Transforming Pessimism into Optimism in the Current Indonesian Politics

EXCEPT for the unexpectedly viral post-presidential-election blog post I wrote four years ago on Prabowo Subianto in in the eyes of late Lee Kuan Yew (read the post here) and how to select the most progressive political party there is (read: Parpol di Pemilu 2019: Memang Masih Bisa Dipercaya?), I hardly ever generate and publish any political content here. The main reason is simple; PESSIMISM. I’ve been so much overloaded with pessimism.

With the endless supply of hoaxy content, graft and corruption news gracing the national media, I can declare my pessimism as a normal attitude. I have that slightly disturbing views that this state and nation would just run for themselves even if I don’t vote or cast my ballots. While that can be true altogether, I question whether I had contributed something worthwhile to the advancement of my father .. (or wait, if you assume I’m a mysoginist) motherland.

I have had this small clique consisting of some friends who are of different races and walks of life. Being a Javanese male myself, I feel like I have nothing to worry about the ruler of the country because I selfishly know that every president in the country is very likely to be a Javanese male. I sometimes liken the dominance of Javanese males in Indonesia to one of white males in the States. The  republic’s most prominent statesmen are males identified as Javanese. Soekarno, our first president, was Javanese. Soeharto, his successor, was also one. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) shared the same ethnicity. For your information, you can safely ‘suspect’ someone’s Javanese background if you discover his first name starts with ‘su-‘, which means in the language of Javanese “good” or “virtuous”.  And currently, Joko Widodo (‘Joko’ itself is the most Javanese name you can find, just like ‘John’ in the Anglosaxon countries) is undoubtedly the towering media darling.

So when my three Chinese-Indonesian friends were voicing their opinion, I was startled to learn that each of them had different attitude. One showed his highest enthusiasm and optimism. He digested every piece of political news with overflowing zeal, feeling so certain that changes would be coming true soon if he woke up and voted for his dear presidential candidate. He told us how he struggled to get the chance to get into the chamber only to cast the ballot and show his little finger tinged with purplish ink.

As for me, I had never managed to display such enthusiasm. But I did vote in the last presidential election. After listening to my friend’s big struggle to grab that chance of voting,  I felt quite ashamed, partly knowing that if I had been him that time, I may not have made equally enormous efforts like he did.

But I also was dejected to see another friend in the clique who admitted he never got attracted to voluntarily cast his ballot from his early adulthood to these days when he is so eligible to vote. He just wasted his rights to vote as a citizen.

The other one seemed like a swing voter who just followed and tagged along everyone else and thus voted according to someone else’s prescription. He is so easily influenced, having no clear principles and values within himself. But he is the youngest of us so I can tell his view may change over time later.

I arrived to the conclusion that our attitude towards anything is an option we can make. An attitude is made, instead of being given or innate. In other words, a human is never born pessimistic or optimistic or doubtful or skeptic. It’s all learned.

So is our attitude towards politics.

And to bring more optimism in our current politics, which I would love to emphasize here, we all ought to learn more about our nation’s history. That does not necessarily mean reading your history textbooks or encyclopedia or visiting Wikipedia webpages that discusses significant historical events in your country but also talk with the elderly  who experienced firsthand how it felt to be living in many past regimes and in the times when freedom of speech and choice was so restricted unlike these days. That way, you will appreciate more everything you have now and thus never take them for granted. They are so precious but also prevalent like oxygen. You don’t even care less about oxygen but when you lack it, you will beg for its supply around you.

Though I know that some people would just argue that Indonesia is still oppressed by other bigger and more influential nations and that this country still fails in major ways in numerous aspects but we cannot deny the fact that there are many other silver linings as well.

We have been so adept at criticizing and commenting that we ourselves forget to produce things worthy of criticism at the same time.

That said, I am not saying criticizing is bad at all and thus must be forbidden at all cost. Criticizing is good in that it reminds us to remain on track. But too much of something good is also bad. When you busy yourselves with criticizm, you have no ample time to work on your own. Your focus and energy have been sucked out by making criticism.

And most importantly, overcriticism kills productivity and creativity.

So if you still think that participating in politics is in vain just like I did, it is time to change that. And things are better that we make achievements and generate works more than meaningless noise in the process.

What I am trying to say here is: if you know things are not right, fix them depending on your capability. That is all you have to do especially when we are now counting down to the 2019 Presidential Election. (*/)

Selamat Ulang Tahun, Pak Wowo!

Ada dua alasan kenapa orang berubah baik secara tiba-tiba: karena bulan puasa datang dan karena hari ulang tahunnya akan tiba. Untuk kasus Prabowo Subianto, alasan kedua tampaknya lebih cocok.Di BBC (, ia diberitakan sudah “berdamai dan mendukung” musuh bebuyutannya di Pilpres 2014 yang sudah mirip Bharatayudha bagi bangsa ini. Entah kenapa BBC masih memakai tanda petik di judulnya: “Prabowo Pledges ‘Support’ for Indonesia Leader Jokowi” tetapi yang pasti mari kita ucapkan selamat pada Pak Wowo yang berulang tahun hari ini ke-63.

Berikut ucapan selamatnya dari Jaringan Partai Gerindra yang ia bina dan dirikan malam ini di email blast mereka.

“Segenap keluarga besar partai Gerindra,

pada hari ini ketua dewan pembina sekaligus ketua umum kita, Bpk. H. Prabowo Subianto berulang tahun yang ke-63. Mari kita sama-sama doakan agar beliau senantiasa dilindungi dan diberkati oleh Tuhan YME. Kami berterima kasih atas teladan yang sudah beliau berikan kepada kami, teladan agar kita semua menjadi warga negara yang mencintai bangsanya, berkomitmen, disiplin, tetapi juga penuh kasih kepada sesama. Selamat ulang tahun Pak Prabowo, semoga panjang umur.

Bagi sahabat yang ingin menyampaikan selamat kepada beliau bisa melalui sosial media pribadi Pak Prabowo. Twitter @Prabowo08 dan

Salam Indonesia Raya.”

Apakah Jokowi akan memberikan kado ultah bagi Pak Wowo? Mungkin dengan mengajaknya kirab di Monas tanggal 20 nanti. Ah, senangnya…

[image credit: Reuters]

Membedah Tanda Tangan Jokowi dengan Grafologi (3- Tamat)

Menganalisis tanda tangan presiden terpilih Indonesia 2014-2019 Joko Widodo.

img 20140913 2106111
Tanda tangan Jokowi di prasasti Taman kota Waduk Pluit, Jakut, tahun 2013 lalu.

