamanan di sekitarnya akan lebih ketat dari sebelumnya. Menyusahkan kami yang tidak tahu apa-apa.

===***===

Cuaca Jakarta hari ini mirip politik dan politisi Indonesia. Tepat tengah hari saya berjalan cepat-cepat karena kepanasan di tengah jalan menuju ke suatu tempat peribadatan. Satu jam kemudian dengan dipayungi awan-awan, saya kayuh sepeda untuk makan siang ke sebuah warung ketoprak nan lezat yang saya temukan tanpa sengaja di sebuah pertigaan. Semilir angin tak membuat saya banyak berkeringat. Bersepeda di cuaca demikian di jalan lapang dan rata membuat saya bermimpi bersepeda di Belanda. Tentu imajinasi itu buyar begitu sampai di jalanan yang riuh dan penuh orang tak sabaran dan tak mau tahu aturan. Lalu setelah hari bergeser ke sore, cuaca berubah lebih basah. Hujan turun tanpa saya ketahui. Tanpa suara tetapi sanggup membasahi tanah sampai rata.
.
Senja menyibak tirai merah dan segenap gradasi warnanya. Cuaca tidak memburuk. Hati saya penuh gegap gempita puji syukur lalu di atas sadel dengan pandangan lurus ke depan, saya meluncur.
.
Angin ternyata sejuk sekali dan memaksa saya merapatkan pakaian ini sekali lagi. Naiklah resleting jaket sampai ke tenggorokan agar tubuh tak lekas tumbang.
.
Tibalah kendaraan roda dua tanpa mesin ini di sana. Beberapa meter menjelang lokasi menara penginapan yang sama, arus lalu lintas lagi-lagi menggila. Waktu keramat yang semestinya dihindari orang yang ingin jiwa dan raganya tetap sehat. Keparat! Tapi apa boleh buat, saya hanya tahu di sini saya bisa lewat.
.
Dan di sisi kanan tempat saya biasanya hanya menyaksikan hehijauan tumbuhan indah tanpa buah (saya heran kenapa pohon-pohon penghijauan bukan pepohonan yang sekalian bisa menghasilkan buah yang bisa dimakan), berdirilah segerombol orang. Mereka bukan pekerja harian lepas berkaos hijau yang biasa menyapu ruang terbuka hijau di kota Durian Besar ini . Mereka pekerja perlente, kerah putih, bermuka bersih, berponsel cerdas di tangan, tripod di depan dengan kamera menyongsong apapun yang ada di depan.
.
Kamera-kamera dalam modus siaga dan tidak lain ditujukan ke gerbang penginapan yang julangannya setara tinggi gabungan 50 rumah tapak di perkampungan yang terhampar beberapa ratus meter di depannya.
.
Di sisi gerbang itu tiba-tiba juga berdiri sebuah pos polisi yang terbuat dari tenda kokoh. Jelas didirikan untuk sementara saja. Beberapa polisi duduk. Sementara itu, dari jarak puluhan meter, di akses depan kawasan perniagaan dan diplomatik itu sepasukan polisi dikerahkan. Truk besar diparkir di dekat mereka. Tampaknya mereka usai bertugas. Atau mereka akan bersiap? Saya tidak tahu persisnya tetapi yang pasti hiruk pikuk ini terbilang luar biasa.
.
Kamar-kamar yang menghadap ke jalan raya di beberapa lantai terbawah menyala. Selang beberapa lantai di atasnya juga ada satu lantai yang terang. Sisanya didominasi gelap, yang artinya kamar-kamar tak bertamu.
.
Kecuali beberapa kamar di puncak menara. Di lengkungan yang mirip tanduk itu. Cahayanya temaram. Mungkin ada tetamu menginap di dalam sedang rehat atau sedang turun di restoran di lantai lima tetapi tidak ingin kamarnya gelap gulita selama ia tidak berada di dalamnya agar kamera pengawas bisa terus bekerja memantau bilamana ada penyusup.
.
Kamar-kamar dengan pemandangan ke utara atau ke depan lazimnya dan logisnya dalam kasus penginapan ini bertarif lebih rendah. Sebab apa yang bisa dinikmati? Hanya kemacetan, riuh rendah lalu lintas dan jalan layang Tanah Abang-Kota Kasablanka. Dan di seberang jalan layang terhampar tanah kosong yang di tepinya berserakan rumah-rumah papan. Penghuninya para pekerja bangunan yang siang malam memahat lansekap kota. Mereka biasanya menyewa satu kamar 3×3 meter dan 4-6 orang menghuninya bersamaan untuk menekan pengeluaran selain dengan makan pagi paling mewah berupa gorengan karena praktis tinggal dikunyah dan ditelan, makan siang dan malam berupa nasi dan telur serta sayur ala kadarnya. Arsitek yang cerdas memang benar punya wacana tetapi di lapangan pria-pria bertangan kasar itu yang mewujudkan rancangan agar jadi nyata. Mereka yang membangun menara itu juga tetapi ironisnya begitu diresmikan, mereka tak lagi bisa memasuki bilik-bilik yang mereka bangun dengan bertaruh nyawa.
.
Di puncak menara, di level griya tawang alias penthouse, tingkat privasi menjadi yang tertinggi. Tidak ada menara lain yang bisa menyaingi. Mau berbuat apa saja di siang bolong sekalipun tidak perlu malu-malu karena pandangan orang lain di menara lain tak sanggup menjangkau sampai jendela kaca griya tawang itu. Dan di sini panorama tak lagi melulu kekumuhan di depan sana. Selepas mata memandang, tetamu dalam griya tawang yang di menara itu berada di lantai ke-50 sekian akan disuguhi pemandangan Teluk Jakarta di utara dan Gunung Salak di selatan. Kemiskinan urban lesap entah ke mana, tiba-tiba bisa diabaikan sebagaimana kita dengan datarnya membaca data statistik tingkat kemiskinan bangsa yang tingkat latensinya juga tak kalah dari bahaya laten PKI.
.
Melihat semua kondisi itu, mau tak mau saya akui Karl Marx ada betulnya juga. Teorinya dalam Das Kapital itu bukan karya abal-abal tapi hasil kerja intelektual dari pengamatan dan pemikiran yang serius. Bagaimanapun sejahtera sebuah bangsa mengklaim dirinya, jurang antarkelas itu terus ada. (*)

Memandang Bangunan Bak Manusia dengan Kepribadian

 

Sepanjang 30 tahun terakhir, Budi Lim memperjuangkan warisan budaya berupa bangunan-bangunan bersejarah. Ia senang saat 1980 pulang ke Indonesia, ia baru sendirian memulai. Tapi dukanya ia dimaki-maki beberapa pejabat di masa lalu. “Kenapa Anda masih bersusah payah melestarikan peninggalan Belanda?” Dan menurut mereka ada begitu banyak hal lain yang lebih baik daripada memikirkan pelestarian peninggalan penjajah yang tidak ada gunanya di masa pasca kemerdekaan. Para pejabat teras ibukota saat itu beropini sama. Tetapi Budi yakin jika konsisten dalam hitungan bulan, pelestarian bisa tercapai.

