Wartawan ‘Plus-Plus’: Sebuah Pledoi

 (Photo credit: Wikimedia Commons)
Wartawan sekarang juga mesti plus-plus. (Photo credit: Wikimedia Commons)

Melalui WhatsApp, suatu siang saya diajak bertemu oleh seorang teman di hari libur di tengah pekan. Saya berkelit dari kewajiban untuk hadir segera  untuk memenuhi ajakannya bertandang ke rumah seorang teman lain yang cukup jauh dari tempat tinggal saya di jantung ibukota. Kata saya,”Saya masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan. Mungkin habis makan siang saya baru bisa ke sana.” Begitulah kira-kira janji saya kepadanya dalam bahasa yang lebih halus.

“Ah, kamu ini! Bekerja terus tapi nggak kaya-kaya!” selorohnya pada saya. Saya tersenyum kecut meskipun saya hanya menatap layar gawai. Saya memang tidak mengada-ada. Ada sebuah pekerjaan menerjemahkan yang saya sedang tangani. Dan saya sudah menetapkan disiplin ketat untuk menyelesaikan setidaknya sepuluh halaman dalam sehari agar bisa lekas selesai pada batas waktu yang sudah disepakati. Jika gagal saya penuhi, denda sudah menanti.

Anda pikir saya penerjemah penuh waktu? Tidak, saya wartawan. Dan saya sudah menekuni pula banyak pekerjaan selain jurnalisme. Di waktu luang saya berusaha untuk melengkapi diri dengan beragam ketrampilan selain jurnalistik yang bisa bermanfaat dalam mengais rezeki halal. Karena memang mengandalkan nafkah dari jurnalisme saja tidak mungkin cukup untuk bisa bertahan hidup di pasar tenaga kerja Jakarta yang makin mahal dan kompetitif serta dunia bisnis dan ekonomi makro yang secara umum masih terhimpit.

Di tengah degradasi jurnalisme seperti sekarang, saat konten orisinal dan berkualitas makin jarang dan daur ulang konten makin menjadi-jadi, belum lagi dengan desakan teknologi informasi, rasanya profesi wartawan makin tergerus. Saya sudah pernah membaca bahwa jurnalis ialah salah satu profesi yang akan segera digantikan oleh mesin/ algoritma. Programmer sudah bisa membuat kode-kode khusus yang nantinya akan mengumpulkan konten secara otomatis, yang hasilnya kemudian bisa disajikan sebagai berita dan disuguhkan pada pembaca. Berita jenis ‘hard news’ misalnya berita gempa bumi akan bisa dengan mudah dibuat karena sudah memiliki pola (template) 5W dan 1H yang sudah lazim itu. Tidak perlu menyuruh seorang reporter mengetik, algoritma itu akan bekerja mengumpulkan data dari pusat data seismik yang ada dan mengirimkannya ke kantor-kantor berita yang membutuhkan dan menyebarkannya secepatnya.

Saya tentu awalnya takut mendengar ramalan semacam itu. Kemudian saya mulai menyiasatinya dengan melakukan diversifikasi ketrampilan diri. Saya harus bisa lebih dari hanya sekadar menyajikan fakta dalam berita, atau mendaur ulang konten dari portal berita lain yang sudah ada. Saya pun mencari berbagai celah potensial untuk mengembangkan diri saya agar menjadi wartawan plus-plus.

Pekerjaan sehari-hari saya sebagai jurnalis daring membuat saya terpapar dengan media sosial secara terus menerus, perlahan-lahan saya mulai belajar media sosial juga. Saya menyisihkan waktu secara sengaja untuk belajar lebih mendalam tentang media komunikasi baru ini. Dan dari sana, saya bereksperimen dengan apapun yang saya miliki, baik itu alat, kesempatan dan berbagai metodenya yang memungkinkan untuk belajar media sosial karena saya sadar akan makin banyak orang memerlukan ketrampilan berkomunikasi secara lebih efektif dan efisien di kemudian hari. Saya pun nekat mengikuti lokakarya media sosial selama beberapa hari di tengah pekan meskipun itu artinya jatah cuti saya tergerus. Saya tahu ini merupakan investasi masa depan, karena sebagai wartawan, sampai kapan saya mesti mengetik berita daur ulang dan mewawancarai orang-orang hanya untuk dibaca di portal berita hanya untuk dilupakan setelahnya? Dan investasi ini terbukti menghasilkan karena saya baru-baru ini diundang untuk menerangkan media sosial dan mekanisme pemanfaatannya sesuai tujuan komunikasi kelembagaan.

Bidang pekerjaan jurnalisme juga berkaitan erat dengan dunia tulis menulis kreatif (creative writing). Sehingga saya pun mencoba menulis artikel di media jurnalisme warga. Selain itu, saya beruntung karena beberapa kali artikel yang saya tulis termuat di dalam surat kabar juga. Upah untuk satu artikelnya memang tidak seberapa tetapi toh sudah membantu memupuk reputasi saya sebagai wartawan yang tidak cuma bisa menulis berita tetapi juga lainnya (karena ada juga wartawan yang menulis hanya saat mereka bekerja, sebab passion mereka bukanlah menulis). Semua itu membantu saya mendapat pekerjaan sebagai ghostwriter (penulis bayangan) sebuah buku dan penulis di sebuah majalah seni.

Setelah itu, saya juga berhasil memasukkan tulisan-tulisan saya dalam beberapa buku yang diterbitkan oleh teman-teman saya. Sekali lagi, memang imbalannya sangat tidak seberapa tetapi saya terus melakukannya sebab saya yakin saya melakukan ini untuk mengasah ketrampilan saya dan memperkaya wawasan dan memperluas jaringan. Pendeknya, tidak ada yang sia-sia jika saya berpikir dalam jangka panjang.

Dalam membuat berita/ konten, saya juga terbiasa menerjemahkan (karena saya diserahi segmen berita mancanegara). Dengan ditambahi dengan latar belakang pendidikan yang mendukung (Sastra Inggris), saya pun juga melakoni profesi penerjemah paruh waktu. Saya mencoba menjalin relasi dengan banyak orang karena saya sadar dari banyaknya kenalan, saya bisa menawarkan jasa saya sebagai penerjemah. Dan relasi itu dibangun dengan organik, yang maksudnya ialah hubungan yang saya bangun tidak melulu karena saya berhasrat menawarkan jasa penerjemahan pada mereka tetapi juga karena saya ingin menjadi teman yang baik. Saya paling benci jika menemukan orang yang terlalu bernafsu memonetisasi hubungan mereka dengan orang. Jika menguntungkan, ia dekati dan berhubungan baik dengan orang tetapi jika tidak ada keuntungan yang bisa dipetik, orang itu diacuhkan begitu saja.

Hobi lain yang saya minati juga kemudian saya terus tekuni. Saya menyukai yoga untuk diri sendiri awalnya. Saya anggap ini upaya menyehatkan diri agar saya bisa bekerja leboih produktif, karena profesi wartawan sungguh identik dengan kebiasaan kurang sehat, dari merokok, mengopi, begadang, makan sembarangan (asal kenyang dan enak)  Hingga kemudian saya menemukan celah untuk memaksimalkan minat saya ini lebih jauh. Saya terus berlatih dan akhirnya memutuskan belajar lebih dalam sampai mengikuti pelatihan mengajar yoga. Singkatnya, saya terjun dalam dunia yoga sebagai pengajar dengan salah satu alasannya, yakni untuk meragamkan ketrampilan hidup saya di samping kemampuan dan pengalaman jurnalistik yang ada.

Selain semua bidang di atas tadi, saya juga masih meluangkan waktu untuk mengajar bahasa Inggris untuk klien pribadi. Saya juga sebelumnya sudah mengajar di sebuah kampus tempat seorang politisi memberikan celetukannya soal gaji kecil pewarta. Saya meninggalkan tempat itu sekarang. Tidak lain karena gajinya juga tidak kalah memprihatinkan dari gaji wartawan. Dari pengalaman itu, saya lebih suka mengajar klien individual karena tidak perlu kerja ‘rodi’ mengajar kelas berisi 60 orang dan meneliti kertas jawaban ujian tertulis sampai larut malam. Upah lebih tinggi karena saya yang menentukan jumlah dan jadwalnya sendiri. Mau, ambil. Tidak mau, silakan cari yang lain. Dan setelah les, saya bebas. Tidak terbebani kewajiban menyetor nilai, menandatangani lembar ini itu untuk bisa mengambil honor, berbasa-basi dengan rekan pengajar yang mengira saya mahasiswa juga. Merepotkan.

Jadi, kalau saya mendengar politisi itu mengolok-olok gaji pewarta dan mengukur kesejahteraan dari kekerapan mengunjungi mall dan berbelanja barang-barang konsumtif, saya hanya bisa berdehem dan menggulingkan bola mata. Saya tidak akan terhina karena memang begitulah faktanya. Akan tetapi meskipun itu benar, kalau mau berpikir lebih bijak, tidaklah etis bagi seorang tokoh publik untuk melontarkannya dalam kesempatan terbuka, saat leluconnya bisa dikutip dan disebarkan setelah konteksnya dipreteli secara semena-mena.

