Anomali Bernama Baduy (8)

Anak-anak Baduy tidak diperkenankan orang tua mereka untuk mengenyam pendidikan formal. Tak cukup di situ, mereka tidak disarankan menjadi terlalu pintar. (Foto: Tim Geo Tour/ Jalan- Jalan Baik)
Anak-anak Baduy tidak diperkenankan orang tua mereka untuk mengenyam pendidikan formal. Tak cukup di situ, mereka tidak disarankan menjadi terlalu pintar. (Foto: Tim Geo Tour/ Jalan- Jalan Baik)

‘LARANGAN’ PINTAR. Menjadi cerdas seolah sudah menjadi ambisi dan impian masyarakat modern. Kita diajarkan untuk menjadi makhluk yang haus informasi dan ilmu pengetahuan. Di mana-mana, kalau ada waktu, membacalah, begitu nasihat yang sudah tertanam dalam benak kita. Terus belajarlah sampai ke negeri China, begitu bahkan petuah dari agama. Dari segala arah, manusia modern sudah dibentuk sedemikian rupa untuk terus bersaing dan menyempurnakan kecerdasan mereka.

Lain halnya dengan orang-orang Baduy, terutama Baduy Dalam. Alih-alih mendidik anak-anaknya agar sepintar mungkin, masyarakat Baduy lebih memilih untuk memberikan kesempatan belajar secukupnya dan membatasi agar jangan sampai terlalu cerdas.

“Karena saat seseorang terlalu pintar, ia bisa membohongi orang lain,” ujar jaro.

Saya termangu. Ada hal-hal yang dianggap sebagai penderitaan, atau ketertinggalan yang bukannya dihindari tetapi malah dipilih secara sadar dan tanpa paksaan oleh orang, atau dalam kasus ini, sekelompok orang. Dan saya tidak bisa menghakimi ini sebagai suatu kepandiran. Ini pilihan hidup mereka dan kita sebagai orang luar mestinya menghargai.

PERMUKIMAN. Permukiman orang Baduy tidak stagnan, atau sama dari waktu ke waktu. Seperti halnya masyarakat lain yang dinamis, permukiman Baduy juga terus berubah-ubah dalam banyak aspek. Mengenai jumlahnya, ternyata bisa terjadi pertambahan sesuai kebutuhan.

Satu rumah yang dibangun bisa berisi satu atau dua keluarga. Sebuah rumah yang saya tempati satu malam bersama teman-teman serombongan juga dihuni satu keluarga besar yang kebetulan adalah keluarga Damin, salah satu anak laki-laki yang turut berjalan kaki bersama kami membawakan barang bawaan. Di akhir pekan seperti sekarang mereka menyewakan ruangan luar rumah sederhana berdinding anyaman bambu dan beralas tikar anyam itu dengan traif sukarela. Jadi, kalau bisa dikatakan mereka mirip host di layanan AirBnB. Jumlahnya mungkin tidak seberapa jika dibandingkan penghasilan manusia urban tetapi toh jumlah sebesar itu bisa menghidupi sebuah keluarga dengan 8 anak seperti di keluarga ini.

Sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia, papan juga menjadi fokus penting dalam kehidupan masyarakat Baduy. Biaya pembangunan setiap rumah di perkampungan Baduy diperoleh dari si pemilik rumah. Mereka harus menyiapkan materialnya yang sebagian besar adalah bambu, kayu keras dan dedaunan. Namun, untuk tenaga, pemilik dibantu oleh warga lain juga dalam proses pendiriannya.

Yang unik, dalam bangunan rumah dan apapun di suku Baduy Dalam, penggunaan paku sama sekali dilarang. Sehingga yang kita bisa jumpai di rumah-rumahnya hanyalah pasak kayu atau penyusunan bahan yang lebih taktis untuk mengakali ketiadaan paku sebagai perekat antarelemen bangunan. Suku Baduy Luar lebih fleksibel perkara paku. Bangunan rumah mereka masih diperbolehkan memakai paku.

KEBERSIHAN DIRI. Salah satu sumber frustrasi para wisatawan urban di daerah ini ialah larangan tegas untuk menggunakan bahan-bahan pembersih badan dan rambut yang mengandung zat dan senyawa kimiawi buatan pabrik. Larangan tersebut bukannya tanpa alasan. Selain karena memang bungkus plastik kemasannya bisa menambah gunungan sampah plastik di alam terbuka, air bilasan dari penggunaan produk-produk perawatan semacam itu juga bisa mencemari lingkungan. Saya sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika larangan itu tidak ada, padahal sungai menjadi satu-satunya andalan kami dalam berbagai urusan mandi, cuci, sampai kakus!