Bagian terakhir dari tanda tangan Jokowi penuh dengan kerumitan. Semua berjejalan. Tampak tidak ada banyak ruang antara goresan-goresannya seperti yang bisa kita jumpai di beberapa bagian sebelumnya. Apakah nanti di akhir karirnya sebagai pejabat publik, perjalanan Jokowi akan serumit goresan ini? Karena seperti kita ketahui, banyak pihak yang menjadi oposisi pemerintahannya seperti Koalisi Merah Putih yang membuat parlemen memanas akhir-akhir ini. Namun, optimisme akan selalu ada sepanjang Jokowi bisa membuktikan bahwa dirinya membela rakyat dan selalu bersih. Kita akan menyaksikannya sendiri di masa datang.

Yang menarik dari bagian akhir ini ialah garis di belakang yang memanjang ke atas tetapi juga memiliki cabang ke bawah. Menurut penjelasan Bayu Ludvianto, goresan berkali-kali di bawah tanda tangan yang seolah berfungsi sebagai penopang adalah tanda bahwa seseorang meminta untuk disanjung dan haus puja-puji (Analisis Tulisan Tangan, hal 176). Akan tetapi, di tanda tangan Jokowi, goresan itu tidak diberikan berkali-kali. Garis di bawah seolah juga menyangga garis yang mengarah ke atas. Bentuknya juga lurus, bukan berliku-liku, sehingga bisa dikatakan di sini maknanya bukan sanjungan yang muluk-muluk dan penuh agenda tersembunyi di baliknya tetapi sanjungan yang penuh dukungan tulus, pujian yang memang datang dari hati orang yang merasakan dampak baik dari hasil kerjanya (baca : blusukan). Jelas bahwa sebagai manusia, Jokowi juga membutuhkan dukungan dan sanjungan tetapi bukan yang dimaksudkan untuk “menjilat”, dan sebagai pribadi yang cukup bijak, ia mengetahui orang dan pihak mana yang “penjilat” dan yang memberikan sanjungan serta dukungan secara tulus.

Bila dukungan dari bawah – yang disimbolkan dengan garis penopang di bawah – ini memang tulus dan kuat, tidak heran jika Jokowi nantinya akan melaju ke posisi yang lebih tinggi dari posisi presiden republik ini, sebagaimana dilambangkan dengan garis yang panjang mengarah ke atas. Apakah ia, katakanlah, akan diangkat sebagai Bapak Revolusi Mental Indonesia? Entahlah saya bukan cenayang.

Beberapa poin yang menarik untuk dikupas juga ialah bahwa tanda tangan Jokowi memiliki ukuran yang relatif standar, artinya tidak terlalu besar atau tidak terlalu kecil bila dibandingkan dengan tulisan di sekitarnya. Anda bisa lihat sendiri di gambar tersebut. Seseorang yang memiliki tanda tangan lebih besar atau lebih kecil dari tulisan sekitarnya menunjukkan adanya pergulatan batin dalam diri,tulis Bayu Ludvianto di bukunya “Analisis Tulisan Tangan” halaman 174. Dengan demikian, dapat disimpulkan Jokowi memiliki batin dan pikiran yang relatif tenang. Ia tidak menunjukkan perasaan inferior atau rendah diri yang amat sangat, sesuatu yang bisa kita jumpai pada para pemilik tanda tangan yang ukurannya jauh lebih besar dari ukuran tulisan tangannya sendiri. Perasaan rendah diri itu mungkin ada di masa-masa awal kehidupan Jokowi tetapi kita bisa lihat, makin dewasa, makin stabil kepribadiannya. Tidak lagi meletup-letup dan mudah ‘ngambek’ seperti saat masih muda. Tampaknya ia banyak belajar tentang pengendalian diri memasuki masa jabatan sebagai pejabat publik.

Satu poin lain yang patut diketahui ialah tidak dijumpainya bentuk-bentuk tajam dan meruncing di tanda tangan Jokowi. Sangat cocok! Karena menurut penjelasan Bayu Ludvianto di halaman 172 di buku yang sama, bentuk meruncing di tanda tangan seseorang menunjukkan agresivitas. Kemiripan bentuk dengan mata pisau atau panah memang bisa disamakan dengan naluri menyerang atau ofensif yang relatif tinggi. Jokowi sama sekali bukan pribadi yang agresif atau memiliki potensi menyerang apalagi menjadi garang bak Ahok. Gubernur DKI Jakarta itu sendiri menegaskan dalam wawancaranya dengan Tempo edisi 25-31 Agustus 2014, bahwa Jokowi bukan orang yang agresif. “Strateginya [strategi Jokowi-pen] dia selalu bilang ‘jangan dulu’ atau ‘sebentar’. Kalau saya tidak ada strategi seperti itu,”terang Ahok yang kerap berang dengan pihak-pihak penentangnya.

Tanda tangan presiden terpilih kita ini juga tidak menunjukkan adanya kebencian pada dirinya sendiri, terutama tampilannya sendiri di depan publik. Ia merasakan kenyamanan dengan menjadi dirinya yang apa adanya. Tidak dibuat-buat atau yang kita sering sebut sebagai “pencitraan”. Bagaimana bisa? Tanda tangan Jokowi tidak memiliki coretan di tengah-tengahnya. Dan patut diketahui bahwa tanda tangan adalah salah satu wajah yang kita perlihatkan di depan publik. Sehingga logis jika Anda mencoret tanda tangan Anda sendiri, seolah-olah Anda “menolak dan menyalahkan diri” atas kondisi yang ada dalam diri terutama saat harus menghadapi orang lain.

Membedah Tanda Tangan Jokowi dengan Grafologi (2):Teori 4 Kumparan

‎Di bagian pertama, sudah dibahas separuh bagian tanda tangan Jokowi. Saya akan mulai di bagian selanjutnya yang polanya lebih reguler. Kita bisa amati bersama ada goresan melingkar yang cukup rumit dan repetitif, persisnya sampai empat kali dengan bagian akhir yang terus merapat. Dari atas, goresan pena menuju ke bawah sedikit, yang dapat diartikan keinginan Jokowi untuk membumi. Bila dikaitkan dengan watak, kemungkinan besar ini berkaitan dengan kerasnya sifat Jokowi saat kecil tetapi melumer di saat ia makin dewasa. Ibunya menceritakan:”saat masih kecil Jokowi memiliki kemauan keras dan harus dituruti”. Misalnya saat Jokowi meminta mainan atau camilan untuk dibeli, permintaannya harus dituruti. Namun, Jokowi kecil tak selalu menghabiskan camilan itu. (sumber: “Anak Saya Seorang Pemberani”, The Masketeers). Memasuki masa remaja, tampaknya Jokowi mulai menata dirinya dengan tidak harus menuntut macam-macam pada orang tuanya seperti saat masih anak-anak. Dari fase menata diri itu, karakternya menjadi makin dewasa dan kedewasaan itu tecermin dari keteraturan dan stabilitas di pola-pola goresan ini. Kita bisa saksikan adanya konsistensi ukuran tulisannya di bagian paruh kedua. Semacam ada bentuk kumparan yang seragam di sini, sebuah turbulensi. Naik turun beberapa kali, tampak terputus tetapi pada dasarnya saling kait mengkait ‎karena dibentuk dengan gerakan tangan yang konsisten.