Saat ini lebih baik dari masa itu karena sudah ada lebih banyak warga datang ke Kota Tua. Cap bangunan penjajah juga sudah jarang terdengar lebih banyak orang menerima bahwa bangunan bersejarah kita adalah bagian sejarah bangsa.

Bangunan bagi Budi memiliki kepribadian layaknya manusia. “Anggaplah bangunan sebagai manusia. Kota itu sebagai masyarakat,” tuturnya memberikan analogi agar kita manusia zaman sekarang tidak semena-mena memperlakukan bangunan zaman dulu. Budi sendiri mengakui dirinya saat mulai menyukai bangunan juga tidak menganggap bangunan bagaikan makhluk hidup setara manusia. Namun, lambat laun seiring pengalaman dan pembelajaran, ia sebagai arsitek muda mulai memahami pandangan humanis terhadap ciptaan manusia itu. Bangunan tua terutama yang bernilai sejarah misalnya ia katakan mirip dengan nenek atau kakek kita, sementara bangunan yang didesain dengan meriah dan gemerlap mirip seorang gadis muda yang gemar bersolek. Jika kita bisa mengubah sudut pandang kita pada bangunan dari yang cuma menganggapnya sebagai benda mati yang tersusun dari batu bata dan semen dan tanah liat menjadi karya manusia yang juga mirip si penciptanya. Bangunan juga bisa mempunyai jiwa dan mood.

Seperti saat ia ke Semarang untuk melihat Kota Tua Semarang, Budi menyatakan kesedihannya yang mendalam melihat kondisi masjid tua di sana. Saat ia tiba di sana, ia hanya duduk menyaksikan orang salat dan mengamati perkembangannya dari luar yang ia anggap kurang sesuai dengan akar sejarahnya. Masjid di Pasar Johar Semarang itu ia ibaratkan seorang perempuan yang dahulu begitu molek, menawan dan anggun tetapi sekarang sudah menua, sakit-sakitan sampai diamputasi anggota badannya sedemikian rupahanya karena supaya tampak lebih seksi, cantik dan modern. Budi mengkritik bahwa seperti manusia yang berobat, saat satu dokter tidak mampu mempertahankan anggota badan itu, jangan serta merta dipotong langsung dan diganti tetapi carilah dulu dokter lainnya yang lebih mumpuni. Jangan, misalnya, hanya karena kita adalah pemilik bangunan bersejarah itu, kita dengan seenaknya bertindak sebagai dokter bedah bagi bangunan tua yang menjadi ibu kita. Inilah opininya sebagai seorang arsitek terhadap upaya pelestarian bangunan bersejarah apapun. Dan menurut Budi, apa yang dilakukan pada Masjid Agung Johar adalah tragedi.

Budi memahami bahwa profesi arsitek lebih dari sekadar pembuat bangunan. Arsitek juga dokter, tetapi untuk bangunan.

DINAMIKA UPAYA RESTORASI BANGUNAN BERSEJARAH

Pandangan dunia terhadap restorasi makin berkembang. Tidak cuma bertahan dalam satu kerangka pemikiran atau sudut pandang yang statis.

Pada tahun 1960-an, Eropa masih memaklumi pembuatan replika dalam konteks pelestarian warisan bersejarah. tetapi sekarang pembuatan replika sudah diharamkan sama sekali. “Semua sepakat bahwa manipulasi sejarah kriminal,” kata Budi sambil menegaskan sikap UNESCO yang senada. Jadi, alangkah baiknya bila Indonesia belajar dari Barat yang sudah melarang penggunaan replika dalam upaya pelestarian bangunan bersejarah.

Budi mencontohkan pembuatan replika di Pasar Baru yang berupa gerbang seolah-olah bangunan itu sudah ada sejak dulu dan parahnya bangunan baru itu dibuat seolah-olah sudah berdiri sejak lama. Inilah yang dinamakan tindakan kriminal, karena sudah mengaburkan sejarah yang sebenar-benarnya.

Perubahan sikap terhadap replika itu patut diadopsi di Indonesia. “Pemikiran konservasi semacam itu berkembang lebih maju di Eropa. Mereka bahkan bisa mengembalikan bangunan yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa menjadi semirip aslinya dahulu kala.

Contoh-contoh kasus yang menarik Budi ambil dari upaya konservasi bangunan bersejarah di Berlin. Yang pertama  bekas istana. Ia menyebutnya “Romantic Conservationists”. Mereka merestorasi seara murni. Bangunan-bangunan tua yang hampir hancur dan tinggal 5-10%. Arsitek pemenang kompetisi restorasi di sana menolak penerapan kembali nilai-nilai saat bangunan didirikan, yakni eksploitasi, kolonialisme, kemewahan berlebih-lebihan dan sebagainya. Arsitek modern Norman Foster tidak mau melakukannya. Ia ingin mencerminkan Jerman sekarang yang demokratis dan egaliter.

