Mentalitas Korban

Menara Eiffel tampak megah dalam lukisan antik Georges Garen. Paris dicabik dua tragedi berdarah tahun ini. (Sumber foto: Wikimedia Commons)

Di kota ini, sinar mentari baru tercurah deras, tetapi di sebuah tempat yang jaraknya setengah putaran bumi sana, malam justru tengah berada di puncaknya. Ia mengaku baru saja usai berlatih. Sebagai penyanyi opera profesional, ia mesti melakukannya saban hari agar bakatnya tak berkarat terlampau cepat. Saya sarankan ia cepat terlelap saja, karena begadang bisa membuat kinerja pita suara menurun.

Namun, ia masih sempatkan mengobrol singkat di jendela aplikasi percakapan ini. Ia meyakinkan saya dirinya masih baik-baik saja. Utuh, tanpa secuilpun daging di tubuhnya yang terkena berondong senjata berapi para pelaku teror itu. Saya sendiri baru mengetahui tragedi itu di Facebook di sebuah Sabtu pagi yang cerah di sebuah beranda panjang dengan hamparan rumput hijau di depan mata. Statusnya tak lazim. Ternyata itu status khusus bagi pengguna yang kebetulan tinggal atau berada di lokasi kejadian.
Tak banyak yang ia bisa ceritakan tentang kejadian tragis yang menggemparkan seluruh dunia itu, ucapnya. “Saya sedang di rumah,” kata pria 32 tahun yang tinggal di apartemen di kawasan tengah ibukota mode global itu lagi. Ia sedang belajar, tetapi bukan untuk bersiap mengikuti ujian sekolah atau kuliah. Masanya sudah lewat. Ia bersiap untuk bernyanyi di sebuah opera di Algeria dalam waktu dekat ini. “Banyak berlatih sekarang,” imbuhnya dengan penuh syukur. Jika saja ia tidak sesibuk itu berlatih, ia mungkin akan berjalan-jalan ke luar apartemen dan mungkin kembali dalam sebuah peti mati yang akan dikirim ke keluarganya yang tinggal di kawasan hutan Amazon sana. Kali ini ia amat beruntung.
“Saya benar-benar tinggal di Central Paris,” tulisnya. Sejurus kemudian ia unggah sebuah peta dengan koordinat tertentu dari Google Maps. Ia percaya saja pada saya meski kami baru sekali bertatap muka.
Jarak apartemennya dengan lokasi kejadian hanya 10 menit dengan naik Metro (jaringan kereta bawah tanah) di ibukota Prancis itu. “Dengan naik itu, tak ada yang jauh di sini.” Sungguh terbalik dengan Jakarta ini.
Memiliki televisi rupanya ada untungnya juga. Ia tahu kejadian itu dari siaran televisi malam naas. “Suasananya sepi sekali di pusat kota saat itu. Seolah tidak ada orang yang mau berpesta lagi,” ia gambarkan kondisinya saat itu.
Ia tidak takut dengan teror itu. “Saya tak takut kematian”, ujarnya tanpa saya tanya,” Jadi saya keluar apartemen keesokan harinya tetapi metro dan bus sungguh sepi dan kosong. Jalanan juga. Hampir tidak ada orang yang keluar. Sangat sangat sedikit yang keluar. Hari Minggu — dua hari setelah tanggal 13 hari Jumat itu — orang-orang mulai keluar rumah.”
Ibunya baru saja berkunjung ke apartemennya. Mereka berkunjung ke sekitar Eiffel, lalu melancong ke Venesia. Setidaknya begitulah menurut foto-foto yang ia pamerkan. Di dalam sebuah foto, ia duduk berdampingan dengan sang bunda di sebuah siang di musim gugur yang cerah. Langit biru menaungi menara terkenal itu dan taman di sekitarnya.
Tak Semua Harus Difoto dan Disebarkan
Saat saya meminta foto-foto Paris tepat setelah tragedi itu, ia mengaku tak mengambil foto sama sekali. “Buat apa, sudah banyak orang yang melakukannya.”
Saya maklum. Sudah banyak orang yang membahas kekejaman itu di media. Di mana-mana. Tampaknya ia sudah bosan juga dengan perdebatan dan percakapan panjang lebar yang makin jauh dari esensi.
Ia malah unggah fotonya saat menikmati perjalanan kerjanya di Tenerife. Saya menangkap kesan ia mengelak secara sangat halus dan sopan dari pembahasan yang tak kunjung usai perihal hal-hal yang berdampak negatif bagi jiwa. Ia seorang seniman, dan begitulah ia merayakan hidup: menikmati setiap saat indahnya dan melepaskan keburukannya.