Kumparan itu bisa dikatakan terletak dalam satu garis lurus horisontal (rakyat?). Dan jika dicermati lagi ada 4 kumparan terpisah di sini. Kalau saya mengacu pada kisah hidupnya, saya baru menyadari bahwa keempat kumparan ini bisa diartikan sebagai pencerminan 4 fase kepemimpinan Jokowi: saat ia menjabat sebagai ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo), jabatan walikota Solo/ Surakarta, gubernur DKI Jakarta, dan akhirnya presiden Republik Indonesia.

‎Jokowi ternyata suka “berhias”. Anda lihat ada tanda panah ke bawah atau bentuk mirip centang di atas kumparan ketiga? Nah, izinkan saya mengutip dari buku Analisis Tulisan Tangan karya Bayu Ludvianto lagi. Di halaman 170, ia menjelaskan ada sebagian pemilik tanda tangan yang suka dengan hiasan di sekitar tanda tangan mereka. Bentuknya bisa bervariasi, ada corat coret, ada gelembung dan lain-lain. Dalam kasus Jokowi, menurut saya bentuknya adalah centang besar di atas tadi. Hiasannya termasuk moderat, tak berlebihan. Tidak heran, ia bukan pribadi yang suka mencolok. Tetapi ia tampaknya berhias dengan sebuah tujuan yang lebih besar, bukan jenis upaya berhias untuk menutupi kelemahan dirinya tetapi untuk menandaskan siapa dirinya. Seperti saya jelaskan tadi kumparan ketiga menjadi simbol masa jabatan gubernur DKI Jakarta dan transisi ke masa jabatan presiden RI yang sangat amat bergolak bagi diri dan orang-orang di sekelilingnya. Tanda panah yang menghunjam ke bawah itu bisa dimaknai sebagai ujian dari arah atas (baca:Tuhan YME), yang berupa amanat untuk menjadi pemimpin sebuah bangsa besar yang juga diiringi dengan berbagai macam cobaan sepanjang masa kampanye hingga nanti menjabat. Kita tahu betapa beratnya perjuangan Jokowi mendaki posisi RI 1, bahkan setelah putusan pemenangan oleh KPU dan Mahkamah Konstitusi dikeluarkan, ujian masih terus menghadangnya. Namun, Jokowi tidak membuat tanda panah itu tertutup. Saya bisa menginterpretasikannya sebagai keterbukaan diri Jokowi pada Tuhan, sebuah perasaan pasrah, tawakal terhadap-Nya. Bentuknya yang mirip segitiga terbuka itu mengingatkan kita pada sebuah corong air, yang menampung air yang diguyurkan dari atasnya. Dalam kiasan relijius, bentuk segitiga bisa dikaitkan dengan bentuk telapak tangan para muslim saat berdoa‎. Menengadah ke atas, menyambut rahmat Ilahi.


Membedah Tanda Tangan Jokowi dengan Grafologi (1)

‎Media massa sedang demam analisis tulisan tangan dan tanda tangan pejabat. Blog ini juga tidak mau kalah. Saya akan bahas tanda tangan Joko Widodo di tulisan kali ini.

Saya memang bukan grafolog terkemuka apalagi berpengalaman, tetapi sekadar mencoba-coba saja. Referensi saya adalah buku karya Bayu Ludvianto “Analisis Tulisan Tangan: Tulisan Anda Menentukan Hidup Anda” dan Majalah Marketeers Jokowow Collector’s Edition yang memuat khusus sepak terjang sang presiden terpilih serta wawancara Tempo dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di edisi 25-31 Agustus 2014 . Saya akan mencoba membedah karakternya dengan membaca kesesuaian bentuk-bentuk tipikal tanda tangan dan kisah hidup Jokowi sendiri dan pandangan rekannya pada Jokowi agar lebih lengkap hasilnya. Berikut analisis singkat saya. Baik jangan disanjung berlebihan, buruk jangan dijadikan bulan-bulanan. Saya bukan menulis untuk memuaskan Jokowi lovers atau Jokowi haters di sini.

‎Bentuk pertama yang menarik perhatian ialah gelembung bulat yang mirip angka delapan tetapi yang saya bisa samakan dengan bentuk cangkang. Kata grafolog Bayu Ludvianto, tanda tangan semacam ini mencerminkan adanya benteng dalam pribadi mereka. Benteng dari apa? Dari dunia luar. Ia mengenakan cangkang bak siput yang tanpa tulang agar ia bisa bertahan hidup dari serangan eksternal. Bentuk ini menunjukkan adanya kecenderungan paranoia terhadap pengalaman buruk di masa lalu. “Pembuat tanda tangan mempunyai pengalaman masa lalu yang pedih, mengancam, memalukan, menyakitkan dan merendahkan harga dirinya,”tulis Bayu. Namun, cangkang ini hanya ada di bagian depan tanda tangan, yang bisa jadi mencerminkan awal kehidupan Jokowi yang “berbadan kerempeng sejak kecil” tetapi “jarang sakit” (dikutip dari penuturan Sujiatmi, ibunda Jokowi di artikel “Anak Saya Seorang Pemberani”, The Marketeers). Anda bisa tebak jika seorang anak memiliki badan yang berukuran lebih kecil dari anak-anak sebayanya. Sedikit banyak ada rasa rendah diri dan ketertindasan dari teman sebayanya sehingga hal itu mungkin mendorong Jokowi kecil lebih memilih diam agar “menyerap ilmu dan hal-hal positif dari orang lain”. Sang ibunda tak menceritakan apakah anaknya mengalami pengalaman buruk atau tidak selama masih kecil tetapi tidak tertutup kemungkinan, pengalaman ini sudah terkubur di benak Jokowi dan muncul dalam tanda tangannya.

Di bawah cangkang tadi bisa ditemukan dua garis vertikal pendek. Saya pikir ini ‎dapat diibaratkan sebagai kekang, pasak untuk mengikat sebagian kenangan masa lalu yang kurang indah untuk dikenang itu.