Alih-alih  merasa terhina dan berang, saya anggap lelucon yang sama sekali tidak lucu itu sebagai sebuah cambuk untuk menjadi wartawan ‘plus-plus’. Maksud ‘plus-plus’ itu tentu bukan wartawan yang menyambi menjadi pekerja seks komersial (meskipun memang harus diakui lumayan menggiurkan, tetapi masalahnya berapa banyak wartawan yang bahkan peduli dengan penampilan fisik mereka sendiri), tetapi menjadi wartawan yang sanggup menjadi lebih dari sekadar pekerja teks komersial. Karena wartawan plus-plus akan memiliki kekuatan tersendiri, tidak hanya bisa pasrah pada pemodal yang mau menang sendiri dengan menggaji mereka sekecil-kecilnya. Jadi jika idealisme wartawan dilanggar, wartawan itu tidak akan kelaparan saat harus meninggalkan kantor-kantor berita para pemodal kikir atau kantor redaksi yang tercemar kapitalisme digital yang mengukur kinerja dengan pageviews. (*)

Yoga, Mimpi, dan Kreativitas

Dalam savasana idealnya kita tetap sadar, jangan sampai lelap apalagi mendengkur. Inilah tantangannya. (Foto: Radiantly Alive Yoga Studio ,Ubud)
Dalam savasana idealnya kita tetap sadar, jangan sampai lelap apalagi mendengkur. Inilah tantangannya. (Foto: Radiantly Alive Yoga Studio ,Ubud)

Baru-baru ini saya bertemu dengan seorang mahasiswa yang ingin membahas yoga dalam penelitian akademiknya (skripsi). Dan saya entah kenapa menjadi orang yang ia pilih untuk menjadi narasumber. Kemungkinan besar karena saya sudah memajang berbagai kontak saya di dunia maya, sehingga tidak heran jika siapa saja termasuk dia bisa tiba-tiba memiliki akses menuju alamat surel saya dan bertanya soal yoga.

Kami pun bertukar kata lewat surel dan untuk kepentingan pemenuhan data, saya pun dikirimi sebuah daftar pertanyaan. Ia menanyakan pekerjaan saya, saya mengaku sebagai copywriter. Dan sebuah pertanyaan menggelitik yang tercakup di dalamnya ialah:”Apakah gerakan hatha yoga bisa membantu menemukan ide kreatif dalam pekerjaan Anda? Jika iya, kenapa bisa? Gerakan yoga apa saja yang bisa mengembangkan kreativitas? Apakah selama beryoga sering mendapat inspirasi? Seperti apa contoh nyata dan solusi kreatif dari yoga dalam pekerjaan Anda?”

Terus terang saya tergagap. Selama ini saya beryoga dan meyakini kontribusi yoga dalam performa kreatif dalam pekerjaan saya begitu saja. Tetapi itu saya mesti akui hanya sebatas sugesti subjektif yang tidak bisa saya jelaskan secara gamblang, apalagi secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Saya pun tidak yakin harus mengutip hasil penelitian siapa atau yang mana untuk mendukung opini saya itu, jadi saya selama ini hanya meyakini saja karena demikianlah yang setidaknya saya rasakan. Saya merasa lebih bisa bekerja dengan baik setelah beryoga. Itu saja.

Namun, begitu saya ditanya seperti ini, saya mau tak mau harus mencari jawabannya dari berbagai literatur yang saya bisa temukan. Awalnya saya hanya bisa memberikan jawaban yang mengawang-awang. Semuanya mengandalkan perasaan, sensasi, dan subjektivitas melulu.

Saya baru menyadari bahwa memang ada penjelasan yang lebih ilmiah untuk itu. Dan itu saya temukan dalam uraian Andrea Rock, seorang jurnalis investigasi yang berhasil memenangkan sejumlah penghargaan bergengsi seperti National Magazine Award dan Investigative Journalist dan Editors Award. Dalam karyanya yang berjudul “The Mind at Night”.

Tulisan Rock membahas soal mimpi dan hubungannya dengan pengasahan kreativitas. Dikatakan oleh Rock bahwa:

One way to really tap into the creative potential of dreams is to train yourself to experience lucid dreaming – that is, to realize you’re dreaming while you’re dreaming, and to stay asleep.

If you can do this, you might be able to then take control of your dream and do things that you can’t do while you’re awake, like take to the sky and fly.

This isn’t always possible, but there are a few techniques to increase you chances.

While you’re awake, stop from time to time to ask yourself whether what you’re seeing is reality or a dream. This will make it easier to raise this question in your dream without waking up, which is the key trigger to achieving lucidity.”

[Terjemahan bebas: Salah satu cara untuk menggali potensi kreatif mimpi ialah dengan melatih diri kita untuk mengalami mimpi secara jernih dan sadar – maksudnya, dengan menyadari bahwa kita sedang bermimpi saat kita tengah bermimpi dan tetap terlelap.

Jika Anda bisa melakukan ini, Anda mungkin bisa mengambil kendali atas mimpi Anda dan melakukan hal-hal yang tidak bisa Anda lakukan saat terjaga, seperti melambung ke angkasa dan terbang.

Ini memang tidak selalu mungkin tetapi terdapat sejumlah teknik untuk meningkatkan peluang untuk bisa mencapai kesadaran saat bermimpi.

Saat Anda terjaga, berhentilah dari waktu ke waktu untuk bertanya pada diri Anda sendiri apakah yang Anda saksikan itu kenyataan atau mimpi. Dengan melakukannya Anda akan lebih mudah untuk memunculkan pertanyaan yang sama dalam mimpi Anda tanpa harus terbangun, yang menjadi kunci untuk dapat mencapai kesadaran.”]

Kemudian pertanyaan saya, setelah kita tahu bahwa kreativitas yang lebih tinggi bisa dicapai dengan mencapai kesadaran (lucidity) sepanjang kita bermimpi, bagaimana yoga bisa membantu kita menjangkau dan mempertahankan level kesadaran semacam itu? Ini karena sulit sekali membangunkan kesadaran diri kita selama kita bermimpi. Kebanyakan manusia hanya akan membiarkan dirinya terhanyut dalam isi mimpinya, entah itu menyenangkan atau mengerikan atau menyedihkan. Mereka terlarut dalam emosi yang mendominasi mimpinya. Padahal saat emosi terlalu menunggangi pikiran, kesadaran sejati justru tertidur.

Dalam latihan yoga, kita biasa menemui istilah “awareness” atau kesadaran dalam instruksi-instruksi guru. Kesadaran ini memang wajib senantiasa dilatih selama beryoga, dan juga dalam kehidupan sehari-hari. Karena tanpa kesadaran, kita bakal cenderung larut dalam roda rutinitas sehari-hari. Dan inilah mengapa orang kerap berceletuk,”Waktu berjalan cepat ya?” atau “Rasanya hari/ minggu/ bulan ini cepat sekali berlalu.” Ini bisa terjadi karena orang selalu bergegas, tergesa, hingga tanpa sadar terseret dalam emosi dan pikiran keseharian yang kurang membekas dalam benak. Karena itulah, kesadaran perlu sekali dijaga dalam melakukan aktivitas apa saja.

Savasana atau pose mayat yang sering dijadikan pose penutup dalam latihan yoga serta teknik yoga nidra yang mengiringinya juga menurut saya juga ada manfaatnya dalam melatih kesadaran kita untuk membedakan mana mimpi dan kenyataan. Dan justru menurut saya pose mayat inilah yang paling menantang di antara pose-pose yoga lainnya sebab dalam pose ini seorang praktisi yoga mesti merilekskan tubuh fisik dan pikiran serta jiwanya secara menyeluruh, tanpa kecuali tetapi tidak melepaskan kesadaran begitu saja. Kesadaran sepanjang melakukan savasana idealnya terus terjaga. Dan inilah tantangan terberatnya: bagaimana pikiran kita tetap terjaga di ambang batas kesadaran dan tidak terseret dalam relaksasi sampai tidur nyenyak dan mendengkur. Dengan alasan tersebut, saya kurang setuju jika sebagian orang (terutama mereka yang pemula) berseloroh bahwa savasana adalah pose favorit mereka karena paling mudah dilakukan. Tinggal berbaring di lantai dan tidur pulas. Tunggu, itu tidur biasa, bukan savasana yang dimaksudkan dalam yoga.

Secara lebih rinci, kita perlu mengetahui perbedaan antara relaksasi dalam savasana versus tidur dalam pengertian yang dipahami khalayak umum. Swami Satyananda Saraswati dalam “Yoga Nidra” terbitan Bihar School of Yoga tahun 1976 menyatakan bahwa relaksasi tidak berarti tidur. “Relaksasi artinya kebahagaiaan sejati; ia tidak memiliki akhir. Saya menyebut kebahagiaan sebagai relaksasi mutlak; tidur ialah aktivitas yang berbeda sama sekali. Tidur hanya memberikan istirahat bagi pikiran dan indra kita. Kebahagiaan merilekskan atma, jiwa dalam diri ini; itulah kenapa, dalam tantra, Yoga Nidra ialah gerbang menuju Samadhi,” terang sang guru panjang lebar.

Kemampuan kita mengatur napas dan raga menurut saya menjadi penentu penting dalam melatih kesadaran sepanjang bermimpi. Dalam mimpi tentunya kita akan kehilangan kendali terhadap napas dan raga kita. Dalam kenyataan, kita memiliki kemampuan mengendalikan keduanya. Indra-indra aktif sehingga kita bisa merasakan sakit, nyeri, lega dengan nyata. Jadi, saat kita melakukan latihan yoga, kita coba saja untuk melakukan teknik pranayama dan asana dengan terus menerus menjaga kesadaran. Jangan lengah sedikitpun dengan menanyakan “apakah ini mimpi atau kenyataan?”.