Gedung itu akan menjadi gedung parlemen. Ia pun punya ide membuat bangunan restorasi dari kaca untuk menegaskan konsep transparansi dalam demokrasi Jerman. Dengan dinding kaca, diharap rakyat menangkap pesan bahwa Parlemen Jerman terbuka pada rakyat yang diwakilinya. Museumnya juga direstorasi habis-habisan pasca insiden kebakaran. Bagian-bagian yang musnah diganti baru dengan konstruksi serupa zaman dulu tetapi lebih modern. (*)

Menguji Moral Baja Jakarta

Dalam catatan sejarah, London pernah dibombardir bom oleh Jerman dari udara di Perang Dunia II. Peristiwa itu dinamai “London Blitz” atau “The Blitz” (7 September 1940 – 21 Mei 1941). Ada 3 jenis orang yang terdampak saat sebuah bom jatuh, menurut penelitian ahli jiwa asal Kanada J. T. MacCurdy yang ia muat dalam bukunya “The Structure of Morale”. Pertama ialah mereka yang tewas seketika. Mereka tidak menebarkan ketakutan dan kecemasan. Mayat tidak bisa berlarian atau menyebarkan berita buruk. Kedua ialah mereka yang nyaris tewas tetapi bertahan. Mereka ini yang luluh lantak secara psikologis dan mental. Mereka yang paling membutuhkan pertolongan medis tetapi untuk sementara waktu mereka tidak bisa menebarkan ketakutan. Ketiga ialah mereka yang juga ada di sana tetapi luput dari maut, tidak langsung mengetahui kejadian secara rinci. Cuma melihat asap, atau mendengar dentuman, atau melihat ambulan melintas membawa korban.

Pemerintah Inggris menyangka akan ada banyak warga London yang lari pontang panting dan gila karena teror bom udara itu. Bahkan rumah sakit jiwa sudah didirikan untuk bersiap menampung warga yang terganggu jiwanya akibat bom yang beruntun disebarkan pesawat-pesawat tempur Jerman.

Yang tidak masuk akal dan di luar perkiraan, London tidak berubah menjadi kota mati. Warga London membuktikan sebaliknya. Semua itu berkat kelompok ketiga yang bersikap lebih optimis dan positif. Mereka lebih kuat dari yang disangka-sangka. Kegiatan sehari-hari masih berjalan seperti biasa. Pedagang masih menggelar dagangan. Pembeli masih keluar rumah, tidak mengurung diri dan ketakutan. Rumah-rumah sakit khusus penderita gangguan jiwa itu malah sepi, para petugasnya makan gaji buta saja.

Lebih lanjut, MacCurdy berkata bahwa semua manusia menyimpan ketakutan tetapi saat kita berhasil menaklukkan ketakutan itu dan membuktikan bahwa ketakutan itu tidak beralasan dan tidak seburuk dugaan, rasa bahagia dan berani-lah yang tercipta.

Jerman membombardir London dengan tujuan memunculkan trauma dan teror yang diharapkan bisa menghancurkan moral warga London. Namun, efek yang ada malah sebaliknya. Makin banyak bom jatuh di tanah London, makin subur keberanian itu dalam jiwa mereka. Bom itu, dengan kata lain, malah menjadi pupuk penyubur.

Kondisi Jakarta saat ini pastinya tidak separah London saat itu (kurang lebih 250 ribu jiwa melayang dan luka-luka dan durasinya 8 bulan lebih!). Dan saya pastikan memang demikian saat melihat jalan raya di depan saya masih sarat lalu lintas. Menyeberang jalan masih perlu menunggu lampu merah. Mall itu masih buka. Pekerja masih berada di meja. Anak-anak masih bermain hingga membuat seorang temannya menangis di sebuah gang. Dan perokok-perokok itu saja yang mondar-mandir gelisah di depan pintu, memeriksa layar ponsel cerdas yang terus menyajikan berita teror. Tetapi bukankah mereka juga resah begitu meski tidak ada apapun?

Jakarta 2016 berbeda tentunya dari London pertengahan abad ke-20. Ini bukan soal senjata tetapi mental. Jadi sebelum kita menyebarkan berita di alat ajaib penyebar pemikiran dan emosi bernama jejaring sosial, pastikan dulu apakah Anda akan menyebarkan sikap mental yang mencerminkan optimisme bahwa kita akan bisa mengatasi dan bangkit atau malah menjerumuskan bangsa ini pada jurang pesimisme saja.

Jakartans Now can Access Digital Library via Smartphone App

Jakarta is getting smarter and smarter, apparently. Thanks to our shrewd and way more tech-savvy governor, now everyone with an Android handset can access a digital library owned by the government of Jakarta. A free iOS app will soon be on App Store, too.

I happened to find this app at Indonesia International Book Fair 2015 yesterday but I couldn’t give it a try as I have no Android phone. And this app is not avaliable on my iPhone.

So I also signed up for a membership of Jakarta Public Library for the sake of curiosity. A public library is located just near where I stay so this could be a good opportunity to try it out.

Too bad I need to obtain a letter stating I work here for a certain company as I don’t have permanent residential status‎ of Jakarta yet. The staffer on duty, however, was kind enough to let me have the membership card and borrow so long as I can prove I work here formally.

Hannah Shin: Your Work Is Your Duplicate

Born in a family of artists, Hannah Shin is no stranger to arts. Her father owns an art school and teaches arts and fashion. So does her mother. And she means the business. Shin, who is Korean, just
graduated from her Bachelor of Arts course in London and she already has around 30 paintings.

So why does she come to the Big Durian? “I came back to Jakarta because my family was here. And I’ve been living here for fifteen years,” She quipped.

That said, she has acquired Bahasa Indonesia. “Bisa bicara Bahasa Indonesia juga, but just a little. Not too fluently,” Shin said sheepishly.

Shin was also present when Harry Dharsono, a prominent Indonesian haute couture designer and textile artist, celebrated his 65th birthday today (14/3/2015). She stood in the crowd with her tighly clad black gown and donned a fashionable hat with furs on her head. Mr Dharsono aptly described Shin as “a painter who looks like a painting herself”. He put it right.

Oil paintings of hers were exhibited at Ciputra Theater and Lotte Shopping Avenue. Some are bluish, orange, and a mixture of various colors with titles in it.

Artswise, Shin loves oil as the medium of her creative processes. She experimented with a lot of chemical substances to make it very transparent, translucent and flowy.

Despite being a fledgling artist, Shin has her own distinct character as a painter. “Most of my paintings has the motions, showing emotions that I felt when I’m painting,” Shin added.