Tetapi karena adanya larangan tegas tersebut, saya yang terbiasa mandi di ruangan tertutup dan air bersih yang sudah disedot sedemikian rupa dari dalam perut bumi, bisa juga menikmati sesi mandi di alam terbuka dengan air mengalir di permukaan tanah tanpa ada rasa cemas yang berlebihan jika ada kotoran atau hal-hal semacamnya. Air yang mengalir begitu bersih dan jernih serta alirannya konstan. Tidak ada kotoran yang tertahan. Jikalau ada butiran pasir atau tanah pun bisa dibilas lagi.

Sebagai pengganti shampo dan sabun, masyarakat Baduy memakai bahan-bahan alami dari dedaunan untuk membersihkan diri. Untuk pengganti sikat gigi, sang jaro mengatakan sabut kelapa bisa dipakai membersihkan gigi. Daun hejo juga dapat dipakai untuk mencuci rambut.

Perkara perapian rambut, masyarakat Baduy tidak mengenal gaya rambut yang bermacam-macam. Mereka juga tidak mengenal adanya profesi penata rambut (hair stylist) atau juru potong rambut (barber). Dalam pengamatan saya, pria-pria Baduy memilih membiarkan rambut mereka tergerai sepanjang telinga atau bahu. Tidak lebih dari itu. Sementara para perempuan memanjangkan dan memelihara rambut mereka sampai ke pinggang. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (7)

(Credit: Cecep)
Di rumah keluarga inilah saya menginap dan mereka selalu mendahulukan kami waktu makan. Begitu kami selesai makan, baru mereka makan. Jadi, siapa bisa tega untuk menambah lagi?(Credit: Cecep)

Malam saat kami beranjak tidur memang tidak begitu dingin. Namun, begitu lepas tengah malam hingga dini hari dan subuh, hawa dingin merasuk melalui lubang-lubang di dinding rumah Baduy yang terbuat dari anyaman bambu. (B)untung bagi saya, di atas saya, sebuah lubang di dinding bambu menganga cukup lebar. Jaket bisa membendung hawa dingin pegunungan ini dari pinggang ke atas tetapi kaki saya resah bergerak ke sana kemarin mencari kehangatan karena cuma berbalut celana pendek dan sarung yang terlampau tipis.

Pukul setengah lima, saya biasa terbangun tetapi di sini, saya memutuskan bangun lebih lambat. Faktor suhu salah satu alasannya. Yang lain ialah perkara cahaya. Sepagi itu, rasanya masih riskan untuk keluar sendirian. Semua orang masih mendengkur dan berbaring meringkuk di tikar jerami anyaman wanita-wanita Baduy. Saya tidak tahu apa yang ada di luar sana karena bahkan di dalam rumah, kondisinya pekat seluruhnya. Pembaringan saya di pojok ruangan membuat saya harus berjuang melompati banyak orang jika ingin bangun lebih pagi.

Kepala yang masih setengah mengantuk ini kemudian tak jadi tidur nyenyak lagi sebab tak berselang lama, seorang bayi menangis, meraung-raung dan seorang ibu menenangkannya dengan bicara lirih-lirih. Suara mereka begitu jelas jadi saya duga mereka ada di rumah sebelah. Rupanya ini alarm dari Yang Kuasa, pikir saya. Tetapi saya tetap tidak bisa bangun, hanya terpaku dan memejamkan mata menikmati kesadaran di sini, di lantai bambu sebuah rumah yang hanya dialasi tikar dan dikelilingi anyaman bambu dan dilingkupi atap ijuk. Saya menunggu ada orang di rumah ini yang terbangun. Tetapi semenit, dua menit, kemudian tak tahu berapa lama, karena putus asa, saya tertidur juga kembali begitu bayi itu tenang kembali.

Kami mengawali hari dengan yoga sekitar pukul 7 pagi. Dan sarapan pagi nasi goreng dengan telur dadar langsung meredam rasa lapar ini. Beberapa suap terakhir masih tersisa di piring saya hingga jaro atau kepala kampung adat di Cibeo menyambangi kami. Ia tampak sebagaimana pria Baduy Dalam biasa. Pakaiannya mirip dengan yang lain sehingga jika saya bertemu dengannya lagi kapan-kapan, saya pasti tidak bisa mengenalinya lagi dalam sekumpulan pria Baduy.

Bersamanya, kami duduk di beranda kembali. Saya buru-buru mencuci tangan lalu mengambil buku catatan saya dan merangkum percakapan kami. Dengan sabar, jaro menjawab pertanyaan-pertanyaan kami yang  kritis, iseng, dan kadang ‘gila’. Untuk tiap topik, saya berikan subjudul tersendiri di bawah ini.

__***__

FAUNA. Sesaat setelah lolos dari ujian terberat Tanjakan Cinta siang itu, pemandu kami Teguh berceletuk,”Di atas tidak akan ada hewan berkaki empat.” Yang ia maksud “di atas” tentu wilayah suku Baduy Dalam.