Saat kita sudah terbiasa dengan pemeliharaan kesadaran dalam berlatih yoga, hingga dalam setiap kegiatan yang kita lakukan sehari-hari, akan lebih mudah juga untuk mengasah kemampuan untuk menyadari bahwa kita sedang bermimpi saat masih dalam mimpi. (*)

Nasi Goreng Vegetables

Nasi goreng dan lelucon-lelucon sebagai bumbunya. (Foto: Wikimedia Commons)

Hujan rintik-rintik sementara rasa lapar di udara dingin ini makin menggelitik. Saya sebenarnya sudah memesan agak awal, atau di tengah. Entahlah, saya tak tahu pasti. Tapi yang saya tahu saya tidak memesan paling akhir. Sialnya, pesanan saya datang paling akhir. “Nasi goreng vegetables,” begitu sebut si pramusaji di hadapan saya. Ia mengeja “vejetabels” untuk memastikan setelah saya melafalkan “vejteblz”. Tiba-tiba saya merasa agak snobbish. Kenapa pula saya lafalkan kata itu dengan benar di hadapan pramusaji itu? Toh ini bukan kelas Pronunciation atau Speaking di perkuliahan yang pernah saya akrabi bertahun-tahun lalu.

Lalu sembari saya menunggu nasi goreng bernama aneh itu, saya teguk minuman yang sudah datang lebih dulu. Saya pesan minuman lemon grass ginger, atau sederhananya jahe dicampur dengan serai. Si pembuat menu juga sama snobbish-nya dengan saya ternyata. Sok pakai bahasa Inggris tanpa alasan jelas. Rasanya hangat dan segar di mulut. Saya sudah bilang tanpa gula tetapi saya lihat di dasar gelas masih ada butiran putih laknat itu. Saya tak izinkan perkara sepele itu membuat saya masygul. Saya hanya ingin menikmati malam ini, bersantap sampai kenyang dan tidur nyenyak agar kembali bisa bekerja besok. Saya hanya berkeluh sebentar lalu saya teguk dan menyisakan gula yang tak saya aduk di bawah.

Untuk menghibur diri karena nasi goreng sayur mayur itu tak kunjung datang, saya baca-baca e-book dalam ponsel. Saya gagal berkonsentrasi membaca. Saya rasa karena otak menderita sebab lapar masih mendera.

Mereka yang semeja sudah menelan semua hidangan yang ada. Sementara saya masih termangu seperti nenek yang kehabisan benang untuk merajut. Tidak ada yang dikerjakan. Membosankan.

Suasana bosan mulai luntur begitu pertukaran kata mulai terjalin. Mereka berbicara perkara laptop, lalu seorang di antaranya mengatakan ada anak magang yang gagal memenuhi tenggat waktu peliputannya karena harus kembali ke kantor hanya untuk mengetik beritanya.

“Ya kalau kamu begitu nanti beritamu tidak akan dimuat kalau telat,” kata si wartawan pembimbing yang kesal karena tidak habis pikir. “Kamu kan bisa mengetiknya di ponsel?”

Kata di wartawan pembimbing itu, si anak magang beralasan,”Ponsel saya hang, pak. Mohon maklum.”

Padahal masih anak muda tapi disuruh memakai ponsel sebagai pengirim berita saja masih tidak terbiasa. Begitu mengetik dalam percakapan di WhatsApp dan Line, terampilnya bukan main dia. Begitu mungkin pikir si wartawan pembimbing dalam benaknya.

Pikir saya, mungkin anak magang itu ingin perusahaan membelikannya ponsel baru yang khusus untuk bekerja. Bukankah begitu logikanya? Kau membudakkan diri pada korporasi dan pada gilirannya kau mengharapkan timbal balik yang sama setelah memberikan kerelaan bergaji ala kadarnya sebagai wartawan magang. Wartawan saja sudah gajinya kecil, apalagi magang. Ah, saya tak boleh berkeluh kesah terlalu banyak dalam tulisan. Nanti pembaca berpikir saya terlalu cengeng dan suka mengeluh, begitu nasihat mentor penulisan saya tempo hari. Sesekali bolehlah, saya tetap bersikukuh.

Keterampilan mengetik cepat tanpa typo di ponsel memang sudah makin penting bagi pewarta modern. Omong-omong soal keahlian mengetik secepat kilat di gawai, mereka teringat dengan seorang jurnalis sepantaran mereka yang kebetulan bertugas dalam liputan peristiwa muncratnya lumpur dari perut bumi di ujung timur pulau ini bertahun-tahun lalu, yang kau juga pasti tahu.

“Sepertinya di ujung jempolnya sudah ada matanya,” tukas seseorang dari kerumunan pewarta senior itu. Saya tak tahu yang mana persisnya. Otak saya menolak bekerja keras sebelum nasi goreng sayuran itu terhidang. Saya lirik jam tangan dan kembali merutuk lambatnya juru masak bekerja untuk mencampur nasi dan sayuran di sebuah wajan.

Seorang lainnya berseloroh dengan berpura-pura memegang sebuah gawai di tangan,”Pak, nanti ngomong ini ya… Cocok nggak?!”

“Hahaha….,” mereka tergelak seraya menahan makanan yang sudah masuk agar tak keluar dari kerongkongan. Sementara itu, saya juga menahan kata-kata makian pada pemilik dan manajer rumah makan agar tidak terlontar dari lidah. Orang lapar bisa sangat agresif, tetapi saya untungnya tidak.

Send nih, pak. Send ya…!”

Tertawa mereka makin menjadi-jadi.

Saya teguk lagi serai dan jahe tadi untuk menghibur diri.

Habis satu lelucon, mereka temukan satu lagi yang baru dan tak kalah menggelikan. Asalnya dari media sebelah. Portal berita mereka pernah membuat kesalahan memalukan. Dan kesalahan itu sudah terpantau orang banyak.

“Masak ada berita judulnya dalam kurung ‘HOLD, NUNGGU UPDATE’?!?!”

Tawa mereka kembali pecah. Menunggu nasi goreng ini saya mulai lelah. Saya mulai menggosok-gosok mata, berharap jika mata saya terbuka, nasi goreng itu sudah ada. Tapi sia-sia.

“Itu yang upload siapa? Haha. Kok bisa?”

Wartawan di ujung meja itu menimpali,”Memang saya dulu juga begitu pas kerja di kantor berita X. Kalau ada pertandingan olahraga, saya ketik dulu judulnya ‘MENANG -KALAH’  lalu saya kirim saja. Redakturnya juga memble. Nggak dibaca kali ya. Begitu tayang, pembaca protes,’Woy, itu sebenernya menang atau kalah sih??!!”

“Pilih salah satu!!!” tukasnya dilanjutkan dengan meledaknya tawa.

Dulu, ceritanya, berita tidak dibuat dalam ponsel cerdas seperti sekarang tetapi harus pakai modem telepon yang sama sekali tidak praktis dan lamban. Mulai tahun 1990-an, para wartawan kantor berita X itu menerapkan teknologi satu ini untuk berkirim berita dari lapangan. Modemnya ditancapkan di gagang telepon lalu dimasukkan kartu dan baru dipencet nomor teleponnya.

“Berita baru masuk separuh, putus! Ulang lagi deh,” kenangnya.

Sungguh masa yang penuh penderitaan bagi wartawan, batin saya. Untuk saat itu saya masih duduk di sekolah dasar. Tidak perlu berpikir pusingnya mengirim berita dengan teknologi yang canggihnya belum seberapa.

Untuk mengetik dan mengirimkan berita, ada laptop yang tertancap ke modem. Di negeri ini konon alat semacam itu baru ada satu. Itupun juga bantuan dari ‘saudara tua’ yang pernah menjajah negeri ini 3,5 tahun. Tapi karena susah digunakan, akhirnya jarang yang pakai juga, ucap wartawan itu.

Ia memuji surat kabar lain yang sudah mendahului media lain di indonesia dengan menggunakan laptop plus modem dan meninggalkan faksimile untuk mengirimkan beritanya.

Saya terseret terus ke pemaparan tentang masa lalunya yang saya tak pernah bayangkan sebelumnya.

“Kalau kirim gambar pakai kamera Canon dengan ukuran wadah mirip kopor besar dari bahan aluminium. Kirimnya pakai modem dan kalau kirim foto warna, kirimnya harus tiga kali. Baru dua kali kirim kalau putus koneksinya harus ulangi lagi dari awal,” ucap wartawan itu lagi sementara yang lain termangu mendengarkan pengalamannya. Biayanya tak terkira. Mahal bukan main. Tagihan telepon di hotel cuma untuk mengirim gambar bisa membuat bokek perusahaan. Karena sekali kirim satu file saja bisa butuh waktu 15 menit sambungan internasional. Sungguh tidak terbayang. Sekarang bisa memakai laptop murah dan wifi gratis, mau kirim foto sebesar apapun juga bisa.

Saat wartawan indonesia masih berjuang mengirim file foto sedemikian rupa (cuci film dulu baru dikirim), wartawan Reuters sudah lincah memakai ponsel dan mengirim file lewat gawai itu. “Kita hanya bisa melihat saja. Iri…,” kata wartawan itu menggambarkan perasaannya.

Saat liputan, mantan wartawan kantor berita X itu kerap memikul sebuah mesin ketik portabel, benda yang mulai langka dan hanya bisa saya temui di kantor-kantor kelurahan. Suatu saat ia bertugas di luar pulau dan lebih memilih naik bus daripada naik pesawat terbang. Di sebuah rute berkelok, mesin ketik berat itu terlempar dari penyimpanan di atas kepala penumpang bus dan jatuh tepat di pangkuan seorang turis manca. Ia bersyukur benda logam itu tidak menghantam kepala turis tadi. Kalau terjadi, bisa sial ia dituntut karena sudah lalai menjaga barang sendiri dan mencederai orang lain.