Karib saya ini bisa saja mengambil dan mengunggah foto-foto suram itu ke dunia maya untuk mengabarkan pada dunia mengenai kondisi Paris yang sekali lagi terkoyak tragedi. Namun, ia memilih untuk menahan diri dan menyudahi gelombang energi negatif itu hanya pada dirinya.
Saya menghargai pilihannya. Saya tahu itu melelahkan. Seperti berdiri bergetar karena terguncang di sebuah pemakaman orang yang kau sayangi lalu kau harus menjawab satu persatu pertanyaan orang yang datang. Ada kalanya pertanyaan “mengapa, kapan, bagaimana ini bisa terjadi?” bisa diabaikan dan disimpan untuk sementara, atau selama-lamanya.
‘Bangga’ sebagai Korban
Mentalitas korban atau yang disebut “victim mentality” menyeruak di mana-mana saat ini. Sebagian orang berlomba-lomba untuk membuat dirinya sendiri seolah-olah tampak sebagai korban dari tindakan negatif orang lain dan menggunakan berbagai cara, baik isyarat, verbal maupun perbuatan untuk membenarkan pemikirannya itu. Bahkan jika bukti yang kuat tidak berhasil ia temukan untuk menyokong gagasannya itu.
Orang-orang ini makin mendapatkan tempat dengan luasnya akses menuju ke jejaring sosial. Saya sendiri pernah mendapatkan seorang teman di Facebook yang mengunggah secara sengaja foto-fotonya yang menunjukkan ‘darah’ dan ‘luka’ yang ia derita. Ia tampaknya berharap agar makin banyak orang memberikan simpati dan belas kasihan padanya, karena foto-foto tadi ia tambahi dengan keterangan (caption) yang membuat hati teriris.
Yang lain mengunggah status dari kejadian-kejadian malang dari kehidupan pribadi sehari-harinya. Tidak masalah sebenarnya asal ada pelajaran yang bisa dibagikan pada yang membaca atau menikmati konten unggahannya. Akan tetapi jika isinya hanya bersifat berbagi penderitaan tanpa adanya nilai plus dan hikmah yang bisa dipelajari, buat apa? Belum tentu orang yang membacanya akan bersimpati, malah justru akan berbalik menduganya ingin mencari perhatian.
Mentalitas ini diduga keras dipelajari, bukan turunan. Misalnya dari anggota keluarga lainnya atau situasi tertentu yang pernah menimpa seseorang di masa kecilnya. Fenomena psikologis ini berbeda dari sifat-sifat lain yang lebih banyak diteliti ilmuwan, seperti neurotisisme dan psikotisme yang memiliki akar genetis dan biologis yang lebih nyata dan kuat. Neurotisisme bisa didefinisikan sebagai ketidakstabilan emosional secara umum atau kecenderungan berlebihan dalam mengalami emosi-emosi negatif. Psikotisisme bercirikan perasaan memusuhi yang di luar kewajaran dan agresi.
Lomba Merebut Simpati
Setelah keriuhan yang berlangsung di media dan jejaring sosial perihal simpati yang timpang antara Barat dan Timur selama beberapa saat, rasanya lomba merebut simpati itu mirip dengan mentalitas korban ini. Sebagian orang langsung ‘merengek’ dengan hujatan saat Paris dianakemaskan oleh media dan jejaring sosial besar seperti Facebook.
Sayangnya semua kericuhan itu mengalihkan perhatian kita dari esensi masalahnya. Terlalu ribut perihal kulitnya, sampai kacangnya dibiarkan busuk tidak termakan.
Kalau sudah mendapatkan semua simpati itu, apakah masalah akan terpecahkan begitu saja? Tidak semudah itu.
Apalagi jika simpati itu cuma disampaikan dalam bentuk like di Facebook dan komentar ‘amin’ di bawah foto-foto mengenaskan. Saya selalu tidak habis pikir mengapa ada orang-orang yang tega mengunggah foto dan konten semacam itu untuk menarik keuntungan pribadi. Dan yang lebih mengherankan, ada saja orang yang juga terbius membagikannya di dinding dan linimasa akun jejaring sosial mereka. Mungkin mereka belum tahu bahwa itu hanya akal-akalan para pebisnis daring yang ingin menaikkan jumlah likers di fanpage Facebook mereka agar supaya bisa berjualan barang dagangan dengan menjangkau lebih banyak orang dengan biaya nol. Semua itu dengan mengeksploitasi penderitaan orang lain.
Sudah saatnya kita berhenti untuk berlomba memenangkan gelar “yang paling menderita dan merana di dunia”. Karena semua orang punya penderitaan mereka sendiri.