Setelah bagian depan tanda tangan yang berbentuk cangkang itu, kita bisa temui sebuah garis miring ke kanan bawah. Tanda tangannya seolah terputus dan garis ini menjadi garis batas. Kalau boleh sedikit berspekulasi, garis itu mungkin mencerminkan adanya keputusasaan, apalagi dengan arahnya yang menukik ke bawah. Bawah identik dengan titik nol, titik nadhir. Dan memang benar, Jokowi muda pernah mengalami kondisi putus asa. Dicukilkan dari penuturan Sujiatmi, Jokowi tidak diterima di sekolah unggulan SMAN 1 Surakarta, sekolah yang menjadi tujuan banyak teman SMPnya. Apa dikata, Jokowi ‘ngambek’ karena gagal lolos masuk. Kegagalan itu menjadi beban baginya karena Jokowi sampai sakit tifus. Orang tuanya harus membujuknya agar mau masuk ke sekolah‎ baru SMAN 6 Solo, dan menjadi angkatan pertama di situ. Di kelas dua SMA, semangatnya pulih dan ia menjadi juara kelas.


Rakabu, Bisnis Furnitur Jokowi

‎Setelah amar putusan Mahkamah Konstitusi diumumkan Kamis lalu (21/8), bisa dipastikan Indonesia akan memiliki Jokowi – demikian sapaan akrab Joko Widodo ‎- sebagai Presiden baru Oktober nanti. Karena itulah, segala sesuatu tentang presiden anyar ini menjadi makin menarik untuk dikulik. Salah satu topik yang hangat ialah bagaimana Jokowi mendapatkan kekayaannya selama ini. Menurut kabar, sebelum naik ke panggung politik pria Jawa itu telah memiliki sebuah bisnis furnitur. Usut punya usut, perusahaan itu namanya Rakabu. Namanya aneh, entah apa alasan Jokowi menamainya demikian. Filosofi apa yang ada di balik nama Rakabu, saya juga belum tahu (jika pembaca ada yang tahu, jangan ragu menjelaskan di kotak komentar di bawah).

Dari sebuah obrolan seorang teman di jejaring sosial, saya menemukan beberapa poin yang patut dibagikan ke banyak orang. Sebagai perhatian dan sangkalan (disclaimer), isi obrolan yang saya kutip ini hendaknya dianggap sebagai hipotesis yang harus diuji validitasnya lebih lanjut. Sehingga ini sama sekali bukan paparan faktual atau karya jurnalistik yang serius. Saya cuma ingin berbagi informasi untuk kemudian bisa dipakai sebagai pemicu diskusi lebih lanjut atau pencetus munculnya karya lain atau laporan yang lebih dapat dipercaya tentang ‎masalah ini. Maka jangan heran jika banyak bias atau pernyataan yang kurang objektif. Singkat kata, saya hanya akan menjelaskan apa yang saya dengar. Soal validitas poin-poin yang ada di dalamnya, saya belum melakukan fact-checking atau cross-checking ke pihak yang bersangkutan.

‎Rakabu milik Jokowi ini dapat kita temui di sebuah pusat industri kecil di kota Solo (Surakarta), Jateng. Kata sumber berinisial W, Rakabu tepatnya berlokasi di daerah Kertosuro (atau Kartosuro?) yang berada dibdekat Universitas Muhammadiyah. Rakabu menurut W lebih tepat disebut sebagai pengepul yang melakukan ‘finishing touch’ pada produk furnitur yang datang. Menurut pengamatan, Solo memang bukan basis industri furnitur yang kuat, sehingga tidak heran produsen-produsennya tidak ada yang berskala besar dan mencetak laba fantastis. Kenyataan ini diperparah dengan menurunnya suplai, ujar sumber berinisial VK.”Ada 3 lokasi di Solo dan 2 gudang,”kata satu sumber berinisial IA tentang lokasi pabrik dan gudang Rakabu.

Sementara sumber LK malah mengatakan Rakabu sudah tidak mendapat order. “Terakhir kebakaran atau dibakar buat dapat asuransi,”tukasnya. Kabar-kabar miring tersebut membuat Jokowi menjadi rentan terhadap isu-isu yang menuduhnya mendulang aset dari jabatan walikota Solo.

‎Lebih lengkap lagi, sumber AP (yang tampaknya lebih tahu menahu kondisi terkini di lapangan) menceritakan bahwa seorang kliennya‎ mengakui rekam jejak Rakabu yang bagus. Menurut AP yang mengaku pernah diajak ke ketiga toko Rakabu di Spanyol dan Portugis, kualitas barang produksi Rakabu tidak bisa dikatakan jelek. “Emang bagus,”tuturnya. Agennya juga diberikan fasilitas kantor dan mobil sementara. Saat dilakukan audit, pihak manajemen Rakabu bersikap terbuka dan menyambut baik. “Gak ngeyel,”tandas AP.

Masih kata AP, sebelum mendirikan Rakabu, Jokowi bekerja di Roda Jati (entah ini nama perusahaan atau daerah) selama dekade 1990-an. Posisi publik penting yang dipegang Jokowi sebelum naik ke jabatan walikota Solo ialah ketua Asmindo atau Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (silakan cek ke situs resminya di

AP menerangkan Jokowi memiliki gedung pertemuan terbesar di kota Solo, yang membuatnya cukup mapan secara keuangan sehingga gaji walikota tak pernah diambil Jokowi. AP terus menjelaskan panjang lebar bahwa Rakabu sampai tahun lalu masih berkinerja bagus. Pabriknya diaudit dalam hal sumber kayu gelondongannya (yang harus diperoleh secara berkesinambungan demi kelestarian lingkungan). Rakabu pun mengantongi sertifikasi karenanya. Berarti supply chain-nya kuat, ujar AP lagi. “Alur produksinya dan administrasi serta record-nya bagus,”terangnya. Sejak Jokowi belum menjabat ‎ sebagai walikota Solo, suplai untuk Rakabu sudah relatif bagus. AP menduga karena Jokowi adalah alumni (ilmu atau jurusan? ) kehutananan sehingga paham betul mengenai networking timber resources.


Jokowi, Kepemimpinan Introvert yang Sukses?

‎Menarik. Itulah yang terpikir saat saya mendapati pendapat mendiang Peter Drucker, pakar manajemen dunia, yang dikutip oleh Susan Cain dalam bukunya Quiet. Drucker mengatakan:”The one and only personality trait the effective ones I have encountered did have in common was something they did not have: they had little or no ‘charisma’ and little use either for the term or what it signifies. ” (Quiet: 53) Ia menemukan benang merah yang menghubungkan para pemimpin yang efektif dalam bekerja, yaitu kurangnya atau tiadanya ‘kharisma’ dalam diri mereka. Dan meskipun dalam taraf tertentu mereka memilikinya, para pemimpin ini tidak terlalu banyak menggunakannya.