Each and every artwork has its own story as the background. Shin shared a story in her painting titled “Warrior”. After her trip to Africa as a volunteer as one of the artists teaching arts to the
underprivileged children there, she felt the urge to give hope to them. “They (these children) are small but they’re all warriors. There are warriors in them and they need to show that to the world.” Shin believes any piece of artwork is “a duplicate” of an artist and the painting also represents herself, a relatively unknown, new artist with a “small” reputation.

Like any artists, Shin has her influence. She adores a more famous abstract expressionist painter. She was then inspired to use a single color in her painting and tried to make it speak by itself.

Although she is heavily influenced, Shin invented her unique technique of painting. When we think of oil paintings, we think of paintings that are very thick and stand out as painters tend to add more and more oil onto it. Shin, however, does it in a reverse way. “For the white bits, I clean out the blue color and make layers.”

Loyal College of Arts awaits Shin after this. Her artistic pursuit does not seem to end quite soon as Shin realizes the significance of education in her future career. By being surrounded by the best
artists, Shin hopes to learn more by accepting critiques that make her think more about her works, and in which way she should do it better. ‎

Hadiri ASEAN Literary Festival 2015 19 Maret Nanti!

Setelah menghadiri ASEAN Literary Festival tahun kemarin di Taman Ismail Marzuki, dua pekan lagi ajang yang sama akn digelar masih di tempat yang sama. Tema besarnya adalah mengenang sastrawan Indonesia yang beberapa waktu lalu baru saja berpulang ke Sang Pencipta, alm. Sitor Situmorang.

Berikut keseluruhan pernyataan pers dari pihak ASEAN Literary Festival 2015:

“Memasuki tahun kedua, ASEAN Literary Festival (ALF) 2015 akan dibuka pada Kamis, 19 Maret 2015, di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta, dan akan menjadi persembahan khusus bagi sastrawan Sitor Situmorang. Karya-karya Sitor akan ditafsir ke dalam komposisi musik, tari, dan berbagai pertunjukan. Di antaranya akan tampil pianis Ananda Sukarlan, yang akan membawakan puisi panjang Sitor Situmorang yang ditulis tahun 1955 berjudul “La Ronde”. Malam pembukaan ALF 2015 akan menjadi pementasan pertama komposisi tersebut. Ananda Sukarlan memilih penyanyi muda bersuara emas dari Surabaya bernama Nikodemus Lukas untuk menyanyikannya. Selain “La Ronde”, Nikodemus juga akan membawakan karya-karya Ananda yang lain, yang juga berangkat dari puisi Sitor Situmorang, seperti “Surat Kertas Hijau” dan “Malam Kebumen.”

“Sitor Situmorang diangkat menjadi tema pada malam pembukaan karena pengaruhnya yang sangat besar bagi kesusastraan Indonesia. Ini sebuah upaya memperkenalkan Sitor pada generasi muda,” ujar Abdul Khalik, Direktur ALF, di Jakarta, Jumat (27/2). Selain itu, tampil pula Nabilla Rasul, penari muda peraih hibah Seni Yayasan Kelola 2013 yang pernah tampil di pagelaran musikal Onrop, Dance Generation, dan Heart Records. Nabilla akan menafsirkan puisi Sitor berjudul “Dia dan Aku” dalam komposisi gerak tarian.

Ada pula special performance dari Signmark (Finlandia), musisi tuna rungu pertama di dunia yang berhasil mendapatkan kontrak rekaman dengan label major dunia. “Penampilan Signmark menunjukkan komitmen ALF untuk menjunjung inklusivitas, memberikan hak-hak yang sama bagi kaum diffable,” kata Abdul Khalik. “Selain itu, ini juga bagian dari perayaan keragaman bahasa yang menjadi jantung dari sebuah festival sastra.” Orasi budaya akan disampaikan oleh dr. Ma Thida, sastrawan asal Myanmar.
ALF 2015 diikuti lebih dari 20 negara (baik ASEAN maupun non-ASEAN) dan akan berlangsung hingga 22 Maret 2015, dengan rangkaian acara seperti pemutaran film, seminar, jumpa penulis, workshop menulis, tur sastra, dan berbagai pertunjukan berbasis karya sastra. Informasi lengkap mengenai ASEAN Literary Festival 2015 dapat diperoleh di situs resmi www.aseanliteraryfestival.com.

Informasi lebih jauh dapat menghubungi:
Ruth Stephanie (Project Officer ASEAN Literary Festival 2015) 082120646147, 082215898935
aseanliteraryfest@gmail.com”

Trotoar ning Jakarta Luwih Tumoto Apik. Suwun Njih, Pak Ahok!

‎Menowo wulan-wulan kapungkur biasane pingin misuh-misuh goro-goro liwat trotoar sing sempite ora karuan ditambahi proyek sumur resapan sing nggawene ora ono entheke saking suwene kuwi, sak iki trotoar ning dalan-dalan protokol wis ditoto luwih apik lan enak disawang.

Pak Ahok‎ pancen luwih cepet tinimbang Jokowi perkoro kerjo koyo ngene. Tegas lan luwih apik kinerjane.

Mugo-mugo wae tambah akeh wong-wong saka politik sing ngaku Islam tapi gelem sinau soko Ahok. Sinau perkoro dadi pemimpin sing apik! Menowo soal agomo, ora usah dibahas. Iki bab gubernur, ora menteri agomo, opo meneh jabatan ketua MUI. Mbok yo ojo nggur ngomong ngongkon Ahok mudun sebab ora wong muslim. Ojo cuma isone demo utowo nganggo isu gubernur tandingan sing dadi badhute wong ning ngendhi-endhi. ‎Sing penting kuwi bukti. Ora usah kakean omong, retorika. Wis bosen! Ngisin-ngisini Islam!

Wis ora usum nganggo lambang-lambang agomo ben dipercoyo. Nganggo kupluk, yo isih tegel korupsi kok buktine. Dadi nek ono wong nasrani iso mbuktikno iso kerjo luwih apik, ora usah nesu! Ngoco sik.

Dadi aku nggur iso ngekek pas krungu kyai kuwi ngritik Ahok sing dadi gubernur. Provokatip tur kurang objektip.