Jagonya Coklat yang Keok

‎Menemukan coklat Cap Jago bagi sebagian orang adalah sebuah bentuk nostalgia penuh makna. Persetan dengan rasa atau kualitas coklatnya. Brand ini memang bukan mengenai sensasi eksklusif atau mahal. Dengan harga yang begitu terjangkau bahkan bagi anak-anak sekolah dua dekade lalu, produknya tidak berbahan dasar coklat bermutu super tinggi dari Belgia, atau dikemas dengan material pembungkus yang ‘wah’. Kesan merakyat memang menjadi nilai jualnya.

Kesetiaan pelanggan coklat Cap Jago rupanya masih belum luntur jua. Pagi ini di Facebook, saya kebetulan temukan sebuah fanpage. ‎Coklat Cap Jago, begitu namanya. Trenyuh, karena di dalamnya saya tidak menemukan ada informasi menarik apalagi interaksi yang terbangun apik antara si pembuat laman dan para liker. Seorang di antara mereka meninggalkan pesan yang bernada nostalgia. Ia menyebut keakrabannya dengan brand coklat ini semasa kecil. Ada lagi yang membeli coklat itu dalam jumlah banyak. Mungkin ia akan menjualnya lagi. Sementara itu, ada seseorang yang tampaknya seorang mahasiswa yang tertarik mengangkat riwayat coklat Cap Jago dalam karya akademiknya.

Sayangnya, tak ada jawaban.

Ada keriaan tersendiri memang begitu kita menemukan sesuatu dari masa lalu kita hadir juga akhirnya di jagat maya. Sesuatu yang mengingatkan kita pada era pra-Internet, zaman pra-smartphone, yang ironisnya ikut tersedot pula ke layar perangkat kita.

Jikalau saya mendapatkan kesempatan dan wewenang PENUH (karena bagi saya akan sukar jika bekerja dengan penuh campur tangan) untuk menjadi pengelola ‎fanpage Coklat Cap Jago ini, saya akan pastikan semua cerita nostalgia itu menjadi kekuatan yang utama bagi kebangkitan brand ini. Its strength really lies in the brand’s story.

Taktik Social Media Terkeji yang Pernah Saya Temui

Screen Shot 2014-12-05 at 09.24.55Demi mengumpulkan likers di Facebook, sekelompok orang picik menggunakan foto-foto janin bayi yang dibuang. Di bawahnya, ada lagi foto bayi yang terlahir belum sempurna dan tampaknya tak bergerak, meninggal, dengan seorang pria yang mungkin ayahnya menggendong tertunduk.

Lalu seseorang menuliskan kalimat:
“”MOHON AAMIINKAN SAHABATKU”

Jangan abaikan gambar ini !!
Bagi yang melihat gambar ini,
sempatkanlah diri untuk
menulis ”AAMIIN” di ruangan komentar..
Bayi dengan ari-ari ini dibuang oleh orang tuanya.
1 like = insya Allah 10 kebaikan
1 BAGIKAN = insya Allah 100 kebaikan

Semoga anak ini khusnul khotimah dan masuk surga Allah. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin

Tuliskan kata “Aamiin” di Komentar, Semoga Allah mengabulkan Do’a kita Semua “MOHON AAMIINKAN SAHABATKU” Jangan abaikan gambar ini !! Bagi yang melihat gambar ini, sempatkanlah diri untuk menulis ”AAMIIN” di ruangan komentar.. Bayi dengan ari-ari ini dibuang oleh orang tuanya. 1 like = insya Allah 10 kebaikan 1 BAGIKAN = insya Allah 100 kebaikan Semoga anak ini khusnul khotimah dan masuk surga Allah. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin Tuliskan kata “Aamiin” di Komentar, Semoga Allah mengabulkan Do’a kita Semua”

Anda bisa temukan itu di grup “Facebook Toko Online Termurah” (https://www.facebook.com/groups/772058849518942/?fref=nf).

Yang saya tidak habis pikir ialah bagaimana mereka mengeksploitasi musibah menjadi penarik lebih banyak anggota di grup tersebut.

Dan yang saya heran lagi, banyak yang like dan mengucapkan AMIN!

Daripada Anda like status dan foto seperti itu, laporkan saja ke Facebook supaya dihapus.