Seorang lainnya membahas bagaimana konyolnya para jurnalis radio dari sebuah stasiun radio yang mewajibkan pegawainya ke mana-mana berpakaian necis dan berkaos seragam, dengan alat perekam suara di pinggang. Lalu saat liputan banjir di sebuah daerah di Jakarta Barat, dilihatnya sebuah adegan lucu si pewarta radio. “Saya lihat itu mereka tenggelam tapi urutannya kaki, badan dan tangan yang menggenggam erat alat perekam mereka. haha!” Apa lacur, karena memang dalamnya melebihi tinggi badan dan rentangan tangan, alat itu juga terendam air bah pula. Tetapi yang patut diacungi jempol, alat itu terendam paling akhir daripada orangnya yang naas karena perahunya terbalik.

“Antara kasihan dan lucu! Haha…,” komentarnya pada kenangan masa lalu itu.

Percuma berpakaian rapi, toh juga tidak kelihatan gambarnya, imbuh yang lain. Tawa membahana. Saya menggaruk kepala, masih menunggu nasi goreng keparat itu muncul.

Seorang yang lain di tepi meja sana menyumbang lelucon. Juga tentang pewarta radio yang dinaungi pemerintah. “Kalau saya dulu pernah tahu ada teman wartawan radio. Jika dia ingin melaporkan secara langsung (live), sebelumnya ia sudah rekam dulu suara sirine, suara kesibukan orang, lalu begitu masuk kamar hotel yang kebetulan saya ada di dalamnya, ia meminta saya diam dulu saat akan melapor ke Jakarta. Di telepon, ia berpura-pura sedang di lokasi kejadian dan untuk meyakinkan pendengar ia putar lagi suara-suara sirine dan keriuhan yang sudah disimpan di perekam.”

Teman-temannya tertegun siap menyambut punch line. Saya juga.

“Dia bilang,’Saudara, saya berada di garis finish,'” katanya. “Saya mau teriakin,’Boong!!!'”

Lain lagi dengan pengalaman wartawan di depan saya yang juga tentang wartawan radio. “Ini wartawan dari (masukkan nama kantor berita pemerintah di sini), saat itu dia harus meliput kunjungan Presiden Soeharto ke Tapos. Sialnya dia terlambat! Mana harus menembus penjagaan ketat pula. Kalau wartawan cetak masih bisa mengandalkan press release. Wartawan radio mana bisa?”

Akal kancil harus dipakai agar atasan tidak menyembur memuntahkan kata-kata cacian. Si wartawan akhirnya menempuh strategi satu ini:ia memakai efek suara (sound effect) sapi. Dan ia menyuruh temannya — para wartawan cetak — berpura-pura melenguh bagai sekawanan sapi Tapos yang sedang menjalani proses inseminasi buatan. “Ia menyuruh temannya bilang,’Muooooo!!!'”

Sontak derai tawa membuat kaca-kaca restoran itu bergetar. Saya makin meriang sebab hembusan angin malam menerjang tubuh yang belum mengasup makanan sama sekali ini. Saya teguk lagi cairan serai dan jahe tadi sedikit. Saya tak mau nasi goreng itu tiba dan minuman ini habis sebelumnya.

Soal siasat untuk tetap terkesan meliput jika terlambat, ia masih punya amunisi kisah lagi. Alkisah wartawan televisi yang sudah sampai ke tempat yang dituju terengah-engah hendak menjumpai jenderal. Apa daya si jenderal sudah meninggalkan tempat itu. Tak mau menyerah begitu saja si wartawan televisi menyuruh seorang temannya menghidupkan mesin mobilnya dan dengan nada tenang dan mantap ia melaporkan pada pemirsanya,”Pemirsa, itulah mobil dari jenderal U yang baru saja akan meninggalkan Polda M setelah konferensi pers tentang…”

Tahulah saya sekarang kenapa ada laporan-laporan langsung yang terlihat berlatar belakang aneh sekarang. Dan betapa meyakinkannya pewarta-pewarta itu menutupi kegilaan-kegilaan ini. Tiba-tiba saya bersyukur tak punya televisi.

Satu kisah lagi tentang wartawan radio yang harus mewawancarai seorang menteri di suatu era Orde baru. Sebut saja menteri W, yang bersuku Jawa. Karena ia baru tiba dan menteri W sudah meninggalkan tempat perhelatan, ia tak kurang akal. Ia tarik lengan temannya yang wartawan tulis dan berkata seraya memohon,”Kamu kan orang Jawa, pura-pura jadi W ya?!” Ia pun wawancarai wartawan tulis itu dengan sebuah skrip yang ia telah tentukan sebelumnya.

Kembali pada tema banjir. Wartawan yang rupanya sering meninjau peristiwa banjir ini mengisahkan foto yang dimuat di sebuah harian ibukota. Untuk menggambarkan dahsyatnya banjir Jakarta, ia membidik seseorang yang sedang terperangkap banjir sampai selehernya tapi masih di foto yang sama, tertangkap juga pemandangan kontras. Kenapa kontras? Karena di sudut lain dalam foto, ada sebuah angkutan umum yang terendam banjir juga tapi ketinggiannya tak sampai melahap roda-rodanya. Bisa jadi kesan banjir seleher itu karena orang tadi terperosok masuk ke selokan yang cukup dalam. Sebuah kesalahan fatal namun menggelikan juga.

Soal narasumber juga. Hanya karena kita sudah akrab dengan banyak narasumber, tidak serta merta kita bisa menggunakan mereka sebagai antek dalam membuat pernyataan palsu. Seorang wartawan teman wartawan di depan saya ini pernah mengalami kejadian tidak terduga. Karena sudah merasa akrab dan tak perlu meminta persetujuan atas pernyataan yang ia karang dengan menggunakan namanya, si wartawan tinggal membubuhkan saja ke berita yang ia buat. Berita dimuat dan sampai dibaca keluarga si narasumber. Keluarga itu pun menghubungi sang wartawan yang ceroboh. “Begini mas, kami bukan mau protes isi beritanya. Kami cuma keberatan karena bapak Y ini sudah meninggal.” Ah, siapa yang sempat memeriksa mati hidupnya narasumber? Kecuali orang-orang di sekitarnya. “Bener sih beritanya ada bantuan tapi bapak saya sudah meninggal lama, mas.” Lalu harus bagaimana lagi, beritanya sudah telanjur dimuat.

Wartawan juga mesti secerdas kancil dalam mencari peluang. Dan jika peluang itu tidak ada, ciptakan! Alkisah seorang wartawan koresponden di sebuah kota di Pantura merana karena semua perhatian media tersedot ke peristiwa tsunami Aceh tahun 2004. Dan ini memengaruhi tingkat pemasukan mereka. Berita-berita dari daerah mereka tak laku dijual dan banyak yang tidak dimuat redaktur pusat. Apakah ia akan mengarang ada kejadian tsunami di Laut Jawa? Tentu tidak sejauh itu. Yang ia lakukan hanyalah mengajak rekan-rekannya dari media televisi untuk iuran 10-20 ribuan untuk membeli tumpeng. Mereka sepakat membawanya ke sebuah pantai dan nelayan-nelayan lokal yang sebetulnya tidak memiliki tradisi sedekah laut itu disuruh mereka untuk mengadakan selamatan agar menolak bala tsunami yang mungkin bisa melanda daerah tersebut. Jadilah sebuah berita yang laku dan relevan dengan isu yang laris meski sedikit memaksa. Saya pikir inilah ‘inovasi’ dalam dunia jurnalistik. Journalists don’t cover news only. They make (fake) news sometimes. Tapi tentu jangan terlalu sering. 

Saat dinding usus-usus saya sudah lelah bergesekan, akhirnya tiba juga nasi goreng sayuran itu di depan muka. Di atas terhampar adukan nasi berbumbu, berminyak, dihiasi cacahan sayur dan buah nanas. “Tapi bukannya nanas masuk buah-buahan?” saya sedikit protes dalam hati sembari menyuap dengan gaya priyayi. Lambat dan sopan karena penuh perhitungan agar butiran nasi tak berhamburan di meja. Suasana hening, kering. Stok pembicaraan ludes juga. (Foto: Wikimedia Commons)

Repotnya Jadi Repo(r)ter

Repotnya pekerjaan yang dilakukan seorang reporter mungkin akan membuat anak-anak muda urung menempuh karier di jalur ini. (Sumber foto: Wikimedia Commons)

Beberapa tahun lalu saya menemukan sebuah lowongan pekerjaan yang ditawarkan di sebuah situs lowongan pekerjaan daring. Tulisannya “repoter”. Saya ingin tahu pekerjaan macam apa reporter itu. Saya baca dengan lebih cermat, deskripsi kerjanya mirip dengan reporter. Orang mengenalnya sebagai jurnalis, wartawan, atau sejenisnya. Profesi yang mungkin tidak banyak diminati anak muda saat ini kecuali mereka tidak tahu apa yang akan mereka lakukan dengan masa depan mereka.

Saya pikir lagi. Typo atau salah eja tadi memang cocok untuk menggambarkan pekerjaan seorang reporter. “Repot”, sebuah kata sifat, bisa diubah menjadi kata benda yang merujuk pada orang yang mengalaminya jika ditambahi akhiran -or atau -er. Melakoni pekerjaan ini memang membuat orang pontang-panting.