Mulo sampek kapan rakyat kudu nunggu ono pejabat Islam sing wani lan tegas lan resik soko korupsi koyo dene Ahok‎? Kapan?

Ora usah dijawab nganggo tutuk. Jawab karo tumindhak sing iso dingeti.

Penghargaan Tak Berharga

“Untuk kategori berikutnya, kategori bisnis spa paling prestisius di Jakarta.”

Kita mulai dari juara tiga dalam kategori bisnis spa paling prestisius di Jakarta. Spa Plus Minus Rawa Belong!!!”

(Tepuk tangan meriah)

“Dan juara kedua…. Salon Tiarap Kemang Jakarta!! Selamat!”

(Tepuk tangan lebih meriah membahana)

“Juara pertama jatuh kepada…”

(Hening sejenak)

“Panti Pijat Waru Doyong SCBD!!!”

“Ummm ummm, ini juara kedua atau tiga. Ummm…”

“Kami ulangi lagi. Juara ketiga Spa Plus Minus Rawa Belong. Juara kedua Salon Tiarap Kemang Jakarta dan juara pertama Panti Pijat Waru Doyong SCBD.”

(Tertawa terkekeh, tanpa ada tepuk tangan.)

“Baik kami tunggu perwakilan masing-masing untuk maju ke panggung.”

Boleh naik ke atas panggung untuk diberikan penghargaan.

“Adakah dari Spa Plus Minus Rawa Belong, Salon Tiarap Kemang Jakarta dan Panti Pijat Waru Doyong SCBD??” (mulai kebingungan)

(Hening)

Selanjutnya yang berkenan untuk memberikan penghargaan kepada para pemenang untuk kategori bisnis spa paling prestisius di Jakarta adalah ibu Lampir.

“Kami mohon ibu Lampi R. untuk berdiri memberikan penghargaan pada para pemenang.”

(Juara 2 dan 3 maju)

“Satu lagi… Panti Pijat Waru Doyong!”

“Berarti yang sudah ada ini juara 2 dan 3 ya?!”

“Panti Pijat Waru Doyong SCBD???!!”

“Bapaknya? Bukan? Yang di belakang??”

“Bukan juga.”

“Mungkin lagi sibuk pijit-pijit ya. Kan panti pijat.”

“Ibu silakan… silakan yang mengingat ini panti pijat apa?”

(Tawa meledak)

“Oh Kun Yuk. Miss Kun Yuk!”

“Bener ya namanya Kun Yuk?! Takutnya salah ngomong.”

“Duh saya harus kerja di sini rupanya supaya kenal.”

“Emang miss? Jangan jangan missis.”

“Baik… Bapak atau ibu Kun Yuk??”

“Oke ibu Kun Yuk???”

“Baiklah, yang mewakili ibu Kun Yuk?”

“Mewakili ibu Kun Yuk. Aduh jadi takut salah lho. Aduh, dites ya MC-nya ya??”

“Oke, bapak Jared??!” (Muka penuh harap)

“Oh, tidak ada juga??”

“Oh ya Pak Mulus. Alhamdulillah!! Puji Tuhan!!!”

“Oh pak Jared udah datang!”

“Duh maaf ya pak Mulus ya. Turun balik lagi.”

“Kamu suka PHP!”

“Aduh, dari tadi di pojok ngapain, pak Jared? Aduh duh..”

(Tawa hadirin)

“Oke nggak papa, kita kasih tepuk tangan. Haduh, oke pemenang 3 Spa Plus Minus Rawa Belong, pemenang 2 Salon Tiarap Kemang Jakarta dan yang susah banget dipanggil, juara pertama Panti Pijat Waru Doyong SCBD!! Tepuk tangan dong buat mereka.”

(Mengambil foto)

Jadi mulai sekarang harus diingat ada Panti Pijat Waru Doyong yah.

(Tepuk tangan)

Menjajal Layanan Uber di Jakarta (1)

Sebuah brand yang unggul tidak selalu disambut baik semua pihak. Makin berada di atas angin, sebuah brand juga bisa mendapatkan makin banyak sambutan dan ‘sambitan’ (kritik -red). Demikian juga dengan layanan transportasi mobil pribadi mirip taksi, Uber, yang digagas Travis Kalanick. Jika Anda mengikuti perkembangan Uber di negeri Paman Sam dan negeri-negeri lain, Anda mungkin tahu maksud saya.

Terlepas dari semua itu, sejak pertengahan tahun ini, Uber memang sudah memulai layanannya di Jakarta. Dan meskipun sudah ada rentang waktu sekitar 4 bulan sejak Agustus 2014, Uber belum banyak dikenal warga Jakarta terutama daerah niaga dan bisnis di Sudirman Central Business District (SCBD), area yang menjadi tempat beroperasinya layanan ini.

Putik (bukan nama asli) adalah salah satunya. Saat saya menyebut layanan Uber, ia memicingkan mata sambil bertanya,”Apa itu?” Putik tipikal generasi millenial, yang masih muda (pertengahan 20-an), kelas menengah, dan melek teknologi. Di tangannya tergenggam smartphone terkini. Akan tetapi, ia lebih memilih taksi burung biru yang menjadi penguasa pasar di Jakarta. Maklum, ia menggunakan voucher taksi dari kantornya. Dengan menggunakan Uber yang biayanya dibebankan secara otomatis ke kartu kredit, Putik akan kesulitan meminta reimburse (penebusan biaya) dari kantor. Dalam kasus Putik, voucher taksi yang biasa diberikan berbagai korporasi bagi karyawan yang bertugas menjadi solusi yang memudahkan, karena karyawan tak perlu menyediakan uang tunai. Perusahaan akan membayarkan ongkos yang tertera di voucher yang bisa ditulis tangan.