Tampilan Baru Hootsuite Lebih Segar di Mata

Dasbor platform pengelola akun jejaring sosial Hootsuite versi web mendapatkan perombakan yang lumayan signifikan kali ini. Perbedaan yang paling menyolok adalah ukuran font yang makin besar dan spasi antara satu tweet dan yang lain yang jauh lebih lapang. Efek dari semua itu ialah lebih lapang dan segar bagi mata.

LinkedIn Buktikan Blogging Tidak Akan Pernah Mati

‎Saya benci judul yang terlalu bombastis, tetapi untuk kali ini saja, saya pikir saya HARUS. Kalau diedit menjadi lebih lunak, judul di atas akan berbunyi:”LinkedIn Buktikan Blogging Masih Perlu”. Seperti itulah.

Hari ini saya resmi menulis blog di sini selama 4 tahun persis. Sebuah pencapaian pribadi yang cukup membanggakan, bagi diri sendiri setidaknya. Kalau orang aktif selama bertahun-tahun di Facebook, Twitter atau Google Plus mungkin terdengar hebat. Tetapi yang lebih hebat lagi adalah menulis blog selama bertahun-tahun tanpa lelah mengenai tema tertentu. Saya bukan sedang membanggakan diri dan blog ini. Sama sekali tidak. Blog ini bukan blog profesional. Lihat saja domainnya. Temanya saja gratis. Hosting cuma-cuma. Semua gratis. Tema-tema tulisannya tidak menentu. Kadang yoga, kadang social media, kadang jurnalisme, kadang pepesan kosong, sesekali politik, fiksi, dan sebagainya. Saya kadang cuma mengunggah gambar tanpa teks atau cuma sebuah video dengan penjelasan singkat. Benar-benar tanpa perencanaan. Semuanya spontan saja.

Tetapi awal mula bersentuhan dengan dunia blogging adalah tahun 2009. Tahun itu menandai lebih intensnya saya menekuni blogging. Waktu luang yang melimpah, sebuah laptop dan modem dial-up Smart yang berkecepatan siput berhasil membuat saya kecanduan blogging. ‎Dari bangun pagi hingga dini hari, sering saya terpaku di kursi untuk menulis. Sembari bermain jejaring sosial Twitter dan Facebook, saya pastikan blog saya terisi tulisan baru yang kemudian siap saya promosikan dengan blogwalking (membaca, meninggalkan komentar dan berdikusi dengan blogger lain).

Hari ini pula saya diundang oleh LinkedIn untuk mempublikasikan konten saya di sana. Rupanya, usut punya usut LinkedIn sudah mulai memfasilitasi aktivitas blogging juga sejak beberapa waktu lalu. Mereka tampak bertekad memupuk tingkat kekayaan dan keragaman konten di sini. Kalau bisa saya bandingkan, fitur ini mirip notes di Facebook secara sekilas. Menulis blog di LinkedIn lebih mudah sehingga cocok bagi siapa saja yang merasa gagap teknologi.

Apa yang dilakukan LinkedIn ini bagi saya menjadi pembuktian bahwa blog tidak akan pernah usang. Inilah ‘fitrah’ para pengguna Internet, yaitu membangun interaksi dan tidak ada yang lebih mengasyikkan daripada berbincang dengan teman akrab di rumah kita sendiri. Rumah itu adalah blog. Anda bisa membangun koneksi di mana-mana, berkenalan dengan orang baru di berbagai tempat di seluruh penjuru dunia tetapi mereka yang istimewa pastilah menyempatkan diri ke rumah Anda, blog Anda.

IMG_3469.PNG

Membahas Strategi Kampanye Digital Obama dalam Pemilu

Tim kampanye digital Obama paparkan strategi mereka. (Image credit: Wikipedia)

Tim Obama di kampanye tahun 2008 mengumpulkan lebih dari 500 juta dollar dari sekitar 6,5 juta pendonor online. Ini menjadi yang pertama terjadi dalam sejarah di sana. Dan laman Facebook Obama mendapatkan 3,5 juta penyuka (likers). Naiknya Obama ke pentas politik AS melalui bantuan kanal jejaring sosial ini menjadi sorotan banyak pihak karena mampu menunjukkan bagaimana jejaring sosial mampu mengubah wajah birokrasi dan pemerintahan sebuah negara besar, sebuah fenomena yang juga terjadi di tanah air kita Indonesia.

Dalam tulisan ini, saya akan merangkum pemikiran-pemikiran menarik dari Joe Rospars yang pernah menjabat sebagai Chief Digital Strategist dalam kampanye “Obama for America” yang menurut saya menarik untuk dipelajari dan menjadi catatan bagi Anda yang memiliki ketertarikan khusus dalam dunia jejaring sosial (social media).