Akan tetapi, meski begitu kerepotan, pekerjaan reporter relatif kurang dihargai oleh masyarakat. Di Indonesia, jarang sekali orang tua menyarankan sejak kecil anak mereka agar bercita-cita sebagai reporter. Lihat saja, rata-rata pasti menyarankan anak menjadi dokter, insinyur, dokter, presiden. Tidak aneh, karena memang ada gengsi juga di sana (walaupun apresiasi finansial juga kadang tidak bisa dipatok — ada dokter yang pendapatannya juga kecil sekali meski prevalensinya rendah).

Penulis humor Raditya Dika pernah menuliskan dalam salah satu bukunya, “Babi Ngesot“, bahwa menjadi reporter itu “pekerjaan yang keren” hanya karena Superman adalah seorang reporter juga. Dan kalau saya boleh tambahkan, Spiderman atau Peter Parker juga seorang wartawan juga. Hanya saja ia jurnalis foto yang kerap ditindas pemberi kerjanya. Sebuah gagasan yang delusional khas anak muda yang penuh dengan idealisme. Ia mengaku dulu pernah bekerja sebagai tenaga magang di sebuah stasiun televisi swasta di ibukota.

Ia bercerita asyiknya menjadi seorang reporter di sana. Berbagai pengalaman sinting dan kocak ia alami. Dari salah paham saat mewawancarai narasumber, liputan ancaman bom palsu sampai harus kerja pagi sampai dini hari.

Menyoal kewajiban seorang reporter untuk memiliki ketajaman telinga saat mewawancarai via telepon saya juga pernah alami. Maka dari itu, dalam berbagai kesempatan jika saya tidak benar-benar terpaksa saya akan menggunakan media tertulis saja untuk menghubungi narasumber (entah itu via aplikasi obrolan bergerak) atau surel. Lebih baik lagi jika saya bisa bertemu langsung dan merekam perkataan narasumber itu. Saya tidak cuma mengandalkan pendengaran dan daya ingat saya yang begitu tidak bisa dipercaya. Kecepatan menulis saya juga kurang tinggi. Alhasil, untuk mencegah salah kutip saya selalu berupaya merekam dan transkripsi hasil wawancara itu dengan lebih baik

Kerepotan menjadi reporter sudah terjadi saat melamar lowongan kerja. Biasanya reporter sudah diwajibkan menyerahkan sebuah karya jurnalistik. Lalu bagaimana jika belum berpengalaman sehingga belum ada karya yang bisa dikumpulkan? Itu repotnya.

Kerepotan lain menjadi reporter muncul saat sudah diterima kerja. Tiba-tiba saja reporter bisa ditugasi beat atau ditempatkan di desk yang sama sekali tidak dikuasai. Beat sendiri bisa dimaknai sebagai sebuah area peminatan seorang reporter. Namun, tetap saja menurut pengalaman penugasan bisa mengabaikan minat seorang reporter dan di sini reporter harus rela kerepotan menyesuaikan diri, belajar dari nol tentang semuanya dengan sangat cepat. Pokoknya tidak ada waktu untuk santai. Harus belajar mandiri setiap hari.

Bagi reporter, setiap hari baru berarti sebuah tantangan baru. Reporter, sepintar apapun, tidak akan bisa meramal berita yang akan muncul dari dalam pikiran keesokan hari. Selalu ada insiden baru yang harus dicari dan diceritakan pada pembacanya.

Reporter juga mesti rela repot bekerja lembur tanpa diberi upah ekstra. Secara teoretis, seorang pewarta memang dikategorikan karyawan seperti buruh tetapi pada dasarnya beban kerja dan rentang waktu kerja mereka di lapangan sangat panjang dan penuh tekanan.

Tantangan bekerja sebagai reporter yang tak kalah besar bisa jadi ialah keharusan untuk bekerja jika diperlukan saat semua orang lazimnya berlibur atau santai. Bekerja di hari libur nasional, tanggal merah atau menghadiri sebuah event di akhir pekan, sudah terasa biasa bagi reporter.

Terakhir tetapi bukan yang satu-satunya ialah kerepotan yang jauh lebih hebat, yaitu kerepotan menjaga idealisme sebagai pewarta. Kita semua pasti tahu kecilnya gaji wartawan hingga memunculkan fenomena “wartawan bodrex”.

Jurnalis Masuk Daftar Pekerjaan Terburuk 2015 versi CareerCast.com

Entah jika di Indonesia, tetapi yang pasti di negeri Paman Sam pekerjaan sebagai reporter surat kabar bukanlah jenis pekerjaan idaman. Berdasarkan survei yang dilakukan situs pencarian lowongan kerja CareerCast.com, pekerjaan yang dianggap paling buruk di AS ialah reporter surat kabar. Dua pekerjaan lain yang berhubungan dengan media, yaitu broadcaster (penyiar) dan jurnalis foto, juga disebut dalam deretan 10 pekerjaan terburuk. Ketiganya disebut bersama pekerjaan-pekerjaan lain yang rata-rata menyedot banyak tenaga.

Pekerjaan-pekerjaan ini diurutkan berdasarkan aspek-aspek penting seperti pendapatan, peluang di masa datang, faktor lingkungan kerja, tekanan mental dan tuntutan fisik. Aspek-aspek ini dianggap penting dalam data kerja di Biro Statistik Ketenagakerjaan AS (Bureau of Labor Statistics).

Dan pekerjaan terbaik di tahun 2015 adalah ‘actuary’, orang yang bertugas mengumpulkan dan menganalisis data statistik dan menggunakan data untuk menghitung risiko dan premi asuransi. Mereka ini membuat asumsi-asumsi yang akan menentukan surplus dalam dana pensiun, misalnya.

Inilah daftar pekerjaan terbaik tahun ini versi CareerCast.com:

1. Actuary
2. Ahli audio
3. Matematikawan
4. Pakar statistik
5. Insinyur biomedis
6. Ilmuwan data
7. Dental hygienist
8. Software engineer
9. Terapis terlatih
10. Analis sistem komputer

Sementara itu yang terburuk adalah:

1. Reporter surat kabar
2. Juru tebang pohon
3. Personel militer
4. Juru masak
5. Penyiar
6. Jurnalis foto
7. Petugas Lembaga Pemasyarakatan
8. Pengemudi taksi
9. Pemadam kebakaran
10. Petugas pos

Strategi BuzzFeed

Dikenal sebagai situs yang kontennya kerap beredar secara viral di Internet, BuzzFeed bisa dikatakan menjadi salah satu fenomena media yang mencengangkan di abad informasi ini. Valuasinya diketahui mencapai miliaran dollar AS. BuzzFeed sukses sebagian karena mampu mencerminkan bagaimana kita merespon konten di dunia maya.

Seperti dirangkum dari laman TechinAsia, Buzzfeed sukses berkat beberapa strategi yang sebelumnya tak banyak terpikirkan oleh pebisnis media.

Tidak cuma menarik dan bagus, konten harus memiliki kepentingan sosial. Masalahnya hal itu cukup sukar dirumuskan. Semuanya cuma berdasarkan naluri tim editorial semata. Bahkan BuzzFeed menjadikan jejaring sosial sebagai tujuan utama pembuatan kontennya. Dengan 200 editor di dalamnya, BuzzFeed mempublikasikan 700 hingga 900 konten dalam sehari di situs mereka. Para penulis dibiarkan begitu saja mempublikasikan konten mereka namun tidak semuanya akan ditampilkan di laman depan situs. Bila konten itu tidak banyak dibagikan orang, ia akan lenyap dengan sendirinya. BuzzFeed akan habis-habisan mempromosikan konten yang begitu menarik bagi orang setelah menarik perhatian orang di jejaring sosial.

BuzzFeed mensurvei ke sebanyak mungkin orang. Dengan bertanya ke sebanyak mungkin orang yang akan menjadi target pembacanya, BuzzFeed terus menyesuaikan diri dengan minat mereka sehingga kontennya tetap digemari. Jadikan topik-topik yang paling digemari sebagai prioritas utama tanpa harus mengabaikan topik konten lainnya yang juga penting untuk menjangkau audiens baru yang sebelumnya tidak banyak digarap situs berita lain. Ini penting untuk terus menumbuhkan jumlah pembaca situs.

BuzzFeed merekrut blogger-blogger top. BuzzFeed berinvestasi secara serius dalam hal sumber daya penulis kontennya. Perusahaan media itu menarik blogger-blogger dengan audiens yang sudah setia untuk membuat konten di situs BuzzFeed.

BuzzFeed juga bereksperimen dengan banyak bentuk konten, termasuk bentuk konten tulisan panjang dan analitis yang mungkin bagi sebagian orang berbeda dari bentuk konten listicle atau kumpulan foto dan meme yang kurang mengasah intelektual pembacanya. Namun demikian, konten listicle yang bombastis, instan dan menarik utnuk dibagikan masih menjadi yang utama. Ini dilakukan karena pola konsumsi konten juga berubah. Untuk itu, mereka menunjukkan keseriusan dengan membawa masuk Ben Smith (jurnalis politik berpengalaman) dan Steve Kendall dari majalah Spin untuk menangani konten jenis long-form. Demi mengukur kinerja konten long-form, BuzzFeed tidak menggunakan tolok ukur (metrics) yang sama dengan konten listicle atau meme lainnya. Memang tidak ada yang absolut dalam mengukur kinerja konten. Cuma
mengandalkan logika, spekulasi, perasaan dan naluri.