Hari itu saya teringat dengan Uber dan memutuskan mencoba layanannya. Setelah sekian lama, saya baru mencobanya, karena seperti Putik, saya masih memiliki banyak moda transportasi alternatif. Ada ojek, lalu juga ada layanan taksi burung biru yang juga bekerjasama dengan perusahaan tempat saya bekerja. Saya memang memilih tidak membeli kendaraan bermotor apapun di Jakarta. Saya bukan tipe orang yang banyak berkelana, apalagi jika tidak ada agenda yang jelas. Ditambah dengan kacaunya jalan-jalan Jakarta yang menjadi sumber frustrasi jutaan orang dan keengganan saya menghabiskan waktu senggang untuk mencuci dan merawat seonggok benda dari logam (lebih baik saya membaca buku, menulis dan bersantai), saya lebih memilih menggunakan moda transportasi umum yang meski lebih mahal tetapi membebaskan saya dari kewajiban-kewajiban penguras waktu dan energi seperti mengurus BPKB, STNK, SIM, atau ketakutan-ketakutan saat dihadang polisi lalin, sakit kepala saat kemacetan yang mendera. Saya relatif bisa bebas dari semua itu.

Saya juga bukan bagian dari banyak orang di Jakarta yang memilih mencicil kendaraan bermotor demi ‘kenyamanan dan kecepatan’. Dalam satu kesempatan, Dahlan Iskan pernah berteori mengenai revolusi sepeda motor yang menurutnya mampu menyejajarkan kalangan menengah bawah dengan mereka yang lebih kaya raya dalam hal kecepatan mobilisasi berkegiatan. Inilah suatu era saat masyarakat bawah bisa sama cepatnya dengan mereka yang berada di atas, kata Dahlan. Ia juga mengajukan hipotesis mengenai alasan mengapa angka penjualan sepeda motor makin melonjak pasca kenaikan BBM (yang tentu diiringi naiknya konsumsi BBM). Karena dengan biaya transportasi umum yang relatif makin mahal, seseorang sudah bisa menggunakan anggaran transportasi umumnya itu untuk mencicil kendaraan bermotor roda dua! “Dengan uang Rp700.000 untuk biaya angkot, saya bisa langsung ambil sepeda motor dan mencicilnya Rp600.000 sebulan dalam waktu tiga tahun, sepeda motor itu menjadi milik saya. Sementara yang naik angkot, tetap saja naik angkot. Yang mencicil sepeda motor dalam waktu 3 tahun sudah punya sepeda motor yang nilainya paling tidak Rp12 juta. Dia punya aset! Yang naik angkot tidak [punya aset – pen],”terang mantan menteri BUMN era SBY itu panjang lebar. Saya sepakat untuk tidak sepakat. Dengan kata lain, saya sepakat itu benar, tetapi saya lebih memilih alternatif pembelian aset selain kendaraan bermotor, yang tidak sesuai dengan selera dan gaya hidup saya saat ini. Entah nanti. Namun, mengingat saya lebih cenderung ke gerakan penekanan dampak pemanasan global, saya akan berpikir dan menimbang lebih panjang saat harus membeli kendaraan bermotor.

Karena itulah, Uber memiliki peran dalam memperkaya pilihan moda transportasi bagi orang-orang kelas menengah bahkan bawah sekalipun seperti saya yang belum memiliki hasrat membeli kendaraan bermotor dan lebih memilih kenyamanan (sangat nyaman bahkan karena mobil-mobil Uber biasanya kendaraan pribadi mewah) serta aspek kepraktisan dalam mobilisasi sehari-hari tanpa direpotkan dengan tanggung jawab sebagai pemilik kendaraan yang kerap cemas di tengah digelarnya operasi Zebra atau Lilin.

Saya pun memutuskan mengunduh aplikasinya di iPhone. Untuk menggunakan Uber, saya harus memasukkan nomor kartu kredit. Saya mencoba memasukkan nomor kartu debit saya karena alasan iseng semata. Dan ditolak oleh server Uber. Akhirnya, saya masukkan juga nomor kartu kredit Bank Mandiri saya. Diterima seketika itu juga. Kemudian seperti aplikasi mobile lain, saya juga harus memverifikasi nomor ponsel agar komunikasi suara dan teks (SMS) lebih lancar dengan sang sopir sewaan. Masukkan kode verifikasi yang berupa 4 digit angka itu dan Anda siap menggunakan layanan Uber.

Siangnya saya hendak menuju kawasan Sudirman. Saya harus tiba pukul 2 di sebuah tempat. Pukul 1 kurang 10 menit, saya mencoba memesan kendaraan dari Uber dulu. Saya buka aplikasi dan mulai menentukan “pickup location” (lokasi penjemputan) kemudian juga “destination” (tujuan). Dari penentuan itu, kemudian Uber akan mengeluarkan estimasi atau taksiran biaya transportasi. Dalam pemesanan saya ini, taksirannya Rp30.000 sampai Rp34.000. Di bawahnya, Uber menyertakan sangkalan (disclaimer) “Fares may vary due to traffic, weather, and other factors. Estimate does not include discounts or promotions.” Saya ‘tap’ layar di tombol “call UberBlack” tetapi muncul notifikasi “Sorry for the delay. We had some trouble connecting, but should have you moving shortly. Try again or sign out.” Apakah ini karena masalah jaringan Internet yang lambat? Saya kurang tahu. Yang pasti ini agak sering terjadi tetapi bukan masalah besar.

Sebuah ikon mobil berwarna hitam tertampil di aplikasi Uber, menandakan ada satu mobil armada mereka yang sudah siap siaga menjemput saya. Ada juga estimasi waktu mencapai titik lokasi penjemputan. Nama dan foto wajah si sopir itu pun tertampil di bawah. Namanya Bara Priadi, mobil yang ia kendarai Mercedes-Benz S-Class. Rata-rata bintang yang sudah ia kantongi 4,7. Di Uber, setiap pengemudi memang diberikan skor kualitas layanan. Jangan sampai sopir mendapatkan bintang 1 atau 2. Minimal 3. Lebih baik lagi 4 atau bahkan 5. Kalau tidak, mereka harus siap diskors 7 hari dari pekerjaannya.

Sejurus seseorang dengan nomor telepon asing menghubungi saya. Saya angkat. Rupanya Bara, katanya,”Pak, maaf saya baru saja mau makan siang. Bagaimana kalau bapak minta yang lain dulu?” Saya jawab,”Baiklah.” Saya maklum karena saya sendiri saat dihubungi juga sedang memasukkan beberapa suapan terakhir dari soto ayam yang saya pesan.