Jejaring sosial bagi Rospars adalah pengelolaan komunitas (community organizing). Komunitas ini bukan buatan, tetapi organik. Dan mereka benar-benar ada dalam realita. Ini lebih mengarah pada jati diri Obama sebenarnya dan bagaimana Obama dalam kehidupan publik. Rospars memiliki tugas untuk mengedukasi para pendukung Obama bahwa Obama sendiri sudah memiliki rekam jejak positif dalam masyarakat AS sejak ia menolak posisi dengan bayaran tinggi untuk bekerja di Chicago sebagai community organizer. Ia berupaya untuk memberikan bantuan bagi masyarakat akar rumput yang membutuhkan dalam hal ekonomi dan hak sebagai warga negara. Obama muda ingin agar masyarakat menjadi pemimpin bagi diri mereka sendiri. Masyarakat diajak untuk memahami permasalahan dalam diri mereka agar bisa mengatasinya kemudian sehingga kemudian bersatu untuk berupaya mewujudkan perubahan nyata. Tim digital campaign pimpinan Rospars berusaha menyampaikan hal ini pada para pendukung Obama melalui Facebook.

Salah satu alasan mengapa kampanye digital Obama ini begitu sukses ialah dukungan yang diberikan oleh sang pasangan, Michelle Obama. Menurut Michelle (sebagaimana dikutip dari Rospars), ia “ingin melakukan ini (berkampanye via jejaring sosial -pen) tetapi ingin melakukannya dengan cara yang benar”. Community organizing kemudian menjadi semangat dalam kampanye digital Obama.

Obama termasuk sukses dalam menggalang dukungan dari masyarakat luas melalui penyaluran donasi ke rekening tertentu. Strategi itu menjadi salah satu strategi untuk mengatasi kurangnya koneksi Obama ke kalangan politisi di seluruh AS sekaligus mencari dukungan untuk menghadapi tantangan-tantangan yang makin besar. Obama membangun komunitas yang terdiri dari masyarakat akar rumput dari nol secara organik. Inti strategi dan pendekatan emosional tadi.

Rospars mengatakan banyak dijumpai kendala dalam mengubah jejaring sosial dan teknologi untuk mempengaruhi hasil pemilihan presiden saat itu. Kendala utama pertama ialah strategi digital masih (bahkan hingga saat ini) dianggap sebagai pelengkap (cuma ‘nice to have’, bukan ‘must have’), atau sesuatu yang hanya bisa dimainkan oleh para petinggi perusahaan atau kalangan penyuka teknologi namun bukan hal yang dianggap penting dalam berhasil tidaknya sebuah kampanye. Maka dari itu, percuma saja memiliki banyak pengikut dan penyuka di jejaring sosial tetapi tidak ada pengaruh positif yang signifikan pada performa di kehidupan nyata. Pasti ada yang salah, tandas Rospars.

Kendala utama kedua ialah bagaimana membuat teknologi yang memudahkan, bukan mempersulit, masyarakat yang ingin mendukung Obama untuk menyatakan dukungan dan mengajak orang lain berbuat sesuatu demi kemenangannya nanti di pemilihan. Rospars melakukan kampanye digitalnya dengan membangun sebuah platform yang terintegrasi dengan database kampanye dan organisasi terkait dan menghubungkannya dengan Facebook.

Yang menarik ialah tim ini berusaha untuk tidak hanya memberikan kesan bahwa Obama memiliki kepekaan terhadap kemajuan teknologi, terlibat aktif dalam interaksi dengan komunitas yang ada di dalamnya tetapi juga memfokuskan diri pada bagaimana melibatkan orang-orang awam dalam proses politik yang berlangsung saat itu untuk meyakinkan mereka bahwa suatu perubahan positif akan terjadi jika mereka mau bahu-membahu bersama memilih Obama.

Teddy Goff (Digital Director kampanye “Obama for America”) menjelaskan tim kampanye digitalnya terdiri dari staf kreatif, desainer, developer web, video, penulis, social, mobile, email, iklan. Masing-masing memiliki manajer proyek sendiri. Kemudian yang tidak kalah penting ialah analytics.

Elemen AUTHENTICITY atau ketulusan menjadi hal yang penting dalam kampanye digital mereka. Bagaimana hal ini bisa diwujudkan? Berikanlah akses pada orang awam menuju sosok nyata yang tidak bisa mereka jumpai secara tatap muka, misalnya Obama, istrinya, Joe Biden, dsb.