BuzzFeed mengutamakan waktu yang dihabiskan dalam mengkonsumsi konten. Durasi waktu yang dibutuhkan orang untuk membaca konten dijadikan tolok ukur yang makin penting.

BuzzFeed membuat konten lebih mudah dibagikan dan sesuai untuk dibagikan di aplikasi percakapan mobile seperti WhatsApp, Line, Kakao Talk, WeChat, dan sebagainya. Ini penting bagi pasar dengan audiens yang getol mengakses konten via ponsel cerdas.

BuzzFeed terus menyesuaikan diri dengan berbagai situs jejaring sosial dan cara-cara lain yang membuatnya lebih mudah dibagikan dan ditemukan. Pertama, mereka menggunakan istilah-istilah pencarian dan mengunggah berbagai konten yang bertema serupa. Kemudian mereka mulai menggunakan Facebook lalu Pinterest. BuzzFeed tidak ambil pusing dengan algoritma jejaring sosial yang berubah-ubah karena mereka hanya fokus pada pembuatan konten yang menarik untuk disebarkan, entah itu tulisan, foto dan video.

BuzzFeed membolehkan artikel ‘daur ulang’. Namun, ini bukan berarti tinggal salin rekat (copy paste) begitu saja. Masih diperlukan pengolahan agar sudut pandang, nada penyampaian dan suara yang digunakan berbeda dari yang sudah ada.

BuzzFeed tak banyak menggunakan judul artikel yang bersifat menipu pembaca. Judul-judul yang disebut “clickbait” itu memang awalnya bisa mendatangkan banyak pengunjung tetapi efeknya dalam jangka panjang, makin sedikit orang yang percaya dan memilih untuk mengabaikan karena telah pernah dikecewakan sebelumnya karena judul yang tidak sesuai dengan kenyataan atau dilebih-lebihkan.

BuzzFeed menggunakan prinsip “tak banyak membual tapi memberikan lebih banyak” dalam tim editorialnya. Ini karena mereka mendorong pembaca untuk tidak hanya mengklik sebuah judul atau tautan tetapi juga mendorong mereka membagikannya ke sebanyak mungkin orang via jejaring sosial. Jika judul bombastis, dan isinya kurang sesuai harapan dan membuat kecewa, mana mungkin orang mau membagikannya?

(image credit:smallbusiness.foxbusiness.com)

Bagaimana Memperkenalkan Startup Anda pada Jurnalis, Tanpa Spamming

Bukan rahasia lagi bahwa startup-startup ‘haus publikasi’. Mereka ingin media meliput bisnis mereka. Mereka ingin semua orang
membicarakan produk dan layanan yang mereka luncurkan. Mereka mau brand mereka menempel di otak orang sebagaimana “Aqua” untuk air minum dalam kemasan, atau “Sanyo” untuk pompa air. Mereka mau kampanye marketing digitalnya viral hingga tingkat global di jejaring sosial. Entrepreneur pendiri startup juga tidak kalah ingin dikenal oleh publik dan dianggap sosok sukses dan bisa menjadi panutan.

Sayangnya, tidak banyak entrepreneur sekaligus pendiri startup yang mau bersusah payah untuk memilah-milah jurnalis yang ingin mereka tuju. Mereka biasanya membombardir jurnalis yang mereka telah dapatkan alamat surelnya dengan berbagai pernyataan pers atau semacamnya dengan satu keyakinan:”Siapa tahu mereka mau memuatnya?”

Padahal dalam sudut pandang jurnalis, menerima surel yang tidak dikehendaki secara terus menerus bisa cukup mengganggu produktivitas. Kita bisa bayangkan betapa repotnya memilih puluhan surel yang harus dibuka, dibaca, disortir dan dibalas serta kemudian diolah menjadi berita di kotak masuk (inbox) dalam sehari.

Kesalahan umum yang biasa terjadi ialah entrepreneur dan startup mengirimkan surel pada jurnalis yang memiliki minat dan bidang liputan yang tidak atau kurang sesuai. Misalnya, seorang jurnalis yang bertugas meliput sektor bisnis properti akan merasa terganggu jika dibanjiri dengan surel berisi press release dari perusahaan ritel.

Persoalan akan lebih mudah bagi entrepreneur dan startupnya jika diketahui bahwa si jurnalis memiliki tugas peliputan yang mencakup bidang yang relatif luas. Contohnya, jika seorang jurnalis ditugasi meliput dunia bisnis dan ekonomi secara umum. Tentu pengiriman surel pernyataan pers yang isinya peluncuran produk baru atau pendirian startup baru akan lebih dapat diterima. Namun, sekali lagi tidak semuanya demikian.

Mengapa mengirimkan surel secara membabi buta ke semua jurnalis tidak sepatutnya dilakukan? Karena selain bisa dianggap spamming dan merepotkan jurnalis itu sendiri, entrepreneur juga akan menghabiskan waktu dan tenaganya secara tidak efektif dan efisien. Ibarat berperang dengan peluru terbatas, Anda sudah menghamburkan peluru yang berharga itu dalam waktu beberapa detik. Hematlah peluru-peluru itu dengan membidik lalu menembak musuh dengan cermat dan tepat. Apa artinya 1000 tembakan meleset dibandingkan 1 peluru yang bisa menembus jantung pimpinan musuh?

Lalu apa yang bisa dilakukan agar entrepreneur tidak terjebak dalam permainan spamming ini? Yang pertama dan utama menurut entrepreneur media Jason Calacanis ialah membaca artikel dan konten yang dihasilkan oleh seorang jurnalis. Kemudian setelah itu, ikutilah ide-idenya di blog, jejaring sosial setidaknya selama sebulan. Jadilah pengikut akunnya di Twitter, baca tweet-tweetnya. Bertemanlah dengannya di jejaring sosial Facebook jika memungkinkan. Semua ini perlu sekali dilakukan sebelum Anda memutuskan menghubungi si jurnalis. Mengapa ini penting? Agar Anda bisa paham bagaimana mereka berpikir melalui apa yang mereka katakan dan tuliskan. Seperti yang dikatakan Calacanis, menghubungi jurnalis via surel tanpa mengenal mereka dan apa yang mereka lakukan dalam pekerjaan sungguh “sebuah kegilaan”. Ditegaskan juga oleh Greg Galant (salah satu pendiri Mucrack), bahwa 90% dari jurnalis yang ia survei mengatakan lebih menyukai orang yang menghubungi mereka sudah mengikuti tulisan-tulisan mereka sebelumnya karena dengan begitu mereka tidak cuma sekadar mengirimkan surel tanpa dikehendaki. Ada hubungan yang terjalin dan jurnalis akan lebih yakin bahwa Anda menyisihkan waktu untuk meneliti siapa mereka dan apa yang mereka kerjakan.

Metta Dharmasaputra tentang Suka Duka Peliputan Investigatif (2 – Tamat)

MD-3
Metta mengungkap sekelumit cerita mengenai peliputan investigatif yang ia lakukan di Tempo beberapa tahun lalu. (Sumber foto: Wikipedia)

Sebelumnya di bagian pertama Metta mendorong pemerintah Indonesia untuk memperbaiki database bisnis yang akan mempermudah kerja jurnalis dan kini ia bercerita tentang peliputan kasus Asian Agri yang panjang sehingga cukup menguras energi bagi Metta dan keluarganya. Asian Agri sendiri adalah salah satu perusahaan kelapa sawit terbesar di tanah air. Luas lahan perkebunannya mencapai 150.000 hektar. Struktur perusahaannya sangat kompleks. Hanya ada 15 perusahaan yang pertahanannya dapat ditembus oleh aparat Indonesia. Untuk perusahaan-perusahaan lainnya yang berlokasi di luar negeri, aparat RI tidak bisa menjangkaunya. “Kerugiannya sungguh masif, Rp1,3 triliun, dengan 11 tersangka.”

Tahun 2006 ia menemui Vincent, seorang whistleblower kasus tersebut dan dari percakapan itu ia melahirkan tulisan investigatif untuk majalah Tempo. Vincent pernah bekerja sebagai financial controller Asian Agri sehingga tahu persis ‘jeroan’ perusahaan itu.

Demi memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai kasus tersebut, pada tahun 2013 Metta juga meluncurkan “Saksi Kunci”, sebuah buku yang khusus membahas seluk beluk kasus Asian Agri. “Penulisan buku ini juga menjadi upaya saya untuk membantu Vincent menuju ke ‘tempat yang terang’,” katanya.

Metta menceritakan bahwa di sebuah kedai McDonald’s di Singapura, Vincent merapikan dokumen-dokumen vital sebagai bukti kasus penggelapan pajak Asian Agri selama tahun 2002-2005 tersebut. Nilai penggelapan mencapai Rp1,1 triliun. Modusnya ialah menekan biaya pajak di luar negeri dengan transfer ke luar negeri.

Vincent yang membantu Metta dalam penguakan kasus Asian Agri itu harus meringkuk dalam tahanan selama 11 tahun karena didakwa melakukan pencucian uang yang Metta yakin tidak dilakukan Vincent. Setelah bebas, justru Vincent makin tidak aman.

Metta meyakini dengan ditegakkannya ‘good corporate governance’ (GCG), cost per capital bisa ditekan. GCG juga memberikan manfaat lebih bagi perusahaan yang menerapkannya, yaitu daya tarik yang lebih tinggi bagi investor asing.