Kemudian saya memanggil mobil lainnya. Saya mendapati pengemudi lain bernama Kamid, yang masih 9 menit dari lokasi saya berada. Ia menggunakan Toyota Innova. Memang tidak semewah yang sebelumnya tetapi bukan masalah bagi saya. Kamid memiliki rata-rata perolehan bintang yang lebih baik, yaitu 5. Bagaimana bisa sesempurna itu? Saya tahu jawabannya kemudian setelah turun dari mobil itu.

Kamid menelepon saya setelah saya selesai bersantap siang dan berdiri di dekat jalan. Sebelumnya ia menelepon meminta arahan lokasi. Dalam beberapa menit, saya mendapati seseorang dengan mobil Toyota Innova dan wajah yang mirip dengan foto tadi. Ia menebak-nebak, karena saya belum mengunggah foto ke profil Uber saya. Ia masih ragu hingga saya memastikan bahwa sayalah yang memesan mobilnya.

Masuklah saya dan dimulailah perjalanan selama 20 menit dari Karet Pedurenan hingga ke Sudirman. Bukan jarak yang begitu jauh. Dekat saja. Tetapi karena cuaca begitu panas, rasanya akan lebih nyaman duduk di mobil berpendingin udara daripada angkot dan bus Kopaja yang gerahnya buka  kepalang.

Kamid seorang pria berkeluarga yang berusia 32 tahun bulan depan. Setelah saya masuk, ia menepi dari bahu jalan. Di dasbornya, terlihat sebuah iPhone hitam, dan di layar aplikasi Ubernya terlihat nama saya. Ia mengecas smartphone tersebut, yang ternyata bukan miliknya. Itu fasilitas Uber, kata Kamid. Ponselnya sendiri – yang ia simpan di antara kedua pahanya – tidak semahal itu.  Ia mungkin tidak tahu risiko infertilitas yang dipicu sinyal radio jika meletakkan ponsel sedekat itu dengan bagian tubuh yang vital tetapi bukan masalah, karena toh ia sudah punya 1 anak.

Tidak seperti taksi burung biru, mobil layanan Uber adalah mobil pribadi. Sopirnya tak memakai seragam. Mereka juga tidak menggunakan alat komunikasi radio dengan operator yang memberitahu jika ada pelanggan. GPS tak ada, hanya smartphone yang memandu mereka.

“Tadi dari selatan ya, pak?” saya membuka percakapan karena saya melihatnya dari jl. HR Rasuna Said. Ia menjawab dengan ramah,”Iya tadi kebetulan dari sana macet. Lagi keliling-keliling aja.”  Saya duduk di bangku depan di sebelah kirinya. Saya hendak duduk di belakang tetapi mengurungkan niat karena saya ingin bercakap-cakap.

“Biasanya kerja apa, pak?” tanya saya lagi.

“Saya sopir ekspedisi, pak.”

“Ini lagi libur atau bagaimana?” saya ingin tahu. Di benak saya, Kamid adalah pemilik mobil ini. Atau penyewa setidaknya, kemudian ia mendaftarkan diri ke Uber. Begitu asumsi saya. Saya salah.

“Nggak, pak. Ini sudah habis kontrak dan ada pengurangan karyawan dan armada. Yang dicari yang punya SIM B1 umum.”

“Oh, bapak nggak punya ya?”

“Kalau saya B1 polos, pak.”

Saya bertanya-tanya arti B1 polos dalam hati. Saat masuk rupanya mereka tidak mewajibkan SIM B1 umum, setelah mereka tahu pajak untuk SIM B1 umum dikenai pajak lebih murah dari yang ‘preman’ jadi diutamakan yang umum. “Jadi plat mobil yang sekarang ya plat mobil kuning semua,”terangnya. Saya mencoba mencerna makna ‘preman’ tadi. Apakah itu artinya membuat SIM dengan cara ‘nembak’ alias instan dengan cara menghubungi oknum dalam agar lebih cepat? Saya ingat dengan penuturan suami dan anak ibu kos saya yang membuat SIM C lebih cepat. Dua SIM cukup bayar Rp1,2 juta. Masing-masing Rp600 ribu. Untuk prosedur biasa bisa memakan waktu 6 bulan katanya tetapi harganya jauh lebih murah, sekitar seperempat tarif pembuatan instan. Tidak ada ruang untuk yang ingin cepat tetapi taat hukum dan aturan. Hanya ada dua: cepat tetapi ‘melanggar’ prosedur, atau lambat tetapi taat prosedur. Uang menentukan prioritas layanan. Seperti bank yang memberikan layanan prima bagi nasabah prioritasnya. Tetapi masalahnya, ini layanan publik, bukan komersial.

“Tahu dari mana Uber ini?” tanya saya.

“Dari teman. Dari Internet juga. Ya, cari-cari, pak. Ya namanya lowongan kerja. Yang penting bisa kerja gitu, pak,” ungkapnya.

Kamid tidak segan berbagi bagaimana ia bisa menjadi pengemudi Uber. Jika di negeri asalnya para pemilik mobil sendiri yang mengendarai mobil Uber, di Jakarta metodenya lain. Mungkin setidaknya untuk saat ini. Apakah karena kesulitan menarik minat para pemilik mobil yang menganggur di garasi untuk menyewakan mobil mereka? Saya kurang tahu tetapi Kamid berkata Uber telah menyediakan segalanya. Baik iPhone dan mobil sudah ada. Ia hanya tinggal menyetir.

“Baru berapa bulan kerja di Uber, pak?” selidik saya.

“Waduh, saya saja baru mulai kerja hari ini!” jawabnya. Itulah mengapa ia masih mendapat skor sempurna, karena seorang ibu yang menuju ke kedutaan Belanda sebelum saya mungkin sudah berbaik hati memberikan skor bintang 5 padanya. Ibu itu baik hati, apalagi kata Kamid, ia sedikit membuat kesalahan. Karena belum terbiasa memakai iPhone, jarinya menyentuh layar saat aplikasi terbuka dan entah kenapa ada sedikit kesalahan soal tarif. Ia meminta maaf dan si penumpang itu memakluminya. “Kepencet trip-nya jadi dia kena cas. Saya telepon atasan saya,’Pak, maaf ini ada trebel (maksudnya ‘trouble‘).

“Kemarin dua hari saya ikut tes sambil lihat video cara kerjanya. Setelah paham dan lulus tes, saya dipanggil kembali.”