Email pun dijadikan sebagai salah satu alat menjangkau pendukung. Bentuknya yang konvensional dan sederhana memudahkan lebih banyak orang mengaksesnya. Isinya sebisa mungkin mencerminkan karakter orang yang diwakilinya. Dalam contoh yang diberikan Goff, Joe Biden tinggal menyetujui sebuah komposisi tulisan untuk disebarkan via email. Dan tulisan itu mencerminkan kepribadian dan pesan yang ia ingin sampaikan. Saat orang membacanya, diharapkan akan terbangun hubungan yang tulus dan nyata.

Elemen lainnya yang sama pentingnya ialah TRANSPARANSI. Saat menerima dan mengumpulkan sumbangan dana tunai dari berbagai pihak yang menyatakan dukungan, tim kampanye digital Obama kemudian menyusun sebuah infografis berdasarkan data faktualnya untuk disajikan secara terbuka di Internet. Ini membuat orang lebih bisa memahami bahwa sumbangan mereka, tidak peduli berapapun jumlahnya, adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar. Dan sensasi kepuasan dan kebanggaan menjadi bagian dari sebuah gerakan menuju perubahan yang berskala masif dan luas itu sungguh tidak tertandingi, apalagi jika Anda warga akar rumput yang kerap termajinalisasi.

Elemen selanjutnya ialah ENGAGEMENT, atau hubungan timbal balik yang terbangun antara berbagai pihak yang ada di dalam kampanye digital ini. Interaksi dua atau banyak arah menjadi suatu hal yang krusial di sini. Agar lebih banyak orang yang mau bergabung, tim kampanye digital Obama membuat berbagai strategi yang ditujukan bagi mereka yang akab dan melek teknologi, misalnya dengan membuat kalender elektronik yang bisa diintegrasikan dalam iCalendar atau Google Calender pribadi pendukung yang ingin menyumbang tenaga menjadi relawan.

STORYTELLING menjadi elemen terakhir yang turut berkontribusi dalam keberhasilan kampanye digital Obama. Kisah hidup Obama sendiri memang sudah menarik, tetapi itu saja belum cukup.

Tim ini juga harus cerdik dalam mengemas pesan yang ingin mereka sampaikan. Kreativitas tinggi dibutuhkan agar pesan itu dapat diterima oleh masyarakat dengan lebih baik atau yang kita bisa katakan mengena atau ‘nyambung’. Tim tersebut berbicara dalam bahasa orang yang mereka ajak bicara dengan merilis sebuah video jenaka yang kemudian dipublikasikan dan beredar secara viral di Twitter dengan tagar # youngerthanmittspoliticalcareer, yang isinya menyindir pernyataan rival Obama, Mitt Romney, yang berkata bahwa dirinya bukan politisi karir.

Being fun, being real, showing personality” menjadi motto mereka dalam berinteraksi dengan para pendukung Obama di jejaring sosial dalam bahasa yang mereka sukai dan pahami.

Penting juga untuk mengemas satu pesan untuk disajikan dalam berbagai format. Mengapa? Agar lebih banyak swing voters (mereka yang belum menentukan pilihan) tertarik atau bagi mereka yang sudah merasa mantap memilih tetapi merasa ragu, bisa mengubah pilihannya setelah diyakinkan dengan pesan tertentu. Tim ini misalnya menggunakan data resmi dari badan pemerintah yang berwenang dalam urusan ketenagakerjaan (US Bureau of the Labor) untuk menyajikan perubahan positif dalam pasar tenaga kerja yang menunjukkan prestasi ekonomi Obama selama menjabat di periode pertama sebagai presiden AS.

Pendekatan komunikasi yang bernuansa PERSUASI melalui INTERAKSI juga ditekankan dalam tim ini, kata Goff. Salah satu contohnya yang menarik ialah kalkulator pajak Obama yang dapat diakses secara online oleh siapa saja. Mereka mampu menarik perhatian dengan memberikan informasi berupa hasil kalkulasi pajak yang unik untuk setiap orang.

Tim digital campaign Obama juga memberikan sentuhan yang berbeda dalam pengumpulan dana agar tidak terkesan terlalu biasa. Mereka menghadirkan program “Dinner with Barack” yang memungkinkan para donatur di atas 3 dollar yang beruntung terpilih bisa bersantap malam dengannya. Program itu sesuai dengan misi Obama agar tidak hanya merangkul kalangan elit ekonomi tetapi juga rakyat biasa yang tertarik dengan diri, visi dan misinya sebagai pejabat publik.