Klaim Drucker dikukuhkan oleh penelitian ilmiah Bradley Agle, seorang profesor manajemen di Brigham Young University. Agle mempelajari aspek kharisma para CEO dari 128 perusahaan besar dunia dan menemukan bahwa mereka yang dianggap kharismatik oleh para eksekutif topnya memang menikmati gaji dan tunjangan yang lebih melimpah namun bukan pemimpin yang memiliki tingkat kinerja yang lebih baik dibandingkan yang tidak berkharisma atau berkharisma rendah.

Seorang pemimpin yang bekerja efektif menurut Prof. Quinn Mills dari Harvard Business School yang memiliki spesialisasi dalam gaya kepemimpinan tidaklah selalu mereka yang memiliki kepribadian ekstrovert. Mills mencontohkan Lou Gerstner, yang menurutnya introvert. “Gerstner kuliah di sini (Harvard Business School‎- pen). Saya tidak tahu bagaimana ia menggambarkan dirinya sendiri. Ia pernah harus memberikan pidato di depan audiens yang besar dan ia berhasil dan ia tampak tenang. Namun, dalam pandangan saya ia secara dramatis lebih tampak nyaman dalam kelompok kecil. Banyak dari mereka (para pemimpin yang efektif – pen) yang seperti itu sebetulnya. Memang tidak semua tapi banyak sekali yang begitu,”terang Mills sebagaimana dikatakan dan dikutip oleh Susan Cain (Quiet, 54).

Gagasan lain yang tak kalah menarik tentang kepemimpinan introvert dengan kinerja berkualitas‎ ialah temuan studi Jim Collins, pakar teori manajemen pengaruh. Lagi-lagi, Collins mengatakan para CEO yang berkinerja luar biasa adalah mereka yang tidak dikenal berkat kepribadian yang menarik perhatian (flash or charisma) tetapi oleh watak yang rendah hati (extreme humility), tulis Cain lebih lanjut (Quiet, 54). Para pemimpin itu dikenal memiliki sifat tenang, rendah hati, sederhana, pendiam, pemalu, anggun, lembut, teguh, tidak suka menonjolkan diri dan kerap diremehkan (Quiet, 55).

Sementara itu, sebuah penelitian yang dilakukan Adam Grant, profesor manajemen di Wharton, dimaksudkan untuk menguji hipotesis tentang kepemimpinan introvert, bahwa para pemimpin introvert lebih efektif dalam bekerja dengan para anggota tim yang proaktif sementara pemimpin ekstrovert bekerja lebih baik dengan anggota tim yang pasif dan menurut (Quiet, 56). Para pemimpin introvert, kata Grant berdasarkan temuan studinya, bisa dipahami bekerja lebih baik dalam tim yang dipenuhi orang dengan inisiatif dan gagasan positif. “Introverted leaders create a virtuous circle of proactivity,”simpul Cain berdasarkan temuan Grant. Ini bisa terjadi karena kecenderungan mereka untuk mendengarkan orang lain dan kurangnya hasrat mendominasi situasi sosial. Karena itulah para pemimpin introvert cenderung mendengar dan menerapkan saran. Dengan menjaring saran dari mereka yang berbakat tinggi dalam tim, pemimpin introvert terus mendorong mereka untuk terus proaktif. Cain sepakat bahwa pemimpin introvert lebih berpikiran terbuka terhadap ide orang lain‎.

‎Membaca semua paparan karakteristik pemimpin introvert di atas, tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya seorang Joko Widodo. Pertama, karena Jokowi – demikian sapaan akrabnya – adalah sosok yang dapat dikatakan tanpa karisma dan wibawa yang tinggi. Bagaimana tidak? Ia dianggap sebagai ‘underdog’ dalam hal latar belakang keluarga dan penampilan. Jokowi sering diolok-olok memiliki penampilan fisik yang kampungan, atau ndheso. Keluarganya juga bukan keluarga dari dinasti penguasa negeri ini di periode sebelumnya. Jokowi betul-betul orang baru. Untuk menambahkan kesan tanpa karisma itu, Jokowi dianggap sejumlah pihak sebagai capres boneka tatkala Megawati mengumumkan pencalonan Jokowi sebagai capres. Dan saya pun menganggapnya demikian. Bagi saya, ia tampak agak sedikit terlalu patuh pada tetua PDI Perjuangan yang masih sangat berpengaruh saat ini, Megawati Soekarnoputri. Naiknya Jokowi ke tampuk kekuasaan yang lebih tinggi dalam waktu yang relatif singkat juga bukan karena kharismanya sendiri. Menurut saya, Jokowi lebih diakui karena kemampuannya merangkul orang bawah daripada memupuk kharisma belaka. Kharisma membuat pemimpin terkesan jauh tak terjangkau rakyatnya dan Jokowi membuat dirinya setara dan terjangkau oleh hampir semua orang melalui aktivitas blusukannya dan aktifnya ia sejak dulu di jejaring sosial. Tiadanya karisma justru membuat Jokowi menjadi berbeda dari pemimpin kebanyakan.

‎Pemikiran Collins bahwa pemimpin introvert itu cenderung rendah hati dan tak suka menarik perhatian juga tecermin dalam sosok Jokowi. Jokowi lebih jarang sesumbar seperti saat pihak lawan sudah nyaring mengklaim kemenangan, ia mengatakan untuk lebih baik menunggu hasil penghitungan KPU tanggal 22 Juli lalu. Jokowi juga bepergian dinas dengan menggunakan penerbangan komersial kelas ekonomi saat menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta. Ia menggunakan mobil Innova biasa sebagai sarana transportasi dinasnya. Padahal Innova bukan mobil eksklusif, tapi mobil sejuta umat. Mayoritas kalangan ekonomi menengah bisa mengendarainya jika mereka mau.

Gongnya adalah simpulan Cain bahwa pemimpin introvert mampu membangun lingkaran positif yang tersusun dari orang-orang yang proaktif. Kita bisa saksikan sendiri betapa meriahnya konser dua jari yang diselenggarakan sebelum berakhirnya masa kampanye. Jokowi dikelilingi oleh para relawan yang mendedikasikan waktu, tenaga dan pikiran mereka untuk mengantarkannya ke kursi presiden. Mereka melihat Jokowi sebagai harapan baru, yang tidak terkait dengan masa lalu. Namun demikian, sebagian pihak meragukannya, bukan karena pribadi Jokowi tetapi agenda-agenda tersembunyi di balik para pendukungnya.