“Tes apa?” saya terus menggali informasi.

“Ya… ringan sih sebenarnya,” jawabnya dengan agak berat, terdengar agak menimbang-nimbang pilihan kata yang tepat.

“Biasalah tentang pelayanan konsumen. Bagaimana agar tidak komplain. Beda dari yang di pabrik. Diusahakan kami dapat bintang dari pelanggan antara 4-5. Tapi kami tidak boleh minta.”

“Memang kalau dapat di bawah bintang 3 bisa diberhentikan atau dapat penalti?” tanya saya lagi.

“Ya, bisa di-skorsing 7 hari.”

Obrolan kami tiba-tiba berbelok menjadi lebih personal. Dari peran penyelidik, kini saya yang menjadi terselidik. Kami bertukar informasi usia, asal daerah, latar belakang keluarga, pendidikan.

“Kalau bapak tahu jalan ke tempat tujuan?” ia sekonyong-konyong bertanya.

Apakah ia tak tahu tempat tujuan saya? Ternyata sama saja dengan sebagian sopir taksi burung biru yang hampir buta rute di dalam Jakarta, batin saya.

“Saya kalau [daerah] kota, baru ini,” ia mencoba menjelaskan. Kamid menerangkan mengapa ia sampai kurang paham dengan daerah Sudirman.

Sebelumnya ia bekerja sebagai sopir perusahaan ekspedisi outsourcing. Ia mengaku hanya melewati jalan-jalan protokol, tidak sampai menelusuri jalur-jalur tikus dan gang.

Mobil Toyota Innova kami meluncur ke jalan protokol Sudirman. “Belok kiri, pak,” kata saya begitu kami berada di depan Sampoerna Strategic Building. Kami perlahan menuju ke Senayan dengan kecepatan rata-rata 30-40 km/ jam. Kondisi lalu lintas saat itu pun masih agak lancar. Kami bersiap untuk melewati bottleneck di depan kampus Unika Soegijapranata.

Ahok, "The Mad Man" of Jakarta, Tells Us More about His Views on Entrepreneurship and Jakarta (2- end)

ahokAhok previously touched on plurality and creativity as the nation’s potential.

He was again pissed off as he found out a shocking fact. Upon knowing it took several days for a letter to reach his working desk, he casually went curious and questioned his subordinates. “I want all of the letters for me came to me right away no matter what. How many people in charge of letters are there?,”Ahok recounted. Twenty five people were known to be in charge of it. We all can imagine how ineffective the bureaucracy of Jakarta has been and we somehow don’t think it’s too surprising but having 25 people to handle letters in an office for a governor is undoubtedly a waste of resources.

Needless to say, he was enraged at the inefficient approach. Ahok later opened a single desk for all letters written for him as the governor. He wants to read these letters as soon as they arrive. “I want no one from my staff filters any letters for me,”Ahok firmly stated.

He fervently wishes there will be more entrepreneurs a.k.a. job creators in town. And to attract more entrepreneurs and encourage them to set up businesses in Jakarta, Ahok conveyed a message of change to all of business folks: Jakarta is changing.

Ahok is deeply concerned about the low sense of trust grassroots give nowadays to public officials like him. And he knows to well he has to work hard to change it.

“All we (Jakarta) have is location, to be frank,” he spoke. If people have a creative idea, are trained, permitted to operate, they might as well get funded by the government. “We also subsidize fledgling entrepreneurs who need to exhibit their products or services.”

Under Ahok’s command, the government of DKI Jakarta has begun a local, culinary-focused business incubator at Monumen Nasional (Monas), Central Jakarta. There are 339 people (micro businessmen, street vendors) trained in the incubator. They were trained to cook and serve foods more hygienically and professionally. Once they have funds and want to expand, they should move out of the location.

Ahok can’t be fooled so easily. Some of the street vendors tried to take advantage of this facility generously provided for them. Ahok found out that these dishonest people sold their kiosks at Monas for 200 million rupiahs. They sold the space to others instead of truly running their culinary business there to come back to their hometown only to remarry women and build a decent house. And what happens next? These people come back to Jakarta and sell foods like what they did before the government trained and funded them.

“That’s why we now are really really stringent!” Ahok explained. Knowing Indonesian law enforcement is too weak to prevent such cases from recurring in the future, Ahok had an idea. A brilliant one, I should say. All these street vendors are to have ATM cards issued officially by Bank DKI as their identity cards. That way, any violations can be taken to court, only this time with more severe, more serious punishment. Ahok knows it’s against the law to
counterfeit ATM cards and if these street vendors – who have been trained, funded and provided a strategic space to run businesses – forge the cards, they should get prepared of being put behind bars for at least 12 years. “They said I’m so cruel. I said,’Now you all know!'”

He later emphasized Jakarta is the best opportunity for entrepreneurs. They provide one-stop service for handling the business permits. “No need to bribe. You can tell me if you’re told you must bribe,” he said. “I work for this, to have fights against all these violations. For the sake of you all.”

Ahok promised for entrepreneurs to give space to ‘show off’ products at Monas, which he assumes to be the most commercially attractive landmark of all. He is committed to help entrepreneurs who can produce something. To fund potential entrepreneurs, Ahok will push Bank DKI to provide more capitals for them.

Speaking of the traffic jam issue and city plan, Ahok likened Jakarta to Chicago in 1920’s. It was all chaotic and messy with buildings and properties erected with no certain guidance. To add to the mess, the traffic was worsening from time to time. Not to mention, the Chicago goverment was as corrupt as we all are now.

He also challenges all of Indonesian public officials to implement and ratify the United Nations advice on combatting corruption in the public government. He strongly advocates this idea to be applied in Indonesia. “But there needs to be raises in salaries at first,” he said in an understanding tone.

Thus far Ahok, apart from his being a minority, has managed to show his capability of working as a competent public official. Yes, he is blatant, overly outspoken most of the time, so outspoken he annoy and offend some. But as we all realize we really need this type of man to drag our people forward. This donkey needs to wake up and work his way up, stop complaining and start achieving. And Ahok is ready with his whip so the donkey stand up and start to run, to become a stallion, or even better, a unicorn flying to the sky.