Prinsip utama mereka adalah bagaimana agar mempermudah masyarakat dalam mendukung kampanye Obama di setiap tingkat engagement dan bagaimana mengajak mereka yang sudah masuk untuk berkontribusi nyata dalam pemenangan Obama di pemilihan. Untuk memudahkan masyarakat tadi, salah satu usahanya ialah dengan membuat sebuah situs yang berdesain responsif, yang artinya situs itu akan bisa dengan mudah ditampilkan dan dijelajahi meskipun diakses melalui berbagai perangkat digital dari yang berlayar sekecil ponsel cerdas sampai ke komputer desktop di rumah.

Bagi mereka yang menginginkan pesan yang lebih ‘muluk-muluk’ atau penuh idealisme dan bervisi jauh ke depan disertai makna yang lebih dalam dan filosofis, tim ini juga memberikan pesan serupa dalam format yang lebih serius dan berat, yaitu dengan menampilkan salah satu relawannya. Relawan itu seorang pria dengan 4 anak, yang memiliki harapan agar bangsa Amerika lebih baik di masa mendatang sebagaimana yang diharapkan Obama untuk anak-anaknya dan bangsanya. Mereka mencoba merangkul kalangan yang memiliki ekspektasi lebih tinggi daripada hanya sekadar perubahan temporer dan dangkal di masyarakat serta melibatkan tanggung jawab yang lebih mendalam. (Sumber: Team Obama Talks Digital Vision – Strategies and Tools for 2012 and Beyond)

Kebijakan Baru Twitter Hapus Konten Orang yang Sudah Meninggal

Twitter umumkan Selasa kemarin (19/8) bahwa pihaknya akan menghapus foto-foto orang yang sudah meninggal jika diminta oleh pihak keluarga yang bersangkutan. Isu ini mengemuka setelah foto-foto dan video jurnalis AS James Foley menyebar luas di jejaring sosial.Kebijakan itu dimunculkan sepekan setelah anak perempuan almarhum Robin Williams, Zelda Williams, mengumumkan bahwa dirinya meninggalkan dunia jejaring sosial setelah sejumlah oknum melakukan ‘trolling’, yang menggunakan foto-foto sang ayah yang diedit untuk melucu.

“Menggali akun-akun kami untuk mencari foto-foto ayah atau menghakimi saya adalah hal yang sangat kejam dan tak perlu,”papar Zelda dalam tweet terakhirnya.

“Untuk menghormati permintaan orang-orang terkasih, Twitter akan menghapus foto orang-orang yang sudah meninggal dunia dalam kondisi tertentu,”ujar jubir Twitter Nu Wexler.

“Saat mengulas permintaan penghapusan konten media, Twitter mempertimbangkan faktor-faktor kepentingan publik seperti faktor berita konten yang dimaksud dan mungkin tidak bisa memenuhi semua permintaan yang diajukan,”imbuh Wexler.

Situs jejaring sosial Twitter dibanjiri dengan tangkapan layar video grafis yang menunjukkan eksekusi jurnalis malang Foley dan mengunggah tweet dengan tautan menuju video mengerikan tersebut. Twitter mengatakan pihaknya akan menghapus konten semacam itu berdasarkan permintaan anggota-anggota keluarga dekat atau individu yang berwenang. Namun, Twitter masih menolak memberikan akses ke akun apapun, bahkan pada kerabat orang yang meninggal.

Pejabat Gedung Putih mengatakan pada The Washington Post bahwa para pejabat Departemen Pertahanan AS mengamati situs jejaring sosial untuk menginformasikan mereka mengenai video Foley. Twitter memblokir dua akun yang mengirimkan foto-foto eksekusi dan menyatakan pihaknya akan terus mengulas kebijakan-kebijakan untuk melindungi para penggunanya.

Asal Kata "Meme"

Siapa yang belum tahu artinya “meme”? Tidak usah malu karena memang kata satu ini masih termasuk baru.

Kata ini dikenal di dunia maya. Menurut Maria Veloso dalam “Web Copy that Sells” edisi ketiga, kata tersebut ditemukan pertama kali oleh Richard Dawkins di tahun 1976 (hal xxvii). Kata “meme” adalah portmanteau, alias gabungan dua kata yang berbeda dengan makna yang juga kombinasi kedua kata penyusunnya. “Meme” berasal dari kata “mime” dan “mimic”, yang mewakili gagasan budaya yang disebarkan dari satu orang ke orang lain dengan cara yang mirip dengan penggandaan gen dalam ilmu biologi, tulis Veloso masih di buku dan halaman yang sama. Meme disebarkan secara viral (layaknya virus yang berkembang biak secara liar dan luas) serta verbal.