Namun demikian, Metta juga menyebutkan bahwa kondisi di lapangan tak selalu demikian. Ia menebut nama seorang pengusaha terkenal di tanah air. Pengusaha itu ia anggap sebagai anomali karena meskipun ia sudah ditulis media sebagai pebisnis ulung dan bahkan diganjar penghargaan oleh sebuah lembaga pendidikan kenamaan dunia seperti Wharton School, sebenarnya pengusaha tersebut memiliki catatan kelam.

Tahun 2001, kata Metta, bank milik si pengusaha ini dibekukan (namanya Unibank). “Tiba-tiba ia sudah memecah sahamnya, sehingga kepemilikan sahamnya sendiri di bawah 5%,” tutur Metta mengungkap strategi licik si pengusaha untuk menghindari kewajiban membuka pemilik saham sebenarnya dari Unibank pada publik. Metta menambahkan, sehari sebelum bank itu dibekukan, si pengusaha itu sudah kabur  ke Singapura dan pemerintah tak bisa lagi mencari pihak yang bertanggung jawab. Alhasil, pemerintah harus ‘nombok’ Rp1,4 triliun.

Korporasi-korporasi juga bukan lawan yang enteng bagi aparat penegak hukum dan wartawan investigasi. Mereka memiliki koneksi yang juga tidak kalah berpengaruh dalam tubuh aparat penegak hukum itu sendiri. Metta menceritakan saat aparat menyita 9 truk dokumen dari sebuah tempat penyimpanan di kompleks Duta Merlin. Anda bisa bayangkan isinya, ada 1400 kotak lembaran dokumen yang sengaja disembunyikan di sana. Saat aparat pajak datang dengan pengawalan Brimob, mereka tertahan di luar. Apa pasal? Brimob itu tak bisa menembus pertahanan di dalam yang diperkuat oleh Kopassus. “Di dalam sudah ada baret merah, Kopassus,” ujar Metta. Para petugas KPK dan pajak baru bisa masuk ke dalamnya setelah mengajak pasukan Marinir. Begitulah kuatnya perlindungan korporasi pada aset-asetnya, tukas Metta. “Dan ini lawan yang sungguh massif.”

Metta mengisahkan besarnya peran whistleblower Vincent. “Ia memberi saya softcopy sebesar 16 MB yang berisi banyak sekali data.”

Sebagai whistleblower, Vincent ternyata turut memiliki andil dalam tindak kriminal itu. Ia terlibat dalam pencurian uang sebesar 3,1 juta dollar. Dan Vincent menyebutnya sebagai jumlah yang “paling kecil”. Metta tetap tidak bisa memakluminya.

Lebih lanjut Metta membeberkan kisah pelarian Vincent saat di negeri jiran Singapura. Ia mengembara dengan tinggal di hotel-hotel mungil di sana agar tidak mudah terlacak aparat Indonesia. Vincent juga bisa lolos ke Singapura karena paspor miliknya dibuat secara manual.

“Saat itu Vincent memiliki 3 pilihan:bunuh diri dari kamar hotelnya yang berada di ketinggian, atau menyerahkan diri ke aparat penegak hukum Singapura yang menurutnya lebih adil atau kembali ke Indonesia,” ujar Metta yang kemudian meminta bantuan ke Bambang Harimurti di KPK. Metta belum bisa berlega hati karena keselamatan Vincent masih terancam, apalagi KPK mengatakan pihaknya belum pasti bisa menanganinya. Metta pun meyakinkan Vincent untuk membuka diri dan bekerjasama dengan pemerintah Indonesia membongkar kasus pajaknya hingga semaksimal mungkin agar terhindar atau setidaknya tidak dihukum sangat berat.

Mendengar bujukan Metta tadi, Vincent pun memutuskan kembali ke tanah air dengan bantuan intelijen agar takterendus aparat kepolisian Indonesia. Namun, siapa sangka informasi itu bocor. Kepolisian menguntit Vincent dan KPK yang mengawalnya. Akhirnya KPK harus menyerahkan Vincent ke Kepolisian juga.

Tidak hanya dalam diri sang whistleblower konflik bisa terjadi, dalam diri Metta sebagai wartawan pun ikut bergolak konflik batin. Apakah ia harus membantu Vincent atau pasrah begitu saja karena toh tugasnya hanya sebagai wartawan yang tak bisa membantu dalam urusan hukum? Metta memutuskan pada akhirnya bahwa dirinya “membuka baju jurnalisme” yang ia sandang dan berdiri sebagai seorang manusia yang merasa kurang etis dan bermoral jika membiarkan orang yang dalam bahaya dimangsa begitu saja. “Seolah memberikan daging mentah ke seekor anjing yang lapar,” kata Metta memberikan analogi.

Metta mengemukakan betapa melelahkannya penelusuran bukti agar si tersangka tak bisa berkelit dari tuduhan. Dan masalahnya bukan karena bukti itu terlalu sedikit, tetapi karena bukti itu ada begitu banyak (bayangkan ribuan lembar dokumen berupa bukti transaksi di sebuah gudang misalnya) dan harus dirangkai sedemikian rupa agar menjadi sebuah kumpulan fakta yang tidak terbantahkan dan bisa diverifikasi ke pihak-pihak lain secara empiris dan meyakinkan. Waktu, tenaga dan pikiran jurnalis akan sangat dibutuhkan di sini.

Dari beberapa truk dokumen tersebut, Metta pun akhirnya menemukan bukti transaksi yang membuktikan adanya aliran dana dari hulu ke hilir yang terjadi tanggal 1 November 2004. Transaksi ini menyangkut biaya fiktif alias rekaan dan kemudian dibengkakkan (mark-up) agar bisa menekan jumlah pajak yang harus dibayarkan perusahaan.

Asian Agri telah menyiapkan semuanya dengan baik agar pembukuan mereka rapi. Di kantor pusat Asian Agri di Medan, Sumatra Utara, ditemukan satu lantai khusus yang diperuntukkan bagi kegiatan pembuatan faktur dan dokumen palsu sehingga jika diaudit oleh akuntan publik. Semuanya terkesan ‘clear’ karena memang sudah didesain untuk saling melengkapi.

Sebuah artikel peliputan investigatif bisa ‘diturunkan’ ke publik jika memang sudah didapatkan konfirmasi dari dua pihak yang terkait: si penuduh dan tertuduh. Dalam kasus Asian Agri, bukti dari Vincent itu tidak ditanggapi lebih lanjut oleh Asian Agri yang menurut Metta cuma mengatakan:”Kami tidak mau menanggapi pernyaataan pencuri seperti Vincent”.

Meski mengakui bahwa dalam hal kecepatan para jurnalis investigasi masih kalah cepat dibandingkan pewarta media online dan jejaring sosial semacam Facebook dan Twitter, Metta bangga bahwa karya jurnalisme investigatif biasanya lebih terverifikasi dengan baik sehingga lebih dapat dipercaya. Ia menyayangkan banyak orang yang begitu saja percaya dengan kabar yang beredar luas begitu saja di jejaring sosial padahal belum tentu terverifikasi sesuai dengan kaidah jurnalistik profesional. Biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan karya-karya jurnalistik investigatif memang sangat besar. Namun, tetap saja jurnalisme investigasi harus tetap dilakukan untuk mempertahankan tradisi penggalian berita yang terancam musnah di era informasi instan seperti sekarang. Dengan optimisme tinggi, Metta mengatakan apa yang ia lakukan itu hanya upaya nyatanya untuk tidak merutuk kegelapan tetapi juga menyalakan lilin.

Dan tentang pengusaha yang Metta ceritakan itu, yang dimaksud ialah Sukanto Tanoto, yang menurut keponakannya sendiri Lina Tanoto telah mengkhianati, mengambil alih asetnya setelah membunuh sang kakak secara berencana (sumber: sukantotanoto.co).

(Disarikan dari presentasi Metta Dharmasaputra dalam ‘Corporate Governance, Ethics and Journalism: The Benefits of Good Media Reporting” yang digelar IFC dan Antara, Hotel Kempinski Bali Room, tanggal 21 Mei 2013)

Metta Dharmasaputra tentang Suka Duka Peliputan Investigatif

Tidak banyak orang awam yang mengetahui siapa Metta Dharmasaputra. Ia adalah pendiri dan direktur PT Kata Data, sebelumnya ia bekerja sebagai wartawan senior Majalah Tempo yang banyak menulis tentang peliputan investigatif.

Sejak tahun 1999, Metta telah berkecimpung dalam jurnalisme investigatif di Tempo. Salah satu kasus menonjol dalam dunia ekonomi dan bisnis yang pernah ia angkat dalam karirnya ialah kasus Asian Agri.

Metta mengatakan berita-berita dalam dunia ekonomi dan bisnis memang kurang seksi jika dibandingkan dengan tema korupsi dan dugaan korupsi para pejabat negara. Jumlah kasus-kasus ekonomi bahkan lebih banyak yang terjadi dibandingkan kasus korupsi pejabat.

Tantangan yang harus dihadapi oleh Metta dan jurnalis investigatif lainnya dalam bekerja ialah mereka kerap kali harus mengandalkan pernyataan-pernyataan lisan seseorang. Ini berbeda dengan persoalan politik yang banyak mengandalkan data yang lebih solid.

Metta ingin mengkoreksi pemahaman “korupsi” dalam kacamata banyak orang. “Korupsi itu tidak cuma dilakukan oleh para pejabat publik, tetapi bisa juga menyangkut sektor swasta,” terangnya. Artinya, para pebisnis swasta juga bisa dikatakan melakukan korupsi dalam perusahaan mereka sendiri yang dampaknya juga tidak kalah luas dengan tindak korupsi pejabat negara. Kita tahu bahwa sebuah perusahaan bisa memiliki banyak karyawan.