Terlepas dari semua pertentangan tersebut, apa yang lebih menarik diamati ketegasan Jokowi dalam memilih para menteri dengan menggunakan metode brainstorming. Ia menampung masukan dari masyarakat via jejaring sosial dan web. Masukan-masukan itu diyakini menjadi indikasi awal pemerintahan yang lebih demokratis dan transparan. Bukan berdasarkan politik dagang sapi layaknya di masa lalu. Mereka yang menduduki jabatan menteri haruslah mereka yang benar-benar kompeten dan profesional di bidang mereka jadi tidak dipilih hanya karena pertimbangan politis. Itulah yang saya, dan sebagian rakyat Indonesia, rindukan selama ini: dipimpin oleh mereka yang kompeten dan profesional.

Dan lebih dari itu, saya sangat bangga memiliki presiden yang introvert karena saya sendiri pun demikian. Saya pikir‎ keberhasilan Jokowi bukan cuma awal Revolusi Mental tetapi juga awal dari fenomena yang disebut Susan Cain sebagai “Quiet Revolution”, revolusi yang dipimpin oleh para pribadi introvert. Mahatma Gandhi mengatakan:”In a gentle way, you can shake the world.” Dalam sikap diam dan lembutnya, Jokowi juga membuktikan dirinya mampu ‘mengguncang’ bumi pertiwi.

Young Jokowi as Depicted by His Teacher: His Handwriting was Ugly but Neat

Unlike Prabowo, Jokowi didn’t go to Western schools.Between 1966 and 1968, when 15-17 years old, Prabowo stayed in London, where he attended The American School. That explains a lot why Prabowo speaks English more fluently. He got exposed to Western culture from his early life. He even moved from one country to another in Europe, following his father Sumitro Dojojohadikusumo, an Indonesian economist. Meanwhile, Joko Widodo was one of millions of Indonesian children in 1960’s, who went to local public schools.

As told by local newspaper Tribun Jateng (31/7), Jokowi was described as a student showing shrewdness and shyness. Following his graduation from local public elementary school Sekolah Dasar Negeri 111 Tirtoyoso Solo, he went to SMPN 1 Solo. This junior high school now has been gaining its fame as favorite and the have’s school. Yet, back then it wasn’t.

According to Tribun Jateng, Jokowi was known as a humble, modest student . His biology teacher Siti Noeryati confirmed that the chosen president has always shown a humble life style even since his youth days. “Jokowi was really modest and up to now nothing has changed. He wore the same clothes just like what his friends did at the time,”she added. Jokowi preferred going home on foot and occasionally by bike to car, Siti told Tribun Jateng.

Siti identified Jokowi’s tendency toward details and familiarity with grassroots and the marginalized. When Siti drew a picture of biology chart, our young Jokowi drew it just like what was shown on the blackboard. “Jokowi treated anyone politely. He even greeted a man whose job was to sweep the backyard (of the school – writer).” But he seldom appeared too lively and talkative. As Siti put it, Jokowi looked really serious when in the classroom. She
elaborated,”Especially when I taught him environmental ecosystem, I just felt he mastered it well. As I asked him, he answered,’Oh, this is the role of producer and consumer. He knew well the balance of nature.'”

Siti commented on the neatness of Jokowi’s handwriting. She used to make students collect their notebooks and to check them all. Jokowi’s handwriting, as Siti recalled, was not as good but still it looked neat. He underlined lines of greater importance, which also made it easier to memorize as examinations approached.

Live Blog: Indonesia's Presidential Election 2014 (Hint: #jokowins)

Hi World,

As you all know, today is the D-day. Or E-day to be exact. Election Day! Everyone seems restless as to who is going to win: Jokowi or Prabowo. After the whole debates and campaign to win voters’ hearts, now it is the time to get to know the reality.

6.00 am

And here I am, live blogging for you. I won’t tell you what you can find in serious journalism sites out there so I will share what I feel and experience as a citizen and voter who is lucky enough to be eligible to cast my ballot. Some friends of mine are not. Somehow anyhow some glitches in the central database of voters happened, causing their names and data undiscovered. Even if they are found, the validity is questionable. For example, a pal said his name is found but his unique residential number is different. Either it is the fault of someone in the committe or whatever, we have no clear idea.


6.17 am

This is the first time I witness so much enthusiasm amongst the youngsters and the erudite who adopt progressive, optimistic mindset towards politics and the future of the nation. And I am quite stunned when I found several world-calibre artists like Sting and Jason Mraz were urged to have something to say about this presidential election. They endorse Jokowi (Joko Widodo – actively tweeting on @jokowi_do2), a cleaner civilian candidate when it comes to track records involving human rights and pro-grass roots policies and down-to-earth approach. As opposed to him, the other candidate is Prabowo Subianto, someone with some “scars” in the past, I can say. He is the old-minded chap with no social media interest before, until he acknowledged the power of social media right before and poof! He has got a Twitter account and a Facebook fan page. He tweets on @prabowo08. Some of his past deeds and track records are said to be “bloody”. He was the part of Suharto’s regime and Indonesians are now torn apart whether they have to choose Jokowi, the future with uncertainty and stability, or Prabowo, the past with certainty and stability. As we know, Jokowi is a civilian and pluralism endorser by nature. In military and defense aspect, he has nothing to brag about. At all. 20140709-063252-23572884.jpg

I wonder why Facebook cares so much about our election. Is Indonesia that influential in the world? I guess so. 20140709-064205-24125051.jpg

Even our yogi cum singer Sting showcased the hashtag of Jokowi. 20140709-064205-24125312.jpg

Excluding Ahmad Dhani and several singers featured on his Nazi-flavored endorsement video clip (intended to show political and moral support for Prabowo Subianto), nearly all creative people, artists, celebrities support Joko Widodo, who is also known for his being a rock music avid listener. He even got his guitar from Metallica.


7.13 am I just heard the committee of the nearby TPS (tempat pemungutan suara – a place arranged to be where voters can come and cast their ballots) taking vows. “… We pledge to be working honestly..,”a man’s voice read the vows printed on a sheet of paper,”regardless of our personal or group interests.” I too got involved in the committe like this at a nearby TPS in my hometown (I now live in Jakarta) in 2004. I recall that time, Susilo Bambang Yudhoyono won over Megawati, Amin Rais, if I am not mistaken. google election

9.30 am Along with some friends in the boarding house, I am going to the nearby TPS. It is TPS 20, fewer than 100 meters from my bedroom. Awesomely close, I tell you. Yet, we are not allowed to vote because according to the rules, non-residents like us (we are domestic ‘immigrants’ in fact, coming from provinces other than Jakarta Special Territory in the country) may vote after 12 pm, when all the residents have cast their ballots. So hopefully, we still have quite many ballots left.