Tidak pernah terpikir oleh saya mengapa ada kondisi ganjil semacam itu. Apakah memang tidak ada hewan berkaki empat yang sanggup mendaki sampai sejauh kami? Hipotesis itu tentu kurang bisa diterima akal sehat karena binatang-binatang itu dapat dengan lebih mudah menjelajah alam bebas seperti bukit-bukit ini jika mau daripada manusia yang lebih banyak pertimbangannya. Dan apa yang Teguh maksud dengan binatang berkaki empat? Ia menjelaskan hewan yang dimaksud ialah sapi, kambing, kerbau dan hewan-hewan ternak sejenisnya.

Betul juga. Begitu kami memasuki perkampungan Suku Baduy Dalam di Cibeo, tidak saya jumpai seekor pun hewan-hewan ternak berkaki empat. Hanya saja, ayam-ayam berkeliaran bebas di sana-sini.

Jaro atau lurah kampung Baduy Dalam yang kami kunjungi ini membeberkan jawabannya pada kami. Dalam sebuah kesempatan, sang jaro ini bersedia duduk bersama kami untuk beraudiensi, layaknya seorang walikota atau gubernur yang menyambut tamu-tamu kehormatan dari negeri asing. Usai makan pagi nasi goreng yang berhias telur dadar yang dibuat oleh ibu pemilik rumah yang kami inapi satu malam, pria yang sudah menjabat sebagai jaro selama 25 tahun terakhir ini duduk di beranda rumah yang terbuat dari bambu dan dengan sabar menanggapi semua pertanyaan dan masukan dari para pendatang.

Dalam balutan pakaian khas berupa kemeja lengan panjang yang putih agak kecokelatan akibat waktu, jaro kampung Cibeo ini mengatakan bahwa hewan-hewan pemamah biak yang disebutkan tadi berpotensi menjadi hama pengganggu bagi tanaman padi yang sudah susah payah mereka tanam. Kucing menjadi satu pengecualian. Pertama karena ia bukan hewan pemamah biak yang gemar melahap rerumputan termasuk padi-padian. Kedua ialah karena kucing dianggap suku Baduy Dalam sebagai satwa domestik yang bermanfaat untuk mengusir tikus dari rumah. Saya sendiri belum sempat menemukan seekor tikus pun di sekitar permukiman ini. Entah karena saya beruntung atau bagaimana. Tetapi itu juga menjadi sebuah kelegaan, karena jika tikus jarang ditemui di sekitar perkampungan, ular pun akan lebih jarang, karena jika kita masih ingat pelajaran rantai makanan dalam pelajaran biologi, tikus adalah makanan ular. Jadi, adanya kucing secara alami mengendalikan – kalau tidak bisa dikatakan memusnahkan – secara tidak langsung populasi ular di sekitar perkampungan. Saya sendiri tidak bisa membayangkan jika saat mandi di sungai ada ular yang tiba-tiba berenang menuju ke arah saya. Untuk perkara mandi di sungai, akan saya bahas tersendiri juga nanti.

Pertanyaan tidak terhenti di situ. Bagaimana dengan anjing? Anjing memang kami sempat temukan di wilayah kampung Baduy Luar meskipun jumlahnya juga tidak sebanyak yang kita bisa temukan di Bali. Tetapi anjing-anjing itu berkeliaran bebas. Tidak dikungkung atau diikat oleh pemiliknya sebagaimana yang dilakukan orang di perkotaan Jawa. Di sini, saya duga karena suku Baduy tidak memeluk Islam, mereka lebih liberal dalam menyikapi kehadiran anjing di sekitarnya.

Jaro kami ini juga mengamini bahwa orang Baduy tidak menyingkirkan anjing dalam kampung mereka. Justru anjing diperlukan karena bisa memberitahukan pada mereka bahwa ada manusia atau hewan yang tidak mereka kenal atau berniat buruk yang masuk ke wilayah rumah sang majikan. Aspek keamanan ini begitu penting sebab manusia Baduy tinggal di tengah hutan, tempat banyak potensi bahaya juga tersembunyi.

Ayam menjadi ternak kesukaan orang Baduy Dalam sebab hewan ini tidak peduli dengan tanaman padi yang menjadi sumber pangan utama. Mungkin ayam suka dengan beras, tetapi saat masih dalam bentuk padi, kecil kemungkinan ayam ingin mematukinya untuk memenuhi tembolok.

Karena itu, dalam berbagai kesempatan seperti hajatan, kematian, dan peristiwa penting lainnya dalam kehidupan manusia Baduy, daging ayam potong segar yang dipelihara secara organik (karena suku Baduy sama sekali tidak memakai pupuk buatan kimiawi buatan pabrik di sawah mereka) menjadi hidangan andalan. Jumlah ayam yang dipotong untuk perhelatan besar semacam itu bisa mencapai 500 ekor.

Uniknya, di kampung Baduy ini, ayam-ayam yang ada dibiarkan berkeliaran bebas. Memang ada yang dikandangkan tetapi lebih banyak yang tidak. Ayam-ayam itu kata sang jaro sudah diketahui siapa pemiliknya. Tanpa harus memberi label atau tanda pada bulu di sayapnya. (bersambung)