“Yang kedua adalah perlunya dukungan dari orang dalam untuk menguak kasus-kasus ini,” ujar Metta. Membuka jalan menuju pihak internal demi mendapatkan bukti-bukti sangatlah menantang. Ini berbeda dengan kasus-kasus korupsi pejabat publik.

Metta membandingkan kondisi jurnalisme investigasi di negeri-negeri maju. Media dan publik di negara-negara tersebut misalnya AS lebih peduli terhadap isu-isu korupsi yang dilakukan oleh kalangan swasta, sehingga tidak heran berita-berita ini menjadi headline yang terus bergulir dan diikuti perkembangannya oleh masyarakat luas. Di Indonesia, tidak banyak orang yang peduli dengan kasus kecurangan oleh pihak swasta. Kalaupun menjadi headline atau cover story di majalah dan media kita, tidak akan bertahan berminggu-minggu, Metta berpendapat. Media AS misalnya membuka ruang besar untuk kasus-kasus korporasi. Ia mengambil contoh mengenai peliputan oleh The Insider yang bermula dari pengakuan whistleblower yang disiarkan secara terbuka. Media juga berperan sebagai whistleblower eksternal, selain karyawan sebagai whistleblower internal.

Menurut Metta, dalam aturan yang menyinggung tentang manipulasi korporasi, ada satu klausul yang perlindungan saksi atau whistleblower. Jika ada satu kasus, whistleblower yang mungkin adalah karyawan yang dikenai sanksi oleh perusahaan yang bermasalah misalnya, bisa meminta perlindungan hukum dan jika si karyawan terbukti benar, ia akan mendapat ganti rugi dari perusahaan tersebut. “Dengan aturan semacam ini, kasus-kasus akan lebih mudah diungkap dan media mendapatkan asupan yang cukup,” ungkapnya.

Di awal, biasanya media mendorong whistleblower untuk menguak kasus dan menyebarkannya hingga menjadi perbincangan publik. Namun, begitu kasus itu mendapatkan ancaman, media perlahan ‘balik kanan’ dan mundur. Bisa jadi karena kehilangan momentum atau karena ada kasus baru lagi yang dianggap lebih menarik, media mulai mengabaikan whistleblower dan kasus tersebut. Media lupa untuk melindungi whistleblower yang rentan terhadap ancaman dari pihak yang dirugikan jika kasus itu terkuak tuntas.

Metta pernah membantu seorangwhistleblower yang ia ajak kerjasama menguak kasus Asian Agri. Ia harus membantunya mencari dana bantuan hukum. Kondisi begitu sulit karena belum ada lembaga perlindungan saksi di Indonesia. KPK juga belum bisa melindungi karena itu dianggap kasus pajak bukan kasus korupsi. Saat whistleblower itu tiba di Indonesia, ia harus menghadapi tuduhan hukum dan diseret ke meja hijau. Di sini, sebagai jurnalis ia dihadapkan pada dilema: membantu sang whistleblower atau ‘cuci tangan’ karena toh itu di luar kewenangannya. Ia memutuskan menolongnya.

Kasus Asian Agri yang ia turut tangani memberikannya pengalaman yang tak terlupakan. Metta harus turut menjalani proses pemeriksaan oleh Dewan Pers karena ia sendiri dituduh melanggar kode etik jurnalisme.

Kasus lain  adalah lenyapnya 250 juta dollar dalam bentuk deposito milik Semen Cibinong. Uang sebesar itu hilang begitu saja tanpa jejak. Kasus ini menguap begitu saja.

Metta juga menyebutkan kasus lain yang ia namai Dipoinet. Kasus ini ia anggap sebagai kasus terbesar dalam sejarah pasar modal Indonesia. Ia menuliskan laporan tersebut dengan berkolaborasi bersama kawannya dari The Jakarta Post dan Kompas.

Banyak kasus investigasi lain yang ia turut ungkap. Misalnya, kasus Hartati Murdaya yang juga ia sebutkan pernah melanggar kepabeanan dalam kasus Nike. Ada pula kasus impor mobil mewah tahun 2008. Namun, sayangnya kasus-kasus itu tidak ‘meledak’.

Pengalaman Metta lainnya dalam jurnalisme investigasi adalah kasus minyak zatapi. Latar belakangnya ialah naiknya BBM saat tahun 2004. Ia menyelidiki hingga 5 tahun lamanya hingga suatu saat ia mendapatkan informasi bahwa ada kapal tanker berlabuh di Cilacap yang isinya minyak yang tidak bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya dan tidak dikenal di pasar minyak dunia. Ia mengirimkan reporter dengan perahu nelayan untuk memastikannya. Dan memang ada.

Sayang seribu sayang, berita tentang kasus itu terkubur “karena dijaga dengan sangat ketat”, ujarnya padahal sudah ditangani KPK dan Mabes Polri.

Usut punya usut ada 4 orang yang terlibat dalam kasus impor minyak itu. Salah satunya menurut Metta adalah Mohammad Reza yang dikenal dengan bisnisnya Kidzania. Nama ini familiar di bisnis perminyakan, terang Metta.

Sosok-sosok ini seperti hantu, karena ada namanya tetapi tidak pernah atau jarang sekali tampil di muka publik karena tinggal bersembunyi di Singapura.

Ia mengaku menyelidiki kasus zatapi yang melanggar sejumlah proses ini dari Jakarta, Cilacap hingga Malaysia, Singapura dan Australia dengan bantuan sejumlah koresponden.

Metta menegaskan pentingnya sebuah tim khusus dalam peliputan semacam itu. “Karena itu saya amat mendorong teman-teman media untuk membuat tim-tim investigasi khusus di dalam medianya masing-masing karena sulit jika ini harus dikerjakan di sela rutinitas sehari-hari.”

Perusahaan pengimpor minyak tadi juga sebenarnya adalah perusahaan yang masuk dalam daftar hitam tetapi cuma berganti kulit. Ini sudah menjadi kelaziman dalam proses tender minyak di Indonesia. Perusahaan yang sudah mengelola miliaran dollar itu juga dijalankan di tempat yang tak mencolok seperti sebuh ruko biasa.

Indonesia masih perlu penataan data bisnis agar pelacakan kasus-kasus semacam ini juga bisa dilakukan lebih mudah, kata Metta lagi.

'Manfaatkan' Jurnalis!

Pers  (Sumber foto: Wikimedia)
Pers: Dicinta tetapi disia-sia. (Sumber foto: Wikimedia)

Dalam banyak kesempatan, para jurnalis tidak banyak diperlakukan dengan baik. Semacam warga negara kelas dua, kalau saya bisa katakan. Meski diundang dalam sebuah event, misalnya, mereka tidak diberikan sebuah kursi untuk duduk dan berbincang dengan orang-orang yang mereka ingin jadikan nara sumber liputan. Kalaupun ada kursi untuk jurnalis, mereka akan diberikan tempat duduk di belakang, setelah para tamu undangan menduduki kursi masing-masing dan ada yang tersisa. Mereka juga mendapatkan bagian konsumsi sendiri, yang biasanya lebih murah daripada para petinggi. Jarang ada yang menyajikan makanan dan minuman yang sama-sama kualitasnya baik bagi jurnalis dan orang lain, terutama dalam acara-acara di dalam ruang. Saya merasakan semua itu sendiri. Dan saya tidak mengada-ada.

Tidak hanya oleh korporasi besar perlakuan semacam itu diberikan pada wartawan. Kerap kali para entrepreneur dan startup yang saya liput juga tidak menyambut hangat. Hanya suam-suam kuku, dan begitu mereka larut dalam event yang biasanya mereka adakan atau hadiri, mereka akan melupakan pewarta.

Di event yoga juga demikian. Peran media seolah dianggap remeh. Media ditempatkan di ruangan yang kurang representatif, padahal peralatan berharga mereka banyak. Bagaimana kalau ada yang mencuri laptop dan kamera kami? Tak banyak yang berpikir tentang keamanan dan kenyamanan jurnalis yang sedang bekerja. Wi-fi tak ada, meja untuk sekadar menaruh peralatan juga tidak disediakan.

Namun tidak semuanya demikian. Saya juga pernah menemui perusahaan yang cukup baik memperlakukan jurnalis. Mereka menyewa sebuah firma humas yang cekatan dan berpengalaman sehingga para pewarta sangat terbantu. Masuk ke ruangan konferensi pers, kami sudah diberikan media kit, berupa CD atau flash drive berisi foto-foto resolusi besar dari perusahaan dan si CEO, lalu ada selembar kertas berisi daftar nama-nama orang yang akan tampil memberikan keterangan dan beraudiensi dengan wartawan untuk wawancara yang lebih intensif.  Sungguh memudahkan kerja kami.

Ada lagi yang tidak segan mengundang wartawan untuk duduk bersama di meja dengan para pembicara kunci di sebuah acara besar. Bukan sebuah kehormatan, tetapi lebih pada memberikan kemudahan dalam menggali data dan informasi yang nantinya dapat dipakai dalam penyusunan berita. Dengan begitu, jurnalis juga menjadi lebih dekat dengan para pentolan acara sehingga nantinya bisa menjalin komunikasi yang lebih baik dan lancar.

Sayang sekali tak semuanya seperti itu…

Padahal jurnalis bisa ‘dimanfaatkan’. Maksud saya, dimanfaatkan sebagai alat promosi yang baik, tanpa biaya malah. Ini yang tidak disadari banyak orang.