10.32 am So I have much spare time right now to spend. And blogging and getting online is just the best way to spend time. By the way, I should tell you that these recent days I heard some helicopters flying here and there at night. And just yesterday, when I was at work typing, suddenly the noise of an aircraft was heard approaching my office which is located on 39th floor of DBS Bank Tower, South Jakarta. And that was in the daylight. A coworker jokingly commented,”SBY is showing off his forces to let people know he is still the man in charge.” But SBY cannot be biased. The reason why it is so is that he is the father in-law of Hatta Rajasa’s daughter. Hatta runs as the candidate of vice president with Prabowo Subianto. Aliya Rajasa is married to the second son of SBY, Edhie Baskoro Yudhoyono. They, therefore, are connected to each other. And we cannot be surprised when SBY accepted Prabowo in Istana Merdeka, Jakarta. This is deemed as an unethical act because as a president, he ought to show neutrality. It won’t hurt if he met Prabowo at his own residence but at the presidential palace? Shame on him.


10.50 am

Academicians like Anis Baswedan (who previously was also a presidential candidate but failed along the way and decided to work as an endorser of Jokowi) tend to vote for Jokowi. Another moslem academician voting for Jokowi is Komarudin Hidayat,  a rector of UIN Syarif Hidayatullah Jakarta since 2006. These people are the representation of moderate moslem groups, contrary to the hard-liners who promise to support Jokowi whole-heartedly such as Front Pembela Islam which is known for their agressive, savage and brutal approach while claiming that it is done for the sake of Islam. Too bad not all Indonesian moslems are in favor of FPI’s intolerant attitude, which proves to be toxic in the diverse Indonesia people.



11.08 am

Jokowi is lucky to have an ideal family. He has a wife, a son and a daughter. Happy and harmonious. In the family aspect, Prabowo is not as lucky. He is a widower, having only a son. And the son is said to be gay.


12.00 pm
I cannot believe they tell us they run out of ballots! One of the committee says we have to get to one of the nearby TPSs to vote. That said, the holders of A5 form, me included, should find one TPS with unused ballots left. It didn’t make sense as it is said that every TPS has 12 extra ballots aside from 600 ballots for the permanent residents.

But we definitely will not go down without a fight. This election draws more attention from Indonesians than any previous elections ever. I can see from the overflowing enthusiasm of voters. They want to vote no matter what.

Here some people are confused as to which mass media they have to trust because every news outlet seems to have its own version of quick count. Some others simply ignore what is said by the news anchors of major national TV stations and news sites owned by political figures. TV One is owned by Abu Rizal Bakrie — investor of Path and supporter of Prabowo — and thus it is no wonder they keep telling Prabowo is leading. Metro TV on the other hand is owned by Surya Paloh, a staunch supporter of Jokowi, so they show the public that Jokowi is getting closer to victory.

But anyway we made it! We did vote!
May the best man win!!!


15.09 pm
In this hot humid afternoon, what is better than taking a nap to save energy while fasting is watching the committee tallying the ballots! As he opens up each ballot taken from te ballot box, we gasp and wait,”Jokowi!!!” It goes on and on and interrupted a while by,”Prabowo!!!”

The final result we have got here in TPS 20, Karet Kuningan, Jakarta Selatan is:

H. Prabowo Subianto- Ir. H. M. Hatta Rajasa ===>>> 148 ballots

Ir. H. Joko Widodo – Drs. H.M. Jusuf Kalla ===>> 238 ballots

Invalid ballots ====>>> 5 ballots



Tiongkok, Prabowo dan Orang Jawa yang Kebingungan

Seorang teman berdarah Tiongkok mendesak saya untuk memilih Jokowi daripada Prabowo. “Apa-apaan kamu?”reaksi saya membaca agitasi politiknya di jejaring sosial. Saya tidak mau dipaksa. Saya jelaskan saya bukan orang yang suka melakukan sesuatu dengan berdasarkan paksaan, meskipun hal itu bagus dan positif buat saya. Saya perlu memahami alasan di baliknya lebih dulu. “Kita sama,”ucapnya tentang alasan saya menolak kampanyenya tadi. Dan ia pun berhenti membujuk saya. Ia tahu percuma memaksa saya terus menerus. Kalau pun saya memilih Jokowi, atau Prabowo, saya pastikan karena itu dorongan nurani saya, bukan karena saya takut dimusuhi olehnya.

Ia menganggap saya akan memilih Prabowo karena saya pernah menolak mengucapkan selamat Natal pada rekan Nasrani saya. Ia mungkin berpikir,”Wah, ini anak mirip FPI, Hizbut Tahrir! Radikal! Islam garis keras!” Plus, saya pernah berkata terus terang padanya bahwa saya selalu merasa bersalah kalau harus meninggalkan salat. “Sampai seperti itukah?”tanyanya dengan tidak percaya. Saya muslim dan salat menjadi pembeda antara muslim dan non-muslim (dan muslim abal-abal), jadi sudah sepatutnya saya memberikan perhatian lebih pada ibadah rutin saya satu ini bukan?

Saya sendiri tidak pernah bertanya pada teman ini,”Apa agamamu, koh?” Saya bukannya segan atau tidak peduli, tetapi saya hanya menghormati pilihannya untuk tidak membagikan informasi tentang keyakinannya pada saya. Dan kami tak pernah berdiskusi tentang agama.

Sebenarnya saya sudah bosan menulis tentang apapun yang bertema Tiongkok. Beberapa waktu lalu seperti Anda ketahui, saya baru saja beranjangsana ke negeri tirai bambu dan saya menuliskan ulasan yang campur aduk mengenai pengalaman saya di sana. Tidak semuanya indah, wangi dan menggairahkan nafsu makan. Namun, patut diakui negeri itu memang lebih maju dari Indonesia kita ini. Dua hal yang menurut saya tidak bisa ditebus dengan semua kemajuan ekonomi itu adalah air bersih yang melimpah serta kebebasan pers dan berpendapat di negeri kita tercinta. Tiongkok yang seraksasa itu tidak bisa mengungguli kita! Demokrasi mereka dikebiri sementara kita subur sekali meski kacau di sana sini.