Meme seringkali berupa olok-olok dan sindiran pada suatu fenomena, misalnya pernyataan atau perilaku sosok terkenal atau sebuah institusi yang berkuasa tetapi tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Jadi meme juga bisa digunakan sebagai alat kritik sosial bahkan politik, seperti dalam pilpres yang lalu. Saat kandidat membuat kesalahan dalam debat atau semacamnya, ada saja orang yang membuat dan menyebarkan meme unik melalui jejaring sosial.

Dalam dunia bisnis, masih menurut Veloso, meme berguna untuk membuat “keramaian” (perbincangan yang intens) atau buzz mengenai produk atau layanan tertentu (Web Copy that Sells, p. xxvii). Diskusi atau obrolan itu juga bisa seputar “online personae” (orang atau sosok tertentu dalam dunia maya).

Meski kebanyakan bernada satir dan komedi, bila kita cermati dalam perkembangannya meme juga bisa mengandung pujian meski secara sekilas ia tampak ‘menjatuhkan’. Ambil contoh saja saat Jokowi dikatakan sebagai pemeluk kepercayaan tertentu dan bersuku tertentu, berpaham politik komunis dan sebagainya. Semua itu dirangkum dalam satu kolase atau mozaik dari berbagai foto sang tokoh dan caption yang berbeda dan disebarkan begitu saja sampai ke mana-mana.

Panduan Hootsuite untuk Pemula

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=fI3YtbB43nM&w=420&h=315]

Bagi Anda yang ingin mempelajari bagaimana menggunakan platform manajemen akun jejaring sosial Hootsuite secara praktis dan efisien serta GRATIS, video tutorial ini tepat untuk memberikan sekilas gambaran mengenai caranya. Dikemas dalam bahasa yang lugas, simpel dan mudah dipahami, Anda akan tahu mengenai dasar-dasarnya. Dan jika Anda memang memiliki kebutuhan berjejaring sosial yang lebih intens lagi, Anda bisa mendaftar untuk berlangganan Hootsuite Pro, yang keistimewaannya adalah memungkinkan Anda mengelola 6 akun jejaring sosial lebih! Belum lagi berbagai fitur analytics yang memudahkan marketing yang lebih jitu. Selamat menyimak

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=fYcsS3kIh68&w=560&h=315]

HootUpJKT: Ajang Kopdar Fans Hootsuite di Jakarta

Sudah daftar acara #HootUpJKT yang diadakan oleh Komunitas
@KelasBisnis_ ? Segera Telepon / WhatsApp 0896 7789 7111 dan pin:228BC2B9. Acara ini diadakan di Jakarta dan GRATIS!

Weits, emang apaan sih acara #HootUpJKT itu? Teman-teman udah tau kan, HootSuite? Itu lho, salah satu penyedia layanan pengelolaan media sosial dalam satu wadah ‘Dashboard’. Dengan HootSuite, teman-teman tidak perlu repot mengelola beberapa hingga puluhan media sosial dalam satu wadah PLUS bisa berkolaborasi dengan admin lain tanpa perlu berbagi password akun perusahaan / akun marketing.

Nah, buat teman-teman yang belum tau, sudah sedikit tahu atau merasa sudah banyak tahu tentang HootSuite dan dunia per-social-media-an, yuk kita kumpul bareng di acara #HootUpJKT yang insya Allah akan diadakan pada:

hari, tanggal: Sabtu, 21 Juni 2014
tempat: Rumah Ilmu (RuMu) Sekretariat #KomunitasMakelarSedekah (KMS) Jl Tebet Raya no 30 D JakSel
jam: 09.00 – 17.00 WIB (datang TEPAT waktu ya)
biaya: GRATIS… TIS… TIS…
MANTAP kan?? Eits, karena keterbatasan TEMPAT, maka semua peserta WAJIB konfirmasi kehadiran ke mas Ferry ya.

Gambaran Acara #HootUpJKT:

Sharing session oleh kak @AndhikaWijaya (Indonesia’s #1 Online Business Coach(tm) & Favourite eBusiness Consultant | TOP #100 World Business Coach | CEO of @iDigitalAgency & @AWKAcademy)
Sharing session oleh mas @ElangYudantoro (Certified HootSuite Professional, HootSuite Solution Partner, Owner SandalSancu.com dan Founder Komunitas @KelasBisnis_ dan juga seorang penulis buku) Sharing dan konsultasi bisnis dengan semua peserta bersama pembicara.