Sebagai seseorang berdarah Jawa, saya tidak pernah memiliki masalah dengan mereka yang berdarah Tiongkok. Bahkan selama di sekolah menengah, saya memiliki banyak teman baik yang berdarah Tiongkok. Saya sempat menaksir satu adik kelas di SMP dan ia sipit juga. Kudus untungnya kota kecil yang damai. Saat kerusuhan tahun 1998, saya masih ingat saya duduk belajar di kelas 1 SMA dengan teman-teman sipit dan kuning saya. Pigura presiden Suharto di depan kelas kami turunkan lalu disandarkan di pojok ruangan kelas 1H, kelas saya yang letaknya dekat kantin belakang sekolah. Saya tidak ingat ada kebencian rasial di antara kami. Itu hanya terjadi di televisi, di Jakarta, ibukota yang nun jauh di sana. Kudus kehidupan nyata kami dan hanya kedamaian di sini. Setidaknya itulah kesan yang saya tangkap saat itu.

Pada saat yang sama, di Jakarta kerusuhan masif melanda. Latar belakangnya adalah faktor rasial. Medan juga tidak luput dari kerusuhan karena di sini juga menjadi basis penduduk keturunan. Kerusuhan ini mendorong pengunduran diri Presiden Soeharto dan kejatuhan Orde Baru.

Teman saya tadi menjelaskan mengapa dirinya mendorong saya memilih Jokowi saat ini. “Karena aku takut itu terjadi lagi,”tukasnya. Trauma yang mendalam itu membuatnya terpanggil untuk mendukung Jokowi. “Aku bukan fanatik buta pilih Jokowi tapi aku takut kejadian 98 terulang. Waktu itu aku masih SMA di Tangerang dan jauh dari keluarga. Teman-temanku dari kota asalku ketakutan sampai tidak tidur dengan menggenggam benda apapun yang bisa dijadikan senjata membela diri. Teman dekatku ada yang kena (kerusuhan – pen). Toko mereka dijarah habis-habisan. Mereka tidak sampai dilukai tetapi trauma dengan penjarahan karena melihat sendiri. Intinya kalau pemerintah gak bisa urus negara, ekonomi bisa kacau dan penjarahan bisa terjadi lagi.”

Lalu pagi ini, saya menemukan dua tulisan menarik di Terlihat dari ekstensi domainnya, kita ketahui ini situs asal benua kanguru. Ada tulisan “Prabowo and His Anti-Chinese Past?” tulisan Tonny yang mengaku seorang dosen di Surabaya (tanpa foto diri) dan “Prabowo The Chameleon” tulisan Danau Tanu, seorang mahasiswa Ph. D. Jurusan Studi Asia dan Antropologi di University of Western Australia mengenai mobilitas dan pendidikan internasional di Indonesia.

Artikel pertama membuat saya teringat dengan ketakutan teman saya yang berdarah Tiongkok itu. Di dalamnya dituliskan oleh Tonny sebuah narasi yang sudah jelas arahnya. Prabowo Subianto menurut Tonny adalah salah satu sosok dengan peran penting dalam kerusuhan 1998. Di artikelnya, Tonny menuliskan:
“…as well as doubts about his whereabouts at the time, which possibly link him to the events of May 1998, even if he wasn’t actually at the centre of the violence.
[…] it is rarely remembered that on January 26, 1998, Prabowo invited a group of Muslim intellectuals and clerics to a fast-breaking at Kopassus headquarters. While Prabowo gave a speech about foreign threats to the stability of the nation, his staff distributed books containing data on the economic dominance of Chinese-Indonesians in Indonesia to the audience of around 5,000.
[…] In particular, Prabowo accused Chinese-Indonesian businessmen of economic sabotage as a means of bringing down Soeharto.
[…] we may conclude that Prabowo had an interest in portraying Indonesian Chinese as a scapegoat for the financial crisis of 1997.”

Saya bisa menemukan alasan mengapa teman saya demikian takut dengan kemungkinan naiknya Prabowo menjadi presiden RI kalau pernyataan-pernyataan ini bisa dibuktikan kebenarannya lebih lanjut dengan pemberian catatan kaki atau sumber klaim-klaim di dalamnya. Tetapi sayang saya tidak bisa menemukan rujukan apapun sehingga saya masih skeptis.

Sementara itu, dalam “Prabowo The Chameleon” kita bisa membaca adanya penggunaan teori psikoanalisis untuk menerangkan sikap bunglon Prabowo. Dikutip sebuah wawancara dengan Prabowo yang menceritakan kisah penghinaan terhadap bangsa Indonesia yang dilakukan teman-teman sekolahnya di Swiss terhadap bangsa ini, yang mereka katakan “masih tinggal di pohon”. Seperti primata? Harus diakui itu sangat ofensif sekali. Oleh karena itu, bisa dipahami jika Prabowo yang bersentuhan dengan banyak bangsa di masa mudanya itu tumbuh menjadi pribadi yang nasionalis. Danau Tanu memanggil Prabowo sebagai “Third Culture Kids” karena tumbuh sebagai anak dan remaja yang harus berpindah-pindah. Tercatat ada 6 negara yang pernah disinggahi Prabowo saat belia dan menurut Danau pengalaman masa muda ini membentuk Prabowo sebagai bunglon agar tetap bertahan di lingkungan baru tetapi menurut saya pada waktu yang sama membuatnya makin patriotis karena merasa terhina dengan sikap dan perilaku oknum bangsa Barat yang terang-terangan mencemooh Indonesia. Berikut kutipannya:
“To make it more confusing for the observer is that not only is Prabowo a cultural chameleon, but he is also a political chameleon – two different skills that are not to be confused with each other. The former allows Prabowo to communicate effectively with different audiences, the latter allows him to change political tunes when it suits him. Over the past decade or so, he went from a military commander who was implicated in the killing of unarmed citizens to a defender of the poor.”

Dan sekali lagi,saya menuliskan ini hanya sebagai deskripsi mengapa teman saya itu cemas dengan pencalonan Prabowo menjadi presiden RI ke-7.

Di sini sebagai orang berdarah Jawa dan pribumi, saya mencoba memahami kecemasannya, mencoba berempati dan kemudian terbentur pada kenyataan yang membingungkan, bahwa kedua calon presiden kita ini dari suku Jawa tetapi memiliki pandangan yang berbeda dalam berbagai hal. Jadi, kalau harus memilih dengan prinsip etnosentrisme, memilih Prabowo atau Jokowi juga sama saja. Kalau harus memilih dengan berdasarkan kesamaan keyakinan, tidak ada bedanya juga. Kalau begitu saya harus bagaimana? Untunglah masih ada sepekan lebih untuk sekadar menimbang-nimbang. Dalam pada itu, biarkan hati nurani yang memutuskan.